Goodbye, My Spring

goodbye my spring

 

Kyungsoo’s story. Happy reading!

 

 

**

 

Laki-laki berperawakan tenang yang kini tengah membaca buku dengan alis bertaut serius itu dengan tiba-tiba melempar bukunya ke meja kaca yang berada di hadapannya, lalu membenturkan kepalanya sendiri berkali-kali pada pinggiran sofa yang menyanggah punggungnya yang terlihat lesu.

 

Laki-laki bernama Do Kyungsoo itu kemudian melepaskan kacamata baca yang tengah ia kenakan seraya meletakannya begitu saja di atas buku yang tadi dilemparnya. Sudah dua setengah jam ia berkutat pada buku manajemen tersebut, tapi tidak ada satu kalimat pun yang dapat ia mengerti. Pikiran Kyungsoo malah melayang ke hal lain, hal yang ingin Kyungsoo sendiri hindari. Hal yang membuat Kyungsoo memutuskan untuk membenamkan dirinya pada buku manajemen yang memusingkan itu selama dua setengah jam, berharap ia dapat melupakan pikirannya akan hal yang sama sekali tidak ingin ia pikirkan itu.

 

Kyungsoo menghela napasnya dengan berat. Ia tahu sekarang ia sudah gagal melarikan diri dari hal tersebut. Hal yang menghantuinya selama satu minggu ini. Ia sudah benar-benar gagal, terbukti dengan dilemparnya buku manajemen yang sangat tebal itu ke meja kaca yang berada dihadapannya. Kyungsoo kemudian mengambil sesuatu yang terletak disebelah buku manajemen tersebut. Ia memandangi apa yang kini sudah dipegangnya itu dengan ekspresi yang tidak dapat dimengerti. Tatapan yang seolah menyuruh apa yang kini dipegangnya itu lenyap sekarang juga.

 

Kyungsoo tersenyum miris ketika membaca namanya tertera disana. Hatinya merasa nyeri dengan seketika saat pikirannya malah berkata bahwa seharusnya nama ‘Do Kyungsoo’ bukan sebagai penerima undangan tersebut. Seharusnya nama ‘Do Kyungsoo’ berada di samping nama sang mempelai wanita.

 

Ya, yang tengah Kyungsoo pegang sekarang ini adalah sebuah undangan pernikahan. Undangan pernikahan yang diberikan padanya dari gadis yang sedari dulu ia cintai. Undangan pernikahan yang diberikan padanya dari gadis yang paling ia cintai selama dua belas tahun lamanya.

 

Bahkan bagi Kyungsoo, hanya dengan melihat namanya saja ia merasa sudah dapat pula melihat kecantikan yang selama dua belas tahun ia dambakan itu. Jang Surin, sebuah nama yang selama dua belas tahun tidak pernah sedetikpun pergi dari benak dan pikirannya, sekarang berdampingan dengan nama laki-laki lain selain dirinya. Oh Sehun, laki-laki yang menurut Kyungsoo paling beruntung karena namanya dapat berdampingan dengan nama cantik seorang Jang Surin di undangan pernikahan anggun sekaligus elegan tersebut.

 

Kyungsoo bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan lesu menuju ruang bacanya. Ia memperhatikan deretan buku-bukunya pada lemari besar yang kini berada di hadapannya. Kyungsoo tersenyum kecil ketika tidak lama ia berhasil menemukan sesuatu yang dicarinya. Laki-laki dengan rambut hitam itu mengambil sebuah album foto yang sudah usang, yang terletak diantara deretan buku-buku tebal koleksi miliknya. Kyungsoo menempatkan dirinya pada kursi yang berada tidak jauh darinya kemudian dengan perlahan laki-laki bermata bulat itu mulai membuka album foto tersebut. Album foto yang menyimpan beribu kenangan manis di dalamnya. Album foto yang dulunya selalu ia perbaharui setiap satu minggu sekali dengan foto-foto baru yang berhasil ia ambil melalui bantuan kamera digitalnya ataupun kamera ponselnya. Album foto yang sengaja Kyungsoo tinggalkan ketika ia pergi meninggalkan Korea sembilan tahun yang lalu.

 

Album foto berjudul ‘Teman Pertama di SMA’ yang Kyungsoo buat dua belas tahun lalu itu benar-benar seakan membawanya kembali ke masa yang menurutnya indah dan tidak dapat terlupakan itu. Kyungsoo sekarang mengerti bahwa sebenarnya album foto tersebut ia buat untuk Surin, teman pertama sekaligus cinta pertamanya di SMA.

 

Album foto tersebut benar-benar seperti sebuah cerita kronologi. Foto-fotonya benar-benar urut, dimulai dari pertemuan pertama Kyungsoo dengan gadis yang tidak ia sangka dapat mengubah cerita hidupnya yang menurutnya sangat membosankan. Kyungsoo tersenyum menatap foto pertama itu.

 

large (52)

 

Foto itu sengaja Kyungsoo tempel di halaman pertama buku tersebut untuk menggambarkan kedekatan dan persahabatan mereka selama tiga tahun di SMA. Ya, sejak kejadian tidak terduga yang terjadi saat mereka menduduki bangku kelas satu semester dua, Kyungsoo dan Surin yang tadinya seperti tidak mengenal satu sama lain, berubah menjadi teman dekat. Sangat dekat sampai-sampai semua orang salah mengira dan memiliki pemikiran bahwa mereka adalah sepasang kekasih yang  tidak terpisahkan. Pasalnya, meskipun mereka selalu berbeda kelas di SMA, semua orang tahu bahwa dimanapun ada Surin, maka disitu pasti ada Kyungsoo dan begitu sebaliknya.

 

Kyungsoo bersyukur ia mengalami kejadian tidak terduga itu. Kejadian yang bermula karena ide teman kelasnya, Byun Baekhyun. Ide perjodohan konyol yang dilakukan Baekhyun dan kekasihnya yang bernama lengkap Park Jimi, teman dekat Surin, bersama-sama.

 

Kyungsoo bukan tipe orang yang pandai bergaul, bahkan menurutnya ia sama sekali tidak memiliki teman dekat karena Kyungsoo sendiri tahu bahwa teman kelasnya hampir semua berpikir bahwa Kyungsoo adalah orang yang galak, pendiam, berhati dingin, dan hanya peduli pada pelajaran saja, terbukti dengan prestasi akademisnya yang tidak dapat diragukan lagi.

 

Kyungsoo juga tidak begitu tertarik dengan pikiran bahwa ia harus memiliki banyak teman, karena bagi Kyungsoo, yang terpenting bukanlah menikmati masa-masa SMA dengan teman sebaya, melainkan ia berpikir bahwa ia harus sudah menyusun masa depannya terutama saat ia duduk di bangku SMA. Kyungsoo hanya ingin fokus dengan cita-citanya untuk menjadi seorang dokter, seperti apa yang sangat diharapkan kedua orangtuanya sedari ia masih sangat kecil. Ia berusaha belajar dan terus menggali potensi akademis yang dimilikinya setiap hari sehingga Kyungsoo merasa bahwa ia benar-benar tidak memiliki waktu untuk melakukan kegiatan yang kebanyakan dilakukan teman sebayanya. Baginya, kegiatan seperti jalan-jalan keluar bersama teman-teman saat malam minggu dan sebagainya itu benar-benar tidak begitu penting.

 

Tapi bukan berarti Kyungsoo orang yang tergolong anti sosial, banyak teman kelasnya yang ingin berteman dengannya dan Kyungsoo tidak menjauhi mereka. Kyungsoo akan menanggapi mereka meskipun ujungnya percakapan mereka hanya berakhir begitu saja, seperti salah satu temannya yang paling tidak pernah menyerah dengan sikap tertutupnya, Byun Baekhyun. Karena mereka duduk bersebelahan, Baekhyun yang sangat cerewet dan tidak bisa diam itu selalu mengajak Kyungsoo mengobrol dan bahkan sesekali bercanda. Dari situlah, awal kejadian tidak terduga yang membuat Kyungsoo menjadi dekat dengan Surin bermula.

 

**

 

“Do Kyungsoo, sesekali kau harus lepas dari buku dan kaca mata bacamu yang tebal itu.”

 

Baekhyun yang kini duduk dihadapan Kyungsoo hanya memandanginya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan heran. Pasalnya saat ini adalah jam makan siang dimana semua anak benar-benar menjauhkan diri dari buku pelajaran yang memusingkan dan berusaha untuk menikmati waktu bebas mereka, entah itu menyantap makan siang, ataupun sekedar menghirup udara segar diluar kelas, meskipun waktu mereka hanya setengah jam.

 

Berbeda dengan anak-anak yang lain, Kyungsoo memilih untuk terus berkutat pada buku cetak matematika yang sangat tebal miliknya, terus berusaha memecahkan semua soal yang ada di buku tersebut. Ia bahkan tidak peduli ketika kini Baekhyun merebut susu kotak yang tadi dibelinya namun belum sama sekali ia minum itu. Ia hanya melirik Baekhyun yang kini sudah meminum susu kotak tersebut, kemudian kembali pada buku cetak matematikanya yang bagi Baekhyun sangatlah membosankan.

 

“Ya, Do Kyungsoo, aku serius. Aku akan membantumu jika kau mau.” Baekhyun tersenyum ketika ia melihat Kyungsoo yang langsung menatapnya. Baekhyun mengambil sesuatu dari dalam sakunya, sementara Kyungsoo hanya menatapnya dalam diam. Matanya begitu bulat dan polos membuat Baekhyun mau tidak mau akhirnya tertawa kecil sebelum ia menunjukan foto yang ia temui di dalam buku catatan Kyungsoo yang ia pinjam kemarin. Kyungsoo langsung merebut foto tersebut dan dengan spontan memasukannya ke dalam saku celana panjangnya. Ia berusaha menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya, namun Baekhyun sudah lebih dulu menangkap gelagat aneh itu.

 

“Itu foto Jang Surin, siswi kelas 1-4, kan? Kau menyukainya?” Kyungsoo hanya terdiam sementara Baekhyun menjentikan jarinya sambil tersenyum puas. “Sudah ku duga. Tidak apa, Kyungsoo-ya. Yang suka dengan Surin bukan hanya kau seorang. Siapa juga yang tidak menyukai Surin, gadis yang berhasil memenangkan lomba pidato bahasa Inggris sampai ke Eropa? Bahkan semua guru benar-benar menyukai gadis itu karena berhasil membawa nama sekolah sampai ke luar negeri. Kalau kau mau tahu, kekasihku, Park Jimi adalah teman dekatnya. Mereka bahkan berada dikelas yang sama.” Ujar Baekhyun membuat alis Kyungsoo bertaut, tidak mengerti.

 

“Mengapa? Kau bingung dengan apa yang aku katakan ini? Aku sudah bilang dari awal aku bisa membantumu. Membantumu untuk mendekatinya.” Kyungsoo segera melepas kacamatanya kemudian meletakan kacamata baca itu ditengah buku cetak matematika yang tidak lagi berhasil menarik perhatiannya. Kyungsoo terdiam untuk sesaat, berusaha berpikir. Ini adalah kesempatan yang baik, bahkan sangat baik. Namun Kyungsoo juga merasa sangat ragu.

 

Ia sudah menyukai Surin sedari mereka menjalani masa orientasi sekolah. Ia sudah menyukai Surin bahkan sebelum gadis itu berhasil meraih juara satu lomba pidato bahasa Inggris yang sangat mencengangkan itu. Selama ini, Kyungsoo hanya memendam rasa itu dalam hatinya. Kyungsoo tahu ia adalah laki-laki pengecut jika sudah berurusan dengan hal ini. Namun harus Kyungsoo akui, ia merasa takut. Ia tidak berani bahkan hanya untuk mengajak Surin berkenalan sehingga cara satu-satunya hanyalah memendam rasa yang semakin hari semakin besar itu sendirian di dalam hatinya.

 

Yang dapat Kyungsoo lakukan hanyalah menjadi penggemar rahasia seorang Jang Surin. Mengikuti gadis itu pulang setiap harinya, meskipun gadis itu sama sekali tidak menyadari keberadaannya, membuatkan Surin ribuan surat cinta yang tidak satupun dikirimnya, memotret sosoknya dari jauh dengan diam-diam dan semua kegiatan lainnya yang ia lakukan dengan bersembunyi.

 

Mungkin kau dapat mengatakan bahwa Kyungsoo adalah seorang penguntit, tapi Kyungsoo sama sekali tidak punya pikiran untuk menyakiti gadis itu. Mungkin kau dapat mengatakan bahwa Kyungsoo adalah seorang penguntit, tapi Kyungsoo pada kenyataannya hanya ingin melindunginya dari jauh. Mungkin kau dapat mengatakan bahwa Kyungsoo adalah seorang penguntit, tapi kalau kau mengetahui betapa besar rasa sayangnya pada Surin, kau tidak dapat membenci Kyungsoo. Kalau kau tahu betapa besar rasa yang sudah dipendamnya selama ini, kau tidak dapat membenci Kyungsoo.

 

“Bagaimana caranya?” Kyungsoo tahu ia sudah gila, tapi ini adalah satu-satunya kesempatan untuk dapat sekedar memperkenalkan dirinya secara resmi pada Surin.

 

Baekhyun tersenyum puas mendengar jawaban Kyungsoo barusan. “Kau hanya perlu datang ke perpustakaan setelah pulang sekolah nanti.” Ujar Baekhyun kemudian bangkit berdiri dari tempat duduknya. “Sekarang, aku harus menyusun rencana dulu dengan Jimi. Ingat, kau hanya perlu datang ke perpustakaan setelah pulang sekolah nanti.” Baekhyun meninggalkannya dengan tergesa-gesa sementara Kyungsoo hanya memperhatikan Baekhyun yang sudah menghilang itu dari tempatnya.

 

Kyungsoo benar-benar berharap semua akan berjalan dengan baik.

 

**

 

Kyungsoo memasuki ruang perpustakaan yang sangat sepi itu dengan ragu, terutama ketika ia melihat Surin yang tengah duduk sendiri bersama buku-buku yang berserakan di meja yang ada di hadapannya. Perpustakaan tersebut benar-benar sepi, hanya ada satu guru penjaga, dan Surin yang masih sibuk mengerjakan sesuatu di pojok ruang perpustakaan tersebut.

 

“Hanya sampai jam lima.” Ujar sang guru penjaga ketika Kyungsoo hendak menghampiri Surin. Kyungsoo mengangguk kemudian melirik jam dinding perpustakaan tersebut yang menunjukan pukul tiga sore. “Do Kyungsoo? Apakah kau Do Kyungsoo?” Kyungsoo terkejut ketika Surin memanggilnya dengan suara berbisik. Kyungsoo menghampiri meja Surin kemudian duduk di hadapannya. “Ka-kau mengetahui namaku?” Ujar Kyungsoo dengan perasaan yang benar-benar campur aduk. Kali ini ia dapat duduk berseberangan dengan gadis yang selama ini hanya dapat ia lihat dan kagumi dari jauh. Kali ini ia dapat dengan jelas melihat wajahnya dan menatap lurus manik mata hitam milik Surin yang membuat Kyungsoo semakin jatuh hati terhadap sosoknya.

 

“Woah, Park Jimi, gadis itu benar-benar gila ternyata.” Gumam Surin pada dirinya sendiri, namun Kyungsoo masih dapat mendengarnya dengan jelas. “Apa Jimi mengatakan sesuatu padamu?” Tanya Kyungsoo, ingin mengetahui apa yang membuat Surin terlihat kesal saat ini. Kyungsoo hanya merasa tidak enak jika hal tersebut disebabkan karena dirinya. Surin tersenyum kemudian menggeleng pelan. Ia meletakan pulpen yang tengah dipegangnya di meja tersebut kemudian menghela napas pelan.

 

“Jimi berkata bahwa ia sudah menyewa guru private untuk pelajaran yang sangat aku benci, yaitu matematika. Awalnya aku tidak percaya dan menyanggupi permintaannya untuk datang ke perpustakaan ini, karena kebetulan aku juga ingin mengerjakan tugas matematikaku disini mengingat aku tidak mempunyai buku rumus yang lengkap. Aku tidak sangka ia benar-benar menyewa seorang guru private matematika untukku.”

 

Kyungsoo tersenyum, ketika menyadari bahwa apa yang diceritakan Surin barusan adalah salah satu rencana dari Baekhyun dan Jimi untuk mengenalkannya pada Surin. “Aku minta maaf sebelumnya. Kalau aku lihat, sepertinya kau adalah siswa yang bersekolah disini? Aku tahu, kau pasti pintar sekali matematika dan karena itu Jimi memaksamu untuk melakukan ini, kan? Ah, gadis itu benar-benar keterlaluan.” Surin memijat pelipisnya kemudian kembali menatap Kyungsoo.

 

“Ia memang pernah berkata bahwa ia akan melakukan apapun agar nilai matematikaku di ujian kenaikan kelas nanti tidak bernasib sama dengan ulangan harianku yang mendapat dua. Tapi aku benar-benar tidak sangka ia akan memaksa seorang siswa yang pintar dalam pelajaran matematika untuk menjadi guru private-ku. Aku meminta maaf padamu, Kyungsoo-ssi.”

 

Surin menundukan kepalanya berkali-kali sementara Kyungsoo langsung tidak enak hati. “Tidak, tidak, Jang Surin-ssi. Aku memang ingin membantumu karena aku adalah salah satu penggemar beratmu. Jimi tidak memaksaku melainkan aku yang menawarkan diri untuk membantumu. Aku tahu kau tidak begitu baik dalam mata pelajaran matematika, jadi sebagai penggemarmu, aku ingin melakukan sesuatu untuk membantumu yaitu melalui cara ini.” Surin membelakan matanya dengan tidak percaya sementara Kyungsoo tidak bisa melakukan apapun selain menyesali perkataannya barusan.

 

“A-ah benarkah? Terima kasih banyak, Kyungsoo-ssi. Tapi kalau ini malah akan merepotkanmu, lebih baik jangan. Kau tahu? Aku benar-benar lambat dalam pelajaran matematika jadi kau pasti nantinya akan merasa sangat kesal dan juga menyesal sudah memilih untuk tetap mengajariku pelajaran ini.” Surin mulai menutup buku-bukunya sementara Kyungsoo langsung merebut buku-buku tersebut dan membukanya kembali. Kyungsoo mengambil kacamata baca dari dalam tas ransel warna hitam miliknya kemudian segera memakainya.

 

“Jadi, mana bagian yang tidak kau mengerti?”

 

Dan semenjak itu, mereka berdua menjadi dekat. Setiap pulang sekolah, mereka akan bertemu di perpustakaan, untuk bersama-sama mengerjakan soal matematika. Tidak hanya di perpustakaan saja, setiap hari sabtu, mereka juga akan bertemu di sebuah cafe atau restaurant untuk belajar bersama. Entah itu matematika, maupun pelajaran lainnya. Awalnya mereka hanya benar-benar belajar bersama, membahas semua tentang pelajaran tanpa memasukan topik lain di dalam pembicaraan mereka. Namun lama-kelamaan, tanpa mereka sadari, mereka mulai bercerita tentang diri mereka masing-masing pada satu sama lain sehingga setiap harinya mereka dapat mengenal satu sama lain lebih jauh lagi.

 

Belajar bersama, bertukar pikiran, bercerita tentang apapun, bercanda, dan tertawa bersama seolah menjadi kegiatan rutin dan menyenangkan bagi keduanya. Kyungsoo merasa sangat nyaman berada di dekat Surin, begitupula dengan gadis itu.

 

Perlahan-lahan, mereka menjadi semakin dekat. Mereka selalu makan siang bersama, ditemani pula dengan Baekhyun dan Jimi yang seringkali meledek dan menjodohkan mereka berdua. Baekhyun dan Jimi berkata bahwa Kyungsoo dan Surin menyembunyikan status hubungan mereka berdua, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Meskipun berkali-kali Kyungsoo ingin menyatakan cintanya pada Surin, namun Kyungsoo berpikir bahwa Surin sudah nyaman dengan hubungan mereka saat ini. Kyungsoo tidak ingin Surin malah menjauhinya dan apa yang sudah mereka lewati bersama hilang begitu saja hanya karena pernyataan cinta.

 

Kyungsoo tidak ingin membuat Surin merasa tidak nyaman. Ia benar-benar mencintai gadis itu sampai-sampai ia kembali memendam perasaannya meskipun lambat laun hal itu malah membuat dadanya terasa sesak.

 

**

 

Kyungsoo menghela napasnya, berusaha menghilangkan rasa sesak kala ia terus membuka album penuh kenangan itu. Entah mengapa rasa sesak yang dulu sering menghampirinya, kembali dapat ia rasakan saat ini terutama ketika ia melihat sebuah foto yang juga menyimpan cerita tidak terlupakan di dalamnya.

 

large (76)

 

Surin sudah tidak masuk sekolah selama dua hari karena sakit. Menurut informasi yang Kyungsoo dapat dari Jimi, Surin mengalami masalah pada lambungnya karena gadis itu sering mengabaikan makan malamnya. Kyungsoo merasa sangat khawatir dan tidak tenang sampai akhirnya ia berencana untuk mengunjungi Surin sepulang sekolah nanti.

 

“Kyungsoo-ya, apa itu?” Baekhyun mengambil kotak kecil yang berada di meja Kyungsoo namun dengan cepat, Kyungsoo segera merebutnya kembali. “Bukan apa-apa.” Baekhyun hanya tertawa kecil kemudian menatap Kyungsoo dengan tatapan menyelidik. “Jangan bohong, itu untuk Surin, kan? Kau ingin berkunjung ke rumahnya hari ini?” Kyungsoo mengangguk pelan kemudian Baekhyun langsung terlihat antusias.

 

“Kebetulan sekali. Tadi pagi, Jimi melakukan video call dengan Surin. Keadaannya sudah baikan, hanya saja gadis itu berkata bahwa ia merasa kesepian dan bosan di rumah sendirian. Ini adalah kesempatan emas, Kyungsoo-ya!”

 

“Sendirian? Ah, kalau begitu aku tidak jadi kesana.” Ujar Kyungsoo kemudian memasukan kotak berisi macaron, makanan kesukaan Surin ke dalam tasnya. “Memangnya kenapa? Jangan bilang karena kau tidak ingin hanya berduaan saja dengan Surin? Bukankah itu malah kesempatan yang sangat bagus?” Kyungsoo langsung menatap Baekhyun dengan tidak suka. “Itu namanya tidak sopan. Mana bisa kau hanya berduaan saja di suatu rumah dengan seorang gadis padahal kalian tidak ada hubungan apapun? Meskipun kalian berpacaran sekalipun, bagiku hal itu benar-benar tidak baik.”

 

Baekhyun langsung tertawa terbahak mendengar jawaban Kyungsoo barusan sementara Kyungsoo hanya memandangnya dengan tatapan heran. “Memangnya kau akan melakukan apa? Aku rasa itu sah-sah saja. Pikiranmu saja yang mengarah ke hal yang tidak-tidak, Kyungsoo-ya.”

 

“Ya, Byun Baekhyun, bukan seperti itu. Bagaimana jika hal tersebut malah memicu pembicaraan tidak sedap di lingkungan rumah Surin? Lagipula, aku benar-benar merasa bahwa berduaan saja dengan seorang gadis di sebuah rumah bukanlah hal yang baik dan sopan.”

 

“Ah, kau ini kuno sekali. Yasudah, terserah kau saja. Yang penting aku sudah memberikan informasi penting itu.” Ujar Baekhyun sambil tersenyum jahil.

 

Kyungsoo langsung larut dalam pikirannya sendiri. Di satu sisi ia sangat ingin mengunjungi Surin, namun disisi lain, Kyungsoo merasa tidak sopan jika harus berkunjung ke rumah Surin saat gadis itu tengah sendirian dirumahnya. Kyungsoo tidak habis pikir dengan Baekhyun yang menganggap bahwa berkunjung ke rumah seorang perempuan yang tengah sendirian itu adalah kesempatan baik dan merupakan hal yang sah-sah saja. Jelas-jelas hal tersebut adalah pelanggaran. Seperti yang sudah Kyungsoo katakan, meskipun sudah berpacaran, tetap saja berkunjung ke rumah seorang perempuan yang tengah sendirian dan berakhir dengan berduaan saja bukanlah hal yang baik dan sopan.

 

Setelah bergulat dengan pemikirannya sendiri, akhirnya Kyungsoo tetap memutuskan untuk mendatangi rumah Surin. Kyungsoo memutuskan untuk hanya memberikan macaron yang ia buat sendiri itu pada Surin, lalu setelahnya ia berencana akan langsung pulang.

 

Kyungsoo mengendarai sepedanya menuju rumah Surin yang letaknya cukup jauh dari sekolah. Meskipun perjalanan menuju rumah Surin terasa begitu panjang dan memakan waktu yang lama, Kyungsoo akhirnya berhasil berdiri di pagar rumah Surin. Kyungsoo bermaksud untuk menekan bel yang ada di samping pagar tersebut, namun seketika ia mengurungkan niatnya.

 

“Ah, aku pasti akan mengganggu waktu istirahatnya.” Kyungsoo berusaha berpikir panjang namun akhirnya ia berdecak kesal. Ia sama sekali tidak memiliki ide apapun untuk dapat bertemu dengan gadis pujaan hatinya itu. Kyungsoo memandang bel itu sekali lagi, namun kemudian ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Pasti sekarang ia sedang beristirahat di kamarnya.” Sungguh, Kyungsoo tidak ingin membuat Surin yang sedang sakit itu berjalan banyak guna menghampirinya yang kini berdiri di depan pagar berwarna putih tersebut.

 

Akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk berjongkok di depan pagar rumah Surin sambil memegangi kotak berisi macaron buatannya itu. Kyungsoo tidak tahu ia menunggu apa sekarang ini. Ia juga tidak tahu sampai kapan ia akan berjongkok disitu. Kyungsoo hanya ingin berada di tempat itu, karena ia merasa rasa rindunya yang sudah membuncah akibat tidak bertemu dengan Surin selama dua hari itu seakan sedikit terobati mengingat jarak mereka saat ini yang tidak begitu jauh antara satu sama lain.

 

Kyungsoo terus menunggu di depan pagar rumah Surin sampai tidak terasa jam tangan yang dikenakannya saat ini menunjukan pukul sembilan malam. Kyungsoo bertanya-tanya, apakah Surin sudah menyantap makan malamnya atau belum. Kyungsoo benar-benar khawatir gadis itu akan melewatkan makan malamnya dan membuat sakit di lambungnya itu semakin parah. Sedari tadi Kyungsoo benar-benar hanya memikirkan gadis itu, tanpa sekalipun memikirkan dirinya yang saat ini masih mengenakan seragam sekolah, wajah yang sudah sangat kusut karena kelelahan, dan juga perutnya yang sedari tadi sudah berbunyi.

 

Tidak lama setelah itu, sebuah mobil sedan berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang ini. Kyungsoo langsung berbungkuk sopan ketika kedua sepasang suami istri yang Kyungsoo duga adalah kedua orang tua Surin, berjalan menghampirinya. “Nak, apa yang kau lakukan di depan sini? Apa kau adalah teman anak kami, Jang Surin?” Tanya seorang laki-laki yang ternyata adalah ayah kandung Surin. “Maaf mengganggu. Benar, saya adalah teman Surin. Nama saya Do Kyungsoo. Saya hanya ingin memberikan ini pada Surin.” Kyungsoo menyerahkan kotak berisi macaron yang tengah dipegangnya itu pada ayah Surin sambil tersenyum ramah.

 

“Kalau begitu, saya pamit dulu. Permisi.” Kyungsoo baru saja akan menaiki sepedanya, namun tiba-tiba ibu kandung Surin menahan tangannya. “Astaga, tanganmu ini dingin sekali. Kau pasti sudah lama menunggu di depan sini, ya? Mampirlah sebentar, aku akan membuatkanmu makan malam.” Kyungsoo berbungkuk sopan sambil berterima kasih sementara kedua orangtua Surin hanya tersenyum lembut.

 

Mereka tahu betul bahwa Kyungsoo sudah lama menunggu di depan pagar rumah mereka, dan mereka tidak menyangka alasannya tidak memencet bel atau memanggil Surin untuk keluar rumah hanya karena ia tidak ingin mengganggu waktu istirahat gadis itu. Mereka benar-benar tidak menyangka masih ada pemuda yang sangat baik dan sopan seperti Kyungsoo di jaman seperti sekarang ini.

 

Dan sejak saat itu, Kyungsoo yang sangat disukai oleh kedua orangtua Surin menjadi lebih sering bermain ke rumah Surin, untuk sekedar makan malam setelah belajar bersama. Hubungan mereka jauh lebih dekat dari sebelumnya, bahkan keduanya merasa seperti sudah berteman dengan satu sama lain untuk jangka waktu yang sangat panjang.

 

Mulai dari saat itu pula, julukan “dimana ada Surin, disitu pasti ada Kyungsoo” mulai menyebar ke seluruh penjuru sekolah.

 

**

 

Kyungsoo merasa hatinya begitu berat memandangi semua foto yang ada di album tersebut. Kyungsoo tidak menyangka, bahwa sebentar lagi gadis itu akan benar-benar pergi dari sisinya. Semua foto yang ada dalam album itu benar-benar hanya akan menjadi kenangan yang menyimpan cerita bisu tentang mereka berdua.

 

large (54)

 

Note : Jang Surin, gadis yang gemar menghabiskan uangnya hanya untuk membeli barang-barang tidak penting. Termasuk baju yang biasanya digunakan oleh para pasangan penuh romantika diluar sana ini. Kau harus tahu, baju pasangan kami bukan hanya ini saja, tapi masih banyak lagi. Hahaha. Sejujurnya, aku senang kami melakukan hal ini. Meskipun aku sendiri sedikit malu keluar dengan baju pasangan seperti ini, tapi melihat Surin yang sangat senang, rasa malu itu dapat aku atasi dengan baik.

 

large (49)

 

Note : Jang Surin, gadis paling keras kepala dan pantang menyerah yang pernah aku temui. Hari ini kami berjalan-jalan di sekitar daerah Sinsa. Saat itu aku melihat mesin pencapit boneka, dan aku ingin mencoba memainkannya untuk memberikan Surin sebuah boneka. Selama dua puluh menit aku mencoba memainkan mesin tersebut tetapi tidak kunjung membuahkan hasil, sementara Surin terus saja menyemangatiku. Karena geram, ia memutuskan untuk turun tangan meskipun hasilnya sama saja. Tidak ada satu boneka pun yang terambil. Aku berkata padanya, “Surin-a, mesin itu mungkin memang sengaja dibuat hanya untuk menghabiskan uang kita. Sudahlah, menyerah saja. Uang yang sudah kita pergunakan untuk memainkan mesin tersebut bahkan sudah bisa digunakan untuk membeli sebuah boneka di toko.”

“Tidak, aku tidak akan menyerah sampai aku mendapatkan boneka hijau itu.” Dan setelah berkata demikian, Surin terus mencoba sampai akhirnya ia berhasil mendapatkan boneka tersebut. Padahal, awalnya aku yang ingin memberikannya boneka, namun ujungnya malah gadis itu yang memberikan sebuah boneka untukku. Kyungsoo-ya, sepertinya kau harus belajar banyak dari gadis keras kepala dan pantang menyerah itu.

 

large (16)

 

Note : Foto ini di ambil tepatnya hari Sabtu, di lapangan atas sekolah. Saat itu aku harus pergi ke sekolah untuk menyiapkan beberapa proposal acara pentas seni mengingat aku adalah ketua dari organisasi intra sekolah yang sangat bertanggung jawab akan acara besar tahunan sekolah tersebut. Persiapan acara, proposal, dana acara, dan semua hal yang berhubungan dengan acara pentas seni benar-benar menjadi salah satu beban terberatku saat itu. Semua orang benar-benar seakan menekanku dan menyerahkan seluruhnya hanya padaku.

Lalu kemudian, disaat aku tengah dalam keadaan kacau yang aku sendiri tidak dapat jelaskan, Surin datang untuk menemaniku mengerjakan proposal tersebut sambil juga membawakan makan siang. Ia memberikanku motivasi ketika aku benar-benar sudah lelah mengurus acara tersebut. Ia memberikanku semangat, ketika tidak ada satupun orang yang melakukan hal itu.

Surin mengajakku untuk menjernihkan pikiran di lapangan atas sekolah. Dan saat itu, aku tahu apa itu definisi dari kata ‘lega’. Perasaanku menjadi jauh lebih ringan saat aku melihat langit luas yang tenang itu.

Bukan hanya definisi kata ‘lega’ yang aku ketahui setelah beberapa menit aku berada di lapangan atas sekolah bersama dengan Surin. Aku juga mengetahui definisi kata ‘cantik’ yang sebenarnya.

Cantik itu adalah,

Surin dan langit luas berwarna biru itu.

 

large (29)

 

Note :  Aku ingin menjadi sandarannya. Aku ingin selalu berada di dekatnya. Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang melindunginya. Aku ingin menjadi alasan dari senyuman manisnya. Aku ingin menjadi warna terang dalam kehidupannya. Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang berada dihatinya.

Surin-a, apa kau dapat mendengar teriakan dari dalam hatiku itu setiap kali kau menyandarkan kepalamu di bahuku?

 

large (26)

 

Note : “Kau bahkan lebih cantik dari pemandangan itu.” Seandainya aku dapat mengatakan kalimat itu langsung padamu, Jang Surin. Aku tahu aku hanyalah seorang laki-laki pengecut yang tidak berani menunjukan perasaannya pada perempuan yang sangat dicintainya. Tapi bisakah aku berharap? Bisakah aku berharap kau akan mengetahui perasaanku ini melalui rangkulan itu? Bisakah aku berharap kau akan mengetahui apa yang sudah aku pendam selama ini, Jang Surin?

 

large (51)

 

Note : Terima kasih kepada Baekhyun yang sudah mengambil foto ini tanpa sepengetahuan kami berdua. Aku sendiri baru sadar bahwa kami berdua memiliki hobi baru. Menggenggam tangan satu sama lain dengan erat.

Dapatkah aku berkata bahwa itu adalah ‘hobi kami berdua’ atau haruskah aku berkata ‘hobi ku sendiri’? Aku lebih memilih berkata bahwa menggenggam tangan satu sama lain adalah hobi kami berdua yang tidak kami sadari. Terbukti dengan aku yang tanpa sadar selalu menggenggam tangan Surin saat kami menyebrang jalan, ataupun saat kami tengah berjalan berdua di tempat yang ramai. Bukti lainnya adalah Surin yang juga akan melakukan hal serupa bahkan secara tiba-tiba menggenggam tanganku kapanpun dan dimanapun meskipun ia tidak menyadari hal tersebut.

Perasaanku menjadi lebih hangat, setiap kali aku menggenggam tangannya, dan aku harap Surin juga merasakan hal itu. Foto ini benar-benar menjadi foto favorite-ku sekarang. Tatapan itu, genggaman tangan itu, bahkan aku dapat merasakan rasa hangat itu dengan hanya melihat foto ini.

Dengan bukti-bukti tersebut, aku dapat mengatakan bahwa menggenggam tangan satu sama lain itu adalah hobi kami berdua, kan?

 

large (56)

 

Note : Look who’s excited because i won mathematic national olympiade. Hahaha. Setelah dua minggu menjalani pelatihan panjang di Busan, akhirnya perjuangan itu membuahkan hasil. Aku berhasil memenangkan olimpiade matematika tingkat nasional yang diselenggarakan di Busan. Foto ini diambil tepat setelah satu hari aku kembali ke Seoul. Aku sengaja membohongi Surin tentang hasil dari olimpiade tersebut. Surin yang hampir menangis karena aku berkata bahwa aku kalah dan semua perjuanganku berujung sia-sia itu akhirnya memutuskan untuk mengambil kamera yang saat itu tengah aku gantung di leherku dan meminta seseorang untuk memotret kami berdua.

“Tidak apa, Kyungsoo-ya. Jangan jadikan semua itu sebagai penyesalan. Bagaimanapun, bagiku kau tetaplah juaranya. Sekarang, aku ingin berfoto dengan sang juara bernama Do Kyungsoo, jadi kau tidak boleh menolaknya.”

Dan setelah Surin berkata demikian, aku membisikan sesuatu di telinga gadis itu yang membuat Surin langsung melompat girang ke dalam pelukanku. Orang yang tadi Surin mintai bantuan dengan cepat mengabadikan moment tersebut, membuatku selalu ingin berterima kasih pada orang itu setiap kali aku melihat hasil foto yang diambilnya tersebut.

“Surin-a, sebenarnya aku menempati juara satu olimpiade matematika itu. Dan aku ingin mempersembahkan itu untukmu.”

 

large (68)

 

Note : Tidak terasa, dua minggu lagi adalah ujian akhir yang menentukan kami lulus atau tidak dari tingkat sekolah menengah atas. Belajar, belajar, dan belajar adalah kegiatan yang menjadi keharusan setiap harinya. Masukan serta motivasi gadis itu menjadi penyemangat sendiri untukku. Saling mendukung, saling mengajari, saling memberitahu kekurangan masing-masing, itulah yang kami lakukan setiap harinya untuk mempersiapkan ujian akhir nanti.

Masa depan dan cita-citaku sudah terlihat dengan jelas, dan aku ingin menggapai itu semua bersama dengan Surin yang berada disisiku.

 

Kyungsoo mengelus wajah Surin yang berada di foto tersebut sembari tersenyum pahit. Kyungsoo benci kalimat terakhir dari catatan yang berada dibawah foto tersebut. Pada kenyataannya, ia tidak bisa menggapai cita-citanya bersama dengan Surin. Kehidupan yang sebenarnya malah memaksanya untuk memilih mana yang ingin diperjuangkannya. Cita-citanya, atau gadis yang sama pentingnya dengan cita-citanya itu.

 

Semua bermula dari kedua orangtuanya. Tepat setelah perayaan kelulusan yang diselenggarakan di sekolahnya, orangtuanya mengajak Kyungsoo ke sebuah restaurant untuk menikmati makan malam bersama dalam rangka merayakan keberhasilan Kyungsoo. Kyungsoo mampu membuktikan pada kedua orangtuanya bahwa ia bisa melewati tiga tahun masa belajarnya di tingkat sekolah menengah atas dengan sangat baik. Ia berhasil menduduki juara satu sebagai siswa dengan nilai tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

 

Awalnya Kyungsoo benar-benar menikmati makan malam penuh rasa bahagia itu, namun semua perasaan bahagianya seketika meredup begitu saja saat kedua orangtuanya memberitahu Kyungsoo mengenai suatu hal penting yang menyangkut masa depannya.

 

**

 

“Kyungsoo-ya, kami ingin memberitahumu sesuatu mengenai tingkat pendidikanmu yang selanjutnya. Kami sudah membatalkan beasiswa dari Korea University yang kau dapati itu. Kami memutuskan untuk mendaftarkanmu di salah satu univeristas yang ada di Jerman. Kau tahu sendiri kan, kedokteran di Jerman itu benar-benar nomor satu dari negara yang lainnya. Kami ingin yang terbaik untuk pendidikanmu selanjutnya ini karena pendidikan tingkat perguruan tinggi inilah yang akan menentukan masa depanmu.”

 

Ayahnya menyerahkan tiket pesawat, paspor, dan juga brosur mengenai universitas Jerman yang dimaksud kedua orangtuanya itu sementara Kyungsoo hanya membelakan kedua matanya dengan tidak percaya.

 

“Minggu depan, kau akan berangkat ke Jerman untuk lebih dulu beradaptasi dan mempelajari bahasa Jerman sebelum setengah tahun kemudian kau resmi menjadi mahasiswa di universitas itu. Kau akan tinggal disebuah asrama yang disediakan oleh universitas itu. Semua kegiatanmu sudah diatur, jadi kau tidak perlu bingung dan ikuti saja semua rangkaian kegiatan yang adalah program untuk mahasiswa dari luar tersebut.” Ibunya menjelaskan namun Kyungsoo masih belum sadar sepenuhnya dari keterkejutan yang dengan tiba-tiba menyerangnya.

 

“Tapi, eomma, appa, aku tidak ingin pergi keluar negeri. Aku merasa cukup dengan hanya berkuliah disini. Aku janji, aku akan berusaha keras untuk menjadi dokter yang hebat meskipun aku tidak berkuliah di luar negeri. Aku benar-benar tidak menginginkan hal ini.”

 

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya yang menurutnya membosankan, Kyungsoo menyuarakan apa yang selama ini dipendamnya. Seluruh hidupnya sudah ia dedikasikan untuk kedua orangtuanya. Selama belasan tahun ini, Kyungsoo tidak pernah sedikitpun melawan ataupun tidak menuruti kemauan orangtuanya. Bahkan menjadi dokter bukanlah keinginannya, itu adalah keinginan orangtuanya sejak Kyungsoo masih sangat kecil. Kyungsoo tidak memprotes hal tersebut melainkan ia berusaha sekeras mungkin untuk dapat mewujudkan impian tersebut. Dan ketika ia berhasil mencapainya, ketika ia berhasil mendapatkan beasiswa di Korea University jurusan kedokteran, orangtuanya malah kembali mengharapkan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang kali ini Kyungsoo rasa benar-benar sudah keluar dari kapasitas kemampuannya.

 

“Kyungsoo-ya. Kami mohon padamu.” Ibunya berujar dengan mata yang berkaca-kaca sambil menggenggam tangannya. Kyungsoo menyayanginya, sungguh. Ia menyayangi ibunya dengan setulus hatinya dan ia tidak ingin mengecewakan wanita yang memegang peran paling penting dalam hidupnya.

 

“Baiklah, aku akan pergi ke Jerman minggu depan.”

 

**

 

Kyungsoo menatap foto Surin dengan berat hati. Foto yang diambil satu hari sebelum Kyungsoo memberitahu Surin mengenai kepergiannya ke Jerman. Saat itu Kyungsoo sendiri belum sepenuhnya menerima keputusan orangtuanya yang baru didengarnya kemarin, namun Kyungsoo mencoba untuk tetap berusaha terlihat baik-baik saja di depan Surin. Kyungsoo tetap menjalankan rencananya untuk mengajak Surin pergi ke acara ‘prom night’ yang akan di selenggarakan tepat esok hari, sebagai salah satu acara kelulusan sekaligus perpisahan murid-murid yang sudah selama tiga tahun berjuang bersama itu. Kyungsoo memberikan Surin bunga, lalu meminta gadis itu untuk menjadi teman kencannya di acara ‘prom night’ nanti. Saat itu Kyungsoo benar-benar tidak menyangka Surin langsung menerimanya bahkan gadis itu berkaca-kaca ketika Kyungsoo memberikan bunga tersebut padanya.

 

large (61)

 

Note : The friend label is a label that I got to hate.

The feelings I have hid still remain as a painful secret memory.

The photos that can’t define our relationship is a heartbreaking story.

I’m sorry, my spring. I have to say goodbye now.

 

Seketika sekelebat bayangan tentang rentetan kejadian yang tidak ingin diingatnya kembali terputar layaknya sebuah film.

 

**

 

“Oh astaga, kalian berdua cocok sekali!” Jimi yang kini tengah menggandeng lengan Baekhyun berseru ceria seraya berdiri tepat di depan Kyungsoo dan Surin. Jimi mengenakan dress selutut yang lucu senada dengan setelan jas rapi yang dikenakan Baekhyun sementara Surin mengenakan dress panjang berwarna abu-abu terang, dan Kyungsoo yang berdiri disamping gadis itu mengenakan setelan jas rapi dengan dasi hitam yang berhasil membuat Kyungsoo terlihat sangat dewasa malam ini.

 

“Ya, Do Kyungsoo! Bagaimana bisa kau membiarkan gadis secantik Surin hanya diam saja disini? Kau harus mengajak sang putri berdansa! Cepat, sana!” Baekhyun mendorong bahu Kyungsoo yang kini hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kyungsoo menyodorkan telapak tangannya pada Surin lalu gadis itu dengan senang segera menggenggamnya.

 

Mereka berjalan beriringan ke arena dansa. Kyungsoo mulai memberanikan diri untuk meletakan kedua tangan Surin di bahunya, lalu setelah itu ia meletakan kedua tangannya sendiri pada pinggang Surin. Gadis itu tertawa kecil membuat Kyungsoo turut melakukan hal yang sama.

 

Dengan canggung, mereka mulai berdansa dengan lembut, mengikuti iringan lagu yang mengalun. Kyungsoo menatap lurus kedua manik mata milik Surin, begitupula dengan gadis itu. Kyungsoo merasa jantungnya berdebar dengan keras ketika melihat Surin menyunggingkan senyuman manisnya. Jarak mereka yang begitu dekat, tatapan yang seakan tengah berbicara satu sama lain, dan senyuman manis Surin yang hanya diperuntukan untuknya benar-benar membuat otak Kyungsoo tidak dapat berpikir dengan jernih.

 

“Kyungsoo-ya, selamat karena sudah menduduki peringkat pertama dan lulus dengan nilai yang sangat baik.” Surin berujar membuat Kyungsoo tersenyum kecil. “Selamat juga untukmu.” Balas Kyungsoo kemudian senyuman yang terulas di wajah Surin semakin mengembang.

 

“Surin-a, aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu.” Kyungsoo merasa jantungnya ingin berhenti saat itu juga. Ia tidak siap memberitahu Surin mengenai kepergiannya ke Jerman. Ia benar-benar tidak siap. “Apakah itu sangat penting sampai membuat alismu bertaut seperti sekarang ini?” Surin menyentuh satu alis Kyungsoo dengan ibu jarinya sambil tertawa kecil.

 

“Aku ingin memberitahumu bahwa… bahwa.. bahwa kau terlihat sangat cantik malam ini.” Surin langsung tertawa mendengar ucapan Kyungsoo barusan. Meskipun itu adalah salah satu hal yang memang ingin diberitahukan Kyungsoo pada Surin, tapi sebenarnya ada hal yang lebih penting daripada itu.

 

“Kyungsoo-ya, kau lucu sekali. Ah, aku berharap kita bisa seperti ini selamanya.” Surin memeluk leher Kyungsoo dengan erat kemudian meletakan dagunya pada bahu laki-laki itu sementara kini Kyungsoo sudah mengeratkan pelukannya pada pinggang Surin.

 

“Surin-a, maafkan aku.” Kyungsoo berbisik membuat Surin yang masih meletakan dagunya di bahu Kyungsoo mengernyit heran. “Untuk apa?”

 

“Aku ingin selalu berada di sisimu. Aku ingin selalu berada di dekatmu. Tapi, aku tidak bisa. Aku akan pergi ke Jerman minggu depan untuk melanjutkan pendidikanku disana. Aku tidak tahu kapan aku kembali ke sini, tapi aku yakin itu akan memakan waktu yang sangat lama.”

 

Surin terdiam untuk beberapa menit, begitupun dengan Kyungsoo. Yang Kyungsoo tahu, setelah sekitar tiga menit mereka berdiam, Surin menangis terisak di bahunya untuk waktu yang lama.

 

Kyungsoo menyesal ia tidak menyatakan cintanya pada Surin sedari dulu. Sekarang, ia benar-benar tidak bisa mengatakan pada Surin bahwa ia sangat mencintai gadis itu. Kyungsoo tidak ingin Surin berakhir menunggu dirinya kembali entah sampai kapan.

 

Kyungsoo tidak menyangka bahwa ceritanya dengan Surin akan berakhir seperti ini.

 

**

 

Sembilan tahun kemudian.

 

“Lama tidak berjumpa, Jang Surin.”

 

“Do Kyungsoo! Dokter Do! Akhirnya kau kembali!” Surin langsung berhambur ke pelukan Kyungsoo. Ia tidak mempedulikan pandangan heran orang-orang yang ada di bandara itu akibat teriakannya barusan. “Aku benar-benar merindukanmu! Kau bahkan bertambah tampan dan dewasa sekarang.” Surin melepas pelukannya kemudian mulai berceloteh sementara Kyungsoo hanya tersenyum senang.

 

Setelah sembilan tahun lamanya, akhirnya ia kembali ke Seoul. Kyungsoo sudah memutuskan untuk membuka klinik pribadi di daerah Gangnam, sementara kakak laki-lakinya menggantikannya untuk mengurus klinik keluarganya yang berada di Jerman. Kyungsoo sengaja melakukan hal tersebut. Tujuan utamanya hanyalah karena gadis yang sedari dulu tidak berubah, yang kini tengah berdiri dihadapannya.

 

Kyungsoo ingin memulai kembali ceritanya dengan Surin. Kali ini, Kyungsoo bertekad untuk tidak lagi memendam perasaannya. Secepat mungkin, Kyungsoo pasti akan menyatakan perasaannya pada Surin. “Aku juga sangat merindukanmu, Jang Surin. Aku merasa akan gila jika perasaan itu terus dibiarkan, maka aku kembali ke sini untuk menemuimu.” Surin tertawa sementara Kyungsoo hanya menatapnya dengan tatapan rindu.

 

Baru saja Kyungsoo akan menarik gadis itu ke dalam pelukannya kembali, tiba-tiba seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan kulit putih seperti susu berlari kecil menghampiri Surin. “Ini pesananmu, nona bawel.” Laki-laki berambut hitam itu langsung menyerahkan satu cup ice cream pada Surin, kemudian ia mengalihkan perhatiannya pada Kyungsoo yang hanya menatap mereka berdua dengan tatapan tidak mengerti.

 

“Ah, Sehun-a, ini dia Do Kyungsoo, sahabat baikku yang sering aku ceritakan padamu.” Sehun langsung berbungkuk sopan dengan senyuman menawannya, membuat Kyungsoo segera melakukan hal serupa. “Halo, nama saya Oh Sehun. Surin menceritakan banyak hal tentangmu.” Sehun merangkul Surin sementara gadis itu langsung tersenyum manis ke arahnya. Kyungsoo dapat menebak bahwa ada sesuatu yang spesial di antara mereka berdua. Kyungsoo tidak ingin mempercayainya, tapi semakin ia menampiknya, ia semakin yakin akan pikirannya barusan. Surin sudah memiliki kekasih, dan itu adalah laki-laki berparas tampan bernama Oh Sehun.

 

“Kyungsoo-ya, banyak hal yang terjadi selama sembilan tahun kepergianmu ke Jerman. Banyak hal yang terjadi ketika kau tidak menghubungiku selama sembilan tahun. Aku tidak ingin menanyakan alasan mengapa kau tidak kunjung menghubungiku, karena sekarang aku senang kau sudah kembali ke sini. Aku senang akhirnya seminggu yang lalu, kau membalas ratusan email-ku setelah sembilan tahun aku menunggu. Aku senang akhirnya kau membalas semua email-ku dan berkata bahwa kau akan kembali ke sini.”

 

Kyungsoo dapat melihat gadis itu dengan susah payah menahan air matanya agar tidak jatuh. Saat itu Kyungsoo tahu betapa egoisnya ia selama ini. Kyungsoo berusaha menghindari semua email Surin selama sembilan tahun karena ia takut, ia benar-benar akan kembali ke Seoul ketika ia membaca semua pesan dari Surin, dan akhirnya ia malah akan melupakan semua cita-cita besar orangtuanya. Kyungsoo sama sekali tidak memikirkan perasaan Surin. Ia tidak tahu bahwa Surin menunggunya selama ini, dan ia benar-benar menyesal telah membuat Surin seperti itu.

 

“Banyak hal yang terjadi selama sembilan tahun kepergianmu ke Jerman. Salah satunya adalah kehadiran laki-laki yang berada di sampingku saat ini.” Surin tersenyum seraya merangkul pinggang laki-laki bernama Sehun itu dengan senyuman senang sementara Kyungsoo merasa hatinya benar-benar hancur saat itu juga.

 

“Aku akan menikah dengannya dalam beberapa minggu lagi. Aku berharap kau mau datang ke acara pernikahan kami.” Surin menyerahkan undangan yang ia ambil dari dalam tasnya pada Kyungsoo yang hanya menerimanya dengan bibir yang kelu.

 

Dan saat itu Kyungsoo tahu, kini giliran Surin yang pergi darinya. Pergi untuk selamanya dari sisinya.

 

**

 

Rasa pahit itu benar-benar masih berbekas di dalam hati Kyungsoo saat ini. Bahkan setelah penantian yang sangat panjang, Kyungsoo tetap tidak dapat menyatakan perasaan yang selama ini dipendamnya pada Surin.

 

Yang dapat Kyungsoo lakukan sekarang ini hanyalah melepasnya. Melepas Surin untuk selamanya, dan membiarkan gadis itu berbahagia bersama laki-laki yang lebih pantas untuknya. Meskipun berat, Kyungsoo akan belajar menerima hal tersebut.

 

Kyungsoo tidak ingin menyesali pertemuannya dengan Surin di awal musim semi dua belas tahun yang lalu. Kyungsoo tidak ingin menyesali kisah cintanya dengan Surin yang bersemi di awal musim semi dua belas tahun yang lalu.

 

Ia akan terus mengingatnya. Ia akan terus mengingat seorang Jang Surin, gadis yang lebih indah dari pada musim semi.

 

large (3)

 

Note : The friend label is a label that I got to hate. A heartbreaking story.

I’m sorry, my spring. Now, we have to say goodbye. The real goodbye.

 

-FIN.

 

Yeay! May project finished! Sekarang lagi musim semi di Korea. Musim yang paling indah dari semua musim. Banyak pohon cherry yang bermekaran dipinggir jalan. Rasanya bener-bener jadi pengen kesana! Nah, terinspirasi dari pohon cantik itu, lahirlah fanfict ini!

Sengaja cast utamanya adalah Kyungsoo. Kenapa begitu? Karena selama ini kalian tahu, kan kalau Kyungsoo itu selalu jadi orang ketiga(?) diantara Sehun dan Surin. Melalui fanfict ini, aku pengen ceritain betapa besarnya rasa cinta Kyungsoo buat Surin. ((semoga tersampaikan dengan baik, ya. hehehe))

Aku juga sengaja gak nyeritain perasaan Surin terhadap Kyungsoo disini. Biar readers aja yang menebaknya sendiri.

Menurut kalian, Surin juga menyimpan rasa atau tidak terhadap Kyungsoo saat mereka masih duduk di bangku SMA dulu? Kalau iya, coba beri alasannya!

Maaf kalau masih banyak kekurangan! Mohon diberikan masukan yaaa!

Terima kasih karena sudah mau membaca sampai kata-kata terakhir ini.

See you on the next ff. xoxo.

 

 

Advertisements

2 comments

  1. rahsarah · January 2, 2017

    haaaiiii ade hehe
    lama ga mampir kw blog kamu eh ternyata kelewatan blm baca ini
    ya ampun do kyungsooo huuaaaa tarik napassss buang huuuu kyungsoo pertemanan kamu sma surin bener2 buat aku mewekk sweet banget knpaaa oh knpa kamu ga nyatain perasaan kamu ke surin?
    penasaran juga sebenernya surin ada rasa lebh ga ke kyungsoo?

    tapi emang dari awal si surin diciptakan untuk oh sehun sayang hahaha sabar sabar ya kyungsoo cini cini cama aku aja wkwkwk

    • Oh Marie · January 2, 2017

      HAI KAK SARAAAAAAH
      Kangen banget sama komen kak sarah huhuhu makasih ya kak udah mau mampir lagi, baca-baca, dan ninggalin komen><

      Iya kalo udah jodoh mah mau digimanain lagi ya huhu *pukpukin kyungsoo* waduh kak aku juga mau kalo sama kyungsoo mah HAHAHAHA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s