12 Drabble Of SEHUN

 

012 Drabble Of SEHUN

Oh Marie’s special present for the birthday boy, Oh Sehun.

Happy birthday to the twinkle of my eyes and the person who i love from the bottom of my heart, Oh Sehun.

 

**

 

12 Drabble Of SEHUN : 1st – Cuddle

1st - Cuddle

 

Jang Surin, gadis yang kini tengah bersandar manja di lengan kuat kekasihnya yang diketahui bernama Oh Sehun itu hanya memperhatikan kedua kaki mereka yang berada di atas meja kaca tersebut. Surin meletakan kedua kakinya diatas kaki Sehun lalu tertawa kecil. Ia hanya gemas dengan sepasang kaos kaki berwarna pink terang bergambar kartun Larva yang kini tengah ia dan Sehun kenakan.

 

Saat ini mereka berdua tengah duduk bersantai di sofa ruang tamu yang nyaman dengan segelas cokelat panas di tangan mereka masing-masing. Mereka dapat melihat hujan terus membasahi bumi dengan terus-menerus dari jendela besar apartment milik Surin tersebut, membuat setiap orang yang hanya menyaksikannya dapat merasakan betapa dinginnya cuaca di luar saat ini. Surin mengeratkan pelukannya pada lengan Sehun seraya menyandarkan kepalanya disana. Seketika rasa dingin yang ia bayangkan berubah menjadi nyata membuatnya langsung ingin mencari sumber kehangatan yang dapat ia temukan pada lengan kekasihnya itu. Sehun tersenyum seraya menyesap cokelat hangatnya.

 

Kira-kira lima belas menit, keduanya sudah selesai dengan cokelat panas mereka masing-masing. Surin meletakan gelasnya dan gelas Sehun yang sudah kosong itu ke meja kaca yang berada di hadapan mereka kemudian kembali ke posisinya semula yaitu bersandar pada lengan Sehun yang selalu memberikan kenyamanan tersendiri bagi Surin. Surin mengelus punggung kaki Sehun dengan telapak kakinya sehingga kaos kaki seragam mereka saling bersentuhan.

 

“Oh Sehun, tidak kah kau merasa bosan?” Ujar Surin tiba-tiba sementara Sehun kini bangkit dari tempat duduknya untuk menyalakan alat pemutar musik yang berada tepat disebelah televisi, lalu menyambungkan alat pemutar musik tersebut dengan ponselnya melalui fitur ‘bluetooth’ pada ponsel tersebut. Sehun mulai memilih lagu yang tepat dan setelah itu lagu Warm On A Cold Night dari Honne mengalun memenuhi ruang tamu apartment milik Surin yang hanya berisikan mereka berdua. Sehun kembali ke tempat duduknya lalu merengkuh Surin ke dalam rangkulannya sementara Surin menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Sehun.

 

“Aku benar-benar bosan. Mengapa kita tidak pergi ke suatu tempat? Atau melakukan sesuatu yang dapat menghilangkan rasa bosan? Hari ini adalah malam minggu, kita tidak boleh menyiakannya dengan hanya bermalas-malasan di sofa seperti ini.” Ujar Surin lalu menarik dirinya menjauh dari Sehun yang hanya melipat kedua tangannya seraya terus memperhatikan kekasihnya itu dengan senyuman di wajahnya.

 

“Kau mau kita melakukan sesuatu yang seru? Kalau begitu, ayo kita bermain.” Surin duduk bersila, menghadap ke arah Sehun dengan sangat antusias. Dari posisinya sekarang ini Surin dapat melihat tampak samping kekasihnya yang sangat sempurna itu, membuat Surin tidak henti-henti mengembangkan senyumannya.

 

“Permainannya mudah sekali. Kau hanya perlu menebak apa yang ingin aku lakukan sekarang ini. Kau tidak boleh mengasal. Aku akan memberikanmu hukuman setiap kali kau salah menebak. Bagaimana?” Surin mendengus kemudian mendorong lengan Sehun membuat laki-laki itu hanya tertawa. “Permainan macam apa itu?” Komentar Surin namun sedetik kemudian ia sudah menyetujui permainan tersebut. “Kalau begitu, mulailah menebak.” Tanggap Sehun sementara Surin kini sudah mengetuk dahinya sendiri berkali-kali, berusaha berpikir. Sehun hanya memperhatikan Surin dengan siku tangan yang ia letakan pada pinggiran sofa tersebut lalu ia meletakan dagunya pada satu telapak tangannya.

 

“Pergi menonton bioskop lalu setelah itu makan sushi di restaurant sushi kesukaanmu?”

 

“Dengdong! Kau salah menebak. Tunggu disini, aku akan mengambilkan hukumanmu.” Sehun berjalan menuju dapur lalu mengambil sesuatu dari dalam kulkas dan kembali ke tempat duduknya. Sehun menunjukan apa yang tengah dipegangnya pada Surin sementara gadis itu hanya mengernyit tidak mengerti. “Untuk apa kau mengambil pepero itu?” Sehun membuka bungkus snack bernama pepero dengan rasa strawberry itu lalu menyuruh Surin untuk membuka mulutnya. “Jangan di makan. Pertahankan saja pepero itu.” Ujar Sehun sambil tersenyum jahil. “Sekarang, ayo lanjutkan tebakanmu.”

 

Surin melepas pepero itu lalu menatap Sehun dengan penuh protes. “Bagaimana aku mau bicara kalau pepero ini ada di mulutku?” Sehun kembali meletakan pepero itu pada mulut Surin kemudian ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Justru itu adalah hukumannya.” Sehun menjawab protesan Surin barusan dengan satu kalimat pendek membuat Surin menghela napas pelan. “Sekarang, ayo coba tebak lagi.”

 

“Makan tteokbeokki di kedai tteokbeokki kesukaan kita?”

 

“Dengdong! Kau salah menebak lagi!” Sehun tertawa puas lalu kini ia mendekatkan dirinya pada Surin yang dengan spontan langsung memundurkan kepalanya. “Mau apa kau?” Tanya Surin was-was namun Sehun hanya tersenyum jahil. “Memberimu hukuman.” Tanpa aba-aba Sehun langsung menggigit setengah pepero yang tengah Surin gigit itu membuat kedua mata gadis itu membelak seketika. Surin menatap Sehun yang kini sudah mengunyah pepero tersebut dengan tatapan tidak percaya, lalu ia melirik pepero yang tengah di gigitnya sekarang ini. Pepero tersebut menjadi sangat pendek.

 

Baru saja Surin akan memakan sisa pepero tersebut, namun Sehun langsung menahan tangan Surin sambil menggeleng-gelengkan kepala untuk melarang gadis itu. “Kau masih punya satu kesempatan lagi untuk menebak. Kalau kau benar, maka kau dapat memakan pepero itu sendiri. Kalau tidak, maka itu artinya kau harus berbagi denganku.” Ujar Sehun membuat Surin hampir saja melemparnya dengan bantal sofa.

 

“Oh Sehun, kau benar-benar menyebalkan.” Sehun terbahak sementara Surin hanya menatapnya dengan kesal. “Ayo cepat tebak.” Ujar Sehun membuat Surin mengambil napasnya dalam-dalam. “Baiklah, tebakanku yang ketiga adalah kau ingin pergi membeli bubble tea kesukaanmu dan menghabiskan waktu malam minggu ini dengan mengobrol di café bubble tea itu. Benar, kan?”

 

“Dengdong!” Ujar Sehun lalu menggigit sisa pepero tersebut membuat bibir mereka akhirnya bertemu. Surin ingin menarik dirinya dari Sehun namun laki-laki itu menahan tangan Surin. Surin terdiam untuk beberapa saat. Ia dapat merasakan rasa strawberry dari pepero tersebut dan juga jantungnya yang sudah berdebar cepat tidak terkendali terutama ketika Sehun malah memperdalam tautan bibir mereka.

 

Surin langsung memukuli Sehun dengan bantal sofa ketika laki-laki itu menjauh darinya. “Ya! Kurang ajar! Oh Sehun, habis kau!” Surin langsung memukuli Sehun yang kini tertawa terbahak sambil berpura-pura kesakitan. Dengan gerakan cepat, Sehun merengkuh tubuh Surin ke dalam pelukannya membuat gadis itu langsung diam seribu bahasa ketika kini telinganya dapat dengan jelas mendengar detak jantung Sehun yang kini berdebar cepat. Surin tersenyum kemudian menggeliat di dalam pelukan laki-laki yang paling ia sayangi itu, berusaha mencari posisi yang paling nyaman.

 

Ketika ia sudah berhasil menemukan posisi tersebut, Surin langsung meletakan kedua kakinya di atas kaki Sehun yang jauh lebih panjang darinya. Ia lagi-lagi tersenyum ketika melihat kaos kakinya dan Sehun yang sangat menggemaskan itu. Sehun mengelus rambut Surin membuat senyuman gadis itu semakin mengembang. Lagi-lagi, hanya perasaan hangat yang Surin dapat rasakan padahal hujan di luar semakin lebat dan angin bertiup sangat kencang.

 

“Inilah yang ingin aku lakukan untuk menghabiskan malam minggu ini. Aku hanya ingin memelukmu sambil juga mendengarkan musik. Aku tidak ingin keluar dan merasakan dinginnya cuaca Seoul saat ini. Aku hanya ingin disini bersamamu, dan memelukmu untuk merasakan rasa hangat yang tidak akan dapat aku temukan diluar sana.”

 

Sehun meletakan dagunya pada puncak kepala Surin kemudian tersenyum lembut kala ia dapat merasakan Surin mengeratkan pelukannya. Dari awal, Sehun memang tidak ingin melakukan apapun hari ini. Sehun hanya ingin berada di dekat kekasihnya itu, memeluknya seperti sekarang ini sembari menikmati musik yang mengalun memenuhi ruang tamu tersebut. Sehun hanya ingin menikmati pemandangan rintik-rintik hujan yang dapat ia saksikan dari jendela besar tersebut dengan Surin yang berada di pelukannya sampai keduanya merasa mengantuk dan akhirnya tertidur pulas dipelukan masing-masing.

 

“Ah, ini benar-benar hangat.” Sehun mengecup puncak kepala Surin lalu memejamkan kedua matanya. Sehun merasa tidak keberatan jika ia harus berada di posisinya sekarang ini untuk jangka waktu yang sangat lama. Ia benar-benar merasa tidak keberatan.

 

-FIN.

 

12 Drabble Of SEHUN : 2nd – Bubble Tea Date

2nd - Bubble Tea Date

Surin mencari posisi tidur yang paling nyaman seraya memeluk boneka beruang berukuran besarnya lalu menghela napas panjang. Gadis berambut hitam pekat itu langsung memejamkan kedua matanya yang terasa sangat berat. Sesekali ia menggeliat seraya meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sangat kaku. Surin bersyukur karena sekarang ini ia sudah mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur nyamannya setelah ia melewati hari yang panjang dan melelahkan di kampus.

 

Surin benar-benar lelah. Ia benar-benar lelah dengan apa yang terjadi padanya hari ini di kampus. Surin merasa tidak ada satu pun hal baik yang terjadi padanya hari ini, membuatnya merasa ingin menangis ketika kembali mengingat semua kejadian yang terjadi padanya hari ini. Bahkan dari pagi hari tadi sampai pada saat Surin hendak pulang ke rumah, ada saja yang membuat hari buruknya menjadi bertambah buruk.

 

Pertama, hari ini Surin terlambat bangun karena tidak mendengar bunyi alarmnya sendiri. Surin yang hanya menyikat giginya tanpa membasuh diri itu berniat langsung berangkat ke kampus bahkan tanpa menyempatkan diri untuk sekedar sarapan. Ia segera berlari menuju ke lift apartmentnya dan seketika itu kesialannya bertambah. Lift tersebut berhenti dengan tiba-tiba membuat Surin dan beberapa orang di dalam lift tersebut langsung panik. Mereka harus menunggu selama kurang lebih setengah jam sampai akhirnya lift itu dapat kembali bekerja. Akibatnya, Surin memutuskan untuk tidak menghadiri kelas dosen favorite-nya yang sama sekali tidak pernah ia lewatkan karena ia sudah sangat terlambat ketika sampai di kampus.

 

Kedua, salah satu teman kelas Surin yang beberapa hari lalu meminjam catatannya tidak membawa buku catatan tersebut padahal esok hari Surin harus menghadapi ujian dan semua materinya berada di buku catatan tersebut. Surin tidak bisa melakukan apapun selain menahan air matanya ketika temannya itu malah meminta maaf dengan mata yang juga berkaca-kaca. Teman kelasnya itu berkata akan mengantar catatan tersebut ke rumah Surin, namun dengan satu helaan napas, Surin melarangnya mengingat letak rumah teman kelasnya itu yang sangat jauh. Surin hanya tidak tega membuat teman kelasnya itu jauh-jauh mengantar buku catatan Surin padahal esok hari mereka harus menghadapi ujian.

 

Ketiga, saat tengah duduk melamun sendiri di kantin kampus, merenungi semua kesialan yang telah terjadi padanya, tiba-tiba saja ia merasakan cairan dingin membasahi bahunya dengan gerakan yang sangat cepat membuat Surin langsung menatap bahu kanannya yang sudah basah akibat terkena tumpahan jus jeruk itu dengan tidak percaya, sementara orang yang tidak sengaja menumpahkan jus jeruk ke bahu Surin karena ia tersandung itu langsung meminta maaf berkali-kali membuat Surin lagi-lagi hanya menghela napas berat sambil berkata ‘tidak apa’.

 

Keempat, Surin jatuh dari tangga kampus saat ia baru saja membersihkan kemeja putihnya dari noda jus jeruk di toilet kampus yang berada dilantai dua sampai pergelangan tangannya terkilir. Ia harus berakhir di klinik kampus setelah sebelumnya ia mendapat tawa tertahan dari orang-orang yang melihatnya terjatuh dengan posisi yang sangat konyol itu. Beruntung teman setia Surin, Park Jimi yang saat itu tengah bersama dengan kekasihnya, Byun Baekhyun, melihat Surin dan langsung mengantarkan Surin ke klinik kampus.

 

Surin bahkan dapat merasakan pergelangan tangan kirinya itu masih terasa nyeri sekarang ini meskipun ia hanya terkilir sedikit. Mengabsen kesialannya hari ini malah membuat perasaan Surin menjadi jauh lebih perih terbukti dengan isakan kecil yang mulai terdengar dari bibir gadis itu. Setelah semua kesialannya itu, sekarang ini Surin malah menyiksa dirinya sendiri dengan tidak mengangkat semua panggilan telepon dari kekasihnya yang sampai sekarang masih berusaha menghubungi Surin. Tidak hanya panggilan telepon, Surin juga mengabaikan semua pesan singkat laki-laki bernama lengkap Oh Sehun yang sudah menjadi kekasihnya selama tiga tahun itu.

 

Surin hanya tidak ingin melampiaskan kekesalannya pada Sehun. Surin bukannya tidak ingin bercerita tentang apa yang terjadinya pada hari ini. Surin malah sangat ingin menceritakan semuanya pada Sehun dan kemudian menangis di dalam pelukan laki-laki itu sepuas yang ia mau. Namun sekali lagi, Surin hanya tidak ingin amarahnya yang benar-benar memuncak saat ini malah ia tumpahkan pada Sehun yang tidak bersalah.

 

Tapi kalau dipikir-pikir lagi, Surin sebenarnya merindukan laki-laki itu. Hari ini ia sama sekali belum berkomunikasi dengan Sehun. Mereka memang berkuliah di kampus yang berbeda, namun setiap hari, Sehun pasti akan menjemput Surin di kampus gadis itu dan setelah itu mereka akan pergi ke suatu tempat sebelum akhirnya Sehun benar-benar mengantar Surin pulang ke apartmentnya. Entah itu menikmati makan malam bersama di sebuah restaurant, menonton bioskop, mencari buku, atau apapun asalkan mereka selalu bertemu setiap harinya. Ya, seperti itulah peraturan utama selama tiga tahun hubungan mereka. Mereka harus bertemu dalam satu hari meskipun pertemuan mereka hanya sebentar.

 

Surin menghela napasnya dengan berat. Pasti Sehun sekarang ini tengah bertanya-tanya mengapa Surin mengiriminya pesan yang berisikan bahwa ia tidak mau Sehun jemput hari ini dan malah berkata bahwa ia akan pulang sendiri. Surin dapat mengetahui hal itu dari panggilan yang terus masuk ke ponselnya, yang tidak lain tidak bukan adalah dari Sehun.

 

Setelah Surin meyakinkan dirinya, akhirnya ia memutuskan untuk mengangkat panggilan masuk dari Sehun. Seketika Surin dapat mendengar suara khas kekasihnya itu menyapa telinganya bahkan sebelum Surin sempat mengucapkan kata ‘halo’.

 

“Ya, Jang Surin! Cepat buka pintu kamarmu atau aku yang buka sendiri.” Surin langsung menatap pintu kamarnya dengan tatapan luar biasa terkejut kemudian memutar matanya malas. “Oh Sehun, aku ingin beristirahat.” Ujar Surin pada ponselnya lalu seketika itu pintu kamarnya terbuka, memunculkan sesosok Oh Sehun yang kini menghampirinya dengan ponsel yang tertempel pada telinganya. Surin berusaha memaklumi keberadaan Sehun di apartmentnya saat ini mengingat laki-laki itu mengetahui passcode pintu apartement Surin dan perihal Sehun masuk ke apartmentnya tanpa ijin bukanlah hal baru bagi Surin.

 

“Kau masih bisa tidur padahal kau tidak bertemu denganku hampir seharian penuh? Ini benar-benar tidak adil, Jang Surin. Aku bahkan tidak dapat memejamkan mataku barang satu menit pun karena belum bertemu denganmu hampir seharian penuh. Sekarang, ayo ikut aku.”

 

“Ya! Oh Sehun! Kita akan kemana?!” Surin memijat pelipisnya, berharap usahanya barusan dapat meredakan sedikit rasa pening yang tiba-tiba menyerang kepalanya akibat perlakuan Sehun sekarang ini. Rasa pening tersebut seolah bertambah ketika kini Sehun malah membawa Surin dengan motor besarnya entah kemana. Surin bahkan hanya mengenakan piyama bergambar kartun kucing berbahan tipis dengan sweater hitam yang untungnya sempat ia ambil sebelum Sehun benar-benar menyeretnya ke parkiran motor apartment tersebut dan membawanya pergi begitu saja.

 

Surin memejamkan kedua matanya kala merasakan angin malam berhembus tanpa henti ke arahnya. Surin tersenyum seraya memeluk pinggang Sehun erat-erat membuat helmetnya dan helmet Sehun sesekali terbentur.

 

Seketika ia merasa perasaannya menjadi sedikit lebih lega.

 

**

 

“Pesananmu sudah datang, nona.” Sehun meletakan satu bubble tea rasa strawberry di meja bundarnya dan Surin. “Terima kasih.” Ujar Surin sementara Sehun segera menempatkan dirinya di depan Surin seraya mulai menikmati minuman favorite-nya itu. Sehun memang sengaja mengajak Surin ke café bubble tea kesukaan mereka berdua. Sehun benar-benar hanya ingin tahu apa yang menyebabkan Surin tidak ingin menemuinya hari ini. Baru saja Sehun akan bertanya akan hal itu, matanya menangkap satu pergelangan tangan Surin yang saat ini terlihat sedikit memar. Sehun langsung menggenggam pergelangan tangan Surin yang kecil itu dengan perlahan.

 

“Ada apa denganmu? Apa terjadi sesuatu padamu hari ini?” Sehun memandangi gadisnya itu dengan khawatir sementara Surin hanya tersenyum tipis. Rasa khawatir yang Sehun tunjukan padanya entah mengapa malah membawa perasaan hangat tersendiri bagi Surin, membuatnya merasa jauh lebih tenang.

 

“Tidak apa. Tadi saat di kampus, aku hanya terkilir sedikit dan sekarang pergelangan tanganku ini sudah merasa lebih baik.” Ujar Surin seraya memutar pergelangan tangannya sambil tersenyum. Sehun masih menatapnya dengan khawatir membuat Surin tertawa kecil. “Aku sungguh tidak apa. Hanya saja, mungkin hari ini bukanlah hariku. Banyak hal buruk yang terjadi dalam satu hari penuh ini sampai-sampai aku merasa lelah.” Surin akhirnya menyuarakan apa yang sedari tadi ingin diutarakan hatinya pada Sehun.

 

Sehun menghela napas kemudian menggenggam pergelangan tangan Surin dengan telapak tangannya yang jauh lebih besar dari pergelangan tangan Surin. Sehun mengelus pergelangan tangan Surin dengan ibu jarinya sambil sesekali memijat pergelangan tangan tersebut dengan sangat perlahan sementara lagi-lagi Surin hanya tersenyum.

 

“Hariku juga tidak berjalan dengan baik. Hari ini aku lupa membawa kertas tugas gambar design bangunan yang kemarin sudah susah payah aku buat sampai pagi. Saat aku berkata pada dosenku untuk mengambilnya terlebih dahulu, ia melarangku dan berkata bahwa ia tidak akan menerima tugas dari mahasiswa yang lalai.” Surin menatap Sehun dengan iba. Surin tahu bahwa Sehun adalah orang yang tidak pernah setengah-setengah dalam melakukan tugasnya. Bahkan sebelum laki-laki itu menunjukan hasil pekerjaannya, Surin sudah yakin bahwa jika saja Sehun membawa tugas itu dan mengumpulkannya hari ini, ia pasti akan mendapatkan nilai yang sempurna. Sangat disayangkan hanya karena tidak membawa tugas tersebut, Sehun harus mengubur ekspektasi tingginya akan tugas yang sudah susah payah ia buat itu dalam-dalam.

 

Kini Surin meletakan telapak tangannya diatas tangan Sehun yang masih menggenggam pergelangan tangannya kemudian mengelusnya dengan perlahan, sama seperti yang tadi Sehun lakukan pada pergelangan tangannya.

 

Sehun tersenyum kemudian mengangkat bubble tea rasa cokelatnya sebatas kepala mereka membuat Surin langsung melakukan hal yang sama. “Cheers, untuk hari yang tidak menyenangkan.” Sehun berujar sementara Surin tertawa kecil seraya menempelkan bubble tea strawberry-nya pada bubble tea milik Sehun. Setelah itu, mereka sudah sibuk pada minuman mereka masing-masing namun tidak kunjung memutuskan tatapan mata mereka yang seakan tengah tersenyum pada satu sama lain itu.

 

“Ah, bubble tea ini manis sekali. Aku jadi bersemangat kembali.” Surin bersuara sambil terus menikmati bubble tea miliknya. “Kau menjadi bersemangat kembali hanya karena bubble tea itu? Bukan karena kau meminumnya bersamaku? Jujur, aku sedikit kecewa karena kau tidak ingin menemuiku hari ini padahal aku sibuk merindukanmu seharian penuh ini.” Surin tertawa kecil sementara Sehun memicingkan kedua matanya. “Memangnya kau tidak merindukanku?” Ujar Sehun dengan nada suara kesal yang terkesan dibuat-buat.

 

“Bukan begitu, aku hanya tidak ingin amarahku yang sedang memuncak itu malah berimbas padamu. Itu sebabnya mengapa aku tidak ingin menemuimu hari ini. Tapi sekarang aku tahu bahwa menceritakannya padamu malah membuat hatiku menjadi lebih ringan.” Ujar Surin membuat Sehun langsung menggenggam kedua telapak tangan gadis itu seraya mengelusnya dengan lembut, mengalirkan rasa seperti sengatan listrik yang memabukan bagi Surin. Dan dalam hatinya, Surin benar-benar mengakui bahwa ia sangat suka ketika Sehun melakukan hal tersebut padanya. Surin merasa Sehun mencoba memberitahunya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan itu membuat Surin merasa sangat aman.

 

“Mulai sekarang, aku tidak mau kau melewati hari burukmu sendiri. Aku ingin kau bercerita padaku tentang hari burukmu. Aku ingin kita melewati hari buruk itu bersama, seperti selama ini kita melewati hari baik kita bersama-sama. Bagaimana? Setuju?” Surin tersenyum seraya mengangguk senang. Seketika semua hal buruk dan awan gelap yang menyelimuti harinya seolah pergi begitu saja terutama pada saat Sehun mengecup lembut memar yang berada di pergelangan tangannya.

 

“Aku ingin menjadi bubble tea-mu, yang membawa rasa manis untuk harimu yang buruk.”

 

Sehun mengelus punggung tangan Surin dengan ibu jarinya seraya menuturkan kata-kata yang berhasil membuat hati Surin luluh sepenuhnya. Pasalnya, laki-laki yang berada di hadapannya sekarang ini bukan hanya sekedar menuturkan kata, ia benar-benar membuktikan setiap perkataannya. Ia benar-benar membuktikannya, membuat Surin merasa menjadi gadis paling beruntung karena dapat memilikinya.

 

“Aku menyayangimu, Oh Sehun, tuan bubble tea-ku.” Ucap Surin dan setelah itu senyuman manis mengembang pada wajah keduanya. “Aku juga menyayangimu, Jang Surin, nona bubble tea paling manis, lebih manis daripada bubble tea cokelat kesukaanku.”

 

-FIN.

 

12 Drabble Of SEHUN : 3rd – Tonkatsu Ramen

3rd - Tonkatsu Ramen

“Ah, aku jadi benar-benar ingin makan tonkatsu ramen karena acara kuliner ini. Surin-a, bagaimana kalau sekarang kita pergi ke Busan untuk membeli tonkatsu ramen tersebut?”

 

Jang Surin, gadis yang kini tengah memakan snack kesukaannya itu langsung terbatuk berkali-kali setelah mendengar ucapan kekasihnya yang tidak lain tidak bukan adalah Oh Sehun, beberapa detik yang lalu. “Ke Busan hanya untuk semangkuk tonkatsu ramen? Tidak. Tidak untuk kali ini, Oh Sehun. Aku benar-benar sedang malas melakukan apapun hari ini.” Surin memeluk bantal sofa yang berada di dekatnya kemudian menyandarkan kepalanya pada bantal tersebut, berpura-pura tidur membuat Sehun langsung menarik bantal sofa itu.

 

“Ayolah. Lagipula kita belum makan siang, kan? Sekarang sudah hampir pukul satu, kita tidak boleh melewatkan jam makan siang kita.” Surin merebut bantal sofa yang berada di tangan Sehun dengan gerakan cepat.

 

“Kau tidak lupa kan, kalau mobilmu sedang di service dan saat ini kau ke apartmentku hanya dengan sepeda motor? Kau mau kita pergi ke Busan yang letaknya jauh itu dengan menggunakan sepeda motor?” Surin berujar sementara Sehun hanya tersenyum seraya menatapnya. “Tidak dengan motor.” Ujar Sehun dengan santai sementara Surin sudah memandangnya dengan alis yang mengernyit, bertanya akan maksud dari perkataan Sehun barusan. “Tentu saja kita tidak akan naik sepeda motor, Surin-a. Kita akan menggunakan kereta untuk dapat sampai di Busan.” Sehun berujar sambil tersenyum penuh rasa antusias.

 

“Memangnya harus ke restaurant yang ada di Busan hanya untuk memakan tonkatsu ramen? Bagaimana kalau kita memesan tonkatsu ramen pada restaurant Jepang yang berada di dekat sini saja? Hal itu akan lebih menghemat waktu dan tenaga.” Surin memberikan sebuah usul yang ia harap dapat segera Sehun setujui. Hal ini bukan karena Surin tidak ingin menemani kekasihnya itu ke Busan untuk makan tonkatsu ramen yang baru saja mereka tonton di sebuah acara kuliner televisi, tapi hanya saja saat ini Surin memang benar-benar sedang malas keluar.

 

Ia hanya ingin menonton televisi dengan snack-snack kesukaannya seharian penuh. Kalau saja kekasihnya itu tidak datang ke apartmentnya jam sembilan pagi tadi, mungkin bahkan saat ini Surin masih belum turun juga dari kasurnya. Surin hanya benar-benar sedang dalam mood bermalas-malasan mengingat betapa banyaknya tugas kampus yang baru saja ia selesaikan semalaman suntuk kemarin.

 

“Rasanya tentu pasti akan berbeda. Percayalah padaku bahwa kau pasti akan sangat menyukai tonkatsu ramen tersebut.”

 

Dan Surin tahu ia sudah tidak bisa lagi menolak ajakan Sehun, membuat gadis itu berakhir dengan menganggukan kepala, membuat tanda bahwa ia menyetujui ajakan tersebut. “Tonkatsu ramen, kami datang!” Sehun berseru sementara Surin hanya mendengus melihat Sehun yang sudah sangat antusias itu. “Awas saja kalau tonkatsu ramen itu tidak seenak ekspektasiku!”

 

**

 

Setelah mengendarai kereta selama tiga setengah jam dari Seoul, akhirnya mereka sampai pada tempat tujuan mereka yaitu Busan. Sebelumnya saat di kereta tadi, Sehun sudah mencari tahu alamat lengkap restaurant tonkatsu ramen yang akan ditujunya bersama dengan Surin melalui jaringan internet sehingga kini mereka hanya perlu mencari taksi untuk dapat sampai pada restaurant tonkatsu ramen tersebut.

 

“Itu taksinya!” Seru Surin seraya memberhentikan sebuah taksi dengan satu tangannya sementara satu tangan lainnya masih menggenggam erat telapak tangan besar milk Sehun. Sehun segera memberitahu alamat restaurant tonkatsu ramen itu pada sang supir taksi yang langsung melajukan taksinya untuk meninggalkan stasiun kereta tersebut.

 

Tanpa mereka sadari perjalanan dari stasiun menuju tempat tujuan utama mereka sudah memakan waktu kurang lebih dua puluh lima menit. Perjalanan yang memakan waktu cukup lama itu sama sekali tidak terasa bagi kedua sejoli yang kini tengah berkomentar seru akan apa yang dilihatnya dari jendela kaca masing-masing. Busan adalah kota yang sangat indah, membuat setiap orang termasuk Sehun dan Surin yang sudah pernah mengunjungi kota itu akan selalu tertarik untuk kembali dan mengulang seluruh kalimat pujian yang dulu bahkan sudah pernah terucapkan untuk kota tersebut.

 

Tiba-tiba taksi yang mereka tumpangi berhenti dengan perlahan-lahan membuat Sehun dan Surin langsung bertatapan, merasa ada yang tidak benar dengan hal tersebut. Sang supir taksi keluar untuk mengecek mesin mobil, lalu kembali dengan wajah yang tidak mengenakan sekaligus memprihatinkan. “Maaf tuan dan nona, sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perjalanan. Mesin mobilnya mendadak mati begitu saja. Tujuan anda sudah tidak jauh dari sini. Di depan sana, anda hanya tinggal belok ke gang yang berada di sebelah kiri.” Jelas sang supir taksi tersebut membuat Surin hanya mengangguk pada Sehun yang kini menatapnya seolah bertanya apakah Surin tidak masalah dengan berjalan kaki menuju ke restaurant tersebut.

 

Setelah mendapat persetujuan dari Surin akhirnya Sehun membayar argo taksi tersebut lalu menggandeng tangan Surin dengan erat, mulai menusuri trotoar jalanan kota Busan yang cukup ramai itu bersama dengan Surin. Sehun menuntun Surin menuju gang yang dimaksud supir taksi tadi dan saat itu juga mereka dapat melihat berbagai macam restaurant disebelah kanan dan kiri mereka. Gang tersebut benar-benar ramai membuat Sehun langsung mengeratkan genggamannya pada tangan Surin, memastikan gadis itu selalu berada di dekatnya.

 

“Ingin makan tonkatsu ramen saja sampai harus naik kereta selama tiga jam setengah, menaiki taksi yang mogok ditengah jalan, dan sekarang harus berjalan kaki untuk dapat sampai di restaurant tersebut.” Surin tertawa kecil disela-sela ucapannya barusan sementara kini Sehun sudah merangkul bahunya. “Bahkan kini jam makan siang sudah lewat dan langit perlahan sudah berubah menjadi oranye. Memangnya kau benar-benar menginginkan tonkatsu ramen itu, ya?” Baru saja Sehun akan menjawab pertanyaan Surin barusan namun tiba-tiba seorang anak perempuan yang tengah menangis menabrak kaki Sehun membuat Sehun dan Surin langsung memberhentikan langkah mereka dengan terkejut.

 

“Astaga, ada apa denganmu?” Surin langsung menyejajarkan tubuhnya dengan tubuh kecil anak perempuan itu seraya memegang bahunya yang kini gemetar. “Eomma hilang.” Ujar anak perempuan yang Surin perkirakan berumur empat tahun itu sambil terus menangis. Surin menatap Sehun dengan tatapan bingung, begitupun dengan Sehun yang sekarang ini melemparkan tatapan serupa pada Surin.

 

Sehun berusaha mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru jalanan Busan yang ramai itu untuk mencari petugas patroli, namun hasilnya nihil. “Dimana persisnya tempat tadi kau berpisah dengan ibumu?” Tanya Sehun dengan lembut membuat anak perempuan itu berusaha mengendalikan tangisannya. “Aku tidak tahu.” Jawabnya membuat Sehun langsung memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.

 

“Baiklah, tenangkan dulu dirimu. Kami akan membantumu menemukan ibumu. Siapa namamu?” Ujar Surin seraya mengelus pelan rambut anak perempuan itu. “Chaeri. Lee Chaeri. Unnie, aku ingin bertemu eomma.” Anak perempuan bernama Chaeri itu langsung memeluk leher Surin erat-erat membuat Surin akhirnya menepuk punggung anak kecil itu berkali-kali bermaksud untuk menenangkannya.

 

Sehun berusaha mengedarkan pandangannya, mencari akal akan bagaimana ia harus mempertemukan anak kecil bernama Chaeri itu dengan ibunya kembali. Tiba-tiba Sehun langsung mendapatkan sebuah ide ketika ia berhasil melihat restaurant tonkatsu ramen yang tidak lain tidak bukan adalah tempat tujuan utamanya dengan Surin. Sebenarnya bukan karena restaurant tersebut, namun karena ia melihat pelayan dari restaurant tonkatsu ramen itu sibuk mempromosikan menu makanan mereka dengan menggunakan alat pengeras suara.

 

“Chaeri-ya, apa kau tahu siapa nama ibumu? Ia pasti belum jauh dari sini dan sekarang ia juga pasti sangat panik mencarimu.” Sehun berujar seraya menatap anak kecil itu dengan khawatir. “Nama eomma adalah Lee Ilhwa.” Jawabnya membuat Sehun langsung mengacak rambut anak kecil itu, puas dengan jawaban yang ia dapat. “Berapa umurmu?” Tanya Sehun lagi sementara Chaeri sudah menunjukan empat jari mungilnya membuat Sehun langsung mengangguk mengerti sambil tersenyum.

 

“Surin-a, aku rasa aku baru saja mendapat ide. Ayo ikuti aku.” Sehun segera menggandeng tangan mungil milik Chaeri sementara Surin memegang lengannya. Sehun berjalan menuju restaurant tonkatsu ramen tersebut dan Surin langsung mengerti apa ide yang dimaksudkan Sehun. Ia tersenyum ketika Sehun berusaha menjelaskan apa yang terjadi pada Chaeri, lalu dengan sopan ia meminjam alat pengeras suara yang langsung pelayan restaurant tersebut berikan.

 

“Perhatian! Perhatian! Bagi seorang ibu bernama Lee Ilhwa yang tidak sengaja terpencar bersama dengan anak perempuan berumur empat tahun bernama Lee Chaeri, harap dapat menjemput anaknya di depan Tonkatsu Ramen Restaurant sekarang juga.”

 

Sehun mengulangi perkataannya selama lima kali berturut-turut dan seketika itu seorang wanita paruh baya berlari panik ke arah Chaeri yang kini tangannya tengah Surin genggam. Chaeri menangis dipelukan wanita paruh baya itu yang langsung Sehun dan Surin simpulkan sebagai ibu kandung dari anak kecil tersebut. Sehun segera mengembalikan alat pengeras suara itu pada sang pelayan yang kini menatapnya dengan takjub, sama persis seperti orang-orang yang berada disekitar Sehun dan Surin, padahal beberapa menit yang lalu pada saat Sehun mengucapkan infromasi mengenai Chaeri, orang-orang itu menatap Sehun dengan tatapan yang aneh.

 

“Terima kasih, aku benar-benar berterima kasih pada kalian berdua. Aku berusaha mencari petugas patroli namun aku tidak kunjung menemukan mereka dan untungnya Chaeri menemukan kalian berdua. Sekali lagi terima kasih.” Wanita paruh baya itu menjabat tangan Sehun dan Surin yang kini sudah membalasnya dengan jauh lebih sopan.

 

“Tidak perlu berterima kasih, kami memang sudah seharusnya membantu Chaeri. Chaeri-ya, lain kali hati-hati, ya. Kau harus selalu menggenggam tangan ibumu seperti ini.” Surin menggenggam tangan Chaeri erat-erat membuat anak kecil yang masih sesenggukan itu mengangguk mengerti. Chaeri memeluk Surin dan Sehun secara bergantian membuat keduanya hanya tertawa kecil.

 

“Kalau begitu kami permisi dulu. Sekali lagi, aku benar-benar berterima kasih. Kalau tidak ada kalian, aku tidak tahu bagaimana aku dapat menemukannya.” Ibu kandung Chaeri yang diketahui bernama Lee Ilhwa itu menjabat tangan Sehun dan Surin sekali lagi dengan mata yang berkaca-kaca. Chaeri dan ibunya langsung meninggalkan tempat tersebut setelah mereka saling mengucapkan salam terakhirnya. Setelah itu, Sehun dan Surin kini malah sudah tersenyum satu sama lain.

 

“Kemarilah, Superman-ku. Aku akan mentraktirmu tonkatsu ramen sampai kau benar-benar puas.” Surin memeluk lengan Sehun erat-erat kemudian ia menarik laki-laki kesayangannya itu untuk memasuki restaurant yang cukup ramai tersebut.

 

Surin hanya benar-benar merasa bangga pada Sehun. Sehun tidak peduli dengan tatapan aneh orang-orang yang berada disekitarnya ketika ia mengucapkan informasi anak kecil yang hilang itu selama lima kali. Ia tetap melakukannya sampai akhirnya anak kecil itu dapat bertemu kembali dengan orangtuanya.

 

Kini Surin tahu alasan mengapa ia betah berada di dekat Sehun. Surin merasa sangat aman dan terlindungi karena tanpa Surin sendiri sadari, selama ini Sehun selalu memberikannya perlindungan seperti apa yang sudah laki-laki itu lakukan hari ini pada seorang anak kecil yang kehilangan orangtuanya. Dengan hanya menggenggam erat tangannya ditengah-tengah keramaian, Sehun sebenarnya sudah membuktikan pada Surin bahwa ia selalu berusaha untuk melindungi sekaligus memberikan rasa aman pada Surin.

 

Surin memandangi Sehun yang kini tengah melahap tonkatsu ramennya itu dengan senyuman manis. “Tonkatsu ramen ini benar-benar lezat.” Ujar Sehun membuat Surin tertawa kecil. Surin segera menghapus noda dari kuah ramen yang berada di sekitar bibir Sehun dengan tisu. “Oh Sehun, terima kasih.” Surin tersenyum seraya menarik tangannya dari wajah Sehun.

 

“Terima kasih? Terima kasih karena aku sudah membawamu ke restaurant tonkatsu ramen yang sangat lezat ini?”

 

Surin menggeleng lalu menyodorkan satu mie ramennya pada Sehun yang hanya tertawa kecil. Sehun baru saja akan menyeruput habis satu mie ramen tersebut namun Surin menahan setengah mie ramen itu dengan sumpitnya. Surin memasukan sisi mie ramen yang belum sempat Sehun habiskan itu ke mulutnya lalu menyeruputnya dengan cepat sehingga bibir Surin langsung bersentuhan dengan bibir Sehun. Surin tertawa ketika melihat Sehun yang hanya menatapnya tanpa berkedip itu. “Mungkin mulai sekarang aku harus menambah daftar tonkatsu ramen ke daftar makanan favorite-ku.” Surin berujar sambil tersenyum membuat Sehun dengan spontan membentuk lengkungan yang serupa.

 

“Oh Sehun, terima kasih karena sudah membuatku selalu merasa aman dan terlindungi.”

 

-FIN.

 

12 Drabble Of Sehun : 4th – Midnight Movie Date

4th - Midnight Movie Date

Suasana studio lima tempat film yang akan Sehun dan Surin tonton diputar saat itu tidaklah ramai, bahkan terkesan sangat sepi sampai-sampai Sehun dan Surin rasa hanya mereka yang kini tengah menunggu film bergenre horror itu untuk segera di mainkan. Pasalnya saat ini jam tangan yang tengah Sehun kenakan sudah menunjukan pukul dua belas kurang lima belas menit.

 

Ya, Sehun dan Surin memang lebih suka menonton film saat sudah tengah malam seperti sekarang ini. Selain karena tidak terlalu ramai, kedua pasangan yang tergolong ‘nokturnal’ alias manusia yang malah lebih aktif di malam hari itu memang lebih suka keluar saat tengah malam, baik itu menonton film seperti sekarang ini, ke restaurant makanan cepat saji yang buka dua puluh empat jam, atau pun sekedar bersepeda di sekitar daerah sungai Han.

 

Namun hari ini berbeda dari sebelum-sebelumnya. Biasanya mereka hanya menonton film bergenre action ataupun romance saja. Tapi sekarang untuk pertama kalinya, mereka akan menonton film bergenre horror yang mulai tepat pukul dua belas nanti. Selama ini Sehun sudah sering mengajak Surin untuk menonton film bergenre horror, namun Surin selalu beralasan karena sebenarnya ia benar-benar takut menonton film horror apalagi tepat di jam dua belas malam seperti sekarang ini. Sebelumnya Surin bahkan sudah dapat menebak bahwa bioskop tersebut akan sangat sepi. Ya, memangnya siapa yang ingin menonton film bergenre horror tepat tengah malam? Jika ada, maka mungkin orang itu hanyalah Sehun yang sekarang ini malah terlihat sangat antusias menunggu film horror itu untuk segera di mainkan.

 

Lampu-lampu yang ada di studio lima itu masih menyala, menerangi setiap kursi yang ada di studio tersebut, termasuk kursi Sehun dan Surin sekarang ini. Kursi-kursi yang berada di samping kanan dan kiri Sehun maupun Surin terlihat tidak berpenghuni membuat Sehun semakin antusias sementara Surin sudah merasa sangat takut bahkan sebelum film tersebut dimulai.

 

“Jang Surin, ada apa dengan wajahmu? Kau tampak sangat ketakutan.” Sehun menempelkan satu telunjuknya pada pipi Surin membuat gadis itu langsung menepis jari Sehun dengan cepat. Sedari tadi Surin memang hanya memeluk popcorn berukuran large miliknya sambil terus menggerakan kedua kakinya dengan tidak tenang, jelas saja Sehun langsung mengetahui bahwa Surin tengah ketakutan saat ini. “Siapa yang takut? Aku tidak takut sama sekali. Bahkan aku tidak sabar menunggu filmnya untuk segera dimulai.” Ujar Surin seraya membetulkan sweater hitamnya.

 

“Kau yakin? Aku dengar dari Chanyeol, katanya film ini sangat menyeramkan. Ia bahkan menyarankanku untuk tidak menonton film ini sendiri. Tidak apa, kau punya bahuku, lenganku dan juga pelukanku.” Sehun berucap jahil sambil memakan popcorn caramel yang tengah dipegangnya. “Tidak perlu Chanyeol ingatkan pun, kau memang tidak akan menonton film ini sendiri. Aku tahu kau penakut Oh Sehun, jadi jangan sok berani seperti itu.” Surin langsung menyandarkan kepalanya pada bahu Sehun yang hanya tertawa kecil.

 

“Kalau begitu, kau mau bermain?” Sehun berujar sambil melirik gadis yang kini tengah menikmati minuman dinginnya itu. “Kau mau bermain apa lagi sekarang? Aku harap hukumannya bukan dengan pepero lagi.” Surin menyahut tanpa memandang Sehun yang kini sudah menahan tawanya. “Sederhana saja, siapa yang paling banyak teriak karena film itu, harus menerima hukuman. Kau mau tahu tidak apa hukumannya?” Sehun segera membisikan sesuatu di telinga Surin membuat gadis itu langsung membelak tidak percaya akan apa yang baru saja di dengarnya.

 

“Oh Sehun, tapi itu sangat keterlaluan! Aku tidak setuju!” Surin langsung berseru seraya menatap laki-laki yang berda di sampingnya sekarang ini dengan tatapan tidak suka. “Baiklah, kalau begitu ucapanku beberapa menit yang lalu tentangmu itu benar. Kau ketakutan. Dasar penakut.” Sehun mencubit satu pipi Surin dengan gemas membuat gadis itu langsung memukul tangan laki-laki itu berkali-kali namun Sehun tidak kunjung melepaskan tangannya dari pipi Surin.

 

“Aish, lepaskan! Siapa bilang aku takut? Baiklah, aku terima permainan itu. Jangan salahkan aku kalau kau yang akan kalah nantinya.” Ujar Surin dan tiba-tiba saja lampu studio lima tersebut mati dengan perlahan di iringi dengan mulainya film yang sedari tadi mereka tunggu-tunggu. Bahkan baru saja lampu dimatikan, Surin sudah memeluk lengan Sehun dengan erat membuat laki-laki itu tertawa meledek.

 

“Aku tidak yakin kau akan memenangkan permainan ini, Jang Surin.” Ledek Sehun seraya memakan popcornnya dengan santai.

 

Sudah dua puluh menit film tersebut berjalan, menceritakan pokok utama pembahasan film tersebut namun belum juga memunculkan sosok hantu yang di tunggu-tunggu oleh semua penonton. Tiba-tiba saja adegan dewasa tampak di layar besar tersebut membuat Surin dengan seketika membelakan matanya, tidak tahu apa yang harus dilakukannya sementara Sehun yang melihat hal itu langsung tersenyum geli. Sehun langsung menghalangi pandangan Surin dengan kepalanya sehingga kini kedua mata yang tengah membelak milik gadis itu beralih ke kedua mata milik Sehun. Sehun tersenyum sementara Surin hampir saja membenturkan kepalanya pada kepala Sehun karena terkejut akan perlakuan tiba-tiba tersebut.

 

“Tutup matamu, gadis kecil.” Sehun berujar jahil sementara Surin menahan tawanya. Sikap Sehun saat ini benar-benar lucu dan kekanakan bagi Surin. Saat ini ia benar-benar tidak dapat melihat layar besar tersebut karena kepala Sehun, yang tanpa ia sadari berjarak sangat dekat dengan kepalanya. “Menyingkirlah, aku sudah cukup umur untuk adegan itu.” Ujar Surin membuat Sehun langsung menyemburkan tawanya. “Oh ya? Jadi kau benar-benar sudah cukup umur?” Surin tertawa mendengar pertanyaan yang terkesan meledek dari Sehun barusan.

 

“Apa perlu aku menunjukan kartu identitasku padamu?” Lagi-lagi Sehun hanya tertawa kemudian ia menatap lurus kedua mata Surin sementara layar besar itu masih menampilkan adegan dewasa yang sebenarnya sama sekali tidak berani Surin lihat.

 

“Kalau kau tidak mau menutup matamu, maka biar aku yang tutup saja. Karena kau berkata bahwa kau sudah cukup umur, maka aku akan menutup matamu dengan cara orang dewasa.” Sehun langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Surin membuat gadis yang tidak siap itu terkejut setengah mati. Surin yang tengah terbelak itu dengan perlahan menutup matanya ketika ia melihat Sehun yang sudah lebih dulu melakukan hal tersebut. Setelah beberapa menit, Sehun kembali ke posisi duduknya semula sambil tersenyum senang.

 

“Aku berhasil menutup matamu.” Ujarnya membuat kedua pipi Surin dengan seketika berubah menjadi seperti warna tomat matang. Surin langsung menutup wajahnya sendiri dengan popcorn miliknya, berusaha menghindari tatapan mata Sehun yang kini terus mengarah padanya. Sehun tertawa kemudian mengacak rambut gadisnya itu dengan gemas membuat Surin langsung bersandar manja pada lengan laki-laki itu.

 

Semakin lama film tersebut berjalan, suasana terasa semakin mencekam. Kini Surin sudah memeluk lengan Sehun lebih erat daripada sebelumnya. Bahkan kini gadis itu sudah memakai tudung kepala sweater hitamnya untuk menghalangi pandangannya.

 

Surin benar-benar membenci sound system studio tersebut yang benar-benar berhasil membuat jantungnya hampir lepas begitu saja. Kini layar besar tersebut tengah menampilkan sang pemeran utama membuka pintu bawah tanah. Surin dapat melihat pemeran utama film tersebut  merasa penasaran akan suara yang berada di dalam ruangan gelap itu membuat Surin langsung berdecak. “Untuk apa malah dihampiri dan bukannya lari kalau mendengar suara menyeramkan seperti itu?!” Protesnya namun seketika ia dan Sehun berteriak kencang karena layar besar tersebut tanpa aba-aba langsung memperlihatkan wujud menyeramkan sang hantu.

 

“Ya! Ya! Tadi itu benar-benar menyeramkan! Aku rasa aku tidak sanggup—” Ucapan Sehun terpotong begitu saja di gantikan oleh teriakan hebohnya ketika lagi-lagi hantu tersebut menampakan dirinya di hadapan sang pemeran utama film tersebut. Sang hantu tampak mengejar pemeran utama itu membuat Sehun tidak sanggup menahan debaran jantungnya, merasa seolah ialah orang yang tengah di kejar. “Lari! Lari terus! AAAAA!” Sehun kembali berteriak dengan suaranya yang terdengar berat dan khas itu ketika sang hantu dengan tiba-tiba sudah berada di hadapan sang pemeran utama yang tadi sedang berusaha untuk menyelamatkan diri.

 

Hantu tersebut mencekik sang pemeran utama dan kemudian melemparnya ke berbagai arah berulang-ulang membuat Sehun terus berteriak heboh sementara Surin kini sudah larut dalam tawanya akibat mendengar teriakan Sehun.

 

“Ya! Oh Sehun! Hahaha, sekarang kau sudah benar-benar kalah dariku!”

 

**

 

“Cepat lakukan hukuman itu. Kau tidak ingat kalau tadi kaulah yang paling banyak berteriak?” Surin berujar seraya keluar dari studio lima itu sementara Sehun yang kini berada di sebelahnya hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

 

“Tapi tidakkah kau berpikir bahwa hukuman itu terlalu—”

 

Ucapan Sehun barusan terpotong dengan gelengan kepala Surin. “Kita sudah saling setuju. Lagipula, hukuman ini kan merupakan idemu. Sudah sana cepat laksanakan saja!” Surin mendorong punggung Sehun dengan pelan membuat laki-laki itu hanya berdecak, menyesal akan ide hukuman yang dicetuskannya itu.

 

Sehun berjalan ke tengah-tengah orang yang sedang duduk di kursi tunggu. Delapan orang yang berada di depannya itu langsung memandang Sehun dengan tatapan aneh. Security, orang yang bertugas untuk menjual tiket, beserta para pelayan yang sedang melayani pesanan para peminat popcorn itu langsung turut memusatkan perhatian mereka pada Sehun yang baru saja berteriak untuk meminta perhatian semua orang yang ada disitu.

 

“Mohon maaf apabila saya menyita waktu kalian, tapi tolong dengarkan apa yang akan saya katakan.” Surin sudah menahan tawanya dengan susah payah sementara Sehun sekarang ini berusaha mengambil napasnya.

 

“Saya berteriak sebanyak tiga puluh delapan kali saat tadi saya menonton film horror!”

 

Sehun berteriak kencang kemudian tawa Surin meledak dengan seketika begitupun juga dengan orang-orang yang sedang memperhatikan Sehun. Sehun langsung berbungkuk, bermaksud meminta maaf karena telah mengganggu mereka dengan teriakannya, kemudian segera berlari ke arah Surin dan membawa gadis itu pergi dari tempat tersebut.

 

Surin masih tertawa terbahak-bahak sementara kedua telinga Sehun sudah berubah menjadi sangat merah karena malu. “Aish, aku benar-benar menyesal mengajakmu menonton film horror ditengah malam seperti ini.” Ujarnya seraya menepuk punggung Surin berkali-kali ketika gadis itu tersedak karena terlalu lama tertawa.

 

“Jang Surin, cukup. Jangan tertawa lagi.” Sehun mengalungkan tangannya pada leher gadis yang kini sudah memukul lengan Sehun berkali-kali, merasa tercekik namun ia tidak kunjung menghentikan tawanya yang memang sangat sulit untuk di hentikan itu terutama ketika adegan Sehun berteriak ketakutan dan adegan Sehun berteriak di depan umum muncul berbarengan di otaknya. “Aku bilang berhenti, nona Jang.”

 

Sehun langsung mengecup ujung hidung Surin membuat gadis itu dengan seketika menghentikan tawanya. Baru saja Surin akan memukul kepala laki-laki itu, namun Sehun sudah lebih dulu berlari menjauhi Surin yang kini langsung mengejarnya.

 

“Ya! Oh Sehun! Kembali kau, atau aku akan memberitahu kedelapan temanmu kalau kau itu tidak bisa menonton film horror!”

 

Bagi Surin, ia tidak keberatan jika nantinya Sehun mengajaknya menonton film horror ditengah malam kembali. Bukan karena ia ingin mendengar teriakan takut Sehun yang sangat lucu itu, ya, meskipun mungkin dua puluh persen bisa dibilang juga karena hal tersebut, namun Surin yakin sekali bahwa delapan puluh persennya adalah karena kejadian saat Sehun berusaha menghalangi pandangan Surin untuk melihat adegan dewasa film horror itu.

 

Sehun tidak tahu saja bahwa bagi Surin hal tersebut benar-benar menjadi hal paling manis yang pernah terjadi di sepanjang sejarah mereka menonton film bersama.

 

-FIN.

 

12 Drabble Of SEHUN : 5th – Jealousy

5th - Jealousy

Sehun berjalan ke arah rak buku yang lainnya ketika ia menyadari kehadiran Surin. Sehun terus berpura-pura mencari buku di rak buku perpustakaan kampus tersebut sementara Surin kini sudah melipat kedua tangannya di depan dada sambil terus memperhatikan kekasihnya, Oh Sehun yang baginya hari ini bersifat sangat aneh.

 

Surin menyentuh lengan Sehun berkali-kali dengan satu telunjuknya sementara Sehun tidak kunjung mengalihkan perhatiannya dari buku tebal yang kini tengah dibacanya. Surin bahkan menghalangi pandangan Sehun dari buku itu dengan menempatkan kedua telapak tangannya di atas buku tersebut. Sehun hanya menghela napas kemudian menutup buku itu dengan paksa hingga tangan Surin terjepit di dalamnya.

 

“Ada apa? Mengapa malah menghampiriku ke sini dan bukannya mengurusi segala urusanmu di organisasi majalah kampus kesayanganmu itu?” Sehun berujar dengan nada sarkastik. Volume suaranya terdengar kecil namun tetap terdengar sangat tajam dan mengintimidasi. Surin yang tidak mengerti hanya memandang Sehun dengan tatapan tidak suka. “Aku yang harusnya bertanya. Mengapa kau melewati makan siang kita? Tidak tahukah kau bahwa aku menunggumu di kantin kampus dan akhirnya aku harus menikmati makan siangku sendiri?” Sehun berjalan meninggalkan Surin dan beralih ke rak buku yang lainnya sementara Surin terus membuntuti laki-laki itu.

 

Sehun benar-benar tidak habis pikir dengan Surin yang sekarang malah seakan tidak tahu letak kesalahan yang telah gadis itu lakukan dimana. Sehun hanya benar-benar tidak habis pikir dengan Surin yang sekarang malah berpikir bahwa Sehun tanpa alasan melewati makan siang mereka yang seharusnya mereka lewati bersama seperti hari-hari sebelumnya. Tentu saja Sehun mempunyai alasan. Ia mempunyai alasan mengapa saat ini ia berusaha menghindari gadis yang seperti tidak tahu apa-apa padahal alasan utamanya adalah karena gadis itu sendiri.

 

“Katakan padaku, Oh Sehun. Mengapa kau menghindariku seharian ini?” Pertanyaan Surin malah terdengar seperti amarah yang memuncak bagi Sehun. Tidak kah gadis itu sadar bahwa yang seharusnya marah adalah Sehun? Sehun berusaha untuk tidak mempedulikan gadis itu dengan mengambil satu buku dari rak tersebut. Sehun mulai membacanya sementara dapat Sehun rasakan kini Surin masih menatapnya tanpa berkedip, seolah gadis itu meminta jawaban akan apa yang ditanyakannya barusan.

 

“Baiklah, mungkin kau memang dengan sengaja melewati makan siang kita. Mungkin kau memang sengaja menabrak bahuku begitu saja saat kita berpapasan di koridor kampus tadi pagi. Mungkin kau memang sengaja tidak menjemputku tadi pagi padahal aku sudah menunggumu dan akhirnya aku berujung terlambat masuk kelas. Terima kasih. Aku merasa senang dengan sikapmu yang tanpa alasan seperti ini.”

 

Sehun langsung menutup bukunya dengan kesal kemudian menatap Surin dengan tatapan tidak suka. “Tanpa alasan? Kalau begitu, bisakah kau memberi alasan tentang apa yang aku pertanyakan sekarang ini? Mengapa dua hari terakhir kemarin Kyungsoo, mahasiswa jurusan seni itu berturut-turut mengantarmu pulang? Apa selama ini setiap aku berkata aku tidak bisa mengantarmu pulang karena ada urusan mendadak dengan dosenku, kau selalu memintanya untuk menggantikanku? Kalau begitu, terima kasih. Aku merasa senang dengan sikapmu yang seperti itu.”

 

Sehun langsung meninggalkan Surin dan berjalan keluar perpustakaan itu. Sebenarnya Sehun sangat teramat berat melakukan hal tersebut pada Surin. Hanya saja, kejadian dua hari berturut-turut yang Sehun saksikan sendiri dengan mata kepalanya, benar-benar membuatnya sudah tidak tahan lagi. Kejadian dimana Sehun yang baru saja menyelesaikan urusannya dengan dosen yang selalu meminta bantuannya untuk menyiapkan materi itu, mampir ke apartment Surin untuk sekedar mengajak gadis itu makan malam.

 

Ketika Sehun baru saja akan turun dari mobilnya, ia melihat Surin yang tengah turun dari mobil seseorang. Sehun tahu bahwa pemilik mobil itu adalah Kyungsoo ketika laki-laki itu turun dan menyerahkan tas laptop milik Surin yang sepertinya gadis itu tidak sengaja tinggalkan saat ia turun beberapa menit yang lalu. Sehun dapat melihat gadis itu tersenyum manis seraya mengambil alih tas laptopnya kemudian berbungkuk sopan pada Kyungsoo yang hanya mengangguk lalu menyuruhnya untuk segera masuk.

 

Awalnya Sehun tidak merasa ada masalah mengingat Surin dan Kyungsoo berada di satu organisasi kampus yang sama yaitu organisasi majalah kampus. Sehun menyangka bahwa saat itu Surin diantar pulang hanya karena mungkin mereka baru saja menyelesaikan pekerjaan mereka bersama dan akhirnya Kyungsoo menawari tumpangan pada Surin untuk pulang bersama. Hari pertama itu Sehun mencoba untuk memahami hal tersebut dan akhirnya ia menemui Surin di apartment gadis itu tanpa bertanya perihal Kyungsoo yang baru saja mengantarnya pulang.

 

Tapi kemarin, Sehun kembali menyaksikan hal yang sama dengan hari sebelumnya. Kemarin Sehun memang sudah berkata pada Surin melalui pesan singkat bahwa dosennya kembali meminta bantuan untuk menyusun materi sehingga ia tidak bisa mengantar Surin pulang. Setelah Sehun selesai dengan pekerjaannya, seperti kemarin, Sehun memutuskan untuk mampir sebentar ke apartment Surin. Sehun bermaksud ingin memberikan makanan ringan yang sengaja dibelinya saat dalam perjalanan menuju apartment Surin untuk gadis itu. Saat itu jam sudah menunjukan pukul delapan malam dan Sehun yakin sekali bahwa Surin sudah tiba di apartmentnya sedari tadi sore.

 

Tapi ternyata dugaannya salah. Ia malah menyaksikan kekasihnya itu turun dari mobil Kyungsoo dengan beberapa bungkusan di tangannya. Sehun dapat mengetahui bahwa bungkusan tersebut berisi buku karena Sehun benar-benar tahu bahwa nama toko buku yang tertera di bungkusan itu adalah nama toko buku favorite Surin.

 

Sehun tidak bisa untuk tidak berpikir negatif. Ia menyangka bahwa Surin benar-benar menikmati waktunya dengan Kyungsoo di toko buku itu sampai-sampai ia baru sampai di apartmentnya selarut ini. Sehun langsung menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari apartment Surin bahkan sebelum ia menemui gadis yang tengah tersenyum senang dengan laki-laki lain selain dirinya itu.

 

“Oh Sehun! Dengarkan dulu!” Surin mencoba menahan lengan Sehun berkali-kali namun laki-laki itu selalu menepisnya. Mereka tengah berada di sepanjang koridor kampus yang sangat sepi, mengingat saat ini jam sudah menunjukan pukul lima sore, dimana para mahasiswa mungkin sudah pulang ke rumah mereka masing-masing kecuali jika mereka ada pekerjaan lain yang masih harus diselesaikan di kampus seperti Surin yang sedari tadi mencari-cari Sehun ke seluruh penjuru kampus dan baru menemukannya sekarang, atau seperti Sehun yang sedari tadi berusaha untuk bersembunyi di perpustakaan kampus agar Surin tidak dapat menemukannya.

 

“Oh Sehun!” Surin berseru membuat Sehun langsung mengempaskan tangan Surin yang tengah mencengkram lengannya itu dengan kasar. Sehun langsung mendorong Surin ke tembok yang berada tepat dibelakang Surin kemudian mengunci tubuh gadis itu dengan kedua tangannya yang kini sudah berada di tembok tersebut. Surin dapat melihat amarah dari kilat mata Sehun membuat tubuhnya bergetar dengan seketika. Surin memberanikan diri untuk terus menatap kedua bola mata yang seakan sedang menghukumnya itu, membuat kedua mata Surin tanpa ia sadari sudah dipenuhi oleh air mata yang siap untuk jatuh.

 

Surin merasa tatapan mata milik Sehun yang tadinya benar-benar dipenuhi oleh amarah perlahan berubah menjadi lembut, membuat satu bulir air mata Surin akhirnya jatuh begitu saja. Sehun langsung membenamkan wajahnya pada bahu kecil milik Surin dan menghirup aroma tubuh gadis itu sebanyak-banyaknya sementara kini Surin langsung dapat mengetahui bahwa laki-laki itu tidaklah baik-baik saja.

 

“Aku cemburu.” Ujarnya pelan namun Surin masih dapat dengan jelas mendengar suara serak milik Sehun barusan. “Aku cemburu melihat Kyungsoo mengantarmu pulang. Aku benar-benar cemburu sampai-sampai selama dua hari terakhir, tidak ada yang dapat aku lakukan dengan baik.” Surin langsung memeluk pinggang Sehun sementara laki-laki yang masih membenamkan wajahnya pada bahu Surin itu mengeratkan pelukan mereka.

 

“Kyungsoo memang mengantarku pulang, tapi sungguh, ia hanya kebetulan saja melihatku di halte saat aku tengah menunggu bus dan akhirnya ia menawariku tumpangan. Kemarin aku memintanya untuk menurunkanku di dekat daerah toko buku yang sering aku datangi karena kemarin aku memang berencana ingin pergi ke toko buku sebelum pulang. Ternyata Kyungsoo juga kebetulan ingin mencari buku. Akhirnya aku dan Kyungsoo pergi ke toko buku itu bersama lalu berpencar untuk mencari buku dan setelah itu ia mengantarku pulang. Hanya itu.”

 

“Benar hanya itu?” Surin tertawa kecil mendengar suara yang terdengar manja itu menyapa telinganya. “Memangnya kau mengharapkan aku bercerita apa? Kau tahu? Kalau aku tahu kau selucu ini jika sedang cemburu, sedari dulu aku sudah membuatmu cemburu berkali-kali.” Ujar Surin membuat Sehun akhirnya tersenyum. “Awas saja kalau kau berani membuatku cemburu lagi, Jang Surin.” Ujar Sehun seraya mengecup bahu gadisnya itu.

 

“Mulai sekarang, kau harus lebih percaya padaku. Aku tidak akan berbuat semacam itu karena aku benar-benar hanya menyayangimu, bodoh.” Sehun mengaduh kesakitan ketika Surin yang masih dalam pelukannya itu mencubit perut Sehun berkali-kali.

 

Sehun melepaskan pelukan mereka kemudian menangkup kedua pipi Surin seraya tersenyum senang karena ucapan gadis itu barusan. Surin benar-benar hanya menyayanginya. Sehun rasa ia bahkan tidak akan bisa memberhentikan kalimat manis yang sekarang tengah berputar berulang-ulang itu dari kepalanya. “Kalau begitu, aku harus memfotokopi ucapanmu barusan agar aku punya bukti bahwa kau benar-benar hanya menyayangiku.” Sehun langsung mengecup bibir Surin dan dengan perlahan, menarikan benda lembut miliknya itu pada bibir Surin yang bagi Sehun terasa begitu manis sampai-sampai ia tidak ingin berbagi kemanisan itu pada orang lain.

 

Ia hanya ingin Surin yang manis menjadi miliknya seorang. Menjadi kemanisan yang hanya akan dimiliki oleh Oh Sehun sampai kapanpun.

 

-FIN.

 

12 Drabble Of SEHUN : 6th – Couple Things

6th - Couple Things

Air mata lagi-lagi jatuh begitu saja membasahi kedua belah pipi gadis yang kini tengah menikmati makan siangnya membuat Park Jimi, teman dekatnya itu hanya menatapnya dengan tatapan iba. Jimi menyodorkan tisu pada gadis yang diketahui bernama lengkap Jang Surin itu seraya menepuk bahu Surin berkali-kali. Tangisan Surin semakin menjadi-jadi ketika Jimi terus saja menepuk bahunya, bermaksud untuk menenangkannya.

 

Jimi merasa benar-benar kasihan pada teman sedari sekolah dasarnya itu. Seminggu terakhir ini, Jimi tidak pernah lagi melihat senyuman tersungging di wajah Surin. Gadis itu berubah menjadi sendu dan sangat tidak bersemangat. Bahkan ia sering menangis dengan tiba-tiba belakangan ini, baik itu ketika sedang menikmati makan siangnya, membaca buku, mengerjakan tugas, bahkan saat dikelas ketika dosen sedang menerangkan, Jimi selalu menangkapnya menitikan air mata meskipun itu hanya sebentar. Yang Jimi tahu, Surin tengah bertengkar dengan kekasihnya, Oh Sehun, mahasiswa jurusan arsitektur yang memiliki ratusan penggemar di berbagai penjuru fakultas yang ada di kampus tersebut.

 

Dua hari yang lalu, Jimi baru mendengar cerita yang sebenarnya dari Surin. Kini gadis itu tengah dalam tahap ‘break’ dimana keduanya tidak ingin saling bertemu dan berkomunikasi terlebih dulu sampai mereka berdua selesai dengan waktu ‘menyendiri’ mereka masing-masing. Surin berkata bahwa hal tersebut dapat terjadi karena Surin yang memintanya. Surin benar-benar ingin menjauhkan dirinya dari Sehun terlebih dulu sampai semuanya kembali seperti semula.

 

Surin bercerita pada Jimi bahwa Surin pikir Sehun tidak pernah lagi menyempatkan waktu bagi mereka berdua sejak laki-laki itu menjadi model untuk promosi kampus. Sehun terlalu sibuk dengan berbagai rangkaian pemotretan yang seolah tidak ada henti-hentinya itu. Selain itu, Surin juga merasa lelah dengan para penggemar Sehun yang semakin bertambah banyak setelah laki-laki itu menjadi model untuk promosi kampus. Bukannya Surin tidak senang jika laki-laki itu memiliki banyak penggemar, Surin senang jika kekasihnya itu ternyata disukai banyak orang namun Surin hanya tidak suka dengan perlakuan beberapa penggemar Sehun itu terhadapnya.

 

Mereka seringkali mencibir Surin bahkan langsung di depan dirinya sendiri. Beberapa penggemar Sehun itu seringkali berkata bahwa Surin bukanlah pasangan yang tepat untuk laki-laki tampan seperti Sehun. Mereka sengaja membicarakan Surin dengan volume suara yang keras sampai Surin dan orang-orang disekitar mereka dapat mendengar ucapan buruk mereka terhadap Surin. Mereka mengomentari gaya berpakaian Surin, wajahnya yang tidak pernah dipoles make up, rambutnya yang hanya dibiarkan begitu saja tanpa dibentuk, atau apapun yang dapat mereka komentari.

 

Yang lebih parahnya, mereka akan menghampiri Sehun saat Sehun dan Surin tengah menikmati waktu mereka berdua contohnya saat mereka tengah menikmati kopi hangat di kantin kampus sambil mengobrol seru. Mereka akan meminta tanda tangan dan bahkan foto lalu mereka juga memberikan Sehun begitu banyak hadiah.

 

Surin benar-benar hanya merasa tidak nyaman dengan semua itu sampai akhirnya ia meminta waktu untuk sendiri dulu pada Sehun. Surin tidak memutuskan hubungan mereka, Surin hanya meminta waktu untuk memisahkan dirinya terlebih dahulu pada Sehun.

 

Jimi tahu jelas bahwa hal ini malah menyakiti diri Surin sendiri. Meskipun Surin yang meminta Sehun untuk tidak dulu menghubungi dan menemuinya, Surin tidak merasa baik-baik saja setelah itu. Hari-harinya malah menjadi jauh lebih muram karena Surin sebenarnya tahu bahwa ia tidak akan bisa menjauh begitu saja dari laki-laki yang sudah selama tiga tahun menghiasi hari-harinya itu.

 

“Aku rasa kau harus menghubunginya, Jang Surin. Kau tidak bisa menyiksa dirimu terus seperti ini.” Jimi berujar seraya terus menatap Surin yang kini sibuk menghapus air matanya dengan asal. Surin menggelengkan kepalanya sambil memaksakan sebuah senyum. “Tidak, aku hanya belum siap. Aku tidak ingin jika sekarang aku bertemu dengannya, ia malah mengakhiri hubungan ini.” Suara Surin terdengar begitu serak dan rapuh membuat Jimi hanya dapat menghela napasnya.

 

“Tapi kau merindukannya. Kau sangat merindukannya dan kau tidak bisa terus-terusan menahan rasa yang aku tahu sangat menyesakan itu.”

 

Satu bulir air mata Surin jatuh begitu saja ketika ia mendengar ucapan Jimi barusan. Apa yang dikatakan Jimi adalah benar adanya. Surin merindukan laki-laki itu. Surin sangat merindukan seorang Oh Sehun sampai-sampai ia tidak tahu harus bagaimana menjalani kehidupan sehari-harinya yang terasa begitu berat karena perasaan rindu tersebut.

 

“Jang Surin, kau harus menemuinya.”

 

**

 

Sehun mengaduk caramel macchiato-nya berkali-kali tanpa berminat untuk meminumnya sementara Byun Baekhyun, teman sedari sekolah menengah atasnya itu hanya memandangi Sehun sambil berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tentu saja Baekhyun tahu apa penyebab laki-laki itu tidak sama sekali bersemangat bahkan terlihat begitu sendu. Semua ini tidak lain tidak bukan adalah karena Jang Surin, gadis yang Baekhyun ketahui sudah menjadi kekasih Sehun selama tiga tahun terakhir.

 

“Ya, Oh Sehun! Mau sampai kapan kau akan seperti ini terus? Kau mau di cap sebagai laki-laki penuh rasa emosional? Sungguh, bahkan aku menjadi ikut sedih hanya dengan melihatmu.” Baekhyun berkomentar sementara Sehun tampak tidak begitu mendengarkan. Ia hanya terus mengaduk minuman yang ada di depannya dengan wajah tanpa ekspresi.

 

Sehun hanya merindukan seseorang. Seseorang yang biasanya akan menemaninya di cafe ini dan berbagi cerita tentang apapun. Tapi kemudian Sehun menghela napasnya dengan berat mengingat kejadian dimana gadis itu meminta Sehun untuk tidak menghubungi atau menemuinya terlebih dahulu. Sehun benar-benar ingat bagaimana saat itu Surin menangis sambil berkata bahwa ia membutuhkan jarak untuk sementara diantara mereka.

 

Surin tidak memberikan alasan atas permintaannya itu namun Sehun sudah dapat dengan mudah mengetahuinya. Sehun sadar akhir-akhir ini ia tidak dapat menikmati waktu berdua dengan Surin seperti dulu. Ia terlalu sibuk untuk urusan kuliah dan bahkan sekarang urusannya ditambah dengan tugasnya sebagai model untuk promosi kampus yang mengharuskannya mengikuti berbagai rangkaian pemotretan setelah ia menyelesaikan kelasnya.

 

Waktu yang dulu dapat Sehun gunakan untuk mengantar Surin pulang, terpakai dan akhirnya ia tidak pernah lagi mengantarkan gadisnya itu pulang. Bahkan untuk menghubunginya saja Sehun tidak punya waktu. Sehun selalu dalam keadaan yang letih luar biasa ketika ia sudah sampai dirumahnya karena berbagai macam rangkaian kegiatan yang sudah seharian ia lewati di kampus. Sehun selalu ketiduran, bahkan sebelum ia sempat mengirimi Surin pesan singkat ataupun menelepon gadis itu.

 

Disamping hal tersebut, Sehun juga sadar bahwa Surin tidak begitu nyaman dengan para gadis yang belakangan ini semakin rajin menemuinya untuk sekedar memberikan Sehun makan siang ataupun hadiah-hadiah lainnya yang juga mereka tambah dengan surat-surat cinta.

 

“Lalu, apa yang sekarang harus aku lakukan?” Tanya Sehun lebih tepatnya kepada dirinya sendiri. Sehun benar-benar ingin memperbaiki hubungan mereka karena bagi Sehun, ia tidak bisa terlalu lama berjauhan dengan gadis itu. Semua ini malah seakan menyiksanya dan Sehun sudah tidak tahan lagi. “Kau harus menemuinya dan segera katakan apa yang ingin kau katakan padanya.” Jawab Baekhyun dengan pasti.

 

“Tapi bagaimana kalau dia malah pergi begitu saja?”

 

“Ia tidak akan pergi begitu saja. Sekarang, lihat gadis yang sedang membelakangimu itu.” Sehun langsung menolehkan kepalanya ke belakang dan ia mendapati Surin tengah duduk membelakanginya bersama Jimi. Jarak mereka benar-benar hanya dibatasi oleh beberapa meja saja.

 

Baekhyun bangkit dari kursinya dan begitupun juga Jimi. Kedua mata Sehun langsung bertemu dengan kedua mata milik Surin ketika gadis itu dengan terkejut juga menolehkan kepalanya ke belakang. Baekhyun yang kini tengah tersenyum puas segera menghampiri Jimi kemudian merangkul leher gadis itu dengan mesra. Mereka berjalan keluar cafe tersebut, meninggalkan Sehun dan Surin yang kini masih bertatapan satu sama lain dari tempat mereka masing-masing. Sehun tidak dapat memungkiri bahwa sekarang ini ia benar-benar merindukan gadis itu.

 

Sehun bangkit dari tempat duduknya begitupun juga dengan Surin. Mereka terus merajut langkah yang memisahkan mereka sehingga akhirnya kini mereka berdiri berhadapan dengan satu sama lain. Sehun memperhatikan Surin dari atas sampai bawah kemudian tertawa kecil, begitupun juga dengan Surin. Pasalnya saat ini mereka tampak mengenakan semua barang-barang ‘couple’ yang mereka beli bersama. Mulai dari beanie hitam dengan bordir ‘SS’, kaos polo berwarna putih, cardigan abu-abu berukuran besar, cincin serasi yang ada di jari manis mereka masing-masing, sampai sneakers berwarna merah yang merupakan barang ‘couple’ favorite mereka.

 

“Mengapa kita bisa sama-sama memakai semua barang ‘couple’ ini?” Sehun berujar seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia dapat melihat Surin menyunggingkan senyuman manis yang sangat di rindukannya itu. “Entahlah. Tapi aku senang kau memakainya.” Ucap Surin membuat Sehun tertawa kecil.

 

“Aku memakai semua barang-barang ini karena aku benar-benar merindukanmu, Jang Surin.” Sehun berujar seraya merengkuh Surin ke dalam pelukannya dengan perlahan kemudian ia meletakan dagunya di puncak kepala Surin. Sehun memejamkan matanya ketika ia merasakan Surin membalas pelukannya. Seketika rasa hangat begitu saja memenuhi seluruh sudut hatinya.

 

“Maafkan aku yang belakangan ini tidak mempunyai waktu untuk kita berdua. Aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri dan aku benar-benar menyesalinya. Aku mohon jangan menjauh lagi. Aku mohon sudahi saja masa menyendiri ini karena aku benar-benar tidak bisa jauh darimu.” Surin merasakan air mata mulai memenuhi pelupuk matanya ketika ia mendengar ucapan tulus dari Sehun barusan. Hatinya terasa begitu sesak, namun juga lega dalam waktu yang bersamaan.

 

“Tidak Oh Sehun, aku yang terlalu kekanakan. Padahal sebenarnya dari awal aku sudah tahu bahwa aku menyiksa diriku sendiri dengan memintamu menjauhiku. Mulai sekarang, aku akan mencoba mengerti dan tidak akan berbuat semacam ini lagi.” Surin mengeratkan pelukannya pada Sehun. Kini Surin dapat merasakan laki-laki kesayangannya itu tengah mengacak rambut Surin lembut dengan satu tangannya.

 

“Aku merindukanmu.” Ujar Surin membuat Sehun langsung mengecup puncak kepala gadis itu berkali-kali dengan rasa sayang.

 

“Aku sudah mengetahui hal itu sejak pertama kali melihatmu mengenakan barang-barang ‘couple’ milik kita padahal kita tengah bertengkar.” Tanggap Sehun sambil tersenyum kecil begitu pula dengan Surin yang kini masih betah mengalungkan tangannya di pinggang Sehun.

 

“Aku menyayangimu, Oh Sehun.” Sehun tertawa kemudian kembali mengecup puncak kepala Surin namun kali ini jauh lebih lama, seolah ingin memberitahu Surin bahwa ia juga sangat teramat menyayangi gadis itu.

 

“Aku sudah mengetahui hal itu sejak pertama kali melihatmu mengenakan barang-barang ‘couple’ milik kita padahal kita tengah bertengkar.” Surin mencubit perut Sehun membuat laki-laki itu langsung mengaduh kesakitan. “Bukan itu jawaban yang ingin aku dengar.” Protes Surin sementara kini Sehun sudah menyemburkan tawanya.

 

“Aku juga menyayangimu, Jang Surin. Sangat menyayangimu.”

 

Surin terdiam untuk sesaat ketika ia merasa sangat terharu akan perkataan Sehun yang terdengar begitu tulus barusan. Gadis itu bahkan tidak bisa berhenti mengembangkan senyumannya. Ia hanya merasa beruntung dapat memiliki seorang Oh Sehun yang sangat menyayanginya.

 

“Aku sudah mengetahui hal itu sejak pertama kali melihatmu mengenakan barang-barang ‘couple’ milik kita padahal kita tengah bertengkar.” Ujar Surin membuat keduanya langsung tertawa terbahak dalam pelukan masing-masing.

 

Seketika mereka merasa bersyukur karena selama ini mereka sering membeli barang-barang ‘couple’ yang selalu akan mengingatkan mereka terhadap satu sama lain. Meskipun bagi beberapa orang terdengar sangat teramat kuno dan bahkan norak, tapi bagi Sehun dan Surin, mereka mengartikan barang ‘couple’ sebagai barang yang sangat berharga karena barang-barang tersebut dibeli dengan perasaan cinta dan kasih sayang oleh pembelinya. Termasuk semua barang ‘couple’ yang sudah Sehun dan Surin beli bersama selama ini.

 

-FIN.

 

12 Drabble Of SEHUN : 7th – Road To Jakarta

7th - Road To Jakarta

“Oh Sehun! Cepat kemari! Kita harus coba makanan Indonesia ini!”

 

Oh Sehun, kekasih gadis bernama Jang Surin yang tadi memanggilnya antusias itu segera menghampiri gadisnya dengan senyuman senang. Sehun segera memotret Surin yang kini tengah berjongkok seraya memesan makanan khas Indonesia yang namanya tidak Sehun ketahui itu. Sehun bahkan kini sudah memotret sang penjual dan tempat yang penjual itu gunakan untuk berjualan. Bagi Sehun, tempat dimana sang penjual itu memasak makanannya benar-benar sangat unik. Sehun dapat melihat penjual makanan serupa yang berada di sekitarnya juga menggunakan ‘alat’ yang sama. Mereka meletakan tungku di dalam tempat yang dapat mereka bawa kemana-mana itu membuat Sehun benar-benar merasa tertarik.

 

“Kita harus coba makanan ini. Kemarin aku sempat mencari daftar makanan tradisional yang ada di Jakarta melalui internet dan makanan ini adalah salah satunya. Namanya adalah Kerak Telor dan makanan ini adalah maskot makanan tradisional Jakarta.” Surin memegang satu tangan Sehun sementara gadis itu masih berjongkok, menyaksikan penjual itu mulai memasak di atas tungku yang baru pertama kali Surin maupun Sehun lihat, dengan sangat antusias. “Woah, bahkan kita sudah dapat mencium harum dari makanan tersebut.” Komentar Sehun sembari juga menaruh perhatiannya pada masakan itu.

 

“Neng, turis asal mana?” Ujar sang penjual membuat Sehun mengernyitkan dahinya, tidak mengerti akan apa yang baru saja diucapkan oleh laki-laki paruh baya dengan warna kulit sawo matang itu barusan. “We are from Korea.” Jawab Surin membuat sang penjual mengangguk sambil tersenyum senang sementara Sehun langsung memuji Surin yang dapat mengerti apa yang di ucapkan penjual tersebut. “Sebenarnya aku tidak mengerti, hanya saja aku yakin bahwa tadi ia bertanya asal kita dari mana karena biasanya penduduk setempat pasti akan selalu menanyakan hal tersebut ketika mereka bertemu dengan orang yang mereka anggap asing. Benar, kan?” Seketika Sehun tertawa sementara Surin hanya menunjukan deretan gigi rapinya pada sang penjual yang seakan bertanya pada Surin apa penyebab Sehun tertawa terbahak seperti itu.

 

Saat ini Sehun dan Surin tengah berkunjung ke Indonesia tepatnya kota Jakarta untuk mengisi waktu liburan semester mereka. Sebelum Indonesia, mereka juga sudah berkunjung ke Thailand, dan mulai dari saat itu mereka sepakat untuk berlibur bersama keluar negeri setiap satu kali dalam setahun.

 

Hari ini adalah hari terakhir mereka dapat mengelilingi kota tersebut karena besok hari, mereka harus kembali ke Korea. Mereka memilih untuk menghabiskan waktu mereka di Monas, salah satu maskot paling terkenal yang dimiliki Indonesia setelah lima hari sebelumnya mereka sudah puas mengelilingi Jakarta.

 

Sehun dan Surin sudah mengunjungi beberapa tempat yang terkenal di kota tersebut seperti Dunia Fantasi atau Dufan, museum-museum terkenal seperti Fatahillah, Museum Wayang, Museum Nasional, Museum Perumusan Naskah Proklamasi dimana mereka dapat melihat patung-patung orang yang berperan mewujudkan Proklamasi, berbelanja di Pasar Baru, mengunjungi gereja paling terkenal yaitu gereja Kathedral Jakarta, dan juga mengelilingi daerah sekitar kota tua sambil mencoba jajanan-jajanan khas Jakarta.

 

Sehun dan Surin bahkan ingin lebih lama berada di Jakarta dan mengunjungi semua museum yang belum sempat mereka kunjungi. Museum-museum yang ada di kota tersebut benar-benar menyimpan banyak cerita menarik, salah satunya adalah cerita-cerita mengenai perjuangan bangsa Indonesia melawan Belanda yang selalu akan menjadi cerita sejarah paling menarik untuk di dengar.

 

“Neng, pacarnya kayak bintang film ya. Tinggi, ganteng banget. Eneng juga cantik, serasi liatnya. Semoga abis makan Kerak Telor ini jadi buru-buru kawin ya, neng.” Surin mengernyitkan dahinya begitupun juga dengan Sehun. Mereka hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum, menanggapi ucapan sang penjual. “Terima kasih.” Sehun berujar dengan bahasa Indonesia seraya membayar Kerak Telor yang sudah Surin pegang itu kemudian langsung mencari tempat untuk menikmati makanan tradisional tersebut.

 

Mereka menempati sebuah kursi taman yang letaknya berada di bawah pohon rindang. Sehun sudah kembali memotret tugu Monas yang dari tempat mereka sekarang ini benar-benar terlihat jelas dengan menggunakan kamera DSLR-nya, sementara Surin mulai mencicipi makanan bernama Kerak Telor tersebut. Beberapa detik setelah itu, Surin langsung sibuk memuji rasa makanan yang baru saja di cobanya membuat Sehun tertawa kecil. Sehun mengarahkan kameranya pada Surin yang masih asik makan itu kemudian memotret gadis tersebut berkali-kali dengan senyuman yang tidak kunjung luntur dari wajahnya.

 

“Kau harus coba.” Surin menyodorkan sendok kecil berisi potongan Kerak Telor itu ke arah Sehun yang langsung membuka mulutnya dan memakan Kerak Telor tersebut. “Woah, ini benar-benar lezat.” Sehun berkomentar kemudian kembali membuka mulutnya, meminta Surin untuk menyuapinya lagi dan setelah itu ia sudah sibuk memuji makanan tersebut membuat Surn hanya tertawa.

 

“Rasanya aku masih ingin menetap beberapa hari lagi di Jakarta.” Surin tersenyum seraya memperhatikan tugu Monas yang dikelilingi oleh langit jernih dan awan disekitarnya. “Selama enam hari kita mengelilingi Jakarta, tempat apa yang paling menarik bagimu?” Tanya Sehun tiba-tiba membuat Surin memiringkan kepalanya seolah tampak tengah berpikir. “Hm, aku suka semuanya. Tapi mungkin yang paling aku suka adalah Dufan. Walaupun kau menertawaiku terus karena aku ketakutan setiap menaiki wahana yang seram, tapi liburan kita di Dufan benar-benar menyenangkan.” Seketika kepala Surin seakan memutar kembali setiap adegan di Dufan yang kini hanya menjadi sebuah kenangan manis tak terlupakan.

 

Entah itu adegan ketika Sehun terpeleset saat baru turun dari wahana arung jeram, ataupun Surin yang berteriak-teriak ketakutan ketika menaiki wahana bernama kora-kora yang baginya sangat menyeramkan itu. Semua benar-benar tidak akan terlupakan. Apalagi ketika Sehun meminta bantuan petugas yang bekerja untuk menjalankan wahana bernama biang lala untuk memotret mereka di depan wahana tersebut. Sehun mengecup pipi Surin dengan mesra membuat orang-orang yang melihat mereka langsung turut mengembangkan senyumannya termasuk petugas yang tengah memotret mereka.

 

“Bagaimana denganmu? Menurutmu, tempat apa yang paling menarik?” Surin mengalihkan pandangannya pada Sehun yang kini sibuk menghabiskan Kerak Telor, makanan yang sekarang masuk ke dalam daftar makanan kesukaan Sehun maupun Surin. “Sama sepertimu, aku suka semua tempat. Tapi yang paling aku suka adalah kota tua, tepatnya wilayah sekitar museum Fatahillah. Kita mencicipi banyak jajanan yang enak, membelikan Baekhyun dan Jimi boneka Ondel-Ondel kecil khas Jakarta, berfoto bersama di depan museum yang sangat bagus itu, dan juga bersepeda bersama dengan topi yang mereka sebut sebagai topi orang Belanda jaman dulu. Benar-benar menyenangkan.” Sehun tersenyum ke arah Surin yang sudah lebih dulu menyunggingkan lengkungan berbentuk bulan sabit tersebut.

 

“Jang Surin, ayo! Sekarang saatnya kita naik ke atas Monas.” Sehun bangkit dari tempatnya kemudian menyodorkan tangannya pada Surin yang langsung menyambarnya dengan senang. Kedua pasangan yang kini tengah mengenakan kemeja putih senada itu segera berjalan senang sambil bergandengan tangan.

 

Bagi keduanya, semua tempat yang mereka kunjungi bersama selalu akan menjadi tempat yang menarik dan tidak akan terlupakan karena sebenarnya bukan tentang bagus atau tidaknya tempat yang kau kunjungi, tetapi yang terpenting adalah dengan siapa kau pergi ke tempat tersebut.

 

**

 

Pemandangan seluruh penjuru kota Jakarta yang indah, angin yang terus bertiup dengan lembut, juga pelukan Sehun yang memberikan rasa hangat tersendiri pada punggung Surin benar-benar membuat semuanya terasa sempurna. Surin sampai tidak dapat berkomentar apapun karena perasaan bahagia yang saat ini benar-benar memenuhi seluruh sudut hatinya.

 

“Kau tampak sangat bahagia.” Sehun menyandarkan dagunya di puncak kepala Surin membuat gadis itu tertawa kecil. “Tentu saja. Siapa yang tidak bahagia di peluk seperti sekarang ini oleh laki-laki tampan sambil memandangi seluruh penjuru kota Jakarta yang terlihat sangat indah dari atas sini?” Sehun tersenyum kecil mendengar ucapan Surin barusan.

 

“Untuk liburan selanjutnya, kita akan kemana? Bagaimana kalau bulan Desember nanti kita pergi ke Jepang?” Sehun berujar sementara Surin kini menautkan alisnya, seperti tengah berpikir keras. “Bulan Juli nanti kita sudah akan wisuda, dan kau langsung mulai bekerja sebagai arsitek di perusahaan keluargamu, aku juga akan bekerja sebagai guru di Seoul Mangwoo Elementary School dan mungkin kita akan sangat sibuk. Aku rasa, akan sangat tidak mungkin kalau kita pergi di bulan Desember.” Ujar Surin seraya mengercutkan bibirnya.

 

“Mengapa tidak mungkin? Tentu saja mungkin. Kita bisa meminta cuti kerja dan mereka pasti akan mengerti.” Surin langsung mendongakan kepalanya lalu menatap Sehun dengan tatapan tidak setuju. “Bahkan kita belum mulai bekerja dan kau sudah memikirkan cuti? Lalu, apa katamu barusan? Mereka pasti akan mengerti? Ya, mengerti mengapa kau harus membuat surat pengunduran diri setelah waktu cutimu berakhir karena pada akhirnya mereka akan tahu kalau kau mengambil cuti hanya untuk berlibur.” Sehun tertawa membuat Surin hanya mendengus pelan.

 

“Siapa bilang alasanku mengambil cuti hanya untuk berlibur? Aku akan menghabiskan bulan madu bersamamu, jadi mana mungkin mereka tidak akan mengijinkan kita dan tidak membiarkan kita mengambil waktu cuti?”

 

Surin langsung membelakan matanya seraya menatap Sehun dengan tidak percaya namun kemudian gadis itu memutar bola matanya dengan malas. “Oh Sehun, jangan bercanda.” Ujar Surin pendek namun kemudian Sehun memutar tubuh gadis itu untuk menghadapnya. Sehun memegang kedua bahu Surin seraya menatap kedua manik mata berwarna hitam pekat milik Surin dengan sangat serius.

 

“Aku tidak bercanda, Jang Surin.” Sehun berujar seraya merogoh saku celana panjang berwarna hitamnya untuk mengambil sesuatu. Ia langsung menyerahkan sapu tangan berwarna biru muda miliknya pada Surin. “Itu, lipstick yang kau kenakan berantakan. Mungkin karena Kerak Telor tadi.” Surin mendengus kemudian merebut sapu tangan itu dari tangan Sehun dengan kesal.

 

“Aku pikir kau akan mengeluarkan kotak cincin dan melamarku. Oh Sehun, kau benar-benar menyebalkan.” Surin baru saja akan menghapus lipstick tipis yang dikenakannya, namun ia merasakan sesuatu di dalam sapu tangan yang terlipat tersebut. Surin membukanya dengan perlahan dan kemudian ia menemukan cincin perak dengan berlian cantik ditengahnya. Surin menatap cincin itu, lama. Ia tidak menyangka bahwa sekarang ini Sehun memberikannya sebuah cincin berlian yang akan menggantikan cincin ‘couple’ berukirkan nama ‘Oh Sehun’ yang selama ini dipakainya. Sebuah cincin berlian yang memiliki makna penting.

 

Surin langsung mendongakan kepalanya untuk menatap Sehun dan betapa terkejutnya ia ketika sekarang ini mendapati Sehun sudah mengenakan bandana bertuliskan ‘Marry Me?’ di kepalanya, membuat Surin langsung menutup mulutnya dengan tidak percaya. Sehun mengambil satu tangkai bunga mawar berwarna merah yang Sehun tahu adalah bunga kesukaan Surin dari dalam tas ranselnya. Sehun tersenyum seraya menatap lurus kedua bola mata milik gadisnya yang sekarang sudah berkaca-kaca itu.

 

“Jang Surin, bersediakah kau menikah denganku?”

 

Air mata Surin jatuh begitu saja membasahi kedua belah pipinya sementara Sehun kini menyodorkan setangkai bunga mawar merah tersebut pada Surin dengan senyuman manis. Surin segera mengambil bunga mawar tersebut dari tangan Sehun seraya mengangguk, menjawab pertanyaan Sehun barusan. “Tentu saja jawabannya adalah aku bersedia, Oh Sehun.” Sehun segera memeluk Surin seraya mengecup puncak kepala gadis itu dengan rasa sayang dan gembira yang bercampur menjadi satu. Sehun benar-benar tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya mendengar jawaban Surin barusan. Sehun akan membangun sebuah rumah tangga bersama Jang Surin, gadis yang paling ia cintai, dan Sehun benar-benar merasa bahagia.

 

“Aku suka bandana itu.” Sehun tertawa mendengar ucapan Surin barusan lalu Sehun mengeratkan pelukannya pada tubuh Surin yang jauh lebih kecil dari tubuhnya itu. “Aku membuat bandana ini sendiri sebelum kita berangkat ke Jakarta.” Ucap Sehun jujur membuat Surin langsung tertawa kecil seraya meneteskan satu bulir air matanya. Air mata terharu bercampur bahagia yang tidak dapat Surin jelaskan. Sehun melepaskan pelukan mereka kemudian mengambil cincin yang kini masih Surin genggam.

 

“Aku ingin setiap kita mendengar nama kota Jakarta, kita selalu mengingat kejadian hari ini. Kejadian dimana aku resmi memintamu menjadi pendamping hidupku untuk selamanya.” Sehun memasangkan cincin tersebut pada jari manis Surin sementara kini lagi-lagi Surin sudah meneteskan air matanya. Sehun tersenyum lembut kemudian menangkup kedua pipi Surin seraya menghapus air mata yang kini membasahi kedua pipi gadis itu dengan perlahan. Sehun menatap lurus kedua mata Surin, seolah ingin memberitahu keseriusannya pada Surin.

 

“Aku mencintaimu, Jang Surin.” Sehun berujar dalam bahasa Indonesia membuat Surin tertawa kecil.

 

“Aku juga mencintaimu, Oh Sehun.” Sehun mendaratkan bibirnya pada bibir Surin membuat gadis itu langsung meremas ujung kemeja putih milik Sehun. Dengan perlahan mereka memperdalam tautan bibir mereka seolah keduanya saling ingin menyatakan seluruh perasaan mereka pada satu sama lain.

 

Jakarta benar-benar menjadi kota yang sangat manis bagi keduanya. Semua kenangan mereka yang ada di kota ini, tidak akan mereka lupakan begitu saja. Sehun dan Surin akan mengingatnya selalu, terutama dengan apa yang terjadi pada mereka hari ini di puncak Monumen Nasional tersebut.

 

Sehun hanya berharap suatu saat nanti ia dan Surin dapat kembali lagi ke Jakarta, tidak hanya berdua saja tapi bersama Sehun dan Surin kecil.

 

-FIN.

12 Drabble Of SEHUN : 8th – Wedding Dress

8th - Wedding Dress

Sehun memandangi Surin yang kini tengah memangku dagunya dengan satu telapak tangannya. Pasta yang kini berada di hadapan Surin masih belum tersentuh sementara Sehun sudah hampir selesai dengan pasta miliknya. Sehun masih menaruh perhatiannya pada gadis yang menurutnya tampak sedih itu. Sepertinya, Sehun tahu apa penyebab Surin berubah menjadi murung sekarang ini.

 

“Tidak bisakah kita langsung ke butik saja? Mengapa kau harus mengajakku ke restaurant ini terlebih dulu?” Surin memprotes laki-laki bertubuh tinggi yang Surin tahu sedari tadi memperhatikannya. “Bukankah sekarang ini memang jam makan siang? Jadi, apakah aku salah mengajakmu makan siang sebelum kita pergi ke butik?” Surin hanya menghela napasnya seraya meminum milkshake cokelat yang berada di hadapannya kemudian sedetik berikutnya gadis itu sudah menepuk dahinya sendiri sambil menatap gelas berisi milkshake cokelat itu dengan kesal. “Aish, padahal sedari tadi aku sudah menahannya.” Gumam Surin sementara Sehun langsung menghela napas. Kini Sehun tahu bahwa dugaannya benar. Dugaannya tentang mengapa Surin berubah menjadi murung dan kesal saat ia malah membawa Surin ke restaurant pasta yang adalah salah satu restaurant favorite Surin, dan bukannya segera menuju ke butik yang mengurus pakaian pernikahan mereka itu memang benar adanya.

 

“Jadi, ini semua karena kejadian seminggu yang lalu?” Sehun bertanya membuat Surin langsung melipat kedua tangannya di depan dada seraya menatap makanan yang ada di hadapannya dengan kesal. “Oh Sehun, seharusnya kau tahu bahwa aku sedang diet dan aku benar-benar tidak ingin menghancurkan semuanya seperti seminggu yang lalu. Sudahlah, cepat selesaikan makananmu karena kita harus segera pergi ke butik untuk segera mencoba pakaian-pakaian yang sudah di rombak itu.” Surin berujar dengan nada suara yang terdengar sedih. Seketika sekelebat bayangan yang seolah memutar kembali kejadian di butik satu minggu lalu memenuhi kepala Surin, membuat gadis itu langsung merasa sedih dengan seketika.

 

Satu minggu yang lalu, Sehun dan Surin pergi ke butik Yoo, butik yang ibu kandung Sehun rekomendasikan kepada mereka untuk mengurus semua pakaian yang akan mereka kenakan di pernikahan mereka nanti, mulai dari pemberkatan sampai ke acara resepsi. Semua pakaian pernikahan Sehun dan Surin yang di design langsung oleh sang pemilik butik sudah seluruhnya siap. Semua pakaian yang nantinya akan Sehun dan Surin kenakan untuk rangkaian acara pernikahan mereka benar-benar terlihat indah, sampai-sampai Surin merasa sangat bahagia dengan hanya melihatnya.

 

Pakaian yang pertama adalah pakaian yang akan Sehun dan Surin kenakan pada saat pemberkatan pernikahan. Untuk Sehun, sang designer sudah membuat sebuah tuxedo berwarna hitam lengkap dengan rompi, kemeja dan sarung tangan berwarna putih, sepatu pantofel hitam, juga dasi berwarna hitam senada dengan tuxedo tersebut. Surin bahkan sudah dapat membayangkan betapa tampannya Sehun ketika nanti laki-laki bertubuh tinggi itu memakai tuxedo tersebut. Untuk Surin, sang designer sudah membuatkan gaun berwarna putih cantik dengan kerlipan seperti intan permata yang mendominasi gaun panjang berenda tersebut. Tidak lupa designer tersebut turut membuatkan sarung tangan berwarna putih sebatas lengan, heels dan mahkota kecil berhiaskan permata senada dengan gaun tersebut, yang merupakan salah satu design paling spesial dari sang designer.

 

Sang designer juga sudah membuatkan tiga pakaian untuk acara resepsi Sehun dan Surin. Pakaian yang pertama adalah pakaian khas tradisional Korea bernama Hanbok. Hanbok yang dibuat oleh designer Yoo, bukanlah Hanbok biasa melainkan Hanbok yang sudah di design dengan sangat spesial dimana setiap orang yang melihatnya langsung dapat mengetahui bahwa pakaian itu adalah pakaian tradisional yang juga menampilkan sisi modern disetiap motif yang disulam langsung dengan benang berwarna emas tersebut.

 

Pakaian yang kedua adalah tuxedo dan gaun panjang elegant berwarna putih serasi, salah satu design spesial yang dibuat secara khusus untuk Sehun dan Surin. Dan yang terakhir, tuxedo beserta gaun panjang berenda berwarna merah. Sebelumnya designer yang adalah teman dekat ibu kandung Sehun itu memang sudah menanyai apa warna favorite Sehun dan Surin, lalu ketika ia tahu bahwa keduanya sama-sama menyukai warna merah, dengan senang hati designer Yoo membuatkan pakaian itu untuk Sehun dan Surin dan berkata bahwa untuk pakaian itu, mereka berdua tidak perlu membayarnya karena pakaian indah tersebut adalah hadiah pernikahan untuk mereka dari designer Yoo.

 

Semua pakaian itu memang indah, dan Surin sudah sangat menunggu-nunggu untuk segera mencoba semua pakaian yang nantinya akan ia kenakan di hari spesialnya dengan Sehun. Namun ketika ia mulai mencoba semua pakaian tersebut, Surin merasa dunianya runtuh begitu saja. Surin sampai mati-matian menahan air matanya ketika semua gaun tersebut terasa sangat kecil dan tidak pas di tubuhnya. Padahal satu bulan sebelum hari ini, Surin yakin sekali team designer Yoo sudah mengukur ukuran tubuhnya dengan sangat benar.

 

Seketika Surin baru ingat bahwa kemarin saat ia menimbang berat badannya, Surin memang mengalami kenaikan berat badan yang drastis. Meskipun designer Yoo berkata ia akan merombak gaun tersebut, tetap saja Surin merasa tidak tenang.

 

Tepat satu minggu setelah kejadian itu, designer Yoo menelepon mereka dan berkata bahwa semuanya sudah siap. Surin hanya takut kalau kali ini ia juga akan merusak semuanya seperti seminggu yang lalu.

 

“Setidaknya makanlah sedikit. Aku tidak mau kau malah sakit.” Sehun mengambil pasta yang ada di mangkuk Surin dengan garpu, kemudian menyodorkan garpu tersebut ke arah Surin yang hanya memandangi garpu itu dengan ragu. “Lagipula menurutku, dengan tubuh berisi, kau malah terlihat semakin cantik. Aku tidak masalah jika kita bahkan harus mengganti semua pakaian itu dengan yang baru. Sekarang, makanlah.” Sehun tersenyum ketika akhirnya Surin melahap pasta tersebut sementara Surin hanya menghela napasnya.

 

Surin hanya berharap kali ini semua berjalan dengan baik.

 

**

 

“Woah, ternyata benar sekali perkiraanku. Aku tidak merombak ukuran gaun itu dengan sepenuhnya, karena aku tahu bahwa kau akan menjalani program pengurusan badan. Aku hanya merombaknya sedikit dan aku tidak menyangka bahwa akan sangat pas.” Designer Yoo berujar bangga kala memperhatikan Surin yang kini sudah mengenakan salah satu gaun yang nantinya akan ia pakai untuk resepsi.

 

Surin memandangi pantulan dirinya sendiri di cermin sambil tersenyum senang. Surin sudah mencoba ketiga gaun yang akan ia pakai pada saat resepsi nanti, dan semuanya benar-benar begitu pas di tubuh Surin. “Terima kasih, designer Yoo.” Surin berujar tulus seraya kembali menatap pantulan dirinya pada cermin tersebut. Sebenarnya Surin juga tidak terlalu ketat menjalani program pengurusan badan, terbukti dengan timbangan berat badannya yang masih belum kembali seperti semula. Namun ia senang karena setidaknya gaun-gaun tersebut kini terasa pas di tubuhnya dan semua itu murni berkat bantuan dari designer Yoo yang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk merombak gaun tersebut.

 

Sekarang hanya tinggal mencoba gaun utama, gaun yang akan Surin pakai untuk pemberkatan. Surin menatap gaun indah itu dengan ragu sementara designer Yoo kini sudah berusaha untuk meyakinkan Surin. “Ada seorang laki-laki tampan di luar sana yang tidak sabar untuk segera melihatmu mengenakan gaun cantik itu.” Designer Yoo mendorong punggung Surin dengan pelan ke arah gaun tersebut.

 

Sementara Surin mencoba semua gaunnya, Sehun menunggu dengan sabar di luar. Laki-laki yang kini mengenakan tuxedo untuk sesi pemberkatan itu segera mendongakan kepalanya ketika designer Yoo keluar dari ruangan tempat Surin mencoba semua gaunnya. “Oh Sehun, sekarang kau boleh lihat calon pengantin perempuanmu di dalam.” Ucap designer Yoo seraya membukakan pintu ruangan itu. Sehun segera berjalan masuk dan kini ia berhadapan dengan tirai besar berwarna emas. Sehun membuka tirai tersebut dengan perlahan dan seketika ia menganga, tidak percaya akan apa yang ia lihat sekarang ini. Surin tampak begitu cantik dengan gaun putih berenda yang sekarang ini ia kenakan, membuat Sehun sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu.

 

“K-Kau tampak cantik.” Ujar Sehun terbata. Perlahan Sehun mendekati Surin yang kini hanya berdiri sambil tersenyum manis ke arahnya. Rambut Surin yang disanggul sederhana bahkan berhasil membuat Sehun semakin jatuh hati. “Dan kau tampak sangat tampan dengan tuxedo itu.” Surin membetulkan dasi Sehun yang terlihat sedikit berantakan namun tiba-tiba Sehun menarik pinggul Surin untuk mendekat padanya. Sehun memeluk Surin dengan erat seraya mengecup bahu Surin dengan perlahan.

 

“Surin-a.” Panggil Sehun membuat Surin langsung menjawabnya dengan gumaman lembut. “Kau hanya perlu tahu kalau kau tampak cantik dengan apapun. Bahkan tanpa perlu menggunakan gaun ini.” Sehun berujar membuat Surin yang kini berada dipelukan laki-laki berkulit putih susu itu langsung mengembangkan senyumannya.

 

“Benarkah? Tapi aku bertambah gemuk sampai-sampai designer Yoo harus merombak gaun ini.” Surin berujar membuat Sehun langsung tersenyum kecil. “Aku rasa aku sudah memberitahumu bahwa kau terlihat semakin cantik jika tubuhmu ini berisi.” Sehun meletakan dagunya di bahu Surin sementara gadis itu hanya tertawa.

 

Sehun melepaskan pelukan mereka kemudian meletakan kedua tangannya pada pipi Surin. “Aku tidak ingin kau menyiksa dirimu sendiri. Aku tidak ingin melihatmu sampai tidak makan hanya karena berat badanmu bertambah. Aku tidak ingin melihatmu menjalani program diet itu hanya untuk memakai gaun-gaun tersebut. Karena bagiku, kau tetap akan terlihat cantik tanpa harus mengenakan gaun-gaun itu. Kau tetap akan terlihat cantik meskipun pipimu ini berubah menjadi seperti bantal.” Sehun mencubit kedua belah pipi Surin dengan gemas sementara gadis itu langsung memukul lengan Sehun berkali-kali sambil berpura-pura marah.

 

“Aku menyayangimu.” Ujar Surin membuat Sehun langsung mengelus kedua belah pipi Surin dengan masing-masing ibu jarinya. Sehun mengecup dahi Surin lambat-lambat, seolah memberitahu gadis itu bahwa ia juga sangat menyayanginya.

 

“Aku juga menyayangimu. Sekalipun kau bertambah gemuk dan kau benar-benar tidak bisa memakai gaun-gaun tersebut, aku tetap menyayangimu.” Sehun memperkecil jarak diantara mereka, menyentuhkan ujung hidungnya pada ujung hidung Surin, kemudian mendaratkan bibirnya pada bibir mungil milik gadis itu dengan rasa sayang.

 

Karena bagi Sehun, ketika kau dapat mencintai bagaimanapun tampilan luar pasanganmu, ketika kau dapat mencintai sifat dan karakter pasanganmu, ketika kau dapat menerima pasanganmu dengan apa adanya, disitulah kau tahu bahwa kau benar-benar mencintai pasanganmu dengan setulus hati.

 

-FIN.

 

12 Drabble Of SEHUN : 9th – Love Light

9th - Love Light

Jam dinding sudah menunjukan pukul dua belas lewat lima, membuat kantuk kedua pasangan suami istri yang kini tengah terbaring di kasur berukuran double king size sambil menonton televisi bervolume tidak terlalu besar itu mulai menguap secara bergantian. Pekerjaan yang mereka lewati seharian penuh berhasil membuat tubuh mereka benar-benar merasa lelah dan butuh istirahat. Kalau saja keduanya tidak sepakat untuk menonton film dan sekedar mengobrol untuk bertukar cerita mengenai hari yang telah mereka lewati itu, mungkin sedari jarum jam masih diam di angka sepuluh, mereka sudah larut dalam alam bawah sadar masing-masing, menyelami mimpi yang kemudian akan berakhir ketika alarm mereka yang seringkali mereka sebut pengganggu itu berteriak-teriak memaksa mereka untuk bangun guna menyuruh mereka kembali melakukan kegiatan serupa, kegiatan yang persis akan apa yang sudah mereka lewati hari ini.

 

“Aku mengantuk sekali.” Sang istri yang diketahui bernama Surin itu kembali menguap membuat laki-laki berambut hitam pekat dengan model spike yang berada disebelahnya turut melakukan hal serupa. “Matamu sampai berkaca-kaca seperti itu. Baiklah nyonya Oh, sekarang sudah saatnya kita tidur.” Laki-laki bernama lengkap Oh Sehun itu menaikan selimut yang menutupi setengah tubuh mereka menjadi sebatas bahu, lalu membetulkan bantal kepalanya, mulai mencari posisi tidur yang tepat.

 

Surin yang kini sudah menemukan posisi yang paling nyamannya itu kemudian menekan tombol merah pada remot televisi yang kebetulan ada di antara bantal kepalanya dan bantal kepala Sehun untuk mematikan layar televisi tersebut. Setelah layar televisi tersebut mati, mereka berdua langsung bertatapan, seolah baru ingat akan sesuatu. Surin menghela napas seraya memutar bola matanya, malas. Surin tahu dengan pasti apa maksud dari tatapan mereka sekarang ini.

 

“Tidak lagi, Oh Sehun.” Ujar Surin sementara Sehun kini sudah memeluk tubuh Surin. Bantal guling yang dipeluk Surin kini menjadi pembatas diantara mereka. “Ayolah Oh Surin, memangnya kau tidak kasihan dengan suamimu yang sudah lelah banting tulang seharian penuh ini? Hari ini aku banyak menggambar design bentuk bangunan dan aku benar-benar lelah.” Sehun mengecupi puncak kepala Surin sementara yang dikecupi langsung menahan wajah sang pengecup dengan telapak tangannya. Sehun tidak menyerah dan kini ia malah mulai mengecupi telapak tangan Surin membuatnya langsung terkena pukulan di kepala oleh Surin.

 

“Memangnya kau pikir aku tidak lelah? Hari ini adalah hari pembagian rapor dan aku harus bertemu banyak orangtua untuk memberikan laporan hasil nilai anak mereka selama satu semester itu. Aku juga sangat lelah, Oh Sehun. Jadi, tidak untuk kali ini.” Surin berusaha untuk menjauhkan dirinya dari Sehun, namun laki-laki itu mengunci tubuh Surin dengan kakinya yang panjang. Surin hanya menghela napas kemudian berusaha untuk menemukan posisi paling nyamannya sementara Sehun masih memeluknya.

 

“Kalau seperti ini, aku tidak bisa tidur. Kau mau melihat arsitek handal sepertiku ini tertidur saat rapat bersama kolega kerjaku esok hari?” Sehun masih belum menyerah sementara Surin berdecak. “Jangan manja. Aku sudah mematikan televisi dan berarti ini saatnya giliranmu untuk mematikan lampu, Oh Sehun!”

 

Sehun langsung memandang wanita kesayangannya itu dengan tidak terima. “Kalau begitu peraturannya, lebih baik dari tadi saja aku mematikan televisi agar aku tidak harus repot-repot bangun dari kasur yang nyaman ini untuk mematikan lampu, Oh Surin!” Surin mendengus sementara Sehun kini mencubit satu pipi Surin membuat sang empunya hanya menghela napas lalu menatapnya garang.

 

“Tidak ingatkah kau siapa yang kemarin mematikan lampu? Sekarang itu giliranmu, Sehun-a!” Surin langsung membalas Sehun dengan juga mencubit pipi laki-laki itu membuat Sehun akhirnya menyerah. “Aish, ini benar-benar menyebalkan.” Dengan gerakan yang malas dan terpaksa, Sehun turun dari kasurnya dan Surin kemudian berjalan lesu ke arah saklar lampu yang letaknya dekat pintu utama kamar tersebut.

 

“Tolong sekalian matikan lampu meja itu.” Surin menunjuk lampu meja yang berada tepat di sebelah kasur mereka, atau lebih tepatnya, berada tepat di sebelah kiri Surin jika saja wanita yang kini masih tertidur pada posisi semulanya yaitu menghadap ke sisi Sehun, mau berguling sedikit untuk mencapai lampu meja tersebut. Meskipun jarak Surin akan lampu yang berada di sebelahnya itu cukup jauh mengingat ukuran kasur mereka adalah double king size, dimana mereka memang dengan sengaja memilih ukuran kasur yang besar tersebut karena mereka berdua adalah tipe orang yang tidak bisa diam ketika tidur, setidaknya jarak Surin dan lampu itu tidak sejauh jarak Sehun sekarang ini dengan lampu tersebut. Sehun yang baru saja akan menaiki kasur itu setelah ia mematikan lampu kamar mereka, langsung mengurungkan niatnya dan hanya memandang Surin dengan tidak terima setelah mendengar perintah Surin barusan.

 

“Lampu meja itu bahkan berada tepat di sisi kasurmu dan kau dapat mematikannya sendiri dengan hanya berguling sekitar tiga kali untuk mencapai lampu tersebut. Mengapa aku harus repot-repot berjalan ke meja kecil itu hanya untuk mematikan lampu tersebut?”

 

“Memangnya kau tidak lihat aku sudah dalam posisi yang benar-benar nyaman? Kalau aku berguling untuk mematikan lampu meja itu, aku tidak akan mendapatkan posisi nyaman ini lagi!” Seru Surin seraya menaikan selimutnya dan menggeliat nyaman sementara Sehun tertawa meledek.

 

Sehun segera menaiki kasur mereka dan menarik selimut yang menutupi hampir seluruh tubuh Surin itu dalam hitungan detik membuat Surin langsung berseru kesal. Sehun dengan sengaja meletakan selimut tebal itu ke sebelah kanannya, berusaha menjauhi jangkauan Surin dari selimut tersebut. “Baiklah, aku akan tidur tanpa selimut. Karena aku sudah mengalah, agar lebih adil sebaiknya kau segera mematikan lampu itu karena aku benar-benar malas berguling untuk meraih lampu tersebut. Posisiku saat ini sudah benar-benar nyaman.” Surin kini kembali memeluk gulingnya dan berusaha memejamkan matanya sementara Sehun sudah menatap Surin dengan tidak percaya.

 

Sehun segera berguling ke arah Surin lalu ia menjadikan kedua tangannya menjadi tumpuan tubuhnya sementara kini posisi Sehun sudah berada tepat diatas tubuh Surin. Surin terbelak menatap Sehun yang kini tengah tersenyum jahil itu. Surin ingin menyingkirkan tubuh Sehun dari hadapannya namun usahanya tidak membuahkan hasil karena Sehun sudah benar-benar mengunci tubuh mungil Surin dengan tubuhnya yang jauh lebih besar itu. Pembatas mereka sekarang ini hanyalah bantal guling yang dipeluk Surin.

 

“Ini, aku beritahukan padamu bagaimana caranya berguling yang baik sambil tetap mempertahankan posisi yang nyaman.” Ujar Sehun sementara Surin tidak berkedip sama sekali. Surin langsung menaikan bantal guling yang dipeluknya untuk menutupi seluruh wajahnya ketika ia merasakan Sehun malah dengan perlahan mendekatkan wajahnya dengan wajah Surin. “Aku bersumpah, Oh Sehun! Matikan saja lampu itu dan kembalilah ke posisimu semula!”

 

Sehun terbahak kemudian berguling ke sebelah kiri Surin lalu segera menekan tombol pada lampu meja tersebut dan seketika suasana kamar menjadi sangat gelap gulita. “Apa aku harus berguling lagi untuk dapat kembali ke tempatku semula?” Tanya Sehun dengan nada jahil membuat Surin langsung berguling menjauh dari Sehun, namun sebelum sempat Surin melakukan hal tersebut, Sehun sudah lebih dulu menahan tangannya, membuat Surin kembali ke posisinya semula. Dengan gerakan cepat, Sehun kembali menempatkan dirinya diatas Surin. Surin dapat melihat senyuman Sehun meskipun suasana kamar benar-benar gelap. Mungkin karena bantuan dari sinar bulan yang masuk menerobos gorden jendela besar kamar mereka, pikir Surin. Surin mati-matian menahan detak jantungnya ketika Sehun menyentuhkan ujung hidungnya pada ujung hidung Surin berkali-kali.

 

“Mulai sekarang, aku bersedia mematikan lampu sebelum kita tidur asalkan lampu meja yang berada di sisi kasurmu itu kau nyalakan.” Sehun tertawa sementara Surin masih bersusah payah untuk menetralkan detak jantungnya yang benar-benar seakan ingin keluar dari tempatnya itu.

 

“Selamat tidur, nyonya Oh.” Sehun mengecup dahi Surin, lama. Sehun berguling ke sisi tempat tidurnya lalu membiarkan Surin menatapnya tanpa berkedip. Sehun memejamkan matanya seraya tersenyum, masih merasakan kedua mata Surin yang tetap betah memperhatikannya. “Ada apa?” Tanya Sehun dengan senyuman yang seakan tidak mau luntur dari wajahnya.

 

“I-itu, tolong ambilkan selimut yang berada disebelahmu.”

 

“Aku kan sudah mengajarimu cara berguling yang baik. Sekarang, cobalah untuk mengambil selimut ini.” Sehun berujar jahil dan sedetik kemudian Surin sudah menyentil dahi laki-laki itu dengan keras membuat sang empunya menjerit kesakitan. “Ya sudah, aku akan tidur tanpa selimut!” Seru Surin kemudian memeluk gulingnya dan memejamkan kedua matanya. Sehun tertawa kecil kemudian segera menyelimuti Surin dan dirinya sendiri dengan selimut yang berada di sebelahnya.

 

Sehun menaikan selimut tersebut sebatas bahu Surin. Ia dapat melihat senyuman yang terulas di wajah istrinya itu, membuatnya langsung membentuk lengkungan serupa. Setiap hari, Sehun dan Surin memang selalu akan berdebat mengenai siapa yang harus mematikan lampu kamar. Dan bagi Sehun maupun Surin, mungkin tragedi ‘perang lampu’ hari ini adalah yang paling seru dari ‘perang lampu’ yang sebelum-sebelumnya. Bahkan, di dalam hati Sehun maupun Surin sekarang ini terbesit sebuah ide untuk menyalakan dua lampu meja yang berada disisi mereka masing-masing sebelum akhirnya tragedi ‘perang lampu’ itu kembali terjadi esok hari.

 

“Selamat tidur, Oh Surin. Aku menyayangimu.” Sehun mengecup bibir Surin singkat kemudian langsung memunggungi wanita kesayangannya itu, takut-takut Surin akan menyentil dahinya lagi akibat tingkah jahilnya barusan. Bertolak belakang dengan pikirannya barusan, kini Sehun malah dapat merasakan Surin memeluk tubuh Sehun dari belakang seraya membenamkan wajahnya pada punggung Sehun yang lebar.

 

“Selamat tidur, Oh Sehun. Aku juga menyayangimu.”

 

-FIN.

 

12 Drabble Of SEHUN : 10th – Birthday Boy

10th - Birthday Boy

“Ya! Byun Baekhyun, pasang spanduknya dengan benar! Ke kiri sedikit, ya benar seperti itu. Ah, tapi itu terlalu ke kiri. Coba lebih sedikit ke kanan. Aish, bukan begitu!”

 

“Kau benar-benar cerewet, nyonya Byun.” Baekhyun hanya menghela napasnya kala mendengar ocehan Jimi, wanita yang sudah selama satu tahun menjadi istri sahnya. Baekhyun tidak dapat berbuat apa-apa selain menuruti semua arahan Jimi. Saat ini mereka tengah merombak cafe kepunyaan Park Chanyeol untuk menyiapkan sebuah pesta kejutan bagi teman sedari sekolah menengah atas mereka yang hari ini berulang tahun.

 

Tidak hanya Baekhyun dan Jimi saja yang sibuk dengan spanduk dan beberapa balon yang sedari tadi Jimi tiup. Chanyeol, sang pemilik cafe juga sekarang tengah sibuk membuat berbagai macam makanan di dapur cafe tersebut bersama dengan Minseok dan Kyungsoo. Jongdae pergi membeli kue tart bersama dengan Yixing, sementara Junmyeon dan Jongin pergi membeli beberapa barang yang akan di gunakan untuk merayakan pesta tersebut seperti confetti dan topi ulang tahun sekaligus membeli hadiah mengingat mereka berdua belum sempat mencari hadiah untuk teman mereka yang sedang berulang tahun itu.

 

Tiba-tiba ponsel Jimi berbunyi nyaring membuat wanita itu langsung mengangkatnya. “Surin-a! Bagaimana? Apa semua berjalan dengan baik?” Ujar Jimi seraya masih menyuruh Baekhyun untuk membetulkan letak spanduk bertuliskan ‘Happy Birthday Oh Appa’ itu dengan gemas.

 

“Tentu saja. Aku sudah menyiapkan apa yang harus aku persiapkan di dalam rumah dan sekarang aku sudah berada di mobil untuk segera menuju ke cafe Chanyeol. Tadi aku juga benar-benar baru melihatnya masuk ke dalam rumah. Tapi, apa menurutmu rencana ini tidak terlalu berlebihan? Sehun terlihat sangat lelah. Pasti terjadi sesuatu di kantornya. Aku tidak tega, Jimi-ya.”

 

“Benarkah? Ah, aku jadi tidak tega juga. Tapi semua sudah terlanjur.” Ujar Jimi sementara Baekhyun langsung menatapnya dengan penuh tanda tanya. “Apa terjadi sesuatu?” Tanya Baekhyun membuat Jimi langsung menggeleng cepat, menunggu ucapan Surin selanjutnya.

 

“Tapi aku bisa menemuinya di dalam dan langsung mengajaknya ke cafe Chanyeol.” Jimi langsung melarang Surin setelah mendengar ucapan Surin barusan. “Nanti semuanya malah tidak jadi kejutan. Sudah, lebih baik sekarang kau kesini dan kita langsung jalani rencana kita.” Ujar Jimi dan seketika ia langsung menghela napas lega setelah mendengar persetujuan Surin.

 

Tidak lama setelah itu, Jongdae dan Yixing yang bertugas membeli kue tart, Junmyeon dan Jongin yang bertugas membeli perlengkapan pesta, juga Chanyeol, Minseok dan Kyungsoo yang sudah selesai dengan tugas masaknya segera membantu Jimi dan Baekhyun untuk menata semua makanan juga mendekorasi cafe tersebut.

 

“Semuanya, aku datang.” Surin memasuki cafe yang kini sudah sembilan puluh delapan persen siap itu. “Surin-a, sudah duduk saja. Kau tidak boleh banyak bergerak, biar kita yang siapkan semuanya.” Kyungsoo langsung meletakan kembali balon yang sekarang berada di tangan Surin kemudian dengan segera menempatkan Surin di sebuah kursi yang berada di dekatnya. Bahkan Chanyeol langsung menyuguhkan susu cokelat hangat untuk wanita itu membuat Surin hanya tertawa.

 

“Aish, kalian ini. Terima kasih sudah repot-repot membantuku hari ini.” Surin berujar tulus membuat yang lain langsung tersenyum ke arahnya.

 

“Tentu saja kami harus repot. Hari ini bukan hanya hari ulang tahun Sehun saja, tetapi juga hari pengumuman penting, Surin-a.” Sahut Junmyeon membuat yang lain langsung berseru setuju sementara lagi-lagi Surin hanya tertawa. “Ayo cepatlah, sekarang ini pasti Sehun sedang sibuk mencari Surin.” Sambungnya dan yang lain langsung segera kembali pada pekerjaan mereka masing-masing.

 

Setelah semuanya beres, mereka langsung duduk di kursi masing-masing seraya menatap Jimi yang kini sedang berusaha menghubungi orang yang tengah berulang tahun, Oh Sehun.

 

“Oh astaga, aku tidak tega melakukan ini padanya.” Ujar Surin seraya memijat pelipisnya dengan perlahan ketika Jimi mulai berkata ‘halo’.

 

**

 

Sehun membuka pintu rumahnya dengan malas. Pekerjaannya yang banyak membuat ia harus pulang larut malam lagi hari ini, padahal niatnya Sehun ingin mengajak Surin makan malam di sebuah restaurant untuk merayakan hari lahirnya yang dalam beberapa jam lagi akan berakhir. Ya, saat ini jam tangannya sudah menunjukan pukul sembilan tepat, dan Sehun yakin sekali Surin sudah menunggunya sedari tadi di dalam.

 

Meskipun tadi pagi ia dan keluarganya beserta keluarga Surin sudah merayakan ulang tahunnya dengan makan pagi bersama, tetap saja Sehun merasa masih ingin merayakan hari lahirnya tersebut bersama Surin, istrinya sebelum tanggal 12 April ini berganti.

 

Namun baru saja Sehun menginjakan kakinya di dalam rumah, ia terkejut sekali ketika melihat ruang tamu rumahnya kini dipenuhi oleh berbagai macam dekorasi pesta ulang tahun. Sehun bahkan dapat melihat sebuah kue tart di tengah meja tamu tersebut serta balon-balon berbagai warna yang memenuhi atap-atap ruang tamu itu.

 

Sehun tersenyum lembut lalu sedetik kemudian ia merasa ada yang aneh dari pesta kejutan tersebut. “Dimana Surin?” Sehun langsung mencari istrinya itu di kamar mereka yang ada di lantai dua namun hasilnya nihil. Surin tidak ada di dalam sana. Sehun mulai mencari ke seluruh penjuru rumah, namun ia juga tidak kunjung menemukan Surin dan entah mengapa untuk sesaat Sehun merasa panik.

 

Baru saja Sehun akan menghubungi ponsel Surin, tiba-tiba ponselnya lebih dulu berbunyi, menampilkan nama ‘Park Jimi’ di layar sentuh ponsel tersebut. Sehun buru-buru mengangkatnya dan sedetik kemudian ia langsung mendengar suara Jimi yang berkata ‘halo’ dengan nada panik.

 

“Oh Sehun!” Sehun berusaha menyingkirkan pikiran buruknya sementara suara panik Jimi terus memaksa hatinya untuk percaya bahwa saat ini suara panik itu ditujukan dengan kabar mengenai Surin. “Ada apa, Jimi-ya?!” Seru Sehun sementara ia dapat mendengar suara hembusan napas Jimi diseberang sana.

 

“Cepat ke cafe Chanyeol! Istrimu ditemukan pingsan disini!”

 

“Apa?!”

 

Tanpa pikir panjang Sehun segera berjalan keluar rumah dan langsung masuk ke dalam mobilnya untuk segera menuju ke cafe milik Chanyeol yang terdapat di sekitar daerah Sinsa.

 

Sehun hanya berharap tidak ada sesuatu yang buruk dengan Surin. Sehun menambah kecepatan mobilnya seraya terus berusaha menenangkan pikirannya yang saat itu sangat kalut.

 

**

 

Sehun segera turun dari mobilnya dan berlari kecil menuju cafe tempat tujuannya. Saat ia baru saja menginjakan kakinya di dalam cafe tersebut, tiba-tiba saja conffeti langsung menghujaninya dan suara riuh terompet serta seruan selamat ulang tahun langsung menyapa telinganya.

 

Tiba-tiba Surin yang kini mengenakan dress berwarna pink menghampirinya bersama kue tart ditangannya. “Woah, aku benar-benar tidak percaya dengan semua ini.” Ujar Sehun dan seketika suara tawa memenuhi ruangan tersebut.

 

“Lagipula, kau percaya saja dengan ucapan tidak masuk akalku. Untuk apa Surin ke cafe Chanyeol dan pingsan disini kalau ia menyiapkan pesta kejutan di rumah kalian?” Sehun langsung menepuk dahinya mendengar ucapan Jimi barusan, merasa benar-benar tertipu akan rasa panik yang tadi menyerangnya. “Aku benar-benar panik sampai tidak bisa berpikir jernih.” Ujar Sehun kemudian menatap istrinya yang kini tertawa kecil itu.

 

“Sekarang, sebelum kau meniup lilin-lilin ini, cepat sampaikan permohonanmu terlebih dulu.” Surin berujar kemudian Sehun langsung menangkup kedua tangannya sendiri seraya memejamkan matanya, mulai mengucapkan sebuah permohonan yang sangat ia harapkan dapat segera terwujud. Sehun langsung meniup lilin-lilin yang berada di kue tart itu dan seketika confetti kembali memenuhi ruangan.

 

“Selamat ulang tahun, Sehun appa!” Seru kedelapan temannya dan juga Jimi bersamaan membuat Sehun langsung terkejut setengah mati. “Se-Sehun appa?” Ujarnya hampir tidak percaya ketika kini Baekhyun menunjuk spanduk yang dipasangnya dengan susah payah itu. Sehun tertawa sambil memandangi spanduk bertuliskan ‘Happy Birthday Oh Appa’ tersebut dengan tidak percaya. Baru saja Sehun berdoa agar ia dan Surin segera diberikan momongan, dan sekarang ia tidak percaya bahwa permohonannya dikabulkan dalam waktu secepat itu.

 

“Selamat Oh Sehun. Dua hari yang lalu Surin memberitahu kami bahwa saat ini ia tengah mengandung anak pertama kalian, dan aku rasa kita perlu merayakannya. Karena kebetulan ulang tahunmu tinggal dua hari lagi, kami sepakat untuk membuat pesta kecil-kecilan yang ditujukan untuk merayakan ulang tahunmu sekaligus merayakan kabar gembira mengenai calon anak pertama kalian!” Sehun tertawa kecil ketika yang lain sekarang sudah heboh menyerukan kata ‘selamat’ untuk Sehun maupun Surin.

 

“Aku sampai harus membujuk pamanku dengan susah payah agar mau membuatkan spanduk itu dalam jangka waktu dua hari.” Baekhyun berujar bangga sementara yang lain hanya menanggapinya dengan tawa. “Kami hanya turut merasa bahagia. Baik itu dengan ulang tahunmu, maupun dengan kabar mengenai calon keponakan pertama kami semua. Aku tidak percaya dari antara kita bersembilan, Sehun adalah yang pertama, yang akan menjadi seorang ayah.” Sambung Baekhyun membuat Sehun dan yang lain tersenyum senang. Sehun bahkan tidak dapat berkata apa-apa karena rasa bahagia yang kini memenuhi seluruh sudut hatinya.

 

“Sekarang, sudah saatnya kita menikmati masakan buatanku, Kyungsoo, dan Minseok hyung. Semuanya, ayo kita makan!” Chanyeol berseru dan yang lain langsung menempati tempat duduk mereka masing-masing untuk segera menyantap berbagai macam makanan yang terlihat sangat nikmat itu.

 

Surin meletakan kue tart yang dipegangnya pada meja yang berada disebelahnya kemudian merapikan kerah kemeja putih yang Sehun kenakan. “Happy birthday, my birthday boy.” Ujar Surin seraya mengelus kedua belah pipi Sehun dengan tangannya. “Birthday boy? Sebentar lagi aku sudah akan menjadi seorang ayah, seharusnya kau menyebutku dengan sebutan lain seperti ‘birthday man’ atau ‘handsome  birthday man’.” Protes Sehun membuat Surin tertawa kecil.

 

“Bagaimana kalau ‘birthday appa’ saja? Happy birthday, Sehun appa!” Sehun tersenyum kemudian merengkuh istrinya itu kedalam pelukannya. “Terima kasih.” Ujar Sehun seraya meletakan dagunya pada puncak kepala Surin. Sehun mengecup puncak kepala Surin kemudian melepas pelukan mereka.

 

Sehun mengelus perut Surin yang masih rata sambil tersenyum senang. “Terima kasih untuk hadiah ulang tahun yang lebih dari indah ini.” Sehun mengecup perut rata Surin dengan cepat kemudian segera memeluk Surin kembali dengan lebih erat.

 

Sehun benar-benar merasa bahagia dan sangat bersyukur sampai-sampai ia merasa bahwa ulang tahunnya kali ini adalah ulang tahun paling indah yang pernah ia lewati.

 

-FIN.

 

12 Drabble Of SEHUN : 11th – A New Family Member

11th - A New Family Member

“Surin-a, kau harus cepat-cepat pulang ke rumah karena aku punya kejutan.”

 

Sehun berujar sambil tersenyum senang sementara kini ia sudah mendengar suara Surin yang adalah istri sahnya itu hanya tertawa kecil menanggapi ucapannya barusan. “Eomma, sudahi saja liburan kalian di Busan. Aku benar-benar merindukan Surin sekarang.” Sehun dapat mendengar suara tawa Surin dan ibu kandungnya melalui sambungan telepon mereka itu dengan jelas.

 

“Besok kami akan kembali ke Seoul. Lagipula liburan ini untuk kebaikan kandungan Surin. Sesekali ibu hamil juga perlu jalan-jalan, tidak hanya dirumah saja dan menunggu suaminya pulang kerja sampai larut malam.” Ujar ibu kandung Sehun dengan nada menyindir sementara Sehun hanya terkekeh. “Baiklah, baiklah, untung ada eomma yang siap siaga menemani Surin, sampai-sampai eomma mempunyai ide untuk mengajaknya liburan bersama. Tapi aku serius, kalau bukan karena proyek penting perusahaan yang harus segera aku selesaikan, aku juga tidak ingin membiarkan Surin selalu menungguku pulang kerja sampai larut malam.” Sehun menghela napasnya dengan berat.

 

Seketika ia menyesal karena selalu pulang telat akhir-akhir ini sehingga membuat Surin harus menunggunya sendirian dirumah mereka. Bahkan Sehun sering menemukan Surin yang tengah mengandung anak pertama mereka itu sampai ketiduran di sofa ruang tamu karena terlalu lama menunggu Sehun sampai dirumah.

 

“Apa perlu besok aku menjemput kalian di Busan?” Tanya Sehun dan seketika itu Surin langsung melarangnya. “Bagaimana bisa calon pemimpin perusahaan bertindak tidak professional seperti itu?” Sehun dapat mendengar ibunya mendukung ucapan Surin barusan. “Kalian yakin tetap akan naik kereta? Aku hanya tidak ingin kedua wanita kesayanganku nantinya malah kelelahan.” Sehun berujar serius sementara lagi-lagi suara larangan dari Surin maupun ibunya kembali terdengar.

 

“Jangan kau kira ibu hamil yang kandungannya tengah berumur tujuh bulan ini lemah, dan jangan kira ibumu ini sudah serentan itu. Bahkan dari awal saja kita sudah menggunakan kereta untuk sampai disini.” Ujar ibu kandungnya seraya tertawa kecil bersama Surin membuat Sehun hanya mengembangkan senyuman kecilnya.

 

“Sehun-a, kau belum memberitahuku apa kejutanmu! Aku jadi benar-benar penasaran sekarang. Cepat beritahu aku karena sebelum aku mengetahuinya, aku pasti tidak akan bisa tidur dengan nyenyak malam ini.” Seketika Sehun teringat kembali akan kejutannya yang kini tengah berada dipelukannya. Sehun berdeham kemudian tertawa jahil. “Kalau aku beritahu sekarang, sudah bukan kejutan lagi namanya. Lebih baik sekarang kalian segera beristirahat agar besok tidak terlambat ke stasiun. Berhati-hatilah dan selamat tidur untuk dua wanita kesayanganku.” Sehun memutuskan sambungan telepon tersebut setelah mereka saling mengucapkan selamat tidur.

 

Ia memandangi ‘kejutan’ yang akan ia berikan untuk Surin sambil tersenyum. Seketika Sehun merasa beruntung ia telah memilih kejutan yang sangat tepat untuk Surin. Sehun hanya ingin Surin tidak sendirian dirumah ketika ia tengah sibuk bekerja.

 

Meskipun Nyonya Oh, ibu kandung Sehun sering mampir ke rumah mereka untuk sekedar memasak ataupun menjalani olahraga yoga bersama setiap paginya, dan meskipun Jimi, adik kandung Surin yang kini juga tengah mengandung anak pertama Byun Baekhyun, suaminya, sering mengajak Surin pergi keluar untuk sekedar berbelanja ataupun ke salon bersama, Sehun tahu bahwa setiap malamnya Surin harus menghabiskan waktunya dengan sendirian, menunggu Sehun di ruang tamu hanya ditemani oleh televisi ataupun laptopnya sampai akhirnya ia tertidur di sofa tamu tersebut.

 

Sehun tidak ingin hal itu terjadi lagi pada Surin, maka itu ia menyiapkan sebuah kejutan untuk istrinya itu. Sebuah kejutan yang Sehun harap dapat membuat Surin tidak sendirian lagi kala ia tidak berada disisi wanita kesayangannya itu.

 

**

 

“Oh Sehun, aku pulang! Tadi sesampainya di stasiun, aku dan eomma pergi ke supermarket lalu eomma memutuskan untuk langsung pulang dengan taksi. Oh Sehun? Dimana kau?” Surin meletakan belanjaannya di atas meja dapur kemudian memutuskan untuk mencari Sehun di taman belakang rumah mereka. Baru saja Surin membuka pintu kaca yang membatasi ruang tengah dengan taman belakang tersebut, tiba-tiba seekor anjing kecil berbulu lebat berwarna putih menggonggong dengan suara yang lucu seraya berlari menghampiri Surin.

 

Surin menganga menatap anjing kecil itu lalu dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ke arah Sehun yang sekarang ini tengah duduk di kursi taman dekat kolam ikan kecil. Surin tertawa kemudian segera menggendong anjing kecil yang tampak sangat menyukainya itu kemudian berjalan menghampiri Sehun. Suaminya itu hanya menatapnya sambil tersenyum senang seraya menarik tangan Surin untuk duduk disampingnya. Sehun mengecup perut Surin yang besar, lalu beralih ke dahi gadis itu dengan rasa sayang.

 

“Ini adalah kejutannya. Aku sudah memberi anjing kecil ini nama yaitu Vivi.” Ujar Sehun seraya mengambil alih anjing kecil bernama Vivi itu dari pelukan Surin. Surin tertawa kecil ketika anjing lucu itu kini langsung mencari posisi yang nyaman digendongan Sehun seraya memejamkan kedua matanya. “Lucu sekali. Vivi-ya, halo. Aku adalah ibumu, dan sebentar lagi kau akan mempunyai seorang adik.” Ujar Surin membuat Sehun tertawa kecil.

 

“Vivi-ya, selamat datang dikeluarga Oh.” Sehun mengelus anjing kecil tersebut sementara Surin hanya terus berkata ‘lucu sekali’ dengan sangat gemas. “Kau menyukainya?” Tanya Sehun membuat Surin langsung menganggukan kepalanya sambil tersenyum senang. “Aku sengaja membawanya ke rumah kita. Aku ingin Vivi menjagamu selama aku tidak ada dirumah. Walaupun dia kecil, gonggongannya yang lucu tapi terdengar galak tidak dapat diragukan. Jadi, sudah pasti ia akan melindungmu dan calon anak kita.” Surin tertawa sementara Sehun terus mengelus anjing kecil yang kini berada di gendongannya.

 

Pada kenyataannya alasan Sehun membawa anak anjing kecil bernama Vivi itu ke rumah mereka adalah Sehun hanya tidak ingin Surin merasa sendirian dirumah. Sehun ingin Surin tidak sendirian ketika ia menunggu Sehun pulang dari kantor. Sehun benar-benar tidak ingin lagi melihat Surin yang tengah hamil besar itu tertidur di sofa sendirian. Meskipun Surin tidak mengatakan bahwa ia merasa sendirian, tapi Sehun dapat mengetahui bahwa istrinya itu sebenarnya merasa kesepian dengan hanya melihat sosoknya yang tertidur di sofa.

 

Sehun tahu sebenarnya Surin merindukan kegiatannya sendiri sebelum ia mengandung. Sehun tahu Surin ingin kembali mengajar seperti dulu, tapi karena Sehun menyuruhnya untuk berisitirahat dirumah selama ia mengandung, Surin menurutinya dan dengan terpaksa harus berhenti mengajar untuk jangka waktu yang cukup lama. Dan menurut Sehun, karena hal itu Surin pasti akan merasa bosan dan kesepian dirumah setiap harinya. Maka itu Sehun hanya berharap agar karena adanya Vivi dirumah, Surin tidak akan merasa bosan dan kesepian lagi.

 

“Tidakkah kau membayangkan betapa lucunya nanti anak kita bermain bersama Vivi?” Surin menyandarkan dagunya pada bahu Sehun seraya mengelus anjing kecil yang sudah tertidur digendongan Sehun. “Ah, pasti akan sangat teramat lucu. Hey nak, cepatlah keluar dari sana karena kakakmu ini sudah tidak sabar ingin bermain denganmu.” Sehun berujar ke arah perut besar Surin membuat Surin tertawa.

 

“Terima kasih, Oh Sehun. Aku tahu kau membawa Vivi ke rumah kita karena kau tidak ingin aku merasa sendirian dirumah.” Surin tersenyum sementara Sehun kini sudah menatap kedua mata istrinya itu dengan tidak percaya. Ternyata Surin dapat dengan jelas mengetahui maksudnya. “Sungguh, aku tidak merasa kesepian sedikitpun ketika kau pergi bekerja. Meskipun aku rindu dengan aktivitas mengajarku, tapi aku tidak memungkiri bahwa menjadi ibu hamil itu menyenangkan. Aku mendapat istirahat yang cukup, waktu olahraga yang sangat teratur, tidak seperti saat aku mengajar dulu, lalu aku juga jadi lebih memperhatikan diri sendiri dan bahkan aku dapat menyediakan waktu yang dulu tidak dapat aku temukan untuk diriku sendiri.” Sehun tersenyum seraya terus menatap Surin yang kini masih meletakan dagunya di bahu lebar milik Sehun.

 

“Ibumu juga sangat membantuku. Kehadirannya setiap hari benar-benar membuatku merasa ibuku yang sudah tiada seolah menjadi ada kembali dengan sosoknya yang sangat lembut dan perhatian. Aku benar-benar senang menghabiskan waktuku bersamanya. Entah itu olahraga yoga bersama, mengecat kuku bersama, menonton drama bersama, aku benar-benar senang.” Surin benar-benar membuat Sehun semakin mencintainya. Sehun sangat bersyukur bahwa Surin benar-benar menyayangi ibunya, dan mungkin itulah yang menyebabkan Sehun semakin mencintai wanita itu.

 

“Selain ibumu, adikku yang juga sedang mengandung, Jimi juga sering mampir kemari dan ia pasti akan mengajakku keluar. Bahkan Jimi lebih hebat, ia masih ngotot membawa mobil sendiri ditengah-tengah kandungannya yang berumur enam bulan itu, meskipun yang aku dengar darinya, Baekhyun sudah benar-benar melarangnya menyetir mobil sendiri karena Baekhyun benar-benar khawatir akan terjadi sesuatu pada Jimi.” Seketika Sehun dan Surin tertawa, membayangkan wajah khawatir Baekhyun ketika laki-laki itu berusaha membujuk Jimi untuk keluar dari mobil.

 

“Lalu, aku dan Jimi akan menghabiskan hari kita dengan mengunjungi banyak restaurant enak yang ada di daerah Myeongdong, kemudian mampir ke mall untuk berbelanja perlengkapan bayi, berbelanja kebutuhan rumah dan yang lainnya, ke salon bersama, dan bahkan spa. Kita seperti dua ibu hamil sosialita sampai-sampai aku sering mendapati banyak orang memandangi kita berdua dengan tatapan kagum, bahkan pelayan yang ada di toko perlengkapan bayi berkata bahwa ia sangat ingin mempunyai kakak perempuan agar dapat seperti kita berdua. Itu semua benar-benar menyenangkan.”

 

Surin bercerita panjang lebar sambil tertawa kecil membuat Sehun seketika merasa lega sekaligus senang. Sehun senang bahwa Surin menikmati masa mengandungnya. Pada dasarnya, Sehun memang hanya ingin wanita kesayangannya itu merasa bahagia dengan apapun yang dilakukannya. “Lagipula, meskipun kau memang sibuk akhir-akhir ini, tapi buktinya kau tidak pernah sekalipun melewatkan hari Sabtu dan Minggu yang adalah hari kencan kita berdua. Kau bahkan tidak pernah absen untuk menemaniku ke rumah sakit untuk kontrol kandungan. Jadi, jangan pernah merasa bahwa kau membuatku kesepian. Jangan pernah berpikir bahwa aku tidak merasa bahagia dengan masa mengandungku ini.” Sehun mengangguk, membuat Surin langsung mengelus sebelah pipi Sehun dengan telapak tangannya.

 

“Terima kasih, sekarang hari-hariku pasti akan jauh lebih menyenangkan karena keberadaan Vivi.” Surin mengecup bibir Sehun dengan cepat membuat laki-laki itu langsung tersenyum senang.

 

“Aku menyayangimu.” Sehun berujar kemudian mendaratkan bibirnya di dahi istrinya itu, lama. Surin langsung memejamkan kedua matanya sambil tersenyum. “Aku juga sangat menyayangimu.” Ujar Surin dan seketika itu juga kebahagiaan memenuhi seluruh sudut hati keduanya.

 

**

 

Sehun tertawa ketika ia membaca satu persatu komentar teman-temannya pada post terakhir aplikasi instagramnya mengenai Vivi, anggota baru keluarga kecilnya bersama Surin.

 

IMG_0378

@oohsehun : Say hello to our new family member, Vivi. Cannot wait for the second to come to this world. “Brother, please get out of mommy’s belly as soon as possible!”

Picture taken by the beautiful mommy, @surinjjang ❤

 

1230 likes.

 

Comments :

 

@real__pcy : Astaga, padahal rasanya baru kemarin kita lulus kuliah dan sekarang kita sudah akan menjadi ayah. (Meskipun aku belum, tapi suatu saat aku pasti menyusulmu, Oh Sehun!)

 

@baekhyunee_exo : @real__pcy Kau harus sesegera mungkin menikah dan rasakan betapa besarnya perubahan dirimu ketika kau tahu istrimu mengandung. Aku jadi merasa jauh lebih dewasa. Hahaha!

 

@_jimiyya : Ah, Vivi benar-benar lucu bahkan lebih lucu dari anjing Baekhyun, Mongryeong! Tapi yang lebih lucu dari semuanya adalah postingan ini. Astaga, Oh Sehun, kau memang yang paling manis kalau sudah urusan seperti ini.

 

@kaikiim : Aku tidak sabar ingin segera melihat keponakan-keponakanku yang lucu. Baik itu dari Surin maupun Jimi!

 

@guardian_suho : Kita harus merayakan keberadaan Vivi! Semuanya, besok aku akan mentraktir kalian di cafe @real__pcy dan kalian semua wajib datang! Check grup Line kita!

 

@zyxzjs : Halo, Vivi! Jadi, aku benar-benar sudah akan menjadi paman sebentar lagi. Asik, besok akan ada traktiran! Tapi traktiran ini lucu sekali. Untuk apa Junmyeon mengadakan traktiran padahal yang baru punya anjing adalah Sehun dan Surin? Ah, tidak perlu pikir panjang, selama itu gratis, maka aku pasti akan datang!

 

@kjong_dae : Oh Sehun, Jang Surin aku benar-benar bahagia untuk kalian berdua! Tambah bahagia karena besok @guardian_suho benar-benar akan mentraktir kita di cafe Chanyeol hahahaha!

 

@exoxm90 : Vivi lucu sekali! Pasti akan sangat lucu melihat calon keponakan pertamaku itu bermain bersama dengan Vivi nantinya! Vivi-ya, sampai bertemu besok di cafe milik Chanyeol! Ayo kita makan sepuasnya, hahaha!

 

@dokyungsoo93 : Ah, kalian benar-benar keluarga kecil yang lucu sekali.

 

-FIN.

 

12 Drabble Of SEHUN : 12th – 12 Things He Likes

12th - 12 Things He Likes

“Aku ingin membelikan Junmyeon kemeja putih ini. Bagaimana menurutmu?” Taerin menunjukan satu kemeja putih pada Surin, Cheonsa, dan Jimi sambil tersenyum senang. “Bagus sekali. Pasti ia akan menyukainya!” Sahut Jimi membuat Cheonsa langsung mengangguk setuju. “Tentu saja ia akan menyukainya. Aku tahu Junmyeon sangat suka dengan kemeja putih, dan ia pasti akan sangat senang karena aku membelikannya kemeja ini. Kim Taejun, ayo cepat pilih apa yang ingin kau beli.” Taerin mengelus rambut anak laki-lakinya dengan Junmyeon, kemudian anak laki-laki bernama Taejun itu langsung berlari kecil bersama ketiga temannya yang lain, Oh Rei, yang adalah anak Sehun dan Surin, Byun Baekji, anak perempuan Baekhyun dan Jimi, dan yang paling muda diantara mereka, anak laki-laki Minseok dan Cheonsa, Kim Mingyu.

 

“Aku juga sudah membelikan Minseok sweater, dan ia pasti akan sangat menyukainya mengingat laki-laki itu memang mengoleksi banyak sweater di lemarinya.” Cheonsa tersenyum kemudian yang lain langsung mengacungkan jempol untuknya. “Kalau aku, karena Baekhyun sangat menyukai sepatu kets, aku membelikannya sepasang sepatu Nike model terbaru. Pasti ia akan benar-benar menyukainya.” Jimi berujar sembari menunjukan bungkusan yang berisi kotak sepatu dengan senang. Seketika semua langsung mengarahkan pandangannya pada Surin, menunggu Surin memberitahu mereka apa yang dibelinya untuk Sehun.

 

Pasalnya sebentar lagi mereka akan merayakan hari ayah sedunia, dan keempat ibu beranak satu itu ingin membelikan sebuah hadiah untuk merayakan hari spesial bagi masing-masing suaminya itu. Meskipun mereka tidak merayakan hari ayah sedunia itu bersama-sama melainkan di rumah masing-masing, baik Taerin, Cheonsa, Jimi maupun Surin tetap merasa sangat antusias. Terbukti dengan kegiatan mencari hadiah untuk suami mereka masing-masing saat ini.

 

“Jadi, apa yang kau beli untuk Sehun?” Tanya Taerin sementara Surin hanya menghela napasnya dengan berat sembari menggelengkan kepalanya. “Aku masih tidak tahu apa yang harus aku beli untuk Sehun. Sepertinya Sehun memang tidak membutuhkan apapun sekarang karena semua yang ia butuhkan sepertinya sudah ia miliki.” Cheonsa langsung berseru tidak setuju.

 

“Meskipun ia memang benar-benar sudah memiliki itu semua, paling tidak kau harus membelikannya apa yang ia sukai.” Cheonsa berujar membuat Taerin dan Jimi langsung menyetujui perkataan Cheonsa barusan. “Aku punya sebuah ide.” Jimi menjentikan jarinya dan seketika semuanya langsung mengalihkan perhatian mereka pada Jimi yang kini tengah tersenyum.

 

**

 

“Appa! Selamat hari ayah! Ini adalah hadiah dari Rei untuk appa.” Rei berhambur kedalam pelukan Sehun yang baru saja menginjakan kakinya di rumah setelah hampir seharian menghabiskan harinya di kantor. Sehun langsung menggendong anak laki-lakinya itu seraya mengecup pipi Rei dengan rasa sayang. “Terima kasih. Gambarmu bagus sekali. Appa bahkan terlihat sangat tampan disini.” Sehun tertawa kecil seraya mengambil alih kertas gambar yang berada di tangan kecil Rei.

 

“Selamat hari ayah, Oh Sehun.” Surin menghampiri Sehun yang tengah menggendong Rei kemudian berjinjit untuk mengecup dahi laki-laki yang paling ia cintai itu. Tidak lupa Surin juga mengecup pipi Rei yang kini tersenyum senang. “Aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu.” Surin menarik satu lengan Sehun ke arah meja makan.

 

Sehun segera menempatkan diri di kursinya setelah sebelumnya ia menempatkan Rei di kursi yang berada disebelahnya. “Tada!” Surin meletakan kue tart cokelat berbentuk hati buatannya sendiri di tengah meja makan tersebut membuat Sehun dan Rei langsung berseru senang. Surin dengan cepat memotong kue tart tersebut menjadi beberapa bagian dan menempatkannya di masing-masing piring kecil yang berada di hadapan mereka.

 

Surin tersenyum senang ketika melihat Sehun dan Rei sangat menikmati kue tart buatannya itu. “Rei, pelan-pelan saja makannya.” Ujar Surin sambil mengacak rambut Rei dengan gemas. “Aku masih punya satu hadiah lagi untukmu.” Surin segera mengambil paper bag berukuran besar yang ada disamping kursinya, lalu menempatkan paper bag tersebut di atas meja makan tersebut. Surin mengeluarkan satu persatu isi paper bag itu sementara kini Sehun sudah menatap Surin dengan tidak percaya.

 

“Ini adalah dua belas hal yang kau sukai. Aku sengaja membeli semua ini sebagai hadiah perayaan hari ayah. Sekali lagi, selamat hari ayah, Oh Sehun.” Surin tersenyum senang ketika kini Sehun mengelus punggung tangannya dengan rasa sayang sambil mengucapkan terima kasih. “Kau mau tahu kenapa dua belas? Karena ulang tahunmu tanggal dua belas.” Tawa Sehun dan Surin langsung memenuhi ruangan.

 

“Yang pertama ini adalah minuman kesukaanmu, bubble tea. Kedua, topi karena aku lihat kau sering menggunakan topi ketika keluar rumah. Ketiga, tentunya adalah makanan manis, aku memutuskan untuk membelikanmu permen. Keempat, cokelat, salah satu makanan manis yang paling kau sukai. Kelima, makanan favorite-mu yaitu sushi. Keenam, salah satu aksesoris yang paling kau sukai, jam tangan. Ketujuh, kacamata baca mengingat kau juga mengoleksi berbagai macam model kacamata baca. Kedelapan, kamera DSLR keluaran terbaru, karena aku tahu kau sudah ingin membeli kamera ini sedari lama tapi belum sempat. Kesembilan, aku membelikanmu selai roti yang paling kau sukai yaitu Nutella. Kesepuluh, aku membelikanmu parfume. Kesebelas adalah lipbalm mengingat kau paling tidak suka jika bibirmu kering. Dan yang kedua belas adalah sneakers berwarna merah!”

 

Sehun tersenyum kemudian mengelus tangan Surin yang lebih kecil dari miliknya itu dengan perlahan. “Terima kasih. Aku benar-benar menyukai ini semua.” Ujar Sehun membuat Surin tersenyum senang. Surin benar-benar mengucapkan terima kasih kepada Jimi yang telah memberikan ide ini. Meskipun Surin sendiri yang berpikir keras akan apa saja yang disukai Sehun, tetap saja kedua belas hadiah tersebut tidak akan ada sekarang ini kalau Jimi tidak memberikannya ide berlian itu.

 

“Tapi sebenarnya kau tidak perlu membelikanku semua ini, karena sebenarnya dua belas hal yang paling aku sukai adalah pertama yaitu cintamu yang besar terhadapku. Kedua, rasa kepedulianmu terhadapku yang tidak diragukan lagi. Ketiga, karaktermu yang sangat keibuan terutama ketika Rei hadir bersama kita disini. Keempat, omelan dan semua ocehanmu yang aku tahu untuk kebaikanku sendiri. Kelima, tubuhmu yang pendek namun lucu.” Sehun memutus ucapannya ketika kini Surin yang sudah terbawa suasana itu memukul lengan Sehun berkali-kali ketika mendengar ucapan Sehun yang terakhir.

 

“Lalu keenam, matamu yang berwarna hitam pekat. Aku bahkan benar-benar tidak bisa berhenti mengaguminya.” Sehun berujar kemudian mendekatkan dirinya pada Surin yang kini sudah memejamkan kedua matanya. Sehun mengecup pelan kedua kelopak mata Surin membuat sebuah senyuman langsung menghiasi wajah Surin.

 

“Ketujuh, aku menyukai kedua alismu yang tidak begitu tebal juga tidak begitu tipis.” Sehun mengecup kedua alis mata Surin kemudian tersenyum lembut membuat Surin semakin mencintai suaminya itu. “Kedelapan, aku menyukai hidungmu.” Sehun mengecup ujung hidung Surin kemudian mencubitnya dengan pelan membuat Surin berpura-pura kesal. “Kesembilan aku menyukai kedua pipimu yang lucu ini.” Sehun mengecup kedua pipi Surin membuat semburat merah langsung bermunculan dikedua belah pipinya.

 

“Kesepuluh, aku menyukai rambutmu.” Sehun mengecup puncak kepala Surin kemudian mengelus rambut Surin dengan perlahan. Sehun bahkan menyelipkan rambut Surin kebelakang daun telinga wanita kesayangannya itu dengan rasa sayang. “Kesebelas, aku menyukai kedua tanganmu.” Sehun mengecup kedua punggung tangan Surin bergantian membuat senyuman Surin semakin mengembang.

 

Sehun hanya ingin Surin tahu bahwa bukan barang-barang itu yang paling Sehun sukai, melainkan semua yang ada pada diri wanita bernama Jang Surin itulah yang Sehun sukai.

 

“Terakhir, yang kedua belas adalah bibirmu yang selalu membuat jantungku berdebar cepat bahkan hanya dengan menatapnya seperti sekarang ini.” Dengan perlahan, Sehun mulai mendekatkan dirinya pada Surin namun tiba-tiba gerakannya terhenti ketika mendengar Rei turun dari kursinya. Sehun langsung kembali ke tempatnya seraya menatap Rei sambil tersenyum.

 

“Appa, eomma, Rei lupa kalau Rei ada janji dengan Taejun dan Baekji untuk menonton kartun bersama di rumah Mingyu. Cheonsa ahjumma kemarin sudah berkata bahwa ia akan membelikan ice cream untuk kami!” Rei berjalan menuju Surin kemudian memeluk ibunya itu, seolah meminta ijin.

 

“Baiklah, tapi ingat sekarang sudah jam tujuh malam. Jam delapan, kau sudah harus pulang.” Surin tersenyum ketika melihat Rei menganggukan kepalanya dengan senang. Rei mengecup pipi Surin kemudian beralih ke pelukan ayahnya. Anak laki-laki yang sekarang duduk di bangku sekolah dasar kelas satu itu langsung mengecup pipi Sehun kemudian berlari kecil keluar rumah. Sehun dan Surin tidak begitu khawatir Rei pergi sendiri mengingat rumah mereka dengan rumah Cheonsa, Taerin, dan juga Jimi saling bersebelahan.

 

Sehun langsung menatap Surin dengan senyumannya yang penuh arti. “Jadi, haruskah kita lanjutkan apa yang tadi sempat tertunda?” Sehun beranjak dari tempat duduknya kemudian menjulurkan satu tangannya pada Surin membuat wanita itu tertawa kecil. Surin menyambar tangan Sehun kemudian ia segera bangkit dari tempat duduknya. Sehun langsung meraih pinggang Surin guna mendekatkan tubuh wanita itu padanya.

 

Sehun tersenyum seraya menyetuhkan ujung hidungnya pada ujung hidung Surin dengan perlahan. “Kau harus tahu bahwa yang paling aku sukai adalah semua yang ada pada dirimu. Aku mencintaimu, nyonya Oh.” Sehun memejamkan kedua matanya seraya mendaratkan bibirnya pada bibir Surin. Dengan perlahan, Sehun mulai memperdalamnya sambil terus memeluk pinggang Surin sementara wanita itu hanya meremas ujung kemeja putih milik Sehun.

 

Surin bahagia. Bahagia karena ia memiliki Sehun di hidupnya. Bahagia karena ia memiliki laki-laki yang sangat mencintainya. Surin benar-benar bahagia sampai-sampai ia tidak tahu bagaimana ia harus mengekspresikan rasa bahagianya itu. Yang hanya dapat Surin lakukan sekarang ini hanyalah berjanji pada dirinya sendiri. Berjanji bahwa Surin akan selalu mencintai Sehun sampai kapanpun.

 

“Aku juga sangat mencintaimu, Oh Sehun.”

 

-FIN.

 

12 Drabble Of SEHUN finished! All of these drabbles made by love hahaha.

12 drabble ini secara khusus dipersembahkan untuk ulang tahun Sehun yang jatuh pada tanggal 12 April. Selama full 12 hari berturut-turut, aku buat satu cerita setiap harinya dan ternyata puji Tuhan, selesainya bisa tepat waktu. Aku bener-bener menaruh ekspektasi besar terhadap antusiasme para pembaca setia wordpress ini, jadi mohon di apresiasi ya project ulang tahun buat Sehun dari Oh Marie ini.

Mohon maaf apabila ada banyak kekurangan yang tidak sesuai di hati kalian. Mohon maaf juga apabila terlalu banyak fluffy things di setiap cerita(?) mengingat aku ini pecinta romantika apalagi kalo tokohnya kayak manga berjalan alias Oh Sehun. Hahahaha.

Jadi, langsung aja ke pertanyaan yang bener-bener bikin aku penasaran.

Mana cerita yang paling kalian suka dan apa alasannya?

Mohon di jawab ya pertanyaan itu dengan cukup menulisnya di kolom komentar post ini! (Karena dengan adanya komentar, aku jadi tau kalo banyak yang mengapresiasi tulisan aku dan pastinya bikin aku semakin semangat untuk terus menulis!)

Terima kasih banyak karena sudah membaca sampai tulisan terakhir ini.

Last but not least,

I just wanna say,

Happy belated birthday to the prince of my life,

My one and only,

Oh Sehun.

Hope everyone loved this project! Enjoy your April 12 with lot of loves.

Advertisements

17 comments

  1. nurulaini · April 12, 2016

    uwaaaa….keren bgt ceritanya…
    sumpah srmua sweet moment mereka bner” bkin hati meleleh 🙂
    sehun romantis bgt sih….
    aq suka bgt ma cerita yg terakhir 12 thinks he likes…
    mreka bner” kluarga yg harmonis and so sweet abiz…
    🙂

    • Oh Marie · April 12, 2016

      Halooooo!!!
      Seneng banget kalo kamu suka sama project ini!
      AAAAAA yang 12 things he likes emang greget banget itu aku juga ngetiknya sampe keringet dingin(?)
      Makasih banyak ya kamu udah mau nyempetin waktu buat baca dan bahkan komen!
      Tetep stay tune terus ya buat project-project selanjutnya!

  2. byunbaek · April 12, 2016

    suka sama semua ffnya yaampun mereka tuh romantis banget parah yaampun feelnya dapet banget sehuunn aaaarrrggghh jadi pacar aku ajaaaaaaa…. aku paling suka yg Jealousy aku tipe orang yg seneng klo baca ff ada yg cemburu udh gitu cemburunya lucu wkwkwk, sehun lucu banget astaga pas cemburu gemesin bangeetttt. semoga next ff buat sehun cemburu sampe keubun ubun ya thor hahaha. puas bangeett pokonya author keren. sekali baca langsung 12 ff gimana ga puas dedeq :’) tapi masih pen nambah lagi hehe :3… see you next ff thor

    • Oh Marie · April 12, 2016

      AAAAAAAAAAAA Sumpah seneng banget kalo kamu suka sama project ini!!! Makasih banyak ya udah mau nyempetin waktu buat baca dan komen lagi HUHUHU
      Buat Jealousy aku gak mikir panjang karna ketebak banget Sehun kalo cemburu tuh kayak gimana HAHAHA seneng banget kalo kamu suka!

      Sekali lagi makasih banyak ya udah mau campur tangan(?) di project ini! Tetep stay tune! See you on the next ff!!

  3. Junmyunni · April 12, 2016

    Puas banget seriusaaaaN ya ampuuun bikin penegen punya pacar kayak osh, wkwkwkwk
    Gatau ya, ga cuma di drabbke ini, tapi suka banget waktu surin sehun pacaran di masa dia udah kerja, lebih sweet lebih gemes. Terus gemes juga waktu udah punya anak! Hahahahahahahhaha
    Duh ga sabar baca next story mereka berdua. Author fighting!!!

    • Oh Marie · April 12, 2016

      HALOOOOOO! Yeay! Seneng banget dapet reader baruuuu!
      Makasih ya kamu udah mau baca dan bahkan nulis komen manis ini!!
      Iya, aku juga jadi pengen punya pacar kayak osh HAHAHA semoga Tuhan udah sediain satu ya buat kita masing-masing(?)

      Awww, makasih banyak sekali lagi! Tetep stay tune! Sampai jumpa di ff selanjutnya!!

  4. Realljo · April 13, 2016

    Wah seru banget ni bacanya ampe dua hari saking banyak nya 12 cerita cinta hunrin. Btw yang paling disuka kalo fluff banget demen yang wedding dress ya itu meleleh banget pas sehun liat surin pake baju pengantin ya huf drama bgt tp greget nget y kalo yang kocak itu midnight movie date itu konyol bgt ya oh sehun makanya jangan belagu huf. Tp ini fluff bgt q sakit perut bgt bacanyah ))): trs mereka pas awal pacaran nya jahil jahil lucu gt kerjaannya taroan mulu maen game semua dijadiin pertarungan tapi seru ya yang akhir dah fluff bgt d apalagi yang dilamar tuh udah aku mencintaimu mulu dah. sukses terus d untuk selanjutnya semoga hunrin makin jaya ohmarie juga makin jaya luv dr realljo di cilacap

    • Oh Marie · April 14, 2016

      HUHHUHUHUHUUHUU panjang banget komennya omg i love you so much!!! Tararengkyu banget buat realljo di cilacap udah mau baca terus juga meriksain mana yg salah-salah dan kurang. huhuhu ily pokoknya!!!!!

  5. alissa · April 15, 2016

    Aigoo sehun romantis abis. Sampe senyum senyum sendiri pas baca. Author emang paling 짱 lah kalo buat fanfic.
    terus berkarya dalam menulis ff yang bagus bagus ya thor.. Author 화이팅!

    • Oh Marie · April 19, 2016

      Halo Alissa!!!! Seneeeeng banget kamu mampir dan baca bahkan komen lagi!
      Terima kasih banyak yaaaa!
      Amiiiin kamu juga terus sering mampir-mampir ke sini ya:p
      Hwaiting juga Alissa! See you on the next ff!

  6. dorothyyeollie · April 17, 2016

    Ahhh ini kerenn bangett sumpahh prok prok *tepuk tangan utk authornya* dari 1-12 semuanya sweet bgt dan bikin mupeng wkwkw surin beruntung bgt yaaaa

    • Oh Marie · April 19, 2016

      HALOOOOOO! Seneeeeng banget kalo kamu suka sama ffnya! Terima kasih banyak ya untuk komentar yang manis ini huhhu terharu jadinya.
      Terus mampir dan tinggalin jejak kamu disini ya! Sekali lagi terima kasih!

  7. rahsarah · April 23, 2016

    ga bisa kalo harus milih yg mana yg paling b0aku suka karna semuanya AKU SUKAAAAAA
    kamu tuh de bener2 buat hati aku seneng banget baca ff ini, rasanya bener2 ngerasa jadi surin haahahah
    disetiap ceritanya selalu aja senyum2 sendiri ahaaaaa pokonya kerennn semuanya apa lagi couple fav aku bangetttt

    semangat terus adeee buat ff hunrin couplenya ♥

    • Oh Marie · April 24, 2016

      AAAAAAAAAAAAA KENAPA MANIS BANGET KOMENTARNYA TuT terima kasih banyak banget karna kakak udah suka sama project ini!
      Aku seneng banget kalo kakak sukaaaa hihihi.
      Wajib stay tune for the next project ya kak! Sekali lagi terima kasih♥

  8. Putri · April 30, 2016

    Thor aku cuma bisa bilang ‘KEREN BANGET’
    sehunnya romantis bangeedd. Lanjutt terus thor karya nya hehe

    • Oh Marie · May 1, 2016

      Awwwwww terima kasih banyak ya sudah mau menyempatkan untuk membaca dan bahkan komen! Stay tune terus ya, Putri! Sekali lagi terima kasih!

  9. angiesuci · October 18, 2016

    Okaaayyyyy

    Another the best fanfict!!
    Sumpah eon ini seru bangeeetttttt aku baca ini pas di sekolah dan aku ketawa2 sendiri wkwkwkwk

    Part terpanjang dengan berbagai cerita yang amazing, sweet, lovely, and i loved this one deh!!

    Jadi aku saranin lagi yaa buat coba2 bikin versi chap or series gtuhhh. Dan aku yakin pasti bagus bangeetttt.

    (p.s. okay this part is still the same word. Thank you for made the great fanfict❤️❤️❤️)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s