New York

newyork

Its been a while! Enjoy!

**

 

Suasana bandara internasional John F. Kennedy, New York, malam itu cukup ramai. Keramaian seolah bertambah terutama ketika sekerumunan orang keluar melalui pintu kedatangan bandar udara tersebut. Sebagian dari kerumunan itu adalah pendatang dari Asia, tepatnya Korea Selatan, mengingat pesawat Korea Air baru saja mendarat lima belas menit yang lalu. Orang-orang yang tampak sangat sibuk dengan urusannya masing-masing dengan barang bawaan ditangan mereka dengan perlahan berpencar, menyatu dengan hiruk pikuk bandara. Salah satu diantaranya adalah seorang gadis berambut hitam pekat yang kini tengah sibuk dengan ponselnya guna mengganti kartu operatornya dengan kartu yang baru. Gadis itu menghela napasnya ketika ponsel yang kini ia genggam itu bergetar berkali-kali dengan notifikasi yang terus masuk muncul dilayar sentuh ponsel tersebut, menandai banyaknya pesan dan panggilan yang diterimanya ketika ponsel itu tidak dapat dihubungi.

 

“Oh ayolah, aku baru saja meninggalkan Korea sekitar 10 jam yang lalu.” Gerutunya seraya menempelkan ponselnya pada telinganya sendiri ketika ia yang sebelumnya ragu untuk mengangkat panggilan masuk tersebut memutuskan untuk mengangkatnya.

 

“Jang Surin! Akhirnya kau dapat dihubungi. Kau sudah di New York? Baguslah. Tetaplah berhati-hati. Langsung hubungi ibu ketika kau tiba dirumah Paman Park. Kau sudah mencatat alamatnya kan? Segera cari taksi dan— ”

 

“Ibu, sekarang ibu tenang saja.” Gadis yang biasa dipanggil Surin itu berujar santai seraya menarik koper berwarna merah mudanya. Dalam hati sebenarnya ia menyesali kenyataan bahwa ia tiba di New York pada tengah malam, yang berarti saat ini di Korea matahari baru akan memunculkan diri. Dalam waktu-waktu seperti sekarang ini, Surin yakin sekali bahwa ibunya yang sedikit cerewet itu baru bangun dari tidurnya. Dari nada bicara yang sangat semangatnya saja Surin dapat menduga bahwa ibunya sudah siap menceramahinya dengan energi penuh. Surin merapikan jaket denim yang tengah dikenakannya seraya mengedarkan pandangannya, berusaha mencari taksi untuk segera menuju ke tempat tujuan utama yang adalah rumah milik teman dekat ibunya sedari beliau masih kecil. “Aku sudah mendapatkan taksi dan sekarang akan segera berangkat ke rumah Paman Park. Aku akan menghubungi ibu lagi ketika aku sudah sampai disana. Kalau begitu, aku tutup dulu ya, bu.”

 

“Ya! Surin-a! Ingat ya, kau hanya boleh berada disana selama satu minggu dan tidak lebih. Kalau pencarianmu gagal, kau tidak boleh beralasan dan menambah waktu menetapmu disana. Ibu tidak enak dengan keluarga Paman Park dan ibu tidak mau khawatir terlalu lama dengan kau yang sekarang berada jauh dari rumah. Kalau ada apa-apa kau bisa langsung beritahu—”

 

“Iya, iya, aku akan langsung memberitahu ibu. Aku juga hanya akan berada disini selama satu minggu seperti yang sudah aku janjikan. Lagipula kalau dipikir-pikir, menambah waktu menetapku disini tidak ada salahnya. Aku ini sedang libur mengajar. Jadi apa salahnya sih, bu?” Surin menempatkan diri didalam taksi tersebut sementara sang supir taksi dengan tanggap langsung menempatkan kopernya kedalam bagasi.

 

“Masalahnya kau disana itu untuk mencari kekasihmu yang tidak jelas keberadaannya itu. Kalau ayahmu sampai mengetahui liburanmu ke Manhattan ini adalah tameng semata, kau akan habis dimarahi. Jadi, jangan cari gara-gara.” Surin memutar bola matanya malas. Surin tidak berbohong pada ayahnya. Ia mengatakan yang sejujurnya bahwa ia ingin menghabiskan libur kerjanya di New York, meskipun hanya satu minggu. Ayahnya juga dengan mudah menyetujui, bahkan turut senang dan berkata bahwa seminggu adalah waktu yang sangat sebentar jika destinasi liburannya ke negara sebagus Amerika. Memang pada kenyataannya ibunya saja yang tidak akan bisa menerima fakta bahwa anak perempuannya ini sudah dewasa dan bukan lagi anak sekolah dasar berkepang dua dengan botol minum tergantung manis dileher.

 

“Surin-a? Kau dengar tidak? Kalau kau tidak bertemu dengan kekasihmu yang sudah menghilang selama dua tahun itu dalam satu minggu kedepan, kau sudah berjanji untuk setuju dijodohkan dengan anak dari rekan kerja ayah—”

 

Surin langsung memutus sambungan telepon itu seraya berdecak kesal. Lagi-lagi masalah perjodohan bodoh itu. Ya, seperti yang sekarang ini ada dipikiran kalian, Surin juga merasa cerita hidupnya persis dengan jalan cerita pasaran pada drama-drama yang sering ibunya tonton. Ditinggal pergi seorang kekasih tanpa kabar sedikitpun selama dua tahun, perjodohan yang disusun oleh kedua orangtuanya, keberadaan dirinya di Manhattan, New York sekarang ini untuk mencari kekasihnya, semua benar-benar bagaikan cerita pasaran yang tidak hanya ia temui pada drama melainkan juga sering ia temui di novel-novel klise.

 

“Manhattan, Upper Eastside, 10 East 75th Street, please.” Ujar Surin ketika supir taksi itu menanyakan tujuan mereka. Surin melihat supir taksi itu mengangguk, menyetujui seraya mulai menyalakan mesin mobil. Baru saja taksi yang ditumpanginya hendak meninggalkan bandara tersebut, seorang laki-laki dengan tergesa-gesa masuk kedalam taksi dan dengan cepat mengatakan tujuannya pada supir taksi yang hanya terdiam itu. Surin yang seakan baru sadar dari rasa terkejutnya langsung menegur laki-laki dengan topi hitam dan jaket denim gelap itu.

 

“Permisi? Maaf, tapi saya yang terlebih dulu menaiki taksi ini.” Surin berujar dengan bahasa Inggris berlogat Korea. Laki-laki dengan kacamata baca itu menatap Surin dengan kedua mata yang terbelak, seolah baru menyadari bahwa taksi yang dinaikinya sudah lebih dulu memiliki penumpang.

 

“Nona, saya sedang sangat terburu-buru. Saya minta maaf tapi bisakah anda mengalah saja?”

 

Surin menatapnya keheranan. “Apa? Mengalah? Maaf tapi saya juga sedang terburu-buru dan tidak punya waktu untuk mengalah. Anda memangnya tidak pernah dengar kalimat ‘siapa cepat dia dapat’ ya?” Laki-laki itu menghela napasnya seraya melepas topi hitam yang ada diatas kepalanya sehingga rambut berwarna hitam pekatnya turun ke dahi.

 

“Nona, saya serius. Saya butuh taksi ini sekarang juga. Atau kita gunakan berdua? Baiklah, setuju. Pak, antar saya terlebih dulu baru antar nona ini.” Ujar laki-laki itu membuat Surin menganga tidak percaya.

 

“Apa-apaan? Selagi saya masih bersikap sopan, tolong anda keluar dari taksi ini. Saya yang terlebih dulu mendapatkan taksi ini, dan saya tidak ingin berbagi dengan orang asing seperti anda.” Surin berujar sarkastik. Emosinya naik dengan cepat, beriringan dengan rasa lelah yang menggeragoti tubuhnya.

 

“Sepertinya nona adalah orang Korea? Sesama orang Korea tidak ada salahnya mengalah, kan? Atau kalau tidak mau mengalah, berbagi itu lebih tidak salah lagi, kan?” Laki-laki itu berujar dengan bahasa Korea membuat supir taksi yang kebingungan tampak makin kebingungan. Surin sendiri benar-benar tidak habis pikir dengan orang asing yang dihadapinya sekarang ini.

 

“Saya tidak ingin mengalah ataupun berbagi. Jadi lebih baik, anda keluar sekarang.”

 

“Saya janji jika kita saling bertemu lagi, disini ataupun di Korea, saya akan mentraktir nona makanan lezat, jika nona membiarkan saya untuk turut menumpangi taksi ini. Bagaimana?” Surin menghela napasnya dengan berat. Ia mengalihkan pandangannya dari laki-laki yang memusingkan itu ke luar jendela taksi tersebut. Hari semakin larut dan jam pada layar ponselnya sudah menunjukan pukul satu pagi. Surin yakin jika ia tetap keras kepala menendang laki-laki itu keluar dari taksinya sekarang ini, laki-laki itu akan kesulitan mendapatkan taksi lain.

 

Surin menarik napasnya kemudian memijat dahinya dengan pelan. “Baiklah. Tapi antar saya terlebih dulu.” Ujar Surin dengan bahasa Inggris pada supir taksi itu membuat laki-laki yang kini duduk disebelahnya mengangguk setuju sambil berterima kasih. Taksi pun mulai melaju meninggalkan bandara dengan kecepatan sedang.

 

Sekitar sepuluh menit berlalu, Surin hanya terdiam sembari menatap jalanan kota New York yang ramai. Gedung-gedung pencakar langit dengan lampu-lampu mewah dari gedung ke gedung berhasil menarik seluruh perhatian Surin. Kota itu ramai, namun tertata rapi dan sangat modern. Tidak salah jika New York dinobatkan sebagai salah satu kota paling maju di dunia. Otak Surin kemudian berputar, seolah mengingatkannya akan tujuannya berada di negara Paman Sam itu. Ya, tujuannya adalah mencari kekasihnya yang selama dua tahun sudah meninggalkannya begitu saja di Korea dengan berkata bahwa kepergiannya adalah untuk meneruskan cita-citanya juga cita-cita keluarganya menjadi seorang arsitek handal.

 

Mungkin kau bisa berkata bahwa seharusnya Surin menunggu saja dengan sabar, mengingat kepergian kekasihnya itu adalah untuk urusan pekerjaan. Dua tahun Surin sudah menunggu. Surin sebenarnya bisa saja menunggu lebih lama, asalkan laki-laki itu memberinya sedikit kabar. Tidak perlu kabar jadwal kepulangannya ke Korea, Surin hanya ingin laki-laki itu mengabari Surin tentang bagaimana keadaannya sekarang ini. Surin juga hanya ingin tahu apakah ia sekarang sudah berhasil menjadi arsitek handal seperti yang dicita-citakannya. Tapi laki-laki itu malah menghilang tanpa jejak, membiarkan Surin dan semua rasa penasarannya begitu saja.

 

Surin akan mencarinya. Entah ia harus mencari kemana, tapi Surin sudah bertekad untuk mencarinya. Disamping ingin mengetahui hal-hal yang sudah disebutkannya diatas, Surin sebenarnya juga ingin mengetahui sesuatu. Sesuatu yang berkaitan dengan hubungan mereka berdua. Sesuatu yang sampai saat ini masih mengganjal hatinya.

 

“Sepertinya nona benar-benar baru sampai disini, ya? Kalau begitu, kita sama.” Laki-laki itu menoleh seraya tersenyum manis. Kalau saja ia tidak berbicara dengan bahasa Korea yang fasih dan logat yang khas, Surin tidak akan percaya laki-laki itu adalah orang Korea. Surin akan mengira laki-laki itu warga asli Amerika karena wajahnya yang tidak terlalu Asia.

 

Surin hanya menatapnya tanpa ingin membalas dan tidak lama kemudian ia mengalihkan pandangannya kembali pada jendela disebelahnya. Surin memang tidak begitu ramah dengan orang yang baru dikenalnya, mungkin itu juga mengapa ia tidak begitu banyak memiliki teman dekat. Tunggu, tadi Surin berpikir apa? Orang yang baru dikenalnya? Surin bahkan tidak mengetahui nama laki-laki yang kini tengah tertawa kecil itu.

 

“Sepertinya juga nona adalah orang yang kurang bersahabat, ya? Kalau begitu, kita sama lagi.” Surin benar-benar ingin menendangnya dari dalam taksi itu sekarang juga setelah ia mendengar ucapan laki-laki itu barusan. “Kalau boleh tahu, apa alasan nona berada disini sekarang? Apa nona akan mengenyam pendidikan disalah satu kampus yang ada disini? Atau hanya berlibur?” Sambungnya membuat Surin mendengus.

 

“Maaf tapi saya rasa itu bukan urusan anda.” Jawab Surin yang sudah tidak tahan dengan orang tersebut. Dia bilang dia kurang bersahabat? Memangnya ada orang yang kurang bersahabat tapi terus memberikan pertanyaan-pertanyaan yang seakan ingin mengajak berteman seperti itu?

 

“Memang bukan, sih.” Jawabnya seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan mengalihkan pandangannya pada jendela taksi. Keheningan sempat menyelimuti mereka sampai Surin merasa tidak enak hati telah berkata kasar pada laki-laki itu. Surin berpura-pura berdeham sambil mencuri pandang ke arah laki-laki yang kini tengah memeluk ransel hitamnya itu.

 

“Jauh-jauh dari Korea lalu kemari hanya membawa ransel itu?” Surin bersuara, bermaksud untuk mencairkan keheningan yang tadi ia ciptakan. “Saya tidak akan lama disini.” Ujarnya membuat Surin hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

 

“Saya berharap saya tidak akan lama disini.” Ujarnya lagi membuat Surin menoleh. Matanya bertemu pada sepasang mata tajam milik laki-laki itu. Sinar lampu dari luar yang menembus  jendela kaca taksi itu jatuh tepat pada kedua matanya sehingga Surin dapat melihat warna asli mata laki-laki itu yang adalah cokelat pekat. Surin tidak memahami apa maksud perkataan laki-laki itu barusan. Surin juga tidak ingin memikirkannya terlebih lama. Ia mempunyai masalahnya sendiri, sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan ucapan laki-laki yang sepertinya juga tengah menghadapi masalah itu. Atau memikirkan warna mata laki-laki itu yang begitu familiar dan juga… menarik. Sebenarnya apa yang tengah Surin pikirkan saat ini, sih?

 

“Tujuan saya kemari adalah membawa tunangan saya kembali ke Korea. Jadi, lama atau tidaknya saya disini tergantung pada perempuan itu.” Surin berpura-pura terbatuk, seketika merasa canggung karena laki-laki yang baru dikenalnya itu malah menceritakan masalah pribadi pada Surin, yang juga baru dikenal oleh laki-laki itu.

 

“O-oh begitu rupanya.” Keheningan kembali menyeruak ke seluruh penjuru taksi tersebut. “Seharusnya anda bawa baju lebih banyak. Membujuk seorang perempuan itu membutuhkan waktu yang banyak dan tenaga serta kerja keras.” Ujar Surin membuat laki-laki itu terbahak. Kedua manik mata cokelat pekatnya berganti dengan dua buah lengkungan berbentuk bulan sabit.

 

“Nona, sudah sampai.” Sang supir berujar membuat Surin langsung mengalihkan pandangannya dari kedua lengkungan bulan sabit itu pada sang supir taksi. Surin merogoh tas selempangnya namun laki-laki yang berada disebelahnya menahan pergelangan tangannya. “Turun saja. Biar saya yang bayar. Terima kasih karena sudah mau berbaik hati berbagi taksi ini. Dari awal saya sudah tahu nona pasti tidak akan membiarkan saya turun begitu saja dari taksi ini. Tapi lain kali, nona harus lebih berhati-hati. Jangan terlalu baik pada sembarang orang.”

 

Surin hanya menganga mendengar rentetan ucapan laki-laki itu. “Anda pikir anda bukan sembarang orang? Memangnya anda siapa kalau bukan sembarang orang?” Surin berujar sarkastik membuat laki-laki itu tertawa canggung. Surin langsung merasa bersalah telah mengucapkan kata-kata yang kasar.

 

“Nanti juga nona akan tahu sendiri ketika kita bertemu lagi. Sekarang turunlah. Saya yang bayar. Selamat beristirahat.” Surin hanya membungkuk, mengucapkan terima kasih, kemudian segera turun dari taksi tersebut. Surin mengambil kopernya dari bagasi, kemudian membungkuk sekali lagi. Alasan dia membungkuk adalah satu untuk mengucapkan terima kasih, dua untuk mengucapkan maaf karena sudah sangat kasar, dan tiga untuk mengucapkan selamat tinggal.

 

Mesin taksi yang tadinya mati pun kembali hidup membuat Surin seolah tersadar dari lamunan panjangnya. “Hei, Tuan Taksi! Saya belum tahu nama anda!”

 

“Tuan Taksi? Hahaha! Panggilan yang bagus. Nanti akan saya beritahu ketika kita bertemu lagi. Sampai bertemu lagi!” Ujar laki-laki itu seraya tersenyum manis kearah Surin yang kini hanya dapat terdiam, memandangi taksi itu berlalu begitu saja.

 

Bertemu lagi? Surin merasa berdosa karena dalam hatinya ia juga berharap ia akan bertemu lagi dengan laki-laki yang tidak ia ketahui siapa namanya itu.

 

“Astaga, Jang Surin. Apa kau baru saja melakukan selingkuh hati? Pada orang yang baru kau temui? Pada orang yang sudah memiliki tunangan? Dasar perempuan gila.” Surin menepuk kepalanya sendiri kemudian melangkahkan kakinya menuju pagar rumah minimalis milik Paman Park, teman dekat ibunya.

 

Surin memegang pagar pintu itu kemudian mengambil napas dan menghembuskannya. “Oh Sehun, aku pasti akan menemukanmu.”

 

**

 

“Paman Park tidak perlu repot-repot memanggil tour guide pribadi untukku. Aku benar-benar bisa berpergian sendiri.”

 

Pagi itu suasana ruang makan benar-benar hangat. Paman Park dan keluarganya menerima Surin dengan sangat baik. Bibi Park bahkan memasakan berbagai macam makanan spesial untuk sarapan pagi yang sekarang terhidang dihadapan mereka. Anak perempuan Paman Park yang bernama lengkap Park Jimi juga sangat baik. Surin tidak mengingatnya dengan jelas, akan tetapi ibunya berkata Jimi adalah teman mainnya sedari masing-masing dari mereka duduk disekolah dasar. Jimi harus pindah ke Amerika dan berkuliah disini karena tuntutan pekerjaan ayahnya yang mengharuskan mereka sekeluarga pindah dari Korea. Gadis itu jugalah yang lebih dulu memaksa Surin untuk menggunakan tour guide selama liburannya di Manhattan, New York ini, sehingga Paman Park langsung menyetuju ide Jimi.

 

“Sayang sekali aku harus pergi ke Los Angeles. Aku akan liburan bersama kekasihku di Los Angeles selama dua minggu kedepan. Kalau aku tahu dari jauh-jauh hari kau akan kesini, aku tidak akan menyetujui ajakan liburan bersama itu dan lebih memilih untuk menemanimu jalan-jalan disini.” Ujar Jimi membuat Surin langsung tersenyum lembut. “Tidak apa. Lagipula aku benar-benar bisa berpergian sendiri, Jimi-ya. Kalian tenang saja.” Balasnya membuat keluarga Park itu menyetujui ucapan Surin. Tiba-tiba bel rumah berbunyi dan Jimi dengan senang langsung melenggang ke arah pintu utama. Mungkin itu adalah kekasih Jimi, batin Surin.

 

Ya, keluarga Park memang tidak tahu bahwa tujuan Surin kesini bukan untuk berlibur seperti yang mereka pikirkan, melainkan untuk mencari kekasihnya. Surin tidak tahu harus mencari kemana tapi hari ini juga ia akan memulai pencariannya.

 

“Selamat pagi, kedua calon mertua, Paman Park dan Bibi Park.” Sapa seorang laki-laki yang kini tengah digandeng oleh Jimi. “Ah, rupanya Surin sudah benar-benar sampai dengan selamat. Pantas saja kemarin aku ditelpon oleh Oh Seh—”

 

“Surin-a, ini kekasihku Byun Baekhyun. Ia juga orang asli Korea yang menetap disini. Baekhyun merupakan seorang dokter spesialis disalah satu rumah sakit besar yang ada di Manhattan.” Jimi memotong ucapan Baekhyun membuat Surin yang kebingungan hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Pertanyaan sekarang melayang dikepalanya. Mengapa kekasih Jimi bisa mengetahui namanya? Lalu tadi apa yang dikatakannya? Oh Seh apa? Oh Sehun? Kekasihnya? Apa laki-laki bernama Baekhyun itu mengenal kekasihnya?

 

“Apa anda mengenal laki-laki bernama Oh Seh—” Ucapan Surin terpotong karena Bibi Park menyentuh tangannya. “Surin-a, katanya kau ingin jalan-jalan pagi di Times Square? Segeralah, sebelum Times Square mulai dipenuhi orang. Pagi-pagi adalah waktu yang tepat untuk berkeliling Times Square.” Surin melirik jam tangan berwarna cokelat muda yang bertengger apik dipergelangan tangan kirinya.

 

“Ah iya, sudah pukul sembilan pagi. Kalau begitu aku permisi dulu. Aku akan kembali sebelum pukul delapan malam. Terima kasih untuk sarapannya, Bibi Park! Aku pergi!” Surin berujar semangat seraya menyampirkan tas selempangnya dan berlalu begitu saja setelah sebelumnya ia mengambil tas berisi netbook didalam kamar tidurnya.

 

Aneh, pagi hari yang sangat aneh. Surin benar-benar tidak mengingat ia pernah bertemu kekasih Jimi sebelumnya, tapi mengapa laki-laki itu seakan sudah lama mengenalnya? Mengapa juga Surin merasa kekasih Jimi yang bernama Byun Baekhyun itu mengenal Oh Sehun?

 

“Sepertinya aku memang benar-benar melupakan banyak hal.”

 

**

 

 

Surin menusuri jalanan kota Manhattan, New York itu dengan santai. Sesekali ia harus melihat GPS pada ponselnya untuk sekedar memastikan bahwa sekarang ini ia berada di jalan bernama Broadway yang akan membawanya menuju Times Square Plaza.

 

Pilihan Surin untuk berjalan dari rumah Paman Park menuju Times Square Plaza memang tepat. Selain berolahraga pagi dengan berjalan kaki selama dua puluh menit, Surin benar-benar menikmati pemandangan kota Manhattan, New York pada pagi hari. Memang ramai, akan tetapi para pejalan kaki maupun yang menggunakan kendaraan saling menghormati dan benar-benar menaati rambu lalu lintas. Banyak pekerja yang tampak sibuk dan tergesa-gesa, banyak juga orang-orang yang menikmati olahraga pagi mereka dengan berjogging ataupun sekedar bersepeda. Surin sedari tadi bahkan tidak dapat berhenti mengabadikan keadaan disekitarnya dengan menggunakan kamera mirrorless ala vintage kesayangannya yang ia gantung pada lehernya.

 

Surin tersenyum ketika akhirnya ia sampai di Times Square Plaza. Times Square merupakan salah satu tempat persimpangan pejalan kaki yang juga menjadi salah satu pusat industri hiburan dunia yang utama dengan banyaknya tempat dan industri hiburan mengelompok di area ini. Salah satunya adalah museum lilin Madame Tussauds yang ingin sekali Surin kunjungi. Times Square identik dengan kemeriahan papan-papan reklame juga plazanya yang ramai dan ikonik. Times Square Plaza sendiri merupakan area terbuka ditengah jalan Broadway yang menjadi zona bebas kendaraan.

 

Di Times Square Plaza terdapat banyak meja dan kursi yang biasa digunakan oleh pengunjung untuk duduk-duduk sambil menikmati makanan atau minuman yang dipesan dari restaurant sekitar. Times Square Plaza mirip seperti restaurant atau cafe outdoor. Letaknya yang berada ditengah-tengah jalan ramai dan diantara gedung-gedung bertingkat serta papan iklan warna-warni membuat Times Square Plaza memiliki pemandangan yang unik, meriah, dan sangat khas New York.

 

Setelah mengedarkan pandangannya untuk sesaat, Surin memutuskan untuk melangkahkan kakinya ke sebuah cafe terkenal Starbucks yang berada tidak jauh darinya. Sambil mengantri, Surin berusaha memutar otaknya, mencari ide bagaimana cara bertemu dengan kekasihnya, Oh Sehun. Pasalnya Surin benar-benar tidak mempunyai alamat ataupun petunjuk apapun yang dapat membawanya pada laki-laki itu. Satu-satunya yang ia punya hanyalah nomor telepon laki-laki itu. Nomor telepon yang tidak kunjung dapat dihubungi sehingga sempat membuat Surin memutuskan untuk tidak pernah mencoba menghubungi lagi sejak enam bulan yang lalu.

 

Surin menatap kontak bernama ‘Oh Sehun’ itu lambat-lambat, merasa ragu untuk melakukan sebuah panggilan. “Selamat pagi nona, pesanan anda?” Surin mengalihkan pandangannya pada pelayan cafe itu lalu tersenyum singkat. “Chocolate frappuccino dan cheese cake.”

 

Itu memang dua menu yang akan dipesan Surin, tapi barusan Surin benar-benar belum mengatakan apa-apa. Surin langsung menoleh kearah sumber suara dan matanya membelak lebar. “Tuan Taksi?” Ujarnya spontan. “Selamat pagi nona. Antriannya panjang. Aku menumpang pesanan lagi tidak apa, kan? Dua chocolate frappuccino, dua cheese cake untuk saya dan nona ini.” Ujarnya pada pelayan cafe itu dan pelayan itu segera mengangguk lalu mengurus pesanan tersebut.

 

Surin memandang laki-laki itu sambil tertawa tidak percaya. “Pertama, anda telah main menyerobot antrian. Kedua, anda main menumpang padahal saya belum menyetujui. Dan ketiga, bagaimana bisa anda memesan pesanan saya tanpa bertanya apa yang saya inginkan terlebih dulu? Tuan taksi, haruskah saya mengubah nama panggilan anda dengan tukang menumpang dan tukang sok tahu?” Surin tidak percaya New York benar-benar sempit. Bagaimana ia bisa benar-benar bertemu lagi dengan laki-laki asing yang berada disampingnya sekarang ini, sih?

 

“Tapi anda memang akan memesan pesanan itu, kan?” Laki-laki itu tersenyum sembari menerima pesanan mereka disebuah nampan berwarna cokelat gelap. Surin masih memandangnya dengan tatapan tidak percaya. Baiklah, memang benar Surin baru akan memesan dua menu itu. Lalu apa? Laki-laki ini sedang berusaha memberitahunya bahwa ia bisa membaca pikiran orang?

 

Surin seolah tersadar dari lamunannya ketika laki-laki itu mengeluarkan sejumlah uang dari dalam dompetnya. Surin langsung menahan tangan laki-laki itu dan menyerahkan uangnya sendiri setelah sebelumnya ia merogoh tas selempang berwarna hitamnya dan menemukan dompetnya. “Hitung-hitung bayaran taksi kemarin.” Ujar Surin pendek seraya mengambil dua buah pesanannya yang berada diatas nampan itu. “Saya pergi dulu.” Sambung Surin dan berjalan cepat keluar dari cafe itu untuk menemukan tempat duduk kosong diluar cafe.

 

“Hei, tunggu dulu!” Panggil laki-laki bertubuh tinggi itu namun Surin tidak ingin menoleh dan terus berjalan. Ia segera menempatkan diri setelah ia menemukan tempat duduk dan meja yang kosong. Laki-laki yang Surin sebut sebagai Tuan Taksi itu menempatkan dirinya dihadapan Surin dan segera menikmati chocolate frappuccinonya tanpa memandang Surin yang kini memandangnya dengan tatapan kesal.

 

“Ternyata New York benar-benar sempit. Bagaimana kita bisa bertemu lagi, ya?”

 

“Apa sekarang anda juga berniat untuk menumpang tempat?” Surin membuka netbooknya tanpa ingin menghiraukan si Tuan Taksi yang hanya tertawa kecil. Surin mulai mencari daftar nama perusahaan property yang ada di New York, dan sepersekian detik kemudian ia menganga melihat begitu banyaknya perusahaan property yang tersebar diseluruh penjuru New York. Surin memijat pelipisnya pelan, merasa pening karena idenya mengunjungi perusahaan property yang ada di New York dan bertanya apakah ada kepala arsitek bernama Oh Sehun benar-benar mustahil dan memakan banyak waktu. Surin meminum chocolatte frappuccinonya, guna membasahi tenggorokannya yang kering, juga kepalanya yang tiba-tiba seolah kering akan ide mengenai bagaimana ia akan menemui Sehun di kota sebesar ini.

 

Surin pun memakan cheese cakenya sembari terus memandangi layar netbooknya. Setelah beberapa menit, gadis itu merasa ada yang janggal. Surin kemudian mengalihkan pandangannya dari layar netbooknya pada si Tuan Taksi yang sedari tadi mengamatinya. “Ada apa?” Tanya Surin sementara si Tuan Taksi masih memandanginya.

 

“Ada krim di ujung bibirmu.” Ujar si Tuan Taksi membuat Surin langsung mengambil tisu untuk membersihkan noda krim itu dari wajahnya. “Ah, bukan disitu.” Lanjutnya seraya mengambil tisu yang lainnya dan mengelap ujung bibir Surin. Kedua mata mereka bertemu satu sama lain, membuat suasana sempat beku untuk beberapa saat. Manik cokelat pekat itu, alis mata yang tegas, hidungnya yang lancip, bibirnya yang berwarna merah muda alami membuat bibir Surin kelu untuk sesaat. Surin tidak mengerti sentuhan tisu pada ujung bibirnya membawa dampak sebesar ini bagi dirinya. Surin bahkan tidak mengerti sama sekali apa yang ada dipikirannya saat ini.

 

Ketika si Tuan Taksi meletakan tangannya kembali di meja, Surin masih belum bisa tersadar dari lamunannya. “Boleh aku memberitahumu sesuatu?”

 

“Apa? Tunggu, apa yang anda katakan barusan? Aku? Anda baru saja berbicara dengan bahasa informal.” Surin menegur membuat laki-laki itu membetulkan posisi duduknya.

 

“Kau cantik. Dan aku senang kita bisa bertemu lagi.”

 

Surin terdiam. Seolah sesuatu baru saja meremas perutnya sendiri.

 

“Hanya ingin sekedar mengingatkan. Tujuanmu kemari adalah mengajak tunanganmu kembali ke Korea.” Ujar Surin namun hanya gelak tawa yang ia dengar dari laki-laki itu. “Lalu apa hubungannya? Oh, juga kau baru saja turut berbicara dengan bahasa informal. Apa sekarang kita bisa menjadi teman untuk satu sama lain?” Si Tuan Taksi memakan cheese cakenya sambil terus tersenyum membuat Surin yang melihat senyum kecil itu hanya berdeham canggung.

 

Surin menyerahkan foto yang berada di dompetnya ke hadapan si Tuan Taksi. Laki-laki itu hanya memandangi foto itu lambat-lambat. “Kau pernah bertanya kan padaku mengenai alasanku ke New York? Orang yang berada disampingku itu adalah alasanku. Laki-laki itu bernama Oh Sehun. Sama sepertimu, aku ingin membawa kekasihku itu kembali ke Korea.” Ujar Surin sambil turut memperhatikan fotonya dengan seorang laki-laki yang memeluk bahunya. Surin tampak mengenakan pakaian rumah sakit dan tengah duduk dibangku taman bersama laki-laki yang tersenyum manis itu.

 

“Ah, itu fotoku bersamanya yang pertama, yang diambil tiga hari setelah terbangun dari koma selama satu tahun. Itu sebabnya aku mengenakan pakaian rumah sakit dalam foto itu.” Terang Surin kemudian ia kembali menyesap chocolate frappuccinonya. “Aku memang tidak tahu harus mencarinya kemana sekarang, tapi aku yakin aku akan segera bertemu dengannya. Waktuku hanya satu minggu. Jika aku tidak bertemu juga dengannya selama satu minggu, aku sudah berjanji untuk menyerah dan menerima perjodohan yang disusun oleh kedua orangtuaku.” Sambungnya lagi.

 

“Aku hanya berkata bahwa kau cantik, kau tidak perlu memberitahuku bahwa kau sudah memiliki kekasih sampai sejelas ini.” Ujar si Tuan Taksi seraya menyerahkan foto itu kembali pada Surin. Surin terdiam, mengutuki kebodohannya sendiri yang terlalu percaya diri.

 

“Lalu bagaimana denganmu? Bagaimana dengan tunanganmu itu? Apa kau tahu keberadaannya dimana sekarang? Kalau begitu, kau masih lebih beruntung dariku.” Laki-laki yang kini mengenakan kemeja berwarna biru muda dengan celana bahan bewarna abu-abu gelap itu hanya memandangi Surin, kemudian ia menghela napasnya.

 

“Tidak jauh lebih beruntung darimu. Aku memang tahu keberadaannya sekarang, tapi aku belum bisa membuatnya yakin untuk kembali ke Korea bersamaku.” Surin berdecak mendengar suara sendu si Tuan Taksi. “Dasar laki-laki. Aku beritahu padamu, jika perempuan itu benar-benar mencintaimu, kau hanya perlu memunculkan dirimu dihadapannya. Ia pasti akan langsung memelukmu, bahkan sebelum kau mengucapkan kata maaf sekalipun. Kau hanya perlu menunjukan dirimu padanya. Hanya itu.” Ujar Surin dengan nada yang menyakinkan sementara orang yang diajak bicara tidak merespon apapun. Ia hanya terdiam, menatap Surin lambat-lambat membuat Surin langsung meraba wajahnya sendiri, curiga krim diwajahnya belum hilang sepenuhnya.

 

“Aku juga sudah berniat untuk tidak menyembunyikan diri lagi. Kali ini aku akan memunculkan diriku dihadapannya.” Laki-laki itu menghela nafasnya kemudian tersenyum tipis. Ia mengedarkan pandangannya kemudian melihat tempat penyewaan sepeda tidak jauh dari tempat mereka sekarang ini. “Kau sedang sibuk?” Tanya si Tuan Taksi pada Surin membuat Surin hanya mengangkat bahunya. “Tidak terlalu. Aku rasa aku akan berdiam diri disini sampai nanti sore dan berpikir mengenai bagaimana aku harus mencari kekasihku itu.”

 

“Kalau hanya duduk dan berpikir, itu akan sangat membosankan. Bagaimana kalau berpikirnya sambil bersepeda?” Surin menganga ketika si Tuan Taksi menutup layar netbooknya, memasukannya kembali kedalam tas yang berada diatas meja tersebut, lalu menarik pergelangan tangan Surin. “Tuan Taksi! Apa-apaan kau ini?! Kalau kau mau bersepeda, sana sendiri saja! Aku tidak ada waktu untuk bersepeda!” Surin berusaha melepaskan diri namun mereka keburu sampai pada tempat penyewaan sepeda itu.

 

Si Tuan Taksi menyerahkan setir sepeda yang dikeluarkannya pada Surin kemudian menaiki sepedanya sendiri. “Kau perlu menyegarkan pikiranmu terlebih dulu baru kau akan mendapatkan ide yang cemerlang untuk mencari kekasihmu itu. Percayalah kau akan berterima kasih padaku nantinya.” Si Tuan Taksi langsung menjalankan sepedanya membuat Surin yang entah mengapa merasa panik karena ditinggal segera menaiki sepedanya sendiri. Ia menggantung tas netbooknya pada setir sepeda tersebut dan membetulkan letak tas selempangnya sebelum ia menyusul laki-laki yang sudah jauh didepannya itu.

 

“Tuan Taksi! Tunggu aku!” Surin berseru. Untung hari ini Surin mengenakan celana jeans serta sepatu kets, sehingga ia jadi lebih mudah mengayuh pedal sepeda tersebut. Si Tuan Taksi melambatkan kayuhannya pada pedal sepedanya, menyeimbangkan sepedanya sendiri dengan sepeda Surin. Surin tersenyum, ketika melihat si Tuan Taksi turut tersenyum disebelahnya.

 

“Pelan-pelan.” Ujar laki-laki itu penuh perhatian membuat senyuman Surin semakin mengembang. Surin tahu ia tidak seharusnya seperti ini sekarang. Ia harusnya mencari informasi disemua kantor property yang ada di New York daripada mengesampingkan tujuan utamanya seperti sekarang ini. Bukannya mencari kekasihnya, ia malah bersepeda bersama laki-laki yang baru dikenalnya. Surin juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri.

 

Suasana Manhattan pagi itu benar-benar membuat perasaan Surin entah mengapa sangat senang. Sinar matahari yang tidak begitu menyengat, udara yang sejuk, pemandangan gedung-gedung pencakar langit disebelah-sebelahnya benar-benar menambah perasaan senang Surin. Surin tahu ia sudah berpikir gila sekarang karena hampir menyebut laki-laki yang kini meletakan satu tangannya disetir sepeda Surin, menyuruh gadis itu untuk mengayuh sepedanya lebih kuat agar ia dapat tertarik adalah salah satu faktor yang menambah perasaan senangnya.

 

Sekitar dua puluh menit Surin menjelajahi daerah Fifth Avenue, Manhattan bersama laki-laki itu. Fifth Avenue adalah sebuah jalan utama Manhattan yang terkenal sebagai jalan pusat perbelanjaan bergengsi, yang memiliki departement store mewaj juga butik-butik fashion ternama.

 

Mereka terus bersepeda sampai-sampai tidak mereka sadari sudah hampir satu jam mereka mengayuh pedal sepeda mereka masing-masing. Surin bahkan sudah merasa cukup lelah. Sepeda laki-laki itu berbelok kearah timur Fifth Avenue. Mereka memasuki lokasi Central Park, yang adalah jantung hijau kota. Central Park dianggap sebagai tempat pelarian warga New York yang ingin melepaskan diri sejenak dari hiruk pikuk dan seluk beluk gedung bertingkat.

 

Central Park benar-benar luas. Terbentang dari utara sampai selatan kota Manhattan, New York. Selain memiliki sejumlah area taman dengan deretan bangku taman dan lampu yang cantik, Central Park memiliki area hutan alami, taman konservasi tumbuhan, cagar alam aneka fauna, kebun binatang, waduk, beberapa danau dan kolam, sejumlah lapangan dan area taman berumput untuk olahraga, taman untuk jalan-jalan, jogging, bermain skateboard, bahkan sampai menunggang kuda. Central Park juga memiliki 2 lapangan ice skating, theatre, komedi putar, 21 playground anak, dan sebuah kastil. Benar-benar menakjubkan, sampai-sampai Surin menganga melihat denah taman kota itu.

 

“Sedang apa kau berdiam saja disitu? Kau benar-benar kelihatan seperti turis sekarang. Hahaha.” Si Tuan Taksi tertawa seraya memperhatikan Surin yang memberhentikan sepedanya begitu saja didepan sebuah papan denah. “Kejar aku kalau bisa!” Si Tuan Taksi melajukan sepedanya membuat Surin langsung menyusulnya. “Tuan Taksi! Aku benar-benar sudah tidak kuat! Kita harus istirahat!” Surin berujar namun si Tuan Taksi malah melajukan sepedanya dengan semakin cepat membuat Surin juga turut melakukan hal yang sama.

 

“Ya! Ya! Aku tidak bisa mengendalikan sepeda ini!” Surin menekan dua rem yang ada disepeda tersebut namun tidak membuahkan hasil. Dalam sepersekian detik kemudian, sepeda yang ditumpangi Surin menabrak salah satu pohon yang ada di dekat danau taman tersebut. “Aish!” Surin mengumpat kemudian tidak lama si Tuan Taksi menghampiri dengan panik.

 

“Kau tidak apa-apa? Apa ada yang luka? Bagian mana yang sakit? Kepalamu tidak terbentur, kan? Kakimu apa ada yang terkilir?” Tuan Taksi memeriksa Surin yang saat ini terduduk diatas rumput taman tersebut dari ujung kepala sampai ujung kaki. Surin hanya memperhatikannya yang khawatir itu tanpa berkata apa-apa. Lututnya luka sedikit, karena ia mengenakan jeans bermodel robek. “Ah, lututmu terluka.” Laki-laki itu tanpa berkata apapun langsung menggendong Surin ala bridal style membuat gadis itu memekik terkejut.

 

Si Tuan Taksi menempatkan Surin pada sebuah kursi panjang berwarna putih yang berada tidak jauh dari mereka. Surin masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari laki-laki itu. “Aku akan pergi ke minimarket terdekat untuk membeli plester dan air mineral. Kau tunggu disini sebentar.” Surin mengangguk pelan ketika ia seolah baru tersadar dari lamunannya. Si Tuan Taksi langsung meninggalkan tempat tersebut dengan sepedanya. Ia tampak begitu terburu-buru dan benar-benar panik. Surin hanya memandanginya dan punggungnya yang semakin menjauh.

 

Surin merasa aneh. Surin tahu ia tidak boleh terlalu percaya diri. Ia juga tidak ingin berkata bahwa Tuan Taksi benar-benar khawatir padanya. Akan tetapi kekhawatiran dan semua perhatian Tuan Taksi membuatnya teringat akan sesuatu. Surin juga tidak mengerti. Sedari awal ia bertemu dengan Tuan Taksi, semuanya yang ada pada diri laki-laki itu benar-benar mengingatkannya pada Oh Sehun, kekasihnya.

 

Surin memandangi tenangnya air danau yang ada dihadapannya. Pikirannya kosong untuk beberapa saat. Ia bingung. Ia bingung dengan perasaannya sendiri, dan dengan kekusutan yang kini memenuhi otaknya. Pasalnya Surin tidak pernah merasa sedekat ini dengan orang yang baru dikenalnya. Ada keganjalan dalam hatinya. Keganjalan yang mengatakan bahwa ia sudah mengenal Tuan Taksi dari lama.

 

“Apa aku terlalu lama?” Tuan Taksi menghampiri Surin dan merogoh plastik minimarket yang dipegangnya. Tuan Taksi mengeluarkan sapu tangannya dari dalam saku celana bahannya kemudian membasahinya sedikit dengan air mineral dan membersihkan luka pada lutut Surin. “Aish, makanya jangan pakai celana robek-robek seperti ini. Ingat, keselamatan itu adalah hal yang pertama. Lain kali pakai celana jeans yang tertutup.” Tuan Taksi memasangkan plester pada lututnya kemudian mengelus lutut itu dengan khawatir.

 

Surin dapat melihat peluh keringat didahinya, juga tatapan khawatir yang tidak dapat Surin mengerti. “Tuan Taksi, aku ingin bertanya padamu.” Si Tuan Taksi mendongakan kepalanya sehingga kini ia bisa melihat wajah Surin dengan jelas. Kedua alis gadis itu bertaut, seolah-olah ia baru saja berpikir panjang mengenai sesuatu hal. “Silahkan saja.” Jawab Tuan Taksi singkat.

 

Surin menghela napasnya, kemudian memandang Tuan Taksi dengan tatapan serius. “Apa kita pernah kenal sebelumnya?” Surin akhirnya menyuarakan apa yang kepalanya pikirkan sedari tadi. Tuan Taksi tampak tidak ingin menjawab pertanyaan Surin dan hanya tersenyum padanya, membuat rasa penasaran dalam hati gadis itu semakin membuncah. “Mungkin saja.” Tuan Taksi mengangkat bahunya, seolah enggan membahas pertanyaan Surin lebih jauh. Semakin ia menghindar, Surin semakin yakin bahwa ia dan Tuan Taksi pernah kenal sebelum mereka bertemu disini.

 

“Sepertinya kau tidak bisa menggunakan sepedamu untuk kembali. Itu akan sangat berbahaya. Kau duduk dikursi penumpang sepedaku saja sambil menarik setir sepedamu. Bagaimana?” Tuan Taksi berjalan menuju sepedanya kemudian Surin membuntuti. Surin menempatkan dirinya sendiri pada kursi penumpang yang berada dibelakang kursi pengemudi. Sepeda itu memang sepeda gunung, namun untungnya ada tempat untuk membonceng orang dibelakangnya walaupun tidak senyaman sepeda perempuan seperti milik ibunya.

 

“Sudah siap? Kau harus pegangan agar tidak jatuh lagi.” Ujar Tuan Taksi sembari meletakan satu tangan Surin untuk melingkari pinggangnya. Satu tangan Surin yang lainnya kini memegang setir sepedanya sendiri. Tuan Taksi melajukan sepedanya dengan kecepatan sedang sementara Surin hanya menatap punggung lebar yang ada dihadapannya dengan sendu. Surin tidak mengerti mengapa ia sesedih ini sekarang melihat punggung lebar itu. Surin benar-benar tidak mengerti mengapa sekarang ini satu bulir alir mata jatuh begitu saja membasahi pipinya.

 

Semua yang berhubungan dengan Tuan Taksi terasa begitu familiar. Semuanya terasa tidak asing lagi. Punggungnya yang lebar, manik matanya yang berwarna cokelat pekat, alis matanya yang tegas, hidungnya yang lancip, bibir berwarna merah muda alaminya, kulitnya yang putih seperti susu, bahkan bekas luka pada pipi laki-laki itu dan tahi lalat kecil di lehernya membuat Surin berpikir bahwa sebelumnya ia memang mengenal Tuan Taksi. Surin sempat mengutuk dirinya sendiri yang berkali-kali menyamakan Tuan Taksi dengan Sehun. Tuan Taksi bukanlah Sehun. Jelas-jelas Tuan Taksi dan Sehun adalah dua orang yang benar-benar berbeda, mulai dari sifat maupun rupa mereka. Surin berusaha mengulang kata itu berkali-kali dalam otaknya namun entah mengapa otaknya tidak mau menurut. Surin malah merasa ia sudah kenal lama dengan Tuan Taksi, akan tetapi disatu sisi Surin juga benar-benar tidak tahu apapun mengenai si Tuan Taksi.

 

“Tuan Taksi, terima kasih.” Ujar Surin sementara laki-laki bertubuh tinggi itu tetap mengayuh sepedanya. “Untuk plester ini. Dan untuk mengajakku bersepeda.” Surin berujar seraya memperhatikan plester yang tertempel pada lututnya sendiri.

 

“Kau benar-benar mengingatkanku pada seseorang.” Surin berujar dengan suara kecil namun Tuan Taksi masih dapat mendengarnya. “Mengingatkanmu pada seseorang? Siapa?”

 

“Kekasihku, Oh Sehun.”

 

**

 

“Surin benar-benar sudah sadar? Bagaimana keadaannya sekarang?”

 

Sehun yang tampak berantakan dengan setelan baju kerjanya berlari menghampiri teman-teman dekatnya dan Surin yang kini hanya memandanginya dalam diam. Sehun benar-benar terlihat begitu berantakan. Rambut hitam pekatnya tampak tidak tertata, dasi hitam yang menghiasi kemeja putihnya pun tampak menggelantung longgar dileher kemejanya. Terlalu banyak yang Sehun pikirkan akhir-akhir ini sampai-sampai ia tidak dapat menemukan sedikitpun waktu untuk memperhatikan penampilannya.

 

Jimi yang mulai menangis dipelukan Baekhyun membuat Sehun bertanya-tanya. Tidak lama setelah isakan tangis Jimi, Taerin yang berdiri disebelah Junmyeon pun mulai meneteskan air matanya. Cheonsa hanya memandangi kamar rawat Surin kemudian menunduk diikuti Minseok yang langsung merangkul gadisnya itu sambil menghela napas pelan.

 

“Sebenarnya ada apa dengan Surin? Seseorang tolong jelaskan padaku.” Sehun berujar dengan tidak tenang. Pasalnya pemandangan yang ada dihadapannya sekarang ini berhasil membuatnya berpikir yang tidak-tidak mengenai keadaan Surin. Seharusnya mereka semua bergembira karena Surin baru saja sadar dari koma semenjak kecelakaan mobil yang dialami gadis itu satu tahun yang lalu. Surin sadar dari tidur panjang tidak berujungnya selama satu tahun dan pemandangan yang ada dihadapannya sekarang ini bukanlah pemandangan yang seharusnya Sehun lihat.

 

Jongin dan Chanyeol terlihat saling bertatapan, seolah saling suruh-menyuruh untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Jongdae dan Yixing hanya dapat menunduk, seolah tidak tahu harus berkata apa. Sehun berdecak kemudian berjalan menghampiri Kyungsoo yang tengah terduduk disebuah kursi yang tepat berada didepan kamar rawat Surin. Dari tempatnya berdiri sekarang ini Sehun dapat melihat keadaan didalam kamar rawat tersebut. Sehun terbelak melihat Surin benar-benar sudah dapat membuka matanya. Jika Sehun tidak melihat ibu kandung gadis itu yang menangis keras sambil memegang tangan Surin, sedari tadi Sehun sudah akan masuk ke kamar itu dan memeluk gadis yang amat dirindukannya itu.

 

Sehun tahu ada yang tidak beres. Sehun menatap Kyungsoo yang juga tengah menatapnya. Kyungsoo membetulkan letak kacamata bacanya kemudian menunduk. “Surin kehilangan ingatannya.” Kyungsoo berujar dengan suara lemah dan sepersekian detik kemudian Sehun seolah kehilangan keseimbangan tubuhnya. Jongin dan Chanyeol dengan sigap langsung menahan tubuh Sehun dan menempatkan laki-laki itu disebelah Kyungsoo.

 

Sehun tidak tahu harus berkata apa. Lidahnya kelu, otaknya tidak mampu ia gunakan untuk berpikir barang sedikitpun.

 

Dan dari kejadian itu, semua ini bermula. “Sekarang aku tidak ingin menyembunyikan diriku lagi, Jang Surin.” Seorang laki-laki bertubuh tinggi berujar, memandangi jalanan kota New York yang ramai dari jendela besar kamar hotelnya. Laki-laki itu mengeluarkan sapu tangan dari saku celana panjangnya, kemudian memperhatikan ukiran nama ‘Oh Sehun’ yang ada diujung sapu tangan tersebut. “Aku tidak akan bersembunyi dibelakang orang lain lagi seperti orang bodoh. Aku akan membuatmu ingat padaku bagaimanapun caranya.” Ujarnya seraya terus memperhatikan ukiran nama itu.

 

**

 

“Jadi kau mau mencarinya kemana lagi sekarang? Kau pikir dengan seluruh daftar perusahaan itu kau dapat dengan mudah menemukannya?”

 

Surin menolehkan kepalanya kearah sumber suara kemudian menghela napasnya. “Entahlah. Mungkin aku akan menyerah saja, kembali ke Seoul dan menerima perjodohan itu.” Jawab Surin seadanya. “Tuan Taksi, menurutmu aneh tidak kita bertemu secara tidak sengaja terus seperti ini?” Laki-laki yang juga tengah menatap Surin hanya tertawa sembari menggaruk tengkuknya. Saat ini mereka tengah duduk berhadapan disalah satu kedai ice cream terkenal yang ada dijalan Fifth Avenue.

 

Laki-laki yang hari ini mengenakan baju berbahan kemeja namun tidak berkerah itu tampak tidak menanggapi ucapan Surin dan hanya menyuruh Surin untuk segera menyantap ice cream tersebut sembari memakan miliknya sendiri. “Aku kan hanya heran. Memangnya salah apabila aku bertanya? Lagipula ya, kalau dalam logika yang benar, seharusnya kau tidak ada waktu untuk makan ice cream di siang bolong seperti ini ditengah-tengah tugas besarmu membawa tunanganmu itu kembali ke Seoul.”

 

“Lalu bagaimana dengan tugas besarmu sendiri? Sempat-sempatnya berpikir untuk makan ice cream padahal daftar perusahaan yang ada ditanganmu itu belum sama sekali ada yang kau datangi.” Tuan Taksi membalas membuat Surin hanya mendengus pelan. Surin meletakan kumpulan kertas yang tengah dipegangnya pada meja bundar berwarna pink yang ada dihadapannya. Surin memangku dagunya dengan telapak tangannya kemudian memperhatikan si Tuan Taksi dengan seksama, sementara yang diperhatikan hanya berdeham.

 

“Kau membuntutiku, ya?” Surin memicingkan matanya membuat Tuan Taksi langsung tersedak ice creamnya sendiri. Surin melipat tangannya didepan dada, masih memperhatian gelagat salah tingkah laki-laki yang ada dihadapannya kini. “Tidak apa. Wajar saja kalau kau sudah benar-benar menyerah dengan tunanganmu dan berusaha mencari gadis lain. Tapi maaf, aku sudah milik orang lain.” Laki-laki itu tertawa terbahak membuat Surin pun akhirnya turut menertawai ucapannya sendiri. Surin dapat melihat kedua mata laki-laki itu membentuk lengkungan bulan sabit. Entah mengapa bibirnya merasa kelu begitu saja sehingga dengan perlahan tawanya mulai berhenti.

 

“Tuan Taksi.” Panggil Surin membuat laki-laki yang masih berusaha memberhentikan tawanya itu langsung memandangi wajah serius gadis yang ada dihadapannya. “Jawab pertanyaanku dengan jujur. Apa benar sebelumnya kita pernah mengenal satu sama lain?” Hening untuk sesaat. Kedua manik mata berwarna cokelat pekat itu memandangi milik Surin lambat-lambat. Setelah hampir tiga menit keheningan meliputi mereka, Tuan Taksi tersenyum lembut seraya mengarahkan pandangannya pada ice cream yang berada dihadapannya.

 

“Aku tahu betul kau bukanlah orang asing. Semua tentangmu mengingatkanku pada seseorang yang tidak aku ketahui siapa. Otakku benar-benar terasa begitu buntu saat aku berusaha mencari tahu mengenai dirimu. Mungkin aku memang terdengar seperti orang gila sekarang tapi aku serius. Wajahmu, tubuhmu, suaramu ketika tengah berbicara, suara tawamu, caramu melihatku, caramu memperlakukanku, caramu berpakaian, bahkan sampai aroma tubuhmu mengingatkanku pada seseorang. Baiklah, mungkin kau perlu tahu bahwa aku sempat mengalami—”

 

“Kecelakaan fatal yang menyebabkanmu koma selama satu tahun, lalu setelah berhasil bangun dari koma, kau kehilangan seluruh ingatanmu sampai saat ini.”

 

Surin memandang Tuan Taksi dengan tidak percaya. Jantungnya bahkan terasa jatuh begitu saja, terutama kini ketika Tuan Taksi menggenggam kedua tangannya dengan lembut. “Aku terlalu bodoh. Selama ini aku terlalu bodoh, Jang Surin. Aku membenci kebodohanku, namun disisi lain aku dituntut untuk tidak egois terhadap inginku sendiri.” Tuan Taksi berujar. Suara beratnya terdengar bergetar sementara Surin tidak mengerti mengapa kini matanya sudah mengeluarkan satu bulir air mata. Hatinya terasa begitu sakit, namun ia sendiri tidak mengerti apa yang menyebabkan hatinya merasa demikian.

 

Atau mungkin Surin tahu. Ketika laki-laki itu menyebut nama lengkapnya, Surin ingin berteriak keras, menyuarakan kegilaan kepalanya yang mengatakan bahwa orang yang ada dihadapannya ini adalah orang yang selama ini dicarinya. Surin merasa hampir gila sekarang karena saat ini ia benar-benar ingin menyebutnya Oh Sehun.

 

“Fakta bahwa kau kehilangan ingatan benar-benar memukulku. Seolah dunia tidak merasa kasihan padaku, aku harus dihadapkan dengan fakta menyakitkan lainnya. Setiap aku datang mengunjungimu, kau mengeluarkan darah dari hidungmu dan setelah itu kau pingsan untuk waktu yang panjang.” Laki-laki itu berujar sambil terus memandangi Surin. Tangannya yang jauh lebih besar dari milik Surin masih menggenggam kedua tangan Surin dengan lembut.

 

“Dokter berkata bahwa hal yang benar-benar terkubur dan hilang dalam otakmu adalah hal yang justru mengambil memori paling besar dalam otakmu. Dokter tidak berkata bahwa hal itu adalah aku, tapi aku kira pikiranku benar. Kau telah melupakan aku sepenuhnya. Jika aku terus berada dihadapanmu, otakmu akan bekerja jauh lebih keras, sementara kau belum memiliki kekuatan yang cukup untuk itu.” Laki-laki itu mengulas senyum pahit diwajahnya.

 

“Namun aku rasa dunia tidak begitu kejam seperti apa yang saat itu aku pikirkan. Setelah pikiran dan perasaanku yang benar-benar kacau selama beberapa hari, sebuah fakta menyenangkan bahwa kata pertama yang keluar dari bibirmu adalah nama lengkapku membuatku berpikir bahwa aku masih memiliki kesempatan. Kesempatan untuk membuatmu ingat kembali padaku. Jadi setelah mendengar kabar itu, aku langsung lari ke rumah sakit untuk mengunjungimu. Tapi saat aku tiba didepanmu, kau meringis kesakitan sembari memegangi kepalamu.  Kau kembali mengeluarkan darah dari hidungmu, dan kau pingsan selama dua puluh empat jam penuh.” Laki-laki itu memperhatikan jemari-jemari Surin yang ada digenggamannya. Ia harus menceritakan semuanya pada gadis yang ada dihadapannya sekarang ini karena ia sendiri tahu bahwa ia tidak  sanggup lagi menahan semua kecamuk rasa yang selama ini mengganggu hati dan pikirannya.

 

“Aku benar-benar tidak sanggup melihatmu seperti itu lebih lama lagi. Aku berpikir aku terlalu egois sampai-sampai aku mengesampingkan hal yang terpenting hanya untuk membuatmu ingat kembali padaku. Hal yang terpenting adalah kau sehat kembali. Kau dapat keluar dari rumah sakit dengan secepatnya. Kau dapat menjalani kehidupanmu seperti semula, dan dari situ aku mulai berusaha belajar untuk mengesampingkan rasa egoisku.” Mata laki-laki itu mulai berair namun ia tetap berusaha untuk mengulas sebuah senyum pada bibirnya.

 

“Setiap hari kau mencari orang bernama Oh Sehun. Kau menangis, berseru bahwa otakmu terasa begitu kosong. Hanya nama Oh Sehun yang terus berputar dalam otakmu. Percayalah bahwa aku ingin sekali berlari dan memelukmu, berkata bahwa aku adalah Oh Sehun yang kau cari. Namun kakiku terasa seperti dipaku. Fakta bahwa kau akan mengalami rasa sakit luar biasa ketika melihatku membuatku berusaha mencari jalan keluar lain.” Surin terus mendengarkan. Ia bahkan tidak bergerak sedikitpun dan hanya terus memandangi kedua bola mata berwarna cokelat pekat itu lambat-lambat.

 

“Aku sendiri tidak menyangka bahwa jalan keluar yang kupilih itu justru menyakiti diriku lebih dalam, mengharuskanku untuk bersembunyi dibelakangmu seperti orang bodoh. Saat itu aku meminta Kyungsoo untuk menjadi seseorang bernama Oh Sehun. Aku memintanya menempati posisiku sampai kau benar-benar sehat, dan aku tidak tahu rasanya malah jauh lebih menyakitkan. Aku benar-benar meminta maaf, Surin-a. Aku meminta maaf karena sudah bersembunyi begitu lama dan baru berani untuk muncul dihadapanmu sekarang. Aku tidak ingin menjadi Oh Sehun yang bersembunyi dibelakangmu. Aku hanya ingin menjadi Oh Sehun yang berdiri dihadapanmu.”

 

Surin menangis kencang dan mulai memegang kepalanya yang terasa begitu sakit. Layaknya sebuah film yang terputar ulang, otaknya terus memutar adegan-adegan samar yang menunjukan momentnya bersama laki-laki itu. Bersama seorang Oh Sehun. Surin merasa dunianya berputar begitu saja dan kini ia melihat hidungnya mengeluarkan banyak darah. Suara panik laki-laki itu dan orang disekitarnya lama-lama teredam, bergantikan ruang gelap gulita yang sunyi.

 

Meskipun Surin tidak dapat melihat apapun dan tidak dapat mendengar suara apapun, ia merasa otaknya yang hampa seolah terisi kembali. Surin mengingat semuanya.

 

Ia mendapatkan ingatannya kembali.

 

**

 

“Kau serius tidak ada yang salah dengan keadaannya? Bagaimana dengan kepalanya? Kau yakin kau sudah mengeceknya dengan pasti? Kyungsoo-ya—”

 

“Itu tunanganmu sudah sadar.” Sehun mengalihkan pandangannya dari seorang laki-laki dengan kacamata baca yang ada disampingnya pada Surin yang kini tengah mengerjapkan matanya berkali-kali. Sehun memegang satu tangannya seraya terus memperhatikan gadis itu. “Do Kyungsoo, selamat karena sudah berhasil mewujudkan cita-citamu menjadi dokter. Maaf karena aku baru mengucapkannya sekarang.” Sehun menganga kemudian memandang Kyungsoo yang hanya tertawa kecil.

 

“Sudah kubilang dia berhasil memperoleh ingatannya kembali, Sehun-a. Selamat juga untukmu, Jang Surin. Aku senang kau benar-benar kembali.” Kyungsoo berujar seraya terus tersenyum senang. “Aku rasa aku harus memberi kalian berdua waktu untuk berbicara satu sama lain. Kalau begitu, aku permisi dulu. Aku juga harus menghubungi yang lain mengenai kabar baik ini.” Kyungsoo berjalan keluar sementara Sehun langsung menempati dirinya dipinggir kasur rumah sakit tempat Surin berbaring sekarang ini.

 

Sehun dan Surin bertatapan lama, seolah berusaha untuk membaca pikiran satu sama lain. “Kau boleh marah padaku. Silahkan marahi aku sepuas yang kau mau. Pukul juga boleh. Tapi kumohon jangan membenciku dan menyuruhku pergi darimu karena aku tidak akan sanggup melakukan itu. Aku tidak ingin berada jauh darimu untuk yang kedua kali.” Ujar Sehun dan seketika satu bulir air mata jatuh begitu saja membasahi pipi kanan Surin.

 

Surin berusaha bangun dari posisi tidurnya sehingga kini ia duduk berhadapan dengan Sehun. “Bagaimana bisa aku membencimu sementara kau melakukan semua itu karena kau begitu menyayangiku?” Surin mengalungkan kedua tangannya pada leher Sehun kemudian memejamkan kedua matanya ketika aroma tubuh laki-laki itu dapat dihirupnya. “Oh Sehun, aku merindukanmu.” Sehun tersenyum kemudian membalas pelukan Surin dengan erat. Setelah penantian yang begitu panjang, Sehun benar-benar bahagia ia bisa kembali mendekap gadis itu dalam pelukannya sekarang.

 

“Aku juga amat merindukanmu, Jang Surin.” Sehun mengecup dahi gadis itu lambat-lambat, berusaha memberitahu Surin bahwa ia benar-benar menyayanginya. Sehun melepas pelukan mereka kemudian mengambil sebuah kotak cincin dari saku celana panjangnya. Sehun menyematkan cincin perak itu ke jari manis Surin kemudian tersenyum senang, begitupun dengan gadis itu. “Cincinnya tergores karena kecelakaan itu tapi aku tetap menyimpannya dan berjanji untuk mengenakannya kembali dijari manismu ini. Ayo kita kembali ke Seoul dan mengatur rencana pernikahan kita dari awal, Surin-a.” Tutur Sehun sementara Surin sudah tersenyum bahagia mendengarnya. Surin mengangguk pasti dan Sehun kembali mengecup dahi gadis itu.

 

“Akhirnya aku berhasil menyelesaikan tugas besarku untuk membawa tunanganku kembali ke Seoul.” Surin tertawa mendengar ucapan Sehun barusan. “Akhirnya aku juga berhasil menyelesaikan tugas besarku untuk menemukan kekasihku yang menghilang entah kemana. Ayah dan ibuku pasti akan terkejut mengenai hal ini, apalagi mereka sudah menyusun perjodohan dengan kerabat kerja ayahku yang katanya adalah pemilik perusahaan property terbesar di Seoul.”

 

“Sayangnya kau tetap harus menerima perjodohan itu.” Tanggap Sehun membuat Surin mengernyitkan dahinya keheranan. “Memangnya kau masih tidak ingat kalau tunanganmu yang sebentar lagi resmi menjadi suamimu ini adalah arsitek handal pemilik perusahan property itu?”

 

Surin menganga kemudian tertawa terbahak. “Astaga, jadi ini adalah rencana kalian? Kalau pun aku tidak mengingatmu dan tetap mengira kau adalah si Tuan Taksi, aku tetap akan berakhir denganmu, begitu? Hahahaha! Aku benar-benar tidak percaya semua ini. Semua benar-benar terdengar seperti jalan cerita di novel romantis yang sering aku baca.”

 

“Tadinya memang seperti itu rencananya. Mau kau ingat ataupun tidak ingat, kau tetap akan menikah denganku. Itu memang takdirmu, Surin-a. Kau tidak bisa menolaknya, jadi terima saja.” Sehun tertawa sementara Surin pura-pura memukul lengan laki-laki itu sembari turut tertawa bersamanya.

 

“Tapi aku benar-benar senang kau mengingat semuanya sehingga aku tidak perlu menjadi orang lain. Aku senang karena aku bisa kembali menjadi Oh Sehun-mu yang dulu.” Kedua mata Surin kembali berair mendengar tuturan tulus Sehun barusan. Surin menangkup kedua pipi tirus laki-laki itu kemudian mengelus dahi Sehun dengan jemarinya, turun ke kedua alis tebal laki-laki itu, ke kedua kelopak matanya, ke tulang hidung Sehun yang lancip, ke bekas luka yang ada disebelah pipi laki-laki itu, kemudian ke bibir sempurna milik Sehun.

 

“Dari awal, dari awal sekali, aku sudah tahu bahwa kau adalah Oh Sehun-ku.” Surin tersenyum lembut begitupun dengan Sehun yang seketika merasakan rasa hangat diseluruh sudut hatinya kala mendengar gadisnya bertutur demikian.

 

“Surin-a.”

 

“Hm?”

 

“Aku menyayangimu.”

 

Sehun mendaratkan bibirnya pada bibir Surin, mendekap tubuh yang jauh lebih kecil darinya itu erat-erat seraya memperdalam tautan bibir mereka, membiarkan debaran keras jantung masing-masing bersatu dengan irama cepat.

 

Surin juga ingin Sehun tahu bahwa ia sangat menyayanginya. Surin ingin Sehun tahu bahwa otaknya akan selalu menemui cara untuk dapat kembali pada laki-laki itu, karena Surin begitu menyayanginya lebih dari yang bisa laki-laki itu sendiri dan orang lain bayangkan.

 

-FIN.

 

Terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca ff ini! Akhirnya ya made a comeback juga hahaha. Gimana ff ini? Semoga gak ngebosenin dan semoga juga kalian suka ya sama ffnya! Sampai bertemu di ff selanjutnyaaaa!

Advertisements

6 comments

  1. izzatuljannah1404 · June 12

    YAAMPUN KAMU COMEBACK TBTB LANGSUNG BAWA FF BAPER SWEET PANJANG KAYA GINI 😣😱 duh sehun, sabar banget. Sukak bangetttttt 😭😭 speechless sama cerita kamu!! Keren banget sumpah. Bisa aja ya bikinnya 😔 sedih tapi happy end 😫 suka banget pokoknya!!! Terus nulis ya say yg kaya gini 😭😭 bagus banget. Alay ga sii aku? Wkwkw tapi serius enng bagus banget tau 😍😂 next ditunggu lagi project tentang ohseh 😘 love you full deh sehun wkwkw

    • Oh Marie · June 12

      HALOOOOOO! KANGEN BANGET ASLIIIIII HUHU. Makasih ya masih tetep setia baca padahal aku selalu late update huhuhuhu.
      Seneng banget kalo kamu suka sama ff ini!!!!
      Iya bakal terus aku tingkatin kokkkk huhu komen kamu memotivasi banget>< Sekali lagi makasih banyak yaaaa!
      Sampai jumpa di ff selanjutnya<3

  2. ahnnncs · June 12

    yawlahhh sehun makin cinta deh gue sama loooo
    bapereuuuuuu bangettt sumpah bacanya aja sambil senyum2 sendiri wkwk sumpah aku ngebayangin banget itu terjadi dikehidupan gue dan cowonya si anak ayam itu hahaha surin sehun tetep jadi fav aku pokoknya
    Btw sumpah ini alur ceritanya bagus bangettt sukaaaa
    ditunggu banget buat next projectnya yaaa
    .
    .
    .
    .
    .
    btw kangen deh sama story mereka hehe

    • Oh Marie · June 12

      HALO ANGIEEEEEEEEE<3
      Makasih ya udah mau baca dan ninggalin komen lagi padahal aku udah lama banget gak nongol huhuhu.
      Makasih juga udah suka sama ff iniiiii. Yes bisa bikin anak orang baper yessss *toss sama sehun* wkwkwk
      Iya wajib stay tune ya untuk project selanjutnya! See you<3

  3. rahsarah · June 21

    Hallo Adee long no see your blog Haha
    duh akhirnyaaaa setelah sekian lama ga mampir ke sini sekalianya buka langsung ada 2 postingan baruu langsung seneng bnget mau bacaa

    oh ini ceritanya surin lupa ingatan yampun kasian oh sehun terlupakan ga kebayang hatinya sakitnya kaya gmna huhuhu tapi aku seneng deh semua orang bekerja sama buat terus ngedeketin suri sama sehun.. dan akhirnya suri ketemu sehun ya walapun awalnya ga engeh tapii akhirnyaaa mereka balik lagiiii
    cepet nikah dong hehehe

    • Oh Marie · June 22

      HALO KAK SARAAAAAH TT___TT
      Aku kangen banget sama kak saraaaaaah! Seneng deh kak sarah mampir lagi, mau baca dan ninggalin komen lagi juga huhuhu. Jadi terhura:”)
      Iya kasian surin lupa ingetan, kasian juga sehunnya dilupain:(( tapi emang kalo udah takdirnya sama-sama mah gitu lah kak ujungnya WKWKWK.
      Seneng deh kalo kak sarah suka sama ff iniiii<3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s