Truth Or Dare

TRUTHORDARE

Hello! Romance mode: on. Hope you like it!

**

“Jadi kau akan tetap menunggu disini sampai kekasihmu itu datang?”

Do Kyungsoo, teman dekat dari seorang gadis yang kini duduk dihadapannya dengan murung itu sudah berusaha berkali-kali untuk mengajaknya pulang namun gadis itu tetap mempertahankan tekadnya untuk menunggu kekasihnya, Oh Sehun yang bahkan dari dua jam lalu belum juga menampakan dirinya padahal laki-laki itulah yang sudah membuat janji dengan Surin untuk menemui gadis malang itu jam empat sore setelah kelasnya selesai. Kyungsoo berdecak kesal, lagi-lagi laki-laki itu membuat Surin seperti ini.

Angin sore menerpa kedua orang yang kini duduk berhadapan di bangku cafeteria yang berada di halaman kampus mereka itu, membuat keheningan yang sempat tercipta akhirnya terpecahkan sedikit oleh suara angin tersebut. Kyungsoo hanya menghela napas kemudian menyesap kopinya yang sudah sangat dingin sambil memperhatikan teman perempuannya itu dengan tatapan kasihan, membuat yang diperhatikan hanya tertunduk diam dengan paras yang tampak semakin kasihan.

Surin memang orang yang agak melankolis, tapi ia tidak pernah se-melankolis ini sebelumnya. Begitulah pikir Kyungsoo ketika melihat Surin yang bertambah murung karena sang pujaan hati tidak kunjung menampakan diri. Rasanya Kyungsoo ingin memperingati Sehun yang belakangan ini bertingkah seenaknya pada Surin. Laki-laki itu seringkali membuat janji dengan Surin, namun ia juga yang tidak menepatinya. Kyungsoo ingat betapa ingin ia meninju laki-laki bertubuh tinggi itu ketika Surin bercerita bahwa alasan ia tidak menepati janji-janjinya belakangan ini adalah karena ia lupa dan sedang banyak urusan.

“Semua ini pasti karena teman perempuannya itu.” Surin akhirnya bersuara meskipun dengan volume suara yang sangat kecil. Gadis itu memasukan tangannya yang mulai terasa dingin pada saku cardigannya. “Teman perempuannya yang baru datang dari Busan itu?” tanggap Kyungsoo membuat Surin hanya mengangguk kecil.

Surin yakin sekali sikap Sehun belakangan ini pasti dipengaruhi oleh teman perempuannya itu. Teman perempuan yang ternyata adalah anak dari kerabat kedua orangtua Sehun itu, kini sedang berlibur di Seoul, atau tepatnya adalah keluarga gadis itu kini tengah berlibur di kediaman keluarga Oh, membuat Surin merasa tidak nyaman. Surin sendiri tidak berani untuk bertanya tentang gadis itu pada Sehun. Tapi semakin lama di biarkan, Surin merasa dirinyalah yang semakin dirugikan. Memangnya ada orang yang santai saja jika melihat kekasihnya sendiri berdekatan dengan gadis lain, bahkan berada dalam satu rumah yang sama setiap harinya padahal status mereka hanyalah sebatas teman saja?

Gadis yang bahkan tidak Surin ketahui namanya itu selalu membuntuti Sehun kemana pun Sehun pergi. Surin tidak habis pikir, gadis itu benar-benar menunggu Sehun dengan tenang ketika laki-laki itu tengah berada di dalam kelas. Ia juga selalu bersedia berdiri di belakang Sehun ketika Sehun tengah mengobrol dengan teman-temannya. Gadis itu bahkan tidak mempedulikan tatapan aneh anak-anak lain yang seakan menudingnya sebagai perusak hubungan orang. Ya, tentu saja semua orang di kampus tahu bahwa Sehun adalah kekasih Surin, dan Surin adalah kekasih dari seorang Oh Sehun, laki-laki yang mempunyai ratusan bahkan ribuan fans wanita seantero kampus karena ketampanan, kharisma, serta bakat menari dan memotretnya yang sudah sangat tidak diragukan lagi.

Surin merasa tidak memiliki waktu berdua dengan Sehun seperti dulu. Bahkan saat Sehun dan Surin tengah makan siang bersama di kantin kampus, gadis itu pun ikut turut serta. Gadis itu pasti duduk di antara mereka, membuat Surin langsung kehilangan selera makannya.

Sehun yang biasanya akan mengantar Surin pulang pun harus berkali-kali meminta maaf pada Surin karena ia harus mengantarkan teman perempuannya pulang terlebih dahulu. Sehun sebenarnya meminta Surin untuk menunggu, ia berkata setelah ia mengantarkan temannya itu pulang, ia akan kembali lagi ke kampus untuk menjemput Surin. Namun Surin menolak, dan akhirnya ia akan pulang dengan Kyungsoo yang untungnya selalu ada pada saat-saat seperti itu.

Surin sebenarnya marah. Ia ingin Sehun juga mempunyai waktu untuknya. Ia ingin mempunyai waktu berdua dengan Sehun seperti sebelum gadis itu datang dan memonopoli Sehun. Namun apa daya, Surin memilih untuk diam, memendam rasa cemburu yang semakin hari semakin bertambah besar itu dengan sebuah alasan klasik. Ia tidak ingin Sehun menganggapnya kekanakan karena telah ketauan cemburu.

“Baiklah, Jang Surin. Kita sudah menunggu disini selama dua jam setengah dan aku rasa ia tidak akan datang. Ayo aku antar kau pulang.” Kyungsoo bangkit dari duduknya, tidak tahan melihat Surin yang sudah semakin bersedih itu. Baru saja ia akan menarik tangan Surin, seorang laki-laki dari arah lain langsung menahan tangan Kyungsoo membuat Kyungsoo terkejut. Ia menoleh lalu hanya memandang laki-laki yang kini tersenyum itu dengan raut yang tidak bersahabat.

“Jang Surin, maafkan aku. Tadi aku harus mengantar—”

Surin buru-buru menepis tangan laki-laki yang diketahui bernama lengkap Oh Sehun itu dari bahunya lalu bangkit berdiri dari duduknya. Ia menatap Sehun yang kini tampak sangat merasa bersalah itu dengan kesal bahkan Surin hampir saja menitikan air mata kekesalannya di depan laki-laki bertubuh tinggi itu.

“Dua jam setengah.” Surin berusaha untuk menahan air matanya yang sebentar lagi akan keluar itu. “Dua jam setengah aku menunggumu, dan harusnya dari detik awal aku sudah mengetahui apa yang akan kau ucapkan pada akhirnya.” Surin menggandeng lengan Kyungsoo membuat Kyungsoo dengan sigap langsung membawanya pergi dari hadapan laki-laki yang kini hanya berdiri terpaku sendirian di cafeteria kampus yang mulai sepi itu.

Surin menangis pelan berusaha menutupinya dari Kyungsoo yang sudah lebih dulu mengetahuinya. Surin bahkan tidak tahu sebenarnya ia harus marah pada siapa. Surin benar-benar tidak tahu.

“Sebelum pulang aku akan mentraktirmu ice cream di café biasa.”

Surin mengangguk pelan mendengar ucapan Kyungsoo barusan. “Terima kasih.” Ucap Surin lalu Kyungsoo mengacak rambut gadis itu pelan sambil terkekeh. Ia menuntun Surin yang masih memeluk lengannya itu ke arah mobil sedannya yang berada tidak jauh dari mereka.

Seseorang yang melihat kejadian itu hanya bisa terdiam. Ya, Oh Sehun, yang dengan bodohnya malah membiarkan gadisnya pergi dengan memeluk lengan laki-laki lain selain dirinya. Sehun padahal baru saja akan menjelaskan hubungannya dengan gadis yang selama ini membuntutinya itu pada Surin, namun sepertinya ia sudah terlambat. Kini Sehun benar-benar merasa bodoh karena ia baru menyadarinya sekarang.

Tanpa sadar, selama ini Sehun telah menyakiti gadisnya sendiri. Sehun harus memperbaikinya. Ya, memperbaiki semuanya.

**

Surin memandangi ponselnya yang sedari tadi berdering nyaring, pertanda adanya sebuah panggilan masuk. Surin enggan mengangkatnya, bahkan untuk menyentuh ponselnya saja ia tidak ingin. Surin segera memeluk bantalnya lalu hanya terdiam, memperhatikan nama yang masih muncul pada ponselnya itu dengan paras sendu. Oh Sehun.

Surin ingin mengangkatnya, namun ia tahu apa yang akan ia dengar selanjutnya. Yang akan ia dengar hanyalah sebuah perkataan maaf berturut-turut seperti apa yang sudah Sehun katakan selama ini. Kalau Surin pikir lagi, ini adalah pertengkarannya yang terlama dengan Sehun. Biasanya, dalam waktu kurang dari dua hari saja mereka pasti sudah akan berbaikan lagi. Surin sangat merindukan laki-laki itu. Namun jika ia menyingkirkan perasaannya dan menggunakan logikanya kembali, ia sudah mulai lelah dengan semuanya dan ia hanya ingin beristirahat. Mendengar perkataan maaf Sehun hanya akan membuat Surin semakin lelah.

“Unnie!” Seorang gadis yang berada diluar kamar Surin mengetuk pintu kamar yang Surin kunci rapat itu berkali-kali. “Sehun oppa menunggumu diruang tamu. Ia bilang ia tidak akan mau pulang sampai kau keluar. Aku sedang mengerjakan tugasku, dan ia terus saja merepotiku! Cepat kau urusi kekasihmu ini dan jangan libatkan anak SMA seperti aku ke dalam pertengkaran kalian!” Jimi, adik kandung Surin berseru kesal membuat Surin terkejut dan segera bangkit dari kasurnya. Dengan gerakan secepat kilat Surin buru-buru lari ke arah meja rias yang ada tidak jauh darinya lalu merapikan rambutnya yang berantakan tidak karuan itu. Ia terdiam untuk beberapa detik dan langsung memukuli kepalanya, merutuki perbuatan spontannya barusan. Untuk apa ia merapikan dirinya hanya karena tahu Sehun, satu-satunya orang yang justru sudah membuatnya berantakan itu berada di ruang tamunya? Surin berjalan ke arah pintu kamarnya dengan ragu. Surin harus menguatkan hatinya. Ia tidak akan luluh lagi dengan semua perkataan maaf dari Sehun. Kali ini tidak semudah itu.

Surin membuka pintu kamarnya lalu berjalan ke ruang tamu dengan tangan yang ia lipat di depan dada. Jimi yang tampak tidak mau ikut campur segera masuk ke kamarnya. Dalam hati, Jimi merasa kesal dengan kedua orangtuanya yang sengaja menyuruhnya tinggal di sebuah apartment dengan kakak perempuannya, yang kisah percintaannya penuh tikungan itu. Kalau saja kekasih kakaknya itu tidak berteman dengan laki-laki tampan seperti Kim Jongin, sudah dari dulu Jimi minggat dari apartment tersebut. “Jangan berisik. Kalau mau bertengkar di lobby bawah saja sana.” Jimi menambahkan, lalu segera menutup pintu kamarnya kembali, meninggalkan dua orang yang kini hanya bertatapan satu sama lain tanpa mengucapkan satu kata patah pun.

“Oh Sehun, aku lelah. Aku ingin sendiri dulu sekarang ini.” Surin berujar seraya melangkah menuju dapur untuk mengambil segelas air. Ia merasa tenggorokannya tercekat ketika ia merasakan sebuah tatapan lembut dari laki-laki itu telah berhasil mengacak-acak hatinya kembali padahal laki-laki itu bahkan belum mengucapkan satu kata pun yang menandakan bahwa dirinya telah bersalah pada Surin. Surin tidak boleh luluh lagi kali ini hanya karena tatapan yang Surin akui ia rindukan itu. Tidak, tidak boleh.

Surin merasa Sehun kini tengah berjalan ke arahnya, membuatnya langsung berpura-pura sibuk dengan isi kulkas yang ada dihadapannya. Surin mati-matian menahan dirinya untuk menoleh ke arah Sehun. Surin mati-matian menahan dirinya untuk tidak memeluk sosok yang sangat ia rindukan itu meskipun ia sangat ingin. “Jang Surin.” Surin masih tidak mempedulikan suara laki-laki itu. Mungkin tepatnya, ia berusaha untuk tidak mempedulikan suara berat namun menenangkan itu. “Kau harus mendengarkanku.” Sehun bersuara kembali namun Surin berusaha untuk menghindarinya dengan terus melihat-lihat apa yang ada pada lemari pendinginnya. Bahkan sebenarnya Surin tidak tahu apa yang ia lakukan sekarang ini. Surin tampak bodoh karena kali ini ia malah mengecek tanggal kadaluarsa snack-snack yang ada di lemari pendingin tersebut.

Sehun yang tidak tahan dengan perlakuan Surin segera menarik lengan gadis itu membuatnya menjerit seketika. Sehun menatap lurus kedua bola mata Surin dalam diam. “Ikut aku.”

Sehun harus menyelesaikan semua ini sekarang karena semua hal yang terjadi diantara mereka belakangan ini adalah memang murni kesalahannya, dan ia ingin gadisnya itu tidak terus-terusan terluka karena kesalahannya.

**

Surin melirik Sehun yang kini tengah menyetir. Sudah satu setengah jam perjalanan ini berlangsung, dan selama satu setengah jam itu juga mereka berdiam satu sama lain. Kondisi Surin saat ini hanya mengenakan piyama pink serta sandal rumah berbentuk kelinci kesukaannya. Laki-laki bertubuh tinggi itu memang selalu seenaknya saja, membuat Surin semakin kesal dibuatnya. Namun jika ditelusuri lagi ke dalam hati Surin yang paling jauh, sebenarnya Surin tidak merasa kesal sedikit pun Sehun mengajaknya keluar disaat seperti ini. Mungkin karena Surin terlalu merindukan waktu mereka berdua yang belakangan ini tampak semakin menipis itu.

“Sudah sampai.” Sehun berujar lalu ia mematikan mesin mobilnya. Surin sudah sangat mengenal tempat tersebut. Tempat favoritnya dan Sehun ketika mereka tengah banyak pikiran dan masalah. Bugak Skyway, tempat dimana mereka dapat menenangkan pikirannya masing-masing hanya dengan memandangi lampu-lampu dari seluruh penjuru kota.

“Aku mau pulang.” Surin berujar tanpa memandang Sehun yang kini hanya menghela napas. Sungguh, bukan itu yang ingin Surin katakan. Surin berharap Sehun tidak benar-benar menggubris perkataannya barusan. Surin memang tipe orang yang seperti itu. Ia pasti akan mengatakan hal yang berlawanan dengan isi hatinya ketika ia sedang bertengkar dengan Sehun.

“Aku mohon, Oh Sehun. Aku hanya ingin beristirahat.” Makna dibalik kalimat yang baru saja diucapkannya itu adalah Surin ingin Sehun menahannya. Surin ingin Sehun segera mengatakan kata maaf yang dapat membuat keadaan kembali menjadi seperti semula. Surin sendiri tidak mengerti mengapa malah kalimat-kalimat seperti tadilah yang keluar dari mulutnya. Surin merasa dirinya jatuh begitu saja ke tanah yang berbatu ketika menyadari Sehun hanya terdiam seraya menyalakan mesin mobilnya. Laki-laki itu memang tidak peka. “Baiklah kalau itu yang kau mau, kita pulang. Tapi itu artinya kau sudah memaafkanku.”

Sehun menghela napasnya ketika tidak ada jawaban dari Surin akan ucapannya barusan. Sehun mulai menginjak gas untuk menjalankan mobilnya. Baru saja mobilnya mundur sejauh tiga meter dari tempat semula, mobil putih milik Sehun itu tiba-tiba berhenti secara mendadak membuat kepala Surin terbentur dashboard mobil. Surin mengumpat sambil mengaduh kesakitan dan segera menolehkan kepalanya dengan garang ke arah Sehun yang kini tampak sibuk berusaha menyalakan mesin.

Sehun menatap Surin sambil mengacak rambutnya asal. “Aku lupa kalau hari ini harusnya aku membawa mobilku ini ke bengkel untuk di service.” Ujarnya dengan nada suara bersalahnya sementara kini Surin sudah mengumpat lagi. “Cepat hubungi montir bengkel itu.” Pinta Surin membuat Sehun segera  merogoh saku celana panjangnya untuk mengambil ponselnya di dalam sana. Ia mulai menghubungi salah satu nomor yang ada pada daftar kontaknya.

Sehun terus berusaha menghubungi nomor yang tidak kunjung memberikan jawaban itu sementara Surin sudah menatapnya dengan tatapan khawatir. “Tidak ada jawaban.” Sehun berujar sembari memperhatikan jam tangan yang ada di tangan kirinya. “Pantas saja. Sekarang sudah pukul dua belas malam. Tentu saja mereka sudah menutup bengkelnya sedari tadi.” Surin menghela napas sambil memejamkan kedua matanya, berusaha menahan emosi yang sepertinya sudah naik ke ubun-ubun itu.

Surin berusaha memutar otaknya untuk mencari ide, namun suasana sepi lingkungan sekitarnya membuat otaknya mendadak tidak bisa digunakan. “Baiklah, sekarang kita harus bagaimana?” Ujar Surin dengan pasrah, pikirannya tampak terlalu buntu bahkan untuk berpikir bagaimana nasibnya malam ini. Ia ingin menghubungi Jimi atau Kyungsoo untuk menjemputnya kemari namun Surin ingat ia tidak sempat mengambil ponselnya karena Sehun yang begitu saja membawanya pergi. “Mau bagaimana lagi? Terpaksa kita harus menginap disini sampai besok pagi.” Sehun menjawab dengan enteng membuat Surin langsung menatapnya dengan garang.

“Ini semua salahmu.” Surin menekan kata-katanya barusan. “Kalau kau tidak marah padaku, aku tidak akan membawamu kemari seperti ini.” Sehun yang tidak terima dengan ucapan Surin barusan berusaha melawan. “Memangnya kalau kau membawaku kemari, kau pikir kau bisa membuatku tidak marah lagi?” Nada suara Surin meninggi seiring dengan emosinya yang semakin membara.

“Ya baiklah. Ini semua salahku. Maafkan aku.” Sehun bersuara ketika keheningan sempat menyelimuti mereka berdua untuk beberapa saat setelah ucapan Surin yang terakhir itu. Surin berdeham, berusaha untuk tidak luluh dengan ucapan sungguh-sungguh yang keluar dari bibir Sehun barusan. Surin melirik Sehun yang kini hanya memejamkan matanya, tampak seperti benar-benar memaknai ucapannya barusan.

“Sungguh, maafkan aku.” Surin sudah berkaca-kaca. Ia tidak menyangka kata-kata maaf yang diucapkan Sehun selalu dapat membuatnya seperti ini. Kata-kata maaf itu selalu dapat membuatnya lumpuh seketika. Surin tidak dapat berbuat apa-apa selain diam dan meresapi kata-kata maaf itu. Sehun meraih tangan Surin lalu mengelusnya dengan perlahan. Sehun menatap kedua mata yang sudah berkaca-kaca itu dengan tatapan bersalahnya. “Maafkan aku atas semuanya. Maafkan aku karena aku tidak menceritakan apapun tentang gadis yang belakangan ini aku tahu sudah mengganggu pikiranmu itu. Maafkan aku karena belakangan ini aku tidak mempunyai waktu untukmu dan bahkan sering lupa dengan janjiku sendiri. Aku benar-benar minta maaf.”

Satu bulir air mata gadis itu jatuh begitu saja membuat Sehun dengan cepat menghapusnya. Sehun merengkuh Surin ke dalam pelukannya lalu mengeratkan pelukannya ketika ia merasakan tidak ada penolakan dari Surin. Sehun mengecup puncak kepala gadis itu, lama berusaha meyakinkan Surin bahwa ucapan maafnya barusan benar-benar ia ucapkan dengan sungguh.

“Aku merindukanmu.” Surin membalas pelukan Sehun membuat laki-laki itu tersenyum lembut. “Aku merindukan kita.” Tambah Surin dengan volume suara yang kecil namun Sehun masih dapat mendengarnya dengan jelas. Surin sendiri tidak dapat marah terlalu lama pada laki-laki itu. Surin sebenarnya ingin, hanya saja ia tidak bisa. Ia terlalu menyayangi laki-laki berkulit putih susu dan bertubuh tinggi itu. Sangat menyayanginya.

“Kalau begitu, sekarang kita ganti saja waktu-waktu yang sudah terlewatkan kemarin dengan malam ini.”

Surin melepas pelukannya pada Sehun lalu menatap laki-laki itu dengan tatapan curiga. “Awas kau kalau sampai macam-macam.” Ancam Surin membuat Sehun tertawa. Sehun mencubit hidung Surin dengan gemas. “Kau saja yang pikirannya sudah macam-macam.”

“Aku sudah menyiapkan ini.” Sehun mengambil sesuatu dari jok belakang mobilnya. Sebuah toples berisikan gulungan-gulungan kertas. “Apa itu?” Surin mulai penasaran akan toples yang berada di tangan Sehun. Sehun hanya tersenyum penuh arti membuat Surin semakin penasaran.

“Kertas untuk bermain Truth or Dare. Pasti kau juga sudah tahu cara bermainnya, kan? Hanya saja aku menyiapkan kertas-kertas ini untuk menambah keseruan dari permainan ini. Kau dan aku akan mengambil kertas dari dalam toples ini. Jika tulisan pada kertas yang kau ambil itu adalah ‘Truth’ berarti kau harus menjawab jujur pertanyaan yang akan aku berikan padamu. Tapi jika kertasnya bertuliskan ‘Dare’, maka kau harus melakukan apa saja yang aku perintahkan. Bagaimana?” Sehun tertawa jahil ketika melihat wajah Surin yang kurang yakin akan permainan tersebut.

“Aku benar-benar punya perasaan tidak enak dengan permainan ini.”

“Ayo cepat. Ladies first.” Ujar Sehun seraya membuka tutup toples itu dan menyodorkannya pada Surin. Surin menatap Sehun yang kini tengah tersenyum itu lalu mengambil salah satu gulungan kertas yang ada pada toples itu. Dalam hati, Surin berharap jika kertas yang diambilnya itu berisikan tulisan ‘Truth’ dan bukanlah ‘Dare’. Surin benar-benar tidak tahu bagaimana nasibnya jika ia mendapatkan ‘Dare’. Sehun pasti akan menjahilinya habis-habisan.

“Truth.” Surin membacanya lalu menunjukannya pada Sehun dengan antusias. “Baiklah, kau harus menjawab jujur pertanyaanku.” Surin mengangguk yakin. Tentu saja ia sangat yakin, selama ini Surin selalu bercerita tentang apapun pada Sehun sehingga Surin rasa sudah tidak ada rahasia lagi diantara mereka. Surin justru malah meragukan apakah Sehun memiliki pertanyaan untuk ditanyakan padanya atau tidak.

“Jelaskan padaku siapa itu Do Kyungsoo.”

“Aku rasa itu bukan pertanyaan tapi perintah, tuan Oh yang terhormat.” Sindir Surin membuat Sehun terkekeh. “Sudah jawab saja. Aku benar-benar penasaran.” Timpalnya sedangkan Surin hanya tertawa meledek. “Kau kan sudah tahu kalau ia adalah seniorku saat kita masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.” Surin menjawabnya dengan santai sementara kini Sehun masih terlihat menginginkan jawaban yang lebih dari itu. Sehun hanya ingin tahu hubungan gadisnya itu dengan Kyungsoo, seniornya di kampus yang menurut Sehun selalu membuntuti Surin saat ia tidak sedang bersama Surin. Ia tidak betah melihat Surin berdekatan dengan laki-laki lain terutama ketika ia sedang tidak berada disekitar gadis itu. Sehun tidak suka, namun ia bingung bagaimana cara memberitahu Surin tentang rasa ketidaksukaannya ini.

“Memangnya kau tidak bisa menjelaskan dengan lebih spesifik?” Sehun berusaha menggali pertanyaannya, menyelami raut wajah Surin yang mendadak tidak dapat ia baca itu, mencoba mencari jawaban akan rasa penasarannya. Jangan-jangan Kyungsoo adalah mantan kekasih Surin saat mereka duduk di bangku SMP? Atau malahan cinta pertama Surin? Membayangkannya saja sudah membuat Sehun tidak tenang. Tentu saja ia merasa tidak tenang. Bagaimana ia bisa tenang kalau saja salah satu dugaannya itu benar? Berarti selama ini ia telah mengijinkan gadisnya itu berdekatan dengan orang yang paling berbahaya. Orang yang dapat merebut hati gadisnya kalau saja pengawasannya lengah.

“Kau ini bawel sekali. Pertama kali aku bertemu dengan Kyungsoo itu saat aku duduk di sekolah menengah pertama. Saat mengambil rapor, ibuku bertemu dengan ibunya dan ternyata mereka berdua adalah teman satu sekolah dasar. Sejak saat itu, Kyungsoo dan ibunya sering bermain ke rumahku dan otomatis saat ibuku tengah asik mengobrol dengan ibunya, Kyungsoo bermain bersamaku. Kita membaca buku cerita bersama, camping, bahkan ia pernah menginap dan tidur di kamarku, lalu—”

“Apa?! Menginap? Satu kamar?”

“Aish, kau mengejutkanku, tahu! Iya dia tidur di bawah dan aku di kasurku.” Sehun langsung menghela napas lega, lalu kembali memperhatikan Surin, meminta gadis itu melanjutkan ceritanya. Sehun hanya berharap ia tidak mendengar pernyataan-pernyataan tidak mengenakan seperti dugaannya.

“Lalu, seiring berjalannya waktu, kami jadi semakin dekat dan ya, hanya sekedar teman sampai sekarang. Kami berdua sudah seperti adik dan kakak. Sedari dulu pun seperti itu, tidak ada yang lebih.” Surin tertawa kecil ketika melihat Sehun yang kini sudah tersenyum sambil menatapnya.

“Apa? Mengapa kau melihatku seperti itu? Aku curiga. Kau cemburu dengan Kyungsoo, ya?”

“Memangnya aku tidak boleh menatap dan bahkan merasa cemburu dengan kekasihku sendiri? Lagipula siapa yang cemburu? Kau juga pasti tidak akan bisa beralih dariku seberapa keras pun usahamu itu jadi untuk apa aku cemburu?” Sehun terkekeh, masih sambil memperhatikan Surin. “Kau ini menyebalkan sekali. Kau itu harus sering-sering jujur dengan perasaanmu. Aku tahu kau cemburu. Kau saja yang terlalu keras kepala untuk mengakuinya.” Surin berujar sambil tertawa membuat Sehun turut serta. Ternyata benar, hubungan diantara keduanya tidak lebih dari sekedar teman. Ya, mungkin lebih hanya saja lebih dalam arti lain, bukan seperti yang ada pada pikiran Sehun. Dan Sehun senang akan fakta tersebut. Ia tidak perlu menyuruh Surin menjauhi teman laki-lakinya itu, bahkan sebenarnya tidak ada sedikit pun terlintas dalam benaknya untuk melakukan hal tersebut. Karena ia percaya dengan Surin. Hanya itulah alasan yang tepat.

Sehun tersadar dari lamunannya ketika ia merasakan Surin merebut toples yang berada di tangannya dengan cepat. “Giliranmu.” Ujarnya membuat Sehun segera mengambil sebuah kertas yang berada di dalam toples tersebut dengan percaya diri. Sehun membacanya kemudian menunjukannya pada Surin. “Truth.”

“Baiklah.” Surin menatap lurus kedua bola mata Sehun yang kini juga tengah menatapnya. “Kalau kau bertanya tentang Kyungsoo, maka aku akan bertanya tentang gadis itu. Siapa dia sebenarnya dan mengapa ia selalu membuntutimu terus belakangan ini?” Surin meluncurkan pertanyaan itu dalam satu tarikan napas, membuat Sehun sempat tertawa kecil karena perubahan emosi Surin yang benar-benar kelihatan.

“Sebenarnya aku ingin menjelaskan ini dari jauh-jauh hari bahkan sebelum semuanya menjadi berantakan seperti belakangan ini.” Sehun menggenggam satu tangan Surin, menyelipkan jari-jari Surin yang lebih kecil itu diantara jari-jari panjang miliknya.

“Ia dan keluarganya memang menginap dirumahku dan akan tinggal untuk satu bulan ke depan. Awalnya ia dan keluarganya tinggal di Busan, lalu pindah ke Seoul karena ayahnya baru saja di PHK, dan ayahku berniat untuk membantu keluarga mereka mengingat jasa keuangan yang telah keluarga mereka berikan untuk ayahku sewaktu ayahku masih muda dulu. Ayahku akhirnya memutuskan untuk memperkerjakan beliau di perusahaannya. Selama satu bulan ini, mereka tengah mencari tempat tinggal dan ya, kau tahu sendiri mencari tempat tinggal di tengah kota Seoul yang padat ini tidaklah mudah. Tentu saja mereka membutuhkan tumpangan terlebih dahulu. Itulah sebabnya mengapa ia dan keluarganya menetap dirumahku.”

“Lalu mengapa ia selalu membuntutimu? Apa ia tidak betah tinggal sendiri dirumah bahkan hanya sampai kau selesai menyelesaikan semua kelasmu di kampus?” Sehun tertawa lalu mengelus jari-jari Surin dengan ibu jarinya, menyadari bahwa Surin mulai cemburu.

“Tentu saja ia membuntutiku. Kekasihnya itu berada di satu kampus yang sama dengan kita dan ternyata satu jurusan denganku. Ia berkata bahwa mereka sudah menjalin hubungan sejak SMA, namun kekasihnya itu pindah ke Seoul untuk melanjutkan pendidikannya.” Surin mengangguk-angguk mendengar penjelasan Sehun. Pantas saja setiap makan siang, gadis itu pasti akan pamit diri terlebih dahulu padahal makanan Sehun dan Surin pun bahkan masih setengahnya terhabiskan. Rupanya saat itu ia akan menemui kekasihnya. Surin pikir hal itu karena gadis tersebut merasa tidak enak dengan Surin yang seakan terganggu dengan kehadirannya. Sekarang, Surin merasa bodoh karena selama ini telah berprasangka buruk terhadap gadis itu.

Sehun berdeham membuat Surin tersadar dari lamunan singkatnya. “Meskipun begitu, mereka tidak memutuskan hubungan mereka begitu saja melainkan melanjutkannya sampai sekarang. Saat hari libur, kekasihnya itu akan datang ke rumahnya untuk mengunjungi keluarganya. Aku salut dengan mereka berdua, walaupun hanya berhubungan lewat telepon dan perangkatnya itu, mereka tetap bertahan bahkan sampai waktu yang sangat lama seperti ini.” Jelas Sehun membuat Surin mengangguk-angguk mengerti.

“Bagaimana? Sekarang sudah jelas, kan? Ayah dan ibuku bahkan sering menanyaimu yang tidak pernah datang lagi ke rumah sejak gadis itu tinggal dirumahku. Dasar pencemburu.” Sehun tertawa di sela-sela ucapannya barusan sementara Surin hanya mengercutkan bibirnya. “Iya aku tahu. Bahkan ibumu sampai menelponku waktu itu hanya untuk bertanya apakah kau dan aku baik-baik saja.” Surin menghela napas lalu tersenyum singkat. Sekarang semua sudah jelas, dan Surin benar-benar merasa lega. Surin mengeratkan genggamannya pada tangan Sehun sambil terus menatap laki-laki yang kini tengah tersenyum padanya itu.

“Aku akui selama ini aku cemburu. Aku tidak bisa kau berdekatan dengan gadis lain seperti itu. Maafkan aku karena aku sudah sangat kekanakan sampai-sampai kita jadi bertengkar hanya karena aku tidak mau mendengarkanmu terlebih dahulu.” Surin menyandarkan kepalanya pada bahu Sehun sementara Sehun hanya terkekeh pelan. Ia senang karena sekarang semuanya sudah jelas. Sehun sendiri juga sudah berjanji pada dirinya, ia tidak akan membiarkan gadisnya itu cemburu lagi.

“Truth sudah, berarti bagaimana kalau sekarang masing-masing dari kita mendapatkan Dare?” Surin mendongakan kepalanya, menatap Sehun yang kini sudah tersenyum jahil. Seketika Surin merasa tertantang. Memangnya hanya laki-laki itu saja yang dapat mengerjainya? Surin juga bisa. Lagipula, jika masing-masing dari mereka mendapatkan Dare, hal itu akan lebih terdengar adil dari pada harus memilih kertas penuh resiko yang ada dalam toples itu. Bagaimana kalau Surin terus yang mendapatkan Dare dan Sehun tidak? Itu malah akan jauh lebih menyebalkan.

“Setuju.” Surin langsung duduk dengan posisi semula. Ia memiringkan tubuhnya untuk menatap Sehun yang kini tampak sudah sangat siap. “Ladies first.” Ujarnya membuat Surin hanya tersenyum penuh arti. Inilah saat yang tepat untuk membalas semua kejahilan Sehun selama ini. Surin akan menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Surin tidak mau kalah lagi.

“Sudah siap?” Sehun mengangguk yakin membuat Surin tersenyum senang. “Kau harus menelpon restaurant yang menyediakan delivery order dua puluh empat jam, lalu yakinkan lah pelayan yang mengangkat telepon tersebut kalau kau benar-benar mencintaiku.” Sehun menganga sambil bertepuk tangan, tidak percaya akan apa yang baru saja di dengarnya. “Woah, Jang Surin. Aku tidak menyangka kau bisa kepikiran ide semacam ini.”

Surin tertawa heboh sementara Sehun hanya mendengus pelan. “Kau serius? Tidakkah ini sedikit keterlaluan?” Surin menggelengkan kepalanya cepat lalu tidak lama setelah itu, Sehun tampak segera merogoh saku celana panjangnya, mengambil ponselnya di dalam sana. “Kalau pelayan itu langsung menutup sambungan teleponnya bagaimana?” Tanya Sehun ragu, namun Surin hanya memandangnya dengan santai. “Kau harus berusaha agar ia tidak menutupnya.” Tanggap Surin membuat Sehun tertawa tidak percaya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sembari memandangi ponselnya dengan ragu sebelum akhirnya memutuskan untuk benar-benar menelpon salah satu restaurant delivery order yang nomornya sudah sangat ia hafal di luar kepala itu.

“Selamat malam, Bonchon Chicken delivery order, ada yang bisa kami bantu untuk pesanan anda?” Surin menyuruh Sehun untuk merubah mode sambungan telepon itu menjadi mode ‘loud speaker’ agar gadis itu juga dapat mendengar percakapan mereka.

“Saya mohon anda jangan putuskan sambungan telepon ini untuk dua menit ke depan.” Sehun menarik napas sementara Surin kini sudah ingin tertawa sekencang-kencangnya ketika ia dapat membayangkan wajah bingung pelayan laki-laki yang kini mengangkat telepon Sehun itu di seberang sana.

“Baiklah, nama lengkap saya Oh Sehun. Saya sangat memohon kerjasama anda untuk tidak memutuskan sambungan telepon ini.” Sehun memberi jeda lalu ia menghela napas lega ketika mendengar jawaban ‘baiklah’ dari sang pengangkat telpon.

“Jadi, saya mempunyai seorang kekasih bernama Jang Surin. Gadis ini sangat pencemburu, kekanakan, dan galak. Mungkin sekarang anda tengah berpikir bahwa saya saat ini sedang mengeluhkan sifat-sifatnya tadi itu pada anda. Tapi sebenarnya tidak. Sifat-sifat tadilah yang membuat saya semakin mencintainya, meskipun saya sendiri tahu bahwa anda sekarang berpikir ucapan saya tidaklah masuk akal, dan bahkan saya dapat menebak bahwa anda tidaklah percaya akan ucapan saya barusan.” Sehun menatap Surin yang kini tidak dapat berbuat apa-apa selain juga menatapnya dengan tatapan tidak percayanya.

“Tidak apa jika anda sekarang benar seperti apa yang saya sebutkan barusan, karena gadis yang berada disamping saya sekarang ini juga tengah mengalami hal yang sama dengan anda. Gadis pencemburu, kekanakan, dan galak yang sudah menemani saya selama hampir tiga tahun terakhir ini sekarang hanya menatap saya dengan tatapan berkacanya, seolah ia baru saja mendapatkan jawaban dari ketidak yakinannya selama ini. Saya hanya berharap dari telepon ini, gadis itu sadar dan semakin yakin bahwa semua yang saya ucapkan barusan adalah benar adanya. Meskipun saya sangat jarang mengatakannya bahkan mungkin saya tidak pernah mengatakannya, tapi saya hanya ingin ia tahu bahwa saya sangat mencintainya.”

Sehun buru-buru menekan tombol merah pada layar ponselnya setelah selesai mengucapkan rentetan kalimat yang ia sendiri tidak tahu dapat keluar begitu saja dari mulutnya dengan sangat lancer. Kau harus tahu bahwa Sehun bukanlah tipe orang yang pandai mengungkapkan perasaannya apalagi dalam bentuk kalimat seperti tadi. Sehun rasa, saat ini otaknya memang sedang bermasalah. Namun, Sehun malah merasa bersyukur. Setidaknya, dengan kesalahan otaknya itu, ia tidak lagi menyalahkan dirinya yang selama ini tidak dapat mengungkapkan perasaannya secara langsung di depan Surin.

“Aku benar-benar tidak menyangka kau dapat bicara seperti tadi.” Surin tertawa namun tawanya terdengar aneh. Sehun tahu gadis itu kini tengah menyembunyikan air mata harunya namun Sehun memilih untuk tidak membahasnya, takut-takut malah merusak suasana diantara mereka.

“Aku juga tidak sadar.” Ucap Sehun sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa sempat canggung dan malu akan apa yang baru saja diucapkannya satu menit yang lalu. “Tapi aku benar-benar memaknainya dan kau sebaiknya menyadari hal itu karena aku tidak akan menyajikan siaran ulang.” Sehun berujar sembari tertawa kecil membuat Surin hanya mendorong lengannya pelan. Tentu saja Surin menyadarinya. Gadis itu bahkan juga sudah berjanji untuk tidak melupakan rentetan kalimat paling romantis yang pernah diucapkan Sehun untuknya itu sampai kapan pun.

“Sekarang giliranku.” Sehun langsung membetulkan posisi duduknya lalu berdeham sementara Surin mulai mengeluarkan keringat di kedua telapak tangannya. Tidak, Surin tidak boleh kalah dengan rasa mulasnya sekarang ini. “Oh Sehun, habis kau kalau macam-macam.” Surin mewanti-wanti Sehun membuat laki-laki itu hanya tertawa heboh. Mendengar tawa laki-laki itu malah membuat perut Surin seakan terasa semakin mulas.

“Aku tidak minta yang macam-macam.” Sehun menyodorkan sebelah pipinya pada Surin lalu menunjuk pipi putih itu dengan satu jari telunjuknya. “Kisseu?” Ujarnya sambil tertawa membuat kedua pipi Surin langsung memerah seketika. Surin berdeham lalu berpura-pura santai namun Sehun lebih dulu menangkap sikap salah tingkahnya itu. “Oh, sepertinya kau tidak mau jika di pipi ya? Bagaimana kalau di—”

“Aish, iya aku akan melakukannya! Kau diam dulu!” Surin langsung memotong pembicaraan Sehun barusan membuat laki-laki itu tertawa jahil. Surin mati-matian menahan detak jantungnya ketika ia mendekatkan wajahnya pada pipi putih milik Sehun itu.

Surin semakin dekat, bahkan kini keduanya dapat menghirup aroma tubuh masing-masing. Surin memejamkan kedua matanya ketika ia dapat merasakan ujung hidungnya sudah menempel pada pipi Sehun. Dalam hitungan detik, bibirnya berhasil mendarat sempurna pada permukaan pipi Sehun. Baru saja Surin akan menarik kepalanya tiba-tiba saja Sehun menolehkan kepalanya, bahkan sebelum Surin sempat melepaskan kecupannya pada pipi putih laki-laki itu hingga kini yang ia rasakan bukan lagi permukaan datar pipi putih milik Sehun, melainkan bibir berwarna pink sempurna milik laki-laki itu. Surin segera membuka matanya lebar-lebar, lalu menutupnya kembali ketika kedua bola matanya malah bertemu pada sepasang mata berbentuk bulan sabit milik Sehun. Sial, laki-laki itu kini malah tersenyum senang ditengah-tengah tempelan bibir mereka yang berhasil membuat Surin ingin pingsan ditempat. Surin benar-benar kalah telak, terutama ketika laki-laki itu malah menangkup kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya yang lebar, dan memperdalam tautan bibir mereka.

Seketika, Surin benar-benar merasa tidak ingat apa-apa lagi.

**

Surin menaikan selimut yang menutupi setengah tubuhnya itu dengan nyaman. Gadis itu berusaha mencari posisi tidur yang nyaman lalu menenggelamkan kepalanya pada bantal yang empuk setelah posisi yang sedari tadi dicarinya itu telah di dapatkannya. Tunggu dulu. Aroma bantal ini adalah aroma bantal miliknya. Bukannya ia tengah berada di mobil yang mogok bersama Sehun?

Surin buru-buru membuka matanya, pengelihatannya tidak salah. Ia berada di kamar tidurnya sekarang ini. Suara Jimi yang tengah bernyanyi riang di luar pun dapat Surin dengar dari dalam sini. Apa ia baru saja bermimpi terjebak disebuah mobil mogok bersama Sehun? Astaga. Surin benar-benar merasa bodoh sekarang. Ini semua pasti karena ia terlalu merindukan Sehun sampai-sampai laki-laki itu dapat muncul di mimpinya semalam. Surin baru saja hendak bangkit dari kasurnya namun seseorang menahan lengannya, membuat Surin langsung berteriak terkejut. Ia semakin terkejut ketika melihat siapa pemilik dari tangan tersebut.

“Ya! Oh Sehun! Apa yang kau lakukan di kasurku?!” Surin baru saja akan melepas cengkraman tangan Sehun pada lengannya namun laki-laki itu dengan cepat menarik Surin ke dalam pelukannya hingga kini Surin sudah kembali terbaring diatas kasur, namun bedanya sekarang ini ia berada di pelukan hangat seorang Oh Sehun yang bahkan sedari tadi belum membuka matanya dan hanya menyunggingkan senyuman manisnya. Rambut Sehun tampak berantakan, membuat Surin seakan langsung kehilangan akal sehatnya untuk sekejap.

Surin kemudian memperhatikan pakaian Sehun. Sehun mengenakan pakaian yang persis seperti apa yang ada di mimpinya semalam. Laki-laki itu mengenakan kaos hitam tipisnya dan jaket baseball berwarna merah. Perbedaannya, kini jaket itu sudah tergeletak di lantai dan Sehun hanya mengenakan kaos hitam tipisnya. Sebenarnya ada apa ini? Jadi, kemarin Surin tidak benar-benar bermimpi? Tapi, kalau kejadian semalam bukanlah mimpi, bagaimana ia bisa berada di apartmentnya lagi? Bukankah mobil Sehun mogok dan montir bengkel yang di telepon Sehun baru akan memperbaiki mobil itu di pagi hari?

“Mengapa kau bingung begitu? Kau lupa dengan kejadian semalam?” Surin mendongak, menatap Sehun yang kini masih memejamkan matanya. Senyuman manisnya pun masih tersungging di wajahnya. “Kejadian apa?!” Surin tampak panik, berusaha mengumpulkan sisa-sisa ingatannya akan apa saja yang ia lakukan kemarin. Namun yang ia ingat hanyalah semua kejadian yang ada dimimpinya saja. Surin langsung menganga, mengingat ada satu kejadian penting pada mimpinya itu. Satu kejadian yang bahkan tidak berani Surin beritahukan pada siapapun apalagi Sehun.

“Mau aku tunjukan lagi?” Sehun tertawa ketika Surin kini berteriak panik. Gadis itu berusaha melepaskan diri dari pelukan Sehun namun sepertinya laki-laki berwatak jahil itu tidak ingin melepaskannya dulu. “Selamat pagi!” Sehun membuka matanya lalu mengeratkan pelukannya pada Surin yang kini hanya pasrah. “Dasar gadis bodoh. Pasti kau berpikir kalau semua kejadian semalam itu hanyalah sebuah mimpi. Iya, kan?” Surin mengangguk perlahan membuat Sehun terkekeh.

“Semua itu nyata. Mobilku sebenarnya tidak mogok, aku memang sengaja berbohong padamu. Ternyata rencanaku berjalan dengan mulus bahkan diluar dugaanku. Setelah kau tertidur pulas, aku langsung membawamu kemari karena aku tidak tega melihatmu tidur di jok mobil yang pasti akan membuat tubuhmu sakit-sakit keesokan harinya.” Sehun tertawa sementara Surin sudah memukul dadanya berkali-kali membuat Sehun sempat mengaduh kesakitan. “Maafkan aku. Kalau tidak begitu, kau tidak akan mau mendengarkan permintaan maafku.” Surin terdiam. Perlahan, Surin mengalungkan satu tangannya pada pinggang Sehun membuat laki-laki itu langsung tersenyum senang.

“Kau belum membalas ucapan selamat pagiku.” Sehun melepaskan pelukannya membuat Surin mengercutkan bibirnya. “Selamat pagi juga, Oh Sehun yang menyebalkan. Sudah merasa puas sekarang?” Surin berpura-pura kesal dengan memunggungi Sehun yang hanya tertawa pelan. Sehun memeluk tubuh gadis itu dari belakang lalu mengecup puncak kepalanya dengan lembut.

“Truth or Dare?” Surin berujar membuat Sehun langsung tertawa. “Tentu saja aku pilih Dare.” Surin tersenyum lalu meletakan telapak tangannya pada tangan Sehun yang melingkari pinggangnya.

“Dare mu adalah, kau harus memelukku seperti ini sampai nanti sore.” Suara tawa mereka berdua menggema diseluruh penjuru kamar. “Sampai besok juga boleh.” Sehun langsung mengeratkan pelukannya lalu meletakan dagunya pada puncak kepala Surin. Sehun sangat menyayangi Surin, dan ia tahu gadis itu juga mengetahuinya. Sehun hanya berharap ia dapat seperti ini sampai kapan pun bersama gadisnya itu.

“Aku menyayangimu, Oh Sehun.”

“Aku juga menyayangimu. Sangat menyayangimu, Jang Surin.”

-FIN.

Ugh. Setiap liat foto Sehun yang di poster bawaannya jadi mau yang romance-romance terus. HUHUHU. Jadi maafkan hasil karya penuh romantika ini. Semoga kalian suka, ya!

Advertisements

7 comments

  1. Realljo · September 24, 2015

    MEY BGT kpn punya pacar kaya oh sehun ya walopun nyebelin tp mey sih trs surinnya bodoh bodoh gt kocak sih tp tetep ae sakit perut kalo fluff bgt parah gini ya

  2. CantikaEXO · March 21, 2016

    Aigoooo☺☺☺☺
    Aku sampai senyum – senyum sendiri baca cerita ini😅
    Mama ku kira aku gila😂😂😂
    Terus semangat membuat cerita yang luar biasa ya author!! FIGHTING!!

    • Oh Marie · March 21, 2016

      HALOOOOOOOOO! Astaga makasih banyak ya Cantika kamu mau main ke wp aku dan baca-baca bahkan ninggalin jejak juga huhu! Love ya<3

      • CantikaEXO · March 21, 2016

        Hihihi😁✌, habis cerita buatan eonni keren – keren! Dan dengan senang hati aku menyukai sekaligus kasih comment✌ Semangat terus ya!

  3. rahsarah · April 21, 2016

    ga pernah ngerasa ga envy kalo baca cerita2 mereka ber 2
    dan aku selalu sukaaa
    ga bosen walaupun harus ngubek2 hehehe

  4. southpole · July 12, 2016

    Hehehehhe sehun emang ajaib bgt ya kadang dia bisa hot banget tapi kalo lagi senyum mata ilang bulan sabit begitu bawaannya pengen peluk uyel2 sampe besok hahahhaa

    Terus aja bikin ff romance fluff begini, terus aja bikin para jomblo makin nelangsa wakkakakak

    • Oh Marie · July 14, 2016

      BETUL BANGET!! Dia kenapa bisa se-peluk-able itu astagaaaaa bawaannya pengen culik aja huahaha.
      HUAHAHAH kan tujuan aku buat ff fluff adalah membuat para jomblo serasa tidak jomblo(?)
      Huweeee btw seneng banget liat kamu membanjiri notif aw aw♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s