Bucket List

bucketlist

 

 

I should’ve post this on December, but yeah. Happy 3 years, Oh Sehun.

 

 

 

 

 

“Oh astaga, Jang Surin?! Sejak kapan kau disitu?”

 

 

Suasana lapangan basket yang berada di daerah sungai Han itu tampak sepi mengingat langit yang kini sudah berwarna oranye itu sebentar lagi akan berubah menjadi warna yang lebih gelap, pertanda malam sudah akan sebentar lagi tiba. Hanya angin musim gugur yang mulai terasa semakin dingin karena sebentar lagi musim sudah akan berganti, daun-daun berwarna cokelat yang sedari tadi menjatuhkan dirinya, serta dua orang pencinta musim gugur yang kini masih betah berada di lapangan basket tersebut.

 

 

Dua orang pencinta musim gugur itu terdiri dari seorang gadis bernama Jang Surin yang kini tampak tengah duduk sendiri di kursi penonton seraya menopang dagunya, dan seorang laki-laki berperawakan tinggi yang kini masih asik bermain basket di lapangan yang lumayan besar tersebut. Sudah lebih dari lima belas menit Surin duduk di kursi penonton seraya memperhatikan laki-laki itu bermain basket, dan laki-laki itu baru menyadarinya satu menit yang lalu.

 

 

“Bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada disini?” Laki-laki berkulit putih susu itu langsung menghampiri Surin setelah berhasil memasukan bola basketnya pada ring basket tersebut dari jarak yang cukup jauh. Ia lalu berjongkok di hadapan Surin seraya memperhatikan gadis yang kini sudah memperlihatkan senyuman spontannya. Surin mengambil tas ranselnya lalu mengambil sebuah handuk kecil yang sudah ia siapkan untuk laki-laki itu. Ia menyerahkannya pada laki-laki itu namun yang diberi malah memejamkan matanya, seolah menyuruh Surin untuk membersihkan keringat yang menempel pada permukaan wajahnya dengan handuk yang kini masih Surin pegang. Surin hanya tertawa kecil kemudian mulai membersihkan permukaan wajah laki-laki itu dengan handuk kecil tersebut.

 

 

“Tentu saja aku tahu kau ada disini. Kau kan pasti ada disini jika sedang sulit untuk dihubungi.” Surin berujar sementara laki-laki itu langsung bangkit berdiri kemudian menempatkan dirinya tepat disebelah Surin. “Maaf karena aku tidak menghubungimu akhir-akhir ini. Ada sesuatu yang sedang mengganjal pikiranku.” Surin tersenyum kecil mendengar ucapan laki-laki itu barusan. Tentu saja Surin tahu apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu. Teman dekat laki-laki itu yang bernama Kim Jongin, baru saja memberitahu Surin pagi tadi melalui sambungan telepon dengan suara yang masih gadis itu ingat dengan jelas. Suara Jongin terdengar panik ketika ia menyampaikan informasi yang juga berhasil membuat jantung Surin terasa membeku dengan seketika itu. Hal itulah yang menjadi alasan Surin berusaha dengan sangat susah payah untuk menghubungi nomor Sehun yang tidak aktif berkali-kali sejak dari pagi tadi. Hal itu jugalah yang membuat Surin berada ditempat ini dan beruntungnya ia bertemu dengan Sehun disini. Ia hanya ingin mempertanyakan kebenaran dari informasi yang diberikan Jongin padanya. Tapi bahkan sebelum Surin menanyakannya, laki-laki itu sudah lebih dulu mengarahkan arah pembicaraan mereka ke arah itu.

 

 

“Oh Sehun.” Panggil Surin membuat laki-laki itu menolehkan kepalanya. Suasana hening menyelimuti kedua orang yang kini saling bertatapan itu. “Rupanya kau sudah mengetahuinya.” Sehun berujar seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Padahal aku baru akan menanyakan apakah semua yang diberitahukan Jongin tadi pagi itu benar atau tidak. Ternyata itu semua benar.” Surin mengambil napas dengan susah payah. Seketika ia merasa benar-benar kekuarangan oksigen. “Ternyata benar, kau dan keluargamu akan pindah ke Amerika setelah acara wisuda kita yang diadakan hari minggu ini.” Surin menundukan kepalanya, mengulangi informasi yang diberikan Jongin itu dengan volume pelan, yang justru malah berhasil menyayat bagian dalam hatinya sendiri.

 

 

Angin musim gugur berhembus ke arah mereka berdua, membantu mereka untuk memecah keheningan tidak enak yang kini menyelimuti mereka. Surin berdeham, menyadari suasana tidak enak itu. “Kapan kau akan kembali?” Sehun menoleh kemudian menggenggam tangan Surin yang kini terasa dingin. Sehun memandangi tangan yang jauh lebih kecil dari tangannya itu dalam diam sementara Surin yang melihat hal tersebut hanya terdiam, berusaha menahan tangisannya mati-matian. Bukan itu yang sebenarnya ingin Surin katakan. Bukan sebuah pertanyaan tentang kapan laki-laki itu akan kembali, pertanyaan yang seakan memberi laki-laki itu ijin untuk pergi darinya. Surin ingin menahannya. Ia ingin menyuruh laki-laki yang sudah selama tiga tahun menjadi kekasihnya itu untuk tetap bersamanya. Ia ingin menyuruh laki-laki yang sudah sedari sekolah dasar menjadi teman lebih dari sekedar dekatnya itu untuk tetap bersamanya, seperti hari-hari yang sudah mereka lewati bersama selama ini.

 

 

Surin merasa ia belum siap jika harus berjauhan dengan Sehun yang selama ini selalu menemani dan mengisi hari-harinya. Mungkin Surin memang masih dapat menghubungi Sehun melalui sambungan telepon, semua aplikasi chat yang sudah semakin canggih, ataupun video call, tapi semua itu tentu tetap akan terasa berbeda. Surin tidak akan lagi bisa menggenggam tangannya seperti sekarang ini, ia tidak akan lagi bisa menatap kedua bola mata favoritnya itu, ia juga tidak akan lagi bisa menghirup aroma tubuh Sehun yang menenangkan itu. Tapi disatu sisi, Surin harus menyingkirkan semua egonya mengingat kepindahan Sehun ini karena orangtua laki-laki itu akan mengembangkan usaha keluarga mereka disana. Sebuah usaha keluarga yang mengharuskan Sehun juga harus mengambil andil didalamnya. Mungkin ini juga merupakan awal dari karir laki-laki itu. Awal dari kehidupan masa depan karirnya yang sudah semakin dekat. Dan Surin sadar betul bahwa ia tidak bisa menghalangi hal tersebut kecuali bertanya apakah laki-laki itu kelak akan kembali untuk menemuinya atau tidak.

 

 

“Sesegera mungkin aku pasti akan kembali.” Surin tersenyum kecil mendengar ucapan Sehun barusan. Meskipun terdengar seperti laki-laki itu juga tidak tahu kapan ia akan kembali, tapi Surin ingin mempercayainya. “Kau sadar kan, kalau tadi kau baru saja berjanji?” Senyuman Surin kembali merekah ketika Sehun menganggukan kepalanya seraya mempererat genggamannya pada jemari-jemari milik Surin. Walaupun ia tahu senyumannya malah terlihat seperti sebuah senyuman sedih, tapi Surin pikir itu lebih baik dibandingkan dengan menangis meraung seperti apa yang sempat ingin dilakukannya. Mungkin tidak ada cara lain bagi Surin selain mempercayai laki-laki itu sepenuhnya. Bahwa Sehun akan kembali lagi untuk menemui dirinya.

 

 

“Sudahlah, jangan bersedih seperti ini. Kau tahu alasan mengapa aku tidak memberitahu hal ini padamu terlebih dulu? Karena aku tahu kau pasti akan seperti ini dan aku tidak ingin melihat hal itu. Lagi pula kita masih punya waktu seminggu sebelum waktu itu tiba.” Sehun mengambil alih air mineral yang ada di samping Surin lalu meneguknya dengan cepat sementara Surin masih memperhatikannya dengan tatapan sendu dan senyuman sedihnya. “Kita harus memanfaatkan waktu seminggu kita ini dengan sebaik-baiknya.” Surin segera menoleh dengan alis yang bertaut. “Memanfaatkannya bagaimana?” Tanyanya membuat Sehun tersenyum kecil.

 

 

“Sebenarnya aku baru akan memberitahumu mengenai ide cemerlangku ini esok hari, tapi hari ini pun bagiku tidaklah masalah.” Sehun langsung merogoh saku celananya lalu mengeluarkan secarik kertas yang berhasil membuat Surin bertanya-tanya apa maksud dari kertas tersebut.

 

 

“Aku menyebut ini ‘bucket list’. Di dalam kertas ini, aku sudah menuliskan berbagai macam kegiatan yang ingin aku lakukan bersamamu selama satu minggu ini.” Surin baru saja akan mengambil alih kertas tersebut namun Sehun segera menjauhkannya membuat gadis itu hanya mendengus. “Kau tidak boleh melihatnya. Kau hanya perlu mengikutiku untuk mewujudkan semua yang ada di kertas ini. Bagaimana? Kau mau membantuku, kan?” Surin akhirnya menyetujui ide Sehun barusan dengan mengangguk pelan, membuat laki-laki itu langsung mengacak rambut Surin dengan senang.

 

 

Surin menyetujuinya karena ia ingin, baik dirinya maupun Sehun mempunyai kenangan yang dapat mereka ingat selalu saat nanti mereka berjauhan. Kenangan manis yang Surin harap akan tercipta melalui ‘bucket list’ yang telah dibuat Sehun.

 

 

**

 

 

“Baiklah Oh Sehun, sebenarnya apa yang ada di nomor pertama bucket list-mu itu? Menjadi seorang raja dan permaisuri, begitu? Ada-ada saja.” Surin berujar seraya merapikan pakaian tradisional khas Korea bernama Hanbok yang kini tengah ia kenakan. Hanbok berwarna merah dengan campuran warna benang emas pada motif-motfnya itu benar-benar terlihat pas dengan Surin. Rambutnya yang terikat kepang satu dan menjuntai kebawah itupun berhasil merubah Surin  menjadi persis seperti gadis-gadis Korea pada jaman dinasti Joseon. Sehun tidak menyangka Surin benar-benar tampak sangat cantik dengan balutan pakaian tradisional itu. Surin yang merasa sedari tadi diperhatikan dalam diam itu akhirnya berdeham, berusaha mengusir rasa gugupnya karena tatapan Sehun yang kini benar-benar hanya mengarah pada dirinya.

 

 

“Itu letak topi mahkotamu miring.” Surin mendekat ke arah Sehun yang masih memperhatikannya kemudian dengan sedikit berjinjit, Surin mulai merapikan letak topi mahkota tersebut. Menurut Surin, topi mahkota yang dulunya setiap hari dikenakan oleh kaisar atau raja-raja Korea itu terlihat sangat cocok dikenakan oleh Sehun. Dahinya yang sempurna, alis mata yang tegas beserta iris matanya yang tajam membuat Sehun benar-benar terlihat seperti kaisar pada jaman dulu apalagi ketika topi mahkota yang ia kenakan itu sudah dalam posisi yang seharusnya. Surin tersenyum ketika melihat Sehun menyunggingkan lengkungan bulan sabit itu terlebih dahulu.

 

 

Surin sebenarnya tidak mengerti mengapa hari ini Sehun memilih untuk mengajaknya ke Istana Changdeok, istana yang dibangun sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan pada jaman dinasti Joseon. Surin jadi benar-benar penasaran apa saja isi bucket list Sehun sampai-sampai dengan sangat tidak terduga, laki-laki itu malah mengajaknya ke istana Changdeok yang memang terbuka untuk umum dan dijadikan tempat wisata terfavorit para turis. Namun, jika ditimbang lagi, Surin malah sangat senang dan bersyukur Sehun mengajaknya kesini. Ini adalah kencan pertamanya di tempat bersejarah seperti istana Changdeok.

 

 

Istana Changdeok sangatlah megah dengan arsitektur yang juga luar biasa menarik mata. Banyak bangunan-bangunan kecil seperti rumah dengan jarak yang cukup berjauhan, yang dulunya digunakan sebagai kamar tidur dan ruangan pribadi para keluarga kerajaan. Termasuk ruangan yang sekarang ditempati oleh Sehun dan Surin. Ruangan yang dulunya adalah kamar dari adik raja ini sekarang sudah disulap menjadi tempat penyimpanan pakaian-pakaian khas kerajaan serta pakaian tradisional seperti Hanbok yang dulunya adalah pakaian sehari-hari masyarakat dinasti Joseon. Pengunjung dapat menyewa pakaian yang diinginkannya dengan harga yang disesuaikan dengan pakaian yang akan disewanya. Walaupun harga sewanya tidak terbilang murah tapi ada keuntungan lain. Pengunjung yang sudah menyewa pakaian akan diberikan tour gratis ke ‘Secret Garden’ atau taman rahasia yang terletak dibelakang istana. Lokasi taman rahasia itu sendiri sebenarnya tidak tersembunyi, disebut rahasia karena taman belakang tersebut dulunya hanya boleh dimasuki oleh kaisar dan istrinya.

 

 

Tiba-tiba Sehun memeluk pinggang Surin membuat lamunan gadis itu lenyap begitu saja dan hanya terfokus pada kedua bola mata berwarna cokelat kepunyaan Sehun. “Bagaimana? Sudah seperti adegan romantis kaisar dan permaisurinya di drama-drama kolosal belum?” Sehun tertawa sementara Surin hanya memukulinya sambil turut tertawa.

 

 

“Permisi? Apa anda sudah selesai berganti pakaian? Tournya akan segera dimulai. Rombongan juga sudah menunggu diluar.” Pemandu tour ke taman rahasia itu berujar seraya tertawa canggung disela-sela ucapannya. Surin yang baru menyadari bahwa posisinya dengan Sehun adalah penyebab tawa canggung pemandu tour itu, dengan cepat melepas kedua tangan Sehun yang masih berada pinggangnya. “Maaf membuat yang lain menunggu. Ayo kita sama-sama kesana.” Surin langsung menarik lengan Sehun sementara pemandu tour itu hanya tersenyum penuh arti dan kemudian mempersilahkan Sehun dan Surin untuk keluar dari ruangan tersebut.

 

 

Perjalanan dimulai ketika mereka memasuki gerbang besar yang bertuliskan huruf Hangul ‘Huwon Ipgu’ dan tulisan ‘The Secret Garden’ yang berada dibawah tulisan Hangul tersebut. Untuk mencapai tempat inti dari taman rahasia itu, mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan berjalan kaki. Jalanan yang sangat bersih dan nyaman, lalu pepohonan dan berbagai jenis tumbuhan yang ada di sisi kanan dan kiri jalanan, membuat perjalanan ke tempat inti dari taman rahasia itu tidak terasa melelahkan melainkan menyenangkan. Buktinya adalah senyuman Surin yang sedari tadi betah bertengger di wajahnya, sambil sesekali berkomentar kagum dengan apa yang baru dilihatnya. Entah itu kupu-kupu yang hinggap pada bunga, ataupun warna merah kecokelatan pohon-pohon yang ada disitu yang berhasil membuatnya tidak berhenti berkagum ria. Sementara laki-laki yang sedari tadi lengannya dikunci oleh lengan Surin itu masih berusaha dengan susah payah untuk tetap memotret pemandangan yang ada disekitarnya dengan DSLR miliknya.

 

 

“Ya, baiklah, dapat kita lihat bersama-sama, disamping kita saat ini ada toko pernak-pernik antik serta berbagai macam souvenir yang dapat anda beli untuk oleh-oleh. Sekarang, kita akan mampir terlebih dahulu ditoko souvenir ini sebelum kita melanjutkan perjalanan kita ke inti taman rahasia. Silahkan, waktunya lima belas menit dari sekarang dan setelah itu kita akan berkumpul kembali disini.”

 

 

Pemandu tour itu berujar kemudian rombongan pun mulai berpencar, masuk ke dalam toko souvenir tersebut termasuk Sehun dan Surin yang kini sudah sibuk menjelajah toko tersebut. “Aku ingin beli ini.” Surin mengambil satu buah kincir angin buatan tangan kemudian meniupnya, membuat baling-baling kincir angin itu berputar sementara Sehun hanya memotretnya sambil tertawa kecil. “Bagaimana kalau kita sekarang berpencar, mencari barang yang nantinya akan diberikan untuk satu sama lain?” Sehun berujar seraya tersenyum ketika Surin dengan senang hati menyetujui idenya tersebut. “Jangan coba-coba mengintip, ya.” Surin berjalan menjauh kemudian mulai menjelejahi toko souvenir yang lumayan besar itu.

 

 

Begitu banyak barang-barang antik dan souvenir yang lucu, membuat Surin sempat bingung harus membelikan Sehun apa. Matanya tertuju pada deretan yang menjajarkan berbagai macam kain sapu tangan yang motifnya dibuat dengan cara disulam. Berbagai motif cantik tampak memperindah kain sapu tangan khas kerajaan tersebut. Surin memilih sebuah sapu tangan dengan motif bunga mawar merah gelap yang hampir menutupi setengah bagian sapu tangan tersebut. Disisi kanan atas, terdapat sulaman berbentuk kupu-kupu yang hendak terbang menuju bunga mawar merah tersebut. Bahkan dengan hanya melihatnya saja Surin sudah sangat terkagum-kagum. Surin ingin mengibaratkan dua motif yang ada di sapu tangan itu sebagai dirinya dan Sehun. Ia adalah bunga mawar berwarna merah gelap itu, dan Sehun adalah kupu-kupunya. Mengapa begitu? Karena kupu-kupu yang berada di ujung sapu tangan itu seakan ingin pergi namun terlihat seperti menahan keinginannya ketika kupu-kupu itu melihat si mawar berwarna merah gelap hanya dapat diam saja dan tidak dapat melakukan apapun untuk mencegah kepergiannya.

 

 

Setelah puas mengelilingi toko tersebut, rombongan pun melanjutkan perjalanan mereka. “Surin-a, bagaimana? Kau menyukai kencan kita kali ini?” Sehun berujar seraya memperhatikan Surin yang berada dua langkah di depannya. Gadis itu tampak asik dengan kincir anginnya yang sedari tadi tidak berhenti berputar karena hembusan angin membuat Sehun tidak tahan untuk tidak mengabadikan moment tersebut dengan kameranya. “Tentu saja. Aku jadi merasa seperti permaisuri yang dulunya memiliki seluruh isi taman ini.” Surin berujar tanpa menoleh kebelakang sementara Sehun sudah tersenyum.

 

 

“Dan aku merasa seperti kaisar yang sangat menyayangi permaisurinya sampai membuatkannya taman sebesar ini.” Surin tertawa sambil sesekali menoleh ke arah Sehun yang kini masih sibuk mengabadikan sesosok Surin dalam kameranya. “Apa aku terlihat cantik di foto-foto yang kau ambil itu?” Surin berujar seraya terus berjalan sambil sesekali menoleh kebelakang dan tersenyum, berusaha terlihat seanggun mungkin dalam balutan Hanbok merahnya dan sebuah kincir angin di tangannya yang tidak berhenti berputar. Tiba-tiba saja Surin tersungkur karena tidak sengaja menginjak ujung Hanbok yang dikenakannya membuat Sehun tertawa terbahak dari tempatnya sementara Surin sudah terduduk di jalanan tersebut sambil menggerutu. “Aish, sebagai kekasih yang baik harusnya langsung membantuku bukannya menertawakanku terlebih dulu!”

 

 

Sehun segera menghampiri Surin masih sambil terbahak. Bahkan sebelum ia mengulurkan tangannya untuk membangunkan Surin yang masih kesulitan untuk bangun itu, Sehun sempat-sempatnya mengabadikan pemandangan yang ada di depannya dimana Surin dengan ekspresi kesalnya mengulurkan tangan yang tidak kunjung Sehun sambut itu. “Aish, Oh Sehun kau benar-benar kaisar yang menyebalkan. Semoga saja permaisuri yang dulu tinggal disini tidak memiliki kaisar se-menyebalkan-mu ya.” Sindir Surin sementara Sehun sudah terbahak lagi. “Lagi pula salah kau sendiri. Kalau kau jalan biasa saja tanpa menoleh terus ke belakang sambil tersenyum tidak jelas seolah sadar kau sedang di foto, hasilnya tidak akan seperti ini.” Ledek Sehun membuat Surin yang kini sudah berhasil berdiri berkat  bantuan dari tangan Sehun itu hanya mendengus.

 

 

“Ya, Sehun-a.” Surin melongok ke sekitar, seolah mencari sesuatu sementara Sehun hanya menggumamkan kata ‘apa’ dengan cepat. “Dimana rombongan kita?” Seolah sadar akan sesuatu, Sehun menepuk dahinya sendiri. “Aish, kita sudah tertinggal. Cepat, kita harus segera menyusul mereka.” Sehun baru saja akan berlari namun Surin menahan lengannya. “Berjalan biasa saja sudah tersungkur seperti tadi. Apalagi berlari?” Ujar Surin seraya membersihkan Hanbok-nya yang sedikit kotor akibat adegan jatuh yang sangat tidak disengaja tadi.

 

 

Sehun kemudian memunggungi Surin, dan menyuruh gadis itu untuk naik ke punggungnya. “Kau yakin?” Surin menaikan Hanbok yang ia kenakan sampai sebatas lutut kemudian segera naik ke punggung Sehun. “Baiklah, permaisuri yang sedikit berat, eratkan pelukanmu karena aku akan berlari secepat angin!” Surin mengeratkan pelukannya pada leher Sehun kemudian laki-laki itu mulai berlari, mengejar rombongan tour yang sudah tidak kelihatan lagi. “Aish, Jang Surin! Kau ini makan apa saja sih?!” Gerutu Sehun yang masih berusaha untuk berlari. “Ayo, semangat Kaisar Oh!” Surin berseru sambil tertawa.

 

 

Setelah berlari selama kurang lebih dua puluh menit—termasuk dengan istirahat dipinggir jalan—akhirnya mereka sampai pada tempat inti dari taman rahasia tersebut. Tempat dimana hanya kaisar dan permaisurinya saja yang dapat menginjak tempat ini. “Sehun-a, itu rombongan kita kan? Kenapa mereka malah pergi dan tidak singgah dulu disini?” Surin berujar seraya turun dari punggung Sehun yang tampak kelelahan itu. “Mungkin mereka sudah sampai disini dari tadi dan sekarang sudah waktunya untuk pulang.” Surin tampak panik sementara Sehun langsung merangkulnya. “Sudahlah, biarkan saja mereka pergi duluan.” Sehun kemudian tersenyum seraya memperhatikan pemandangan indah yang ada disekitarnya. Ia kemudian menarik Surin ke dalam satu-satunya paviliun yang menghadap langsung ke sebuah danau buatan yang cukup luas.

 

 

Paviliun tersebut tampak sangat kokoh dengan arsitekturnya yang sangat khas dengan kerajaan dinasti Joseon. Dari paviliun ini, mereka dapat melihat langsung danau buatan yang ada di hadapan mereka beserta pepohonan rindang berdaun cokelat dan merah yang ada disekitarnya, menambah keindahan tempat tersebut. Suasana musim gugur benar-benar terasa membuat Surin tidak bisa berhenti mengembangkan senyumnya sambil terus mengaggumi pemandangan disekitarnya.

 

 

“Oh Sehun, terima kasih.” Surin menarik lengan Sehun untuk menghadapnya. Ia menatap lurus iris cokelat milik Sehun yang seolah sedang turut tersenyum padanya. “Ini baru hari pertama. Masih ada kurang lebih dua kegiatan yang ada di bucket list-ku. Simpan saja terima kasihmu untuk kegiatan kita yang terakhir.” Tanggap Sehun sambil tertawa kecil. “Padahal aku sudah tidak ingat dengan jadwal kepergianmu yang sudah semakin dekat itu. Berarti hari minggu nanti, tepatnya hari wisuda kita, akan menjadi hari terakhir kita untuk bertemu.” Surin membuang pandangnya seraya melepas tangannya pada lengan Sehun. Gadis itu merogoh kantong Hanbok-nya kemudian menyerahkan sapu tangan yang tadi dibelinya pada Sehun.

 

 

“Ini untukmu.” Sehun menerimanya kemudian memperhatikan motif sulaman yang ada pada sapu tangan itu dengan senyuman kagum. “Mengapa kau membelikanku ini dan bukannya barang-barang ‘couple’ seperti apa yang selalu kau lakukan selama ini?” Surin mendengus kemudian turut memperhatikan sapu tangan yang kini berada di tangan Sehun. “Karena motifnya benar-benar mirip dengan kita. Kau adalah kupu-kupunya, dan aku adalah mawar ini.” Surin kemudian memeluk lengan Sehun dengan erat.

 

 

“Aku tahu mengapa aku kau sebut sebagai kupu-kupunya. Karena kupu-kupu ini bertugas untuk melindungi dan menemani si mawar merah dalam kondisi apapun.” Surin menatap Sehun lurus-lurus. Padahal Surin pikir Sehun akan berpikiran sama dengannya, namun ternyata malah sangat bertolak belakang. Seandainya saja apa yang dikatakan Sehun benar adanya. Seandainya kupu-kupu itu benar-benar tidak ada niatan untuk pergi. Seandainya kupu-kupu itu dapat terus melindungi dan menemani si mawar merah sampai kapanpun dan dalam kondisi apapun.

 

 

Sehun tampak mengambil sesuatu dari saku celana Hanbok-nya. “Dulu, kaisar akan memberikan perhiasan pada permaisurinya sebagai tanda kalau ia sangat mencintai permaisurinya itu. Maka aku ingin memberikanmu jepitan berbentuk bunga mawar ini.” Sehun memasangkan jepitan yang pada motif bunga mawarnya terdapat batu giok khas kerajaan Joseon itu pada rambut Surin dengan perlahan. Sehun menangkup kedua pipi Surin kemudian menatap matanya lurus-lurus. “Ya, Oh Sehun. Awas kau macam-macam.” Surin berujar dengan takut-takut sementara Sehun kini sudah menunduk, mendekatkan wajahnya pada wajah Surin membuat Surin rasanya ingin tenggelam saja di danau buatan yang ada di depan mereka. “Terima kasih karena sudah bersedia menjadi permaisuriku.” Sehun mengecup kening Surin kemudian memeluk gadis itu dengan erat yang langsung dibalas tidak kalah erat oleh Surin.

 

 

Dalam hati, Surin berdoa agar jika Sehun memang harus benar-benar pergi, ia ingin kaisarnya itu kembali padanya. Kembali padanya dan tidak akan pernah pergi lagi.

 

 

**

 

 

“Meski sudah ke Namsan Tower berkali-kali, aku tidak akan pernah bosan. Menaiki cable car untuk mencapai Namsan Tower seperti ini adalah bagian yang paling serunya!” Surin mengoceh girang sementara Sehun yang kini berdiri disampingnya sembari memandangi pemandangan seluruh penjuru kota Seoul dari cable car tersebut hanya tersenyum kecil menanggapi.

 

 

“Jadi kau sudah ke Namsan Tower berkali-kali? Padahal aku rasa aku baru mengajakmu berkencan disini dua kali. Kita bahkan belum sempat mengunci gembok cinta diatas sana. Kau tidak datang dengan laki-laki lain selain aku, kan?” Surin spontan memukul lengan Sehun sampai laki-laki itu sibuk mengaduh kesakitan. “Memangnya aku perempuan macam apa? Kalau Taerin, Cheonsa, dan Jimi terhitung sebagai laki-laki maka ya, aku sudah kesini dengan laki-laki lain selain kau.” Sehun tersenyum senang kemudian merangkul Surin seraya mengacak rambutnya gemas. “Aku kan hanya bercanda. Lagipula di dahi-mu ini sudah tertulis namaku dengan ukuran yang besar. Tentu saja tidak ada laki-laki manapun yang berani-berani mendekatimu.” Sehun menyentil dahi Surin dengan pelan membuat gadis itu hanya mendengus dan membalas sentilan Sehun.

 

 

Setelah menaiki cable car, mereka sampai pada tempat tujuan mereka. Surin yang merasa sangat senang karena Sehun kembali mengajaknya kesini, terlihat sangat antusias. Bahkan gadis itu kini sudah menarik Sehun ke sebuah museum boneka teddy bear yang tampak ramai tersebut. Sesekali mereka berdua berfoto dengan boneka-boneka beruang yang lucu sambil tertawa bersama sampai-sampai pengunjung lain yang menyaksikan kemesraan mereka itu memandang mereka dengan tatapan iri sekaligus turut merasakan kebahagiaan kedua sejoli itu.

 

 

Sehun yang tidak begitu mempedulikan pengunjung lain yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua itu masih sibuk memotret sementara Surin sudah tampak gemas sendiri dengan semua boneka yang ada ditempat tersebut. “Boneka yang sedang kau peluk itu bahkan besarnya hampir menutupi seluruh tubuhmu.” Sehun terkekeh kemudian menghampiri Surin yang kini masih enggan melepas boneka yang kini berada dipelukannya itu. “Ayo cepat bayar, kita harus segera ke atas dengan lift super cepat itu. Bisa-bisa kita harus mengantre panjang kalau kita ketinggalan lift.” Sehun mendorong bahu Surin menuju kasir dan segera membayar boneka berukuran sangat besar yang memang dijual itu membuat Surin menganga tidak percaya setelah melihat harga yang disebutkan kasir tersebut.

 

 

“Ya, Oh Sehun. Boneka ini mahal sekali seharusnya kau tidak perlu seboros ini. Lagipula aku tidak bilang aku ingin membelinya.” Surin berujar masih sambil memeluk boneka beruang berukuran besar tersebut. Sesekali ia harus memiringkan kepalanya karena kepala boneka beruang itu menghalangi pandangannya, membuat Sehun yang kini tertawa karena hal tersebut semakin gemas melihatnya. “Sepertinya pelukan eratmu pada boneka itu menyuruhku untuk membelikannya untukmu.” Sehun tertawa kemudian menepuk-nepuk kepala boneka tersebut membuat Surin hanya tersenyum kecil. Bahkan selama hampir tiga tahun menjalin hubungan, baru kali ini Sehun membelikannya boneka semanis boneka beruang tersebut. Surin ingat saat mereka merayakan hari jadi mereka yang ke dua tahun, tepat saat natal tahun lalu, Sehun juga memberikannya boneka. Boneka larva kuning yang sedang menganga. Padahal Surin mengharapkan boneka manis lainnya, seperti rilakkuma atau bantal berbentuk hati, namun laki-laki itu memang selalu semaunya saja. Maka kali ini, Surin benar-benar senang akhirnya Sehun dapat bersikap peka terhadap apa yang diinginkannya. Surin mempererat pelukannya pada boneka beruang tersebut seraya mengikuti Sehun memasuki lift yang akan membawa mereka ke puncak Namsan Tower.

 

 

Mungkin apa yang kini dilakukan Sehun dan Surin memang sedikit ‘mainstream’, namun percayalah, mereka belum pernah melakukan ini sebelumnya. Ya, bersama-sama mengikat janji pada sebuah gembok cinta yang kuncinya akan dibuang sebagai tanda sebuah janji abadi. Mereka belum pernah melakukannya bahkan ketika dalam beberapa hari lagi umur hubungan mereka yang sudah akan menginjak tiga tahun. Pikiran Surin seakan terhenti begitu ia mengingat hal tersebut. Hari jadi mereka yang ketiga tepat jatuh pada hari penyelenggaraan wisuda, yaitu hari minggu. Surin memeluk bonekanya erat seraya mengetukan spidol yang tengah ia pegang itu pada dahinya sementara Sehun kini masih sibuk menuliskan sesuatu pada ‘gembok cinta’nya. Hari itu adalah hari terakhirnya bersama Sehun. Apa laki-laki itu bahkan mengingat hari jadi mereka yang tepat jatuh pada hari wisuda yang tidak lain tidak bukan adalah hari kepergiannya itu? Surin tidak memiliki cukup nyali untuk menanyakannya pada Sehun. Namun jika seandainya saja ia dapat bertanya, ia hanya ingin menanyakan apakah setelah wisuda selesai, tepatnya sebelum keberangkatan pesawat laki-laki itu tiba, apakah Sehun masih memiliki waktu untuk sekedar meniup lilin angka ‘3’ bersamanya?

 

 

“Selesai! Mana milikmu? Ayo cepat kita kunci di pagar sebelah sana!” Sehun menarik lengan Surin yang hanya pasrah mengikutinya. Gembok berwarna merah milik mereka pun dengan apik tergantung pada pagar yang mengoleksi banyak gembok serupa lainnya. Surin tersenyum ketika membaca tulisan pada gembok Sehun. “Berjanjilah untuk selalu berbahagia bersamaku, Jang Surin.” Surin membaca tulisan tersebut sementara Sehun tersenyum. Laki-laki itu memegang gembok Surin kemudian tertawa ketika membaca tulisan yang ada pada gembok tersebut. “Berjanjilah untuk tidak kemari bersama perempuan manapun selain aku, Oh Sehun.” Surin tertawa ketika Sehun membaca tulisannya dengan nada yang ia buat-buat.

 

 

“Ya, Jang Surin, seharusnya kau menuliskan sesuatu yang lebih manis seperti tulisanku ini. Inikan pertama kalinya kita mengunci janji kita disini.” Sehun mulai memprotes sementara Surin hanya melongokan kepalanya dari balik kepala besar boneka beruang tersebut seraya menjulurkan lidahnya dengan jahil membuat Sehun tertawa kecil. “Sehun-a.” Sehun menoleh sementara Surin menyembunyikan diri dibalik boneka beruang tersebut. “Hari minggu nanti tepatnya sebelum kau pergi, maukah kau meniup lilin angka ‘3’ dulu bersamaku?”

 

 

Sehun terkekeh kemudian menarik tangan boneka tersebut membuat Surin yang tengah memeluk boneka tersebut ikut tertarik. Sehun memeluk Surin dengan sebuah boneka besar yang menjadi pembatas mereka. “Aku akan menemanimu sampai kita meniup lilin yang ke-1000 sekalipun.” Surin tersenyum kemudian tangannya beralih meraih pinggang Sehun yang kini sudah mengeratkan pelukannya pada Surin lebih dulu, membuat boneka beruang yang berada diantara mereka terdesak.

 

 

Entah mengapa perasaan Surin jadi lebih tenang sekarang. Mungkin karena ucapan Sehun barusan, atau karena pelukan mereka saat ini. Atau faktor terbesar lainnya adalah karena Surin menjadi lebih yakin. Yakin kalau Sehun akan menemaninya bahkan sampai lilin mereka yang ke 1000.

 

 

**

 

 

Tiga hari berlalu begitu cepat. Surin tidak ingin berkata bahwa hari ini adalah hari terakhirnya menghabiskan waktu bersama Sehun, namun ia juga tidak bisa menampik hal tersebut. Besok adalah hari wisuda mereka yang tidak lain tidak bukan juga merupakan hari keberangkatan Sehun. Kalau saja Surin dapat mengembalikan waktu, ia ingin mengulang semua yang sudah dilakukannya bersama Sehun selama tiga hari ini. Mulai dari menjadi raja dan permaisuri di istana Changdeok, berkencan di Namsan Tower, dan juga mengulang kegiatan mereka hari ini yaitu menikmati sauna bersama disalah satu tempat sauna paling terkenal yang ada di Seoul. Surin tidak ingin hari ini cepat berlalu, ia ingin terus memandangi Sehun yang kini mengenakan kaos oblong warna biru yang senada dengan miliknya itu. Ia ingin terus memandangi Sehun yang kini meletakan handuk kecil diatas kepalanya itu. Ia ingin terus memandangi Sehun yang kini juga tampak memandanginya sambil asik meminum sikhye atau minuman yang terbuat dari beras putih berasa manis seperti gula. Yang pasti, ia tidak ingin Sehun hilang dari pandangannya. Itu saja.

 

 

“Bagaimana? Apa tubuhmu sudah lebih enakan?” Sehun membuka pembicaraan membuat Surin langsung mengangguk, mengiyakan. Mereka sudah berada ditempat sauna ini selama kurang lebih tiga jam. Bersantai di tempat sauna memang pilihan yang paling tepat. Mendapatkan refleksi dari berbagai fasilitas yang ada di tempat sauna tersebut adalah salah satu alasan mengapa sauna adalah pilihan yang paling tepat untuk menghabiskan waktu. Surin mengambil satu butir telur rebus yang memang merupakan camilan wajib jika bersauna itu lalu mengupasnya.

 

 

“Jadi, kau benar-benar akan pergi esok hari? Ke Amerika? Tepat setelah kita wisuda? Bukankah itu terlalu terburu-buru? Mengapa tidak satu hari setelah kita wisuda saja? Atau dua hari setelah kita wisuda? Memangnya jika kau tidak pergi besok, sesuatu yang buruk akan terjadi? Oh Sehun, haruskah kau benar-benar pergi?” Surin mulai mengeluarkan apa yang sudah ia pendam dan tanyakan selama seminggu terakhir ini. Mungkin gadis itu sudah tidak tahan dengan semua pemikiran tersebut sampai-sampai akhirnya tanpa ia sadari, pandangan matanya sudah mengabur seiring dengan air mata yang mulai memenuhi pelupuk matanya.

 

 

“Aku ingin bertanya.” Suara Sehun yang berat terdengar, namun tidak membuat Surin segera mengalihkan pandangannya pada laki-laki itu. “Apa kau menikmati semua yang sudah kita lakukan selama tiga hari ini?” Surin mengangguk lemah, gadis itu dapat melihat sebuah senyuman kecil diwajah Sehun. “Baguslah. Aku senang. Dengan begitu aku berhasil melakukan satu tugasku.” Baru saja Surin akan memprotes pertanyaan tidak jelas itu, tiba-tiba saja suara gaduh yang sangat dikenalnya menggema diseluruh penjuru ruang sauna yang tidak terlalu ramai itu, membuat Surin maupun Sehun segera menoleh ke arah sumber suara.

 

 

“Ya, Surin-a! Sehun-a!” Kedua pasangan yang Surin kategorikan sebagai pasangan terberisik, Baekhyun dan Jimi, menghampiri mereka dengan sangat heboh. “Ya, bagaimana kita bisa bertemu disini?” Sehun berujar tidak percaya sementara kedua pasangan tersebut segera menempatkan diri mereka di hadapan Sehun dan Surin. Bahkan kini Byun Baekhyun sudah mengambil telur rebus yang berada dihadapannya dengan begitu saja. “Kebetulan sekali, ya. Sebenarnya aku tidak suka pergi ke sauna seperti ini. Kalau saja Baekhyun tidak masuk angin karena mengajakku kencan ke Yeouido dengan menggunakan motor kemarin malam, pasti aku tidak akan mau menemaninya sauna seperti ini.” Seketika Sehun dan Surin tertawa menanggapi cerita Jimi barusan sementara gadis itu kini sudah memukul bahunya sendiri, bermaksud menyuruh kekasihnya itu bergantian memijatnya. “Giliranmu, Byun Baekhyun.” Pinta Jimi membuat Baekhyun langsung memijat bahu gadis itu dengan perlahan.

 

 

“Kalian mau ice cream?” Sehun bangkit berdiri seiring seruan setuju dari ketiganya. Laki-laki bertubuh tinggi itu segera pergi untuk membeli ice cream, meninggalkan Surin dan kedua sejoli yang kini sudah menatapnya serius membuat Surin turut bertanya-tanya dalam hati. “Ada apa? Apa ada sesuatu yang aneh diwajahku?” Tanya Surin membuat Baekhyun dan Jimi dengan serempak menggelengkan kepala mereka bersamaan.

 

 

 

“Surin-a, besok adalah hari keberangkatan Sehun, tepat setelah acara wisuda kita. Kau baik-baik saja dengan semua ini, kan?” Seolah menyirami luka hatinya dengan air panas, Baekhyun bertanya padanya yang jelas tidak baik-baik saja dengan semua ini. “Aku baik-baik saja.” Jawab Surin tidak jujur pada dirinya sendiri. Jimi yang mengetahui hal tersebut segera mengelus bahunya, memberi sedikit semangat pada Surin yang malah tampak semakin lesu.

 

 

“Aku tidak bisa menahannya. Kalian tahu sendiri, ia pergi untuk keluarganya. Untuk masa depannya.” Surin hampir menangis sementara Baekhyun dan Jimi hanya memandangnya dengan tatapan iba. Surin yakin mereka berdua mengerti perasaannya saat ini. Surin tidak peduli dengan pandangan orang lain terhadapnya. Ia tidak peduli jika sekarang ini ia dikatakan sebagai gadis yang lemah dan mudah menangis. Pada kenyataannya, posisinya sekarang ini memang memaksanya untuk menangis. “Apa Sehun memberitahumu kapan ia akan kembali? Masalahnya, ia hanya membahas kepergiannya dengan kami, tapi tidak dengan kepulangannya kesini. Kau tahu? Bahkan saat Sehun, aku, Jongdae, Chanyeol, Minseok, Junmyeon, Yixing, Jongin, dan Kyungsoo membahas kepergiannya ini, Sehun mengatakan sesuatu yang membuat kami berdelapan tidak percaya dan khawatir.” Baekhyun berujar panjang lebar sementara Surin masih setia mendengarkan. Tatapannya sudah tidak sabar, ingin segera mengetahui hal yang membuat teman-teman Sehun itu khawatir. Apa ada sesuatu yang tidak dikatakan Sehun padanya?

 

 

“Kami berdelapan benar-benar tidak percaya Sehun akan menitipkanmu pada Kyungsoo. Ia benar-benar meminta Kyungsoo untuk menjagamu selama ia tidak ada disini. Kami hanya khawatir, kepergiannya memang akan memakan waktu yang lama sampai-sampai ia melakukan hal yang tidak terduga dan serius itu. Aku tidak bermaksud membuatmu semakin sedih, tapi aku rasa kau harus mengetahui hal ini, Jang Surin. Karena aku dan teman-temanku rasa, kepergian Sehun itu bukan main-main.”

 

 

Seketika Surin merasa dunianya kosong. Hati dan pikirannya pun sama. Semuanya terasa kosong. “Jadi rupanya ia benar-benar akan pergi.” Ulang Surin kemudian ia berusaha mati-matian menahan air matanya, terutama ketika laki-laki bertubuh tinggi itu kembali dengan senyum gembira diwajahnya dan empat buah ice cream di tangannya yang langsung disambut tidak kalah gembira oleh Baekhyun dan Jimi.

 

 

Ia ingin Sehun tetap bersamanya. Ia tidak ingin laki-laki itu pergi. Benar-benar tidak ingin.

 

 

**

 

 

“Selamat atas wisuda-mu, Surin-a!”

 

 

Surin yang kini tampak sibuk dengan keluarganya, berfoto bersama, menerima berbagai bucket bunga sebagai ucapan selamat, dan sibuk menerima nasehat dari keluarganya itu kini hanya menanggapi mereka dengan senang hati. Pendidikan sarjana yang diimpi-impikan Surin sedari dulu kini sudah resmi berakhir, membuat Surin tidak sanggup lagi menahan rasa senangnya. Teman-teman Surin pun banyak yang meminta foto bersama sebagai kenang-kenangan, sekaligus ucapan selamat yang membuat kebahagiaan Surin semakin bertambah karenanya.

 

 

Hanya saja, semenjak acara resmi selesai, Surin tidak menemukan Sehun dimanapun. Padahal teman-teman Sehun yang lain kini sudah sibuk dengan keluarga mereka masing-masing. Surin mengedarkan pandangannya, kemudian melihat keluarga Sehun yang kini tengah berbincang hangat bersama Jongin dan beberapa teman Sehun yang lain, Chanyeol dan Baekhyun beserta Jimi yang tampak menemani Baekhyun. Setelah meminta diri pada keluarganya, Surin segera menghampiri keluarga Sehun dengan ramah.

 

 

“Oh, Jang Surin! Selamat ya, atas wisuda-mu. Kau tidak bersama dengan Sehun? Katanya ia ingin menemuimu?” Ibu kandung Sehun segera memeluk Surin yang dibalas dengan senang oleh gadis itu. “Terima kasih, ahjumma. Sedari tadi aku mencarinya tetapi ia tidak terlihat dimanapun. Atau jangan-jangan dia sudah… berangkat ke bandara?” Suara Surin berubah sedih, membuat keluarga Sehun dan yang lainnya hanya memandang Surin. Surin bingung, mengapa mereka melihatnya seperti sekarang ini? Mengapa mereka memandanginya dengan senyum yang seakan mereka tahan-tahan?

 

 

“Surin-a, cepat kejar dia sebelum dia benar-benar pergi.” Kakak pertama Sehun berujar membuat yang lain segera mengangguk-angguk. “Benar kata hyung. Cepat kejar dia Surin-a. Tadi ku lihat dia buru-buru sekali.” Tambah kakak kedua Sehun membuat kerutan di dahi Surin semakin menjadi-jadi.

 

 

“Oh, aku baru saja mendapatkan pesan dari Sehun!” Chanyeol berseru membuat yang lain langsung menatapnya. “Apa katanya?” Tanya Jongin sementara Chanyeol tampak menahan senyumannya membuat Baekhyun yang melihat hal tersebut segera melakukan hal yang sama, begitupula dengan Jimi yang kini tampak menggandeng lengan Baekhyun dengan erat itu. “Sebenarnya ada apa?” Surin yang kebingungan akhirnya menyuarakan kebingungannya.

 

 

“Temui dia ditaman belakang kampus. Katanya ia sudah menunggumu sedari tadi disana. Ia ingin bicara serius denganmu.” Chanyeol berujar membuat Surin langsung bergegas meninggalkan mereka setelah memohon diri. “Surin-a, semangat! Kalau dia melamar, langsung saja terima!” Seru ibu kandung Sehun namun sayangnya, Surin sudah terlalu jauh untuk mendengar suaranya sehingga Surin hanya menoleh, kemudian mengangguk meskipun gadis itu tidak mendengar perkataan wanita kesayangan Sehun itu sama sekali. Ia hanya ingin menemui Sehun sekarang. Ya, hanya itu yang ia inginkan.

 

 

**

 

 

Surin mengatur napasnya ketika ia sampai di taman belakang kampus. “Oh Sehun!” Surin berseru kencang. Surin hampir menangis ketika ia melihat Sehun menolehkan tubuhnya ke arahnya. Laki-laki itu tampak tengah memeluk boneka beruang yang sangat besar, bahkan jauh lebih besar dari yang ia belikan untuk Surin saat di Namsan Tower. Surin berjalan mendekat, kemudian sedetik setelahnya, ia sudah memeluk boneka beruang yang kini juga tengah dipeluk oleh Sehun.

 

 

“Aku tidak akan pergi kemanapun, Jang Surin.” Surin mengeratkan pelukannya pada boneka beruang itu, seolah tidak mempercayai ucapan Sehun barusan. “Kau ingat dengan bucket list yang kita buat saat kita masih duduk di bangku sekolah dasar? Aku menyuruhmu untuk menulis tiga permintaan. Tiga permintaan yang ingin kau dan aku lakukan bersama saat sudah besar nanti.” Sehun berujar sementara Surin berusaha mengingat hal tersebut. Surin yakin ia masih seratus persen mengingatnya. Saat itu mereka duduk di ayunan yang ada di taman sekolah. Sehun membantunya bermain ayunan, kemudian tiba-tiba saja laki-laki itu menyerahkan kertas dan pensil pada Surin. Ia menyuruh Surin untuk menulis tiga permintaan. Tiga permintaan yang ingin ia dan Sehun lakukan saat mereka sudah besar nanti.

 

 

“Tentu saja aku ingat. Permohonan pertamaku adalah, aku ingin kita menjadi raja dan permaisuri, lalu yang kedua adalah pergi ke Namsan Tower bersamamu seperti pasangan-pasangan yang ada di berbagai drama yang sering ibuku tonton, menikmati musim dingin bersama dengan bersauna. Dari sekolah dasar rupanya aku memang sudah sangat menyukaimu sampai-sampai semua permintaanku memalukan begitu.” Tawa pun pecah ketika Surin menyelesaikan kalimatnya.

 

 

“Aku sudah berhasil mewujudkan ketiga permohonanmu itu. Pertama, kita sudah menjadi raja dan permaisuri di istana Changdeok, kedua kita juga sudah pergi ke Namsan Tower dan memasang gembok cinta disana, ketiga kita bahkan juga sudah menikmati musim dingin ini dengan bersauna bersama.” Sehun mengabsen kegiatan yang mereka lakukan selama tiga hari terakhir ini membuat Surin tersenyum. “Aku tidak menyangka kau mengingat semuanya. Padahal itu sudah sangat lama sekali.” Surin mengeratkan pelukannya seraya memejamkan kedua matanya dengan senang.

 

 

“Aku sengaja melakukan semua ini. Aku tidak ingin kau mengetahui rencanaku, maka itu aku menutupinya dengan berkata bahwa aku akan pergi ke Amerika. Dengan begitu aku dapat mewujudkan ketiga permohonanmu tanpa rasa curiga apapun darimu.” Sehun tertawa sementara kini Surin sudah mendongakan kepalanya dengan tidak percaya.

 

 

“Jadi kepergianmu itu hanya bagian dari rencana ini?! Karena kau tidak ingin aku tiba-tiba mengingat tiga permohonanku itu lalu rencanamu jadi akan berantakan, begitu? Ya! Harusnya kau tidak perlu sampai sejauh itu! Aku hampir gila memikirkan kau akan pergi jauh dariku, tahu!” Surin memukul boneka beruang tersebut dengan keras sementara Sehun hanya tertawa terbahak. “Aku tidak tahu kalau kau sampai sebegitunya. Maafkan aku.” Ujar Sehun membuat Surin mengeraskan pukulannya. “Kau pasti juga bekerja sama dengan Baekhyun dan Jimi saat ditempat sauna, kan?! Aish, disitu aku benar-benar percaya kau akan pergi. Pantas saja ketika aku membahas kepergianmu, pasti kau akan selalu mengalihkannya ke hal yang lain. Bodoh! Awas kau melakukan hal itu lagi! Benar-benar tidak lucu!” Surin hampir saja menangis namun tiba-tiba Sehun menarik tangannya kemudian memeluknya kembali seperti semula. Boneka itupun tampak terdesak karena pelukan erat Sehun pada Surin.

 

 

“Aku harap terwujudnya ketiga permohonanmu itu menjadi hadiah terindah untuk hari ini. Hari jadi kita yang ketiga.” Sehun berujar dengan nada serius membuat jantung Surin seolah berhenti saat itu juga. Surin tidak dapat menjernihkan pikirannya terutama ketika Sehun melepas pelukan Surin dari boneka beruang tersebut lalu mengalungkan tangan boneka itu pada leher Surin sehingga sekarang posisi boneka itu seperti tengah digendong dibelakang oleh Surin.

 

 

Dengan perlahan Sehun menarik tangan boneka itu, membuat Surin yang berada di depannya pun turut tertarik sehingga posisinya dengan Sehun menjadi sangat dekat. Surin memberanikan diri untuk mendongakan kepalanya, menatap kedua bola mata Sehun yang kini tidak terlepas sedetikpun darinya. “Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkanmu, harusnya kau tahu hal itu dari awal.” Sehun tersenyum, membuat debaran di jantung Surin semakin keras dan ia takut Sehun dapat turut mendengarnya.

 

 

“Jang Surin, selamat hari jadi yang ketiga.” Sehun meletakan kedua tangan boneka tersebut pada kedua belah pipi Surin, kemudian dengan perlahan, ia mendaratkan bibirnya pada bibir mungil milik Surin seraya memejamkan kedua matanya. Sehun harap, Surin mengetahui maksudnya melakukan semua ini. Mulai dari harus berbohong demi terwujudnya ketiga permohonan Surin itu, sampai pada pernyataan cintanya dari ciuman mereka ini. Sehun hanya ingin membuat Surin bahagia. Hanya itu maksud dan tujuannya dari awal.

 

 

Sehun melepas tautan bibir mereka kemudian mengacak rambut gadis itu dengan gemas. “Pegang dulu tangan boneka ini. Aku masih ada kejutan yang lainnya.” Surin menurut sementara Sehun segera mengambil sebuah kotak berukuran lumayan besar yang ia letakan di kursi taman tersebut lalu mengeluarkan isinya yang ternyata adalah kue tart. Kue tart berwarna cokelat berbentuk wajah beruang itu benar-benar berhasil membuat Surin bahagia. Setelah menyalakan lilin angka ‘3’ yang berada di tengah-tengah kue tart tersebut, dengan hati-hati Sehun segera membawanya ke hadapan Surin yang kini tengah menggendong boneka beruang besar pemberian Sehun pada punggungnya. Gadis itu tersenyum senang, membuat Sehun juga tidak bisa menahan senyuman bahagianya.

 

 

“Ayo kita tiup bersama. Sebelumnya, lebih baik kita menyampaikan permohonan dulu.” Ujar Sehun membuat Surin mengangguk. Surin memejamkan matanya kemudian memanjatkan doanya. Ia berdoa agar Sehun dapat terus bersama-sama dengannya, menemaninya sampai mereka tidak lagi mempunyai kekuatan bahkan untuk meniup lilin hari jadi bersama-sama. Dalam hitungan ketiga, lilin tersebut pun padam, membawa doa Surin dan Sehun untuk hubungan mereka berdua.

 

 

“Surin-a, maukah kau terus bersama-sama denganku sampai kita meniup lilin hari jadi yang ke 1000?”

 

 

Jantung Surin seakan berhenti saat itu juga. Ia tidak lagi bisa menyembunyikan air mata haru yang sedari tadi berusaha ditahannya. Surin ingin memeluk laki-laki yang kini tampak tengah dengan lembut menatapnya itu, menunggu jawaban Surin akan pertanyaannya barusan.

 

 

Surin melepas tangan boneka tersebut dari lehernya kemudian ia mengalungkan tangan boneka tersebut pada leher Sehun, membuat boneka tersebut kini berada di gendongan Sehun. Surin menarik tangan boneka tersebut, sehingga Sehun langsung menunduk untuk menyejajarkan posisinya dengan Surin. “Tentu saja. Ayo terus bersama-sama sampai kita meniup lilin hari jadi kita yang ke 1000.” Surin mengecup bibir Sehun dengan sangat cepat membuat laki-laki itu tersenyum bahagia sampai-sampai kedua matanya membentuk lengkungan bulan sabit yang sangat Surin sukai.

 

 

Seketika confetti dari berbagai arah menghujani mereka berdua dan suara berisik terompet menggema diseluruh penjuru taman belakang kampus tersebut. Rupanya keluarga Sehun dan Surin beserta teman-teman mereka berdua mengawasi mereka sampai adegan terakhir membuat kedua sejoli tersebut hanya tertawa, menanggapi ledekan-ledekan yang langsung mereka terima. “Sebentar lagi kita akan menerima undangan pernikahan dari mereka berdua!” Chanyeol, teman dekat Sehun berujar membuat yang lain langsung berseru heboh dan tertawa bersama-sama, menanggapi ucapan Chanyeol barusan.

 

 

Bagi Surin, ia hanya ingin berada bersama disamping seorang Oh Sehun sampai kapanpun. Ia hanya ingin mengisi hari-harinya bersama dengan laki-laki itu sampai kapanpun. Sama seperti Sehun, Surin hanya ingin bersama-sama dengannya sampai mereka meniup lilin hari jadi mereka yang ke-1000.

 

 

**

 

000000000000000000ADA

 

@oohsehun : The another cake for today on our lovely date. Happy 3rd  anniversary, @surinjjang. #3YearsAndStillCounting

 

2512 likes.

 

Comments :

 

@baekhyunee_exo : Credit fotonya harusnya kau cantumkan ‘photo by @baekhyunee_exo’!

 

 

@kimkaaaaaa : @baekhyunee_exo jadi kau ikut Sehun dan Surin kencan? Kasihan sekali jadi nyamuknya.

 

 

@baekhyunee_exo : @kimkaaaaaa enak saja! Hari ini kita double date. Sehun dengan Surin dan aku dengan kekasihku tercinta, Park Jimi. Aku harap kau tidak iri, Kim Jongin. Hahahaha!

 

 

@_jimiyya : Cepat-cepatlah menikah kalian berdua! @oohsehun @surinjjang

 

 

@real__pcy : Rupanya adik kecilku ini sudah besar, ya. Aku tunggu undangannya! Ya, @baekhyunee_exo @kimkaaaaaa jangan suka menyampah di kolom komentar post orang lain!

 

 

@guardian_suho : Wah sepertinya ini harus dirayakan. Sekalian merayakan kelulusan kalian, aku akan mentraktir kalian semua di restaurant biasa besok malam!

 

 

@kjong_dae : Junmyeon hyung sepertinya sungguh-sungguh akan mentraktir kita! Dia baru saja mengirim pesan di grup Line! Cepat semuanya baca! Oh ya, untuk @surinjjang dan @oohsehun happy 3 years! Kemarin lamaran sudah diterima, sekarang tinggal tunggu sebar undangan hahaha. Aku tunggu undangannya!

 

 

@exoxiumin : Asik besok akan ada traktiran makan malam! Sehun-a, Surin-a, aku juga turut berbahagia untuk kalian berdua, ya. Semoga @justcheonsa_ dan aku juga segera menyusul kalian berdua!

 

 

@dokyungsoo93 : Aku sepertinya telat sekali mendengar kabar lamaran ini. Selamat untuk kalian berdua. Sehun-a, jaga dia baik-baik.

 

 

@real__pcy : Kyungsoo hyung, maaf karena aku meng-screen capt komentarmu. Aku harus mengabadikan komentar sedihmu ini. HAHAHA @dokyungsoo93

 

 

@zyxzjs : Woah, sepertinya aku ketinggalan berita? Kau sudah melamar Surin? Akhirnya! Sehun-a selamat! Kau memang hebat!

 

 

@surinjjang : ❤

 

 

@oohsehun : @surinjjang ❤

 

 

Surin tertawa membaca semua komentar yang ada di post terbaru Sehun, terutama karena laki-laki itu dengan sangat cepat membalas komentarnya barusan. Kencan perayaan wisuda sekaligus perayaan hari jadi mereka yang ketiga tahun ini tidak akan pernah Surin lupakan. Apalagi kencan mereka hari ini ditemani juga dengan Baekhyun dan Jimi, pasangan paling berisik yang pernah Surin temui. Benar-benar hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan. Surin jadi teringat kejadian lamaran Sehun saat ditaman kampus tadi. Gadis itu bahkan masih dapat merasakan debaran pada jantungnya ketika mengingat setiap perkataan Sehun yang mengajaknya untuk menghabiskan sisa hidup bersama-sama. Surin kemudian memeluk gulingnya dengan malu, ketika baru saja ia memposting sesuatu pada aplikasi instagram miliknya.

 

zzzzzzzz

 

 

@surinjjang : Just met this bear on our lovely date today which makes me remember those ‘bear kiss’ scene. Hahahaha! Anyway, thank you to the photographer and also my bear papa, @oohsehun ❤ #3YearsAndStillCounting

 

 

1225 likes.

 

 

Comments :

 

 

@chocolattaerin : Argh! Aku iri pada kalian berdua! @oohsehun segeralah buat nama gadis ini menjadi Oh Surin!

 

 

@justcheonsa_ : So sweeeet! ‘Bear kiss’ scene? Sayang sekali aku tidak melihatnya! Aku turut bahagia untuk kalian berdua!

 

 

@_jimiyya : Senang sekali bisa ‘double date’ dengan kalian berdua! (Meskipun kita berakhir memalukan dengan berfoto bersama beruang itu berkali-kali. Hahaha!) Sekali lagi, selamat untuk kalian berdua!

 

 

@baekhyunee_exo : Kurasa kita harus sering-sering mengadakan ‘double date’ itu. Hahahaha!

 

 

@kimkaaaaaa : @baekhyunee_exo ingat kata Chanyeol, tidak boleh menyampah di post orang lain.

 

 

@real__pcy : Sudahlah @kimkaaaaaa Jimi sudah berbahagia dengan Baekhyun sekarang. Kau mundur saja. Oh ya, Surin-a, kalau kau butuh penyanyi di pernikahanmu nanti, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi aku ya. Kau boleh mendengar kemampuan menyanyiku terlebih dahulu di link ini https://soundcloud.com/realpcysc

 

 

 

@guardian_suho : Surin-a, ajak juga teman-temanmu ke acara traktiran besok. Aku akan mentraktir kalian semua untuk ucapan selamat wisuda dan selamat karena sebentar lagi kau resmi menjadi nyonya Oh.

 

 

@kjong_dae : Asik! Besok akan ada traktiran besar-besaran! Hyung, aku kagum padamu! @guardian_suho

 

 

@exoxiumin :  Selamat untuk kalian berdua dan sampai bertemu di tempat traktiran besok! Hahahaha!

 

 

@zyxzjs : Surin-a, selamat untuk wisuda-mu dan selamat karena sebentar lagi nama depanmu akan berubah! Besok aku akan kembali ke Korea. Jadi mungkin besok aku akan datang ke acara traktiran dari Junmyeon hyung! Tenang saja, aku akan bawakan kalian berdua oleh-oleh khusus dari China!

 

 

@dokyungsoo93 : Surin-a, selamat. Jaga dirimu baik-baik.

 

 

@real__pcy : @dokyungsoo93 hyung maafkan aku. Aku harus kembali meng-screen capt komentar sedihmu ini. HAHAHA

 

 

@oohsehun : ‘Bear kiss’ scene? Yang mana? Sepertinya aku tidak ingat hahahaha bercanda. Tentu saja aku tidak akan melupakan adegan itu. Bagaimana? Kau pasti sudah merasa seperti pemeran utama perempuan di drama-drama, kan karena adegan itu? Ayo lakukan lagi! Hahahaha. I love you, mama bear. Lets walk together until the very end.

 

 

-FIN.

 

 

Yeay! Seharusnya di upload Desember, tapi berhubung terbentur jadwal ujian, jadinya dipost akhir November saja lah. Desember nanti gak berasa banget ternyata aku udah tiga tahun suka sama Sehun. Hahaha. Itung aja kita anniv ke 3 tahun Desember nanti, ya. ((iyain aja.))

 

 

Tapi ngucapin duluan juga gapapa kan.

 

 

Selamat hari jadi yang ke-3 Oh Sehun.

000sfsdg

zzzzzzzzzsehunmessage

Lets walk together until the very end just like you always said! I do love you, Oh Sehun.

Advertisements

12 comments

  1. kyla · November 29, 2015

    Aw gila so sweet bgt❤❤ aku jg udh mikir kalo cuma boongan gamungkin bgt sehun ninggalin surin kan? Duh happy anniv ya thor sama sehunnya bentar lg jg aku anniv sama jongin hehe*eh udh keren thor;)

    • Oh Marie · December 1, 2015

      Hallo Kyla! Terima kasih sudah mampir, baca, ninggalin komen, dan bahkan ngelike juga HUHUHUHU ily Kyla<3

      Makasih ucapan annivnya HAHAHA. Aw aw aw bentar lagi anniv sama Jongin? Cie cie langgeng ya (?) Sekali lagi, terima kasih banyak<3 Tetep setia mampir-mampir dan baca yaaaa!

  2. dreamland · November 30, 2015

    too sweet 😍😍
    kirain beneran ninggal surin ke amerika hahaa
    gak sabar nih liat jang surin berubah marga 💙💙

  3. Putrinad · November 30, 2015

    Too sweet 💙
    mereka romantis banget sih jadi gemayy😁 ga sabar nunggu jang surin jadi oh surin ㅋㅋㅋ

    • Oh Marie · December 1, 2015

      Hallo hallo hallo Putri! Terima kasih udah setia baca dan ninggalin komen. Ilyyyyyy<3

  4. byunbaek · December 1, 2015

    aku kangen serin >< sehun sweet banget demi deh aaahhhhhhhhhh pantesan aja keluarga sehun senyum2 ga jelas ternyata mau ngelamar

    • Oh Marie · December 2, 2015

      AAAAAA terharu:”) Makasih udah mau setia mampir dan bacaaaa! Sering-sering main kesini ya! Ilyyyyy<3

  5. ByunLala · December 24, 2015

    pas stalk wp nya unnie,dan liat ada 2 FF baru langsung “Kyaaaaaa

    duh,maaf selama ini nggak pernah koment ya kak.Tpi aku suka banget sama ff unnie,soalnya manis2 bgt 🙂

    • Oh Marie · December 29, 2015

      Halloooooo! Ah aku dapet reader baru! Seneng banget kamu suka sama ff ff aku. Stay tune terus ya! Ily<3

  6. rahsarah · April 18, 2016

    demi apaun ini keren bnget ff kakak
    semua rencanya bener2 berjalan lancar, dan ga disangka ternyata sehun cuma bohongan doang ga jadi perginya wahhh daebak bnget sama jalan ceritanyaaa

    • Oh Marie · April 19, 2016

      AAAAAAAA Makasih banyak! Aku seneng banget kalo kamu suka sama ffnya! Wajib stay tune terus ya buat next ff!

  7. angiesuci · October 18, 2016

    Okaayyyyy

    I don’t have anything to say. Is so much good and sweettttttttt. I loved the part when there is an ig photos and comments hahahaa. I loved this one fanfict ❤️❤️❤️

    Thank you for made this eonniiiii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s