Amnesia

AMNESIA

Sehun’s side.

Musim panas yang akan menghantarkan hembusan angin hangat dilengkapi dengan sinar matahari yang akan menemani langit biru, merubah warna kebiruan langit menjadi lebih terang dengan warna oranye bercampur kuning menyala akan datang sebentar lagi.

Banyak orang yang kini sekedar berjalan-jalan di kawasan sungai Han, untuk pula merasakan perubahan musim yang semakin hari semakin terasa itu. Dibawah sinar matahari yang perlahan mulai mengurangi pancaran sinar teriknya itu, terdapat seorang laki-laki yang tengah tenggelam dalam pemikirannya sendiri, masih terdiam, menatapi sungai Han yang tampak tenang itu dengan tatapan kosong.

Sekitar dua puluh menit berlalu, ia masih membiarkan dirinya terdiam dan hanya menatapi pantulan bayangan dirinya itu pada permukaan air sungai tersebut. Ia menghela napas kemudian mengambil ponsel yang terdapat di dalam saku celana panjangnya. Lagi-lagi helaan napas beratnya menyatu dengan angin yang berhembus ke arahnya.

Ia menatap layar ponsel yang masih dalam mode terkunci itu dengan berat hati. Foto seorang gadis yang tengah memegang serangkai bunga dengan senyuman senangnya itu tampak terpampang sebagai wallpaper ponselnya. Pada akhirnya pun, ia kembali membenci dirinya yang sampai saat ini belum berniat untuk mengganti wallpaper ponselnya sama sekali.

Saat hendak memasukan ponsel itu ke dalam saku celana panjangnya kembali, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi nyaring, menandai adanya sebuah panggilan masuk. Laki-laki itu memandangi nama sang penelpon sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengangkatnya setelah sempat mempertimbangkan keraguannya.

“Ya! Oh Sehun! Dimana kau sekarang? Acara pertunangannya akan dimulai lima menit lagi. Kyungsoo itu teman kita, bagaimana pun juga kau tidak boleh bertingkah seperti ini.” Suara berat seorang laki-laki bernama lengkap Park Chanyeol yang sudah menjadi temannya sejak dari sekolah menengah pertama itu mengusik telinganya. Ia sudah tahu pasti teman-temannya yang lain pun akan menanyai keberadaan dirinya sekarang ini sebentar lagi. Laki-laki bernama Oh Sehun itu tersenyum miris. Entah mengapa sebagian hatinya merasa pedih kala memikirkan perkataan Chanyeol tadi. Sehun sendiri mengakui bahwa ada sebagian hatinya yang merasa berat dan tidak rela dengan hanya memikirkan kalimat Chanyeol tadi.

“Apa hari ini ia terlihat cantik?” Pertanyaan bodoh itu terlontar begitu saja seiring dengan tawa meledek Chanyeol yang bagi Sehun semakin memperburuk suasana hatinya itu terdengar jelas di telinganya.

“Oh Sehun, ayolah jangan bertingkah seperti anak kecil. Kau harus ingat kalau semua ini terjadi karena pilihanmu dulu. Jadi, sekarang sudah bukan waktunya kau menyesal. Cepat datang karena aku tidak mau Kyungsoo berpikir yang tidak-tidak di hari spesialnya ini hanya karena tingkahmu.” Sehun hanya terdiam, mendengarkan nada terputusnya sambungan telepon mereka dengan wajah tanpa ekspresinya.

Sehun tersenyum pahit. Apa yang Chanyeol katakan memang benar adanya. Gadis itu pergi karena kesalahannya sendiri. Kesalahannya tiga tahun lalu yang memang benar-benar tidak bisa dimaafkan. Terkadang Sehun merasa bodoh karena terkadang ia sempat berpikir, apakah hubungannya dulu dengan gadis itu benar-benar nyata? Kalau memang semua itu nyata, mengapa gadis itu tampak baik-baik saja seperti sekarang ini? Namun pemikiran egois itu pasti tidak akan bertahan lebih lama ketika Sehun tahu pasti dulu gadis itu menanggung rasa sakit yang lebih besar karena kesalahannya.

Dan sekarang, mungkin ini waktunya ia menempati posisi gadis yang sekarang sudah menempuh jalan baru dan berhasil memperbaiki dirinya itu, menempati posisi gadis itu dan hanya dapat menyesali kebodohannya tanpa dapat melakukan apapun untuk memperbaikinya.

**

“Selamat untuk kalian berdua.” Sehun menjabat tangan Kyungsoo dan gadis yang tampak cantik dengan gaun putih panjang sederhana namun elegant itu dengan senyuman yang ia tahu, bukanlah sebuah senyuman tulus. “Maaf aku sedikit terlambat, ada urusan sebentar tadi.” Ujarnya membuat Kyungsoo hanya menepuk pundaknya sambil tersenyum senang.

“Ya! Kemana saja kau baru datang saat mereka berdua sudah selesai bertukar cincin?” Jongin menepuk pundak Sehun membuat laki-laki itu hanya terdiam tanpa membalas apapun kecuali mempertahankan senyumannya yang terlihat semakin aneh kala ia menatap gadis yang kini tampak bahagia, mengalungkan tangannya pada lengan Kyungsoo dengan erat.

“Tidak apa. Yang penting kau sekarang sudah datang. Nikmatilah pestanya, kami kesana dulu. Ada tamu penting dari rekan kerja ayahku yang sepertinya juga baru datang.” Kyungsoo menuntun gadisnya dengan menggenggam satu tangan gadis itu, yang kini tengah bertengger apik pada lengannya. Sehun tidak memungkiri bahwa senyuman yang diberikan gadis itu padanya beberapa detik yang lalu malah membuatnya semakin terpuruk. Langkahnya dan Kyungsoo yang kini berjalan menjauhi dirinya terasa bukan hanya sekedar langkah menjauh biasa, melainkan langkah menjauh dalam arti yang lain. Dalam arti yang Sehun sendiri takut untuk mendengarnya.

Chanyeol, Jongin, Baekhyun, Junmyeon, Jongdae, Minseok, Yixing, dan Tao hanya menatapnya penuh rasa iba, bahkan kini Chanyeol dan Jongin sudah menepuk bahu Sehun yang mencoba berusaha menghindar. “Sudahlah, kau lihat kan kalau sekarang kini Jang Surin tampak sangat berbahagia berdampingan bersama Kyungsoo?” Junmyeon berusaha memecah keheningan yang sempat menyelimuti mereka. Sehun tidak bisa berkata-kata ketika menyadari kalau ucapan Junmyeon memang nyata. Gadis bernama lengkap Jang Surin itu kini malah tertawa bersama Kyungsoo dan keluarga mereka. Benar-benar tampak sangat berbahagia.

Surin yang kini tengah merapikan tata letak rambut Kyungsoo yang sedikit berantakan itu sekarang benar-benar tampak berbeda dengan Surin tiga tahun lalu. Surin yang hancur berkeping-keping karena rasa kecewanya terhadap pria bodoh yang kini hanya dapat memandanginya dengan bibir yang kelu. Sehun masih ingat dengan jelas bagaimana kejadian itu terjadi. Kejadian yang mungkin selamanya akan menjadi penyesalannya.

-flashback-

Saat itu suasana Bugak Skyway sangat sepi, mengingat hari sudah sangat malam. Surin sengaja ke tempat ini karena ia merindukan sosok Sehun yang sudah dua bulan tidak dapat ia hubungi. Tempat ini adalah tempat favorit Sehun. Tempat dimana Sehun pertama kali menyatakan perasaannya pada Surin. Tempat mereka selalu menghabiskan waktu bersama dikala tidak ada tempat lagi untuk menjernihkan pikiran kusut mereka.

Sehun selalu berkata padanya, jika Surin sedang merasa tidak ada yang berjalan dengan baik, maka datanglah kemari. Sehun berkata, luapkanlah perasaanmu dengan berteriak sekeras-kerasnya karena yang hanya akan mendengarmu adalah lampu-lampu dari seluruh penjuru kota dan angin malam yang berhembus, membawa segala perasaan sedih itu pergi bersama langit malam yang gelap.

Sehun juga berjanji bahwa ini akan menjadi tempat mereka berdua. Hanya mereka berdua. Surin menghela napas, merasakan angin malam yang datang menyapanya. Ia merindukan Sehun. Ia merindukan Sehun yang selalu akan memeluknya dari belakang jika ia tengah merentangkan tangannya seperti ini, menghalau dinginnya angin malam yang berusaha menerpa tubuhnya.

Ia menghela napas, perasaannya tidak bertambah baik namun ia mencoba untuk tersenyum. Ia mengedarkan pandangannya untuk sekedar menghalau rasa sepi yang tiba-tiba merambat ke seluruh sudut hatinya. Sekilas ia menangkap bayangan seseorang yang sangat ia kenal. Surin yakin pengelihatannya tidak mungkin salah karena orang itu tengah berdiri di bawah satu-satunya lampu yang ada di tempat tersebut.

“Oh Sehun!” Surin yang benar-benar tidak mempercayai penglihatannya sekarang ini hanya dapat berteriak, memanggil seorang laki-laki yang kini tampak tengah memeluk seorang perempuan dengan mesra. Laki-laki itu menoleh cepat ketika Surin berlari menghampirinya. Surin benar, orang yang ada dihadapannya sekarang ini adalah kekasihnya. Orang yang ada dihadapannya sekarang ini adalah Oh Sehun, orang yang pernah berjanji bahwa tempat ini hanya akan menjadi tempat mereka berdua.

“Kau siapa? Mengapa kau bisa kemari? Kau stalkerku ya?!”

Rentetan kalimat itu membuat Surin tercekat sampai-sampai ia tidak bisa bernapas sedikitpun. Laki-laki yang tertangkap basah tengah berselingkuh itu justru malah yang seakan menembak Surin dengan senapan ditempat.

“Noona, ayo kita pergi dari sini. Gadis ini hanya salah satu dari ribuan fansku di kampus. Mungkin dia yang paling fanatik dari semuanya sampai membuntutiku seperti ini.” Surin membenci dirinya yang tidak bisa berkata apa-apa kala hatinya semakin hancur. Ia hanya dapat menangis sambil menatap kedua bola mata Sehun yang terasa dingin itu. Dia bukanlah Sehun yang Surin kenal.

“Tunggu sebentar, Sehun-a. Kau tidak boleh seperti itu terhadap fansmu sendiri. Girl, are you okay?” Gadis yang tengah berbicara dengan logat Korea yang aneh itu hendak menyentuh pundaknya namun Surin buru-buru menepis tangannya. Rupanya ia adalah mahasiswi pindahan dari luar negeri yang kini tengah hangat dibicarakan satu kampus itu. Surin juga sekarang tahu kalau gadis itu adalah seniornya dengan mendengar panggilan Sehun untuknya beberapa menit yang lalu.

“Oh Sehun.” Surin mengumpulkan nyawanya yang entah sudah lenyap kemana. Ia berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan hatinya dan menguatkan dirinya sendiri untuk mengucapkan kalimat terakhirnya.

“Terima kasih untuk semuanya. Kau benar, aku hanyalah salah satu dari ribuan fansmu. Ya, hanya fans fanatikmu yang tidak berhak mencampuri urusanmu. Mulai sekarang, aku akan membereskan perasaanku terhadapmu. Aku tidak akan lagi mengganggu atau membuntutimu, kau tenang saja. Semoga kau berbahagia dengan pilihanmu. Aku pergi.”

-flashback end-

Kata-kata terakhir itu masih Sehun ingat dengan jelas. Kata-kata yang gadis itu ucapkan dengan susah payah beriringan dengan tangisannya yang membanjir dan hatinya yang berat.

Sehun harap ia dapat kembali ke waktu itu. Sehun harap ia dapat membuat Surin tetap berada disisinya dan bukannya malah membiarkannya pergi dengan luka seperti saat itu. Ia hanya berharap agar ia dapat membuat semuanya kembali seperti semula.

Baekhyun menyadarkannya dari lamunan panjangnya dengan menepuk keras kepalanya. “Penyesalan memang selalu akan datang terlambat.” Ujarnya membuat yang lain langsung merangkulnya, membawa Sehun yang masih terdiam kosong itu, ke salah satu tempat duduk yang mejanya sudah dipenuhi dengan berbagai macam makanan yang tidak satupun ingin Sehun makan.

Sehun terduduk sambil menundukan kepalanya, ia membuka ponselnya untuk sekedar mengalihkan perasaan kacaunya sementara teman-temannya yang lain berbincang-bincang seru. Sehun merasa jantung dan hatinya diremas kala ia membuka galeri fotonya. Disana masih ada file foto yang belum dihapusnya. File bernamakan ‘SS’. Sehun merasa bodoh karena malah membukanya disaat-saat seperti sekarang ini.

sssss

Sehun tersenyum pahit. Ia ingat bagaimana dulu ia sengaja menaruh playstationnya di apartment Surin hanya agar ia mempunyai alasan untuk berlama-lama disana. Sehun ingat bagaimana Surin akan memarahinya karena tidak kunjung pulang padahal hari sudah sangat larut. Sehun ingat bagaimana Surin memainkan rambutnya dengan menguncirnya setiap ia tengah asik bermain playstation karena gadis itu berkata bahwa ia bosan. Sehun ingat bagaimana mereka bermain playstation bersama, tertawa jika salah satu dari mereka kalah, dan bertengkar kala menentukan game apa yang akan mereka mainkan.

Dengan hati yang berat, Sehun terus membuka satu persatu foto tersebut. Ia tidak tahu mengapa sekarang ia menjadi laki-laki yang cengeng.

ssssssssssss

Sehun ingat foto ini diambil saat mereka berkencan ke Busan dengan menggunakan kereta. Awalnya kencan mereka ini hanya di dasarkan dari rasa penasaran Surin yang ingin mencoba ramen terenak di Busan yang baru tadi pagi ia tonton di salah satu acara wisata kuliner di televisi. Sehun yang saat itu mobilnya tengah dipakai Jongin untuk menjemput Jimi dari tempat kursus memasaknya, karena mobil Jongin tengah di servis itupun mau tidak mau menyetujui saran Surin untuk menaiki kereta. Lalu saat hendak pulang, Sehun ingat ia dan Surin salah menaiki kereta yang bukannya membawa mereka ke Seoul, melainkan malah membawa mereka ke Yeouido. Sehun ingat pula bagaimana mereka tertawa bersama seperti orang gila, menertawai kebodohan mereka sendiri.

Sehun benar-benar merindukan hari itu. Ia benar-benar merindukannya. Jemari Sehun terus berlanjut membuka foto selanjutnya. Foto yang juga meninggalkan cerita menarik dibaliknya.

ssssssssssssssssssssss

Foto ini diambil ketika Sehun baru saja membeli sebuah motor vespa baru. Sehun ingat bagaimana ia menelpon Surin dengan antusias dan langsung menjemputnya di apartmentnya untuk berkeliling dengan motor vespa baru itu, padahal hari sudah sangat larut. Surin sempat memarahinya dan bahkan memukulnya berkali-kali, namun Sehun tetap menculiknya dengan motor vespa yang Surin bilang jalannya sangat pelan seperti kura-kura itu. Sehun juga ingat bagaimana Surin memarahinya karena ia membawa gadis itu ke warung tteokbeokki di pinggir jalan. Surin bukan marah karena masalah Sehun membawanya ke warung yang terdapat di pinggir jalan, hanya saja ia marah karena dietnya gagal akibat Sehun memaksanya makan dua mangkuk tteokbeokki.

Sehun benar-benar masih belum menyangka kalau semua ini sekarang hanyalah sebuah memori yang tidak bisa ia ulang kembali. Ia masih belum menyangka kalau sekarang ini Surin tengah duduk manis disamping laki-laki lain dengan paras yang bahagia. Penyesalan Sehun semakin terasa kala ia melihat Surin membisikan sesuatu pada Kyungsoo, lalu tertawa bersama-sama.

Sehun sadar, seberapa jauh pun ia mengenang semua ceritanya dengan Surin, gadis itu tidak akan pernah kembali lagi ke sisinya. Sehun baru saja hendak memasukan ponsel tersebut ke sakunya kembali namun tiba-tiba satu foto berhasil menahan niatnya.

sssssss

Hanya dengan melihatnya saja Sehun sudah merindukan aliran hangat yang ia rasakan kala ia menggenggam tangan tersebut. Jika ia memikirkan kesalahannya dulu terhadap gadis itu, Sehun merasa tidak pantas mendapat genggaman hangat dari tangan tersebut. Ia tahu dan harusnya senang kalau kini tangan itu sudah menemukan pasangannya yang tepat, bukan lagi tangan yang hanya dapat meremukannya dan melukainya.

“Ya, hadirin yang kami cintai, selamat malam. Selamat menikmati makan malam yang telah disediakan. Namun, sebelum kita bersama-sama menyantap makan malam kita, ada satu pengumuman yang ingin kami umumkan.” Kedua orang tua Surin dan Kyungsoo tampak berdiri bersama diatas sebuah panggung, membuat seluruh mata tamu undangan terarah pada mereka. Sehun melirik Surin yang kini tersenyum manis seraya duduk disebelah Kyungsoo yang juga tampak tersenyum antusias. Senyuman gadis itu adalah senyuman favoritnya, namun sekarang, ia tidak tahu mengapa sekarang senyuman itu terasa begitu menyakitkan untuk dilihat.

“Kami sebagai orangtua dari dua sejoli yang kini tampak tengah berbahagia disana itu, akan mengumumkan bahwa dua bulan dari sekarang pernikahan mereka akan dilangsungkan. Kami mohon doa dan dukungan dari para hadirin agar semuanya berjalan dengan lancar dan baik sampai pada hari berbahagia tersebut.” Kyungsoo dan Surin berdiri diiringi dengan tepuk tangan para tamu undangan yang sangat meriah.

“Kisseu! Kisseu! Kisseu!” Para tamu undangan mulai meneriaki mereka dengan seruan tersebut membuat keduanya tertawa canggung sambil bertatapan satu sama lain. Sehun benar-benar ingin membenturkan kepalanya kemana pun sekarang juga. Ia benar-benar tidak sanggup.

Kyungsoo memeluk pinggang Surin dengan satu tangannya dan langsung mengecup kening Surin perlahan membuat tepuk tangan semakin terdengar meriah diseluruh penjuru ruangan tersebut. Surin tampak tersenyum sambil memejamkan matanya. Dari situ Sehun tahu, bahwa gadis itu telah benar-benar pergi.

Tidak ada cara lain selain turut tersenyum, berbahagia bersamanya.

Meskipun jauh di dalam hati, Sehun berharap ia dapat tertidur dan bangun dalam keadaan amnesia, sehingga ia dapat melupakan gadis itu dan perasaan ini sepenuhnya.

-FIN

I will hiatus after i publish ‘Surin’s side’ of this ff. Thanks for reading.

Advertisements

3 comments

  1. tailorswift122 · May 27, 2015

    Aduh..sehun nyesel bgt yah disini, ff nya sedih bgt tho~
    Ceritanya sederhana namun entah kenapa menjadi begitu menarik pas dibaca, kekurangannya apa yah? Zay belum nemuin nih hehehe …keep writing, jeongmal joahae ♡♥

  2. rahsarah · April 20, 2016

    ya ampun nyesek bnget jadi oh sehun disini..
    rasanya pasti mau lenyap aja dari bumi ini ya hun?
    huhuhu sini aku peluk hun *lah

  3. southpole · July 11, 2016

    WAH AKHIRNYA ADA ENDING ANGST JUGA
    Walopun bukan ending favoritku tapi di sini ya sehun pantas sih tersiksa begitu HIH SIAPA SURUH MENDUAKAN SURIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s