Ephemeral [Part 1/2]

ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠs85

 

(1/2) A long two-shot! Hope you like it, happy reading!

 

**

 

Tidak ada niatan lain dalam diri gadis yang kini berdiri terdiam—ragu untuk mengetuk pintu yang sudah ia pandangi selama kurang lebih lima belas menit, selain niatnya untuk memberikan sup ayam hangat buatannya pada tetangganya yang sudah tidak terlihat selama kurang lebih tiga hari terakhir.

 

Rumah orang itu berada dilantai atas sebuah bangunan apartment mini, persis seperti rumah atap sewaannya disebelah, yang baru ia tempati kurang dari seminggu. Sebenarnya, itulah yang menjadi alasannya untuk memberikan semangkuk sup ayam yang berada ditangannya sekarang ini. Ketika hari pertama kepindahannya ke rumah atap tersebut, orang itu membantunya untuk membetulkan pompa air rumahnya yang rusak. Ia hanya ingin mengucapkan rasa terima kasihnya secara benar, sekaligus ingin mengajak orang itu untuk berkenalan dan berteman, mengingat bagaimanapun juga mereka adalah tetangga. Namun orang itu tidak terlihat selama tiga hari terakhir, membuatnya akhirnya kini berdiri didepan pintu rumah orang itu, dengan semangkuk sup ayam buatannya, berharap ia akan sekedar bertemu dengannya untuk mengucapkan rasa terima kasih dan bertanya mengenai namanya yang belum sempat ia tanyakan pada hari pertama mereka bertemu.

 

Dari lantai empat gedung apartment mini tersebut, gadis itu dapat merasakan hembusan angin malam yang semakin terasa dingin menusuk tulang. Otaknya namun tidak lantas menyuruhnya untuk segera pulang. Otaknya hanya terus berpikir bagaimana reaksi orang itu kalau ia benar-benar mengetuk pintu tersebut dan memberikan sup ayam yang kini sudah mulai mendingin itu padanya.

 

“Ada perlu apa?”

 

Gadis yang kini hanya mengenakan pakaian rumahnya itu menoleh cepat, mendapati suara seorang pemuda berhasil membuyarkan lamunannya beberapa detik yang lalu. Gadis itu terperangah ketika melihat pemuda itu mengenakan jaket baseball dengan logo Seoul National University terjahit rapi di bagian dada tepatnya disisi kanan atas jaket tersebut.

 

“Kamu.. mahasiswa Seoul National University?” Spontanitas membuat gadis itu malah mengeluarkan pertanyaan dan bukan jawaban atas pertanyaan pemuda itu beberapa waktu lalu. Pemuda itu hanya memperhatikan sang gadis dengan alis tegasnya, sementara gadis itu kini terbatuk canggung.

 

“Ah, aku hanya ingin memberikan sup ayam buatanku ini sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah membantuku membetulkan pompa air yang rusak beberapa hari yang lalu. Selain itu, karena kita tetangga dan ternyata kebetulan kita juga berada di kampus yang sama, aku ingin berkenalan. Perkenalkan, namaku Jang Surin, mahasiswa baru jurusan Ilmu Komunikasi. Aku baru pindah ke Seoul, dan kurang begitu paham daerah Seoul karena lama di Jakarta. Ah ya, dalam beberapa hari lagi aku akan menyelesaikan masa orientasiku dan mulai menjadi mahasiswa resmi. Bagaimana dengan ka—”

 

“Pertama, aku tidak suka sup ayam. Kedua, aku tidak ada niatan untuk berteman terutama dengan orang yang dielu-elukan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa kampus. Jadi, terima kasih dan tolong permisi, kamu menghalangi pintu.” Potong pemuda berbadan tinggi dan berkulit putih susu itu dengan cepat, membuat gadis yang diketahui bernama Surin itu menatapnya penuh keterkejutan.

 

Bagaimana bisa ada orang tidak sopan seperti itu ketika diajak berkenalan? Dan apa katanya barusan? Orang yang dielu-elukan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa kampus? Maksudnya, Do Kyungsoo? Gosip bahwa Kyungsoo tengah mendekatinya hanya diketahui oleh para mahasiswa baru. Itu berarti, orang itu juga adalah mahasiswa baru?

 

“Seoul itu besar, hati-hati tersasar ya, pendatang. Ah, logat bahasa Korea-mu juga masih aneh, begitupula dengan perkenalan membosankan yang terlalu panjang. Belajar lagi ya.” Ujarnya dan kemudian ia masuk setelah meninggalkan komentar panjang untuk Surin. Surin kemudian berniat untuk menendang pintu rumah tersebut namun niat itu langsung diurungkannya, mengingat orang itu setidaknya telah membantu Surin beberapa hari yang lalu.

 

Tapi sungguh, pendatang? Logat yang aneh? Harus belajar lagi? Memang betul kata kedua orangtuanya di Jakarta, Seoul tidak akan semudah dulu, tepatnya saat ia masih duduk dibangku sekolah dasar.

 

Dan pemuda itu adalah salah satu ujian pertamanya sebelum ia kembali menata kehidupan yang sempat ia tinggalkan beberapa tahun lamanya di Seoul.

 

**

 

“Aku bersumpah, Park Jimi. Tetanggaku itu menyebalkan sekali. Kalau aku bertemu dengannya di kampus nanti, aku akan berpura-pura tidak melihatnya saja.”

 

Derai tawa teman barunya di kampus yang bernama Jimi kemudian langsung menyapa telinga Surin. Kini mereka tengah bercakap melalu sambungan telepon sembari sama-sama sibuk menyiapkan barang bawaan untuk acara terakhir dari rangkaian kegiatan masa orientasi kampus yaitu malam keakraban yang diselenggarakan selama tiga hari dua malam. Surin mulai memasukan baju-bajunya kedalam koper sementara bahunya masih menjepit teleponnya agar terus menempel di telinga kanannya.

 

“Tapi, apakah dia tampan? Kalau tampan, hal ini akan seru. Seperti film-film romantis yang sering ku tonton, kamu akan jatuh cinta pada tetanggamu sendiri!” Ucap Jimi membuat Surin kemudian langsung mendengus spontan. Seketika bayangan rupa laki-laki yang tidak ia ketahui namanya itu mulai berterbangan diotaknya. Tubuhnya tinggi semampai, bahunya lebar membuatnya terlihat seperti tokoh komik Jepang, alis tegasnya tampak begitu sempurna membingkai wajahnya yang berbentuk oval. Intinya, laki-laki itu memang tampan.

 

“Ya, dia tampan. Tapi galak sekali. Aku tidak bisa tahan dengan orang galak, Mi.” Balas Surin pada temannya diseberang sana yang langsung berseru meledek. “Tahannya dengan orang yang bersifat tenang seperti Do Kyungsoo, ya? Hahaha, Rin, kamu ini mudah ditebak sekali.”

 

Surin langsung tersipu. Selama satu bulan masa orientasinya, seorang laki-laki bernama Do Kyungsoo menjadi orang yang turut menghiasi hari-harinya dikampus. Kyungsoo adalah seniornya dan ia adalah ketua dari Badan Eksekutif Mahasiswa. Laki-laki berperawakan tenang dan dewasa itu dikabarkan menyukai Surin dan seringkali mengajak Surin mengobrol disela-sela waktu istirahat kegiatan masa orientasi. Katanya, Kyungsoo adalah orang yang kaku dan tidak pernah terlihat mendekati perempuan sehingga kabar bahwa Kyungsoo tengah dekat dengan seseorang, terlebih dengan mahasiswa baru langsung menjadi percakapan diseluruh penjuru kampus.

 

Lalu, apakah Surin menyukai Kyungsoo? Entahlah. Perasaan tersipu Surin sekarang ini lebih dikarenakan ia hanya merasa sangat tersanjung bahwa senior hebat dan berprestasi seperti Kyungsoo dikabarkan menyukainya yang adalah mahasiswa baru dengan kategori biasa-biasa saja dari segi manapun.

 

“Jangan membicarakan hal itu. Lebih baik membicarakan kamu dan Byun Baekhyun saja. Kelihatannya kalian berdua semakin menunjukan pertanda baik, ya? Hahahah.” Surin gantian meledek Jimi yang juga tengah dikabarkan dekat dengan salah satu senior dikampus, Baekhyun, yang adalah mahasiswa jurusan Kedokteran. Jimi hanya terbatuk kemudian tertawa kecil.

 

“Tahu tidak, sih? Kemarin dia memperhatikanku makan siang di kelas.” Jimi berujar membuat Surin langsung menjawabnya dengan antusias. “Memperhatikan bagaimana?”

 

“Iya, jadi siang itu aku lupa membawa sendok dan sempat sedikit kebingungan sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak jadi makan. Tidak lama kemudian, Baekhyun menghampiriku dengan napas yang tersengal-sengal. Ternyata dia lari untuk meminjam sendok di kantin fakultas-ku agar aku memakan bekal makan siangku. Dia bilang, dia mempunyai indera ke-enam sampai tahu aku tidak membawa sendok. Padahal jelas-jelas kata teman kelasku, dia habis memperhatikanku dari balik jendela kelas.” Jimi bercerita dan sepersekian detik kemudian Surin langsung memekik, terenyuh akibat cerita lucu Jimi-Baekhyun barusan.

 

“Itu lucu sekali!!” Ucap Surin kemudian Jimi tertawa. “Tapi akhir-akhir ini aku sering dikerjai oleh senior dari jurusan Ilmu Komunikasi. Namanya Kim Jongin. Terakhir kali ia menyuruhku untuk membelikan kopi dan menemaninya di café depan kampus sampai ia selesai meminum kopi tersebut hanya karena aku tidak sengaja lupa memakai nametag yang aku tinggal dikelas. Lagi pula itu kan jam istirahat. Bayangkan betapa menyebalkannya Kim Jongin itu, Rin!” Jimi kembali bercerita sementara Surin tersenyum sambil terus mendengarkan.

 

“Hati-hati terjadi cinta segitiga.” Tanggap Surin membuat Jimi berseru tidak terima.

 

“Tidak mungkin, lah. Aku jelas akan memilih Byun Baekhyun. Hahahah.” Jimi berujar dan kemudian mereka berdua tertawa. Percakapan mereka terus berlanjut dengan semakin seru. Mereka berdua ternyata sama-sama tidak sabar dengan acara malam keakraban yang diselenggarakan esok hari.

 

“Tapi aku juga takut, Mi. Katanya, di malam keakraban itu, kita akan dikerjai habis-habisan.” Ujar Surin membuat Jimi bergumam setuju.

 

“Aku saja masih tidak mengerti mengapa kita harus membawa dua buah lilin dan korek api. Jangan-jangan untuk acara jerit malam di hutan.” Jimi menambahi, membuat Surin  yang sedang mengecek barang bawaannya langsung menepuk dahinya sendiri. Ia lupa membeli lilin dan korek api.

 

“Jimi, sepertinya aku harus ke mini market sekarang juga. Aku lupa membeli lilin dan korek api. Kalau besok pasti mini market di dekat gedung apartment-ku belum buka mengingat kita juga harus sudah tiba di kampus jam tujuh pagi. Mi, aku tutup dulu ya. Sampai jumpa besok!” Ujar Surin dan kemudian gadis itu langsung menutup sambungan teleponnya begitu Jimi menyetujui ucapannya beberapa detik yang lalu.

 

Surin berdecak ketika melihat jam pada ponselnya sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam. Surin hanya berharap mini market didekat apartmentnya buka dua puluh empat jam karena ia benar-benar membutuhkan lilin dan juga korek api itu.

 

Setelah mengenakan cardigannya, Surin berjalan keluar dari rumah atap tempatnya tinggal. Ia melihat kesebelah, tepatnya kearah rumah laki-laki galak yang membantunya membetulkan pompa air rumahnya beberapa hari lalu. Surin hanya mendengus, mengingat betapa galaknya wajah laki-laki itu ketika Surin mengajaknya berkenalan. Ingin mempersingkat waktu, Surin menyingkirkan bayangan laki-laki itu dari otaknya, kemudian segera berjalan turun tangga untuk bergegas ke mini market yang berada didepan gang.

 

Saat baru berjalan beberapa langkah, matanya menangkap sebuah kartu identitas tergeletak begitu saja di depan gedung apartment mini yang berada tepat disebelah gedung apartmentnya. Surin mengambil kartu tersebut kemudian matanya membelak ketika ia mulai memperhatikan kartu identitas itu. Surin hanya merasa terkejut karena kartu identitas keluaran sebuah perusahaan itu ternyata adalah milik tetangganya, terbukti dengan foto yang tertera dibagian depan kartu.

 

Surin kemudian memegang tali kalung kartu identitas tersebut dan mempelajarinya baik-baik. “Oh Property Company, Oh Sehun, trainee / intern.” Ujar Surin dengan volume kecil. Ternyata namanya adalah Oh Sehun. Surin menganggukan kepalanya, kemudian memasukan kartu itu kedalam dompet yang sedari tadi ia pegangi, berniat akan mengembalikan kartu tersebut esok hari.

 

Surin melanjutkan jalannya sambil sesekali mempercepat langkah kakinya. Gadis itu hanya merasa kurang nyaman dengan suasana sepi diseluruh penjuru komplek, ditambah lagi dengan pencahayaan lampu jalan yang remang-remang membuat malam itu terasa lebih seram bagi Surin.

 

Sepuluh menit Surin habiskan untuk berjalan kaki, dan setibanya ia didepan mini market tujuannya, betapa kecewanya gadis itu ketika hanya kertas karton putih bertuliskan permintaan maaf karena khusus hari itu, mini market hanya buka sampai jam 10 malam dan akan buka kembali jam 9 esok pagi. “Tsk, padahal tulisannya 24 jam, tapi malah mengambil libur sehari.” Gerutu Surin seraya mengeluarkan ponselnya.

 

Mengingat Surin tidak terlalu begitu paham daerah Seoul, Surin memutuskan untuk mencari mini market terdekat yang lain melalui Google Maps. Ia tersenyum puas ketika melihat ternyata ada satu mini market 24 jam lainnya didekat daerah tempatnya sekarang ini berada. Meskipun harus memakan waktu lima belas menit dengan berjalan kaki untuk mencapai tempat tujuan, Surin akan melakukannya karena ia benar-benar tidak punya pilihan lain selain membeli dua buah lilin dan korek api itu malam ini juga.

 

Sepanjang perjalanan, pikiran Surin terus mengarah pada laki-laki yang beberapa waktu lalu ia ketahui bernama Oh Sehun. Entah mengapa, aura tidak bersahabat laki-laki itu justru membuat Surin merasa malah semakin ingin mengajaknya untuk berteman. Surin kemudian mengambil kartu identitas milik laki-laki itu dari saku cardigannya. Ia berharap tindakannya yang membaca identitas orang lain tanpa diketahui sang empunya identitas seperti ini bukanlah tindakan yang illegal dan melanggar hukum.

 

“Oh Sehun, golongan darah O, lahir di Seoul, 12 April 1994, status mahasiswa. Oh, terdapat nomor telepon yang ia tulis sendiri disini. Hahaha, pasti orang itu sering tanpa sengaja kehilangan kartu identitasnya sehingga ia membubuhkan nomor teleponnya seperti ini.” Surin tertawa karena terkaan konyolnya barusan. Mungkin memang terdengar konyol, tapi Surin malah yakin bahwa memang itu alasannya, mengingat paras laki-laki itu yang tampak seratus persen cuek dan terkesan tidak mempedulikan apapun.

 

Surin menghentikan langkahnya ketika ia telah mencapai titik yang tepat seperti tertera dalam Google Maps. Ia tersenyum ketika melihat mini market yang dicarinya berada tepat beberapa langkah didepannya. Tanpa pikir panjang Surin segera memasuki mini market itu dan mulai berjalan untuk mencari lilin. Setelah beberapa menit, yang ia dapatkan adalah nihil. Hanya ada lilin ulang tahun di mini market tersebut membuat Surin berdecak.

 

“Permisi, apa ada yang bisa dibantu?” Ujar sang penjaga kasir yang melihat Surin tengah kebingungan.

 

“Disini tidak menjual lilin untuk mati lampu, ya?” Surin bertanya seraya mengambil korek api yang juga harus ia beli. “Oh, maaf lilin itu stoknya sedang habis. Hanya sisa lilin ulangtahun saja.” Ujarnya lalu Surin dengan terpaksa mengambil lilin ulangtahun yang berisi banyak dan berukuran kecil-kecil itu. Surin yakin esok hari ia akan terkena hukuman, tapi tidak ada pilihan lain selain tetap membelinya. Setidaknya, mungkin hukuman Surin akan dikurangi. Akhirnya gadis itu segera membayar korek api dan lilin ulangtahun tersebut, lalu segera berjalan keluar dari mini market itu untuk pulang mengingat jam pada ponselnya sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam.

 

Baru saja Surin akan kembali membuka Google Maps, handphone-nya mati karena memang sedari tadi kondisi baterai handphonenya hanya sisa delapan belas persen. Surin lagi-lagi mendecak kemudian ia menarik napas, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengandalkan ingatannya mengenai rute jalan yang tadi ia lalui untuk mencapai mini market tersebut. Dengan tidak yakin, Surin mulai melangkahkan kakinya dengan cepat dijalanan yang cukup sepi itu.

 

Sekitar sepuluh menit ia mengandalkan otaknya, Surin rasa peta yang ada dikepalanya tidak membawanya ke tempat yang benar, malah menyesatkan dirinya sendiri. Saat ini Surin berada didalam gang sepi yang entah berada dimana. Surin mulai panik, hanya terdapat rumah-rumah penduduk disamping kanan dan kirinya, bahkan tidak ada satupun orang yang dapat dimintai tolong. Tangan Surin mulai berkeringat dan dadanya berdebar cepat. Ia ketakutan. Daerah sepi dan penerangan yang remang-remang itu berhasil membuat Surin serasa ingin menangis saat itu juga.

 

Surin mulai berlari, entah kedua kakinya akan membawanya kemana, yang pasti Surin ingin keluar dari gang sepi itu. Nafasnya mulai tersengal-sengal, sampai ia akhirnya menemukan akhir dari gang tersebut. Sebuah jalanan besar. Surin kemudian mempercepat larinya sampai akhirnya ia merasa bisa bernapas sedikit lega setelah melewati gang sepi yang panjang dan menyeramkan itu. Surin melihat kanan kirinya, banyak toko yang sudah tutup. Hanya mobil yang masih ramai melintasi jalanan tersebut.

 

Surin benar-benar tersasar.

 

Ia tidak tahu sama sekali dimana letak keberadaannya sekarang ini. Surin mencari taksi, namun tidak ada satupun yang lewat. Ia ingin menaiki bus yang masih beroperasi, tapi ia takut malah akan semakin tersasar karena ia sama sekali tidak mengerti rute bus Seoul. Gadis berambut panjang yang sudah penuh keringat itu merasa kedua matanya mulai kabur oleh air mata. Ia merasa otaknya benar-benar buntu sampai-sampai ia tidak bisa lagi berpikir jernih karena rasa panik yang besar memenuhi hampir seluruh penjuru otaknya.

 

Surin terjongkok dipinggir jalan, tepatnya didepan toko roti yang sudah tutup. Ia memasukan tangannya kedalam cardigannya, merasa kedinginan. Angin yang besar malam itu seolah akan menerbangkan tubuh Surin yang benar-benar sudah tidak bertenaga. Gadis itu merasakan sesuatu ditangannya. Kartu identitas milik tetangganya, Oh Sehun.

 

Surin berlari kencang setelah ide memasuki otaknya. Yang harus dilakukannya adalah menghubungi Sehun. Surin harus menelponnya dengan nomor telepon yang laki-laki itu tuliskan di kartu identitasnya. Langkah pertamanya adalah, Surin harus terlebih dahulu menemukan telepon umum sambil terus berdoa agar laki-laki itu belum terlelap.

 

Mencari telepon umum malah memperburuk keadaan tersasarnya sekarang ini. Surin semakin tidak tahu menahu dimana ia berada. Surin rasa ia benar-benar menjauhi daerah rumahnya, namun ini bukan saat yang tepat untuk menangisi hal itu meskipun sekarang air mata Surin sudah lebih dulu terjatuh begitu saja membasahi pipinya, membuat wajahnya tampak kacau. Sedari tadi Surin berharap agar menemukan kantor polisi atau mobil polisi yang sedang berpatroli, tapi hasilnya nihil. Ia memang tidak punya pilihan lain selain mencari telepon umum.

 

Surin menusuri tangga yang mengarah ke stasiun kereta bawah tanah. Surin yakin ia akan menemukan telepon umum di stasiun kereta tersebut dan benar saja, ia menemukan deretan telepon umum berada tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang ini. Surin segera berlari menuju telepon umum itu dan mulai mengetikan nomor telepon Sehun tanpa berpikir panjang lagi.

 

Telepon pertama gagal diangkat, Surin kembali memasukan koin dan berdoa kepada Tuhan agar Sehun mengangkat teleponnya.

 

Gagal. Tetap tidak ada jawaban.

 

Apa mungkin laki-laki itu sudah terlelap? Kaki Surin terus bergerak-gerak tidak tenang, dan akhirnya ia memutuskan untuk memasukan koin terakhir yang ia punya di dompetnya. Ia tahu bahwa sekarang ini ia seolah sedang menggantukan hidup dan matinya pada Sehun, tapi Surin tidak mau memikirkannya lebih jauh dan hanya terus berdoa agar Sehun mau mengangkat teleponnya karena kalau tidak, Surin sudah tidak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa. Ia bahkan kurang hafal nama jalan dan nomor rumahnya sendiri sehingga saat ini Surin benar-benar tidak tahu apa-apa, seperti orang amnesia yang dilepas ditengah kota Seoul yang besar dan asing.

 

“Halo? Dengan siapa? Ada perlu apa ya, menelpon jam setengah satu pagi?”

 

Diangkat.

 

Surin menelan ludahnya sendiri ketika telinganya menangkap suara Sehun yang sangat galak itu. Surin bahkan sudah membayangkan bagaimana menyeramkannya wajah Sehun ketika ia mengucapkan rentetan kalimatnya barusan. Wajar saja ia marah pada nomor yang tidak dikenal yang menelponnya tiga kali di jam setengah satu pagi.

 

“O-oh Sehun.” Ujar Surin dengan suaranya yang bergetar. Ketakutannya seolah kembali begitu saja entah dari mana dan saat ini ia sudah menangis kencang, membuat Sehun diseberang sana kebingungan.

 

“Anda siapa? Mengapa anda mengetahui nama saya dan mengapa anda malah menangis?” Sehun membalas dengan suara yang penuh pertanyaan sementara Surin menarik napas untuk menenangkan dirinya sendiri agar ia bisa berbicara dengan baik.

 

“Aku tetanggamu, Jang Surin. Aku tersasar dan aku benar-benar tidak tahu jalan pulang karena baterai handphone-ku habis dan aku tidak bisa mengakses Google Maps ataupun meminta tolong pada siapapun kecuali kamu. Ku mohon bantu aku, karena aku benar-benar ketakutan saat ini.”

 

Hening sejenak. Sehun tidak bersuara sementara Surin sesenggukan, menunggu balasan Sehun.

 

Surin yakin banyak pertanyaan di kepala Sehun saat ini mengenai bagaimana Surin mengetahui namanya, bahkan nomor teleponnya. Tapi tidak ada waktu untuk menjelaskan semua itu sekarang ini. Surin akan kehabisan durasi teleponnya apabila Sehun menginterogasinya, meskipun sepertinya laki-laki itu akan melakukan hal terse—

 

“Kamu dimana sekarang?” Ujar Sehun cepat, memutus pemikiran Surin terhadapnya.

 

“Aku tidak tahu.”

 

“YA LIHAT SEKITARMU!” Bentak Sehun membuat tangisan Surin pecah saat itu juga karena nada tinggi yang Sehun keluarkan barusan.

 

“Tanpa harus membentak bisa, kan?!”

 

“YA MAU AKU BANTU TIDAK?!” Bentaknya lagi dan Surin kembali menangis kencang.

 

“MAU.” Balasnya keras sambil terus menangis. “Aku ada distasiun. Tidak tahu stasiun apa. Yang pasti dibawah tanah dan tadi kalau tidak salah lihat ada gedung stasiun televisi tapi letaknya cukup jauh dari stasiun tempat aku berada sekarang ini.”

 

“Ya sudah, diam disana dan jangan menangis lagi.”

 

Tanpa aba-aba, telepon mereka terputus dan berkebalikan dari larangan Sehun barusan, sekarang Surin terjongkok sambil menangis. Ia memeluk lututnya sendiri, berharap Sehun segera datang untuk mengeluarkannya dari sana. Surin benci suasana sepi.

 

Hampir setengah jam Surin menunggu, akhirnya suara langkah kaki seperti orang yang tengah terburu-buru terdengar menuruni tangga. Surin segera menoleh dan melihat sosok Sehun yang terlihat panik, berlari menghampirinya. Surin menangis lagi ketika Sehun memegang kedua bahunya sambil melontarkan pertanyaan yang malah membuat tangisan Surin semakin menjadi-jadi.

 

“Kamu tidak apa-apa?”

 

“Aku takut.” Ujar Surin dan Sehun langsung berdecak sembari menarik tangannya keluar dari stasiun bawah tanah tersebut. Sehun menuntun Surin kearah motor besar yang terparkir tidak jauh dari pintu tangga stasiun bawah tanah itu.

 

Surin merasa benar-benar lega karena Sehun sekarang bersamanya. Tangan besar laki-laki itu melingkari pergelangan tangannya yang kecil dengan kuat sampai pergelangan tangan Surin sempat merasa sedikit nyeri. Surin tahu banyak yang ingin Sehun tanyakan, maka itu ketika Sehun menyerahkan helm yang dibawanya pada Surin, Surin malah menjulurkan tangannya untuk memberikan kartu identitas Sehun yang ia temukan didepan gedung apartment laki-laki itu.

 

“Untung saja aku menemukan kartu identitasmu sebelum aku pergi. Tadinya aku ingin membeli lilin untuk acara kampus besok, tapi mini market dekat apartment kita tutup dan akhirnya aku mencari mini market lain.”

 

“Dan malah tersasar.” Sambung Sehun sambil memakai helmnya sendiri dan menaiki motor besar itu.

 

Surin hanya mendengus, memperhatikan Sehun yang kini juga tengah memperhatikannya.

 

“Lalu apa itu? Lilin ulang tahun? Aku tidak salah lihat kan?” Sehun meraih plastik bening yang berada ditangan Surin sambil memperhatikan isinya.

 

“Lilin untuk mati lampu kebetulan sedang habis.”

 

“Sudah jatuh, tertimpa tangga pula.” Komentar Sehun pendek, membuat Surin lagi-lagi mendengus. Surin hanya merasa tidak punya tenaga untuk mendebat ucapan Sehun sehingga gadis itu mulai mengenakan helm dan turut naik ke motor Sehun untuk duduk dibelakangnya.

 

Sebelum Sehun menyalakan mesin motor, laki-laki itu menarik kedua tangan Surin untuk melingkari pinggangnya.

 

“Jangan berpikir yang macam-macam. Aku hanya tidak mau aku kerepotan lagi kalau-kalau tubuh lemasmu karena habis menangis kencang seperti anak kecil yang cengeng itu terbawa angin nantinya.”

 

Sehun betul. Surin memang seperti anak kecil yang cengeng. Buktinya sekarang ia sudah menangis lagi sambil memeluk pinggang Sehun yang kini mulai melajukan motornya dijalanan Seoul yang tidak terlalu ramai itu dengan kecepatan tinggi.

 

“Terima kasih karena sudah membantuku untuk yang kedua kali.”

 

“Aku tidak suka ucapan-ucapan klise. Dan yang barusan itu benar-benar membuatku merinding.” Tanggap Sehun dan Surin tertawa kecil.

 

“Berteman denganku ya, Hun?”

 

“Hun? Apa-apaan? Bicara lagi dan kamu akan ku turunkan didepan.”

 

Surin tertawa sementara Sehun hanya terdiam sembari mempercepat laju motornya, membuat Surin harus mengeratkan pelukannya dipinggang Sehun yang anehnya kini berhasil membuat jantungnya berpacu lebih cepat.

 

Sehun betul. Surin memang seperti anak kecil yang cengeng dan lagi, ini adalah yang pertama kalinya ia memeluk laki-laki selain ayahnya.

 

**

 

Pagi itu Surin mengecek kembali barang bawaannya, takut-takut ada yang tertinggal. Ketika matanya menangkap lilin ulangtahun yang kemarin dibelinya, Surin bergidik ngeri. Ia hanya tidak membayangkan apa yang akan terjadi padanya nanti ketika senior-seniornya yang galak itu tahu bahwa Surin tidak membawa lilin yang benar.

 

Baru saja Surin menuruni tangga gedung apartmentnya, Surin menemukan Sehun sudah berada di motornya dengan tas gunung yang berada dipunggungnya, bersiap untuk jalan.

 

“Eh, gadis cengeng.” Sapa Sehun ketika Surin baru saja akan menyapanya. Surin yang disebut gadis cengeng hanya memandangnya galak namun kemudian tersenyum kecil. Ia hanya merasa senang dan bersyukur karena kemarin Sehun menjemputnya yang tengah tersasar.

 

“Kamu menungguku, ya?” Sehun langsung menyalakan mesin motornya ketika mendengar ucapan Surin barusan. “Siapa juga?!” Ujarnya membuat Surin tertawa karena sebenarnya yang tadi itu juga hanya ia ucapkan sebagai candaan biasa.

 

Sehun tiba-tiba melemparkan plastik yang langsung Surin tangkap. Surin melihat dua buah lilin dan korek api berada didalam plastik bening itu. “Tasku sudah kepenuhan, untuk kamu saja.” Ujarnya lalu pergi begitu saja dengan motornya, bahkan saat Surin belum sadar dari keterkejutannya.

 

Kalau lilin dan korek apinya dikasih ke Surin, bagaimana dengan laki-laki itu? Dia pasti nanti yang justru akan terkena hukuman dari senior. Surin langsung berlari sambil menarik kopernya menuju ke halte bus yang tidak jauh dari komplek apartmentnya. Ia harus segera sampai di kampus untuk mengembalikan lilin dan korek api milik Sehun sebelum pengecekan barang dimulai.

 

Kali ini bantuan Sehun benar-benar membuat Surin merasa tidak nyaman. Alasannya pun terlalu dibuat-buat. Apa-apaan itu? Tasnya sudah terlalu penuh?

 

Namun ujung-ujungnya Surin malah tersenyum, menyadari sifat Sehun yang baginya sangat lucu. “Dia itu orang yang sangat baik, hanya saja mulutnya selalu bertentangan dengan hatinya.” Komentar Surin sambil kemudian mempercepat langkah kakinya.

 

**

 

“Apa?! Dari mana kamu mendapatkan informasi semacam itu?”

 

Surin terkejut dengan apa yang baru saja disampaikan Jimi barusan mengenai tetangganya, Oh Sehun. Saat ini seluruh mahasiswa baru diperintahkan untuk berbaris ditengah salah satu lapangan terbesar milik Seoul National University untuk dilakukan pengecekan barang bawaan oleh para senior. Surin yang sedari tadi panik mencari Sehun kesana dan kemari akhirnya menyerah ketika ia tidak dapat menemukan Sehun ditengah kerumunan mahasiswa baru yang cukup banyak. Saat tengah panik seperti ini, sahabatnya, Jimi malah memberitahu tentang fakta yang membuat kepanikannya bercampur dengan rasa terkejut luar biasa.

 

Fakta bahwa Oh Sehun dan Do Kyungsoo ternyata bersaudara. Jimi juga menambahkan informasi bahwa sebenarnya Kyungsoo adalah anak angkat keluarga Oh. Kyungsoo diadopsi ketika ia duduk dikursi sekolah dasar dari sebuah panti asuhan. Yang Jimi bilang, Kyungsoo tidak ingin mengubah marganya karena hanya namanya yang bisa mengingatkannya pada kedua orangtuanya yang tidak pernah ia temui seumur hidupnya sehingga namanya tetap Do Kyungsoo.

 

Kyungsoo dan Sehun selalu berada disekolah yang sama. Perbedaan marga itulah yang membantu mereka untuk menutupi fakta yang lama-lama terkuak juga. Keduanya tidak begitu akrab sehingga mereka memanfaatkan perbedaan marga mereka untuk menampik fakta yang mereka berdua katakan sebagai gossip, meskipun pada akhirnya semua orang tahu kebenarannya.

 

Terkecuali Surin, yang kini masih menganga, terkejut akan apa yang didengarnya dari Jimi.

 

“Makanya, jangan belajar terus. Sesekali kamu juga harus bergossip. Tapi, Surin, kamu dan Sehun.. kalian berdua kedepannya tidak akan terjadi apa-apa, kan?”

 

“Maksudmu?” Ujar Surin pada Jimi yang langsung menggidikan bahunya.

 

“Seram saja membayangkan Kyungsoo dan Sehun saling memperebutkanmu.” Surin langsung mendorong Jimi yang kini hanya tertawa sambil kemudian terus meledeki Surin.

 

“Eh, eh, lihat deh itu Kyungsoo sedari tadi memperhatikanmu terus.” Surin mengikuti arah mata Jimi dan benar saja, Kyungsoo tengah memperhatikannya. Bahkan kini laki-laki itu sudah mengangkat tangannya untuk menyapa Surin yang kemudian membalas sapaan itu dengan membungkukan sedikit badannya sambil tersenyum kecil. Tidak lama suara seniornya yang Surin ketahui bernama Baekhyun menggema diseluruh penjuru lapangan karena pengeras suara yang digunakannya.

 

“Ayo! Ayo! Semuanya segera baris yang rapi. Sebentar lagi akan dimulai pengecekan barang bawaan. Tasnya silahkan kalian letakan didepan kaki kalian.” Ujar Baekhyun membuat seluruh mahasiswa baru langsung mengikuti arahan. Ada Jongin dan Chanyeol, yang memberi arahan untuk letak baris, ada Jongdae, Minseok, Junmyeon, dan beberapa senior perempuan lain yang mulai mengecek barang-barang bawaan barisan depan. Barisan tengah sampai belakang diperiksa oleh Kyungsoo, Baekhyun, Yixing, juga beberapa senior laki-laki yang lain.

 

“Barang bawaanmu lengkap. Aku sudah tahu itu.” Ujar Kyungsoo pada Surin sambil tersenyum senang. Kyungsoo bahkan membereskan kembali seluruh barang-barang Surin, padahal tidak ada senior yang berlaku demikian setelah menggeledah tas anak-anak lain.

 

“Jangan terlalu tegang, biasa saja. Semoga kamu menikmati acaranya ya, Rin.” Kyungsoo berujar lagi membuat Surin langsung tersenyum sambil membungkukan badannya sopan. Kyungsoo kemudian berjalan melewati Surin dan memeriksa barang bawaan anak-anak yang lain.

 

Pikiran Surin hanya tertuju pada Sehun. Laki-laki itu menyerahkan lilin dan korek apinya untuk Surin, dan pasti ia akan terkena hukuman. Sebenarnya dimana laki-laki itu sekarang? Surin mencoba mengedarkan pandangannya seraya menoleh sedikit kebelakang, namun Chanyeol langsung memperingatinya untuk tidak terlalu banyak bergerak, membuat Surin spontan menegakan tubuhnya.

 

Ia hanya berharap Sehun tidak dihukum.

 

Baekhyun menghampiri Jimi yang berada disebelah Surin. Surin melihat Baekhyun mulai menggeledah tas Jimi. Surin juga melihat Baekhyun memasukan roti sobek yang disimpannya di saku dalam jaket almamater yang ia kenakan ke dalam tas Jimi, membuat sang empunya tas spontan ingin menolak, namun Baekhyun hanya menempelkan jari telunjuknya dibibirnya sendiri, mengisyaratkan Jimi untuk tidak menolak.

 

“Jangan berisik, nanti dimarahi Chanyeol. Selamat menikmati roti sobeknya, Jimi.” Ujar Baekhyun seraya menggaruk tengkuknya, terlihat canggung. Surin sampai memekik kecil melihat kedua sejoli yang sangat manis itu. Jimi sampai harus memegangi pipinya yang memerah, membuatnya kali ini ditegur Jongin.

 

“Park Jimi, Fakultas Ilmu Hukum, dilarang senyum-senyum.” Seru Jongin membuat Jimi terdiam sampai-sampai kini Surin harus menahan tawanya. Jimi sering memperingati Surin mengenai cinta segitiga, padahal kalau dilihat-lihat lagi, justru Jimi, Jongin, dan Baekhyun-lah yang tampak seperti dalam cinta segitiga saat ini.

 

“Disini ada yang tidak membawa lilin dan korek api!” Seru Yixing, senior dari Fakultas Ilmu Administrasi yang menjabat sebagai bendahara Badan Eksekutif Mahasiswa. Surin dengan cepat menolehkan kepalanya kearah suara, dan mendapati Sehun tengah berdiri dengan wajah datarnya. Yixing tampak berdiri disebelah laki-laki itu dan beberapa detik kemudian Jongin dan Chanyeol menghampiri mereka.

 

“Oh Sehun, mengapa juga harus kamu, sih? Ini bisa berakhir sengit—” Jongin berujar lalu Chanyeol langsung menyikut lengan laki-laki itu. Tidak lama kemudian, Kyungsoo berseru dari depan dengan menggunakan pengeras suara.

 

“Oh Sehun, Fakultas Arsitektur, maju kedepan!” Serunya membuat suasana lapangan seketika hening. Ini berbahaya, benar-benar berbahaya. Pasalnya, hanya Sehun yang tertangkap tidak membawa barang bawaan yang lengkap. Dari sekian banyaknya mahasiswa baru, Sehun sendirilah yang akhirnya maju kedepan.

 

Satu-satunya orang yang merasa bersalah ketika melihat Sehun didepan adalah Surin.

 

Surin bahkan merasakan kedua mata Sehun mengarah padanya. Laki-laki itu pasti gila karena saat ini ia malah tersenyum kearah Surin, membuat gadis itu malah semakin tidak tenang, takut sesuatu akan terjadi pada Sehun.

 

“Dari sekian banyaknya mahasiswa baru disini, hanya kamu yang bawaannya tidak lengkap. Apa yang akan kamu lakukan untuk menebusnya?” Ujar Kyungsoo dengan nada suara tegas. Keheningan benar-benar melingkupi lapangan itu. Tidak ada yang berani bicara, bahkan para senior yang sedang bertugas sekalipun. Pasalnya mereka tahu mengenai hubungan persaudaraan yang buruk antara Kyungsoo dan Sehun, sehingga saat ini mereka memilih untuk diam.

 

“Push-up 150 kali sekarang juga. Ditambah mencuci piring setelah jam makan siang kita disana.” Ujar Kyungsoo dan yang lain langsung saling berbisik, membicarakan hukuman yang menurut mereka cukup berat itu. Sehun tanpa pikir panjang langsung melaksanakan hukuman pertamanya yaitu push-up sebanyak seratus lima puluh kali.

 

Surin bergerak-gerak tidak tenang ditempatnya. Hatinya serasa mencelos ketika melihat Sehun setengah mati melakukan push-up itu. “Seratus lima puluh kali push-up ditambah mencuci piring seluruh peserta, tidakkah itu sedikit keterlaluan?” Surin berujar kearah Jimi secara berbisik-bisik.

 

“Tidak heran, sih. Ini pasti memang karena hubungan mereka yang tidak baik.” Ujar Jimi membuat Surin menelan ludahnya sendiri. Tadinya Surin masih tidak ingin mempercayai ucapan Jimi bahwa Sehun dan Kyungsoo adalah saudara tiri, tapi kini semua seakan terjawab jelas.

 

Setelah Sehun melakukan push-upnya, laki-laki yang sudah penuh keringat itu kembali ke tempatnya tanpa berkata apa-apa.

 

“Baiklah, baiklah! Semuanya, jangan tegang, ya karena kita hanya akan bersenang-senang tiga hari dua malam ini untuk menyelesaikan masa ospek ini. Sekarang, kita sudah bisa menuju bus yang tersedia. Ikuti arahan Junmyeon disebelah sana.” Baekhyun memandu anak-anak dan kemudian setelahnya, barisan langsung dibubarkan secara teratur.

 

Para mahasiswa baru berjalan beriringan menuju bus yang terparkir didekat mereka. Sebagian dari mereka ada yang terus membicarakan adegan mengerikan yang baru saja terjadi dihadapan mereka, sementara yang sebagian lagi tampak antusias karena ucapan Baekhyun yang bisa mencairkan suasana. Jimi temasuk yang antusias, dan Surin termasuk yang masih memikirkan hukuman itu.

 

Surin dan Jimi memutuskan untuk duduk dibagian tengah bus. Surin sesekali mengedarkan pandangannya, berusaha mencari Sehun yang ternyata tidak satu bus dengannya. “Sudahlah, Surin. Dia itu laki-laki, sudah pasti dia tidak akan apa-apa hanya karena push-up dan mencuci piring.” Jimi berujar membuat Surin menghela napas. Kalau saja Jimi tahu bahwa yang membuat Sehun dihukum adalah dirinya, Surin rasa Jimi tidak akan berkata demikian.

 

“Jangan-jangan, kamu benar-benar sudah ada rasa pada Sehun ya, makanya kamu tampak sangat khawatir seperti ini?” Tuduh Jimi membuat Surin langsung memutar bola matanya. “Yang benar saja, lah. Aku hanya kasihan padanya. Menurutku, hukuman itu sedikit berlebihan.” Tanggap Surin dan kini sahabatnya hanya tertawa kecil.

 

“Jangan heran, seperti yang sudah aku bilang, itu pasti karena hubungan mereka yang tidak baik. Banyak kabar beredar bahwa Sehun membenci Kyungsoo karena Kyungsoo selalu lebih segalanya dari dirinya sejak dulu sampai-sampai kedua orangtua Sehun katanya lebih menyukai Kyungsoo.” Surin tertawa akibat ucapan Jimi barusan.

 

“Itu pasti seratus persen gossip. Mana ada orangtua kandung yang tidak menyayangi anaknya?” Jimi langsung menggeleng cepat, tidak setuju dengan ucapan Surin.

 

“Kenyataannya memang seperti itu. Buktinya kabar bahwa Sehun pergi dari rumah terbukti dengan fakta bahwa sekarang ia tinggal dirumah atap disebelah rumahmu. Lalu, yang lebih parah lagi,” Jimi menggantungkan ucapannya kemudian berujar sambil berbisik. “Katanya, Kyungsoo belakangan ini sibuk kuliah sambil turut mengurusi perusahaan property keluarga Oh. Orang-orang berkata, perusahaan itu nantinya pasti akan jatuh ke tangan Kyungsoo. Tidak diragukan sih, Kyungsoo memang pintar dan berprestasi.”

 

Surin langsung terdiam mendengar ucapan Jimi barusan. “Tapi tidak tahu juga, sih. Untuk yang akan meneruskan perusahaan property itu siapa, semua itu masih hanyalah gossip belaka. Wajar saja belum terlihat yang akan meneruskan perusahaan itu siapa, Sehun saja baru mulai kuliah.” Sambung Jimi.

 

Surin teringat akan kartu identitas perusahaan yang ditemukannya kemarin. Sehun hanyalah seorang intern yang masih melewati masa pelatihan atau trainee. Kalau Kyungsoo sampai dikabarkan sibuk mengurus perusahaan, itu tandanya jabatannya memang berada jauh diatas Sehun saat ini.

 

Surin jadi membayangkan betapa tertekannya Sehun ketika ia berada diperusahaan itu. Bukannya mau mencampuri urusan orang lain, tapi dari cerita Jimi yang mulai bisa diterima oleh nalarnya, Sehun pasti sering dibanding-bandingkan dengan Kyungsoo yang lebih segalanya dari dirinya. Laki-laki itu bahkan memilih untuk pergi dari rumahnya sendiri. Bayangan film-film keluarga tidak harmonis mulai mendominasi otak Surin, membuat gadis itu seketika merasa tidak tenang sendiri.

 

Surin mulai membenci kepalanya yang terus-terusan memikirkan dan mengkhawatirkan laki-laki bernama Oh Sehun itu.

 

“Ah, tidak tahu. Aku mau tidur saja.” Ujar Surin sementara Jimi membuka bungkus roti sobek yang diberikan Baekhyun padanya sambil senyum-senyum. Jimi bahkan menawarkan roti itu pada Surin yang langsung menolaknya.

 

Surin malah ingin memberikan roti itu pada Sehun sekarang.

 

Lagi-lagi, Sehun lah yang menguasai otaknya. Surin sampai tidak mengerti dengan dirinya sekarang ini.

 

**

 

Tempat mereka melakukan malam keakraban berada disebuah hutan yang ada di daerah Busan. Terdapat dua wilayah tenda, wilayah laki-laki dan perempuan. Tidak jauh dari tenda mereka terdapat pondok yang cukup besar untuk makan dan juga sebagai dapur. Kamar mandi berada cukup jauh dari pondok tersebut. Didekat kamar mandi terdapat sungai panjang yang didominasi bebatuan. Hutan itu memang dikelola sebagai tempat perkemahan sehingga semua serba difasilitasi, tidak seperti benar-benar ditengah hutan.

 

Udara dihutan itu jauh lebih sejuk dan dingin, membuat para peserta memakai pakaian tebalnya masing-masing. Kegiatan mereka sekarang ini adalah tengah mengantri untuk mengambil makan siang yang disediakan oleh katering pihak perkemahan. Saat tengah asik menikmati makan siang, Chanyeol mengambil alih perhatian dengan berbicara menggunakan pengeras suara, membuat pengumuman akan kegiatan yang akan mereka lakukan selanjutnya.

 

“Setelah makan siang ini acara kita adalah hiking! Harap siap-siap untuk mengenakan sepatu kets yang nyaman. Acara hiking kita akan dipandu oleh Kim Junmyeon, ketua Himpunan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Bisnis. Waktu makan kita tersisa sekitar dua puluh menit lagi, jadi kalian bisa memanfaatkan waktu ini untuk sekaligus istirahat sebelum kegiatan hiking nanti, ya!” Seru Chanyeol yang langsung disambut pekikan para gadis, membuat laki-laki tinggi itu tertawa bersama para senior yang lain.

 

“Memang benar-benar pujaan para wanita.” Komentar Jimi pendek sembari melanjutkan makannya. Surin tidak menanggapi, ia malah mengedarkan pandangannya untuk mencari Sehun. Surin mengutuk laki-laki itu karena tidak bisa ia temukan dimanapun sedari tadi.

 

Surin memutuskan untuk meninggalkan Jimi dan pergi mencari Sehun setelah ia menghabiskan makan siangnya. Dengan piring kosong ditangannya, ia berjalan menuju tempat cuci piring yang berada tidak jauh dari kamar mandi. Rupanya Sehun sedang berada disana, terjongkok sembari mencuci piring dengan susah payah.

 

Surin tersenyum kemudian segera menghampiri laki-laki itu. “Hoi!” Ujarnya membuat Sehun segera menoleh cepat.

 

“Sedang apa kamu disini? Sebentar lagi acara hiking akan dimulai, sudah sana kembali saja ke pondok.” Pinta Sehun namun Surin tidak mendengarkan. Surin malah berjongkok disebelah Sehun yang kini tengah terduduk disebuah kursi kecil dengan kedua tangan yang terbungkus sarung tangan karet berwarna pink.

 

“Aku ingin membantumu.” Ujar Surin sembari memasang sarung tangan karet yang tergeletak didekatnya dan mulai membantu Sehun mencuci piring.

 

Sehun terus melarangnya, namun Surin tidak mempedulikan. Sirine keras pun berbunyi, tanda bahwa seluruh peserta harus segera berkumpul untuk acara berikutnya.

 

“Aku bersumpah, Jang Surin, aku bisa melakukannya sendiri.” Ujar Sehun yang mulai lelah menyuruh Surin untuk segera pergi ke pondok.

 

“Aku bisa beralasan kalau aku sakit perut. Lagi pula, aku tidak suka hiking. Aku takut ketinggian.” Ujar Surin membuat Sehun tertawa meledek.

 

“Kamu benar-benar terdengar seperti gadis cengeng sekarang.” Sehun kemudian melanjutkan kegiatannya mencuci piring. “Sehun.” Panggil Surin membuat laki-laki itu menoleh.

 

“Terima kasih, ya.” Surin berujar, kali ini tanpa embel-embel kalimat klise mengingat Sehun tidak menyukainya. Laki-laki itu kemudian tersenyum tanpa membalas apapun. “Tapi aku tetap kesal padamu.” Sambung Surin membuat Sehun memandangnya dengan tatapan bingung.

 

“Memangnya aku melakukan apa?”

 

Surin mendengus. “Pakai bertanya. Untuk apa sih, kamu memberikan lilin dan korek api itu padaku? Kalau aku yang tertangkap, pasti kan hukumannya tidak akan seberat ketika kamu tertangkap. Lain kali perhatikan juga apa yang akan kamu terima sebelum kamu membantu orang lain.” Surin berujar membuat Sehun terdiam untuk sesaat.

 

“Maksudnya, karena Kyungsoo menyukaimu jadi hukumannya tidak akan berat? Kamu mau memberitahuku juga kalau kamu sebenarnya suka akan fakta bahwa Kyungsoo menyukaimu?” Hanya itu yang keluar dari mulut Sehun, membuat Surin memandanginya dengan tatapan tidak terima. “Bukan! Bukan seperti itu, maksudku, kan aku perempuan, pasti ia akan lebih bermurah hati.” Tanggap Surin cepat, kemudian Sehun hanya mengangguk-angguk.

 

Seketika Surin berpikir, untuk apa juga ia seolah mengklarifikasi secara langsung dan cepat pada Sehun bahwa ia tidak tertarik dengan fakta bahwa Kyungsoo menyukainya?

 

“Lagipula, apa urusanmu kalau aku senang atau tidak senang dengan fakta bahwa Kyungsoo menyukaiku?” Surin langsung melontarkan ucapan itu tanpa pikir panjang, membuat Sehun tampak salah tingkah untuk sesaat.

 

“Y-ya, tidak ada sih. Kali saja kamu memiliki motif buruk untuk memanfaatkan orang yang menyukaimu, kan. Kalau kamu menyukainya juga, ya, tidak apa. Tidak ada yang salah. Malah bagus, jadi nanti ketika tersasar kamu akan menghubungi nomor yang tepat.” Ujar Sehun cepat, kemudian Surin mendorong lengannya pelan. Entah mengapa Surin tidak menyukai jawaban Sehun barusan. Bagi Surin, keputusannya untuk menelpon Sehun saat ia tersasar kemarin adalah keputusan yang tepat, itu berarti bagi Surin, Sehun adalah orang yang tepat pula. Tapi orang itu malah menyuruhnya untuk memilih orang lain. Sehun memang menyebalkan.

 

Tunggu, tunggu, apa maksud otaknya barusan yang mengatakan bahwa Sehun adalah orang yang tepat?

 

“Mengapa malah mendorongku, sih?” Sehun balas mendorong, membuat Surin hampir saja tersungkur ketumpukan piring kalau tangan Sehun tidak menahan sebelah bahunya. Sehun tertawa terbahak karena wajah panik Surin, sementara gadis yang sudah gemas itu kini memukul Sehun menggunakan sarung tangan karetnya yang ia lepas dari tangannya.

 

“Dasar menyebalkan!”

 

“Surin, aduh, ampun, ampun!” Seru Sehun sambil tertawa seraya menghindar.

 

“Semuanya, harap memperhatikan jalan yang sedikit berbatu dan tetap berhati-hati!” Terdengar suara Junmyeon yang memberi arahan, membuat Surin dan Sehun saling bertatapan.

 

“Kamu yakin tidak ingin ikut hiking? Itu sepertinya mereka sudah jalan.” Sehun berujar membuat Surin mengangguk yakin. Gadis itu mulai mencuci piring-piring kotor yang masih banyak tertumpuk didekatnya.

 

“Dasar pemalas.” Sehun menyentuh pipi Surin dengan telunjuknya dan seketika itu juga busa sabun dari telunjuk laki-laki itu pindah ke pipi Surin, membuat gadis itu berseru sebal tidak terima. “Bukannya bilang terima kasih karena aku telah bersedia membantumu untuk mencuci piring, kamu malah menjahiliku!”

 

“Jangan-jangan kamu malah sengaja tidak ikut karena ingin berduaan saja denganku, ya?”

 

“Oh Sehun! Kamu ini apa-apaan, sih?!” Surin langsung memukulinya kembali dengan sarung tangan karet yang dipegangnya sambil turut tertawa bersama dengan laki-laki itu.

 

Surin tidak menyangka sekarang ia malah tengah bercanda besama laki-laki galak yang tinggal disebelah rumahnya. Laki-laki yang juga sudah dan selalu bersedia untuk membantunya berkali-kali.

 

**

 

Sehun dan Surin yang sudah selesai mencuci piring memutuskan untuk duduk dibebatuan yang menghadap langsung kearah sungai dengan arus tenang dengan menggunakan sepatu mereka masing-masing sebagai alas.

 

Sesekali Sehun melakukan lemparan batu yang menurut Surin sangat keren karena batunya seolah lompat tiga kali diatas air sungai. Surin mengikuti Sehun, namun usahanya selalu gagal membuat Sehun harus tertawa sambil terus meledeknya payah.

 

“Jadi, kamu akan kembali ke Jakarta setelah menyelesaikan kuliahmu disini?” Sehun tiba-tiba bertanya dan Surin mengangguk antusias.

 

“Aku ingin menjadi pembawa berita di stasiun televisi sana, itu sebabnya aku mengambil jurusan Ilmu Komunikasi.” Sehun mengangguk, mendengarkan.

 

“Sebenarnya alasan terkuat mengapa aku akan kembali lagi ke Jakarta setelah lulus nanti adalah karena aku ingin tinggal bersama kedua orangtuaku untuk waktu yang lebih lama lagi. Kedua orangtuaku lebih suka tinggal di Jakarta, mungkin karena Seoul hanya membawa ingatan buruk tentang kebangkrutan perusahaan ayahku dulu. Ah ya, rumahku di Jakarta juga lebih nyaman daripada rumahku yang dulu di Seoul, itu sebabnya aku ingin kembali lagi kesana.” Sehun lagi-lagi hanya mengangguk, namun kemudian laki-laki itu tertawa ketika menyadari bahwa Surin benar-benar seperti anak kecil cengeng yang tidak bisa berlama-lama tinggal jauh dari kedua orangtuanya.

 

Tidak salah, karena sebenarnya Sehun merasakan hal yang sama. Hanya saja bedanya. rumahnya untuk beberapa tahun terakhir ini terasa begitu asing sampai akhirnya ia memutuskan untuk tinggal sendiri. Sehun tidak menyangka bahwa sudah hampir dua tahun ia meninggalkan rumah dan hanya berkunjung ketika perayaan tahun baru.

 

Surin yang menyadari perubahan air wajah Sehun ketika ia membicarakan orangtuanya pun berdeham. “Tidak apa-apa kalau kamu ingin bercerita sesuatu. Aku siap mendengarkan.” Ujar Surin membuat Sehun tertawa kecil.

 

“Aku duga kamu pasti sudah mendengar gossip tentangku dan Kyungsoo yang adalah saudara tiri, kan makanya kamu berkata seperti ini?” Surin terdiam, merasa salah bicara.

 

“Tidak apa, gossip itu memang benar adanya. Kyungsoo adalah kakak tiriku, dan gossip lain yang beredar bahwa kedua orangtuaku seperti lebih menyukainya dan lebih bangga padanya adalah benar adanya pula.” Sehun menoleh kearah Surin yang tengah memperhatikannya.

 

“Tidak perlu mengasihaniku. Kyungsoo memang hebat. Pada kenyataannya memang otak jeniusnya tidak bisa disalahkan dan wajar saja jika kedua orangtuaku terus membanding-bandingkanku dengannya. Aku tidak masalah sama sekali jadi jangan menatapku penuh rasa kasihan seperti itu.” Sehun menyentil dahi Surin membuat gadis itu mengaduh kesakitan.

 

“Siapa juga yang mengasihanimu? Perkataanmu saja yang minta untuk dikasihani.” Sehun tertawa, merasa bahwa ucapan Surin barusan ada benarnya juga. Untuk apa juga Sehun cerita hal itu pada Surin yang benar-benar baru dikenalnya sementara selama ini ia berusaha menutupi itu dari semua orang?

 

“Kamu tahu? Semua orang punya waktunya masing-masing.”

 

“Jangan mulai dengan kata-kata novelmu itu, Rin. Aku bersumpah.” Sehun tertawa namun tawanya terhenti ketika melihat Surin yang menatapnya serius.

 

“Ah, rupanya kamu sedang benar-benar serius.” Komentar Sehun pendek lalu Surin hanya menghela napasnya. Tangannya memegang bahu kanan Sehun, lalu menepuknya berkali-kali.

 

“Kamu itu baru memulai perkuliahanmu, wajar saja kalau kamu belum bisa menunjukan apapun kepada kedua orangtuamu seperti yang Kyungsoo lakukan. Ini belum waktunya. Waktumu akan datang setelah kamu melewati serangkaian proses terlebih dahulu.” Surin tersenyum ketika Sehun mengangguk sambil turut tersenyum. Laki-laki itu kemudian mencipratkan air sungai ke wajah Surin, membuat gadis itu berseru tidak terima.

 

“Jangan serius-serius, aku merinding.” Ujar Sehun lalu dengan jahilnya, ia kembali mencipratkan air sungai itu pada Surin seraya cepat-cepat berdiri untuk menghindari cipratan air dari Surin. Tawanya yang terdengar meledek membuat Surin langsung memperhatikannya dengan tatapan garang.

 

“Oh Sehun, kamu benar-benar minta diberi pelajaran, ya?!” Surin langsung bangkit dari duduknya untuk berlari kecil mengejar Sehun yang kini berjalan mundur dengan langkah yang cepat sambil berjaga-jaga. Ketika Surin berhasil memegang lengan laki-laki itu, Surin mendorongnya ke air sehingga kini air sungai yang dingin berhasil merendam betis Sehun. Sehun spontan langsung balik mengejar Surin yang sudah berlari menjauh sambil memekik dan tertawa, takut-takut Sehun akan benar-benar menangkapnya dan menceburkannya ke air.

 

“Awas saja kalau nanti kamu tertangkap ya, Surin!” Seru Sehun kemudian tidak lama setelah itu kedua tangannya meraih pinggang Surin, menggendong gadis yang tampak kecil dalam pelukan kedua tangannya itu dan meletakannya kedalam air yang dalam sepersekian detik kemudian berhasil membasahi sebagian betis Surin. Surin meloncat-loncat didalam air, merasakan betapa dinginnya air sungai itu sementara Sehun tertawa terbahak, merasa puas.

 

Sehun kembali menggendong Surin membuat gadis itu memekik. “Oh Sehun! Turunkan aku sekarang juga!” Serunya namun Sehun tidak menurut.

 

“Siap, siap, aku akan melemparmu ke bagian sungai yang lebih dalam! Hahahah.” Ujar Sehun disela-sela tawanya membuat Surin bergerak-gerak didalam gendongannya, berusaha untuk melepaskan diri. Sehun yang tidak bisa menahan bobot tubuhnya sendiri pun akhirnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh terduduk, membuat sebagian tubuhnya benar-benar basah terendam air sungai sementara Surin yang lebih dulu berhasil melepaskan diri dari pelukan Sehun hanya menertawai laki-laki yang kini masih tidak percaya akan keadaannya itu.

 

“Senjata makan tuan, ya?” Ledek Surin dan sepersekian detik kemudian gadis itu memekik sambil berlari kecil, menghindari Sehun yang kini mengejarnya.

 

“Jangan curang, kamu juga harus basah!” Seru Sehun namun Surin terus berlari sambil tertawa terbahak. Tawanya berhenti ketika merasakan kedua tangan kekar milik Sehun berhasil mencapainya, melingkari pinggangnya dengan erat. Surin dapat merasakan bagian belakang baju yang dikenakannya sekarang ini turut basah akibat pelukan erat Sehun pada pinggangnya.

 

Baiklah, apa kata otaknya barusan? Pelukan erat Sehun pada pinggangnya?

 

Surin seketika tidak mampu berkata-kata. Otaknya seolah mendadak buntu sampai-sampai ia tidak tahu kalimat bahkan kata apa yang harus diucapkannya dalam rangka mengomentari posisi mereka yang sangat intens ini.

 

Tunggu, tunggu, lagi-lagi kata apa yang baru saja dikatakan oleh otaknya? I-intens?

 

Kalau saja mendeskripsikan apa yang Surin rasakan sekarang ini adalah sebuah hal legal, Surin hanya ingin mengatakan bahwa tubuh bidang Sehun benar-benar menempel sempurna pada punggungnya yang kecil, membuat otaknya sedari tadi sudah berhenti berfungsi. Kedua tangan Sehun yang Surin katakan sebagai tangan berkabel itu berhasil menyetrum seluruh saraf yang ada ditubuh Surin. Meskipun apa yang baru saja dideskripsikannya itu sedikit berlebihan, tapi Surin tidak bercanda, terutama tentang tangan berkabel Sehun yang menyetrum itu.

 

Sungguh, apa yang telah Surin pikirkan saat ini? Baru saja Surin akan melepaskan diri dari pelukan Sehun, laki-laki itu malah langsung menahan pinggang Surin, membuat gadis itu kembali terperangkap diantara kedua tangan kekarnya.

 

“Jangan bergerak, ada dua ikan kecil disekitar kakimu.” Sehun berujar membuat Surin langsung melihat ke arah kakinya dan benar saja, dua ikan kecil tampak berenang beriringan mengelilingi kakinya dan kaki Sehun. Surin tertawa kecil yang kemudian diikuti oleh Sehun. Mereka malah sibuk memperhatikan dua ikan itu, dalam posisi yang otak Surin katakan sebagai posisi… intens.

 

Andai saja Sehun tahu kalau dibalik tawa yang Surin keluarkan itu sebenarnya terdapat pekikan yang tidak tersuarakan dari hatinya karena sedari tadi yang mampu otaknya cerna adalah pemikiran bahwa ini adalah pelukan mereka yang kedua kalinya, setelah dua hari lalu Surin memeluk Sehun saat di motor.

 

Dan setiap kali mereka berada dalam jarak sedekat ini, Surin rasa dirinya lah yang selalu kalah. Ya, Sehun benar-benar berhasil selalu membuatnya merasa hampir gila.

 

**

 

Langit malam yang gelap tidak melunturkan keseruan acara malam keakraban yang tengah berlangsung. Saat ini seluruh peserta dan seluruh panitia berkumpul bersama untuk duduk bersama melingkari api unggun sambil menikmati camilan malam yang disediakan yaitu minuman cokelat panas dan juga beberapa jenis biskuit. Acara yang dipandu oleh Baekhyun dan Chanyeol benar-benar seru dan selalu berhasil mengundang tawa karena lelucon yang dibuat oleh keduanya. Sejauh ini mereka sudah mengadakan kuis dadakan berhadiah uang tunai dengan tebak-tebakan random buatan Baekhyun, membuat malam itu menjadi babak rebutan yang seru bagi seluruh peserta.

 

“Baiklah, baiklah, semuanya harap tenang. Karena uang cash yang dibawa Junmyeon tidak sebanyak itu, sayang sekali kita harus mengakhiri kuis dadakannya sekarang.” Seruan kecewa dari peserta langsung menggema ketika mendengar ucapan Chanyeol barusan. Sebagian panitia menertawai Junmyeon yang kini hanya memperhatikan dompetnya yang sedang dikuasai oleh Baekhyun dengan tatapan nanar, namun beberapa detik kemudian ia menyunggingkan senyuman ikhlasnya, membuat tawa panitia yang berada disekitarnya semakin terdengar nyaring.

 

“Terima kasih kepada Kim Junmyeon, panitia dari Fakultas Ekonomi Bisnis, karena telah menjadi sponsor dadakan kuis malam ini.” Baekhyun mengembalikan dompet Junmyeon diikuti tawa dari para peserta. Baekhyun kemudian kembali ketempatnya semula sembari memperhatikan rundown acara yang dipegangnya. “Sekarang kita masuk ke acara..”

 

“DUET MAUT!” Seru Baekhyun dan Chanyeol bersamaan. Tepuk tangan heboh langsung terdengar, membuat kedua MC itu semakin bersemangat. “Jadi dalam duet maut ini, kita akan mempersilahkan peserta ataupun panitia yang mau maju ke tengah-tengah lingkaran ini untuk menunjukan bakatnya secara berpasangan. Bisa menyanyi, bahkan menggombal pun juga bisa. Baekhyun, coba contohkan.” Chanyeol kemudian menyenggol lengan Baekhyun yang sekarang menggaruk tengkuknya, merasa canggung karena sekarang ini terdengar suara tepuk tangan heboh yang diperuntukkan untuknya.

 

“Ehem, ehem.” Dehamnya membuat beberapa peserta menyemburkan tawanya. Entah mengapa, Baekhyun memang selalu bisa membuat suasana menjadi lucu, bahkan saat laki-laki itu berdeham sekalipun. “Park Jimi dari Fakultas Ilmu Hukum, bisa tolong maju kedepan?” Ujarnya membuat seluruh peserta langsung menyerukan Baekhyun dan gadis yang dimaksudkannya, Jimi. Beberapa teman Jimi termasuk Surin yang kini duduk disebelahnya bahkan sudah mendorongnya untuk maju kedepan.

 

“Langsung saja nih, ya.” Baekhyun berujar seraya mendekatkan diri ke arah Jimi, sementara yang lain sudah sibuk berseru. “Jual kedondong dipengkolan, eh cantik, boleh dong kita kenalan.” Baekhyun menyenggol sikut Jimi dengan sikutnya sementara tawa sudah menggema.

 

“Makan mie sambil main layang-layang, namaku Jimi, dipanggilnya sayang.” Jimi membalas membuat Baekhyun dan ratusan peserta yang lain langsung terbahak-bahak, bahkan Chanyeol sampai harus berlutut ditanah sembari memukul-mukul tanah tersebut karena tidak bisa menahan tawanya.

 

“Balas lagi, Baek!” Seru Jongdae dari jauh yang sedari tadi juga tertawa. Baekhyun berdeham kemudian mencolek lengan Jimi.

 

“Bunga merekah ditengah kota, bolehkah aku jatuh cinta?”

 

Satu kalimat dari Baekhyun yang mampu membuat seruan peserta semakin pecah saat itu juga, bahkan Jimi yang kini berdiri dihadapan Baekhyun sampai kehabisan kata-kata. Ia hanya memukul lengan laki-laki itu pelan membuat seruan semakin terdengar kencang. Surin yang menonton itu semua bahkan merasa air matanya keluar karena menertawai Baekhyun dan Jimi.

 

“Hahahaha! Kita beri tepuk tangan untuk contoh yang lucu dari Baekhyun dan Jimi!” Chanyeol berseru dan tepuk tangan langsung menggema. Baekhyun tampak mengantarkan Jimi kembali ke tempat duduknya dan berlari kecil untuk menghampiri Chanyeol yang kini tertawa ketika melihat laki-laki yang telinganya merah padam itu. “Astaga, bahkan aku bisa melihat telinga Baekhyun yang merah seperti tomat matang.” Komentar Chanyeol yang hanya dibalas senyuman canggung oleh Baekhyun.

 

“Ya, baiklah, sekarang kita langsung saja ke penampilan yang pertama. Untuk yang pertama ini, mari kita saksikan penampilan dari ketua Badan Eksekutif Mahasiswa kita, Do Kyungsoo! Beri tepuk tangan untuk Kyungsoo!” Seru Chanyeol membuat kedua mata Kyungsoo membelak lebar. Pasalnya ia tidak mempersiapkan apapun, dan panggilan dari Chanyeol itu benar-benar membuatnya terkejut.

 

Akhirnya Kyungsoo pun maju ke tengah-tengah, mengambil alih alat pengeras suara yang diberikan Baekhyun padanya. “Cek, cek.” Ujarnya dan terdengarlah pekikan beberapa gadis yang sepertinya adalah penggemar rahasia laki-laki pintar dan berprestasi itu.

 

“Baiklah, karena ini dadakan, saya akan meminta Chanyeol untuk mengiringi saya bernyanyi.” Ujarnya dan kini giliran Chanyeol yang menatapnya dengan mata membelak. Seruan para gadis sudah semakin terdengar, kali ini bertambah karena pasukan penggemar Chanyeol merupakan hampir sebagian dari perempuan yang ada ditempat itu.

 

“Jang Surin dari Fakultas Ilmu Komunikasi, bisa jadi teman duet saya?”

 

Surin merasa jantungnya jatuh dari tempatnya begitu saja. Seluruh pandangan mengarah padanya, dan tidak lama seruan pun terdengar. Kini giliran Jimi yang menyuruhnya untuk maju, dan mau tidak mau akhirnya Surin maju, duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi Kyungsoo. Chanyeol tampak tidak jauh dari Kyungsoo. Laki-laki itu tersenyum ketika Surin menunduk kearahnya untuk memberikan salam sopan. Surin yang bingung pun akhirnya terduduk disebelah Kyungsoo.

 

Dari tempat Surin duduk sekarang ini, ia dapat melihat wajah seseorang dengan ekspresi berbeda dibanding ekspresi orang-orang disekitarnya. Wajah orang itu terlihat tidak tertarik, namun tetap memperhatikan. Oh Sehun.

 

“Saya dan Surin akan menyanyikan lagu Thinking Out Loud dari Ed Sheeran.” Surin memandang Kyungsoo yang kini tengah tersenyum ke arahnya. Laki-laki yang memiliki mata mempesona itu menyerahkan satu microphone pada Surin yang kemudian gadis itu terima.

 

Suara gitar mulai mengalun, sorakan heboh dari para peserta berganti menjadi tepukan yang seirama dengan irama gitar.

 

“When your legs don’t work like they used to before,
And I can’t sweep you off of your feet,
Will your mouth still remember the taste of my love?
Will your eyes still smile from your cheeks?”

 

Kyungsoo menyanyikan bait pertama diiringi oleh seruan para penggemar perempuannya. Manik mata berwarna hitam pekat yang sangat jernih itu hanya mengarah pada Surin, membuat gadis itu sempat merasa gugup. Surin bahkan tidak mulai bernyanyi, sampai akhirnya Kyungsoo yang mengambil alih bait kedua lagu tersebut. Kyungsoo tersenyum ditengah-tengah nyanyiannya, menyadari sikap Surin yang tengah salah tingkah. Bagi Kyungsoo, apa yang disaksikannya saat ini benar-benar menggemaskan.

 

“And, darling, I will be loving you ’til we’re seventy,
And, baby, my heart could still fall as hard at twenty three,
And I’m thinking ’bout how people fall in love in mysterious ways,
Maybe just the touch of a hand.
Well, me—I fall in love with you every single day,
And I just wanna tell you I am,”

 

Surin mengangkat microphone-nya membuat Kyungsoo lagi-lagi tersenyum.

 

“So, honey, now
Take me into your loving arms,
Kiss me under the light of a thousand stars,
Place your head on my beating heart,
I’m thinking out loud.
Maybe we found love right where we are.”

 

Surin bernyanyi, membuat sorakan dan tepuk tangan langsung terdengar seru. Kyungsoo bahkan kini turut bertepuk tangan membuat Surin tersipu.

 

“When my hair’s all but gone and my memory fades,
And the crowds don’t remember my name,
When my hands don’t play the strings the same way,
I know you will still love me the same.

‘Cause, honey, your soul could never grow old, it’s evergreen,
And, baby, your smile’s forever in my mind and memory,
I’m thinking ’bout how people fall in love in mysterious ways,
Maybe it’s all part of a plan.
Well, I’ll just keep on making the same mistakes,
Hoping that you’ll understand,”

 

Perpaduan suara Kyungsoo dan Surin mendominasi suasana, sementara yang lain turut bernyanyi, beriringan dengan suara gitar Chanyeol. Sebagian bahkan ada yang merekam mereka berdua dengan kamera ponselnya masing-masing. Seruan semakin terdengar ketika kini Kyungsoo memegang satu tangan Surin sambil keduanya terus bernyanyi.

 

“So, baby, now,
Take me into your loving arms,
Kiss me under the light of a thousand stars,
Oh, darling, place your head on my beating heart,
I’m thinking out loud,
But maybe we found love right where we are.
Oh, baby, we found love right where we are.
And we found love right where we are.”

 

Seiringan dengan bait terakhir lagu tersebut, tepuk tangan kemudian menggemuruh. Kyungsoo melepas tautan tangannya dan Surin kemudian ia mengacak rambut gadis itu dengan gemas, membuat yang terdengar lagi-lagi hanyalah sorakan heboh dari para peserta yang menyaksikan moment manis tersebut. Surin hanya tersenyum tipis ke arah Kyungsoo dan setelahnya ia malah dengan cepat mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo pada seseorang yang berada ditengah-tengah kerumunan. Pada laki-laki yang kini tampak masih memperhatikannya dengan tatapan tidak suka yang begitu kentara.

 

Oh Sehun.

 

**

 

Hari kedua di tempat perkemahan berlangsung cepat, sampai akhirnya hari sudah kembali larut malam. Rangkaian kegiatan outbond dihari kedua benar-benar menguras tenaga para peserta, terutama Surin. Surin benci ketinggian, tapi tadi sore, ia harus main bungee jumping dan flying fox sebagai syarat jika mau buku ospeknya ditanda tangani oleh para senior. Akibatnya malam ini Surin merasa tubuhnya tidak begitu fit. Surin seolah tengah dalam efek trauma sehingga kinerja tubuhnya tidaklah baik setelah dua kegiatan yang berhasil membuatnya muntah-muntah itu. Kepalanya bahkan masih terasa begitu pusing, namun Surin terus menolak saran Jimi yang mengatakan bahwa ia harus melapor pada senior agar diperbolehkan untuk istirahat.

 

Sebenarnya selain tubuhnya yang tidak fit, rasa sedih karena Sehun terlihat menjauhinya lebih mendominasi, sampai Surin rasa itu adalah penyebab dari rasa nyeri yang kini timbul dikepalanya. Setiap kali Surin hendak menyapa, Sehun selalu mengalihkan pandangan. Surin tidak mau menerka apa penyebabnya, tapi otaknya mengatakan bahwa Sehun berlaku demikian sejak duetnya dengan Kyungsoo kemarin malam. Selain itu, karena seharian ini Kyungsoo tampak selalu bersama dengan Surin. Pada saat makan siang, juga pada waktu jam-jam bebas.

 

Mengapa Surin malah merasa bersalah dan ia merasa harus meminta maaf sementara ia sama sekali tidak melakukan kesalahan? Kyungsoo adalah orang yang baik, Surin senang berteman dengannya. Mengobrol dengan Kyungsoo juga tidak akan pernah berujung buntu karena laki-laki itu memiliki sifat yang mudah untuk bergaul dan memiliki segudang topik untuk dibicarakan. Surin senang karena seharian ini ia semakin mengenal Kyungsoo. Dibalik parasnya yang kurang bersahabat, Kyungsoo adalah laki-laki yang sangat sopan dan juga lucu. Ia memiliki sifat yang penyayang dan juga penuh perhatian sehingga Surin merasa nyaman berada didekatnya. Lalu, apa semua itu adalah sebuah kesalahan sampai-sampai Sehun harus menjauhinya dan akhirnya membuat ia merasa bersalah seperti sekarang ini?

 

Tidak, kan? Memang laki-laki itu saja yang aneh. Biarkan Surin menjulukinya aneh. Surin hanya sangat kesal. Kemarin ia memeluknya, lalu hari ini ia bertingkah seolah tidak mengenal Surin sama sekali. Laki-laki memang tidak bisa diterka.

 

“Perhatian, perhatian.” Suara Kyungsoo terdengar dari pengeras suara membuat para peserta yang kini sudah menunggu dipondok untuk acara selanjutnya langsung memperhatikan. “Karena gerimis dan sepertinya akan hujan besar, acara jerit malam terpaksa ditiadakan. Untuk itu, kalian diperkenankan untuk segera beristirahat.” Ujar Kyungsoo membuat seruan senang dari para peserta pun terdengar. Pasalnya, acara itulah yang ditakuti sebagian para peserta yang adalah mahasiswa baru karena diacara tersebut biasanya para senior akan melatih mental peserta dengan memarahi, membentak, bahkan mengerjai dengan hal-hal yang kurang menyenangkan.

 

“Tidak ada lagi yang boleh berkeliaran, semuanya wajib masuk ke tenda dan beristirahat karena besok kita akan kembali ke Seoul pagi-pagi buta.” Pinta Kyungsoo dan semua peserta langsung menyahut dengan seruan setuju. Tentu saja tidak ada lagi yang ingin berkeliaran, semuanya sudah terlalu lelah dengan rangkaian kegiatan outbond yang menguras seluruh tenaga. Yang ada dipikiran seluruh peserta adalah untuk mengistirahatkan tubuh lelah mereka sesegera mungkin.

 

“Ayo, kita tidur.” Jimi berujar seraya berjalan mendahului Surin. Surin yang merasa kepalanya semakin pusing pun memutuskan untuk mengikuti Jimi berjalan ke arah tenda kelompok mereka. Sebelum memasuki wilayah tenda perempuan, ia melihat Sehun dengan jaket berwarna hitamnya. Surin yang sudah tidak tahan dengan suasana tidak enak diantara mereka akhirnya memutuskan untuk berlari kecil menghampiri Sehun.

 

“Sehun!” Panggilnya membuat sang empunya nanya menoleh cepat. Laki-laki itu meletakan kedua tangannya disaku celana training berwarna hitamnya seraya memperhatikan Surin yang kini berdiri dihadapannya. “Ada apa?” Ujarnya pendek.

 

Surin mendongak untuk menatap Sehun, dan baru saja ia akan mengatakan sesuatu, Kyungsoo menghampirinya. “Surin, kata Jimi kamu sedang tidak enak badan? Ayo ke pondok dulu, aku sudah siapkan obat.” Ujar Kyungsoo dan Sehun yang kini berdeham membuat perhatian Surin kembali terarah padanya.

 

Surin hendak berkata lagi, namun Sehun dengan cepat menyelanya. “Selamat malam, Rin.” Setelah berkata demikian, Sehun berlalu begitu saja meninggalkan Surin dan Kyungsoo.

 

Kyungsoo memegang pergelangan tangan Surin lalu membawanya ke pondok untuk meminum obat yang sudah ia siapkan. Kyungsoo mengulurkan gelas berisi air hangat pada Surin yang baru saja meminum obatnya. Laki-laki itu lalu mengecek suhu tubuh Surin yang cukup tinggi. Parasnya sangat khawatir sampai-sampai kini ia menarik kursi untuk duduk dihadapan Surin.

 

“Sudah aku bilang, kamu tidak perlu keras kepala tetap menaiki bungee jumping dan flying fox itu kalau kamu takut ketinggian. Akibatnya seperti ini, kan.” Ujar Kyungsoo dengan kedua alis tebalnya yang bertaut.

 

Surin tersenyum. “Aku tidak apa-apa, hanya terlalu lelah saja. Kyungsoo sunbae, terima kasih untuk obatnya, ya.” Ujar Surin dan kini Kyungsoo malah menghela napasnya pelan. Raut khawatir masih terlihat jelas diwajahnya membuat Surin tertawa kecil.

 

“Aku sedang khawatir dan kamu malah tertawa.” Kyungsoo berpura-pura marah membuat tawa Surin kembali terdengar.

 

Memperhatikan Surin yang sedang tertawa, Kyungsoo tiba-tiba teringat sesuatu. “Rin.” Panggilnya membuat Surin langsung menatapnya dengan tatapan bertanyanya. “Ada apa, sunbae?”

 

“Kamu dan Sehun, kalian berdua tidak ada apa-apa, kan?”

 

Surin terdiam.

 

Pasalnya Surin juga bingung. Ia bingung dengan dirinya sendiri. Surin masih tidak ingin cepat-cepat memutuskan bahwa dirinya menyukai Sehun. Tapi disatu sisi, seluruh penjuru otaknya hari ini hanya mengarah pada laki-laki itu. Bukankah itu tandanya Surin sudah menyukai Sehun?

 

Menyadari Surin yang terdiam, Kyungsoo langsung meraih tangan Surin dan mengelusnya pelan. Surin kemudian memperhatikan Kyungsoo yang juga tengah memperhatikannya.

 

“Jangan dijawab kalau jawabannya ada apa-apa. Biarkan aku berjuang sedikit lagi, ya?”

 

Lagi-lagi Surin terdiam.

 

Kyungsoo… baru saja menyatakan perasaannya pada Surin.

 

Kyungsoo menyelipkan jari jemarinya pada sela-sela jari Surin, menautkan kedua tangan mereka. Laki-laki itu memandangi tangan Surin yang jauh lebih kecil dari tangannya dalam diam. Kyungsoo seolah tengah berpikir keras, membuat Surin menerka-nerka tentang apa yang kini tengah menguasai pikirannya.

 

“Surin, kamu tahu? Aku adalah orang yang harus bekerja lebih keras setiap kali berhadapan dengan Sehun. Sehun akan selalu menang, Rin. Ia yang mempunyai segalanya sementara aku, seperti yang sudah aku katakan, aku adalah orang yang harus selalu bekerja keras.” Surin terdiam, merasakan jari jemari Kyungsoo yang bertaut dengan miliknya sembari terus mendengarkan.

 

“Mungkin ini terdengar payah, tapi aku lelah karena harus merasa seperti bayangannya setiap saat. Sewaktu-waktu aku bisa hilang dan tidak dapat melakukan apa-apa, persis seperti bayangan. Untuk itu aku bekerja keras agar aku tidak hilang. Agar aku juga mampu menjadi seseorang dan berhenti menjadi bayangannya.”

 

Kyungsoo menatap Surin sambil menyunggingkan sebuah senyuman tipis. “Meskipun aku lelah, kalau hanya dengan bekerja keras aku bisa menggenggam tanganmu seperti ini terus, tentu saja aku akan melakukannya. Jadi, beri aku kesempatan untuk bekerja keras sedikit lagi, ya?” Kyungsoo kemudian bangkit berdiri, masih menggenggam tangan Surin.

 

“Do Kyungsoo—”

 

“Sudah larut, aku antar kamu ke tenda, ya.” Kyungsoo kemudian memimpin jalan sambil menggandeng tangan Surin yang masih memikirkan seluruh perkataan Kyungsoo beberapa waktu lalu.

 

Surin kini sadar bahwa ia tidak bisa memihak siapapun diantara Kyungsoo dan Sehun. Kyungsoo merasa kesulitan karena selama ini ia berpikir bahwa semua yang ia capai dan dapatkan sampai detik ini adalah hasil dari kerja kerasnya. Untuk mempertahankan semua itu ia harus terus bekerja keras atau tidak keadaan akan memutar balikan semua pencapaiannya, membuatnya kembali terbuang seperti masa kecilnya yang ia habiskan di panti asuhan. Akan tetapi seberapapun usahanya, Kyungsoo tahu Sehun selalu berada satu langkah didepannya karena pada kenyataannya, Sehun-lah yang memiliki semuanya.

 

Sementara Sehun, laki-laki itu berpikir bahwa semenjak Kyungsoo hadir ditengah-tengah keluarganya, ia merasa menjadi tidak berguna dan payah. Sehun merasa Kyungsoo telah mengambil alih semua miliknya, terutama perhatian kedua orangtuanya. Sehun juga merasa tidak mampu untuk menyamakan langkahnya dengan Kyungsoo sehingga akhirnya ia memilih untuk pergi dari rumah, guna menghindari tekanan dari kedua orangtuanya yang seringkali menuntutnya untuk belajar dari Kyungsoo dimana Sehun artikan sebagai ‘belajar untuk menjadi Kyungsoo’. Dari situ pula, Sehun seolah kehilangan arah hidupnya.

 

Rumit, hanya itu yang bisa Surin simpulkan. Surin berusaha mencari jalan tengah untuk mempersatukan kedua orang itu, namun ia tidak bisa menemukan satu jawaban pun. Dalam hati kemudian ia berdoa agar suatu saat ia bisa menemukan jawaban itu karena pada dasarnya Surin tahu, baik Kyungsoo dan Sehun dari awal sama-sama tidak ingin menyakiti perasaan satu sama lain, namun keadaanlah yang membuat mereka menarik diri untuk terus berkaitan sampai akhirnya yang tadinya tidak ingin menyakiti, jadi tanpa sengaja saling menyakiti.

 

Surin mengucapkan selamat tidur dan terima kasih pada Kyungsoo setelah laki-laki itu mengantarnya sampai ke depan tenda kelompoknya.

 

Baru saja Surin akan masuk kedalam setelah melihat Kyungsoo sudah berjalan menjauh menuju perkemahan laki-laki, tiga orang senior perempuan menghampiri Surin, membuat Surin sempat terkejut. Mereka bertiga menarik Surin untuk mejauhi tenda dan melarang Surin untuk mengatakan satu kata pun.

 

“Surin, aku butuh bantuan kamu sekarang juga.” Ujar salah seorang dari tiga orang itu yang Surin ketahui bernama Mina. “Maaf, tapi bantuan apa?” Surin balik bertanya, sempat merasa meragukan maksud dari ketiga orang itu.

 

“Jadi tadi aku tanpa sengaja menjatuhkan gelangku dipinggir sungai, kita bertiga sudah mencarinya tapi tidak kunjung menemukan gelang itu. Bantu aku untuk mencarinya, ya? Kalau berempat pasti akan lebih mudah untuk ditemukan.” Mina menjelaskan sementara Surin yang sempat merasa benar-benar ragu pada akhirnya tidak bisa menolak dan kemudian berjalan mengikuti ketiga orang tersebut menuju sungai yang berada tidak jauh dari toilet.

 

Malam itu benar-benar gelap, hanya sinar bulan yang menyinari langkah mereka dan juga dua lampu senter yang dipegang oleh kedua teman Mina, Yewon dan Eunbi. Sesampainya mereka dipinggir sungai, mereka menyuruh Surin untuk mulai mencari. Anehnya, mereka bertiga tidak sama sekali mencari dan hanya Surin yang kini turun  ke sungai yang dingin itu untuk terus mencari.

 

“Coba ketengah lagi, sedikit ke tengah.” Pinta Mina pada Surin yang tengah sibuk mencari gelang perak yang dimaksud Mina dengan senter yang ia pegang. “Ada mutiara disekitarnya, harusnya kelihatan. Coba ketengah lagi.” Surin mulai merasakan perasaan tidak enak merambat keseluruh penjuru hatinya, terutama ketika Yewon dan Eunbi tampak menahan tawa mereka. Gerimis yang tadinya rintik-rintik pun kini perlahan berubah menjadi lebih deras.

 

“Surin, lebih cepat! Sudah mau hujan deras, nih!” Seru Yewon dan kini giliran Mina dan Eunbi yang tertawa.

 

Merasa tengah dikerjai, Surin berniat untuk keluar dari sungai yang dingin itu, namun tiba-tiba kakinya tergelincir batu sungai, membuatnya terjatuh. Surin berharap kakinya akan menyentuh batu lainnya, namun tidak ada satupun batu untuk kakinya berpijak.

 

“Teman-teman, lihat, si penggoda Kyungsoo sekarang hampir tenggelam! Hahahaha, rasakan itu! Makanya, jangan coba-coba dekati Kyungsoo! Kamu benar-benar berurusan dengan orang yang salah!” Samar-samar Surin masih mendengar ucapan mereka. Surin tidak mampu berpikir apapun selain berusaha mati-matian untuk mencari batu sungai didekat kakinya agar kakinya bisa berpijak, namun usahanya gagal. Rupanya Surin sampai ditengah Sungai. Gadis yang panik itu berusaha untuk berenang maju menuju pinggir sungai, tempatnya tadi berdiri, namun hujan yang deras membuat aliran sungai menjadi deras pula. Surin mulai berteriak meminta tolong. Ia benar-benar merasa dirinya akan tenggelam sampai kedasar sungai saat itu juga.

 

Bermenit-menit Surin berusaha untuk membuat kepalanya tetap berada diatas air, namun lama-kelamaan tubuhnya menyerah. Sampai akhirnya ia merasakan tangan seseorang menarik tubuhnya, membawanya untuk keluar dari air sungai yang dingin dan menyeramkan itu.

 

“Surin! Surin! Sadarlah! Kalian, apa yang baru saja kalian lakukan?!”

 

“K-Kyungsoo?” Ujar Surin, berusaha untuk memperjelas pengelihatannya. Kepalanya seolah berputar dan tubuhnya benar-benar mati rasa.

 

“Surin!” Seseorang lainnya muncul dari kejauhan dengan napas yang tersengal-sengal.

 

Orang yang belakangan ini membuat Surin hampir gila.

 

Oh Sehun.

 

Dan kemudian semua menjadi gelap.

 

**

 

Satu setengah bulan setelah malam keakraban itu, keadaan tidak banyak yang berubah. Yang berubah hanyalah Mina, Yewon, dan Eunbi dikeluarkan dari kampus karena dilaporkan sebagai pelaku percobaan pembunuhan terhadap mahasiswa baru. Surin bahkan masih merasa trauma, bahkan hanya dengan kembali mengingat-ingat nama mereka bertiga. Malam itu menjadi malam yang paling panjang dan menyeramkan dalam sejarah hidupnya, dan Surin bertekad untuk mengubur semuanya dengan tidak mengingat-ingatnya lagi.

 

Baekhyun dan Jimi kini sudah resmi berpacaran dan Jongin baru ketahuan menyimpan rasa pada Jimi akhir-akhir ini karena Chanyeol tanpa sengaja menemukan banyak foto dari Instagram Jimi yang Jongin screenshot dan simpan didalam ponselnya. Namun hal tersebut malah membuat hubungan mereka bertiga semakin lucu untuk diamati.

 

Kyungsoo dan Surin semakin dekat, terutama sejak kejadian penyelamatan di sungai itu.

 

Namun, hati tidak akan pernah bisa berbohong.

 

Surin malah terus memikirkan dan menanyakan keberadaan Sehun yang seolah menghilang dari hadapannya semenjak kepulangan mereka dari acara malam keakraban itu. Surin ingat ia melihat Sehun yang terengah-engah tampak menghampirinya yang sedang terdampar dipinggir sungai, namun setelah itu Sehun seolah menghilang. Surin hanya pernah melihatnya sesekali saat laki-laki itu pulang ke rumah saat hari sudah sangat larut.

 

Surin terus bertanya-tanya apa yang dilakukan laki-laki itu akhir-akhir ini sampai ia jarang kelihatan. Surin mengkhawatirkannya, tapi laki-laki itu bahkan seolah tidak peduli sama sekali padanya.

 

“Kamu kok malah melamun?” Kyungsoo yang tengah menyetir, menegur Surin yang kini duduk disebelahnya. Surin hanya menggeleng kemudian melempar pandangannya keluar jendela.

 

Saat ini Kyungsoo tengah mengantarnya pulang dari kampus. Laki-laki itu akhir-akhir ini memang rajin mengantar-jemputnya dan Surin sama sekali tidak enak untuk menolak tawaran baik hati dari Kyungsoo. Setiap kali melihat Kyungsoo, Surin merasa bersyukur sampai-sampai ia tidak bisa menolak apapun yang Kyungsoo tawarkan padanya.

 

Mobil Kyungsoo memasuki komplek daerah rumah Surin. “Kamu jadi datang ke peluncuran buku pertamaku, Sabtu depan kan?” Surin menoleh kemudian mengangguk. “Tentu saja, bahkan aku akan mengantri paling depan untuk mendapatkan tanda tanganmu.” Surin berujar membuat Kyungsoo tertawa kecil.

 

Seperti yang orang-orang katakan, Kyungsoo mahir dalam bidang apa saja salah satunya menulis. Hobi menulisnya pada akhirnya membuahkan hasil pertama yaitu novel fiksi bertema kedokteran mengingat Kyungsoo adalah mahasiswa dari Fakultas Kedokteran. Surin jadi teringat kata-kata seseorang mengenai otak jenius Kyungsoo. Ya, lagi-lagi otaknya mengarah pada Sehun, laki-laki yang berhasil membuatnya khawatir dan bertanya-tanya selama satu bulan setengah ini.

 

“Terima kasih untuk tumpangannya, hati-hati dijalan, Kyungsoo sunbae.” Surin berujar seraya membungkukan kepalanya sopan. Kyungsoo hanya tersenyum seraya menyalakan kembali mesin mobilnya. “Jangan lupa Sabtu depan jam 11. Aku tunggu kamu dibarisan paling depan.” Ujarnya kemudian segera menjalankan mesin mobil tersebut, meninggalkan Surin yang menyaksikan mobil tersebut pergi menjauh.

 

Baru saja Surin akan melangkah menuju gedung apartmentnya, Surin melihat seseorang berdiri tidak jauh darinya. Seseorang yang akhir-akhir ini menyita seluruh penjuru otaknya.

 

“O-Oh Sehun?”

 

Laki-laki yang kini tampak mengenakan celana selutut dan kemeja abu-abu sambil juga mengenakan ransel yang dengan asal ia sampirkan dibahu kanannya hanya tersenyum ke arah Surin. Rambut hitam pekatnya terlihat basah, membuat Surin lagi-lagi bertanya-tanya tentang mengapa Sehun keluar dengan rambut basah seperti itu.

 

“Halo.” Ujarnya seraya berjalan mendekat ke arah Surin. Surin dapat merasakan jantungnya berdebar keras. Ia benar-benar merindukan laki-laki bertubuh tinggi tu.

 

Surin langsung memukul dada kanan Sehun dengan kuat membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan. “Kemana saja?! Kamu dari mana saja? Apa yang kamu lakukan sampai-sampai kamu seolah menghilang akhir-akhir ini? Mengapa kamu baru menyapaku sekarang? Mengapa kamu tidak pernah mendatangiku untuk bertanya bagaimana kabarku setelah kejadian di sungai waktu itu?” Surin menghujaninya dengan pertanyaan sementara Sehun tertawa kecil seraya mengacak rambut Surin.

 

Surin benci Sehun yang selalu seenaknya. Kemarin ia pergi, sekarang ia berada didepan Surin, tersenyum sampai matanya membentuk lengkungan seperti bentuk bulan sabit kesukaan Surin. Dan sialnya, saat ini laki-laki itu malah mengacak-acak hati Surin, padahal tangannya hanya mengacak rambutnya biasa.

 

“Aku tahu kamu baik-baik saja, makanya aku tidak penasaran.” Ujar Sehun pendek membuat Surin kembali memukul laki-laki itu. Sehun pantas mendapatkannya setelah satu setengah bulan membuatnya kalang kabut.

 

“Aku merindukanmu.” Tiba-tiba Sehun berujar demikian membuat kedua mata Surin membelak.

 

“Dan aku senang kamu baik-baik saja.” Sambungnya dan seketika itu juga Surin merasa pandangannya kabur akan air mata. Sehun tertawa karena menyadari hal tersebut.

 

Sehun merindukannya. Ia benar-benar merindukannya.

 

Surin harus tahu betapa keras usaha Sehun untuk menahan diri agar tidak menghampirinya belakangan ini. Sehun hanya merasa payah karena terakhir kali ia terlambat datang untuk menyelamatkan gadis itu. Sehun merasa ia butuh waktu untuk kembali menghadapi Surin. Ditambah lagi, ia kalah dari Kyungsoo. Untuk yang kesekian kalinya.

 

Sehun membenci fakta itu. Ia juga membenci bagaimana Surin menjadi lebih dekat dengan Kyungsoo akhir-akhir ini. Ya, Sehun mengetahui semuanya. Hanya saja Sehun memilih untuk menahan diri sehingga ia membiarkan semua terus terjadi begitu saja.

 

Kali ini Sehun tidak mau diam saja. Kali ini ia tidak mau menjadi orang yang payah.

 

Sehun merasa sudah cukup selalu menyaksikan mobil Kyungsoo tiba untuk mengantar dan menjemput Surin. Sehun merasa sudah cukup menyaksikan Kyungsoo yang selalu tiba-tiba datang pada Surin ketika gadis itu tengah sendirian, entah itu di kantin kampus, ataupun di perpus, membuat usahanya untuk menghampiri gadis itu selalu gagal begitu saja.

 

Kali ini ia tidak akan membiarkan Kyungsoo untuk merebut orang yang penting bagi hidupnya. Tidak lagi.

 

“Jangan cengeng. Aku sibuk belakangan ini, Rin. Aku sibuk menjadi mahasiswa jurusan Arsitektur yang tugasnya sangat menumpuk. Selain itu, aku sibuk dengan kejuaraan lomba berenang. Seperti katamu, semua orang harus melewati proses, kan? Aku sedang dalam proses untuk menghasilkan sesuatu yang dapat aku banggakan.”

 

Untuk pertama kalinya, laki-laki yang tidak pandai menggambarkan perasaannya lewat dari kata-kata itu menuturkan kata-kata tulus yang membuat Surin akhirnya meneteskan satu bulir air matanya. Surin langsung menghapusnya dengan cepat, tidak mau terlihat cengeng meskipun menurut dirinya sendiri, ia sudah terlihat demikian dimata Sehun.

 

Pantas saja setiap kali Surin melihatnya pulang, Surin selalu mendapati rambut Sehun yang basah. Rupanya ia sibuk berlatih berenang untuk kejuaraan yang dimaksudkannya barusan.

 

“Lain kali, keringkan dulu rambutmu baru pulang.” Komentar Surin membuat Sehun tertawa. Lagi-lagi Sehun mengacak rambut Surin, membuat Surin menyunggingkan senyuman dibalik sesenggukannya.

 

“Sabtu depan jam 11 adalah perlombaan perdana-ku. Kamu mau datang, kan?”

 

Surin terdiam. Hari dan jam yang sama dengan peluncuran buku pertama milik Kyungsoo.

 

Surin rasa ia benar-benar akan gila.

 

“A-aku usahakan bisa.” Ujarnya membuat Sehun tersenyum senang.

 

Surin tidak memiliki kuasa untuk memilih. Kedua acara tersebut sangat penting baik bagi Kyungsoo maupun Sehun. Tapi, kedua orang itu juga sama pentingnya bagi Surin. Kyungsoo yang telah menyelamatkan hidupnya, dan Sehun, orang yang ia sayangi.

 

Surin benar-benar merasa tidak bisa untuk memilih.

 

**

 

“Jauhi Surin.”

 

Setelah menemui Surin didepan apartment gadis itu, Sehun yang jarang sekali menginjak rumah orangtuanya setelah dua tahun terakhir, akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah dan tujuan utamanya adalah kamar Kyungsoo, hanya untuk mengatakan dua kata itu.

 

“Kalau aku tidak mau, bagaimana?”

 

Sehun langsung menarik kerah baju yang digunakan Kyungsoo, membuat laki-laki itu melepas bukunya dan balas menarik kerah baju Sehun dengan kasar.

 

Sehun melayangkan tinjunya ke wajah Kyungsoo, membuat laki-laki itu terjatuh ke tempatnya duduk. Kyungsoo tertawa sembari melihat darah yang mengalir disudut bibirnya.

 

“Jangan sok menjadi pahlawan. Orang yang melakukan percobaan pembunuhan terhadap Surin adalah para penggemar fanatikmu. Jauhi Surin karena aku tidak mau ia berurusan dengan orang yang adalah penyebab dirinya tersakiti.” Sehun berujar lagi dengan nada suara yang dingin sementara Kyungsoo langsung melayangkan tinjuannya diwajah Sehun, membuat kini giliran laki-laki itu yang tersungkur dilantai.

 

“Selama satu bulan setengah ini kamu melarikan diri darinya, meninggalkannya, sama persis seperti kamu melarikan diri dari rumah, meninggalkan keluargamu. Semua itu karena apa? Karena kamu adalah pengecut yang takut kalah. Coba menang dariku satu kali, Oh Sehun. Kamu pikir, kamu bisa melakukannya?”

 

Sehun benci karena ia tidak bisa membalas perkataan Kyungsoo barusan.

 

Sehun membenci dirinya sendiri yang malah terlihat semakin lemah dimata orang itu.

 

“Rebut semuanya dariku tapi tidak dengan Surin, Do Kyungsoo. Dia sangat berharga untukku, bahkan dari pertama kali aku melihatnya.” Sehun berujar, entah mengapa dirinya tidak memiliki tenaga lagi, bahkan untuk mempertahankan harga dirinya sendiri.

 

“Kamu salah jika berpikir aku merebut semuanya darimu.” Kyungsoo berjalan mendekat. “Kamu yang pergi meninggalkan semua yang kamu punya, menciptakan kesan seolah aku telah merebut semuanya. Kedua orangtuamu dibawah, tidak lihatkah betapa senangnya mereka karena kamu kembali lagi ke rumah?” Kyungsoo melemparkan sapu tangannya pada Sehun, sementara laki-laki itu kembali diam seribu bahasa.

 

Sehun kalah telak, namun ia tidak sekalipun menyalahkan semua yang telah Kyungsoo katakan.

 

“Kata Ibu, perlombaan renangmu bersamaan dengan peluncuran buku pertama-ku? Itu artinya Surin harus memilih untuk datang ke salah satunya, bukan? Kita lihat saja siapa yang akan dipilihnya.” Kyungsoo menghela napas sementara Sehun sudah tidak ingin memperhatikan saudara tirinya itu.

 

“Lakukanlah perlombaan itu dengan benar. Ibu sangat antusias terhadap perlombaanmu, jangan kecewakan dia atau kamu akan berakhir dengan tinjuanku yang kedua.” Ujar Kyungsoo seraya meninggalkan ruangan tersebut, meninggalkan Sehun dengan setumpuk pemikirannya yang kusut.

 

Mengenai kesalahan yang memang dari awal berasal dari dirinya. Mengenai saudara tirinya yang tidak seburuk apa yang dipikirkannya.

 

Dan mengenai pilihan Surin.

 

Untuk yang terakhir, Sehun akan menyerahkan hal itu sepenuhnya pada Surin.

 

Yang perlu Sehun pikirkan adalah kedua masalah utamanya. Mengenai hubungannya dengan orangtuanya, dan mengenai hubungannya dengan saudara tirinya.

 

Sehun memejamkan kedua matanya dan memikirkan bagaimana cara untuk memperbaiki seluruh benang yang sudah sangat teramat kusut itu.

 

Sehun tidak menyangka kalau semua sudah terlanjur seberantakan ini.

 

Bisakah Sehun memperbaiki semuanya?

 

 

— TO BE CONTINUED —

 

Wow! Sangat panjang untuk Part 1 ini. Gimana nih? Oke tidaaaak? Terlalu panjang, kah?

Semoga tidak membosankan dan masih mau baca Part 2 nya, ya! Nantikan episode terakhir(?) alias Part 2 dari ff ini! Wajib stay tune terus. Terima kasih karena sudah menyempatkan waktu untuk membaca.

See you on the Part 2! ❤

 

 

Advertisements

6 comments

  1. kusukasukasite · July 18

    Setelah sekianlama. Akhirnya kembali dengan ff gaya baru.. Wah wah wah. Jadi ikutan dilema. *tuhan tolong aku* 🙂

    Ku kan setia menunggu ff yang selanjutnyaaa.. Semangaaaatttt

    • Oh Marie · July 18

      YEEEEYYYY! Terima kasih banyak ya karena masih setia nungguin author yang paling ngaret sedunia perff-an ini huhuhu. Terharu banget! Terima kasih juga untuk komentarnya ❤ Sampai jumpa di part 2 yaaa!

  2. Rahsarah · July 19

    aaaaaa finally setelah berbulan2 akhirnyaaa 2 sejoli kesayangan aku muncul lagiiiii
    duhhh cerita mereka baru mau kuliah tohhhh hmmmmm selalu ada kyungsoo di antara sehun dan surin hahahahaha tapi ga bisaaa marah sama kyungsoo tuh cini cini cama aku ajaaa hahaha surin biar buat sehun aja hahahaha.. somoga sehun bisa meluruskan benang2 yg terlanjur kusut yaaa..
    emang rin klo udh urusan hati mah susah sedeket apapun kita sama orang yg lebh care tapi klo hati maunya sama doii ya bisa apa? *eaaaapanih

    2 kata buat baekhyun RECEH BANGET…. WKWKWK Tapi luv 💛

    ditunggu part 2nya ade cantik 😙

    • Oh Marie · July 19

      HAAAALO KAK SARAH KESAYANGAN AKUUUU. ❤

      Kangen banget baca komentarnya ka sarah huhu. dan seneng luar biasa akhirnya bisa baca lagiii! Terima kasih ka sarah karena masih mau mampir untuk baca disini meskipun akunya ngaret parah.

      HAHAHA Setuju kalo udah kepincut emang susah lepas, baek-baek aja nih surin milih HAHAHAH. *gamau spoiler* (?)

      Baekhyun terlahir receh dia emang kak. Bikin pengen punya temen kayak dia ya :"")

      Sekali lagi makasih ya ka sarah untuk komentarnya! Sampai jumpa di part 2 ❤

  3. Pingback: Ephemeral (Part 2/2 – END) | OH MARIE
  4. Helloshe · August 27

    Akhirnya keluar lagi ff yang baru ! Baru bisa baca sekarang dan bener-bener seru banget. Aku bacanya senyum-senyum sendiri apalagi pas Sehun peluk Surin dari belakang, YA TUHAN AAAA. Jelas banget aku bisa bayangin kondisi mereka pas lagi pelukan kayak gitu.

    Juga, pas bagian akhir aku tiba-tiba ingat Sung Yeon dan Yung Joon di drama What’s Wrong with Mrs.Kim. Mereka punya hubungan yang sama tidak baiknya. Semoga di part 2, Sehun sama Kyungsoo baikan ya. Engga sabar juga apalagi yang bakal terjadi antara Sehun dan Surin.

    Makasih banyak sudah buat ff ini. Aku suka banget, fighting .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s