Oh!

ㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠㅠs53

Warning; full of romantic-ness!!!!

**

 

Surin menyukainya.

 

Surin menyukai laki-laki berbahu lebar yang kini tengah memunggunginya dan beberapa detik kemudian asik menggeliat dibalik selimut tebal yang menutupi tubuh mereka berdua. Surin mengambil ponselnya dari meja kecil yang berada disebelah kasur berukuran king size yang saat ini ia tempati, kemudian memastikan bahwa ia masih memiliki beberapa menit untuk memandangi punggung indah laki-laki yang sangat disukainya itu. Sesekali gadis itu menghela napas, berusaha menahan rasa inginnya untuk memeluk punggung hangat tersebut, takut-takut akan membangunkan sang empunya dalam sekejap apabila ia benar-benar melaksanakan keinginannya.

 

Surin memutuskan untuk memotret punggung laki-laki itu dengan kamera ponselnya, persis seperti pagi-pagi yang sebelumnya ketika ia terbangun lebih dulu daripada laki-laki itu. Baru saja Surin akan memotretnya kembali, laki-laki itu berbalik menghadap Surin dengan kedua mata yang masih terpejam. Rambut hitam pekat yang menutupi dahinya tampak berantakan, namun disaat yang sama, terlihat lembut sampai-sampai Surin harus menahan keinginannya mati-matian untuk menyentuh dan menghirup aroma shampoo yang segar dari rambut laki-laki itu, persis seperti saat ia berusaha menahan keinginannya untuk memeluk punggung laki-laki itu.

 

Bagaimana seseorang bisa begitu sempurna bahkan ketika orang itu tertidur? Surin benar-benar tidak bisa menemukan jawabannya hingga saat ini. Perlukah Surin menjelaskan betapa indahnya objek yang berada dihadapannya saat ini? Baiklah, mungkin Surin terlalu berlebihan, tapi jika kau yang menyaksikan bagaimana bulu matanya yang lentik menyentuh permukaan wajahnya sendiri, alis tegasnya yang  tertutupi rambut, hidungnya yang lancip, serta bibir berwarna merah muda alami itu dengan mata kepalamu sendiri, Surin rasa kau tidak akan kuasa menahan debaran jantung yang seolah menuntut untuk keluar dari tempatnya, persis seperti yang saat ini Surin sendiri rasakan.

 

Oh Sehun, laki-laki itu benar-benar mencuri seluruh hati Surin.

 

Surin menyukainya. Surin benar-benar menyukainya.

 

Tiba-tiba alarm ponselnya berbunyi, berbarengan dengan jam waker milik Sehun yang terletak dimeja kecil sebelah kasur mereka. Surin langsung berbalik memunggungi Sehun ketika ia melihat laki-laki itu terbangun dari tidur lelapnya seraya mematikan alarmnya. Surin dapat merasakan Sehun beranjak bangun untuk meninggalkan kasur mereka sementara kini kedua mata Surin mengikuti gerak-gerik laki-laki yang kini menuju lemari pakaian untuk mengambil handuk baru lalu berjalan menuju kamar mandi diujung kamar.

 

“Selamat pagi.” Ucapnya tanpa repot-repot berbalik untuk melihat Surin yang masih terbaring diatas kasur.

 

‘Kita bertemu diruang makan untuk sarapan.’

 

“Kita bertemu diruang makan untuk sarapan.” Sehun berujar, persis seperti kata-kata yang sudah Surin duga akan keluar dari mulut laki-laki itu seperti pagi demi pagi yang sebelumnya sudah mereka lewati bersama.

 

Surin menghela napas kemudian memperhatikan foto punggung Sehun yang tadi diambilnya secara diam-diam. Surin tahu bahwa ia seharusnya sedang memasak sarapan untuk dirinya dan Sehun, menikmati sarapan dalam diam bersama laki-laki itu, lalu segera bersiap untuk menuju kantor atau tidak ia akan terlambat dan rutinitas pagi yang sudah dijalaninya selama enam bulan akan berantakan begitu saja.

 

Ya, sudah enam bulan Surin tinggal bersama laki-laki yang menurut Surin sangat sempurna itu. Surin lebih memilih kata ‘tinggal bersama’ dibanding ‘menikah’ dengan Sehun karena pada kenyataannya, hubungan mereka berdua tidak lebih dari sekedar tinggal bersama. Tidak ada unsur berbau menikah diantara mereka kecuali cincin pernikahan yang bertengger apik di jari manis masing-masing dari mereka.

 

Seperti yang kalian duga, ‘pernikahan’ Sehun dan Surin berawal dari perjodohan yang dirancang oleh kedua belah pihak keluarga mereka. Ayah kandung Sehun dan ayahnya berteman sedari kecil dan seperti cerita-cerita pada novel romantis yang sering Surin baca, ayah mereka berjanji untuk menikahkan anak mereka guna mempertebal rasa persahabatan diantara mereka. Surin sendiri awalnya tidak mengerti, mengapa pula ayahnya yang baginya sangat bijaksana memegang teguh janji kolot itu sehingga ia harus terlibat didalamnya.

 

Namun orang-orang diluar sana berkata bahwa Surin harus bersyukur karena dinikahkan dengan seorang Oh Sehun, anak tunggal serta satu-satunya ahli waris dari perusahaan property paling sukses yang ada di Korea Selatan, Oh Property Corporation. Tidak hanya kaya raya, laki-laki itu benar-benar sempurna, baik dari segi fisik maupun kecerdasan otaknya sampai-sampai ayahnya dan seluruh pihak keluarga Oh begitu membanggakan Sehun.

 

Sementara Surin, Surin hanya berasal dari keluarga dengan kehidupan perekonomian yang tergolong biasa saja. Yang bisa dibanggakan dari Surin hanyalah karena ia lulusan cumlaude dari universitas yang baik dan kini ia bekerja disebuah perusahaan majalah, menjadi manajer dari tim kreatif perusahaan tersebut. Kalau tidak karena ayahnya yang berteman dengan ayah Sehun, Surin tidak akan berada disini sekarang ini, menyandang status Nyonya Oh dan tinggal bersama laki-laki super sempurna itu.

 

Surin tidak ingin menampik perasaannya, atau merasa perasaannya pada Sehun begitu klise. Surin menyukai laki-laki itu dari pertama kali ia berkenalan dengannya. Tujuh bulan yang lalu, tepatnya satu bulan sebelum tanggal pernikahan mereka. Surin ingat bagaimana Sehun menyebut namanya berulang kali dan mengatakan bahwa ‘Surin’ adalah sebuah nama yang bagus. Sehun begitu tenang, dan aura galak dari kedua mata tegasnya berhasil membuat Surin jatuh hati saat itu juga.

 

Singkat, sangat singkat. Yang Surin tahu, hatinya berkata bahwa Sehun adalah orang yang selama ini ia cari dan tunggu. Surin tahu, ia akan benar-benar menghabiskan seluruh sisa hidupnya bersama laki-laki itu, entah bagaimana caranya. Surin pernah beberapa kali menjalin hubungan, namun ia tidak pernah merasakan rasa itu sebelumnya. Tapi saat melihat Sehun, perasaan bahwa Sehun adalah tempat terakhir hatinya untuk bersinggah muncul begitu saja, dengan sangat singkat dan begitu sederhana.

 

Tiba-tiba Surin teringat akan tugasnya untuk membuat sarapan. Surin buru-buru beranjak dari kasurnya dan berlari kecil menuju dapur. Tangannya membuka kulkas untuk mengambil dua butir telur serta mentega dari dalam sana. Dimenit yang berikutnya Surin sudah sibuk dengan daging asap yang ia panggang dan tangannya yang lain menyiapkan roti. Surin sudah tidak punya waktu untuk masak menu yang lain sehingga ia berencana akan membuat sandwich sederhana dengan telur dan daging asap sebagai isi sandwich buatannya.

 

Saat Surin tengah sibuk, Sehun tampak keluar dari kamar tidur mereka dengan setelan kerja rapi. Rupanya ia sudah selesai bersiap untuk berangkat ke kantor. Surin meletakan dua piring berisi sandwich ke meja makan dan tidak lupa menuangkan susu dikedua gelas yang sudah tertata disebelah piring tersebut.

 

Surin berjalan menuju Sehun yang tengah berdiri mematung didekat meja makan. Surin kemudian membantu laki-laki itu untuk mengenakan dasinya, persis seperti pagi demi pagi yang sebelumnya. Dalam jarak mereka yang begitu dekat, Surin selalu mencuri kesempatan untuk menghirup aroma tubuh laki-laki itu hanya karena Surin ingin terus teringat dengannya sepanjang hari. Selepasnya, Surin selalu menunggu Sehun untuk tersenyum kecil sambil mengucapkan terima kasih karena telah membantunya untuk memakai dasi.

 

Dan ketika laki-laki itu benar-benar melakukannya, Surin rasa harinya lengkap begitu saja.

 

‘Ayo kita makan.’

 

“Ayo kita makan.” Ujar Sehun, tepat seperti gemaan suara dalam otak Surin beberapa detik yang lalu. Sehun duduk tepat dihadapan Surin dan mulai menikmati sarapannya setelah sebelumnya menyesap susu dingin dari gelasnya. Sehun mengecek berkas-berkas kerjanya sembari terus menikmati sarapannya. Sesekali tangannya menari dilayar tablet untuk mengirim beberapa berkas yang Surin tidak tahu-menahu tentang apa. Surin hanya memperhatikan laki-laki itu dalam diam, karena begitulah yang selalu dilakukan Surin setiap harinya. Surin terlalu takut ia akan salah berbicara dan semua kebiasaan pagi yang ia lewati bersama Sehun akan berantakan begitu saja.

 

‘Hari ini aku akan pulang malam. Kalau kau mengantuk, tidur duluan saja.’

 

“Hari ini aku akan pulang malam. Kalau kau mengantuk, tidur duluan saja.” Lagi-lagi seperti rekaman kaset, apa yang Sehun ucapkan sudah sangat dihafal Surin. Monoton, memang. Tapi entah mengapa Surin merasa tidak masalah dengan hal tersebut. Sehun sibuk dengan tabletnya sementara Surin tersenyum kecil.

 

“Aku akan memasakanmu makan malam, kau tinggal memanaskannya sepulang kerja nanti.” Surin membalas, balasan yang sama seperti pagi-pagi yang sebelumnya. Tidak lama setelah ucapan Surin, Sehun pun mengangguk, persis seperti yang sudah Surin duga.

 

Biasanya setelah ini mereka hanya akan makan dalam diam, dan setelah Sehun menghabiskan sarapannya, ia akan pamit diri untuk segera menuju ke kantor. Enam bulan, dan mereka melakukannya secara persis, tanpa pernah absen dengan dialog-dialog monoton tersebut. Meskipun Surin mati-matian menahan keinginannya untuk bertanya pada Sehun tentang ini dan itu, bercerita padanya tentang ini dan itu, namun Surin sadar bahwa keinginannya itu hanyalah obrolan tidak penting bagi Sehun. Surin hanya tidak mau Sehun yang selama enam bulan ini sudah baik padanya tiba-tiba menganggapnya menyebalkan dan berisik.

 

“Surin.” Sehun memanggil namanya membuat Surin langsung mengalihkan pandangannya dari sandwich miliknya pada laki-laki yang sudah lebih dulu menatapnya itu. Surin hanya terkejut, otaknya berusaha mencari dialog apa yang akan mereka bicarakan selanjutnya namun dialog Sehun memanggil namanya ditengah-tengah sarapan pagi mereka tidak pernah terjadi sebelumnya sehingga saat ini Surin benar-benar kebingungan harus menjawab apa.

 

“Ibuku mengharuskan kita untuk melakukan perjalanan singkat setiap minggunya.” Surin dapat melihat Sehun memijit pelipisnya pelan. “Mulai sekarang setiap Sabtu dan Minggu kita akan keluar kota dan minggu ini jadwalnya adalah Busan.” Surin hampir saja berteriak kesenangan namun niatnya urung dilaksanakan ketika melihat Sehun menghela napas berat.

 

“Lagi-lagi ia berbuat ulah.” Timpal Sehun membuat Surin merasa sedikit sakit hati karena otaknya langsung menyimpulkan bahwa Sehun sama sekali tidak ingin terlibat lebih jauh dari makan pagi bersama, makan malam bersama, dan tidur bersama dikasur yang sama dengan Surin setiap harinya.

 

Baiklah, bahkan tidur bersama saja itu dilakukan secara terpaksa karena setelah satu bulan mereka menikah, ibu kandung Surin mendapati mereka tidur dikamar yang terpisah. Setelah kejadian itu, kamar tamu dirumah mereka dikunci dan kuncinya dibawa oleh orangtua Surin. Tidak hanya itu, kasur dan seluruh isi di kamar tamu itu pun dibawa keluar dari rumah mereka, sehingga kamar itu sekarang hanyalah kamar kosong dengan pintu yang terkunci.

 

“Aku bertanya padanya mengenai alasan apa yang membuatnya mengharuskan kita untuk melakukan perjalanan itu dan jawabannya adalah karena mereka ingin kita segera punya anak. Enam bulan tanpa kabar apapun dari kita telah membuat mereka resah.” Sehun berujar dan detik kemudian Surin sudah terbatuk hebat, padahal ia sama sekali tidak tersedak apapun.

 

Surin merasa tatapan laki-laki itu masih mengarah pada Surin yang tidak bisa memberhentikan batukannya.

 

“Kau tahu kan bahwa itu adalah hal besar? Aku rasa aku tidak bisa menyanggupi hal tersebut.” Sehun berujar dan seketika Surin membeku ditempatnya. Hatinya serasa diremuk sesuatu, namun ia masih tidak mengerti alasannya apa. Antara Sehun yang tidak ingin menghabiskan waktu dengannya, atau karena fakta yang lebih menyedihkan, Sehun tidak ingin mereka berdua terlibat sejauh itu.

 

“Aku terlalu sibuk dan—”

 

“Memangnya kau pikir aku tidak sibuk? Aku juga terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan aku pun merasa aku tidak bisa menyanggupi permintaan mereka mengenai anak.” Surin berujar seraya menatap Sehun dengan tatapan dinginnya sementara yang ditatap hanya terdiam dengan ekspresi yang tidak dapat Surin tebak sama sekali.

 

“Tenang saja, aku yang akan bilang pada ibumu bahwa kita sama-sama sibuk sehingga kita tidak perlu melakukan perjalanan itu. Aku juga akan bilang pada orangtua kita bahwa rencana mempunyai anak adalah satu hal yang masih akan kita pikirkan lagi karena kesibukan kita masing-masing.” Surin menyambung perkataannya, berharap ia dapat membalas laki-laki yang sudah terlalu jauh menginjak-injak perasaannya itu.

 

Surin sudah terlalu bersabar dengan dialog monoton yang selalu mereka ulang-ulang setiap harinya, seolah Sehun tidak mau bicara hal lain padanya sama sekali. Sekarang laki-laki itu ingin mengatakan bahwa ia benar-benar tidak ingin terlibat jauh dengan Surin? Surin benar-benar tidak bisa bersabar lagi.

 

Baiklah, mungkin permintaan orangtua mereka mengenai anak adalah sesuatu yang besar bagi mereka berdua. Sesuatu yang harus dipikirkan secara matang dan mantap. Sesuatu yang adalah langkah besar apabila baik Sehun dan Surin menyanggupi hal tersebut.

 

Tapi, apa harus Sehun menolak mentah-mentah begitu saja padahal ibunya hanya ingin mereka berdua menghabiskan waktu bersama? Ibu kandung Sehun tidak mengharuskan bahwa mereka harus mempunyai anak, lebih tepatnya kedua belah pihak orangtua mereka hanya berharap dari perjalanan tersebut, kemungkinan Sehun dan Surin mempunyai anak menjadi lebih besar, jadi mengapa Sehun harus menolaknya dengan seperti itu kalau memang alasan lainnya adalah karena ia tidak ingin Surin terlibat semakin jauh dalam kehidupannya?

 

Keheningan meliputi mereka berdua, sibuk berdebat dengan pikiran masing-masing. Baru saja Surin akan beranjak dari tempatnya untuk pergi meninggalkan Sehun, bel rumah mereka berbunyi. Surin segera membukakan pintu dari alat kecil yang terletak disebelah pintu utama rumah mereka setelah melihat ibu kandungnya dan ibu Sehun dari layar alat tersebut menunjukan beberapa rantang makanan sambil tersenyum girang.

 

Surin dan Sehun berdiri berdampingan dan langsung membungkuk sopan ketika ibu masing-masing dari mereka memasuki rumah. Surin masih merasa sakit hati dengan ucapan Sehun sehingga kini gadis itu hanya tersenyum paksa kearah ibunya yang kini memeluknya kemudian memeluk Sehun selepasnya.

 

“Ada apa ini? Mengapa suasana diantara kalian gelap sekali? Kalian habis bertengkar?” Ujar Nyonya Oh membuat Sehun langsung membantah ucapan ibunya itu. Sehun merangkul pinggang Surin mesra membuat kedua ibu yang berada dihadapan mereka saat ini tertawa kecil, lega apabila ucapan Nyonya Oh barusan tidaklah nyata.

 

Kedua ibu mereka melenggang masuk dan mulai mengambil alih dapur, meletakan persediaan makanan yang mereka bawa untuk Sehun dan Surin meskipun persediaan makanan di kulkas masih sangat banyak. “Kalian tidak lupa kan? Besok itu hari Sabtu dan kalian berdua harus pergi ke Busan bersama sampai hari Minggu. Sehun, ibu sudah reservasi hotel yang sudah ibu beritahukan padamu. Sisanya, kau yang urus sendiri. Ajak Surin pergi ke tempat yang bagus.” Pinta ibunya membuat Sehun mengangguk. Tangannya masih bertengger apik pada pinggang Surin, membuat gadis itu langsung melepas tangan laki-laki itu dan pergi menghampiri kedua ibu yang tampak kompak di dapur.

 

“Bu, tapi aku dan Sehun sama-sama sibuk. Bahkan terkadang Sehun harus bekerja di akhir pekan. Aku rasa—”

 

“Ia bekerja di akhir pekan dan kau dirumah sendirian, kan? Mulai sekarang ibu tidak akan membiarkan itu terjadi.” Potong Nyonya Oh sementara Surin hanya melirik Sehun yang masih bergeming ditempatnya. Surin yakin sekali bahwa laki-laki itu ingin Surin untuk segera meyakinkan ibunya agar membatalkan rencana pergi keluar kota setiap akhir pekan itu.

 

“Aku bisa meminta Jimi untuk menemaniku jalan-jalan ataupun sekedar ke salon—”

 

“Aku setuju dengan acara pergi keluar kota setiap minggu itu.” Kali ini Sehun yang memotong ucapan Surin, membuat Surin segera menatapnya, begitu pula dengan kedua ibu yang langsung terkejut mendengar kalimat persetujuan Sehun barusan.

 

Surin melipat tangannya didepan dada, melihat Sehun yang kini tampak tersenyum aneh. Salah tingkah, mungkin? Entahlah, Sehun terlalu sulit untuk ditebak. Laki-laki itu tidak pandai mengekspresikan perasaannya melalui raut wajahnya dan itu berhasil membuat Surin sesekali merasa hampir stress.

 

“Aku akan membawa Surin ke tempat yang bagus seperti yang ibu pinta, tenang saja.” Ujar Sehun membuat Surin langsung menyimpulkan bahwa kata-kata ‘seperti yang ibu pinta’ sengaja disisipkan laki-laki bertubuh tinggi itu untuk menyindir ibunya.

 

“Nah, suamimu saja sudah mengiyakan. Surin, ini bagus untuk hubungan kalian. Untuk mempercepat sesuatu yang harus dipercepat. Kita berdua kan tidak sabar datang kemari untuk menggendong cucu.” Ujar Nyonya Oh membuat ibu kandung Surin tertawa geli. Surin hanya memijat pelipisnya, merasa pening dengan seketika. Entah mengapa Surin yang awalnya benar-benar senang dengan kabar perjalan keluar kota setiap minggu, menjadi benar-benar malas karena tahu fakta bahwa Sehun terpaksa mengiyakan permintaan ibunya.

 

“Kalau begitu aku berangkat dulu, ya. Sudah terlambat.” Ujar Sehun seraya membungkuk sopan. Ia meraih tas kerja dan jas yang ia letakan di sofa ruang tamu, kemudian berjalan begitu saja menuju pintu utama. Langkahnya terhenti ketika ibunya memanggil nama Sehun dengan sedikit berseru.

 

“Kau lupa berpamitan dengan istrimu?” Nyonya Oh memandang Sehun dengan tatapan herannya sementara Sehun hanya melirik ibu kandung Surin yang juga tengah memandangnya. Sehun mengerti apa maksud ibunya, sehingga saat ini ia berjalan cepat menghampiri Surin, meraih pinggang gadis itu dengan satu tangannya dan mengecup dahi Surin singkat.

 

Surin yang kini berada dalam pelukan Sehun merasa kakinya langsung lemas begitu saja. “Aku berangkat dulu.” Ujar Sehun dan beberapa detik kemudian kedua ibu mereka sudah memekik girang, kesenangan karena baru saja melihat adegan romantis seperti yang sering ada di drama-drama kesukaan mereka secara langsung.

 

Surin mengangguk, seketika lupa kalau tadi ia marah pada laki-laki itu.

 

Oh Sehun, dia benar-benar menyebalkan.

 

**

 

Surin melirik jam dinding diruang kerjanya yang sudah menunjukan pukul tujuh malam. Gadis itu mengecek pekerjaannya sekali lagi dilayar komputer yang berada dihadapannya dan menandatangani beberapa berkas sebelum akhirnya dapat menyandarkan tubuh lelahnya pada sandaran kursi kerjanya. Surin merasa kepalanya penat, entah karena pekerjaannya, atau karena pikirannya yang sepanjang hari diisi tentang perjalanannya ke Busan bersama Sehun besok hari.

 

Surin berada diatas rasa bimbang, antara senang sekaligus sedih. Sedih karena tahu Sehun hanya akan menghabiskan waktu bersamanya dengan terpaksa. Sedih karena membayangkan besok Sehun hanya akan terfokus pada tabletnya, tepatnya pada seluruh pekerjaannya yang tidak terhitung banyaknya. Sedih karena perkataan Sehun tadi pagi mengenai permintaan orangtua mereka mengenai seorang anak.

 

Untuk yang terakhir, kalian harus tahu betapa hal itu membuat hati Surin serasa dikelilingi awan kabut sepanjang hari. Surin tahu Sehun tidak menyimpan perasaan apapun padanya.Untuk mencapai tahap itu, Surin tahu ia harus bekerja lebih keras terlebih dahulu untuk membuat Sehun menyerahkan hatinya pada Surin dan hal itu tidak akan sebentar.

 

Akan tetapi status mereka sekarang ini adalah sepasang suami-istri. Mau sampai kapan mereka berada ditahap mengobrol dengan dialog yang sama setiap harinya? Mau sampai kapan Sehun menganggapnya tidak ada? Sehun tidak pernah menghubungi Surin ketika mereka berdua sedang tidak bertemu satu sama lain. Sehun tidak pernah menanyai bagaimana Surin melewati harinya. Sehun tidak pernah mempedulikan apakah Surin merasa senang tinggal bersamanya atau tidak. Hanya rutinitas monoton, yang kini berhasil membuat Surin lelah.

 

Jangan kira Surin hanya menunggu tanpa melakukan apapun. Sesekali Surin bertingkah layaknya seorang istri yang sesungguhnya. Membuatkan Sehun bekal makan siang, menyiapkan setelan kerja ketika Sehun berkata bahwa ia akan hadir ke sebuah rapat penting, menyiapkan seluruh perlengkapan yang harus Sehun bawa ketika laki-laki itu akan tugas keluar kota, melakukan seluruh pekerjaan rumah, membantu Sehun untuk menggunting kuku tangan kanannya karena ia selalu kesulitan melakukan hal tersebut, membelikan Sehun pakaian untuk menggantikan laki-laki sibuk itu berbelanja sampai-sampai kini lemari Sehun hanya penuh dengan pakaian yang Surin belikan untuknya, merawat Sehun ketika laki-laki itu tengah sakit, dan bahkan Surin pernah memberanikan diri untuk memijat bahu juga mengusap-usap punggung Sehun ketika laki-laki itu berkata bahwa ia sulit tidur.

 

Sebenarnya, bagi Sehun, Surin itu apa? Teman satu rumah? Roomate? Atau jangan-jangan.. asisten rumah tangga pribadi?

 

Surin benar-benar tidak menemukan ujung dari hubungannya dengan Sehun. Apabila Sehun tidak ingin membuka hatinya untuk Surin, apabila Sehun tidak ingin membangun rumah tangga yang sesungguhnya dengan Surin, mempunyai anak, dan hal-hal yang berhubungan dengan rumah tangga lainnya, akan kemana akhir hubungan mereka? Perceraian, kah?

 

Surin merasa matanya berair ketika memandangi foto pernikahannya dengan Sehun yang ia tempel di meja kerjanya. Surin tidak ingin membayangkan akhir yang tragis dengan Sehun karena dari awal Surin sudah yakin betul bahwa Sehun adalah tempat akhir hatinya berlabuh. Namun kalau pada kenyataannya setelah enam bulan mereka bersama dan Sehun belum bisa menyukai Surin, Surin merasa dirinya seperti kapal yang kehilangan arah dan pada akhirnya hilang ditengah lautan ketika kapal itu hendak berlayar menuju pelabuhannya.

 

Surin merasa bodoh karena sebelum-sebelumnya ia merasa hubungannya dengan Sehun baik-baik saja. Ia merasa baik-baik saja dengan dialog berulang setiap harinya. Ia merasa baik-baik saja ketika ia memandangi punggung sempurna Sehun diatas kasur mereka setiap harinya dan berakhir terlelap bersamanya. Ia merasa baik-baik saja ketika Sehun berpura-pura bersikap manis, memperlakukannya seperti layaknya seorang istri setiap kali mereka berdua mengunjungi rumah orangtua mereka.

 

Pada akhirnya kini Surin menyadari bahwa tidak ada yang baik-baik saja dari mereka berdua.

 

Perasaannya pada Sehun hanyalah perasaan sepihak yang mungkin tidak akan pernah berbalas. Lalu, apa arti pernikahannya dengan Sehun? Surin bertanya pada dirinya sendiri, apa lagi yang ingin ia perjuangkan dari pernikahannya dengan Sehun kalau laki-laki itu saja tidak pernah merasa senang ketika bersanding dengannya?

 

“Jang Surin.” Surin menoleh ketika mendapati calon direktur utama perusahaan majalah tempatnya bekerja keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri meja Surin. “Mengapa masih disini? Ada pekerjaan yang belum selesai?” Tanya laki-laki yang Surin ketahui bernama Do Kyungsoo itu.

 

Kyungsoo adalah atasan Surin yang paling baik. Kyungsoo mengajarkan Surin ini dan itu dari pertama kali ia bekerja diperusahaan tersebut. Kyungsoo adalah seorang dokter yang harus berhenti dari pekerjaannya dua tahun yang lalu karena ayahnya mengharuskan Kyungsoo untuk meneruskan perusahaan majalah tersebut sehingga ya, disinilah Kyungsoo, berdiri didepan Surin dengan pakaian kerjanya yang sudah terlihat kusut. Lengan kemeja berwarna hitamnya tergulung sampai sebatas siku sementara tangannya mulai bergerak untuk melepaskan name tag yang tergantung dilehernya.

 

“Mau aku antar pulang?” Tawar Kyungsoo membuat Surin langsung menolak dengan sopan. “Terima kasih atas tawarannya, tapi aku bisa pulang sendiri.”

 

“Dengan bus?”

 

Surin mengangguk kemudian Kyungsoo tertawa kecil melihat Surin yang keras kepala. “Bus sedang ramai-ramainya jam segini. Kakimu bisa kram. Ayo, aku antar saja.” Kyungsoo menarik tangan Surin untuk bangkit dari tempat duduknya membuat Surin dengan buru-buru meraih tasnya sebelum kini Kyungsoo sudah menariknya menuju lift.

 

“Jasa mengantarku ini tidak gratis. Kau harus menemaniku makan malam dulu karena aku sedang terlalu malas untuk memasak makanan lagi setibanya aku di apartment.” Kyungsoo melirik Surin dengan senyuman yang kini merekah pada wajahnya. Pintu lift terbuka, membuat Surin mau tidak mau menahan argument yang ingin ia lontarkan pada Kyungsoo. “Baiklah, kebetulan aku juga sedang terlalu malas tiba lebih awal dirumah.” Ujar Surin dengan volume suara yang kecil namun masih dapat Kyungsoo dengar.

 

Kyungsoo berjalan mendahului Surin sementara gadis itu mengikutinya. Setibanya didepan mobil sedan milik Kyungsoo, laki-laki berambut hitam pekat dengan model cepak itu membukakan pintu mobilnya untuk Surin. Surin hanya bergumam terima kasih dan masuk kedalam mobil Kyungsoo. Setelah laki-laki itu memposisikan dirinya dikursi pengemudi, Kyungsoo yang baru saja akan meraih sabuk pengamannya sendiri menyadari bahwa Surin belum mengenakan sabuk pengaman. Kyungsoo segera meraih sabuk pengaman yang berada disebelah tubuh Surin dengan mencondongkan badannya sedikit, lalu memasangkan sabuk pengaman itu untuk Surin. “Safety first.” Ujar Kyungsoo seraya tersenyum lembut pada Surin yang kini hanya memandanginya tanpa berkedip.

 

Lagi-lagi Surin hanya menggumamkan kata terima kasih dan selepas itu mobil Kyungsoo mulai berjalan meninggalkan gedung kantor tersebut. Surin melemparkan pandangannya kearah jendela mobil yang berada disampingnya ketika Kyungsoo mulai menyalakan pemutar musik mobilnya dan lagu romantis mulai mengalun menyelimuti mereka berdua. Sesekali Kyungsoo bernyanyi, membuat Surin tertawa kecil ketika laki-laki itu berusaha memamerkan suara emasnya dengan menyanyikan nada-nada tinggi dari lagu tersebut.

 

Seandainya Sehun semanis Kyungsoo, mengantarnya pulang dari kantor dan makan malam diluar terlebih dahulu sebelum mereka mencapai rumah, bernyanyi didalam mobil yang terjebak macet, tertawa bersama dan saling menceritakan hari masing-masing, Surin rasa ia akan benar-benar bahagia.

 

Alih-alih melakukan hal-hal diatas, Sehun membiarkan Surin naik bus setiap harinya untuk berangkat dan pulang kantor. Padahal kalau dipikir-pikir, kantornya dan Sehun tidaklah berjauhan dan sebenarnya mereka bisa saja berangkat juga pulang bersama. Surin berpikir bahwa Sehun hanya memang sama sekali tidak pernah mau tahu dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya.

 

Setibanya mereka di restaurant pilihan Kyungsoo, mereka langsung menempati tempat kosong yang berada didekat jendela besar sehingga mereka dapat memperhatikan jalanan Seoul yang malam itu cukup ramai.

 

“Kau harus coba fettucine milik mereka. Itu adalah menu andalan di restaurant ini.” Saran Kyungsoo ketika Surin mulai membalik halaman demi halaman buku menu yang berada dihadapannya. “Oh ya? Kalau begitu aku pesan fettucine carbonara saja.” Ujar Surin dan Kyungsoo langsung mengulang pesanan mereka pada pelayan yang berdiri disebelah meja mereka. Tidak lupa, Kyungsoo memesan dua gelas wine yang juga adalah kesukaannya.

 

Oh, bahkan Surin tidak pernah makan malam seperti ini bersama Sehun. Surin mengutuk laki-laki itu yang terus muncul dipikirannya, membuat moodnya selalu berubah setiap kali ia melihat wajah laki-laki itu dikepalanya.

 

“Surin.” Panggil Kyungsoo membuat Surin menoleh dari jendela menuju kearah Kyungsoo. “Apa saat ini kau bahagia?” Surin terdiam sesaat, berpikir mengenai jawaban apa yang harus dilontarkannya.

 

“Aku ingin kau bahagia.” Kyungsoo menatap Surin dengan tatapan seriusnya sementara Surin tahu alasan mengapa Kyungsoo berkata demikian. Kyungsoo memang tahu bahwa pernikahan Surin dengan Sehun tidaklah begitu sehat seperti pernikahan pada umumnya. Kyungsoo menyukai Surin, sampai ketika gadis itu mengumumkan pernikahannya dengan Sehun.

 

“Aku tahu kau berhak untuk mendapatkan kebahagiaanmu, jadi berbahagialah. Jangan biarkan orang lain membuatmu merasa tidak bahagia. Kau tahu? Aku tidak akan tinggal diam kalau aku melihatmu bersedih lagi seperti sepanjang hari ini.” Kyungsoo mengacak rambut Surin membuat gadis itu tersenyum lebar. Matanya berkaca-kaca, entah terharu dengan perkataan Kyungsoo atau karena merasa akhirnya ada yang mempedulikan dirinya yang selama ini menyembunyikan pilu dibalik paras tidak apa-apanya.

 

**

 

“Darimana saja?”

 

Surin melirik Sehun yang baru saja melontarkan pertanyaan dengan nada yang terdengar sinis. Sehun terduduk diruang tengah, matanya terfokus pada telivisi yang berada dihadapannya, namun dengan hanya melihatnya seperti itu Surin sudah merasa laki-laki itu benar-benar mengintimidasi dirinya.

 

Surin memilih untuk tidak menjawab dan berjalan menuju kulkas untuk mengambil air mineral dingin guna membasahi tenggorokannya yang terasa kering karena melihat Sehun dengan paras galaknya menyapa Surin yang baru saja menginjakan kakinya didalam rumah beberapa menit lalu.

 

“Aku tanya, kau darimana saja? Sekarang jam 12 malam lewat, kau tahu, kan?” Nada suara Sehun semakin mengintimidasi membuat Surin langsung meletakan botol mineralnya diatas meja dengan kasar.

 

“Memangnya yang bisa pulang tengah malam hanya kau saja?” Sehun langsung bangkit dari sofa dan berjalan menuju Surin yang kini memperhatikannya dengan sengit. Sehun terlihat begitu emosi sementara Surin yang tidak pernah melihat laki-laki itu seperti ini sebelumnya hanya terus menatapnya dengan alis yang bertaut.

 

“Jangan membuat aku marah dan jawab saja pertanyaanku. Darimana saja kau sampai-sampai sekarang baru sampai rumah?” Sehun menyentuh lengan Surin membuat gadis itu segera menepis tangan Sehun dengan cepat.

 

“Sejak kapan kau jadi berubah peduli padaku? Aku pikir bahkan kalau aku tidak kembali lagi kerumah ini, kau tidak akan menyadarinya sama sekali. Bukankah begitu perlakuanmu padaku selama enam bulan terakhir?! Menganggapku tidak ada, bukankah begitu, Oh Sehun?!” Surin benci dirinya yang saat ini malah memupuk air mata yang siap jatuh dikedua belah matanya. Surin tidak ingin terlihat lemah, ia tidak ingin lagi-lagi dirinyalah yang terinjak.

 

“Jang Surin, jangan bicara sembarangan!” Sehun mencengkram lengan Surin dan mendorong tubuh kecil gadis itu pada tembok yang berada didekat kulkas sampai-sampai Surin merasakan nyeri pada punggungnya.

 

“Kau pikir aku tidak tahu bahwa aku melihatmu bersama laki-laki lain? Laki-laki itu membukakan pintu mobilnya untukmu, memasangkan sabuk pengaman, mengajakmu makan malam, dan mengacak rambutmu dan yang kau lakukan adalah menikmati itu semua, kan? Sekarang kau menyalahkanku, berkata bahwa aku tidak pernah peduli padamu. Untuk apa? Untuk menutupi kesalahanmu sendiri? Kau hebat, Jang Surin. Benar-benar hebat.”

 

Surin terdiam, otaknya merasa tidak mampu mencerna perkataan Sehun sedikitpun. Darimana laki-laki itu tahu semuanya? Satu pertanyaan tersimpulkan diotak Surin. Seorang Sehun pergi ke kantornya dan mengikutinya?

 

“Lalu apa? Apa urusanmu dengan itu semua? Setidaknya aku merasa dibutuhkan saat aku bersamanya. Setidaknya aku merasa bahwa aku ‘ada’ saat aku bersamanya.” Surin merasa satu bulir airmatanya jatuh begitu saja tanpa aba-aba, entah karena tangannya yang merasa sakit akibat cengkraman tangan Sehun, punggungnya yang nyeri karena benturan keras dengan tembok, atau karena hatinya yang merasa terluka akibat seluruh perkataan Sehun padanya.

 

Yang Surin tahu saat ini Sehun hanya terdiam, dan cengkramannya pada tangan Surin melemas sampai akhirnya terlepas. Sehun merengkuh pinggang Surin dan memeluknya erat, sangat erat sampai Surin dapat merasakan telinganya mendengar suara debaran jantung Sehun dengan sangat jelas. Surin merasa lagi-lagi airmatanya jatuh, perasaannya yang tadi begitu berat seolah terangkat dengan seketika ketika ia merasakan rasa hangat mengalir keseluruh penjuru tubuhnya, merasakan tangan Sehun yang melingkari pinggangnya. Surin hanya terdiam tanpa membalas pelukan Sehun sementara kini laki-laki itu membenamkan wajahnya pada bahu kecil Surin.

 

“Aku hanya tidak mengerti mengapa aku seperti ini. Aku merasa marah melihatmu dengan orang lain. Aku merasa marah ketika kau tersenyum dengannya atau ketika akhirnya aku menyadari bahwa kau tidak pernah tertawa lepas seperti itu ketika kau tengah bersama denganku. Aku tidak mengerti mengapa aku seperti ini, Jang Surin.”

 

Sehun menegakan tubuhnya namun tidak kunjung melepaskan kedua tangannya yang masih betah melingkari pinggang Surin. Ia menatap gadis itu lambat-lambat, seolah saling berbicara dari tatapan masing-masing. “Bantu aku untuk menemukan jawabannya. Hm?”

 

Surin merasa sesuatu meremas perutnya kala jantungnya berdebar dengan kecepatan lebih akibat tatapan lembut dari laki-laki itu dan suara beratnya yang khas. Atau mungkin akibat Sehun yang kini dengan perlahan tapi pasti menghapus jarak diantara wajah mereka, mendaratkan bibirnya pada permukaan bibir Surin dengan mata yang terpejam.

 

Awalnya Sehun benar-benar hanya menempelkan bibirnya disana, namun beriringan dengan kedua tangannya yang semakin erat memeluk pinggang Surin, Sehun mulai menarikan bibirnya secara lembut dan perlahan membuat kaki Surin melemas dengan seketika. Jari jemari Surin yang kini berada diatas permukaan dada bidang laki-laki itu bahkan dapat merasakan debaran jantung Sehun yang sangat keras, terutama ketika kini Surin meremas kain kemeja kerja milik Sehun yang berada dibawah jari jemarinya.

 

Surin tahu jawabannya.

 

Surin tahu jawaban dari mengapa Sehun marah akibat melihatnya dengan orang lain.

 

Sehun membutuhkannya, Sehun menganggapnya ada, dan Sehun mulai… menyayanginya.

 

**

 

Senyuman terus mengembang diwajah Surin sejak dari keberangkatannya sampai pada sesampainya Surin dan Sehun di Busan. Meskipun perjalanan mereka harus dilakukan pada sore hari karena Sehun harus mengurusi beberapa pekerjaan terlebih dahulu sehingga saat ini mereka baru sampai di Busan ketika jam menunjukan pukul delapan malam, keduanya tampak tetap menikmati kehadiran satu sama lain, kentara ketika kini mereka berdiri bersampingan di belakang kamar hotel mereka yang adalah balkon berukuran cukup besar dengan pemandangan langsung menghadap pantai Haeundae.

 

Angin musim dingin berhembus kearah mereka berdua membuat Surin yang sudah melepas mantelnya beberapa menit lalu merasa cukup kedinginan. Sehun yang melihat hal tersebut buru-buru melepaskan mantel berwarna biru gelapnya dan memakaikannya pada bahu Surin sementara laki-laki dengan sweater hitam itu hanya tersenyum ketika Surin mengucapkan terima kasih.

 

“Ada yang ingin aku bicarakan padamu.” Ujar Sehun seraya melemparkan pandangannya pada pantai sementara Surin memperhatikan tampak samping laki-laki itu yang begitu sempurna.

 

“Aku minta maaf. Aku tidak pandai mengekspresikan perasaanku sehingga selama enam bulan ini aku membiarkanmu dengan pikiranmu sendiri tanpa tahu bagaimana harus membantahnya secara langsung.” Sehun menghela napas berat. “Aku pikir kau senang-senang saja dengan dialog monoton kita, aku pikir kau senang-senang saja dengan jarak yang ada diantara kita sehingga aku selalu menahan keinginanku untuk mengatakan padamu bahwa aku ingin kita menganggap serius pernikahan kita ini.”

 

Surin mematung, tidak tahu harus berkata apa sementara Sehun menoleh untuk menatap kedua manik mata berwarna hitam pekat milik Surin yang sudah sangat disukainya bahkan sedari pertama kali mereka bertemu, tepatnya tujuh bulan yang lalu, satu bulan sebelum pernikahan mereka.

 

“Aku selalu menahan keinginanku untuk memelukmu yang tertidur lelap disebelahku setiap malam. Aku selalu menahan keinginanku untuk bertanya bagaimana harimu berjalan. Aku selalu menahan keinginanku untuk mengantar dan menjemputmu pulang kantor. Aku juga selalu menahan keinginanku untuk mengajakmu berkencan diakhir pekan. Kali ini aku tidak mau menahan diriku sendiri lagi. Semua itu sudah cukup menyiksa, dan bodohnya aku baru tahu bahwa kau juga merasa tersiksa akibat semua hal tersebut.”

 

Sehun meraih tangan Surin kemudian menyelipkan jari jemarinya disana. “Aku menyayangimu, Jang Surin. Dari pertama kali kita bertemu, entah bagaimana caranya aku merasa yakin bahwa kau adalah pilihan terakhirku.” Surin menggenggam tangan Sehun, membuat laki-laki itu tersenyum senang. Surin telah menunggu lama untuk mendengar semua hal itu dari Sehun dan ia tidak bisa lebih bahagia dari sekarang ini.

 

“Aku senang kau akhirnya mengatakan hal itu. Perlukah aku mengatakan bahwa aku juga menyayangimu?” Sehun tertawa kemudian merengkuh pinggang Surin dengan satu tangannya, sementara satu tangannya kini mempererat pelukannya pada tubuh kecil Surin. “Tentu saja perlu.” Sehun berujar dan kini Surin melingkarkan tangannya pada tengkuk leher laki-laki itu. Dengan sedikit berjinjit Surin mengecup lembut dahi laki-laki itu.

 

“Aku menyayangimu, Oh Sehun.”

 

Sehun merasa hatinya luluh begitu saja, terutama ketika gadis itu tersenyum manis padanya. “Surin.” Panggil Sehun sementara Surin hanya membalasnya dengan gumaman.

 

“Bagaimana kalau kita mempertimbangkan permintaan orangtua kita—” Sehun menggantungkan ucapannya dan Surin yang masih berada dalam pelukannya dapat merasakan jantung laki-laki itu berdebar cepat dengan seketika. Pipi Surin memanas membuat Sehun yang belum menyelesaikan kalimatnya itu tanpa aba-aba mengecup semburat merah dikedua pipi Surin. Nafas Surin terasa tercekat, dan kupu-kupu seolah berterbangan riang menggelitik perutnya ketika kini Sehun membawa dagunya dengan perlahan guna mempertemukan bibir mereka.

 

Surin mengeratkan pelukannya pada leher Sehun sementara dengan perlahan tapi pasti Sehun melumat bibir gadis itu lebih dalam, merasakan debaran jantungnya bersatu dengan debaran jantung Surin. Surin merasa otaknya kehilangan kesadaran untuk sejenak ketika bibirnya mulai menyamakan gerakan dengan bibir Sehun yang masih bersatu dengan miliknya. Sehun melepas tautan bibir mereka untuk beberapa detik, beralih mengecupi sebelah pipi Surin yang sudah merah padam, kemudian kembali menautkan bibirnya dengan bibir gadis itu. Dari tautan bibir mereka Sehun tahu Surin hanya mengenakan lipbalm berwarna dengan aroma dan rasa permen karet pada bibirnya hari ini. Sehun hanya ingin Surin tahu bagaimana hal itu benar-benar berhasil melumpuhkan seluruh saraf pada otaknya sehingga kini laki-laki itu sudah mengarahkan tubuh Surin yang masih berada dipelukannya untuk masuk kedalam kamar mereka tanpa melepaskan tautan bibir antara satu sama lain.

 

Surin berjalan mundur tanpa tahu tubuh kekar Sehun akan membawanya kemana. Bahkan gadis itu baru menyadari bahwa mantel biru gelap yang disampirkan Sehun pada bahunya sudah jatuh sedari tadi. Surin benar-benar terlalu sibuk memikirkan debaran jantungnya yang seakan tidak ingin berhenti untuk berdebar cepat, juga kupu-kupu yang kunjung tidak berhenti menggelitik perutnya terutama ketika Sehun membawanya untuk berbaring diatas kasur hotel dengan bibir mereka yang masih sibuk melumat satu dengan yang lainnya.

 

Ding Dong!

 

“Pesanan makan malam anda datang!” Ujar pelayan hotel dari alat pengunci pintu otomatis membuat keduanya langsung melepas tautan bibir mereka. Sehun yang kini memposisikan tubuhnya diatas tubuh Surin tertawa kecil akibat tatapan panik Surin. Bel berbunyi sekali lagi, dan pelayan itu kembali mengucapkan kalimatnya barusan.

 

Sehun mengecup bahu Surin sebanyak dua kali membuat gadis itu memekik sambil menutupi wajahnya yang sedari tadi sudah memerah. “Oh Sehun, kau benar-benar keterlaluan.”

 

“Aku tahu. Ayo kita makan malam dulu.”

 

Sehun mengecup dahi Surin dan berjalan menuju pintu hotel untuk mengambil pesanan makanan mereka dari sang pelayan hotel.

 

Surin rasa ide perjalanan keluar kota itu benar-benar ide yang harusnya dari awal tidak ia setujui.

 

Ya, walaupun pada kenyataannya hatinya berkata sebaliknya, sih.

 

 

-FIN.

 

Sehun-Surin is seriously love birds. HAHAHAHAHAHAHAAAA. Hope you guys like it and happy February!

Advertisements

12 comments

  1. Byun Veronika · February 6

    nice

    • Oh Marie · February 7

      Haloooo! Terima kasih ya sudah menyempatkan waktunya untuk mampir, baca, dan ninggalin komen! Jangan bosen-bosen yaaa! ❤

  2. rahsarah · February 7

    APA KABAR KAMUU????
    AAA KANGEN BANGETTT SAMA SEHUN SURIN ♥♥♥♥
    udh lama bangettt dan selalu nungguin ff buatan kamu de, pas banget iseng2 berhadiah mampir ke blog kamu dan ternyataaaaaa kesayangan aku muncul lagi sehun-serin kyaaaaaaaa dari awal tuh baca udh mulai berasa banget feel sedihnya smpe ke tengah2 mulai mewek truss di akhir2 malah bikin happy bangetttt aaaahhh kamu tuh ya jago banget ya ngaduk2in perasaan aku HAHAH

    lanjutin lagi dong ffnya smpe punya momongan biar ortunya sehun-surin makin jejingkrakan happy hahahahaah

    semoga dikesibukan kamu bisa selalu munculin sehun-surin yg super duper manis ta terkira ini yaaa
    LOVE YAAA ♥♥♥

    • Oh Marie · February 7

      OMG KA SARAAAAAAHHH!
      Aku baik-baik aja kaaak. Belakangan bener-bener gatau mau nulis apa jadi sempet hiatus:’) Aku terharu banget ka sarah masih sempetin buat mampir kesini meskipun akunya ngilang kayak ninja. HUHUHU MAKASIH YA KAAAK.

      Aku juga seneng kalo ka sarah suka sama ff simple ini! Sumpah kaku banget karna baru nulis lagi tapi super lega kalo ternyata ffnya bisa diterima dengan baiiiik.

      Sekali lagi terima kasih banyak ya kak untuk komennya dan untuk waktunyaaa! See you on the next ff♥♥♥ LOVE YOU TOOOO!

  3. Lee Aerins · February 11

    Setelah sekian lama, yang ditunggu akhirnya datang juga
    Sehun Surin memang terbaik, jjang buat penulisnya…
    Semangaat^^

    • Oh Marie · February 14

      HALOOOOOO! Terima kasih ya udah mau nungguin author super ngaret ini buat update lagi huhuhu. Makasih juga karna udah ninggalin komen lagiiii. Super kangen! Wajib stay tune terus untuk ff selanjutnya yaaa!

  4. Zaaaaoh · February 24

    Waa finally update lagi 😂 lagi iseng mampir eh ga taunya udah ada yg baru.
    Sehun-surin emg sweet couple banget deh 😆

    • Oh Marie · March 24

      HALOHALOOOOOO. MAAF YA BARU BALEEEES. Author yang satu ini emang sukanya ngaret huhu maafin. Makasih banyak kamu masih sering main kesini ya walaupun akunya bolos buat ngepost tepat waktu terusss. Bersyukur banget punya reader setiaaa! Makasih untuk komentarnya ya sayangkuuuu ❤

  5. hiairlondon · March 7

    Speechless. Two thumbs up for kak Marie 👍👍

    • Oh Marie · March 24

      HOLAAAAA. Maaf banget baru bales komentar kamuuu. Makasih banget ya udah mau baca dan ninggalin komen manis ini! Seneng deh kalo kamu suka sama ffnya. Sering-sering main kesini dan tinggalin jejak yaaa! Sekali lagi terima kasih! Love love ❤

  6. zilhafitfebruary · July 10

    sweet and nice, i love it 😘

    • Oh Marie · July 10

      haloooo! thanks for your comment >< jangan bosen-bosen mampir ke sini dan ninggalin jejak yaaa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s