My Fangirl

b444awww

Enjooooy!

~~

Jika kau tidak mau merasa jauh lebih depresi maka Sehun menyarankan agar kau jangan berteman dengan seorang penggemar fanatik yang mengklaim idolanya sendiri adalah miliknya yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun. Jangan pernah atau kau akan menyesal nantinya.

Sehun berusaha untuk terbiasa namun sepertinya ia hanya sedang mencoba untuk ‘berusaha’. Gadis yang sudah dari taman kanak-kanak menjadi temannya itu benar-benar membuat Sehun tidak habis pikir bagaimana seorang gadis dapat tumbuh dengan status ‘fangirl’ yang sama sekali tidak pernah ia lepas bahkan sedari pertama kali Sehun mengenalnya sampai sekarang ini, dimana mereka sudah menginjak kelas terakhir pertanda mereka akan melanjutkannya ke jenjang perguruan tinggi sebentar lagi.

Sehun memanggilnya ‘fangirl gila’ karena gadis itu memang sudah menjadi seorang penggemar dari umurnya yang saat itu bahkan baru lima tahun. Saat itu Sehun ingat gadis bernama lengkap Jang Surin itu sangat menyukai film Power Rangers yang rutin tayang di akhir pekan. Sehun merasa gadis itu gila ketika ia seringkali menyebar luaskan bahwa salah satu karakter Power Rangers yang berwarna merah itu adalah kekasih masa depannya dan akan menjadi pendamping hidupnya kelak. Sehun lantas tahu alasan mengapa gadis itu selalu memakai aksesori atau apapun yang berwarna merah.

Lalu pada saat memasuki tingkat sekolah dasar, gadis itu masih tidak melepas statusnya itu begitu saja. Ia menyukai kartun Naruto dan gadis itu mengklaim bahwa salah satu karakter kartun dalam film Naruto yang bernama Sasuke itu adalah kekasih keduanya setelah Power Rangers merah. Sehun benar-benar harus menyediakan stok kesabaran ketika gadis itu membelikannya kostum karakter Sasuke ketika ia berulang tahun yang ke delapan. Surin memaksa Sehun untuk memakainya bahkan ditambah dengan rambut palsu ala Sasuke. Surin saat itu sangat senang bahkan ia mengambil lebih dari seratus foto dengan ponsel pertamanya yang juga merupakan hadiah ulang tahun dari orangtuanya.

Yang Sehun kesal adalah ketika gadis itu mulai menyukai laki-laki ‘yang benar ada’. Kali ini bukan karakter film kartun lagi, tetapi seseorang yang benar-benar ada. Saat itu mereka memasuki tingkat sekolah menengah pertama. Sehun ingat betapa terkenalnya boyband bernama ‘DBSK’ saat itu. Semua anak perempuan menjadi penggemar berat mereka termasuk Surin.

Surin membeli semua hal yang berbau boyband ternama itu. Mulai dari tas, tempat pensil, kaos kaki, botol minum, aksesoris, bahkan handuk sekalipun. Semua yang ada pada Surin benar-benar bertemakan boyband tersebut. Surin menyukai salah satu anggotanya yang bernama Changmin. Menurutnya Changmin adalah tipe idealnya. Sehun hanya bisa memaklumi sifatnya itu hingga sampai suatu hari ia tidak lagi bisa mentolerir sifat Surin yang satu ini.

Sehun ingat bagaimana pertama kalinya ia marah dan membentak Surin karena gadis itu membohonginya dan bahkan kedua orangtuanya sendiri. Surin bilang bahwa ia akan pulang larut karena harus mengerjakan tugas di rumah temannya tapi ternyata ia diam-diam datang ke konser boyband keluaran SM Entertainment itu sendirian. Gadis itu pulang dengan baju yang kuyuh dan tangan yang lebam sana-sini karena tersikut orang banyak.

Saat itu adalah pertama kalinya Sehun tidak menyukai Surin sebagai seorang ‘fangirl’. Sehun tidak masalah jika Surin mencerocosinya dengan obrolan mengenai sesuatu yang sedang gadis itu sukai meskipun harus sampai larut malam sekalipun. Bahkan Sehun tidak masalah jika Surin menyukai siapapun seperti teman kelasnya atau kakak kelasnya, asalkan ia tidak sampai melakukan hal ini. Sehun tidak menyukai Surin yang benar-benar memberikan seluruh hatinya pada boyband itu sampai-sampai ia rela berbohong dan melukai dirinya sendiri. Sehun sama sekali tidak menyukai hal itu.

Sejak kejadian itu Surin jadi lebih pendiam dan tidak pernah bertingkah yang aneh-aneh. Ia bahkan menuliskan kata ‘Hiatus’ dibuku catatan yang berisikan tentang semua jadwal kegiatan boyband yang paling ia sukai itu. Sehun yang menyadari hal itu berusaha menjadi lebih aktif. Sehun mengajaknya keluar untuk sekedar berjalan-jalan, bersepeda setiap sore, dan bermain bersama hingga Surin mendapatkan kembali senyuman dan tawanya. Semua terasa jauh lebih normal dan Sehun menyukai hal itu.

Sampai ketika mereka masuk ke jenjang sekolah menengah atas, tepatnya saat menduduki kelas dua, Surin mulai terpengaruh oleh teman-teman perempuannya yang adalah seorang fangirl dari boyband bernama Beast. Sehun dari awal sudah tahu Surin akan kembali pada kegiatan lamanya, dan kini semuanya benar terjadi. Semuanya mendadak berubah, seolah seperti sebuah film yang diputar ulang. Surin sangat menyukai boyband itu sama seperti ia menyukai boyband bernama DBSK yang dulu pernah ia sukai. Surin juga benar-benar menyukai salah satu anggotanya yang bernama Yong Junhyung.

Sehun sempat khawatir ketika gadis itu mulai mengikuti seluruh kegiatan dan konser-konser boyband itu bahkan kali ini lebih parah daripada dulu. Tapi Surin selalu berkata bahwa ia dapat menjaga dirinya sendiri karena ia sudah lebih dewasa. Mau tidak mau Sehun hanya mendiamkannya hingga hal ini berlangsung sampai saat ini.

Dan Sehun tidak mengerti mengapa ada bagian dari dalam dirinya yang tidak suka jika Surin mulai membicarakan semua yang berbau boyband tersebut, apalagi laki-laki bernama Yong Junhyung yang sangat Surin puja itu.

**

“Astaga, Hwang Taerin! Tadi Junhyung oppa membuat love sign padaku. Kau lihat tidak?!” Surin menjerit tertahan. Saat ini ia tengah berada di hadapan seorang Yong Junhyung, ya meskipun harus disela beberapa orang di depannya. Junhyung tampak duduk dengan tenang sambil terus menanda tangani album yang diberikan oleh para fans. Saat ini Surin dan Taerin, sahabat karibnya itu tengah menghadiri acara fansign album terbaru Beast.

“Aish, antrian masih panjang sekali. Aku benar-benar tidak sabar!” Taerin memeluk album yang tengah ia genggam itu sambil bergerak-gerak gelisah. Kamera DSLR pun tampak terkalungkan dengan apik pada leher kedua gadis itu.

Sesekali mereka memotret objek yang ada dihadapannya itu sambil tersenyum puas ketika melihat hasilnya. “Yong Junhyung itu terbuat dari apa, sih?! Mengapa sangat tampan?!” Surin menjerit lagi ketika layar kameranya berhasil mengabadikan sosok Junhyung yang tengah meminum air mineral pada botol minumnya.

“Surin-a! Surin-a! Surin-a! Lihat ini! Son Dongwoon memberikanku flying kiss!” Surin turut memperhatikan video yang baru direkam Taerin pada kameranya. Surin menjerit ketika melihat seorang anggota Beast yang paling muda itu memberikan sebuah flying kiss pada Taerin. Surin yakin malam ini Taerin tidak bisa tidur dengan nyenyak karena video itu.

“Ya! Taerin-a! Bersiaplah sebentar lagi giliran kita! Eomma eottokhae?!” Surin langsung merapikan tata letak rambutnya sambil sesekali berkaca. Pandangannya dan Junhyung bertemu saat Surin tengah merapikan penampilannya. Junhyung tertawa sementara Surin langsung menjerit lagi sambil memukul-mukul Taerin yang kini juga tengah menjerit heboh karena melihat adegan barusan. Taerin rasa Junhyung sudah mengenal wajah Surin karena gadis itu selalu datang pada setiap kegiatannya sehingga hal tadi itu masuk akal saja.

Surin merogoh tasnya dengan kesal ketika ponselnya berdering dengan sangat nyaring. Surin sudah berusaha mengabaikan panggilan telepon itu dari berpuluh-puluh menit yang lalu tetapi setiap lima belas menit sekali pasti ponsel itu berbunyi membuat Surin kehilangan fokusnya untuk menikmati waktunya bersama boyband kesayangannya itu.

“Ya! Oh Sehun! Sampai kau menelpon lagi setelah ini aku tidak akan memaafkanmu!” Surin akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan telepon yang ternyata dari Sehun itu. “Kau dimana? Sedang apa? Eomma, Appa, dan kedua hyungku pergi dari tadi pagi. Aku tidak bisa memasak makan malam sendiri. Cepat kemari.” Surin menganga tidak percaya. Jadi alasan laki-laki itu menghubunginya berkali-kali hanya untuk memintanya datang dan memasakan makan malam untuknya?!

“Tinggal delivery saja susah sekali, sih! Sudahlah, ini itu hari jumat sekaligus hari bersejarah untukku karena beberapa detik yang lalu Junhyung oppa baru saja menatapku sambil tertawa! Jangan ganggu aku!” Surin segera memutuskan sambungan teleponnya dengan kesal lalu melempar ponsel tersebut ke dalam tasnya kembali.

“Surin-a! Ayo cepat! Sekarang giliran kita!” Taerin menarik lengan Surin dan langsung menempatkan diri untuk berbaris pada barisan yang nantinya akan naik ke atas panggung guna meminta tanda tangan dari setiap anggota Beast.

“Tinggal beberapa orang lagi Surin-a! Eottokhae?!” Taerin menjerit tertahan sambil terus memeluk album terbaru milik Beast. Surin yang ada dibelakang Taerin juga merasakan debaran jantung yang terus menyanyikan lantunan lagu kasar, seolah ingin melepas dan membuang jantung itu dari tempatnya.

Surin benar-benar tidak bisa menahan debaran jantungnya ketika ia menginjakan kaki pada panggung tersebut. Orang pertama yang langsung tersenyum manis adalah Yoon Doojun. Jika dilihat dari dekat, laki-laki yang diketahui menjabat sebagai leader Beast itu sangat berwibawa, ditambah lagi dengan nada suaranya yang rendah kala ia menyapa Surin. “Annyeong haseyo. Namamu?” Tanya Doojun membuat Surin tersenyum manis. “Jang Surin ibnida.” Doojun langsung mengangguk lalu menuliskan nama lengkap Surin pada sisi kanan atas fotonya. Ia juga membubuhkan kalimat ‘Aku cinta kamu, terus dukung Beast!’ dibawah tanda tangannya dengan gambar hati yang membuat Surin tersenyum puas. “Kamsahabnida, Doojun oppa fighting!” Surin mengepalkan tangannya, seolah menyemangatinya dari kepalan tangan tersebut membuat Doojun segera membalas sambil tertawa kecil.

Setelah Yoon Doojun, seorang main dancer dari Beast tampak duduk dengan tenang. Laki-laki ini memiliki marga yang sama dengan Surin. Ya, namanya adalah Jang Hyunseung. “Annyeong haseyo.” Sapanya dengan ramah. Surin segera memberikan albumnya pada Hyungseung dan laki-laki itu segera menandatanganinya setelah menanyakan nama Surin. Ia menyodorkan telapak tangannya pada Surin yang langsung dengan girang menyambarnya. Sebuah toss karena Surin memiliki marga yang sama dengannya itu membuat Surin semakin senang sampai-sampai ia merasa air matanya akan jatuh sebentar lagi.

Dua anggota sudah terlewati. Surin benar-benar tidak bisa menahan debaran jantungnya lagi kala itu tandanya ia sudah semakin dekat dengan Junhyung. Surin melangkahkan kakinya dengan gemetar. Seorang laki-laki yang diketahui adalah main vocalist dari Beast itu tampak memberikan senyuman manisnya pada Surin ketika gadis itu menyerahkan album yang nantinya akan ditanda tangani olehnya. Yang Yoseob tertawa ketika melihat tangan Surin yang gemetar saat ia memberikan kembali album yang sudah ditanda tanganinya itu. “Yoseob oppa, aku sangat menyukai suaramu.” Surin berujar, berusaha mengusir gemetarnya itu namun yang ada ia malah seakan menunjukan rasa gugupnya yang semakin menjadi itu. “Kamsahabnida, Jang Surin. Datang lagi, ya!” Surin rasa jiwanya terbang ketika Yoseob menyebut nama lengkapnya. Oh Tuhan, Surin tidak tahu apa ia bisa melewati deretan para laki-laki ini sampai habis. Surin harap ia tidak pingsan tiba-tiba.

Surin sudah mencapai bagian tengah. Ia sudah tahu kini ia tengah berhadapan dengan siapa. Tentu saja dengan sang visual, Lee Gikwang. Surin rasanya ingin menculiknya karena hari ini Gikwang tampak sangat lucu dengan beanie berwarna merahnya. “Annyeong haseyo.” Surin menyerahkan albumnya setelah menundukan kepalanya singkat. “Namamu?” Tanyanya membuat Surin segera menjawabnya. Namun sepertinya Gikwang tidak mendengar ucapan Surin membuat ia memajukan kepalanya seraya meletakan telapak tangannya dibelakang daun telinga kirinya. “Jang Surin ibnida.” Jawab Surin setengah bergetar. Gikwang mengangguk lalu menuliskan nama Surin di albumnya. “Sekedar informasi, Junhyung hyung itu tidak lebih tampan dariku.” Bisik Gikwang ketika menyadari gelang yang dikenakan Surin saat ini bertuliskan nama ‘Yong Junhyung’. Surin hanya berusaha tertawa senormal mungkin kala jantungnya itu semakin berdebar keras dan berimbas pada nada tawanya yang malah terdengar aneh.

Surin benar-benar tidak sabar lagi untuk segera tiba di hadapan Junhyung. Satu orang terakhir sebelum Junhyung adalah Son Dongwoon, anggota termuda dari yang lainnya. “Ayo! What’s up? Kau temannya fans nomor satuku yang tadi, kan?” Dongwoon menyapanya membuat Surin ingin sekali pingsan saat itu juga kalau saja ia tidak mengingat Junhyung yang kini tampak berbincang singkat dengan Taerin. “Y-ya, namaku Jang Surin.” Dongwoon mengangguk sambil menandatangani albumnya. Ia membubuhkan kalimat ‘Teruslah datang bersama dengan temanmu itu ya. Jang Surin, fighting!’ Dongwoon menyodorkan telapak tangannya, lalu Surin segera menyambarnya. Salam perpisahan yang berhasil membuat Surin hampir pingsan.

Satu orang terakhir. Siapa lagi kalau bukan belahan jiwanya, Yong Junhyung. Surin menarik napas ketika Junhyung menerima album pemberiannya sambil tersenyum manis. Laki-laki itu berhasil melemahkan seluruh saraf yang ada ditubuhnya hanya dengan satu senyuman manis.

“Jang Surin.” Junhyung menuliskan nama Surin bahkan sebelum ia memberitahu namanya. Surin hampir menangis, matanya sudah berkaca-kaca ketika mengetahui Junhyung hafal akan nama lengkapnya. “Terima kasih sudah datang lagi. Aku akan menunggumu di pertemuan-pertemuan selanjutnya.” Junhyung tersenyum membuat Surin segera menghapus satu bulir air matanya yang jatuh begitu saja dengan cepat.

“Uljima, ini ambil air minumku.” Surin mengambil botol air mineral yang disodorkan Junhyung lalu mendekapnya. Surin benar-benar tidak bisa mengucapkan satu patah kata pun dan ia membenci dirinya yang seperti ini. Surin segera melepaskan gelangnya dan memberikannya pada Junhyung yang langsung memakainya saat itu juga.

“Gomawo. Tetaplah menjadi fans nomor satuku.” Junhyung menyodorkan telapak tangannya pada Surin. Kali ini bukan sebuah toss lagi, kali ini adalah sebuah jabatan tangan yang berhasil menghangatkan telapak tangan Surin yang dingin. Surin tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana. Ia juga tidak mau berpikir terlalu percaya diri, tapi Surin dapat merasakan tangan Junhyung yang mempererat genggaman tangannya.

Tiba-tiba saja ponselnya berdering nyaring membuat Junhyung segera menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Surin buru-buru membekap tas selempangnya dengan satu tangannya dan langsung meninggalkan panggung setelah menundukan kepalanya singkat pada laki-laki itu.

Surin merogoh tasnya lalu mengangkat panggilan telepon itu ketika sudah kembali pada tempat duduknya semula. Taerin disebelahnya masih terlihat tidak sadarkan diri dengan hanya menatap lurus seorang Son Dongwoon dari tempatnya sekarang ini.

“Sehun-a.” Surin berujar lemah membuat seseorang yang tengah berada di seberang telepon itu langsung berpikir yang tidak-tidak seperti Surin sekarang tengah diculik, mengalami kecelakaan, dan semacamnya. “Oh Sehun, Yong Junhyung mengingat namaku. Yong… Junhyung…” Surin menangis ketika Junhyung melambaikan tangannya pada Surin. Laki-laki itu tampak menuliskan sesuatu pada kertas besar yang ada dihadapannya dan menunjukannya pada Surin membuat tangisan gadis itu menjadi-jadi.

“Telepon aku juga.”

Semua orang berseru seketika, mengira tulisan Junhyung barusan untuk mereka. Taerin yang melihat itu langsung menggoyangkan lengan Surin tidak percaya. Jelas-jelas Junhyung barusan memperlihatkan kertas besar itu pada Surin yang tengah menerima telepon. “Surin-a! Lihatlah! Sekarang Junhyung bahkan terus menatapmu!”

Tangisan Surin semakin menjadi-jadi membuat seseorang diseberang sana semakin khawatir bukan main.

**

“Junhyung, Junhyung, dan Junhyung. Memangnya hanya itu yang ada dipikiranmu?! Kemarin aku mengkhawatirkanmu sampai seperti orang gila, kau tahu tidak?!” Sehun menaikan nada bicaranya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi yang ada dihadapannya. Sesekali Sehun membetulkan letak duduknya pada sofa berwarna putih itu dan terus memainkan stik playstation yang tengah ia genggam dengan geram.

“Iya! Hanya Junhyung yang ada dipikiranku! Dari pada kau, kerjaanmu itu hanya merusak mata dengan bermain playstation sepanjang hari!” Surin memeluk bantal sofa yang ada di dekatnya sambil melirik Sehun dengan tidak suka. Surin mengelus botol air mineral yang kemarin diberikan Junhyung sambil sesekali mengecup permukaan botol itu membuat Sehun hanya mendengus.

“Dengar apa kata Surin, Sehun-a. Kau itu hanya merusak matamu. Surin-a, sesekali kau harus mengajak Sehun keluar. Belakangan ini sepertinya ia semakin mencintai playstation itu membuatku sering terpikir untuk membuang atau memberikannya kepada orang lain saja.” Seorang wanita paruh baya menghampiri mereka seraya meletakan sebuah nampan berisikan dua gelas susu.

“Eomma!” Sehun tampak tidak terima playstation kesayangannya diancam. “Betul itu Eommoni. Jual saja kalau ia seperti ini terus.” Wanita yang diketahui sebagai ibu kandung Sehun itu hanya tersenyum jahil. “Cepat sana mandi, Surin jauh-jauh kesini itu untuk mengajakmu menikmati malam minggu ini bersama. Benarkan, Surin-a?”

Surin yang mendengar hal itu langsung mengerutkan dahinya heran. Pasalnya ia ke rumah Sehun malam ini hanya untuk membunuh rasa bosannya karena harus tinggal dirumah sendirian. Malam ini seluruh anggota keluarganya pergi ke salah satu undangan pernikahan kerabat ayahnya. Surin yang merasa malas menghadiri acara tersebut, akhirnya memilih untuk tidak ikut meskipun ayah dan ibunya sudah memaksa.

“Eomma mengarang saja. Dia kesini karena takut harus tinggal di rumah sendirian. Lalu apanya yang jauh? Rumah Surin bahkan hanya berbeda tiga rumah dari rumah kita.” Sehun berceloteh sementara Surin melirik Nyonya Oh yang kini menyenggol bahunya, memaksanya untuk membenarkan ucapannya itu. Surin hanya berdeham kemudian menyenggol kaki Sehun dengan satu kakinya.

“Cepat sana mandi. Hari ini aku memang berencana untuk mengajakmu keluar.” Seketika Sehun menolehkan kepalanya seraya meletakan stik playstationnya membuat Surin langsung tertawa melihat tampang terkejut yang menurutnya bodoh itu.

“Kenapa? Sepertinya kau senang sekali? Memangnya baru kali ini kau diajak keluar bersama seorang gadis pada malam minggu? Aigu, tampan-tampan tapi tidak laku. Kasihan.” Surin mendekatkan duduknya pada Sehun lalu mengacak-acak rambut Sehun dengan kedua tangannya sambil tertawa meledek. Nyonya Oh yang menyaksikan hal itu segera mengundurkan diri dari ruangan tersebut sambil terkikik tertahan melihat kedua sejoli yang dari kecil sudah bersama itu.

“Ah mwoya!” Sehun menyingkirkan kedua tangan Surin lalu kembali fokus pada permainan yang sempat ia pause itu setelah berpikir bahwa Surin hanya bercanda mengajaknya keluar pada malam minggu, malam yang biasanya dimanfaatkan para pasangan diluar sana untuk menikmati kencan romantisnya. Ah, Sehun rasa ia sudah mulai gila hanya dengan membayangkan harus berkencan dengan ‘fangirl gila’ ini.

“Ya! Mengapa belum mandi juga? Sekarang ini kau sedang menolakku? Bahkan Yong Junhyung sekalipun tidak berani menolakku jika saja kemarin aku berani mengajaknya melarikan diri dari tempat fansign yang ramai itu. Catat itu.” Surin memukul Sehun dengan bantal sofa namun Sehun sudah lebih dulu mengarahkan lengannya untuk melindungi diri.

“Memangnya kita mau kemana, sih?! Awas saja sampai mengajakku untuk menunggu oppa-oppa tidak jelasmu itu di depan gedung Cube Entertainment. Jangan salahkan aku kalau kau harus pulang sendiri setelahnya.” Sehun berujar kesal. “Tentu saja tidak. Meskipun aku sempat berpikir untuk melakukannya, sih. Sudahlah cepat sana mandi dulu nanti baru aku pikirkan kita akan kemana. Ish, jorok sekali sudah hampir jam delapan tapi belum mandi.”

“Cerewet.” Sehun berujar seraya mengambil bantal sofa dengan satu tangannya kemudian menempelkannya pada wajah Surin sehingga gadis itu tidak bisa berceloteh lagi, membuat gadis itu mengamuk setelah berhasil menyingkirkan bantal itu. Sehun segera berlari menuju kamarnya yang ada di lantai dua sambil tertawa-tawa.

Walaupun Sehun sangat menyebalkan, namun bagi Surin hanya laki-laki itu yang dapat menjadi sandarannya baik saat waktu senang maupun sedih sekalipun. Surin bisa menemukan dirinya yang sebenarnya jika berada bersama Sehun dan Surin menyukai hal itu.

**

“Jadi kita akan kemana?” Sehun menyalakan mesin mobilnya ketika selesai memasang sabuk pengaman. Surin yang duduk disebelahnya terlihat mengetukan jari telunjuknya pada dahinya, seolah tengah berpikir. “Bagaimana dengan Festival Lentera di sungai Han? Ku dengar hari ini ada acara pembukaan musim semi. Ayo kita kesana!” Surin tampak antusias sementara Sehun hanya tersenyum dan mulai melajukan mobilnya.

Surin merogoh tas selempangnya kemudian mengambil satu album terbaru boyband kesukaannya yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Surin memasukan satu keping dvd kesayangannya itu pada pemutar musik mobil Sehun. Sehun hanya menghela napas ketika gadis itu mulai menyanyi sambil menganggukan kepalanya mengikuti irama musik. “Fangirl gila.” Surin tampak tidak menanggapi ejekan Sehun barusan dan masih saja asik menikmati lagu yang mengisi seluruh penjuru mobil sedan milik Sehun itu.

“Sehun-a.” Panggil Surin tiba-tiba membuat Sehun segera menggumamkan kata ‘hm’ yang terdengar malas. Mungkin Sehun berpikir gadis itu akan mulai berceloteh lagi mengenai boyband kesukaannya itu. Mulai dari aktivitas Beast sehari-harinya, Yong Junhyung yang ketika difoto menoleh ke kameranya, dan sebagainya yang bahkan sudah setiap hari Sehun dengar.

“Jangan marah padaku ya.” Surin menatap Sehun yang terlihat fokus pada jalanan yang ada di depannya dengan takut-takut. “Ada apa? Kau mau bilang Yong Junhyung itu lebih tampan dari ku? Kalau begitu aku tidak janji untuk tidak marah.” Sahut Sehun membuat Surin segera mengalihkan pandangannya sambil mendengus.

“Aku hanya ingin bertanya. Tapi kalau kau tidak mau memberitahu juga tidak masalah.” Surin berdeham. “Ada apa?” Surin merasa kini Sehun tengah meliriknya dengan curiga, membuat Surin hanya terus mengalihkan pandangannya pada jendela mobil yang ada disebelahnya.

“Aku tidak sengaja membuka ponselmu dua minggu yang lalu saat kau sedang bermain basket bersama teman-temanmu. Jangan marah dulu. Ini bukan salahku tapi salahmu yang meninggalkan ponselmu dengan begitu saja di tas yang bahkan terbuka.” Surin mencoba mencuri-curi pandang ke arah Sehun yang tampak tenang.

“Aku membaca beberapa pesan dari seseorang dan itu semua berisi tentang jadwal latihan harian. Aku tidak menyangka jam latihannya bahkan dari pagi hingga pagi lagi pada hari minggu. Lalu untuk latihan pada hari biasa dimulai dari pukul delapan malam sampai pukul dua pagi. Memangnya kau sedang mengikuti suatu pelatihan?”

Sehun terdiam membuat pertanyaan-pertanyaan yang berkeliaran di kepala Surin semakin bertambah. Disatu sisi Surin merasa kesal pada Sehun yang menyembunyikan sesuatu darinya yang Surin tahu pasti sudah dari lama laki-laki itu sembunyikan. Tapi disatu sisi lain Surin sangat mengkhawatirkan Sehun, membuat gadis itu bertanya-tanya pula mengapa rasa khawatir itu jauh lebih besar dari pada rasa kesalnya ketika mengetahui Sehun menyembunyikan sesuatu yang penting darinya.

“Itu hanya latihan basket biasa. Memangnya kau lupa kalau teman dari kecilmu ini bercita-cita untuk menjadi pemain basket yang tampil di acara NBA?” Sehun tersenyum samar membuat Surin menatapnya dengan alis yang bertaut tidak suka.

“Tapi kau tidak perlu menyiksa dirimu sendiri seperti ini! Jika tidak jadi pemain basket yang tampil di acara NBA pun aku masih mau berteman denganmu. Pantas saja belakangan ini kau juga sering tidak masuk. Apa itu semua karena latihan ini? Sudahlah, kau tidak perlu melakukan hal semacam ini lagi.” Sehun mengacak rambut gadis itu dengan gemas.

“Lihatlah dirimu ini. Sekarang kau mengkhawatirkanku?” Sehun tertawa sementara Surin menghela napas kesal. “Aku serius!”

“Semua tidak akan terasa berat kalau kau melakukannya untuk orang yang kau cintai.” Sehun mencubit pipi Surin dengan satu tangannya membuat gadis itu mengaduh kesakitan.

Sekarang bahkan Sehun secara tidak langsung sudah memberitahu Surin kalau ia sedang menyukai seseorang dan semua hal yang ia lakukan sekarang ini tidak lebih adalah untuk orang tersebut.

Surin tidak tahu mengapa ia jadi merasakan rasa sakit yang entah dibagian mana. Mungkin karena cubitan Sehun pada pipinya. Atau karena sesuatu yang Surin sendiri tidak pahami.

**

Malam itu daerah sungai Han sangat ramai di dominasi oleh kalangan anak muda yang menghabiskan waktu malam minggunya dengan menghadiri acara Festival Lentera, festival yang biasa diadakan setiap pembukaan awal musim semi. Banyak orang yang sudah memegang lenteranya masing-masing. Ada yang sedang duduk di pinggiran sungai Han sambil menuliskan berbagai macam permohonan pada permukaan lenteranya, dan ada juga yang bahkan sudah menyalakan lentera yang nantinya akan di terbangkan secara serempak pada pukul sembilan malam itu. Semua tampak antusias termasuk Sehun dan Surin yang kini juga sudah memegang lenteranya masing-masing.

Sehun dan Surin berdiri berdampingan pada pinggiran pagar yang langsung menghadap ke arah sungai Han yang luas itu. Beberapa orang tampak melakukan hal yang sama. Mereka menuliskan permohonan pada lenteranya sambil memandangi arus sungai Han yang tenang bersama dengan pasangannya masing-masing. Surin merasa menyesal mengajak Sehun ke tempat yang romantis seperti ini. Surin hanya berharap Sehun tidak berpikir yang macam-macam seperti ia menyukai laki-laki itu atau semacamnya.

“Apa yang akan kau tuliskan disini?” Surin berujar, berusaha mengusir pikirannya barusan seraya meminum bubble teanya yang belum habis. Sehun mengambil alih bubble tea Surin kemudian meminumnya seraya berpikir apa yang akan dituliskannya pada permukaan lentera tersebut.

“Entahlah. Bagaimana denganmu?” Sehun mengalihkan pandangannya pada Surin yang tampak mengetukan spidol hitamnya itu pada dahinya. “Yang pasti aku akan membuat permohonan untuk Junhyung oppa. Aku harap ia dan Beast akan terus bersama-sama sampai kapanpun. Ah, dan tidak lupa memohon agar kelak aku diberikan suami yang tampan seperti dia. Tidak, tidak. Maksudku, dia saja agar Tuhan tidak perlu repot-repot mencari orang lain yang seperti Junhyung oppa.” Sehun memutar bola matanya malas.

“Caramu memanggilnya oppa itu benar-benar menjijikan, Jang Surin.” Sehun mencibir lalu menghabiskan bubble tea milik Surin yang tadi dicurinya. “Kenapa? Kau iri? Mau juga aku panggil dengan sebutan oppa?” Surin mengepalkan kedua tangannya lalu meletakannya disamping kedua pipinya. “Oppa, Sehun oppa!” Sehun mengalihkan pandangannya dari Surin yang masih saja melakukan aksi sok imutnya. “Aish keumanhae! Menjijikan!”

“Daripada menulis permohonan tidak penting seperti itu lebih baik kau menuliskan permohonan yang berhubungan dengan cita-citamu.” Saran Sehun membuat Surin segera memeluk lenteranya, mempertimbangkan saran tersebut.

“Aku bahkan tidak tahu cita-citaku itu apa.” Sambung Surin membuat Sehun tertawa meledek. “Itu semua pasti karena otakmu yang kecil ini hanya berisi tentang Junhyung, Junhyung, dan Junhyung saja.” Surin menepis telunjuk Sehun dari kepalanya dengan kesal.

“Menurutmu aku cocoknya jadi apa?” Tanya Surin seraya mendongak menatap Sehun yang tengah memperhatikan sungai Han itu. Senyuman tampak mengembang diwajah Sehun seraya angin malam musim semi itu menerpa mereka berdua dengan lembut. “Yang pasti bukan menjadi istri dari seorang Yong Junhyung.” Sahut Sehun dan Surin langsung memukul lengannya pelan.

“Bagaimana kalau kita menuliskan harapan kita untuk satu sama lain di lentera ini? Aku akan menuliskan permohonan untukmu, dan kau menuliskan permohonan untukku.” Sehun menatap Surin yang masih memeluk lenteranya. Gadis itu mengangguk sambil tersenyum membuat Sehun segera membalasnya lalu mengambil spidol hitam yang ada di saku belakang celana panjangnya.

Mereka berdua menggeser posisi berdiri mereka, menjauhi satu sama lain lalu menuliskan permohonan mereka untuk satu sama lain. Surin melirik Sehun yang tampak tenang dengan senyuman tipis yang mengembang pada permukaan wajahnya kala ia menuliskan sesuatu pada lenteranya. Semilir angin membuat rambut cokelat pekat yang menutupi dahi laki-laki itu sedikit berantakan. Tanpa Surin sadari, ia sudah menuliskan sesuatu yang menjijikan pada lenteranya.

‘Oh Sehun aku harap Tuhan mencabut ketampanan yang datang tiba-tiba jika kau sedang tersenyum tenang seperti itu.’

Surin mencoret tulisan tersebut dengan gerakan cepat. Ia mengutuk kebodohan dirinya sendiri. Surin menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikirannya yang mendadak jadi tidak normal. Hanya Yong Junhyung yang dapat membuatnya berpikir demikian. Ya, hanya Yong Junhyung.

“Sudah selesai?” Sehun menghentikan langkahnya yang hendak menggeser posisi berdirinya untuk mendekat ke arah Surin, ketika gadis itu malah menggeser posisi berdirinya menjauhi Sehun. “Aku belum selesai. Tetap berdiri disitu.” Surin segera menuliskan sesuatu pada lenteranya lalu menghampiri Sehun yang masih tersenyum.

Surin melirik lentera Sehun, berusaha membaca permohonan laki-laki itu. “Apa yang kau lakukan?” Sehun menutup kedua mata Surin dengan telapak tangan kirinya membuat gadis itu segera menepis tangan Sehun. “Aku kan hanya penasaran.”

“Kalau begitu beritahu aku dulu apa permohonanmu setelah itu aku juga akan memberitahu apa permohonanku.” Sehun tertawa ketika Surin meliriknya penuh selidik. “Tidak ada main curang ya?” Surin memastikan. Ia memberikan lenteranya pada Sehun ketika laki-laki itu mengangguk, menyetujui.

“Aku harap Tuhan dapat membantunya mewujudkan semua cita-cita dan impiannya. Aku juga berharap agar Oh Sehun selalu bersamaku sampai kapanpun. Sampai kapanpun! Bahkan sampai ia sudah memiliki istri sekalipun. Aku tidak peduli, kita harus tetap bersama. Amin.” Sehun membaca permohonan itu sambil tertawa. Tawanya terhenti ketika ia melihat tulisan lain yang tengah berusaha disembunyikan oleh Surin. “Andwae! Jangan baca yang bagian ini! Ini rahasia.” Tambah Surin membuat laki-laki itu hanya mengangguk.

Sehun menyodorkan lenteranya pada Surin lalu gadis itu langsung membaca permohonan yang ditulis laki-laki itu pada salah satu sisi lenteranya. “Aku harap Surin putus dengan kekasih bayangannya itu alias Yong Junhyung.” Surin segera memukul lengan Sehun tanpa ampun sementara laki-laki itu hanya tertawa senang. Sehun benar-benar terbahak sampai ia merasa air matanya akan keluar sebentar lagi.

“Permohonan macam apa itu! Memangnya kau tidak bisa berbasa-basi sedikit? Seperti membubuhkan kata-kata ‘semoga kita selalu bersama’ atau apapun yang lebih manis, huh?” Surin merasa benar-benar kesal. Ia menyesal telah menulis kalimat panjang dan manis itu pada lenteranya. Sehun mengacak rambut gadis itu dengan gemas membuat Surin diam-diam menahan senyumannya.

“Lima menit lagi penerbangan lentera. Ayo cepat nyalakan!” Surin melirik jam tangannya lalu meminjam korek api pada seorang laki-laki paruh baya yang berada tidak jauh darinya. Sehun mengambil alih korek api itu lalu menyalakan lenteranya dan lentera Surin.

“Belum diterbangkan saja sudah sangat indah seperti ini.” Surin tersenyum melihat lenteranya yang sudah menyala terang sementara Sehun mengembalikan korek api tersebut lalu kembali berdiri disamping Surin sambil juga memperhatikan lenteranya.

“Semoga permohonan kita benar-benar terkabul.” Sehun menatap lentera Surin dengan senyuman yang sedari tadi mengembang diwajahnya. “Kalau kau masih berharap agar aku putus dengan Yong Junhyung, jangan harap doamu itu akan terkabul.” Sambung Surin sambil menatap laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya itu kemudian tertawa kecil bersamanya.

Tidak berapa lama kemudian, mereka sudah menerbangkan lentera mereka bersama dengan orang-orang yang ada disitu. Seketika langit malam yang gelap berubah menjadi lautan lentera bersinarkan warna oranye yang menenangkan. Angin awal musim semi membawa lentera-lentera tersebut terbang lebih jauh, seakan menyentuh permukaan langit tersebut. Benar-benar pemandangan yang indah.

Surin tersenyum senang menatap langit malam yang bersinar itu. Ia melambaikan tangannya pada lentera-lentera tersebut. Sehun merangkul Surin dengan perasaannya yang juga seakan terbang bersama lentera-lentera itu. Sehun berharap agar satu permohonan lain yang tadi tidak Surin lihat itu benar-benar terkabulkan.

‘Tumbuhlah bersamaku sampai kita sama-sama tidak bisa melihat dan bernapas lagi.”

**

Suasana kelas 12-4 di sekolah seni ternama, Seoul Performing Art School saat itu tampak sepi mengingat sekarang ini adalah jam istirahat dimana sebagian anak lebih memilih untuk menghabiskan waktu makan siangnya diluar kelas.

“Surin-a, nanti malam kau ikut lagi tidak? Kali ini aku yakin Beast akan tiba sebelum larut malam seperti kemarin.” Taerin menarik tangan Surin yang tampak lelah. “Kalau aku sudah baikan, aku pasti akan datang.” Seketika Surin bersin membuat Taerin segera menjauhkan diri darinya.

“Yasudah, pastikan malam ini kau datang ya!” Taerin berlalu ketika ia melihat Surin mengangguk menyetujui. Surin meletakan kepalanya diatas buku cetak sejarah yang beberapa puluh menit lalu itu berhasil membuat kepalanya semakin pusing.

“Kau seperti ini karena terlalu lama menunggu diluar, kan? Dan nanti malam pun kau masih akan melakukan hal yang sama? Dasar fangirl gila.” Surin yang sudah tahu itu suara siapa hanya berusaha untuk tidak menanggapi. “Aku bahkan jauh lebih tampan darinya.” Sehun berujar meledek ketika melihat wajah seorang Yong Junhyung terpampang pada permukaan kotak pensil Surin. Gadis itu masih tidak bergeming dan malah memejamkan matanya. Ia terlalu lelah bahkan untuk bertengkar kembali dengan Sehun.

Sehun menatap Surin yang tampak tertidur diatas buku cetak sejarahnya. Sehun memangku dagunya pada satu tangannya seraya memperhatikan Surin yang tengah tertidur pulas. Pasti gadis itu kelelahan karena harus menunggu Beast di depan gedung Cube Entertainment, seperti yang belakangan ini semakin rajin Surin lakukan. Sehun mengambil jaket baseball berwarna hitam yang ia sampirkan pada kursinya, lalu meletakannya di bahu Surin yang sekarang ini menggeliat sambil menguap.

Sehun pikir setelah acara Festival Lentera dua minggu yang lalu, Surin akan lebih sering menghabiskan waktu bersamanya. Ternyata tidak. Semua masih sama seperti hari-hari lainnya. Gadis itu bahkan jarang keluar bersama Sehun akhir-akhir ini karena harus mengikuti jadwal padat boyband yang paling ia sukai itu.

Ponsel Sehun bergetar membuat laki-laki itu segera mengalihkan perhatiannya pada layar sentuh ponselnya yang masih bergetar, menandai panggilan masuk yang tidak kunjung diangkat oleh sang empunya.

“Ya, hyung?” Sehun mengecilkan volume suaranya, takut-takut Surin akan terbangun.

“Oh, arraseo. Aku kesana sekarang.” Sehun buru-buru mengambil tasnya setelah ia memutuskan sambungan teleponnya. Sehun menghentikan langkahnya lalu kembali ke kursinya dan Surin. Sehun mengambil alih buku catatan dan bolpoin yang ada dimeja Surin lalu menuliskan sebuah pesan disana.

‘Temui aku besok di taman dekat rumah pukul tujuh malam. Ada sesuatu yang penting yang harus aku bicarakan padamu. Jangan terlambat karena aku tidak suka menunggu! –SH’

Sehun tersenyum samar ketika membaca pesannya. Ia segera meninggalkan kelas itu sambil berlari kecil. Bagaimanapun juga Surin harus mengetahui hal ini sesegera mungkin. Suatu hal yang selama ini Sehun persiapkan untuknya dengan sangat matang. Hanya sebentar lagi dan ia pun dapat menunjukan hal besar itu pada Surin. Hanya sebentar lagi dan ia harus bertahan apapun yang terjadi.

**

“Ya! Hwang Taerin! Kau yang menyuruhku untuk datang ke depan gedung Cube Entertainment, tapi kau sendiri yang malah tidak datang. Menyebalkan. Untung saja Sehun kebetulan lewat dan menawariku tumpangan untuk pulang.” Surin mulai menyantap makan siangnya setelah memberi Taerin tatapan tidak sukanya.

“Aku rasa Sehun sengaja mengikutimu. Mana mungkin sampai kebetulan lewat.” Tanggap Taerin sambil tersenyum jahil. “Oh ya, Kau tahu apa yang membuatku tidak datang kemarin malam?” Surin menatap sahabatnya yang tampak berbunga-bunga itu dengan keheranan.

“Kau tahu murid pindahan dari Amerika yang tampan itu? Sudah tiga bulan ini aku mengejarnya dan kemarin ia mengajaku kencan!” Surin terbatuk karena saking terkejutnya. Hwang Taerin, gadis itu tidak disangka-sangka akan mendapatkan seorang kekasih lebih cepat dari dugaannya.

“Lantas kau menduakan Son Dongwoon?” Taerin hanya tertawa meledek mendengar sindiran yang malah terdengar bodoh itu. “Aku hanya penggemarnya. Tidak lebih.” Surin mendecak membuat Taerin langsung menatapnya. “Kau harus mengubah cara pikirmu yang menganggap idolamu itu adalah segalanya. Pantas saja sampai sekarang kau tidak kunjung punya kekasih.” Cibir Taerin sementara Surin langsung terbatuk lagi setelahnya.

“Apa yang kau bicarakan? Junhyung itu pacarku!” Sahut Surin tidak terima. Seenaknya saja Taerin berkata demikian. Meskipun begitu, ia membenci dirinya yang ‘setengah’ membenarkan perkataan Taerin barusan.

“Lihatlah yang ada dihadapanmu sekarang ini, Surin-a. Oh Sehun! Seorang laki-laki bertubuh tinggi dan berkulit putih yang tampan bagaikan pangeran itu, sayang sekali kalau disia-siakan.” Surin terbatuk lagi membuat seluruh murid yang ada diruangan itu menatapnya dengan tatapan tidak suka, merasa makan siangnya terkontaminasi virus batuk Surin.

“Kau gila?! Mana mungkin aku menduakan Junhyung oppa-ku yang tampan dengan Sehun yang sedari masih ingusan sudah bersamaku itu?!” Taerin tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu. Kali ini Taerin tidak mau menolak untuk menasehatinya lagi. Selama ini Surin terlalu membuang-buang waktu. Ia bahkan tidak sadar kalau dirinya saja sering curi-curi pandang ke arah Sehun yang selalu bermain basket dengan komplotannya itu jika sedang jam makan siang seperti ini.

“Aish, kau masih saja tidak menghiraukan perasaanmu itu. Jelas-jelas kau memang menyukai Oh Sehun.” Surin terbelak sementara Taerin terus menatapnya dengan jahil.

“Kau! Atas dasar apa kau bisa berkata seperti itu?!” Surin berujar tidak terima. Selama ini ia berusaha untuk memungkiri suatu rasa yang seringkali timbul jika ia sedang menghabiskan waktunya bersama dengan Sehun, dan sekarang seseorang sudah berhasil menyimpulkan suatu kesimpulan yang berhasil membuat kepalanya pusing.

“Memangnya kau tidak tergoda melihat sosoknya yang tinggi itu ketika bermain basket? Dengan kemeja putihnya ia berhasil mencetak gol dari kejauhan. Lalu terlebih lagi kemampuan menarinya yang sudah tidak diragukan lagi. Sungguh sosok yang sempurna. Bahkan aku akan memilihnya dibanding dengan Yong Junhyung.”

Surin meneguk ludahnya ketika tatapannya dan Taerin sama-sama tengah terarah pada lapangan basket yang luas itu. Sehun tampak tengah meminum air mineralnya seraya mengacak rambut cokelatnya asal. Di pinggir lapangan terdengar suara teriakan histeris para gadis kala sosok Sehun yang bermandikan sinar matahari itu mulai berlari dan merebut bola.

“Tidak. Tidak. Hanya Yong Junhyung yang dapat membuat jantungku seperti sekarang ini. Jang Surin, sadarlah!” Surin berujar sendiri sementara Taerin kini menatapnya antusias.

“Jadi jantungmu berdebar ketika kau melihat laki-laki itu?! Benar-benar sudah tidak diragukan lagi!” Surin menggelengkan kepalanya membuat Taerin mendengus. Taerin rasa ia harus segera menyadarkan fangirl gila ini.

“Sadarlah, Jang Surin. Kau juga punya kehidupan sendiri yang tidak harus selalu berhubungan dengan idolamu.” Taerin menatap Surin yang kini juga tengah menatapnya serius. Taerin rasa ia berhasil menguasai suasana.

“Kau dan idolamu itu berbeda. Tidak ada yang bisa mengubah hal itu. Bedakan mana yang nyata dan tidak. Kau tidak bisa terus menerus menggantungkan hidup dan perasaanmu pada seseorang yang bahkan tidak mengenalmu. Ia punya kehidupannya sendiri dan kau pun juga. Sudah saatnya kau menjalankan hidupmu yang nyata dan melepaskan apa yang tidak nyata.”

Surin mengalihkan pandangannya menuju ke lapangan basket itu lagi. Surin mengakui apa yang diucapkan Taerin benar adanya. Ia mempunyai kehidupannya sendiri yang harus ia jalani. Surin harus mendewasakan dirinya untuk menghadapi kehidupan itu dengan melepaskan segala sesuatu yang tidaklah nyata. Dengan begitu ia baru dapat menerima kehidupannya.

Kehidupannya yang nyata.

Tanpa Surin sadari, ia tersenyum menikmati debaran jantungnya kala Sehun menatapnya sambil tersenyum di lapangan basket itu.

**

Sehun mengacak rambutnya, kesal. Jarum jam pada jam tangannya sudah menunjuk ke angka sepuluh dan itu artinya ia sudah menunggu Surin selama tiga jam. Panggilan masuk dari seseorang terus tampak pada layar ponsel Sehun, menandakan waktunya sudah tinggal sedikit lagi. Sehun mencoba bersabar dan mengacuhkan panggilan telepon itu sambil terus berusaha menghubungi ponsel Surin. Ia tidak kunjung mengangkat ponselnya membuat Sehun ingin sekali meninggalkan taman itu sekarang juga.

Angin malam terus berhembus membuat Sehun yang hanya berbalutkan kaos hitam dengan jaket baseball hitam beserta beanie kesayangannya itu menggigil. Ia memutuskan untuk duduk kembali dikursi panjang taman itu. Tanpa ia sadari gemercik air hujan yang tadinya tidak terlalu besar itu perlahan mulai menambah kekuatannya dan kini berhasil membasahi seluruh permukaan tanah taman tersebut. Sehun buru-buru berlindung dibawah pohon besar yang berada ditengah taman. Ia sudah berjanji untuk tidak akan pulang sampai Surin datang.

“Sehun-a!” Sehun segera menoleh ke arah suara. Ia tersenyum lega ketika gadis itu tampak berlari kecil dengan payung transparan yang melindungi tubuhnya. Surin buru-buru melindungi Sehun dengan payungnya sambil menatap Sehun yang kini menggigil itu dengan tatapan khawatir.

“Dasar bodoh! Kalau saja aku tidak membuka buku catatan sejarahku, sampai kapanpun aku juga tidak akan tahu kalau kau sedang menunggu disini!” Surin memarahi Sehun yang malah tersenyum. “Syukurlah kau membacanya.” Ujar Sehun pelan membuat Surin semakin geram.

“Memangnya apa yang ingin kau bicarakan? Tidak bisakah besok di sekolah saja atau via telepon agar lebih mudah? Sudahlah, ayo pulang sekarang.” Timpal Surin lalu menggandeng lengan Sehun yang kini malah menahannya. “Tunggu sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan serius padamu.”

Hujan semakin deras dan angin bertiup kencang sampai-sampai payung transparan yang digenggam Surin hampir terbang kalau saja ia tidak dengan kuat menggenggamnya. Surin memperhatikan Sehun yang kini tengah menatapnya serius dalam diam. Surin tidak tahan seperti ini. Ia tidak tahan kalau harus menatap kedua manik cokelat pekat itu lebih lama. Ia benar-benar tidak bisa lagi menahan debaran jantungnya. Ada sebagian dalam dirinya yang ingin memiliki laki-laki bertubuh tinggi yang kini tengah menggenggam lengannya dengan kuat itu. Dan Surin benar-benar tidak tahan akan perasaan tersebut.

“Aku sudah mengambil test kelulusan lebih dulu.” Surin menatap laki-laki itu dengan terkejut. Itu artinya Sehun tidak akan masuk sekolah selama tiga bulan kedepan sampai perayaan kelulusan tiba.

Test kelulusan yang diambil Sehun biasanya juga diambil oleh para siswa-siswi yang akan mempersiapkan debutnya sebagai artis, sehingga ia tidak perlu lagi memikirkan sekolahnya dan hanya akan fokus pada pelatihannya yang dalam hitungan bulan akan memulai debutnya. Test kelulusan yang disediakan sekolahnya beberapa bulan sebelum waktu yang seharusnya itu intinya ditujukan untuk siswa-siswi yang harus mempersiapkan debutnya, entah menjadi composer musik, dancer, pemain film, dan sebagainya dengan matang-matang tanpa memikirkan hal lain terlebih dulu, termasuk sekolah. Mereka juga tidak akan datang ke sekolah lagi sampai pengumuman kelulusan dan perayaan kelulusan itu tiba.

Surin tidak habis pikir. Apa yang menyebabkan laki-laki itu mengambil test kelulusan itu lebih dulu? Apa mungkin semua ini ada hubungannya dengan seluruh pesan yang ada di ponsel Sehun mengenai jadwal latihan itu? Apa mungkin laki-laki itu benar-benar mempersiapkan debutnya sebagai pemain basket seperti yang ia beritahukan beberapa waktu yang lalu?

Surin tidak bisa berkata-kata kecuali menyembunyikan air matanya yang akan jatuh sebentar lagi. Jika pelatihan itu memang benar adanya, itu artinya Sehun tidak akan menemaninya setiap hari di sekolah lagi sampai perayaan kelulusan tiba. Itu artinya Sehun tidak akan mengantar dan menjemputnya seperti biasa. Itu artinya Sehun tidak bisa menemaninya seperti yang selama ini ia lakukan.

“Aku juga akan pindah ke rumah pelatihan dan tidak akan pulang pada hari libur karena aku harus benar-benar mempersiapkan semua ini.” Sehun berujar lagi. Kali ini laki-laki itu berusaha menangkup wajah Surin yang tidak mau menatapnya. “Mianhae.”

“Kau ingat beberapa waktu yang lalu aku pernah bilang kalau aku melakukan semua ini untuk orang yang ku cintai?” Surin kini menatapnya dengan mata yang basah. Ia tidak mau Sehun memberitahunya siapa orang yang ia cintai itu. Ia tidak mau hatinya jauh lebih berantakan dari ini. Sudah cukup dengan kenyataan Sehun tidak akan menemaninya sampai beberapa bulan kedepan.

Sehun menghapus air mata yang jatuh begitu saja pada pipi Surin. Ia akan memberitahu perasaannya selama ini pada Surin. Sebuah perasaan yang sudah menuntunnya sampai sejauh ini.

“Orang itu adalah kau. Jang Surin, seorang fangirl gila yang suatu saat nanti aku harap akan melepaskan kedua matanya dari idolanya itu dan menaruh mata beserta hatinya hanya padaku.” Sehun tersenyum sementara Surin masih tidak bergeming, seakan tidak sadar akan apa yang diucapkan Sehun barusan. Beberapa detik kemudian ia tersadar dan menangis semakin kencang. Selama ini Sehun menyukainya dan dengan bodohnya Surin tidak pernah mengindahkan perasaannya yang juga menyukai laki-laki itu dengan lebih memilih untuk membuang-buang waktunya dengan berusaha menghindari kenyataan itu.

Sehun menundukan kepalanya sedikit, mendekat ke arah Surin. Laki-laki itu tersenyum ketika melihat Surin yang hanya menatapnya dengan air mata yang terus mengalir dari kedua matanya. “Tunggu sampai aku benar-benar menunjukan hal besar yang sudah ku persiapkan dengan matang itu padamu. Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu, Oh Sehun.” Surin memejamkan kedua matanya dan Sehun segera mendaratkan bibirnya pada bibir Surin dengan perlahan membuat debaran jantung keduanya menyatu bagaikan sebuah lagu yang tertutupi oleh derasnya suara air hujan.

**

Surin menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia tidak memungkiri kalau ada sesuatu yang seakan menghilang dari dirinya. Oh Sehun. Laki-laki yang tiga bulan lalu menciumnya ditengah hujan yang deras. Surin mengutuk laki-laki itu karena memberikannya sebuah kenangan dimana setiap hujan turun, Surin akan selalu mengingat kejadian itu.

Surin belakangan ini juga jadi lebih sering datang kerumah laki-laki itu untuk sekedar membantu Nyonya Oh yang sepertinya juga sangat merindukan anak bungsunya itu. Surin berusaha mencari tahu pelatihan macam apa yang diikuti Sehun dari kedua orangtua laki-laki itu beserta kakak-kakaknya. Namun tidak satupun yang berkenan memberitahu Surin. Mereka bilang itu adalah sebuah kejutan besar yang Sehun persiapkan dari sekolah menengah pertama dan mereka tidak mau membocorkannya begitu saja, meskipun itu pada Surin.

Surin tidak dapat memungkiri perasaannya yang sangat merindukan sosoknya yang jahil itu. Sosoknya yang jika sedang dimarahi Surin malah tertawa sampai-sampai kedua matanya membentuk lengkungan bulan sabit. Surin kesal pada Sehun yang hanya bisa dihubungi setiap hari minggu. Itupun harus melalui sambungan telepon yang bahkan hanya berdurasi lima belas menit.

Tanpa gadis itu sadari, satu bulir air mata jatuh begitu saja. Ia langsung menghapusnya dan menghela napas. Surin tersenyum memandangi fotonya bersama Sehun yang tertempel rapi pada buku hariannya.

“Surin-a! Ada berita besar! Oh Sehun! Oh Sehun!” Taerin menghampirinya sambil menggoyang-goyangkan lengannya. Surin hanya menghela napas lelah. Setiap hari Taerin juga menanyainya tentang alasan Sehun yang mengambil test kelulusan terlebih dahulu. Setiap hari Taerin juga selalu memberinya asumsi-asumsi seperti jangan-jangan Sehun mengikuti wajib militer, dan sebagainya yang membuat Surin selalu teringat akan laki-laki itu. Surin sudah terlalu lelah sampai-sampai semuanya terlihat tidak mengasihaninya yang juga tidak tahu alasan pasti mengapa Sehun mengambil test kelulusannya terlebih dulu.

“Sekarang aku tahu alasan mengapa Sehun mengambil test kelulusan itu tiga bulan yang lalu.” Taerin berujar sambil menunjukan ponselnya dengan terengah-engah seperti habis lari marathon. “Sudahlah Hwang Taerin. Aku lelah. Aku pulang duluan ya.” Surin yang tidak mau mendengarkan asumsi-asumsi Taerin lagi pun meninggalkan sahabatnya yang masih saja terus meneriakinya.

“Surin-a! Kau harus melihat internet saat tiba dirumah nanti!” Teriak Taerin sementara Surin tidak mengindahkannya dan hanya berjalan lesu.

Semua yang Surin lakukan terlihat selalu mengingatkannya pada laki-laki itu.

**

Sembilan puluh delapan hari berlalu semenjak Taerin berusaha mengetahui apa alasan Sehun mengikuti test kelulusan itu dan Surin masih tidak mengindahkannya. Ia menjauhi diri dari segala sesuatu yang berbau Sehun. Surin harap ia hanya fokus pada ujian kelulusannya yang akan dilaksanakan sebentar lagi dan bukan pada hal lain termasuk laki-laki itu.

Surin menuruni tangga dengan masih setengah sadar. “Selamat pagi, Surin-a! Ayo cepat duduk disini.” Ibunya berseru girang membuat Surin segera mempercepat langkahnya. Ia mempertajam matanya ketika melihat ayah dan ibu Sehun kini juga sedang duduk di meja makan itu sambil menatapnya.

“Ada yang ingin kami bicarakan padamu.” Surin segera menempatkan dirinya dikursi meja makan itu sambil terus memperhatikan kedua orangtua Sehun yang tengah tersenyum padanya. Surin harap ini bukan acara perjodohan sepihak seperti film yang kemarin ia tonton.

“Dua hari yang lalu tepatnya pukul dua belas malam, Sehun kembali ke rumah setelah beberapa bulan ini disibukan dengan kegiatannya yang padat. Ia kemari untuk memberi kami semua ini. Sehun juga menitipkan satu untukmu. Ini terimalah.” Nyonya Oh menyodorkan satu kertas tiket pada Surin membuat gadis itu terbatuk sampai-sampai ingin menangis. “EXO predebut showcase?” Surin membaca tulisan yang ada di tiket itu dengan susah payah.

“Memangnya kau belum tahu? Sehun kini sudah memulai debutnya menjadi artis. Ia beserta groupnya yang merupakan bentukan SM Entertainment itu akan menggelar showcase perayaan seratus hari sejak video teaser mereka dirilis itu dalam dua hari lagi.”

Surin segera berlari ke kamarnya dan segera menyalakan laptopnya. Ia mencari tahu semua tentang EXO, boyband keluaran terbaru SM Entertainment. Selama ini ia hanya tahu dari Taerin dan teman-temannya yang lain kalau ada boyband baru beranggotakan dua belas orang yang dibagi menjadi EXO-K dan EXO-M itu tanpa berniat mencari tahu lebih tentang boyband itu. Surin selama ini merasa penat dan berusaha menjauhkan diri terutama dari hal yang berbau fangirl, kehidupannya yang sudah lama ia lepaskan.

Surin terkejut ketika membaca biodata seluruh anggota boyband itu. Benar saja, Sehun adalah bagian dari kedua belas laki-laki itu. Surin menahan air matanya ketika ia menonton semua video yang belum sempat ia tonton. Dua hari lagi adalah perayaan seratus hari semenjak semua teaser itu dirilis dan mereka akan mengadakan showcase. Surin merasa bodoh tidak memberikan Sehun selamat dari jauh-jauh hari.

Surin meraih ponselnya dan langsung menghubungi Sehun. Ia sudah tidak tahan dengan ini semua.

“Surin-a?” Surin menahan air matanya kala ia mendengar suara Sehun yang selama ini ia rindukan itu menyapa telinganya kembali.

“Kau terlihat tampan di music video EXO yang berjudul History itu.” Sehun tertawa diseberang sana sementara Surin langsung menangis sekencang-kencangnya. “Dasar bodoh! Mengapa tidak memberitahuku kalau music video beserta semua teaser pertamamu itu sudah dirilis?!”

“Aku mau kau mengetahuinya sendiri. Tidak kusangka kau yang malah tahu belakangan soal ini. Kami sudah akan merayakan seratus hari kami dan kau baru tahu. Kasihan sekali.” Sehun berujar dengan santai sementara Surin masih saja mengontrol dirinya untuk tidak larut dalam tangisannya.

“Aku pikir kau benar-benar akan debut sebagai seorang pemain basket! Ternyata malah jadi anggota boyband! Kau cari mati, ya?!”

“Memangnya kau kemana saja? Biasanya kau pasti sudah heboh kalau ada boyband baru. Jangan bilang selama ini kau sibuk menangisiku?!” Terdengar suara tawa Sehun lagi. Suara tawa yang sangat Surin rindukan.

“Salahmu sendiri yang tidak mengabariku apapun! Aku hampir gila karena mengkhawatirkanmu sampai-sampai aku tidak mau lagi menjadi seorang fangirl, kau tahu?!”

“Omongan tidak nyambung macam apa itu?! Sudahlah semuanya sudah terjadi dan aku senang kau mengetahui hal ini meskipun terlambat. Datang ke showcase-ku yang dua hari lagi akan dilaksanakan itu ya. Kau adalah fangirl pertamaku yang harus dan wajib datang.” Surin menghapus kedua air matanya cepat.

“Cih, sejak kapan aku menjadi fangirlmu?”

“Anniya, kau bukan fangirlku. Kau itu pacarku.” Surin rasanya ingin memukul laki-laki yang sedang tertawa itu sekarang juga kalau saja ia tidak ingat mereka tengah bercakap melalui sambungan telepon.

“Sejak kapan aku jadi pacarmu?!” Surin berseru tidak terima.

“Sejak ciuman pertama kita itu. Sudah dulu ya. Aku harus latihan lagi. Annyeong, fangirl gila.”

Surin memperhatikan layar laptopnya lurus-lurus. Foto pertama Sehun sebagai seorang artis itu sangat tampan. Jauh lebih tampan dari biasanya. Surin menghela napas kemudian berusaha mencari tahu lebih tentang boyband yang tadinya hanya Surin ketahui namanya saja itu.

Ia tidak bisa lagi menahan air matanya ketika membaca fakta tentang Sehun yang dibubuhkan oleh seorang fansnya. Sehun sudah mengikuti pelatihan di SM Entertainment sedari ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Surin kini tahu apa maksud tentang sesuatu yang besar, yang sudah Sehun persiapkan untuknya dengan matang-matang itu.

Surin kini juga tahu apa maksud Sehun berkata bahwa kelak ia ingin kedua mata dan hati Surin hanya mengarah padanya.

Sehun mencoba menjadi apa yang Surin sukai.

Surin tidak tahu lagi bagaimana menghentikan air mata yang terus mengalir itu.

**

31 Maret 2012

Suasana Seoul’s Olympic Stadium saat itu benar-benar ramai. Surin heran padahal EXO adalah boyband yang sangat baru dan showcase ini pun hanyalah sebuah showcase predebut yang bertujuan untuk merayakan seratus hari mereka setelah video teaser itu di rilis, tapi ribuan fans bahkan rela mengantre sangat lama hanya untuk melihat kedua belas orang tersebut.

Surin beserta keluarga Sehun dan keluarganya duduk dikursi VVIP, yang dikhususkan untuk keluarga para anggota. Dari perjalanan hidupnya sebagai seorang fangirl, baru kali ini Surin dapat duduk dikursi khusus seperti ini.

Surin benar-benar tidak sabar untuk melihat Sehun. Surin benar-benar tidak sabar melihat laki-laki itu menari dan bernyanyi dipanggung yang besar itu. Ia terlalu merindukan laki-laki itu. Surin benar-benar sangat merindukannya.

Tidak lama kemudian, seluruh lampu dimatikan dan teriakan pun mulai menggema memenuhi seluruh penjuru ruangan. Boyband terbaru SM Entertainment itu muncul ketika VCR selesai diputarkan dengan lagu pertama mereka, History.

Surin menjerit melihat Sehun yang kini menari dengan sangat bersemangat. Laki-laki itu melakukan ini semua untuk dirinya dan Surin bahkan tidak sanggup untuk bernapas hanya dengan memikirkan hal itu. Ia sadar kalau ia sangat mencintai laki-laki bernama Oh Sehun. Ia baru benar-benar menyadarinya.

Teriakan para penonton semakin menggema ketika tiba saatnya bagian perkenalan. Satu persatu anggota mulai memperkenalkan dirinya. Surin tidak sanggup ketika bagian Sehun tiba. Semua terasa seperti mimpi. Melihat Sehun duduk dipanggung itu sambil memegang microphone, semuanya masih terasa seperti mimpi yang bagi Surin tidak mungkin menjadi nyata.

Surin dapat melihat Sehun mengedarkan pandangannya. Surin yang saat itu duduk di depan dan wajahnya samar-samar terkena sinar lampu panggung tersebut melambaikan tangannya singkat. Pandangannya dan Sehun bertemu dan mereka tersenyum satu sama lain. Untuk sekian lama tidak bertemu. Untuk sekian lama bersama dan baru menyadari perasaan mereka satu sama lain. Mereka berdua bertatapan dengan senyuman yang tidak berhenti mengembang, menyalurkan perasaan mereka satu sama lain.

“Annyeong haseyo, EXO-K Maknae, Sehun-ibnida.”

Dan Surin tidak bisa untuk tidak berbahagia bersama laki-laki yang kini masih menatapnya dengan senyuman bangga itu.

Surin rasa kini ia resmi menjadi seorang kekasih sekaligus seorang fangirl dari laki-laki bernama Oh Sehun.

-FIN

Huweeeeeeee!!! Semacam bentuk ‘throwback’ karna EXO baru aja ngelangsungin konser kedua mereka. Gak nyangka banget udah konser kedua aja ya. Semoga mereka sukses terus! We are one!

And the last is thanks for reading this ff huhu. Maaf kalau masih banyak kekurangan ya. Luv.

Advertisements

8 comments

  1. aihunxoxo · March 10, 2015

    beginilah kehidupan fangirls.
    so sweet bercampur haru juga hihi.
    sehun dri awal emg suka sama surin ya.
    haha kasihan juga sehun dibandingin sama junhyung.
    kalo aku sendiri pasti milih sehun *iayalah*
    hehe karena dia bias ku #gaknanya lol
    ituuuuuu ada dbsk.
    author suka dbsk juga kah?
    wah kita sama #toss.

    tapi surin cepat banget pindah kelain hati. maksudnya suka keboysband lain.
    hehe tapi nevermind lah.
    skrg jdi suka sehun.
    sehun sudah jadi boysband. dia juga jadi pcar sehun n jadi fangirl pertama sehun.
    aku juga pengen seperti itu.. tapi…..
    hahaha so sweet deh thor.
    aku sukaa aku sukaa ff nya.
    4 thumbs for author *pinjam punya sehun* hihi

  2. tailorswift122 · April 1, 2015

    Aslii deh..ff disini pada keren keren semua, bagus, menyentuh,.fluffy nya dapet, feelnya dapet dan btw gw keilangan kata2 bwat ungkapin..
    Buruan post ff terbaru ya..
    Gw selamanya ngefans ff disini kok xixixi..
    Annyeong~

    • Oh Marie · April 4, 2015

      Wah makasih banyak udah mau ngunjungin dan komen huhuhu terharu banget jadinya;;

      aku udah post koook silahkan di cek (promosi) HAHAHA sekali lagi makasih ya<3

  3. CantikaEXO · March 21, 2016

    HUAAA😭😭😭😭
    Sampai jerit – jerit aku saking senengnya!
    Author kau yang paling keren!!
    Semangat terus ya!!
    FIGHTING!!!

    • Oh Marie · March 21, 2016

      AAAAAAAA manis banget komennya huhuhu. Makasih makasih makasiiiih banyak! Semoga ga bosen-bosen baca disini yaaa>< Ily<3

      • CantikaEXO · March 21, 2016

        Ihhhh, mana bisa bosen kalo ceritanya eonni bagus semua😅😅

  4. rahsarah · April 19, 2016

    dan sehun selalu bisa membuat surin nangis bahagiaaaaa, sehun tuh ya bener2 buat hati meleleh banget..

  5. southpole · July 10, 2016

    Lalu sebentar lagi konser ke-3 exo hahahhaha #salahfokuslagi

    Oooooh jadi alasan surin suka warna merah tuh karena power ranger merah wakakkakaka bener2 dah

    Lagi2 sehun so sweetnya kelewatan deh hikssss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s