Seoulmate

seoulmate

A really long ff hope you wont get bored! Happy reading!

**

Suasana mini market dua puluh empat jam itu tampak sepi, mengingat jam yang ada di mini market tersebut sudah menunjukan pukul sebelas malam. Hanya ada dua orang yang kini tengah duduk dikursi tinggi yang mengarah pada jendela mini market tersebut. Jarak mereka hanya berbeda tiga kursi, namun baik keduanya tidak ada yang ingin mempedulikan satu sama lain.

Salah satu orang itu bernama Jang Surin, gadis yang kini tengah mengaduk ramen instannya tanpa berniat. Surin menggunakan meja panjang yang menempel pada jendela mini market itu untuk meletakan cup ramen juga soda kalengannya. Satu tangannya masih asik mengaduk ramen tersebut dengan sumpit kayu, sementara satu tangannya lagi memegang ponsel yang saat ini ia tempelkan ditelinga kanannya sendiri. Raut wajahnya terlihat frustasi kala ia mendengarkan suara orang yang saat ini tengah berbicara dengannya melalui sambungan telepon.

“Aku tidak mengerti mengapa mereka melakukan ini padaku.” Surin berujar, setelah mendengar omongan panjang teman kerjanya, Kim Jongin diseberang sana.

“Jongin-a, kau tahu kan aku sudah sedari dulu bermimpi untuk memiliki buku sendiri? Ketika aku mendapatkan kesempatan itu, mengapa mereka malah melakukan hal ini padaku?” Surin merasa air mata mulai memenuhi pelupuk matanya sementara yang Surin dengar dari teman kerjanya itu hanyalah helaan napas panjang.

“Kau tahu kan bagaimana rasanya selama bertahun-tahun menjadi penulis bayangan? Aku benci karyaku sendiri terbit namun dibalik nama orang lain. Sudahlah, aku rasa aku akan mengundurkan diri saja besok pagi. Perusahaan itu memang besar, tapi lihat saja apa jadinya mereka tanpa aku.” Tambah Surin lagi. Emosinya saat ini benar-benar sampai ke ubun-ubun namun yang hanya dapat dilakukan gadis itu adalah mengepalkan tangannya guna menahan airmatanya untuk jatuh begitu saja.

“Sudah puas mengomelnya?” Surin menoleh kearah samping, mendapati seorang laki-laki dengan setelan kerja yang rapi tengah berbicara melalui ponselnya sendiri. Surin sempat merasa bodoh karena ia pikir laki-laki itu baru saja menegurnya yang kebetulan sedang mengomel.

“Aku bilang aku tidak mau, Bu. Aku benar-benar muak dengan perjodohan-perjodohan yang sudah Ibu dan Ayah susun untukku. Intinya aku tidak mau menerima perjodohan dengan siapapun, dan kalian berdua perlu tahu bahwa semua rumor itu tidak benar. Mengapa Ibu tetap tidak percaya padaku, sih?!”

Surin tidak mau mempedulikan laki-laki itu lagi namun nada suaranya yang terdengar galak barusan membuat Surin sempat tersentak. Surin langsung kembali pada fokusnya untuk berbicara dengan teman kerjanya, Jongin.

“Surin-a, hanya tinggal sedikit lagi dan kau bisa mencapai mimpimu. Kau bisa menerbitkan buku dengan namamu sendiri. Tunjukan pada mereka bahwa kau bisa mendapatkan sponsor sendiri dalam batas waktu yang mereka berikan. Kumohon berusahalah sedikit lagi.” Ujar Jongin diseberang sana.

“Kau bisa bicara dengan mudah, Jongin-a. Mendapatkan sponsor sendiri dengan waktu satu minggu? Mereka itu gila atau apa? Mana ada klient yang ingin memberikan sponsor pada penulis amatiran seperti aku?” Surin bersuara membuat Jongin kembali menghela napas. Jongin adalah kepala editor di perusahaan penerbit buku tempat Surin bekerja. Surin rasa Jongin benar-benar tidak tahu bagaimana rasanya bekerja dibagian ‘penulis bayangan’ yang bahkan keberadaannya dirahasiakan perusahaan sehingga laki-laki itu dapat bicara enteng seperti tadi.

“Kau tidak amatiran, Surin-a. Kau bisa memberikan mereka tulisan-tulisanmu sehingga mereka bisa membaca lebih dulu sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi pihak sponsor-mu. Aku yakin kau bisa dengan mudah mendapatkan klient yang akan mensponsori bukumu mengingat tulisan-tulisanmu itu luar biasa. Bahkan bukumu saja sudah diterima oleh perusahaan dan kau hanya perlu mendapatkan sponsor sebelum bukumu ini benar-benar bisa diterbitkan.” Jongin mencoba meyakinkan namun Surin hanya tertawa tidak percaya.

“Aku bahkan ragu kalau mereka bersedia menyisihkan waktu untuk membaca tulisan dari penulis yang namanya sama sekali belum terdengar seperti aku. Kau tidak lupa kan bahwa aku sama sekali tidak boleh membuka mulut bahwa pekerjaanku di perusahaan itu adalah penulis bayangan? Semua orang didunia ini tidak tahu-menahu bahwa aku ini adalah seorang penulis yang sudah melahirkan beberapa buku meskipun semua itu dibawah nama orang lain. Mereka semua berpikir bahwa aku adalah penulis baru yang masih amatiran, Kim Jongin. Semua ini tentang nama. Aku tidak bisa lagi melanjutkan hal ini.” Surin tidak peduli lagi apabila orang-orang yang ada di mini market itu terkejut karena ucapannya. Toh yang ada di mini market tersebut hanya seorang kasir yang tampak tidak peduli dan seorang laki-laki bersetelan kerja mahal disebelahnya sekarang ini yang sepertinya juga memiliki banyak masalah.

Surin sendiri tahu bahwa ia baru saja melanggar peraturan pertama yang tertera dalam kontraknya bahwa tidak ada yang boleh mengetahui apapun tentang penulis bayangan, bahkan dalam peraturan itu tertulis bahwa dilarang menyebut ‘penulis bayangan’ ditempat umum, terbukti dengan Jongin yang kini sudah memperingatinya. Surin hanya tidak peduli lagi. Ia hanya merasa bahwa ia ingin berteriak dan memberitahu semua orang bahwa penulis bayangan itu ada dan harus hidup dibawah nama orang lain selama bertahun-tahun lamanya.

“Sudahlah, Bu. Aku sudah benar-benar lelah. Jangan hubungi aku dulu. Sekali lagi, aku tidak akan menerima perjodohan dengan siapapun. Katakan saja pada Kakek dan Nenek bahwa aku tidak akan mengunjungi mereka sampai kapanpun kalau syarat mengunjungi mereka adalah harus membawa pasangan.” Surin menoleh tidak percaya mendengar ucapan laki-laki yang ada disebelahnya sekarang ini. Surin hanya baru pertama kali menemukan laki-laki sekasar itu pada ibunya sendiri. Surin yang tidak ingin mempedulikan laki-laki yang kini memutuskan sambungan teleponnya sendiri dengan kesal itu hanya berdeham dan kembali berbicara pada Jongin.

“Surin-a, aku akan membantumu menemukan cara mendapatkan sponsor dengan waktu cepat asal besok pagi aku tidak menemukan surat pengunduran dirimu. Kau mengerti? Baiklah, kalau begitu aku tutup.” Surin memandangi layar ponselnya dengan tidak percaya.

“Ya! Ya! Kim Jongin! Aku bilang aku akan keluar dari perusahaan itu!” Surin berujar kesal namun hanya nada sambungan terputus yang dapat didengarnya. Surin melempar ponselnya ke meja yang ada dihadapannya dengan emosi yang benar-benar meluap, namun sayangnya ponsel itu malah mengenai kaleng sodanya membuat kaleng soda tersebut terlempar dan isinya tumpah begitu saja diatas sapu tangan orang yang duduk tidak jauh darinya.

Surin menganga sementara orang itu sudah memperhatikan sapu tangannya sendiri dengan tatapan yang tidak dapat Surin mengerti. Bahkan cairan dari kaleng soda itu tidak hanya membasahi sapu tangan laki-laki tersebut namun juga membasahi lutut laki-laki itu yang terbungkus celana panjang bahan berwarna hitam.

“Ma-maaf. Saya tidak sengaja.” Ujar Surin seraya merogoh tasnya untuk mengambil tisu dan segera menyerahkannya pada laki-laki yang langsung mengambil tisu tersebut dengan kasar.

“Anda pikir dengan anda meminta maaf sapu tangan dan celana saya bisa kering kembali? Bagaimana, sih?!” Surin yang baru saja dibentak hanya menatap laki-laki itu dengan tidak percaya. Pasalnya suasana hatinya sedang benar-benar tidak baik saat ini dan laki-laki itu baru saja memperburuk suasana hatinya, membuat emosi Surin yang sudah diubun-ubun serasa akan meledak dalam beberapa detik lagi.

“Saya kan tadi berkata bahwa saya tidak sengaja. Saya juga telah meminta maaf. Mengapa anda perlu membentak saya?” Ujar Surin dengan tidak terima. Pantas saja laki-laki itu membentak Surin, ia bahkan juga membentak ibu kandungnya sendiri beberapa menit lalu. Surin langsung menatapnya dengan tatapan tidak suka, begitupun juga dengan laki-laki itu.

“Wajar saja kalau saya marah karena sapu tangan saya sekarang ini basah total dan bahkan celana yang saya kenakan ini juga basah dan lengket akibat minuman anda. Ini meja umum, sudah seharusnya anda berhati-hati!” Balas laki-laki itu membuat Surin semakin tidak suka.

“Ya sudah, lalu harus saya apakan sapu tangan dan celana anda? Cuci lalu jemur? Disini? Tidak mungkin, kan?”

Laki-laki itu hanya berdecak kemudian beranjak dari tempat duduknya. “Wanita memang memusingkan.” Ujarnya kemudian pergi dari mini market tersebut, meninggalkan sandwich dan susu kalengan yang sama sekali belum disentuh.

Surin hanya memperhatikan laki-laki yang kini memasuki mobil sedan mewah berwarna hitamnya dan pergi dari tempat parkir mini market tersebut dalam beberapa menit. Gadis itu berdecak kemudian memijat pelipisnya sendiri.

Surin rasa harinya sudah keterlaluan. Benar-benar keterlaluan. Pertama, Surin yang sudah senang karena naskah novelnya diterima oleh perusahaan dan dijanjikan akan terbit sebentar lagi dari tiga bulan yang lalu harus menerima kabar pahit bahwa perusahaan akan menerbitkannya apabila Surin bisa menemukan sponsornya sendiri. Apabila Surin tidak dapat menemukan sponsor dalam waktu satu minggu, novel Surin tidak akan diterbitkan dan ia harus menetap diposisinya sebagai penulis bayangan yang harus selalu dikejar deadline.

Kedua, Surin harus mendapatkan uang dalam waktu dekat untuk membayar kontrakan kecilnya yang adalah sebuah rooftop sederhana karena sang pemilik sudah menagih Surin dari dua minggu lalu. Dan tadi pagi, sang pemilik mengancam akan menyewakan rooftop tersebut pada orang lain apabila Surin tidak dengan cepat melunasi utangnya tersebut.

Sebenarnya Surin bisa saja pindah ke rumah orangtuanya atau bahkan meminta uang pada orangtuanya. Namun keluarga Surin terlalu rumit. Ayah dan ibunya berpisah saat Surin umur lima tahun, entah karena masalah apa, Surin sendiri tidak tahu apapun mengingat saat itu ia masih sangat kecil. Surin sebenarnya juga tidak mau tahu mengenai hal itu. Ayahnya sekarang pergi ke Amerika untuk melanjutkan pekerjaannya disana sementara ibunya menikah lagi dan tinggal bersama keluarga barunya sampai sekarang ini.

Sedari kecil Surin tinggal bersama adik kandung ibunya karena Surin tidak ingin memilih antara harus ikut ayahnya ke Amerika atau tinggal bersama keluarga baru ibunya. Surin kemudian memutuskan untuk pindah dari rumah adik kandung ibunya dan mengontrak ketika ia mulai memasuki dunia kuliah.

Sampai Surin lulus kuliah dan memasuki dunia kerja seperti sekarang ini Surin bahkan membiayai semua keperluan hidupnya sendiri meskipun ayah dan ibunya selalu teratur mengirimi Surin uang saku setiap bulannya. Surin hanya tidak ingin menggunakan uang itu sepeserpun. Surin pikir mungkin suatu saat ia akan menggunakannya, tapi tidak sekarang. Mungkin untuk pernikahannya, entahlah. Surin hanya ingin menyimpannya karena Surin merasa hanya uang itulah tanda bahwa kedua orangtuanya masih mempedulikannya sampai sekarang, sehingga untuk memakainya Surin merasa tidak rela.

Surin tidak menyalahkan dan membenci kedua orangtuanya, meskipun pada awalnya ia merasakan hal tersebut. Tapi itu semua adalah masa lalu dan sekarang Surin memilih untuk melanjutkan hidupnya tanpa perasaan dengki pada siapapun, termasuk kedua orangtuanya. Surin senang karena mereka berdua menemukan jalan hidup mereka masing-masing. Meskipun memang seringkali Surin merasa sepi dan… terbuang.

Kembali ke kesialan Surin hari ini, hal terakhir yang memperburuk harinya adalah bertemu dengan laki-laki tampan namun galak di sebuah mini market. Surin langsung kehilangan napsunya untuk memakan ramennya sendiri akibat laki-laki itu.

Surin memangku dagunya dengan satu tangannya. Seketika pikiran Surin melayang pada obrolan laki-laki itu yang tidak sengaja Surin dengar tadi. Surin hanya merasa kagum bahwa ternyata dikehidupan nyata seperti ini rupanya ada cerita perjodohan seperti yang selama ini sering Surin temui di novel-novel romantis.

Surin merasa cemburu pada laki-laki itu. Hal yang dikhawatirkannya pasti hanyalah masalah perjodohan dan bukannya seperti masalah-masalah hidup Surin yang terlalu rumit.

Seharusnya memang laki-laki itu lebih bersyukur karena setidaknya ia memiliki orangtua bahkan kakek-nenek yang peduli padanya bahkan pada kehidupan percintaannya. “Memang dasar laki-laki galak tidak tahu rasa syukur.” Gerutu Surin ketika wajah laki-laki itu yang tengah membentaknya kini memenuhi otaknya, membuat suasana hatinya kembali buruk dalam sekejap saja.

Surin menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran-pikiran yang dapat memperburuk harinya.

Surin memiliki masalah yang lebih besar yang harus dipikirkan dibanding mengeluh akan harinya yang buruk. Surin harus menemukan sponsor dalam waktu satu minggu apabila ia tidak ingin terus-terusan hidup sebagai penulis bayangan yang harus menderita sendiri dibalik nama orang lain.

Benar kata Jongin, kalau ia menyerah sekarang, semuanya sudah terlalu dekat. Mimpinya untuk memiliki buku dengan namanya sendiri sudah terlalu dekat dan Surin tidak boleh menyerah begitu saja. Surin harus menemukan cara untuk mendapatkan sponsor sendiri dan menerbitkan bukunya bagaimanapun caranya.

 

**

 

“Apa?! Pacar sewaan? Kau gila? Park Chanyeol, kau benar-benar sudah gila.”

Oh Sehun, laki-laki yang baru saja tersedak Green Tea Latte-nya sendiri langsung berujar tidak percaya pada seorang bernama Park Chanyeol yang kini duduk berhadapan dengannya.

“Sayangnya kau tidak punya pilihan lain, Oh Sehun. Kau sudah tidak bisa mengelak lagi kali ini. Kakek dan Nenekmu bahkan sudah menelponmu secara langsung untuk memintamu mengunjungi mereka dengan calon istrimu. Kau juga bilang sendiri bahwa jika kau tidak mengunjungi mereka, mereka yang akan mengunjungimu dengan wanita pilihan orangtuamu. Itu benar-benar mimpi buruk, Sehun-a.” Ujar Chanyeol membuat Sehun memijat pelipisnya sendiri, merasakan kepeningan yang tiba-tiba menyerang kepalanya. Membayangkan kalimat Chanyeol yang terakhir berubah menjadi nyata saja membuat Sehun tidak tenang.

“Satu-satunya cara untuk dapat mengelak dari mimpi buruk itu adalah dengan menyewa pacar  sewaan kalau kau memang tidak mau dengan perempuan yang dipilihkan oleh kedua orangtuamu. Ini bukan ide yang buruk. Setelah kau mengunjungi Kakek dan Nenekmu, maka semua akan berakhir.” Chanyeol meminum Americano-nya dengan santai sementara Sehun hanya menatapnya penuh pertimbangan.

“Mungkin memang tidak akan berakhir sampai situ saja, tapi aku jamin kau dapat hidup dengan tenang paling tidak untuk tiga bulan kedepan bahkan enam bulan kedepan tanpa bayang-bayang perjodohan yang disusun oleh orangtuamu. Bagaimana saranku ini? Bagus, kan?” Sehun menghela napas ketika mendengar ucapan Chanyeol barusan.

“Baiklah. Aku akan meminta tolong bawahanku dikantor.”

Chanyeol langsung menaikan sebelah alisnya. “Kau yakin ada yang mau dan pintar menjaga rahasia?”

“Maksudmu ‘ada yang mau’ itu apa? Kau meledekku?”

Chanyeol tertawa mendengar ucapan teman dekatnya itu. “Kau tahu sendiri semua orang di kantormu itulah yang menyebabkan rumor mengenai dirimu bisa sampai ke telinga kedua orangtuamu dan membuatmu harus semakin dikejar-kejar dengan hal perjodohan.”

Sehun langsung terdiam dan mengangguk, membenarkan ucapan Chanyeol barusan. “Lalu siapa yang harus aku mintai tolong?” Ujar Sehun frustasi sementara Chanyeol langsung tersenyum.

“Tenang saja. Kebetulan aku memiliki seorang teman yang sedang terlibat masalah. Aku yakin dia bisa membantumu dan kau bisa membantunya.” Chanyeol berujar membuat Sehun membetulkan posisi duduknya, seolah siap mendengarkan penjelasan Chanyeol berikutnya.

“Jadi, aku memiliki teman yang bekerja diperusahaan penerbit buku. Namanya Kim Jongin dan kemarin dia baru menghubungiku untuk memintaku menjadi sponsor buku yang akan diterbitkan oleh teman perempuannya. Ia berkata bahwa ini benar-benar penting karena kalau teman perempuannya itu tidak mendapatkan sponsor selama satu minggu, bukunya tidak jadi terbit. Mengingat kau adalah direktur utama perusahaan property terbesar di Seoul, aku rasa kau bisa membantunya mengenai masalah sponsor itu. Bagaimana? Setuju? Kalau setuju aku akan langsung menghubungi Jongin dan meminta nomor perempuan itu.”

Sehun memandang Chanyeol dengan ragu. Untuk saat ini, saran Chanyeol memang masuk akal. Setelah Sehun mengunjungi Kakek dan Neneknya dengan pacar sewaan seperti yang disarankan oleh Chanyeol, Sehun akan terbebas dari hal-hal perjodohan yang disusun oleh kedua orangtuanya paling tidak untuk beberapa bulan kedepan dan Sehun bisa membayangkan betapa tenangnya kehidupannya nanti. Selain itu, pacar sewaan itu pun dapat menampik rumor tidak benar mengenai dirinya yang selama beberapa bulan ini terus menghantuinya tanpa henti di kantor.

“Baiklah, aku setuju.” Ujar Sehun lalu tiba-tiba seorang pelayan café tersebut menghampiri mejanya dengan Chanyeol sambil membawa nampan berwarna cokelat gelap berisi cream soup pesanan Chanyeol.

Sehun mendongak lalu mendapati gadis menyebalkan yang ditemuinya di mini market dua hari yang lalu tengah mengenakan pakaian khusus pelayan café. Gadis itu meletakan cream soup milik Chanyeol dengan hati-hati, namun ketika matanya bertemu dengan kedua mata Sehun, gadis itu tampak terkejut setengah mati sehingga cream soup yang dipegangnya mendarat bukan di meja melainkan di tubuh Sehun.

Sehun membelak tidak percaya seraya memperhatikan pakaian kerjanya yang sudah tersiram kuah cream soup. Tubuhnya kaku dan otaknya tidak bisa mencerna apa yang baru saja terjadi padanya. Chanyeol bahkan tidak dapat berkata-kata. Semua mata pengunjung yang ada di café itu sekarang benar-benar mengarah pada meja Sehun.

“Ma-maafkan saya. Sungguh, saya benar-benar meminta maaf atas kelalaian saya barusan.” Gadis itu buru-buru mengambil tisu yang terletak dicelemek café yang digunakannya untuk mengelap baju Sehun, membuat Sehun tersadar dari keterkejutan yang berhasil membekukannya untuk beberapa saat, ketika ia kini malah merasakan tangan gadis itu menjalari tubuhnya dengan sembarangan. Sehun buru-buru menepis tangan gadis itu dengan kasar dan bangkit berdiri dari tempat duduknya.

“Anda itu punya mata atau tidak?! Anda mau tanggung jawab seperti apa sekarang? Saya akan menghadiri meeting penting dalam satu jam lagi dan sekarang pakaian saya berantakan seperti ini!” Omel Sehun yang langsung dibalas dengan bungkukan badan sembilan puluh derajat berkali-kali dari gadis itu.

Seorang manager café menghampiri mereka dan meminta maaf pada Sehun atas kelalaian pekerjanya tersebut. Sehun yang baru saja akan mengomel kembali langsung ditahan oleh Chanyeol.

“Sekali lagi, kami meminta maaf atas kelalaian pekerja kami.” Ujar manager tersebut dan Chanyeol langsung membawa Sehun yang penuh emosi untuk keluar dari café itu.

“Santai saja lah. Kau bisa menghubungi sekretarismu untuk menyiapkan pakaian yang lain, kan?” Ujar Chanyeol pada Sehun yang kini sibuk membersihkan jas hitam beserta kemeja berwarna biru muda dengan garis kotak-kotak berwarna putihnya dari bekas cream soup yang masih menempel.

“Aku bersumpah untuk tidak bertemu gadis itu lagi.” Ujar Sehun ketika ia tiba didepan mobilnya sendiri. Chanyeol yang baru akan memasuki mobilnya sendiri pun langsung menoleh ketika mendengar ucapan Sehun barusan.

“Kau pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya? Hati-hati, tahu-tahunya jodoh.” Ujar Chanyeol lalu memasuki mobilnya. Ia membuka kaca dan menertawai Sehun yang kini bergidik ngeri akibat ucapan Chanyeol beberapa detik yang lalu.

“Aku akan langsung menghubungi Jongin dan kalau teman perempuannya juga mau menyetujui perjanjian pacar sewaan itu, aku akan memberinya alamat kantormu sehingga kalian bisa bertemu sebelum hari Sabtu nanti kau benar-benar mengunjungi Kakek dan Nenekmu.” Chanyeol berujar membuat Sehun hanya mengangguk mengerti seraya mengucapkan terima kasih pada teman sedari sekolah menengah atasnya itu yang hanya dibalas oleh acungan jempol.

Mobil Chanyeol langsung melaju meninggalkan parkiran café, juga meninggalkan Sehun yang kini hendak memasuki mobilnya sendiri. Baru saja tangannya akan membuka pintu mobilnya, Sehun dapat melihat dari tempatnya berdiri sekarang ini bahwa gadis yang tadi diomelinya itu kini diomeli habis-habisan oleh manager café tersebut, membuat Sehun langsung tidak enak hati.

Sehun memutuskan untuk tidak mempedulikan hal itu mengingat di kejadian ini posisinya adalah korban. Sehun langsung menaiki mobilnya dan pergi dari café tersebut.

Sehun tahu bahwa seharusnya saat ini ia merasa kesal karena setelan kerja favoritnya ternodai kuah cream soup dan dadanya sendiri sempat merasa kepanasan seolah ia baru saja tersiram air panas, namun entah mengapa untuk kali ini rasa tidak enaknya lebih besar daripada rasa kesalnya.

“Dasar gadis tukang menumpah. Sudah ia yang menumpahiku, mengapa juga harus aku yang tidak enak hati?” Ujar Sehun seraya berdecak.

 

**

 

“Sial sekali aku ini. Aku rasa diluar sana tidak ada orang yang sesial aku.” Surin merasa air matanya jatuh begitu saja, namun kering dengan seketika karena terpaan angin keras yang mengarah padanya. Surin melajukan motor vespa milik restaurant pizza tempatnya bekerja dengan kecepatan kencang, seolah ingin menumpahkan rasa kesalnya pada jalanan Seoul yang ramai.

Surin memang orang yang rumit. Surin bekerja ini dan itu untuk dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya. Ia bekerja sebagai penulis bayangan diakhir pekan, pelayan café di hari biasa tepatnya dari pagi sampai sore hari, juga tukang delivery pizza di sore sampai tengah malam. Namun bukannya menjaga pekerjaan yang membuatnya dapat bertahan hidup sampai sekarang ini, Surin malah harus kehilangan satu pekerjaannya akibat kelalaiannya sendiri.

Tangisannya saat ini bukan hanya karena ia baru saja kehilangan pekerjaannya, melainkan karena informasi dari Jongin mengenai klient yang akan mensponsori bukunya. Surin tidak menyangka sekaligus benar-benar sedih karena Jongin berkata bahwa klient itu langsung setuju untuk menjadi pihak sponsor buku Surin begitu saja.

Ya, Surin sedih karena klient itu menerima tawaran untuk menjadi sponsor bukunya bukan karena klient itu tahu bakat Surin dalam menulis. Klient itu bahkan sama sekali tidak meminta tulisan Surin untuk dibaca dan diteliti lebih dulu, apakah pantas tulisan Surin untuk ia sponsori.  Klient itu malah menawari tawaran lain yang membuat Surin terlihat benar-benar murah sekarang ini.

“Menjadi pacar sewaan untuk mendapatkan sponsor? Dunia sudah benar-benar gila! Aku benar-benar tidak mempercayai hal ini!” Teriaknya pada jalanan Seoul yang ramai dengan keras. Surin benci karena tidak ada satu hal pun yang benar dalam hidupnya. Untuk meraih mimpinya saja Surin harus diinjak-injak dulu seperti sekarang ini. Ia benci dengan keadaannya. Ia benar-benar benci.

“Kim Jongin bodoh! Tidak tahukah kau bahwa kau baru saja menjual temanmu ini?!” Surin berseru, tidak peduli apabila orang lain mendengar ucapannya. Toh jalanan itu ramai dan suara bising kendaraan lain menutupi seruannya.

“Aku benci karena aku tidak punya pilihan lain! Aku benci karena besok aku akan bertemu dengan klient tidak bermutu itu! Aku benci!” Surin menangis sejadi-jadinya seraya terus mengendarai motor pizza-nya. Surin menutup wajahnya dengan kaca helm, lalu kembali menangis sejadi-jadinya.

Seolah langit tidak mengasihaninya, suara petir mulai saling menyambar dan gerimis pun menerpa tubuhnya yang hanya berbalutkan sweater pink tipisnya.

Tidak lama kemudian, hujan langsung turun dengan begitu derasnya, bersamaan pula dengan tangisan Surin yang tidak kalah deras.

“Ya Tuhan, aku tahu Kau tidak bermaksud jahat membiarkan semua ini terjadi padaku. Aku juga tidak ingin menyalahkan Engkau. Tapi paling tidak, berikanlah aku pangeran berkuda putihku sendiri untuk melewati masa sulit ini, ya Tuhan.” Seru Surin dan malah suara petir yang menyambarnya, seolah ia baru saja mendapat jawaban ‘tidak’ yang begitu keras dari langit.

Surin rasa dosanya begitu banyak sehingga langit berkata demikian.

Setelah sepuluh menit menerpa hujan deras dijalanan, Surin akhirnya sampai pada apartment mewah yang adalah tempat tinggal sang pemesan. Surin benar-benar basah kuyup sekarang ini namun ia tidak mempedulikan tubuhnya yang sudah menggigil dan dengan buru-buru mengambil kotak pizza didalam box besar yang terdapat dibagian belakang motornya. Surin menghela napas lega karena pizza tersebut aman terlindungi di dalam box motor itu.

Surin buru-buru masuk kedalam apartment tersebut dan segera menaiki lift setelah ia harus lebih dulu meyakinkan security bahwa ia adalah seorang pengantar makanan biasa. Surin menekan tombol nomor teratas apartment tersebut lalu setelah beberapa menit, Surin tiba dilantai tujuannya.

Lantai itu hanya memiliki dua pintu apartment. Yang satu bernomor ‘412’, yang satu lagi bernomor ‘411’, membuat Surin ternganga.

“Pasti ini adalah apartment condominium yang sangat besar dan memiliki lantai dua seperti yang ada di film-film.” Ujar Surin seraya melangkahkan kakinya menuju pintu apartment nomor ‘412’ seperti yang tertera di alamat sang pemesan.

Surin menekan bell yang ada dihadapannya. “Hongdae Delicious Pizza pesanan anda disini!” Ujar Surin dengan penuh semangat, mencoba untuk tetap professional dikala hati dan kondisinya yang benar-benar berantakan saat ini.

Pintu apartment tersebut terbuka dan tampaklah seorang laki-laki bertubuh tinggi yang beberapa hari ini kerap bertemu dengannya. Laki-laki yang menyebabkannya kehilangan pekerjaannya di café tadi siang.

“Sebenarnya berapa pekerjaan yang anda kerjakan dalam sehari, sih?” Ujar laki-laki itu seraya mengambil kotak pizza yang hampir saja Surin jatuhkan dari tangannya karena rasa terkejutnya saat ini.

Laki-laki dengan kaos hitam dan celana training panjang yang juga berwarna hitam dan bermerek Nike itu hanya menyerahkan tiga lembar uang besar pada Surin membuat gadis itu langsung tersadar dari rasa terkejutnya. “U-uangnya terlalu besar dan ini juga terlalu banyak.” Surin bermaksud mengembalikan dua lembar uang besar yang dipegangnya pada laki-laki itu namun laki-laki bertubuh tinggi itu hanya menggeleng. “Tidak usah. Ambil saja semuanya.”

“A-apa? Sebentar, saya cari kembalian dulu.” Ujar Surin seraya berusaha mencari uang pecahan kecil di tas selempang berwarna hitamnya yang terlihat sudah lusuh bahkan bertambah lusuh karena harus basah total akibat tersiram air hujan.

“Ambil saja kembaliannya dan dua lembar yang lainnya itu. Hitung-hitung sebagai ganti gajimu hari ini di café.” Laki-laki itu langsung menutup pintu apartment tersebut begitu saja membuat Surin menatap pintu tersebut dengan tidak percaya.

Apa katanya barusan? Ganti gaji Surin hari ini di café? Surin tahu memang dalam sehari ia tidak akan bisa menghasilkan dua lembar uang besar yang baru diberikan oleh laki-laki itu bahkan jika ia harus kerja full seharian di café, tapi Surin benar-benar merasa dihina sekarang ini.

Surin menendang pintu apartment tersebut sekuat yang ia bisa.

“Dasar laki-laki tidak punya hati! Setelah membuat aku kehilangan pekerjaanku, seharusnya kau meminta maaf dan bukannya malah menghinaku! Kau tahu tidak betapa berharganya pekerjaan itu untukku?! Tentu saja tidak, karena hidupmu sudah enak seperti pangeran yang ada di novel! Semuanya serba ada dan tersedia! Baiklah, aku memang salah karena menumpahkan cream soup di bajumu yang mahal, tapi aku sudah meminta maaf!” Surin menarik napasnya dengan tidak sabar. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca sekarang ini.

“Aku tahu maaf tidak bisa membuat bajumu yang mahal itu bersih seperti sedia kala, tapi aku bisa membawanya ke laundry! Aku bisa melakukan apapun untuk membersihkan baju itu kalau saja kau punya hati! Aku tidak akan kehilangan pekerjaanku kalau tadi kau mau bicara pada manager café bahwa hal itu bukanlah hal yang besar dan bisa diselesaikan secara baik-baik! Setidaknya itu kan yang dilakukan para laki-laki gentle diluar sana?! Memang kau saja yang tidak punya hati dan angkuh!!”

Surin berseru, menyuarakan apa yang ada diotaknya sekarang ini pada pintu apartment itu. Surin tidak peduli jika laki-laki itu mendengar rentetan kalimatnya barusan atau tidak. Surin juga tidak peduli apabila laki-laki itu melaporkan Surin pada boss-nya di restaurant pizza tempatnya bekerja dengan keluhan pelayanan yang benar-benar buruk. Surin benar-benar tidak peduli.

Surin melemparkan dua lembar uang besar yang diberikan laki-laki itu pada pintu apartment tersebut kemudian langsung meninggalkan gedung apartment itu dengan emosi yang benar-benar sudah tidak dapat ditahannya lagi. Surin benci karena amarahnya malah selalu berujung pada jatuhnya air mata dari kedua matanya yang sudah lelah.

Surin hanya berdoa agar ia tidak bertemu lagi dengan laki-laki tidak punya hati itu.

 

**

 

Sehun menggeliat dibalik selimutnya yang nyaman seraya menempelkan bantal peluknya pada telinganya sendiri, ketika ia mendengar ponselnya berdering dengan begitu nyaring berkali-kali. Sehun mendecak kesal dan mau tidak mau tangannya mengambil ponsel berisik itu dari atas meja kecil yang terletak disamping kasur berukuran king size-nya.

“Oh Sehun! Mengapa lama sekali mengangkatnya? Bangunlah, sekarang sudah pukul lima pagi dan kau harus berangkat ke kantor, kan? Tebak kabar bahagia apa yang baru saja ibu dengar sampai-sampai ibu menelponmu sekarang ini!” Sehun hanya menjauhkan ponselnya dari telinganya sambil menautkan kedua alis tebalnya dengan kesal ketika suara penuh semangat ibunya serasa menusuk gendang telinganya begitu saja.

“Chanyeol, Park Chanyeol, teman sekolahmu dulu! Ia memberitahu ibu bahwa kau sudah memiliki calon istri! Sehun-a, mengapa kau tidak memberitahunya lebih dulu pada kami, sih? Ibu dan ayah kebetulan sedang berada di Jeju untuk mengunjungi kakek dan nenek-mu, jadi rencananya hari ini ibu, ayah, beserta kakek dan nenek akan terbang dari Jeju untuk mengunjungimu di Seoul. Jam sembilan nanti pesawat kami akan berangkat jadi jam sepuluh kami sudah akan sampai di Seoul. Ibu sudah memesan tempat di restaurant biasa. Ajaklah calon istrimu itu untuk makan siang bersama kami, ya!”

Sehun langsung terduduk, kedua matanya membelak tidak percaya seolah ia baru saja menerima kabar buruk yang mengejutkan. “APA?!”

“Sudah, sana siap-siap saja untuk berangkat kerja. Sampai jumpa saat jam makan siang nanti, anak ibu yang paling ibu sayang!”

“Bu, bu! Bu! Tunggu! Dengarkan aku dulu.”

“Ada apa, nak?” Ujar ibunya sementara Sehun sudah sedari tadi beranjak dari kasurnya dan mondar-mandir tidak tenang. Orangtuanya tidak boleh datang ke Seoul hari ini. Sehun bahkan belum bertemu dan merencanakan apapun dengan perempuan yang akan menjadi pacar sewaannya itu. Kalau orangtuanya sampai benar-benar datang disaat yang tidak tepat seperti ini, semua rencananya akan hangus begitu saja dan Sehun benar-benar tidak bisa membiarkan semua itu terjadi.

“Ja-jadi, sebenarnya aku dan kekasihku itu sudah berencana untuk mengunjungi kalian di Jeju hari ini dan memberi kalian kejutan. Kalau kalian yang malah mendatangi kami, bisa-bisa kekasihku itu tidak enak hati.” Ujar Sehun, kemudian detik berikutnya ia menyesali ucapannya barusan.

Sehun harusnya berkata bahwa rencana pergi ke Jeju itu ‘besok’ atau paling tidak ‘dua hari lagi’. Mengapa ia malah mengatakan ‘hari ini’, sih?! Semua semakin kacau sekarang dan Sehun sudah menjambak rambutnya sendiri sambil menggigit bibir bawahnya kala ibunya memekik gembira akan ‘kabar salah’ yang diberikan Sehun barusan.

“Astagaaaa, anak ibu ini benar-benar penuh kejutan, ya! Tahu saja bagaimana membuat orangtuanya senang. Ibu benar-benar senang sekali, nak! Baiklah, kalau begitu kami semua akan menunggu dirumah kakek dan nenek. Hati-hati ya, nak!”

Sehun baru saja akan membetulkan ucapannya, namun ibunya sudah keburu mematikan sambungan telepon mereka membuat Sehun langsung mengerang frustasi. Sehun buru-buru mengirimi Chanyeol pesan singkat untuk mengetahui alamat rumah perempuan yang akan menjadi pacar sewaannya dan untungnya Chanyeol langsung membalas dalam beberapa menit.

Tanpa pikir panjang lagi Sehun langsung memesan dua tiket pesawat menuju Jeju dan setelah itu ia dengan terburu-buru segera membilas diri dan menyiapkan beberapa potong baju yang dimasukannya kedalam sebuah tas ransel berwarna hitam.

Setelah kira-kira satu jam bersiap-siap, Sehun langsung mengambil kunci mobil dan pergi dari apartmentnya menuju rumah perempuan itu.

Sehun mempercepat laju mobilnya, mengingat pesawatnya akan berangkat pukul setengah sembilan pagi dan ia benar-benar sudah tidak punya waktu untuk berlama-lama.

Setibanya Sehun ditempat tujuan, laki-laki itu langsung menaiki tangga yang menuju rumah perempuan itu. Chanyeol tidak berkata bahwa pacar sewaannya itu tinggal disebuah rooftop sehingga beberapa menit lalu ia harus diwawancara lebih dulu oleh seorang perempuan paruh baya yang galak, empunya rumah tersebut.

Sehun bahkan ditagih uang sewa secara paksa membuat Sehun mau tidak mau membayar uang sewa tersebut. Lagipula seberapa keras pun Sehun berkata bahwa ia bukan kekasih perempuan yang tinggal diatap itu, sang pemilik rumah tidak akan percaya dan terus menarik-narik kerah bajunya sampai Sehun mengaku.

Baru saja Sehun akan mengetuk pintu, seorang gadis yang kini mengenakan pakaian rapi keluar dari pintu tersebut membuat Sehun terkejut setengah mati, begitu pula dengan gadis itu.

“Loh?!”

Ujar gadis itu spontan membuat Sehun langsung sadar dari rasa terkejutnya. Sehun mengutuki dirinya sendiri yang tidak lebih dulu meminta foto perempuan yang akan menjadi pacar sewaannya pada Chanyeol sehingga hal ini dapat terjadi. Sehun rasanya ingin pergi dari tempat itu sekarang juga namun ia tahu semua rencananya akan lenyap begitu saja kalau Sehun benar-benar melakukan hal itu, sehingga kini Sehun masih berdiri ditempatnya seraya memandang gadis itu dengan penuh rasa frustasi.

“Untuk apa anda disini?! Saya sedang terburu-buru jadi kalau mau minta maaf lain kali saja.” Gadis itu berujar kemudian hendak mengunci pintu yang ada dibelakangnya namun Sehun dengan cepat menahan lengannya.

“Anda pasti mau ke kantor Oh Group Property, kan?”

“Apa sebenarnya urusan anda dan darimana anda tahu saya akan pergi kemana?!” Ujar gadis itu dengan sedikit mendongak. Raut wajahnya benar-benar menunjukan bahwa ia tidak suka pada Sehun yang sekarang ini masih berdiri dihadapannya.

“Saya Oh Sehun, direktur utama Oh Group Property yang akan mensponsori buku anda. Benar anda Jang Surin?”

Gadis yang Sehun ketahui bernama Jang Surin itu menganga tidak percaya akan ucapan Sehun barusan. “A-apa—jadi anda adalah klient tidak bermutu yang main menyetujui untuk memberikan sponsor tanpa membaca tulisan saya terlebih dahulu dan malah meminta saya untuk menjadi pacar—”

“Sudahlah terkejutnya nanti saja. Yang penting sekarang anda bersiap-siap karena kita akan pergi ke Jeju untuk mengunjungi keluarga saya. Siapkan baju paling tidak untuk tiga hari karena sepertinya kita akan menginap disana selama tiga hari dua malam.” Sehun menjelaskan dengan terburu-buru sementara gadis itu masih dalam keterkejutan tidak berujungnya, tambah terkejut karena mendengar ucapan Sehun beberapa detik yang lalu.

“Bagaimana kalau saya tidak ma—”

“Bantu saya dan saya akan memberikan berapapun jumlah uang yang anda butuhkan untuk menerbitkan buku anda. Impas?”

Gadis bernama Surin itu hanya terdiam dan Sehun langsung mendorong punggung gadis itu untuk masuk kedalam rumahnya kembali, berharap ia akan langsung bersiap-siap karena waktu terus berjalan dan perjalanan dari Seoul ke bandara internasional Incheon akan memakan waktu dua jam.

Sehun benar-benar tidak mau ketinggalan pesawat dan akhirnya malah tidak jadi berangkat ke Jeju, karena Sehun yakin seratus persen kalau ia tidak berangkat ke Jeju hari itu juga, keluarganya benar-benar akan datang ke Seoul untuk mengunjunginya bahkan mereka akan mendatangi kantor Sehun dan membuat pengumuman mengenai kekasih Sehun kepada orang-orang kantor.

Membayangkannya saja sudah berhasil membuat Sehun bergidik ngeri.

 

**

 

Surin tidak percaya, ia benar-benar tidak percaya dengan keberadaannya sekarang ini. Saat ini ia berada disebuah pesawat kelas satu yang akan membawanya ke Pulau Jeju, bersama laki-laki yang kemarin malam ia kutuk habis-habisan. Padahal Surin masih ingat dengan jelas isi doanya kemarin yang berharap agar ia tidak akan pernah bertemu dengan laki-laki itu lagi. Surin tidak menyangka bahwa justru laki-laki yang Surin ketahui bernama Oh Sehun itu terlibat semakin jauh dengannya.

Sebenarnya dunia itu sempit atau apa sampai-sampai dari sekian banyaknya direktur utama sebuah perusahaan property, harus laki-laki itulah yang terlibat hal semacam ini dengan Surin?

Surin merasakan pesawat tersebut mulai lepas landas secara perlahan beriringan dengan pemberitahuan yang diberikan oleh sang pilot dan beberapa pramugari. Jantung Surin hampir lepas begitu saja karena saking takutnya. Ini adalah yang pertama kali Surin berada dipesawat dan Surin tidak tahu rasanya akan sangat mendebarkan seperti ini. Ya, seumur-umur Surin belum pernah pergi keluar pulau, apalagi keluar negeri.

Surin tidak percaya karena pengalaman pertamanya keluar pulau yang harusnya spesial malah berakhir bersama laki-laki yang tidak dikenalnya, yang justru kemarin lalu berhasil membuatnya kehilangan pekerjaannya. Ia benar-benar tidak habis pikir.

“Kita harus terlihat benar-benar natural, seperti sepasang kekasih diluar sana. Kalau bisa kita harus terlihat romantis.” Surin menoleh dari jendela kecil pesawat yang berada disebelahnya, pada laki-laki berbahu lebar yang kini mulai mengerjakan sesuatu pada tabletnya. Sepertinya tentang pekerjaan, entahlah Surin juga tidak ingin terlalu tahu.

“Dengan anda? Saya tidak yakin saya bisa.” Ujar Surin dengan nada suara yang sarkastik membuat laki-laki itu langsung menoleh. “Anda pikir saya bisa berlaku romantis dengan anda setelah anda tumpahi dengan cola dan cream soup?”

“Anda pikir saya bisa berlaku baik apalagi romantis dengan anda setelah anda membuat saya kehilangan satu pekerjaan saya yang berharga?” Surin melirik laki-laki berbahu lebar itu dengan galak.

“Itukan karena salah anda sendiri.” Tanggapnya membuat Surin langsung kesal dengan seketika.

“Memang dasar laki-laki tidak punya hati. Jangan salahkan saya kalau nanti saya balas dendam dengan memberitahu orangtua anda bahwa kita hanya berpura-pura.” Ancam Surin dan laki-laki bernama Sehun itu langsung menatapnya dengan sengit.

“Jangan salahkan saya juga kalau buku anda tidak jadi terbit.” Surin langsung mengepalkan tangannya kemudian menghela napas, berusaha melepas rasa kesalnya. Surin tahu ia benar-benar tidak bisa memilih sekarang.

Surin benar-benar membutuhkan bantuan laki-laki itu agar mimpinya memiliki buku dengan namanya sendiri dapat terwujud. Surin harus bersabar, mengingat semuanya benar-benar hanya sedikit lagi dapat ia gapai.

“Kalau anda tidak bisa, maka berlatihlah sekarang. Jangan bicara dengan bahasa formal seperti ini atau tidak orangtua saya akan langsung mengetahui bahwa ini hanya pura-pura.” Sehun berujar setelah untuk beberapa detik mereka saling terdiam.

Surin hanya membalasnya dengan decakan. “Baiklah.”

“Surin, Surin, Jang Surin, Surin-a, Surin-ie.” Laki-laki itu berujar seraya menentukan nada suara yang tepat untuk memanggil Surin. “Kau juga harus panggil namaku dengan senatural mungkin. Cobalah sekarang.” Pinta Sehun yang menggunakan bahasa informal membuat Surin sempat merasa terkejut.

Surin berdeham lalu meminum air mineral yang diberikan pramugari beberapa waktu yang lalu, bersiap untuk memanggil nama laki-laki yang kini sudah tampak menunggu itu.

“Se-” Surin menarik napasnya. Entah mengapa Surin merasa tidak nyaman diperhatikan seperti sekarang ini oleh laki-laki berambut hitam pekat itu.

“Sehun, Sehun, Oh Sehun, Sehun-a, Sehun-ie, Sehun opp—”

“Tidak, tidak, jangan ‘Sehun oppa’ itu terlalu menjijikan. Sehun-a saja lebih bagus.” Ujar Sehun seraya mengalihkan pandangannya dari Surin dengan canggung. Surin hanya mengangguk mengerti, dan kemudian keheningan kembali menyelimuti mereka berdua.

“Tapi tidak apa juga sih sebenarnya. Justru itu akan membuat orangtuaku semakin percaya.” Ujar Sehun seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Surin yang bisa menangkap sinyal gugup itu hanya melempar pandangannya kembali pada jendela kecil pesawat disebelahnya sementara kini suara batuk yang dibuat-buat oleh Sehun dapat ia dengar.

“Surin sayang.”

Dalam sepersekian detik kemudian Surin langsung menoleh, benar-benar terkejut akan apa yang baru saja didengarnya. “Hanya latihan agar nanti kau tidak seterkejut ini.” Sehun langsung menghindari kedua mata Surin yang masih membelak terkejut dan kembali fokus pada tablet yang dipegangnya.

Surin merasa kedua belah pipinya begitu panas. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia merasakan hal itu sekarang. Pasalnya, di seumur hidupnya tidak ada yang pernah memanggilnya seperti tadi.

“Berikan aku ponselmu.” Tiba-tiba Sehun menyodorkan ponselnya sementara satu tangannya meminta ponsel Surin.

“Untuk apa?”

“Tulis nomormu itu diponselku dan aku akan menulis nomorku di ponselmu.” Surin mau tidak mau akhirnya menyerahkan ponselnya juga pada Sehun.

Surin mengetikan nomornya diponsel Sehun, begitupula dengan laki-laki itu. Setelah beberapa detik, ponsel Sehun maupun Surin sudah kembali ditangan empunya masing-masing.

“Aku akan menyimpan namamu dengan nama yang manis. Kau juga harus melakukannya. Hanya berjaga-jaga kalau ternyata ibuku tidak percaya lalu mengecek ponsel kita.” Ujar Sehun yang hanya dibalas decakan oleh Surin.

Surin langsung menyimpan nama Sehun dengan ‘Sehun ♡’, lalu menunjukannya pada Sehun membuat laki-laki itu hanya mengangguk puas.

Sehun tampak berpikir dan setelah ia selesai, laki-laki itu memutuskan untuk mematikan ponselnya, dan tidak menunjukannya pada Surin. Terlambat karena Surin sudah lebih dulu melihat nama kontak Surin pada ponselnya. ‘Surin sayang’.

Surin harus menahan tawanya karena hal tersebut tapi ia dengan sebisa mungkin menahannya. Aneh tapi nyata. Begitulah yang dirasakan Surin saat ini. Ternyata rasanya menyimpan nomor kekasih sendiri rupanya seperti itu.

Memang sederhana, tapi Surin merasa perutnya diremas begitu saja.

Ya, Surin memang tidak pernah berpacaran sebelumnya. Menyedihkan? Memang. Surin juga mengakui bahwa ia terlihat menyedihkan. Pada kenyataannya kalau dilihat-lihat lagi, dihidupnya memang tidak ada rasa manis. Semuanya tawar, bahkan lebih ke pahit.

Surin tahu itu sebabnya ia menulis dan gemar membaca. Ia menciptakan dunia manisnya sendiri karena melalui menulis dan membaca, Surin dapat dengan leluasa merasakan rasa manis yang dibuat ataupun dibacanya sehingga hidupnya tidak terlalu tawar ataupun pahit.

Surin tidak tahu ternyata kalau di kenyataan, semua hal manis itu dapat membuat hatinya terasa jauh lebih teraduk-aduk.

 

**

 

Mobil keluarga Sehun membawa mereka ke sebuah rumah tradisional khas Korea yang kelihatan sederhana. Meskipun tampak sederhana, rumah tradisional tempat mobil mereka berhenti saat ini tampak jauh lebih besar dari rumah-rumah yang sudah mereka lewati tadi dan Surin tidak merasa heran karena dari awal Surin sudah tahu bahwa keluarga Sehun pastilah kaya raya. Rumah tersebut berada disebuah pedesaan yang sangat indah bahkan Surin sendiri tidak tahu bahwa Pulau Jeju memiliki pedesaan yang sangat asri dan indah seperti tempatnya sekarang ini berada.

Surin turun dari mobil dan dari tempatnya sekarang ini berdiri, ia dapat melihat keluarga Sehun yang sudah melambaikan tangan mereka pada Sehun juga Surin, tengah menikmati makan siang di sebuah pondok dengan duduk berlesehan.

Surin hanya berjalan mengikuti Sehun dan setibanya di pondok itu mereka berdua langsung disambut dengan sangat hangat.

“Oh Sehun! Astaga, kami benar-benar merindukanmu.” Ujar seorang wanita yang Surin tahu adalah nenek dari Sehun seraya menghampiri cucunya itu dan memeluk Sehun dengan erat. Wanita yang Sehun sebut sebagai nenek itu terlihat sangat sehat, begitupula dengan kakeknya yang kini sudah menghampiri Sehun seraya menepuk pundak laki-laki itu berkali-kali. Mereka berdua bahkan tampak jauh lebih muda dari umur mereka yang Sehun beritahu padanya saat dipesawat tadi.

Ibu kandung Sehun yang benar-benar cantik pun bangkit dari duduknya dan dengan bersemangat langsung menghampiri mereka. Ibu kandung Sehun atau yang kerap disapa sebagai Nyonya Oh itu kini memegang kedua tangan Surin dengan wajah bahagianya, membuat Surin sempat terkejut untuk sesaat.

“Astaga, kau pasti calon istri Sehun, kan? Yah, lihat yah, kekasihnya Sehun ternyata cantik sekali!” Nyonya Oh berujar pada suaminya yang hanya tertawa mendengar ucapan istrinya itu. Nyonya Oh kemudian memeluk Surin berkali-kali sementara Tuan Oh kini mengacungkan jempolnya pada Sehun.

“Sehun-a, mengapa diam saja? Kenalkanlah kekasihmu ini pada kami.” Ujar neneknya membuat Sehun langsung tersadar bahwa ia harus berakting didepan keluarganya, karena beberapa detik yang lalu ibunya baru saja memandanginya dengan penuh kecurigaan, terutama ketika Sehun terbatuk berkali-kali akibat ucapan neneknya beberapa detik yang lalu.

Sehun buru-buru merangkul Surin seraya mengelus lengan gadis itu. “Ini kekasihku, Jang Surin.” Ujar Sehun membuat Surin langsung tersenyum manis dan kemudian gadis itu membungkuk sopan untuk menyapa keluarga Sehun.

“Perkenalkan, nama saya Jang Surin.” Surin berujar lalu Nyonya Oh dan Nenek Oh langsung memekik senang pada satu sama lain, tidak percaya bahwa kabar gembira yang disampaikan Chanyeol, teman Sehun pada mereka adalah benar adanya.

“Kalau begitu ayo cepat duduk, kita baru saja akan makan siang loh. Kalian datang disaat waktu yang benar-benar tepat.” Kakek Oh pun menyuruh mereka duduk dan Surin hanya menurut seraya duduk disebelah Sehun.

“Astaga, lihatlah mereka berdua. Benar-benar sangat manis.” Nyonya Oh terus saja memegang tangan Surin dengan senyuman gembiranya sementara kini Sehun hanya menggelengkan kepalanya karena menyaksikan tingkah laku ibunya yang menurutnya terlalu berlebihan itu.

“Nona Jang, kami benar-benar beruntung mendapatkan calon menantu yang cantik sepertimu.” Sambung Nyonya Oh membuat yang lain tertawa kecil, termasuk Surin yang kini sudah salah tingkah.

“Benar apa yang dikatakan istri saya. Anak laki-laki kami yang adalah satu-satunya ini memang terkadang keras kepala, jadi kalau ia menyebalkan tolong dimaafkan saja ya, nona.” Ujar ayah kandung Sehun sementara laki-laki yang kini duduk disebelah Surin hanya kembali menggelengkan kepalanya.

“Tidak perlu se-formal itu. Panggil saya Surin saja, eommonim, abeonim.” Ujar Surin membuat Nyonya Oh menepuk tangan Tuan Oh berkali-kali, tidak percaya dengan sebutan Surin untuk mereka.

“Eommonim? Abeonim? Ayah, ibu benar-benar tidak percaya karena sebentar lagi kita akan menjadi seorang mertua sungguhan!” Ujar Nyonya Oh pada Tuan Oh dengan nada suara yang terdengar sangat antusias membuat yang Kakek dan Nenek Oh hanya tertawa.

“Kalau begitu, Surin-a, bisakah kau memperkenalkan dirimu secara lebih dalam kepada kami? Kami hanya terlalu penasaran karena ini adalah yang pertama kalinya Sehun mau memperkenalkan kekasihnya pada kami.” Nenek Oh berujar pada Surin membuat gadis itu melirik Sehun yang kini hanya mengangguk kecil, memperbolehkannya untuk berkata apapun semau hatinya.

Surin menarik napasnya dalam-dalam. Surin tidak mau berbohong lebih banyak lagi jadi ia memutuskan untuk jujur mengenai siapa dirinya pada keluarga Sehun. Semua orang yang ada ditempat itu terlalu baik untuk dibohongi, dan Surin tidak mau membuat mereka kecewa. Mungkin Surin akan langsung diusir setelah bercerita mengenai kehidupannya yang tergolong biasa bahkan terlalu biasa, persis seperti yang ada di drama-drama televisi, tapi Surin benar-benar tidak mau memikirkan hal itu dan memilih untuk berbohong lagi.

“Saya hanya lulusan dari Seoul National University jurusan Komunikasi. Saya bekerja disebuah perusahaan penerbit buku dan tengah berusaha menggarap buku saya sendiri meskipun hal itu tidaklah mudah. Disamping itu saya bekerja paruh waktu disebuah restaurant pizza dan café. Ah, saya lupa bahwa saya sudah tidak bekerja di café itu lagi karena sebuah alasan.” Surin berujar sementara yang lain mendengarkan. Surin bersyukur karena ia tidak disiram atau semacamnya setelah menjelaskan mengenai pekerjaannya meskipun raut wajah keluarga Sehun saat ini benar-benar tidak dapat ditebak olehnya.

Sementara itu Sehun terbatuk karena mendengar kalimat Surin yang terakhir, sadar bahwa gadis itu baru saja menyindirnya namun yang dibatuki hanya tersenyum, senang kalau ternyata Sehun sadar ia baru saja Surin sindir.

“Saya tinggal sendiri disebuah rumah atap yang saya sewa dari saya mulai masuk kuliah sampai sekarang ini. Kedua orangtua saya sudah berpisah dan kini mereka menjalani hidup mereka masing-masing.” Ujar Surin membuat Nyonya Oh kembali memegang satu tangannya dan mengelusnya dengan perlahan.

“Kau adalah gadis paling kuat yang pernah aku temui seumur hidupku.” Ujar Nyonya Oh diikuti anggukan oleh yang lain. Sehun hanya berdeham pelan. Pasalnya laki-laki itu juga baru mengetahui Surin dengan serinci itu dan ia harus mengakui apa yang diucapkan ibunya adalah memang benar adanya.

“Sehun benar-benar beruntung mendapatkan gadis kuat sepertimu, Surin-a.” Tambah Tuan Oh membuat Surin seketika merasa lega karena pilihannya untuk jujur tidaklah salah sama sekali.

“Sehun pasti bisa belajar banyak darimu. Aku senang karena pada akhirnya Sehun dapat memilih pasangannya sendiri dan tidak berakhir dengan gadis-gadis lain yang dipilihkan ibunya. Mereka belum tentu tepat seperti dirimu.” Timpal Nenek Oh membuat Kakek Oh langsung menyetujui ucapan istrinya itu. Seketika Surin merasa tidak enak hati karena pada kenyataannya ia dan Sehun hanya berpura-pura didepan mereka.

“Sudah, sudah, lebih baik sekarang kita makan saja. Nanti semua makanan ini keburu dingin.” Sehun mengalihkan pembicaraan ketika menyadari ekspresi tidak enak dari Surin yang tidak ditangkap oleh anggota keluarganya yang lain.

Mereka semua pun akhirnya menyantap makan siang itu dengan senang sambil terus berbincang-bincang. Surin bahkan tertawa terbahak karena lelucon Kakek Oh yang menurut Sehun tidaklah lucu sama sekali. Karena mendengar tawa Surin yang menggelegar, Sehun sampai ikut tertawa juga dan yang lain langsung bersorak karena Sehun yang biasanya hanya diam saja, untuk pertama kalinya turut tertawa ketika tengah makan bersama seperti sekarang ini.

“Sehun benar-benar kelihatan bahagia ya sekarang karena ada Surin disampingnya. Surin-a, kau perlu tahu bahwa sebelumnya Sehun itu sama sekali tidak pernah tertawa seperti ini ketika kumpul bersama kami.” Ujar Nyonya Oh sementara Surin hanya tertawa kecil seraya melirik Sehun yang berusaha menahan senyumannya sambil terus memakan makanannya.

“Aku benar-benar bersyukur karena rumor mengenai Sehun yang selama ini beredar ternyata memang tidak benar sama sekali.” Tuan Oh berucap namun Nenek Oh yang duduk disamping kirinya langsung menyenggol lengannya. “Tidak usah dibicarakan lagi. Membicarakan hal buruk hanya akan membawa energi negatif.” Ujarnya membuat Tuan Oh hanya mengangguk mengerti sambil tertawa kecil.

Surin melirik Sehun yang tampak tidak begitu peduli. Surin pikir dibalik sikap tidak peduli yang ditunjukan oleh laki-laki itu, sebenarnya ada banyak sekali yang ia pikirkan. Surin yakin salah satu diantaranya adalah rumor yang disebutkan oleh ayahnya tadi.

“Ah, bagaimana kalau kalian berdua menyapa tetangga dengan memberikan mereka jeruk? Hitung-hitung berbagi kabar baik bahwa cucuku satu-satunya ini sudah memiliki calon istri.” Nenek Oh berujar dan Surin langsung menangkap ketidaksukaan Sehun akan hal tersebut. Surin hanya tersenyum kecil karena menyadari bahwa Sehun tidak akan bisa membantah apa yang dipinta oleh neneknya sampai-sampai laki-laki itu hanya terdiam tanpa membantah sedikitpun seperti sekarang ini.

“Ide yang sangat bagus. Sana pergi ke kebun jeruk dan temui Paman Ong yang akan membantu kalian memetik jeruk dan mengemasnya. Sehun tahu dimana dan masih ingat kebun Kakek, kan?” Kakek Oh berujar dan Sehun hanya mengangguk malas membuat Nyonya Oh tersenyum senang.

“Tentu saja Sehun mengingatnya. Itu kan kebun tempat ia main sewaktu kecil dulu.” Tambah Tuan Oh yang kini juga tengah tersenyum senang.

“Surin-a, ganti saja bajumu dengan yang lebih nyaman. Kebetulan karena tadi pagi Sehun berkata bahwa ia akan membawa kekasihnya kemari, aku pergi ke pasar terdekat untuk membelikanmu hadiah. Pakailah terusan ini untuk memetik jeruk itu agar lebih leluasa.” Nyonya Oh memberikan plastik hitam berisi baju pada Surin yang langsung diterima oleh gadis itu.

“Sehun-a, mengapa diam saja? Sana antar Surin ke toilet di dalam. Surin kan belum tahu.” Sambung Nyonya Oh dan Sehun pun hanya menurut seraya bangkit dari duduknya bersama dengan Surin.

Sehun memimpin jalan sementara Surin mengikuti dibelakangnya. Tampilan rumah tersebut benar-benar tradisional membuat Surin serasa berada dijaman Joseon dulu. Meskipun tradisional, semua furniture tampak begitu modern dan memiliki tema minimalis yang sangat menarik. Surin rasa itu adalah rumah terindah yang pernah dilihatnya.

“Disini toiletnya.” Ujar Sehun dan Surin segera mengangguk seraya masuk ke toilet tersebut untuk berganti pakaian.

Setelah hampir tiga menit, Surin tidak keluar juga membuat Sehun yang menunggunya menjadi tidak sabaran. “Mengapa lama sekali, sih?” Gerutu Sehun namun Surin hanya mendengus mendengar gerutuan laki-laki itu.

“Ini kancing belakang bajunya susah sekali untuk ditutup. Tanganku tidak sampai.” Ujar Surin seraya terus mencoba untuk meraih kancing kecil yang berada tepat dipertengahan punggungnya dengan kesulitan. “Yasudah, cepat buka pintunya. Biar aku bantu.”

Surin terkejut akan apa yang didengarnya barusan. “Apa?! Kau mau mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan, ya?!” Tuduh Surin namun hanya dibalas decakan dari Sehun. “Tunggu saja, aku pasti bisa mengancingnya sendiri.” Timpal Surin namun tangannya tidak kunjung menggapai kancing kecil itu.

“Cepat buka atau aku dobrak.”

“Aish, dasar tidak sabaran!”

Surin yang sudah sedari tadi mencoba untuk mengancing namun terus gagal akhirnya membuka pintu toilet tersebut dan Sehun langsung melangkah masuk. Sehun sempat terpaku ditempatnya untuk sesaat ketika melihat punggung Surin yang terekspos. Sehun pikir hanya tinggal dikancing sedikit, rupanya kancing itu masih terletak sangat jauh dari kata tertutup. “A-aku… lebih baik keluar sa—”

“Sudah cepat kancing saja.” Pinta Surin membuat Sehun yang merasa gugup langsung berjalan mendekat kearah gadis itu.

Dengan tangan yang gemetar Sehun menyentuh kancing baju terusan bermotif bunga dengan warna dasar kuning muda itu penuh rasa hati-hati lalu mengancingnya secara perlahan sementara Surin hanya memegang rambut panjangnya agar tidak menghalangi tangan Sehun untuk menutup kancing tersebut.

Surin langsung berbalik menghadap Sehun ketika laki-laki itu selesai mengancing baju terusannya, namun ia malah jadi berdiri berhadapan sangat dekat dengan Sehun yang jauh lebih tinggi darinya. Surin dapat melihat telinga Sehun yang memerah, membuat kedua pipinya seketika merasa panas tanpa alasan. “Ki-kita sudah ditunggu.” Ujar Sehun dengan terbata seraya melangkah keluar lebih dulu.

“Sehun-a! Cepat kemari! Itu motornya sudah disiapkan oleh Kakek.” Tuan Oh berseru ketika Sehun dan Surin memunculkan diri. “Woah, Surin-a, kau tampak lebih manis dengan terusan bermotif bunga itu!” Timpal ayah kandung Sehun itu dan Nyonya Oh langsung menghampiri Surin dengan penuh bersemangat.

Nyonya Oh hanya benar-benar senang karena baju terusan yang dibelikannya untuk Surin sangat pas ditubuh gadis itu. “Sudah sedari dulu aku ingin memiliki anak perempuan dan ternyata inilah rasanya. Surin-a, mengapa kau benar-benar manis, sih?” Nyonya Oh pun menguncir satu rambut Surin dengan hati-hati sementara Sehun hanya tersenyum melihat ibunya yang terlihat sangat gembira ketika menata rambut Surin.

“Surin-a, pakai topi punya Nenek ini ya biar tidak kepanasan saat di motor nanti.” Nenek Oh menghampiri Surin yang tengah berdiri disamping Sehun kemudian memakaikan topi pantai miliknya pada Surin, membuat gadis itu terlihat semakin manis sampai-sampai Nyonya Oh dan Nenek Oh saling memekik gembira karena melihat Surin dihadapan mereka saat ini. Lagi-lagi, Sehun hanya menggelengkan kepalanya, meskipun bibirnya turut melengkungkan senyuman senang, persis seperti bentuk lengkungan yang saat ini menghiasi wajah Surin.

“Aku tidak dikasih topi juga?” Ujar Sehun membuat yang lain langsung tertawa. “Ini, pakailah punya Kakek.” Kakeknya melempar topi pantai miliknya dari pondok tersebut membuat Sehun dengan sigap langsung menangkapnya.

“Sudah sana berangkat, sudah siang. Kalau berlama-lama kalian bisa-bisa akan menyelesaikan pekerjaan ini malam hari nanti.” Ujar Tuan Oh seraya melempar kunci motor vespa tua yang dipegangnya pada Sehun, yang lagi-lagi dengan sigap langsung menangkapnya.

Motor vespa berwarna abu-abu tua itu dihiasi dengan dua keranjang berwarna cokelat gelap dimasing-masing sisinya. Sehun menaiki motor vespa tersebut dan menyalakan mesinnya. “Cepat naik.” Ujar Sehun pendek pada Surin membuat Nyonya Oh langsung memukul lengannya. “Yang manis sedikit, bisa tidak?” Omel Nyonya Oh pada Sehun membuat laki-laki itu hanya terkekeh.

“Cepat naik, Surin sayang.” Ujar Sehun dan seketika tawa keluarganya menyembur begitu saja. Bahkan kini Surin sudah ikut tertawa menyebabkan Sehun yang tidak bisa untuk tidak tertawa karena mendengar suara tawa Surin yang baginya sangat lucu itu pun pada akhirnya ikut tertawa pula.

Surin segera duduk menyamping dikursi penumpang. Kakinya masuk ke salah satu keranjang sementara kedua tangannya kini melingkari pinggang Sehun membuat laki-laki itu sempat gugup untuk beberapa saat.

Sehun hanya tidak terbiasa dengan semua yang berbau sentuh menyentuh sebelumnya, karena sebenarnya ia sama sekali belum pernah berpacaran seumur hidupnya. Sehun terbatuk ketika merasakan Surin mengeratkan pelukan tangannya, berharap dengan terbatuk ia dapat menutupi rasa gugupnya yang sialnya tidak bisa Sehun sembunyikan karena kini kedua telinganya sudah benar-benar memerah.

“Kami berangkat dulu.” Ujar Sehun dengan susah payah seraya menjalankan motor vespa tersebut sementara keluarganya kini sudah melambaikan tangan mereka sambil mengucapkan hati-hati pada Sehun maupun Surin.

Untuk pertama kalinya, Sehun merasa senang karena melihat keluarganya benar-benar bahagia seperti itu.

 

**

 

“Kalau keranjang kalian sudah penuh, langsung saja ke pondok. Paman akan bantu kalian untuk mengemasnya.” Paman Ong berseru sementara Sehun dan Surin yang kini masih asik memetik jeruk  hanya menyahut menyetujui.

Kebun tempat Sehun dan Surin berada saat ini adalah kebun milik Kakek Oh sejak dari tiga puluh tahun yang lalu. Kakek Oh mempekerjakan teman dekatnya yaitu Paman Ong untuk mengurus kebun tersebut, begitupula dengan lebih dari dua puluh pekerja lainnya yang ada di kebun tersebut. Itu sebabnya Kakek Oh sangat dikagumi oleh orang-orang desa. Beliau menyediakan lapangan pekerjaan di desa, bahkan menyumbangkan setengah hasil dari kebun miliknya itu kepada koperasi desa untuk dijual ke pasar.

Jeruk Jeju berkualitas tinggi dari kebun Kakek Oh tidak hanya beredar dipasar-pasar yang ada di Jeju. Jeruk tersebut sudah dipasarkan sampai pasar yang ada di Seoul bahkan juga daerah Busan. Surin langsung merasa begitu kagum pada keluarga Sehun. Kakek-Neneknya, Ayah-Ibunya, bahkan Sehun sendiri pun sangat sukses. Surin tahu ia sebenarnya juga sudah sukses. Sukses dengan jalannya sendiri, setidaknya itulah yang dikatakan Surin pada dirinya sendiri setiap malam.

Tanpa Surin sadari kini ia sudah memperhatikan Sehun yang berada tidak jauh darinya. Laki-laki itu sekarang tengah memilah buah jeruk yang akan dipetik dan dimasukannya kedalam keranjangnya sendiri dalam diam. Kalau Surin pikir-pikir, Sehun sebenarnya sukses luar dan dalam. Maksud Surin, Sehun memiliki proporsi tubuh yang sangat ideal dan tinggi semampai, bahunya lebar seperti tokoh-tokoh yang ada didalam komik manga, wajahnya juga sangat tampan bahkan harus Surin akui, Sehun adalah laki-laki tertampan yang ia temui seumur hidupnya. Semua yang ada pada laki-laki itu benar-benar adalah kata ‘sukses’ yang sesungguhnya.

“Aku tahu aku tampan tapi memperhatikanku-nya nanti saja. Petik dulu jeruk-jeruk itu.” Sehun berujar dan seketika lamunan Surin buyar begitu saja. Surin hanya mendengus sementara Sehun terkekeh kala gadis yang tertangkap basah tengah memperhatikannya itu hanya mengabaikan ucapannya barusan.

Surin berusaha mengambil jeruk besar yang berada jauh diatasnya dengan susah payah. Sehun yang menyaksikan hal tersebut langsung menghampiri Surin dan membantu gadis itu untuk mengambil jeruk yang Surin maksud itu. Surin hanya menerimanya seraya mengucapkan terimakasih sementara laki-laki itu kini sudah menahan tawanya. “Ini adalah sebab mengapa minum susu itu dikatakan penting bagi pertumbuhan tubuh.” Surin langsung menyenggol lengan Sehun yang sekarang ini tertawa kecil disela-sela ucapannya.

Sehun kembali pada aktifitasnya untuk memetik jeruk, begitupula dengan Surin yang kini berdiri berdampingan dengan Sehun. Mereka berjalan beriringan, menusuri kebun jeruk yang luas itu bersama-sama.

“Kalau aku boleh tahu, sebenarnya apa alasanmu sampai menyewa pacar sewaan? Apa hal ini ada hubungannya dengan rumor yang disebut-sebut ayahmu tadi?” Surin berujar seraya memetik jeruk yang ada dihadapannya. Matanya sesekali melirik kearah Sehun, takut-takut kalau pertanyaannya barusan terkesan seperti terlalu ingin tahu.

“Begitulah kira-kira. Rumor itu beredar saat aku duduk dibangku sekolah menengah atas dan entah mengapa rumor yang sudah berhasil aku kubur dalam-dalam dimasa SMA-ku itu, satu tahun terakhir ini kembali muncul dan sialnya di lingkungan kantorku sendiri.” Sehun berujar seraya kembali membantu Surin untuk mengambilkan jeruk yang jauh dari gapaian gadis itu.

“Sewaktu SMA dulu, aku tidak memiliki banyak teman. Temanku hanya satu yaitu laki-laki yang bisa membuat kita terlibat jauh seperti ini, Park Chanyeol.” Surin mengangguk, tahu siapa itu Chanyeol karena Jongin sudah menceritakan semua tentang pihak yang akan menjadi sponsor bukunya, termasuk teman Jongin yang bernama Chanyeol itu.

“Mungkin karena aku terlihat begitu akrab dan kemana-mana selalu hanya bersama Chanyeol, anak-anak di sekolah menyebutku ‘laki-laki gay’. Tiga tahun aku harus menyandang status itu, bahkan tidak jarang menjadi bulan-bulanan teman sekelas bahkan satu sekolahanku. Aku sebenarnya berusaha untuk tidak peduli, namun lama-kelamaan tanpa aku sadari hal itu membentuk kepribadian lain dalam diriku. Aku menjadi seorang yang benci bersosialisasi, bahkan terkesan mengisolasi diriku sendiri dari orang-orang lain.” Surin hanya terus mendengarkan ucapan laki-laki yang kini tidak menatapnya dan hanya sibuk pada jeruk-jeruknya itu.

Surin sekarang tahu apa yang menyebabkan Sehun begitu keras kepala, dingin, juga galak. Surin sekarang juga tahu bahwa laki-laki itu sebenarnya memiliki sifat lembut dalam hatinya, berbanding terbalik dengan apa yang ia tampilkan diluar.

Menurut Surin, Sehun pasti berpikir bahwa dengan ia seperti itu, orang lain tidak akan berani untuk menginjak-injaknya dan memperlakukannya dengan tidak baik. Pada dasarnya, Sehun hanyalah korban dari masa lalunya yang kelam.

“Ketika rumor yang menyebar itu sampai pada ayah dan ibuku, mereka langsung menyuruhku untuk membantah hal tersebut. Karena aku sama sekali belum pernah berpacaran, orang-orang dikantor, juga ayah dan ibuku semakin percaya bahwa rumor itu adalah sebuah kenyataan. Mereka tidak tahu saja bahwa dulu aku pernah benar-benar menyukai seorang gadis saat duduk dibangku SMA namun sayangnya gadis itu menolakku mentah-mentah karena rumor yang saat itu beredar.” Sehun tertawa kecil sementara Surin hanya terus memperhatikan laki-laki itu.

“Itu sebabnya selama satu tahun terakhir kedua orangtuaku berusaha untuk menyusun perjodohan dengan perempuan-perempuan pilihan mereka. Aku selalu menolak karena sebenarnya dari kejadian ditolak mentah-mentah oleh gadis yang aku sukai itu, aku memiliki rasa trauma sehingga aku memilih untuk tidak berhubungan dengan perempuan manapun sampai sekarang. Aku berpikir bahwa semua orang sama saja, tidak ada yang tulus.”

Surin langsung merasa iba pada Sehun. Surin pikir hidup Sehun yang apapun serba tersedua dan sempurna itu tidak memiliki cacat sedikitpun sampai-sampai Surin mengkategorikan hidup laki-laki itu sebagai laki-laki dengan kehidupan sempurna seperti kehidupan tokoh utama yang sering ditemuinya di novel.

Pada kenyataannya, Sehun memiliki masalahnya sendiri yang tidak dapat Surin katakan enteng. Ia harus bertempur melawan dirinya dan menghindari tekanan dari orang-orang disekitarnya, bahkan orangtuanya sendiri. Surin merasa salut karena Sehun dapat melewati hal itu dengan baik dan bertahan sampai sekarang ini.

“Maka itu jangan heran ya kalau keluargaku sedikit berlebihan ketika aku memperkenalkanmu sebagai kekasihku. Pasalnya, kau benar-benar yang pertama.” Sehun tertawa membuat Surin hanya tersenyum tipis.

“Itu bukanlah masalah. Aku menyukai keluargamu, mereka benar-benar begitu hangat.” Ujar Surin kemudian kini gantian Sehun yang tersenyum. Sehun tampak mengupas sebuah jeruk, kemudian menyodorkan Surin satu dari banyaknya isi jeruk tersebut setelah ia memakan miliknya.

“Ini benar-benar manis. Cobalah.” Surin langsung melahap jeruk yang disodorkan oleh Sehun kemudian langsung memuji kemanisan jeruk tersebut. “Tapi punyaku lebih manis. Ini cobalah.” Surin menyodorkan sepotong jeruk pada Sehun yang langsung menyantapnya. Surin mematung ketika tangannya sendiri menyentuh bibir sempurna milik Sehun, begitupula dengan laki-laki yang baru menyadari bahwa kini dua jari Surin tengah menempel begitu saja dibibir bawahnya.

Telinga Sehun langsung memerah, diikuti dengan semburat merah dimasing-masing kedua belah pipi Surin. Surin tidak tahu apa yang menyebabkan jantungnya benar-benar berdebar sekarang ini. Surin yakin hal itu karena kedua manik mata Sehun yang berwarna cokelat, terlihat sangat menarik. Atau karena kedua alisnya yang tegas, atau mungkin karena hidungnya yang mancung, mungkin juga karena kedua pipi Sehun yang tampak sedikit pink itu, atau karena tangannya yang kini hinggap pada bibir berwarna merah muda alami milik laki-laki itu.

Surin hanya benar-benar tidak dapat berpikir jernih saat ini.

Tiba-tiba Sehun mengecup air jeruk yang berada dijari Surin, membuat gadis itu hampir saja jatuh pingsan kalau Sehun tidak memegang erat lengannya seperti sekarang ini. Surin merasa kakinya begitu lemas sampai-sampai ia merasa tidak kuat untuk berdiri tegak. Ia juga merasa bahwa jantungnya saat ini mencapai debaran dengan kecepatan yang paling maksimal, memberikan sensasi gelitik pada perutnya sendiri.

“Ma-maaf, aku hanya ingin membersihkan tanganmu. Aku tidak sadar malah—”

“Haduh, anak muda ini malah bermesraan. Cepat kemari! Ayo kita kemas jeruk yang sudah kalian petik itu bersama-sama!” Paman Ong berteriak dari sebuah pondok, membuat Sehun dan Surin langsung menoleh cepat.

Mereka hanya mencuri pandang satu sama lain dengan gugup, kemudian Sehun memutuskan untuk jalan lebih dulu mendahului Surin yang kini masih berusaha untuk menetralkan detak jantungnya.

Bayangan kedua manik mata cokelat milik Sehun menguasai otaknya dan Surin rasa ia mulai terjebak.

Tidak, Surin benar-benar terjebak. Entah terjebak apa, Surin rasa ia memilih untuk tidak memikirkannya lebih dalam.

 

**

 

“Oh astaga, jadi kabar mengenai cucu satu-satunya keluarga Oh sudah memiliki calon istri itu benar? Kami turut berbahagia untuk kalian berdua, ya.” Sehun memang tidak mengenal siapa wanita paruh baya yang kini berbicara dengannya dan Surin tapi Sehun hanya menganggukan kepalanya untuk berterima kasih.

Surin mengambil satu kantong plastik berisi jeruk dan memberikannya pada wanita yang berada dihadapannya sekarang ini. “Kakek menyuruh saya membagikannya pada tetangga-tetangga disini, jadi mohon diterima.” Ujar Sehun dan wanita itu langsung tersenyum senang. “Terima kasih banyak sebelumnya.” Balasnya membuat Sehun langsung berkata ‘tidak masalah sama sekali’ sambil tertawa kecil.

“Kalau begitu kami permisi dulu. Kami masih harus berkeliling desa.” Ujar Sehun seraya menaiki motor vespa milik kakeknya itu dan Surin hanya mengikuti setelah sebelumnya ia membungkuk sopan untuk berpamitan pada wanita yang hanya menatap mereka berdua dengan tatapan lembut dan senyum senang itu.

Berulang-ulang mereka melakukan adegan serupa, mengetuk pintu rumah tetangga kakek dan nenek Sehun untuk memberikan jeruk-jeruk yang sudah mereka kemas. Surin menikmati semua itu, begitupula dengan Sehun. Semua orang di desa itu berbeda dengan orang-orang di Seoul. Mereka lebih peduli satu sama lain juga lebih ramah.

Meskipun karena saking pedulinya antar warga terhadap satu sama lain kabar bahwa Sehun, cucu satu-satunya keluarga Oh, sudah memiliki calon istri harus menyebar diseluruh penjuru desa dalam waktu yang sangat singkat. Sehun dan Surin yang kini tengah dalam perjalanan menuju rumah yang berikutnya sampai tidak bisa memberhentikan tawa mereka karena setiap rumah yang mereka datangi sudah mengetahui kabar tersebut.

Angin musim panas yang menerpa motor vespa mereka seolah turut tertawa berbahagia bersama mereka. Jalanan desa itu begitu luas, namun benar-benar sepi bahkan hanya motor vespa yang ditumpangi Sehun dan Surin saja yang berada dijalanan tersebut.

Dari tempat duduknya sekarang ini, Surin dapat melihat hamparan sawah yang begitu luas disepanjang jalan. Matahari yang terik dan seolah menembus kulit kaki dan tangan Surin tidak mengurangi rasa senang yang kini Surin rasakan. Surin tertawa ketika kini Sehun dengan satu tangannya yang ia lepas dari setir motor beralih untuk mengelus sebelah kakinya berkali-kali karena merasa kakinya terbakar sinar matahari yang begitu menyengat. Sehun menyesali keputusannya untuk tidak lebih dulu mengganti celana pendek berwarna cokelat muda sebatas lututnya dengan celana panjang yang pasti dapat melindungi kakinya dari sengatan sinar matahari, membuat Surin lagi-lagi hanya tertawa.

Seketika Surin merasa lengkap, seolah-olah ia lupa bahwa statusnya sebagai kekasih Sehun hanya kepura-puraan belaka.

Surin memandangi punggung lebar Sehun seraya tersenyum tipis. Kemeja putih bermotif pohon kelapa ala pantai yang Sehun gunakan tampak menggelembung karena angin. Rambut hitam Sehun yang terlihat lembut terkespos dan berterbangan karena topi pantai bertalinya jatuh dibelakang lehernya.

Bahkan dari belakang saja Sehun begitu sempurna, dan Surin harus mengakui hal itu.

Setelah sepuluh menit berada dijalan, akhirnya Sehun dan Surin sampai pada rumah teman dekat ayahnya yang adalah rumah terakhir untuk di datangi. Jam ditangan kiri Sehun sudah menunjukan pukul tiga sore, dan energinya sudah terkuras habis. Sehun akan langsung pulang selepasnya ia memberikan kantong plastik terakhir yang kini dipegangnya pada Paman Park.

Kali ini Surin yang memencet bel dan seketika anak perempuan Paman Park memunculkan diri.

“Yah! Ayah! Sehun betulan datang untuk memberikan jeruk bersama kekasihnya!” Teriak gadis itu lalu teman kecil Sehun yang masih sangat diingatnya itu menghampiri pintu utama tersebut bersama Paman Park.

“Oh Sehun!” Paman Park langsung memeluk Sehun seraya menepuk-nepuk punggungnya berkali-kali sampai-sampai ia harus terbatuk dibuatnya. “Paman Park, itu tepukan bersahabat yang sangat sakit.” Ujar Sehun membuat Paman Park dan putrinya yang Sehun ketahui sebagai Park Jimi itu tertawa.

“Oh Sehun, kau tahu tidak kau sudah berapa lama tidak berkunjung ke Jeju? Dua belas tahun lebih! Tega sekali meninggalkan teman kecilmu ini begitu lama.” Jimi berujar sementara Sehun hanya terkekeh seraya menyerahkan sekantong plastik berisi jeruk padanya.

“Ah, perkenalkan saya Jang Surin.” Surin berbungkuk ketika Jimi menyenggol Sehun untuk mengenalkan Surin padanya dan Paman Park. “Aku baru lihat kalian satu kali dan langsung tahu bahwa kalian sangat cocok untuk satu sama lain.” Timpal Jimi sementara Sehun dan Surin hanya tertawa kecil, begitu pula dengan Paman Park.

“Paman tunggu undangan pernikahan kalian, ya. Ah, tahun depan rencananya Jimi juga akan menikah loh. Kalian benar-benar sudah besar sekarang.” Paman Park merangkul putri satu-satunya itu sementara yang dirangkul hanya menyikut pinggul ayahnya sambil tertawa kecil.

“Dengan Baekhyun? Ketua geng sepeda yang awur-awuran itu?! Kau masih dengannya sampai sekarang?!”

“Ya! Kalau bicara hati-hati ya! Baekhyun-ku itu tidak awur-awuran, dia sekarang sudah menjadi dokter, tahu!” Sehun langsung mengaduh karena Jimi tanpa pikir panjang menghadiahinya dengan jitakan pada kepalanya. “Astaga ternyata benar kau masih bersamanya sampai sekarang. Kalau begitu selamat untuk kalian berdua. Sampaikan salamku untuk Baekhyun ya. Aku pasti akan datang ke acara pernikahan kalian tahun depan.” Ujar Sehun membuat Jimi langsung tersenyum senang seraya mengangguk.

“Dengan perempuan cantik yang berada disebelahmu ini kan pastinya?”

Sehun berdeham kemudian mencuri pandang kearah Surin yang hanya tertawa kecil sambil memukul lengan Sehun dengan canggung, merasa salah tingkah. Mereka bahkan tidak punya rencana untuk bertemu lagi setelah mereka pulang ke Seoul.

“Aku tidak akan memperbolehkanmu masuk ke acara pernikahanku dengan Baekhyun kalau kau tidak bersama nona cantik ini, Oh Sehun.” Ancam Jimi kemudian Sehun hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

“Tentu saja aku akan datang bersamanya.”

Tiba-tiba Surin merasa segerombolan kupu-kupu terbang menggelitik perutnya sendiri karena mendengar ucapan Sehun. Laki-laki yang tengah tersenyum manis itu mungkin tidak memaknai kalimatnya barusan tapi Surin kali ini akan membiarkan dirinya senang dengan menganggap Sehun benar-benar akan membuat perkataannya itu menjadi nyata.

Sebenarnya apa yang sekarang ini Surin pikirkan, sih?

“Kalau begitu kami pamit dulu. Hari sudah sore. Sampai bertemu lain waktu, Paman Park dan putrinya yang akan menjadi istri preman Jeju!” Sehun tertawa ketika kini lagi-lagi Jimi sudah menjitak kepalanya.

Sehun menaiki motornya, diikuti dengan Surin yang duduk dikursi penumpang. “Awas saja kalau tahun depan kau tidak datang bersama Surin!” Ujar Jimi ketika Sehun sudah menjalankan motornya. Surin yang  mendengar hal itu hanya membungkuk sedikit dan melambaikan tangannya untuk mengucapkan salam perpisahan pada Paman Park dan Jimi.

“Aku rasa aku benar-benar akan habis oleh orang sedesa kalau mereka tahu aku benar-benar tidak akan berakhir denganmu.”

Surin tersentak. Ada sebagian dalam relung hatinya yang tidak rela mendengar ucapan Sehun barusan. Surin merasa lidahnya kelu, bahkan untuk tertawa guna menanggapi ucapan Sehun sehingga saat ini ia hanya terdiam, tertunduk sambil menatap flat shoes berwarna pastel yang ia gunakan dimasing-masing kakinya.

“Surin-a,” Panggil Sehun membuat Surin langsung menatap punggungnya.

Untuk yang pertama kalinya, Sehun menyebut namanya dengan panggilan seperti itu dan Surin yang tadinya merasa sedih langsung tidak bisa untuk tidak tersenyum. “Ya?” Jawabnya pendek.

“Kalau tahun depan aku ingin pergi bersamamu ke sini lagi untuk menghadiri acara pernikahan Jimi, juga kembali untuk membagikan jeruk pada orang-orang desa, kau keberatan tidak?”

Surin memegang dadanya sendiri, merasakan debaran jantungnya yang seketika berdetak begitu cepat.

Surin dapat melihat Sehun menoleh dari kaca spion untuk melihat ekspresinya. Ketika pandangan mereka saling bertemu dari kaca spion, Sehun langsung mengalihkan pandangannya seraya menahan senyumannya sendiri yang sayangnya tidak bisa disembunyikan.

“A-aku rasa aku tidak keberatan… sama sekali.”

Senyuman bahagia langsung mengembang diwajah keduanya, kala keheningan panjang selama perjalanan pulang menuju rumah Kakek dan Nenek Oh menyelimuti kedua orang yang entah mengapa merasa sangat bahagia itu.

 

**

 

“Ayah dan ibu harus pulang ke Seoul. Kami sudah disini selama dua hari dan kini giliranmu, Sehun-a. Temani kakek dan nenek sampai dua hari kedepan. Kebetulan kau dan Surin juga membawa persiapan baju, kan?” Tuan Oh berujar seraya memasukan tasnya dan tas Nyonya Oh ke bagasi mobil. Hari sudah malam membuat Sehun khawatir akan kedua orangtuanya yang memutuskan untuk kembali ke Seoul hari itu juga.

“Besok pagi saja memang tidak bisa?” Ujar Sehun lalu Tuan Oh mengacak rambutnya. “Bu, anak sematawayang kita ini menggemaskan sekali, ya.” Sambungnya membuat Nyonya Oh langsung menghampiri Sehun dan mengelus punggung laki-laki itu berkali-kali. Surin yang kini berdiri disebelah Sehun hanya tersenyum lembut menyaksikan keluarga kecil yang manis itu.

“Kalau kami menetap disini malam ini, kau dan Surin tidur dimana? Hanya ada satu kamar tamu. Ibu dan ayah tidak mungkin tidur bersama kalian berdua apalagi bersama kakek juga nenek, kan?” Ujar Nyonya Oh membuat Sehun langsung tersadar bahwa kamar tamu dirumah kakek dan neneknya itu hanya satu dan artinya Sehun harus tidur bersama Surin untuk malam ini, juga besok sebelum hari ketiga mereka akan kembali ke Seoul dipagi hari.

Surin sudah terbatuk, membuat Sehun langsung gugup dengan seketika. “Nikmati saja waktu kalian berdua. Tapi jangan yang macam-macam dulu ya. Kita perlu menyusun tanggal dulu.” Ujar Tuan Oh membuat Sehun dan Surin langsung terbatuk bersamaan. Baik Sehun dan Surin sama-sama tahu bahwa maksud Tuan Oh tadi adalah mengenai tanggal pernikahan.

“Ah, padahal aku masih ingin bersama Surin lebih lama. Surin-a, kita bertemu di Seoul nanti, ya.” Nyonya Oh kini menghampiri Surin, menggenggam satu tangannya seraya menyelipkan rambut Surin kebelakang daun telinganya dengan sayang. “Tentu saja, eommonim.” Ujar Surin lalu Nyonya Oh memeluknya singkat, merasa sangat senang dengan panggilan Surin untuknya.

“Kalau begitu kami pergi dulu. Tadi saat makan malam kami sudah berpamitan dengan kakek dan nenek. Mereka berdua sudah tidur jadi tidak usah dibangunkan lagi. Kalian juga langsung beristirahat saja ya.” Pinta Nyonya Oh lalu segera masuk kedalam mobil setelah sebelumnya sekali lagi memeluk Surin juga Sehun. Tuan Oh mengikuti, dan tidak lama kemudian mobil tersebut pergi meninggalkan halaman rumah, menyisahkan Sehun dan Surin yang hanya berdiri mematung.

“Aku bisa tidur diruang tamu kalau kau tidak mau tidur satu kamar.” Ujar Sehun yang kini tengah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Ide bagus.” Ujar Surin yang kini tengah dilanda rasa gugup tidak berujung. Siapa juga yang tidak gugup dengan kenyataan bahwa kau harus tidur sekamar dengan laki-laki tampan seperti Sehun? Tidak, tidak, maksud Surin tadi adalah, siapa juga yang tidak gugup dengan kenyataan bahwa kau harus tidur sekamar dengan laki-laki yang baru dikenal olehmu beberapa hari lalu?

“Tapi kursi ruang tamu kan dari kayu jati dengan bantalan keras dan bukannya sofa. Ditambah lagi, bagaimana kalau kakek dan nenekku besok bertanya-tanya mengapa kita tidak satu kamar saja? Bisa saja besok mereka mengira kita bertengkar atau semacamnya.” Sehun kembali berujar. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia berkata demikian, padahal awalnya ia yang mencetuskan ide untuk tidur diruang tamu. Sehun hanya merasa.. tidak rela? Sehun benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ada diotaknya sekarang ini.

“Y-ya sudah, terserah kau saja. Aku tidak masalah.” Surin berujar, masih dengan rasa gugupnya yang sulit untuk diusir.

Sehun pun langsung berjalan masuk ke dalam rumah sementara Surin mengikuti. Setibanya mereka dikamar tamu, Sehun menepuk dahinya sendiri. “Aku benar-benar lupa kalau kamar tamu ini kasurnya adalah kasur lipat.” Sehun mengambil gulungan kasur lipat didekat lemari pakaian.

“Dan sialnya hanya satu kasur lipat. Meskipun memang untuk dua orang, tapi tetap saja—” Sehun menggantungkan ucapannya ketika mendapati kasur lipat untuk dua orang itu tidak terlalu besar. Memang akan muat untuknya dan Surin karena pada dasarnya kasur lipat itu memang untuk dua orang, tapi Sehun yakin jarak mereka tidak akan jauh antara satu sama lain.

Surin tidak merespon apa-apa dan langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur tersebut membuat Sehun melakukan hal yang sama. Mereka berdua tampak serasi karena piyama seragam yang diberikan Nenek Oh ketika mereka makan malam tadi.

Sesekali Surin melirik Sehun yang juga sedang melakukan hal serupa. Jarak mereka begitu dekat, bahkan bantal kepala yang mereka gunakan saja saling bersentuhan, tanpa jarak sedikitpun. Sehun menarik selimut yang berada dibawah kakinya, lalu menyelimuti Surin tanpa berkata-kata sementara gadis itu mati-matian menahan pekikannya.

“Selamat tidur.” Ujar Sehun lalu memunggungi Surin. Sehun hanya tidak mau gadis itu melihat telinganya yang sudah memerah saat ini.

“Selamat tidur juga, Oh Sehun.” Surin membalas dengan suara kecil. Sehun bahkan dapat merasakan suara gadis itu yang serasa menembus punggungnya begitu saja. Sehun yakin seratus persen ia tidak akan bisa tidur malam itu.

Dan benar saja, Sehun tetap terjaga, begitu pula dengan Surin.

Diam-diam, mereka sibuk menyuruh jantung mereka masing-masing untuk tidak berisik agar tidak terdengar satu sama lain.

Malam itu adalah malam panjang penuh kegugupan yang pernah Sehun maupun Surin rasakan seumur hidup mereka.

 

**

 

Sehun membuka matanya dengan perlahan ketika alarm ponsel yang ia letakan dibawah bantalnya berbunyi. Sehun buru-buru mematikan alarm tersebut, takut-takut gadis yang tidur disebelahnya sekarang ini terbangun. Bukan, bukan disebelahnya. Mereka tidur berhadapan dan entah bagaimana caranya sebelah lengan Sehun bisa berada dibawah kepala gadis itu untuk menggantikan bantalnya yang sudah terpental jauh dari kasur mereka.

Sinar matahari yang masuk melalui celah-celah gorden jatuh tepat diwajah gadis itu, membuat Sehun langsung menutupi sinar tersebut dengan satu tangannya. Sehun tersenyum karena kedua alis Surin yang tadi bertaut karena sinar tersebut kini tampak kembali seperti semula.

Sehun memang seharusnya membangunkan Surin mengingat mereka harus bersiap diri sebelum neneknya memanggil untuk makan pagi di pondok, tapi entah mengapa Sehun ingin mengulur waktu.

Sehun berpikir mungkin alasannya adalah karena wajah Surin yang tampak begitu tenang kala gadis itu tertidur, membuat Sehun tidak tega untuk membangunkannya. Sehun menyukai bulu matanya yang panjang dan banyak, juga rona berwarna merah muda alami dikedua belah pipinya, tidak lupa juga bibirnya yang seperti warna buah cherry. Sehun langsung merasa berdosa karena berpikir demikian kala matanya terus mempelajari wajah Surin. Untung saja Surin tidak dapat mendengar pikirannya. Bisa-bisa Sehun disiram karena dikira laki-laki penuh pikiran yang tidak-tidak.

Harus Sehun akui, gadis yang berada dihadapannya saat ini begitu cantik. Sehun tidak menyangka karena dari sekian lamanya, Sehun kembali merasakan rasa yang persis seperti sengatan listrik itu. Anehnya, sengatan listrik itu begitu memabukkan, membuat Sehun ingin merasakannya berulang-ulang.

Tiba-tiba Surin membuka matanya dengan perlahan, dan Sehun langsung dapat menatap kedua manik mata berwarna hitam pekat yang jernih milik Surin. Gadis itu tampak membelak terkejut namun Sehun hanya tersenyum kecil.

“Selamat pagi.” Ujar Sehun pada gadis yang sudah salah tingkah itu.

“Se-selamat pagi. Maaf karena telah tanpa sengaja meminjam lenganmu ini untuk menjadi bantalku semalaman. Pasti sakit, kan?” Sehun tertawa mendengar ucapan Surin barusan. “Sedikit.” Jawab Sehun membuat Surin kini turut tertawa. Tawa Surin terdengar aneh karena bercampur dengan rasa gugup yang menyelimutinya. Bagaimana tidak gugup, bangun-bangun sudah berhadapan dengan wajah tampan seorang Sehun? Ditambah lagi dengan ucapan selamat pagi bernada seraknya? Surin rasa paginya benar-benar lengkap dengan seketika.

Surin langsung bangkit dari tidurnya untuk duduk, sementara Sehun masih dalam posisi tidurnya, hanya memperhatikan gadis itu dalam diam. “Kita harus bersiap-siap. Nenekmu pasti akan segera memanggil kita untuk sarapan.” Surin menguncir satu rambut panjangnya dengan karet rambut berwarna hitam yang ada dipergelangan tangan kanannya sementara Sehun hanya terus memperhatikan gadis itu dari posisinya sekarang ini.

Sehun ragu kalau diluar sana ada pemandangan indah seindah Surin yang baru bangun langsung menguncir rambutnya seperti itu. Baiklah, sekali lagi, untung Surin tidak bisa mendengar ucapan-ucapan melantur yang terus berlarian di otak Sehun ketika laki-laki itu melihat Surin.

“Aku mandi duluan, ya.” Surin langsung berjalan menuju koper kecilnya untuk mengambil baju, lalu langsung masuk ke kamar mandi yang terletak diujung kamar.

Baru saat Surin hilang dari pandangan Sehun, Sehun dapat bernapas dengan lega. Sehun hanya masih tidak percaya dengan fakta bahwa gadis itu bisa membuat hatinya terasa teraduk-aduk hanya dengan melihat sosoknya.

 

**

 

“Sehun-a, hati-hati dengan cangkulnya ya!” Kakek Oh berujar pada Sehun yang kini tengah membawa sebuah cangkul dan berjalan berdampingan dengan Surin menuju gerbang rumah tersebut. Setelah sarapan bersama Kakek dan Nenek Oh, Sehun disuruh membantu Paman Yoo disawah yang letaknya tidak jauh dari rumah bersama dengan Surin.

Kakek Oh bilang kalau pengalaman menanam padi tidak akan dapat dirasakan Sehun dan Surin ketika mereka pulang ke Seoul nanti. Jadi mumpung mereka sedang di Jeju, alangkah baiknya mereka mencoba menanam padi disawah yang juga adalah sawah Kakek Oh.

Sehun dan Surin hanya menurut, sehingga saat ini kedua orang yang sudah siap dengan sepatu bot berbahan karet itu berjalan berdampingan menuju sawah. “Memetik jeruk, dan sekarang menanam padi. Aku benar-benar baru pertama kali melakukan semua ini.” Ujar Surin dengan nada suara yang begitu antusias. Seumur hidupnya Surin hanya tinggal di Seoul dan belum pernah pergi keluar kota. Oh, mungkin pernah satu kali ke Busan, tapi itu juga waktu Surin masih sangat kecil.

“Benar-benar gadis kota. Ini kegiatanku sewaktu kecil dulu. Aku tinggal bersama kakek dan nenekku disini saat taman kanak-kanak sampai kelas tiga sekolah dasar karena saat itu orangtuaku benar-benar sibuk. Saat mereka mulai bisa menyesuaikan jadwal pekerjaan mereka, aku pindah ke Seoul dan semenjak itu aku tidak pernah kembali lagi ke Jeju. Kakek dan nenekku-lah yang sesekali mengunjungiku di Seoul.” Ujar Sehun membuat Surin menoleh kearahnya.

“Kenapa begitu?”

“Karena syarat mengunjungi rumah kakek dan nenek disini adalah membawa seorang kekasih.” Surin langsung tertawa terbahak, sampai-sampai gadis itu kini memukuli lengan Sehun berkali-kali. “Aku serius. Makanya aku bilang padamu bahwa kau benar-benar adalah yang pertama.” Ujar Sehun sambil tertawa kecil disela-sela ucapannya sementara Surin kini sudah tertawa lagi.

Sekitar lima menit berjalan dari rumah sambil berbincang-bincang seru, Sehun dan Surin sampai pada sawah yang adalah tempat tujuan mereka. Paman Yoo sudah melambai dari pondok yang berada didekat sawah tersebut. “Oh Sehun! Kemarilah, kakekmu memberitahuku untuk menyiapkan bibit padi ini.” Serunya dan Sehun langsung menghampiri Paman Yoo.

Sehun yang merasa harus membantu Surin berjalan di pematang sawah tersebut pun langsung memegang tangan gadis itu dan menyuruhnya untuk berhati-hati, membuat Paman Yoo dari jauh sana sudah bersorak meledek.

“Paman Yoo! Apa kabar?” Sehun langsung menjabat tangan Paman Yoo membuat laki-laki paruh baya itu menepuk punggung Sehun berkali-kali. “Tentu saja baik. Ini kekasihmu yang bernama Surin, kan?”

“Perkenalkan, nama saya Jang Surin.” Ujar Surin seraya membungkukan badannya membuat Paman Yoo tersenyum senang. “Satu desa sudah tahu bahwa nama nona cantik ini adalah Surin. Anda adalah gadis pertama yang Sehun bawa kemari.” Timpal Paman Yoo dan Surin hanya bisa tersenyum mendengar hal tersebut.

Surin senang, ia harus mengakui bahwa saat ini hatinya merasa begitu senang. Senang karena menjadi yang pertama yang Sehun bawa ke Jeju, meskipun Surin tahu semua itu hanya pura-pura.

“Ah, ini bibit padinya. Kalian tanami sebagian lahan saja karena sisanya biar besok para pekerja yang lain yang akan melanjutkan.” Ujar Paman Yoo pada Sehun dan Surin. Sehun sudah mengambil alih karung berisi bibit padi itu.

“Sehun sudah bisa, kan? Dulu waktu kecil sering menanam padi bersama paman, masa sudah lupa begitu saja?” Sehun hanya tertawa mendengar ucapan Paman Yoo. “Sepertinya masih ingat sedikit-sedikit.” Timpal Sehun kemudian segera turun ke sawah. Paman Yoo mengoper karung berisi bibit padi itu pada Sehun yang langsung menerimanya.

Sehun kemudian mengulurkan tangannya pada Surin yang langsung Surin genggam erat-erat. Surin turun perlahan ke sawah tersebut dan ia tertawa pada Sehun ketika belum sampai satu menit Surin di sawah itu, Surin hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya karena lumpur yang merendam seperempat sepatu botnya.

“Nah kalau begitu, paman tinggal dulu, ya. Paman harus memantau pekerjaan pekerja lain di sawah sebelah.” Ujar Paman Yoo yang langsung Sehun dan Surin tanggapi dengan sopan membuat Paman Yoo tersenyum senang melihat kedua orang yang tampak serasi itu. Paman Yoo lalu meninggalkan pondok tersebut, juga Sehun dan Surin yang kini sudah berada di dalam sawah.

Sehun dan Surin mulai menanami lahan yang kosong dengan bibit padi baru. Awalnya Sehun mengajari Surin, namun lama-kelamaan Surin malah tampak lebih ahli dari pada Sehun. Mereka melakukannya dengan hati-hati, berharap agar bibit padi yang ditanam nantinya dapat tumbuh dengan baik. “Ini benar-benar menyenangkan. Aku bisa membayangkan betapa serunya masa kecilmu dulu saat tinggal disini.” Ujar Surin ketika ia dan Sehun sudah sampai pada pertengahan sawah. Sehun hanya tertawa, menanggapi.

“Ya, setidaknya kenangan disini tidak buruk seperti masa SMA-ku di Seoul.” Tambah Sehun.

“Kau harus benar-benar bersyukur karena paling tidak kau memiliki masa-masa indah yang dapat kau kenang ketika kau menghadapi masa sulit. Bahkan bukan hanya kenangan. Sampai detik ini kau memiliki kakek-nenek yang begitu menyayangimu, juga ayah-ibu yang sangat luar biasa peduli padamu.” Sehun terdiam ketika menyadari kemana arah pembicaraan ini akan berlangsung. Ya, Surin dan cerita keluarganya.

“Berbanding terbalik denganku. Ayah dan ibuku berpisah saat aku umur lima tahun. Tidak ada yang spesial dimasa kecilku dulu. Hanya pertengkaran ayah dan ibu yang aku ingat. Aku tinggal bersama adik ibuku ketika ayahku pergi ke Amerika dan ibuku memiliki keluarga baru. Untungnya bibi-ku itu sangat baik, sehingga setidaknya hidupku tidak seperti cerita tragis Cinderella yang disiksa ibu tiri.” Ujar Surin seraya tertawa kecil sementara Sehun hanya mendengarkan.

“Maka itu ketika aku bertemu dengan keluargamu yang hangat, aku merasa bersyukur dan senang. Untuk sekian lama, akhirnya aku dapat merasakan bagaimana rasanya makan bersama keluarga, berbincang-bincang seru, bahkan ibumu mengikat rambutku yang adalah hal paling berkesan untukku. Sebenarnya aku sangat ingin ibuku juga mengikat rambutku seperti yang dilakukan ibumu. Aku juga ingin ayahku mengacak rambutku seperti ayahmu mengacak rambutmu. Hanya hal sederhana seperti itu, dan aku yakin aku akan merasa sudah cukup bahagia.” Surin berujar pilu.

Surin tidak bermaksud untuk meminta dikasihani oleh Sehun. Surin tidak ada maksud seperti itu sama sekali karena pada dasarnya Surin hanya perlu seseorang yang bersedia mendengarkan apa yang selama ini mengganjal dihatinya. Surin sudah terlalu lama memendam semuanya sendiri, membuat hatinya terasa perih akan luka yang ditimbunnya itu.

“Tapi aku senang. Aku senang karena ayah dan ibu menemukan jalan mereka sendiri-sendiri.” Ujar Surin kemudian Sehun terkekeh.

“Tidak usah bohong. Matamu saja sekarang sudah berair. Kau tahu? Terkadang merasa kesal dan marah itu lebih baik daripada harus berpura-pura pada dirimu sendiri. Kalau kau tidak suka, katakan saja bahwa kau tidak suka. Kalau kau benci, katakan saja bahwa kau benci. Hidup terlalu singkat untuk memendam semuanya sendiri dan merasa tersiksa sendiri. Kau hanya perlu melakukannya seperti ini,” Sehun mengambil napasnya dalam-dalam.

“AKU KESAAAAL!! AKU MARAAAAH!!”

Surin langsung tertawa terbahak-bahak sementara Sehun terus berteriak membuat tawa Surin serasa tidak akan berhenti. “Oh Sehun, hentikan!” Ujar Surin disela-sela tawanya yang berhasil membuat airmatanya keluar sedikit dari ekor matanya.

“Cepat tirukan apa yang baru aku lakukan. Aku yakin semua perasaan yang mengganjal dihatimu akan lenyap begitu saja.” Pinta Sehun membuat Surin kini mengambil napas dengan perlahan.

“AKU KESAAAALLL!! AKU MARAAAAAHH!! AKU BENCIIIII!!”

Surin dan Sehun langsung tertawa terbahak bersama-sama. Surin benar-benar merasa lega dengan seketika. Surin merasa apa yang selama ini membuat hatinya tidak bahagia terbuang begitu saja. Surin tahu bahwa saat ini ia memang sedang tertawa sambil menangis, tapi jauh dalam lubuk hatinya ia sudah berjanji bahwa tangisan itu akan ditujukan sebagai tangisan terakhirnya untuk kehidupan masa kecilnya yang pahit.

Surin akan mengubur semuanya dalam-dalam dan tidak akan membukanya kembali.

Seperti yang dikatakan Sehun, hidupnya terlalu singkat untuk merasa tersiksa sendiri.

Tiba-tiba Sehun yang sedang asik tertawa kehilangan keseimbangan tubuhnya dan dengan spontan menarik tangan Surin yang tidak siap sama sekali, sehingga kini Surin jatuh tepat diatas tubuh Sehun yang sudah terendam lumpur.

Untung saja siku tangan Sehun kuat menahan bobot tubuhnya sendiri, juga tubuh Surin yang berada diatasnya sehingga lumpur tersebut hanya membasahi tubuhnya tapi tidak dengan bagian bahu sampai kepalanya.

Sehun tersenyum pada Surin yang kini juga tengah tersenyum padanya. Sehun tahu semua ini dapat kalian katakan terlalu cepat, tapi Sehun ingin meyakinkan sesuatu dalam hatinya.

Sehun ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia jatuh hati pada seorang Surin.

“Terima kasih, Sehun-a.” Surin berujar ditengah tatapan mata mereka yang dalam antara satu sama lain.

“Apapun untuk si gadis kota.” Sehun mencoret pipi Surin dengan lumpur membuat gadis itu langsung berseru tidak terima. Sehun hanya tertawa terbahak ketika kini Surin membalas mencoret pipinya dengan lumpur.

Perang lumpur penuh tawa itu benar-benar membuat keduanya lupa akan cerita pahit hidup mereka masing-masing.

 

**

 

“Aku tidak apa-apa, nek. Aku hanya terlalu lelah karena dua hari ini melakukan kegiatan diluar dari pagi sampai sore.” Sehun berujar sementara Nenek Oh yang kini memandangi cucunya itu dari balik pintu kamar hanya mengeluarkan raut khawatir. Setelah main lumpur seharian, Sehun baru merasakan tubuhnya pegal-pegal ketika ia tidur dengan posisi bertelungkup diatas kasur lipat kamar tamu itu.

“Kakek-mu sih, ada-ada saja. Pakai acara menyuruhmu dan Surin untuk menanam padi segala. Surin-a, apa tubuhmu baik-baik saja? Apa ada yang terasa sakit?” Nenek Oh juga berujar khawatir pada Surin. “Saya tidak apa-apa, nek. Sehun yang sepertinya benar-benar kesakitan.” Ujar Surin lalu Nenek Oh langsung memberikannya krim pijat miliknya yang dapat menghilangkan rasa pegal ditubuh.

“Kalian berdua pakailah krim itu dan segera beristirahat. Besok kalian akan pulang ke Seoul jam sembilan pagi jadi jangan sampai kalian malah tidak sehat.” Pinta Nenek Oh yang hanya dibalas ucapan terima kasih dari Sehun dan Surin. Nenek Oh menutup pintu kamar lalu pergi menuju kamarnya dan Kakek Oh untuk pula beristirahat. “Jangan lupa dipakai!” Seru Nenek Oh dari depan membuat Sehun dan Surin dengan kompak menjawabnya dengan seruan ‘iya’ yang keras.

Surin langsung memakai krim itu dimasing-masing bahunya sendiri seraya memijatnya pelan. Seketika Surin merasa iba pada Sehun yang kini tampak begitu tidak berdaya dengan posisi tidurnya yang bertelungkup.

“Buka atasanmu. Biar aku bantu untuk memakai krim ini.” Sehun langsung menoleh dengan cepat dan melirik Surin dengan ujung matanya. Sehun tahu maksud Surin memang baik tapi Sehun adalah laki-laki dan Surin adalah perempuan jadi…

“Cepat.” Pinta Surin membuat Sehun langsung berhenti berpikir yang tidak-tidak. Tidak lama kemudian Sehun melepas kaos putih tipis yang tengah dikenakannya dengan susah payah. Badannya benar-benar sakit membuat Sehun harus ekstra hati-hati karena bergerak sedikit saja Sehun rasa uratnya akan kram. Baiklah, mungkin itu sedikit agak mendramatisir tapi intinya Sehun benar-benar merasakan rasa sakit dan pegal yang bersamaan pada punggungnya sekarang.

Surin berdeham, berusaha menutupi suara detak jantungnya yang begitu keras ketika kedua matanya kini dapat melihat punggung Sehun yang sempurna dengan begitu jelas, tidak seperti hari-hari sebelumnya dimana Surin hanya mengagumi punggung lebar itu dari kain baju Sehun.

Tubuh bagian atas Sehun yang memang panjang terlihat sangat atletis dan Surin harus mengakui itu. Baiklah, Surin tidak ingin merincikan apa yang disaksikannya saat ini karena ia tidak ingin niat baiknya membantu Sehun untuk sembuh dari pegal-pegalnya malah berganti menjadi dosa.

Surin mulai meletakan krim tersebut ditangannya sendiri dan mengolesinya pada punggung Sehun. Awalnya hanya keheningan yang meliputi mereka terutama ketika tangan Surin menyentuh permukaan punggung Sehun dengan lembut untuk mengolesinya dengan krim itu, namun lama-kelamaan keheningan itu berubah menjadi suara teriakan Sehun meminta ampun karena pijatan keras Surin pada punggungnya.

“SURIN-AAAAA! ITU PANAS SEKALI AAAA! JANGAN KERAS-KERAS AAAA!!”

Teriak Sehun membuat Surin hanya tertawa terbahak sambil terus memijat punggung Sehun dengan sekuat tenaga. “Tenang saja, justru kalau seperti ini besok pagi pasti akan lebih baik.” Ujar Surin namun Sehun kembali berteriak.

“AMPUN!!”

Surin benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa. “Oh Sehun, kau ini berlebihan sekali! Jangan berisik, nanti kakek dan nenekmu terbangun!” Ujar Surin membuat Sehun mendengus.

“Bagaimana berlebihan?! Itu benar-benar sakit—AAAA!”

Dan menit-menit berikutnya Sehun masih teriak karena Surin terus memijat punggungnya yang menurut Sehun menggunakan tenaga dalam sedalam-dalamnya. Sehun benar-benar jera dipijat oleh Surin. Sehun pikir awalnya hal ini akan seperti adegan romantis yang tidak boleh disaksikan anak dibawah umur delapan belas tahun, tapi tahu-tahunya Sehun malah seakan tengah berada disebuah adegan dalam film-film horror.

 

**

 

“Kalian berdua hati-hati, ya. Sering-seringlah main kemari.” Kakek Oh berujar pada Sehun yang kini tengah memasukan tas ranselnya dan koper kecil milik Surin kedalam mobil yang akan mengantar mereka ke bandara. Pagi itu setelah sarapan, Sehun dan Surin berpamit diri untuk pulang ke Seoul. Surin benar-benar merasa tidak rela untuk pergi dan entah mengapa Sehun juga merasakan hal yang sama padahal sebelumnya ia tidak pernah seperti itu ketika kumpul dengan keluarganya.

“Tentu saja mereka akan sering-sering main kemari. Sebentar lagi paling-paling orangtua Sehun akan memaksa Sehun untuk segera ke pelaminan bersama Surin.” Nenek Oh berujar seraya tertawa kecil. Kakek Oh hanya merangkul istrinya itu dengan sayang. Kakek dan Nenek Oh tampak sangat harmonis, membuat Surin berharap ia akan seperti itu sampai tua bersama suaminya kelak. Surin benci karena sekarang ia menambah harapannya itu dengan embel-embel Sehun sebagai suaminya.

“Ah ya, tubuhmu sekarang sudah tidak apa-apa, kan?” Nenek Oh menepuk punggung Sehun sementara laki-laki itu langsung memukul-mukul bahunya sendiri, menunjukan bahwa ia sudah tidak apa-apa sampai-sampai Kakek dan Nenek Oh, juga Surin tertawa dibuatnya.

“Semua karena pijatan maut dari Surin kemarin malam.” Ujar Sehun dan lagi-lagi tawa kembali meliputi mereka. “Kalau begitu, aku dan Surin benar-benar pamit dulu, ya. Kakek dan nenek jaga diri baik-baik.” Ujar Sehun lalu memeluk kakek dan neneknya satu persatu.

“Terima kasih banyak kepada kakek dan nenek. Saya benar-benar menikmati tiga hari dua malam saya disini. Semoga kakek dan nenek sehat selalu.” Kini giliran Surin yang memeluk Kakek dan Nenek Oh. Surin tidak mengerti kenapa sekarang ini satu bulir air matanya jatuh begitu saja, membuat Nenek Oh langsung memeluk Surin kembali.

“Surin-a, terima kasih karena sudah begitu tulus pada kami, juga pada Sehun. Ketahuilah bahwa kami menyayangimu seperti kami menyayangi Sehun. Jangan menangis, kita kan hanya akan berpisah sebentar. Kapan saja kau ingin kesini bersama Sehun, rumah akan selalu terbuka.” Ujar Nenek Oh pada Surin yang hanya mengangguk dalam pelukannya.

Pada kenyataannya, Surin tidak tahu apa ia bisa kembali ke rumah itu atau tidak.

“Surin-a, ayo cepat. Kita tidak boleh sampai terlambat.” Sehun berujar dan keduanya kembali berpamit diri pada Kakek dan Nenek Oh. Mereka memasuki mobil dan dengan perlahan mobil tersebut meninggalkan halaman rumah, berjalan cepat menuju bandara.

Surin tidak menyangka tiga hari terasa begitu cepat. Surin ingin tetap berada di tiga hari itu jika ia bisa. Surin tidak ingin kembali ke kehidupannya semula dimana tidak ada Sehun dan Keluarga Oh didalamnya.

Di lain sisi, seseorang juga tengah larut dalam pikirannya sendiri. Ya, Sehun juga tidak rela tiga harinya dengan Surin berakhir begitu saja. Tiga hari mungkin adalah waktu yang sebentar, tapi semua yang telah mereka lewati selama tiga hari itu tidak mudah untuk Sehun lupakan dengan begitu saja.

Sehun merasa Surin sudah mengetahui tentangnya begitu banyak. Sehun juga merasa bahwa Surin berbeda dari perempuan-perempuan diluar sana.

Bagi Sehun, Surin begitu spesial.

Sehun tidak tahu saja bahwa Surin juga menganggap Sehun dengan begitu spesial.

 

**

 

Selama dipesawat, tidak ada yang memulai pembicaraan. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Kenyataan bahwa mereka hanya berpura-pura seolah menampar keduanya yang terlihat baik-baik saja dari luar.

Setibanya di bandara Incheon, keheningan masih meliputi mereka berdua sampai akhirnya Sehun berdiri dihadapan Surin yang akan memasuki taksinya untuk pulang kerumahnya sendiri. “Aku sudah mengirim jumlah uang yang kau butuhkan untuk penerbitan bukumu. Aku berharap semua berjalan baik, ya.” Sehun adalah yang pertama memecah keheningan diantara mereka.

“Terima kasih banyak. Aku juga berharap semua akan berjalan baik untukmu.” Surin menjawab, merasa hatinya sedih dengan seketika karena sebentar lagi ia benar-benar akan berpisah dengan Sehun. “Ah, dan aku ingin meminta maaf karena telah menumpahimu dengan cola dan cream soup beberapa waktu lalu.” Tambah Surin lalu Sehun hanya menganggukan kepalanya seraya menatap Surin yang ada dihadapannya, lama. Surin yakin sekali ia akan merindukan manik mata berwarna cokelat milik laki-laki itu.

“Aku juga turut meminta maaf karena telah kasar sampai-sampai membuatmu kehilangan pekerjaanmu.” Sehun berujar dan kini gantian Surin yang mengangguk.

“Kalau begitu ini adalah akhir dari pertemuan kita?” Surin berusaha tersenyum kala mengucapkan hal tersebut meskipun mata sedihnya tidak bisa berbohong.

Sehun yang kini tengah memasukan masing-masing tangannya kedalam saku celana bahannya hanya tersenyum lemah mendengar ucapan Surin barusan. Sehun tidak ingin menjawab pertanyaan itu jadi sekarang ini ia mencoba mengumpulkan serangkai kata untuk Surin, berharap gadis itu akan menangkap arti dibalik kata-katanya.

“Jang Surin, ketahuilah bahwa aku benar-benar tidak menyesali keputusanku untuk membawamu ke Jeju sebagai gadis pertama yang aku kenalkan keseluruh anggota keluargaku.”

Namun sayangnya Surin tidak menangkap arti spesial dibalik ucapan Sehun, sehingga kini ia hanya menganggukan kepalanya. “Aku juga benar-benar tidak menyesali keputusanku untuk pergi bersamamu ke Jeju dan bertemu seluruh anggota keluargamu meskipun semua itu hanya untuk pura-pura.” Sehun merasa lidahnya benar-benar kelu ketika mendengar ucapan Surin barusan.

“Kalau begitu, aku pergi. Jaga dirimu baik-baik, Oh Sehun. Terima kasih sekali lagi untuk semuanya.” Surin masuk kedalam taksi tersebut dan tidak lama kemudian taksi itu berjalan menjauh.

Sehun tidak tahu rasanya akan seperih yang ia rasakan sekarang ini.

Sementara disisi lain, Surin sudah menangis sejadi-jadinya didalam taksi.

Pada akhirnya Sehun dan Surin harus ditampar sekali lagi dengan fakta bahwa pertemuan mereka memang dirancang singkat tanpa ada penambahan waktu.

 

**

 

“Mengapa semua ini terus terjadi padaku?”

Surin mengerang sambil menangis. Ia bersyukur karena setidaknya bar tempatnya sekarang ini berada sangat ramai sehingga tangisan dan suaranya teredam oleh musik keras yang tengah dimainkan oleh seorang DJ. Surin menjatuhkan dahinya pada meja bar untuk menutupi wajahnya yang sudah kacau, sementara ia sendiri masih terduduk disebuah kursi tinggi.

Surin tidak mabuk. Ia bahkan tidak meminum sama sekali cairan ber-alcohol yang disajikan oleh barista yang tengah sibuk mengurus pesanan-pesanan orang lain itu. Surin hanya tidak tahu kemana lagi ia harus pergi sehingga kini ia berada disebuah bar yang tidak jauh dari kantor penerbit buku tempatnya bekerja.

Surin marah. Ia benar-benar marah dan hatinya terasa dihancurkan begitu saja.

Beberapa jam yang lalu Surin baru saja dari kantornya dan mendapatkan kabar bahwa perusahaan itu akan meluncurkan sebuah buku baru. Awalnya Surin sudah sangat senang karena ia yakin sekali buku yang dimaksud adalah buku karangannya.

Jongin yang sepertinya merasa tidak tega akhirnya membawa Surin ke sebuah café depan kantor untuk memberitahukannya bahwa buku yang akan terbit adalah buku dari Penulis Bae, salah satu penulis favorit sang direktur utama perusahaan. Surin tidak bisa untuk tidak terkejut karena jelas-jelas Surin telah dijanjikan oleh perusahaan bahwa bukunya lah yang akan terbit setelah ia berhasil mendapatkan sponsor.

Jongin berkata bahwa uang dari pihak sponsor Surin dialihkan untuk buku Penulis Bae. Surin tidak menyangka akan hal tersebut. Surin sudah berusaha sekeras yang ia bisa. Selama bertahun-tahun kerja dibagian yang bahkan tidak dianggap oleh perusahaan itu, Surin kira setidaknya ia bisa mendapatkan sedikit penghargaan. Bukannya mendapatkan penghargaan, Surin malah semakin diinjak-injak. Yang tidak ia terima, sponsornya dialihkan kepada Penulis Bae, padahal itu adalah haknya. Surin bahkan pernah dua kali menjadi penulis bayangan untuk buku Penulis Bae yang bahkan tidak pernah mengucapkan terima kasih padanya apabila mereka bertemu dikantor.

Surin merasa dikhianati, sekaligus dicurangi. Seolah dunia tidak mengasihaninya yang benar-benar tersiksa karena harus hidup dibalik bayang-bayang nama orang lain, Surin tidak sama sekali diberi kesempatan untuk tampil dengan namanya sendiri. Surin benci dengan keadaannya sekarang ini. Ia benar-benar benci.

Surin langsung menulis surat pengunduran diri dan menyuruh Jongin untuk menyerahkannya pada kantor. Jongin bahkan tidak menahannya seperti yang selama ini dilakukan oleh laki-laki itu. Jongin membiarkan Surin keluar dari perusahaan itu dengan berkata bahwa selama bertahun-tahun, gadis itu sudah cukup menderita. Jongin juga berkata pada Surin bahwa ia tidak akan menuruti perintah atasannya untuk membawa dan membujuk Surin agar mau kembali bekerja ditempat tersebut seperti yang selama ini kerap dilakukannya.

“Tunjukkan pada mereka bahwa mereka tidak akan bisa menjadi apa-apa tanpamu disana.”

Hanya itu kalimat Jongin yang terakhir pada Surin sebelum akhirnya laki-laki itu meminta maaf karena tidak dapat membantu memberikan Surin keadilannya. Jongin berpamit diri dan pergi begitu saja sambil membawa surat pengunduran diri Surin, meninggalkan gadis yang langsung menangis ditempat itu sendiri.

Surin menangis sejadi-jadinya, memeluk lengannya sendiri untuk menutupi wajahnya yang sudah kacau. Maskaranya luntur, rambutnya panjangnya terlihat tidak beraturan, dan matanya terus saja mengeluarkan kesedihannya tanpa ingin berhenti.

Surin merasa sangat kacau bahkan merasa tidak ada hal yang tidak kacau dalam hidupnya. Surin lelah dengan kekacauan itu. Ia ingin menguburnya jauh-jauh namun ia tidak mengerti bagaimana caranya sehingga kini ia terus menangis kencang sampai-sampai ia tidak sadar bahwa ia sudah seperti itu selama dua jam lamanya.

“Nona, anda sepertinya perlu taksi untuk pulang. Mau saya pesankan?” Suara seorang barista menyapa telinganya namun Surin tidak menghiraukan. Ia tetap menyembunyikan wajahnya dibalik kedua lengannya yang berada diatas meja bar tersebut.

Barista itu berpikir bahwa mungkin Surin sudah benar-benar dalam keadaan mabuk berat sehingga mustahil baginya untuk memesankan taksi sementara ia tidak mengetahui alamat Surin sama sekali. Sang barista yang khawatir karena Surin sudah menangis selama dua jam akhirnya meraih ponsel Surin yang terletak begitu saja dimeja bar tersebut. Barista itu menekan tombol ‘1’ dalam menu panggilan, berharap gadis itu menyimpan nomor yang dijadikan sebagai nomor darurat.

Dan nama ‘Sehun ♡’ langsung terpampang dilayar sentuh ponsel tersebut.

Barista itu sangat terkejut karena baru dua detik nomor tersebut dihubungi, sang empunya nomor langsung menjawab dengan suara yang berhasil membuat sang barista kembali pada keterkejutannya.

“Surin?!”

Barista itupun langsung memberitahu Sehun mengenai apa yang terjadi pada Surin dan meminta Sehun untuk menjemput gadis itu karena menurut sang barista Surin sudah benar-benar mabuk berat. Sang barista memberikan nama dan alamat bar, dan detik berikutnya Sehun mengucapkan terima kasih dengan cepat seraya memutus sambungan telepon itu begitu saja.

“Nona, tunggu sebentar lagi, ya. Saya sudah menghubungi kekasih anda dan sebentar lagi ia pasti akan datang.” Ujar barista itu lalu meletakan kembali ponsel Surin ditempat semula dan kembali pada pekerjaannya. Surin yang tidak mendengar hanya masih terus menangis, mengeluarkan semua perasaan sedih juga lelahnya yang serasa menggeragoti tubuhnya.

Semenjak perpisahannya dengan Sehun dua minggu yang lalu, Surin benar-benar kembali pada dunianya. Dunianya yang penuh rasa pahit.

Surin merindukan laki-laki itu walaupun dalam hatinya sekarang ia sudah mengutuki Sehun yang sama sekali tidak menghubunginya kembali sejak perpisahan mereka di bandara dua minggu yang lalu, membuat Surin berpikir bahwa mungkin saja Surin tidak akan pernah bertemu dengannya lagi sampai kapanpun.

Surin kembali menangis keras. Ia tahu tangisannya kali ini untuk dua hal. Hidupnya yang pahit, juga rasa rindu tidak berujungnya pada Sehun.

Kurang dari dua puluh menit kemudian, Sehun sudah sampai di bar. Sehun yang sebelumnya sempat kesulitan untuk mencari Surin di bar yang ramai itu akhirnya menemukan gadis itu. Surin tengah duduk dan membenamkan wajahnya sendiri dikedua lengannya.

Sehun dengan tergesa langsung menghampiri Surin. “Surin-a.” Sehun berujar seraya memegang bahu Surin yang kini tampak terkejut setengah mati karena melihat Sehun berdiri begitu dekat dengannya.

“Ada apa denganmu? Mengapa kau berantakan seperti ini?” Tanya Sehun namun Surin tanpa pikir panjang langsung melingkarkan kedua tangannya pada tubuh laki-laki itu. Tangisannya pecah begitu saja ketika Sehun membalas pelukannya dan mengelus rambutnya dengan lembut.

Sehun menghela napas ketika yang didengarnya hanya tangisan keras dari bibir Surin. “Tidak apa. Sekarang semuanya akan baik-baik saja.” Ujar Sehun seraya terus mengelus rambut Surin dan mengeratkan pelukan mereka berdua.

Sehun memang tidak tahu-menahu apa yang terjadi pada Surin tapi ia tahu bahwa gadis itu membutuhkannya.

Sama persis seperti Sehun yang selama dua minggu ini juga begitu membutuhkannya.

 

**

 

Sehun memarkirkan mobilnya didepan gang mengingat tempat Surin tinggal berada di dalam gang yang sedikit menanjak itu. Sehun kemudian membukakan pintu mobil untuk Surin yang segera turun dari mobil sedan berwarna hitam tersebut.

Sehun berjongkok memunggungi Surin, menyuruh gadis itu untuk naik ke punggungnya. “Aku tidak mabuk sama sekali, Oh Sehun. Aku bisa berjalan sendiri.” Ujar Surin sambil tersenyum kecil. Suasana hatinya merasa jauh lebih baik meskipun kini matanya benar-benar terlihat bengkak. Setidaknya Surin tidak seberantakan beberapa waktu yang lalu.

“Jalanan gang menuju rumahmu itu menanjak dan aku yakin kau sudah kehabisan tenaga. Sudah cepat naik saja.” Sehun membalas dan Surin hanya menurut sehingga kini ia melingkarkan kedua tangannya pada leher Sehun. Sehun segera bangkit berdiri dan mulai berjalan dengan Surin yang berada digendongannya.

Sehun berjalan ditengah-tengah gang tersebut, sempat merasa bingung harus bicara apa pada Surin yang kini juga tengah terdiam. Sehun dapat merasakan Surin meletakan dagunya pada bahu kanan Sehun, membuat laki-laki itu tersenyum kecil.

“Aku sedang tertimpa sial.” Surin membuka suara sementara Sehun hanya mendengarkan.

“Uang sponsor yang perusahaanmu berikan untuk penerbitan bukuku dialihkan perusahaan untuk menerbitkan buku penulis lain. Menyedihkan, bukan?” Kedua mata Surin kembali berair, mengingat masalah yang berhasil membuatnya kehilangan harapan untuk mencapai mimpinya memiliki buku sendiri.

“Aku langsung berhenti bekerja dari perusahaan itu. Setidaknya, itulah yang dapat aku balas pada mereka setelah semua yang mereka lakukan padaku.” Tambah Surin seraya tertawa kecil, namun air mata malah jatuh begitu saja disebelah pipinya, sangat kontras dengan tawanya barusan.

Keheningan kembali menyelimuti mereka. Sehun hanya tidak tahu harus berkata apa karena dalam hatinya sekarang ini, ia pun sangat marah sampai-sampai ia ingin memaki kepala perusahaan penerbit buku tempat Surin bekerja sekarang juga. Sehun bersyukur karena gadis itu langsung memilih untuk berhenti dari perusahaan tersebut.

“Sehun-a.”

Sehun hanya menjawab Surin dengan gumaman.

“Kau harus tahu bahwa kau adalah doa pertamaku yang dikabulkan Tuhan. Aku ingat terakhir kali aku kacau seperti ini adalah ketika aku akan mengantarkan pizza ke rumahmu. Ya, betul. Hari disaat aku kehilangan pekerjaanku di café. Saat itu aku menangis dijalan, memaki semua hal buruk yang telah terjadi padaku. Aku ingat bahwa saat itu juga aku berseru pada Tuhan agar setidaknya Ia mau mengirimkan seorang pangeran berkuda putih untuk membantuku melewati masa sulitku.” Surin berujar dan Sehun dengan seketika menghentikan langkah kakinya.

“Meskipun Tuhan hanya membiarkanmu menjadi pangeran berkuda putihku selama tiga hari, ketahuilah bahwa aku sangat senang. Aku senang karena dengan bersamamu aku merasa tidak ada lagi rasa pahit dalam hidupku. Sebenarnya saat ini aku juga senang. Aku senang karena Tuhan mau meminjamkanmu padaku sekali lagi seperti sekarang ini, meskipun aku tahu setelah malam ini aku harus kembali pada keadaanku yang semula.”

Sehun menurunkan Surin dari gendongannya kemudian berdiri berhadapan dengan gadis itu. Sehun menangkup kedua pipi gadis itu, menghapus sisa-sisa air mata dari pipinya yang berwarna sedikit kemerahan. Sehun ingat bagaimana ia benar-benar menyukai warna itu hinggap dikedua pipi Surin, bahkan pada saat gadis itu tengah tertidur.

“Bagaimana kalau setelah malam ini aku ingin terus berada didekatmu? Bagaimana kalau setelah malam ini, aku ingin merubah status kita yang hanya berpura-pura menjadi status resmi yang nyata?” Sehun berujar, membuat air mata kembali memenuhi pelupuk mata bengkak gadis yang kini berdiri sangat dekat dengannya itu.

“Aku menyukaimu, Jang Surin. Aku menyukaimu dan semua cerita masa kecilmu yang tidak ingin kau ingat. Aku menyukaimu yang adalah seorang penulis bayangan meskipun kau membenci pekerjaanmu itu. Aku menyukaimu yang adalah mantan seorang pelayan café. Aku menyukaimu yang adalah seorang pengantar pizza, yang rela menembus hujan dan tetap tersenyum professional ketika kau sampai dirumah sang pemesan meskipun hatimu sendiri tengah berantakan. Aku menyukaimu dan segala kerumitan hidupmu.”

Surin langsung meneteskan air matanya begitu saja ketika mendengar ucapan tulus Sehun barusan.

“Would you take my last name and be my Mrs. Oh?”

Surin langsung memeluk Sehun dengan erat sambil menangis. Kali ini tangisannya adalah tangisan bahagia yang tidak dapat Surin jelaskan dengan kata-kata. “Tentu saja aku mau.” Ujar Surin membuat Sehun tersenyum senang. Sehun mengeratkan pelukan mereka seraya mengecup puncak kepala Surin dengan lembut.

Dari situ Sehun bertekad untuk tidak akan membiarkan Surin kembali merasakan rasa pahit dalam hidupnya.

 

**

 

Tiga tahun kemudian.

 

Surin berbungkuk, pamit pada penggemarnya yang berkumpul disebuah studio yang ada di gedung D Cube Art Centre setelah sebelumnya ia diwawancara oleh seorang pembawa acara mengenai buku keduanya yang menjadi best-seller diseluruh penjuru Korea. Tepuk tangan riuh memenuhi studio yang tidak terlalu besar itu dan Surin kembali membungkuk, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada para pembacanya yang memenuhi kursi penonton studio tersebut untuk bisa bertemu dan mendapatkan tanda tangannya secara langsung.

Surin keluar dari studio tersebut menuju ruang rias dan mendapatkan suaminya, Oh Sehun kini tengah berdiri menunggunya dengan satu bucket bunga besar ditangan kirinya, juga seorang anak laki-laki berumur satu tahun digendongan tangan kanannya. Sehun tersenyum senang ketika Surin menghampirinya dan anak pertama mereka, Oh Rei.

Surin mengambil bucket bunga besar yang diberikan Sehun. “Selamat untuk acara jumpa penggemarmu yang pertama. Aku benar-benar bangga padamu, Surin-a.” Sehun mengelus punggung Surin sementara wanita kesayangannya itu kini sudah tersipu malu.

“Terima kasih, Oh Sehun. Terima kasih juga untuk manusia mini kesayangan ibu ini.” Surin mengecup pipi Rei yang kini tertawa senang. Tangannya yang kecil memukul-mukul udara, mengekspresikan rasa senangnya karena mendapatkan kecupan dari ibunya.

Ketika Sehun dan Surin tengah menertawai sikap lucu anak mereka itu tiba-tiba suara heboh ibu kandung Sehun membuat mereka menoleh dengan cepat. “Surin-a! Selamat untuk acara jumpa penggemar ini! Oh astaga, aku benar-benar merindukan kalian padahal dua minggu lalu kita baru makan malam bersama.” Nyonya Oh berujar seraya menyerahkan bucket bunga lainnya untuk Surin membuat Surin tertawa kecil seraya berterima kasih.

“Rei, ayo sini sama nenek. Kita susul kakek yang tengah membeli eskrim dilantai bawah.” Nyonya Oh mengambil alih Rei dari gendongan Sehun sementara anak laki-laki itu hanya tertawa membuat semua orang gemas dibuatnya. “Semakin kesini Rei benar-benar semakin mirip denganmu. Dia bahkan memiliki kedua mata berbentuk bulan sabit itu ketika ia tengah tertawa. Persis seperti milikmu.” Ujar Surin sementara Sehun hanya tertawa kecil seraya merangkul pinggang istrinya itu dengan sayang.

“Tapi kedua manik mata berwarna hitam pekatnya tetap persis dengan milikmu.” Timpal Sehun dan kini gantian Surin yang tertawa. Nyonya Oh yang gemas dengan Rei terus mencubit pelan kedua pipi anak laki-laki itu. “Kalau begitu, ibu culik Rei untuk makan eskrim di lantai bawah bersama ayah, ya. Kalian berdua nanti menyusul saja setelah selesai berberes-beres.” Ujar Nyonya Oh dan kemudian ia pergi bersama Rei setelah diiyakan oleh Sehun dan Surin.

Beberapa staff tampak langsung berbenah kemudian selepasnya mereka saling berpamit diri untuk pulang, begitupula dengan Surin yang kini sudah memakai tas selempang berwarna merah tuanya. Baru saja Surin akan meninggalkan ruangan tersebut bersama staff yang lain, Sehun menahan tangannya.

Kini mereka hanya berdua diruang rias yang sudah rapi seperti semula itu. “Kenapa? Apa ada yang tertinggal? Ayo cepat, kita susul ayah dan ibumu. Mereka pasti sudah menunggu.” Ujar Surin sementara Sehun tidak mempedulikan. Sehun malah menarik pinggul Surin, membuat tubuh Surin langsung berjarak begitu dekat dengan tubuh Sehun yang jauh lebih tinggi dan besar darinya.

“Ambil dulu hadiahmu yang lain selain bunga itu.”

Surin mengernyitkan dahinya sambil tertawa kecil. “Mana?”

“Ini.”

Sehun langsung menghapus jarak diantara mereka dengan mendaratkan bibirnya pada bibir Surin perlahan-lahan. Laki-laki berbahu lebar yang kini tengah mengenakan kemeja sederhana itu mengeratkan pelukan tangannya pada pinggul Surin seraya memperdalam tautan bibir mereka, membuat Surin merasa hampir gila ditempat karena debaran jantungnya yang sangat keras saat ini. Surin mengalungkan kedua tangannya kebelakang leher Sehun kala kakinya terasa begitu lemas ketika Sehun terus menarikan bibirnya pada bibir Surin, menghapus lipstick merah tipis yang dikenakan Surin dari sana.

Surin tahu jantungnya tidak akan pernah bisa tenang setiap kali Sehun melakukan hal ini.

Sehun tersenyum lebar pada bibir Surin yang kini juga tengah tersenyum. Kedua mata mereka yang terkunci satu sama lain seolah tengah berbicara bahwa mereka benar-benar saling mencintai satu sama lain. Sehun mengecup kedua rona merah pada kedua pipi Surin kemudian memeluk gadis itu erat-erat.

“Aku menyayangi Rei.” Surin tertawa karena ucapan Sehun barusan. Kebiasaan mengucapkan kalimat itu untuk satu sama lain muncul setelah ada Rei dikehidupan mereka. Sehun dan Surin memilih untuk menggunakan kalimat itu karena dengan berkata bahwa mereka menyayangi Rei, itu sama saja dengan mereka mengatakan bahwa mereka mencintai juga menyayangi satu sama lain.

“Aku juga menyayangi Rei.” Ujar Surin dan senyuman senang Sehun yang disaksikannya sekarang ini benar-benar membuatnya merasa lengkap saat itu juga.

Kemudian Sehun langsung mengajak Surin untuk keluar dari ruangan tersebut guna menghampiri orangtuanya yang sudah menunggu mereka bersama Rei di toko eskrim yang ada di lantai bawah.

Dalam hati, Surin senang sekaligus bahagia karena suatu ketika ditengah-tengah masa pahit hidupnya, Surin berdoa meminta seorang pangeran berkuda putih yang akan menemaninya melewati masa sulit itu.

Surin tidak percaya bahwa karena doa itu, Surin tidak hanya mendapatkan seorang pangeran yang menemaninya melewati masa sulit, tapi juga seorang pangeran yang memiliki kemampuan untuk membuang masa sulit itu jauh-jauh dan menggantinya dengan masa indah juga manis yang Surin tahu akan bertahan sepanjang hidupnya.

 

-FIN.

 

WOW WOW WOW! Sangat panjang jadinya huhu. Gimana gimana gimana ff ini gimanaaaa? Semoga kalian suka dan karena panjang banget semoga kalian gak bosen ya bacanya:”) mohon dimaafkan apabila typo sana-sini.

I’m having so much fun nulis yang satu ini! Semoga kalian merasakan yang sama hihiiii.

Terima kasih karena sudah membaca sampai kata terakhir ini ya. See you on the next ff!

xoxo.

 

Advertisements

6 comments

  1. izzatuljannah1404 · August 13

    SWEET BANGET 😆😆😆 couple goals banget sih 😍 suka banget sama cerita kamu yg ini. G pasaran dan kreatif banget ih 😙 panjang panjang tapi enak dibacanya. Serasa baca novel wkwkw. Mereka emang cocok banget mau di apain juga settingannya 😁 lanjut lanjut!!! Ga sabar baca cerita kamu yg lainnya 😍😍 keep writing yaaa, aku selaku nunggu kamu 😂
    -pembaca setia kamu- wkwkw

    • Oh Marie · August 13

      HALLLLLLLLOOOOOO♥♥♥♥
      Parah sih seneng banget liat notif dari kamu lagi dan pastinya dengan komen manis lainnya awwww makasih banyak ya udah mau nyempetin waktu kamu buat baca dan ninggalin komen lagi!! TuT♥♥
      AKU SENYAM-SENYUM SENDIRI BACA KOMEN INI PARAAAAH. Jadi semangat buat nulis project selanjutnya hihi. Sekali lagi makasih banyakkkk!
      PEMBACA SETIA HUHUHU gabisa berenti senyum! Wajib stay tune terus pokoknya.
      See you on the next ff! TuT♥♥

  2. ahnnncs · August 14

    panjang sekalehhhh hahaha tapi sumpah ini rameeeee 😀
    aku bacanya senyum senyum gajelas banget sumpah dan sebenarnya aku baca ini tuh pas 2 hari yang lalu gituh malem2 malah makin baper masaaaa haha
    always kayak gtuh yaa luv buat surin sehun dan penulisnya jugaa hahaha
    ditunggu banget next projectnyaaa

    • Oh Marie · August 15

      HUHUHUHU MANIS BANGET KOMENNYAAAA❤❤
      Makasih angie udah mau baca ff panjang iniiii! Semoga aja matanya ga capek ya huahahaha!
      Luvvvvv balik buat kamu❤
      Siap siap, wajib di tunggu ya! See you on the next ff! Sekali lagi terima kasih banyak yaaa!

  3. rahsarah · August 20

    waaaahh panjang juga yaa tapi bener2 seruuu dari awal sampe akhir aku bener2 menikmati setiap moment sehun surin yg awalnya kesel kesalan satu sma lain sampe akhirnya bikin sweet sweetan *apasiinibahasanya hahaha
    semangat terus yaa nulis kisah sehun surin ditunggu ide2 cerita2 kreatif 2 makhluk yg super duper ngangenin ini ♥

    • Oh Marie · August 21

      HALO KAK SARAH♥♥
      Seneeeeeng banget kalo kak sarah suka sama ff ini! Aku sengaja buat yang panjang karna selama ini selalu buat yang simple-simple aja hihi.
      IYAAA, jadi pengen ya berantem sama cogan tapi ujung ujungnya begini HUAHAHA.
      Makasih kak sarah semangatnya! Makasih juga udah mau nyempetin waktu buat baca ff yang super panjang iniiiiii♥♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s