Ours

005FJ3HNgy1fhd4pg3ar0j30wt1d87pt

Warning: plot twist. Happy reading!

**

 

“Jang Surin, cepat!” Seru seorang laki-laki berkemeja hijau tua, meneriaki Surin yang kini tengah berjalan terburu-buru menuju pagar utama rumahnya. Surin mengunci pagar rumahnya dengan kecepatan kilat, dan laki-laki yang kini berada didalam mobil sedan itu dapat melihat dengan jelas bahwa Surin mengenakan baju terusan berwarna hijau pastel sederhana membuat laki-laki itu tersenyum senang setelah Surin berhasil menempatkan diri dikursi penumpang yang ada disebelahnya dan dengan sibuk langsung mengenakan sabuk pengaman.

 

“Memang kalau yang namanya jodoh pasti selalu ada saja kesamaannya. Kebetulan macam apa ini kita mengenakan baju berwarna senada seperti ini?” Laki-laki yang diketahui bernama Oh Sehun itu tertawa kecil sementara Surin hanya terkekeh. Laki-laki berbahu lebar itu memang selalu bisa membuat kedua belah pipi Surin memerah dalam waktu singkat bahkan hanya karena sebatas ucapannya saja. Dan hal tersebut sudah terjadi selama hampir lima tahun terakhir, kalau dihitung menggunakan umur hubungan mereka berdua sebagai sepasang kekasih.

 

“Oh Sehun, aku membuat design pakaian yang baru. Jimi membantuku kemarin. Menurutmu bagaimana?” Surin, gadis berambut panjang dengan warna hitam pekat itu menyerahkan sketch booknya pada Sehun yang kini sudah mengambil alih buku tersebut.

 

“Ini sangat brilian, Jang Surin. Aku rasa kita benar-benar bisa menaikan tingkat pendapatan kita hanya dalam waktu musim panas ini.” Sehun menyerahkan kembali buku tersebut membuat Surin tersenyum senang.

 

“Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita segera ke tempat biasa untuk mencari bahan. Aku tidak sabar meluncurkan katalog pakaian edisi musim panas di website kita.” Surin berseru girang membuat Sehun mengangguk dengan tidak kalah bersemangat. Sehun langsung menjalankan mobilnya dijalanan Seoul yang ramai.

 

Seperti itulah kegiatan mereka disamping menjalani kehidupan kuliah mereka masing-masing yang sudah hampir selesai. Sehun dan Surin bekerja sama membangun sebuah toko pakaian online yang mereka beri nama Love Store. Love Store sendiri berdiri sudah dari tiga tahun yang lalu, tepatnya setelah Sehun dan Surin lulus dari sekolah menengah atas mereka dan hendak masuk ke dunia perkuliahan yang sekarang ini mereka jalani.

 

Sedari kecil Surin menaruh minat pada hal merancang pakaian. Cita-cita terpendamnya memang adalah designer yang bekerja di dunia fashion sedari ia masih kecil. Hanya saja kenyataan memang selalu berakhir menyimpang dari apa yang manusia inginkan dan rencanakan, dan Surin yakin itu adalah hal yang paling terbaik. Surin berujung mengambil jurusan komunikasi untuk program sarjananya.

 

Banyak faktor yang membuatnya memilih untuk menekuni jurusan komunikasi dibandingkan jurusan tata busana, salah satunya adalah hasil tes perguruan tingginya tiga tahun yang lalu, yang menggolongkannya di jurusan komunikasi. Namun Surin tidak menyesal karena sebenarnya disamping cita-cita dan tekad besarnya untuk menjadi designer pakaian, Surin memiliki cita-cita lain yaitu menjadi seorang pembawa berita ditelevisi atau seorang kreatif manajer disebuah perusahaan majalah ternama.

 

Lain dengan Surin, Sehun berhasil masuk dijurusan yang memang benar-benar ia inginkan yaitu arsitektur. Sehun memang sudah menaruh minatnya pada bidang arsitektur sedari ia masih sangat kecil. Bahkan cita-cita Sehun saat ia duduk dibangku taman kanak-kanak sampai sekarang pun masih tidak berubah yaitu ia ingin menjadi seorang arsitek. Sehun adalah penerus dari perusahaan property yang dimiliki keluarganya, jadi wajar saja jika sedari kecil Sehun sudah diperkenalkan dengan hal-hal yang berbau arsitektur sehingga laki-laki itu pun memiliki minat besar pada bidang arsitektur.

 

Sehun, yang adalah kekasih Surin sedari mereka duduk dibangku kelas dua sekolah menengah atas tidak ingin Surin melupakan cita-citanya begitu saja.

 

Sehun menyarankan sebuah ide pada Surin agar ia membuka toko onlinenya sendiri untuk design pakaian yang selama ini ia buat. Sehun bahkan membantu Surin mencari bahan untuk diproduksi, membantunya menemukan pabrik jahit rumahan yang mengolah bahan mentah itu menjadi pakaian yang sudah Surin rancang, dan membantunya membuat website.

 

Awalnya memang rencananya toko online itu untuk Surin, namun Surin berkata bahwa akan lebih baik apabila toko itu milik mereka bersama, mengingat Surin tidak akan mampu menjalaninya sendiri. Surin sendiri tahu bahwa yang membuatnya percaya diri akan design-design pakaian yang dibuatnya adalah Sehun. Sehun memiliki penglihatan dan selera fashion yang sangat baik, dan Surin yakin apabila mereka bekerja bersama hasilnya akan jauh lebih baik.

 

Surin pun langsung memberikan konsep pada website yang Sehun buat. Surin ingin membuat pakaian khusus untuk sepasang kekasih, karena menurutnya pasangan-pasangan yang ia temui diluar dengan pakaian bermodel sama terlalu membosankan dan terkesan norak. Surin ingin membuat pakaian ‘couple’ dengan model yang berbeda untuk masing-masing dari laki-laki dan perempuan namun tetap satu konsep.

 

Setelah Surin menyuarakan idenya tersebut, Sehun langsung menamai toko online mereka dengan nama Love Store. Awalnya Surin sangat tidak setuju karena nama itu tidak menarik dan biasa saja, namun kalau dipikir-pikir lagi nama itu memang cocok dengan konsep pakaian yang akan Surin dan Sehun pasarkan.

 

Sahabat mereka, Baekhyun dan Jimi yang juga adalah sepasang kekasih, sering membantu mereka berdua. Jimi seringkali memberi saran mengenai design yang Surin buat, lalu jika Baekhyun sedang ada waktu luang, ia akan selalu siap sedia menjadi fotografer Sehun dan Surin. Ya, untuk menghemat biaya, Sehun dan Surin memilih untuk menjadi model pakaian mereka sendiri ketimbang menyewa model lain. Jika Baekhyun sedang tidak bisa, Sehun lah yang bertugas menjadi fotografer sekaligus model. Dengan bantuan tripod atau alat penyanggah kamera yang berkaki tiga, mereka masih dapat melakukan sesi pemotretan meskipun hanya berdua tanpa seorang fotografer.

 

Lalu jadilah Love Store, toko online yang sudah memiliki pembeli diseluruh penjuru Seoul, bahkan sampai keluar kota, dan tidak jarang juga pengiriman dilakukan sampai keluar pulau, seperti Jeju. Sehun dan Surin belum berani memasarkannya sampai keluar negeri meskipun permintaan dari luar begitu banyak, karena mereka sendiri menggunakan pabrik jahit rumahan yang memiliki batas produksi untuk setiap designnya.

 

Itu mengapa jika Love Store sudah mengeluarkan katalog baru, semua produk langsung terjual dalam waktu kurang lebih tiga hari dengan pesanan yang membanjir.

 

Hasil dari penjualan pakaian-pakaian tersebut Sehun dan Surin tabung disebuah rekening mereka bersama untuk membeli sebuah rumah yang akan mereka tinggali bersama setelah mereka menikah nanti.

 

Sehun dan Surin tahu bahwa target mereka ini memang terdengar sulit untuk digapai. Namun mereka sama-sama sudah bertekad bahwa mereka tidak ingin menggunakan uang orangtua mereka untuk membeli rumah yang akan menjadi tempat tinggal mereka berdua sampai mereka tua nanti.

 

Sehun dan Surin juga tahu bahwa jika hanya mengandalkan Love Store, mereka tidak akan dapat mengejar kekurangan dari jumlah uang yang mereka butuhkan sementara rencana pertunangan dan pernikahan mereka akan dilakukan satu tahun lagi dari sekarang, sesuai dengan permintaan kedua orangtua mereka masing-masing.

 

Itu sebabnya Sehun dan Surin tidak ingin bermain-main selama menjalani pendidikan mereka. Sehun dan Surin sudah hampir berhasil mencapai target mereka untuk bisa lulus kuliah dengan waktu tiga tahun. Selepas mereka menyelesaikan tugas akhir mereka sebagai mahasiswa dan mendapatkan gelar mereka tepatnya satu bulan lagi, Sehun dan Surin akan langsung bekerja. Sehun bekerja diperusahaan milik keluarganya, sementara Surin sudah direkrut oleh sebuah perusahaan majalah fashion ternama untuk bekerja dibidang tim kreatif.

 

Hasil dari mereka bekerja dan hasil dari Love Store akan dikumpulkan bersama untuk membeli sebuah rumah yang sudah mereka targetkan.

 

Klasik? Memang. Sehun dan Surin memang merupakan pasangan kekasih yang klasik.

 

Tapi justru itulah yang mempererat hubungan mereka berdua. Seolah mereka sama-sama bertanggung jawab akan sebuah mimpi besar. Dan mereka pun benar-benar bertekad untuk bekerja sama guna mencapai mimpi tersebut. Mimpi yang adalah satu pencapaian besar untuk mereka, dan untuk hubungan mereka.

 

**

 

Love Store

Summer Edition

Vol. 1

(Check our Instagram for details)

y

yy

yyy

 

Surin yang kini tengah memegang segelas cokelat panas mendudukan dirinya disofa ruang tamu apartment Sehun setelah sebelumnya ia meletakan segelas cokelat panas lainnya untuk laki-laki itu. Sementara Sehun yang kini terduduk dilantai sambil terus mematutkan perhatiannya pada laptop yang ada dihadapannya hanya menggumamkan kata terima kasih kemudian menyesap cokelat panas itu dan kembali terfokus pada aktifitasnya menyusun katalog pakaian musim panas di website pribadi toko online milik mereka.

 

Surin memeluk leher Sehun dari belakang sementara laki-laki itu hanya tersenyum kecil. “Jangan lupa belajar untuk sidang akhirmu nanti. Jangan terlalu sibuk dulu dengan urusan toko.” Surin berujar membuat Sehun mengangguk-angguk mengerti. Tiba-tiba notifikasi ponsel mereka langsung penuh dengan pesanan setelah beberapa menit lalu Sehun resmi meluncurkan katalog pakaian musim panas di website Love Store.

 

Surin baru saja akan mengambil ponselnya untuk meladeni pesanan-pesanan yang datang, namun Sehun menahan lengannya. “Pesanan-pesanan itu bisa menunggu. Tetaplah seperti ini. Belakangan ini baik kau dan aku terlalu sibuk dengan urusan kuliah dan toko, sampai-sampai aku lupa rasanya dipeluk seperti ini olehmu.” Ujar Sehun dengan nada suara yang terdengar setengah merajuk.

 

Surin hanya tersenyum seraya menempelkan dagunya dipuncak kepala Sehun. “Sehun-a, kau sadar tidak, sih kalau Baekhyun dan Jimi akan bertunangan dua bulan dari sekarang? Aku tidak percaya waktu begitu cepat sekali berjalan. Rasa-rasanya baru kemarin Jimi menceritakan bahwa ia jatuh cinta pada seseorang yang seringkali memberikan tempat duduk untuknya dikereta.” Sehun tertawa mendengar ucapan Surin barusan.

 

“Betul sekali. Rasanya baru kemarin juga aku terkejut karena mengetahui orang yang Jimi ceritakan padamu itu adalah temanku sendiri, Byun Baekhyun.” Sehun tertawa kecil seraya memegang kedua tangan Surin yang tengah melingkari lehernya.

 

“Surin-a.”

 

“Ya?”

 

“Aku jadi tidak sabar menanti apa yang akan terjadi pada kita tahun depan. Memang masih jauh, tapi aku janji aku akan bekerja jauh lebih keras dari sekarang untuk membuat semua rencana kita tahun depan berjalan lancar.” Surin tersenyum mendengar tuturan tulus dari kekasihnya itu.

 

“Kalau begitu, lepaskan tanganku sekarang dan mari mulai urusi pesanan-pesanan yang masuk atau tidak kita akan kehilangan banyak pelanggan, Oh Sehun.” Tanggap Surin membuat Sehun tertawa. Sehun mendongakan kepalanya kemudian mengecup ujung hidung Surin dengan cepat.

 

“Aku bilang kan, pesanan itu bisa menunggu.” Sehun langsung menghujani permukaan wajah Surin dengan kecupan sementara Surin sibuk tertawa dan berusaha menghindar dari laki-laki berwatak jahil itu.

 

**

 

Sehun mengetikan sesuatu pada laptopnya dengan cepat dan sangat serius. Sesekali perhatiannya terbagi pada sebuah buku tebal yang kini tergeletak di meja kantin kampus, menampilkan halaman 173 buku tersebut. Caramel machiatto yang dipesannya beberapa jam yang lalu namun belum sempat diminumnya pun sudah mulai mendingin. Sidang akhir yang akan dihadapinya bulan depan benar-benar menyita semua tenaga dan pikiran sampai-sampai kini Sehun mulai memijat tengkuknya yang terasa begitu pegal.

 

Sehun meraih ponselnya dan untuk beberapa menit laki-laki itu asik meladeni pesanan pakaian yang terus datang ke kolom notifikasi ponselnya. Tidak lupa, laki-laki berbahu lebar itu mengirimi Surin sebuah pesan yang ternyata dengan cepat langsung gadis itu balas, membuat Sehun tersenyum kecil. Seketika rasa penat yang memenuhi otaknya terasa terangkat begitu saja.

 

Oh Sehun : Hoi

Oh Sehun : Cantik

Oh Sehun : Sedang apa?

Jang Surin : Hari ini dosenku tidak masuk, jadi aku pulang lebih awal dan sekarang aku sedang belajar sembari mengemasi barang-barang yang akan dikirim nanti sore. Ah, aku sudah menerima email pesanan hari ini yang telah kau konfirmasi. Aku juga akan mengemas pesanan-pesanan itu dan mengirimnya bersama pesanan yang kemarin.

Oh Sehun : Tidak perlu terburu-buru. Kalau begitu jam tiga sore nanti aku ke rumahmu, ya. Biar aku saja yang membawa pesanan-pesanan itu ke kantor pengiriman barang.

Oh Sehun : Kalau kau mau ikut tidak apa.

Oh Sehun : Aku tahu kau merindukanku, kan?

Jang Surin : Terserah kau saja, Oh Sehun.

Jang Surin : Jangan lupa makan siang dan sampai bertemu jam tiga nanti! Hehe.

 

Sehun tersenyum membaca pesan Surin yang terakhir. Baru saja Sehun akan meledeknya karena Surin terbukti merindukannya, seorang gadis duduk begitu saja dihadapan Sehun membuat laki-laki itu tersentak karena terkejut. Sehun mengernyit heran, memperhatikan gadis yang kini tengah tersenyum manis kearahnya.

 

“Bae Jihyun?”

 

Gadis itu meletakan dagunya ditelapak tangan kanannya kemudian terkekeh. “Iya, betul sekali, Oh Sehun. Ini aku Bae Jihyun yang semester tiga lalu bekerja bersamamu disebuah proyek tugas kelompok yang diberikan Dosen Kang. Aku dengar kau sudah akan menghadapi sidang akhir bulan depan? Aku sudah tahu dari awal bahwa kau memang hebat. Selamat. Sepertinya aku harus menunggu satu tahun lagi untuk menyelesaikan kuliahku.” Jihyun berujar dengan nada suara iri membuat Sehun tertawa kecil, menanggapi.

 

“Ah, aku dengar-dengar juga, kau dan kekasihmu memiliki sebuah toko online bersama?”

 

Sehun mengangguk seraya menyesap caramel machiatto-nya. “Iya, betul sekali. Hanya untuk sampingan saja, mengingat Surin gemar mendesign pakaian.” Jawab Sehun. Bae Jihyun tersenyum kemudian membetulkan posisi duduknya seraya menatap Sehun dengan serius.

 

“Aku bisa membantumu mempromosikan toko online itu.” Jihyun berujar, membuat Sehun langsung membelakan matanya, terkejut akan apa yang baru saja di dengarnya. Bae Jihyun ingin mempromosikan toko online-nya dan Surin? Apa ia baru saja bermimpi?

 

“Aku bisa membantumu untuk mempromosikan pakaian-pakaian itu di Instagram-ku, kalau kau mau.”

 

Sehun berpikir sejenak. Jadi ini yang sering Chanyeol sebut sebagai ‘usaha endorse’? Bae Jihyun adalah ambassador kampus dan ia juga merupakan model yang pernah muncul di majalah-majalah besar untuk mengiklankan pakaian dan produk lainnya. Jihyun bahkan pernah memainkan peran pendamping disebuah film layar lebar. Akun Instagramnya pun memiliki pengikut kurang lebih dua juta orang, dan gadis itu tidak pernah sekalipun menggunakan akun pribadinya itu untuk promosi produk.

 

Sehun tahu dampaknya bagi toko onlinenya dan Surin akan sangat besar, itu sebabnya diawal tadi Sehun tidak percaya bahwa Jihyun bersedia mempromosikan Love Store di akun Instagramnya. Sehun yakin pesanan akan jauh lebih membanjir, apalagi sekarang ini Love Store tengah mengeluarkan katalog baru khusus musim panas. Tapi kalau Sehun menyetujui hal ini, berapa banyak uang yang harus ia keluarkan?

 

“Hitung saja sebagai hadiah kelulusanmu dariku. Kau tidak perlu membayar sepeserpun. Bagaimana?” Ujar Jihyun seolah bisa membaca pikiran Sehun.

 

“Baiklah, aku setuju. Besok aku akan bawakan pakaian-pakaian dari katalog musim panas itu. Ah, aku bahkan membawa beberapa potong pakaian contoh dibagasi mobilku. Kau mau mengambilnya sekarang?” Sehun berujar antusias.

 

“Boleh saja. Tapi, aku tidak bisa melakukan sesi pemotretan itu sendiri. Aku butuh seorang fotografer.” Jihyun meletakan dagunya kembali ditelapak tangan kanannya sementara Sehun sibuk berpikir.

 

“Bukankah kau seorang yang ahli dalam hal ini? Kau ketua organisasi fotografi kampus, kan?” Sehun melirik tas kamera DSLR yang terletak diatas tas ranselnya, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Jihyun yang berada dihadapannya.

 

“Kalau mengenai hal ini, aku rasa aku harus merundingkannya dulu dengan Surin.” Jawab Sehun sementara Jihyun sudah menghela napasnya panjang.

 

“Aku rasa Surin tidak akan keberatan, mengingat semua ini untuk toko online itu juga. Kebetulan hari ini jadwalku kosong. Bagaimana kalau kita mulai pemotretannya hari ini saja?” Sehun memperhatikan ponselnya, berpikir panjang. Sehun melirik jam tangannya yang menunjukan pukul setengah satu siang.

 

“Baiklah, tapi aku hanya bisa sampai jam setengah tiga sore. Aku ada janji dengan Surin.”

 

“Tenang saja. Ayo, aku tahu café bagus untuk pemotretan.” Ujar Jihyun sementara Sehun membereskan barang-barangnya kemudian pergi bersama Jihyun untuk sesi pemotretan.

 

**

 

Surin memperhatikan Sehun yang kini duduk dihadapannya lambat-lambat. Saat ini mereka tengah makan malam disalah satu restaurant cepat saji yang letaknya tidak jauh dari rumah Surin. Sehun sibuk dengan ponselnya, dan Surin yakin itu adalah urusan pesanan yang terus datang tanpa henti. Ponsel Surin pun sedari tadi tidak berhenti memperlihatkan notifikasi dari pelanggan yang seolah haus meminta untuk segera ditanggapi.

 

“Kau lihat kan? Ajaib sekali. Padahal Bae Jihyun baru mengunggah fotonya menggunakan produk kita sore hari tadi dan pesanan langsung meningkat lebih dari lima puluh persen.” Sehun berujar tanpa memandang Surin yang kini menyantap makan malamnya dalam diam.

 

Sebenarnya Surin merasa kesal, tidak ia bukan lagi kesal melainkan ia merasa marah. Sehun tidak memberitahu apapun mengenai perjanjiannya dengan Bae Jihyun. Yang Surin tahu hanya Sehun baru tiba dirumahnya jam enam sore tadi, padahal ia berjanji akan menemani Surin ke tempat pengiriman barang jam tiga sore. Sehun meminta maaf dan berkata bahwa ia baru saja melakukan sesuatu yang besar untuk Love Store.

 

“Boleh saja dia mempromosikan produk kita di akun Instagramnya, malah bagus. Tapi, apa harus kau sendiri yang menjadi fotografernya? Chanyeol yang berpengalaman dalam hal ‘endorse’ ini saja tidak pernah meminta owner toko menjadi fotografernya. Ia menangani fotonya sendiri.” Ujar Surin seraya menekan kata-per-kata yang baru saja diucapkannya.

 

“Tapi kan Jihyun melakukannya secara cuma-cuma, Surin-a. Ini merupakan kesempatan bagus untuk toko kita dan tentu saja aku harus mengambilnya. Berkorban sedikit itu tidak apa. Buktinya dalam waktu beberapa jam saja pesanan dan pemasukan kita langsung menanjak.” Sehun berujar seraya meletakan ponselnya.

 

Justru dari situ Surin merasa ada sesuatu yang janggal. Mengapa juga seorang Bae Jihyun mau saja melakukan hal ini secara cuma-cuma?

 

“Kau lupa mengenai rumor bahwa ia menyukaimu sedari dulu?”

 

Sehun mengelus tangan Surin kemudian tersenyum kecil. “Kau hanya mengkhawatirkan hal yang tidak-tidak, Surin-a.”

 

Surin menghela napasnya ketika Sehun mengacak rambutnya.

 

Sehun benar, mungkin Surin hanya terlalu mengkhawatirkan hal yang tidak-tidak padahal ia juga dapat merasakan hasil dari promosi yang dilakukan gadis itu.

 

Tapi tidak tahu mengapa, Surin tidak bisa menyingkirkan rasa tidak sukanya ketika mengetahui bahwa gadis itu memiliki alasan untuk dapat berdekatan dengan Sehun.

 

**

 

Tiga hari berlalu setelah malam dimana Surin mengetahui bahwa Sehun memutuskan untuk bekerja sama dengan Jihyun dalam hal mempromosikan Love Store. Selama tiga hari itu juga penjualan benar-benar naik secara drastis. Surin begitu sibuk dengan urusan mengemas dan mengirim barang sekaligus belajar untuk persiapan sidang akhir nanti, sampai-sampai ia tidak sadar bahwa selama tiga hari terakhir ini Surin sudah tidak bertemu dengan Sehun dan hanya berkomunikasi melalui pesan singkat dan sambungan telepon saja.

 

Surin yakin laki-laki itu juga sibuk menanggapi pesanan yang membanjir, mengingat banyaknya daftar pesanan yang dikirim Sehun melalui email kepada Surin tiga hari terakhir ini. Surin juga yakin bahwa Sehun sangat sibuk dengan kegiatan belajarnya untuk mempersiapkan sidang akhirnya, persis seperti yang Surin juga tengah hadapi.

 

Meskipun mereka memang satu kampus, namun karena kesibukan masing-masing dan kelas yang juga berbeda jam, Surin tidak memiliki kesempatan untuk bertemu, bahkan untuk sekedar berpapasan dengannya.

 

Surin hanya merasa pesan singkat dan sambungan telepon tidak mampu mengobati rasa rindunya. Biasanya Sehun akan datang kerumahnya sore hari untuk sekedar membantu Surin mengemas barang kemudian mengantarnya ke tempat pengiriman barang untuk mengirim pesanan-pesanan tersebut. Tapi Surin tidak pernah lagi melihat mobil Sehun yang terparkir didepan rumahnya tiga hari terakhir ini, membuatnya merasa rindu.

 

Itu sebabnya Surin memutuskan untuk mendatangi Sehun dan membawakannya makan siang secara diam-diam tanpa lebih dulu memberitahu laki-laki itu. Surin sudah mengecek kantin, namun Sehun tampak tidak ada disana jadi Surin pikir laki-laki itu pasti ada diruang organisasi fotografi kampus.

 

Surin tersenyum ketika ia tiba didepan pintu ruangan yang ditujunya. Baru saja Surin akan membuka pintu tersebut, namun tangannya berhenti begitu saja ketika mendapati Sehun tengah memotret seorang gadis yang tidak lain tidak bukan adalah Bae Jihyun. Surin dapat melihat dengan jelas melalui jendela kaca kecil yang ada dipintu tersebut bahwa sekarang ini Sehun tengah tersenyum dibalik kameranya dan Jihyun terlihat sempurna dengan balutan pakaian wanita yang adalah produk terlaris dari Love Store.

 

Surin menggelengkan kepalanya untuk sekedar mengusir rasa cemburu yang tiba-tiba merasuki dirinya. “Ingat Jang Surin, Sehun melakukan ini untuk Love Store. Tidak lebih dari itu.” Ujar Surin pada dirinya sendiri. Surin memegang kenop pintu itu dan baru saja akan membukanya namun tangannya kembali terhenti begitu saja ketika melihat Jihyun meminta tolong Sehun untuk mengambilkan sesuatu dari tasnya.

 

Rupanya sebuah lipstick. Jihyun memakainya dan Surin dapat melihat dengan jelas Sehun tertawa kemudian menghampiri gadis itu untuk menghapus coretan lipstick pada ujung bibir Jihyun dengan menggunakan sapu tangan yang diambilnya dari saku celana panjangnya.

 

Surin menahan kakinya yang hampir lemas ditempat ketika melihat mereka bertahan pada posisi sedekat itu. Surin langsung membuka pintu tersebut membuat Sehun dan Jihyun tersentak. Sehun membelak melihat Surin lah yang berdiri didepan pintu tersebut.

 

“Surin?”

 

“Kau sudah makan siang? Aku membawakanmu makan siang.” Ujar Surin seraya menunjukan senyuman kecilnya.

 

“Oh Sehun, aku rasa kita lanjutkan esok hari saja. Foto yang hari ini bisa kau kirim langsung ke email-ku.” Jihyun mengambil tasnya sementara Sehun langsung mengiyakan. Jihyun melewati Surin begitu saja, dan setelah gadis itu menghilang Surin memandangi Sehun, masih dengan senyuman yang sama.

 

“Lipstick-nya berantakan, jadi aku tadi—”

 

“Kau lapar, kan? Aku memasakan makanan kesukaanmu.” Potong Surin cepat seraya melenggang masuk begitu saja, seolah ia tidak melihat apa-apa beberapa menit yang lalu.

 

Surin hanya tidak ingin tahu apa yang dilakukan mereka berdua barusan.

 

**

 

“Surin-a.”

 

“Surin-a.”

 

“Jang Surin!”

 

Surin tersentak mendengar seruan Jimi. “Ada apa sih denganmu akhir-akhir ini?” Jimi berujar membuat Surin tersenyum kecil. Surin memainkan sedotan minumannya seraya memperhatikan suasana daerah sungai Han yang ramai dari dalam café favoritnya. “Kau jadi sering melamun. Jangan bilang kalau apa yang dikatakan Baekhyun padaku benar adanya.”

 

Surin mengernyit heran mendengar ucapan Jimi barusan. “Mengenai apa?”

 

“Baekhyun berkata ia sering melihat Sehun berduaan bersama seorang gadis dikantin kampus. Bahkan ia sering melihat Sehun memotret gadis itu dihalaman belakang kampus. Baekhyun hanya salah melihat saja, kan?” Jimi memastikan sementara Surin hanya tersenyum pahit.

 

“Jadi itu semua benar? Mengapa kau diam saja?” Ujar Jimi dengan nada tidak terima.

 

“Ceritanya panjang, Jimi-ya. Gadis itu membantuku dan Sehun untuk mempromosikan Love Store. Aku tidak bisa marah dan cemburu karena memang omset dari Love Store benar-benar menanjak selama satu bulan terakhir ini.” Ujar Surin membuat Jimi menghela napasnya.

 

“Astaga jadi kau sudah membiarkan Sehun bekerja dengan gadis itu selama satu bulan? Surin-a, untuk apa semua uang itu kalau dampaknya pada hubunganmu dan Sehun malah tidak baik? Katakan pada Sehun bahwa kau tidak menyukai hal ini.” Pinta Jimi namun Surin hanya menggelengkan kepalanya.

 

“Kalau kau sendiri yang melihatnya tersenyum lebar saat menceritakan betapa senangnya ia bahwa Love Store sekarang begitu banyak dikenal orang, kau tidak akan memiliki kuasa untuk mengatakan hal itu.” Tanggap Surin membuat Jimi hanya mendecak.

 

“Aku harus pulang untuk mengemas pesanan. Kau dan Baekhyun juga harus fitting pakaian untuk bulan depan, kan? Paling-paling beberapa menit lagi Baekhyun akan sampai disini.” Jimi mengangguk kemudian Surin menyampirkan tas selempangnya. “Semoga pertunanganmu bulan depan berjalan lancar, ya. Aku duluan.” Surin tersenyum kemudian beranjak dari tempat duduknya.

 

“Surin-a, kalau Sehun macam-macam, katakan saja padaku. Aku akan langsung menghajarnya.” Jimi berujar membuat Surin tertawa. Surin melambaikan tangannya kemudian segera berjalan keluar dari café tersebut.

 

Surin memilih untuk tidak langsung pulang melainkan berjalan-jalan disekitar daerah sungai Han. Banyak orang yang berolahraga dengan bersepeda, anak-anak kecil yang saling berlomba menerbangkan layang-layang, dan beberapa pasangan yang tampak asik menikmati piknik kecil-kecilan diatas rumput taman yang berhadapan langsung dengan sungai Han, yang sore hari itu tampak tenang.

 

Sejak kejadian dimana Surin memergoki Sehun dan Jihyun diruang fotografi kampus, Surin jarang mengirimi Sehun pesan singkat untuk bertanya apa yang sedang laki-laki itu lakukan. Itu artinya, sudah satu bulan Surin tidak rajin mengirimi Sehun pesan singkat seperti sebelum-sebelumnya. Surin hanya takut Sehun membalasnya dengan kalimat ‘aku sedang bersama Jihyun sekarang’. Surin terkekeh akan sifat kekanak-kanakannya sendiri.

 

Surin jadi penasaran, apa betul selama satu bulan ini Sehun terus-terusan menghabiskan waktu bersama gadis itu untuk sesi pemotretan? Pasalnya, Sehun sama sekali tidak pernah membicarakan hal ini jika mereka tengah bersama, dan Surin mulai merasa benar-benar penasaran.

 

Surin menghentikan langkahnya ketika matanya menangkap sosok yang sangat ia kenal. “Ternyata ketakutanku malah membuat semuanya menjadi nyata.” Ujar Surin, lebih tepatnya pada dirinya sendiri. Surin melangkahkan kakinya, mendekat pada seorang laki-laki bertubuh tinggi yang kini tengah sibuk dengan kameranya dan seorang model cantik, yang adalah objek potretannya.

 

Laki-laki yang tengah menyampirkan tas selempang perempuan berwarna merah dibahu kanannya adalah Oh Sehun, kekasihnya.

 

Langkah kakinya terasa berat, terutama ketika gadis itu dengan senang berlari kearah Sehun untuk melihat hasil jepretan laki-laki itu. Mereka berdua tampak tertawa senang, membuat Surin ingin berlari pergi saat itu juga. Namun entah mengapa otaknya melakukan hal yang sebaliknya.

 

Kakinya malah menuntunnya berjalan lebih dekat pada kedua orang yang tengah tertawa itu.

 

Setelah sampai kurang lebih sepuluh langkah dari Sehun, Surin menghentikan langkah kakinya. Surin bertanya-tanya pada dirinya, apa pernah Sehun tersenyum seperti itu ketika ia memotret dirinya. Surin melihat Sehun berjalan menghampiri Jihyun dan merapikan rambut serta topi pantai yang dikenakan gadis itu. Jihyun tersenyum, begitu pula dengan Sehun.

 

Surin mati-matian meyakinkan dirinya sendiri bahwa senyuman Sehun yang barusan bukanlah senyuman yang sama ketika Sehun tersenyum padanya, meskipun apa yang dilihatnya saat ini berbanding terbalik dengan apa yang berusaha diyakinkannya.

 

Sehun tersenyum pada gadis itu, persis seperti saat ia tersenyum pada Surin.

 

“Oh Sehun.” Surin memanggil Sehun membuat laki-laki itu segera menoleh.

 

“Jang Surin?!”

 

Surin tersenyum, senyuman yang sama ketika ia berdiri didepan pintu ruangan organisasi fotografi kampus satu bulan yang lalu.

 

“Surin-a, aku—”

 

Surin menunggu Sehun menyelesaikan kalimatnya, namun laki-laki itu seolah tidak dapat menjelaskan apapun pada Surin. Entah mengapa Surin merasa sesuatu meremas hatinya dengan hebat sekarang ini, melihat Sehun yang tidak dapat berkata apa-apa.

 

Surin menghampiri Sehun sehingga kini mereka berdiri berhadapan. Surin merapikan rambut Sehun yang berantakan karena tiupan angin dengan sedikit berjinjit.

 

“Kau sudah selesai? Aku ingin pulang. Antar aku, ya?” Ujar Surin, berusaha untuk mempertahankan senyumannya.

 

“Jihyun-a, aku rasa pemotretan hari ini cukup sampai sini saja.” Ujar Sehun pada gadis yang kini tengah tersenyum sambil mengangguk kecil itu.

 

“Lagipula kita juga sudah sedari tadi siang ke beberapa tempat untuk pemotretan.” Ujar gadis itu dengan sengaja. Jihyun mengambil tas selempangnya yang dipegangi oleh Sehun.

 

Seketika ucapan Jihyun barusan seolah menjawab pertanyaan yang beberapa waktu lalu hinggap di otak Surin. Ternyata benar, selama satu bulan ini, Sehun berpergian bersama gadis itu.

 

Dan sialnya, Surin tidak tahu apapun.

 

“Terima kasih untuk hari ini. Aku benar-benar senang bekerja bersamamu.” Ujarnya dan Sehun hanya mengangguk. Gadis itu melangkah pergi sementara Surin berusaha menyembunyikan linangan air mata yang memenuhi pelupuk matanya.

 

Salahkah Surin kalau saat ini ia benar-benar cemburu? Salahkah Surin kalau saat ini ia merasa dadanya sesak mengetahui fakta bahwa seharian penuh ini, tidak, bahkan satu bulan terakhir ini, Sehun berpergian hanya berdua dengan gadis yang notabene benar-benar menyukainya itu?

 

Surin merapikan kerah kemeja Sehun dengan senyuman yang terlihat aneh. Senyuman getir yang terlalu dipaksakan.

 

Surin hanya bertanya-tanya dalam hatinya, terlalu kekanakan kah dirinya saat ini?

 

“Surin-a.”

 

“Ya?”

 

“Maafkan aku.”

 

“Untuk apa?”

 

“Maafkan aku.” Sehun memeluk Surin, namun kali itu Surin tidak membalas pelukan Sehun seperti yang selama ini dilakukannya.

 

Surin benci Sehun meminta maaf.

 

Surin tidak ingin Sehun meminta maaf.

 

Surin takut akan fakta bahwa Sehun meminta maaf.

 

Surin takut kata maafnya barusan menuju pada permintaan maaf kalau hati laki-laki itu kini bukan hanya untuknya.

 

**

 

“Bae Jihyun?”

 

Sehun membuka pintu apartmentnya dan Jihyun langsung melangkah masuk. “Aku sudah berkata padamu bahwa aku tidak akan melakukan pemotretan disini. Untuk apa kau datang kesini? Bukankah aku sudah bilang padamu bahwa itu adalah ide yang gila?” Sehun berujar pada Jihyun yang kini duduk disofa ruang tamunya begitu saja.

 

Jam dinding apartment Sehun menunjukan pukul tujuh malam, dan Sehun baru saja akan pergi ke rumah Surin untuk mengajak gadis itu makan malam. Jihyun melepas mantel hitam panjangnya dan menyampirkannya disofa ruang tamu Sehun.

 

“Kau benar-benar sudah gila.” Ujar Sehun melihat Jihyun dengan piyama yang diketahui adalah produk dari Love Store.

 

“Lalu untuk pakaian yang ini bagaimana? Tidak mungkin, kan aku melakukan pemotretan dengan piyama di sebuah café ataupun di daerah sungai Han?”

 

“Tapi aku sendiri tidak menyuruhmu untuk mempromosikan baju itu, kan? Dengar, mulai sekarang, kita hentikan saja kerja sama ini. Aku berterima kasih atas bantuanmu tapi aku rasa semua ini adalah hal yang salah. Surin tidak pernah menyetujui hal ini dari awal. Aku tidak ingin menyakitinya lebih jauh hanya karena hal ini.” Sehun berujar panjang lebar sementara raut wajah Jihyun berubah sendu.

 

“Aku menyukaimu, Oh Sehun. Aku menyukaimu, itu sebabnya aku mau melakukan hal ini.” Ujar Jihyun seraya berjalan mendekat kearah Sehun.

 

“Aku benci melihatmu dengan Surin dan aku senang karena satu bulan terakhir ini kita sering menghabiskan waktu bersama meskipun aku tahu semua ini hanya bagian dari usahamu untuk tokomu dan Surin. Aku membiarkanmu membicarakan Surin sepanjang waktu ketika kau tengah bersamaku meskipun aku benar-benar membenci hal tersebut. Semua aku lakukan karena semata-mata aku menyukaimu, Oh Sehun.”

 

Sehun tidak dapat berkata apa-apa. Sehun terkejut karena apa yang Surin katakan padanya mengenai Jihyun yang menyimpan perasaan padanya adalah benar adanya.

 

Kalau sedari awal Sehun mau mendengarkan kekhawatiran Surin, hal ini tidak akan sampai sejauh dan serumit sekarang ini.

 

“Aku tahu kau bisa merubah hatimu. Aku percaya akan hal itu. Semua sudah terlihat selama satu bulan terakhir ini, bahkan Surin juga bisa melihatnya.” Jihyun kini berdiri dihadapan Sehun, memegang kerah kemeja laki-laki yang kini tidak bisa mengerti apa yang dikatakan gadis itu barusan.

 

Tangannya turun menuju dada bidang Sehun, dan tidak lama ia tersenyum melihat Sehun yang kini menatapnya dengan tatapan tidak percaya.

 

“Kau telah menyukaiku, Oh Sehun. Kau bingung. Kau tidak tahu apa yang ada diotakmu sekarang ini, tapi aku tahu hal itu adalah tentangku, dan tentang bagaimana kita bisa bersama. Itu adalah sebab mengapa kau bisa sampai berkata bahwa kau tidak ingin menyakiti Surin lebih jauh daripada ini.”

 

Sehun merasa otaknya penuh, sampai-sampai ia tidak dapat berpikir dengan jernih. Sehun tahu ini salah. Ini benar-benar salah. Tapi entah mengapa ia tidak ingin menyudahinya begitu saja, terutama ketika gadis itu membaca seluruh pikirannya, lalu membawanya mendekat. Begitu dekat, sampai kini ujung hidung mereka saling bersentuhan.

 

Sehun hilang. Sehun hilang ketika bibir mereka bersatu entah bagaimana caranya. Sehun merasa hatinya berat, namun Sehun tidak kuasa untuk melawan.

 

Tiba-tiba terdengar seseorang menekan tombol password kunci apartmentnya. Sepersekian detik kemudian Sehun benar-benar panik, namun gadis itu mengalungkan tangannya dileher Sehun, menolak ketika Sehun hendak melepas tautan bibir mereka.

 

Didepan pintu yang terbuka, Surin berdiri, menyaksikan kekasihnya sendiri mencium perempuan lain.

 

Surin tidak bisa berkata apa-apa. Bibirnya kelu dan otaknya beku. Yang ia tahu, Sehun sudah menghampirinya saat ini sementara gadis yang Surin ketahui bernama Jihyun itu terduduk di sofa ruang tamu.

 

Surin meneteskan air matanya begitu saja kemudian menatap Sehun dengan kedua matanya yang basah.

 

Lima tahun hubungan mereka, dan baru kali ini Surin benar-benar merasa tidak cukup untuk seorang Oh Sehun. Tidak, bahkan mungkin Surin tidak akan pernah cukup untuk Sehun.

 

“Surin-a, aku bisa jelaskan. A-aku—” Sehun memegang kedua tangan Surin namun gadis itu tidak bergeming. Surin menunggu penjelasan dari bibir laki-laki yang paling dicintainya itu namun penjelasan itu tidak kunjung didengarnya.

 

“Maafkan aku.”

 

Hanya itu yang Sehun ucapkan dan Surin tidak bisa lagi menahan dirinya untuk terus berdiri dihadapan laki-laki itu.

 

Bukan maaf yang ingin Surin dengar darinya. Bukan tatapan mata penuh rasa iba itu yang ingin Surin lihat darinya. Surin ingin Sehun berkata bahwa semua yang disaksikan Surin barusan bukan seperti yang Surin pikirkan. Surin ingin Sehun meyakini Surin bahwa semua hanyalah sebuah kesalahpahaman. Surin ingin Sehun memberitahunya bahwa laki-laki itu sedang tidak dalam pikiran sehatnya beberapa waktu lalu sehingga semua itu bisa terjadi.

 

Surin akhirnya mengangguk, mengulas senyuman diwajahnya yang sudah tampak kacau dengan air mata yang terus mengalir dari kedua matanya.

 

“Aku mengerti. Tidak apa.”

 

Surin berujar seraya melepas genggaman tangan Sehun dari kedua tangannya. Surin kemudian melangkah keluar meninggalkan apartment tersebut dengan langkah gontai. Tangisannya pecah, seiringan dengan rasa sesak yang kini semakin dapat dirasakannya.

 

Surin tahu bahwa sekarang ini Sehun telah pergi.

 

**

 

Satu bulan kemudian.

 

“Park Jimi, sekali lagi selamat atas pertunanganmu dengan Baekhyun. Aku turut berbahagia bersama kalian. Kalau begitu, aku dan Sehun pulang duluan ya. Kami benar-benar menikmati pestanya.” Surin berujar seraya memeluk Jimi yang tersenyum senang.

 

“Terima kasih karena kalian sudah bersedia untuk datang.” Jimi yang kini menggandeng lengan tunangannya, Byun Baekhyun gantian berujar sementara Baekhyun kini tersenyum senang kearah Sehun dan Surin yang tampak serasi.

 

Surin benar-benar luar biasa malam ini. Gadis itu mengenakan gaun hitam panjang yang memperlihatkan punggungnya. Rambut hitamnya tampak tertata rapi dengan hiasan bandana mutiara yang sederhana namun terlihat sangat elegan. Tidak kalah luar biasa, Sehun yang berdiri disebelah Surin tampak sangat tampan. Laki-laki itu mengenakan tuxedo hitam lengkap dengan dasi berwarna hitam yang menghiasi kemeja putih dibalik jas yang ia kenakan, membuatnya jauh lebih tampan dari sebelum-sebelumnya. Mereka berdua yang sepanjang acara tampak bersandingan bahkan sampai berhasil mencuri pandangan kagum dari beberapa tamu undangan.

 

“Aku sampai bingung ini acara pertunangan siapa karena justru malah kalian berdua yang tampil sangat serasi malam ini.” Gurau Baekhyun membuat Surin tertawa kecil.

 

“Oh Sehun, kau benar-benar beruntung mendapatkan Surin yang luar biasa. Hati-hati dengan yang diujung sana. Sedari tadi Kyungsoo tampak mengawasi gadismu.” Timpal Jimi dan kini gantian Sehun yang tertawa kecil.

 

“Jimi-ya, aku jadi tidak sabar datang ke acara pertunangan mereka tahun depan.” Baekhyun berujar pada Jimi yang kini langsung menatapnya dengan antusias.

 

“Betul sekali! Aku bahkan tidak sabar untuk datang ke acara pernikahan mereka tahun depan!” Seru Jimi sementara Surin kini sudah tertawa. Surin memeluk lengan Sehun dan memandang laki-laki itu dengan tatapan sayangnya.

 

“Di doakan saja. Yang penting kalian dulu. Ah, aku rasa aku dan Sehun harus segera pulang sekarang.” Surin berujar dan langsung kembali berpamitan pada Baekhyun dan Jimi serta masing-masing orangtua sahabat mereka itu.

 

Surin berjalan bersama dengan Sehun menuju parkiran mobil dalam diam. Surin dapat merasakan tangan Sehun meremas tangannya yang berada digandengan laki-laki itu membuat Surin mati-matian menahan pekikan sakitnya. Tiba-tiba Sehun menghempas tangan Surin begitu saja setibanya mereka berdua dihadapan mobil sedan milik laki-laki itu.

 

“Mengapa kau seperti ini? Mengapa kau berpura-pura seperti ini? Mengapa kau bertingkah seolah tidak ada apapun yang terjadi diantara kita, Jang Surin?!” Sehun membentak Surin membuat gadis itu terkejut untuk sesaat. Surin dapat merasakan air mata langsung memenuhi pelupuk matanya begitu saja.

 

“Setelah kejadian satu bulan yang lalu, seharusnya kau berhenti berpura-pura. Kau masih saja membawakanku bekal makan siang, menyiapkan makan malam di apartment-ku, bertingkah seolah tidak ada yang terjadi didepan teman-temanmu, menunjukan bahwa kita adalah pasangan paling serasi, dan bahkan ketika kita bersama, yang kau bahas adalah Love Store dan bukan kejadian itu. Tidakkah kau marah? Tidak lelahkah kau berpura-pura? Tidakkah kau seharusnya menyudahi semua ini?!”

 

Surin menatap Sehun dengan tatapan tidak percayanya.  “Kau pikir sejak kejadian di apartment-mu, aku benar-benar baik-baik saja? Aku tidak baik-baik saja, Oh Sehun. Bahkan setiap kali aku memergokimu tengah bersama dengan gadis itu, aku merasa hancur.  Apa kau benar-benar berpikir aku bisa baik-baik saja, sementara aku tahu satu bulan terakhir ini kau bahkan masih sering berhubungan dengan gadis itu dibelakangku?”

 

Tangisan Surin pecah. Surin tidak percaya seseorang dapat berubah dengan waktu yang benar-benar singkat.

 

Surin tidak percaya karena orang itu adalah Oh Sehun. Orang yang kepadanya Surin percayakan hati juga mimpi besarnya mengenai masa depan yang ingin ia bangun bersama orang itu.

 

“Aku mencintaimu, Oh Sehun. Aku melakukan itu semua karena aku mencintaimu. Aku bertingkah seolah semua baik-baik saja karena aku tidak ingin kehilanganmu. Setiap kali aku memergokimu dengannya, aku berusaha sebisaku untuk bertingkah seolah aku tidak melihat dan mengetahui apapun karena semata-mata aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tidak ingin menyudahi semuanya begitu saja karena aku tidak tahu apa aku bisa hidup tanpamu. Aku tidak ingin menyudahi semuanya begitu saja karena aku terlalu mencintaimu.”

 

Surin menatap Sehun dengan matanya yang basah. Riasan wajahnya hancur dalam sekejap, begitupula dengan hatinya.

 

“Kau tahu? Justru itu yang aku benci. Seharusnya kau meninggalkanku. Seharusnya kau menyudahi semuanya. Aku merasa jahat bersanding denganmu dan aku rasa aku tidak bisa melakukannya lebih lama. Kita sudahi saja Love Store. Kita sudahi saja—”

 

“Aku mohon jangan katakan itu.”

 

Surin memegang tangan Sehun dan memandang laki-laki itu sambil terus menangis. Tangannya bergetar hebat dan ia bahkan merasa dirinya tidak kuasa untuk menahan bobot tubuhnya sendiri lebih lama. Surin tahu laki-laki yang dihadapannya sekarang ini bukan lagi Sehun yang dikenalnya, tapi Surin tidak peduli. Surin tidak ingin mempermasalahkan hal itu.

 

Surin hanya tidak ingin Sehun pergi begitu saja dari hidupnya setelah semua yang telah mereka lewati bersama.

 

“Aku tidak ingin mempermasalahkan apapun dari setiap kejadian yang aku lihat satu bulan yang lalu. Aku ingin melupakan semua itu, dan aku ingin kau juga melakukan hal yang sama. Kita sudah melangkah terlalu jauh. Love Store, semua mimpi yang kita bangun, semua janji yang kita buat. Semuanya sudah terlalu jauh, jadi aku mohon padamu tetaplah bersamaku.” Surin berujar, masih sambil memegang tangan Sehun.

 

Sehun tidak berkata apapun dan malah melepas genggaman tangan Surin kemudian berbalik, hendak berjalan masuk menuju mobilnya. Surin langsung memeluk laki-laki itu dari belakang.

 

Tangisannya semakin menjadi-jadi kala gadis itu mengeratkan pelukannya pada punggung laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya itu.

 

Sehun melepas pelukan Surin kemudian berdiri menghadap gadis yang kini tampak benar-benar rapuh itu. “Aku sudah terlalu jahat padamu. Kalau aku benar-benar mencintaimu, tidak seharusnya aku goyah begitu saja. Kau bahkan tahu mengenai hal itu lebih baik daripada siapapun.” Surin menggelengkan kepalanya, menolak mentah-mentah ucapan Sehun barusan. Surin rasa hatinya benar-benar hancur sekarang karena kata-kata itu.

 

Sehun baru saja memberitahu Surin bahwa ia tidak benar-benar mencintainya.

 

Surin merasa dunia tempat kakinya berpijak runtuh dengan seketika.

 

“Tidak, Oh Sehun. Aku tahu kau mencintaiku. Aku tahu kau hanya sedang dalam pikiran yang berantakan. Aku tahu—”

 

“Aku tidak bisa terus-terusan menjadi jahat untukmu. Aku tidak bisa terus-terusan manjadi Sehun-mu yang berpura-pura. Kau berhak mendapatkan yang lebih baik, Surin-a. Semua hasil dari Love Store aku serahkan padamu. Mulai sekarang, kita sudahi saja semuanya.”

 

Tidak, Surin tidak ingin mendengar kata-kata itu.

 

“Katakan apa yang kurang dariku? Aku tahu aku tidak cantik sepertinya. Aku tidak terkenal sepertinya. Tapi aku bisa memperbaikinya. Aku berjanji aku akan memperbaikinya jadi aku mohon tetaplah disini.” Surin menangis sejadi-jadinya ditengah-tengah ucapannya barusan. Surin meremas lengan jas hitam yang dikenakan Sehun, berharap laki-laki itu tidak meninggalkannya begitu saja.

 

“Berbahagialah, Jang Surin.”

 

Sehun melepaskan tangannya dari tangan Surin dan berjalan menuju mobilnya.

 

Surin tidak tahu apakah Sehun yang kini pergi meninggalkan Surin begitu saja dengan mobilnya adalah Sehun yang dikenalnya lima tahun yang lalu.

 

Surin terduduk dilantai tempat parkir tersebut, tangisannya pecah. Tangannya memukul dadanya sendiri yang terasa sesak luar biasa.

 

Sehun egois. Bagaimana bisa ia menyuruh Surin untuk bahagia sementara hal yang membuatnya bahagia hanya tentang laki-laki itu?

 

Sehun pernah berkata bahwa ia mencintai Surin. Sehun pernah berkata bahwa ia ingin membangun masa depan bersama Surin dan dari situlah semua usaha mereka bermula.

 

Lima tahun, dan semua hilang begitu saja bagaikan hembusan angin hangat, yang memberi Surin harapan akan masa depan, lalu pergi tanpa jejak.

 

Seharusnya Surin tahu dari awal bahwa dirinya tidak akan pernah menjadi cukup bagi seorang Oh Sehun.

 

Seharusnya Surin tahu dari awal bahwa pada akhirnya, mempertahankan seseorang untuk tetap disisi sama dengan menghancurkan diri sendiri.

 

 

-FIN.

 

T__T

Advertisements

8 comments

  1. junmyunni · August 25, 2017

    ini apaaaaaa TT
    jahat banget sumpah, ini kayaknya cerita terjahat sehun surin ya? aku sampai nangis bacanyaaaaaaaaaa huaaaaaaaaaaaaaaaaa
    kirain ga bakal fin di akhirnya, malah jadi happy ending, tenyata enggaaaaaaaaak TT

    • Oh Marie · August 26, 2017

      JUNMYUNNIIIIIIIII SENANGNYA LIAT KAMU LAGI DIKOLOM KOMEN TT__TT
      Iya deh setuju ini kayaknya ff sehun surin terjahat<////3
      PERCAYA GAK PERCAYA AKU JUGA NANGIS NULISNYAAAAAA HUHUHUHUHUHU.
      Sumpah ini plot twisted banget aku aja gatau kenapa malah ngetik ujungnya begini:")
      Ngomong-ngomong, makasih ya udah mau mampir lagi, baca lagi, dan yang paling bikin seneng ninggalin komen lagiiiiii! Sumpah seneng liat komen kamu lagi!
      Wajib stay tune untuk ff yang selanjutnya ya!!! *tanda serunya maksa*
      See you on the next ff ❤

  2. northpole · August 25, 2017

    Boleh gak bikin sequelnya dan buat sehun super menderita+menyesal dan surin move on berbahagia dengan kyungsoo???
    PLEASE HARUS BIKIN, AKU GA TERIMA SURIN DIGINIIN

    Dasar lelaki liat yg lebih cantik aja lupa sama 5 tahun yg sudah dibangun ughhhh kzl

    • Oh Marie · August 26, 2017

      NORTHPOLEEEEEE AKU SENENG LIAT KAMU DI KOLOM KOMEN LAGIIIII ❤
      Astaga, aku juga sama gak teganya sampe ikutan nangis pas nulis Surin nangis:") Aku pikir-pikir lagi ya kalo buat sequel dari ini. Musti bertapa dulu nyari ide. Kayaknya biar dapet feel sedihnya dibiarin aja begini kali ya:")) *padahal dalem ati bener-bener gatega*
      HAJAR SEHUNNYA HAJAAAAAR HUHU TEGANYA OH SEHUN.
      Makasih ya kamu udah mau baca dan bahkan komen lagiiiiii. Aku seneng liat kamu di notif lagi huhuhu ❤
      Sampai jumpa di ff selanjutnya yaaa! xoxo ❤

  3. Realljo · August 26, 2017

    AH GUE MARAH BANGET SIAL NANGIS TAUGAK GUE AH BODO

    • Oh Marie · August 26, 2017

      RILJOOOOKUUUUUU! SAMA WOI GUE JUGA MARAH BANGET NANGIS JUGA AAAAA.
      Tolong hajar sehun buat gue tolong?!??!?
      Riljo makasih komennya lap yu so much TuT ❤

  4. rahsarah · August 27, 2017

    Tarik napasss buanggg huuuuu haaaaaa ya ampunn kejerrr banget bacanya ini dikira sehun bener2 kuat sama godaan wanita pendatang baru ternyata oh ternyata 5Tahun runtuh jugaaa.. aku setuju sama komen yg nyebut klo ini cerita terjahat sehun ke suri T.T
    pas awal mergokin sehun sama jihyun itu udah mulai emosi bacanya kesel banget ngerasa ikutan hancur hatiii ini deeee 😥 seketika langsung benci banget sama sehun disini ampun deh minta di tabok *galak Haha
    harus banget ini diberi balesan sehun musti lebh hancur jugaaa dari surin hahaha
    pokonya ini cerita sukses bikin nangis bangettt feelnya ngena banget

    • Oh Marie · August 27, 2017

      KAK SARAAAAAAH!
      Iya kak Sehunnya disini fix jahat banget banget bangetaaaan T__T
      Tabok aja kak si Sehun!! Yuk tabok bareng yuk(?)
      Kak sarah makasih ya udah mau sempetin baca dan komen lagiii! Seneng deh kalo yang ini feelnya dapet!! Salahin Sehun ya kak udah bikin nangis:”)) aku aja nangis ngetiknya HAHAHAHA.
      Sekali lagi makasih kak sarah ❤
      See you on the next ff! xoxo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s