Photograph

PHOTOGRAPH

Happy reading!

**

“Jang Surin, otak kecilmu itu rupanya sudah semakin mengecil, ya.”

Surin menatap laki-laki yang sudah selama delapan belas tahun menemani hari-harinya itu dengan tatapan bengis membuat yang ditatap langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat sembari mengacak rambut belakangnya dengan asal, pertanda bahwa laki-laki bernama lengkap Oh Sehun itu memilih untuk mengalah walaupun dalam hatinya ia masih tidak habis pikir dengan yang ada di isi kepala perempuan berambut hitam dan bertumbuh pendek yang ada di hadapannya saat ini.

Pasalnya, perempuan yang tingginya hanya sebatas lengan Sehun itu baru saja mencetuskan sebuah ide tidak terduga. Ide yang membuat pemikiran Sehun menjadi bercabang kemana-mana. Surin melambaikan tangannya pada wajah Sehun membuat laki-laki yang tadinya setengah melamun itu segera tersadar. “Jadi kau mau tidak menuruti permintaanku ini?”

Sehun mendengus mendengar pertanyaan yang seperti menuntut jawaban setuju itu keluar dari bibir Surin yang kini menatapnya dengan tatapan sangar, seolah akan menelan Sehun saat itu juga kalau saja jawabannya bukanlah jawaban yang perempuan itu inginkan. “Untuk apa kau masih bertanya? Memangnya kalau aku menolak, kau akan membiarkanku begitu saja?” Sehun berujar sarkastik membuat Surin terkikik pelan lalu berdeham, dan kembali ke paras wajahnya yang menurut Sehun adalah paras galak yang terlalu dibuat-buat.

“Itu baru Sehun-ku! Hari Sabtu pukul sepuluh pagi di café biasa. Sampai jumpa besok, Oh Sehun!” Surin berjinjit cepat sembari mengacak-acak rambut hitam pekat milik Sehun. Saat ketika Sehun baru akan membalas, perempuan itu menghindar lalu lari dengan kecepatan tinggi sambil tertawa puas membuat Sehun sempat meneriakinya dan mengancamnya.

Sehun tersenyum singkat memperhatikan Surin yang kini tengah melambai ke arahnya. Perempuan tidak terduga itu benar-benar membuatnya tidak habis pikir. Ditengah-tengah persiapan mereka untuk menghadapi lingkungan pendidikan baru yaitu universitas, Surin masih sempat-sempatnya menyewa seorang fotografer yang tidak lain tidak bukan adalah teman mereka sendiri yaitu Kim Jongin, untuk melakukan sesi pemotretan.

Ya, sebuah pemotretan yang ‘mirip’ dengan konsep pre-wedding namun tidak bertemakan cinta. Sehun sendiri tidak mengerti dengan pemotretan macam apa yang akan ia dan Surin lewati esok hari. Yang hanya Sehun ingat, tadi Surin sempat berkata bahwa saat kuliah nanti, kemungkinan mereka tidak bertemu sangatlah besar mengingat universitas keduanya yang saling berjauhan. Untuk itulah mengapa mereka harus melakukan sesi pemotretan ini agar foto-foto yang nantinya akan dijadikan buku untuk masing-masing dari mereka itu dapat selalu mengingatkan mereka pada satu sama lain.

Sehun benar-benar tidak percaya. Perempuan itu seakan baru saja mendefinisikan kata-kata “jarang bertemu” sebagai sebuah kalimat mengerikan yaitu “tidak akan pernah bertemu lagi” yang mana membuat Sehun beberapa detik tadi sempat merasa kesal karena pemikiran teman kecilnya yang dangkal itu. Padahal menurut Sehun, Surin tidak perlu sampai menyewa fotografer gadungan untuk beberapa foto yang dapat mereka ambil sendiri dengan ber-selfie kalau-kalau Surin memang ingin memiliki sesuatu yang dapat mengingatkannya pada satu sama lain.

Namun lagi-lagi, Sehun merasa tidak kuasa untuk menolak permintaan perempuan yang selama ini menempati tempat nomor tiga dihatinya setelah ayah dan ibunya itu. Perempuan yang bahkan menempati tempat ketiga, tempat yang seharusnya di tempati oleh kedua kakak laki-laki Sehun, bukannya malah oleh seorang perempuan keras kepala yang entah sejak kapan menarik perhatian Sehun lebih dari sekedar seorang teman kecil itu.

Jauh di lubuk hati laki-laki berkulit putih susu dan bertubuh jangkung itu, ia sebenarnya luar biasa senang dan sangat bersedia melakukan sesi pemotretan tersebut, walaupun dari luar ia tampak sangat menentang.

Sehun memang bukan orang yang pintar untuk mengutarakan perasaannya.

**

Surin mengetukan jemarinya pada meja bundar yang jika meja itu hidup mungkin sudah mencaci maki Surin karena ketukannya yang lama-lama seakan ingin menghancurkan meja tersebut. Sesekali ia mengaduk cappuccino latte yang hampir habis itu dengan tidak sabar. Ia menghela napas lalu mengecek ponselnya yang tidak kunjung menunjukan tanda-tanda bahwa orang yang ditunggunya itu membalas pesan singkat dan puluhan panggilan tidak terjawabnya tersebut.

“Sepertinya sedang ada yang tidak sabar menunggu sang calon pengantin prianya datang, ya?”

Surin menolehkan kepalanya cepat lalu tersenyum singkat ketika orang yang dari tadi ditunggunya itu akhirnya memunculkan dirinya juga. “Kau terlambat lima belas menit.” Sehun yang kini mengenakan cardigan hitam dengan dalaman kaos putih dan celana panjang hitam serta sepatu sneaker merah persis dengan yang dipakai Surin itu hanya terkekeh pelan lalu segera menempatkan dirinya pada bangku kosong yang berada di depan Surin.

“Jadi, dimana si fotografer gadungan itu?” Sehun tersenyum singkat ketika melihat Surin sempat tertawa karena ia menyebut Jongin sebagai fotografer gadungan.

Menurut Sehun hari ini Surin tampak sangat berbeda. Ia menggerai rambutnya dan membuatnya sedikit bergelombang pada bagian bawah rambutnya ditambah lagi dengan snapback merahnya. Ia mengenakan cardigan putih yang berlawanan dengan yang Sehun kenakan, mengingat mereka kemarin sudah sempat berbicara mengenai kostum untuk hari ini. Ia juga mengenakan kaos hitam untuk dalamannya, serta rok putih selutut yang semakin mempermanis penampilannya. Tidak lupa juga sepatu sneaker merah kesukaannya dan Sehun yang sengaja mereka beli dua minggu lalu saat berjalan-jalan di daerah Hongdae.

“Jongin sudah siap. Mungkin sekarang ia sudah mulai memotret kita.” Surin terus tersenyum sementara Sehun menaikan alisnya, masih bertanya-tanya. “Ia bersembunyi di dekat kita?” Sehun memperhatikan ke sekeliling, berusaha mencari tempat persembunyian Jongin, teman dekatnya dan Surin sejak dari sekolah dasar itu.

“Memang ini poin utamanya. Kita tidak perlu merasa terpaksa untuk di foto. Foto-foto yang nantinya akan dicetak adalah gerak-gerik natural dari kita berdua. Ini semua memang ide cemerlang Jongin. Aku sempat salut padanya.” Surin menjelaskan sementara Sehun hanya memperhatikannya dengan seksama.

“Gerak-gerik natural? Apanya yang natural kalau kau terus tersenyum manis padaku seperti ini? Padahal ekspresimu yang natural setiap bertemu denganku adalah seperti ini.” Sehun buru-buru menautkan alisnya seperti orang marah lalu meletakan kedua tangannya di depan dada. Surin segera memukul kepala laki-laki itu menggunakan tas kecilnya membuat yang dipukul hanya mengaduh kesakitan sambil tertawa-tawa sementara Surin berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sudahlah ayo kita keluar dari sini. Aku tidak mau satu buku hanya berisi foto-foto kita duduk sambil bertengkar di café ini.” Sehun menahan tawanya lalu mengangguk-anggukan kepalanya, tanda ia setuju. Sehun mulai bangkit berdiri lalu meraih tangan Surin dan menggenggamnya dengan erat. Mereka berjalan berdampingan dengan senyuman yang mereka tidak sadari mulai merekah di wajah keduanya ketika gadis-gadis SMA dan sebagian orang-orang yang ada di café itu menatap mereka dengan tatapan iri.

Sehun dan Surin mulai menusuri daerah Myeongdong yang ramai oleh para pedagang kaki lima maupun orang-orang yang berbelanja itu sambil menikmati ice cream yang baru saja mereka beli. Biasanya, daerah Myeongdong memang sangat ramai pada saat akhir pekan seperti ini. Pedagang kaki lima yang ada pun bertambah jumlahnya dibandingkan dengan hari biasa. Barang yang mereka jual mulai dari makanan ringan, minuman dingin, aksesoris sampai pakaian.

Sehun menarik tangan Surin ke arah salah satu toko yang menarik perhatiannya. “Pet shop?” Gumam Surin membuat Sehun hanya mengangguk. Mereka mulai memasuki toko itu dan seketika itu juga suara gonggongan anjing yang berada di beberapa keranjang pajangan yang ada di toko itu langsung menyapa mereka. Kebanyakan dari anjing-anjing itu adalah jenis anjing kecil yang kata penjualnya tidak bisa besar. Ada juga anak anjing dari berbagai jenis peranakan.

Seekor anjing kecil yang berhasil menarik perhatian Surin adalah anjing yang tampak diam saja, terlihat tidak begitu peduli bahkan ketika Surin mengelus kepalanya dengan pelan. Anjing kecil itu berbulu putih bersih. Bulunya yang halus hampir menutupi wajahnya yang kecil membuat Surin ingin sekali membawanya pulang.

“Sehun-a, kemarilah ke sini! Lihat anjing kecil ini.” Surin meletakan anjing kecil yang tenang itu pada gendongannya. Anjing kecil itu menggeliat, tampak sangat nyaman berada di gendongan Surin. Bahkan ia mulai mengatupkan kedua matanya yang kecil. Surin tersenyum pada Sehun yang kini juga tengah memperhatikan anjing kecil itu.

“Anjing kecil ini mirip sekali denganmu.” Sehun langsung menatap Surin dengan tatapan tidak terima. “Kau menyamakanku dengannya? Surin-a, selucu-lucunya anjing kecil ini, ia tetaplah seekor anjing. Bagaimana bisa kau menyamakannya dengan manusia ciptaan Tuhan paling tampan sepertiku ini.” Surin tertawa pelan lalu memukul lengan Sehun yang kini juga tengah tertawa bersamanya.

“Bukan karena rupanya. Melainkan karena sifat tenangmu yang entah mengapa aku temukan pada anjing kecil ini.” Sehun tertawa sementara Surin menatap anjing kecil yang sudah tertidur itu dengan senyuman yang membuat Sehun sebenarnya ingin tertawa sampai terpingkal-pingkal. Tatapan yang menurut Sehun sama seperti tatapan seorang ibu ketika melihat anak yang baru dilahirkannya berada di pelukannya. Memikirkannya saja Sehun sudah hampir mau tertawa lagi.

“Kita beli, ya?” Surin menatap Sehun yang kini menaikan alisnya, tampak terkejut. “Aku mengajakmu kemari hanya untuk melihat-lihat saja bukan untuk membeli. Cepat letakan kembali.” Surin mengercutkan bibirnya, masih menatap Sehun yang kini juga tengah menatapnya. “Jang Surin. Aku tidak akan mudah luluh dengan tampang menjijikanmu itu. Cepat letakan kembali.” Surin menggelengkan kepalanya cepat lalu menatap Sehun lagi, kali ini lebih dalam dari yang tadi.

“Wah, wah pasangan muda mau mencari binatang peliharaan, ya?” Sang pemilik toko menghampiri mereka membuat keduanya langsung tersenyum ramah. “Anjing kecil yang tidak bisa menggonggong itu sudah sangat lama menjadi penghuni toko ini. Banyak orang yang berminat karena jenis anjing ini yang tidak dapat bertumbuh besar, namun seketika mereka merubah pikiran mereka ketika mengetahui bahwa anjing ini terlahir cacat pada pita suaranya sehingga tidak bisa menggonggong. Jika kalian mau mengambilnya, saya akan memberikan kalian harga khusus.”

Surin langsung menatap anjing kecil itu dengan tatapan tidak tega. Surin merasa semakin tidak tega jika harus meletakannya kembali ke keranjang pajangan tersebut. Pasti ia hanya akan berada disitu untuk waktu yang lama. “Bagaimana kalau kita patungan?” Surin menatap Sehun yang rupanya sudah lebih dulu menatapnya. Mereka terdiam sesaat lalu Sehun berdeham kecil untuk memecahkan keheningan.

“Baiklah, kita ambil anjing ini. Tolong sekalian dengan kandang kecil dan keperluan lainnya ya.” Sehun berujar pada sang pemilik toko yang tampak senang. Surin memberikan anjing yang tengah tertidur itu pada sang pemilik toko yang segera bergegas membawa anjing untuk mempersiapkan semuanya seperti perintah Sehun tadi.

Surin tersenyum lembut pada Sehun. Gadis itu segera mendekat dan memeluk lengan Sehun erat sembari memejamkan kedua matanya. Senyuman yang masih mengembang seakan tidak mau pudar dari wajahnya. “Terima kasih, Oh Sehun.” Sehun terkekeh dan dengan cepat merebut snapback merah milik Surin lalu memakainya. Ia mengacak rambut Surin dengan gemas membuat Surin hanya memejamkan matanya kembali sembari mempererat pelukannya pada lengan Sehun.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka. Namun bedanya sekarang ditemani oleh anjing kecil yang kini tampak antusias melihat ke arah sekeliling dari dalam kandang kecil yang kini seakan dipeluk oleh kedua tangan Surin.

Setelah lima belas menit berjalan-jalan dan membeli beberapa jenis jajanan kaki lima, mereka berniat untuk beristirahat sebentar. Sehun dan Surin segera menempati salah satu kursi panjang kosong yang tepat berada di bawah pohon rindang. Orang-orang yang berlalu-lalang tidak sebanyak daerah utama Myeongdong tadi sehingga mereka bisa menghirup udara segar dengan lebih leluasa.

Sehun mulai menyantap sate ikan yang tadi dibelinya sementara Surin masih memperhatikan anjing kecil yang kini sudah tertidur kembali dengan nyamannya pada kandang kecil beralaskan bantal seukuran kandang tersebut. “Sebaiknya kita beri nama apa ya?” Surin terus memperhatikan kandang kecil yang berada di pangkuannya itu sementara Sehun masih asik menyantap jajanannya.

“Karena dia perempuan bagaimana kalau kita menamainya Jang?” Surin segera menggelengkan kepalanya ketika mendengar saran asal dari Sehun. “Anjing kecil ini kan bukan hanya anjingku tapi anjingmu juga. Oh iya! Kalau begitu kita campurkan saja nama kita. Se-Su? Se-Rin? Hun-Su? Hun-Rin? Astaga Hun-Rin! Itu nama yang bagus, kan?!” Sehun tertawa seketika setelah mendengar ucapan Surin barusan.

“Mengapa kau malah tertawa, sih? Menyebalkan.” Surin mendorong lengan Sehun pelan sementara Sehun masih berusaha untuk menghentikan tawanya. “Hunrin. Hm, bagus juga. Tapi sepertinya itu lebih cocok untuk nama manusia. Biasanya anjing namanya kan hanya Moli, Lolo, Blacky, Snowball, ya semacam itu. Jangan Hunrin, sebaiknya Hunrin kita simpan saja untuk dipakai di masa depan.” Sehun berujar sembari mengambil minuman sodanya dan segera menegaknya sementara Surin hanya menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

“Simpan? Masa depan? Maksudmu?” Sehun tertawa membuat Surin semakin kebingungan. “Nanti kalau kau sudah lebih besar lagi kau pasti akan mengerti.” Ujar Sehun sembari mencubit kedua pipi Surin sementara gadis itu menatap Sehun dengan tatapan malas sambil memukul tangan Sehun yang masih mencapit kedua pipinya itu berkali-kali.

“Bagaimana kalau kita namai dia Chubby saja?” Sehun melepas cubitannya ketika pukulan Surin semakin kencang. “Barusan itu kau meledekku?” Surin menatapnya galak sembari mengelus pipinya yang sekarang mulai memerah. “Kalau kau merasa ya berarti bukan salahku.”

Surin mendengus lalu kembali memeluk kandang yang berada di pangkuannya. “Aku akan menamainya Snowy yang artinya salju karena bulunya yang putih bersih, dan sifat tenangnya yang sama seperti salju.” Sehun mengangguk menyetujui. “Lumayan.” Komentarnya membuat Surin hanya tersenyum singkat.

“Surin-a.” Surin menoleh dan menatap Sehun yang lagi-lagi sudah lebih dulu menatapnya. “Ada apa?” Tanya Surin sambil tersenyum. Tatapan Sehun yang dalam diikuti dengan alis tebalnya yang seakan bertaut itu selalu menjadi favoritnya entah sejak kapan.

“A-ah, tidak ada apa-apa. Hanya saja, pelukanmu pada kandang itu kencang sekali.” Sehun mengacak rambutnya asal. Sebenarnya bukan itu yang ingin ia sampaikan. Ada hal lain yang sedari tadi seakan terus menerus memaksanya untuk segera mengatakannya pada Surin.

Surin memberikan kandang itu pada Sehun sambil tersenyum. “Aku tahu kau sebenarnya bukan ingin mengatakan hal itu. Ada apa, sih? Cepat katakan saja.” Sehun berdeham sementara Surin masih menatapnya dengan salah satu tangannya yang kini tengah menopang dagunya.

“Bukan apa-apa. Hanya saja hari ini kau tampak berbeda. Aura keibuanmu seakan keluar saat kau menggendong anjing kecil ini.” Surin tertawa terbahak membuat Sehun juga turut serta. Ia sendiri tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakannya tapi sepengetahuannya, bukan itu yang ingin ia sampaikan pada Surin.

“Kau ini ada-ada saja. Dan sekarang ini, aura kebapakanmu juga seakan keluar.” Surin berkomentar sembari memperhatikan Sehun yang tanpa ia sadari sudah memeluk kandang kecil itu. “Aish, ini adalah percakapan tidak penting yang pernah kita bicarakan selama delapan belas tahun terakhir.” Surin mendekatkan dirinya pada Sehun dengan menggeser posisi duduknya. Ia meletakan kepalanya pada bahu Sehun sambil terus tersenyum. Ada perasaan nyaman setiap kali Surin melakukan hal ini. Perasaan nyaman yang entah mengapa malah membuatnya merasa bahagia setiap kali merasakan debaran jantungnya bersatu padu dengan para kupu-kupu yang seakan terbang di dalam perutnya.

“Sehun-a, aku ingin menanyakan sesuatu padamu.” Sehun memandang Surin yang kini menatap lurus jalanan yang ada di depannya. Ia menggerak-gerakan kedua kakinya sementara Sehun menunggu pertanyaannya. “Mengapa kau tidak jadi mengambil beasiswa yang diberikan universitas London itu?”

Sehun menghela napas. Sebenarnya Sehun sendiri tahu kalau semua orang juga pasti memiliki pertanyaan yang sama dengan Surin. Semua orang termasuk kedua orangtuanya yang tampak sangat kecewa ketika Sehun memutuskan untuk tidak mengambil beasiswa tersebut. Meskipun belajar diluar negeri merupakan cita-cita orangtuanya sejak ia kecil, Sehun merasa ia tidak ingin meninggalkan Korea. Ia ingin berada disini. Di dekat orang-orang yang ia cintai. Termasuk orang yang kini tengah menatapnya dengan tatapan sedih bercampur tanya itu.

“Karena aku merasa universitas terfavorit di Korea yang juga memberiku beasiswa itu tidak kalah bagus dengan universitas di London sana.” Surin mendengus mendengarnya. “Walaupun kau sudah menyiakan kesempatan terbaik dalam hidupmu, kau ada benarnya juga. Mungkin aku juga akan berpikir dua kali kalau aku diberi kesempatan itu. Aku tidak ingin tinggal disana sendiri tanpa keluargaku.” Surin menambahkan membuat Sehun tersenyum.

“Sehun-a.” Sehun menoleh kearah Surin yang masih menatap jalanan yang ada di depannya. “Sebentar lagi kita akan memasuki dunia kuliah. Kau dan aku pasti akan punya kesibukan masing-masing. Apa kita masih dapat jalan-jalan seperti ini?” Sehun tertawa sementara Surin mendengus mendengar gelakan tawa laki-laki jangkung itu.

“Kita masih berada di negara yang sama. Kota yang sama. Rumahku juga tidak terlalu jauh dari rumahmu. Kau saja yang berlebihan.” Surin hanya mengangguk-angguk malas sambil mengambil napas pelan.

“Kau itu tidak tahu bagaimana sibuknya orang kuliah. Mereka akan menghabiskan waktunya untuk pekerjaan kampus bahkan pada akhir pekan. Apalagi kau juga akan bertemu banyak perempuan-perempuan cantik yang nantinya akan menarik perhatianmu. Kau akan memiliki kekasih dan kita akan semakin jarang bertemu karena waktu yang dapat kita gunakan untuk bertemu, pasti akan kau habiskan bersama kekasihmu itu. Kau tahu tidak? Itulah mengapa aku menyewa Jongin untuk melakukan sesi pemotretan ini.”

“Ya. Aku memang akan memiliki kekasih dan sudah pasti pula aku akan menghabiskan waktuku bersama kekasihku itu.” Surin segera menatap Sehun dengan garang. Ia menarik kepalanya dari bahu Sehun lalu kembali ke posisi awal duduknya. Ia terdiam dengan wajah murung membuat Sehun tidak tahan untuk tidak tertawa. Setelah puas tertawa, Sehun bangkit berdiri dari duduknya dan berlutut di hadapan Surin. Ia menangkup pipi gadis yang tidak Sehun sangka sudah berkaca-kaca dan hampir menangis.

“Tapi sayangnya aku tidak akan pernah bisa memiliki kekasih kalau seseorang belum menjawab pernyataan cintaku saat aku dan dia duduk di bangku sekolah dasar tepatnya kelas empat.” Ujar Sehun membuat Surin langsung terpaku.

Jika Surin tidak salah ingat, Sehun memang sudah pernah menyatakan cinta padanya. Saat itu mereka tengah dalam acara sikat gigi bersama yang memang selalu diadakan sekolahnya sehabis makan siang. Surin yang saat itu lupa membawa sikat gigi sangat panik. Ia takut pada wali kelasnya yang akan berubah menjadi sangat galak jika menangkap ada salah satu murid yang tidak menggosok giginya sehabis makan siang.

Surin ingat saat itu saking paniknya, ia meminjam sikat gigi milik Sehun setelah laki-laki itu selesai menyikat giginya. Sehun berkata ia akan meminjamkannya kalau Surin mau menjawab pernyataan yang akan dikatakannya. Karena Surin sedang dalam keadaan terdesak, mau tidak mau ia menyetujui syarat dari Sehun. Sehun mulai berkata bahwa ia menyukai Surin dan bertanya apakah Surin mau menjadi kekasihnya atau tidak. Sehun juga menambahkan, kalau ia tidak mau maka Sehun tidak akan meminjamkan sikat giginya, tapi jika Surin menjawab mau, maka Sehun dengan sangat senang hati akan meminjamkan sikat gigi tersebut padanya.

Surin pun akhirnya berjanji akan menjawab pertanyaan Sehun sepulang sekolah nanti. Sebelum Sehun sempat berkata lagi, Surin sudah lebih dulu merebut sikat giginya dan lari begitu saja. Sehun awalnya merasa senang dan sangat antusias menunggu bel pulang sekolah. Namun ketika jam pulang sekolah tiba, Surin tiba-tiba saja di jemput oleh ayahnya yang berkata bahwa ibunya telah meninggal dunia dan akan di kremasi. Sehun melihat Surin yang menangis di tempat, meraung dalam gendongan ayahnya.

Sejak saat itu, keduanya tidak pernah mengungkit masalah pernyataan cinta Sehun lagi walaupun keduanya masih sangat ingat dengan jelas kejadian tersebut.

“Jadi, bagaimana kalau kau menjawabnya sekarang? Maukah kau menghabiskan waktumu bersamaku? Maukah kau menemaniku saat aku sedang susah dan senang? Maukah kau menjadi kekasihku, Jang Surin?”

Surin terpaku. Dunianya benar-benar seakan berhenti saat itu juga. Tatapan hangat Sehun yang kini mengunci kedua bola matanya seakan benar-benar membawanya lebih jauh kedalam pesona seorang Oh Sehun yang tiada habisnya itu.

Surin mengangguk perlahan dengan satu bulir air mata yang jatuh begitu saja. “Tentu saja aku mau.” Sehun menghapus air mata Surin lalu bergerak perlahan dan mengecup dahi gadis itu lama. Keduanya memejamkan mata, merasakan rasa bahagia yang kini memenuhi hati keduanya.

“Aku rasa kita baru saja membuat pose bagus untuk photobook yang akan Jongin cetak.” Sehun berujar dan seketika mereka berdua tertawa bersama.

Untuk yang pertama kalinya selama delapan belas tahun, Surin merasa seperti perempuan paling beruntung sedunia.

Begitupun pula dengan Sehun yang kini tengah memeluk gadisnya dengan erat itu.

**

“Jadi, inilah hasil sesi pemotretan kemarin. Aku hampir saja ditangkap polisi karena dikira stalker. Kalian berdua berhutang banyak padaku.” Jongin menyerahkan dua buku tebal berukuran lumayan besar kepada Sehun dan Surin yang kini tengah duduk dihadapannya. Mereka tampak asik menyantap makanan siangnya. Jongin menganga ketika melihat Surin yang dengan sigap memberikan minuman pada Sehun ketika laki-laki itu tersedak. Sehun juga tampak membantu Surin untuk memotong steaknya menjadi beberapa bagian agar Surin dapat dengan mudah memakannya.

“Tunggu dulu. Aku tidak salah lihat kan? Oh Sehun dan Jang Surin? Berlaku mesra seperti sepasang kekasih harmonis? Aku tidak gila, kan? Apa yang sudah aku lewatkan? Jimi masih milikku dan bukan milik Byun Baekhyun kan?” Jongin berujar tidak mengerti membuat Sehun dan Surin tertawa seketika.

“Tentu saja Jimi masih milikmu dan Byun Baekhyun masih berusaha untuk merebutnya darimu.” Komentar Surin membuat Jongin mendengus cepat. “Jadi, kalian berdua sudah berpacaran? Sejak kapan?” Jongin langsung mengintrogasi sementara Sehun dan Surin masih asik dengan makanannya. “Sejak sesi pemotretan itu.” Jawab Sehun cepat sembari menyesap lemon teanya.

“Sepertinya aku tahu sesuatu. Jadi, adegan kecupan pada dahi Surin itu bukan adegan yang disengaja? Astaga aku bahkan tidak bisa mempercayai ini semua.” Komentar Jongin membuat Sehun dan Surin tertawa lagi. “Kalian harus membayarku dua kali lipat untuk ini.”

Surin segera mengambil photobook karya Jongin itu dan melihat isinya. Terdapat banyak foto bagus dan lucu yang berhasil membuat Surin memekik girang dan gemas melihatnya.

Fotonya benar-benar dimulai dari café, pet shop, dan bahkan saat mereka duduk di bawah pohon rindang. Foto yang paling Surin suka adalah foto ketika Sehun mengecup dahinya dan mereka berdua tampak memejamkan matanya masing-masing. Saat melihatnya, Surin benar-benar dapat merasakan perasaan tulus seorang Oh Sehun saat itu. Bahkan kini Surin sudah kembali bergetar ketika mengingat bibir pink itu mendarat di dahinya dengan sempurna.

Surin terus melihat-lihat sambil sesekali memperlihatkannya pula pada Sehun. Mereka berdua tertawa sementara Jongin hanya melihat mereka dengan malas walaupun sebenarnya ia senang juga melihat Sehun yang akhirnya bisa menyatakan perasaannya pada Surin. Ia senang pada akhirnya kedua sejoli yang dari kecil sudah bersama-sama itu dapat bersatu seperti sekarang ini.

Dan jika kalian penasaran foto mana yang menjadi foto favorit Sehun, maka Sehun akan menjawab, foto saat mereka berdua berada di pet shop, bertatapan sembari menyunggingkan senyum untuk satu sama lain, dengan Snowy yang berada di pelukan hangat Surin.

Sehun berharap suatu saat nanti ia dapat melihat foto itu dengan versi barunya, dimana Surin menggendong buah hati mereka sambil bertatapan dan saling menyunggingkan senyum hangat untuk satu sama lain.

“We keep this love in this photograph,
We made these memories for ourselves,
Where our eyes are never closing,
Our hearts were never broken,
Times forever frozen still.”

-fin.

Hope you like it!

Advertisements

3 comments

  1. Realljo · August 19, 2015

    Ah bagus gilak so fluff w ampe sakit perut bacanya gegara aya kupu kupu berterbangan huhu tenang aja hunrin tetap jaya dan jimi masi milik jongin ya byun baekhyun emang pho jadi biarin aja tararengkyu dari realljo di cimahi

  2. rahsarah · April 21, 2016

    aw so sweet banget
    pasti foto2nya bagus2 banget..
    jadi penasan sam foto yg terakhir

  3. southpole · July 11, 2016

    ♥♥♥♥♥♥♥♥♥

    Saking ga ada kata2 lain yg bisa menggambarkan perasaan

    Anyway akan kah snowy muncul di kisah2 selanjutnya seperti kamera sehun, merah surin, baek-jimi-jongin, kyungsoo, & playstation hehehhe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s