Begin Again

zZZZZZ

Surin’s side.

( Read this before : Amnesia – Sehun’s side https://ohmarie99.wordpress.com/2015/05/02/amnesia-2/ )

Surin memandangi pantulan dirinya di kaca besar meja rias yang terletak di sudut kamarnya. Ia merapikan rambutnya lalu memoleskan lipstick merah tipis pada bibirnya. Surin menghela napas, sembari meyakinkan hatinya yang tiba-tiba merasa berat. Ia mengecek ponselnya yang kini tampak bergetar, menandai adanya pesan singkat yang baru masuk. Surin membukanya lalu tersenyum berat ketika membacanya.

From : Dyo

Sudah siap? Kau benar tidak mau aku jemput? Baiklah kalau begitu, jangan sampai terlambat karena ini adalah acara rapat sesi pemotretan pre-wedding kita. Lima menit lagi aku juga akan berangkat. Sampai bertemu disana.

Surin tidak boleh seperti ini. Ia tidak boleh membiarkan pertahanannya selama tiga tahun hancur begitu saja karena melihat Sehun yang tampak tidak baik-baik saja itu, datang ke acara pertunangannya dengan Kyungsoo satu minggu yang lalu.

Ia yakin perasaannya sudah berakhir. Ya, perasaannya terhadap Oh Sehun sudah berakhir dan kini ia sudah menyerahkan seluruh perasaannya pada seorang Do Kyungsoo yang sangat mencintainya, yang menghargainya, yang tidak akan pernah mengecewakannya seperti apa yang dilakukan laki-laki itu.

Namun entah mengapa, ketika sepasang bola mata berwarna cokelat pekat itu kembali menatapnya, ketika sosoknya yang tinggi itu berdiri kembali dihadapannya, ketika tangan laki-laki itu kembali menjabat tangannya dengan lembut, ketika aroma tubuhnya dapat kembali Surin hirup, ada sebagian dirinya yang merasa ingin kembali. Kembali kepadanya yang sudah jelas-jelas dulu malah membuangnya begitu saja.

Surin meyakinkan dirinya sekali lagi. Perasaannya untuk laki-laki itu sudah berakhir sepenuhnya. Surin tidak boleh membawanya kembali. Surin tidak akan membiarkan perasaan itu kembali menyakitinya. Ya, Surin tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi lagi.

**

“Apa kalian sudah menunggu lama?” Surin langsung menghampiri Kyungsoo yang tampak tengah duduk manis dan berbincang pada tim fotografer yang akan mengatur pemotretan pre-wedding mereka setelah baru saja ia sampai pada salah satu café yang sialnya kembali mengingatkan Surin pada laki-laki itu.

Mungkin Kyungsoo tidak tahu kalau café ini adalah café favoritnya dengan Sehun dulu sehingga ia merencanakan rapat tentang sesi pemotretan pre-wedding itu disini. Surin mencoba untuk memaklumi hal itu namun ia tidak mengerti mengapa emosinya sangat berlebihan hari ini.

Surin ingat bahwa ini adalah café dimana untuk pertama kalinya Sehun dan Surin bertemu. Surin juga ingat bagaimana kejadian konyol yang malah membuat mereka terlibat semakin jauh itu terjadi.

Saat itu pesanannya dan Sehun tidak sengaja tertukar. Awalnya Surin tidak menyadarinya dan langsung meminum chocolate bubble tea itu begitu saja. Ia pun langsung bergegas, hendak pergi dari café tersebut sambil terus meminum bubble tea yang baru dibelinya, namun ketika ia hendak membuka pintu café tersebut, seseorang mencegahnya.

Orang itu mengambil bubble tea yang tengah Surin minum membuat ia sangat terkejut. Sepersekian detik kemudian orang itu menunjukan satu gelas strawberry bubble tea tepat dihadapan wajah Surin membuat gadis itu menganga tidak percaya. Surin baru sadar kalau bubble tea yang tadi ia minum itu bukanlah bubble tea rasa strawberry seperti pesanannya.

Setiap hari ia pun semakin sering bertemu dengan orang yang Surin sebut dengan sebutan ‘choco bubble tea’ itu di café tersebut. Hingga pada suatu hari, orang itu mengajak Surin mengobrol terlebih dahulu sembari menunggu pesanan mereka. Ia berkata bahwa ia sering melihat Surin di kampus. Bahkan setelah mereka berbincang banyak, mereka jadi saling tahu bahwa mereka dulunya adalah teman satu sekolah saat duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Bagi Surin, Café ini meninggalkan banyak kenangan. Sangat banyak sampai-sampai Surin merasa beberapa menit yang lalu, dadanya sempat sesak ketika ia hendak masuk ke dalam café tersebut.

Surin berusaha mengontrol perasaannya dan tersenyum manis sembari menempatkan dirinya disebelah Kyungsoo yang kini tengah tersenyum lembut padanya. “Woah, kalian benar-benar pasangan serasi. Pasti hasil foto-foto kalian nanti akan berbeda dengan pasangan lainnya yang pernah menggunakan jasa kami.” Ujar seorang laki-laki yang tampak jauh lebih tua darinya itu membuat Surin hanya tersenyum tipis sementara Kyungsoo kini tertawa pelan.

“Baiklah, karena ini rapat terakhir dan hari sabtu besok kita akan segera melaksanakan pemotretannya, saya akan mengulang kembali rencana yang sudah kita bentuk ini. Temanya adalah Traveling, dimana kita akan mengunjungi beberapa tempat untuk melakukan pemotretan yaitu di Pulau Jeju dan Nami.”

Tim fotografer itu terus menjelaskan sementara Surin hanya memperhatikannya dengan tatapan kosong. Otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih sehingga seluruh ucapan tim fotografer itu tidak dapat ia tangkap. Surin membenci dirinya yang seperti ini.

Surin tersadar dari lamunannya ketika Kyungsoo menggenggam tangannya lembut. “Bagaimana? Kau suka dengan temanya, kan? Kita akan berangkat ke Jeju hari Jumat nanti. Bersiaplah.” Surin mengangguk sambil tersenyum membuat Kyungsoo mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Surin.

“Kalau begitu, rapat terakhir ini sudah selesai. Kami sudah mempersiapkan semua property yang diperlukan dari jauh-jauh hari, jadi anda hanya perlu mempersiapkan diri anda.” Tim fotografer itu menjabat tangan Kyungsoo dan Surin lalu segera meninggalkan café tersebut.

“Aku pikir rapat ini akan memakan waktu yang lama karena protesan-protesan ketidakpuasanmu seperti rapat yang pertama kali. Kau yakin tidak ada lagi yang harus dirubah?” Surin tersenyum lalu menggelengkan kepalanya perlahan. “Kalau aku memprotes mereka lagi, bisa-bisa mereka kesal lalu membatalkan pemotretan ini, bagaimana?” Kyungsoo tertawa terbahak membuat Surin hanya tersenyum tipis. “Kau lucu sekali.”

I think its strange that you think I’m funny, cause he never did.

“Aku jadi benar-benar tidak sabar.” Surin mengernyitkan dahinya, menatap Kyungsoo yang kini juga tengah menatapnya dengan senyuman. “Tidak sabar untuk apa? Pemotretan?” Surin menanggapi sambil tertawa kecil. “Untuk segera mengganti cincin pertunangan ini dengan cincin yang asli.” Kyungsoo menyelipkan jemarinya pada jemari-jemari Surin lalu memperhatikan cincin Surin dengan sebuah senyuman senang. Surin merasa hatinya semakin berat kala ia menatap senyuman itu dan mendengar semua ucapan tulus dari Kyungsoo untuknya.

Surin merasa berdosa karena ada sebagian dalam dirinya yang berharap orang yang tersenyum seraya menuturkan kalimat tulus itu adalah orang yang dulu pernah menyakitinya.

Hujan turun begitu deras membuat Kyungsoo langsung mengalihkan pandangannya ke arah jendela tersebut bersamaan dengan Surin. Seketika Surin merasa hari ini benar-benar adalah hari yang mengingatkannya pada laki-laki itu.

Surin ingat, setiap Sehun dan Surin bertemu disini, entah mengapa selalu dalam keadaan yang tengah hujan deras seperti sekarang ini. Surin ingat Sehun akan duduk di depannya sembari membawa pesanan mereka berdua. Ia dan laki-laki itu berakhir dengan mengobrol, menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bertukar cerita sambil memandangi jendela yang basah karena air hujan.

Air hujan yang dulu selalu memberikan ketenangan dan kehangatan tersendiri bagi Surin, kini malah terasa begitu dingin dan asing.

“Kau tidak apa?” Surin tidak menyadari kalau sedari tadi Kyungsoo tengah memperhatikannya yang tengah larut dalam pikirannya sendiri. Surin berusaha mengangguk dan tersenyum namun Kyungsoo menggenggam tangannya erat. “Hari ini kau terlihat aneh. Apa ada masalah yang tidak kau ceritakan padaku?”

Surin menggelengkan kepalanya pelan, berusaha meyakinkan Kyungsoo bahwa ia tidak apa-apa. “Aku ke toilet sebentar.” Surin bangkit berdiri namun seketika itu juga tubuhnya oleng karena heels lima centinya tersangkut pada kaki meja tersebut. Untung saja Kyungsoo dengan sigap menahan tangannya, hingga ia dapat menahan tubuhnya yang hampir tersungkur itu.

“Aku sudah yakin dari awal bahwa kau sedang tidak apa-apa.” Kyungsoo membantu Surin untuk duduk kembali di kursi yang berada di sebelahnya. “Mengapa kau memakai sepatu tinggi lagi, sih? Aku sudah memperingatimu untuk tidak memakai sepatu semacam itu lagi karena sepatu itu tidak hanya akan membuatmu hampir terjatuh seperti tadi, tapi juga membahayakan kesehatan kakimu.” Kyungsoo mengomel membuat Surin hanya terdiam sambil menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

Rentetan kalimat Kyungsoo tadi benar-benar tidak asing bagi Surin. Rentetan kalimat itu seingat Surin juga pernah di katakan oleh seseorang. Seseorang yang mengkhianatinya dan kembali menemuinya satu minggu lalu di acara pertunangannya. Seseorang yang datang dengan wajah muram, membuat Surin tidak kuasa untuk tidak khawatir. Seseorang yang kini malah datang kembali, mengacak hatinya yang sudah susah payah ia perbaiki.

Surin ingat dulu Sehun pernah memarahinya karena ia memakai high heels dan hampir terjatuh karena sepatu tinggi itu. Saat itu Surin ingat ekspresi kesal Sehun saat ia berkata kalau ia hanya ingin menjadi perempuan yang tinggi semampai, seperti model-model yang Sehun suka agar laki-laki itu tidak berpaling darinya dan memilih model-model itu. Sehun sampai melepaskan sepatu heels-nya saat itu juga dan memasangkan kedua sepatu ketsnya pada kaki Surin yang jauh lebih kecil.

Laki-laki itu sempat telanjang kaki dan hanya mengenakan kaos kaki hitamnya sampai akhirnya Jongin menawarkan sandal jepitnya sebagai pinjaman, yang kebetulan selalu Jongin letakan di loker pribadinya.

“Mengapa kau menangis? Apa ada yang sakit?” Kyungsoo mulai berujar panik melihat keadaan Surin sekarang. Kyungsoo menepuk pelan kepalanya, untuk menenangkan sembari mengecek kaki Surin yang kini tampak tidak apa-apa itu dengan tatapan bingung.

Lagi-lagi perlakuan Kyungsoo sekarang ini mengingatkannya pada laki-laki itu. Setiap Surin menangis, Sehun akan menepuk-nepuk kepalanya pelan tanpa berkata satu patah katapun sampai akhirnya Surin berhenti menangis. Walaupun memakan waktu sejam, Sehun tetap sabar menenangi Surin. Surin pun merasa hatinya akan merasa lebih baik setiap Sehun melakukan hal tersebut.

Namun sekarang, hatinya tidak terasa lebih baik. Hatinya malah terasa semakin kacau dan ia tidak tahu bagaimana untuk menghentikan kekacauan tersebut. Lukanya seolah terbuka kembali, dan meskipun seseorang mencoba untuk mengobatinya, meskipun seseorang itu adalah Kyungsoo, ia merasa lukanya tidak akan membaik begitu saja.

“Kyungsoo-ya, maafkan aku.” Surin menghapus air matanya cepat lalu menatap Kyungsoo yang kini menatapnya dalam diam.

“Maafkan aku karena kini aku malah merindu—”

“Kau benar-benar tidak merasa sakit, kan? Ayo kita segera pulang. Aku rasa kau butuh istirahat.” Kyungsoo mengalihkan pembicaraan Surin, membuat hati dan pikiran gadis itu semakin kacau. Ia merasa sangat jahat bagi laki-laki sebaik Kyungsoo. Ia merasa bodoh kalau ia malah memilih laki-laki yang menyakitinya daripada laki-laki yang benar-benar mencintainya seperti Kyungsoo.

Kyungsoo sendiri dari awal memang sengaja mengatur rapat pemotretan itu di café ini. Kyungsoo tahu kalau café ini adalah café favorite Surin dan Sehun. Kyungsoo hanya ingin melihat apakah gadis itu benar-benar sudah melupakan laki-laki itu atau belum. Kyungsoo hanya ingin tahu apakan gadis itu benar-benar siap membangun bahtera rumah tangga bersamanya tanpa mengingat apapun dari masalalunya lagi.

Namun Kyungsoo merasa ia baru saja mendapatkan jawabannya. Jawaban yang tidak ingin ia dengar. Jawaban yang sebaiknya tidak ia dengar. Karena Kyungsoo tidak mau melepaskan gadis itu. Ia tidak mau melihat Surin bersama laki-laki yang hanya dapat menyakitinya. Bagaimanapun caranya, Kyungsoo tidak akan membiarkan Surin kembali padanya meskipun ia sendiri tidak tahu bagaimana cara merubah hati Surin agar gadis itu dapat benar-benar mencintainya dengan sepenuhnya.

Surin mengangguk pelan lalu bangkit berdiri dengan Kyungsoo yang memeluk bahunya.

Surin harus melupakannya karena laki-laki yang kini tengah memeluknya erat, mencoba mengalirkan sebuah kehangatan pada bahunya yang dingin dan bergetar itu, jauh lebih pantas untuk dicintai dari pada seseorang yang malah membuangnya dan mengkhianatinya begitu saja.

Ya, hanya itu yang perlu Surin ingat.

Ia berusaha tersenyum lalu mengalungkan satu tangannya pada pinggang Kyungsoo membuat laki-laki itu turut tersenyum dan menuntunnya dengan perlahan ke mobil yang terparkir tepat di depan café tersebut.

But on a Wednesday in a cafe I watched it begin again.

**

Epilog

“Aku senang kau baik-baik saja sekarang.” Surin mendongak, ia terkejut ketika menyadari bahwa yang ada dihadapannya kini adalah seorang Oh Sehun. Angin malam yang berhembus ke arah mereka mengisi kekosongan yang sempat hadir untuk beberapa menit.

Laki-laki itu kini tampak sangat tampan. Tidak, menurut Surin, setiap hari laki-laki itu memang selalu tampan. Ia mengenakan setelan jas, lengkap dengan dasi hitam yang menghiasi kemeja putih dibalik jas hitam tersebut. Surin masih tidak bergeming sampai-sampai ia merasa tubuhnya mulai kedinginan karena angin malam yang terus berhembus ke arahnya.

Surin memang sengaja keluar untuk mencari angin, karena di dalam gedung terlalu ramai. Tidak, bukan itu alasan yang sesungguhnya. Mungkin, laki-laki yang tengah berdiri dihadapannya sekarang inilah alasan yangt tepat mengapa ia memutuskan untuk keluar ditengah-tengah acara pertunangannya sendiri.

“Dan juga, kau tampak cantik dengan gaun putih panjang itu.” Sehun berjalan mendekat membuat Surin langsung mundur satu langkah. Sehun yang menyadari hal itu langsung menghentikan langkahnya dan hanya memperhatikan Surin dengan tatapan menyesal, sedih, kacau, yang Sehun tahu tidak akan meluluhkan hati Surin yang kini sepertinya sudah benar-benar memblokir namanya dari dalam sana.

“Terima kasih kau sudah datang. Permisi, aku ke dalam dulu.” Surin melangkah hendak melewati Sehun begitu saja namun laki-laki itu menahan lengannya erat membuat Surin terkejut seketika.

“Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” Sehun berujar tanpa memandang Surin yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang berkaca-kaca. Surin tidak akan menangis lagi dihadapannya. Ia sudah berhasil memegang janji itu selama ini, dan sekarang ia tidak mau mengingkari janji yang sudah susah payah ia pegang itu.

“Aku tidak punya waktu untuk seorang pengkhianat.” Surin berusaha melepas cengkraman Sehun dari lengannya namun tenaga laki-laki itu lebih kuat darinya yang sudah mulai rapuh.

Surin berusaha untuk menahan air matanya kala ia dapat menghirup aroma tubuh Sehun yang sangat ia rindukan itu. Surin berusaha untuk menahan air matanya kala ia kini dapat melihat wajah yang sangat ia rindukan itu dari dekat. Surin berusaha untuk menahan air matanya kala memori buruknya seolah terputar ulang, membuatnya semakin membenci laki-laki itu namun dalam waktu bersamaan, ia dapat merasakan rasa benci itu bercampur dengan rasa rindu yang berusaha dihapusnya, membuatnya merasa hampir gila.

“Apa kau bahagia sekarang?”

Surin menatap Sehun yang kini masih tidak menatapnya itu dengan mata yang sudah basah.

“Ya. Aku bahagia. Jauh lebih bahagia. Aku bahagia karena Tuhan menunjukan padaku betapa berharganya aku untuk seorang pengkhianat. Aku bahagia karena Tuhan mengirimkanku seorang laki-laki yang mencintaiku sepenuh hati. Aku benar-benar bahagia.”

Surin memberikan penekanan pada kata-kata terakhirnya membuat Sehun menatapnya dengan tatapan yang tidak Surin mengerti. Surin melihat kesedihan disana. Surin dapat merasakan kalau laki-laki itu benar-benar menyesali perbuatannya.

Namun semuanya sudah terlambat. Seharusnya laki-laki itu menyadarinya sedari dulu. Seharusnya laki-laki itu mencegah semua ini terjadi.

“Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menyesali semuanya. Aku benar-benar menyesalinya. Aku tahu aku harus membayar semua ini sekarang. Selamat berbahagia, Jang Surin.”

Sehun melepaskan cengkramannya pada lengan Surin dengan perlahan membuat Surin tidak kuasa menahan tangisnya yang pecah saat itu juga.

“Aku akan menghapusmu. Tidak, mulai dari detik ini, aku bahkan sudah menghapusmu.” Surin dapat melihat Sehun tersenyum lemah. Melihat senyuman itu entah mengapa hati Surin semakin sakit.

Jika Surin menyingkirkan logikanya untuk sementara, Surin ingin Sehun menahannya. Surin ingin Sehun mengucapkan kata-kata yang akan membawanya kembali pada laki-laki itu. Surin ingin laki-laki itu meminta maaf dan memulai semuanya kembali. Surin ingin Sehun melakukan hal itu dari pada harus tersenyum lemah seperti tadi.

“Kau memang sudah seharusnya menghapusku. Aku harap Kyungsoo memang yang terbaik untukmu. Aku harap ia tidak melakukan kebodohan yang pernah aku lakukan. Oh tidak, ia tidak akan pernah melakukan hal itu, aku dapat melihatnya sendiri. Aku dapat melihat kalau ia benar-benar mencintaimu. Kalau begitu, ini benar-benar adalah akhir dari kita. Dari perasaanku maupun perasaanmu.”

Tidak. Bukan itu yang mau Surin dengar darinya.

“Selamat tinggal, Jang Surin.”

Sehun melangkah pergi. Langkah yang sama seperti dulu. Langkah yang membawanya menjauh dari Surin. Langkah yang Surin tidak sanggup untuk lihat kembali.

Surin mengacak rambutnya lalu terduduk di lantai atap gedung tersebut sembari memperhatikan punggung Sehun yang semakin menjauh. Menjauh dari kehidupannya.

Pada akhirnya, Surin lah yang ditinggalkan dan ia lah yang selalu melangkah pergi.

-FIN

Yeay! This is the last ff. Im going to hiatus from now on. Thanks for reading and bye-bye!

Advertisements

5 comments

  1. Realljo · May 3, 2015

    Kok jadi gue yang baper ):

  2. azira · May 25, 2015

    Yahhhh…kok mereka kak jadian lagi T_T..aku kn suka ma serin coupleT_T…huhuhuhu…selamat hiatus kak,ditunggu ff lainnya 🙂

  3. tailorswift122 · May 27, 2015

    Eonni hiatus kenapa? Jgn lama2 yah, aku setia nungguin kedatangan author beserta hun~rin couple loh huehuehue..
    Sekali2 bikin ff tentang jongin yah thor ? Dia biasku di exo hehehe..
    Ff yg ini juga nyesek spt yg amnesia..huehue Surin masih sempet kepikiran ama sehun ya, terus akhirnya gimana tuh? Surin jadi married ama dyo ato sehun ?
    Wajib sequell thor hehehe..
    Nan jeongmal joahae~♥♥♥

  4. rahsarah · April 20, 2016

    ahhhh surin harusnya kamu yg cegah sehun, tuhkan jadi pergiii sehunnya
    tar aku yg rebut loh hahah

  5. southpole · July 11, 2016

    Duh kyungsoo strong bgt sih.
    Ayo Surin kamu pasti bisa move on!! Oh sehun hanya memori masa mudamu Surin, berbahagialah dengan masa depanmu!!

    #kebawaemosi

    Wqwqwq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s