Love’s Helper

00

It’s been a long time, right? Then enjoy my presents!

**

“Jadi bagaimana? Kau sudah menemukan kasus yang ingin kau pecahkan?” Sehun segera menempatkan diri untuk duduk dihadapan Surin yang tengah sibuk dengan beberapa kertas dan laptop yang ada dihadapannya. Sesekali dahi Surin berkerut dengan serius sambil terus menatap layar laptop itu. Ia tengah membuka situs tempat ia dan Sehun bekerja.

Ya, Surin dan Sehun membangun usaha bersama dalam satu situs internet yang sudah dari lima tahun lalu mereka kelola bersama. Situs tersebut bernama ‘S&S Love’s Helper’ yang mereka khususkan untuk membantu para pasangan diluar sana yang tengah terlibat masalah dalam perjalanan percintaannya. Awalnya mereka hanya membantu para pasangan yang berada di kawasan sekitar kampus mereka saja, namun lama-kelamaan situs mereka semakin besar dan menyebar terutama diseluruh kalangan para mahasiswa dari seluruh kampus di Seoul.

Meskipun begitu, Sehun dan Surin tidak meladeni semua permintaan bantuan. Mereka akan memilih mana kasus yang memang benar-benar dapat mereka atasi saja. Banyak orang yang sudah berkali-kali mengirimkan formulir namun berkali-kali juga formulirnya ditolak. Bahkan banyak juga orang yang berjanji akan memberikan tarif dua kali lipat, namun Sehun dan Surin tetap tidak mau karena Sehun dan Surin sendiri merasa mereka berdua tidak akan bisa mengatasi masalah tersebut. Ya, kalian tahu sendiri, terkadang ada masalah dalam hubungan yang memang harus diatasi oleh kedua belah pihak itu sendiri, bukan oleh orang lain.

Hal ini juga mereka lakukan karena mereka tidak mau kalau sampai kasus yang mereka tangani malah menambah kekacauan dalam hubungan tersebut, kata lainnya adalah gagal. Oleh sebab itu, mereka menerapkan sistem ‘penyaringan’. Dari sepuluh kasus, mereka hanya akan mengambil tiga sampai lima kasus saja dan harus selesai dalam waktu satu bulan. Tarif yang mereka kenakan pun tergantung dari masalahnya. Untuk masalah yang memerlukan waktu banyak, mereka akan kenakan tarif lebih mahal dari tarif umum.

Uang yang mereka dapat dari S&S Love’s Helper, mereka tabung bersama untuk sebuah target yang hanya diketahui oleh kedua sejoli yang sudah bersahabat sedari taman kanak-kanak dan kini sudah menjadi sepasang kekasih selama kurang lebih tujuh tahun itu.

Sehun menyodorkan ice coffee latte pesanan Surin kemudian menyesap minumannya sendiri, sambil membaca tulisan-tulisan pada kertas yang kini tampak berantakan diatas meja bundar café tersebut.

“Hm, aku sudah menemukan satu. Dan ini adalah kasus yang menurutku lumayan lucu.” Surin tertawa kecil kemudian menyodorkan dua buah kertas yang disimpannya di dalam map berwarna pink yang selalu Surin bawa kemana-mana itu pada Sehun. “Mereka berdua sepasang kekasih?” Tanya Sehun tidak percaya. Surin mengangguk sambil tersenyum kecil. “Lucu sekali bukan?”

“Tunggu sebentar. Kau bilang mereka sepasang kekasih? Kau yakin?” Surin mengangguk membuat dahi Sehun berkerut. “Formulir ini atas nama Byun Baekhyun dan yang ini atas nama Park Jimi. Kau yakin mereka adalah sepasang kekasih?” Surin menatap Sehun dengan tatapan heran.

“Iya, aku yakin sekali. Baca saja kolom permasalahannya. Mereka berdua memiliki masalah yang sama. Mereka bahkan mencantumkan nama sang pasangan dengan benar-benar jelas tanpa inisial. Memangnya kenapa dengan mereka?” Tanya Surin membuat Sehun sekejap tampak berusaha menahan tawa yang seakan ingin meledak dalam hitungan detik.

“Memangnya kau tidak ingat dengan mereka berdua? Byun Baekhyun dan Park Jimi, teman SMP kita. Kedua orang ini dulunya selalu bertengkar bahkan sampai pernah dipanggil kepala sekolah dan membuat satu sekolah heboh. Kau benar-benar tidak ingat?” Surin buru-buru merebut formulir yang tengah Sehun pegang kemudian terbelak ketika melihat foto 3×4 yang ada disisi kanan atas kertas tersebut. “Astaga, aku tidak memperhatikan. Ini ternyata memang benar mereka. Kasus ini benar-benar menarik. Kita harus mengambilnya!”

“Aku setuju.” Sehun tersenyum sambil membetulkan posisi duduknya, mulai tertarik untuk membahas kasus kedua sejoli yang dulunya adalah musuh bebuyutan itu lebih lanjut. “Jadi apa permasalahan mereka?”

“Disini, pihak perempuan alias Park Jimi mengatakan bahwa Byun Baekhyun, kekasihnya itu tidaklah serius dengan hubungan mereka yang sudah berjalan selama dua tahun ini. Menurut Jimi, Baekhyun tidak benar-benar mengenal dia seluruhnya. Jimi ingin Baekhyun mengetahuinya secara keseluruhan. Tentang hal yang ia sukai, hal yang tidak ia sukai, dan hal-hal sekecil apapun mengenai dirinya. Namun Baekhyun malah terlihat tidak peduli sama sekali dengan hal-hal seperti itu. Baekhyun bahkan lupa dengan tanggal jadi mereka. Yang lebih parah, Baekhyun juga pernah melupakan tanggal ulang tahun Jimi. Jimi semakin yakin kalau Baekhyun tidaklah serius dengan hubungan mereka ini dan tidak peduli dengan dirinya.” Surin menyesap lattenya sebentar, sementara Sehun menunggu kelanjutan penjelasan Surin dengan sangat serius.

“Jimi juga merasa kalau belakangan ini Baekhyun seakan mencari-cari alasan untuk tidak bertemu dengannya. Jimi berkata bahwa belakangan ini, ia yang jadi lebih sering menghubungi sang kekasih terlebih dahulu. Pernah suatu hari, Jimi mencoba menguji sang kekasih. Ia tidak mengirimkan pesan ataupun menelpon, namun kenyataannya sang kekasih sama sekali tidak berinisiatif untuk menghubunginya terlebih dahulu sehingga seharian penuh itu mereka tidak berkomunikasi. Jimi hanya ingin tahu apakah Baekhyun benar-benar serius dengan hubungan ini atau tidak. Jika tidak, maka Jimi mau mengakhiri semuanya sebelum rasa sakitnya semakin parah.” Sehun berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sebagai seorang laki-laki, Byun Baekhyun kurang ajar juga.” Komentar Sehun membuat Surin tertawa kecil. “Aku tidak akan segan-segan untuk menendangmu sampai ke saturnus kalau kau berani berlaku seperti itu. Catat itu, Oh Sehun.” Sehun tertawa kemudian mengacak rambut Surin dengan gemas. “Lalu, apa permasalahan pihak laki-lakinya?”

“Pihak laki-lakinya alias Byun Baekhyun mengatakan bahwa kekasihnya yang bernama Park Jimi itu mulai berubah belakangan ini. Jimi jadi lebih sering marah-marah tanpa alasan yang jelas membuat Baekhyun lama-kelamaan merasa lelah kalau harus terus menerus meladeni sikap Jimi yang seperti itu. Itu sebabnya mengapa Baekhyun berusaha menghindar dari Jimi. Ia takut kalau mereka bertemu malah akan bertengkar dan akhirnya hubungan mereka akan kandas begitu saja. Itu juga merupakan salah satu alasan mengapa Baekhyun belakangan ini jarang menghubungi Jimi baik itu melalui pesan singkat ataupun telepon. Baekhyun ingin tahu apa yang menyebabkan Jimi sering marah-marah tanpa alasan seperti itu. Baekhyun berkata, kalau sikap Jimi yang sering marah-marah tanpa alasan itu hanya untuk membuatnya lelah dengan hubungan ini, maka Baekhyun ingin Jimi saja yang mengakhirinya sebelum dirinya sendiri kehabisan kesabaran.”

“Wah, wah, wah. Hebat sekali, ini kasus yang hebat. Aku bahkan sudah mendapatkan jawabannya. Alasan Jimi sering marah-marah adalah karena Baekhyun tampak tidak peduli dengan dirinya, terutama dengan hubungan mereka ini.” Surin mengangguk-angguk, menyetujui ucapan Sehun barusan.

“Dan Jimi tidak mengatakan hal itu pada Baekhyun. Ia menyimpannya sendiri, membuat Baekhyun mengira selama ini Jimi hanya marah-marah tanpa alasan padahal sudah jelas bahwa alasannya marah adalah karena laki-laki itu tidak peka dengan hal-hal kecil mengenai Jimi.” Surin membantu menyimpulkan membuat Sehun langsung bertepuk tangan, puas dengan kesimpulan tersebut.

“Tidak ada cara lain selain membuat Baekhyun tahu hal-hal kecil mengenai kekasihnya itu. Kita harus melakukan pengumpulan data tentang Jimi, dan memberinya pada Baekhyun. Baekhyun harus mempelajari data-data tersebut sampai ia benar-benar hafal diluar kepala.” Sehun mencatat rencananya itu pada buku catatan yang ada dihadapannya.

“Tidak ada cara lain juga selain membuat Jimi percaya bahwa Baekhyun benar-benar serius dengan hubungan ini.” Sahut Surin membuat Sehun mengalihkan pandangannya pada gadis yang tengah sibuk menulis itu. “Bagaimana caranya? Apa harus dengan metode ‘Daily Date’?”

“Betul sekali. Daily Date. Mereka harus lebih sering menghabiskan waktu diluar bersama setiap harinya. Dan pada saat kencan itulah, data yang sudah dipelajari oleh Baekhyun itu akan terpakai. Baekhyun harus menunjukan kalau ia tahu semua hal-hal kecil tentang Jimi pada saat mereka tengah berkencan.” Surin tersenyum antusias sementara Sehun sudah bertepuk tangan lagi.

“Untuk urusan seperti ini, kau memang sudah tidak diragukan lagi. Dasar pakar cinta.” Sehun tertawa sementara Surin hanya mendengus sambil menahan senyumnya. “Memangnya dari mana aku belajar semua ini?” Tanya Surin membuat Sehun berpura-pura menampilkan ekspresi tidak tahu. “Memangnya dari siapa?” Surin segera mencubit kedua pipi Sehun dengan gemas membuat laki-laki itu kesakitan.

“Tujuh tahun bersamamu adalah waktu yang cukup lama untuk mempelajari hal-hal seperti ini. Jadi tentu saja aku sudah sangat tidak diragukan lagi.” Surin masih mencubit kedua pipi Sehun sementara laki-laki itu masih sibuk mengaduh kesakitan.

Ya, tujuh tahun mereka menjalin hubungan ini. Sehun dan Surin juga tidak menyangka mereka sudah sampai sejauh ini. Mereka tidak menyangka kalau mereka bahkan sampai membuat usaha bersama. Sehun dan Surin hanya berharap mereka dapat mewujudkan target mereka berdua dengan usaha mereka ini. Sebuah target yang menjadi landasan dari terbentuknya S&S Love’s Helper.

**

To : jimi_park@gmail.com

From : sandsloveshelper@gmail.com

Subject : Konfirmasi Penerimaan Formulir & Jadwal Pertemuan

Selamat siang, klien pertama kami dibulan April, Park Jimi-ssi. S&S Love’s Helper bersedia membantu anda mengatasi permasalahan yang sudah anda ceritakan kepada kami. Untuk tahap pertama, kami harus bertemu terlebih dahulu dengan anda guna memberitahu rencana dan program yang akan kami laksanakan selama kurang lebih satu minggu ini. Pertemuan akan dilaksanakan pada hari Sabtu, minggu ini pukul lima sore di Hangang Café. Tenang saja karena kami akan datang terlebih dahulu sehingga anda tidak perlu menunggu. Untuk itu diharapkan anda mengirimkan balasan email dengan subject ‘Laporan Konfirmasi’ yang berisi mengenai ciri-ciri anda agar mempermudah pertemuan ini.

Ps: Untuk masalah pembayaran dapat dibicarakan saat program sudah selesai seluruhnya, jadi anda tidak akan merasa kecewa karena sudah menggunakan jasa S&S Love’s Helper.

Sekian, terima kasih.

Best Regards,

S&S Love’s Helper

To : sandsloveshelper@gmail.com

From : jimi_park@gmail.com

Subject : Laporan Konfirmasi

Pertama saya mengucapkan banyak terima kasih karena S&S Love’s Helper sudah bersedia membantu saya dalam masalah ini. Sabtu nanti saya akan mengenakan baju terusan berwarna putih dengan motif polkadot hitam. Rambut lurus panjang diikat satu. Sekali lagi terima kasih atas bantuannya.

Park Jimi

Surin terus memperhatikan pintu masuk café tersebut sambil sesekali membaca ulang email yang beberapa hari yang lalu dikirimkan oleh Park Jimi, kliennya yang tidak lain tidak bukan adalah teman sekolah menengah pertamanya juga. Surin langsung bangkit berdiri ketika melihat seorang perempuan yang benar-benar memenuhi ciri-ciri yang dituliskan Jimi.

“Park Jimi-ssi?” Surin memanggilnya membuat gadis itu langsung berjalan mendekat dengan sangat antusias. “Loh? Kau Jang Surin, kan? Kau bekerja di S&S Love’s Helper?” Jimi masih dengan ekspresi terkejutnya sementara Surin hanya tersenyum manis sambil mempersilahkannya duduk.

“Aku pemilik S&S Love’s Helper. S&S adalah inisial dari namaku dan kekasihku, Oh Sehun. Aku benar-benar tidak menyangka kau akan menggunakan jasa kami.” Surin tertawa bersama Jimi membuat suasana jadi lebih mencair. “Kau masih bersamanya? Astaga aku iri sekali. Kalian bahkan membangun usaha bersama seperti ini. Tidak diherankan lagi sih, kalian memang pasangan paling serasi yang pernah aku temui.” Jimi berucap sambil tertawa kecil.

“Dan kau sekarang dengan Byun Baekhyun? Laki-laki yang dulunya adalah musuh bebuyutanmu itu? Takdir memang benar-benar tidak bisa ditebak ya.” Sambung Surin membuat Jimi tersipu. “Ya begitulah. Byun Baekhyun itu kalau diperhatikan lebih lama ternyata manis juga. Oh ya, jadi bagaimana dengan program yang kau rencanakan itu?”

“Tidak ada cara lain selain dengan metode Daily Date.” Surin mengambil satu kertas yang ada di dalam map pinknya dan menyodorkannya pada Jimi yang masih terlihat bingung. “Itu adalah jadwalmu selama seminggu kedepan. Kalau kau mau program ini berhasil maka kau harus mengikuti semua jadwal tersebut dengan baik.” Pinta Surin membuat Jimi langsung memperhatikan beberapa baris kolom yang disertai dengan keterangan waktu beserta tempat itu dengan seksama.

“Woah, kalian bahkan menyesuaikan jamnya dengan jadwal kuliahku?! Kalian tahu dari mana mengenai semua jadwal kuliahku?” Jimi berujar takjub sementara Surin hanya tersenyum manis. “Jadi itulah program yang akan kau jalankan selama seminggu kedepan, terhitung mulai dari hari senin besok. Hanya tinggal mengikuti jadwal itu saja. Mudah sekali, bukan?” Jimi mengangguk antusias. “Tunggu sebentar. Lalu bagaimana dengan Baekhyun? Apa ini artinya aku yang harus mengajaknya kencan terlebih dahulu?” Surin menyesap ice coffee latte kesukaannya dengan tenang. “Untuk itu, kami yang akan mengurusnya. Tugasmu hanya hadir tepat waktu ditempat yang sudah ditentukan pada jadwal itu.” Jimi mengangguk, dari anggukannya Surin menangkap rasa ketidak yakinan Jimi membuat Surin hanya tersenyum kecil sembari mengeluarkan laptopnya.

“Sekarang, mari kita ke tahap yang paling awal terlebih dahulu. Aku akan memberimu berbagai macam pertanyaan dan kau harus menjawabnya.” Jimi menarik napas sementara Surin mempersiapkan diri untuk mulai melontarkan pertanyaan dan mengetik jawaban yang akan dikatakan Jimi. Pertanyaan tersebut tentunya berkaitan dengan data yang diperlukan Sehun. Data-data mengenai Jimi yang nantinya akan diberikan pada Baekhyun sebelum waktu Daily Date itu benar-benar resmi dimulai.

**

“Kalau saja dari awal aku tahu kau yang akan membantuku menyelesaikan masalah ini, aku tidak akan pernah mendaftarkan diri di situs itu.” Sehun tertawa sementara Baekhyun kini sudah memakan roti pesanan Sehun dengan garang membuat tawa Sehun semakin menggelegar.

“Aku tidak menyangka seorang Byun Baekhyun, kakak kelas yang dulunya ditakuti oleh seluruh adik kelas ini, malah mendaftarkan diri disalah satu situs cinta demi memperjuangkan hubungannya. Hyung, kau benar-benar banyak berubah.” Sehun masih larut dalam tawanya sementara Baekhyun hanya mendengus mendengarnya.

“Aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri. Beberapa menit setelah mengirim formulir itu aku baru tersadar. Mengapa aku sampai seputus asa itu?!” Baekhyun mengacak rambutnya asal, merasa benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya sendiri. “Tapi aku serius, aku perlu obat untuk gadis itu agar ia dapat sembuh dari penyakit marah-marah tidak jelasnya itu.”

“Kau tahu tidak kalau alasan Jimi seperti itu karena tidak lain tidak bukan adalah salahmu sendiri?” Tanya Sehun membuat Baekhyun mengernyit tidak mengerti. “Hyung, kau harus bisa mengerti kalau wanita itu selalu ingin dimengerti.” Sehun membetulkan posisi duduknya seraya menatap serius Baekhyun yang juga tengah menatapnya itu.

“Cobalah berbicara dengan bahasa yang lebih mudah, Oh Sehun.” Protes Baekhyun membuat tawa Sehun kembali memenuhi ruangan café yang tidak terlalu ramai itu. “Maksudku, alasan Jimi sering marah-marah adalah pasti karena kau kurang mengerti dirinya.”

Sehun mengalihkan pandangannya ke arah laptopnya ketika sebuah email baru masuk ke dalam kolom kotak masuk emailnya. Ia tersenyum melihat email yang ternyata dari Surin itu. Sehun membukanya kemudian menatap Baekhyun yang kini masih sibuk berpikir tentang kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga membuat Jimi sampai sering marah-marah seperti itu.

“Aku rasa selama ini aku sudah benar-benar mengerti dirinya.” Baekhyun bergumam namun Sehun masih dapat mendengarnya dengan jelas. “Kau yakin?” Sehun menatap Baekhyun dengan penuh keraguan.

“Kau tahu tidak apa saja hal yang tidak Jimi sukai dan Jimi sukai?”

Pertanyaan yang terlontar dari Sehun barusan membuat Baekhyun terdiam untuk beberapa menit. Baekhyun seakan sudah menyadari apa yang menyebabkan Jimi sering marah-marah belakangan ini, hanya saja Baekhyun masih berkeras kepala menyakini kalau ini bukanlah salahnya.

“Tentu saja tahu. Jimi tidak suka jika berat badannya bertambah karena terlalu banyak makan. Disamping itu, hal yang Jimi sukai adalah makan kapanpun ia merasa senang atau sedih. Aku benar, kan?” Sehun mengangguk perlahan membuat Baekhyun tersenyum puas. Ia semakin yakin kalau penyebab Jimi jadi lebih sering marah-marah belakangan ini bukanlah karena dirinya.

“Memangnya hanya itu yang perlu kau tahu tentang kekasihmu sendiri? Kau tidak perlu tahu tentang kapan tanggal jadi kalian? Film macam apa yang Jimi sukai? Tempat-tempat seperti apa yang ingin ia kunjungi bersamamu? Lagu kesukaannya? Hobinya? Dan hal-hal kecil lainnya itu, apa kau merasa tidak perlu untuk mengetahuinya?” Sehun merasa ia berhasil menguasai suasana ketika melihat wajah Baekhyun yang langsung muram.

“Sekarang kau paham kan, apa yang menyebabkan Jimi jadi lebih sering marah-marah? Semua tidak lebih adalah karena ketidakpekaanmu terhadapnya.” Sehun menyimpulkan membuat Baekhyun menghela napas. Laki-laki itu kini dapat menerima kesalahannya sendiri dan ia langsung menyesalinya. Bagaimanapun, ucapan Sehun memang benar adanya. Ia memang tidak tahu hal-hal kecil mengenai Jimi seperti yang tadi dikatakan Sehun. Baekhyun tidak tahu kalau hal kecil seperti itu lah yang justru benar-benar berarti bagi seorang perempuan.

“Aku benar-benar menyesal.” Baekhyun menghela napasnya perlahan. “Sekarang, aku harus apa untuk menebus kesalahanku padanya?” Sehun menyodorkan selembar kertas pada Baekhyun yang langsung menerimanya. “Nama program ini adalah Daily Date. Kau cukup mengikuti jadwal yang tertera dikertas itu saja selama satu minggu kedepan. Dan pada waktu kencan inilah, kau harus segera menunjukan kalau kau tidak seperti yang ia pikirkan. Kau harus menunjukan kalau kau peduli padanya dan hal-hal kecil tentangnya.” Sehun berujar panjang lebar sementara Baekhyun mengangguk-angguk mengerti. Sehun rasanya ingin tertawa ketika melihat paras Baekhyun yang serius itu. Pemandangan ini adalah pemandangan langka, karena ia tahu pasti kalau mantan kakak kelasnya itu bukanlah tipe orang yang mudah untuk serius.

Baekhyun menatap Sehun dengan tatapan yang tidak yakin. “Tapi dari mana aku tahu semua tentangnya dengan secepat itu? Aku harus bertanya pada teman-teman dekat Jimi terlebih dahulu dan itu akan memakan waktu yang lama.” Sehun hanya menanggapi dengan tawa kecil kala ia mendengar ucapan Baekhyun barusan.

“Itulah tugas kami sebagai seorang love’s helper. Coba cek email-mu.” Baekhyun buru-buru mengambil ponselnya dan langsung melonjak girang ketika membaca email dari Sehun. “Untuk urusan Jimi, serahkan saja pada kami. Ia pasti akan datang juga sesuai dengan jadwal tersebut. Tugasmu hanya datang terlebih dahulu agar Jimi tidak perlu menunggu. Ya, kau tahu sendiri, perempuan itu agak rewel kalau harus menunggu terlalu lama.” Sehun tersenyum singkat sementara Baekhyun menatapnya takjub. Adik kelasnya itu ternyata pintar juga, batin Baekhyun sambil tersenyum puas. Baekhyun yakin dengan cara ini, hubungannya dan Jimi akan kembali seperti semula bahkan jauh lebih baik.

“Kau memang yang terhebat, Oh Sehun.”

**

Sehun dan Surin memperhatikan kedua sejoli yang tengah berbincang kaku itu dari jauh. Kedua sejoli yang tidak lain tidak bukan adalah Baekhyun dan Jimi itu tampak tengah duduk di salah satu kursi panjang yang terletak tepat berhadapan dengan sungai Han yang tampak tenang.

“Bagian inilah yang paling aku benci dari metode Daily Date.” Sehun berkomentar sementara Surin masih berusaha mengendap-endap untuk lebih dekat dengan Baekhyun dan Jimi agar ia dapat mendengar dengan jelas percakapan kedua sejoli yang tidak menunjukan ekspresi mengenakan itu.

“Surin-a, sekarang ini kita benar-benar seperti seorang penguntit. Kau sadar tidak kalau sedari tadi kita diperhatikan oleh petugas keamanan yang ada disana itu?” Surin buru-buru menyeret Sehun menjauhi Baekhyun dan Jimi ketika ia menyadari seorang petugas keamanan yang dikatakan Sehun tadi itu memang tengah mengawasi mereka dengan seksama.

Surin menghela napas lega ketika ia menemukan kedai ice cream yang tidak terlalu jauh dari tempat tersebut. Ia buru-buru menarik Sehun untuk masuk ke kedai ice cream itu agar mereka dapat lepas dari pengawasan petugas keamanan yang kini masih menaruh perhatiannya pada mereka berdua itu.

“Kalau seperti ini bagaimana kita dapat mengetahui perkembangannya?” Berbeda dengan Surin yang sibuk mengkhawatirkan kedua sejoli itu, Sehun malah asik memilih ice cream untuk dirinya dan Surin. “Kita harus tahu apa yang mereka perbincangkan. Dari ekspresi Jimi sepertinya kencan hari ini tidak akan berlangsung sukses.” Surin mendengus ketika Sehun malah menyerahkan satu cone ice cream vanilla strawberry itu padanya. “Kenapa malah kita yang kencan, sih?” Komentar Surin namun tetap menikmati ice cream tersebut. Mereka segera memilih tempat duduk kosong yang tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri.

“Tenang saja. Kita bisa menyuruhnya untuk memberitahu perkembangannya melalui pesan singkat, kan?” Sehun berujar sambil menikmati ice creamnya sendiri. “Ah, kenapa aku tidak terpikir seperti itu?!” Surin buru-buru mengirimi Jimi pesan singkat untuk menanyakan perkembangannya sementara Sehun masih asik menikmati ice creamnya sambil memperhatikan Surin dengan sebuah senyuman yang tiba-tiba mengembang diwajahnya.

“Makan ice cream saja masih seperti anak kecil.” Sehun tertawa kecil sementara Surin malah melanjutkan makannya tanpa mempedulikan ucapan Sehun barusan. “Mengapa hanya berkomentar saja? Kau tidak akan membantuku menghapusnya seperti yang ada di film-film romantis? Payah.” Sehun tertawa membuat Surin hanya meliriknya dengan galak. “Baiklah kalau kau berharap seperti itu.” Sehun mengarahkan tangannya sambil tersenyum membuat pandangan Surin tidak dapat teralihkan dari sosoknya yang begitu mempesona itu. Surin baru tersadar ketika ia merasakan sensasi dingin diujung bibirnya. Sehun bukan menghapus bekas ice cream tersebut, namun malah menempelkan ice cream yang tengah digenggam Surin itu ke wajah gadis yang kini sudah memandangi Sehun dengan garang itu. Laki-laki itu tertawa sementara Surin menatapnya dengan tidak percaya.

“Aish, neo! Baboya!” Surin mengambil tisu didalam tasnya dan membersihkan wajahnya yang dipenuhi dengan ice cream itu. Ia tertawa kecil ketika melihat sudut bibir Sehun yang juga dihiasi dengan bercak ice cream. Surin mengulurkan tangannya dan membersihkan sudut bibir laki-laki itu dengan tisunya sementara Sehun hanya menatapnya dengan sebuah senyuman yang berusaha ia sembunyikan.

Surin hendak menarik tangannya namun Sehun menahannya. “Baiklah Oh Sehun. Adegan ini benar-benar mirip dengan yang ada di film-film romantis.” Surin tertawa namun Sehun hanya menatapnya dalam diam dengan sebuah senyuman yang mampu menyihir suara tawa Surin itu menjadi sedikit lebih aneh.

“Surin-a.” Panggil Sehun membuat bulu kuduk Surin seakan langsung berdiri secara serempak. Sehun menggenggam tangan kanan Surin dengan kedua tangannya. Baru saja Sehun hendak berbicara namun tiba-tiba ponsel Surin bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Surin segera melepaskan genggaman tangan Sehun dan membuka pesan singkat tersebut sementara Sehun hanya memperhatikan gadisnya itu.

“Jimi mengirimiku pesan. Ah, syukurlah dia berkata kalau kencannya berjalan dengan baik dan sekarang mereka tengah berbincang-bincang seru sambil menyusuri sungai Han dengan sepeda. Ternyata Baekhyun membawa sepeda lipat untuknya dan untuk Jimi. Apa itu saran darimu?” Sehun menggeleng lalu Surin tersenyum senang. Ia mengirimi Jimi balasan pesan lalu menghela napas lega sambil tersenyum senang.

“Kau sampai sesenang ini?” Tanya Sehun, masih memperhatikan Surin yang kini mengangguk antusias. “Membantu orang lain itu benar-benar menyenangkan. Apalagi kalau berujung dengan sangat baik seperti ini.” Sahut Surin kemudian. “Memangnya kau tidak lelah dengan semua hal ini? Kau mau terus melanjutkan situs ‘membantu orang lain’ ini lebih lama? Maksudku, aku rasa, sudah saatnya kita mengurusi target utama kita dengan serius. Kita tidak bisa terus-terusan mempertahankan situs ini dan mengabaikan target utama kita. Kau tahu itu, kan?”

“Tentu saja. Kedua orangtuaku juga sudah mendesak. Mereka malah berkata akan ikut campur tangan jika kita tidak segera mengurusi target utama kita itu.” Sehun tersenyum mendengar ucapan Surin barusan. “Ibuku bahkan jauh lebih berisik. Ia berkata ia akan memaksa kita untuk menerima uang pemberiannya jika alasan kita berlama-lama adalah hanya karena sebatas uang.” Surin tertawa diikuti oleh Sehun yang juga turut menertawai ucapannya barusan.

“Jadi, kapan kita benar-benar menutup situs ini dan mulai fokus dengan target utama kita?”

**

To : Oh Sehun

Sekarang kami bahkan bersepeda bersama. Aku tidak tahu kalau Jimi ingin kencan yang seperti ini. Terima kasih untuk sarannya, Oh Sehun. Seperti yang sudah ku katakan, kau memang yang terhebat. Sampaikan salamku untuk Jang Surin ya.

Baekhyun tersenyum seraya menarikan jemari-jemarinya pada layar sentuh ponselnya. Baekhyun menginjak pedal sepedanya dan menambah kecepatannya untuk mengejar Jimi yang kini sudah tertawa ketika sepeda ugal-ugalan milik Baekhyun melaluinya begitu saja. “Ayo kejar aku kalau kau bisa!” Seru Baekhyun membuat Jimi semakin bersemangat.

“Jimi-ya!” Panggil Baekhyun tanpa menoleh ke arah Jimi yang jauh berada dibelakangnya. “Ada apa?” Sahut Jimi dengan suara yang keras. Baekhyun memperlambat laju sepedanya seraya tersenyum singkat. “Bolehkah aku mengatakan tentang semua hal yang tidak sempat aku katakan padamu?” Meskipun jarak mereka cukup jauh, Jimi masih dapat mendengar suara Baekhyun yang lumayan keras itu. “Tentang apa?”

Baekhyun menghentikan laju sepedanya membuat Jimi turut menghentikan kayuhannya pada pedal sepedanya tersebut. Ia memperhatikan punggung Baekhyun dengan seksama.

“November 2012, kau jatuh cinta pada seorang laki-laki bernama lengkap Byun Baekhyun. Lalu diakhir tahun, seorang laki-laki bernama lengkap Byun Baekhyun itu juga mulai menyadari perasaannya terhadapmu. Akhirnya, diawal tahun 2013, kalian membangun sebuah hubungan bersama. Menghabiskan tahun 2013 bersama. Tempat pertama kalian berkencan adalah Lotte World, dan saat itu laki-laki itu membawamu kesana dengan mengendarai sepedanya.” Baekhyun terus berujar tanpa memalingkan wajahnya ke arah Jimi. Jimi yang tepat berada beberapa langkah dibelakang Baekhyun itu masih mendengarkan semua ucapan Baekhyun tanpa sekalipun berkedip.

“Kalian pergi mengunjungi rumah neneknya bersama dengan temannya yang sangat penasaran dengan rumah kuno itu, Zhang Yixing, dipertengahan tahun. Kalian juga selalu menghabiskan waktu setiap malam hanya untuk berwisata kuliner di sekitar daerah Hongdae. Dan diakhir tahun, kalian pergi berlibur bersama ke Hokaido selama satu minggu berkat keberuntungan laki-laki itu yang mendapatkan dua voucher liburan gratis dari sebuah biskuit kemasan. Semua berjalan baik-baik saja, bahkan diawal tahun 2014. Namun pada bulan Juni, laki-laki itu melakukan kesalahan yang benar-benar bodoh. Ia menjadikan salah satu senior perempuannya yang sering tampil membawakan sebuah lagu disetiap acara pentas seni kampus itu sebagai idolanya, membuatmu saat itu sangat marah karena ternyata lama-kelamaan senior itu diketahui menyukai laki-laki itu sejak lama. Laki-laki itu tidak menyadari kalau kau marah dan malah melanjutkan sikap bodohnya itu dengan meladeni sang senior.”

“Kau tidak menghubungi laki-laki itu selama berbulan-bulan membuat sang laki-laki hampir gila. Ia mencoba meminta maaf dengan berbagai macam cara, namun kau tetap tidak memaafkannya hingga pada akhir tahun, ia nekat meminta maaf melalui speaker kampus. Meskipun kau masih marah, kau tetap memaafkannya dan memberinya satu buah kesempatan lagi.” Baekhyun menarik napas. Ia menoleh ke arah Jimi yang kini menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Matanya sudah berkaca-kaca dan tangisnya hampir pecah. Baekhyun yang menyadari hal itu langsung memutar sepedanya, lalu menghampirinya. Mereka bertatapan dalam diam.

“Aku tahu aku memang bodoh sampai kali inipun aku tidak menyadari apa yang menyebabkanmu sering marah-marah belakangan ini. Kau tahu? Aku hampir gila karena tidak tahu letak kesalahanku dimana.” Baekhyun menghela napas seraya menatap Jimi dengan tatapan lembutnya.

“Meskipun aku memang bukan tipe seorang kekasih yang terlalu peka, meskipun aku memang bukan tipe seorang kekasih yang romantis, meskipun aku hanya seorang kekasih yang mungkin kau anggap terlalu sering bercanda, meskipun aku hanya seorang kekasih yang sering membuatmu marah-marah, maukah kau terus mencintai seorang kekasih seperti diriku ini?”

Baekhyun mengayuh sepedanya untuk lebih dekat dengan Jimi. Kini Baekhyun bersampingan dengan Jimi, laki-laki itu dapat melihat satu bulir air mata jatuh begitu saja membasahi pipi gadisnya itu. “Maafkan aku.” Baekhyun menangkup kedua pipi Jimi dan menghapus air matanya perlahan.

“Aku mencintaimu.” Baekhyun mengecup dahi Jimi dengan mata yang terpejam membuat tangisan Jimi semakin menjadi-jadi.

Program ini berhasil bahkan hanya dalam satu hari. Sebenarnya, bukan karena program tersebut yang menyebabkan mereka berdua kembali berbaikan seperti sekarang ini. Sebuah kejujuran dan kasih sayang yang ada didalam diri kedua orang itulah yang mampu menyembuhkan segala macam permasalahan yang ada.

**

Sehun tertawa membaca pesan singkat dari Baekhyun yang beberapa menit lalu baru sampai pada ponselnya. Hari ini adalah hari terakhir mereka menjalani program tersebut dan perkembangannya semakin hari bahkan semakin baik, benar-benar baik sampai Sehun dan Surin pun tidak menyangka kalau metode Daily Date itu benar-benar dapat membuahkan hasil yang sangat begitu memuaskan.

“Mereka berdua akan berlibur ke pulau Jeju, liburan musim panas nanti. Kita benar-benar berhasil kali ini.” Sehun berujar sambil tersenyum puas. Ia menarikan jari-jarinya pada layar sentuh ponselnya itu untuk membalas pesan singkat dari Baekhyun.

“Tadinya aku tidak mau memungut biaya karena mereka berdua adalah teman kita, namun ternyata Baekhyun dan Jimi mengirimnya terlebih dulu bahkan dengan bonus.” Surin berjalan menghampiri Sehun yang kini tengah duduk di sofa ruang tamu apartmentnya. Surin menyodorkan sebuah yoghurt strawberry yang tengah dipegangnya itu pada Sehun lalu duduk disampingnya.

Sehun merangkul Surin kemudian menatap gadis yang tengah mengganti-ganti chanel televisi itu dengan serius. “Berarti kasus ini sudah selesai, kan? Bagaimana kalau hari ini kita menutup situs itu?” Tanya Sehun membuat Surin langsung mendongak sambil tersenyum. Gadis itu mengangguk lalu memeluk Sehun dengan erat.

“Bagaimana dengan skripsimu? Apa semua sudah siap?” Surin bertanya sementara Sehun langsung mengangguk antusias. “Minggu ini aku akan wawancara terakhir.” Surin tersenyum mendengar ucapan Sehun barusan. “Aku juga sudah benar-benar siap. Untungnya dosen yang menilai skripsiku itu tidak terlalu merepotkan sehingga minggu depan aku bisa ikut wawancara terakhir juga.” Sehun mengacak rambut Surin kala gadisnya itu bertutur.

“Baguslah, berarti waktu itu semakin dekat. Kira-kira dalam waktu satu bulan lagi kita dapat melangsungkan target kita itu. Semuanya juga sudah siap. Mulai dari tempat usaha yang daerahnya meyakinkan, sampai tempat tinggal. Ayahku membantu kita dalam mencarikan tempat tinggal. Sebuah apartment saja cukup, kan?” Surin mengangguk. Senyuman diwajahnya semakin mengembang ketika ia membayangkan target yang sudah dari beberapa tahun lalu itu mereka impikan bersama sebentar lagi akan benar-benar dapat mereka gapai.

“Tempat tinggal sudah, tempat usaha juga sudah siap, lalu kita juga sudah sama-sama diterima di universitas itu untuk melangsungkan pendidikan S2. Aku benar-benar tidak menyangka aku bisa melalui semua ini denganmu.” Surin bertepuk tangan antusias sementara Sehun hanya tersenyum seraya mengelus rambut Surin perlahan.

Ya, target mereka adalah melanjutkan pendidikan mereka diluar negeri tepatnya di London. Tidak hanya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mereka juga sudah berencana untuk membangun sebuah usaha bersama yang sudah dari jauh-jauh hari mereka rencanakan. Sebuah café kecil ditengah kota London yang mereka namakan dengan ‘S&S Bubble Tea’s Confession”.

Nama yang cukup unik, bukan? Konsep café tersebut sebenarnya sederhana. Café kecil itu hanya menyediakan bubble tea yang tentunya tersedia dengan berbagai macam jenis rasa dan campuran-campuran lainnya seperti ice cream atau semacamnya. Yang membedakan adalah, jika ingin membeli satu buah bubble tea, sang pembeli harus menuliskan satu buah post it yang berisikan tentang pengakuan dan menempelkannya di dinding café tersebut. Entah itu pengakuan cinta, atau apapun yang tentunya dapat ditulis tanpa nama.

Sebenarnya rencana membuat café ini pun hanya sebatas pemikiran yang tiba-tiba datang begitu saja. Dimulai dari kesukaan Sehun terhadap bubble tea, Surin mencoba memikirkan ide-ide yang dapat ia manfaatkan dari minuman tersebut. Mereka tidak menyangka kalau mereka akan benar-benar mewujudkan ide itu sampai membeli sebuah ruko kecil yang ada tengah kota London itu untuk café mereka ini. Dan mereka semakin tidak menyangka ketika mendapat kabar dari sana kalau ruko kecil tersebut sudah selesai di dekorasi dan siap digunakan kapanpun juga. Surin bahkan terharu sampai menangis ketika melihat hasil akhir café mereka itu.

“Kalau target pertama kita ini sudah benar-benar terlaksana, maukah kau menggapai target selanjutnya bersamaku juga?” Tanya Sehun tiba-tiba membuat Surin langsung mendongak, menatap kedua manik mata cokelat pekat itu penuh tanya.

“Maksudmu target selanjutnya itu target yang seperti apa?” Sehun tersenyum singkat menanggapi. “Apalagi kalau bukan target yang selama ini orangtua kita inginkan?” Sehun tertawa kecil ketika melihat semburat merah mulai muncul dipermukaan pipi Surin dan sikapnya yang tiba-tiba gugup itu.

“Sehabis menyelesaikan S2 disana, kita harus segera melaksanakan target orangtua kita itu secepatnya. Menikahlah denganku, Jang Surin.” Sehun menatap Surin yang kini berkaca-kaca itu dengan sebuah senyuman lembut.

“Apakah ini termasuk sebuah lamaran? Kau harus melamarku saat aku mengenakan gaun yang cantik, bukannya piyama kebesaran seperti ini! Dasar Oh Sehun bodoh!” Surin memukul Sehun dengan bantal sofa yang berada didekatnya itu berkali-kali membuat Sehun langsung sibuk melindungi diri. Sehun menarik bantal sofa yang dipegang Surin itu dengan kuat, membuat Surin langsung tertarik ke dalam pelukan Sehun dalam hitungan detik. Jarak mereka sangat dekat sampai-sampai Surin dapat mendengar debaran jantung Sehun dari tempatnya.

Sehun mengecup puncak kepala Surin dengan cepat lalu tertawa terbahak ketika kedua matanya menangkap wajah Surin yang seketika berubah total menjadi warna merah seperti tomat matang itu.

**

S&S Love’s Helper Resmi Ditutup

Terimakasih banyak karena sudah menggunakan jasa S&S Love’s Helper dan telah membantu kami sampai sejauh ini. Lima tahun adalah waktu yang tidak sebentar dan kami bersyukur kami dapat melewatinya bersama dengan para klien yang sangat hebat. Kami tidak akan bisa sampai sebesar ini kalau bukan karena partisipasi anda semua. Kami harap anda puas dengan jasa yang sudah kami berikan. Kami memutuskan untuk menutup situs ini karena kami akan memfokuskan diri pada usaha lain yang sudah kami rencanakan bersama. Kami akan membuka sebuah café kecil di London yang bernama “S&S Bubble Tea’s Confession”. Mohon bantuan dan dukungannya.

Sekali lagi terima kasih.

Best Regrads,

S&S Love’s Helper

Surin menghela napas lega ketika ia berhasil mempostingkan sebuah tulisan yang dapat dikategorikan sebagai tulisan perpisahan itu di situs S&S Love’s Helper. Situs tersebut sudah seharusnya ditutup. Seperti yang sering dikatakan Sehun, mereka tidak bisa terus-terusan membantu orang dalam urusan percintaannya.

Surin mempertajam penglihatannya ketika sebuah email baru masuk ke dalam kolom kotak masuk email S&S Love’s Helper. Sebuah email yang tidak disangka-sangka datang dari aktor baru yang kini tengah naik daun dan hangat diperbincangkan, Do Kyungsoo. Dramanya benar-benar menduduki semua peringkat pertama dan disebut-sebut sebagai drama tersukses tahun ini. Surin benar-benar tidak menyangka seorang Do Kyungsoo baru saja mengiriminya email dengan subject ‘Formulir Pendaftaran’.

To : sandsloveshelper@gmail.com

From : realdokyungsoo93@hotmail.com

Subject : Formulir Pendaftaran

Annyeong haseyo. Saya Do Kyungsoo. Sebelumnya saya meminta maaf karena saya tidak dapat mengirimkan formulir dengan format yang seharusnya.

Meskipun saya tahu anda tidak akan percaya kalau ini saya, tetapi cobalah untuk percaya. Saya benar-benar Do Kyungsoo. (Lihat foto dan nomor telepon yang saya cantumkan dibawah. Anda dapat menghubungi saya kalau anda tidak percaya.) Saat ini saya benar-benar membutuhkan bantuan S&S Love’s Helper.

Orangtua saya tidak setuju dengan karir saya sekarang ini. Mereka menyuruh saya untuk berhenti dan mengikuti kemauan mereka yaitu menikah dengan wanita pilihan mereka. Saya berusaha memikirkan berbagai macam cara namun hanya ini cara yang dapat saya pikirkan. Saya harap anda mau membantu saya.

Saya dengar salah satu pengelola S&S Love’s helper adalah perempuan? Meskipun ini keterlaluan, tetapi saya mohon agar anda mau menjadi kekasih pura-pura saya agar orangtua saya tidak mendesak dan mau mencoba bersabar sampai saya benar-benar dapat menyelesaikan pekerjaan yang sedang dalam titik puncak ini. Saya tidak tahu lagi siapa yang harus saya mintai tolong dan tiba-tiba saja seorang teman menyarankan saya untuk mengirimkan email kepada situs ini. Ia juga yang memberitahu saya bahwa salah satu pengelola S&S Love’s Helper adalah perempuan. Saya tahu kalau anda orang yang dapat dipercaya, tidak seperti kebanyakan orang lain. Jadi saya memutuskan untuk mengirimkan email ini. Saya meminta maaf kalau ini sangat lancang tetapi saya benar-benar dalam keadaan terdesak. Orangtua saya mengancam akan menggelar konferensi pers untuk menyatakan saya mundur dari dunia entertain ini jika saya tidak segera menuruti kemauan mereka untuk menikah dengan wanita yang tidak lain tidak bukan adalah anak dari rekan kerja mereka.

Terima kasih atas bantuannya dan saya harap anda dapat segera menghubungi saya untuk kelanjutannya.

Do Kyungsoo

Surin menelan ludah ketika selesai membaca email tersebut. Ia benar-benar tidak menyangka kehidupan seorang aktor akan benar-benar seperti drama seperti ini. Lalu apa katanya? Ia meminta Surin untuk menjadi kekasih pura-puranya? Apa ia sudah gila? Mengapa ia tidak meminta orang lain saja? Memangnya ia tidak punya teman perempuan?

Surin rasa kepalanya pusing ketika ponselnya tiba-tiba bordering nyaring pertanda adanya panggilan masuk. Ia memandangi layar sentuh ponsel yang tengah menampilkan nama ‘Kim Jongin’ itu dengan malas.

“Ada apa? Kau patah hati lagi? Mau memintaku menemanimu untuk makan ayam dan minum beer sampai kau mabuk lagi? Tidak akan. Hubungi saja Sehun. Tapi jangan sekali-sekali kau mengajaknya untuk ikut minum juga, arra?!” Surin langsung berseru garang ketika ia memutuskan untuk mengangkat panggilan telepon yang tidak lain tidak bukan adalah dari sepupu jauhnya yang hanya menelponnya kalau ada maunya saja itu. Kim Jongin dulunya satu sekolah dengannya dan sangat dekat dengan Sehun, namun saat masuk tingkat sekolah menengah atas, laki-laki berkulit cokelat itu memutuskan untuk bersekolah disekolah yang ditentukan oleh kedua orangtuanya.

“Kau dan Sehun menutup situs kalian? Apa-apaan ini?! Aku baru saja menyarankan seorang teman agar menggunakan jasa kalian. Kau sudah menerima email dari Kyungsoo? Do Kyungsoo! Aktor yang tengah terkenal itu! Dia adalah teman SMA-ku dan benar-benar tengah dalam keadaan mendesak. Kau harus membantunya, Surin-a.”

Surin merasa kepalanya akan pecah sebentar lagi. Sekarang apa? Sepupu jauhnya ini mengatakan kalau ia teman dari seorang Do Kyungsoo? Sebenarnya ada apa dengan dunia yang mendadak jadi sangat sempit ini, sih?

“Aku tidak bisa. Aku dan Sehun sudah menutupnya dan kami sudah saling berjanji untuk hanya fokus pada kepindahan kami ke London bulan depan, Kim Jongin.” Jawab Surin dan hendak menutup telepon itu namun suara panik Jongin menahannya.

“Surin-a, tapi ini sangat gawat! Kyungsoo tidak mempunyai satupun teman perempuan. Dan aku? Kau tahu kan kalau aku juga tidak pintar bergaul dengan perempuan? Hanya kau yang aku tahu dapat membantunya. Orangtuanya benar-benar gila. Mereka mengancam akan menggelar konferensi pers dan bahkan mengancam akan menendang Kyungsoo keluar dari rumah jika ia tidak segera menuruti kemauan mereka itu. Karir Kyungsoo akan hancur dalam sekejap mata, Surin-a.” Surin menghela napas. Entah mengapa ia jadi ikut panik mendengar ucapan Jongin barusan.

“Tapi Sehun tidak akan memaafkanku kalau ia tahu aku masih melanjutkan pekerjaan ini dan bahkan menjadi seorang pacar pura-pura.” Surin berujar putus asa sementara Jongin terdiam diseberang sana. Jongin tahu kalau usaha Sehun dan Surin memang sangatlah besar untuk bisa mencapai target mereka yaitu belajar bersama di negeri seberang sambil membuka usaha bersama. Ia tidak tahu apa jadinya kalau Sehun marah dan malah membatalkan semua rencana ini. Surin pasti akan terpuruk, begitu juga dengan Sehun. Semua mimpi yang sudah dengan susah payah mereka rajut bersama bisa saja kacau karena hal ini. Tetapi sekarang keadaan Kyungsoo lebih mendesak dan Jongin tidak mau nama baik temannya itu berakhir mengenaskan disetiap chanel televisi maupun surat kabar.

“Aku yang akan bicara pada Sehun. Kau tinggal membantu Kyungsoo saja.” Surin menghela napas lagi. “Kumohon, Surin-a. Hanya untuk satu minggu.” Jongin berujar lagi kala ia mendengar suara helaan napas Surin. Surin merasa tenggorokannya tercekat bahkan hanya untuk mengatakan kata ‘baiklah’.

Seharusnya Surin memang tidak pernah mengatakan kata persetujuan itu. Seharusnya ia tahu bahwa ini tidak akan berakhir dengan mudah. Seharusnya.

**

“Seharusnya sekarang kau belajar. Besok itu kan wawancara terakhirmu mengenai skripsimu itu.” Surin memarahi Sehun yang kini tampak asik duduk dilantai ruang tamu apartmentnya sambil terus asik memainkan game pada playstation kesayangannya yang memang sengaja diletakan di apartment Surin, entah karena alasan apa.

“Aku yakin aku pasti bisa melewatinya dengan baik, kau tenang saja. Apa besok kau akan menemaniku sampai waktu wawancaraku selesai?” Tanya Sehun dan Surin langsung mengiyakan membuat Sehun tersenyum singkat. “Kau juga harus belajar dari sekarang. Waktu wawancaramu itu tinggal beberapa hari lagi, kan?” Sehun berujar tanpa memandang Surin yang kini duduk di sofa tepat dibelakangnya.

“Sehun-a.” Panggil Surin membuat Sehun menggumamkan kata ‘hm’ dengan segera. Surin memainkan rambut cokelat pekat milik Sehun itu dengan kedua tangannya. Sesekali ia menguncir poni Sehun dengan karet jepang yang ia lepas dari rambutnya. Ia menatap Sehun dengan ragu. “Apa Jongin menghubungimu?” Surin akhirnya berujar takut-takut.

“Tidak. Memangnya kenapa?” Sehun mendongak, menatap Surin yang kini juga tengah menatapnya. “Tidak apa-apa.” Sehun mengangguk sementara Surin kembali muram. Ia tidak seberani itu untuk mengatakan hal mengenai Kyungsoo ini pada Sehun secara langsung. Surin jadi teringat wajah bahagia Kyungsoo ketika ia bertemu dengannya dua hari yang lalu. Surin tidak tega untuk membatalkan bantuannya karena wajah bahagia itu, jadi Surin menyetujuinya dan berkata bahwa ia akan membantu Kyungsoo. Meskipun Surin sudah berkata kalau ia hanya dapat membantu Kyungsoo dalam waktu seminggu, tetap saja hatinya tidak tenang. Baginya, seminggu ini akan menjadi seminggu yang sangat panjang.

“Ada yang kau sembunyikan dariku?” Sehun mendongak lagi. Ia meletakan kepalanya pada kaki Surin yang kini tengah bersila. “Tentu saja tidak ada.” Surin mencubit hidung mancung Sehun membuat laki-laki itu segera menghindar. Baru saja Sehun hendak membalasnya, tiba-tiba ponsel Surin berdering nyaring.

Surin segera bangkit dari sofa dan buru-buru mengangkatnya di dalam kamar sementara Sehun menatap punggung yang kini hilang dibalik pintu kamar itu dengan heran. Tidak biasanya Surin mengangkat telepon dengan sembunyi-sembunyi seperti itu.

“Jang Surin-ssi, aku benar-benar butuh bantuanmu sekarang juga. Kemarin aku baru saja memberitahu kedua orangtuaku kalau aku sudah memiliki kekasih. Dan entah mengapa malam ini tiba-tiba mereka memintaku untuk membawa kekasihku itu ke rumah untuk makan malam bersama. Kau bisa, kan? Kalau bisa, aku akan menjemputmu sepuluh menit lagi. Kirimkan alamat rumahmu lewat pesan singkat.”

Surin membutuhkan dua menit untuk dapat mengenali suara Kyungsoo diseberang sana. Suaranya tidak seperti dua hari yang lalu saat mereka pertama bertemu. Suara tenang dan berat itu digantikan menjadi suara panik yang benar-benar panik. Lalu apa maksudnya bertanya apakah Surin bisa atau tidak? Bukankah bisa atau tidak bisa Surin harus membantunya sekarang juga?

“Se-sepuluh menit?! Aku harus dandan dalam waktu singkat seperti itu?! Ditambah lagi, kekasihku ada disini. Aku tidak bisa begitu saja meninggalkannya dengan dandanan yang seakan mau pergi ke pesta.” Surin bergerak-gerak gelisah sementara Kyungsoo sudah menghela napas diseberang sana.

“Baiklah, kau tidak perlu berdandan. Untuk urusan itu, aku tahu bagaimana cara mengatasinya. Aku akan menjemputmu sekarang.” Surin mendecak kesal ketika Kyungsoo memutuskan sambungan teleponnya begitu saja. Buru-buru ia mengirimkan Kyungsoo alamat apartmentnya. Ia menghela napas kemudian keluar dari kamarnya dengan perlahan. Sehun memperhatikannya dengan tatapan heran membuat Surin semakin gemetar.

Ia tidak berani untuk berbohong apalagi membohongi Sehun, kekasihnya selama tujuh tahun itu. “Ada apa? Siapa yang menelpon?” Selidik Sehun membuat bulu kuduk Surin meremang. Mau tidak mau, ia harus berbohong sekarang. Surin harap Tuhan menimbang kembali dosanya mengingat kebohongan yang akan ia lontarkan ini adalah tidak lebih untuk menolong orang lain.

“A-aku ada urusan mendadak dengan Taerin. Aku akan kerumahnya untuk belajar tentang skripsi bersama. Kau mau tetap disini atau pulang saja?” Surin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sementara Sehun masih memandanginya. Laki-laki itu terus mengawasi Surin yang kini berjalan ke arah dapur. “Aku akan memasakanmu nasi goreng dan telur gulung untuk makan malam. Maaf aku tidak bisa makan malam bersamamu hari ini.” Surin buru-buru mendadar telur dan mulai memasak dengan tergesa-gesa.

“Tidak usah terburu-buru. Setidaknya makanlah terlebih dahulu sebelum pergi.” Sehun menghampiri Surin yang tampak sibuk itu masih dengan ekspresi herannya. “Tidak bisa, aku benar-benar harus segera pergi.” Surin meletakan telur dadar setengah matangnya itu pada piring dan mulai beralih pada nasi yang sudah berada di penggorengan itu.

Ponselnya tiba-tiba berdering dan Surin langsung mengangkatnya. “Ya, tunggu sebentar ya Hwang Taerin aku akan segera turun sekarang. Tunggu saja disitu.” Surin memutuskan sambungan teleponnya dan mulai memindahkan nasi goreng yang sudah siap itu pada piring tempat ia meletakan telur dadar tadi.

“Makanlah yang banyak. Jangan lupa untuk makan buah setelah selesai memakan makan malammu, arra? Aku pergi dulu.” Surin buru-buru mengambil tasnya di dalam kamar dan bergegas keluar dari apartment itu, meninggalkan Sehun yang masih keheranan.

Sehun yakin ia sempat melihat nama sang penelpon. Ia tidak melihat nama Taerin disana. Ia melihat nama lain. Nama yang Sehun yakini adalah nama seorang laki-laki. Ia mencoba mengingat dan seketika rasa herannya itu semakin besar.

“Do Kyungsoo?”

**

Surin segera memasuki mobil yang tengah membunyikan klakson itu dengan terburu-buru. Ia menatap Kyungsoo yang juga tengah menatapnya itu dengan heran. Surin yakin Kyungsoo pasti tidak akan menyangka kalau ia benar-benar turun dengan hanya mengenakan baju rumah seperti ini, bahkan tanpa mantel karena Surin lupa mengambilnya. “Ada apa? Ayo cepat jalan.” Surin mencoba mengalihkan perhatian, membuat Kyungsoo langsung melajukan mobil sedannya dengan tergesa.

Kyungsoo membawa Surin ke sebuah butik dan salon ternama. Kyungsoo membantu Surin memilih gaun yang pas bahkan sampai sepatu dan aksesorisnya pula. Kyungsoo juga menyuruh salah satu stylist kenalannya mendandani Surin hingga kini Surin tampak seperti seorang artis yang hendak menghadiri acara resmi.

Kyungsoo memperhatikan Surin dari atas sampai bawah lalu mengacungkan dua jempolnya. “Kajja, kita sudah terlambat.” Kyungsoo menarik pergelangan tangan Surin dan menuntunnya ke mobil sedannya. Surin tidak menyadari apa yang baru saja ia alami sampai-sampai ia hanya terdiam mematung, tidak tahu harus melakukan apa.

“Jadi, kau sudah punya kekasih dan kekasihmu itu tidak mengetahui apapun soal ini?” Surin menoleh ketika suara berat Kyungsoo menyapa telingannya. “Ya, begitulah. Aku yakin ia tidak akan memaafkanku kalau tahu aku melakukan hal ini.” Surin berujar pasrah sementara Kyungsoo tetap tenang mendengarkan.

“Maafkan aku. Kau sampai jadi terlibat hal seperti ini.” Surin langsung merasa lebih tidak enak. “Anniyeo, aku yang memutuskan untuk melakukan hal ini jadi kau tidak perlu bicara seperti itu.” Surin mencoba untuk tersenyum namun ia yakin senyumnya saat ini pasti akan terlihat aneh.

“Terima kasih, kau memang orang yang baik.” Kyungsoo tersenyum ramah seraya menghela napas lega. Surin yang tidak tahu harus bagaimana hanya terdiam, masih dengan senyuman anehnya.

Sebetulnya Surin gugup. Ia tidak menyangka kalau perasaan gugup karena akan bertemu dengan “calon mertua” itu benar-benar dirasakannya. Ya, selama ini Surin tidak pernah berpikir demikian karena kedua orangtua Sehun sudah sangat mengenalnya dan bahkan sudah berteman lebih dahulu dengan kedua orangtuanya, sebelum Sehun dan Surin lahir di dunia ini. Jadi tentu saja Surin merasa gugup meskipun ini hanya pura-pura saja.

Baik Surin maupun Kyungsoo hanya berharap semuanya akan berjalan dengan baik malam ini.

**

“Annyeong haseyo, Jang Surin ibnida.” Surin membungkuk sopan dan tersenyum semanis mungkin pada kedua orangtua Kyungsoo yang ekspresinya tidak dapat Surin tebak. Kyungsoo benar-benar mirip dengan mereka berdua. Ekspresinya yang tidak dapat dibaca itu pasti diturunkan oleh kedua orangtuanya itu.

“Duduklah, kami sudah menunggumu dari sekitar setengah jam yang lalu.” Komentar Nyonya Do membuat kaki Surin lemas seketika. Ia yakin ibu kandung Kyungsoo itu baru saja memberinya peringatan pertama tentang disiplin waktu. Kyungsoo menggandeng tangan Surin yang dingin, mencoba meyakinkan gadis itu.

Makan malam tersebut berlangsung dengan kikuk. Surin bahkan tidak berani menggerakan sendoknya seperti biasa, takut-takut akan menimbulkan suara dan memecahkan keheningan tersebut. Jantung Surin hampir saja copot ketika Kyungsoo berdeham lalu tersenyum pada kedua orangtuanya.

“Aku dan Surin rencananya akan melangsungkan pertunangan kami bulan depan, tentunya setelah aku menyelesaikan dramaku yang masih tinggal beberapa episode lagi. Kami meminta bantuan dan dukungan kalian.” Tuan Do tampak terbatuk, terkejut dengan ucapan putra sematawayangnya itu. Surin merasa kakinya lemas ketika tatapannya bertemu dengan Nyonya Do yang juga tampak tidak suka.

“Apa pekerjaan kedua orangtuamu, Jang Surin-ssi?” Nyonya Do mengabaikan ucapan anak laki-lakinya itu dan beralih pada Surin. Surin hendak menjawab namun Kyungsoo segera menahannya dengan menggenggam tangannya yang gemetar. “Kedua orangtua Surin mempunyai perusahaan keramik diluar negeri.” Surin menoleh ke arah Kyungsoo kemudian hanya mengangguk sambil tersenyum paksa. Hari ini ia terhitung berbohong sebanyak dua kali.

“Lalu apa pekerjaanmu? Apa kau turut bekerja diperusahaan orangtuamu?” Surin hendak menjawab lagi namun Kyungsoo kembali mendahuluinya. “Surin masih kuliah dan sebentar lagi ia akan lulus. Wawancara skripsinya dilaksanakan beberapa hari lagi.” Surin berdeham lalu tersenyum singkat. “Ibumu tidak bicara padamu, Do Kyungsoo.” Tuan Do menyambar tanpa menatap Kyungsoo dan Surin yang hanya terdiam ditempatnya.

“Jadi kau masih kuliah? Kau tahu, kan kalau Kyungsoo adalah calon penerus perusahaan kami? Apa yang kau pikirkan sampai-sampai berani menggoda anak kami yang adalah calon penerus perusahaan sementara kau hanyalah seorang mahasiswa biasa? Kau tidak mencoba untuk menjadi parasit kan?” Kyungsoo tercekat sementara Surin kini merasa hatinya lepas begitu saja dari tempatnya. Ia tidak bisa berkata-kata. Hatinya bahkan terlalu berat sampai-sampai Surin ingin menangis. Ia harus meyakinkan dirinya kalau ini bukanlah nyata. Ini hanyalah pura-pura. Jang Surin, kau harus menyadari hal itu.

“Apa kau juga tahu kalau Kyungsoo akan dijodohkan dengan seorang anak dari perusahaan terbesar yang ada di Seoul? Kau masih merasa pantas untuk duduk disampingnya seperti sekarang ini?” Surin merasa kali ini ibu kandung dari laki-laki bernama lengkap Do Kyungsoo itu sudah benar-benar keterlaluan.

“Eomma. Keumanhae.” Kyungsoo akhirnya berujar membuat seluruh mata mengarah padanya. “Aku bukan boneka kalian. Aku berhak menentukan mana jalan yang akan kupilih sendiri.” Kyungsoo menatap ibunya itu dengan berapi-api membuat Nyonya Do tidak dapat menahan amarahnya lagi.

“Anakku bahkan sekarang berani melawan.” Nyonya Do bergumam kesal seraya menatap Surin dengan garang. “Ini pasti karena terpengaruh olehmu, kan?!” Nyonya Do berdiri sambil meraih gelas berisi jus jeruk yang ada disampingnya dan langsung menyiram Surin begitu saja membuat Kyungsoo langsung merebut gelas tersebut dan membantingnya ke sembarang arah, menimbulkan suara dentingan keras yang sangat kacau. Surin menangis sambil berusaha menguatkan dirinya yang sudah sangat rapuh itu.

“Jangan pernah ikut campur lagi dengan semua urusanku. Aku tidak peduli jika kalian benar-benar akan menggelar konferensi atau apapun. Ini hidupku. Ini pilihanku. Mulai hari ini aku pergi sampai kalian menyadari hal itu.” Kyungsoo menarik lengan Surin dan membawanya keluar dari rumah tersebut.

Kyungsoo baru saja akan membukakan pintu mobil untuk Surin namun gerakannya terhenti ketika melihat gadis itu masih terisak dengan dandanan yang sudah benar-benar kacau. Kyungsoo menatapnya penuh rasa iba. Ia menghapus kotoran diwajah Surin dengan sapu tangannya dengan perlahan sementara gadis itu hanya terus menangis tanpa satu patah katapun keluar dari bibirnya yang bergetar itu.

“Maafkan kedua orangtuaku. Harusnya aku tahu hal inilah yang akan terjadi. Sekali lagi aku meminta maaf.” Kyungsoo menyerahkan sapu tangan itu di telapak tangan Surin yang tampak lemas.

“Aku memang menangis karena perlakuan ibumu, tapi jauh dalam hati, aku menangisimu yang selama ini harus hidup dan tumbuh dengan orangtua yang seperti itu. Apa kau benar baik-baik saja seperti yang aku lihat sekarang ini?” Surin berujar membuat Kyungsoo menatapnya dengan tatapan kosong.

Untuk pertama kalinya, ada orang yang memikirkan perasaannya. Untuk pertama kalinya, ada orang yang bertanya apakah ia baik-baik saja dengan semua ini atau tidak. Untuk pertama kalinya, ada orang yang dapat mengetahui bahwa ia tidaklah baik-baik saja seperti yang selama ini ia tampilkan diluar.

Kyungsoo tersenyum miris. “Aku baik-baik saja.” Jawabnya sambil mengalihkan pandangannya. Surin mengambil sapu tangan miliknya yang ada didalam tasnya itu, lalu menyerahkannya ditelapak tangan Kyungsoo, persis seperti yang tadi Kyungsoo lakukan.

“Pada kenyataannya, kau lah yang membutuhkan sapu tangan ini untuk menghapus semua kekacauan yang ada dihatimu.” Kyungsoo menatap Surin tidak percaya. “Maaf aku tidak bisa membantumu menyelesaikan masalah ini. Kau sendiri pun tahu, hanya kau dan orangtuamu yang dapat menyelesaikannya. Aku berdoa agar orangtuamu segera sadar dan kalian dapat berbaikan lagi. Bagaimanapun, mereka adalah orangtuamu yang membawamu ke dunia ini. Kau tidak bisa begitu saja membenci mereka berdua.” Surin tersenyum ketika melihat kedua pasang bola mata bulat milik laki-laki itu kini berkaca-kaca. “Aku pergi dulu, ya. Jaga dirimu baik-baik.” Surin menepuk bahu Kyungsoo lalu berjalan menjauhi laki-laki yang masih tidak bergeming itu.

“Jang Surin.” Suara seorang laki-laki yang kini berada kira-kira sepuluh langkah dari Surin dan Kyungsoo memecahkan suasana malam yang dingin itu.

“Apa yang sebenarnya kau lakukan sekarang ini?” Surin mengangkat kepalanya dan menatap laki-laki yang ternyata adalah Sehun itu dengan tatapan terkejut luar biasa sementara Sehun menatapnya dengan tidak suka. Tatapannya begitu tajam sampai-sampai Surin merasa terluka. Perkataannya barusan benar-benar sedingin es membuat tubuh Surin benar-benar membeku seketika. Kesadarannya kembali sepenuhnya ketika ia merasakan tangan Sehun yang menarik tangannya dan kasar, menimbulkan tanda merah pada pergelangan tangannya. Sehun segera membawanya pergi dari tempat itu dengan mobilnya yang melaju dengan kecepatan tinggi.

Surin tahu semua ini akan terjadi. Sekarang semuanya berantakan. Jauh lebih berantakan dari dugaannya.

**

Sehun menghentikan mobilnya tepat ditempat parkir gedung apartment Surin. Mereka berdua terdiam sampai akhirnya Sehun tidak tahan lagi. Emosinya benar-benar sudah sampai pada titik teratasnya. Ia benci Surin yang membohonginya. Ia benci Surin yang berada disebelahnya dengan keadaan kacau seperti ini. Ia membenci ini semua.

“Apa yang sudah kau lakukan?!” Surin menunduk kala suara Sehun yang tinggi dan tajam itu seakan menusuk gendang telinganya. “Kau sadar tidak kalau kau baru saja membohongiku? Oh tidak, bukan baru saja. Kau sudah merencanakannya, kan? Sejak kapan kau masih melanjutkan situs itu? Bukankah kita sudah sama-sama saling berjanji untuk tidak melanjutkan situs itu lagi?” Sehun benar-benar memojokannya membuat Surin hanya dapat terisak. Ia tidak bisa mengelak. Kali ini memang ia yang bersalah.

“Dan apa yang baru ku lihat barusan? Apa sekarang kau menambahkan opsi ‘pacar sewaan’ di situs itu? Kau memang hebat, Jang Surin.” Sehun benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru ia saksikan dengan mata kepalanya sendiri. Awalnya Sehun benar-benar mengira Surin berselingkuh karena pergi bersama laki-laki lain, bukannya bersama Taerin seperti yang dikatakannya. Saat itu Sehun mencoba memutar otaknya dan menemukan sebuah jawaban. Dari awal, ia sudah curiga mengapa Surin sempat menanyakannya tentang Jongin. Sehun langsung menghubungi Jongin dan benar saja, ia mendapatkan jawaban yang sebenarnya. Sehun benar-benar tidak bisa untuk tidak marah.

Sehun memutuskan untuk mengikuti gadis itu dan ia benar-benar tidak percaya ketika gadisnya itu keluar dalam keadaan kacau sambil menangis. Kemarahan Sehun yang sempat ia tahan itu benar-benar meluap begitu saja apalagi ketika ia melihat laki-laki yang Sehun ketahui bernama Do Kyungsoo itu menghapus air mata Surin dengan sangat hati-hati.

“Aku minta maaf.” Surin berujar dengan susah payah. Hanya kata-kata itu yang terputar diotaknya seperti kaset rusak. “Kau benar-benar membuatku kecewa, Jang Surin.” Sehun menatapnya serius namun Surin memejamkan kedua matanya, berusaha menghindari tatapan mematikan itu.

“Aku hanya ingin membantunya. Hanya itu.” Sehun tertawa sinis menanggapi ucapan Surin barusan.

“Persetan dengan membantu orang lain! Persetan dengan memperbaiki hubungan orang lain! Persetan dengan mempertahankan hubungan orang lain! Persetan dengan itu semua kalau kau kau saja tidak bisa melakukan itu semua untuk kehidupan percintaanmu sendiri! Mulai sekarang, lupakan saja semuanya dan teruslah melakukan hal yang kau mau.”

Surin menangis semakin parah ketika Sehun malah meninggalkannya sendirian didalam mobil itu setelah mengatakan rentetan kalimat yang benar-benar membuat Surin semakin terpuruk. Surin mencoba memanggilnya ketika Sehun keluar dari mobil tersebut, namun Sehun tetap berjalan menjauh dan pergi begitu saja, meninggalkan Surin yang semakin terluka.

Ia tidak tahu kalau semuanya akan separah ini.

**

Dua minggu sudah berlalu dan tanggal keberangkatan mereka sudah semakin dekat. Surin mencoba menghubungi Sehun namun laki-laki itu tetap tidak menanggapinya. Bahkan pihak universitas saja sudah mengiriminya pengumuman jadwal masuk kampus melalui email. Surin tidak dapat membayangkan kalau ia harus berangkat sendiri ke sana. Semua ini adalah mimpinya bersama Sehun. Jika ia berangkat sendiri, maka ini tidaklah benar.

Surin merindukannya. Surin ingin mengetahui apakah skripsi laki-laki itu berhasil. Surin ingin bercerita kalau kemarin dosen yang mewawancarainya menyukai skripsinya. Surin ingin bercerita kalau ayah dan ibunya sangat gembira ketika mengetahui ia lulus dengan nilai yang tinggi dan tinggal menunggu wisuda yang akan dilaksanakan pada hari minggu besok. Surin ingin bercerita kalau Baekhyun dan Jimi kini membeli anak anjing yang mereka namai Baekban. Surin ingin bercerita kalau banyak orang yang menanyainya tentang café mereka yang ada di London. Surin ingin bercerita kalau banyak klien-klien mereka yang mengirimkan banyak email yang berisi tentang dukungan-dukungan terhadap café baru mereka. Surin bahkan ingin bercerita tentang Kyungsoo yang kini sudah berbaikan dengan kedua orangtuanya dan tetap melanjutkan karirnya sebagai seorang aktor.

Surin akhirnya memutuskan untuk mengecek situs S&S Love’s Helper meskipun hatinya ragu. Sehun dan Surin membangun usaha ini bersama selama lima tahun. Banyak hal yang dapat ia pelajari dari situs ini. Surin tersenyum ketika melihat kolom biodata yang tertera disudut kanan situs tersebut. “S&S Love’s Helper selalu siap untuk membantu anda mengatasi permasalahan percintaan anda. Jangan ragu-ragu untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!”

Surin tahu ia mungkin sudah gila, namun kini Surin sudah membuka emailnya sendiri dan menuliskan sebuah email baru yang akan ia kirimkan ke email S&S Love’s Helper.

To : sandsloveshelper@gmail.com

From : rinrinjjang@gmail.com

Subject : Formulir Pendaftaran

Annyeong haseyo. Saya Jang Surin. Saat ini saya benar-benar membutuhkan bantuan S&S Love’s Helper. Saya tidak tahu harus menceritakannya dari mana jadi saya akan langsung menuju pada intinya saja.

Saya dan kekasih saya sedang bertengkar hebat karena kebodohan yang saya lakukan. Kebodohan yang benar-benar bodoh sampai-sampai saya tidak dapat berpikir dengan jernih belakangan ini.

Apa anda dapat membantu saya? Apa anda dapat menyampaikan pesan yang akan saya tulis dibawah ini? Ya, cukup hanya menyampaikan pesan ini saja padanya.

Oh Sehun, apa kau masih marah? Pasti kau masih marah sampai kau tidak menjawab semua pesan singkat dan teleponku. Tidak apa. Kalau aku jadi kau, pasti aku juga akan melakukan hal yang sama.

Apa skripsimu berjalan baik? Apa kau makan teratur? Apa kau masih saja bermain playstation sampai lupa jam tidur? Apa kau masih saja tidak meminum vitaminmu? Apa kau masih sering membeli bubble tea kesukaanmu itu setiap malam? Aku benar-benar merindukanmu.

Baiklah, aku tahu aku salah. Namun kita tidak bisa terus-terusan seperti ini. Kita tidak bisa meninggalkan impian yang sudah susah payah kita bangun bersama itu begitu saja, bukan?

Yang hanya perlu kau tahu, aku menyayangimu dan sampai kapanpun akan seperti itu. Kalau kau tidak melihat pesan ini pun tidak apa. Minggu nanti kita akan bertemu untuk wisuda bersama, kan? Aku akan mencoba menjelaskannya padamu hari minggu nanti. Kumohon kau jangan menghindar lagi karena semakin kau menjauh, hatiku benar-benar semakin terasa berat.

Baiklah, jaga dirimu baik-baik dan sampai bertemu hari minggu nanti.

Love’s helper, kau benar-benar bisa menyampaikan pesanku ini, kan? Aku mohon padamu untuk menyampaikannya pada laki-laki yang hampir membuatku gila itu. Pasti saat ini aku terlihat sangat konyol, kan? Sialnya, aku tidak dapat memikirkan cara lain selain melakukan hal bodoh ini.

Surin menghapus air matanya cepat. Ia benar-benar merindukan seorang Oh Sehun sampai-sampai dadanya terasa sesak. Ia hanya berharap keadaan ini akan kembali seperti semula.

Meskipun kali ini ia benar-benar merasa bodoh dan setengah gila, Surin tidak dapat memungkiri bahwa kenyataannya ia memang sedang benar-benar meminta tolong pada S&S Love’s Helper untuk menyampaikan pesannya tersebut pada Sehun.

**

Jam dinding sudah menunjukan pukul setengah dua tepat. Namun seorang laki-laki yang kini tengah berkutat pada laptopnya itu tidak sama sekali berniat untuk tidur. Ia hanya memandangi layar laptopnya yang tengah menampilkan situs S&S Love’s Helper itu dengan tatapan kosong.

Sehun merasa ada bagian dalam dirinya yang hilang seiring dengan keputusannya untuk mengabaikan Surin yang setiap hari terus menghubunginya itu. Ia mengacak rambut cokelatnya asal, menyesali sifatnya yang seperti ini. Bagaimanapun, Surin tetaplah yang pertama di hatinya dan seperti apapun ia berusaha untuk menghindari gadis itu, ia tahu ia tidak akan pernah bisa melakukannya.

Sehun membuka emailnya. Ia mulai mengetikan sesuatu disana.

To : sandsloveshelper@gmail.com

From : oohsehun@gmail.com

Subject : Formulir Pendaftaran

Annyeong haseyo. Oh Sehun ibnida. Saya dengar S&S Love’s Helper dapat membantu semua permasalahan dalam suatu hubungan percintaan? Kalau begitu, saya harap anda dapat membantu saya melewati permasalahan yang sekarang ini saya hadapi.

Saya hanya meminta tolong pada anda untuk menyampaikan pesan yang akan saya kirimkan untuk gadis yang sampai sekarang inipun masih memenuhi kepala saya itu.

Jang Surin.

Apa kabar? Kudengar dari ibumu skripsimu berjalan dengan sangat baik, ya? Selamat. Apa kau masih sering berkutat pada novel-novelmu itu setiap malam? Apa kau masih sering memakan jajanan-jajanan yang mengandung MSG itu? Apa kau masih sering menangis karena menonton drama-drama yang sering kusebut dengan drama ibu-ibu itu?

Aku merindukanmu. Aku rindu menonton kartun Larva bersamamu setiap malam. Aku rindu kau menyebutku dengan sebutan ‘Larva kuning’. Hal ini tidak benar. Bagaimana bisa semua yang aku lakukan seakan mengingatkanku padamu? Setiap aku memakai sepatu berwarna merah, aku selalu ingat kalau kau sangat menyukai warna ini. Setiap aku memakan kentang goreng, aku selalu ingat kalau kentang adalah salah satu makanan favoritmu. Bahkan setiap aku bermain playstation untuk menghilangkan stress saja aku selalu ingat kau selalu akan menguncir rambutku sampai membuatku terlihat seperti orang bodoh.

Aku meminta maaf karena telah mengabaikanmu. Kau tidak lupa kan kalau dua minggu lagi kita akan berangkat ke London? Mari membuat lembaran baru disana. Kau dan aku.

Sampai bertemu di acara wisuda hari minggu ini. Aku menyayangimu dan selamanya akan begitu.

Love’s helper yang hebat, aku harap kau dapat menyampaikan pesan ini pada gadis yang membuatku hampir gila itu.

Sehun tertawa samar, menertawai kebodohannya sendiri. Ia tahu ia sudah benar-benar bodoh dan konyol, tapi jauh dalam lubuk hatinya, ia benar-benar berharap agar S&S Love’s Helper dapat membantunya untuk menyampaikan pesan tersebut pada Surin.

**

Suasana ruang serba guna utama Seoul University itu benar-benar ramai. Semua orang sibuk berfoto-foto bersama keluarganya, para dosen, dan teman-teman sebayanya, persis seperti yang dilakukan Surin saat ini. Surin sangat gembira karena akhirnya ia benar-benar sudah menyelesaikan pendidikan S1-nya dan akan melaju ke jenjang berikutnya sebentar lagi. Kegembiraan itu terpancar dari ekspresi wajahnya yang benar-benar bahagia kala ia berfoto dengan keluarganya dan teman-teman seperjuangannya.

Saat ini Surin memang bahagia. Sangat bahagia. Namun kebahagiaannya itu seakan kurang lengkap ketika ia menyadari tidak ada seorang Oh Sehun disampingnya seperti saat kelulusan SMA dulu. Surin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan serba guna yang sangat besar tersebut. Ia sempat melambaikan tangannya dengan senang ketika melihat Baekhyun dan Jimi yang tampak semakin serasi. Namun detik berikutnya, ia kembali cemas memikirkan Sehun. Apa laki-laki itu memang benar-benar tidak datang? Tapi tadi Surin yakin ia melihat Sehun menerima piagam di depan. Apa ia hanya berhalusinasi saja karena ia terlalu merindukan laki-laki itu?

“Kau pasti mencariku, kan?” Surin menoleh cepat ketika ia mendengar suara yang sangat ia kenal itu menyapa telinganya. Sehun kini tengah melambaikan piagamnya sambil tersenyum bangga. Surin hampir saja menangis ditempat kalau ia tidak ingat ruang serba guna itu sangat ramai. Bahkan teman-teman main Sehun yang kini berdiri tidak jauh dari mereka itu saja sudah menertawai Surin yang hampir menangis itu. Surin tidak mempedulikan pandangan teman-teman Sehun itu dan langsung berhambur ke pelukan Sehun membuat laki-laki itu tertawa dan segera membalas pelukan Surin.

“Aku sudah menyampaikan pesanmu pada kekasihmu itu.” Sehun berujar membuat Surin segera menatapnya dengan tatapan tidak mengerti. “Kenapa? Kau menyewa jasa S&S Love’s helper, kan? Kau bahkan mengirimkan formulir pendaftaran ke email S&S Love’s Helper. Sekarang, mana bayarannya?” Surin memukul Sehun yang kini sudah tertawa terbahak-bahak. “Dasar gadis bodoh.” Sehun menyentil dahi Surin pelan sementara gadis itu kini sibuk memukul Sehun berkali-kali. Surin tidak tahu saja kalau sebenarnya Sehun juga melakukan hal yang sama. Untung Sehun membuka email S&S Love’s Helper terlebih dahulu sehingga yang terbaca hanya email Surin saja. Sehun buru-buru menghapus emailnya saat itu, takut-takut Surin juga membaca emailnya.

“Syukurlah kau membuka email S&S Love’s Helper jadi kau menemukan pesanku itu. Aku hampir gila karena kau mengabaikanku selama dua minggu, kau tahu tidak?!” Surin memarahi Sehun yang hanya tersenyum. Ia mempererat pelukannya pada Surin dan meletakan dagunya yang lancip itu pada puncak kepala Surin. Ia tidak percaya kalau ia benar-benar merindukan Surin.

“Aku pikir, kau benar-benar akan melupakan semuanya. Semuanya termasuk mimpi yang sudah dengan susah payah kita bangun bersama itu.” Suara Surin berubah sendu membuat Sehun merasa bersalah. Sehun mengacak rambut Surin dengan dagunya membuat gadis itu langsung tersenyum kembali.

“Maaf. Kau tahu aku tidak akan pernah bisa melakukan itu. Dan aku tidak akan pernah melakukan hal itu jadi kau tenang saja.” Surin mengangguk mengerti dipelukan Sehun.

“Surin-a.” Panggil Sehun membuat Surin langsung membalasnya dengan gumaman. “Mari kita buat lembaran baru disana. Hanya kau dan aku. Kita berdua.” Sehun mengecup puncak kepala Surin lambat-lambat. Dari kecupannya barusan Surin tahu Sehun menaruh kesungguhan akan ucapannya. Dan Surin tidak dapat lebih bahagia lagi dari ini.

Membuat lembaran baru. Cerita baru. Hanya dirinya dan laki-laki yang paling ia cintai, Oh Sehun.

**

Dua tahun kemudian

“Good morning, boss! Selamat untuk acara wisuda kalian!” Tiga orang karyawan yang Sehun dan Surin rekrut setahun yang lalu itu bersorak bersama membuat Sehun dan Surin yang baru saja menginjakan kakinya di café mereka tersebut itupun tersenyum senang.

Ya, betul sekali. Dua hari yang lalu mereka baru saja menghadiri acara wisuda mereka. Dan itu berarti, Sehun dan Surin sudah berhasil menyelesaikan pendidikan S2 mereka dengan sangat baik. Orangtua Sehun dan Surin bahkan mengambil cuti kerja hanya untuk mendatangi acara wisuda mereka. Baik orangtua Sehun maupun Surin memang sudah merencanakan kedatangan mereka dari jauh-jauh hari. Tidak hanya untuk mendatangi acara wisuda putra-putrinya saja, mereka datang untuk berlibur bersama, mengelilingi Eropa yang juga merupakan target terbesar mereka.

Sehun dan Surin tidak menyangka dua tahun benar-benar berjalan dengan sangat singkat dan cepat. Mereka bahkan tidak menyangka café kecil yang mereka bangun bersama itu kini sudah memiliki tiga karyawan dan menjadi café yang paling diminati terutama dikalangan para mahasiswa. Ide ‘Confession’ yang mereka jadikan sebagai landasan terbentuknya café ini benar-benar disukai banyak orang membuat nama café tersebut semakin terkenal diseluruh penjuru kota.

Seluruh dinding café itupun kini dihiasi dengan post it berbagai macam warna dan tulisan pengakuan yang sebagian besar ditulis tanpa nama. Sesekali kalau Surin sedang bosan, ia akan membaca beberapa post it tersebut untuk sekedar mengusir rasa bosannya. Berbagai macam bahasa tertulis disana. Bahkan tidak sedikit juga orang yang menulis dengan bahasa Korea. Dan Surin pasti akan langsung melonjak girang lalu segera melapor pada Sehun kalau ia menemukan kliennya di S&S Love’s Helper dulu datang kemari dan meninggalkan post it yang bagi Surin sangat berarti itu.

“Annyeong haseyo. Hahaha, aku sedang dalam masa berlibur keliling Eropa bersama kekasihku dan memutuskan untuk mampir kesini ketika mendengar kalian membuka café ditengah kota London. Oh Sehun, Jang Surin, kalian ingat denganku tidak? Lima tahun yang lalu, aku sempat menggunakan jasa S&S Love’s Helper. Kalian membantuku untuk berbaikan lagi dengan mantan kekasihku dan sampai sekarang kami masih bersama, bahkan berencana untuk melangsungkan pernikahan sebentar lagi. Aku tidak menyangka kau akan membuka café ini disini. Kalian berdua benar-benar hebat. Cepatlah menikah!”

“Jang Surin, Oh Sehun! Aku butuh bantuan kalian untuk menangani masalah percintaanku T_T Cepatlah buka situs S&S Love’s Helper kembali.”

“Oh Sehun, Jang Surin! Aku tidak menyangka aku akan ke café kalian berdua. Aku mendapat beasiswa disini. Aku bersyukur karena apartment dan kampusku dekat dengan café kalian. Aku benar-benar menunggu kabar pernikahan kalian, lho. Cepatlah menikah! Ini sudah saatnya!”

“Oh Sehun, kekasihmu itu cantik sekali. –Do Kyungsoo”

Untuk post it yang terakhir itu, Sehun membuangnya begitu saja karena kesal dengan Surin yang selalu memamerkan post it itu ketika Sehun berusaha untuk menjahilinya. Jangan tanya kelanjutannya bagaimana. Surin menangis seharian karena post it itu dibuang begitu saja. Gadis itu kini benar-benar menjadi penggemar seorang Do Kyungsoo dan tidak pernah ketinggalan dengan semua film baru Kyungsoo. Bagi Sehun, Kyungsoo bukanlah saingan yang sepadan. Sehun tahu Surin menyukai laki-laki yang memiliki tubuh tinggi jadi sudah pasti gadis itu tidak akan begitu saja berpaling darinya.

“Surin-a!” Surin menoleh ketika melihat Nyonya Oh, ibu kandung Sehun menghampirinya dengan senyuman manis. “Aku membelikanmu beberapa gaun yang sangat cantik. Kau pasti menyukainya.” Nyonya Oh memberikan Surin beberapa buah shopping bag membuat Surin langsung berseru gembira.

“Woah, terima kasih banyak Eommoni. Aku jadi tidak enak karena tidak sempat membelikanmu apa-apa.” Nyonya Oh langsung melambaikan tangannya ketika mendengar ucapan Surin barusan. “Aku tidak perlu kau belikan apapun, Surin-a. Cukup resep dari Eomma-mu saja.” Nyonya Oh menggandeng tangan ibu kandung Surin dengan gembira sementara ayah Sehun dan Surin baru menyusul masuk ke dalam café setelah memparkirkan mobil mereka. Tuan Oh dan Tuan Jang tampak sangat akrab dan kini tengah asik mengobrol tentang pertandingan bola yang besok akan mereka tonton secara langsung di Madrid itu dengan antusias.

“Sehun-a, kau tidak lupa kan dengan rencanamu yang kau beritahukan pada kami semalam?” Surin langsung memandangi Sehun yang pura-pura bodoh itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Memangnya apa yang Sehun rencanakan semalam?

“Sebaiknya kita menontonnya sambil duduk agar suasana lebih rileks.” Tuan Jang berujar membuat yang lain langsung mengikutinya untuk duduk dikursi yang berada tidak jauh dari mereka dan mulai memandangi kedua sejoli yang tampak bingung itu dengan senyuman yang tidak dapat dimengerti. Nyonya Jang kini bahkan sudah menjerit tertahan ketika Sehun mulai memegang kedua bahu Surin dengan erat. Tidak kalah heboh, Nyonya Oh bahkan kini tengah merekam pemandangan yang ada dihadapannya sekarang ini dengan kamera kesayangannya. Sementara itu, Tuan Oh dan Tuan Jang tampak sibuk untuk berusaha menghentikan ulah istri mereka masing-masing yang lama-kelamaan semakin heboh dan bergerak-gerak tidak sabar itu.

“Satu ditambah satu berapa?” Sehun berujar membuat Surin menatapnya dengan semakin tidak mengerti. “Dua.” Jawab Surin akhirnya ketika melihat ekspresi Sehun yang seakan memaksanya untuk menjawab pertanyaannya. Sehun tersenyum puas lalu menarik napas membuat Surin larut dalam kebingungannya.

“Dua tambah dua?” Surin memutar bola matanya malas. “Empat.” Surin berujar pasrah sementara senyuman diwajah Sehun semakin mengembang. “Apa empat saja cukup? Atau perlu tambah lagi?” Tanya Sehun membuat tawa menggelegar orangtua mereka memenuhi ruangan café tersebut. Bahkan tiga orang karyawan yang tidak mengerti dengan bahasa merekapun ikut tertawa.

“Maksudmu?” Surin benar-benar tidak mengerti membuat Sehun hanya menahan tawanya kala ia dapat menangkap wajah polos Surin yang baginya sangat lucu itu. “Ayo main tambah-tambahan bersamaku.” Tawa kembali mendominasi ruangan sementara Surin kini memandangi mereka semua dengan tatapan yang benar-benar bingung.

“Ah, aku benar-benar payah jika sudah berurusan dengan bagian ini.” Sehun mengacak rambutnya asal. “Baiklah, Jang Surin. Dengarkan perkataanku dengan baik-baik karena aku hanya akan mengatakannya satu kali.” Surin menatap kedua bola mata Sehun yang juga tengah menatapnya itu, lurus-lurus.

“Maukah kau menikah denganku dan membangun sebuah keluarga bersama? Maukah kau menjadi pendampingku sampai aku tidak bisa melihat dan bahkan berjalan lagi? Maukah kau bersama-sama denganku melukis masa depan kita disebuah lembaran kertas baru?”

Surin tidak percaya dengan pendengarannya barusan. Ia menatap Sehun dengan berkaca-kaca sementara ruangan kembali dipenuhi dengan suara riuh orangtua mereka yang semakin heboh berteriak seru.

Surin mengangguk membuat Sehun langsung menghela napas lega sambil tersenyum senang. “Aku mencintaimu.” Surin berujar pelan dan air mata haru jatuh begitu saja membasahi pipinya. Sehun menangkup pipi Surin dan menghapus air mata Surin dengan ibu jarinya.

“Aku juga mencintaimu dan sampai kapanpun akan seperti itu.” Sehun mendaratkan bibirnya pada bibir Surin dengan perlahan. Seketika confetti mulai bertebaran dimana-mana dan suara riuh gembira memenuhi café kecil itu.

Sehun hanya ingin bersamanya. Membangun semuanya bersama. Hanya ia dan gadisnya, Jang Surin.

-FIN.

Huhu kayak udah lama banget gak update ya? Abisnya lagi konsen banget sama EXO comeback. Anyway, suka banget sama konsep Call Me Baby! Sehunnya juga ganteng banget ya. Huhuhu. They’ve worked really hard.

Last but not least, thanks for reading this fanfict! Hope you like it. xoxo.

Advertisements

12 comments

  1. realljo · April 2, 2015

    uwaduHHHH seru amat kak ceritanya walopun panjang banget dan lama bgt bacanya tapi gak bosen yraaaa, dan ff nya seru seru ucul romantis gt ya ngerti kan. baekhyun jimi ya tuh sedih bgt sih yang pas sepedaan gt ampe serasa semua keputer lg kek film ya yakan. tapi akhirnya dia lucu bgt berdua bisa bersama punya puppy namanya baekban hadeh gemes. kalo sehun surin omggg so sweet bgt kak ga nahan deh apalagi sambil denger K.Will – 왼손을 잡고 tuh rasanya kek mirip bgt arti lagu itu kek ff ini yang pas dilamar itu. kalo baca hunrin keputer lagu romantis mulu kalo baca baekhyunjimi yang sedih mulu emang cerita percintaannya rada sulit dan ada yang menikung sih tq. btw ada kim jongin mengganggu hati dan pikiran ok sekian.

  2. nurul · April 9, 2015

    DAEBAAKK !!!! eonni aku suka bangeettt sama ff eonni ini, sruuu hehehehhehehe keep writing eonni.. jangan bosan” bikin ff yg lebih seru untuk para readers eonni yaaa 😀

    • Oh Marie · April 9, 2015

      Hai Nurul! Makasih udah mau komen ya! Kamu juga jangan bosen-bosen ya pantengin wordpress aku huahaha>< aku lagi on project nih;; stay tune!

  3. Bee · May 4, 2015

    meleleh kalo jadi surin,
    awal konflik mereka seharusnnya surin kasih tau aja ap yg dia sembunyiin dr sehun, kan jadinya nggak akan debat, jongin jg yg salah kenapa nggak bilang sehun pdhl janjinya mau bilang, dasar
    aaahhh suka suka suka

  4. tailorswift122 · May 22, 2015

    Hy author ketjeh pemilik semua ff disini😄
    Zay selalu nungguin ff yg post disini dan yah semua cerita disini sangat menarik,bahasa yg ringan dan mudah dimengerti,joahae~
    Untuk ff sehun kali ini, zay uda speechless duluan saking keren dan bagusnya ff ini beneran,swear deh..kekurangannya apa yah? Zay belum bisa nemuin hehehe okedeh terus berkarya thor~

  5. azira · May 26, 2015

    Kyaaaaa!!!!!so sweet banget sihhh…huuuuaaaa….pasti enak banget jadi surin..hahah,lucu pas sehun cemburu karna post it dari kyungsoo,wkwkw…keep writing 🙂

  6. Adelia · November 30, 2015

    Sumpah daebakkkk
    Ff nya author tuh bisa dibilang yang terbaik. Alur ceritanya itu lo pas banget
    Thanks ya author sudah post ff ini
    Lanjutin terus nulis ffnya

    • Oh Marie · December 1, 2015

      Hallo, Adelia! Terima kasih banyak karena sudah menyempatkan diri untuk mampir dan baca-baca bahkan ninggalin komen huhu. Sering-sering main ke sini dan ninggalin jejak kamu yaaaa. Sekali lagi makasih!<3

  7. rahsarah · April 19, 2016

    cuma kyungsoo yg bisa buat sehun naik darah wkwkwkwk
    bahagia banget bisa dari kecil smape gede bareng2 trus nikah ahaaaa so sweettttt
    bener2 pasangan yg selalu buat w envy .-.

    • Oh Marie · April 20, 2016

      Stay tune terus ya kak aku rencananya mau buat project baru tentang Kyungsoo dekat-dekat ini HAHAHA. Makasih banyak udah mau baca ya kak pokoknya keep stay tune!

  8. southpole · July 10, 2016

    Wakkakakakak kyungsoo kenapa sih post it-nya nyebelin banget

    Anyway selamat karena sekali lagi sudah sukses menjatuh bangunkan emosi pembaca, dari yg tadinya mata berkaca2 karena sedih trus jadi berkaca2 karena terharu ♥♥

    • Oh Marie · July 11, 2016

      MANIIIIIIIIIS SEKALI KOMENTARNYA KAYAK SEHUN CAMPUR GULA HUHU. Wajib baca terus disini ya huhuhu kapan lagi dapet reader semanis ini ♥ ♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s