Stronger

stronger

Another fluffy fluff Sehun fanfic. Happy reading and hello January!

**

 

Sehun melepas kacamata baca yang dikenakannya kemudian memijat dahinya dengan pelan, berusaha mengusir sakit kepala yang tiba-tiba menyerangnya karena terlalu lama berkutat dengan laptop dan setumpuk berkas mengenai pekerjaannya sebagai seorang kepala arsitek yang menurut Sehun sangat memusingkan. Berkas-berkas penting itu tampak berserakan dimeja tamu apartmentnya sementara Sehun kini masih berusaha menyelesaikan presentasi juga laporan di laptopnya. Sedari tadi jari-jarinya terus menari pada keyboard laptopnya sampai ia merasa jari-jarinya mulai merasa kaku dan rasa nyeri mulai menyerang punggungnya akibat terlalu lama duduk pada sofa ruang tamu tersebut.

 

Pekerjaannya belum selesai dan Sehun memutuskan untuk melanjutkan setumpuk pekerjaan itu di apartmentnya daripada harus bermalam di kantor. Itu sebabnya kini Sehun yang sudah kembali mengenakan kacamata bacanya dan kembali memfokuskan diri pada berkas-berkas penting juga laptopnya itu tidak sempat mengganti pakaiannya ataupun melakukan hal lain terlebih dulu. Hanya satu yang ada dikepalanya saat ini yaitu adalah menyelesaikan pekerjaan itu secepatnya mengingat deadline hanya tinggal dua hari lagi.

 

Sehun melirik jam tangannya yang kini menunjukan pukul sebelas malam kemudian laki-laki bertubuh tinggi itu menghela napasnya berat seraya menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. Sehun merasa sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia meletakan laptopnya diatas berkas-berkas yang berada di meja tamu itu kemudian kembali menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa tersebut sambil menutup matanya, berharap dengan mengistirahatkan matanya sebentar ia dapat mengusir rasa penat yang kini benar-benar ia rasakan disekujur tubuhnya. Sebenarnya ada cara lain yang dapat dengan lebih cepat mengusir rasa penat tersebut. Cara lain itu adalah dengan bertemu sumber tenaganya, Jang Surin yang tidak lain tidak bukan adalah tunangannya sendiri.

 

“Surin akan datang dalam hitungan satu, dua, ti—”

 

“Oh Sehun!”

 

Sehun tersenyum, masih dengan kedua matanya yang terpejam dan kepala yang masih bertengger apik pada sandaran sofa tersebut ketika ia mendengar suara dari alat kunci pengaman yang berada di depan pintu apartmentnya itu ditekan beberapa kali oleh seseorang yang baru saja berteriak panik setelah berhasil membuka pintu apartment tersebut.

 

“Kau datang? Bukankah aku sudah melarangmu untuk datang? Sekarang sudah pukul sebelas malam dan kau mengendarai mobil sendiri di tengah malam seperti ini?” Ujar Sehun seraya menegakan tubuhnya dengan perlahan sambil menatap gadis yang kini hanya berdiri dengan tatapan khawatir itu. “Bagaimana bisa aku tidak datang setelah melihat wajahmu yang tampak tidak baik-baik saja lewat video call kita dua jam yang lalu?” Surin langsung menghampiri Sehun yang sekarang tampak benar-benar kacau itu kemudian berdecak.

 

“Kan aku sudah bilang berkali-kali padamu untuk tidak memaksakan tubuhmu yang sudah lelah ini untuk terus bekerja.” Surin menempelkan telapak tangannya pada dahi Sehun untuk mengecek suhu tubuh laki-laki itu. “Untung saja kau tidak demam.” Ujar Surin seraya menghela napasnya, masih sambil memperhatikan Sehun dengan tatapan yang luar biasa khawatir.

 

Rambut hitam Sehun yang biasanya tertata rapi kini tampak berantakan. Warna hitam pada bagian bawah kedua matanya tampak menebal dan Surin yakin sekali bahwa hal itu disebabkan karena belakangan ini laki-laki itu tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Pakaiannya pun tampak begitu berantakan, terbukti dengan dasi tidak berbentuk yang masih mengalungi lehernya, dua kancing kemeja yang terbuka, dan lengan panjang kemeja putih laki-laki itu yang ia gulung asal sebatas siku. Sehun benar-benar tampak seperti orang yang bekerja dua hari berturut-turut tanpa henti membuat Surin hanya menghela napas untuk yang kesekian kalinya sambil terus memperhatikan laki-laki yang hanya tersenyum padanya itu.

 

Sehun mengacak rambut Surin dengan pelan. Kedua matanya yang lelah itu kini membentuk lengkungan seperti bentuk bulan sabit, salah satu hal yang paling Surin sukai ketika Sehun tersenyum. “Aku tidak apa-apa. Melihatmu saja sudah cukup mengembalikan tenagaku.” Ujar Sehun membuat Surin hanya mendengus kemudian menyentil dahi Sehun dengan pelan sementara Sehun langsung berpura-pura kesakitan. Sehun kembali tersenyum karena kini Surin yang panik melihat ia kesakitan, mulai meniup dahinya berkali-kali bermaksud untuk menghilangkan rasa sakit akibat sentilannya yang sebenarnya tidak berefek apapun bagi dahi Sehun. “Aish, sempat-sempatnya kau membuatku semakin panik.” Ujar Surin ketika ia menangkap Sehun malah sibuk tersenyum sambil terus memperhatikannya yang meniup-niup dahi laki-laki itu.

 

“Baiklah, aku rasa sebelum aku memaksamu tidur malam ini, kau harus makan terlebih dulu. Aku akan membuatkanmu nasi goreng kimchi dengan telur dadar.” Surin berjalan menuju dapur apartment Sehun kemudian membuka lemari pendingin yang berada di pojok ruangan itu. “Ya! Bagaimana bisa lemari pendinginmu ini hanya berisikan beberapa susu cokelat dan makanan ringan saja? Bukankah aku sudah berpesan padamu untuk selalu memberitahuku apabila persediaan makanan di lemari pendinginmu sudah habis?” Surin mulai berceloteh sementara Sehun hanya terus memperhatikan gadis itu yang kini sibuk berjinjit untuk membuka lemari penyimpan bahan makanan yang berada diatasnya.

 

“Bahkan persediaan mie instan pun juga sudah habis? Baiklah Oh Sehun, jangan bilang, kau melewatkan makan malammu hari ini?” Surin menolehkan kepalanya pada Sehun kemudian menatap laki-laki itu dengan geram. “Aish, kau memang pandai membuat orang khawatir. Ayo turun dari sini sekarang. Kita akan ke mini market dua puluh empat jam yang berada di lantai bawah. Paling tidak kau harus makan sesuatu malam ini juga sebelum kau tidur. Aku tidak mau kau terserang penyakit maag, jadi lebih baik menurut saja.” Surin menarik paksa lengan Sehun sementara laki-laki itu hanya menurut tanpa berkata-kata. Sebenarnya Sehun malas untuk keluar dari apartmentnya yang nyaman, namun ia sudah benar-benar tidak memiliki tenaga untuk menolak paksaan Surin.

 

**

 

“Ini, makanlah ramyeon ini sebelum kau benar-benar masuk angin.” Surin meletakan ramyeon yang baru dibuatnya dihadapan Sehun yang saat itu tengah termenung sembari menatap orang berlalu-lalang dari balik kaca besar mini market tersebut. Surin hanya menghela napas melihat Sehun yang tidak bersemangat itu. Gadis itu meletakan ramyeonnya sendiri pada meja yang memang di design menempel pada kaca besar tersebut, lalu mengambil kimchi dan juga dua kopi dingin untuknya dan Sehun.

 

Surin kembali menghela napasnya ketika melihat Sehun yang tidak bisa membuka tutup kaleng kopi yang baru diberikannya pada laki-laki itu. Gadis itu kemudian menyerahkan kopinya yang sudah terbuka dan mengambil alih kopi yang Sehun pegang. Sehun hanya tersenyum kemudian mulai menyantap ramyeon yang ada dihadapannya membuat Surin langsung melakukan hal yang sama.

 

Mereka berdua hanya menatap orang-orang yang sibuk berlalu-lalang disekitar daerah apartment itu sambil terus menikmati ramyeon mereka. Sampai kira-kira sepuluh menit berlalu, akhirnya Surin yang tidak tahan dengan keheningan yang meliputi mereka hanya berdeham sembari memperhatikan tampak samping Sehun. Surin baru menyadari bahwa Sehun tampak jauh lebih kurus sekarang dan hal itu membuat Surin lagi-lagi merasa khawatir. “Oh Sehun.” Panggil Surin pada laki-laki yang beberapa bulan lalu resmi menjadi tunangannya itu.

 

Sehun hanya menjawabnya dengan gumaman sambil mengalihkan perhatiannya pada Surin yang kini masih menatapnya dengan serius. “Ada apa?” Tanya Sehun ketika Surin tidak kunjung melanjutkan perkataannya. “Tidak apa-apa. Hanya saja, kalau kau mau bercerita tentang apapun, aku siap mendengarkan.” Ujar Surin membuat Sehun tersenyum lembut seraya mengacak rambut Surin dengan pelan.

 

“Sebegitunya kah kau mengkhawatirkanku?” Sehun berujar dengan nada meledek membuat Surin hanya mendengus. “Ya sudah kalau kau tidak mau dikhawatirkan.” Tanggap Surin sementara Sehun masih menatapnya dengan senyuman yang terus tersungging diwajah lelahnya. Sehun merasa rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya seolah hilang perlahan dengan hanya menatap gadis yang kini tampak lahap memakan ramyeonnya itu. Laki-laki bertubuh tinggi itu menghela napasnya dengan perlahan seraya mengalihkan perhatiannya menuju jendela besar yang berada dihadapannya.

 

“Kau tahu kan setahun yang lalu aku menggagalkan sebuah proyek besar hanya karena kemampuan presentasiku yang tidak begitu baik? Aku rasa, perasaan trauma akibat kejadian itu masih ada sampai sekarang.” Sehun berujar membuat Surin langsung menatap Sehun dalam diam. Untuk sekian lamanya, Sehun kembali mengungkit kejadian itu. Kejadian yang berhasil membuat Sehun menyerah akan status ‘calon pertama’ penerus perusahaan milik keluarganya untuk menjadi direktur utama perusahaan menggantikan ayahnya yang akan pensiun, dan memutuskan untuk bekerja sebagai kepala arsitek sampai sekarang ini diperusahaan property milik keluarganya itu.

 

Surin memang tidak tahu-menahu mengenai kronologis kejadian itu. Tapi yang Surin tahu, Sehun berhasil melepas satu kolega kerja perusahaannya yang paling berpengaruh hanya karena presentasi Sehun yang tidak memenuhi ekspektasi. Surin ingat bagaimana Sehun melewati masa-masa beratnya itu. Setiap malam laki-laki itu harus berakhir tertidur disofa apartmentnya dengan laptop dan juga berkas-berkas mengenai pekerjaannya. Surin tahu semenjak rekan kerja perusahaan milik keluarga Sehun itu memutus hubungan kerja mereka dan membatalkan proyek besar yang tengah perusahaan itu garap, Sehun harus bekerja lebih keras untuk menyelamatkan perusahaannya.

 

Sehun adalah tipe orang yang sering menyalahkan dirinya sendiri kalau sesuatu yang dikerjakannya tidak berjalan dengan baik. Itu kesimpulan yang dapat Surin ambil ketika memperhatikan Sehun dalam masa-masa beratnya itu. Sampai sekarang pun Sehun masih sering menyalahkan dirinya sendiri apabila ia mendengar kata ‘presentasi’. Padahal justru setelah perusahaan keluarganya kehilangan rekan kerja paling berpengaruh itu, Sehun berhasil memulihkan keadaan perusahaan tersebut dalam waktu singkat dan Sehun juga berhasil memperoleh tidak hanya satu kolega kerja baru. Sehun justru dapat menaikan pendapatan perusahaan itu dan proyek-proyek lain yang ia kerjakan pun membawa hasil yang luar biasa baik.

 

Surin sudah berkali-kali mengingatkan Sehun mengenai semua yang berhasil laki-laki itu capai setelah kegagalannya tersebut, tapi Sehun memang bukan tipe orang yang dengan mudah melupakan sesuatu yang berhasil menempatkannya pada keadaan yang sulit sehingga wajar saja jika rasa trauma terhadap presentasi masih membayanginya sampai sekarang ini. Surin tahu, Sehun hanya takut apabila kejadian itu terjadi lagi.

 

“Ayahku mempercayakan sebuah proyek besar padaku sebulan lalu. Itulah sebabnya aku bekerja dari pagi sampai pagi lagi belakangan ini. Bagian terburuknya adalah ia menginginkan aku yang memimpin presentasi mengenai proyek itu pada kolega kerjanya dua hari lagi. Ini adalah proyek besar, kalau aku melakukan kesalahan barang sedikit saja pada saat presentasi, maka bisa saja kejadian satu tahun yang lalu akan terulang lagi. Sebenarnya aku tahu, tujuan ayahku melakukan ini pasti karena ia tetap menginginkan aku untuk memimpin perusahaan setelah ia pensiun nanti. Aku tidak bisa menolak walaupun sebenarnya ingin. Kau tahu sendiri betapa kecewanya ayahku ketika aku memilih untuk menjadi kepala arsitek diperusahaan sendiri. Aku hanya tidak ingin berakhir mengecewakannya untuk yang kedua kali makanya aku menyanggupi permintaannya untuk mengurus proyek besar itu.” Ujar Sehun seraya mengalihkan pandangannya pada Surin.

 

“Aku lelah. Aku merasa terlalu banyak hal yang menekanku.” Sehun berujar dengan volume suara yang kecil. Sehun sebenarnya tidak mau terlihat payah dihadapan Surin seperti apa yang dilakukannya sekarang ini. Namun Sehun benar-benar merasa ia tidak dapat lagi terus-terusan memendam perasaan lelah yang semakin hari semakin parah menggerogoti tubuh dan pikirannya. Sehun menyandarkan kepalanya pada sebelah bahu Surin. Ia memejamkan kedua matanya seraya merasakan aroma tubuh Surin yang begitu menenangkan masuk ke dalam paru-parunya.

 

Surin meletakan telapak tangannya pada sebelah permukaan pipi Sehun kemudian menepuknya berkali-kali dengan lembut. “Surin-a, apa aku bisa melakukannya?” Sehun bertanya pada Surin. Pertanyaan yang harusnya ia pertanyakan pada dirinya sendiri. Surin tersenyum kemudian Sehun dapat merasakan gadis itu menganggukan kepalanya dengan pasti. Surin menyandarkan kepalanya pada puncak kepala Sehun yang berada dibahunya. Tangannya masih menepuk permukaan pipi Sehun yang halus.

 

“Tenang saja. Kau tidak perlu khawatir. Aku tahu kau pasti bisa melakukannya.” Surin berujar membuat Sehun tersenyum tipis. “Semua akan baik-baik saja, Oh Sehun. Hanya itu yang perlu kau ingat.” Sambung Surin dan seketika perasaan lega merambat keseluruh penjuru hati Sehun. Sehun tahu, setiap kali ia merasa tidak ada hal yang berjalan baik, berada di dekat Surin selalu dapat merubah hal tersebut seratus delapan puluh derajat. Ia merasa Surin mempunyai mantra tertentu yang dapat membereskan kekacauan yang Sehun rasakan dalam sekejap.

 

Dan Sehun yakin sekali mantra itu adalah tangan Surin yang berada di permukaan pipinya sekarang ini, bahu Surin yang menjadi sandaran kepalanya, aroma tubuh Surin yang menenangkan, juga perkataan gadis itu yang selalu membuatnya kembali bersemangat.

 

**

 

Surin memperhatikan berkas-berkas kerja yang berada dimeja kerja Sehun sambil mengerjapkan matanya berkali-kali, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang ini. Surin mengambil salah satu file berukuran besar yang menyimpan gambar-gambar design rumah yang Sehun buat. Surin yakin sekali design-design tersebut berhubungan dengan presentasinya dua hari lagi. Surin mulai membuka lembar demi lembar file tersebut sambil terus sibuk menganggumi gambar-gambar perspektif sebuah bangunan yang luar biasa rumit itu.

 

Ya, daripada bosan menunggu Sehun yang sedang membersihkan diri, Surin tadinya berniat untuk membereskan meja kerja Sehun yang berada dipojok kamar laki-laki itu. Namun gambar-gambar tangan Sehun ternyata lebih menarik perhatiannya sehingga kini gadis itu sudah duduk di kursi kerja milik Sehun dan sibuk membuka-buka file berisikan puluhan design rumah yang Sehun kerjakan selama hampir satu bulan penuh itu. Tangannya berhenti membalik lembar file itu kemudian matanya terpaku pada sebuah gambar design yang kini berhasil membuat bibirnya kelu.

 

Surin merasa pandangannya mulai kabur akibat air mata yang kini memenuhi pelupuk matanya. Surin hanya tidak percaya dengan yang dilihatnya sekarang ini. Sebuah gambar design rumah minimalis bertingkat dengan halaman depan dan belakang yang luas. Sehun bahkan menggambar dengan jelas seluruh isi denah rumah tersebut dihalaman berikutnya. Yang membuat Surin kehabisan kata-kata adalah catatan yang Sehun tuliskan dipojok kertas gambar tersebut.

 

‘Bekerjalah lebih keras, Oh Sehun. Sampai saat itu tiba, kau harus bisa membangun rumah ini untuk Surin. Surin-a, ayo tinggal dirumah ini bersama-sama dengan Sehun dan Surin kecil!’

 

“Apa yang kau lakukan disitu? Kemarilah.” Sehun menepuk kasur tempat ia duduk sekarang ini. Laki-laki itu hanya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil sementara Surin sudah duduk disebelahnya, masih sambil memegang file berukuran besar tersebut. Sehun hanya tersenyum kecil seraya turut menatap gambar yang kini masih menarik seluruh perhatian Surin. “Kau menyukainya?” Tanya Sehun membuat Surin langsung mengangguk senang. “Tentu saja aku menyukainya. Pasti saat menggambar ini kau terus memikirkanku kan?” Surin berujar jahil sementara Sehun hanya tertawa, menanggapi.

 

“Memangnya kapan aku tidak memikirkanmu?” Balas Sehun membuat Surin langsung tersipu. “Berhentilah mengeluarkan jurus gombalanmu itu, Oh Sehun.” Sehun hanya tertawa sembari terus memperhatikan Surin yang kini sudah menutup file tersebut kemudian meletakannya dimeja kecil yang berada tidak jauh darinya. Surin berdiri dihadapan Sehun kemudian langsung membantu laki-laki itu untuk mengeringkan rambutnya.

 

“Aku berjanji padamu untuk mewujudkan hal itu secepatnya.” Sehun berujar dengan suara lembut membuat otak Surin seakan berhenti untuk bekerja, terbukti dengan tangannya yang kini tidak dapat ia gerakan. Seolah tersadar dari kebekuan yang sempat menerjang otaknya, Surin langsung kembali melanjutkan kegiatannya mengeringkan rambut Sehun. “Kau harus berjanji juga padaku untuk melakukan yang terbaik pada presentasi yang akan kau lakukan dua hari lagi itu. Janji?” Surin menjulurkan jari kelingkingnya ke arah Sehun yang langsung menyambar kelingking kecil itu dengan kelingkingnya sambil tertawa kecil.

 

“Aku berjanji. Tapi aku butuh tenaga untuk menepati janji-janjiku itu. Jadi, sekarang ijinkan aku mengisi tenagaku ya?” Sehun langsung menahan kaki Surin yang berada diantara kedua kakinya dengan kuat. “Ya! Oh Sehun! Apa yang kau lakukan?” Tanpa aba-aba Sehun memeluk Surin dengan erat kemudian menarik tubuh Surin sehingga dalam hitungan detik gadis itu sudah berada diatas kasur berukuran king size tersebut bersamanya.

 

Sehun memeluk Surin erat-erat, menenggelamkan wajahnya pada leher gadis itu. Sehun tersenyum kala merasakan tangan Surin mulai mengusap punggungnya yang lebar dengan lembut. Sehun memejamkan kedua matanya kemudian menghirup aroma tubuh gadis itu sebanyak yang ia inginkan. Mungkin Sehun sudah berkali-kali mengatakan hal ini, tapi Sehun hanya ingin memberitahu sekali lagi bahwa memeluk Surin, berada didekat gadis itu disaat tidak ada sesuatu yang Sehun rasa benar adalah hal yang paling ampuh untuk menghapus semua perasaan buruk tersebut. Memeluk Surin, dan berada didekat gadis itu adalah satu hal yang paling ampuh untuk mengembalikan tenaganya yang sudah meluap entah kemana akibat tekanan-tekanan yang selama ini ia terima.

 

“Sudah merasa lebih baik sekarang?” Tanya Surin membuat Sehun mengangguk pelan. Sehun melepas pelukannya ketika kurang lebih sepuluh menit ia memeluk gadisnya itu. Sehun mengelus sebelah pipi Surin kemudian menyelipkan rambut yang menutupi wajah Surin dibalik telinga gadis itu yang kini sudah memerah. “Terima kasih.” Ujar Sehun membuat Surin hanya menatapnya dengan kedua manik mata berwarna hitam pekat itu.

 

“Untuk?”

 

“Untuk tetap berada disampingku ketika aku sedang dalam suasana hati yang buruk.” Sehun terus menatap Surin sampai-sampai jantung Surin seolah dipompa jauh lebih cepat dari biasanya. “Dan untuk memperbaiki semua hal buruk itu menjadi baik kembali.” Surin tersenyum senang membuat Sehun yang kini masih mengelus pipinya itu juga melakukan hal serupa. Sehun memperkecil jarak diantara wajahnya dan wajah Surin. Surin bahkan dapat merasakan kini ujung hidungnya sudah bersentuhan dengan ujung hidung Sehun. Seketika kupu-kupu seolah berterbangan diperutnya dan jantungnya seolah terlepas begitu saja dari tempatnya ketika ia merasakan bibir Sehun berhasil mendarat tepat dipermukaan bibirnya. Jangan tanya apa yang ada dipikiran Surin saat ini karena otaknya serasa membeku begitu saja terutama ketika Sehun mulai memperdalam tautan bibir mereka.

 

**

 

“Nah, sekarang ayo silahkan nikmati makan siang kalian.” Surin berujar seraya mempersilahkan anak muridnya yang masih duduk dibangku kelas satu sekolah dasar itu untuk menikmati makan siang mereka masing-masing. Surin sengaja mengajak murid-muridnya itu untuk memindahkan meja dan kursi mereka menjadi bentuk lingkaran besar sebelum akhirnya menikmati bekal makan siang masing-masing. Bahkan sekarang anak-anak itu sudah saling bertukar lauk pauk yang mereka bawa membuat Surin hanya dapat menahan rasa gemasnya melihat murid-muridnya yang lucu.

 

Surin dan anak-anak yang tengah menikmati makan siang itu langsung menolehkan kepala mereka bersama-sama ketika mendengar seseorang mengetuk jendela kaca kelas mereka. Surin menganga ketika melihat siapa orang yang kini tengah melambaikan kedua tangannya dari luar kelas, diikuti sorakan senang dari murid-murid Surin. “Oh Sehun?” Surin masih belum sadar dari rasa terkejutnya sampai Sehun masuk ke ruang kelas tersebut dan anak-anak itu dalam hitungan detik sudah berhambur memeluki Sehun yang membawa dua buah paper bag berukuran besar.

 

“Kalian tengah makan siang rupanya. Tepat sekali. Paman membawakan pudding cokelat sebagai penutup makan siang kalian.” Sehun berujar membuat anak-anak itu bersorak girang.

 

“Asyik! Terima kasih paman Oh yang tampan!” Ujar salah seorang dari mereka membuat yang lain pun mengucapkan terima kasih dengan nada suara yang benar-benar membuat Sehun gemas sendiri hanya dengan mendengarnya. “Tapi ada syaratnya.” Anak-anak itu langsung bertanya-tanya. “Paman pinjam ibu guru yang cantik ini dulu ya.” Anak-anak itu menyetujui ucapan Sehun dan kemudian menyerbu paper bag yang Sehun bawa. Surin hanya tersenyum senang seraya terus memperhatikan Sehun yang sibuk membagi-bagikan pudding tersebut pada anak-anak muridnya.

 

“Kembalilah ke tempat duduk kalian masing-masing dan makanlah dengan pelan-pelan.” Ujar Surin membuat anak-anak itu menyerukan kata ‘baik seonsaengnim’ dengan bersama-sama. Sehun langsung menarik tangan Surin keluar dari kelas tersebut ketika melihat anak-anak yang kini sibuk dengan makan siang masing-masing.

 

“Oh Sehun, aku bersumpah kalau kau kabur ditengah-tengah presentasimu aku akan menghabisimu sekarang juga.” Surin berujar membuat Sehun yang masih memegang tangannya hanya tertawa. Sehun menggelengkan kepalanya kemudian meraih tangan Surin yang satu lagi sehingga kini ia dapat menggenggam kedua tangan gadis itu. “Aku berhasil.” Ujar Sehun membuat kedua mata Surin terbelak.

 

“Aku berhasil memberikan yang terbaik pada presentasi itu. Proyek ini akan menjadi proyek pertamaku sebagai seorang direktur utama perusahaan. Aku rasa aku harus memberitahumu hal ini terlebih dahulu, jadi aku meminta ijin untuk terlambat datang dalam acara makan siang bersama atau acara perayaan kecil-kecilan yang diadakan oleh teman-teman kerjaku.”

 

Surin langsung berhambur ke dalam pelukan Sehun saat itu juga. Surin benar-benar senang Sehun dapat melakukan presentasi itu dengan baik. Ia senang karena kerja keras Sehun beberapa waktu ini terbayar dengan hal yang baik. “Aku tahu kau bisa melakukannya. Aku bangga padamu, Oh Sehun.” Sehun tersenyum seraya mengeratkan pelukannya setelah mendengar ucapan Surin barusan. Sehun ingin Surin tahu bahwa gadis yang berada dipelukannya sekarang inilah yang dapat membuat Sehun melakukan semuanya dengan baik. Sehun ingin Surin tahu bahwa gadis bernama Jang Surin-lah yang selalu berada dibaliknya dan memainkan peran penting dalam semua hal yang dilakukannya sehingga akhirnya ia dapat berada ditahap sekarang ini.

 

“Bukan hanya itu kabar baiknya. Kabar baik lainnya adalah aku benar-benar akan segera membangunkan rumah yang telah aku gambar itu untukmu. Untuk kita. Untuk masa depan kita.”

 

Sehun tersenyum ketika Surin memekik girang dalam pelukannya. Sehun mengecup puncak kepala Surin kemudian kembali mengeratkan pelukan mereka. Bagi Sehun, Surin adalah sumber tenaganya, dan Sehun akan dengan senang hati mengakui hal tersebut meskipun harus beratus-ratus kali.

 

-FIN.

 

Yeay! My first post in January 2017. How was it? Hope you liked it since i made it with sooooo much love hahaha.

Jadi ceritanya ff ini terinspirasi dari 31 Desember lalu waktu EXO ada schedule di acara Gayo Daejaejun kalau tidak salah. Disitu Sehun bener-bener ganteng luar biasa ((seperti biasa)) tapi tuh dia keliatan capek banget dan rada unmood. Mungkin karena schedule akhir tahun yang emang padat banget. Nah tapi ditengah-tengah keadaan kayak gitu, yang bikin bangga adalah dia tetep perform dengan baik dan nunjukin sisi ke-professional-an dia.

Pengen aja gitu bikin ff mengenai bagaimana Sehun bisa ngelewatin masa-masa capeknya. Lalu, tada! Lahirlah ff ini huahaha. Semoga kalian suka ya!

Last but not least, happy January! January is my month hahaha. Hope everything will going really fine in this month. See you on the next ff! xoxo.

Advertisements

9 comments

  1. ahnnncs · January 6, 2017

    Another fluffy???
    HAHAHAHA it’s trueee
    So fluffyyy and i loved it so much so badly you know
    Sebenarnya aku bingung harus comment apa lagi aku udah terlalu sering bilang itu cute sweet keren luar biasa
    So, i won’t explain that again, cuz you know my answer it’s always same like before
    See you on next ff!
    Figthing! Kembangin semua tulisannya ya kak!!

    • Oh Marie · January 8, 2017

      AAAAAAAAAAAAA MANIS SEKALI KOMENTAR INIII. Sampe pengen aku pajang kalo bisa huahahaha.
      Makasih udah suka sama ffnya! Asli deh aku juga bingung harus bilang apa lagi selain makasih karna kamu udah mau baca dan komen lagi>< senengggg banget!
      Terima kasih Angie untuk semangatnya! See you on the next ff! Hihi<3

  2. ddevioh · January 6, 2017

    Wahhhh seperti biasa ffmu emang yg terbaik kkkk , setiap baca bikin ngefly-ngefly gimanaaa gitu hehe
    Sehun-surin makin sweet aja .
    Ditunggu next ff nya fighting

    • Oh Marie · January 8, 2017

      Huwaaaaaa!! Terharu banget baca komen ini! Makasih ya udah suka sama ffnya! Makasih juga udah mau mampir dan baca-baca lagi bahkan ninggalin komen hihi. See you on the next ff!

  3. izzatuljannah1404 · January 6, 2017

    Ahh ya ampun, comeback juga akhirnya januari 😆 wkwk kembali dengan ff fluff manis bikin readers ngiler #aww wkwk
    Sini hun, kalo capek pundak gue tersedia koo #apasii wkwk mau komen apalagi yak? Udah speechless banget baca kek beginian. sehun ya ampun, bad mood nya aja unyu banget tuh muka😍😍 wkwkwk.
    Jangan bosen bosen yakk bikin ff kek bgini 😊 maklum laaa, jomblo doyan nya yg kek beginian 😁😁 wkwkwk. Keep writing yaa buat kamu!!! Semangat!! 🤗🤗 semoga aja di januari yg katanya “your month” ini, bisa banyak karya2 sehun-surin yg tercipta! 😻👻 wkwkw fighting!!!

    • Oh Marie · January 8, 2017

      HUHUHU MAKASIH BANYAK BUAT KOMEN MANIS INIIIIII!
      Sehun kalo bete kadar ketampanannya emang makin bertambah gimana gitu huahaha pengen bawa pulang aja liatnya!!
      Hihihi makasih banyak buat semangatnya ya! Jadi terharu huhu bersyukur punya reader penyemangat kayak kamuuuu! :”)
      Fighting juga ya buat kamu! See you on the next ff! ><

  4. rahsarah · January 21, 2017

    terharuuuu banget kali ini baca kisahnya merekaaaa. couple yg selalu bisa bikin mood membaik setiap bacanyaaaa sealu bikin envy sma kemesraan mereka yg ga lebay selalu nagih buat baca kelanjutannyaaaa
    pokoknyaaa cepet nikah kalian yaaa

    baca beginian aja udah BAHAGIA lohh makasii Another fluffy ♥♥

    • Oh Marie · January 22, 2017

      AKU LEBIH TERHARU LAGI BACA KOMEN KA SARAH HUHUHUHU♥♥♥♥
      Ini nih yang bikin aku semangat banget buat terus nulis!! Makasih banyak ya kak sarah buat komen ini! Super bahagiaaaaa punya reader kayak kak sarah!

      • rahsarah · January 26, 2017

        heheh sama2 de 🙂 dikembangin terus ya bakat nulisnyaaa biar bisa punya buku sendiri dan aku bakalan super seneng buat ngebelinya siapa tau jadi salah satu buku fav aku 🙂

        semangat terus cantik 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s