Move On Trip

D8YK6AvVsAEyTKs

A really long ff! Enjoooooy!

**

 

Surin yakin seratus persen akan apa yang ada dibenaknya saat ini bahwa Oh Sehun, laki-laki yang telah menyandang status sebagai kekasihnya selama lima tahun terakhir itu memang adalah penyebab pertengkaran hebat mereka kali ini. Surin benar-benar yakin bahwa kandasnya hubungan mereka adalah karena kesalahan yang telah laki-laki itu buat.

 

Setelah berkutat dengan pikirannya sendiri, gadis berambut hitam pekat itu mengedarkan pandangannya ke sekitar. Bandar Udara Internasional Incheon siang itu tampak ramai, didominasi oleh turis domestik yang hendak berangkat keluar negeri ataupun keluar pulau, seperti yang saat ini hendak Surin lakukan. Surin menarik koper berwarna merahnya sambil mencari gerombolan yang akan berangkat bersamanya menuju Pulau Jeju. Gadis itu mengeratkan pegangannya pada gagang kopernya, merasa ragu dengan keputusannya untuk pergi terutama ketika ia melihat seorang laki-laki bertubuh tinggi yang mengenakan topi hitam melambaikan sebuah bendera bertuliskan “Move On Trip”. Itulah gerombolan yang akan pergi bersamanya menuju Pulau Jeju untuk tiga hari dua malam.

 

“Oh, kau pasti Jang Surin. Kemarilah, kita sudah sedari tadi menunggumu. Kalau begitu, karena sudah lengkap, kita bisa mulai sesi perkenalannya, ya. Perkenalkan, aku Park Chanyeol, direktur utama dari aplikasi Move On Trip. Terima kasih sudah mau bergabung diacara trip kali ini.” Laki-laki bertopi hitam itu berbungkuk, sementara keempat orang yang ada dihadapan Surin saat ini bertepuk tangan senang. Surin mau tidak mau pun turut bertepuk tangan dengan canggung. Ia hanya masih merasa ragu apakah keputusannya untuk mengikuti trip tersebut adalah sebuah keputusan yang tepat atau tidak.

 

“Nah, sekarang silahkan perkenalkan diri kalian satu persatu dan jangan lupa sertai alasan kalian mengikuti move on trip ini.” Pinta Chanyeol dan laki-laki berambut cokelat yang ada disebelahnya langsung berinisiatif untuk memulai perkenalan.

 

“Halo semuanya, nama saya Byun Baekhyun. Alasan saya mengikuti move on trip ini adalah sebenarnya bukan karena ingin move on dari mantan kekasih, tapi justru saya ingin mendapatkan kekasih mengingat saya belum pernah berpacaran sebelumnya. Ehem, kau, gadis yang disana, iya kau, tolong bantu aku selama trip ini, ya.” Ujar Baekhyun seraya tersipu malu kearah gadis yang kini berada disebelah Surin, membuat yang lain langsung menyoraki keduanya yang tampak malu-malu.

 

Gadis itu pun mengambil alih sesi perkenalan tersebut. “Halo semuanya, perkenalkan nama saya Park Jimi. Seperti Baekhyun, saya disini juga bukan untuk move on tetapi untuk mencari pasangan hidup.” Tutur Jimi dan kini Chanyeol sudah tertawa terpingkal karena sudah melihat akhir yang jelas diantara Baekhyun dan Jimi padahal rangkaian acara trip tersebut sama sekali belum terlaksana.

 

Kini giliran seorang gadis lainnya yang berada disebelah Jimi. “Halo, perkenalkan nama saya Hwang Taerin. Alasan saya mengikuti move on trip ini karena diajak oleh laki-laki disebelah saya, Kim Junmyeon. Katanya ia ingin mencoba aplikasi unik ini. Ah, jangan salah sangka, ya. Saya dan Junmyeon hanya bersahabat sedari kami masih duduk dibangku SMA.” Ujar Taerin sementara yang lain langsung mengangguk-angguk dan tersenyum penuh makna.

 

Laki-laki bernama Junmyeon yang ada disebelah Taerin pun membenarkan dan kemudian memperkenalkan dirinya. “Saya Kim Junmyeon, sahabat Taerin yang sebentar lagi akan menjadi kekasihnya karena acara move on trip ini. Mohon bantuannya.” Ujan Junmyeon sementara Taerin langsung memukul lengannya dan yang lain tertawa senang.

 

Surin berdeham kemudian memulai gilirannya. “Halo semuanya, nama saya Jang Surin. Saya ikut move on trip ini murni karena saya memang ingin move on dari mantan saya. Kami sudah berpacaran selama lima tahun lalu sebulan yang lalu hubungan kami kandas karena sebuah alasan. Saya harap dengan ikut move on trip ini saya benar-benar bisa melupakan mantan saya itu.” Ujar Surin dan yang lain langsung memandangnya dengan penuh keprihatinan.

 

“Tenang saja, Surin-ssi. Kami tentu akan membantumu. Move on trip ini memang fungsinya adalah untuk melupakan mantan kekasih dengan berlibur. Setelah liburan ini, peserta diharapkan dapat lebih mencintai diri sendiri dan mengikhlaskan hal-hal yang harusnya di ikhlaskan dan menyambut hari-hari baru yang penuh harapan.” Tutur Chanyeol membuat Surin mengangguk-anggukan kepalanya. Sebenarnya memang tujuan Surin mengunduh aplikasi Move On Trip adalah karena Surin hanya ingin berlibur. Ia lelah dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya di kantor, juga dengan permasalahan dalam kehidupan percintaannya. Surin rasa akhir pekannya kali ini harus ia gunakan dengan sebaik-baiknya dan bukan lagi digunakan untuk menangisi sang mantan kekasih di kamar sembari mendengarkan lagu-lagu sedih.

 

Baru saja Chanyeol akan menutup sesi perkenalan, tiba-tiba seorang laki-laki yang berlari dari kejauhan menghampiri mereka. Laki-laki bertubuh tinggi dengan bahu lebarnya yang sangat Surin kenal. Laki-laki yang selama satu bulan terakhir ini adalah penyebab dirinya menangis hampir setiap hari.

 

Surin memandangnya penuh keterkejutan sementara laki-laki yang berusaha mengatur napasnya itu juga langsung memandang Surin, sama terkejutnya.

 

Chanyeol menepuk dahinya membuat yang lain menunggu penjelasannya. “Ah ya, aku hampir lupa! Kita akan berangkat bertujuh dalam trip kali ini. Semalam baru saja ada anggota baru yang mendaftar. Kau, Oh Sehun, kan?”

 

Sehun yang masih memandangi Surin hanya mengangguk pelan. Keringat membasahi dahinya, namun tidak mengurangi sedikitpun ketampanannya. Laki-laki itu bahkan berhasil membuat Jimi dan Taerin bergumam ‘wah’ sementara Baekhyun dan Junmyeon langsung sama-sama berdeham membuat suasana sempat menjadi lucu. Namun tidak bagi kedua sejoli yang kini masih saling bertatapan dalam tempatnya masing-masing. Keduanya sama-sama terkejut akan kehadiran satu sama lain, tidak menyangka bahwa mereka akan dipertemukan dalam acara yang tergolong konyol seperti ini.

 

“Wah, semua peserta di trip kali ini benar-benar luar biasa. Baekhyun adalah seorang dokter, Junmyeon adalah direktur utama dari perusahaan pusat perbelanjaan, dan kini, Oh Sehun, direktur utama perusahaan property pun turut bergabung dalam move on trip ini. Aku benar-benar ingin tertawa namun merasa kelu. Selamat datang di Move On Trip!” Seru Chanyeol girang sementara yang lain langsung bertepuk tangan.

 

“Tapi kita tidak bisa melewati sesi perkenalannya. Sehun-ssi, giliranmu untuk memperkenalkan diri dan sertai pula alasanmu mengikuti move on trip ini.” Ujar Baekhyun dan yang lain langsung menyetujui, terkecuali Surin yang kini sudah mengalihkan perhatiannya kearah lain sambil melipat tangannya didepan dada.

 

“Ah ya, nama saya Oh Sehun. Alasan saya mengikuti move on trip ini adalah karena ingin melarikan diri sejenak dari setumpuk pekerjaan dan juga karena ingin melupakan seseorang.” Sehun berujar singkat membuat Surin langsung menatapnya tidak percaya. Jadi Sehun benar-benar ingin melupakannya begitu saja? Surin jadi semakin tahu bahwa hubungan mereka memang sudah tidak bisa tertolong lagi. Surin memandang Sehun dengan alis bertaut kesal, merasa benar-benar kesal terutama karena ia tidak bisa membaca apa yang dipikirkan dan dirasakan Sehun saat ini karena ekspresi wajahnya adalah hanya ekspresi datar yang tidak menggambarkan apapun.

 

“Baiklah, kita akan saling membantu dalam trip ini. Sekarang, ayo kita masuk menuju pintu keberangkatan disana. Perhatikan barang masing-masing dan ikuti aku, ya!” Pinta Chanyeol dan ia pun memimpin jalan sementara yang lain langsung mengikuti, tidak termasuk Sehun dan Surin yang kini berdiri berhadapan dalam jarak kurang lebih sepuluh langkah.

 

“Tidak ku sangka kau sebegitu inginnya melupakanku.” Surin mencibir Sehun yang kini tersenyum sinis.

 

“Lalu bagaimana denganmu? Tidak berkaca?” Balasnya membuat Surin semakin kesal.

 

“Semoga berhasil, ya. Ah, jangan beritahu yang lain kalau kita pernah saling kenal.” Surin berjalan mendahului Sehun dengan langkah yang besar-besar membuat laki-laki itu hanya berdiri memantung ditempatnya.

 

‘Pernah saling kenal’ terdengar sangat kasar ditelinga Sehun. Kata-kata itu selamanya tidak akan pernah bisa menggambarkan kebersamaan mereka selama lima tahun dan Sehun benar-benar menyayangkan bagaimana kata-kata kasar itu keluar begitu saja dari mulut Surin.

 

Sehun harus mengakui bahwa ia masih begitu mencintai gadis itu, namun sekarang ia hanya ingin memberi gadis itu pelajaran.

 

**

 

Tempat penginapan mereka selama tiga hari dua malam adalah sebuah villa berlantai dua dengan halaman belakang yang luas. Villa tersebut pun berdekatan dengan pantai membuat pemandangan yang mereka saksikan dari villa sangatlah indah. Langit biru Pulau Jeju yang sore itu tampak tidak berawan menjadi faktor utama keindahan pemandangan yang saat ini mereka saksikan dari halaman belakang tersebut. Ditambah lagi dengan matahari yang sudah memendarkan sinar berwarna oranye yang terasa menghangatkan, juga deburan ombak serta hembusan angin segar yang benar-benar berhasil membuat rasa lelah setelah dua jam berada di pesawat seolah hilang begitu saja.

 

Chanyeol memang telah menyiapkan seluruhnya dengan begitu baik termasuk seluruh acara yang akan mereka laksanakan selama tiga hari dua malam kedepan, salah satunya adalah acara pertama yang kini mereka lakukan di halaman belakang villa tersebut.

 

“Baiklah, teman-teman, setelah duduk dua jam di pesawat dan satu setengah jam di mobil, kalian harus menggerakan tubuh kalian yang pasti terasa kaku. Karena kamar mandi kita hanya dua, agar lebih adil, kita akan melakukan permainan untuk menentukan siapa yang boleh mandi terlebih dulu! Hore!” Seru Chanyeol dan yang lain langsung berseru senang, terkecuali Sehun dan Surin yang hanya bertepuk tangan tanpa bersemangat.

 

“Seperti yang kalian lihat, didepan aku sekarang ini ada tiga buah ember berisikan balon air. Permainannya mudah sekali, kalian akan dibagi kedalam kelompok, satu kelompok dua orang dan kalian hanya perlu memecahkan semua balon ini secepat mungkin bersama partner kalian.” Chanyeol menjelaskan sementara Baekhyun langsung lari kesebelah Jimi, begitupun dengan Junmyeon yang langsung menggandeng tangan Taerin, terlihat sangat bersemangat.

 

“Wah, sepertinya aku tidak perlu repot-repot membagi kelompok. Kalau begitu, Baekhyun dengan Jimi, Junmyeon dengan Taerin, dan Sehun dengan Surin. Silahkan ke belakang ember kalian masing-masing.” Chanyeol berujar lagi sementara Sehun dan Surin hanya bertatapan kesal satu sama lain.

 

“Tunggu, tunggu, Sehun dan Surin-ssi, kalau aku perhatikan, kalian mengapa terlihat tidak terlalu akrab, ya? Kalian kenal satu sama lain?” Jimi memecah keheningan diantara Sehun dan Surin membuat keduanya langsung tersenyum canggung. “Ah, tidak. Kami baru bertemu hari ini.” Ujar Sehun dan Surin langsung meliriknya garang seraya berjalan beriringan menuju ember mereka.

 

“Iya, betul. Sehun-ssi, ini bisa jadi kesempatan bagus untukmu melupakan masa lalumu. Berbaik hatilah pada Surin. Siapa tahu kalian malah akan menjadi pasangan baru.” Ujar Junmyeon membuat yang lain tertawa, tetapi tidak dengan Sehun dan Surin yang kini hanya berusaha menutupi kekesalan mereka terhadap satu sama lain.

 

“Baiklah, baiklah, permainan akan segera dimulai. Bersedia, siap, mulai!” Seru Chanyeol dan semua langsung sibuk memecahkan balon air tersebut. Suara tawa Chanyeol mendominasi, melihat para peserta yang tampak sangat antusias memecahkan balon-balon tersebut, termasuk Baekhyun dan Jimi yang kini memecahkan balon dengan kepala mereka berdua yang diadu satu sama lain. Di kelompok dua terdapat Taerin dan Junmyeon yang kini memecahkan balon tersebut dengan cara menekan balon itu diantara perut mereka berdua, membuat tawa keduanya pecah ketika mereka berhasil memecahkan balon tersebut.

 

Baekhyun-Jimi, Junmyeon-Taerin sudah memimpin, ditandai dengan tubuh mereka yang kini basah kuyup akibat balon-balon yang telah mereka pecahkan. Sementara kelompok terakhir masih belum memecahkan satu balon pun. Surin kemudian berinisiatif untuk mengambil balon air itu dan menimpuknya kearah Sehun. Satu balon pecah, diikuti tatapan tidak percaya Sehun pada gadis itu. “Ya! Jang Surin!” Serunya sementara Surin hanya tertawa meledek.

 

Sehun mengambil satu balon lalu menimpuk Surin dengan balon tersebut, membuat balon kedua pecah begitu saja. “Ya! Oh Sehun! Kau benar-benar keterlaluan, ya.” Surin berseru membuat Sehun hanya tersenyum sinis.

 

“Kau yang memulai. Memang selalu kau yang memulai.” Timpal Sehun kemudian langsung dibalas lagi oleh Surin membuat Sehun dengan sigap menghindar.

 

“Maksudmu memulai apa? Terus saja salahkan aku. Kau memang egois. Sedari satu bulan yang lalu, kau belum mengakui bahwa yang memulai semua ini adalah dirimu sendiri?” Surin yang merasa emosinya seketika meningkat pun langsung membombardir Sehun dengan balon-balon tersebut membuat Chanyeol yang melihat kedua sejoli itu sudah semakin jauh akhirnya berdiri diantara Sehun dan Surin, dan dalam detik berikutnya Chanyeol sudah basah kuyup karena timpukan balon dari dua arah yang tidak kunjung berhenti.

 

Baekhyun, Jimi, Junmyeon dan Taerin sampai harus membantu menghentikan Sehun dan Surin untuk melempar balon.

 

Perang balon air antara Sehun dan Surin benar-benar terasa seperti perang sungguhan membuat yang lain kebingungan.

 

“Kalian bisa saja membunuh satu sama lain dengan balon itu.” Komentar Junmyeon ketika kini mereka terduduk melingkar dikursi meja makan halaman belakang tersebut. Pemenang dari permainan balon air itu adalah Baekhyun dan Jimi namun karena Chanyeol yang paling basah kuyup, akhirnya Chanyeol yang mandi pertama, juga Jimi di kamar mandi perempuan.

 

Sehun dan Surin kini duduk berdampingan, sementara Baekhyun, Junmyeon dan Taerin berada didepan mereka, seperti tengah menginterogasi.

 

“Sebenarnya ada apa diantara kalian?” Baekhyun bertanya.

 

“Tidak ada apa-apa.” Sehun langsung menjawab cepat dan entah mengapa hal itu menyulut emosi Surin.

 

“Ya, tidak-ada-apa-apa.” Tekan Surin galak sembari memperhatikan Sehun.

 

“Ya, memang sudah tidak ada apa-apa, kan.” Sehun menimpali membuat Surin ingin sekali melemparnya dengan balon air sekali lagi.

 

Baekhyun, Junmyeon, dan Taerin langsung berpandangan satu sama lain, seolah langsung mengerti bahwa keduanya adalah sepasang mantan kekasih. “Yaampun, bagaimana bisa kalian malah dipertemukan diacara ini, sih?” Komentar Junmyeon dengan nada suaranya yang iba.

 

“Mungkin saja jodoh.” Tanggap Taerin dan kedua sejoli itu tampak tidak begitu memperhatikan. Mereka masih melipat tangan didepan dada sembari menatap ujung meja makan berbahan kayu jati itu dengan alis bertaut.

 

“Teman-teman, sebaiknya kita beri mereka ruang.” Ujar Baekhyun yang langsung disetujui oleh Junmyeon dan Taerin.

 

Untuk beberapa menit, tidak ada yang bersuara diantara Sehun dan Surin. Sampai akhirnya Surin merasa air mata memenuhi pelupuk matanya dan bersiap untuk jatuh didetik berikutnya. Surin merindukan Sehun. Ia merindukan aroma tubuh Sehun yang dapat ia hirup dengan jelas dari tempatnya duduk sekarang ini. Ia merindukan sosoknya yang jahil dan menyebalkan. Ia merindukan Sehun yang selalu tertawa akan hal-hal tidak lucu yang ia katakan. Ia merindukan Sehun yang akan berceloteh tentang apapun yang dilihatnya. Ia merindukan Sehun yang akan merangkulnya ketika mereka duduk bersebelahan seperti ini. Namun satupun hal tersebut tidak kunjung terjadi.

 

Sehun yang duduk disebelahnya saat ini adalah Sehun yang mengakhiri hubungan mereka satu bulan yang lalu.

 

Dan Surin tidak tahu harus seperti apa.

 

Surin merasa sikutnya nyeri karena balon yang dilempar Sehun kearahnya, namun rasa nyeri itu seolah tidak ada apa-apanya dengan rasa nyeri yang kini menjalar keseluruh penjuru hatinya.

 

Sehun tiba-tiba menarik tangan Surin, memperhatikan luka yang berada di sikutnya. Tanpa bicara satu kata pun, Sehun membuka botol mineral yang terletak di meja lalu menyiram luka Surin dengan air mineral itu. Surin hanya memperhatikan Sehun dari tempatnya. Bibir Surin mengerucut, merasa kesal karena jelas-jelas Sehun malah menambah rasa nyeri dalam hatinya.

 

Sehun merogoh saku celana panjagnya untuk mengambil sapu tangan. Ia berdecak karena sapu tangannya turut basah akibat perang balon tadi, membuat Surin seketika merasa bersalah telah membombardirnya dengan balon air tersebut. Sehun kemudian mengikatkan bagian sapu tangan yang tidak basah pada luka Surin, masih dalam diamnya yang panjang.

 

“Nanti ganti dengan hansaplast.”

 

Hanya itu yang diucapkan Sehun pada Surin sebelum akhirnya meninggalkan gadis itu sendirian di halaman belakang villa.

 

Bahkan seratus hansaplast pun tidak akan bisa meredakan nyeri yang Sehun tinggalkan di seluruh relung hati Surin saat ini.

 

Surin rasa tujuannya ikut move on trip ini adalah agar dirinya bisa sepenuhnya melupakan laki-laki itu, tapi baru saja sampai, Surin sudah merasakan betapa usahanya yang sudah ia bangun sedikit demi sedikit dari satu bulan yang lalu gagal total dengan begitu saja. Mungkin itu yang membuat Surin sedari tadi marah pada Sehun.

 

Bukan karena pertengkaran hebat mereka yang berujung pada kandasnya hubungan mereka sebulan yang lalu, tapi Surin merasa marah karena Sehun masih bisa membuatnya jatuh cinta hanya dalam sepersekian detik ketika Surin melihatnya memunculkan diri di bandara tadi siang.

 

**

 

Surin bangun paling pagi hari itu, gadis itu memutuskan untuk pergi ke dapur. Matanya masih begitu berat akibat tidak bisa tidur karena semalam Chanyeol mengusulkan untuk menonton film horror. Surin adalah orang yang penakut, jadi karena film itu dan juga cerita horror dari Jimi sebelum tidur, Surin harus uring-uringan sampai jam tiga pagi.

 

Gadis itu akhirnya sibuk sendiri karena memutuskan untuk membuat sarapan pagi bagi semua orang yang ada di villa tersebut. Surin rasa tidak ada salahnya membantu Chanyeol yang berkata bahwa dirinyalah yang akan memasak untuk mereka semua selama mereka menginap di villa tersebut. Pasalnya, Surin juga suka memasak untuk orang lain. Sebuah kegiatan yang tidak pernah lagi ia lakukan sejak satu bulan yang lalu.

 

Tidak ada lagi yang pagi-pagi mampir ke apartmentnya untuk menikmati sarapan buatannya sebelum berangkat kerja. Sehun tidak pernah lagi datang.

 

Surin tidak tahu saja bahwa sedari tadi, seseorang tengah memperhatikannya dari halaman belakang, menahan dirinya untuk menghampiri Surin dengan terus melakukan olahraga paginya.

 

Sehun mengalihkan pandangannya dari Surin yang tengah memasak dengan wajah kantuknya ke arah lain. Ia meneruskan pemanasannya dalam diam. Berbagai pikiran berkecamuk dikepalanya saat ini yang salah satunya adalah tentang hubungannya dengan Surin. Semua memang adalah salahnya dan Sehun tidak tahu bagaimana harus memperbaikinya sehingga satu bulan terakhir ini, Sehun memutuskan untuk memberi Surin ruang terlebih dahulu.

 

Sehun tidak tahu bahwa justru karena hal tersebut, hubungannya dengan Surin benar-benar mencapai titik terakhirnya.

 

Semua berawal karena Sehun yang terlalu sibuk sampai-sampai ia tidak punya waktu sedikit pun untuk gadis itu. Sehun tahu betapa Surin telah begitu mengerti dirinya dengan selalu memaklumi ketika Sehun dengan terpaksa harus membatalkan janji untuk bertemu karena urusan kantor yang mendadak.

 

Pertengkaran hebat mereka terjadi ketika acara peluncuran buku pertama Surin. Sehun tidak bisa hadir diacara tersebut karena lagi-lagi soal pekerjaan yang mendesak. Sehun tahu itu adalah moment penting bagi Surin, tapi pekerjaannya jugalah penting. Ia harus bersikap professional dan memprioritaskan sesuatu yang harus ia prioritasi.

 

Saat itu Sehun menghadiri meeting dadakan yang penting dengan klient terkait dengan pembangunan hotel baru di daerah Shanghai dan baru dapat menemui Surin ketika pukul sebelas malam di apartment gadis itu.

 

Seketika sekelebat bayangan tentang malam itu muncul diotak Sehun, membuatnya kembali merasakan nyeri di hati yang saat itu ia rasakan.

 

**

 

“Aku sungguh minta maaf.”

 

Sehun meraih tangan Surin yang kini sudah mengenakan piyamanya dengan lembut. Surin tampak kacau, seperti habis menangis berjam-jam, membuat Sehun tidak tega. Ia sangat menyayangi gadis itu dan melihatnya seperti ini membuat hatinya terasa sakit.

 

“Aku sudah berkali-kali mencoba untuk mengerti. Kau tahu itu, kan?” Surin berujar, air matanya jatuh membasahi kedua pipinya dan Sehun langsung menangkup kedua pipi Surin, menghapus air mata itu dengan kedua ibu jarinya sementara Surin didetik berikutnya menghempas tangan Sehun begitu saja.

 

“Berkali-kali kau membatalkan janji kencan kita dengan tiba-tiba, bahkan ketika aku hanya tinggal menunggu kedatanganmu untuk menjemputku, dan berkali-kali juga aku sudah mengerti. Tapi kali ini berbeda. Ini adalah acara pencapaianku yang pertama dan aku mau kau ada disana.” Surin menangis, meluapkan apa yang selama ini ia simpan dalam hatinya.

 

“Tapi pekerjaanku juga penting, Surin-a. Kau tahu sebentar lagi aku akan menjalankan proyek hotel di Shanghai.” Sehun berujar putus asa. Rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya saat ini juga Surin yang menatapnya penuh kebencian benar-benar tidak lagi membantu dirinya untuk meredam emosi yang sedari tadi berusaha ia tahan.

 

“Mengapa harus selalu tiba-tiba?! Kau sudah menyanggupi, lalu detik berikutnya kau tidak bisa. Sebenarnya aku berpacaran dengan siapa kalau bertemu dengan kekasihku sendiri saja rasanya begitu sulit?”

 

“Memang seperti inilah menjalin hubungan denganku. Aku punya prioritas dan maaf kalau kau yang lagi-lagi harus mengerti.” Kali ini Sehun berujar dengan nada ketus, membuat Surin langsung mendorongnya menjauh.

 

“Lalu untuk apa aku menjalin hubungan dengan orang yang bahkan tidak menganggapku sebagai prioritas?! Sampai kapan aku harus mengerti? Kau tidak pernah ada, Oh Sehun. Tidak saat aku benar-benar membutuhkanmu.”

 

“Tapi aku disini sekarang!” Seru Sehun seraya memegang pergelangan tangan Surin dengan kuat, memaksanya untuk menyadari keberadaan dirinya saat ini dihadapan gadis itu. “Aku disini, tidak bisakah kau merasa cukup?!”

 

“Terlambat!” Seru Surin berusaha melepaskan tangannya dari cengkaraman tangan Sehun namun usahanya sia-sia terutama ketika Sehun malah membantingnya ke tembok terdekat, mengunci tubuhnya yang jauh lebih kecil dari tubuh Sehun dengan kedua tangannya yang kekar. Surin dapat merasakan rasa nyeri karena terbentur tembok yang langsung menjalari punggungnya, membuatnya memekik tertahan.

 

“Lalu aku harus bagaimana?!” Sehun berujar dengan nada tinggi membuat tangisan Surin pecah.

 

“Aku hanya ingin kau ada saat aku membutuhkanmu. Aku tahu kau tidak akan selalu menyanggupi, tidak apa, aku mengerti. Aku akan mencoba mengerti seperti yang selama ini sudah aku lakukan, tapi pernahkah sedikit saja kau berpikir untuk menjadikanku sebagai prioritasmu?” Surin berujar, namun ia tahu semuanya akan percuma karena Sehun yang ada didepannya saat ini, bukanlah Sehun yang Surin kenal selama lima tahun terakhir.

 

Menyadari Surin yang menangis tersedu, Sehun melonggarkan cengkraman tangannya dan menatap gadis itu dengan tatapan dingin, membuat luka dihati Surin semakin terasa.

 

“Kalau kau tidak sanggup lagi, mengapa tidak kau sudahi saja hubungan kita?” Sehun berujar sementara Surin langsung menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

 

Bahkan setelah Sehun yang tidak pernah ada untuknya, tidak satu detik pun terlintas dalam benak Surin untuk mengakhiri hubungannya dengan laki-laki itu. Surin begitu mencintainya, sangat mencintainya sehingga saat ini hatinya terasa perih ketika mendengar Sehun berkata demikian. Surin hanya tidak menyangka laki-laki itu dapat berpikir demikian.

 

Surin mengambil napas kemudian memberanikan diri untuk kembali menatap Sehun. “Katakan sekali lagi, Oh Sehun.”

 

“Kau merasa lelah untuk mengerti, kan? Ya sudah, kita sudahi saja semuanya. Kau dan aku, semuanya, kita akhiri saja.”

 

Surin terdiam, air mata kembali membasahi kedua pipinya dengan begitu saja.

 

“Baiklah. Seperti katamu, kita sudahi saja semuanya.”

 

**

 

“Terima kasih, Surin-a sudah memasak sarapan pagi untuk kami. Aku rasa sudah tidak apa kan, kalau kita berbicara dengan bahasa formal satu sama lain?” Chanyeol berujar membuat yang lain langsung menyetujui.

 

“Jadi hari ini kita kemana?” Tanya Baekhyun penuh rasa antusias.

 

“Kita akan pergi memancing dengan menggunakan kapal feri yang sudah aku siapkan!” Seru Chanyeol dan yang lain langsung bertepuk tangan senang. “Langsung saja menuju pantai ya, teman-teman!” Pinta Chanyeol sementara Baekhyun, Jimi, Junmyeon dan Taerin langsung berlari kecil untuk segera menuju pantai.

 

Tersisa Chanyeol, Sehun dan Surin yang masih ada di meja makan tersebut. “Tunggu apa lagi? Cepat kalian juga bersiap-siap menuju pantai. Aku akan mengunci villa ini. Ah ya, tunggu dulu aku rasa aku meninggalkan kacamata hitamku di kamar. Tunggu sebentar ya, jangan pergi dulu.” Ujarnya kemudian berlari kecil menuju kamar laki-laki yang terdapat tidak jauh dari ruang makan villa tersebut.

 

Sehun kini memandang Surin yang tampak tengah menegak habis susunya. “Terima kasih sarapan paginya. Aku merindukannya.” Ujar Sehun dan Surin langsung terbatuk akibat tersedak.

 

“Aku masak untuk yang lain juga. Dan bukan berarti kita berbaikan.” Tanggap Surin kemudian berjalan meninggalkan Sehun yang masih memperhatikan punggungnya.

 

“Jangan lupa kenakan sunblock.” Ujar Surin pelan-pelan, membuat Sehun menahan senyumnya. Gadis itu mungkin masih marah, tetapi Sehun tahu ia tidak sepenuhnya berharap mereka berdua akan terlibat dalam situasi tidak mengenakan berlarut-larut.

 

Sehun rasa ini adalah kesempatan yang baik baginya untuk berbicara dan memulai kembali semuanya yang telah berantakan bersama dengan Surin.

 

**

 

Matahari yang siang itu cukup terik menjadi teman kapal feri yang saat ini berjalan dengan kecepatan sedang, mengarungi laut Pulau Jeju yang sangat indah. Baekhyun dan Jimi tampak dengan seru berfoto bersama, sementara Junmyeon dan Taerin tampak kompak dengan memeragakan adegan film Titanic diujung kapal membuat semua orang tertawa melihatnya.

 

Chanyeol dan Sehun mempersiapkan alat-alat pancing, mereka tampak seru berbincang mengenai trik-trik untuk memancing. Surin sibuk dengan kameranya, mengabadikan objek pemandangan indah yang saat ini berhasil membuatnya tersenyum. Ia memotret Baekhyun dan Jimi yang kini saling tertawa satu sama lain, tampak begitu bahagia. Kameranya lalu beralih pada Junmyeon dan Taerin yang juga masih bermesraan diujung kapal. Titik terakhir, kameranya mengarah pada Chanyeol dan Sehun yang kini mulai memancing.

 

“Chanyeol-a, tangkap ikan yang besar agar barbekyu hari ini kita bisa makan yang banyak!” Seru Baekhyun membuat Chanyeol mengacungkan jempolnya, setuju.

 

“Kalau Chanyeol berhasil menangkap satu ikan, aku akan mentraktir makan malam hari ini. Kita akan barbekyu tidak hanya dengan ikan tapi juga dengan daging sapi yang akan aku pesan!” Seru Junmyeon membuat yang lain langsung berseru senang. Chanyeol semakin bersemangat untuk menangkap ikan, terbukti dengan dirinya yang saat ini langsung menggulung siku kaos hitamnya keatas, memperlihatkan otot tangannya membuat yang lain langsung terbahak.

 

Surin turut tertawa dibalik kameranya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sedari tadi yang ia bidik adalah Oh Sehun, laki-laki berperawakan tinggi yang saat ini tampak seratus kali lipat lebih tampan dari biasanya. Sehun mengenakan kemeja pantai dengan celana pendek juga kacamata hitam yang memperlengkap penampilannya. Surin memotret Sehun yang tengah tertawa. Ia menyadari betapa dirinya merindukan lengkungan bulan sabit dari mata Sehun yang hadir setiap kali laki-laki itu tertawa.

 

Surin memang tidak akan pernah bisa berpaling dari laki-laki itu sampai kapanpun.

 

“Surin-a! Kemari! Ayo kita makan salad buah yang Jimi buat ini!” Taerin berseru membuat Surin langsung menyetujui.

 

Surin mengobrol dan bercanda dengan Jimi, Taerin, Junmyeon, dan Baekhyun sambil menikmati salad buah yang Jimi buat. Sehun dibalik kacamata hitamnya terus memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Sesekali Sehun tersenyum ketika melihat gadis itu terbahak akibat gurauan Baekhyun. Surin tampak luar biasa dengan terusan berwarna kuning sebatas lututnya yang memperlihatkan masing-masing bahunya. Hanya saja gadis itu terlihat jauh lebih kurus, membuat Sehun sempat khawatir untuk beberapa saat. Sehun menerka-nerka, apakah selama satu bulan ini Surin makan dengan baik. Apakah gadis itu baik-baik saja. Namun yang ia temukan hanyalah gumpalan kekhawatiran yang semakin menjadi dalam benaknya.

 

“Sepertinya ada banyak hal yang ingin kau katakan padanya, ya.” Chanyeol berujar membuat Sehun tersadar dari lamunannya. Laki-laki itu tertawa karena dapat membaca air muka Sehun yang biasanya tidak tertebak oleh siapapun.

 

“Gunakan kesempatan ini, Sehun-a. Tidak ada kesempatan lain kalau tidak sekarang. Kau harus berbaikan dengannya kalau memang kau masih sebegitu mencintainya.” Ujar Chanyeol dan kini Sehun tertawa, merasa Chanyeol dapat membaca seluruh isi pikirannya dengan begitu saja.

 

“Sulit sekali. Surin tampaknya masih begitu kesal denganku. Aku juga tidak mungkin tiba-tiba memintanya kembali padaku setelah aku yang terlebih dulu menyudahi semuanya antara aku dengan dia.” Sehun memandang laut lepas yang berada didepannya dengan kedua tangannya yang ia masukan kedalam saku celana pendeknya. Sehun merasa sesuatu benar-benar mengganjal hatinya sekarang. Sebenarnya ia takut, Surin akan menolak untuk kembali. Sehun takut Surin belum sepenuhnya memaafkan dirinya dan ia ingin memberikan ruang lebih lama pada Surin untuk berpikir, meskipun itu tandanya ia lah yang harus menunggu dengan sabar.

 

“Oh ayolah, jangan bodoh, Sehun-a.” Tegur Chanyeol membuat Sehun langsung menatapnya. “Kau tahu? Justru karena kau menunda-nunda untuk memintanya kembali, hal itu akan membuatnya berpikir kau lah justru yang benar-benar sudah menganggap semua ini selesai. Perempuan selamanya tidak akan menyuarakan apa yang ada dipikirannya. Ia tidak akan menjadi orang pertama yang memintamu untuk kembali, apalagi dalam kasus ini, kau lah yang pertama menyudahi hubunganmu dengannya.”

 

Sehun terdiam, apa yang dikatakan Chanyeol memang ada benarnya. Selama ini Sehun memberikan waktu sendiri bagi Surin tanpa berpikir bahwa mengulur-ulur waktu membuat mereka berdua semakin renggang.

 

“Tapi bagaimana kalau ia menolak untuk kembali?”

 

Chanyeol tertawa. “Semua orang di kapal feri ini bahkan ikan-ikan yang akan aku tangkap dibawah sana juga tahu bahwa sedari tadi Surin terus memotretmu dengan kameranya.”

 

Sehun menyusul Chanyeol tertawa, membuat gerombolan yang sedang makan salad buah menoleh kearah mereka berdua. “Chanyeol-a, bagaimana? Sudah dapat ikan?” Tanya Junmyeon.

 

“Belum, hyung. Tapi aku dapat ikan yang kisah cintanya sebentar lagi akan bersemi kembali!” Chanyeol berseru membuat Sehun disebelahnya pura-pura tidak tahu sementara yang lain sudah saling lirik kearah Sehun dan Surin dengan tatapan jahil membuat kedua sejoli itu salah tingkah dengan seketika.

 

**

 

“Bersulang untuk move on trip!” Chanyeol berseru membuat yang lain mengangkat gelas soju mereka masing-masing lalu bersulang sambil tertawa senang.

 

Saat ini mereka tengah berkumpul bersama dihalaman belakang untuk barbekyu. Daging sapi panggang dengan salada, kimbab, dan kimchi beserta makanan pendamping yang lain tampak memenuhi meja makan berbentuk persegi tersebut. Tidak lupa, satu ikan hasil tangkapan Sehun yang sudah dipanggang dan dibumbui itu tampak begitu menggugah selera makan ketujuh orang yang kini duduk bersama melingkari meja makan.

 

“Jujur, move on trip kali ini benar-benar menyenangkan bagiku. Sayang saja aku tidak berhasil menangkap ikan.” Ujar Chanyeol membuat yang lain tertawa, bahkan kini Baekhyun sudah menepuk-nepuk punggungnya.

 

“Betul sekali, ini adalah pengalaman pertamaku pergi berlibur dengan orang-orang yang baru aku kenal tetapi sudah terasa seperti keluarga sendiri hanya dalam waktu yang sangat singkat. Ditambah lagi, aku mendapatkan seorang kekasih yang tampan.” Jimi berujar malu-malu seraya menyembunyikan wajahnya dibalik lengan Baekhyun ketika kini semua orang menyorakinya sambil tertawa.

 

“Ssst, jangan bilang-bilang, tadi sore aku meminta Jimi menjadi pacarku di atas kapal feri, ditemani oleh sunset Pulau Jeju dan sekarang kami resmi menjadi pasangan baru!” Pamer Baekhyun membuat Jimi tersipu sementara yang lain sudah tertawa. Surin bahkan merasa air matanya akan keluar karena menertawai Baekhyun dan Jimi yang ceritanya begitu unik. Mereka bahkan baru kenal satu dengan yang lain kemarin tetapi mereka sama-sama yakin bahwa mereka adalah jodoh untuk satu sama lain.

 

“Selamat kepada pasangan baru kita!” Seru Chanyeol membuat yang lain bertepuk tangan untuk Baekhyun dan Jimi. Tiba-tiba Junmyeon bangkit dari duduknya seraya berdeham.

 

“Hwang Taerin, sudah sejak lama aku menaruh perasaan padamu. Malam hari ini, maukah kau menjadi kekasihku?” Junmyeon mengeluarkan kotak cincin kecil dari saku celana panjangnya membuat Taerin langsung terharu.

 

“Aku membawa kotak cincin ini kemanapun aku pergi sedari dulu dan aku baru berhasil memberikannya padamu sekarang. Aku tidak ingin terus-terusan merasa ragu pertemanan kita akan hancur setelah ini karena aku yakin kau lah satu-satunya orang yang akan menjadi teman hidupku sampai akhir.”

 

Sorakan langsung membahana dan tepukan riang terdengar memenuhi halaman belakang tersebut terutama ketika Taerin menerima pernyataan cinta dari Junmyeon.

 

Lampu-lampu yang bergelantungan menghiasi halaman belakang itu memperindah suasana romantis yang menguar diudara sekaligus membuat malam tersebut menjadi jauh lebih indah.

 

Termasuk bagi kedua sejoli yang sedari tadi mencuri pandang satu sama lain, Sehun dan Surin.

 

**

 

Malam itu Surin tidak bisa tidur karena kepalanya terasa terus berputar akibat beberapa gelas alcohol yang ia minum saat makan malam tadi, sehingga kini ia memutuskan untuk keluar dari kamar tidur perempuan. Surin berjalan menuju dapur dan membuka kulkas, bermaksud mengambil air mineral dingin dari dalam sana untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Gadis itu terbatuk ketika melihat Sehun sedang duduk diruang tengah dengan laptop yang ia pangku. Laki-laki yang kini mengenakan kacamata bacanya itu tampak sibuk mengetikan sesuatu pada keyboard laptopnya yang Surin rasa adalah soal pekerjaan.

 

Surin yang saat itu tidak yakin dengan penglihatannya sendiri memutuskan untuk pergi kembali ke kamar, namun Sehun menangkapnya terlebih dulu. “Belum tidur?” Ujarnya membuat Surin kembali menghadap laki-laki yang kini tengah memberbaiki letak kacamata bacanya. Ternyata benar, orang itu adalah mantan kekasihnya, Oh Sehun. Surin mengumpat dalam hati karena gestur Sehun yang membetulkan letak kacamata bacanya barusan membuat laki-laki itu terlihat tampan berkali-kali lipat.

 

“Aku tidak bisa tidur.”

 

“Kalau begitu kemarilah, temani aku.”

 

Sehun menepuk sisi sofa sebelahnya yang kosong, seolah menyuruh Surin untuk duduk disana dan entah mengapa Surin langsung menurut dengan begitu saja. Kalau saja saat ini Surin tidak sedang dalam keadaan setengah mabuk, mungkin Surin tidak akan menuruti ucapan Sehun barusan. Harga dirinya masih begitu tinggi mengingat pertengkaran mereka yang belum selesai.

 

Untuk beberapa saat Surin hanya duduk menyamping menghadap Sehun, menjadikan pinggiran sofa sebagai bantalan kepalanya. Ia memperhatikan tampak samping Sehun yang kini sedang serius mengerjakan pekerjaannya. “Kemampuan minum alkoholmu mengapa jadi jauh lebih buruk?” Komentar Sehun seraya menyerahkan minuman untuk meredakan rasa mual akibat mabuk pada Surin yang langsung menerima dan meminumnya.

 

Sehun kembali pada pekerjaannya, menyadari sedari tadi gadis itu terus memperhatikannya. “Sehun-a, memangnya tidak ada yang ingin kau bicarakan denganku?” Surin mengercutkan bibirnya ketika sedari tadi Sehun hanya memfokuskan perhatiannya pada laptopnya. Surin tidak tahu saja bahwa dengan hanya berada dekat dengan gadis itu saat ini, jantungnya berdegup begitu cepat, seolah-olah ia kembali pada bertahun-tahun yang lalu saat pertama kali ia jatuh hati pada Surin.

 

Sehun juga tidak tahu apa sebabnya. Mungkin karena selama satu bulan ini mereka tidak pernah lagi memiliki moment berdua seperti ini sehingga saat ini Sehun merasa seluruh tubuhnya kaku dan kegugupan melanda dirinya begitu saja terutama saat sekarang ini Surin meraih laptopnya dan meletakan benda persegi itu diatas meja kaca yang berada tidak jauh dari sofa tersebut, seolah menyuruh Sehun memperhatikan dirinya.

 

“Ada banyak yang ingin aku bicarakan denganmu, tapi tidak sekarang. Kau sedang begitu mabuk, Surin-a.” Sehun yang masih mengenakan kacamata bacanya hanya memperhatikan Surin yang kini malah menggeleng-gelengkan kepalanya. Kedua pipinya begitu merah, membuat Sehun harus mengalihkan pandangannya kearah lain karena lagi-lagi jantungnya berbuat ulah hanya dengan melihat kedua belah pipi gadis itu yang baginya sangat menggemaskan.

 

“Aku antar ke kamarmu, ya.” Ujar Sehun dan lagi-lagi Surin menolak dengan setengah merengek.

 

“Aku ingin disini, bersamamu. Aku merindukanmu seperti orang gila selama satu bulan terakhir tapi kau sepertinya baik-baik saja tanpaku?” Surin berujar seraya memukul dada bidang Sehun berkali-kali.

 

Surin salah. Sehun lah yang seperti orang gila. Setiap malam Sehun duduk di halte bus yang berada diseberang apartment Surin hanya untuk melihat gadis itu pulang kerja. Melihatnya saja menjadi begitu cukup ketika tidak ada kata-kata yang mampu keluar dari bibirnya untuk menyapa. Surin tidak tahu betapa tersiksanya Sehun akan hal tersebut.
“Kau jahat, Oh Sehun. Sangat jahat. Mengapa bisa kau mengakhiri hubungan kita begitu saja setelah selalu aku yang harus mengerti?” Surin berujar dan air mata jatuh begitu saja membasahi pipinya membuat hati Sehun terasa nyeri. Sehun sadar bahwa selama ini dirinyalah yang terlalu egois dan menuntut terlalu banyak pada gadis itu.

 

Baru saja Sehun akan mengambil alih pembicaraan, Surin langsung menghapus air matanya dengan asal seraya memegang bahu Sehun yang lebar. Sehun terkejut ketika gadis itu dalam sepersekian detik berikutnya sudah memposisikan tubuhnya yang jauh lebih kecil dari Sehun dipangkuan laki-laki yang masih terkejut itu.

 

Surin mengalungkan tangannya kebelakang leher Sehun, membuat laki-laki itu benar-benar tidak mampu melakukan apapun kecuali merasakan debaran jantungnya yang berdegup semakin cepat dari sebelumnya. Sehun bahkan dapat merasakan sesuatu menggelitik perutnya terutama ketika kini matanya bertemu dengan kedua manik mata hitam pekat milik Surin yang begitu memabukkan.

 

“Surin-a.” Panggil Sehun, bermaksud menyadarkan gadis yang tengah dibawah pengaruh alkohol itu. Sehun bersumpah selama lima tahun hubungannya dengan Surin, ini adalah pertama kalinya Surin bertingkah seberani ini dan Sehun tidak menyangka efek yang ditimbulkan bagi dirinya sendiri akan sebesar ini.

 

“Aku merindukanmu memanggilku seperti itu.” Surin menatap Sehun dengan tatapan sedihnya membuat Sehun langsung mengelus rambut gadis itu dengan lembut. Tangannya beralih pada sebelah pipi Surin yang memerah.

 

“Maafkan aku. Aku tahu aku salah. Aku juga sangat merindukanmu.” Ujar Sehun membuat Surin menahan tangisnya yang akan meluap dalam hitungan detik.

 

“Menyebalkan sekali karena aku harus menunggu selama satu bulan dulu barulah bibirmu ini mengucapkan kata-kata yang sangat ingin aku dengar itu.” Surin menyentuh permukaan bibir Sehun dengan jari telunjuknya membuat keheningan panjang tercipta diantara mereka berdua.

 

“Kau benar-benar mabuk, Surin-a.” Sehun berujar ketika Surin terlebih dulu menempelkan dahinya dengan dahi laki-laki itu, memangkas jarak diantara mereka dan meninggalkan sisa sebanyak kurang lebih lima centi. Gadis itu bahkan melepas satu kancing piyamanya membuat napas Sehun seketika tercekat begitu saja ketika matanya menangkap sebelah bahu Surin terpampang dengan jelas.

 

Ujung hidung mereka bersentuhan membuat Surin tertawa kecil sementara Sehun yang merasa debaran jantung dan kegugupannya ditertawai kini hanya mengumpat dalam hati terutama ketika gadis itu mendaratkan bibirnya pada bibir Sehun tanpa aba-aba.

 

Baik Sehun dan Surin tahu bahwa gadis itulah yang payah dalam hal ini. Untuk beberapa menit Surin hanya mendaratkan bibirnya pada permukaan bibir Sehun sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk membuat pergerakan terlebih dulu. Surin dapat merasakan Sehun terkejut, membuatnya tersenyum kecil diantara tautan bibir mereka. Surin menyentuh rambut Sehun, merasakan kelembutannya dari jari-jemarinya, membuat gadis itu semakin hilang arah terutama ketika kini ia merasakan tangan Sehun mulai melingkari pinggangnya dengan erat, seolah mengurung tubuhnya untuk tetap pada posisinya yang duduk diatas pangkuan Sehun.

 

Sehun yang sudah kalah telak merasa harus mengambil alih permainan sehingga kini laki-laki itu melumat bibir Surin dengan jauh lebih cepat, merasakan rasa strawberry yang manis dari lipbalm yang Surin kenakan. Sehun rasa ia belum memberitahu Surin bagaimana dirinya benar-benar tergila-gila akan rasa tersebut setiap kali ia mencicipinya dari bibir gadis itu. Kali ini tidak hanya rasa strawberry itu yang membuat Sehun tergila-gila, tapi juga dari sensasi tubuhnya dan Surin yang berjarak sangat intim, membuat setiap pergerakan yang Surin lakukan diatas tubuhnya, berhasil membuat kesadaran Sehun seolah meluap entah kemana.

 

Sehun kini menggigit bibir bawah Surin bergantian dengan bibir atasnya lalu kembali melumat bibir gadis itu dengan lebih lembut, seolah tidak ingin meninggalkan ruang sedikitpun untuk ia klaim sebagai miliknya. Sementara Surin yang kini masih menjadikan leher Sehun sebagai topangan tubuhnya sudah merasa tubuhnya langsung lemas total akibat hal tersebut.

 

Surin mencengkram kaos putih yang Sehun kenakan lalu Sehun langsung mengerti bahwa gadis itu meminta ruang untuk bernapas sehingga kini Sehun melepas tautan bibir mereka, membiarkan Surin memperhatikan wajahnya dalam jarak yang sangat dekat.

 

Sehun merasa jantungnya jatuh begitu saja dari tempatnya ketika kini gadis itu mengecupi masing-masing pipi Sehun dengan lembut. Sehun masih dapat dengan jelas merasakan rasa panas dari tubuh mereka yang saat ini berjarak sangat intim, membuat otaknya tidak mampu berpikir jernih. Seperti menit-menit sebelumnya, setiap kali Surin bergerak diatasnya, Sehun mati-matian menahan dirinya untuk tidak mengerang.

 

“Sehun-a.” Panggil Surin membuat Sehun harus mengatur napasnya dengan susah payah terutama ketika kini gadis yang juga sedang terengah-engah itu mengelus permukaan pipinya yang tadi baru ia sentuh dengan bibirnya. Piyama yang Surin kenakan terus turun, memperlihatkan kulit putih susunya dengan jelas membuat Sehun merasa perlu menutupinya sehingga kini laki-laki itu mengecupi lengan dan bahu Surin berkali-kali membuat gadis itu hanya dapat merasakan tubuhnya semakin melemas dalam pelukan erat Sehun sembari mengerang tertahan.

 

“Kau benar-benar mabuk saat ini, Surin-a. Aku antar ke kamarmu, ya.” Sehun menghentikan kegiatannya lalu mengelus rambut Surin dengan sayang.

 

“Tidak mau.” Ujarnya menolak. Gadis yang kini masih terengah-engah itu mengelus bingkai kacamata Sehun dengan satu telunjuknya. Sehun dapat melihat Surin tersenyum tipis membuat laki-laki itu merasa gemas sendiri.

 

“Lalu maunya apa?”

 

“Maunya kau tidak melepas kacamata ini dan kembali menciumku.” Sehun menahan tawanya membuat Surin mengercutkan bibirnya. “Jangan tertawa, ayo cepaaat.” Surin memejamkan matanya, menunggu Sehun untuk menciumnya namun yang ia dapatkan adalah sentilan pelan pada dahinya.

 

“Akan berbahaya apabila dilanjutkan.” Sehun menegakan duduknya sementara Surin masih berada dipangkuannya. Sehun merapikan rambut Surin yang sedikit berantakan, lalu beralih kembali mengecup permukaan bahu Surin yang terlihat akibat kancing baju piyamanya yang terbuka. Sehun kemudian mengancing kembali baju piyama Surin dan mengecup dahi gadis itu lambat-lambat.

 

“Aku menyayangimu, Jang Surin. Aku ingin kau tahu hal itu.” Sehun kemudian menenggelamkan wajanya ke bahu kanan Surin yang kecil seraya menghirup aroma vanilla dari tubuh gadis itu sebanyak-banyaknya, berusaha mengobati rasa rindunya yang begitu dalam terhadap Surin.

 

Sehun tersenyum ketika kini merasakan Surin menjadikan bahunya sebagai bantalan kepalanya. Gadis itu tertidur begitu saja disana setelah sebelumnya hampir membuat Sehun kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

 

“Memang hanya dirimu yang bisa, Surin-a.”

 

**

 

Pagi itu adalah pagi terakhir Surin dan yang lain di Pulau Jeju dalam acara move on trip. Seperti hari sebelumnya, Surin bangun lebih dulu dari yang lain dan memutuskan untuk lari pagi di pinggir pantai. Surin tidak ingin menjelaskan bagaimana move on trip ini tidak berhasil sama sekali bagi dirinya terutama karena trip ini telah membuatnya bermimpi yang tidak-tidak tentang Sehun.

 

Dengan hanya memikirkan mimpinya saja berhasil membuat kedua pipi Surin merasa panas. Baiklah, bagaimana mungkin Surin berani duduk diatas pangkuan Sehun? Mimpi itu benar-benar gila dan Surin yakin seratus persen itu adalah efek dari mengikuti move on trip ini.

 

Surin merasa kakinya lemas seketika. Ia berhenti berlari lalu memandang deburan ombak yang seolah bergerak kompak untuk memberinya semangat.

 

“Selamat pagi.” Seseorang menyapanya dari belakang, membuat Surin terkejut terutama karena orang itu adalah Oh Sehun, laki-laki yang menjadi pemeran utama di mimpi panasnya semalam. Surin buru-buru mengalihkan pandangannya dari Sehun pada sekitar pantai yang pagi itu sangat sepi. Hanya kicauan burung dan suara angin yang menemani Sehun dan Surin.

 

“Surin-a, aku ingin bicara sesuatu.” Sehun yang kini berdiri disampingnya meraih tangan Surin untuk menghadapnya. Laki-laki itu tersenyum, membuat Surin ingin sekali menangis ditempatnya. Surin merindukan Sehun dan senyuman manis laki-laki itu. Ia benar-benar merindukannya.

 

“Aku meminta maaf padamu. Aku tahu selama ini aku tidak selalu ada setiap kau membutuhkanku. Aku juga yang egois dengan terus-terusan menuntut bahwa kau harus mengerti setiap keadaanku. Aku menyesali hal itu, Surin-a.” Sehun membawa Surin kedalam pelukannya.

 

“Aku merindukanmu. Benar-benar merindukanmu. Ku mohon kembalilah padaku, Jang Surin.” Sehun mengeratkan pelukannya dan detik berikutnya Surin sudah membalas pelukan Sehun seraya mengangguk pelan dalam pelukannya membuat laki-laki itu tersenyum senang.

 

“Aku menunggu kata-kata itu sedari satu bulan yang lalu.” Rengek Surin membuat Sehun langsung mengecup puncak kepalanya berkali-kali.

 

“Mulai sekarang, aku janji, kau akan selalu menjadi prioritas utamaku.” Ungkap Sehun dan Surin langsung tersenyum senang. Surin baru menyadari bahwa pagi ini Sehun mengenakan kacamata bacanya, membuat gadis itu teringat kembali akan mimpi memalukannya semalam.

 

“Sehun-a, semalam aku memimpikanmu.” Surin bercerita sementara Sehun tersenyum penuh arti. “Didalam mimpiku kau mengenakan kacamata baca ini juga.” Sambungnya dan Sehun merasa ia akan tertawa didetik berikutnya, namun ia mencoba menahan dirinya.

 

“Lalu apa yang aku lakukan didalam mimpimu?”

 

Surin langsung menggigit bibir bawahnya, merasa ragu untuk memberitahu Sehun. “Rahasia.” Ujarnya sementara Sehun hanya terus menahan tawanya.

 

“Biar aku tebak.”

 

Surin langsung memandang Sehun dengan menantang. “Silahkan saja.”

 

“Kau mendudukan dirimu dipangkuanku, menciumku terlebih dulu—”

 

“YAAAA! Bagaimana bisa kau tahu?!” Surin langsung menutup mulut Sehun dengan telapak tangannya membuat laki-laki itu tertawa terbahak terutama karena melihat wajah Surin yang saat ini benar-benar memerah.

 

“Jadi itu benar terjadi?” Surin merasa dirinya akan meledak sebentar lagi karena tawa jahil dari Sehun yang semakin menggelegar. “Makanya jangan minum alkohol kalau memang tidak bisa sama sekali.” Sehun menyentil dahinya dan Surin langsung merengek di detik berikutnya.

 

Sehun mengecup bibir Surin dengan cepat membuat gadis itu langsung mematung ditempatnya.

 

“Aku hanya ingin mengabulkan permintaanmu semalam. Kau meminta untuk dicium dengan aku yang mengenakan kacamata ini, kan?”

 

“YAAAA! Oh Sehun! Kau benar-benar ingin bertengkar lagi ya?” Surin berseru pada Sehun yang sudah berlari menjauh. Surin kemudian langsung mengejar laki-laki jahil yang kini masih asik tertawa sembari menghindar darinya.

 

Baik Sehun dan Surin pada akhirnya sama sekali tidak menyesali keputusan mereka untuk mengikuti move on trip.

 

Sehun dan Surin juga tahu bahwa pada akhirnya mereka akan kembali pada satu sama lain karena apa yang telah diperuntukan bagi satu sama lain akan selalu menemukan jalannya.

 

**

Instagram.

large (12)

@oohsehun : Move on trip = 100. I love you, @surinjjang ❤

123099 likes.

Comments :

@real__pcy : Aku anggap ini sebagai ladang promosi gratis. Ayo semuanya yang ingin seperti foto diatas bisa langsung mampir ke aplikasi Move On Trip! #MoveOnTripbyPCY

@kimjuncutton : Wow wow wow, cepat sekali unggahnya. Baru saja di jepret beberapa menit lalu! Iya, tahu, yang baru balikan ingin menebar kemesraan kembali, iya.

@baekhyunee_exo : Taken by pacarnya Park Jimi aka me. 😀

@_jimiyya : So happy for Sehun and Surin!!!! Benar kata Taerin, kalian memang dari awal sudah terlihat seperti jodoh. Semoga aku dan @baekhyunee_exo juga ya. ❤

@zkdlin : hadeh hadeh abg dimabuk cinta.

@e_xiu_o : astaga aku juga ingin mencoba aplikasinya, sayang sekali aku sedang wajib militer.

@dokyungsoo93 : Surin…

@kjong_dae : @dokyungsoo93 #SeribuPukPukUntukKyungsoo

@zyxzjs : @dokyungsoo93 baru saja ada peluang sedikit, langsung ditutup lagi oleh Sehun. Banyak-banyak sabar, Kyungsoo-ya. #SeribuPukPukUntukKyungsoo

@surinjjang : Hehe. ❤

@surinjjang : Punggungmu terlihat sangat lebar di foto ini.

@surinjjang : Aku suka! ❤

@oohsehun : @surinjjang kau kan memang menyukaiku kapan saja dan dimana saja terutama saat kau sedang dibawah pengaruh alkohol. 🙂

@surinjjang : @oohsehun kalau mau bertengkar lagi bilang saja. 🙂

@oohsehun : @surinjjang love you, madame. Jangan marah ya, sayang. ❤

 

-FIN.

 

UYEEEEEEEEEY! Panjang banget sumpah sumpah, semoga kalian gak bosen ya bacanya. ASLI BOSEN GA SIH? Gimanaaa? Bagus tidaaak? Mohon beri aku secercah jawaban ya, lovely readers. :”) Sangat kangen Sehun huhu dan aku lagi seneng banget karena Juli nanti Sehun mau debut sama Chanyeol jadi EXOCS! Mari kita tunggu duet maut mereka!!

Anyway, terima kasih sudah mau membaca ff super panjang ini. See you on the next ff!

4 comments

  1. junmyunni · June 9

    waktu baca part surin lagi mabuk, lgsg kebayang gmana besok pas sadar. eh baca ke bawah beneran malu, wkwkwkwk. geli2 bacanya tapi seneeeeeeeeng. kirain bakal 18+ nih. tapi masih amaaaaaannnn. hahahahahahaha, gemes sama suuurrrriiiiiiiiiiin. daaaaaan instagram’s boy si sehun balik lagiiiiii. suka banget kalau ada postingan gitu, gemes aja. wkwk

    • Oh Marie · June 11

      AHAHAHHAHAHAH MAAFIN AUTHOR PECINTA ROMANTIKA INI ;__;

      Makasih banget karna udah suka sama ffnya hihihi dan makasih juga karna ninggalin komen di sini juga setelah baca The One HIHI AKU SENENGGGG. See you on the next ff ya! ❤

  2. leeaerinsite · June 9

    Asiiikkk..
    Si mas pisiway ngemong banget, kek bu guru bu guru yg lagi ngurusin anak didiknya ㅋㅋㅋㅋ
    Heemmm kapan ada aplikasi gini di dunia nyata yaa wkwkwkk
    Sehun surin mah di apa apin tetep satu, emang jodoh tuh orang berdua ㅎㅎㅎ

    • Oh Marie · June 11

      Iyaaa! Sepemikiran banget HAHAHA. Dia kayak lagi ngangon domba-domba tersesat :”)
      Makasih ya udah bersedia untuk baca dan komen ff ini! See you on the next ff ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s