Office

office

Just a super fluffy fluff. Enjoy this one!

**

 

“Surin! Ini dokumen yang ini belum lengkap. Bagaimana, sih?!”

 

“Jang Surin! Artikel yang kau tulis ini belum mencakup keseluruhan tema. Perbaiki!”

 

“Surin! Mana dokumen yang tadi saya minta?! Kau tidak tahu ya kalau saya benar-benar membutuhkan dokumen itu untuk meeting besok pagi?!”

 

“Jang Suriiiiin! Ketua tim kreatif sepertimu mengapa bisa sampai menulis artikel biasa seperti ini, sih?! Kau benar-benar ingin saya pecat ya?!”

 

“Siap bu, ampun, laksanakan!!!”

 

Surin berseru, dan sepersekian detik kemudian ia menyadari bahwa suara atasannya yang tengah memarahinya habis-habisan hanyalah bagian dari mimpinya. Surin juga menyadari bahwa kini ia tengah berdiri diantara kursi dan meja kantornya sembari berpose hormat, layaknya tentara wajib militer, membuat Surin langsung menghela napas panjang seraya mendudukan dirinya kembali di kursi tersebut sambil meletakan kepalanya diatas meja kerjanya.

 

Layar komputer yang masih menyala serta dokumen yang berserakan menjadi saksi dari rasa penat dan lelah yang saat ini Surin rasakan. Mungkin jika mereka bisa tertawa, mereka akan tertawa akan kebodohan Surin beberapa waktu lalu. Untung saja yang tersisa di kantor hanya Surin seorang sehingga tidak ada yang menyaksikan adegan Surin terbangun dari tidurnya karena mimpi buruk dimarahi atasan yang baru saja dihadapinya.

 

Mungkin Surin hanya terlalu lelah karena tuntutan pekerjaan yang akhir-akhir ini semakin berat, juga karena atasannya yang semakin garang, entah karena apa.  Atasannya memang sedari dulu sangat gemar memarahi para karyawan, tapi akhir-akhir ini emosi beliau semakin parah. Mungkin karena menurut rumor yang beredar, beliau baru saja mengakhiri hubungan dengan kekasihnya satu bulan yang lalu dan kini kekasihnya itu sudah memiliki kekasih yang baru.

 

Akhirnya, jadilah satu kantor terkena imbasnya seperti Surin saat ini yang pada hari Sabtu malam, dimana harusnya ia berkencan dengan kekasihnya ataupun menikmati hari liburnya seperti orang-orang yang lain diluar sana, malah harus terpenjara di kantor dengan setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikannya sebelum hari Minggu pagi.

 

Kantor majalah tempatnya bekerja memang tengah sibuk menyiapkan katalog edisi musim gugur yang akan tiba sebentar lagi, tapi jika kantor tengah sibuk, itu berarti Surin jauh lebih sibuk. Surin adalah kepala bagian tim kreatif dan atasannya menaruh harapan besar pada ide-ide dari Surin sehingga gadis itu harus memenuhi keinginan sang atasan dengan bekerja jauh lebih keras dari yang lain. Jika tidak, maka dialog dalam mimpinya akan benar-benar jadi kenyataan dan Surin benar-benar tidak mau hal itu sampai terjadi. Setidaknya, sifat perfeksionisnya itulah yang membuatnya berpikir demikian selama beberapa tahun terakhir ia bekerja di perusahaan tersebut.

 

Tapi untuk sekarang, Surin merasa ia telah mencapai batas lelahnya. Otaknya serat akan ide, bahkan ia merasa buntu untuk berpikir. Surin merasa selama ini ia telah memforsir tubuh dan otaknya untuk bekerja dengan tenaga penuh sampai-sampai kini ia tidak punya sedikitpun tenaga yang tersisa.

 

Surin tahu seharusnya kini ia tidak boleh meletakan kepalanya diatas kertas dokumen-dokumen yang menyangkut pekerjaannya. Surin tahu seharusnya kini ia segera menyelesaikan semua tugasnya itu dengan secepat kilat, namun Surin rasa ia akan langsung masuk rumah sakit karena mual hebat melihat setumpuk pekerjaan itu sehingga ia memilih untuk tetap bertahan pada posisinya, memandangi ponselnya yang tergeletak tepat dihadapan wajahnya.

 

Tiba-tiba ponselnya bergetar diikuti dengan menyalanya layar ponsel tersebut yang menampilkan notifikasi pesan dari kekasihnya, Oh Sehun. Surin buru-buru membuka pesan tersebut karena ia tahu bahwa pesan dari Sehun akan menjadi penyemangat baginya untuk melanjutkan pekerjaannya.

 

Sehun : Masih di kantor?

Sehun : Padahal harusnya hari ini kita menonton film.

Sehun : Sayang sekali kau sedang sibuk. Jangan cemberut ya membaca pesan yang diatas.

Sehun : Selesaikan saja pekerjaanmu. Jangan banyak protes.

Sehun : Mau diberi semangat tidak?

 

Surin mengercutkan bibirnya ketika membaca pesan Sehun yang menyinggung rencana menonton film bersama. Surin hanya kesal karena ketika Sehun tengah tidak sibuk dan mereka sudah menentukan tanggal untuk berkencan, tahu-tahu Surin memiliki setumpuk pekerjaan dadakan yang diberikan oleh atasannya kemarin malam melalui e-mail sehingga rencana menonton itu langsung gagal total.

 

Percayalah kekasih Surin itu juga orang yang sangat sibuk, bahkan jauh lebih sibuk daripada Surin. Sehun merupakan direktur utama sebuah perusahaan property dan laki-laki itu jarang memiliki waktu luang karena pekerjaan dan tanggung jawabnya yang luar biasa besar, terutama ketika ia tengah menggarap sebuah proyek. Jadi ketika mereka berhasil menentukan tanggal untuk berkencan, keduanya akan merasa sangat senang.

 

Surin langsung kembali merengut mengingat hal tersebut. Seharusnya hari ini menjadi hari dimana Surin bisa menghabiskan waktu bersama kekasihnya yang super sibuk itu, namun semua dokumen yang ada dihadapannya adalah salah satu penghalang terbesar. Surin langsung mendadak mual melihat dokumen-dokumen pekerjaannya yang ada dihadapannya.

 

Surin : Tentu saja mau diberi semangat. Kau tahu tidak? Aku ingin pulang sekarang juga.

Surin : Ingin menonton film. 😦

Surin : Ingin popcorn. 😦

Surin : Ingin cola. 😦

Surin : Ingin Oh Sehun. 😦

Surin : Ah, tidak-tidak. Tidak boleh. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku, jadi jangan balas pesanku ini atau tidak pekerjaanku tidak akan selesai.

 

Surin menatap pesan yang baru dikirimnya dengan tidak rela. Untuk beberapa menit, Sehun tidak kunjung membalas namun membiarkan pesan itu terbaca. Surin langsung mengumpat dalam hati, kesal dengan kekasihnya yang tidak peka itu. Surin menghela napas, tahu bahwa ia memang harus menyelesaikan pekerjaannya dan berhenti mencari alasan untuk menunda-nunda.

 

Tapi Surin merindukan Sehun. Karena akhir-akhir ini Surin sering lembur, Sehun tidak menjemputnya dari kantor dan tiap malam sebelum tidur, mereka hanya berkomunikasi melalui sambungan telepon saja. Meskipun setiap pagi hari Sehun tetap menjemput Surin dari apartmentnya untuk mengantarnya ke kantor, Surin merasa pertemuannya dengan Sehun setiap pagi terlalu singkat. Jarak apartmentnya dengan kantor terasa begitu dekat, dan Surin mulai merasa kesal akan hal itu akhir-akhir ini.

 

Rasanya ia ingin pindah dari apartmentnya ke sebuah apartment yang ada di Busan, sehingga ia akan berlama-lama dengan Sehun setiap pagi. Namun Surin tahu hal itu adalah sebatas keinginan yang tidak akan ia jadikan kenyataan mengingat dari Busan ke Seoul memakan waktu perjalanan selama dua jam jika dengan mobil pribadi. Surin hanya akan menyusahkan laki-laki yang sudah selama lima tahun menempati tempat pertama dihatinya itu.

 

Surin menekan ‘home button’ ponselnya, berharap notifikasi balasan pesan dari Sehun akan muncul namun Surin harus menghela napasnya ketika sampai sekarang pesan itu tidak kunjung sampai. Surin yakin laki-laki tidak peka itu benar-benar menyuruhnya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya sekarang. Harusnya Sehun mengirimi Surin pesan semangat seperti yang ditawarkan laki-laki itu beberapa menit yang lalu. Harusnya Sehun tidak benar-benar mematuhi permintaan Surin untuk tidak membalas pesan itu. Surin mendecak, hendak ingin membombardir Sehun dengan ocehannya.

 

“Semangat, Surin sayang.”

 

Surin menoleh cepat kearah sumber suara. Mulutnya menganga lebar, dan jantungnya yang baru saja dikejutkan terasa jatuh ke perutnya. Surin membelakan matanya, mendapati Sehun kini tengah duduk dikursi milik rekan kerjanya yang terletak tepat beberapa langkah dibelakang kursi Surin.

 

“Oh Sehun?! Sejak kapan kau disini? Mengapa juga tiba-tiba kau bisa disini?”

 

Surin masih dalam keterkejutannya. Tatapannya masih menuju pada Sehun yang kini menarik kursinya untuk duduk tepat disebelah Surin. Senyuman khas yang menurut Surin adalah senyuman paling manis yang pernah dilihatnya masih bertengger apik diwajahnya yang tampan. Sehun tampak mengenakan kemeja sederhana berwarna abu-abu dengan lengan kemeja yang digulung sebatas siku sehingga jam tangan kesukaannya yang terletak dipergelangan tangan kirinya terlihat.

 

“Sejak kau tertidur diatas pekerjaan yang harus kau selesaikan lalu tiba-tiba terbangun untuk memberi hormat pada atasanmu seperti hormat pada bendera.” Sehun tertawa disela-sela ucapannya membuat Surin langsung memukul lengannya pelan. Laki-laki itu mengacak rambut Surin dengan gemas membuat rasa lelah yang gadis itu rasakan disekujur tubuhnya seolah hilang begitu saja.

 

Surin langsung memeluk lengan Sehun dan menyandarkan kepalanya disana sementara punggungnya bersandar pada kursi kerjanya. “Jangan pikir kau bisa bermalas-malasan, ya. Cepat selesaikan pekerjaanmu.” Sehun menyentil dahi gadisnya itu membuat Surin langsung pura-pura mengaduh kesakitan.

 

“Tapi aku kan masih ingin berindu-rindu ria denganmu.”

 

Sehun tertawa akibat ucapan Surin yang menurutnya sangat lucu. “Berindu-rindu ria itu bahasa apa? Tadinya aku kesini hanya ingin memberimu pizza dan cola ini. Tapi menontonmu tidur itu adalah kegiatan yang sangat menyenangkan dan aku tidak ingin melewatkannya barang satu detikpun.” Sehun berujar seraya mengambil satu kotak berisi pizza juga dua kaleng cola dari meja yang berada dibelakang kursinya dan Surin.

 

Surin langsung memandang Sehun dengan tatapan terharunya. “Kau memang paling pengertian.” Ujar Surin kemudian hendak membuka kotak pizza tersebut namun Sehun buru-buru memindahkannya ke meja sebelah membuat Sehun mendapatkan tatapan tidak terima dari Surin.

 

“Selesaikan dulu pekerjaanmu. Kau harus membuat artikel kan? Setiap kau berhasil menulis satu paragraf, kau boleh mendapatkan satu suap.” Sehun melipat tangannya didepan dada sementara Surin masih menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

 

“Persyaratan macam apa itu? Kau tahu sendiri aku sampai bisa tertidur seperti tadi itu karena aku benar-benar sudah kehabisan ide untuk menulis artikel. Memangnya kau tidak kasihan padaku? Memangnya kau tidak kasihan pada pizza itu? Kalau tidak segera dimakan kan nanti jadi dingin.” Surin mengeluarkan suara rajukannya yang selalu berhasil membuat Sehun luluh, namun kali ini laki-laki itu sudah menyiapkan hatinya untuk lebih kuat sehingga kini ia hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk menanggapi rajukan Surin.

 

Sehun memegang kedua tangan Surin kemudian meletakannya diatas keyboard komputer kerjanya. “Selesaikan atau tidak ada pizza untukmu.”

 

Surin ingin sekali memukul Sehun dengan keyboard yang ada dibawah tangannya sekarang ini namun perasaannya untuk laki-laki yang kini tengah menatapnya dengan senyuman juga dua buah lengkungan berbentuk bulan sabit pada masing-masing matanya, terlalu besar sehingga Surin hanya menghela napas dan mulai melakukan sedikit pemanasan pada jari-jari tangannya.

 

Surin baru saja mengetikan satu kata pada keyboard tersebut, namun kini ia sudah kembali menatap Sehun dengan tatapan sendunya. Sehun hanya menggeleng, lalu mengarahkan dagunya pada komputer Surin membuat gadis itu ingin sekali menangis. Hanya tawa yang terdengar dari Sehun ketika Surin pura-pura merengek.

 

Surin mengambil napas sambil sekali lagi melakukan pemanasan pada jari-jari tangannya membuat Sehun tertawa kecil melihat tingkah gadisnya itu. Surin mulai menulis, tapi sesekali ia melirik Sehun yang kini duduk disebelahnya sembari meletakan siku tangannya di atas meja kerja Surin. Sehun memangku dagunya sendiri sambil terus memperhatikan Surin yang kini terlihat sangat fokus. Sesekali laki-laki itu tertawa karena Surin berhenti sebentar, untuk melihat wajahnya, lalu kembali menulis.

 

“Aku sudah tahu bahwa aku sumber inspirasimu.” Gurau Sehun membuat Surin langsung memandang laki-laki itu lagi sambil tersenyum. Sehun benar-benar menggemaskan, dan kata-katanya barusan harus Surin akui adalah sebuah kebenaran yang nyata. Laki-laki tampan itu memang selalu akan menjadi sumber inspirasi bagi Surin, sampai-sampai Surin yang merasa otaknya sudah buntu kini dengan mudah menemukan jalan kembali. Dan semua itu pasti karena senyuman manis Sehun kala ia terus memperhatikan dirinya. Atau karena rambut hitam Sehun yang terlihat sangat lembut. Atau karena kedua matanya yang menenangkan. Atau karena saat ini Sehun tengah mengenakan kemeja sederhana dengan kancing yang tidak sepenuhnya tertutup sehingga memperlihatkan tulang selangka yang terletak dibawah lehernya.

 

Tidak, tidak. Surin tidak boleh berpikiran yang macam-macam. Entahlah, semua yang ada pada diri laki-laki itu memang selalu berhasil membuat otak Surin bekerja lebih cepat.

 

Surin menekan tombol titik pada keyboard, dan selesailah paragraf pertamanya pada artikel yang sedang dibuatnya. “Wow, aku bahkan tidak percaya aku bisa menyelesaikan satu paragraf. Mengapa setiap melihatmu aku jadi kebanjiran ide, ya? Sekarang aku bisa mendapatkan pizzanya, kan?” Sehun lagi-lagi hanya tertawa seraya membuka kotak pizza yang ada dihadapannya.

 

“Tentu saja, gadis bawel. Buka mulutmu.” Surin membuka mulutnya ketika Sehun mengarahkan satu potong pizza kearah mulutnya. Baru saja Surin akan melakukan gigitan yang kedua pada pizza yang sangat lezat itu, Sehun menarik pizza tersebut dan meletakannya kembali didalam kotak. “Hanya satu gigitan per-paragraf, Jang Surin.” Ujar Sehun kemudian dia meminum colanya sendiri sementara Surin sudah menatapnya dengan tidak terima.

 

“Apa-apaan? Itukan pizza-nya banyak. Harusnya satu potong per-paragraf. Kalau satu suap saja aku tidak ada tenaga untuk—”

 

Ucapan Surin terpotong begitu saja dan detik berikutnya otak Surin dapat mencerna apa yang sekarang terjadi padanya. Pada rasa yang kini hinggap pada bibirnya. Rasa itu adalah rasa cola yang baru diminum oleh Sehun. Surin membelakan matanya ketika ia melihat kini kedua mata Sehun tengah tersenyum padanya, sementara bibir Sehun masih tertempel sempurna pada bibir Surin.

 

“Satu kecupan dan satu gigitan pizza per-paragraf. Setuju?”

 

Sehun berujar dalam jarak mereka yang kini benar-benar dekat. Surin bahkan dapat merasakan ujung hidungnya masih bersentuhan dengan ujung hidung Sehun yang lancip dan hal tersebut sukses membuat perut Surin terasa digelitik oleh sesuatu, terutama ketika kini kedua matanya tidak bisa terlepas dari kedua manik mata berwarna cokelat pekat milik Sehun yang seolah tengah tersenyum lembut padanya. Surin tahu ia kini sudah benar-benar tersihir, sampai akhirnya Sehun kembali pada posisi duduknya semula. Tangannya terlipat didepan dada, dan tawa kecilnya langsung dapat Surin dengar. Tawa yang ditujukan untuk Surin yang salah tingkah ditempat karena perbuatannya barusan.

 

“Cepat lanjutkan.” Pinta Sehun dan entah mengapa kini Surin hanya menurut sambil mulai mengetikan paragraf keduanya. Ide terus membanjir dalam otaknya, dan Surin benar-benar tidak mengerti mengapa tangannya dapat menari dengan cepat diatas keyboard itu seperti sekarang ini. Sehun hanya mengangguk puas melihat Surin yang tanpa jeda mengetikan kalimat-per-kalimat pada artikelnya.

 

Tanpa Surin sadari tangannya sudah menekan tombol titik untuk mengakhiri paragraf tersebut dan terdengarlah tepuk tangan dari Sehun. Ah, seharusnya Surin tidak mengetik paragraf tersebut dengan kecepatan kilat seperti tadi. Surin merasa jantungnya belum benar-benar siap dengan apa yang akan terjadi padanya sebentar lagi.

 

“Kalau seperti ini kan kerjanya jadi lebih cepat.” Ujar Sehun seraya menyodorkan sepotong pizza pada Surin yang langsung menggigitnya. Surin mengunyah pizza tersebut dengan lambat sementara ia dapat melihat sekarang ini Sehun tengah memperhatikannya sambil tersenyum jahil.

 

“Berhentilah menjahiliku, Oh Sehun. Kau benar-benar menyebalkan.” Surin memukul lengan Sehun dengan pelan sementara senyuman jahil yang bertengger pada wajah Sehun belum juga hilang. Sehun hanya suka melihat Surin yang salah tingkah. Baginya, itu benar-benar sangat menggemaskan.

 

“Sudah, yang cepat saja mengunyahnya.” Sehun berujar jahil dan seketika wajah Surin langsung memerah. Surin menangkup pipinya sendiri, bermaksud agar Sehun tidak dapat melihat warna merah itu namun terlambat karena kini Sehun sudah mendekatkan tubuhnya kearah Surin seraya tersenyum manis. Sehun mempertahankan posisi mereka, memandangi wajah Surin yang begitu dekat dengan wajahnya sementara gadis itu masih menangkup kedua belah pipinya yang semakin memerah.

 

Sehun kembali mengecup bibir Surin membuat jantung Surin seakan dipacu jauh lebih cepat dengan begitu saja. Sehun kemudian tertawa seraya mengacak rambut gadisnya itu dengan gemas.

 

“Kau benar-benar lucu, Surin-a.”

 

“Kau benar-benar menyebalkan.”

 

“Aku tahu kau suka.”

 

Surin langsung memukuli lengan Sehun yang sibuk menghindar sambil tertawa.

 

“Ampun, ampun. Itu sakit, Surin-a. Sudah lanjutkan saja paragraf ketigamu. Kalau kau berhasil menyelesaikan paragraf yang ketiga ini, aku akan memberimu satu potong pizza.” Ujar Sehun membuat Surin mendengus. “Sedari tadi memang harusnya seperti itu.” Protes Surin namun gadis itu kini sudah kembali meletakan tangannya diatas keyboard dan setelah menarik napas, berharap jantungnya yang masih berdebar itu lebih tenang sedikit, Surin sudah memulai kalimat pertamanya pada paragraf ketiga tersebut.

 

Tangannya terus menari dengan cepat diatas keyboard tersebut, namun seketika ia ingat akan fakta bahwa jika ia menyelesaikan paragrafnya dengan cepat begitu saja, itu artinya akan dengan cepat juga adegan-adegan sebelumnya terulang kembali. Surin rasa jantungnya belum benar-benar pulih akibat dua kecupan yang diberikan Sehun pada bibirnya beberapa menit yang lalu sehingga kini Surin memperlambat ketikannya pada keyboard komputer tersebut.

 

Namun sialnya ide terus mengalir diotak Surin, membuatnya tidak berpikir dua kali untuk menulis sebuah kalimat dan tanpa ia sadari, ia sudah tiba pada kalimat terakhirnya untuk paragraf tersebut. Surin berhenti untuk sesaat, namun ia tahu Sehun saat ini tengah memperhatikannya.

 

“Tulis saja apa yang ada diotakmu. Jangan ditahan dan diperlambat seperti itu.” Sehun mulai membetulkan posisi duduknya, bersiap-siap karena Surin sudah sampai pada kalimat terakhirnya untuk paragraf ketiga tersebut.

 

Surin hanya perlu menekan tombol titik, dan gadis itu rasa ia tidak bisa lagi menahan debaran jantungnya yang berlebihan sehingga kini tanpa aba-aba ia bangkit berdiri dari duduknya, membuat kursinya terdorong cukup jauh kebelakang. Sehun langsung menatapnya dengan tatapan bertanya-tanya.

 

“A-aku rasa aku harus ke toilet dulu.” Ujar Surin ditengah-tengah rasa gugup yang melandanya. Surin tidak mengerti mengapa ia berlebihan seperti sekarang ini padahal baik dirinya maupun Sehun tahu, hal tersebut bukanlah yang pertama kali dalam hubungan mereka. Namun tetap saja setiap kali Sehun melakukan hal tersebut, Surin merasa jiwanya lenyap begitu saja sehingga kini ia rasa dirinya butuh ruang untuk bernapas lega terlebih dahulu.

 

Sehun hanya tertawa melihat Surin yang kini berdiri sambil kebingungan. Sehun bangkit dari tempat duduknya kemudian memegang masing-masing siku tangan Surin, membuat gadis yang sudah larut dalam debaran jantungnya yang keras itu berjalan mundur namun ia malah berakhir terduduk diatas meja kerjanya sendiri, juga diatas kertas-kertas dokumen yang seharusnya dirapikannya lebih dulu. Sehun yang kini berdiri dihadapan Surin dengan jarak yang sangat dekat menyelipkan rambut Surin kebelakang daun telinga gadis itu.

 

“Kau tinggal perlu menekan tombol titik ini, kan?” Sehun menekan tombol titik pada keyboard komputer yang terletak disebelah Surin, dan tidak lama kemudian Sehun sudah meletakan kedua tangannya untuk melingkari pinggul gadis itu. Sehun menempelkan dahinya pada dahi Surin yang kini sudah benar-benar salah tingkah, membuat senyuman kecil terulas pada bibir Sehun.

 

“Aku merindukanmu, Surin-a.” Sehun mengecup lembut sebelah kelopak mata Surin yang sudah tertutup. Surin rasa hatinya luluh begitu saja ketika mendengar Sehun menyebut namanya dengan suara seraknya yang khas.

 

Dan dengan sangat perlahan Sehun pun mendaratkan bibirnya pada permukaan bibir gadisnya itu.

 

Hanya suara dari alat pendingin ruangan, juga suara debaran jantung keduanya yang mengisi ruang kantor tersebut.

 

Surin sampai merasa jantungnya benar-benar berdebar dengan kecepatan yang sangat maksimal, segerombol kupu-kupu datang begitu saja untuk menggelitik perutnya, dan otaknya terasa beku, terutama ketika Sehun mempererat pelukan tangannya pada pinggul Surin, membawa gadis itu lebih dekat pada tubuh laki-laki itu.

 

Surin membiarkan kedua tangannya melingkari leher Sehun dan bertengger pada kedua bahu Sehun yang lebar sementara laki-laki yang selalu bisa membuat tubuh Surin terasa lumpuh dengan seketika itu masih menarikan bibirnya diatas bibir Surin. Gerakannya lembut dan perlahan-lahan namun begitu penuh penekanan, seolah memerintahkan Surin untuk membalas dengan irama yang sama dalam bahasa yang tidak dapat Surin ungkapkan. Surin bahkan dapat merasakan sedikit rasa cola dari bibir laki-laki itu, membuat tubuhnya terasa lemas dengan seketika. Surin tahu Sehun tersenyum ditengah-tengah tautan bibir mereka, terutama ketika laki-laki itu tidak sengaja menggigit bibir bawah Surin, membuat gadis itu langsung memukul lengannya keras, dan dalam hitungan detik tautan bibir mereka bergantikan dengan semburan tawa dari keduanya.

 

“Maaf, tidak sengaja.” Ujar Sehun dan Surin rasa hatinya terasa diacak-acak dengan begitu saja, terutama ketika Sehun kini malah mengecup dahinya dengan penuh rasa sayang.

 

“Aku ingin berterima kasih pada sekotak pizza dan dua buah kaleng cola itu yang sudah mengirimmu kemari ditengah-tengah setumpuk pekerjaanku.” Surin berujar dan Sehun hanya tersenyum sambil mengelus rambut kekasihnya itu lambat-lambat. Surin yang tengah kelelahan dan kurang tidur saja tetap cantik dimata Sehun. Kedua belah pipinya yang masih memerah seperti warna tomat matang berhasil membuat Sehun seolah jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya.

 

Sehun langsung mengecup warna merah yang hinggap dikedua belah pipi Surin membuat gadis itu tertawa kecil karena merasa geli. “Tidak berterima kasih juga padaku yang sudah menjadi sumber idemu?” Ujar Sehun dengan nada suaranya yang terdengar sangat jahil membuat gadis yang berada dihadapannya sekarang ini tertawa sambil memukul lengannya dengan pelan.

 

Surin menangkup kedua belah pipi Sehun kemudian menatap mata laki-laki itu lekat-lekat. “Terima kasih, Oh Sehun yang menyebalkan, yang sering mencari kesempatan dalam kesempitan, dan yang adalah sumber penyemangat juga ide bagi otakku yang sudah buntu.” Sehun tertawa mendengar ucapan Surin barusan. Sebenarnya dalam hati, laki-laki itu merasa senang juga sedikit tersanjung. Hanya saja ia tidak ingin Surin melihat hal tersebut.

 

“Sekarang kau boleh makan pizza itu sepuas yang kau mau. Dihabiskan semua sampai kotak-kotaknya juga boleh.” Gurau Sehun dan Surin yang kini tertawa sudah memeluk tubuh laki-laki itu. Surin merasa tidak peduli lagi jika saat ini ia benar-benar sudah bermenit-menit lamanya menduduki dokumen-dokumen kerjanya. Surin hanya ingin memeluk Sehun, bahkan gadis itu merasa tidak keberatan jika harus memeluk Sehun sampai besok pagi. Surin langsung mengulas sebuah senyuman diwajahnya ketika tidak berapa lama kemudian Sehun membalas pelukannya dengan erat.

 

“Aku rasa memelukmu lebih enak daripada rasa pizza itu.” Surin mendongakan kepalanya dan mendapati kekasihnya itu sudah tersenyum senang menanggapi ucapannya barusan. Sehun buru-buru mengecup ujung hidung Surin kemudian mereka berdua pun langsung tertawa kecil.

 

“Aku rasa aku tidak menyesal sama sekali karena telah merelakan rencana kita untuk menonton film. Menemanimu mengerjakan tugas-tugasmu disini jauh lebih menyenangkan.” Timpal Sehun dan kini mereka sudah kembali berpelukan, pelukan yang panjang, seolah mereka sudah begitu lama tidak bertemu satu sama lain padahal setiap pagi Sehun selalu tidak lupa untuk memeluk Surin terlebih dahulu sebelum gadis itu benar-benar masuk kedalam gedung kantornya.

 

Baik Sehun maupun Surin sebenarnya tahu bahwa bahkan setumpuk pekerjaan pun tidak akan bisa menjadi penghalang mereka untuk menghabiskan waktu berdua.

 

 

-FIN.

 

I really lost my control writing this one:))) hanya tebusan dari ff Ours untuk pembaca tercinta. Pada suka kaaaan?

P.s. ini adalah efek dari kecintaan saya yang meletup-letup setiap liat Oh Sehun dengan kemeja sederhananya TuT ❤

 

 

Advertisements

11 comments

  1. rahsarah · August 28, 2017

    aaaaa udah lama banget rasanya baca fluffy kisah mereka ber 2 ini wkwkwk efek ours yg kmren mash melekat ahahaha
    super gemes kesayangann kalo lagi lovey dovey begini.. si sehun tuh emang ya sumber inspirasi terbesar surin bangett dah, udh gtu dapet bonusnya banyak banget lagi HAHA *maujugadong (?) lahhh
    klo setiap kerjaan didampingin sehun mulu dijamin lolos dari omelan bos hahaha tapi baebae tar bosnya kepincut sama sehun hahahah

    • Oh Marie · August 29, 2017

      HALO KAK SARAAAAAH ❤
      Kak cepet banget sih kak langsung komen lagi bikin aku terharu pake banget banget bangetttt:")
      Makasih banyak ya kak sarah udah mau meluangkan waktunya untuk baca dan komeeeen! Seneng deh kalo ternyata gemesnya tersampaikan dengan sangat baik HIHIHIHI.
      Fix ya Surin sih enak banget didampingin Sehun pas lagi sibuk sibuknya plus bonus pula ya deuuuh:"))
      Sekali lagi makasih ya kak sarah buat komennyaaa! Seneng banget!
      See you on the next ff ❤

  2. ahnnncs · August 29, 2017

    Aww aww awww
    Sehun bikin hati aku melt aja dehh hahaha
    Jangan gtuh dong hun aku yg bacanya jadi baper banget nihh
    Emang bener deh kata surin, sehun tuh sumber inspirasi bamget. Aku juga tiap lg bt atau gabut pasti liat foto sehun haha
    Luv sehun surin💜 dan sang author💜

    • Oh Marie · August 29, 2017

      HALO ANGIEEEEE ❤
      Makasih ya buat waktunya udah sempetin baca dan tidak lupa untuk meninggalkan jejak manis kayak giniiii! Seneng banget liat kamu di notifikasi komen!
      Sehun emang bakatnya bikin baper anak orang nih huhuhu serbu dia serbu!!
      Iya, aku juga sama HAHAHA. Sehun sumber inspirasi semua gadis diluar sana kayaknya mah yah:") ❤
      Aw aw awww, luv Angie juga! Sekali lagi makasih buat komennya yaaa!
      See you on the next ff ❤

  3. northpole · August 29, 2017

    Ya Allaaaaaaah, wakakkakakakakakakak ini ff top markotop dah paling juara kayaknya wakakakkaka
    Suka pake banget, idenya sederhana tapi kok bisa bikin ngikik sendiri dan bapernya another level, walopun sebenernya semua ff sehun-surin pasti selalu bikin galau tapi yg ini beneran deh juara hahahahha soalnya ak juga sering bgt lembur, coba kalo lemburnya macam surin begini haduuuuh rela deh tiap sabtu masuk juga 😛

    Btw hati2 lho surin kena SP mesra2an sama pacar di kantor, kali ada cctv dan security yg iseng hahahahhah

    Super makasih ya sudah mengobati hati shipper sehun-surin ini huehehhehe #apaituOURS #alhamdulillahsudahmoveon

    Daaaan, selamat menikmati waktu luang yg tersisa untuk menulis di sini sebelum nantinya sibuk menulis laporan kuliah hihihi!

    • Oh Marie · August 29, 2017

      NORTHPOLE SUNBAEEEEEEE!!! ❤ ❤
      Seneng banget dapet early comment HUHUHU sampe gabisa berenti senyum aku tuh. Makasih banyak ya udah mau sempetin baca, dan bahkan ninggalin komen panjang super manis lebih manis dari Sehun ini HAHAH. Iya banget, ini idenya sangat sederhana makanya aku bersyukur banget kalo manisnya ff ini tersampaikan dengan baik ke sunbaeee!
      Kok jadi manggil sunbae ya astaga HAHAHA.
      Northpole sunbae semangat ya kerjanya! Nanti Sehun tau-tau didepan kantor kan siapa yang tau #iyaaja

      ASTAGAAAAA jangan dong huhuhu kasian Surinnya udah diomelin didalem mimpi eh kena SP pula besoknya:") nanti aku kasih tau supaya ati-ati lagi deh(?)

      Super makasih lagi juga buat komen manis ini yang berhasil bikin aku move on dari Ours:""")) ❤ ❤

      Wajib stay tune untuk next project! See yaaaaa ❤

  4. Zaaaaoh · September 5, 2017

    Ahhhh. Back again 😆😆 suka banget ini tuuuu ya ampun 😘 sehun why so loveable sih, ga baik buat hati gue ini mah 🙂
    Gue jga mau dong kalo nugas didatengin sehun :v wkwkw sayangnya ga bakal pernah yak 😁
    Masih degdegan aja abis ngeliat sehun kmaren di mubank ❤ ganteng banget ya ampun. So gemay and kiyowo wkwkw
    Jangan bosen bikin yg fluffy fluffy karena this is so good really 😍 love sehun with all of my heart wkwkw. Ditunggu karya kamu yg lainnya 😆 aku bakalan baca ulang ulang ini mah fix 😊

    • Oh Marie · September 5, 2017

      HALOOOOOOO KANGEN SEKALI LIAT KOMEN KAMU HUHUHUHU ❤
      Makasih ya udah mau mampir lagi dan baca lagiiiii! Super seneng liat kamu lagi di notifikasi komen HUHUHU.
      AAAAA nonton mubank juga ya? Harusnya kemarin ketemu;;
      Iya astaga ganteng banget tobat deh dia mah gantengnya udah level atas T_T ❤

      Astaga manis banget komentarnyaaaa. Makasih ya udah mau nyempetin baca dan komen! Seneng deh kalo kamu suka sama ff iniiii! See you on the next ff :p ❤

      • Zaaaaoh · September 6, 2017

        Sayang sekali kita ga bisa ketemu 😂😂😂 padahal pengen ngobrol banyak sama kamu wkwkww

  5. hiairlondon · December 17

    Ff nya bagus banget 😍😍😍😍😍😍😍😍😍 Penulisannya rapi, feelnya juga dapet banget. Sampai rasanya kayak gimana gitu pas baca ini 😆😆 Ini bakal jadi salah satu ff yang paling aku suka >< !

    Hangat banget karakter Sehunnya, juga Surin nya bikin gemes.. Suka banget sama mereka.

    Oh ya kak, ini pertama kalinya berkunjung di blog kakak. Tadi ga sengaja ketemu ff nya kakak yang ' morning routine ' di google . Dari situ aku suka dan coba buka lebih jauh blognya kakak.. Ini ff kedua yang aku baca dan beruntung banget bisa baca..

    Karena ini komen pertamaku, jadi salam kenal ya kak.

    Aku izin mau baca ff yang lain nantinya.. Selamat buat ff yang lain kak.

    Semangat!

    ❤❤❤❤❤

    • Oh Marie · February 5

      HOLAAAAAAA! AKU SENENG BANGET DAPET READER BARUUUUUU. Astaga meskipun ini komen udah lama banget tapi makasih banyak ya! Makasih banyak udah ninggalin komen super manis ini! Makasih banyak juga karena mau menyempatkan waktu kamu untuk mampir dan bacaaaa!

      Sering-sering main kesini ya! ❤❤❤❤❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s