Sorry

large (13)

 

Baekhyun-Jimi time! Happy reading!

**

Jimi menghela napas panjang disela-sela suasana kantin kampus yang sore hari itu cukup sepi, hanya ada beberapa mahasiswa yang kini tengah berkumpul disalah satu dari banyaknya meja kantin, yang letaknya tidak begitu jauh dari meja Jimi. Mereka kelihatan begitu sibuk mengerjakan tugas yang sepertinya adalah tugas kelompok.

Jimi mengalihkan pandangannya dari orang-orang itu dan memperhatikan layar ponselnya. Sesekali ia menekan home button ponsel tersebut, namun hanya fotonya dan kekasihnya, Byun Baekhyun, yang diambil saat mereka liburan di Pulau Jeju saja yang muncul. Gadis itu kecewa mengetahui tidak ada pesan apapun yang masuk ke dalam ponselnya. Jimi mempunyai dua aplikasi chat messenger yaitu Kakaotalk dan Line, namun kedua aplikasi itu sedari tadi tampak begitu sepi, terbukti dengan tidak adanya notifikasi yang muncul dilayar ponselnya. “Sebegitu sibuknya kah semua orang hari ini?” Gerutunya pada layar ponselnya, namun tetap enggan menyentuh ponsel yang kini tergeletak dimeja kantin itu.

Jimi sendiri tahu bahwa ‘semua orang’ yang ia maksud tadi bukan benar-benar bermakna sebagai semua orang, tetapi dua kata itu tertuju untuk kekasihnya sendiri, Baekhyun.

Ia mengambil ponselnya kemudian tangannya mulai membawanya pada galeri ponsel tersebut. Galerinya penuh dengan fotonya dan Baekhyun, membuat Jimi mengercutkan bibirnya. Ia merindukan laki-laki itu. Buku tebal yang berhubungan dengan tugas salah satu mata kuliah yang berada dihadapannya sekarang ini pun tidak lagi Jimi pedulikan.

Jimi memutuskan untuk membuka room chat Kakaotalk-nya dengan Baekhyun. Jari-jarinya mulai menari diatas layar sentuh tersebut, mengetikan kalimat ‘aku merindukanmu’ dengan kecepatan kilat. Baru saja ia akan menekan tombol ‘send’, Jimi langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat seraya menghapus pesan tersebut.

Jimi tidak mau lebih dulu menghubungi Baekhyun setelah kejadian tiga hari yang lalu. Kejadian dimana Baekhyun yang tengah terbakar emosi membentaknya begitu saja di tempat parkir mobil kampus Baekhyun. Saat itu Jimi yang sakit hati langsung pergi dari tempat tersebut, dan terjadilah pertengkaran yang lebih seperti ‘perang dingin’ selama tiga hari ini berlangsung.

Baekhyun tidak tahu saja bahwa Jimi menangis semalaman karena hal tersebut. Ia sendiri sampai sudah bertekad bahwa ia tidak akan menjadi yang pertama untuk meminta maaf. Jimi memangku dagunya dengan telapak tangan kanannya seraya mematutkan perhatiannya pada foto dirinya dan Baekhyun yang diambil minggu lalu di Lotte World, salah satu tempat kencan favorit mereka berdua.

Jimi benci dirinya yang mengakui bahwa pertengkarannya dengan Baekhyun kali ini memang disebabkan karena dirinya sendiri. Kalau saja Jimi tidak menuduh Baekhyun dengan yang tidak-tidak dan membuntuti laki-laki itu seharian penuh, mungkin Baekhyun tidak akan membentak Jimi dengan ekspresi galaknya yang sama sekali tidak ingin Jimi lihat lagi.

 

**

 

“Ah, iya. Tidak apa sunbaenim, kau bisa pinjam buku itu sampai minggu depan. Aku juga sudah selesai membacanya.” Jimi memperhatikan gadis yang Baekhyun sebut senior itu dengan garang. Jimi mengeratkan pelukannya pada lengan Baekhyun sementara gadis berambut panjang yang ada dihadapannya dan Baekhyun sekarang ini hanya melirik Jimi sekilas sambil berdeham.

Jimi tahu gadis itu sudah menyimpan perasaan pada Baekhyun sejak lama. Baekhyun seringkali bercerita pula pada Jimi bahwa ada salah satu senior perempuannya di kampus yang seringkali mengajaknya untuk pulang bersama namun selalu Baekhyun tolak. Sudah lama juga Jimi sering kali tidak tenang dengan fakta bahwa Baekhyun yang berbeda kampus dengannya, setiap hari harus bertemu dengan gadis yang Jimi kategorikan sebagai gadis centil itu.

Saking tidak tenangnya seringkali Jimi membuka profil akun Instagram gadis itu untuk mewanti-wanti kalau saja ia mengunggah fotonya dengan Baekhyun yang sudah jelas-jelas adalah kekasihnya. Ada satu foto kelompok di Instagram gadis itu dimana Baekhyun juga berada didalamnya. Foto dengan caption ‘My Theatre Group.’ Gadis itu memang salah satu anggota teater kampus, sama dengan Baekhyun. Jimi menduga bahwa dari situlah gadis itu mengenal dan menyukai kekasihnya.

Jimi bahkan sempat berpikir untuk menyuruh Baekhyun berhenti kuliah kedokteran di Seoul National University itu dan pindah saja saking cemburunya ia pada gadis yang harus Jimi akui berparas cantik tersebut.

Maka itu ketika Jimi memiliki kesempatan, ia tidak ingin menyiakannya. Jimi memang sengaja hari ini mengantarkan Baekhyun bekal makan siang ke kampus laki-laki itu, karena kebetulan juga dosen Jimi menginfokan bahwa kelas hari ini ditiadakan karena beliau harus ijin untuk mengurus sesuatu. Niat Jimi sebenarnya baik, memberi Baekhyun kejutan kecil dengan mendatangi kampus kekasihnya itu untuk membawakan makan siang.

Namun Jimi yang penasaran akan apa saja yang dilakukan Baekhyun selama laki-laki itu berada di kampus, diikuti juga dengan rasa cemburu dan keingin tahuannya akan senior Baekhyun itu, setelah Baekhyun menyelesaikan makan siang yang diberikan Jimi, Jimi tidak langsung pulang begitu saja dan memutuskan untuk membuntuti Baekhyun kemanapun laki-laki itu pergi.

Mulai dari menemani Baekhyun menyelesaikan tugas esainya di perpustakaan kampus, menemani Baekhyun menyusuri rak-per-rak buku perpustakaan guna mencari buku referensi untuk penelitian laki-laki itu, menemani Baekhyun mencetak tugasnya di tempat jasa sewa komputer dan internet seberang kampus, menemani Baekhyun rapat kerja kelompok di kantin kampus meskipun ia harus duduk dimeja yang terpisah dari Baekhyun, sampai saat ini ketika laki-laki itu hendak pulang namun seniornya menahannya.

Baiklah mungkin kata ‘menemani’ diparagraf tadi harusnya diganti menjadi ‘membuntuti’ namun Jimi tidak peduli. Ia tidak peduli karena ternyata rasa khawatirnya benar, dan ucapan Baekhyun tentang gadis itu yang selalu akan menghampiri Baekhyun ketika ia akan pulang adalah fakta.

Jimi rasa Baekhyun sering sekali mengunggah foto yang memperlihatkan kemesraan mereka berdua dengan caption manis, dan Jimi yakin sekali bahwa gadis itu seratus persen melihatnya. Seharusnya gadis itu tahu bahwa Baekhyun sudah memiliki kekasih, dan sudah sepatutnya ia menjaga jarak. ‘Memang sudah centil dari sananya saja berarti.’ batin Jimi kesal, sembari mengeratkan pelukannya pada lengan Baekhyun.

“Ah, ini kekasihku, Park Jimi. Ia berkuliah di Korea University jurusan Hukum.” Ujar Baekhyun menyadari tatapan seniornya yang mengarah pada Jimi. “Oh, begitu rupanya. Anda beruntung sekali, Baekhyun adalah orang yang sangat baik dan pandai. Perkenalkan saya senior sekaligus teman dekatnya Baekhyun, Kim—”

“Baekhyun-a, sudah jam setengah tujuh malam. Ayo kita makan malam dulu sebelum kau mengantarku pulang.” Jimi memotong ucapan gadis itu dengan cepat, merasa terbakar api cemburu ketika gadis itu mengucap ‘teman dekatnya Baekhyun’. Teman dekat, katanya? Jadi alasan ‘teman dekat’ lah yang gadis itu gunakan untuk mengajak Baekhyun pulang bersama setiap harinya padahal dia sendiri sudah tahu bahwa Baekhyun sudah memiliki kekasih? Benar-benar tidak masuk diakal. Jimi tahu gadis yang ada dihadapannya kini pasti sudah benar-benar tertarik pada Baekhyun, dan jimi tidak ingin memberi celah sedikitpun padanya untuk mengambil kesempatan ketika Jimi tidak sedang berada bersama Baekhyun, apalagi dengan alasan ‘sebatas teman dekat’.

Jimi ingin gadis itu tahu bahwa ia tidak menyukainya sama sekali, maka sebab itu Jimi yang saat itu benar-benar dibutakan amarah dan rasa cemburu langsung memotong ucapan gadis itu ketika ia hendak mengatakan namanya. Jimi rasa ia tidak perlu mengetahui siapa nama orang yang dengan tidak tahu malunya masih mendekati Baekhyun yang jelas-jelas sudah milik orang lain.

Jimi kemudian tersenyum pada Baekhyun yang kini menatapnya dengan tidak percaya. “Kami permisi dulu.” Jimi langsung menarik lengan Baekhyun untuk pergi dari tempat tersebut.

“Su-sunbae, maafkan aku. Aku pulang duluan, ya! Pinjam saja bukunya sampai selama yang kau mau!” Seru Baekhyun sambil berusaha menahan Jimi yang kini semakin kuat menarik lengannya.

“Jimi-ya, berhenti.” Baekhyun berujar berkali-kali sampai tanpa mereka sadari kini mereka sudah berada di tempat parkir, lebih tepatnya di depan mobil Baekhyun. “Park Jimi!” Jimi menghempaskan tangan Baekhyun begitu saja kemudian menatap laki-laki itu penuh amarah, begitu pula dengan Baekhyun.

“Pinjam saja bukunya sampai selama yang kau mau? Maafkan aku? Hah, pantas saja gadis itu terlihat berharap. Kau saja memberinya ruang untuk melakukan itu. Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar dan saksikan. Kalau aku tidak kemari hari ini, sampai kapanpun aku tidak akan tahu kalau selama ini kau benar-benar busuk.” Jimi yang sudah kehilangan kendali terhadap emosinya mulai berujar asal. Sialnya, Baekhyun yang dibilang ‘busuk’ pun merasa tidak terima sehingga kini laki-laki itu tampak sangat marah.

“Busuk? Kau bilang aku busuk? Begitukah pikiranmu terhadap kesetiaan yang berusaha aku jaga selama ini? Bagaimana bisa kau berkata enteng seperti itu?” Baekhyun menatap Jimi dengan tidak percaya. Ia mengacak rambut hitamnya, merasa frustasi akan gadis yang berada dihadapannya kini.

“Kenyataannya memang seperti itu, kan? Jelas-jelas kau sudah tahu bahwa ia menyukaimu. Lalu kenapa kau masih saja meminjamkannya buku dan berbaik hati padanya?! Apa itu namanya bukan memberi harapan?!” Jimi berseru membuat Baekhyun tertawa tidak percaya.

“Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kau katakan barusan. Aku juga benar-benar tidak mengerti mengapa kau berteriak dan berkata sembarangan seperti itu. Jelas-jelas kesalahannya ada padamu. Jangan kira aku tidak sadar bahwa hari ini kau sengaja membuntutiku. Sebenarnya aku tidak masalah sama sekali makanya sedari siang hari tadi aku tetap membiarkanmu berada bersamaku. Aku juga sudah cukup bersabar dengan menanggapi pertanyaan-pertanyaanmu mengenai setiap teman-teman perempuan yang aku temui hari ini. Tapi kesabaranku ini juga ada batasnya. Tidak sadarkah kau bahwa kau tadi benar-benar tidak sopan terhadap seniorku? Begitukah sikapmu terhadap orang yang lebih tua?”

“Aku hanya ingin menemanimu. Aku hanya ingin bersamamu. Aku hanya ingin tahu kegiatan apa saja dan bersama siapa saja kau bergaul di kampus setiap harinya. Apa itu sebuah kesalahan? Lalu apa katamu barusan? Tidak sopan terhadap seniormu? Kau baru saja membelanya, benar begitu kan, Byun Baekhyun?!”

“Tidak tahukah kau betapa kekanakannya dirimu saat ini?!” Baekhyun meninggikan suaranya dan seketika itu juga satu bulir air mata keluar begitu saja membasahi pipi kanan Jimi.

“Kekanakan? Coba saja kau berada diposisiku. Coba saja kau menjadi aku yang tidak tenang setiap harinya karena merasa kau akan meninggalkanku untuk gadis cantik itu. Coba saja kau menjadi aku yang setiap hari harus cemburu dan waspada!” Ujar Jimi sementara Baekhyun lagi-lagi mengacak rambutnya asal.

“Sungguh, aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar. Ternyata kesetiaanku memang hanya sebatas rasa cemasmu saja. Sekarang terserah kau, Park Jimi. Aku sudah muak!” Baekhyun berteriak lagi seraya memunggungi gadis itu dan sepersekian detik kemudian Baekhyun dapat mendengar suara sepatu Jimi yang berlari menjauh.

 

**

 

Tiba-tiba ponsel Jimi bergetar, membangunkan Jimi dari lamunan singkatnya. Jimi segera mengangkat panggilan video call dari sahabatnya, Surin, dan dalam sekejap sapaan heboh Surin pun dapat Jimi dengar.

“Ya! Jang Surin! Aku sudah menunggumu lebih dari dua puluh menit mengapa kau tidak datang juga? Kau ingat janji ke salon kuku langganan kita, kan?!” Jimi berujar dengan nada kesal sementara Surin hanya tertawa, menanggapi. Surin mengarahkan kameranya pada seorang laki-laki dengan sweater abu-abu gelap yang duduk disebelahnya. Jimi langsung memutar bola matanya, menyadari bahwa Surin membatalkan janji mereka karena kekasihnya yang pasti menculik gadis itu lagi.

“Aku tidak bisa datang ke kampusmu hari ini. Sehun tiba-tiba sakit perut dan aku harus mengurus bayi besar ini sekarang. Kau lihat, kan? Aku sekarang berada di apartment Sehun.” Surin mengedarkan kameranya kemudian kembali mengarahkannya pada dirinya sendiri. Tidak lama kemudian tampaklah Sehun yang menyandarkan kepalanya dibahu Surin sambil tersenyum jahil pada Jimi.

“Halo, Jimi. Aku pinjam Surin dulu hari ini, ya. Ah ya, Baekhyun memberitahuku bahwa  ia ada pertemuan dengan salah satu dosen kampusmu hari ini. Kau masih di kampus, kan? Apa kau sudah bertemu dengannya?” Sehun bertanya namun Jimi hanya membalasnya dengan dengusan. Sehun dan Surin tentu tahu bahwa Baekhyun dan Jimi sedang bertengkar. Jimi berharap ini bukan akal-akalan Sehun dan Surin untuk membuatnya dan Baekhyun bertemu lalu berbaikan. Meskipun dalam hati ia sekarang berharap demikian.

“Jangan pulang sebelum kau bertemu dengannya.” Ujar Surin sambil tertawa kecil diikuti tawa Sehun setelahnya. “Kalau begitu sudah dulu, ya. Ingat, kau harus temui dia!” Sambung Surin kemudian video call mereka terputus begitu saja. Jimi langsung buru-buru memasukan bukunya kedalam tas selempang berwarna hitamnya dan berlari kecil meninggalkan kantin kampus tersebut, berharap ia akan bertemu Baekhyun dalam perjalanannya menuju lobby utama kampus.

Jimi mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kampus yang sudah sepi itu kemudian kakinya berhenti begitu saja ketika ia melihat Baekhyun tengah berdiri tepat di depan pintu lobby utama kampus. Jimi terus memandangi bahu laki-laki itu kemudian mengambil napasnya dalam-dalam sebelum ia menghampiri Baekhyun dan berdiri disebelahnya namun tetap menjaga jarak.

Jimi memperhatikan air hujan yang tampak turun begitu deras, begitupula dengan Baekhyun yang sepertinya belum menyadari keberadaan Jimi. Kalau saja tidak hujan deras, mungkin saat ini Jimi sudah melenggang begitu saja, berharap Baekhyun akan menahan lengannya seperti dalam film-film romantis yang sering Surin, sahabatnya itu tonton. Namun hujan deras itu membuatnya memaku kakinya sendiri disebelah Baekhyun dan berdiam tanpa tahu harus berbuat apa. Jimi tidak tahu apa ia harus bersyukur atau tidak terhadap keadaan yang mengurung mereka berdua dalam suasana super canggung seperti sekarang ini.

Ketika sedang berdebat dengan pikirannya sendiri antara menyapa Baekhyun lebih dulu atau tetap berdiam diri saja, Jimi menyadari bahwa sepeda gunung berwarna merah yang begitu familiar terparkir tidak jauh dari tempat mereka sekarang ini. Sepeda gunung itu tersiram air hujan yang begitu deras, dan seketika Jimi ingat bahwa Baekhyun pernah kerumahnya tengah malam dengan sepeda itu untuk mengantarkan makanan. Jimi langsung tahu bahwa alasan Baekhyun berdiri didepan lobby seperti sekarang ini adalah untuk menunggu hujan berhenti karena hari ini laki-laki itu tidak membawa mobilnya melainkan sepeda gunung berwarna merah itu.

Jimi memutuskan untuk tidak bersuara namun dalam hitungan detik berikutnya ia dapat merasakan bahwa saat ini Baekhyun mengalihkan perhatiannya dari pemandangan yang ada dihadapannya pada Jimi.

Jimi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika menyadari bahwa Baekhyun saat ini bergeser sedikit demi sedikit kearahnya sehingga kini laki-laki yang lebih tinggi darinya itu sudah berdiri tepat disampingnya. Kedua tangan Baekhyun berada disaku celana panjangnya sendiri sementara itu ia mulai berdeham berkali-kali membuat Jimi harus menyembunyikan senyumannya karena suara dehaman aneh tersebut.

“Mengapa lama sekali keluarnya?” Baekhyun bersuara membuat Jimi tersentak. “Aku menunggumu sedari tadi.” Sambung Baekhyun lagi dan Jimi tidak bisa menyembunyikan senyumannya.

Hujan pun dengan perlahan mulai mengecil. “Aku selalu pesan padamu untuk membawa payung kemanapun kau pergi. Kau tidak membawanya lagi, kan?” Baekhyun menghela napasnya ketika melihat Jimi menganggukan kepalanya. Baekhyun membuka tas ranselnya kemudian menyerahkan payung lipat berwarna kuning pada Jimi. “Kau pulang duluan saja dengan payung itu. Aku akan menunggu sampai hujan benar-benar berhenti karena hari ini aku membawa sepeda. Mobilku diservis kemarin.” Baekhyun menjelaskan seraya mempersilahkan Jimi untuk pulang lebih dulu.

Jimi memandangi payung berwarna kuning yang kini berada ditangannya itu sambil tersenyum kecil. Diawal tadi Baekhyun bilang ia menunggunya. Itu berarti Jimi lah yang menyebabkan laki-laki itu terjebak hujan seperti sekarang ini. Kalau saja Jimi datang lebih awal, mungkin ia sudah akan pulang bersama Baekhyun sebelum hujan turun.

“Antar aku pulang. Aku akan membuatkanmu sup hangat untuk makan malam.” Jimi membuka payung tersebut sambil tersenyum senang. “Tapi sepedaku—”

Jimi memotong ucapan Baekhyun dengan menarik tangan laki-laki itu untuk berbagi payung. Mereka berdua berlari kecil kearah sepeda Baekhyun. Baekhyun segera duduk dikursi pengemudi dan Jimi berdiri diatas kaki kuda sepeda gunung tersebut. Satu tangannya memegang bahu kanan Baekhyun sementara satu tangannya lagi memegang payung untuk melindungi mereka berdua dari air hujan.

Baekhyun mulai mengendarai sepedanya dijalanan Seoul yang ramai dengan sangat hati-hati karena ia tidak ingin mereka berdua terjatuh dari sepeda tersebut. Baekhyun merindukan Jimi, begitupula dengan gadis itu. Hanya suasana hening diantara mereka sajalah yang bisa menjadi saksi dari rasa rindu masing-masing mereka. “Jimi-ya, aku ingin minta maaf.”

Jimi memeluk leher Baekhyun membuat laki-laki itu tersenyum senang. “Aku yang harusnya lebih dulu meminta maaf padamu. Maafkan aku, Byun Baekhyun. Aku tahu aku sudah terlalu kekanakan tiga hari yang lalu.” Jimi meletakan dagunya dipuncak kepala Baekhyun. “Aku tidak seharusnya mencurigai kesetiaanmu seperti itu. Aku benar-benar menyesal.” Sambung Jimi dengan nada sedih. Jimi mengeratkan pelukannya pada leher Baekhyun sementara laki-laki itu hanya terkekeh sambil terus tersenyum senang.

“Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Aku juga meminta maaf karena telah membentakmu. Kau pasti sangat terkejut saat itu.” Baekhyun terus mengayuh sepedanya dengan perlahan. Selama tiga hari ini baik Baekhyun dan Jimi dapat mempelajari banyak hal. Mereka seolah dapat saling mempelajari kesalahan masing-masing, menyadarinya, lalu berusaha memperbaiki diri mereka masing-masing terlebih dulu sampai akhirnya kini mereka dapat kembali bersama dengan suasana yang lebih baik.

“Jimi-ya.”

“Hm?”

Baekhyun terdiam sementara Jimi sudah meliriknya. “Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin berkata bahwa aku menyayangimu.”

Baekhyun mengambil tangan Jimi yang memeluk lehernya dengan satu tangannya kemudian mengecupnya perlahan. Tiba-tiba sebuah mobil berlalu dengan kecepatan tinggi disebelah mereka membuat genangan air dijalan terciprat begitu saja kearah Baekhyun dan Jimi yang tengah menikmati adegan mesra mereka.

“Aish! Mengapa harus ada efek air terciprat segala, sih!” Gerutu Baekhyun kemudian mereka berdua langsung tertawa terbahak, menertawai kejadian barusan.

“Baekhyun-a.”

“Ya?”

“Aku juga menyayangimu. Benar-benar menyayangimu.” Jimi menundukan badanya sedikit kemudian mengecup pipi Baekhyun dengan kecepatan kilat. Seketika sepeda yang mereka kendarai hampir saja kehilangan kendali membuat mereka berdua berseru terkejut. Baekhyun dengan sigap langsung menahan sepedanya dengan satu kakinya juga mempererat pegangannya pada setir sepeda tersebut.

“Lain kali kalau mau membuat jantungku lepas jangan saat aku berkendara, Jimi-ya.”

Dan mereka berdua pun kembali terbahak, terutama ketika lagi-lagi mobil yang melintas cepat disebelah mereka mencipratkan genangan air kearah mereka.

Terkadang sepasang kekasih yang selalu bersama pun butuh waktu untuk sendiri-sendiri, terutama ketika pikiran tengah begitu kusut dan berantakan. Selepas memperbaiki suasana baik hati maupun pikiran, saling meminta maaf dan memaafkan adalah bagian yang paling menyenangkan, setidaknya begitulah pikir Baekhyun maupun Jimi.

 

**

aadwer

@baekhyunee_exo : Intinya, jangan pernah merasa gengsi untuk meminta maaf terlebih dulu. Dalam sebuah hubungan, bertengkar itu pasti ada. Hanya saja aku dan Jimi memutuskan untuk bertengkar dengan cinta. Seperti ini contohnya. ❤

#ILoveJimi #BaekhyunJimi #Forever

9222 likes.

Comments :

@real__pcy : Aish, semakin hari semakin banyak saja yang suka menyebar kemesraan seperti ini.

@kjong_dae : @real__pcy makanya segeralah nyatakan cintamu pada gadis yang kau suka! Jangan malah menebar harapan palsu terus-menerus, Chanyeol-a!

@guardian_suho : Kalian bertengkar lagi? Tidak Baekhyun-Jimi, Sehun-Surin semuanya bertengkar terus. Tidak bisakah kalian tenang-tenang saja seperti aku dan Taerin?!

@zyxzjs : @guardian_suho iyalah kau tenang-tenang saja dengan Taerin. Secara kau saja selalu sibuk. Menemukan waktu untuk bertemu saja sulit apalagi untuk bertengkar? HAHAHA.

@chocolattaerin : @zyxzjs sayang sekali Instagram tidak punya tombol retweet.

@surinjjang : HAHAHA Rencanaku dan Sehun berhasil! Kalian rupanya benar-benar bertemu!

@oohsehun : @_jimiyya aku tidak sakit perut betulan. Itu hanya bagian dari rencanaku dan Surin saja hahaha. Oh ya, Baekhyun juga tidak menemui dosennya dan mobil Baekhyun juga baik-baik saja. Sepeda itu adalah saranku agar kalian berbaikannya lebih romantis hahahaha.

@kaiikim : @oohsehun jadi ini yang dinamakan teman? Pertemanan kita hanya sampai sini saja, Oh Sehun?! Mengapa tidak kau biarkan saja sampai putus, sih!

@dokyungsoo93 : @kaiikim aku tahu kau mencintai Jimi tapi mengharapkan gadis yang kau cintai putus dengan kekasihnya itu benar-benar tidak dewasa, Kim Jongin.

@baekhyunee_exo : @dokyungsoo93 sayang sekali Instagram tidak punya tombol retweet. (2)

@real__pcy : @dokyungsoo93 aku benar-benar bangga kali ini membaca komenmu, Kyungsoo-ya! HAAHAHA.

@_jimiyya : @oohsehun @surinjjang #HidupSehunSurin HAHAHA.

@_jimiyya : @baekhyunee_exo ❤

@baekhyunee_exo : @_jimiyya ❤

 

-FIN.

Just a simple one! Semoga kalian suka dan semoga juga yang satu ini tidak membosankan!

Ah, Oh Marie mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri bagi semua yang merayakan! Have a good holiday with your family, readers!

Sampai jumpa di ff selanjutnyaaaa!

Advertisements

6 comments

  1. Realljo · June 26

    suka skl baekhyunnya so kyuti tanpa pengecualian manis bgt kek jimi kok bisa sih ngeraguin baekhyun dia kan setia banget huhu )): #alah semoga langgeng terus ga kaya sehun surin berantem mulu ))): Cepet nikah deh doanya aku soalnya number 1 baekhyunjimi shipper tq kak memberi pelita dan air akan kehausan aku akan baekhyunjimi soalnya dia berdua selalu kan satuin sehunsurin kalo lg berantem belom lagi dengerin ocehan surin kalo lg berantem ama sehun trs keliatannya selalu sweet sweet aja padahal jiminya sering terluka (((ga))) bagus dan ga bosen makasih ya udah comeback lg setelah sekian lama sukak de 3 ff terbarunya xixixiixixixixi

    • Oh Marie · June 28

      HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHHAAHAHAHAHA YES TERIMIKICI SUDAH BACA DAN KOMEN YAAAA<3 me love baekji too!!!!!!!!

  2. ahnnncs · June 27

    for the first time jimi-baekhyun ya?? Wkwkwk suka bangetttt
    Baekhyun! Cinta deh sama kamuu❤️❤️❤️ (cinta kakak author nya juga hehe)
    Seriously mereka itu couple yang lucu banget hahaha meskipun sehun surin tetep dihati, tapi baekhyun jimi ada diposisi kedua

    minal aidzin wal faidzin kakkk maaf kalo komen aku ada yg ga berkenan. Aku tunggu next projectnya yaa

    • Oh Marie · June 28

      Halo Angie!!!!❤️
      Bukan first time hihihi aku udah pernah post ff mereka beberapa kali kok>< Seneng deh kalo kamu suka sama ff baekhyun-jimi iniiiiiii!
      AWWWWWW cinta angie juga pokoknya❤️❤️❤️
      Iya Baek-Ji super cuteeeeee! Wah sama lah kita Sehun-Surin nomor satu HAHAHAHA *toss*

      Komen kamu tuh selalu nyenengin bangeeeet! Makasih ya sudah mau baca dan komen lagi❤️
      See you on the next project, Angie!!

  3. Lee Aerin · June 29

    Uwaa, Jimi Baekhyun jjang 👍👍

    • Oh Marie · June 30

      Haloha halohaaaaaa ❤
      Terima kasih untuk komentarnya ya! Terima kasih juga sudah menyempatkan waktunya untuk mampir dan baca hihihi. Salam manis dari Baekhyun-Jimi aw aw aw ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s