Ephemeral [Part 2/2 – END]

DjBzduJUcAIh-at

 

Manakah yang harus Surin pilih diantara dua acara yang sama-sama penting bagi Sehun maupun bagi Kyungsoo? Haruskah Surin memilih untuk mengikuti otaknya yang menyuruhnya datang ke peluncuran buku pertama orang yang telah menyelamatkan hidupnya, ataukah Surin harus menuruti hatinya yang berkata ia harus mendatangi acara perlombaan renang orang yang selama beberapa bulan ini menempati tempat pertama dihatinya?

 

Lalu, bagaimana dengan hubungan Sehun dan keluarganya? Akankah Sehun memperbaiki kerusakan yang selama ini telah membuatnya jauh dari keluarganya?

 

Ephemeral – Part 2/2 (END)

 

( Read Part 1 here: https://ohmarie99.wordpress.com/2018/07/17/ephemeral-part-1-2/#more-1661 )

**

 

Hari itu adalah hari Sabtu. Jam dinding kamar Surin masih menunjukan pukul tujuh pagi, sementara gadis sang empunya kamar sudah sibuk mundar-mandir untuk bersiap-siap. Hari ini adalah hari yang sangat penting baginya, dan bagi dua orang diluar sana yang sekarang berhasil membuat kepala Surin terasa penuh.

 

Sudah berhari-hari ia memikirkan tentang acara mana yang akan didatanginya, tetapi sampai saat ini, saat hari Sabtu itu telah tiba, Surin masih belum bisa menentukan acara mana yang akan dihadirinya. Surin benar-benar hanya merasa tidak kuasa untuk memilih diantara Sehun ataupun Kyungsoo. Keduanya begitu berarti bagi Surin. Kyungsoo yang selalu berbuat baik padanya dan telah menyelamatkan hidupnya, dan Sehun yang selalu hadir didalam pikirannya belakangan ini, menuai tanda tanya didalam otaknya yang kemudian Surin simpulkan sebagai perasaan suka yang tidak biasa.

 

LINE

 

Do Kyungsoo :

Selamat pagi, Rin. Jangan lupa hari ini jam 11, ya. Aku tunggu kamu dibarisan depan.

 

Oh Sehun :

Pagi, gadis cengeng. Hari ini jam 11. Dilarang tidak datang. Aku butuh cheerleader pribadi dan aku tahu, hanya kamu yang paling rusuh.

 

Pesan singkat yang masuk dari keduanya diwaktu yang bersamaan berhasil menambah rasa bimbang dalam hati Surin, membuat Surin semakin menyesali fakta bahwa kedua acara itu jatuh dihari dan jam yang bersamaan.

 

Surin memutuskan untuk tidak menggubris dua pesan itu dan memilih untuk duduk mematung dipinggir kasurnya, berharap ia akan menemukan jawaban dari pertanyaan besar yang ada diotaknya sekarang ini mengenai acara siapa yang akan ia datangi.

 

Sambil menghela napas berat, Surin bangkit berdiri untuk mematutkan pandangannya pada pantulan dirinya dari cermin besar yang menempel pada lemari bajunya, memandangi dirinya sendiri dari atas sampai bawah. Sesekali Surin berputar, memeriksa penampilannya sendiri yang sekarang ini tampak sudah rapi dengan terusan berwarna kuning dengan model yang memperlihatkan bahunya, yang adalah model terusan favoritnya. Surin berjalan menuju meja rias ketika ia sudah semakin merasa mantap dengan pilihan bajunya.

 

Tiba-tiba ponselnya berdering, menandai adanya telepon masuk yang ternyata dari sahabatnya, Park Jimi. Surin langsung mengangkatnya dan mengaktifkan mode loud speaker sehingga ia bisa sambil merias wajahnya.

 

“Bagaimana? Sudah menemukan jawaban mau datang ke acara siapa?” Jimi berujar membuat Surin langsung membalasnya dengan helaan napas.

 

Jimi tertawa ketika ia mendengar helaan napas Surin, menyadari betapa beratnya dua pilihan itu bagi sahabatnya itu. “Aku dan Baekhyun akan datang ke acara perlombaan renang Sehun hari ini! Iya, seperti yang kamu tahu, Baekhyun berteman baik dengan laki-laki itu jadi aku juga harus mendukung sahabat pacarku. Hahaha.”

 

Surin kini malah mendengus sambil tertawa kecil. “Hei, jangan pamer dan membuatku semakin bingung, ya.” Surin memperingati sementara kini ia malah mendengar suara berisik dari seberang sana.

 

“Halo, Surin! Temanmu yang sekarang adalah pacar resmiku ini memang sering mengumbar fakta bahwa sekarang kita sudah resmi berpacaran, maaf ya. Hahaha.” Surin langsung tertawa ketika ia mendengar suara Baekhyun kini mendominasi sambungan telepon tersebut. Terdengar juga suara Jimi yang kini sudah berseru tidak terima, membuat Surin hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa, merasa bahwa kedua pasangan paling berisik itu benar-benar menggemaskan. Mereka berdua bahkan tidak sadar bahwa masing-masing dari mereka sama-sama suka menebar fakta bahwa kini mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih, dan itulah yang selalu berhasil membuat orang-orang disekitar Baekhyun dan Jimi tertawa dibuatnya.

 

“Astaga, aku matikan saja ya kalau kalian malah mau bertengkar.” Ujar Surin sambil tertawa kecil disela-sela ucapannya barusan.

 

“Kalau kamu mau datang ke acara Kyungsoo, kami yang akan bantu berbicara dengan Sehun. Kamu tenang saja, Rin. Atau mungkin ada pesan yang ingin kamu titipkan untuk Sehun?” Surin langsung mengercutkan bibirnya mendengar ucapan Jimi barusan. Entah mengapa Surin merasa tidak rela jika ia harus melewatkan perlombaan pertama Sehun dan entah mengapa pula sekarang Surin malah sudah dapat merasakan rasa kekecewaan yang ia pikir akan ia dapatkan kalau ia benar-benar tidak datang ke acara lomba renang itu.

 

“Betul apa yang dikatakan pacarku, Park Jimi—”

 

“Byun Baekhyun, hentikan! Aku kan malu!”

 

“Jangan malu-malu, nanti malah bertambah cantik. Nah, itu dia! Itu! Senyum itu, Mi! Ah, hatiku serasa berbunga—”

 

“Terus saja, terus! Pamer terus! Sudahlah, terima kasih kepada kalian berdua, aku rasa aku sudah tahu acara siapa yang harus aku hadiri.” Surin berujar seraya mencari warna lipstick yang pas untuk riasan wajahnya hari ini. Surin memilih warna merah cherry yang ia campur dengan sedikit lipstick berwarna oranye, lalu tersenyum puas melihat riasan wajahnya sendiri.

 

“Baguslah kalau begitu. Ingat, jangan sampai ada rasa penyesalan setelah memutuskan pilihanmu. Ikuti saja kata hatimu, itu yang paling benar.” Ujar Jimi membuat Surin menganggukan kepalanya, semakin yakin dengan pilihan yang sudah ia buat.

 

Betul kata Jimi, jika ia ingin jawaban yang paling benar, maka jawaban itu adalah kata hatinya sendiri.

 

Surin buru-buru mengucapkan salam perpisahan pada Baekhyun dan Jimi dari sambungan telepon tersebut lalu segera memilih sepatu heels pendek berwarna putihnya, setelah ia selesai menata rambut hitam yang ia biarkan menjuntai menutupi bahu terbukanya.

 

Surin hanya tidak ingin terlambat sehingga kini ia buru-buru bergegas untuk pergi.

 

**

 

Surin berjalan terburu-buru menusuri beberapa karangan bunga berisi pesan dukungan yang ditujukan untuk orang yang saat ini ingin Surin temui. Jantung Surin berdebar sampai-sampai ia dapat merasakan kakinya lemas untuk beberapa saat, terutama ketika kini ia sudah berdiri didepan sebuah pintu besar yang akan membawanya kepada orang itu.

 

Surin menarik napas kemudian membuka pintu tersebut.

 

Benar saja, orang itu kini langsung mengarahkan pandangannya pada Surin yang hanya diam mematung ditempatnya.

 

“Do Kyungsoo.”

 

Surin bersuara kemudian Kyungsoo yang masih bergeming ditempatnya yaitu diatas panggung hanya terus memperhatikan gadis yang kini tengah berlari kecil untuk menghampirinya. Surin menaiki panggung yang akan Kyungsoo gunakan untuk jumpa fans dan pers sebagai tanda peluncuran buku pertamanya itu sehingga kini ia sudah berdiri tepat dihadapan laki-laki itu.

 

Kyungsoo yang kini tengah memegang kertas berisi rundown acara dan beberapa skrip yang ia gunakan untuk rehearsal pun kemudian meremas kertas tersebut tanpa sepengelihatan Surin.

 

Suasana sepi ruangan itu membuat keduanya larut dalam pikiran masing-masing.

 

“Selamat untuk peluncuran buku pertamamu.” Ujar Surin memecah keheningan diantara mereka. Surin berusaha mengumpulkan energi positif, namun entah mengapa kekelaman disorot kedua matanya sekarang ini tidak dapat ia sembunyikan, sampai-sampai Kyungsoo sudah lebih dulu menyadarinya.

 

“Ini masih jam setengah sepuluh, satu setengah jam sebelum acara resmi dimulai. Mengapa kamu datang sekarang disaat semuanya belum dimulai?” Kyungsoo berujar, nada suaranya terdengar pasrah, seolah-olah sudah mengetahui jawaban gadis yang sangat ia sayangi itu.

 

“Maafkan aku.” Hanya itu yang dapat Surin ucapkan, membuat Kyungsoo kemudian berjalan semakin dekat padanya.

 

Surin tampak sangat cantik hari ini dan itu berhasil membuat Kyungsoo semakin patah hati, ditambah lagi dengan kata maaf yang baru saja gadis itu ucapkan.

 

“Aku berterima kasih atas semua yang telah kamu lakukan untukku. Mulai dari selalu menjagaku dari jauh, memperlakukanku dengan baik, dan yang paling penting adalah karena kamu telah menyelamatkan nyawaku beberapa waktu lalu. Kyungsoo, kamu harus tahu bahwa kamu termasuk yang penting dalam hidupku dan aku tidak ingin kehilanganmu.” Surin berujar seraya menatap Kyungsoo yang hanya dapat diam sambil terus mendengarkan.

 

“Tapi aku tidak bisa memaksakan hatiku sendiri. Aku tidak bisa terus-terusan menampik fakta bahwa aku menyukai Sehun, bahkan dari pertama kali aku bertemu dengannya.” Surin merasa pandangannya kabur akan air mata, membuat Kyungsoo langsung berhambur memeluknya.

 

Kyungsoo mengelus punggung kecil Surin, sementara gadis itu mati-matian merasakan rasa bersalah yang kini merambati seluruh penjuru hatinya. “Tidak apa. Aku mengerti dan aku akan menghormati apapun pilihanmu. Aku senang karena setidaknya kamu tetap datang hari ini untuk menemuiku. Kamu benar, kamu tidak akan bisa memaksakan hatimu sendiri jadi sekarang pergilah padanya, Rin.” Ujar Kyungsoo tulus seraya melepas pelukan yang sebenarnya tidak ingin ia lepas.

 

Kyungsoo tersenyum kearah Surin yang kini juga tersenyum padanya.

 

“Sekali lagi selamat untuk peluncuran buku pertamamu. Aku tahu kamu akan selalu melakukan hal yang hebat.” Ujar Surin dan kemudian ia segera pamit dari tempat tersebut, meninggalkan Kyungsoo yang hanya terus memandanginya dari tempatnya sekarang ini berdiri.

 

Pada kenyataannya, dari awal Kyungsoo sudah menyadari bahwa Surin menyukai Sehun dan bukanlah dirinya. Ia juga tahu perihal Surin yang tidak ikut kegiatan hiking pada saat waktu berkemah karena ia lebih memilih untuk membantu Sehun mencuci piring. Kyungsoo sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi hal ini sedari awal, tapi ia tidak tahu kalau ternyata rasanya jauh lebih menyakitkan ketika saat itu tiba.

 

Namun Kyungsoo akan berusaha untuk senang mengingat gadis itu memilih apa yang juga ia senangi meskipun saat ini ia malah tersenyum pahit, merasa kesulitan bahkan untuk memfokuskan pikirannya kembali pada skrip dan rundown yang tengah dipegangnya.

 

**

 

LINE

 

Oh Sehun :

Kalau sudah sampai, nanti bertemu dengan pelatih-ku saja didepan. Ia akan memberimu kartu untuk duduk dibagian depan tepatnya di barisan khusus untuk keluarga.

 

Oh Sehun :

Surin, kamu datang, kan?

 

Oh Sehun :

Rin, perlombaannya akan dimulai lima belas menit lagi dan aku sudah harus masuk ke arena perlombaan. Aku bersumpah, Jang Surin. Jangan membuatku patah hati duluan sebelum berlomba. Kamu dimana?

 

Oh Sehun :

Kalau kamu datang hari ini, aku ingin menyatakan sesuatu. Penasaran, kan?

 

Oh Sehun :

Kalau penasaran makanya harus datang. Harus.

 

Sehun kemudian mematikan ponselnya sendiri setelah pelatihnya kembali menyuruhnya untuk segera bergegas ke arena perlombaan. Sehun bersumpah, otaknya saat ini hanya dipenuhi oleh Surin seorang. Jantungnya berdebar cepat dan anehnya hal itu bukanlah karena perlombaan pertama yang akan ia hadapi beberapa menit lagi melainkan karena memikirkan apakah Surin akan datang untuk menyaksikannya berlomba atau tidak. Apakah Surin memilihnya atau malah menolaknya terlebih dulu, bahkan sebelum ia menyatakan perasaannya pada gadis itu.

 

Sehun mengambil kaca mata renang dan penutup kepalanya sebelum akhirnya berjalan mengikuti pelatihnya yang kini tampak lumayan tegang.

 

“Coach, apa Surin sudah mengambil kartunya dan duduk ditempatnya?”

 

“Sudahlah, fokus saja dulu ke pertandinganmu. Kamu juga akan tahu sendiri sebentar lagi.” Pelatihnya akhirnya menepuk bahu Sehun. “Selamat bertanding, Oh Sehun. Aku bangga padamu yang belakangan ini sudah berlatih sangat keras. Sekarang, tunjukan bahwa ada atlet renang baru yang memukau di Seoul.” Sambung pelatihnya membuat Sehun mengangguk.

 

Sehun berjalan memasuki arena pertandingan bersama dengan atlet lainnya yang adalah lawannya. Pertandingan renang kategori Putra usia 21-25 tahun itu akan menentukan siapa perwakilan dari Seoul yang akan maju untuk pertandingan di tingkat kota. Memang masih pertandingan yang sederhana, namun disinilah semua kehidupan baru Sehun akan dimulai. Setelah melewati masa pelatihan selama satu tahun, akhirnya ia terpilih untuk maju dalam perlombaan ini. Sehun tahu betul bahwa langkah selanjutnya akan ditentukan dari tahap awal ini sehingga ia benar-benar tidak bisa dengan begitu saja mengentengkan langkah pertamanya.

 

Sehun mengedarkan pandangannya pada barisan keluarga. Terdapat ibunya disana, membuat hati Sehun seolah diremas sesuatu. Seketika Sehun merasa bersalah karena selama dua tahun terakhir, ia pasti telah melukai hati ibunya sendiri dengan kepergiannya dari rumah. Entah mengapa ia jadi teringat perkataan Kyungsoo yang mengancamnya untuk tidak mengecewakan ibunya dan itu berhasil membuat Sehun semakin bersemangat untuk memenangkan pertandingan.

 

Untuk beberapa saat, Sehun membenarkan kata-kata Kyungsoo bahwa dirinyalah yang adalah penyebab mengapa ia merasa terbuang, padahal faktanya tidak seperti demikian.

 

Faktanya, ibunya duduk disana, memandanginya dengan tatapan bangga dan senyuman khasnya yang sangat Sehun rindukan.

 

Memilih untuk tidak semakin larut dalam perasaan harunya, kini laki-laki bertubuh tinggi dengan bahu lebar itu mencoba memfokuskan pikirannya pada perlombaan. Suara sorakan sudah memenuhi stadion renang indoor itu sedari tadi, membuat para peserta lomba semakin tegang, termasuk Sehun. Laki-laki itu kini menarik napas, baru saja ia akan mengenakan kaca mata renangnya, matanya menangkap gadis yang ia tunggu-tunggu kini tengah melambai heboh kearahnya sembari loncat-loncat kecil agar ia terlihat.

 

Sehun mendapati Surin melambaikan tangannya dengan senang dan hanya karena itu, Sehun merasa tenaga dalam dirinya penuh dengan seketika.

 

Sehun tertawa sembari membalas lambaian tangan gadis itu membuat para penonton sempat mengikuti arah lambaian tangan Sehun dan memperhatikan Surin yang kini malah salah tingkah. Bukannya memperbaiki suasana, Sehun malah melayangkan bentuk hati yang ia bentuk dari ibu jari dan telunjuknya pada Surin, membuat penonton heboh dan gadis itu semakin salah tingkah. Sehun benar-benar tertawa dibuatnya.

 

Sehun hanya merasa begitu bahagia akan semua hal yang ia lihat dari tempatnya sekarang ini berdiri. Ibunya, dan Surin yang memilihnya.

 

Aba-aba baru saja dimulai, tapi Sehun merasa ia sudah seratus persen memenangi perlombaan.

 

**

 

“Atlet baru bernama Oh Sehun dan atlet juara bertahan, Hong Jonghyun kini berada dalam posisi dan nilai yang sama! Ini semakin seru, penonton!” Seru komentator membuat para penonton semakin antusias memperhatikan lomba renang itu, termasuk Surin yang sedari tadi sudah bergerak-gerak tidak tenang, merasa sangat tegang karena dalam dua putaran lagi, pemenangnya akan terlihat.

 

“Akankah Oh Sehun bisa menggeser posisi juara bertahan milik Hong Jonghyun? Kita nantikan saja, penonton. Masih ada dua putaran tersisa dan posisi keduanya masih begitu sejajar.” Komentator itu terus berujar sementara seruan semakin membahana ketika tiba saatnya satu putaran lagi yang adalah penentuan kemenangan.

 

“Satu babak lagi dan kini Oh Sehun dapat kita lihat mulai melancarkan tekniknya! Ia tidak sama sekali mengambil napas dan berenang dalam kecepatan yang luar biasa! Ya! Ya! Oh Sehun berhasil mendahului Hong Jonghyun! Dibelakang Hong Jonghyun tampak mempercepat lajunya pula, akankah Jonghyun bisa kembali menyamakan posisinya dengan Oh Sehun?!” Suasana semakin penuh ketegangan. Kali ini karena sudah semakin dekatnya Sehun dan lawannya pada garis finish.

 

Surin sampai berdiri dari tempatnya, meneriaki Sehun yang kini hampir terbalap oleh lawannya.

 

Surin merasa jantungnya akan lepas dari tempatnya sebentar lagi.

 

Sehun sudah semakin dekat dengan garis finish, namun lawannya semakin dekat pula dengan posisi Sehun yang memimpin saat ini, membuat semua yang didalam stadion tidak bisa untuk tidak turut berdebar.

 

“3,” Ujar komentator menghitung mundur detik-detik kedua atlet tersebut menyentuh garis finish.

 

“2,” Surin bersumpah kalau ini adalah bagian paling mendebarkan yang pernah ia lewati seumur hidupnya.

 

“1! Selamat pemenang baru kita yang akan mewakili Seoul ke tingkat kota, Oh Sehun!!”

 

Dan seruan serta tepuk tangan heboh langsung memenuhi stadion renang indoor tersebut.

 

Surin adalah termasuk salah satu orang yang berteriak kesenangan, terutama karena kini ia melihat Sehun yang keluar dari kolam renang itu sambil menunjukan kemenangannya dengan sangat bahagia.

 

Jimi dan Baekhyun yang datang entah dari sebelah mana, tiba-tiba saja menghampiri Surin yang sekarang ini tengah larut dalam rasa harunya. Mereka berdua tampak turut senang dengan kemenangan Sehun dan mereka kini malah tidak bisa berhenti menertawai Surin yang malah sibuk menangis terharu.

 

“Selamat Oh Sehun!” Seru Baekhyun keras-keras sementara Jimi kini bertepuk tangan heboh ketika melihat Sehun menerima medalinya seraya berdiri di anak tangga dengan tulisan angka satu. Sehun mengangkat medalinya dan lagi-lagi yang terdengar hanya seruan dan tepuk tangan dari seluruh penjuru stadion.

 

Surin benar-benar bangga pada Sehun.

 

Seperti yang Surin katakan, waktu orang untuk bersinar itu berbeda-beda, dan Surin senang karena sekarang ini adalah giliran waktu Sehun yang tiba, sehingga laki-laki itu bisa mulai memancarkan sinarnya.

 

**

 

“Selamat, Nak. Ibu bangga sekali padamu.” Nyonya Oh kini memeluk anak kandungnya itu yang baru saja selesai berberes dan kini sudah mengenakan hoodie hitam nyaman kesukaannya beserta celana training yang senada. Sehun tersenyum seraya mengelus punggung ibunya yang sangat ia rindukan itu.

 

“Terima kasih, Bu. Aku senang Ibu bersedia untuk datang hari ini.” Ujar Sehun kemudian ia melepas pelukan tersebut dan berganti memegangi kedua bahu ibunya. Sehun kemudian melepas medali yang berada dilehernya dan mengalungkan medali itu kepada ibunya.

 

“Untuk Ibu. Dari awal aku sudah berjanji akan memberikan medali emas ini pada Ibu kalau aku mendapatkannya. Aku senang aku bisa memenuhi janji itu sekarang.” Nyonya Oh kembali memeluk anak laki-lakinya itu dan kini ia malah menangis, membuat Sehun tersenyum seraya menepuk bahunya berkali-kali untuk menenangkan.

 

“Terima kasih, Oh Sehun. Tanpa kamu melakukan ini sekalipun, Ibu sudah sangat bangga padamu. Ibu hanya senang karena sekarang kamu menjalani dan mendalami apa yang kamu sukai. Ayahmu juga menyampaikan selamat untuk pertandingan pertamamu. Ia tidak bisa hadir karena ada rapat dadakan di kantor.” Sehun langsung menganggukan kepalanya senang ketika mendengar penuturan ibunya barusan mengenai ayahnya yang juga senang akan lomba pertamanya.

 

“Bu, aku ingin makan malam dirumah malam ini. Aku rindu masakan rumah.” Ibunya malah kembali menangis, membuat Sehun tidak kuasa untuk tertawa.

 

Tiba-tiba pintu ruang tunggu itu terbuka, menampilkan Surin yang kini langsung berbungkuk meminta maaf karena tidak tahu kalau Sehun tengah bersama dengan ibunya. Sehun tertawa dan langsung menghampiri Surin untuk menggandeng tangan gadis itu agar ia bisa bertemu lebih dekat dengan ibunya.

 

Nyonya Oh sibuk menghapus air mata seraya tersenyum, menanggapi sapaan sopan dari Surin. “Bu, ini Jang Surin. Kekasihku.” Ujar Sehun membuat Surin langsung batuk-batuk sementara ibunya hanya tersenyum senang. “Oh ya? Kalau begitu ajak saja Surin ke rumah mala mini untuk makan malam. Kita makan malam besar sekeluarga.” Ujar ibunya dan Sehun langsung menyetujui sementara Surin langsung salah tingkah.

 

“Ta-tapi, bibi—”

 

“Panggil Ibu saja, kan kamu calonnya Sehun. Cantik sekali, mirip Ibu waktu muda ya, Hun?”

 

Sehun tertawa sementara Surin berusaha untuk tertawa. Entah mengapa gadis itu benar-benar merasa canggung sekarang. Pada kenyataannya, ibu kandung Sehun malah yang terlihat sangat cantik. Tubuhnya proporsional dan wajahnya belum menunjukan tanda-tanda penuaan yang berlebih. Surin benar-benar yakin sebagian wajah tampan Sehun berasal dari ibunya yang sangat cantik.

 

“Surin, bagaimana? Mau tidak makan malam dirumahku bersama keluargaku? Itu tawaran langsung ibuku, loh.” Ujar Sehun seraya menyenggol lengan Surin yang langsung tersadar dari lamunan singkatnya. “Mau ya, Rin?” Kini Nyonya Oh memegang satu tangan Surin membuat Surin langsung tersenyum manis.

 

“Iya, Bu. Boleh saja.” Ujar Surin dan kini giliran Sehun yang senyum-senyum penuh malu dan salah tingkah karena mendengar Surin yang memanggil ibunya dengan sebutan ‘Bu’.

 

“Ah, kalian ini menggemaskan sekali. Ya sudah, kalau begitu Ibu pulang duluan untuk mempersiapkan semuanya dirumah. Sehun, jangan lupa Surin-nya diajak, ya.” Nyonya Oh kemudian meninggalkan ruang tunggu itu setelah keduanya menyetujui ucapannya dan setelah mendapat ucapan hati-hati dijalan dari keduanya.

 

Kini tersisa Sehun dan Surin yang saling bertatapan canggung.

 

Sehun berdeham jahil, membuat Surin menyenggol lengannya. “Apa sih?” Ujar Surin seraya menyembunyikan senyumannya. “Selamat untuk kemenangan pertamamu, Oh Sehun. Aku turut senang dan bangga.” Surin berujar membuat Sehun kini menggenggam satu tangannya seraya tersenyum senang.

 

“Terima kasih karena sudah datang. Rasa senangku jadi bertumpuk seperti ini.” Ujar Sehun seraya mengelus punggung tangan Surin dengan ibu jarinya. Surin yang sedari tadi sudah mati-matian berlaku senormal mungkin akhirnya tetap gagal karena senyuman yang bertengger diwajahnya dan kedua pipinya yang kini sudah merah merona membuat Sehun tertawa kecil seraya menarik pinggang gadis itu untuk memeluknya.

 

Surin hanya terdiam dalam pelukan Sehun, merasa benar-benar salah tingkah. Jantungnya bahkan sudah tidak tahu caranya tenang barang untuk sedetik.

 

“Jang Surin.” Sehun berujar seraya melepas pelukan mereka dan menangkup kedua pipi Surin yang kini benar-benar merah padam. “Aku tidak pandai berbasa-basi, apalagi menggunakan kata-kata di novel. Tapi aku ingin mengungkapkan sesuatu.”

 

“Mengungkapkan apa?” Surin sebenarnya tahu arahnya akan kemana, namun ia berusaha untuk berpura-pura tidak tahu membuat Sehun gemas.

 

“Aku ingin kamu tahu kalau dari pertama kali aku lihat kamu yang sedang kebingungan karena air di rumahmu mati, aku sudah menyukaimu. Aku berusaha menahannya, namun gagal. Aku terus memikirkanmu dan tanpa sadar malah mencarimu kemana-mana di kampus. Kamu selalu membuat aku berada didalam kebingungan akan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku sendiri. Iya, aku bingung karena aku menyukaimu yang cengeng, tapi aku tidak suka melihatmu sedih. Aku bingung karena aku menyukaimu yang selalu membutuhkan bantuan, tapi aku tidak suka melihatmu dalam situasi yang tidak mengenakan atau bahkan berbahaya.”

 

Surin terus mendengarkan sementara kini Sehun mengelus kedua pipi merahnya dengan masing-masing ibu jarinya, membuat kedua kaki langsung Surin lemas ditempat.

 

“Intinya ya, itu.”

 

“Apa?”

 

“Ya itu, seperti yang aku bilang. Aku menyukaimu, Jang Surin. Bahkan dari pertama kali aku melihatmu. Peluk aku sekarang dan hari ini juga adalah hari pertama kita resmi sebagai pasangan kekasih.”

 

Surin tertawa ketika melihat Sehun merentangkan kedua tangannya sambil memejamkan kedua matanya. Sesekali Sehun mengintip, membuat Surin kembali tertawa.

 

“Aku juga menyukaimu, Oh Sehun. Aku menyukaimu yang selalu membantuku dan selalu ada untukku kapanpun dan dimanapun. Jadi, tentu saja aku setuju kalau hari ini adalah hari pertama kita.” Surin segera mengalungkan kedua tangannya dileher laki-laki itu dengan sedikit berjinjit sementara Sehun yang sangat senang langsung memeluk Surin erat-erat. Sehun bahkan menggendong Surin dan berputar, bermaksud memutar gadis yang berada dalam pelukannya itu dengan cepat membuat Surin memekik sambil tertawa.

 

Sehun kemudian mengelus rambut Surin sementara satu tangannya terus melingkari pinggang Surin untuk mengeratkan pelukan mereka. Sehun mengecup puncak kepala Surin kemudian beralih pada sebelah bahu gadis itu dengan rasa sayang.

 

“Aku belum mengatakannya tapi kamu benar-benar terlihat cantik hari ini. Ah, aku benar-benar menyukaimu, Rin. Aku rasa aku bisa gila.”

 

Surin tersenyum seraya membenamkan wajahnya dibahu kanan milik Sehun sementara tangannya mengeratkan pelukannya dileher laki-laki itu, persis seperti yang Sehun lakukan pada pinggang kecil milik Surin saat ini, seolah masing-masing dari mereka sama-sama tidak rela apabila ada jarak yang tersisa sedikitpun diantara mereka.

 

Surin juga benar-benar menyukai Sehun dan ia tahu laki-laki itu mengetahui hal tersebut lebih baik dari siapapun.

 

**

 

Malam itu jalanan sekitar daerah Apgeujong terasa berbeda untuk Surin yang kini duduk dikursi penumpang, tepatnya disebelah Sehun yang kini tengah menyetir. Surin terus tersenyum memperhatikan lampu-lampu jalan yang pada malam itu entah mengapa jauh lebih indah. Bahkan kini dilangit malam yang bersih tanpa awan itu menampilkan beberapa bintang serta bulan sabit yang menambah keindahan suasana malam itu.

 

Surin jadi semakin sadar bahwa begitu banyak yang harus ia syukuri, mulai dari malam yang hari itu terasa lebih spesial, sampai laki-laki bernama lengkap Oh Sehun yang kini telah resmi menjadi kekasihnya. Senyuman yang sedari tadi merekah diwajah Surin bertambah lebar ketika Sehun menggenggam satu tangannya sambil tangan yang satunya tetap memegang kendali mobil.

 

Surin bahagia, ia benar-benar bahagia. Kebahagiaannya juga karena kini ia dan Sehun tengah memasuki rumah keluarga Oh untuk makan malam bersama setelah kerumitan yang selama ini melingkupi keluarga tersebut, terutama sejak kepergian Sehun dari rumah.

 

Surin hanya merasa senang karena kini Sehun memilih untuk kembali dan mau berusaha untuk menata kembali hubungannya dengan keluarganya. Laki-laki itu pada dasarnya memiliki sifat penyayang dan tidak bisa membenci orang lain sehingga Surin tahu persis bagaimana selama ini Sehun mati-matian berperang dengan perasaannya sendiri yang sangat mengedepankan harga diri sehingga ia hanya memendam semuanya sendiri. Surin tahu persis bagaimana Sehun merindukan keluarganya lebih dari apapun dan ingin memperbaiki semuanya sedari dulu. Sehun hanya tidak tahu harus memulainya darimana dan Surin senang karena kini akhirnya laki-laki itu bisa menemukan jalan keluar dari rangkaian pikirannya yang selama ini tidak berujung.

 

“Sudah siap?” Sehun berujar pada Surin. Saat ini mereka sudah berdiri didepan pintu masuk rumah keluarga Oh. Surin mengangguk pelan lalu Sehun yang menggandeng tangannya pun memimpin jalan untuk membawa masuk. Didalam ternyata Nyonya Oh, Tuan Oh, dan Kyungsoo sudah menunggu diruang makan seraya memanggil mereka berdua untuk bergabung dengan mereka.

 

Kedua orangtua Sehun tampak sangat senang dengan kedatangan anak laki-laki mereka itu sampai-sampai kini mereka tidak bisa untuk berhenti menatap Sehun dengan tatapan terharu yang membuat Sehun salah tingkah karena canggung. Sehun kemudian memutuskan untuk memperkenalkan Surin pada kedua orangtuanya dan Surin langsung membungkuk sopan untuk juga turut memperkenalkan diri sebelum akhirnya mereka duduk mengelilingi meja makan berisi berbagai jenis masakan rumah buatan Nyonya Oh.

 

“Ayo semuanya makan.” Ujar Tuan Oh dan mereka mulai bergantian menggambil berbagai macam menu yang terhidang ke piring mereka masing-masing. “Bu, menunya banyak sekali.” Ujar Sehun dan ibunya hanya tertawa, menanggapi. Ibunya kemudian mengambilkan ayam goreng tulang lunak kesukaan Sehun dan meletakannya diatas nasi yang terdapat dipiringnya. Sehun kemudian tersenyum, merasa sudah lama sekali dari terakhir kali ibunya melakukan hal itu untuknya dan kini Sehun sadar betapa ia menyukai cara ibunya yang selalu meletakan lauk pauk diatas piringnya padahal ia sebenarnya bisa mengambilnya sendiri.

 

“Selamat untuk lomba pertamamu, Oh Sehun. Ayah bangga karena kamu berhasil menduduki tempat pertama. Kamu sudah bekerja keras.” Tuan Oh berujar membuat hati Sehun terenyuh dengan seketika. Kata-kata itulah yang selama ini ingin ia dengar dari ayahnya. Kata-kata bahwa ia bangga terhadap Sehun. Kata-kata bahwa selama ini Sehun sudah bekerja keras. Sesederhana itu, namun semuanya terasa penting dan berharga bagi Sehun sampai-sampai kini ia hanya menatap ayahnya lambat-lambat membuat Surin yang menyadari kalau Sehun tengah terharu akhirnya ikut tersenyum lembut.

 

“Terima kasih, Yah. Aku akan bekerja keras untuk lomba yang berikutnya. Perlombaan hari ini hanyalah permulaan.” Ujar Sehun membuat yang lain langsung menyemangatinya dan senyuman yang sedari tadi Sehun tampilkan kini semakin berkembang, menandai perasaan senangnya yang bertubi-tubi.

 

“Menangilah perlombaan yang berikutnya karena aku pastikan nanti aku akan menonton. Kamu tidak boleh mengecewakanku.” Kyungsoo berujar membuat Sehun mengangguk kearahnya.

 

“Selamat untuk peluncuran buku pertamamu, hyung.”

 

Hening untuk sesaat. Tuan Oh, Nyonya Oh, Surin, bahkan Kyungsoo sendiri benar-benar terkejut dengan apa yang dikatakan Sehun barusan. Sehun baru saja memanggil Kyungsoo dengan sebutan ‘kakak’, yang tidak pernah sama sekali Sehun ucapkan dari pertama kali ia bertemu dengan Kyungsoo bertahun-tahun yang lalu.

 

Sehun yang menyadari hal itu kemudian hanya berdeham sembari meminum air putih miliknya untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa begitu kering sementara yang lain masih memperhatikannya.

 

“Baiklah, semuanya, aku ingin meminta maaf. Maaf karena selama ini aku berpikiran negatif terhadap kalian sehingga karena pikiran-pikiran itu, aku malah yang menarik diri dan membuat suasana memburuk. Aku berpikir bahwa Ayah dan Ibu kerap membandingkanku dengan Kyungsoo yang mana membuat aku selalu berpikir bahwa diriku payah dan tidak bisa apa-apa, padahal kalian hanya tengah mendidikku untuk menjadi orang yang baik dan cakap dalam berbagai hal. Ya, Kyungsoo memang adalah contoh yang baik. Selama ini memang akulah yang hanya selalu berpikir negatif.”

 

Surin memperhatikan Sehun yang kini tengah bertutur. Surin larut dalam suasana. Jika ia bisa, ia ingin memeluk laki-laki itu saat ini juga. Untuk beberapa saat, Surin sadar bahwa ia menyayangi Sehun karena hati laki-laki itu. Karena kepribadian Sehun. Diluar Sehun terlihat begitu dingin dan tidak bersahabat, namun ketika kita sudah mengenalnya lebih jauh, Sehun adalah orang dengan hati dan kepribadian yang hangat, yang juga dapat membuat orang lain betah untuk berada didekatnya dalam jangka waktu yang sangat lama sekalipun.

 

“Kami juga meminta maaf karena membiarkanmu berpikir demikian, Sehun. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, ini murni karena Ayah dan Ibumu kurang peka terhadap apa yang kamu rasakan.” Tuan Oh menanggapi yang kemudian langsung disetujui oleh Nyonya Oh.

 

Kyungsoo yang tidak mampu untuk berkomentar apa-apa hanya menepuk sebelah bahu Sehun seraya tersenyum kecil. Kyungsoo senang karena kini akhirnya suasana rumah bisa berubah drastis dari yang tadinya sepi dan dingin menjadi hangat. Kyungsoo yang tadinya merasa kurang menjadi bagian dari rumah dan keluarga itu, kini ia bahkan dapat merasa bahwa ia sudah resmi menjadi bagian dari rumah dan keluarga tersebut. Keadaan inilah yang didambakan Kyungsoo sedari dulu. Keadaan untuk bisa merasa sebagai sebuah keluarga yang utuh tanpa harus menyakiti perasaan satu sama lain baik secara sengaja ataupun tidak sengaja.

 

“Selamat datang kembali dirumah, Oh Sehun.” Ujar Kyungsoo seraya kembali menepuk bahu Sehun membuat laki-laki itu beserta semua orang yang menyaksikan hal tersebut tersenyum senang. Surin bahkan sudah merasa matanya mulai dipenuhi oleh air mata haru yang siap untuk jatuh. Semuanya terasa begitu menyentuh.

 

Pada kenyataannya, seberapa jauh pun kita pergi, kita tidak akan bisa pergi dari keluarga kita sendiri. Kita akan selalu kembali pada apa yang kita sebut sebagai rumah.

 

**

 

Satu bulan kemudian.

 

“Oh Sehun! Sampai kapan sih, kamu membuatku menunggu seperti ini? Cepat sudahi latihanmu dan makan bekal makan siang yang aku bawakan ini!”

 

Surin merasa sudah cukup menunggu selama kurang lebih tiga puluh menit, menyaksikan kekasih robotnya itu berlatih renang tanpa istirahat. Surin yang sedari tadi terduduk dikursi yang berada dipinggir kolam renang itu akhirnya memutuskan untuk berjalan maju dan kini ia sudah duduk dipinggir kolam renang dengan menyelupkan kedua kakinya kedalam air. Surin langsung menarik tangan Sehun yang tengah berenang melewatinya sehingga kini laki-laki itu baru bisa berhenti dari kegiatan berlatihnya.

 

Sehun tertawa kecil ketika melihat Surin memandanginya dengan kedua alis yang bertaut tidak suka. Sehun mencipratkan air kolam ke wajah Surin membuat Surin semakin kesal dibuatnya.

 

“Oh Sehun! Benar-benar ya!” Surin membalas menciprati air tersebut pada Sehun yang hanya melindungi diri dengan kedua tangannya. Sehun langsung menahan tangan Surin seraya berdiri dihadapan gadis itu yang masih duduk dipinggiran kolam. Sehun berjalan semakin dekat sehingga kini tubuhnya menyentuh kedua lutut Surin membuat gadis itu langsung berjaga-jaga akan posisi yang berbahaya itu terutama karena kini Sehun sudah meletakan kedua tangannya pada masing-masing sisi pinggul Surin.

 

“Apa?” Ujar Surin ketika mendapati Sehun hanya terdiam seraya memandanginya. “Makan siangmu nanti semakin dingin kalau kamu berlama-lama seperti ini. Mengapa sangat sulit untuk mendengarkan perkataanku, sih?” Surin terus memprotes sementara Sehun hanya tertawa menanggapi.

 

“Aku mendengarkanmu, Surin sayang. Aku hanya suka melihatmu mengoceh dan marah-marah sampai kedua alismu bertaut seperti ini.” Sehun berujar sementara kedua ibu jarinya mengelus pelan masing-masing alis Surin membuat gadis itu harus menahan senyumnya. Sehun kini beralih pada kedua pipi Surin dan lagi-lagi ia mengelusnya lembut. “Surin, kamu tahu tidak kalau kamu mirip mie?”

 

Surin tertawa akan pertanyaan tidak masuk akal dari Sehun barusan. “Mie? Mie apa?” Tanggapnya dan Sehun tersenyum jahil.

 

“Mie gemas. Karena kamu benar-benar menggemaskan.”

 

“Itu mie remas, Oh Sehun!!”

 

Surin langsung menciprati Sehun dengan air sementara Sehun hanya sibuk berseru tidak terima sambil tertawa terbahak karena respon berlebihan dari kekasihnya itu. Sehun buru-buru melingkarkan kedua tangannya dipinggang Surin, membuat tubuhnya kini sudah berada diantara kedua kaki Surin. Surin spontan terdiam, merasa jaraknya dengan Sehun saat ini benar-benar dekat sampai-sampai ia lupa caranya untuk bernapas dengan teratur. Debaran jantungnya berjalan lebih cepat diiringi dengan kupu-kupu yang berterbangan menggelitiki perutnya, membuat Surin sangat gugup. Kakinya bahkan terasa lemas terutama ketika otaknya membisikan fakta bahwa Sehun saat ini tidak mengenakan atasan dan tubuh bidangnya dapat Surin saksikan secara begitu dekat dan intim.

 

Sehun mengarahkan kedua tangan Surin untuk melingkari kedua lehernya sehingga kini lengan Surin bertumpu pada kedua bahu Sehun yang lebar. Surin benar-benar bisa merasakan saat ini lengannya tersetrum tegangan listrik tinggi ketika merasakan kulit dingin itu bersentuhan dengan kedua lengannya.

 

Sehun kemudian menempelkan dahinya pada dahi Surin seraya tersenyum ketika melihat gadisnya itu benar-benar gugup. “Terima kasih untuk bekal makan siangnya. Aku jadi semakin bersemangat untuk latihan.” Ujar Sehun dan kini Surin pun turut tersenyum. Surin hanya mengangguk, membuat ujung hidungnya bersentuhan dengan ujung hidung Sehun dan hal itu berhasil membuat suasana semakin mendebarkan bagi keduanya.

 

“Entah mengapa hari ini aku merasa hanya ingin mengatakannya. Aku menyayangimu, Jang Surin.”

 

Sehun kemudian menghapus jarak yang tersisa diantara mereka dengan mendaratkan bibirnya pada bibir Surin. Sehun dengan perlahan menggerakan bibirnya diatas bibir Surin, membuat gadis itu mengeratkan pelukannya pada leher Sehun sementara kedua tangan Sehun kini juga melakukan hal yang sama pada pinggang gadis itu. Debaran jantung mereka seolah menari bersamaan dalam tempo yang cepat, terutama ketika Sehun pada detik berikutnya melumat bibir bawah milik Surin, membuat gadis itu kemudian berusaha menyamakan ritme gerakan Sehun yang lebih cepat. Sehun hanya ingin menyampaikan perasaannya yang mendalam pada gadis itu dan Sehun tahu bahwa Surin mengetahuinya.

 

Sehun kemudian melepaskan tautan bibir mereka dan beralih mengecup dahi Surin lambat-lambat seraya mengelus kedua pipi gadis itu yang merah padam.

 

“Aku juga menyayangimu, Oh Sehun. Sangat menyayangimu.”

 

 

— THE END —

 

YEAAAAAAY! SELESAAAAI! Sumpah geter-geter ngetik endingnya ya tolong HAHAHA. Jadi, menurut kalian gimana nih ff nya? Semoga kalian suka ya sama ff twoshot ini! Sebenernya aku gak berani berharap kalian suka sih, kalian baca dari part 1 sampai sini aja aku udah seneng banget apalagi kalau sampai kalian suka, waaaah, senangnya bukan main. Terima kasih karena sudah menyempatkan waktu untuk membaca ya!

 

Sampai jumpa di ff selanjutnya, lovely readers! ❤

Advertisements

3 comments

  1. Rahsarah · July 27

    uuuuuuuu manissss bangett ga kuat ga kuat aku tuh hahahahahahahaa
    hati surin emang ga pernah salah dah nentuin pilihannya uuuu emessss mau peluk mereka hahah luv 💞

    ditunggu karya2 menggemaskan dari 2 sejoli ini 😘

  2. kusukasukasite · July 29

    Wawawaaa.. manis maniiisss

    Gimanapun konfliknya surin harus tetep sama sehun… bawa pulang sehunnya boleh ga ?

    Ditunggu kisah selanjutnya yaa kaak

  3. Helloshe · August 27

    Menggemaskan dan manis banget. Udah, ga bisa bilang apa-apa lagi. Mereka terlalu manis apalagi bagian terakhir tadi, duh. Meleleh yang baca ini..

    TWO THUMBS UP FOR YOU AND THIS FF..
    I LIKE IT VERY MUCH.
    You did a good job.
    Fighting for keep writing the story of Sehun and Surin.
    Fighting, fighting, fighting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s