Love-Hate

 

lovehate

An EXTRA-ordinary one! (warning: slang words for the dialogues!) Happy reading!

**

 

Lima hari sebelumnya.

 

Pagi itu jalanan Seoul benar-benar padat. Orang yang akan hendak pergi bekerja bergabung menjadi satu dengan orang-orang yang ingin pergi ke kampus ataupun sekolah. Sebagian dari mereka memutuskan untuk menggunakan kendaraan pribadi seperti mobil, namun tidak sedikit pula yang memilih untuk menggunakan transportasi umum seperti kereta bawah tanah.

 

Jang Surin, adalah salah satu gadis yang memilih untuk menggunakan kereta bawah tanah sebagai transportasinya menuju tempat yang akan ditujunya. Surin, begitulah ia kerap dipanggil, kini tampak mengenakan kemeja berwarna putih juga rok panjang hitam. Gadis itu berusaha menembus kerumunan orang yang ada di stasiun kereta tersebut dengan sangat bersemangat. Meskipun pagi itu stasiun benar-benar padat, hal itu tidak mengurangi rasa semangatnya sama sekali. Rambut panjang berwarna hitamnya yang ia biarkan tergerai begitu saja tampak sedikit berantakan, namun Surin tidak begitu mempedulikan dan terus berjalan cepat menembus kerumunan orang yang ada disekitarnya.

 

Hari ini adalah hari pertama orientasi pengenalan kampus dan Surin tidak bisa untuk tidak bersemangat. Lingkungan baru, teman baru, pengalaman baru, semua benar-benar ada didepan matanya. Surin merasa dirinya hanya tidak bisa berhenti membayangkan betapa serunya nanti kehidupannya selama di kampus.

 

Surin adalah mahasiswa baru dari Fakultas Ilmu Komunikasi disalah satu universitas besar yang ada di Korea, Seoul National University. Bahkan dengan hanya memikirkan statusnya sekarang ini saja Surin sudah tersenyum lebar.

 

Surin berharap hari pertamanya di kampus akan berjalan dengan baik.

 

Setibanya ia didepan pintu jurusan kereta yang dia maksudkan, Surin langsung tersenyum senang seraya merapikan almamater kampus yang ia gunakan. Ia memperhatikan lambang kampus yang tertera di almamater itu dengan bangga, sampai-sampai tidak Surin sadari kereta yang akan menuju ke arah kampusnya tiba. Surin buru-buru melangkahkan kakinya, memasuki kereta yang sudah penuh itu.

 

Surin berdiri, memegang pegangan gantung yang ada diatas kepalanya. Surin sempat kesulitan ketika kereta tersebut mulai berjalan karena orang-orang disamping kanan dan kirinya seolah menghimpit dan mendorong tubuh Surin. Surin baru menyadari bahwa tempatnya berdiri adalah gerbong kereta campuran untuk laki-laki dan wanita. Surin ingin berjalan menuju gerbong wanita yang ada di depan, namun saat ini ia benar-benar terhimpit sehingga ia tidak bisa bergerak barang sedikitpun.

 

Baru saja Surin akan mengaduh karena kakinya terinjak orang yang berada disebelahnya tiba-tiba ia merasa ada yang menepuk bahunya. Surin menoleh dan mendapati seorang laki-laki dengan almamater kampus yang sama persis seperti miliknya tersenyum seraya menyuruhnya duduk ditempat yang tadinya ia duduki.

 

“Duduk disini aja, tidak apa-apa.” Ujarnya dan Surin langsung menempati tempat tersebut sementara laki-laki berkacamata itu hanya tersenyum ketika Surin mengucapkan terima kasih. Laki-laki itu berdiri tepat dihadapan Surin dan Surin dapat menyaksikan bagaimana laki-laki itu menahan tubuhnya untuk tidak jatuh ketika orang disamping kanan dan kirinya mendorong tubuhnya. Karena tubuh laki-laki itu tidak terlalu tinggi, ia semakin terhimpit dan hal itu berhasil membuat Surin tidak enak hati dalam sekejap. Laki-laki yang menyadari bahwa Surin tengah tidak enak hati itu hanya tersenyum kecil seraya membetulkan letak kacamata tebalnya.

 

Surin bisa menebak dengan pasti bahwa laki-laki itu adalah senior dikampusnya. Pasalnya, semua mahasiswa baru diharuskan menggunakan kemeja putih dan bawahan berwarna hitam, sedangkan laki-laki yang berada dihadapannya sekarang ini tampak mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna hitam bercampur merah dan celana jeans berwarna biru gelap.

 

Tiba-tiba Surin jadi semakin bersemangat dengan hari pertamanya di kampus. Surin berpikir pasti akan lebih banyak senior kampusnya yang baik hati selain laki-laki itu.

 

Setibanya Surin di stasiun yang ditujunya, Surin langsung turun dari kereta tersebut bersama beberapa orang lainnya, termasuk laki-laki yang tadi memberinya tempat duduk. Dalam sekejap laki-laki itu menghilang begitu saja dari pandangannya dan Surin hanya tersenyum seraya berjalan menusuri stasiun yang ramai itu. Dalam hati ia berterima kasih sekali lagi pada laki-laki itu yang berhasil membuat mood bagusnya bertambah, sampai-sampai senyumnya terasa tidak ingin luntur dari wajahnya.

 

Perjalanan dari stasiun menuju gedung utama kampus memakan waktu lima belas menit jika jalan kaki. Surin memutuskan untuk mampir ke café yang berada didekat gedung tersebut sebelum nantinya ia akan bergabung bersama mahasiswa baru lainnya untuk acara perkenalan yang akan dimulai pukul delapan. Surin melirik jam di ponselnya dan ia tersenyum karena ia masih memiliki kira-kira setengah jam untuk menikmati sarapan pagi di café tersebut.

 

Tiba-tiba ponsel yang Surin pegang berdering nyaring, menandai adanya sebuah panggilan masuk. Surin dengan buru-buru mengangkatnya sementara ia terus berjalan menuju café.

 

“Surin! Lo dimana? Gue udah di gedung utama kampus, nih. Gue bahkan udah kenalan sama yang lain. Lo jangan sampe terlambat, ya! Lo harus tahu, seniornya ganteng-ganteng banget! Maka itu buruan deh kesini!” Surin tertawa kecil menanggapi suara sahabat sedari sekolah menengah atasnya, Park Jimi. Surin bersyukur karena setidaknya di kampus yang super besar itu ia tidak benar-benar sendirian dan tidak kenal siapapun. Surin lega karena ia satu kampus dengan Jimi yang adalah sahabatnya sedari dulu, meskipun memang mereka berbeda fakultas.

 

“Tenang aja. Gue udah di kampus, kok. Tapi gue mau beli sarapan dulu. Jimi, nanti kalo gue udah di gedung utama kampus, gue telepon lagi y—”

 

Ucapan Surin terputus begitu saja ketika seorang laki-laki dari dalam café membuka pintu dengan terburu-buru, menyebabkan kepala Surin berhasil terbentur pintu kaca tersebut. Untuk lima detik Surin merasa hanya bintang-bintang yang mengisi kepalanya. Surin merasa kepalanya benar-benar sakit karena benturan keras tersebut.

 

Gadis itu tersadar ketika ia melihat ponselnya sudah tergeletak dilantai dan layarnya retak disana-sini membuat Surin langsung buru-buru mengambil benda yang menurutnya sangat berharga itu. Surin meringis, melihat keadaan ponselnya. Pasalnya, ia baru membeli ponsel itu satu tahun yang lalu dan itu menggunakan uang hasil kerja sambilannya yang ia tabung. Garansi ponsel itu bahkan sudah habis dan fakta tersebut membuat kepala Surin pening dengan seketika. Ponselnya memang masih menyala dan masih dapat digunakan, tapi tetap saja retak disana-sini yang ada dipermukaan layar sentuh ponsel itu berhasil membuat hati Surin seolah ikut retak.

 

“Maaf, maaf, saya tidak sengaja. Saya benar-benar sedang terburu-buru.” Surin mendongak, kemudian ia berdiri dihadapan laki-laki bertubuh tinggi yang kini tengah menautkan kedua alis tebal nan tegasnya. Surin benar-benar tidak percaya ketika kini laki-laki itu mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan pada Surin beberapa lembar uang besar.

 

“Untuk mengganti layar ponsel anda. Selesai, kan?”

 

Surin langsung menatap laki-laki tinggi itu dengan tidak suka. Dari gelagatnya saja Surin sudah tahu bahwa laki-laki yang sialnya harus Surin akui berparas sangat tampan itu adalah salah satu orang yang menganggap semua masalah selesai begitu saja hanya dengan uang.

 

Surin benar-benar tidak peduli apa laki-laki yang ada dihadapannya sekarang ini adalah seniornya atau bukan, tapi diposisi Surin sekarang ini, Surin yakin bahwa ia memiliki hak untuk marah.

 

“Anda lihat sendiri kan dahi saya memar? Anda juga lihat kan layar ponsel saya benar-benar tidak berbentuk? Anda pikir uang yang anda kasih bisa menyelesaikan semuanya begitu saja? Kalau anda memang mau bertanggung jawab, saya tidak butuh uang. Saya butuh ponsel saya kembali seperti semula.” Surin berujar tidak sabaran.

 

“Kalau anda mau ponsel anda kembali seperti semula, anda hanya perlu pakai uang itu untuk membetulkan layar ponsel anda. Itu bahkan saya yakin lebih dari jumlah yang anda butuhkan. Lagipula kalo dipikir-pikir yang salah bukan hanya saya. Anda harusnya lihat ada orang yang akan membuka pintu, bukannya malah teleponan cekakak-cekikik.” Laki-laki yang kini tampak mengenakan kemeja berwarna abu-abu dibalik almamaternya berujar, membuat emosi Surin benar-benar sampai pada ujung kepalanya. Apa katanya? Cekakak-cekikik? Surin baru tahu ada bahasa formal yang seperti itu.

 

“Anda benar-benar tidak tahu apa itu ‘bertanggung jawab’ ya? Maksud saya, paling tidak anda lah yang seharusnya berinisiatif untuk membetulkan ponsel ini. Main enak saja memberi uang lalu langsung pergi.” Jika ada air di depannya sekarang ini, Surin yakin ia sudah akan menyiram laki-laki itu dengan air.

 

“Pertama, saya sudah minta maaf. Kedua, saya sudah memberi anda uang untuk membetulkan ponsel anda. Ketiga, kalau uangnya kurang, anda bisa cari saya di Fakultas Arsitektur. Nama saya Oh Sehun. Keempat, kalo anda mau saya juga yang betulin, maaf lagi, tapi saya sibuk.” Laki-laki itu pergi melewati Surin begitu saja, membuat Surin kini hanya menganga dengan apa yang baru saja didengarnya.

 

Baru saja Surin akan meneriaki laki-laki itu, ujung matanya menangkap jam tangan yang bertengger apik dipergelangan tangan kirinya. Begitu Surin menyadari bahwa waktu telah berlalu lima belas menit sejak ia memutuskan untuk membeli sarapannya, gadis itu mengumpat, lalu berlari kencang menuju gedung utama kampus, takut-takut ia terlambat dihari pertamanya.

 

Padahal baru saja Surin merasa hari ini benar-benar hari terbaiknya, tapi karena laki-laki menyebalkan yang ditemuinya di café tadi, Surin tidak ingin berspekulasi lagi. Mood yang tadinya benar-benar bagus langsung berubah begitu saja terutama ketika ia melihat layar ponselnya yang malang.

 

Sesampainya Surin di gedung utama kampus, Surin langsung memasuki barisan. Semua mahasiswa baru dikumpulkan di gedung tersebut, dan barisan sudah benar-benar rapi. Surin ingin mencari Jimi, namun karena banyaknya orang di gedung tersebut, Surin memilih untuk mengurungkan niatnya dan berdiri dibarisan paling pojok, juga paling belakang.

 

Semua mahasiswa dipersilahkan untuk duduk menghadap panggung besar yang ada didepan. Tidak lama kemudian senior yang akan membimbing seluruh mahasiswa baru selama masa orientasi pengenalan kampus pun keluar bergiliran dengan cara per-kloter untuk memperkenalkan diri. Setiap kloter kira-kira sembilan sampai sepuluh orang, dan mereka semua adalah bagian dari Badan Eksekutif Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa per-fakultas, juga ketua dan wakil ketua dari setiap organisasi kampus.

 

Kali ini giliran kloter terakhir yang tampil diatas panggung untuk memperkenalkan diri, dan Surin dapat mendengar sebagian mahasiswa memekik tertahan ketika mereka melihat sembilan orang yang tengah berdiri dengan almamater kampus itu. Surin mendapatkan informasi dari teman baru yang duduk disebelahnya bahwa deretan laki-laki itu adalah yang paling terkenal satu kampus, dan Surin hanya mengangguk. Teman barunya itu malah heran karena Surin tidak tahu tentang mereka padahal orang-orang diluar sana yang bukan mahasiswa Seoul National University saja mengenal mereka dan bahkan mengikuti mereka bersembilan di sosial media.

 

“Udah kayak artis aja.” Hanya itu tanggapan Surin dan teman barunya yang bernama Taerin itu hanya tertawa.

 

Kesembilan laki-laki itu mulai memperkenalkan diri satu-per-satu dan sungguh, keadaan gedung utama itu langsung ramai. Penyebabnya adalah karena pekikan para gadis yang sepertinya adalah penggemar kesembilan laki-laki itu bahkan sebelum mereka menginjakan kaki di kampus tersebut, membuat Surin hanya menggelengkan kepalanya.

 

“Halo, perkenalkan, nama saya Park Chanyeol. Bisa dipanggil Kak Chanyeol, Kak Chan, Kak Yeol, Kak Park juga bisa, asal jangan panggil sayang aja.” Semua orang yang ada di gedung itu langsung tertawa. “Saya ketua Himpunan Mahasiswa dari Fakultas Ilmu Politik yang selama satu minggu kedepan akan membimbing adik-adik sekalian dalam program pengenalan kampus. Jadi, dimohon kerjasamanya.” Ujarnya dan ia mengoper microphone pada seorang laki-laki yang berdiri disebelahnya setelah tepuk tangan untuknya memenuhi ruangan.

 

Surin membelakan matanya ketika ia mendapati laki-laki berkacamata yang memberinya tempat duduk di kereta tadi kini berbungkuk sopan, menyampaikan salamnya.

 

“Halo semua, perkenalkan, nama saya Do Kyungsoo. Saya dari Fakultas Kedokteran dan saya adalah ketua dari Badan Eksekutif Mahasiswa yang akan mendampingi kalian semua selama masa orientasi pengenalan kampus.” Semua orang yang ada di gedung itu bersorak karena akhirnya sang ketua dari organisasi nomor satu di kampus memperkenalkan diri. Surin sampai menganga, dan bertepuk tangan keras. Selain ketua organisasi nomor satu, Kyungsoo adalah bagian dari Fakultas Kedokteran, membuat Surin semakin kagum.

 

Yang berikutnya adalah seorang laki-laki berambut cokelat pekat dengan warna kulit yang juga berwarna cokelat. Laki-laki itu tersenyum malu seraya mengambil microphone yang diserahkan Kyungsoo padanya sementara Surin dapat mendengar para gadis sudah kembali memekik ketika laki-laki itu memperlihatkan senyuman manisnya.

 

“Perkenalkan, nama saya Kim Jongin. Saya adalah ketua Himpunan Mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komunikasi. Mohon kerjasamanya.” Ujarnya pendek dan Surin langsung bertepuk tangan, mengetahui laki-laki itu ada dibawah fakultas yang sama dengannya.

 

Jongin tampak menyerahkan microphone-nya pada laki-laki yang ada tepat disebelahnya. Laki-laki yang ada disebelah Jongin itu benar-benar rapi, bahkan sepatunya saja sepatu pantofel yang terlihat mahal. Surin dan teman barunya, Taerin, sampai harus menahan tawa mereka ketika menyadari yang lain mengenakan sepatu kets, namun laki-laki itu mengenakan pantofel dengan bahan kulit berkilau.

 

“Selamat siang, perkenalkan, nama saya Kim Junmyeon. Saya adalah ketua Himpunan Mahasiswa dari Fakultas Ekonomi Bisnis, jurusan Akuntansi. Mohon kerjasamanya.” Tutupnya seraya berbungkuk kecil, dan Taerin langsung mengangguk-angguk membuat Surin tertawa karena ia tahu maksud anggukan tersebut. “Pantes aja pakai pantofel, ya.” Ujar Taerin dan lagi-lagi Surin sudah tertawa.

 

Yang berikutnya adalah laki-laki bersuara lembut dengan perawakan yang juga lembut. “Halo semua, nama saya Zhang Yixing. Saya adalah bendahara dari Badan Eksekutif Mahasiswa. Saya berada dibawah Fakultas Ilmu Administrasi. Mohon kerjasamanya, karena saya ini suka pelupa.” Ujar Yixing dan Surin langsung tertawa, begitu pula dengan semua orang yang ada digedung tersebut. Dalam hati, Surin bertanya-tanya bagaimana bisa Yixing dengan polosnya berbicara seperti itu untuk sesi perkenalannya, membuat Surin hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali.

 

Selanjutnya adalah laki-laki bersuara nyaring, bahkan Surin sudah tahu dari dehamannya pada microphone yang saat ini dipegangnya. “Selamat siang, perkenalkan, nama saya Kim Jongdae. Karena Yixing pelupa dan membutuhkan bantuan sebagai seorang bendahara, maka disinilah saya berdiri sebagai bendahara 1 dari Badan Eksekutif Mahasiswa. Saya berada dibawah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, jurusan Sastra Inggris. Mohon kerjasamanya!” Tutupnya seraya berbungkuk kecil sementara tawa karena ucapannya mengenai Yixing yang pelupa masih ditertawai sebagian mahasiswa.

 

Jongdae menyerahkan microphone yang dipegangnya pada laki-laki yang berada disebelahnya. Laki-laki itu memiliki sikap penuh kehati-hatian juga aura yang sangat dewasa. “Selamat siang semua, perkenalkan, saya Kim Minseok. Saya adalah sekretaris dari Badan Eksekutif Mahasiswa. Saya berada dibawah Fakultas Ilmu Hukum. Mohon kerjasamanya.” Surin bertepuk tangan ketika laki-laki itu berbungkuk sopan untuk menyudahi perkenalannya. Surin mendadak teringat akan Jimi yang juga dari Fakultas Ilmu Hukum. Berbeda dengan Minseok yang sangat serius, Jimi lebih banyak cerewet dan memiliki sifat periang. Surin hanya penasaran mungkinkah gadis itu akan berubah menjadi seserius Minseok setelah satu tahun berkuliah di fakultas tersebut.

 

Lamunan Surin buyar ketika seseorang berseru keras dari microphone. “SNU! SNU! Seoul National University! Go, SNU! Go! Go! HALO SEMUAAA!!” Serunya dan yang lain langsung membalas dengan tidak kalah antusias. “Nama saya Byun Baekhyun. Saya adalah ketua Himpunan Mahasiswa dari Fakultas Kedokteran! Beneran, saya dari kedokteran, jangan tanya-tanya itu bohong apa fakta, ya! Mohon kerjasamanya!”Ujarnya dan semua yang ada digedung itu kembali tertawa. Pasalnya, siapa juga yang tidak terkejut kalau Fakultas Kedokteran yang penuh mahasiswa serius seperti Kyungsoo, ternyata punya mahasiswa periang penuh antusias seperti Baekhyun? Surin saja sampai menggelengkan kepalanya sekarang.

 

Baekhyun lalu menyerahkan microphone-nya pada laki-laki terakhir yang berada disebelahnya. Surin meyakinkan pengelihatannya bahwa laki-laki itu bukanlah laki-laki menyebalkan yang ditemuinya di café tadi, namun ketika laki-laki itu memperkenalkan diri, Surin rasa jantungnya jatuh begitu saja. Laki-laki menyebalkan itu akan menjadi salah satu pembimbing Surin selama masa orientasi pengenalan kampus berlangsung? Surin rasa kepalanya benar-benar pening sekarang ini.

 

“Halo,” Ujarnya dan terdengarlah pekikan dari seluruh penjuru gedung. Surin bergidik ngeri karena ternyata penggemar laki-laki itu benar-benar banyak. Meskipun yang lain juga sama saja banyaknya, tapi entah mengapa pekikan para gadis ketika laki-laki itu berbicara terdengar lebih garang ditelinga Surin dibandingkan dengan pekikan-pekikan yang sebelumnya.

 

“Nama saya Oh Sehun. Saya adalah ketua Himpunan Mahasiswa dari Fakultas Arsitektur. Mohon kerjasamanya.” Ujarnya lalu berbungkuk dan seruan para gadis langsung kembali terdengar, membuat kesembilan orang itu tertawa karena respon tersebut.

 

Kyungsoo tampak mengambil microphone ketika semua senior yang akan menjadi pembimbing selama masa orientasi pengenalan kampus berlangsung sudah seluruhnya berkumpul di panggung tersebut. “Nah, sekarang perhatikanlah baik-baik slide besar berisi nama kalian diatas yang akan dibalik setiap tiga menit. Itu adalah kelompok kalian selama masa orientasi pengenalan kampus berlangsung. Setiap kelompok terdiri dari sepuluh orang dan dibimbing oleh satu mentor. Setelah kalian melihat nama kalian sendiri dan nama mentor kalian, hampirilah mentor kalian masing-masing untuk sesi perkenalan.”

 

Surin memperhatikan slide itu baik-baik, mencari nama beserta nomor pesertanya. “Kami memberi waktu tiga puluh menit untuk sesi perkenalan dengan mentor. Kalian harus mendapatkan tanda tangan mentor untuk bisa ikut acara selanjutnya yaitu Campus Tour. Jadi, pastikan kalian tidak telat karena jika kalian tidak tiba dihalte depan gedung setelah tiga puluh menit, kalian akan ditinggal.” Tutup Kyungsoo dan semua senior itu berpencar menuju papan nama masing-masing yang ada dibawah panggung.

 

Surin masih terfokus pada slide, dan begitu namanya sendiri tertera di slide tersebut, Surin merasa jantungnya lagi-lagi jatuh begitu saja, persis seperti ketika laki-laki yang ia temui di depan café memperkenalkan diri.

 

Bukan, ia bukan terkejut karena namanya sendiri, tapi karena nama mentor kelompoknya.

 

Oh Sehun.

 

Surin berdiri, menatap slide itu dengan tidak percaya. Dari tempatnya sekarang ini, Surin bisa melihat Sehun tengah berdiri didepan papan namanya sendiri. Rautnya datar, juga galak ketika beberapa mahasiswa yang adalah kelompok Surin menghampirinya. Surin ingin menghampirinya, namun ia merasa kakinya terpaku ditempat sehingga ia hanya diam saja sementara Surin dapat menyaksikan Sehun mulai menghitung jumlah kelompoknya yang sudah berkumpul disekitarnya.

 

“Satu lagi mana, nih?” Ujarnya dan Surin rasa dengan hanya melihat gerak mulutnya, Surin dapat mendengar suaranya barusan, membuat Surin langsung berlari kearah kelompoknya. Setibanya ia didepan Sehun, Surin dapat melihat laki-laki itu terkejut, persis seperti yang Surin alami beberapa menit yang lalu.

 

Tanpa basa-basi, Sehun langsung menyuruh kelompok mereka untuk duduk melingkar. Surin sama sekali tidak bisa membaca ekspresi Sehun saat ini. Kepala Surin penuh perkataan yang menyalahkan dirinya sendiri, membuatnya ingin pergi dari tempat tersebut. Surin meyakinkan dirinya, bahwa ia tidak perlu takut karena sudah membentak Sehun yang ternyata adalah seniornya sendiri beberapa waktu lalu di depan café. Surin mencoba meyakinkan dirinya bahwa dikejadian tadi, Surin benar-benar adalah korban dan Sehun adalah pelaku.

 

“Santai aja, ya. Jadi apa yang kalian mau tanyain ke saya di sesi perkenalan ini?”

 

Semua anggota kelompok Surin langsung bertanya ini dan itu mengenai Sehun, juga seputar kampus sementara Surin hanya terdiam. Pasalnya, perasaan masih kesal terhadap laki-laki itu namun juga perasaan takut yang saat ini menggandrungi Surin berhasil membuatnya terbisu. Sesekali Surin berujar, tapi itupun karena teman-teman sekelompoknya mengajak berkenalan. Surin tidak sama sekali bertanya apapun pada Sehun.

 

Tanpa Surin sadari dua puluh menit telah berlalu dan Surin sama sekali tidak bertanya apapun pada Sehun. Satu-per-satu teman kelompoknya menyerahkan buku tulis pada Sehun untuk mendapatkan tanda tangannya.

 

“Kak, saya bersyukur deh mentor kelompok saya itu Kak Sehun. Baik, padahal pas baru pertama kali liat kakak saya kira kakak itu galak banget.” Ujar seorang gadis membuat Sehun tertawa seraya menandatangani bukunya. Surin mendengus dalam hati. Mereka tidak tahu saja kalau Sehun benar-benar menyebalkan. Mereka tidak tahu saja kalau Sehun adalah tipe orang yang menganggap semua masalah dapat diselesaikan dengan hanya memberi uang.

 

“Eh, kamu. Sedari tadi diem aja. Kamu mau tanda tangan apa enggak? Kamu tau kan resikonya kalo gak dapet tanda tangan? Kamu gak bisa ikut Campus Tour.”

 

Surin langsung terbatuk seraya menyerahkan bukunya pada Sehun. “Karena kamu diem aja dan gak ngajuin pertanyaan sama sekali dari tadi, kamu harus ngelakuin sesuatu dulu buat dapet tanda tangan saya.” Sehun tampak mengecek jam tangan yang berada ditangan kirinya kemudian tersenyum kearah Surin yang tampak tidak berdaya. Masih ada waktu sepuluh menit sampai Campus Tour dimulai.

 

“Yang lain boleh langsung ke halte bus didepan gedung buat ikut Campus Tour, dan khusus buat kamu, kamu ikut saya dulu.”

 

Sehun beranjak dari tempatnya dan berjalan lebih dulu sementara Surin mau tidak mau akhirnya membuntuti. Teman-teman sekelompoknya tampak menyemangati Surin membuat Surin ingin menangis saat itu juga. Bahkan gadis yang tadi berkata bahwa Sehun adalah orang yang baik saja langsung membisiki Surin sesuatu yang membuat Surin merinding. “Surin, sabar ya. Gue cabut kata-kata gue kalau Kak Sehun baik. Gue sendiri langsung mendadak takut.”

 

Selepas mereka berada jauh dari gedung utama kampus, Surin sudah tidak bisa untuk tidak menegur laki-laki itu. “Kamu kalo mau ngerjain saya, gak gini juga. Saya tau saya udah bentak-bentak kamu tadi di café, tapi itu kan emang salah kamu. Jangan jadiin saya sasaran padahal kesalahannya ada di kamu, deh.” Surin berujar seraya menyejajarkan langkahnya dengan langkah Sehun yang besar-besar.

 

Lupakan mengenai cara bicaranya yang tidak sopan pada seniornya sendiri, karena Surin benar-benar tidak mau memanggilnya ‘kak’ ataupun berbicara menggunakan kalimat sopan apalagi formal setelah laki-laki itu menghancurkan layar ponselnya dan membuat dahinya memar. Berbeda dengan Surin yang bicara dengan gue-lo pada orang-orang dekatnya, Surin memberi jarak serta penekanan bahwa ia tengah tidak sopan dengan bicara kamu-saya pada Sehun yang jelas-jelas lebih tua darinya. Dari ungkapan kamu-saya itu Surin juga tanpa tidak langsung memberitahu Sehun bahwa ia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan laki-laki itu.

 

Mereka berjalan kearah café, dan Surin benar-benar tidak tahu apa maksud laki-laki itu. “Percaya diri banget kamu, saya jadiin sasaran karena kejadian di café? Kamu begini kan karena salah kamu sendiri yang gak ngajuin pertanyaan apapun ke saya di sesi perkenalan tadi.” Sehun berujar sementara Surin membenci dirinya yang mengakui bahwa hal yang diucapkan Sehun barusan memang benar adanya. Surin dapat melihat laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan.

 

Mereka tiba di café dan Sehun langsung memesan pesanannya. Satu Green Tea Latte ukuran large. Sehun pun duduk disebuah kursi yang berada didekat jendela besar sementara Surin masih mengikuti. “Gausah lama-lama, jadi mau kamu apa supaya saya bisa dapet tanda tangan kamu?”

 

“Temenin saya abisin minuman ini disini atau kamu pilih gak dapet tanda tangan saya sama sekali?”

 

Surin membelak tidak percaya. Gadis itu mendengus kemudian segera menempatkan diri dihadapan Sehun. Laki-laki itu meminum Green Tea Latte-nya dengan lambat, membuat Surin tidak bisa untuk tidak kesal. Seolah sengaja, bahkan laki-laki itu sudah tertawa kearah Surin. Surin benar-benar tidak tahu apa maksud laki-laki itu melakukan hal ini sekarang. Surin yakin alasan sebenarnya adalah karena memang laki-laki itu ingin membalas dendam pada Surin yang sudah membentaknya beberapa waktu lalu.

 

Surin membuang pandangannya kearah jendela kaca yang berada disampingnya kemudian kakinya langsung bergerak tidak tenang karena beberapa bus mulai berdatangan untuk menjemput mahasiswa yang sudah ramai berkumpul di halte bus depan gedung utama kampus.

 

“Kamu bisa cepetan gak sih minumnya? Jangan-jangan kamu sengaja ya, biar saya gak bisa ikut Campus Tour? Sekali lagi, saya ngerasa gak adil aja kalo kamu jadiin saya sebagai sasaran kamu sementara saya adalah korban dari kecerobohan kamu.”

 

“Kamu tuh bener-bener percaya diri banget ya bakal saya jadiin sasaran? Jelas-jelas kamu kayak gini sekarang karena salah kamu sendiri. Lagian saya udah baik banget ngasih kamu hukuman kayak gini.” Ujar Sehun sementara Surin tidak tahan untuk tidak mencibir, namun Surin berusaha untuk menahan diri sebisanya. Laki-laki itu tampan, sungguh, dia tampan, tapi benar-benar menyebalkan.

 

“Jadi, nama kamu Jang Surin?” Laki-laki itu berujar, mengabaikan tatapan Surin yang menyuruhnya untuk menghabiskan minumannya dengan segera, sehingga hal tersebut berhasil membuat Surin berpikir bahwa Sehun memang sengaja membuatnya tertahan dihadapan laki-laki itu sekarang ini dengan maksud agar Surin tidak bisa ikut Campus Tour.

 

“Iya, kenapa?”

 

“Gapapa, sih. Nama kamu bagus aja. Setau saya Surin itu nama pantai di Thailand tepatnya di Phuket.” Surin melirik Sehun yang kini tersenyum, masih sambil meminum Green Tea Latte-nya. Surin memang sudah tahu bahwa namanya sama persis dengan nama pantai yang ada di Phuket, Thailand, tapi ia hanya tidak percaya ada orang lain yang tahu arti namanya selain dirinya sendiri dan kedua orangtuanya.

 

Surin harus akui, Sehun adalah orang pertama yang tahu bahwa namanya diadaptasi dari nama pantai cantik yang ada di Phuket, Thailand.

 

Sehun kembali tersenyum ketika Surin mengerjapkan matanya berkali-kali. Sialnya, senyuman dari laki-laki itu harus Surin kategorikan sebagai senyuman termanis yang pernah dilihatnya. Dan sekali lagi, apa katanya barusan? Nama Surin bagus? Dengan senyuman manis itu?

 

Surin berdeham. Sebenarnya ia ingin mengucapkan terima kasih, namun entah mengapa gengsinya lebih tinggi kali ini.

 

“Cocok banget sama kepribadian kamu.” Surin langsung memandang Sehun dengan tatapan tidak mengertinya.

 

“Maksud kamu?”

 

“Iya, kamu kayak pantai. Emosi kamu cepet pasang kayak air laut.”

 

Surin mendengus sementara Sehun sudah tertawa. Lupakan tentang Sehun yang adalah orang pertama yang mengetahui arti namanya. Lupakan juga tentang Surin yang menyebut senyum Sehun adalah senyuman termanis yang pernah ia lihat. Sehun benar-benar hanya laki-laki menyebalkan.

 

“Ya sekarang kamu bayangin aja deh, siapa juga yang gak emosi sama orang yang udah buat layar ponselnya ancur, dan orang itu bahkan gak mau tanggung jawab?” Surin berujar sarkastik.

 

“Siapa yang gak tanggung jawab? Saya udah kasih uang buat gantiin layar ponsel kamu. Harusnya selesai, dong?”

 

Surin benar-benar tidak habis pikir dengan Sehun, sehingga kini gadis itu hanya berdecak dan mengabaikan ucapan Sehun barusan. Lagi-lagi hanya senyum kemenangan yang Surin lihat pada wajah laki-laki berkulit putih susu itu.

 

Satu-per-satu bus mulai pergi meninggalkan halte, membuat Surin semakin tidak tenang. Laki-laki yang berada dihadapannya sekarang ini malah asik memandanginya dengan kedua mata yang sudah membentuk lengkungan bulan sabit, seolah menertawai Surin yang tidak tenang karena merasa dirinya akan ditinggal.

 

Dan Surin tahu masa orientasi pengenalan kampus-nya tidak akan berjalan mudah.

 

**

 

Semenjak kejadian pertemuan pertamanya dengan Sehun lima hari yang lalu itu, kehidupan Surin di kampus benar-benar tidak tenang. Sehun adalah mentornya, dan dari sepuluh orang anggota kelompoknya, Surin yang paling sering terkena omelan Sehun. Entah karena nametag Surin yang salah, datang terlambat lima detik, bahkan kaos kaki Surin yang terlalu pendek saja menjadi masalah untuk laki-laki itu. Sepanjang lima hari terakhir, Surin dan Sehun benar-benar seperti kucing dan anjing yang selalu memperdebatkan hal tidak penting, sampai-sampai teman sekelompok Surin tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menengahkan apabila keduanya sudah kembali beradu mulut.

 

Kyungsoo bahkan pernah sampai turun tangan membela Surin yang dihukum menyanyi didepan kelompok-kelompok lain oleh Sehun hanya karena buku tulisnya tidak disampul. Surin benar-benar tidak habis pikir dengan laki-laki menyebalkan itu.

 

Surin yakin seratus persen, Sehun telah menjadikan Surin sebagai sasaran bulan-bulanannya karena kejadian pertama kali mereka bertemu benar-benar tidak meninggalkan kesan yang bagus. Ditambah lagi dengan kenyataan Surin yang tidak pernah memanggilnya dengan sebutan ‘kak’ seperti yang lain. Atau mungkin juga karena Surin yang terus bicara dengan ‘saya-kamu’, yang bagi Sehun tidaklah sopan. Entah apapun alasannya, memang sepertinya laki-laki itu hanya tidak ingin hari Surin berjalan tenang bahkan barang satu hari saja.

 

“Jangan-jangan Sehun suka kali sama lo, makanya dia kayak gitu. Istilahnya, cari perhatian.” Ucapan Jimi barusan sukses membuat Surin tersadar dari lamunan panjangnya mengenai harinya selama lima hari terakhir ini. Surin langsung mendengus, menanggapi ucapan sahabatnya itu.

 

“Boro-boro suka. Yang ada tuh cowok dendam kesumet sama gue.” Timpal Surin membuat Jimi tertawa.

 

“Tapi Sehun ganteng banget. Lo emang gak nyadar apa? Biasanya kalo ada cowok ganteng dikit langsung berisik.” Jimi tersenyum jahil pada Surin yang kini hanya memutar bola matanya. Jimi tahu Surin menahan senyumannya sendiri.

 

“Ya, iya, sih. Emang ganteng. Tapi sifat resenya bikin semua buyar.” Jawab Surin lalu ia membenci otaknya sendiri yang kini malah memperlihatkan adegan senyuman manis Sehun ketika menyebut namanya bagus beberapa hari yang lalu.

 

“Ati-ati lo, nanti malah cinta lokasi.” Surin memutar bola matanya malas, kemudian memilih untuk tidak menanggapi ucapan Jimi barusan. Jimi hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.

 

Saat ini mereka berdua tengah duduk di kantin kampus, baru saja selesai menyantap makan siang mereka. Dalam dua puluh menit lagi, mereka harus sudah kembali berkumpul di gedung serba guna kampus yang tidak jauh dari kantin untuk mengumpulkan tugas mereka. Tugas membuat surat cinta dan benci untuk para senior yang berhasil membuat Surin berpikir keras. Nantinya, satu surat cinta dan satu surat benci terbaik akan dibacakan di depan seluruh mahasiswa baru juga di depan seluruh senior yang bertugas menjadi pembimbing mereka selama masa orientasi pengenalan kampus. Pengirim surat akan mendapatkan hadiah utama yaitu dua iPhone7+ untuk masing-masing surat cinta dan surat benci terbaik.

 

Waktu terus berjalan, namun surat cinta dengan kertas warna merah jambu juga surat benci dengan kertas warna hitam milik Surin masih benar-benar kosong sementara Jimi asik menulis miliknya sendiri.

 

“Lo ngirim ke siapa, sih? Asik banget nulisnya.” Tanya Surin dan Jimi tertawa kecil.

 

“Gue ngirim surat cinta buat Baekhyun. Lo tau, kan? Yang anak Kedokteran tapi gak ada serius-seriusnya itu, loh. Dia mentor gue. Sebenernya ya, selama ospek ini, dia bener-bener gak kayak pas perkenalan yang nampilin kalo dia itu kocak, dan gak galak sama sekali. Dia itu ternyata galak banget kalo lagi serius. Anak-anak kelompok gue aja kena omel terus dan semuanya pada takut. Tapi lo tau? Dia baik banget sama gue. Gue juga bingung kenapa tapi serius dia baik banget.” Jimi bercerita sementara Surin hanya mendengarkan.

 

“Waktu itu gue pernah kelepasan pake sepatu putih karena udah terlambat, terus gue baru sadar karena Baekhyun yang ngingetin. Tapi lo tahu gak cara dia ngingetin itu gimana? Dia ngirimin gue surat yang dibentuk kayak pesawat terbang pas lagi baris di gedung serba guna kemaren. Isinya ‘Jimi, sepatu kamu salah. Pakai sepatu aku aja, ya sebelum ketahuan yang lain?’ terus pas gue selesai baca surat itu, dia udah ada disebelah gue. Dia bawa gue keluar dari barisan, terus di depan gedung dia lepas sepatu dia dan ngasih pinjem sepatunya gitu aja ke gue.” Surin tertawa sementara Jimi pun juga tertawa disela-sela ucapannya.

 

“Terus, Baekhyun pake sepatu apa?” Tanya Surin, mulai tertarik dengan cerita Jimi.

 

“Pake sepatu gue yang kekecilan! Dia injek bagian belakangnya karena bener-bener gak muat dikakinya. Gue ketawa karena Chanyeol nyamperin Baekhyun terus nanya ‘Baek, sepatu lo kenapa? Itu lo gak nyolong sepatu cewek, kan?’ dan Baekhyun cuma ketawa.” Ujar Jimi dan tawa mereka langsung pecah begitu saja.

 

“Terus surat bencinya bakal lo kirim ke siapa?”

 

“Kim Jongin. Dia nyebelin banget! Dia ngomelin gue terus padahal gue gak salah apa-apa. Selalu ada aja yang dia permasalahin. Gue bakal nulis surat benci yang paling sadis supaya dibacain di depan dan bikin dia malu. Tapi gue gak bakal nulis nama gue, meskipun di syaratnya harus pake nama. Main kotor sesekali gapapa lah ya. Lagipula gue udah bener-bener gak tahan sama sikap resenya.” Jimi tampak langsung menulis diatas kertas berwarna hitam dengan tidak sabaran sementara Surin hanya memperhatikan sahabatnya itu. Tiba-tiba terbersit sebuah rasa dalam hati Surin untuk melakukan hal serupa pada Sehun.

 

Surin merasa ingin balas dendam. Ponselnya yang naas, lima harinya di kampus yang terasa seperti di neraka, Surin sudah benar-benar lelah dan ingin rasanya ia membalas dendam pada Sehun. Surin mengambil kertas berwarna hitam yang berada dihadapannya, kemudian ia meletakannya lagi. Surin hanya tidak bisa setega Jimi.

 

“Oh iya, dua hari lagi kegiatan orientasi pengenalan kampus kita kan berhubungan sama organisasi, gue milih organisasi Mahasiswa Pecinta Alam. Lo tau gak? Ternyata Baekhyun bagian dari organisasi itu! Gue bener-bener gak sabar buat jelajah hutan kampus bareng dia! Ngomong-ngomong, lo kenapa pilih organisasi Berkuda sih, Rin? Setahu gue dari dulu lo kan gak suka olahraga.”

 

Surin mengernyitkan dahinya, tidak mengerti dengan ucapan Jimi barusan. “Berkuda? Yang bener aja, lo? Gue milih organisasi Jurnalistik, kok. Lo liat dimana gue ada di organisasi Berkuda?”

 

“Di daftar nama perkelompok yang dipajang sama mentor lo. Itu kan ditulis pilihan organisasi masing-masing. Emangnya bukan lo sendiri yang nulis? Astaga, gue baru sadar kalo Sehun pasti ngerjain—”

 

Surin langsung merasa jantungnya jatuh begitu saja. “Oh Sehun!!! Sinting kali ya tuh orang?!”

 

Surin berseru marah dan mengambil surat benci yang ada dihadapannya kemudian segera menulis dengan tidak sabaran juga penuh emosi. Kali ini tidak ada rasa tega lagi yang tersisa di otak Surin.

 

Surin benar-benar harus balas dendam.

 

**

 

Kalau aku harus jadi motor yang sering kakak kendarai agar bisa sedekat itu dengan kakak setiap harinya, aku rela.

Kalau aku harus jadi almamater kampus yang sering kakak pakai agar bisa memeluk kakak setiap harinya, aku rela.

Kalau aku harus jadi sepatu kakak yang kakak pakai kemanapun agar bisa selalu bersama kakak setiap harinya, aku juga rela.

Tapi kalau aku harus jadi perempuan yang kakak suka untuk bisa bersanding dengan kakak setiap harinya, aku mundur.

Karena aku ingin kakak menyukaiku yang adalah aku, bukan orang lain.

-Park Jimi, Fakultas Ilmu Hukum.

 

Itulah isi surat cinta dari Jimi untuk Baekhyun yang berhasil menjadi surat cinta terfavorit. Keadaan gedung serba guna itu ramai, penuh sorakan juga tawa ketika surat cinta Jimi dibacakan. Surin sendiri sampai merasa air matanya karena terlalu banyak tertawa benar-benar sudah diujung matanya. Surin hanya tidak percaya dengan Jimi yang berani menuliskan surat cinta seperti itu pada Baekhyun. Sahabatnya itu memang selalu penuh dengan kejutan.

 

Dari tempatnya sekarang ini Surin dapat melihat Jimi tengah bersanding bersama Baekhyun di panggung, tentunya diikuti sorakan dari mahasiswa yang lain. Hal itu sukses membuat Jimi salah tingkah, begitu pula dengan Baekhyun yang kini pura-pura terbatuk saat akan menyerahkan hadiah utama pada Jimi. Baekhyun dan Jimi kemudian berfoto bersama, dan tanpa disangka-sangka Jongin merusak moment bersama itu dengan turut berdiri disebelah kiri Jimi.

 

Surin lagi-lagi tertawa, terutama ketika melihat Baekhyun yang mendorong Jongin dengan kesal sementara Jongin masih saja bergaya disebelah Jimi. Chanyeol sampai harus turun tangan untuk menyeret Jongin menjauh dari Jimi dan Baekhyun, barulah kedua orang yang tampak sangat senang itu bisa berfoto bersama dengan tenang.

 

Surin langsung teringat bahwa Jimi bercerita Jongin sering mengganggunya, juga membuatnya kesal setiap saat. Dari kejadian tadi, Surin bisa tahu bahwa ucapan Jimi yang berkata kalau Sehun menyukai Surin namun dengan cara yang terkesan ‘cari perhatian’ memang ada di kehidupan nyata. Contohnya, Kim Jongin.

 

Tapi Surin yakin Sehun berbeda. Sehun memang hanya ingin mencari masalah saja dengan Surin. Tidak ada yang lebih dari itu. Ya, setidaknya biarkan Surin berpikir seperti itu karena jantungnya tidak bisa berhenti berdebar kencang setiap membayangkan perkataan Jimi kalau Sehun menyukai dirinya dan semua hal menyebalkan yang telah dilakukan laki-laki itu hanyalah caranya untuk mencari perhatian.

 

“Selanjutnya, kita akan membacakan surat benci terfavorit. Surat ini ditujukan untuk Oh Sehun, dengan judul ‘Surat Cinta Bertopeng Benci’.” Chanyeol yang adalah pembawa acara berujar melalui microphone, sementara Surin langsung membelak. Itu adalah surat Surin untuknya. Surin langsung tersenyum jahat seraya membetulkan posisi duduknya.

 

“Rasain pembalasan gue, Oh Sehun!” Ujar Surin setengah berbisik. Surin yakin Sehun akan malu setengah mati karena isi surat tersebut.

 

“Oh Sehun, ingin aku mendekap tubuhmu yang hangat. Ingin pula aku menyentuh punggungmu yang lebar.” Chanyeol membacakan dua baris kalimat dari surat tersebut dan sorakan disana-sini mulai terdengar, gelak tawalah yang paling mendominasi ruangan tersebut.

 

“Ingin aku mengecup kedua kelopak matamu. Ingin aku mengecup ujung hidungmu yang lancip. Ingin aku mengecup kedua pipimu yang memiliki percikan warna merah alami. Ingin pula aku menarikan bibir ini diatas bibirmu yang berbentuk sempurna dengan warna bunga tulip merah jambu yang baru saja mekar.” Kini tawa sudah benar-benar mengisi seluruh penjuru ruangan. Surin tertawa terbahak terutama ketika melihat Sehun yang sudah memegangi tengkuknya sendiri. Telinganya memerah, benar-benar malu akan apa yang dibacakan Chanyeol. Surat benci yang Surin tulis dengan tema dewasa itu memang bertujuan untuk membuat seorang Oh Sehun malu, dan Surin merasa puas karena rencananya berjalan baik. Kali ini ia benar-benar menang dari Sehun.

 

“Ingin aku memilikimu, dipelukanku, saat ini sampai selamanya.” Chanyeol bahkan sudah tertawa bersama seluruh orang di gedung serba guna tersebut karena kalimat terakhir yang sangat dramatis itu. Sehun kini menggelengkan kepalanya seraya sesekali memijat pelipisnya. Meskipun laki-laki itu ikut tertawa, Surin tahu sekali bahwa Sehun benar-benar malu karena sampai detik ini, Surin masih dapat menyaksikan kedua telinga Sehun yang merah padam.

 

“Mari kita lihat nama pengirimnya. Oh, pengirimnya adalah Jang Surin dari Fakultas Ilmu Komunikasi. Kepada Surin, dipersilahkan untuk maju kedepan dan mengambil hadiah anda dari Sehun diatas panggung ini.”

 

Surin menganga, merasa jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa detik. Semua orang tampak mengedarkan pandangan mereka, mencari orang yang bernama Surin. Seketika Surin benar-benar ingin mengubur diri.

 

Bagaimana bisa namanya tiba-tiba ada disurat itu sementara Surin tidak menuliskan nama pengirim sama sekali? Surin yakin semua ini ada kaitannya dengan Sehun. “Oh Sehun… dasar laki-laki kurang ajar!” Surin berujar dengan volume yang sangat kecil. Ia langsung mengumpati Sehun habis-habisan dalam hatinya.

 

Surin merasa pandangan orang-orang disebelahnya mengarah pada nametag-nya yang langsung ia tutupi. Orang-orang itu mulai menyenggol Surin, setelah mereka yakin bahwa Surin yang dimaksud adalah dirinya. Mau tidak mau Surin akhirnya berdiri, berjalan menuju panggung utama kampus dengan tertunduk, sementara suara sorakan mengisi seluruh penjuru gedung tersebut.

 

Sesampainya Surin dihadapan Sehun, Surin mati-matian untuk tidak memukul laki-laki yang tengah tersenyum jahil itu. “Senjata makan tuan, ya?” Ujar Sehun dengan volume kecil namun Surin benar-benar mendengar kalimat ledekan itu dengan jelas. Sehun menyerahkan hadiah utama pada Surin yang langsung diterima oleh Surin dengan senyum palsu. Suara tepuk tangan dan sorakan heboh masih menyelimuti gedung tersebut.

 

“Ya, dipersilahkan untuk foto bareng juga. Selamat ya, Surin. Anda bisa memeluk Sehun sekarang kalau anda mau.” Chanyeol berujar dan tawa semua orang kembali menyembur begitu saja sementara wajah Surin sudah benar-benar merah seperti warna tomat matang. Sehun menarik Surin untuk berdiri disebelahnya. Laki-laki itu bahkan kini merangkul Surin dengan senyuman lebarnya, seolah ia tidak tahu menahu mengenai nama pengirim disurat itu yang tiba-tiba tertuju pada Surin.

 

“Oh Sehun, itu pasti kamu kan yang nulis nama saya? Kamu tau gak kalo kamu baru aja nuduh saya? Kalo ternyata itu bukan tulisan saya, gimana?” Surin berujar berbisik pada Sehun yang dapat mendengarnya.

 

“Kalo kamu mau ngelak dan bohong, harusnya kamu gak berdiri tenang disebelah saya buat sesi foto kayak sekarang ini. Ternyata bener, emang kamu yang nulis.” Sehun membalas dan emosi Surin benar-benar sampai pada ujung kepalanya. Jika hari-hari sebelumnya Sehun menyebalkan, hari ini laki-laki itu jauh lebih menyebalkan membuat Surin ingin sekali menyikut perut Sehun dengan kencang.

 

“Saya udah sabar banget ya sama kamu karena kamu masukin nama saya di organisasi Berkuda. Kamu tuh benci banget ya sama saya sampe kayak gini?”

 

Sehun malah asik bergaya disebelah Surin. Laki-laki itu bahkan mengeratkan rangkulan tangannya pada lengan Surin, membuat tubuh gadis itu benar-benar berdempetan dengan tubuhnya dan sorakan semua orang yang melihat hal tersebut kembali terdengar. Sehun tertawa kemudian membisikan Surin sesuatu yang membuat Surin ingin melempar laki-laki itu keluar dunia jika ia bisa.

 

“Jang Surin, maksud saya itu baik. Kamu mau ponsel kamu saya ganti dengan yang sama persis, kan? Itu udah saya ganti. Kalo saya benci sama kamu, harusnya saya seneng aja ponsel kamu rusak. Harusnya saya gak repot-repot nulis nama kamu disurat tanpa nama yang ternyata beneran kamu tulis sendiri itu.”

 

Jadi, sebenarnya Sehun benar-benar memang tidak tahu kalau surat itu Surin yang tulis? Jadi, pada awalnya memang maksud Sehun menulis nama Surin di surat tanpa nama itu adalah semata-mata hanya untuk mendapatkan hadiah utama guna menggantikan ponsel Surin yang sudah dirusaknya? Surin benar-benar tidak percaya dengan apa yang otaknya simpulkan.

 

Kalau saja diawal tadi Surin mengelak, dan tidak membiarkan dirinya malah berakhir seperti maling ketangkap basah seperti sekarang ini, Surin pasti bisa membuat semua orang percaya bahwa surat itu bukan Surin yang mengirim. Semuanya benar-benar terlambat dan Surin kini sudah mengutuki kebodohan dirinya sendiri.

 

Surin merasa ingin pingsan ditempat ketika lagi-lagi yang Surin lihat dari laki-laki itu hanya senyumannya juga kedua matanya yang berbentuk lengkungan bulan sabit.

 

Surin merasa pening dengan seketika.

 

**

 

Setelah kejadian pembacaan surat benci Surin untuk Sehun dua hari yang lalu, Surin benar-benar tidak bisa tenang selama berada dikawasan kampus. Padahal tujuan utamanya ingin membuat Sehun malu, tapi Surin lah yang kini menanggung malu tidak berujung. Meskipun orang-orang disekitarnya tidak ada yang mempermasalahkan perihal surat tersebut mengingat semua orang bahkan ingin bisa menjadi yang terfavorit, namun Surin tetap saja malu.

 

Setidaknya Surin mendapatkan pelajaran bahwa membalas dendam itu memang tidak akan ada yang berujung baik.

 

Saat ini Surin tengah berada di lapangan berkuda kampus. Kampusnya memang luas, sangat luas, sampai-sampai Surin saja tidak tahu kalau ternyata ada lapangan tersendiri untuk kegiatan berkuda. Bahkan ia tidak tahu sama sekali sebelumnya bahwa kampusnya itu memiliki organisasi Berkuda. Kalau bukan karena Sehun yang mengganti pilihan organisasinya, mungkin sampai kapanpun Surin tidak akan pernah tahu. Mungkin Surin yang kurang mencari tahu karena kenyataannya organisasi Berkuda itu adalah salah satu organisasi paling berprestasi di kampus, dan kampus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk organisasi tersebut setiap tahunnya.

 

Bicara mengenai hal itu, Surin masih bingung apa sebenarnya alasan Sehun main merubah pilihan organisasinya begitu saja. Untung saja ini masih percobaan, jadi Surin bisa mengundurkan diri selepas semua kegiatan organisasi Berkuda yang akan ia jalani seharian penuh ini, kalau memang ia merasa tidak nyaman.

 

“Emang dasar aja kerjaannya ngerjain orang mulu.” Gerutu Surin dalam hati. Surin segera menuju kerumunan orang ditengah lapangan berkuda itu, kemudian berkenalan dengan beberapa teman. Tidak lama selepas itu, lima orang senior dengan kaos polo berkerah datang didepan mereka yang kini sudah berbaris rapi. Surin membelak, ketika melihat Sehun berdiri bersama keempat senior yang lain.

 

Jadi, Sehun adalah bagian dari organisasi Berkuda? Keterlaluan. Laki-laki itu memang tidak ada habisnya ingin mengerjai Surin. Surin benci karena kini rasa kesalnya tertimbun rasa aneh dalam dirinya yang mengatakan bahwa Sehun terlihat sangat tampan dengan kaos polo yang dikenakannya.

 

“Selamat pagi, calon anggota organisasi Berkuda Seoul National University. Hari ini kalian akan melangsungkan beberapa kegiatan organisasi Berkuda sebagai masa percobaan yang akan dibimbing langsung oleh kami berlima. Mulai dari peraturan berkuda, sampai cara berkuda akan kami beritahu pada kalian semua hari ini sampai sejelas-jelasnya.” Ujar salah satu laki-laki dari kelima laki-laki itu. Surin yakin ia ingat namanya Kim Junmyeon dari Fakultas Ekonomi Bisnis. Rupanya ia adalah ketua dari organisasi itu, terlihat dari bagaimana caranya membuka sesi dari rangkaian kegiatan yang akan mereka jalani.

 

Surin bersumpah, ia ingin pulang ketika matanya bertemu dengan sepasang mata Sehun yang tajam. Surin ingin meneriaki laki-laki itu bahwa ia benar-benar tidak bisa berkuda. Jangankan berkuda, memegang kuda saja Surin belum pernah. Laki-laki yang tengah mengenakan kaos polo berkerah dengan warna merah maroon itu hanya tersenyum penuh arti pada Surin, membuat gadis itu ingin menimpuknya dengan sepatu kuda sekarang juga.

 

“Tapi sebelum memulai semuanya, kalian harus suka rela melakukan satu kegiatan dulu yang saya yakin tidak akan kalian sukai. Kalian akan membersihkan kandang kuda selama dua jam kedepan. Kandang kudanya disebelah sana dan disana sudah ada beberapa pekerja yang akan mengarahkan kalian. Jadi, daripada mengulur waktu, langsung saja kita ke kandang kuda itu.” Ujar Junmyeon dan Surin merasa otaknya membeku begitu saja.

 

Surin tahu harinya di organisasi Berkuda itu tidak akan berjalan mulus.

 

Benar seperti dugaannya, baru kegiatan pertama saja Surin merasa tenaganya dikuras habis-habisan. Kandang kuda itu besar sekali, membuat Surin ingin pingsan. Tidak hanya Surin saja yang kelelahan, tapi juga teman-temannya yang lain. Bedanya, mereka melakukan itu dengan senang hati karena mereka memang ingin sekali menjadi anggota dari organisasi Berkuda. Sementara Surin, ia benar-benar terpaksa karena ia tidak bisa mundur dan seenaknya berkata bahwa Sehun lah yang mengganti pilihan organisasinya sementara ia tidak memegang bukti kuat apapun.

 

Waktu sudah berjalan satu jam setengah dan itu artinya hanya tinggal setengah jam lagi sebelum Surin terbebas dari kandang kuda tersebut. Surin mencoba untuk berpikir positif, dan dengan bersemangat memegang sapu lidinya kala tangannya terus menyapu salah satu kandang yang adalah tempat singgah seekor kuda berwarna hitam. Meskipun Surin takut setengah mati terhadap kuda itu tapi karena sang kuda diam saja, Surin mencoba memberanikan dirinya meskipun tangannya sendiri gemetar, benar-benar takut kalau kuda itu seketika mengamuk dan menendang Surin dari kandangnya tersebut.

 

“Halo, Pluto.” Surin menoleh, mendapati Sehun tengah mengelus kuda hitam yang sedari tadi Surin takuti. Surin mendengus, melihat Sehun memasuki kandang tersebut sembari terus mengelus kuda itu. “Pluto keliatan tegang banget satu tempat sama kamu. Buruan deh nyapunya.” Sambung Sehun yang Surin tahu mengarah padanya. Surin memicingkan matanya pada Sehun dengan kesal.

 

“Kamu tau sendiri kan kalo nyapu kandang kuda gini bukan keinginan saya? Saya itu dipaksa. Jadi udah deh, kamu pergi aja, gausah bikin saya tambah kesel.” Ujar Surin dengan penuh penekanan pada kata ‘dipaksa’. Sehun hanya tertawa membuat Surin ingin sekali memukulnya dengan sapu lidi yang tengah dipegangnya.

 

“Pluto bilang dia tegang karena kamu cantik banget.”

 

Surin langsung menatap Sehun yang kini juga tengah menatapnya. Surin merasa jantungnya dipacu dengan seketika karena tatapan mata laki-laki itu padanya. Tatapan mata Sehun tajam, dan begitu… memabukkan. “Apalagi kalo lagi nyapu kandangnya kayak gini.” Tambah Sehun membuat Surin langsung tersadar dari kebekuan sesaatnya. Sehun memang selalu tahu bagaimana cara membuatnya naik pitam. Lupakan otak Surin yang berkata bahwa tatapan tajam Sehun begitu memabukkan.

 

Surin baru saja akan membalasnya, namun kakinya sendiri tersandung sapu lidi yang tengah dipegangnya sehingga kini ia kehilangan keseimbangan tubuhnya. Surin memejamkan matanya sambil memekik, bersiap akan benturan keras antara tubuhnya dengan lantai tidak berubin yang akan ia alami.

 

Namun untuk beberapa detik Surin merasa tubuhnya melayang diudara, dan kejadian benturan keras itu tidak kunjung datang. Surin masih memejamkan matanya, tidak berani untuk barang sedikitpun membuka kelopak matanya sendiri terutama ketika wangi tubuh Sehun yang khas mulai memasuki indera penciumannya. Surin pun dapat merasakan kedua tangan kekar Sehun melingkari pinggulnya, membuat gadis itu tambah tidak berani untuk membuka matanya.

 

Tiba-tiba Surin mendengar suara pekikan kuda yang kencang, dan selepas itu Surin tidak tahu apa-apa mengenai yang terjadi padanya sekarang ini.

 

Yang Surin tahu, ia sudah tergeletak dilantai tidak berubin penuh jerami itu, dengan Sehun diatas tubuhnya. Surin tidak mau membuka matanya karena kini ia merasa sesuatu menempel pada bibirnya sendiri. Sesuatu seperti benda lembut, yang berhasil membuat jantungnya jatuh begitu saja ketika otaknya membisikan sesuatu mengenai ciri-ciri bibir sempurna milik Sehun.

 

Seolah tersadar karena pikiran tersebut, Surin langsung membelakan matanya begitu saja dan ternyata bisikan otaknya benar seratus persen.

 

Bibirnya kini tengah menempel begitu saja dengan bibir Sehun.

 

Mata Surin yang membelak beradu dengan mata Sehun yang juga tengah membelak terkejut.

 

Ujung hidung mereka bahkan kini saling bersentuhan, membuat Sehun yang seolah tersadar lebih dulu dari pada Surin langsung bangkit berdiri.

 

Surin terduduk, tatapannya benar-benar kosong. Otaknya tidak mampu mencerna apapun. Oh Sehun… musuh bebuyutannya itu, baru saja… menciumnya? Bibir mereka baru saja… bersatu?

 

Anehnya, Surin tidak merasa marah seperti beberapa menit lalu saat ia berpikir untuk memukul Sehun dengan sapu lidinya. Surin malah merasa jantungnya berdebar jauh lebih cepat, kedua pipinya terasa panas, dan sesuatu seolah tengah meremas perutnya begitu saja, terutama ketika kedua manik mata berwarna cokelat pekat milik Sehun terbayang-bayang dipikirannya.

 

“Ta-tadi itu, Pluto nendang kaki saya. Saya bener-bener gak sengaja.” Ujar Sehun memecah keheningan diantara mereka.

 

Sehun mengulurkan tangannya pada Surin untuk membantu gadis itu bangun, dan Surin langsung menggapainya. Lagi-lagi sesuatu seolah tengah menggelitik perutnya, ketika tangannya digenggam oleh tangan Sehun yang jauh lebih besar dan hangat itu.

 

Tunggu, apa kata otak Surin barusan? Hangat? Benar-benar bahasa yang terlalu berlebihan.

 

“Oh Sehun! Lo lagi dimana, sih? Cepetan kesini! Kita harus nunjukin ke anak-anak cara latihan kita!” Junmyeon berseru, membuat Sehun langsung terpanggil. Sehun mencuri pandang kearah Surin dan laki-laki itu menahan senyumnya ketika melihat kedua pipi Surin yang memerah. Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa gugup karena melihat gadis itu yang juga tengah gugup setengah mati.

 

“Sa-saya keluar dulu. Eh, ka-kamu aja deh duluan. Eh, ki-kita keluar bareng aja deh.” Ujar Sehun dengan susah payah lalu Surin hanya mengangguk seraya membuntuti laki-laki berpunggung lebar itu.

 

Surin hanya masih tidak percaya karena ciuman pertamanya malah berakhir ditangan orang yang membuatnya selalu emosi belakangan ini, ditambah dengan latar belakang kandang kuda yang benar-benar membuat Surin semakin tidak percaya.

 

Surin tidak ingin memikirkan apapun, selain cara untuk menetralkan detak jantungnya terlebih dahulu.

 

Saat ini kelima senior dari organisasi Berkuda itu tampak berlatih seru dengan kuda masing-masing dilapangan tersebut. Saling berlomba, dan bahkan saling menunjukan atraksi. Surin dan yang lain bertepuk tangan seru ketika satu-per-satu dari kelima senior itu melewati rintangan seperti pagar penghalang dengan kuda yang mereka tunggangi masing-masing.

 

Surin harus akui kelima seniornya itu tampak benar-benar luar biasa ketika mereka menunggang kuda dan memacu kuda tersebut untuk berlari lebih cepat mengitari lapangan besar itu. Semuanya benar-benar luat biasa, namun entah mengapa mata Surin tidak bisa terlepas dari Sehun, yang kini tampak sangat serius kala ia terus memacu kudanya berwarna hitamnya.

 

Rambut hitamnya berantakan karena hantaman angin, namun hal itu malah membuatnya jauh lebih luar biasa. Otot-otot di kedua tangannya yang tengah memegang tali kendali mulai bermunculan, membuat Surin harus memekik tertahan. Surin sudah pernah bilang berkali-kali sebelumnya bahwa Sehun itu tampan. Ia benar-benar tampan, meskipun memang sangat menyebalkan.

 

Dan hari ini, tepatnya saat ini, saat laki-laki itu menunggangi kuda hitamnya, Surin merasa otak dan hatinya semakin teracak-acak akibat ketampanan Sehun yang bertambah beratus kali lipat.

 

Sehun persis seperti pangeran berkuda, namun bedanya berkuda hitam, bukan berkuda putih seperti yang ada dibuku dongeng.

 

Selama dua puluh menit Surin dan yang lain menyaksikan senior mereka beraksi dengan kuda masing-masing dan hanya seruan heboh juga tepuk tangan yang mewarnai dua puluh menit seru tersebut. Meskipun Surin tidak bisa berkuda, menonton orang menunggang kuda ternyata benar-benar seru.

 

Apalagi jika yang menunggang kuda Oh Seh… tidak, tidak. Surin rasa Surin harus benar-benar mengecek kesehatan otaknya sekarang ini yang seolah dipenuhi dengan nama laki-laki itu sekarang.

 

“Nah sekarang, siapa yang mau coba menunggang kuda?” Junmyeon berujar dan semua teman-teman Surin langsung mengangkat tangan mereka dengan tinggi-tinggi, kecuali Surin. Satu-per-satu senior itu memilih orang yang akan mereka ajari caranya menunggang kuda dan Surin sudah memandang Sehun dengan tatapan memohon sekaligus menggeleng kecil. Surin sungguh tidak ingin menunggang kuda.

 

“Jang Surin, sini.” Ujar Sehun dan Surin merasa lemas dengan seketika.

 

“Jang Surin, cepet.” Pinta Sehun lagi dan Surin mau tidak mau menurut karena tatapan mata semua orang sudah tertuju padanya.

 

Surin dapat melihat seniornya yang lain mulai mengajari orang yang mereka pilih masing-masing. “Yang lain tunggu, ya. Ada gilirannya masing-masing.” Ujar Junmyeon pada teman-teman Surin yang kini duduk dikursi penonton. Mereka tampak tidak sabar, sementara Surin rasanya ingin menukar posisinya sekarang ini dengan mereka yang sudah sangat antusias, namun Sehun yang kini tengah memperhatikannya benar-benar tidak akan membiarkan hal itu terjadi.

 

“Tunggu apa lagi? Naik cepet.” Ujar Sehun pada gadis itu. Surin benar-benar menatap Sehun dengan tatapan memohonnya, namun Sehun tidak menangkap arti dibalik tatapan tersebut.

 

“Sehun, saya gak bisa.”

 

“Bisa. Sini saya bantuin.” Sehun memegang kedua pinggul Surin, kemudian mengangkat gadis yang sudah memekik itu untuk duduk diatas pelana yang berada tepat dipunggung kuda. “Sekarang apa? Sumpah, saya takut.” Ujar Surin dengan kaki yang gemetar.

 

“Pegang tali kendalinya, tapi jangan terlalu kencang. Terus gerakin kaki kamu sedikit, buat nyuruh si kuda biar dia mau jalan.” Sehun memberi instruksi namun Surin seolah tidak bisa mencerna kata-kata Sehun dengan baik sehingga kini ia memegang tali kendali dengan kencang. Si kuda mulai merasa tidak nyaman. Sehun buru-buru memegang tangan Surin yang gemetar dan dengan segera menyuruh gadis itu untuk mengendurkan pegangannya.

 

“Santai aja. Sekarang gerakin kaki kamu pelan-pelan.” Sehun berujar namun raut Surin sudah benar-benar menunjukan bahwa gadis itu tidak bisa untuk santai saja seperti yang Sehun pinta.

 

Kakinya bergerak sesuai yang di instruksikan Sehun, namun gerakan kaki Surin membuat si kuda merasa terkejut sampai-sampai memekik dan langsung berlari kencang, membuat Surin tidak bisa untuk tidak berteriak ketakutan.

 

Surin merasa tubuhnya terhempas begitu saja dari kuda, dan yang ia tahu kini ia sudah terduduk di tanah dengan nyeri diseluruh tubuhnya sementara sang kuda berlari kesana-kemari membuat suasana lapangan kuda itu benar-benar penuh kepanikan.

 

Sehun yang melihat hal itu segera berlari menghampiri Surin sementara temannya yang lain sudah berhasil menangani kuda yang mengamuk itu. Sehun memegang kedua bahu Surin yang bergetar. Isakan tangis gadis itu dapat Sehun dengar membuat laki-laki itu langsung merasa bersalah. Sehun melihat lutut gadis itu mengeluarkan darah membuat laki-laki itu tidak bisa untuk tidak khawatir.

 

“Surin, maaf.” Ujarnya namun Surin tidak menjawab dan masih menangis. Sehun berjongkok memunggungi Surin. Surin kemudian mendongak untuk melihat Sehun yang kini memunggunginya.

 

“Ayo, cepet. Saya gendong sampe ke klinik.” Ujar Sehun kemudian Surin hanya menurut. Gadis itu melingkarkan tangannya di leher Sehun dan dengan sigap Sehun langsung bangkit berdiri.

 

“Junmyeon, gue ke klinik dulu! Kaki Surin berdarah!” Seru Sehun yang hanya diacungi jempol oleh Junmyeon.

 

Sehun mulai berjalan secepat yang ia bisa, dengan Surin yang kini berada di gendongannya. Surin menghapus sisa-sisa air matanya seraya meletakan dagunya sendiri dibahu kanan Sehun. Surin hanya benar-benar terlalu lelah.

 

Gadis itu tidak tahu saja bahwa sekarang Sehun merasa sulit untuk bernapas karena Surin meletakan dagunya seperti itu pada bahu kanannya.

 

“Surin, sekali lagi saya minta maaf. Saya bukannya mau ngerjain kamu atau apa. Sebenernya ada alesan lain.” Surin hanya mendengarkan.

 

“Kamu daftar organisasi Jurnalistik, kan? Kyungsoo adalah ketua dari organisasi itu. Kyungsoo suka sama kamu, makanya saya gamau kamu ikutan organisasi itu.”

 

Surin hanya terdiam, merasakan jantungnya berpacu dengan kecepatan maksimal hanya karena mendengar ucapan Sehun barusan. “Tapi kenapa?” Ujar Surin dengan suaranya yang serak karena habis menangis, juga percampuran dari rasa gugup yang sekarang ini dirasakannya.

 

“Saya cemburu. Saya gak mau kamu deket-deket yang lain kecuali saya, Rin.”

 

Dan keheningan langsung meliputi kedua orang itu dalam waktu yang sangat panjang.

 

**

 

Sejak kejadian di lapangan berkuda, Sehun dan Surin berubah seratus delapan puluh derajat. Hanya rasa canggung yang melingkupi kedua orang itu.

 

Hari itu adalah hari terakhir masa orientasi pengenalan kampus sebelum besok adalah acara penutupan dengan acara pentas seni sebagai acara penyambutan untuk para mahasiswa baru yang resmi menjadi bagian dari Seoul National University.

 

Sesi terakhir itu hanya diisi dengan mengobrol di kelompok bersama mentor. Sehun menyuruh masing-masing anggota kelompok yang ia bimbing untuk mengisi kuisioner yang berhubungan dengan seputar kampus juga organisasi-organisasi yang ada didalamnya. Semua tampak begitu fokus dan serius, terkecuali Surin yang kini duduk tepat disebelah kursi Sehun.

 

Sehun sendiri menyadari kalau sedari tadi Surin tampak memperhatikannya dalam diam, namun membuang pandang ketika Sehun menoleh kearahnya. Surin yang gugup dan salah tingkah benar-benar menggemaskan bagi Sehun, dan hal itu berhasil membuat Sehun juga turut salah tingkah.

 

Tiba-tiba pulpen Surin jatuh ke lantai. Gadis itu hendak langsung mengambil, namun Sehun juga melakukan hal yang sama sehingga kepala mereka terbentur satu sama lain, membuat keduanya mengaduh tertahan. Surin merasa semakin gugup karena kini aroma tubuh Sehun yang khas menyeruak ke indera penciumannya, persis seperti saat dikandang kuda beberapa waktu lalu. Surin akhirnya menegakan kembali tubuhnya sendiri sementara Sehun mengambilkan pulpen tersebut untuk Surin.

 

Surin menerimanya, namun sialnya kini tangannya malah tidak bisa diajak kerja sama. Bukannya mengambil pulpen yang Sehun sodorkan, tangannya malah menggenggam tangan Sehun, membuat keduanya langsung bertatapan canggung.

 

“Ma-maaf.” Ujar Surin pendek namun Sehun hanya menahan senyumannya. Teman-teman sekelompok Surin hanya memandangi Surin dan Sehun bergantian. Mereka tampak benar-benar bingung akan pemandangan yang mereka saksikan saat ini.

 

“Biasanya Kak Sehun sama Surin kayak kucing sama anjing kok sekarang malah aneh begini, sih?” Komentar salah satu teman Surin membuat gadis itu melirik sesekali kearah Sehun yang ternyata juga tengah melakukan hal yang sama.

 

“Sudah, isi aja kuisionernya. Setelah selesai diisi, kalian boleh pulang. Besok jangan telat soalnya acara pensi sudah akan dimulai pukul sepuluh pagi.” Ujar Sehun membuat yang lain hanya mengangguk, namun tetap tidak berhenti memperhatikan Sehun dan Surin dengan penuh kecurigaan.

 

Satu-per-satu temannya mulai mengumpulkan kuisioner tersebut dan berpamit pulang pada Sehun, sekaligus mengucapkan terima kasih karena selama satu minggu lebih Sehun sudah menjadi mentor yang baik bagi mereka.

 

Surin pun melakukan hal yang sama. Ia turut berterima kasih pada Sehun. Kalau di ingat-ingat lagi, Sehun menyebalkan karena Surin yang menganggapnya seperti itu. Kenyataannya Sehun adalah laki-laki yang bertanggung jawab, terbukti dengan insiden surat cinta yang Sehun gunakan sebagai kesempatan untuk mengganti ponsel Surin, meskipun memang caranya sedikit ekstrim. Terbukti juga dengan Sehun yang rela menggendongnya dari lapangan kuda menuju klinik kampus yang cukup jauh. Ya, paling tidak Surin akan berterima kasih untuk hal tersebut.

 

Saat Surin hendak pergi dari kursinya, Sehun menahan lengannya, membuat Surin langsung menatap laki-laki itu dengan tatapan bertanya-tanya.

 

“Perlu saya anter pulang gak? Kalo gamau juga gapapa sih.”

 

Surin benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya saat ini. Diantar pulang pangeran berkuda hitam macam Sehun? Yang benar saja Surin menolak kesempatan emas tersebut?

 

Surin hanya menganggukan kepalanya membuat Sehun tersenyum dari tempat duduknya. “Boleh aja sih.” Ujar Surin dan Sehun tidak bisa untuk tidak senang. Tangan Sehun yang besar masih menggenggam pergelangan tangan Surin, dan hal tersebut berhasil membuat Surin tidak bisa berpikir jernih terutama ketika Surin dapat merasakan ibu jari Sehun mengelus pelan pergelangan tangannya.

 

“Perlu saya jemput juga gak besok pagi supaya kita barengan ke pensi-nya? Kalo gamau juga gapapa sih.”

 

Surin merasa segerombol kupu-kupu terbang memenuhi perutnya sendiri, menimbulkan sensasi geli yang tertahan. Dijemput pangeran berkuda hitam macam Sehun ke acara pentas seni kampus? Siapa juga yang akan menolak kesempatan emas dua kali lipat itu?

 

“Boleh-boleh aja.”

 

Lagi-lagi Sehun hanya tersenyum manis, sampai-sampai Surin rasa ia bisa terserang penyakit diabetes dengan seketika karena senyumannya tersebut.

 

Surin tidak menyangka urusannya dengan Sehun malah berlanjut panjang.

 

**

 

Dari balkon lantai dua gedung serba guna kampus, Sehun dan Surin berdiri menonton acara pentas seni yang benar-benar seru. Sehun dan Surin memilih untuk menonton dari atas karena dibawah terlalu ramai, dan baik Sehun maupun Surin tidak ada yang menyukai tempat ramai. Sementara ribuan mahasiswa baru tampak saling berdempetan mengerubungi sebuah panggung besar untuk melihat para guest star yang diundang untuk meramaikan acara pensi dalam rangka penyambutan mahasiswa baru itu.

 

Tidak hanya boygroup yang menjadi guest star seperti Wanna One, ada juga band seperti Day 6, sampai beberapa penyanyi solo terkenal seperti IU yang berhasil membuat seluruh laki-laki bersorak girang setelah sebelumnya para gadis yang ramai berteriak histeris ketika melihat Wanna One dan Day 6 menampilkan lagu mereka.

 

Namun yang tampil bukan hanya guest star saja, para senior pun turut menyumbangkan penampilan mereka. Band Chanyeol yang memiliki banyak penggemar sempat tampil dengan membawakan beberapa lagu. Lalu penampilan lagu ballad dari Kyungsoo dan Jongdae turut serta meramaikan pentas seni tersebut. Jongin bahkan menyumbangkan tarian solonya. Itulah sebabnya kerumunan yang mengerubungi panggung besar itu tidak lelah dan bubar begitu saja karena memang semua yang tampil di panggung tersebut benar-benar menarik.

 

Surin sedari tadi masih menikmati permen kapasnya yang tidak kunjung habis. Sehun sampai tertawa karena gemas ketika menyadari permen kapas itu bahkan lebih besar daripada kepala Surin.

 

“Surin.” Panggil Sehun yang hanya Surin balas dengan gumaman.

 

Baru saja Sehun akan mengatakan sesuatu namun ucapannya tertahan ketika melihat Baekhyun dan Chanyeol menaiki panggung. “Itu Baekhyun mau tampil sama Chanyeol? Woah. Jimi pasti bakal suka banget. Kamu tau gak? Temen saya ada yang suka sama Baekhyun.” Ujar Surin seraya menoleh pada Sehun yang kini hanya memperhatikannya. Surin tertawa kecil disela-sela ucapannya barusan dan Sehun yang melihat tawa itu hanya tersenyum, merasakan jantungnya berdebar karena menyaksikan tawa tersebut. Bahkan Sehun yakin seratus persen, manisnya permen kapas yang tengah dipegang Surin kalah dari manisnya senyum gadis itu.

 

“Test 1,2,3 test. Halo semua! Saya Baekhyun, dan ini teman saya Chanyeol. Kami akan menampilkan lagu Indonesia berjudul Dari Mata yang dinyanyikan oleh penyanyi bernama Jaz. Lagu ini saya persembahkan untuk seseorang yang lebih indah daripada cuaca hari ini, Park Jimi.” Surin menganga tidak percaya mendengar ucapan Baekhyun barusan. Suara seruan langsung terdengar dari penjuru lapangan utama kampus, membuat suasana langsung ramai begitu saja.

 

“Sebagai teman yang baik ya saya bantuin aja.” Ujar Chanyeol dan dia mulai memetik gitarnya. Baru saja sedikit nada keluar dari gitar Chanyeol, para gadis sudah mulai menggila dengan berteriak histeris. Mereka berdua tampak duduk dikursi tinggi, memulai penampilan mereka yang diiringi tepuk tangan dari penonton.

 

“Mereka bener-bener kena cinta lokasi.” Komentar Surin membuat Sehun hanya tertawa. Surin tidak tahu saja kalau Sehun merasa tersindir akibat ucapannya barusan, membuat laki-laki itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

 

“Yuk, nyanyi bareng-bareng bagi yang tau! Yang keras ya, biar gebetan kalian denger!” Seru Baekhyun dan kini Sehun juga Surin serta semua penonton tertawa dibuatnya.

 

“Oh, mungkin, inikah cinta pandangan yang pertama? Karena apa yang ku rasa ini tak biasa. Jika benar ini cinta, mulai dari mana? Oh, dari manaaa?” Baekhyun menyanyikan bagian sebelum reff lagu tersebut, sementara suara tepuk tangan berirama juga suara gitar Chanyeol terus mengiringi.

 

Baekhyun tampak turun dari panggung, menghampiri seorang gadis dan membawa gadis yang ternyata adalah Jimi, naik ke atas panggung. Chanyeol tertawa, namun terus memainkan gitarnya dengan piawai. Baekhyun mengecup punggung tangan Jimi, membuat sorakan semakin terdengar dimana-mana. Sehun dan Surin sampai terbahak keras karena hal tersebut.

 

“Dari matamu, matamu, ku mulai jatuh cinta. Ku melihat, melihat, ada bayangnya. Dari mata, kau buatku jatuh terus, jatuh ke hatiiii.”

 

Baekhyun terus menyanyikan lagu tersebut sampai habis, kemudian laki-laki itu berlutut di hadapan Jimi, masih sambil memegang satu tangan gadis itu.

 

“Jimi, aku tau aku cuma Byun Baekhyun yang kata orang gabisa serius. Tapi aku berani sumpah kalo aku bisa kok, seriusin kamu. Mau jadi pacar aku gak?”

 

Surin tertawa terbahak tanpa henti, bahkan kini gadis itu bertepuk tangan heboh sambil teriak ‘terima! terima! terima!’ bersama yang lain dengan sangat bersemangat.

 

“Iyalah, aku mau. Ya kali, nolak kamu.” Jawaban Jimi berhasil membuat tawa pecah begitu saja, bahkan Baekhyun sudah tertawa terbahak. Baekhyun merengkuh Jimi kedalam pelukannya sementara Chanyeol langsung mengambil microphone yang mengarah pada gitarnya.

 

“Yah, jadi nyamuk deh gue. Ada yang mau sama gue gak?”

 

Teriakan membahana para gadis langsung terdengar, menjawab pertanyaan Chanyeol barusan dengan jawaban ‘iya’ yang sangat kompak. Surin benar-benar tidak bisa berhenti tertawa sekarang. Perutnya sampai sakit karena terlalu banyak tertawa.

 

“Temen-temen kamu kocak banget sih, Hun. Aku sampe mau nangis.” Surin seolah baru menyadari ucapannya barusan. Apa? Hun? Aku? Mengapa semua kata-kata itu harus keluar dari mulutnya, sih? Sehun yang menyadari kalau Surin merasa salah tingkah karena perkataannya barusan hanya mengacak rambut Surin sambil tertawa kecil.

 

“Jadi sekarang aku-kamu, nih? Berasa jadi lebih deket, ya.” Ujar Sehun membuat Surin hanya mendengus namun kemudian ia tersenyum tipis.

 

“Surin, aku pengen ngasih sesuatu ke kamu.” Sehun berujar lagi seraya membuka tas ransel berwarna hitamnya. Kali ini Sehun memutuskan untuk menggunakan ‘aku-kamu’ dibandingkan ‘saya-kamu’ seperti yang selama ini ia gunakan ketika bicara dengan Surin. Dalam hati, Sehun senang karena Surin memulai hal itu lebih dulu. Ternyata benar, rasanya jadi jauh lebih dekat dengan seketika.

 

Sehun menyerahkan sebuah paper bag pada Surin yang hanya memandangi bungkusan itu dengan tatapan bingungnya.

 

“Buka aja.” Pinta Sehun dan Surin langsung menurut.

 

Surin mengernyitkan dahinya ketika melihat isi paper bag tersebut. “Apa ini maksudnya?” Surin mengeluarkan sebuah pistol air dari dalam sana dan ia hanya memandangi benda itu dengan tatapan bingungnya.

 

“Ya itu pistol.”

 

“Ya tapi buat apa?” Ujar Surin, merasa siaga kalau-kalau sifat jahil Sehun muncul tiba-tiba.

 

“Emang pistol biasanya buat apa?”

 

Surin masih menatap laki-laki yang kini tengah tersenyum penuh arti itu. “Buat nembak?”

 

“Nah tuh kamu tau. Kamu aku tembak. Jadi pacar aku, ya?” Sehun merasa tenggorokannya kering ketika mengatakan kalimat yang menurutnya sakral tersebut.

 

Sementara disisi lain, Surin tertawa terbahak, berusaha menutupi rasa gugupnya yang berhasil membuat jantungnya berdebar lima kali lebih cepat dari biasanya. Surin memukul lengan Sehun berkali-kali dengan pelan, bermaksud menghukum laki-laki yang selalu bisa membuatnya salah tingkah seperti sekarang ini.

 

“Jadi iya apa iya?”

 

“Kok pilihannya cuma iya apa iya?” Surin menjawabi Sehun yang terlihat sudah tidak sabaran.

 

“Karena aku gamau kamu tolak. Peluk aku dan hari ini juga kita pacaran.”

 

Surin langsung berhambur ke pelukan Sehun, membuat laki-laki itu tersenyum lega. Sehun mengacak rambut Surin seraya mengeratkan pelukan mereka berdua. Siapa yang sangka kedua orang yang tadinya seperti kucing dan anjing kini malah saling mencintai satu sama lain?

 

“Aku belom bilang sama kamu kalo hari ini kamu cantik banget, Jang Surin.” Sehun berbisik di telinga gadis itu membuat kedua pipi Surin langsung memerah dengan seketika. Ada sengatan listrik yang menjalar keseluruh tubuhnya ketika merasakan tangan kekar Sehun mengelus punggung kecilnya dengan lembut.

 

Surin melepas pelukan mereka karena tidak kuat menahan debaran jantungnya yang berlebihan. Gadis itu menutupi wajahnya yang sudah seperti tomat matang dengan permen kapas berwarna merah mudanya, berharap Sehun tidak melihat semburat merah itu. “Sehun, aku malu.”

 

Sehun hanya tertawa kemudian merengkuh masing-masing lengan Surin dengan kedua tangannya.

 

“Aku suka kamu, Rin. Bahkan dari awal kita ketemu didepan café.”

 

Sehun memakan permen kapas yang menutupi wajah Surin seraya mengelus masing-masing lengan Surin dengan lembut. Surin hanya tertawa dengan apa yang Sehun lakukan sekarang ini.

 

“Aku juga suka kamu, Hun. Bahkan dari awal kamu bilang kalo nama aku bagus.”

 

Dan keduanya saling tersenyum, meskipun senyuman mereka untuk satu sama lain tertutup oleh permen kapas yang masih menghalangi wajah mereka.

 

“Aku rasa aku harus cepat-cepat menyingkirkan permen kapas ini.” Ujar Sehun seraya melanjutkan kegiatannya memakan permen kapas itu, sementara Surin hanya tertawa dibuatnya.

 

Tawa Surin yang Sehun harap dapat ia dengar setiap hari.

 

-FIN.

 

 Wow! Keluar sangat jauh dari zona aman aku!! Selama ini kalo bikin ff dialognya selalu pake kata-kata yang super baku, sampe-sampe rasanya susah buat bikin yang kayak gini. Aku banyak nemu ff dengan dialog bahasa sehari-hari kayak gini di wattpad, terus jadi penasaran mau coba juga huahaha. Ternyata asik juga!

Kalo kalian lebih suka yang mana nih?

Ah ya, ff ini temanya campus life karena sebentar lagi author malas tukang ngaret tapi disayang Sehun ini akan memasuki campus life:”) Mohon doa ya, semoga semuanya berjalan lancar tanpa hambatan! Amiiin.

Terima kasih, readers udah mau baca sampe kata-kata terakhir ini! Maaf ya kalo yang satu ini kurang memuaskan.

See you on the next ff! xoxo.

 

Advertisements

10 comments

  1. izzatuljannah1404 · August 18, 2017

    Andaikan kating di kampus cogan kaya mereka 😪 apalagi ada sehunnya 😙 sayangnya itu hanya khayalan belaka wkwkw Percayalah, di kampus ga bakalan ada yg kaya begitu 😁 ospek gaenak sumpah 😂 panas panasan, disuruh ini itu wkwkw jadi curhat kan. Btw semangat yaa buat kamu 🙆🙋 sukses terus kuliahnya 🙂 kamu keren banget karna udah berinovasi bikin jenis yg lain 👏👏 bagus lagi hasilnya 😁 pokoknya suka bnaget deh. Bisa banget bikin aku mau banget punya senior kampus kaya sehun 😍 loveable wkwkw sayangnya sehun yg kaya gini cuma ada di cerita kamu si hehe 😁
    Kalo ditanya suka sama yg mana, hmm 🤔 semua cerita kamu aku suka banget deh😄 tapi kalo menurut aku, kalo dialognya pake bahasa non baku gini, mendingan sekalian semuanya yg di non bakuin 😁 jadi indonesia nya dapet wkwkw tapi yg ini juga bagus banget ko, feeling nya dapet banget, serasa di korea karena orngnya ngmng baku sama non baku dalam dialog sehari hari. serius loh aku 😄 Aku sering baca di wattpad juga soalnya, dan yg pake non baku tapi enak dibaca tuh banyak banget loh 😁 so, tetep semangat yaa nulisnya. Semua cerita kamu yg non baku atau baku semuanya aku suka ko tenang aja 😆 keep writing yaa, ditunggu tiap malam sabtu wkwkw.
    Oh satu lagi, kamu ada akun wattpad kah? Jadi pengen mampir 😁😁
    Maaf yaa komen aku kepanjangan gini 😁 wkwk annyeong 😊

    • Oh Marie · August 19, 2017

      HAAAAAAAIIIIII SUMPAH INI KOMENTAR KAMU BIKIN SENENG BANGET!!!!!❤❤❤

      Aku sampe gatau lagi mau ngomong apa huhu makasih banget ya kamu pembaca yang suppppper baik yang bikin aku semangat buat nulis dan gak berenti sampe disini!!! Aku bersyukur banget dapet pembaca kayak kamuuuu T__T❤❤❤
      IYAAAA aku tau banget dikampus gaada yang begini jadi ini semacam pelarian dari kenyataan pait kehidupan kampus HAHAHAH. Aw aw awwww disemangatin pula makasih banyak yaaaa! Amiiiin. Semoga di kampus nanti ketemu temen yang baiknya kayak kamu ya huweeee.

      AAAAA seneng banget kalo kamu suka sama ff ini! Aku tuh sampe udah takut banget pada gak suka karna ini bener-bener yang pertama kali aku nulis pake dialog non-baku. Aku pikir jadinya berantakan banget tapi aku bersyukur kalo menurut kamu baguuuus! Makasih ya masukannya! Iya, aku masih harus banyak belajar lagi karna ternyata bikin yang non-baku gak segampang yang aku pikir huwahuaha.

      Sekali lagi makasih banyak ya! Sumber semangat aku banget deh huhuuu. Aku ada akun wattpad usernamenya @.marierosej tapi disitu aku cuma post ff yang ada diwordpress karena jujur enakan wordpress dari pada disana HAHAH. Disana sepi bangeeet><

      Sumpaaaah aku seneng banget dapet komen panjang!! HAHAH. Makasih makasih makasih! Sampai ketemu di ff selanjutnya yaaaa❤❤❤ much love, xoxo.

  2. northpole · August 19, 2017

    Aigoo aigoo anak2 muda ini yah kalo dimabuk cinta jadi bikin yg udah berumur ini kangen sama masa2 itu wkwkwkwkw.
    Anyway, this is seriously the cutest! Cara nembaknya sehun lucu bgt sih hahahah dirimu kepikiran aja bikin scene begini 😂😂😂😂
    Tapi the best bgt emang caranya sehun nebus hapenya surin yg rusak, sehun udah kesengsem bgt yah ama surin sampe seniat itu hahahahah.
    Bagian Jimi-Baekhyun juga bikin gemes akk.
    Memang ini agak beda dari ff kamu yg biasanya, but I love it, karena dengan pake bahasa informal jd berasa “muda”nya, berasa mereka baru mahasiswa.
    Somehow buatku ini masih nyambung dgn tema2 ff kamu biasanya: dari surin yg masih maba jd masih pake banyak bahasa informal – surin yg udah bukan maba lagi jd bahasa sudah agak formal – sampe sehun surin yg udah kerja dan pake bahasa baku. So for me, this is totally OK!

    Anyway, good luck ya menghadapi dunia kampus, nikmati saja (walopun ga ada kating macam sehun dkk) dan explore sebanyak2nya selagi belom kerja karena nanti pas kerja bawaanny pengen balik kuliah lagi hahahaha

    Thank you for writing this ya ❤

    • Oh Marie · August 21, 2017

      AKU SENENGGGGGGGG BANGET LIAT NORTHPOLE DI NOTIF KOMEN HUHUHUHUHU❤❤❤
      Ternyata banyak banget sunbae-sunbae disini ya huahahaha! Terima kasih banyak untuk komentar panjang super manis iniiiii!

      Sehun tuh disini sih fix udah jatuh hati pada pandangan pertama banget banget banget sama Surin wkwkwkwk sampe-sampe dia begitu. Gemes ya. Aku juga suka bagian Sehun nembak Surin huhu ;_; ngetiknya sampe asdfghjkl sendiri!!
      Awwww, seneng kalo bagian Baekhyun-Jimi nya ngegemesiiiin!
      Seneng lagi kalo ternyata kamu suka sama ff extraordinary ini. Gaboong ngetiknya takut kayak ‘aduh ini bagus gak ya’ ‘aduh pasti banyak yang gak suka’ tapi ternyata enggak hihi senenggg!
      Makasih banyak sekali lagi untuk komentar yang bikin aku makin semangat buat nulis ini! Aku bakal terus latihan supaya tulisan aku makin baik lagi! Kamu wajib sering-sering mampir yaaa><

      DAN MAKASIIIIIH SEMANGATNYA! Iya amin amin dan amin! Good luck juga buat semua kegiatan kamu yaaa!

      Thank you for this sweeeeeet comment❤❤❤❤

  3. rahsarah · August 20, 2017

    wow kaget aku bacanya bener2 jauh banget dari zona gaya nulis kamu yg seblmnya2, dan dari kisah yg kmarin2 sehun surin diawalnya cekcok dulu baru dah suka2an ahaha jadi berasa perkenalan lagi sma sehun surin dan ga ketinggaln aksi kocak bekhyun jimi dan gengnya sehun yg bikin senyum2 sendiri bacanya

    tapi klo boleh milih aku lebih suka gaya tulisan kamu yg baku2 itu lebih ngena aja kehati aku heheh
    tapi gaya nyablak yg ini juga ga jelek ko bagus aku menikmati malahan tapi emang lbh suka gaya baku yg sebelm2nyaaa hehe

    semangat ya yg mau kuliah semoga masoh rajin nulis ffnyaa

    • Oh Marie · August 21, 2017

      KAK SARAAAAAAAAH♥♥
      Aku juga kaget kak bisa kepikiran nulis yang kayak gini HAHAHAH. Ini semua fix karena liat-liat ff di wattpad dan hampir semuanya pake dialog non-baku. Aku langsung penasaran mau buat dan jadilah ini wkwkwk.
      Makasih kak sarah sarannya!! Aku senengggg banget dapet masukan baru hihi♥♥ Semuanya bakal aku jadiin bahan buat perbaikin tulisan aku! Jadi, aku makasih banget kak sarah mau nyempetin baca dan ninggalin komen lagi><

      Makasih juga kak buat semangatnya! Pasti kokkkk. Kak sarah wajib stay tune terus ya♥♥ love love!

  4. ahnnncs · August 25, 2017

    jatuh cinta lagi deh sama merekaaaaaa
    selalu aja bisa bikin hati ngena banget wkwk
    btw ini bahasanya dari biasa ya kak tapi tetep aja baper dan seruuuuuu
    aku gatau kapan bisa move on dari sehun surin, soalnya mereka selalu bikin aku baper lagi dan lagi jatuh cinta lagi dan lagi jadinya ga bosen hahaha sumpah
    dan part ini aku ngerasain banget kalo surin itu aku hahaha soalnya bahasanya informal gtuh wkwk dan aku baper lagi seperti biasa.
    lagi-lagi aku baca ini sebenarnya udah lumayan lama sekitar 3 hari yang lalu apa 4 hari gtuh dan aku lupa comment dan vote haha sorry ya kak
    selalu semangat nulis dan jangan berhenti berkarya tentang sehun surin ya. love ya

    • Oh Marie · August 26, 2017

      ANGIEEEEEEEE! Sangat rindu komen kamu ❤
      AAAAA manis banget sih komentarnya? Fix lebih manis daripada Sehun huhuhu.
      Iya ini pake bahasa nonformal. Syukur banget kalo ternyata makin bikin baper dan ngena feels-nya T_T aku udah supppper khawatir pada gak suka dan ternyata yang satu ini gak terlalu buruk kayak yang aku pikirin:")
      Makasih ya Angie udah mau nyempetin waktu kamu buat baca dan ninggalin komen lagi. PLUS DI LIKE JUGAAA HUHU AKU SENEEEEENG DAPET READER KAYAK KAMU.
      Makasih juga buat semangatnya ya Angieee! Kamu juga semangat terus ya buat semua kegiatan kamuuu!
      Siap, ditunggu ya ff yang selanjutnya! Salam sayang dari Oh Sehuuuun.
      See you on the next ff ❤

  5. northpole · August 26, 2017

    Hehhehehe ngebaca ini untuk yg kedua kalinya malah bikin jadi makin jatuh cinta sama ff ini hihi. Kayak..semua kalimat yg dirimu bikin tuh ga ada yg sia2, antara bikin ngikik sama senyum2 sendiri hahahaha

    Trus ak bener2 baru notice kalo nasib kyungsoo di hampir semua ff sehun-surin tuh kasian bgt, dia bener2 “ngejaga” surin dgn caranya dia sendiri tapi tetep bertepuk sebelah tangan yeee wkwkwkkwkw

    #masihinprogresspemulihanperasaanpascaOURS

    • Oh Marie · August 27, 2017

      ASTAGAAAAAAA SAMPE KOMEN DUA KALI HUHU BERSYUKUR BANGET SIH DAPET READER MANIS BEGINI ❤ ❤ ❤
      Sumpah gatau lagi musti makasih kayak gimana tapi makasiiiiiih sebanyak-banyaknya ya. Seneng banget dan ini yang bikin aku jadi makin semangat buat nulis next project!!

      HAHAHA iya!! Sebenernya rada ga tega sama kyungsoo tapi gimana si abang maunya sama surin only, padahal sama chanyeol udah disodorin dede-dede gemes:") #SeribuSabarUntukKyungsoo HAHAHAH.

      SUKA HASHTAG TERAKHIRNYA HAHAHAHA. SAMA BANGET INI AKU JUGA MASIH PROGRESS PEMULIHAN PERASAAN PASCA OURS.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s