Jazzy Jazz

DzbHfWWUcAArsc9

Been a while! Enjoy this simple one!

**

 

“Aku bersumpah, Oh Sehun. Sekali lagi kau menggangguku, akan ku kirim kau ke antariksa.”

 

Surin, gadis yang saat ini merasa nyawanya terbang entah kemana karena seharian harus berkutat dengan laptop untuk mengerjakan berkas revisi skripsinya yang tinggal sedikit lagi rampung, menatap laki-laki berkulit putih susu yang diketahui bernama Sehun itu dengan tatapan terbengis miliknya. Surin tidak peduli dengan status Sehun sebagai kekasihnya, ataupun sebagai orang nomor satu yang selalu muncul dipikirannya setiap kali ia membuka dan hendak menutup mata. Yang pasti, saat ini, Surin hanya ingin laki-laki yang kini tengah tertawa seraya memainkan bantal kecil sofa itu diam atau tidak dalam beberapa menit lagi Surin benar-benar akan mengusir Sehun dari apartmentnya.

 

Sehun yang tadinya duduk di sofa, beralih duduk disebelah Surin, tepatnya diatas karpet nyaman yang melapisi lantai marbel apartment tersebut. “Oh ayolah, Jang Surin. Baiklah, kita tidak akan pergi ke konser musik jazz itu. Kali ini, ada hal lain yang ingin aku tunjukan padamu. Ikut aku, ya?” Sehun kemudian merangkul leher Surin, menatap kedua mata Surin dengan tatapan memohonnya seraya mengacak rambut gadis itu, menyadari bahwa malah dirinya lah yang gemas sendiri melihat Surin yang sudah acak-acakan itu. Gadis itu bahkan belum mandi sedari pagi namun mungkin Sehun sudah jatuh terlalu dalam pada sosoknya.

 

Surin langsung menggeleng. “Ikut kemana? Kau pasti akan benar-benar membawaku ke tempat konser musik jazz itu, kan? Percayalah, aku memang ingin sekali menontonnya tapi aku sibuk, Sehun. Benar-benar sibuk. Aku tidak ada waktu untuk pergi kemana-mana karena berkas revisi ini harus dikirim pukul sepuluh malam dan sekarang sudah pukul sembilan. Itu artinya satu jam lagi!” Surin berujar ketus dan kembali sibuk mengetik diatas keyboard laptopnya membuat Sehun mendengus.

 

“Baiklah, satu jam lagi, setelah kau kirim berkas revisi itu, kau harus ikut aku. Tidak ada alasan.” Ujar Sehun membuat Surin hanya menghela napas.

 

Sungguh, seharian penuh Sehun terus saja mengganggu Surin. Entah apa yang ada dipikiran laki-laki itu. Seharusnya dia yang paling tahu bahwa sekarang ini Surin adalah mahasiswa tingkat akhir yang sudah tidak bisa main-main lagi.

 

Perlukah Surin merangkum kejahilan Sehun hari ini? Oh, kau pasti akan kesal sendiri mendengarnya.

 

Siang hari tadi Sehun datang tanpa diundang ke apartmentnya. Pasalnya Surin sudah berkata pada Sehun sehari sebelumnya bahwa di hari Sabtu itu ia dengan sangat terpaksa harus membatalkan janji menonton konser musik jazz yang sudah mereka rencanakan seminggu sebelumnya karena ia harus melengkapi skripsinya, mengingat dosen pembimbingnya yang tiba-tiba memajukan waktu pengumpulan berkas revisi.

 

Sehun sudah setuju meskipun sebelumnya ia melontarkan beberapa protesan. Surin adalah yang paling menyukai musik jazz diantara mereka berdua, tetapi Sehun yang benar-benar menyesali hal tersebut, membuat Sehun sempat membujuk Surin untuk tetap pergi dan akhirnya harus mengalah ketika Surin terus menolaknya.

 

Surin pikir Sehun sudah benar-benar menyerah, tetapi pukul dua siang tadi, Sehun melenggang masuk begitu saja ke apartment Surin dengan membawa banyak sekali bahan makanan seperti ibu-ibu yang baru selesai belanja bulanan.

 

“Tenang, tenang, jangan salah paham. Aku tidak akan menculikmu ke konser musik itu. Fokus saja pada skripsimu. Chef ini akan membuatkanmu makan siang yang lezat agar kau punya tenaga untuk melanjutkan skripsimu itu.”

 

Tidak lama setelah Sehun berkata demikian, laki-laki itu mulai sibuk memasak. Pasta, adalah satu-satunya menu yang dapat ia buat. Tangannya bergerak sibuk memotong sayuran, menyiapkan bumbu, sampai memasak daging ayam fillet untuk pelengkap pasta yang juga tengah direbusnya. Memang tidak ada yang salah di sepuluh menit pertama, Surin juga masih duduk bersandar di sofa seraya memangku laptopnya tanpa mempedulikan Sehun, sampai laki-laki itu bersuara meniru chef handal yang ada di televisi.

 

“Ya, sekarang saya akan memasukan ayam fillet ini kedalam minyak yang sudah terlebih dulu dipanaskan. Pemirsa, pemirsa, pemirsa? Lihat kesini pemirsa!” Sehun berseru memanggil Surin dengan sebutan pemirsa membuat Surin menahan tawanya namun tidak lantas memperhatikan laki-laki itu.

 

“Baiklah, ini bagian terpenting. Taburkan bumbu. Meskipun tadi ayam filletnya telah dilumuri bumbu, tetapi beri sedikit lagi. Untuk apa? Ya, suka-suka saya. Pemirsa, lihat pemirsa.” Surin akhirnya menoleh, mendapati laki-laki itu menaburi bumbu dengan dramatis. Ia berpindah ke segala sisi dengan cepat hanya untuk menaburkan bumbu tersebut membuat Surin ingin menimpuknya dengan bantal sofa saat itu juga.

 

“Oh Sehun! Jangan bertingkah!”

 

“Oh, akhirnya pemirsa memperhatikan juga. Pemirsa, selanjutnya saya akan memotong bawang putih. Perhatikan kecepatan kilat tangan saya, ya.” Sehun membetulkan letak celemeknya sebelum ia mencincang bawang putih tersebut dengan cepat. Tidak lama setelah itu, Sehun berteriak membuat Surin langsung beranjak dari tempatnya untuk memeriksa Sehun yang tergores pisau.

 

“Aish, sudah aku bilang jangan bertingkah!”

 

“Surin, ini berdarah!”

 

“Ya, memang! Sini bersihkan dulu!” Surin menarik tangan Sehun ke arah westafel untuk mencuci lukanya. Surin yang saat itu panik segera mengobati tangan Sehun sementara laki-laki itu tertawa jahil membuat Surin meninju perutnya pelan terutama ketika Sehun malah mengecupi puncak kepala Surin berkali-kali.

 

Siang itu akhirnya Surin berakhir membantu Sehun memasak, takut-takut laki-laki itu akan bertingkah lagi.

 

Surin baru benar-benar bisa mengerjakan berkas revisinya ketika Sehun memutuskan untuk membilas diri. Setengah jam Sehun berada di kamar mandi, Sehun berseru memanggil Surin membuat gadis itu menghela napas dan meletakan laptopnya diatas meja kaca yang berada beberapa langkah dari sofa ruang tamu tersebut untuk mengecek apa yang kali ini laki-laki itu lakukan.

 

Surin sempat terpaku beberapa saat melihat Sehun yang kini berdiri di depan pintu kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Surin harus mengakui betapa dirinya harus jatuh ke lubang tanpa dasar setiap kali ia melihat tampilan Sehun sehabis mandi. Baiklah, laki-laki itu tampan, tetapi sekarang ini bagi Surin, tingkat ketampanannya itu bertambah berpuluh-puluh kali lipat. Sehun menunjuk ritsleting sweater berwarna hitam miliknya yang ia ambil dari lemari pakaian Surin, membuat gadis itu menatapnya dengan bingung.

 

Sehun menarik tangan Surin ke dalam kamar mandi lalu mereka bertatapan melalui kaca besar yang kini ada didepan mereka. “Tidak bisa naik. Ritsletingnya macet. Bantu aku?” Surin menggeleng-gelengkan kepalanya lalu memegang lengan Sehun untuk berdiri berhadapan dengannya. Sehun jauh lebih tinggi darinya, membuatnya terlihat begitu kecil berhadapan dengan laki-laki itu.

 

Surin menyentuh ritsleting tersebut dan seketika ia merasa kesadarannya lenyap begitu saja ketika menyadari Sehun tidak mengenakan kaos putihnya, membuat Surin dapat melihat dengan jelas dada bidang Sehun dibalik sweater hitam yang kini sudah setengah tertutup itu. Sehun memegang puncak kepala Surin dengan telapak tangannya yang lebar sambal tersenyum jahil. “Jangan berpikir macam-macam, cepat naikan sletingnya.”

 

Surin meneguk ludahnya sendiri sambal mengerjap beberapa kali. “Ti-tidak, kok. Lagipula, mengapa tidak memakai kaos putihmu yang tadi saja, sih? Mengapa harus memakai sweater ini?”

 

“Aku tahu kalau kau merindukanku, kau akan mengenakan sweaterku yang tiba-tiba hilang ini. Artinya, aku hanya ingin mengambil kembali pakaianku yang kau curi.” Ujar Sehun seraya tertawa membuat Surin memukul lengannya pelan dan menaikan ritsleting sweater tersebut yang ternyata tidak bermasalah.

 

“Sebagai gantinya, kau boleh menyimpan hoodie ini.” Sehun memakaikan hoodie berwarna hitam yang tadi ia kenakan bersama dengan kaos putihnya pada Surin yang hanya terdiam ditempatnya seraya menurut. Hoodie hitam itu bagaikan terusan di tubuh Surin, membuat celana pendek sebatas paha yang dikenakan gadis itu tidak lagi terlihat.

 

Surin kemudian mengepakan kedua lengan hoodie kebesaran itu, menunjukan pada Sehun kedua tangannya yang tenggelam dibalik lengan hoodie tersebut membuat Sehun yang gemas sendiri menggendong tubuh Surin dan mendudukannya pada meja westafel yang berada didekatnya, lalu mengunci Surin dengan lengannya, membuat gadis itu terkekeh. Sehun tertawa kecil ketika Surin menyentuh rambutnya yang masih basah.

 

“Aku tidak ada waktu untuk ini, aku harus menyelesaikan berkas revisiku. Tinggal sedikit lagi selesai.” Ujar Surin membuat Sehun mengangguk-anggukan kepalanya.

 

“Tentu saja kau harus menyelesaikannya agar kau bisa segera ikut aku ke suatu tempat. Kalau begitu, ayo aku bantu turun.” Surin menahan tangan Sehun lalu mengercutkan bibirnya. Surin masih ingin berlama-lama menghirup aroma segar sabun cair yang menguar dari tubuh Sehun. Surin masih ingin berlama-lama memandangi wajah laki-laki itu juga rambutnya yang basah.

 

“Aku rasa aku masih punya waktu untuk mengeringkan rambutmu terlebih dulu.” Surin meraih hair dryer dari lemari gantung yang berada di dekatnya sebelum akhirnya ia benar-benar mengeringkan rambut Sehun dari tempatnya duduk saat ini. Sehun yang berdiri diantara kedua kakinya hanya meletakan kedua tangannya untuk melingkari pinggul Surin sementara Surin masih terus mengeringkan rambut Sehun dengan hair dryernya. Sesekali mereka berdua tertawa kecil, entah apa yang ditertawakan, yang pasti mereka hanya menikmati kehadiran satu sama lain.

 

Sudah Surin katakan, Sehun memang pengganggu nomor satu yang selalu berhasil membuatnya terdistraksi.

 

**

 

“Tiga puluh menit lagi.” Ujar Sehun seraya melirik jam tangan yang bertengger dipergelangan tangan kirinya, membuat Surin hanya terus mengetikan sesuatu pada laptopnya sambil turut melirik jam dinding yang berada diatas televisi.

 

Surin sampai pada kalimat terakhirnya. Ia menekan tombol save, lalu segera mengirim berkas tersebut pada dosen pembimbingnya melalui email.

 

“Yes! Kau selesai, Surin! Selesai!!” Seru Sehun antusias sementara Surin hanya termenung. Sehun melambaikan telapak tangannya didepan wajah Surin untuk membuatnya sadar, namun Surin masih termenung, menatap kosong layar laptopnya sendiri. Helaan napas panjangnya kembali terdengar membuat Sehun langsung merangkul lehernya.

 

“Ada apa?” Tanya Sehun membuat Surin langsung menoleh kearahnya.

 

“Aku takut. Bagaimana kalau aku harus revisi lagi? Aku benar-benar lelah dan entah mengapa aku merasa pesimis dengan semuanya. Aku tidak tahu apa aku bisa menyelesaikan ini dengan benar.” Surin mengeluh membuat Sehun menepuk puncak kepalanya berkali-kali.

 

“Yang terpenting adalah kau sudah berusaha, Surin. Semua akan baik-baik saja dan kau pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Buktinya saja, sekarang kau bisa selesai tepat waktu. Lagipula, kalau harus revisi lagi, aku siap menemanimu seharian seperti hari ini.” Surin tertawa kecil mendengar ucapan Sehun yang terakhir.

 

“Lalu menggangguku seharian, begitu?”

 

“Aku rasa kau tidak merasa terganggu sama sekali, tuh.” Sehun membela diri dengan senyuman jahilnya membuat Surin langsung memukul lengannya pelan.

 

“Bukan hanya soal revisi yang mengganggu pikiranku. Aku masih menyayangkan fakta bahwa hari ini kita harus melewatkan konser musik jazz itu. Kapan lagi kita melihat Daniel Caesar live perform?” Gerutu Surin seraya berdecak kesal. Sehun langsung menyelipkan jari jemarinya pada jari jemari milik Surin yang jauh lebih kecil darinya.

 

“Makanya ayo ikut aku.”

 

“Kemana? Ke tempat konser itu? Sekarang sudah pukul sepuluh malam, Sehun. Acaranya sudah selesai.”

 

Sehun langsung menarik tangan Surin untuk berjalan keluar sementara gadis itu sudah berseru memprotes. “Oh Sehun, kita mau kemana?!”

 

**

 

“Sudah aku bilang, aku menyiapkan sesuatu.”

 

Sehun berujar bangga pada Surin yang kini menganga, tidak percaya akan apa yang dilihatnya. Saat ini mereka tengah berada di area kolam renang indoor apartment Surin. Tidak ada orang disana, yang ada hanyalah bola-bola lampu yang mengambang diatas permukaan air kolam renang tersebut, membuat kolam itu terlihat begitu indah karena pantulan cahaya emas yang berkerlap-kerlip.

 

Di seberang kolam renang tersebut terdapat sebuah layar besar, yang masih tidak Surin ketahui untuk apa. “Selamat datang di arena konser musik jazz pribadi untukmu, Jang Surin.” Sehun menjentikan jemarinya dan seketika layar tersebut menyala, menampilkan video live perform dari penyanyi jazz favoritnya, Daniel Caesar. Lagu nomor satunya, Best Part, bergema melalui beberapa speaker yang berada diarea kolam renang indoor tersebut.

 

“Oh Sehun, kau menyiapkan ini.. untukku?”

 

Surin berhambur ke pelukan Sehun membuat laki-laki itu membalasnya dengan erat. “Pertama, aku tahu kau akan sedih karena tidak jadi pergi ke konser itu dan aku tidak mau melihat gadisku bersedih. Kedua, aku merasa perlu melakukan ini untuk memberikanmu apresiasi karena telah seharian penuh berkutat dengan tugasmu itu. Kau hanya perlu ingat bahwa kau hebat dan sudah melakukan yang terbaik.” Sehun mengeratkan pelukannya sementara Surin merasa air mata harunya akan jatuh sebentar lagi kalau saja Sehun terus membombardirnya dengan ucapan tulus dan manisnya itu.

 

“Terima kasih. Aku benar-benar senang saat ini.” Surin melepas pelukan mereka seraya mengelus kedua pipi Sehun dengan sayang. “Tapi ini pasti persiapannya merepotkan, bukan?”

 

Sehun tertawa. “Sedikit. Proses menyewa kolam renang ini sehari agak berbelit, tapi untungnya karena aku lebih hebat dari superman, selesai tepat waktu.” Kini Surin yang tertawa akibat ucapan Sehun barusan.

 

“Dance with me, Rin?”

 

Surin tertawa lagi, lalu segera mengangguk dan mengalungkan tangannya pada leher Sehun, sementara laki-laki itu sudah memeluk pinggangnya. Lagu Best Part milik Daniel Caesar masih mengalun memenuhi ruangan tersebut, juga mengiringi langkah kaki Sehun dan Surin untuk bergerak sesuai irama.

 

“Aku bahkan belum mandi dari pagi.” Surin berujar membuat Sehun tertawa.

 

“Kau tetap cantik.” Sehun membalas, membuat Surin terkekeh.

 

“Tidak perlu berbohong untuk membuat suasana semakin romantis.”

 

“Hmm, kalau begitu ya hanya sedikit ada aroma asam saja.”

 

“OH SEHUUUN!”

 

Sehun dan Surin tertawa terbahak, terutama ketika menyadari betapa kencangnya volume teriakan Surin barusan yang menggema diseluruh penjuru ruangan indoor kolam renang tersebut. Lagu berganti menjadi lagu Quando, Quando, Quando dari Michael Buble. Salah satu lagu jazz favorite Surin yang Sehun tahu. Surin langsung tersenyum seraya terus menyeimbangkan kakinya dengan gerakan kaki Sehun.

 

“Oh Sehun, kau benar-benar harus tanggung jawab.” Surin memicingkan matanya pada Sehun sementara laki-laki itu hanya menatapnya penuh tanya. “Soal?”

 

“Soal aku yang sekarang semakin menyukai musik jazz. Mulai sekarang, setiap aku mendengarkan lagu-lagu yang tengah diputarkan ini, aku akan selalu ingat hari ini.” Surin tertawa ketika melihat senyuman manis diwajah Sehun mengembang begitu saja.

 

“Maksudmu, ingat kalau kau berdansa dengan pangeran berkuda putih tapi kau belum mandi dari pagi?” Surin langsung menginjak kaki Sehun, membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.

 

“Tetap saja jahilnya tidak berhenti, ya!” Omel Surin membuat Sehun hanya tertawa sampai kedua matanya membentuk lengkungan bulan sabit yang selalu Surin favoritkan. Sehun kemudian membenamkan wajahnya dibahu Surin, menghirup aroma vanilla dari tubuh gadis itu yang sangat Sehun sukai sementara Surin mengelus tengkuk laki-laki itu dengan sayang.

 

“Aku menyayangimu, Oh Sehun.” Ujar Surin dan gadis itu dapat merasakan tangan Sehun mempererat pelukan pada pinggangnya.

 

“Lebih dari musik jazz?” Sehun kini mengangkup kedua belah pipi Surin dan mengelusnya lembut.

 

“Lebih dari musik jazz.” Surin membalas dengan senyuman riangnya.

 

“Aku juga menyayangimu, Jang Surin.”

 

“Lebih dari bubble tea cokelat?” Surin menatap kedua mata Sehun yang kini tengah lurus-lurus menatapnya.

 

“Hmm, nanti ya aku pikirkan lagi.”

 

“YA! Merusak moment sajaaa!” Gerutu Surin sementara laki-laki jahil itu sudah tertawa penuh kemenangan sebelum akhirnya ia menempelkan dahinya pada dahi Surin.

 

“Lebih dari apapun, Surin.” Sehun kemudian menautkan bibirnya pada bibir Surin seraya mempererat pelukannya pada pinggang gadis itu. Untuk beberapa menit Sehun terus melumat bibir gadis itu dengan lembut dan penuh hati-hati seraya merasakan jantungnya yang terus berdebar kencang bersamaan dengan milik Surin.

 

Surin menyelipkan jari jemarinya pada rambut hitam pekat Sehun ketika ia merasakan Sehun mempertegas gerakan bibirnya, menggigit bibir bawah Surin untuk memperdalam. Ujung hidung Sehun menyentuh permukaan pipinya dan Surin merasa kakinya lemas ketika Sehun mengecup ujung bibirnya berkali-kali, beralih pada pipinya yang merah padam, seolah memberi waktu pada Surin untuk mengambil napas sebelum akhirnya kembali pada bibir gadis itu.

 

Ketika Surin merasakan kakinya sudah sampai diujung kolam renang, Surin mencengkram lengan Sehun untuk menahan tubuhnya agar tidak terjatuh kedalam air. Sehun yang menyadari hal itu langsung melepas tautan bibir mereka dan menarik Surin untuk menjauh dari kolam tersebut. Keduanya langsung tertawa terbahak akibat kejadian barusan.

 

Surin kembali memeluk Sehun sementara laki-laki itu membalas dengan erat.

 

“Terima kasih sekali lagi, Hun. Aku tidak keberatan sama sekali dengan adanya pengganggu usil ketika aku nanti mengerjakan tugas lagi.”

 

Sehun tertawa seraya mengecup puncak kepala Surin yang masih berada dipelukannya.

 

-END.

 

YAAMPUN BENER-BENER UDAH LAMA BANGET. Masih ada yang baca tidak yaaa? :”) Aku berencana balik aktif ngepost lagi. Semoga terlaksana ya niatnya. Sangat rindu kalian semua huhu. Gimana ff simple ini? Simple banget ya, tapi semoga cukup untuk kangen-kangenan sama Sehun huhu. Dan semoga juga kalian suka serta manisnya tersampaikan ya!

See you on the next ff! ❤

4 comments

  1. Junmyuni · May 24

    PLEASEEE COME BAAAAAAACK!!
    satu2nya ff exo apalagi sehun yg aku baca cuma disinii. berulang kali cek ada update baru apa nggak, akhirnya baca yg sebelum2nya, wkwk. seneng banget akhirnya updateeeee!!!!

    aku gatau kenapa ya, apa karna aku yg bertambah tua, tapi seneng banget kalau pas situasinya mereka udah kerja gitu, hahahahaha. tapi, selama update terus sih nggak masalah. seneng banget!!!!!

    • Oh Marie · May 25

      JUUUUNMYUNIIIIIIII sangat kangen kamu!!!
      Seneng banget ternyata masih ada yang mantengin huhuhuhu. Iya nih aku ada niatan untuk aktif update lagi!! Ditunggu ya next projectnya!!!

      KOK KITA SAMA SIH. SEKARANG AKU BAWAANNYA MAU NULIS YANG SITUASINYA MEREKA UDAH KERJA TERUS HAHAHA. Umur ini mempengaruhi ya ternyata:”) Sekali lagi makasih ya udah mau setia mantengin ohmarie!! See you on the next project ❤

  2. leeaerinsite · June 3

    Setelah sekian lama, akhirnya apdet jugaaa 😍😍😍
    Uluululululuuu, sehun surin makin berjaya
    Sisain cowok satu kek sehun di dunia nyata doong akakakakkak

    • Oh Marie · June 4

      HALOHAAAA! Astaga kangen banget liat komen kamuuu! Makasih ya masih mantengin wordpress berdebu iniii:”)

      HUAHAHAHA amiiin semoga beneran disisain sama yang diatas ya. Yang tingginya kayak sehun, yang gantengnya kayak sehun, ya sehun aja pokoknya lah:”)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s