Fireflies

fireflies

Enjoy this short one!

**

“Aku memang benar-benar tidak akan pernah mengerti apa yang sebenarnya menjadi isi kepalamu, Jang Surin.”

 

Sehun menghela napasnya panjang seraya melipat kedua tangannya didepan dada. Sesekali laki-laki itu memperbaiki letak jaket denimnya agar angin malam yang tengah berhembus kearahnya sekarang ini tidak dapat langsung menerpa tubuhnya.

 

“Oh ya? Baguslah, berarti aku ini misterius.”

 

Sehun tertawa tidak percaya akan ucapan Surin barusan. Pasalnya, laki-laki itu baru saja mendapatkan pesan singkat dari Surin yang mengajaknya pergi ke suatu tempat dan Sehun segera bergegas menuju ke apartment gadis itu untuk menjemputnya dimenit ke lima belas setelah pesan itu sampai padanya. Ya, Sehun hanya merasa antusias karena seorang Surin, gadis super sibuk dan super galak itu untuk pertama kalinya mengajaknya ‘kencan’ lebih dulu. Ternyata Sehun memang akan selalu salah menebak isi kepala Surin. Bukannya kencan seperti apa yang ada dibayangan Sehun, saat ini mereka malah berada disuatu tempat yang sepi, gelap, dengan pepohonan tinggi disekitar mereka.

 

Suara jangkrik bahkan dapat terdengar disana-sini dan udara yang sangat dingin benar-benar tidak memperbaiki suasana. Gadis yang berhasil membuat kedua alis Sehun bertaut garang itu justru kini tengah sibuk sendiri sambil tertawa kecil.

 

“Sehun, kemarilah. Lihat ini kunang-kunangnya lucu sekali, kan? Dari seminggu yang lalu aku sudah mencari tahu banyak tentang kunang-kunang.”

 

Sehun yang masih kesal segera menghampiri Surin dan berdiri disebelahnya. “Jadi ini kencan yang kau maksud? Melihat kunang-kunang di jam sembilan malam dengan udara yang dingin seperti ini? Ditambah dengan perjalanan jauh yang harus kita tempuh hanya untuk mencapai tempat yang tidak ada apa-apanya ini?” Sehun memperhatikan Surin sambil tertawa tidak percaya ketika gadis itu malah menganggukan kepalanya tanpa sekalipun melihat kearah Sehun. Serentetan kalimat protes itu malah terdengar murni seperti pertanyaan ditelinga Surin dan hal itu benar-benar semakin memancing kekesalan Sehun saat ini.

 

“Kau pegang saja lampu minyak itu dengan benar dan jangan sampai mati.” Ujar Surin dan mau tidak mau kini Sehun yang baru saja menghela napasnya pun menurut dan ikut memperhatikan kunang-kunang itu bersama dengan Surin. Sesekali ia harus kerepotan karena lampu minyak yang dipegangnya.

 

“Ini benar-benar buruk. Mengapa tidak membawa senter saja, sih?” Lagi-lagi Sehun memprotes.

 

Yang diprotes hanya berdecak sambil melirik laki-laki itu dengan garang. “Ya supaya lebih terasa petualangannya!” Seru Surin dan kali ini Sehun tahu ia harus menyerah, sehingga laki-laki itu hanya kembali menghela napas, entah yang keberapa kali.

 

Surin berjalan maju mendekati kunang-kunang itu dan Sehun melakukan hal yang sama. Mereka memperhatikan kumpulan kunang-kunang itu untuk beberapa menit. Bentuknya seperti lebah, namun berukuran lebih kecil dari lebah. Mereka juga menghasilkan suara, namun tidak begitu berisik seperti lebah. Yang menarik memang adalah karena cahaya yang dihasilkan tubuh mereka membuat mereka terlihat seperti bola cahaya berwarna kuning yang berterbangan kesana-kemari.

 

“Kunang-kunang itu spesial karena merekalah yang menjadi inspirasi Thomas Alfa Edison untuk membuat lampu.”

 

“Sungguh fakta paling tidak penting untuk kelanjutan hidupku, Jang Surin.” Ujar Sehun sarkastik membuat gadis itu tertawa terbahak sambil memegang satu bahu Sehun untuk menahan tubuhnya sendiri, sementara Sehun hanya berdecak sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali lalu kembali memperhatikan kunang-kunang tersebut dengan sedikit menunduk, mengingat Surin masih menjadikan bahunya sebagai penopang.

 

“Keberadaannya juga semakin langka. Mengakulah bahwa ini adalah yang pertama kalinya kau melihat kunang-kunang. Kau harus berterima kasih padaku, Hun.” Sehun menegakan tubuhnya, satu tangannya masih memegang lampu minyak sementara Surin mengalungkan lengannya sendiri pada lengan Sehun, membuat laki-laki itu akhirnya harus menyembunyikan senyumannya sendiri karena pelukan erat Surin pada lengannya.

 

“Aku harus berterima kasih pada penculik yang membawaku ke hutan seperti ini?” Sehun masih terus berujar sarkastik membuat Surin berdecak.

 

“Tapi kau senang, kan?!”

 

“Karena ada nada memaksa pada pertanyaanmu barusan, ya, sedikit.”

 

Meskipun ini adalah kencan teraneh yang pernah dilaluinya bersama Surin, namun sebenarnya hal ini tidaklah seburuk yang Sehun pikirkan. Pada kenyataannya kunang-kunang itu memang indah dan menarik untuk dilihat.

 

Mungkin ada maksud terselubung dibalik pemikiran Sehun barusan. Bukan hanya kunang-kunang itu yang indah, melainkan siluet Surin yang kini berhasil menarik seluruh perhatiannya.

 

Tangan Surin yang sekarang bergerak mengikuti arah terbangnya kunang-kunang dan matanya yang berbinar seolah-olah ikut memendarkan cahaya yang sama dengan cahaya yang ada pada tubuh kunang-kunang itu, membuat Sehun sempat tersihir oleh pemandangan yang dilihatnya. Surin mungkin berpikir bahwa kunang-kunang itu mempesona, namun Sehun lebih terpesona akan sosok gadis itu yang kini tengah tertawa kecil ketika kunang-kunang yang sedari tadi diperhatikannya mulai berterbangan mengitari tubuhnya.

 

Sehun memang tidak akan bisa kesal terlalu lama dengan Surin.

 

“Kalau sebegitu sukanya, kenapa tidak membawa toples untuk membawa pulang kunang-kunang itu?” Tanya Sehun membuat Surin yang masih memeluk lengannya langsung menoleh kearahnya.

 

“Kalau aku bawa pulang nanti mereka tidak bisa berkembang biak, bagaimana? Maka sebab itu aku memilih untuk sebatas datang saja kesini hanya untuk melihat mereka. Jadi berhentilah memprotesku. Aku memang benar-benar ingin melihat kunang-kunang dari lama, tahu.” Ujar Surin dengan nada suara merajuknya membuat Sehun lagi-lagi hanya dapat menyerah dengan sebuah senyuman kecil. Rasa kesalnya yang ia rasakan beberapa menit lalu seolah lenyap begitu saja hanya karena nada suara Surin yang terdengar menggemaskan itu.

 

“Ah ya, bicara tentang perkembang biakan kunang-kunang, dari artikel yang aku baca, kunang-kunang tidak memilih pasangannya dengan sembarangan, loh. Jadi si kunang-kunang jantan melakukan kerlipan khusus yang hanya diperuntukan untuk satu betina. Lalu ketika betina melakukan kerlipan yang sama, itu tandanya ia menerima si jantan dan barulah mereka menjadi pasangan. Satu pasangan seumur hidup.” Ujar Surin dan Sehun langsung tertawa akibat kalimat terakhirnya yang sedikit mendramatisir itu.

 

“Sehun, cepat lakukan hal yang sama dengan kunang-kunang jantan.”

 

Sehun kemudian memandang Surin dengan tatapan tidak mengertinya. “Bicaralah dengan bahasa manusia dan bukan bahasa kunang-kunang, Surin. Maksudmu itu apa? Sekarang aku harus menjadi kunang-kunang?”

 

“Ish, kau memang menyebalkan. Kerlipkan matamu seolah-olah kau adalah kunang-kunang jantan yang sedang mengirimkan kerlipan cahaya khusus itu untuk meminta aku, si betina, menjadi pasanganmu.”

 

“Aku memang tidak akan pernah mengerti isi kepalamu, Jang Surin.” Sehun mengulangi kata-kata yang ia rasa sudah ia ucapkan itu pada Surin, kemudian ia meletakan lampu minyak yang dipegangnya ke tanah sebelum ia meraih kedua bahu kecil Surin guna memutar tubuh gadis itu agar dapat berdiri berhadapan dengannya.

 

“Seperti ini?” Sehun menutup dan membuka matanya berkali-kali dengan cepat membuat Surin tertawa terbahak-bahak dan Sehun hanya memandangnya dengan tatapan kesal.

 

“Dasar bodoh. Mau saja melakukan permintaan bodoh semacam itu.” Komentar Surin dan kini ia dapat melihat kekesalan semakin kentara diwajah tampan Sehun yang tersinari oleh pendaran cahaya kuning dari kunang-kunang yang berada disekitar mereka.

 

Sehun berdecak tidak terima. “Mana jawabannya? Katamu kan kunang-kunang jantan harus mendapatkan jawaban dulu dari si betina barulah mereka menjadi pasangan. Cepat kerlipkan matamu sekarang juga!” Pintanya seperti anak-anak yang tidak mau kalah bertarung. Surin harus tertawa karena wajah kesal Sehun saat ini benar-benar terlihat menggemaskan dimatanya.

 

Surin menarik jaket denim yang Sehun kenakan membuat laki-laki itu berjarak semakin dekat dengannya. Untuk beberapa detik mereka saling memperhatikan wajah masing-masing dengan senyuman serupa yang terukir diwajah mereka. Sekumpulan kunang-kunang yang berterbangan mengitari mereka menjadi satu-satunya sumber cahaya disamping cahaya bulan diatas sana yang sinarnya tengah terus berusaha menembus pepohonan tinggi untuk dapat mencapai tanah. Kalau Surin disuruh untuk mendata tempat ter-romantis yang pernah dikunjunginya bersama dengan Sehun, mungkin tempat ini akan menempati nomor pertama daftar tersebut.

 

Surin kemudian mengalungkan kedua tangannya dileher Sehun dengan sedikit berjinjit karena jarak tinggi tubuh mereka yang cukup jauh, lalu Surin mendaratkan kecupan singkatnya disebelah pipi Sehun membuat laki-laki itu tersenyum senang.

 

“Aku tidak akan membiarkanmu menertawakanku jadi itulah jawabanku sebagai kunang-kunang betina yang cerdas.” Surin menjulurkan lidahnya dan Sehun tertawa karena hal tersebut seraya mengacak rambut Surin dengan gemas. Sehun mengelus kedua belah pipi Surin dengan telapak tangannya membuat gadis itu langsung terlihat salah tingkah dan laki-laki itu hanya tersenyum kecil ketika ia menyadari hal tersebut.

 

Sehun benar-benar menyayangi gadis itu sampai-sampai ia rasa jika esok hari Surin memintanya untuk pergi ketempat yang lebih jauh daripada ini dengan tujuan hanya untuk melihat serangga lainnya, Sehun dapat menjamin bahwa ia tidak akan menolaknya.

 

Laki-laki itu tersenyum ketika kini ia merasakan kedua ibu jari Surin menyentuh masing-masing alis tegasnya dengan lembut. “Akhirnya kedua alis ini tidak bertaut garang lagi.” Komentar Surin asal, membuat kedua tangan Sehun yang berada dimasing-masing pipi Surin beralih pada pinggang gadis itu, membawa tubuh Surin mendekat kearahnya.

 

Sehun yang sedari tadi mengunci pandangan Surin akhirnya dengan perlahan tapi pasti menghapus jarak wajah mereka dengan mendaratkan bibirnya pada bibir gadis itu. Sehun mulai memperdalam tautan bibir mereka bersamaan ketika merasakan tangan Surin meremas ujung kaus putih yang dikenakannya dibalik jaket denim tersebut. Meskipun ini bukanlah yang pertama kali diantara mereka, keduanya dapat merasakan rasa gugup tak terhingga kini tengah menaungi mereka terutama ketika Sehun menuntun pergerakan bibir Surin untuk dapat menari seirama dengan miliknya. Kedua lengan Sehun masih melingkari pinggang Surin seraya mempererat pelukannya disana. Tidak ada yang bersuara untuk beberapa menit, terkecuali suara jangkrik dan juga suara kunang-kunang yang turut menemani suara debaran cepat jantung mereka masing-masing.

 

Sehun kemudian beralih mengecup dahi gadis itu lambat-lambat lalu mengelus rambut Surin, menyisipkan helaian rambut gadis itu kebelakang daun telinganya sehingga kini Sehun dapat dengan jelas melihat semburat merah sempurna dipipi Surin.

 

“Lalu selanjutnya apa? Kita membuat telur kunang-kunang? …Disini?”

 

Mendengar ucapan konyol itu, Surin langsung memukul Sehun berkali-kali sementara tawa laki-laki itu terdengar menggelegar ketika melihat semburat merah dikedua belah pipi Surin terlihat semakin jelas. “Jang Surin berhentilah menjadi menggemaskan.” Ucapnya dan Surin kembali menghujaninya dengan pukulan yang bertubi-tubi.

 

“Kau menyebalkan. Itu adalah 100% fakta.”

 

Sehun menarik pinggang Surin dengan satu tangannya sehingga kini gadis itu kembali ke pelukan Sehun. “Memang. Aku memang menyebalkan. Tapi gadis ini jatuh hati dari ujung kepala sampai ujung kaki kepadaku.”

 

Surin menyentil dahi Sehun dengan keras membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan. “Itu benar-benar sakit, Surin!” Protesnya membuat Surin tertawa. “Uuu, sakit ya?” Ujar Surin seolah sedang menenangkan anak kecil yang tengah merengek. Gadis itu lalu mendaratkan kecupan di dahi Sehun lambat-lambat dan setelahnya, laki-laki itu tersenyum jauh lebih lebar dari sebelumnya.

 

Sepertinya, Sehun lah yang benar-benar jatuh hati dari ujung kepala sampai ujung kaki pada Surin.

 

“Terima kasih sudah menemaniku melihat kunang-kunang malam ini, Oh Sehun.” Ujar Surin dan Sehun mengangguk, masih dengan senyuman manis yang tidak mau hilang dari wajah tampannya. “Dengan senang hati.” Ujarnya lalu ia membawa Surin kembali kedalam pelukannya. Sehun mengelus punggung kecil Surin dengan satu tangannya, sementara satu tangannya yang lain terus mendekap pinggang gadis itu erat-erat, seolah ia tidak ingin melepaskan Surin dari pelukannya untuk waktu yang panjang. Beralih dari menanamkan kecupan dibahu kanan Surin, Sehun kemudian menghujani kedua belah pipi Surin berkali-kali dengan kecupan sayang, membuat gadis yang berada dipelukannya itu tertawa kecil dimenit berikutnya.

 

“Kalau bagiku, kau seperti kupu-kupu.”

 

Surin melepas pelukan mereka kemudian memiringkan kepalanya, bertanya-tanya akan maksud ucapan Sehun barusan. Sehun menyelipkan jemari-jemarinya pada milik Surin kemudian mengelusnya pelan, sebelum kedua matanya bertemu dengan manik mata berwarna hitam pekat milik Surin.

 

“Karena setiap kali aku bersama denganmu, kupu-kupu seolah selalu datang entah darimana untuk menggelitik perutku dan setelah itu aku langsung terindikasi penyakit jatuh cinta.”

 

Sepersekian detik berikutnya Surin langsung tertawa akan ucapan klise Sehun barusan, begitupula dengan laki-laki itu yang kini merasa geli sendiri akibat ucapannya. “Berhentilah, Sehun!” Pinta Surin ditengah-tengah tawanya yang seakan tidak mau berhenti.

 

“Jadi, Surin, untuk kencan aneh berikutnya, kita lihat kupu-kupu, ya?” Mereka kembali tertawa terbahak-bahak, bahkan kini Surin sudah memukul lengan Sehun berkali-kali. Sehun menarik tangan Surin sehingga gadis yang masih sibuk tertawa itu kembali kedalam pelukan hangatnya.

 

Pelukan panjang ditengah-tengah ratusan kunang-kunang yang tengah memendarkan cahayanya.

 

-fin.

 

HUWAAAAA. MASIH ADA YANG BACA GAK YA? T__T

Aku kangen Sehun. Aku kangen nulis. Jadilah ff singkat ini huhu. Semoga kalian suka yaaa! See you on the next ff! ❤

6 comments

  1. kusukasukasite · November 24, 2018

    Super gemaaas, maniiisss… lama lama diabetes baca ff cast sehun surin

    • Oh Marie · November 25, 2018

      HALOOOOO! Hihi makasih banget ya kamu masih setia mau baca disini meskipun authornya lambat banget huhu. Makasih juga karna udah suka sama ffnya! Sampai jumpa di ff berikutnya ❤

  2. realljo · November 25, 2018

    gemesh anet jauh jauh ke cicalengka nyari kunang kunang huft untung surin pacarnya ganteng dan sabar seperti sehun. tp parah si ini ini 100000000% fluff bgd ya buset kutunggu ff berikutnyah dari realljo di cijantung

    • Oh Marie · November 25, 2018

      AKU SAYANG RILJOOOOOOOOOO HAHAHAHAHHAA CICALENGKA NGAKAK. TQ SO MUCH KOMENNYA MOHON TUNGGU FF SELANJUTNYA YES ❤

  3. Junmyuni · December 7, 2018

    Aduh aku gatau mau ngmg apa, tapi terima kasih baaaaaaaanget udah update ff sehun, makasih baaangeeet! 💕💕

    • Oh Marie · December 13, 2018

      AKU YANG HARUSNYA MAKASIH KARNA KAMU MASIH MAU BACA DISINI HUHUHU MENANGISSSS TT___TT sayang junmyuni banget ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s