Tues Ma Maison

27878918_162451614402385_628702660022763520_n

Tues Ma Maison (French) ; You are my home.

Enjoy!

**

Musim hujan terasa tidak akan pernah berakhir. Lagi-lagi derasnya air hujan membasahi permukaan kota Seoul, membuat malam hari yang dingin itu menjadi lebih dingin dari biasanya. Angin kencang menerpa payung-payung orang yang tengah sibuk berjalan cepat di bahu jalan. Wajah mereka menunjukan rasa tidak nyaman yang begitu kentara, membuat seorang gadis yang kini memperhatikan pemandangan itu diseberang bahu jalan tersebut tepatnya di halte pemberhentian bus, hanya menghela napas panjang, entah mengapa dapat merasakan perasaan kesal yang dirasakan orang-orang itu.

 

Jang Surin, begitulah nama yang tertera diatas name tag milik perusahaan majalah tempatnya bekerja. Surin membetulkan posisi duduknya dikursi panjang halte bus tersebut sambil sesekali menggosokan kedua tangannya, berusaha mengusir dingin yang menyerang tubuh lelahnya. Surin sebetulnya membawa payung, hanya saja ia merasa malas untuk berjalan dibawah hujan deras sehingga kini ia hanya terduduk dikursi halte, berharap agar hujan segera berhenti sehingga ia bisa berjalan dengan nyaman menuju gedung apartmentnya yang letaknya bisa dibilang cukup jauh dari halte tersebut.

 

Surin terperanjat ketika ponsel yang tengah dipegangnya berdering nyaring. Surin segera menekan tombol terima dan detik berikutnya suara sahabatnya, Jimi dengan begitu saja menyapa telinganya.

 

“Surin! Aku punya kabar bagus.” Ujar Jimi kemudian Surin langsung tahu apa yang hendak disampaikan oleh sahabat sedari kecilnya itu.

 

“Aku sibuk, Park Jimi. Aku tidak punya waktu untuk lagi-lagi meladeni kencan buta yang kau susun itu. Lagipula aku masih trauma dari laki-laki berotot besar yang kau kenalkan dua minggu lalu.” Protes Surin sembari memperhatikan flat shoes pastelnya yang entah kapan dan bagaimana tiba-tiba rusak, membuatnya mendecak sebal. Bagus, setelah seharian dimarahi atasannya di kantor karena beberapa masalah dalam pekerjaan yang dilakukannya, kini Surin harus pulang dengan sepatunya yang rusak. Surin benar-benar merasa kini ia tengah berada dititik terlelahnya.

 

“Sudah lebih dari dua puluh laki-laki, Jang Surin. Dan semua laki-laki itu bilang bahwa kaulah yang menghindar setelah kencan pertama kalian. Aku benar-benar tidak mengerti denganmu. Karena itulah aku akan menyerah kali ini jika kau dan laki-laki yang akan ku pertemukan denganmu ini tidak berjalan baik seperti yang sebelum-sebelumnya. Aku janji padamu ini adalah usahaku yang terakhir.”

 

Jimi terdengar frustasi diseberang sana sementara Surin hanya terkekeh. “Benar janji ini adalah yang terakhir?” Ujar Surin memastikan. Ia rupanya sudah mulai lelah dengan usaha sia-sia sahabatnya itu. Hatinya tetap tidak akan terbuka untuk siapapun, meskipun ia sendiri sudah mencobanya. Maka kali ini Surin akan mengerahkan usaha terakhirnya, sama seperti janji Jimi beberapa menit lalu.

 

“Iya, aku janji. Sudah saatnya kau membuka hatimu dan melupakan seseorang di masa lalumu itu. Mengerti?” Ujar Jimi dan Surin langsung tertawa kecil seraya menggumam setuju. “Aku akan mengirimkan nomor telponnya padamu. Semoga akhir pekanmu kali ini akan menghasilkan hasil yang baik ya.” Jimi berujar lagi dan beberapa detik setelahnya, keduanya memutus sambungan telepon tersebut.

 

Surin menyimpan nomor yang baru saja Jimi kirimkan dengan nama ‘Mr. Last Blind Date’, lalu tangannya mulai mengetikan pesan ke nomor tersebut. Selepas itu, ia memutuskan untuk menyusuri aplikasi Instagram miliknya. Postingan seseorang menarik perhatiannya. Ekspresinya menunjukan ketidaksukaan yang mendalam dan bibirnya mulai bergerak untuk mencibir.

DLaT5ROUEAAjwHP

@oohsehun : Having fun.

 

“Having fun? Bagus, Oh Sehun. Kau memang selalu tahu caranya membuatku jadi mengasihani diriku sendiri. Lihatlah, bahkan selama empat bulan terakhir ini postingan Instagram-nya selalu tentang bersenang-senang. Berpisah denganku memang bukan hal besar kan untukmu?” Surin berbicara kesal pada layar ponselnya kemudian memutuskan untuk melempar benda itu kedalam tasnya.

 

Surin bangkit berdiri dari duduknya sembari membuka payung lipat berwarna oranye miliknya. Seketika matanya berkaca-kaca, mungkin karena melihat salah satu penyanggah payungnya patah sehingga payungnya terlihat mengenaskan ketika dibuka, atau karena setelah melihat postingan bahagia Sehun beberapa waktu lalu, entahlah Surin juga tidak ingin tahu. Surin kemudian memutuskan untuk tetap berjalan pulang dengan payung dan sepatu rusaknya dibawah hujan yang begitu deras. Beberapa orang memandangnya dengan tatapan kasihan, membuat Surin hanya menunduk sambil terus berjalan, tidak peduli dengan air yang mulai masuk melalui sepatu rusaknya sehingga membasahi sebelah telapak kakinya. Surin juga tidak ingin peduli pada payung oranye-nya yang kini tampak setengah tertutup.

 

Untuk pertama kalinya dalam empat bulan kandasnya hubungan Surin dengan laki-laki bernama lengkap Oh Sehun itu, Surin merasa ingin kembali merasakan hari-hari cerah tanpa hujan seperti hari ini.

 

Untuk pertama kalinya, Surin ingin kencan buta yang disusun oleh sahabatnya Park Jimi, berjalan dengan lancar sehingga ia dapat segera bertemu dengan hari-hari cerah itu.

 

**

 

Satu botol.

 

Dua botol.

 

Tiga botol.

 

Dan kali ini laki-laki bertubuh tinggi yang diketahui bernama lengkap Oh Sehun mulai membuka botol soju yang keempat. Baekhyun, sahabatnya yang saat itu melihat Sehun sudah hampir benar-benar mabuk, merebut botol soju tersebut dari tangan Sehun. Laki-laki yang kini setengah sadar itu hanya menatap Baekhyun dengan tatapan kosongnya, berharap dari tatapan kosong itu Baekhyun dapat mengerti bahwa kini Sehun tengah memerintahkannya untuk memberikan kembali botol soju tersebut.

 

“Byun Baekhyun, pulanglah. Aku ingin sendiri.” Ujar Sehun sembari melepas dasi hitam yang terasa mencekik lehernya. Tangannya kini berusaha untuk membuka dua kancing teratas kemeja kerjanya, namun tangannya tidak kunjung berhasil melakukan hal itu sehingga kini ia menarik paksa kain kemejanya hingga dua kancing teratas itu terlepas dan terlempar entah kemana. Baekhyun hanya bisa menatap Sehun yang kini terkulai lemas di sofa dengan tatapan kasihan.

 

“Berhenti menatapku dengan tatapan seperti itu, Dokter Byun. Dan berhenti datang ke apartmentku untuk membawakan makan malam setiap hari. Berhenti pamer bahwa kini kau dan Jimi sudah hidup berumah tangga selama enam bulan sehingga setiap hari kau harus berbagi makan malam seperti itu. Belakangan ini aku tidak nafsu makan jadi percuma saja. Makanan itu malah akan mubazir nantinya.” Ucap Sehun asal sembari membetulkan posisi tidurnya di sofa apartmentnya yang nyaman.

 

“Belakangan ini apanya? Kau sudah seperti ini semenjak kau putus dengan Surin empat bulan yang lalu, Oh Sehun! Ibumu sampai memintaku untuk mengawasimu dua puluh empat jam kalau perlu karena ia takut kau akan melakukan percobaan bunuh—”

 

“Aku tidak sebodoh itu.”

 

“Kau memang sebodoh itu, Sehun. Aku tahu kau tetap professional menjalankan seluruh pekerjaanmu di kantor milikmu itu, tapi percuma saja kalau setiap pulang kerja kau seperti ini. Setiap hari mabuk dan tidak makan malam, kau pikir kau akan baik-baik saja?” Baekhyun berjalan menuju dapur dan mengambil botol-botol soju milik Sehun dari sana. Baekhyun tidak akan membiarkan sahabatnya itu meninggal karena setiap hari mengkonsumsi minuman keras dengan berlebihan.

 

“Apa Jimi masih menyusun kencan-kencan buta untuk Surin?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Sehun dan untuk sesaat suasana berubah hening. Baekhyun tahu bagaimana Sehun masih begitu mencintai gadis itu sehingga efek kandasnya hubungan mereka berdua terhadap Sehun sampai seperti ini.

 

“Kau tahu kan tabiat Jimi. Ia akan membenci siapapun yang dia anggap telah melukai sahabatnya, sehingga ya, dia masih menyusun kencan-kencan buta itu untuk Surin. Sudahlah, kau dan Surin sudah berakhir. Terima kenyataan itu dan carilah penggantinya karena kini Surin juga tengah melakukan hal yang sama. Tidak ada gunanya menangisi sesuatu yang sudah berubah menjadi masa lalu.” Baekhyun berujar panjang lebar dan untuk beberapa menit Sehun tidak menjawab perkataannya. Meskipun Baekhyun harus akui bahwa ucapannya barusan sangat kasar untuk orang yang tengah patah hati, tapi Baekhyun tidak menyesali perkataannya. Itu semua untuk menyadarkan Sehun, setidaknya begitulah pikirnya.

 

“Makanlah makanan yang aku bawa itu kalau kau tidak mau mati. Kau tidak tahu ya bahwa aku menghadapi maut setiap hari karena membungkuskanmu makanan buatan Jimi? Kalau ia tahu aku mengirimimu makanan buatannya, mungkin besok aku hanya tinggal nama. Jadi, kau harus memakannya. Lagipula makanan-makanan itu sangat lezat karena dibuat dengan cinta Jimi yang mendalam terhadapku.”

 

“Berhentilah mengoceh, Byun Baekhyun.” Baekhyun tertawa kemudian berjalan kearah Sehun dengan dua plastik hitam berisikan botol-botol soju milik Sehun yang ia razia. “Terima kasih.” Ujar Sehun dan Baekhyun tersenyum tipis.

 

“Simpan saja terima kasihmu itu dan ganti dengan Sehun-ku yang dulu dan jangan melakukan hal bodoh atau mulai besok aku benar-benar akan pindah kesini. Mengerti?” Baekhyun berujar dengan nada candanya yang khas kemudian berjalan keluar dari apartment Sehun.

 

Sehun meraih ponselnya dari saku celana panjangnya kemudian memperhatikan lockscreen ponselnya yang belum ia ganti meskipun hubungannya dengan gadis yang tengah menunjukan senyum manisnya sembari memegang satu bucket bunga mawar merah dalam foto itu kandas begitu saja empat bulan yang lalu.

 

Sejak hari dimana Surin memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka, Sehun merasa jiwanya turut lenyap bersama enam tahun umur hubungan mereka. Dan kini kabarnya Surin tengah mencari penggantinya, dengan begitu mudahnya. Sehun benar-benar tidak percaya dengan isi kepala gadis itu.

 

Namun sebenarnya, dibanding membenci Surin, Sehun lebih membenci dirinya sendiri. Ia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa membenci Surin. Ia membenci dirinya sendiri karena ia masih begitu mencintai Surin yang meninggalkannya begitu saja empat bulan lalu.

 

Satu notifikasi masuk begitu saja ke ponsel Sehun, membuat laki-laki itu terperanjat ketika melihat sebuah pesan berasal dari nama kontak yang sudah lama tidak di lihatnya dalam kolom notifikasi ponselnya, kini benar-benar muncul disana. Sehun langsung terduduk, tiba-tiba merasa sepenuhnya sadar dari pengaruh alkohol yang sebelumnya hampir mengambil alih seluruh fungsi otaknya.

 

Sehun membaca pesan itu lambat-lambat dan detik berikutnya ia merasa baru saja memenangkan sebuah lotre.

 

From : Rin

 

Halo, Choi Jaeyeol. Saya Jang Surin, teman dari Park Jimi dan juga perempuan yang akan berkencan dengan anda di hari Sabtu, akhir pekan ini. Kita bertemu di Dalkomm Café Myeongdong, jam 1 siang, ya. Saya akan memakai baju terusan bermotif bunga dengan warna dasar biru muda. Sampai jumpa hari Sabtu.

 

Sehun baru saja akan menelponnya, namun ia langsung mengurungkan niatnya. Salah nomor? Entahlah, tapi untuk pertama kalinya dalam empat bulan sejak hubungannya dengan Surin kandas begitu saja, Sehun seolah kembali memperoleh jiwanya.

 

Sehun yakin bahwa ini adalah kesempatan kedua untuknya, dan Sehun tidak akan menyiakan kesempatan ini. Sehun tidak berharap ia dapat memperbaiki dan memulai semuanya kembali dengan Surin, meskipun ia sangat ingin.

 

Sehun hanya bersyukur karena setidaknya ia akhirnya bisa memiliki kesempatan, juga alasan untuk melihat gadis itu lagi. Pada dasarnya, Sehun hanya benar-benar merindukan Surin.

 

**

 

Sehun bergerak-gerak tidak tenang sembari terus memandangi pintu utama café. Jam tangan yang berada dipergelangan tangan kirinya sudah menunjukan pukul setengah dua, namun gadis itu tidak kunjung tiba, membuat Sehun benar-benar tidak tenang. Tidak lama setelah Sehun bertarung dengan rasa tidak tenang dalam dirinya, siluet seseorang yang benar-benar dikenal Sehun tertangkap oleh kedua matanya.

 

Seorang gadis berambut hitam pekat dengan baju terusan berwarna biru muda bermotif bunga masuk melalui pintu utama café tersebut, membuat jantung Sehun seolah berhenti ditempat. Gadis itu adalah Surin, gadis yang selama empat bulan ini berhasil membuatnya hampir benar-benar gila.

 

Sehun ingin berlari untuk memeluk Surin, namun dirinya seolah terpaku ditempat duduknya. Matanya tetap tidak lepas dari sosok Surin yang kini tampak mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru café. Gadis itu tampak cantik, bahkan sangat cantik sampai-sampai Sehun merasa ingin mengumpati seluruh laki-laki yang sudah berkencan buta dengan Surin. Menurut Sehun mereka semua tidak pantas bahkan hanya untuk melihat sosok Surin yang sangat cantik seperti sekarang ini.

 

Untuk beberapa saat, Sehun dapat menyadari tubuh Surin yang jauh lebih kurus dari terakhir kali ia melihatnya. Hal itu langsung membuat perutnya terasa diremas oleh sesuatu, menyadari bahwa ada kemungkinan yang sangat besar orang yang membuat tubuh Surin seperti itu adalah dirinya sendiri. Sehun merasa jantungnya berhenti begitu saja ketika kedua matanya kini bertemu dengan kedua mata milik Surin yang tampak menggambarkan keterkejutannya.

 

Sehun berjalan menghampiri Surin sementara gadis itu tampak bergeming ditempatnya. Rasa terkejutnya masih begitu menguasai dirinya sampai sekarang ini otaknya masih berusaha menerima fakta bahwa Oh Sehun, mantan kekasihnya, berdiri dihadapannya dengan kharismanya yang masih sama seperti dulu. Dengan aroma tubuh yang masih sama seperti dulu. Dengan tatapan tajam namun penuh kata tak terucapkannya yang masih sama seperti dulu. Dengan senyuman tipis yang menghiasi wajah tampannya yang masih sama pula seperti dulu.

 

Sehun tampak mengeluarkan ponselnya dan tidak lama kemudian ia menempelkan ponsel itu pada telinganya. Surin yang kini larut dalam pikirannya sendiri dalam beberapa detik langsung tersadar ketika ponselnya berdering. Nama ‘Mr. Last Blind Date’ muncul dilayar ponselnya dan tanpa mencurigai apapun, Surin mengangkat panggilan masuk tersebut.

 

“Siapa yang harus kecewa sekarang? Kau atau aku? Kau, karena aku bukanlah Choi Jaeyeol, laki-laki yang akan berkencan denganmu hari ini, atau aku, karena kau menghapus nomorku dari ponselmu?”

 

Surin buru-buru mencari pesan singkat yang dikirimkan Jimi. Nomor itu seharusnya adalah nomor milik seseorang bernama Choi Jaeyeol, Surin yakin sekali tidak ada satupun nomor yang salah dengan nomor yang disimpannya dan nomor yang dikirimkan oleh Jimi. Jimi juga tidak mungkin menjebaknya karena Surin tahu setelah hubungannya dengan Sehun berakhir, Jimi juga turut memusuhi Sehun dan tidak ingin Surin kembali dengannya.

 

Surin langsung menelpon Jimi untuk mengkonfirmasi, dan hati Surin langsung mencelos. Hanya karena satu angka, semuanya berantakan. Dua satu angka belakang nomor telepon Sehun adalah 4 dan satu angka belakang nomor telepon Choi Jaeyeol adalah 6. Jimi tidak sengaja salah ketik dan akhirnya nomor telepon itu malah jadi nomor telepon Sehun.

 

“Surin, sudahlah. Mungkin ini adalah pertanda dari yang diatas bahwa kau memang ditakdirkan untuk kembali bersama dengan Sehun.” Itu adalah kata-kata penutup dari Jimi yang membuat Surin semakin geram.

 

Sehun tampak memasukan tangannya disaku celana panjangnya, terus memandangi Surin dengan senyuman yang tidak dapat Surin mengerti. Kemeja denim yang dikenakan Sehun membuat bahunya tampak jauh lebih lebar dan Surin benci karena saat ini dirinya mati-matian menahan diri untuk memeluk laki-laki itu.

 

Surin benar-benar merindukan Sehun, namun biarkan kali ini ia mempertahankan harga dirinya setelah semua yang laki-laki itu lakukan padanya empat bulan yang lalu.

 

“Kau tampak bahagia untuk orang yang baru putus dengan kekasih enam tahunnya.” Cibir Surin membuat Sehun tertawa meledek.

 

“Kau juga tampak bahagia kencan sana-sini untuk orang yang baru putus dengan kekasih enam tahunnya.” Surin merasa hatinya tertohok begitu saja, terutama ketika ia melihat senyuman yang masih bertengger diwajah Sehun.

 

“Terserahlah, aku sudah tidak ingin bertengkar denganmu karena semua sudah berakhir.” Ujar Surin dan untuk beberapa saat Sehun terdiam, memandangi Surin yang kini berusaha menghindari tatapan matanya. “Aku pulang duluan. Teruslah berbahagia seperti postingan-postingan Instagram-mu itu, ya.” Ujar Surin kemudian hendak berbalik meninggalkan Sehun, namun laki-laki itu langsung menahan tangannya.

 

“Aku sudah beli dua tiket Jazz Festival. Konsernya akan mulai jam tujuh malam di Busan. Perjalanan kesana kurang lebih tiga jam, kita bisa makan terlebih dahulu di—”

 

“Atas dasar apa aku harus menyetujui ajakanmu?” Potong Surin cepat seraya melepaskan tangannya dari genggaman Sehun. Sehun tampak merogoh sesuatu dari saku celana panjangnya, kemudian memperlihatkan kertas yang sangat Surin kenal. Kertas itu tampak tergunting menjadi lima bagian, sehingga modelnya seperti renda.

 

Surin ingat ia memberikan kertas itu pada Sehun dihari ulang tahun laki-laki itu lima tahun yang lalu. Renda yang terdapat di kertas itu berisi lima hal yang dengan siap sedia akan Surin lakukan untuk Sehun ketika laki-laki itu mencabut masing-masing rendanya sehingga Surin menyebut kertas itu dengan nama ‘Five Rare Things’.

 

Dua renda sudah hilang dari kertas tersebut. Renda pertama bertuliskan ‘bekal makan siang spesial selama dua minggu’ yang sudah Sehun cabut dihari pertama ia memperoleh kertas itu. Surin harus membuatkannya bekal makan siang spesial selama dua minggu penuh, dan gadis itu masih ingat betapa senangnya ia memasakan makan siang untuk Sehun meskipun di dua hari pertama masakannya terlalu asin.

 

Renda kedua yang dicabutnya adalah renda bertuliskan ‘facial gratis setiap hari Sabtu selama dua bulan’. Akhirnya selama dua bulan di hari Sabtu, Sehun mendapatkan perawatan wajah dari Surin. Surin juga masih ingat bagaimana ia memprotes Sehun karena perawatan wajah yang sering dilakukannya itu malah jauh lebih bekerja dengan cepat di wajah Sehun.

 

Tapi setelah dua renda tersebut, Sehun tidak pernah lagi mengeluarkan kertas Five Rare Things itu. Surin pernah bertanya mengapa Sehun tidak menggunakan renda dari kertas itu lagi, dan jawaban Sehun adalah ia akan menggunakannya ketika di masa depan dalam hubungan mereka ada keadaan gawat darurat. Saat itu Surin hanya tertawa, namun ia tidak menyangka bahwa kini hubungan mereka memang benar-benar ada dalam keadaan yang gawat darurat, persis seperti apa yang dikatakan oleh Sehun lima tahun yang lalu.

 

Sehun mencabut satu renda dari kertas itu dan menyerahkan renda bertuliskan ‘menemani Sehun menonton konser yang ingin ditontonnya, baik diluar kota ataupun di luar negeri’ pada telapak tangan Surin. Kertas yang tinggal tersisa dua renda itu disimpannya kembali di saku celana panjangnya dan kini laki-laki itu sudah menatap Surin dengan senyuman yang entah mengapa tergambar sedih dimata Surin.

 

“Tanggung jawabmu untuk mengabulkan hal itu, kan?”

 

“Kau curang, Oh Sehun.”

 

“Aku tahu.” Ujar Sehun seraya tertawa kecil dan berjalan mendahului Surin menuju mobil sedan berwarna hitam yang terparkir didepan cafe.

 

Surin menghela napasnya panjang, tidak percaya dirinya akan kembali duduk disebelah Sehun didalam mobil laki-laki itu. Untuk beberapa saat Surin menyesali keputusannya untuk duduk di kursi penumpang itu karena otaknya dengan otomatis langsung memutar ulang kejadian yang tidak ingin diingatnya. Kejadian yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri. Kejadian yang berhubungan dengan Sehun dan mobil sedan ini yang berhasil membuat Surin mual untuk sesaat. Kejadian yang berhubungan dengan kandasnya hubungan mereka empat bulan yang lalu.

 

Keheningan meliputi mereka untuk dua puluh menit pertama perjalanan mereka menuju Busan. Tidak ada satu orang pun yang memulai pembicaraan. Keduanya diam membisu, merasa bingung harus membahas apa.

 

“Bagaimana pekerjaanmu di kantor?” Ujar Sehun memecah keheningan panjang diantara mereka.

 

“Tidak ada yang spesial, masih sama seperti biasanya.” Tanggap Surin membuat Sehun mengangguk-anggukan kepalanya.

 

“Bagaimana kabar kedua orangtuamu?” Tanyanya lagi sambil terus fokus menyetir.

 

“Mereka baik-baik saja. Ibuku masih sering membawakan bahan-bahan makanan ke apartment setiap minggunya.” Surin menjawab lagi. Surin menghela napas ketika otaknya kini menyalahkan dirinya sendiri yang baru saja berkata bohong.

 

Kedua orangtuanya tidak baik-baik saja sejak Surin putus dari Sehun. Setiap hari mereka memarahi Surin dan menyesali keputusan yang Surin buat empat bulan lalu. Ibunya yang lebih marah dibandingkan dengan ayahnya, hanya datang ke apartment Surin dua kali dalam sebulan untuk membawakan bahan-bahan makanan. Setiap kali Surin pulang kerumah ayah dan ibunya, hal yang lagi-lagi dibahas adalah penyesalan mereka terhadap kandasnya hubungan Surin dan Sehun. Surin sampai mempertanyakan sebenarnya anak kandung kedua orangtuanya itu dirinya sendiri atau Sehun sampai-sampai mereka berdua bertingkah demikian. Ayahnya bahkan mengancam akan menjodohkannya dengan anak dari kolega kerjanya kalau-kalau sampai tahun depan Surin masih melajang.

 

“Bagaimana usahamu dalam mencari penggantiku?”

 

Surin menoleh kearah Sehun dan menatap laki-laki itu dengan tatapan tidak sukanya. Rupanya pertanyaan basa-basi yang Surin kira akan mengarah pada mulainya pertemanan diantara mereka hanya benar-benar basa-basi belaka. Kesimpulannya, Sehun memang ingin bertengkar dengannya. “Seperti yang kau lihat sendiri, tidak berjalan dengan lancar. Perlu kau tahu bahwa hari ini aku benar-benar bertekad untuk mengencani orang yang akan ku temui itu.”

 

“Sepertinya tidak akan mudah. Benar, kan?” Surin mendengus ketika ia mendengar ucapan percaya diri dari Sehun barusan. Sehun memang benar, membuat Surin harus mati-matian memutar otaknya untuk membalas ucapan laki-laki itu. “Tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah juga. Ya, paling tidak, levelnya tidak semudahmu yang dapat bersenang-senang setiap harinya.” Surin membalas ketus dan Sehun hanya tertawa kecil.

 

“Ternyata kau memang tidak tahu arti kenapa aku melakukan itu. Kau harus tahu aku tampak bersenang-senang setiap harinya karena—”

 

“Aku tidak ingin berbicara ataupun mendengar tentang hal-hal yang ada kaitannya dengan masa lalu.” Potong Surin cepat dan keheningan pun kembali meliputi mereka berdua. Keduanya saling berperang dengan hati dan pikiran masing-masing, membuat aura gelap timbul diantara mereka.

 

Bahkan kini Surin sudah menyembunyikan pandangannya yang berkaca-kaca. Surin tidak ingin menangis lagi dihadapan laki-laki itu, namun otaknya tidak dapat diajak berkompromi. Sekelebat bayangan dari empat bulan lalu memenuhi seluruh sudut kepalanya, membuat satu bulir air mata gadis itu jatuh begitu cepat.

 

**

 

“Sehun, kau sedang apa? Apa sedang bersiap-siap untuk pulang? Menyetirnya hati-hati, ya. Hujannya deras sekali.” Surin berujar sambil terus melangkahkan kakinya dengan girang. Satu tangannya menempelkan ponsel pada telingannya sendiri, sementara satu tangannya yang lain kini memegang payung berwarna oranye guna melindungi tubuhnya dari curahan air hujan yang malam itu mengguyur kota Seoul dengan begitu deras.

 

“Oho, darimana kau tahu? Apa ini sejenis telepati yang memang dimiliki setiap sepasang kekasih?” Surin tertawa kecil mendengar candaan Sehun diseberang sana. “Aku baru saja selesai meeting dan sebentar lagi akan pulang. Surin, kau benar-benar tidak mau aku jemput?” Surin mengulum senyumnya ketika dirinya kini sudah berdiri didepan kantor Sehun. Kali ini Surin ingin menjemput Sehun dari kantornya, meskipun pada akhirnya Sehun lah yang akan mengantarnya pulang. Entah mengapa hari ini Surin hanya ingin memberi laki-laki itu sedikit kejutan.

 

“Tidak perlu. Aku sudah dekat, sebentar lagi akan sampai.” Ujar Surin kemudian kakinya melangkah masuk menuju gedung kantor yang sangat besar itu. “Kau masih diruang kerjamu atau sudah diparkiran?” Sehun tertawa mendengar pertanyaan Surin barusan yang baginya terdengar lucu.

 

“Ternyata kau punya sisi posesif juga ya sampai harus tahu keberadaanku dengan serinci itu?” Gurau Sehun dan kini Surin sudah memaksanya untuk menjawab dengan setengah merengek membuat tawa Sehun kembali terdengar setelahnya.

 

“Aku sudah berada diparkiran, Surin sayang.” Ucap Sehun masih dengan suara tawanya yang terdengar meledek. “Aku matikan ya, aku harus menyetir. Besok aku akan menjemputmu di apartmentmu seperti biasa. Selamat beristirahat, Rin.” Surin tersenyum mendengar rentetan kalimat Sehun barusan. Padahal kekasihnya itu hanya mengucapkan selamat beristirahat, namun Surin sendiri juga tidak dapat mengerti hatinya yang dengan mudah berbunga-bunga hanya karena hal sederhana seperti itu.

 

Surin buru-buru melangkahkan kakinya menuju parkiran kantor yang saat itu sudah sangat sepi. Hanya ada sebuah mobil sedan berwarna hitam yang Surin tahu adalah milik kekasihnya. Surin tersenyum senang seraya berlari kecil menuju mobil Sehun, namun seketika langkahnya terhenti ketika ia sudah berada kurang lebih sepuluh kaki dari hadapan mobil tersebut.

 

Jantungnya terasa beku seketika, ketika ia melihat Sehun kini tengah berciuman dengan gadis yang tidak Surin kenal.

 

Surin tidak mengerti. Ia benar-benar tidak paham dengan apa yang disaksikannya sekarang ini. Beberapa menit lalu Sehun masih berbicara dengannya melalui sambungan telepon dengan begitu mesra, berkata bahwa ia akan menjemput Surin seperti biasa untuk mengantarnya ke kantor, mengucapkan selamat beristirahat dengan nada suara yang berhasil membuat hati Surin sempat berbunga-bunga, dan sekarang, ia mendapati kekasihnya itu berciuman dengan gadis lain didalam sebuah mobil. Otak Surin benar-benar tidak dapat menemukan bagian yang salah dari kejadian ini.

 

Kecuali kesimpulan bahwa laki-laki itu memang tengah berselingkuh dibelakangnya.

 

**

 

Mobil Sehun terus berjalan cepat menusuri jalan tol yang tampak lengang. Untuk beberapa menit kemudian, yang Surin tahu saat ini Sehun sudah mengarahkan mobilnya untuk memasuki sebuah rest area.

 

Tidak ada yang berkata diantara keduanya sampai akhirnya mobil yang ditumpangi mereka tiba di drive thru restaurant cepat saji Mc Donalds. “Dua double cheese burger dengan dua french fries dan juga dua cola. Untuk salah satu burger-nya, jangan dipakaikan mentimun dan bawang.” Ujar Sehun tanpa bertanya menu apa yang diinginkan Surin. Pasalnya, menu double cheese burger tanpa mentimun dan bawang memang menu kesukaan Surin, sehingga gadis itu tidak melayangkan protesannya pada Sehun karena laki-laki itu telah terkesan terlalu sok tahu.

 

Setelah mendapatkan pesanannya, Sehun segera memarkirkan mobilnya. Laki-laki itu membuka salah satu bungkus burger dan menyerahkannya pada Surin. “Satu double cheese burger tanpa mentimun dan bawang untuk nona Jang yang seringkali rewel dalam hal makanan.” Tangan Surin menerima burger itu, sementara matanya masih memandangi Sehun tanpa berkedip.

 

“Cepat habiskan makananmu. Kita harus melanjutkan perjalanan karena sekarang sudah pukul empat sore.” Ujar Sehun seraya mulai menyantap makanannya sendiri. Sejujurnya dibanding rasa sedih yang Surin rasakan karena beberapa waktu lalu ia kembali mengingat kejadian empat bulan yang lalu, perasaan rindu terhadap hal-hal sederhana yang salah satunya adalah makan makanan cepat saji di mobil dengan Sehun seperti ini justru berhasil mengambil sebagian besar ruang di hatinya, sampai-sampai Surin bingung harus merasa sedih karena ingatan masa lalu yang semakin jelas tergambarkan di otaknya, atau haruskah ia merasa senang karena kini ia kembali melakukan salah satu rutinitas sederhananya dengan Sehun. Surin benar-benar bingung.

 

“Itu ada saos burger disudut bibirmu.” Surin menyerahkan tisu pada Sehun yang tidak kunjung menerimanya. Sehun malah tampak memerintahkan Surin untuk menghapus noda saos tersebut dengan kepalanya yang sedikit ia condongkan kearah Surin, membuat gadis itu langsung menghapus noda tersebut dengan kasar. Bukannya marah, Sehun malah tertawa membuat Surin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Surin harus akui ia rindu tawa laki-laki itu. Ia rindu melihat sosoknya yang jahil, menertawai setiap hal yang dilakukan Surin sekalipun hal tersebut tidaklah lucu.

 

“Jadi, bagaimana pekerjaanmu di kantor?” Surin berujar membuat Sehun memandangnya dengan tatapan tidak percaya. Surin yang menyadari keterkejutan Sehun berpura-pura untuk menyantap burger dan kentangnya dengan santai, meskipun akhirnya gagal karena ia harus menyemburkan tawanya. Ekspresi terkejut yang berlebihan dari Sehun benar-benar berhasil membuatnya geli.

 

“Aku selalu tahu, kau memang akan berubah jinak saat kau makan.” Surin memukul lengan Sehun dengan kencang membuat laki-laki itu langsung mengaduh kesakitan. “Aku tidak menyangka meskipun rasanya sangat sakit, saat ini aku malah bersyukur karena dapat kembali merasakan pukulan pedasmu.” Sehun berujar antusias sambil mengelus lengannya yang masih terasa perih akibat pukulan Surin.

 

“Jawab saja pertanyaanku atau aku tidak akan bertanya lagi.”

 

“Tolong jangan keluarkan ancaman maut semacam itu, Jang Surin.” Surin tertawa akibat tanggapan Sehun terhadap ucapannya.

 

“Pekerjaanku di kantor baik-baik saja. Yang tidak baik-baik saja adalah diriku sendiri.” Surin langsung mengalihkan pandangannya pada Sehun yang kini berubah serius.

 

“Kalau kau akan membahas hal-hal yang berhubungan dengan masa lalu, maka jangan salahkan aku kalau ancamanku akan benar-benar berlaku, Sehun.” Surin berujar namun Sehun masih menatapnya dengan serius.

 

“Surin, dengar. Aku tidak baik-baik saja seperti yang kau kira. Empat bulan terakhir ini, apa yang aku posting untuk kau lihat di Instagram hanyalah rekayasa. Aku melakukan itu dengan maksud menutupi fakta bahwa aku benar-benar hancur setelah kau pergi.”

 

Surin terdiam, ia menatap burgernya yang masih setengah. Entah mengapa nafsu makannya hilang begitu saja. “Aku rasa kita sudah sepakat untuk tidak membahas hal-hal yang berkaitan dengan masa lalu.”

 

“Kau harus mengetahuinya.”

 

“Aku tidak ingin bertengkar, Oh Sehun.”

 

“Kau bisa bertanya pada Baekhyun tentang apa yang aku lakukan selama empat bulan terakhir ini—”

 

“Sehun, ku mohon padamu. Aku telah bersedia untuk menemanimu menonton konser itu. Tidak bisakah kau juga bersedia untuk melakukan sesuatu untukku? Berhenti membuat kita berujung pada pertengkaran lagi karena aku sudah benar-benar lelah. Aku tidak ingin bertengkar. Aku ingin kita menikmati waktu ini dengan baik.” Surin memegang pergelangan tangan Sehun dan hati Surin hancur ditempat ketika melihat ekspresi kecewa dan sedih bersatu diwajah laki-laki itu. Ekspresi yang sama ketika empat bulan lalu Surin berkata bahwa ia ingin menyudahi semuanya dengan Sehun.

 

Surin sebenarnya ingin mendengarkan seluruh perkataan Sehun. Surin bahkan merasa dirinya lenyap begitu saja ketika Sehun berkata bahwa selama empat bulan terakhir ini dirinya tidak baik-baik saja seperti yang Surin kira.

 

Tapi percuma. Semua hanya akan menjadi hal yang percuma. Perkataan Sehun yang menyatakan bahwa diri laki-laki itu tidaklah baik-baik saja sejak hubungan mereka berakhir akan terdengar sebagai kata-kata yang percuma ditelinga Surin. Percuma karena semuanya telah terjadi.

 

Sehun seharusnya mengatakan kata-kata itu lebih awal, sebelum semuanya menjadi percuma seperti sekarang ini.

 

**

 

Sehun dan Surin duduk berdampingan di kursi VIP sambil menikmati konser Jazz Festival tersebut. Satu per satu artis beraliran Jazz bergantian menghibur penonton. Ketika orang lain tampak begitu bahagia, turut bernyanyi bersama dengan para artis tersebut, sibuk merekam penampilan mereka, Sehun dan Surin hanya sama-sama menonton dalam diam. Keduanya seolah begitu larut dalam pikiran masing-masing.

 

Sehun sibuk berpikir bagaimana cara untuk membawa Surin kembali padanya, sementara Surin sibuk berpikir tentang perang yang sedang terjadi antara logika dan hatinya sendiri. Logikanya mengatakan bahwa semua hal yang berhubungan dengan Sehun sudah berakhir, sementara hatinya mati-matian ingin memperbaiki dan memulai semuanya kembali dengan Sehun.

 

Tiba saatnya bintang utama dalam konser Jazz Festival itu tampil. Sehun dan Surin bertepuk tangan ketika Daniel Caesar menaiki panggung dan membawakan lagu pertamanya yang berjudul Blessed.

 

Lirik lagu tersebut begitu dalam, sampai-sampai Sehun merasa tersindir. Seolah lagu tersebut adalah lagu yang pas untuk diberikan pada gadis yang kini duduk tepat disebelahnya. Lagu tersebut kini bahkan berhasil membawa diri Sehun kembali pada empat bulan sebelumnya, tepatnya dihari ketika Sehun kehilangan seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.

 

Everywhere that I go, everywhere that I be,
if you are not surrounding me with your energy,
I don’t wanna be there, don’t wanna be anywhere, 
any place that I can’t feel you.

I just wanna be near you.

And yes, I’m a mess but I’m blessed
to be stuck with you.
Sometimes it gets unhealthy
we can’t be by ourselves, we
We’ll always need each other, and
Yes, I’m a mess but I’m blessed
to be stuck with you.

I just want you to know that
if I could I swear I’ll go back,
make everything all better.

It’s the things that you say,
It’s the way that you pray,
Pray on my insecurities.
I know you’re feeling me,
I know sometimes I do wrong,
But hear the words of this song,

When I go, I don’t stay gone for long.
Don’t know what’s going on.

And yes, I’m a mess but I’m blessed
to be stuck with you.
Sometimes it gets unhealthy
we can’t be by ourselves, we
We’ll always need each other.

Yes, I’m a mess but I’m blessed
to be stuck with you.

I just want you to know that
if I could I swear I’ll go back,
make everything all better.

And I’m coming back home to you,
And I’m coming back home to you,
I’m coming back home,
I’m coming back home to you.

 

Seperti lagu itu, jika Sehun bisa kembali ke masa lalu, Sehun akan melakukannya. Ia akan melakukannya untuk mengubah semua hal yang berhubungan dengan hubungan mereka berdua menjadi lebih baik. Karena bagi Sehun, sampai kapanpun Surin adalah rumahnya. Rumahnya untuk kembali.

 

**

“Kau benar-benar sudah gila, Bae Jihyun. Berapa kali aku katakan padamu aku tidak akan melakukan hal itu? Aku bisa membantumu dengan hal lain, tapi tidak dengan hal itu.” Sehun berujar frustasi pada seorang gadis yang beberapa menit lalu masuk begitu saja kedalam mobilnya.

 

“Keluar dari mobilku sekarang juga.” Ujar Sehun tanpa ingin memperpanjang percakapannya dengan gadis yang adalah teman sedari kecilnya itu. Jihyun memang adalah teman kecilnya, tapi mereka sempat tidak saling menghubungi selama lebih dari lima belas tahun karena gadis itu pindah keluar negeri bersama keluarganya. Sehun hanya tidak habis pikir, ketika ia bertemu lagi dengan Jihyun setelah sekian lamanya, gadis itu malah membebaninya dengan sebuah permintaan yang benar-benar tidak ingin Sehun setujui.

 

“Kau yang membuatku sampai harus menghampirimu seperti ini, Oh Sehun. Kau mengabaikan pesan singkat dan panggilan teleponku satu minggu terakhir ini. Begitukah caramu memperlakukan teman lama yang ingin meminta bantuanmu?” Jihyun berujar membuat Sehun mengacak rambutnya frustasi.

 

“Permintaan tolongmu itu terlalu keterlaluan, Jihyun. Aku harus jadi kekasih pura-puramu hanya untuk menggembor media karena kau akan merilis drama baru? Mengapa pula harus aku? Kau bisa meminta tolong teman aktor-mu atau artis-artis yang lain, kan?” Sehun memandangnya dengan tatapan tidak suka.

 

“Karena kau adalah Direktur Utama sebuah perusahaan property ternama di Korea, Sehun. Bayangkan betapa berkelasnya rumor yang akan aku buat ini. Bayangkan betapa berjasanya dirimu karena telah membantuku untuk mempromosikan diriku bahkan drama baruku karena rumor ini.” Jihyun memegang lengan Sehun dengan kedua tangannya, tampak begitu memohon.

 

“Satu kantorku, kedua orangtuaku, keluarga besarku, bahkan semua teman-temanku tahu bahwa aku memiliki kekasih bernama Jang Surin. Lagipula aku tidak ingin hubunganku dan Surin sampai harus menjadi taruhannya. Tidakkah kau tahu betapa berharganya gadis itu untukku?” Sehun tetap tidak ingin melakukannya. Ia benar-benar tidak ingin melakukan hal tersebut.

 

“Baiklah, kalau berpura-pura menjadi kekasihku adalah hal yang terlalu berat untukmu, bagaimana dengan satu foto saja? Dibalik tembok itu ada tim management-ku yang akan memotret kita berdua. Selain foto ketika kita mengobrol seperti ini, ia menunggu moment lainnya yang lebih besar. Bantu aku, ya?”

 

“Keluar dari mobilku sekarang juga selagi aku masih berbicara dengan baik, Bae Jihyun.” Sehun yang sudah naik pitam pun memperingati gadis keterlaluan itu. Bahkan jika harus tidak bertemu dengannya lagi selama-lamanya, Sehun rasa ia tidak akan keberatan. Jihyun sudah benar-benar kelewatan.

 

Tanpa aba-aba Jihyun menarik dasi yang Sehun kenakan dan menempelkan bibirnya pada bibir Sehun. Untuk beberapa detik Jihyun menahan dasi Sehun namun di detik berikutnya Sehun sudah mendorong bahu gadis itu untuk menjauh darinya. Amarah Sehun benar-benar naik ke ubun-ubun kepalanya, sehingga kini ia memukul setir mobilnya dengan kuat.

 

“Keluar. Keluar dan jangan pernah temui aku lagi.”

 

Jihyun tertawa dan kemudian membuka pintu mobil tersebut. “Terima kasih, teman lama. Seharusnya dari dulu saja aku benar-benar mengencanimu, ya.

 

Lagi-lagi Sehun hanya bisa memukul setir mobilnya dengan keras. Sehun tahu apa yang akan terjadi esok hari di laman internet. Namanya akan muncul dimana-mana, foto itu akan tersebar dimana-mana, dan meskipun Sehun mengerahkan kemampuannya untuk menampik dengan mengatakan hal yang sebaliknya pada media, tidak ada satupun yang akan mempercayai ucapannya. Pada dasarnya rumor yang dibuat media lebih kuat dari apapun. Kata-kata yang mereka susun dapat membunuh setiap orang yang bersangkutan dalam sekejap apalagi diikuti dengan bukti foto.

 

Bae Jihyun, gadis itu benar-benar sudah menjebaknya.

 

Dan hal pertama yang muncul di otak Sehun saat ini hanyalah satu nama,

 

Jang Surin.

 

Sehun langsung melajukan mobilnya menuju apartment Surin. Otaknya hanya dipenuhi dengan nama gadis itu, membuat Sehun sempat larut dalam kepanikannya sendiri untuk beberapa saat.

 

Ketika ia sudah berdiri dihadapan gadis itu, Sehun rasa kakinya lemas. Sehun hanya tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada hubungannya dengan Surin ketika besok pagi laman internet akan penuh dengan foto skandalnya yang adalah hasil jebakan.

 

“Surin.” Ujar Sehun, merasa bingung harus memulai ceritanya darimana.

 

 “Kalau besok kau melihat yang aneh dalam laman internet, semua itu tidak benar. Aku berani bersumpah padamu, aku baru saja dijebak. Bae Jihyun, dia akan merilis drama baru dan—”

 

“Jadi nama gadis itu adalah Bae Jihyun? Sudah puas berselingkuh dibelakangku? Kenapa malah kesini? Kenapa tidak dilanjutkan saja berciuman didalam mobil-nya? Dan apa barusan katamu? Kau baru saja dijebak? Kau yakin ini bukan skenario yang kau buat-buat untuk membohongiku?” Sehun merasa jantungnya jatuh begitu saja dari tempatnya ketika mendengar ucapan Surin barusan.

 

“Ba-bagaimana—”

 

“Bagaimana aku tahu? Aku berniat untuk memberikanmu kejutan dengan datang ke kantormu hari ini. Tapi malah kau yang memberikan kejutan besar untukku. Terima kasih, Oh Sehun. Kau memang benar-benar pembohong hebat.” Sehun dapat melihat Surin menangis sambil terus berusaha mempertahankan senyuman diwajahnya dengan susah payah.

 

“Surin, aku tidak bohong, semua itu benar-benar murni jebakan. Aku tidak mungkin melakukan itu padamu karena aku sangat mencintaimu. Kau bahkan tahu hal itu lebih baik dari siapapun.” Sehun berusaha untuk meraih kedua tangan Surin namun gadis itu langsung menepisnya.

 

Tangisan Surin pecah begitu saja. Sehun bahkan merasa kedua matanya mulai panas ketika melihat Surin yang kini terduduk dilantai, meraung sambil memukul dadanya sendiri berkali-kali. Sehun berusaha merengkuh tubuh gadis itu kedalam pelukannya namun Surin mendorongnya dengan kuat. Sehun tidak mau kalah sampai akhirnya Surin menyerah. Surin kini menangis kencang dalam pelukan Sehun, memukul bahu Sehun berkali-kali, dan terus mencoba mendorong Sehun untuk menjauhinya.

 

“Kau tahu aku paling tidak bisa mentolerir kesalahan semacam ini, kan? Hatimu ini..” Surin berujar dengan susah payah sambil terus menangis. “Hatimu ini sudah bukan seutuhnya untukku, dan aku benar-benar tidak bisa menerima kenyataan itu meskipun dengan bodohnya saat tadi aku melihatmu bersamanya, aku berniat untuk berpura-pura tidak mengetahui apapun.”

 

“Surin, maafkan aku. Aku mohon percayalah padaku.” Hanya dua kalimat itu yang dapat Sehun ucapkan pada gadisnya itu.

 

“Aku mau kita akhiri saja semuanya, Oh Sehun. Kau dan aku, ayo kita akhiri saat ini juga.”

 

**

Ketika keduanya tengah larut dalam pikiran masing-masing, Surin tiba-tiba membereskan tasnya dan hendak beranjak dari tempatnya.

 

“Kita pulang saja, sudah malam. Akan berbahaya apabila kita pulang lebih larut lagi.” Ujar Surin kemudian pergi meninggalkan Sehun yang kini sibuk memanggilnya sambil pula membuntuti gadis itu.

 

“Surin, ada apa denganmu?” Ujar Sehun, berusaha menyamai langkah kakinya dengan Surin. Mereka berdua berjalan menusuri parkiran mobil untuk menuju ke tempat mobil Sehun terparkir.

 

“Aku ingin pulang.” Surin menjawab pertanyaan Sehun barusan. Sehun yang sudah tidak tahan dengan tingkah laku Surin seharian ini pun langsung meraih lengan gadis itu, membuat tubuhnya tertarik menjadi menghadap Sehun. Surin kemudian menatap laki-laki itu dengan tatapan tidak sukanya, bersiap untuk memarahi Sehun yang baru saja menarik lengannya dengan kasar dan sekarang mencengkramnya, membuat Surin merintih kesakitan dalam hati.

 

“Ayo bertengkar denganku, Jang Surin! Ayo kita bertengkar tentang apa yang terjadi pada kita empat bulan lalu dan berhentilah menghindari semua itu!” Sehun berseru dengan nada suaranya yang tinggi sehingga hal itu berhasil membuat air mata langsung memenuhi pelupuk mata Surin.

 

“Apa yang membuatmu menutup mata terhadap bantahanku kepada media tentang skandal itu?! Aku sudah berusaha sekerasku untuk mengatakan kejadian yang sebenarnya pada media hanya semata-mata agar kau mau mendengarkanku dan percaya padaku. Tapi kenapa kau malah menutup mata terhadap semua usahaku?”

 

Surin menatap Sehun dengan tatapan yang tidak dapat Sehun mengerti. “Kau yakin bantahan itu bukan hanya untuk menyembuhkan image-mu di mata masyarakat?”

 

Pertahanan Surin runtuh, satu bulir air matanya jatuh dengan cepat. “Setelah aku berkata semuanya telah berakhir, setelah aku mengakhiri hubungan kita, kau tidak pernah sekalipun kembali menghampiriku. Kau tidak pernah datang untuk memberikan penjelasan apapun kepadaku secara langsung seperti yang kau lakukan didepan media. Kau tidak pernah sekalipun datang untuk memohonku agar kembali padamu. Lalu, apa aku harus mempercayai omonganmu?”

 

Sehun menghela napasnya berat, merasa frustasi. “Baiklah, aku minta maaf. Aku minta maaf untuk hal itu. Aku hanya berpikir apabila aku menghampirimu, kau akan semakin membenciku. Aku ingin memberimu waktu, namun aku tidak tahu sampai kapan aku harus berdiam dan menunggumu untuk mengerti. Surin, maafkan aku.” Ujar Sehun dan Surin melepas tangan laki-laki itu dari lengannya.

 

“Percuma. Semua sudah menjadi percuma sekarang.”

 

“Aku berani bersumpah padamu bahwa aku tidak pernah sekalipun berselingkuh dibelakangmu. Aku benar-benar mencintaimu, Rin. Ketahuilah bahwa berpisah denganmu selama empat bulan terakhir telah berhasil membuatku merasa hampir gila. Jadi aku mohon, kembalilah.” Sehun masih belum menyerah. Bagaimanapun caranya ia harus membawa gadis itu kembali padanya. Sehun benar-benar tidak tahu apakah ia dapat menjalani hari-harinya dengan baik apabila kali ini ia kembali kehilangan Surin.

 

“Aku percaya padamu, Oh Sehun. Tapi sekarang semua sudah terlanjur percuma dan aku tidak bisa melakukannya.”

 

Sehun langsung mengeluarkan kertas Five Rare Things yang berada di saku celana panjangnya dan merobek dua renda yang tersisa secara sekaligus. Renda yang satu bertuliskan “hug”, dan renda yang kedua bertuliskan “kiss”. Sehun meletakan kedua renda itu ditelapak tangan Surin.

 

“Peluk dan cium aku lalu kita lihat apa yang akan terjadi setelahnya. Aku akan menyerah kali ini jika kau memang masih bertahan pada pendirianmu bahwa kita berdua benar-benar telah berakhir.”

 

Surin hanya menatap kertas diatas telapak tangannya itu dengan tatapan nanar, membuat Sehun tidak bisa lagi untuk menunggu. Sehun sudah terlalu lama menunggu. Semua ketidakadilan yang ia hadapi selama empat bulan terakhir ini sudah seharusnya berakhir. Penderitaannya selama empat bulan hanya karena kesalahpahaman sudah seharusnya berakhir karena dalam kasus ini, Sehun benar-benar hanyalah korban.

 

Tanpa pikir panjang Sehun langsung merengkuh tubuh Surin kedalam pelukannya.

 

Sehun memeluk tubuh gadis itu dengan sangat erat, mengelus punggung Surin dengan lembut, dan membenamkan wajahnya di leher gadis itu, berharap Surin akan tahu betapa Sehun sangat merindukannya, dan betapa perpisahan mereka benar-benar menyiksa dirinya. Sehun mengecup bahu Surin berkali-kali, menghujani permukaan leher gadis itu dengan kecupan lembut, dan menghirup aroma tubuh Surin yang hampir saja terlupakan oleh otaknya. Pada intinya, Sehun hanya ingin merangkum fakta bahwa hatinya hanya ia tujukan untuk Surin seorang.

 

Surin yang kini menangis pada akhirnya membawa tangannya sendiri untuk memeluk leher Sehun dengan sama eratnya. Pada kenyataannya ia memang masih sangat mencintai laki-laki itu. Surin masih menangis, berharap Sehun mengerti betapa hatinya juga melakukan hal yang sama selama empat bulan terakhir ini. Hatinya menangis setiap malam, merindukan pelukan hangat kedua tangan Sehun pada tubuhnya yang akhirnya saat ini dapat kembali Surin rasakan. Surin benar-benar tidak bisa berbohong lebih jauh pada dirinya sendiri. Surin benar-benar membutuhkan Sehun dan ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya tanpa laki-laki itu.

 

“Aku menyayangimu, Oh Sehun.” Ujar Surin setengah berbisik dan kini Sehun semakin mempererat pelukan mereka. Sehun sudah tahu akan hal itu, ia benar-benar mengetahuinya dengan baik lebih dari siapapun.

 

“Aku juga sangat menyayangimu, Jang Surin.” Sehun berujar kemudian mereka berdua saling bertatapan satu sama lain, sebelum akhirnya Sehun menautkan bibirnya dengan bibir Surin.

 

Beriringan dengan Surin yang kini menyelipkan jari-jemarinya pada rambut Sehun, Sehun pun kembali mengelus punggung gadis itu dengan lembut seraya memperdalam tautan bibir mereka. Sehun menyentuh tengkuk leher Surin seraya melumat bibirnya dengan lembut dan perlahan namun penuh dengan kata-kata yang tak tersampaikan, seolah  baik Sehun maupun Surin saling mengatakan perasaan senang tak tergambarkan karena keduanya telah kembali pada rumahnya masing-masing.

 

Karena sampai kapanpun bagi Sehun, Surin akan selalu menjadi rumahnya. Begitu pula dengan Surin yang juga menganggap Sehun adalah rumahnya. Rumahnya yang nyaman, rumahnya yang selalu memberinya rasa aman, dan rumah yang adalah tempatnya untuk kembali pulang.

 

**

large (2)

@oohsehun : And I’m coming back home to you. @surinjjang ❤

 

123094 likes.

 

Comments:

 

@surinjjang : ❤

@baekhyunee_exo : WOAAAH!! AKHIRNYAAAA. Akhirnya aku tidak lagi harus mengkhawatirkan Oh Sehun yang empat bulan ini sudah seperti orang gila. Hahahah. Aku turut senang untuk kalian berdua!

@_jimiyya : Aku sudah tahu kalau kalian ini “match made in heaven”. Selamat untuk kembalinya couple paling lovey-dovey, HunRin!

@dokyungsoo93 : Wow foto di airport. Baru berbaikan, Surin sudah ingin kau culik saja? Aku merasa dicurangi.

@kaiikim : @dokyungsoo93 sudahlah hyung, salah kau sendiri tidak memanfaatkan berpisahnya Sehun-Surin selama empat bulan terakhir. Sabar saja, hyung. Semua pasti ada hikmahnya.

@real__pcy : @kaiikim @dokyungsoo93 HAHAHAHA. Kumpulan laki-laki tidak bisa move on saling memberi dukungan nih, ceritanya? Jongin tidak bisa move on dari Jimi yang sudah menjadi istri sah Byun Baekhyun, dan Kyungsoo yang lagi-lagi kehilangan kesempatan untuk merebut hati Surin. Hahaha. Cerita kalian berdua memang tidak akan ada ujungnya, ya!

@zyxzjs : @real__pcy HAHAHAHA. Aku benar-benar tertawa sekarang membaca komentarmu!

@guardian_suho : Dengar-dengar kau dan Surin akan berlibur ke Bali, Hun? Bagaimana kalau aku dan Taerin susul dan kita double date?

@baekhyunee_exo : @guardian_suho @oohsehun IDE BAGUS. Aku akan membawa Jimi. Jadi kita triple date selama di Bali. Ini akan menjadi liburan yang menyenangkan!

@kjong_dae : @guardian_suho @baekhyunee_exo Hei, hei! Kasihanilah yang tidak punya pasangan! Biar adil, kita semua ke Bali saja!

@dokyungsoo93 : @kjong_dae SETUJU.

@kaiikim : @kjong_dae SETUJU.

@real__pcy : @dokyungsoo93 @kaiikim Ya! Berhentilah menjadi fakir-fakir cinta! HAHAHAHA.

@exoxm90 : @real__pcy Hahahaha, Park Chanyeol, berhentilah memojokan mereka berdua!

@guardian_suho : Sudah-sudah, semua jangan bertengkar. Besok kita semua susul Sehun-Surin ke Bali. Aku yang bayar tiket pesawat dan juga penginapannya. @real__pcy @dokyungsoo93 @kaiikim @kjong_dae @zyxzjs @exoxm90 @baekhyunee_exo

@kjong_dae : MERDEKALAH DIREKTUR KIM! @guardian_suho

 

-FIN.

 

Aaaaa, gimana gimana? Semoga tidak membosankan dan tetep ada sisi manisnya yaaaa! I hope you like this oneeee! Sorry for late update, lovely readers.

Advertisements

10 comments

  1. Lee Aerins · March 26

    Yaasss, i love it.. Selalu suka sama cerita cerita disini ❤

    • Oh Marie · April 3

      HAAAAAAAIIII! Makasih ya udah mau mampir, baca dan komen lagiiiiii! Sumpah seneng liat kamu di kolom komen! See you on the next ff ya ❤

  2. Zaaaaoh · March 30

    Too sweet 😆 sehun-surin emng ga bisa dee kalo ga bareng bareng. Selalu suka baca cerita cerita kamu 😚

    • Oh Marie · April 3

      Awwww, makasih udah mau baca dan ninggalin komen lagi yaaaa ❤ Penyemangat nulis banget kamu tuh!! Aku juga selalu suka baca komen komen kamu hihi. Sampai jumpa di ff selanjutnya ya ❤

  3. rahsarah · March 31

    AAAAAAAA GEMESS kamu tuh ya selalu jago banget buat cerita yg bener2 feelnya dapettt banget.. mereka ber 2 tuh ga bisa kalo marahan2 kaya gtu pasti ujung2nya balikan lagiiii ahhh akhirnyaaa pelukan sehun menyadarkan surin betapa berartinyaaaa sehun buat surin dan surin buat sehun huhuhu seneng banget dan selalu happy endingnya ♥♥♥
    setelah bolak balik ke blog ini akhirnya ada yg baru lagi hehehe
    sering2 lagi yaa update hehehehe
    miss u

    • Oh Marie · April 3

      HALO KA SARAAAAAH! MISS YOU TOO OMGGGG.
      Makasih banyak ya ka sarah udah mau baca, komen, dan suka sama ff iniiii! Sweet banget komennya astaga aku bisa diabetes nih kalo gini caranya HAHAHA. Intinya, makasih banyak karna selalu setia nungguin author males ini hihi. See you on the next ff ya ka saraaaah ❤

  4. hiairlondon · April 22

    Syukurlah ga sad ending, ikut nyesek juga soalnya kalau mereka ga jadi pasangan. Selebihnya, aku suka sama ide sama ff kali ini. Sama kayak ff yang lain, ga ketebak + buat penasaran kalau ga dibaca sampai habis. 👍👍👍

    • Oh Marie · July 10

      HAIHAIIIIII. Astaga maaf ya baru bales, aku baru sempet buka wordpress lagi dan komen ini sukses bikin senyum-senyum hihi. Sabar sebentar lagi ya untuk next ff. Keep stay tuneee! ❤

  5. zilhafitfebruary · July 10

    eh aku kan reader baru nih ka, aku mau tau cerita mana sih yg mengawali kisah cinta mereka berdua? adakah?

    • Oh Marie · July 10

      Pertama, selamat datang ya buat kamuuu! Semoga suka sama semua ff disini hihi. Wah, disini semuanya oneshot, jadi setiap cerita latar sama jalan ceritanya bisa bermaca-macam. Tapi kalo mau baca dari awal, kamu bisa liat di archive ya, cerita-cerita dari dulunyaaaa. Selamat membaca ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s