Sunshine

zzzz

Happy reading~

Jika Surin bisa menimpuk laki-laki berparas tampan dan berbadan tinggi itu dengan pot tanaman milik Ibunya maka Surin sudah melakukannya dari berjam-jam yang lalu. Sayangnya ia harus berpikir ulang mengingat laki-laki itu adalah calon menantu yang sangat didambakan kedua orangtuanya.

“Sudah pasti ada yang ia sembunyikan didalam ponselnya itu sampai-sampai aku tidak boleh melihat ataupun menyentuh ponsel itu sedikit pun.” Surin memicingkan matanya seraya menggenggam ponselnya dengan erat. Surin tidak akan membiarkan kecelakaan seperti kemarin terjadi lagi.

Kecelakaan dimana Sehun diam-diam mengambil ponsel yang memang saat itu Surin letakan dengan sembarangan. Laki-laki itu benar-benar membuka seluruh isi ponselnya. Mulai dari pesan, notes, galeri, dan seluruhnya sampai-sampai Surin harus menimpuknya dengan buku sejarah yang tebalnya luar biasa itu agar ia mau mengembalikan ponselnya. Surin memang tidak keberatan jika Sehun membuka ponselnya, hanya saja Surin merasa ia diperlakukan dengan tidak adil jika ia juga tidak melihat isi ponsel kekasihnya itu. Lagipula, Surin rasa bertukar ponsel dengan kekasih sendiri adalah hal yang wajar-wajar saja.

Namun sikap Sehun tadi pagi jelas membuat Surin merasa apa yang dilakukan laki-laki itu padanya tidaklah wajar. Laki-laki yang sering dipanggil ‘Larva kuning’ oleh Surin itu melarang Surin membuka isi ponselnya. Jangankan membuka, menyentuhnya saja Surin tidak boleh.

Memang benar bahwa selama ini pun Surin merasa ‘bertukar ponsel’ tidaklah perlu untuk dilakukan mengingat ia sendiri memegang prinsip untuk menegakan kepercayaan didalam suatu hubungan. Akan tetapi, kecelakaan kemarin benar-benar membuat Surin merasa berada diposisi yang tidak adil. Surin harus melihat seluruh isi ponsel laki-laki itu juga, barulah Surin merasa tenang.

Gelagat aneh Sehun juga dapat Surin tangkap dari peristiwa ini. Dengan menyembunyikan isi ponselnya, pasti diam-diam Sehun juga menyembunyikan sesuatu yang besar darinya. Sesuatu yang sangat mencurigakan, membuat Surin ingin sekali mendobrak pintu toilet yang ada dihadapannya itu, jika saja ia tidak ingat toilet tersebut adalah fasilitas kampus yang harus dijaga.

Hal mencurigakan itulah yang membuat Surin seharian ini terus mengikuti Oh Sehun, laki-laki berparas tampan yang memiliki ratusan bahkan ribuan fans itu kemana pun ia pergi. Mulai dari perpustakaan kampus, kelas, kantin, sampai Sehun selesai buang air kecil pun ia dengan setia menunggu di depan toilet pria seperti yang sekarang ini ia lakukan. Surin tidak memungkiri pemikirannya yang mengatakan bahwa Sehun sedang berusaha mengkhianatinya dengan main belakang bisa saja benar terjadi.

“Kau masih tidak mau memberikan ponselmu?” Surin membuntuti Sehun yang baru saja keluar dari toilet itu. Laki-laki itu tampak tidak peduli dengan kehadiran Surin dan malah asik memainkan ponselnya seraya berjalan tanpa menoleh kearah Surin yang kini tampak terbakar emosi. Sehun memang sudah memperingatkan Surin untuk tidak mengikutinya lagi, tapi Surin tetap bersikeras sampai mungkin sekarang ini Sehun juga sudah tidak tahan dan memilih untuk menghentikan langkahnya dengan geram sambil menatap gadis yang kini juga tengah menatapnya dengan tatapan menantang.

“Berikan sekarang.” Ujar Surin sementara Sehun tiba-tiba saja menatap Surin dengan serius. Ia memperkecil jaraknya dengan Surin yang sekarang tampak sangat panik. Surin terus berjalan mundur hingga punggung kecilnya menabrak tembok lorong lantai dua kampus tersebut. Suasana lorong saat itu benar-benar sepi membuat Surin ingin melarikan diri sekarang juga namun entah mengapa Sehun seakan melarangnya barang untuk bergerak sedikitpun.

Surin merasakan deru napas Sehun yang seakan menggelitik telinganya. “Jelaskan dulu apa maksud dari isi obrolan grup kakaotalk-mu bersama Taerin dan Cheonsa satu minggu yang lalu itu baru aku akan memberikan ponselku padamu.” Surin masih belum bisa membuat otaknya bekerja secara normal karena jaraknya dengan Sehun yang sangat dekat, membuatnya hanya terfokus akan debaran jantung yang tidak bisa diajak berkompromi sama sekali. Ia masih belum dapat mencerna apa yang dikatakan laki-laki itu ketika otaknya seakan memutarkan sebuah film yang menampilkan kolom obrolan grup ktalk-nya bersama Taerin dan Cheonsa seminggu yang lalu. Surin merasa seketika seluruh darahnya naik ke kepalanya. Semburat merah mulai bermunculan pada kedua belah pipinya.

Sehun tersenyum menyadari Surin yang sangat gugup. “Ah, aku rasa kau tidak perlu menjelaskannya lagi. Dari ekspresimu saja aku sudah dapat mengetahui apa maksud dari obrolan itu. Kalau begitu langsung saja kita ke prakteknya. Maksudnya ini, kan?” Sehun segera mengecup pipi merah Surin. Ia tertawa geli melihat Surin yang seakan baru saja terkena serangan jantung. Sehun langsung melangkah menjauhi Surin dengan langkah yang santai seakan tidak terjadi apa-apa barusan. Surin menangkup pipinya yang semakin memerah dan mengumpat laki-laki yang kini tengah melambaikan tangannya sambil terus berjalan santai menjauhinya. “Ya! Oh Sehun! Dasar kurang ajar!”

“Geurae, aku menyerah! Lagipula aku rasa tidak penting juga mengetahui isi ponselmu. Aku tahu kau pasti tidak akan berani macam-macam jadi sudah seharusnya dan sewajarnya aku diam dan tenang saja. Benar, kan?!” Surin berteriak pada Sehun yang kini tampak tengah memasukan kedua tangannya pada saku celana panjang hitamnya. Laki-laki itu terus melangkah tanpa menoleh ke arah Surin sedikitpun. Sehun yang masih dapat dengan jelas mendengar suara gadisnya itu hanya tersenyum kecil. Jelas-jelas gadis itu seolah dengan secara langsung mengatakan bahwa ia tidaklah tenang. Kata-kata itu malah terdengar seperti mewanti-wanti Sehun untuk tidak macam-macam membuat Sehun ingin sekali tertawa dengan keras.

Surin yang masih berusaha mengontrol detak jantungnya itu terdiam ketika menyadari sesuatu yang sepertinya sudah berhasil ia ingat kembali, layaknya satu pasang puzzle yang hilang lalu kembali melengkapi sisi yang kosong itu. Seketika sekelebat bayangan obrolan grup kakaotalk-nya dengan Taerin dan Cheonsa mulai mengisi seluruh sudut kepalanya membuat Surin merasa bodoh telah menanggapi topik pembicaraan tersebut.

**

KAKAOTALK

Hwang Taerin : Kalau kau seperti itu terus bisa saja nantinya pacarmu itu bosan dan tergoda oleh perempuan lain. Bisa saja ya, bisa saja.

Park Cheonsa : Betul apa yang dikatakan Taerin. Kalau boleh jujur, aku malah lebih sering melihatmu marah-marah daripada bersikap layaknya ‘kekasih’ jika sedang bersama Sehun.

Hwang Taerin : Kalau aku boleh jujur juga, aku lebih sering melihat Sehun yang seakan berusaha memberi perkembangan dalam hubungan kalian. Kau mau seperti ini terus? Ya, terserah saja, sih.

Jang Surin : Benarkah? Jadi selama ini aku seperti itu? Kalian tidak salah lihat, kan? T_T

Park Cheonsa : Ya, pada kenyataannya memang seperti itu. Mulai sekarang kau yang harus berinisiatif duluan!

Jang Surin : Lalu aku harus bagaimana?! Aku harus memulainya dari mana?!

Hwang Taerin : Buatkan Sehun bekal makan siang spesial!

Park Cheonsa : Balas semua pesan singkatnya tanpa mengulur-ulur waktu!

Hwang Taerin : Tidak perlu gengsi, langsung saja ajak dia berkencan. Tapi ingat, tetap saja kau harus menjaga harga dirimu. Ajak saja dia ke tempat-tempat yang tidak terlalu kentara kalau sebenarnya kau sedang mengajaknya berkencan. Misalnya ke toko buku setelah itu makan malam bersama atau sekedar makan ice cream bersama di toko ice cream. Intinya secara tidak langsung kalian sudah berkencan.

Park Cheonsa : Hindari sifat emosionalmu. Jangan marah-marah apalagi saat kalian sedang pergi berdua. Akan lebih baik kalau kau memeluk lengannya saat berjalan berdampingan.

Hwang Taerin : Betul! Lalu ketika Sehun mengantarmu pulang, ucapkan terima kasih. Maksudku, jangan hanya ucapan terima kasih saja. Tapi…

Park Cheonsa : Poppohae! Poppohae! Kisseu! Kisseuuu!!

Hwang Taerin : Itu maksudku! Karena kita perempuan jadi di pipi saja. Jangan sampai terlihat terkesan agresif. HAHAHA

Jang Surin : Kalian gila?! Kau bilang aku tidak boleh sampai terlihat terkesan agresif, tapi jelas-jelas semua saran kalian adalah pendukung dari kata agresif itu! Aish, jinjja.

Park Cheonsa : Tapi memang itu cara terbaiknya!

Jang Surin : Tidak ada cara lain? Tidak boleh kalau hanya mentraktirnya bubble tea saja tanpa harus disertai dengan embel-embel kencan apalagi… menciumnya duluan? Aku bisa gila kalau harus menciumnya duluan! Meskipun hanya di pipi tapi tetap saja aku tidak bisa!

Hwang Taerin : Kalian sudah berpacaran selama dua tahun. Aku tekankan ya, dua tahun. Sifatmu ini malah terlihat seakan kau tidak sadar dan hanya menganggap hubunganmu yang sudah berumur ini baru seminggu.

Park Cheonsa : Cobalah dulu dan kau pasti akan langsung berterima kasih pada kami setelahnya.

Jang Surin : Baiklah, aku akan melakukannya tapi untuk yang terakhir aku tidak akan pernah melakukannya. Terima kasih untuk saran kalian.

Hwang Taerin : Itu justru bagian paling pentingnya!

Park Cheonsa : Itu justru bagian paling pentingnya!!

Jang Surin : Aish, kalian ini kompak sekali!

Surin menggelengkan kepalanya dengan frustasi membuat Taerin dan Cheonsa yang kini tengah menikmati makan siangnya hanya memandang gadis itu dengan tatapan bertanya-tanya.

“Kau sedang stress ya?” Tebak Cheonsa membuat Surin hanya mengangguk pelan sambil menatap makan siangnya tanpa berniat untuk memakannya sama sekali. Cheonsa dan Taerin berpandangan kemudian menghela napas. Mereka sudah tahu kalau tingkah Surin sekarang ini pasti ada hubungannya dengan Sehun.

“Aku jadi khawatir.” Surin berujar dengan tiba-tiba membuat Taerin dan Cheonsa langsung memandangnya lagi. “Aku khawatir kalau Sehun merasa bosan padaku yang suka marah-marah ini dan akhirnya berpaling.” Surin memandangi punggung Sehun yang kini tampak tengah sibuk mengambil makan siang dengan teman-temannya. Surin meremas sendoknya ketika melihat salah satu mahasiswi yang sepertinya adalah mahasiswi baru menghampiri Sehun seraya menyodorkan satu kotak cokelat pada Sehun yang langsung menerimanya dengan senyuman ramah. Taerin dan Cheonsa yang turut menyaksikan kejadian itu pun hanya terkikik pelan. Benar-benar situasi yang pas.

Sehun menoleh ke arah meja Surin, Taerin, dan Cheonsa kemudian menunjukan kotak cokelatnya seakan-akan tengah memamerkannya pada Surin yang langsung menatapnya garang. Sehun hanya tertawa kemudian berlalu mengikuti teman-temannya yang lain ke arah meja panjang di sudut kantin kampus yang sangat luas itu.

“Kalau begitu sebaiknya kau belajar pada gadis yang baru saja memberi Sehun cokelat itu.” Taerin masih berusaha menahan tawanya. “Kan sudah kami peringatkan. Hanya Sehun yang sepertinya berusaha untuk membuat hubungan kalian ini berjalan terus. Kau harus berusaha juga kalau kau tidak mau nantinya Sehun malah menyerah.” Cheonsa berujar sembari terus memakan makan siangnya dengan lahap.

Surin meremas sendok yang tengah digenggamnya kemudian menyendok nasi yang ada dihadapannya. Ia memakannya dengan garang membuat Taerin dan Cheonsa hanya menelan ludah melihat ekspresi Surin yang berapi-api. “Baiklah, aku akan berusaha mulai sekarang. Aku tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi.” Surin meneguk air mineralnya sambil mengipasi wajahnya dengan kedua tangannya ketika seorang mahasiswi lain menghampiri Sehun dan memberikan satu botol minuman isotonik pada laki-laki yang dengan senang menerimanya itu.

Ya, mulai sekarang Surin tidak akan membiarkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang kini bertengger di kepalanya terjadi.

**

“Aku sudah telat, ada kelas pagi hari ini. Aku duluan, ya.” Surin baru saja selesai melepas sabuk pengaman yang ia pakai dan hendak turun dari mobil sedan milik Sehun namun ia mengurung niatnya. Ia menatap Sehun takut-takut yang kini juga tengah menatapnya penuh tanda tanya. “Kenapa tidak jadi keluar? Katanya sudah—” Ucapan Sehun terpotong ketika ia merasakan bibir Surin mendarat begitu saja pada pipi kanannya. Sehun menatap Surin dengan tatapan tidak percayanya. “Terima kasih untuk tumpangannya. Sampai bertemu saat jam makan siang nanti.” Surin mengelus lembut pipi kanan Sehun dengan tangan kirinya dan segera keluar dari mobil tersebut. Surin harap Sehun tidak berpikiran yang macam-macam. Mendadak saja ia merasa bodoh harus benar-benar mengikuti saran kedua sahabatnya itu.

Sementara disisi lain, Sehun masih belum kembali pada kesadarannya semula. Selama dua tahun berpacaran, baru kali ini Surin bertingkah demikian.

Sehun rasa gadisnya itu baru saja tersambar petir yang entah datangnya dari mana.

**

Sehun tersenyum puas pada kamera yang tengah di genggamnya itu ketika ia melihat hasil jepretan yang ia ambil tadi di taman belakang kampus tersebut. Kebetulan dosen yang mengajar kelas Sehun hari ini tidak masuk jadi sejak dari tadi laki-laki itu hanya berkeliling kampus sambil menyalurkan hobinya melalui kamera kesayangannya itu sampai tanpa ia sadari perutnya mulai terasa lapar, menandakan jam makan siangnya sudah tiba.

“Oh Sehun!” Surin berlari kecil membuat Sehun yang tengah terfokus pada kamera DSLR miliknya pun menoleh. Alis tebalnya terangkat menandakan ekspresi heran karena melihat Surin yang tampak terengah-engah namun sedetik kemudian merapikan tata letak rambutnya yang ia gerai begitu saja dan tersenyum manis pada Sehun.

“Ayo makan siang bersama.” Surin berujar seraya memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “Kau tidak kesurupan, kan?” Sehun menatap Surin dengan tatapan yang semakin terlihat keheranan. Tidak biasanya Surin menghampirinya duluan apalagi mengajaknya makan siang bersama seperti ini. Sehun juga baru menyadari bahwa penampilan Surin yang hari ini terlihat lebih girly dari biasanya. Sehun bahkan yakin Surin memoleskan lipstick pink tipis pada bibirnya. Biasanya gadis itu pun lebih memilih untuk mengenakan celana hitam panjang, tetapi hari ini Surin tampak memakai rok bermotif bunga-bunga selutut, mempermanis penampilannya hari ini.

“Tentu saja tidak.” Surin berucap seraya merogoh tas selempang berwarna merah yang ia sampirkan pada bahu kanannya. Ia mengambil dua kotak bekal yang sudah ia siapkan dari rumah. “Aku membuatkanmu sesuatu. Mau coba?” Tawar Surin sambil tersenyum senang. Surin meraih lengan Sehun yang kini menganga tidak percaya, dan menariknya ke arah kantin membuat Sehun mau tidak mau pun mengikutinya, masih dalam keterkejutan yang luar biasa. Diam-diam sebuah senyuman mengembang di wajah Sehun. Sebuah senyuman yang mengisyaratkan sebuah perasaan senang. Sebuah senyuman yang mengekspresikan debaran jantungnya itu kala kehangatan tangan Surin menjalar dari lengannya ke seluruh sel yang ada di dalam tubuhnya.

“Ini bukan bentuk bujuk rayu agar aku mau menyerahkan ponselku begitu saja padamu, kan?” Sehun terus memperhatikan Surin yang kini duduk dihadapannya. Surin menyodorkan satu buah kimbab pada Sehun yang langsung melahapnya. “Aku kan sedang berusaha untuk menjadi kekasih yang baik. Itu saja, kok.” Sehun hanya tersenyum lalu memperhatikan gadis itu dalam diam. Surin yang merasa diperhatikan hanya berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya dengan terus memfokuskan diri pada makanannya.

“Sudah jangan menatapku terus seperti itu. Cepat habiskan makananmu, nanti keburu dingin.” Surin yang tidak tahan akhirnya berujar asal. Ia tidak berani bahkan untuk menatap kedua bola mata yang terus saja menaruh perhatian padanya itu. “Tidak perlu seperti ini pun bagiku selama ini kau sudah menjadi kekasih yang baik.” Surin dapat merasakan kedua pipinya yang memanas seketika mendengar ucapan Sehun barusan. Ia memberanikan dirinya untuk mendongak menatap kedua bola mata favoritnya yang seakan sedang tersenyum itu. “Baik apanya? Benar apa yang dikatakan Taerin dan Cheonsa. Aku selalu cepat terbawa emosi sampai-sampai aku terus memarahimu meskipun karena hal yang kecil sekalipun.” Ekspresi Surin berubah menjadi ekspresi menyesal yang teramat menyesal.

“Ya, kau memang selalu saja memarahiku.” Sehun melipat kedua tangannya diatas meja lalu menatap kekasihnya yang baginya terlihat sangat lucu saat ini. “Lalu? Kalau begitu apa yang membuatmu berkata bahwa aku adalah kekasih yang baik selama ini?” Sehun tersenyum lembut lalu mengacak rambut Surin pelan.

“Kau selalu memarahiku jika aku lupa meminum vitamin yang kau belikan. Kau selalu memarahiku jika aku pulang terlalu larut karena harus menyelesaikan tugas kelompok. Kau selalu memarahiku jika aku melupakan makan malamku karena terlalu asik berkutat pada laptopku. Kau selalu memarahiku jika aku tidak mengenakan jaket atau baju hangat saat keluar rumah. Kau selalu memarahiku jika aku tidak membelikan atau membawakan apapun untuk ibu dan ayahku setelah kita selesai berkencan dan hendak kembali ke rumah. Jadi, apanya yang tidak baik dari itu semua?”

Surin terdiam, mendadak pandangannya kabur oleh air mata yang sepertinya akan jatuh sebentar lagi. Sehun menangkup kedua belah pipi Surin lalu memajukan sedikit tubuhnya. Sehun mengecup dahi Surin lembut dengan mata terpejam membuat gadis itu tersenyum. Semua orang yang ada di kantin itu menatap mereka dengan tatapan iri sambil berbisik-bisik namun diantara Sehun dan Surin tidak ada satupun yang menyadarinya.

“Tunggu disini sebentar, aku akan memesan dua ice choco latte. Anggap saja bayaran untuk bekalmu yang sangat enak ini.” Sehun tersenyum seraya bangkit berdiri dari kursinya ketika Surin mengangguk, menyetujui.

Surin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin dan baru menyadari kalau orang-orang kini tengah menatapnya sambil tersenyum dan berbisik-bisik. Surin hanya berdeham sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia mengalihkan pandangannya pada kotak makan yang isinya belum tandas itu dan baru saja memutuskan untuk menghabiskannya ketika kedua bola matanya menangkap ponsel Sehun yang tergeletak begitu saja dimeja makan itu.

Surin tersenyum jahil kemudian buru-buru mengambil ponsel tersebut dan segera membukanya. Surin mendesah kecewa ketika kolom ‘insert password’ itu muncul dilayar sentuh ponsel tersebut. Surin memutar otaknya kemudian dengan iseng ia memasukan tanggal lahir dan bulan lahirnya. Surin buru-buru menekan tombol ‘0130’ dan ponsel tersebut pun terbuka membuat Surin langsung memekik gembira. Bukan hanya karena ia berhasil menebak kata sandi ponsel Sehun. Tetapi karena Sehun menjadikan tanggal lahirnnya sebagai kata sandi ponselnya membuat Surin ingin sekali berteriak gembira saat itu juga.

Surin mulai membuka pesan singkat dan social media lainnya. Benar dugaannya, meskipun banyak gadis lain yang berusaha mengirimi Sehun pesan singkat dan bahkan menelponnya, tidak ada satupun yang Sehun tanggapi. Sehun hanya membacanya dan jika itu panggilan telepon Sehun hanya akan membiarkannya sampai kolom ‘miss call’ miliknya itu dipenuhi oleh nomor-nomor tidak dikenal.

Surin juga terkejut ketika membuka aplikasi ask.fm milik Sehun. Pertanyaan dari anonymous benar-benar mengalir terus bahkan sampai detik itu pun masih ada yang mengirimkan Sehun berbagai pertanyaan. Surin hanya mendengus ketika menyadari kalau kolom pertanyaan itu bukan di dominasi oleh ‘pertanyaan’ tetapi oleh ‘pernyataan’ cinta.

‘Sehun sunbae, kau tampan sekali. Kapan-kapan angkatlah teleponku. Aku yakin kau tidak akan menyesal setelah berkenalan denganku.’

‘Sehun sunbae aku mencintaimu. Kumohon lihatlah aku yang selalu menunggumu disini!’

‘Sehun sunbae, kau adalah laki-laki tertampan yang pernah aku temui. Kuharap kita bisa berkenalan dan menjadi teman dekat xoxo’

‘Oh Sehun, kau berpacaran dengan Jang Surin dari fakultas sastra itu ya?’

‘Oh Sehun kekasihmu itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan aku!!’

‘Oh Sehun, kau benar-benar kekasih yang romantis! Aku tadi melihatmu mengecup dahi Surin di kantin. Aww, Surin sangat beruntung memiliki kekasih sepertimu!’

Penggemarnya benar-benar banyak bukan main. Surin bergidik ngeri dan memutuskan untuk menutup aplikasi tersebut. Ibu jarinya terhenti di udara ketika melihat aplikasi ‘notes’ yang kini berhasil menggelitik rasa penasarannya. Surin mendengus kesal ketika aplikasi ‘notes’ itu juga di pakaikan kata sandi. Surin berusaha untuk menemukan angka yang pas dan memutuskan untuk menekan tombol ‘1230’. Seketika aplikasi itu terbuka membuat Surin lagi-lagi memekik girang. Ia baru merasa bahwa Sehun adalah kekasih yang romantis. 1230 adalah gabungan dari tanggal lahir Sehun dan Surin. Ia tersenyum senang sampai-sampai senyuman itu seakan tidak mau luntur dari wajahnya.

Surin membukanya satu persatu. Ia benar-benar terkejut akan semua isi catatan itu. Surin benar-benar ingin menangis dengan keras kalau saja ia tidak ingat sekarang ini ia berada di kantin kampus yang ramai.

Surin berjanji akan mencintai Sehun seperti laki-laki itu mencintainya.

January 28, 2014, 12:05 PM

zzzz

This is Surin’s favorite stuff.

Aku baru saja pulang dari rumah Jongin untuk mengerjakan tugas kelompok dari dosen tergalak, pukul sebelas malam tadi. Surin memarahiku karena aku pulang terlalu larut. Ia memarahiku lewat sambungan telepon dan saat itu aku sedang jalan menuju rumah. Aku baru sadar kalau di ujung gang dekat rumahku ada toko buku lama yang masih ada sampai sekarang ini. Aku memutuskan untuk mampir ke toko itu sebentar sementara Surin masih saja terus memarahiku lewat sambungan telepon. Aku tersenyum senang ketika melihat palang lampu neon yang berwarna pink terang itu bertuliskan ‘books’. Gadis yang tengah memarahiku itu pasti akan senang kalau tahu di dekat rumahku ada toko buku yang sudah ada sejak tahun 80-an dan mengoleksi banyak buku baik yang keluaran terbaru maupun buku-buku kuno. Aku harap suatu saat aku bisa mengajaknya ke sini pada malam hari sehingga ia dapat juga melihat neon yang bersinar indah itu lalu membelikannya sebuah buku yang akan kita baca berdua. Haha.

zzzsf

30 April, 2014, 10:12 PM

April is almost end and we celebrate it with bubble tea’s date tonight.

Apa kau tahu tentang hal-hal apa sajakah yang dapat membuatku bahagia selain gadis itu? Ya, tentu saja minuman ini. Tapi aku lebih bahagia lagi karena malam ini aku mendapatkan dua hal yang membahagiakan itu dalam satu waktu. Tidak ada yang lebih membahagiakan di banding dengan mengobrol dan bercanda dengan gadis itu sambil menikmati Bubble tea ini. Kau tahu apa yang kita bicarakan? Model rambut orang yang duduk di belakangku. Tiga orang berkumpul meminum Bubble tea dengan kepala yang tidak ada rambutnya sama sekali. Kata Surin mereka terlihat persis seperti bubble-bubble ini. Hahaha gadis itu benar-benar membuatku serasa ingin mati karena tertawa!

(Ps : Strawberry is Surin’s and mine is choco of course.)

zzfdfg

September 27, 2014, 10:11 PM

My favorite stuff.

Surin menyukai buku dan aku menyukai kamera. Kamera ini adalah hadiah ulang tahunku yang ke-18 sekaligus hadiah kelulusan dari Surin. Beberapa bulan sebelum ulangtahunku, kamera serupa yang dibelikan ayahku hilang karena aku tidak dapat menjaganya dengan baik. Aku tidak berani untuk mengatakannya pada ayah dan ibu sehingga aku hanya diam saja tanpa mengungkit soal kamera lagi. Aku benar-benar rindu memotret. Hingga tiba hari ulang tahunku, Surin memberiku hadiah ini. Kamera yang tipenya sama persis dengan kamera lama milikku. Sampai sekarang, aku bertekad untuk menjaganya meskipun sekarang aku sudah mempunyai dua kamera lain. Jerih payahnya menabung untuk membelikanku kamera ini membuat kamera ini menjadi kamera yang jauh lebih mahal dibandingkan dengan kamera-kamera yang lain.

zzzdf

November 12, 2014, 07:30 PM

Skateboard date?

Kencan kita yang entah ke berapa. Meskipun aku tidak langsung mengajaknya berkencan, namun yang satu ini juga dapat disebut dengan kencan, kan? Sore tadi aku mengajak Surin menemaniku membeli bubble tea dengan mengendarai skateboard. Gadis ini benar-benar terlihat sangat antusias. Hal yang paling aku sukai dari kencan-tidak-langsung kita ini adalah ketika ia menggenggam tanganku dengan erat seperti ini. Hahaha. Ya! Jang Surin! Gadis bodoh yang dapat membuat seorang Oh Sehun seperti ini! Kau tidak mau bertanggung jawab atas perbuatanmu ini, hah?!

large (68)

December 30, 2014, 08:45 PM

Those beautiful hand.

Mungkin menggenggam tangannya adalah salah satu hal favoritku. Hahaha. Hari ini Surin mengajakku berjalan-jalan disekitar Hongdae. Kami membeli banyak makanan dan segala macam properti untuk merayakan tahun baru bersama. Rencananya keluarga Surin dan keluargaku akan pergi ke Busan untuk mengadakan pesta tahun baru bersama disana. Liburan ini pasti akan sangat menyenangkan. Surin-a, ayo kita nikmati ‘latihan’ bulan madu kita ini dengan sebaik-baiknya. Hahaha!

zzsaf

January 1, 2015, 11:11 AM

My Sunshine.

Jalan-jalan pagi di Busan tepat pada awal tahun 2015 bersama kedua matahari yang sama-sama bersinar terang. Hahaha. Liburan ini benar-benar menyenangkan. Bisa menghabiskan tahun baru bersama keluarga Surin yang ramai, Ayah, Ibu dan para hyungku adalah hal yang paling membahagiakan. Kebahagiaanku bertambah karena saat ini aku sedang menikmati jalan pagi di awal tahun 2015 bersama Surin. Setelah melihat foto yang aku ambil diam-diam ini, ia mengamuk memintaku untuk menghapusnya karena katanya ia terlihat gemuk di foto ini. Amukan pertama Surin di awal tahun 2015 sama sekali tidak membuat hari ini menjadi hari yang buruk melainkan menambah kebahagiaanku yang sudah meluap-luap ini. Aku membubuhkan pengertian dari ‘Sunshine’ pada foto itu.

Karena Surin adalah Sunshine yang selalu membawa kebahagiaan dan selalu menjadi penyemangat tersendiri bagiku. Happy new year, Sunshine.

zzfdf

January 30, 2015, 12:30 PM

Look at what this narcissism girl do with my camera.

Dibalik pose ‘sok seksi’ itu ada suara tawa menggelegarku namun karena ini bentuknya sebuah foto jadi suara tawaku tidak terdengar, hahaha. Gadis narsis yang tadi mencuri kameraku dan membongkar isinya, berharap menemukan foto-foto ‘candid’nya muncul dilayar kameraku itu kini sedang berulang tahun. (Ia benar-benar kecewa karena ia tidak menemukan satupun fotonya di kameraku. Tentu saja karena semalam aku sudah lebih dulu memindahkan ratusan fotonya yang ku ambil tanpa sepengetahuannya itu ke laptopku. Hahaha.) Akhirnya gadis ini memotret dirinya sendiri dengan pose sok seksi dan menyuruhku untuk tidak menghapusnya. Happy birthday my silly girl. I do love you.

zzzfzg

February 27, 2015, 18:05 PM

I’ll always hold your hand and never let you go. Let’s walk together until the end. I love you, Surin Jang.

Surin membaca catatan terakhir itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Sehun sampai membuat catatan-catatan tentang dirinya. Surin tidak bisa berkata-kata, lidahnya terlalu kelu. Surin juga menyayanginya. Sangat menyayanginya dan Surin harap Sehun pun tahu akan hal itu.

“Neo waegurae?” Sehun yang baru datang dengan membawa nampan berisikan dua ice choco latte ukuran large itu terkejut ketika mengetahui apa yang membuat gadisnya itu seperti ingin menangis. Kini Surin tampak tengah memegang ponselnya dan membuka catatan rahasianya. Sehun meletakan nampan itu lalu menarik Surin keluar dari kantin tersebut menuju ke taman belakang kampus yang letaknya tidak terlalu jauh dari situ.

“Sudah ku bilang, jangan sembarangan membuka ponselku.” Sehun yang tadinya sempat marah langsung menghela napas ketika melihat Surin yang hanya menunduk. Sehun kemudian merengkuh Surin ke dalam pelukannya. Ia mengelus rambut gadis itu membuat Surin langsung meneteskan satu bulir air mata yang langsung dihapusnya cepat.

“Terima kasih karena sudah melakukan hal itu.” Surin melepaskan pelukannya namun kedua tangannya masih melingkari pinggang Sehun. Ia menatap Sehun dalam-dalam membuat laki-laki itu hanya tersenyum sambil terus mengelus rambutnya.

“Maaf karena selama ini aku masih kurang baik untukmu. Aku menyayangimu dan kau harus tahu akan hal itu.” Surin berjinjit sedikit seraya memejamkan kedua matanya. Ia menempelkan bibirnya pada bibir Sehun. Surin hanya ingin laki-laki itu tahu akan perasaannya yang sesungguhnya. Surin meremas jaket hitam yang dikenakan Sehun ketika laki-laki itu memperdalam ciuman mereka.

Karena baginya, Sehun sama seperti matahari pagi yang selalu membawa kehangatan dan kekuatan untuk mengawali hari-harinya.

-fin.

Thanks for reading it. Hahaha. Masih banyak banget kekurangan. Dari plot yang gajelas sampe judul yang juga gajelas. Yaudah dimaafkan aja ya. Luv<3

Advertisements

11 comments

  1. oktavianiav · March 5, 2015

    ah fluff banget~ salam kenal oh iya ijin baca ff manis yg lainnya ya. Love this wp, fanfic2 ceritanya ringan tapi manis skali. Ditunggu karya terbarunya ya~

    • Oh Marie · March 9, 2015

      Makasih banyak ya:” Iya ini aku baru mau update lagi! Stay tuneeee!

  2. fanfan.chan · March 6, 2015

    aigooooo envy ma surin jang…
    eyyy sehunie punya cara nya sendiri buat sunshine nyaa…
    nice efef..
    johaaaa ^.^

  3. aihunxoxo · March 9, 2015

    so sweetnya oh sehun.
    aku suka ffnya. dapat feelnya.
    ditambah dengan foto2 itu *btw itu foto asli ato gmna thor*
    pengen punya cowo yg kyak gtu aih.
    seriusan. saya bcanya jadi senyum2 gaje thor.
    mulai masalah dri gak boleh liat isi handphone. eh ternyata isinya begitu menakjubkan.
    pasti surin tak akan menyesal mencintai sehun.
    two thumbs for thor ^^

  4. nurul · March 25, 2015

    ini keren eonni, ditambah foto itu uuuhhhh aku bacanya sambil cengar cengir… sweet buangeeetttt ^^

    • Oh Marie · April 4, 2015

      Hai Nurul! Makasih udah mau baca dan mampir yaaa<3 Sering-sering mampirnya ya:b Sekali lagi makasih!

  5. rahsarah · April 19, 2016

    aaaa tanggung jawab de mata aku berkaca2 ini baca di bagian akhirnyaaa
    ga tau mau ngetik apa, sehun bener2 pendamping hidup idaman banget
    please kirimin satu yg kaya gtu ya Allah :”)

    • Oh Marie · April 20, 2016

      Astaga kak HUHUHUHUU MAKASIH BANYAK YAAAAAA. Aminn semoga aku juga dikirimin satu yang kayak Sehun amin amin amin HAHAHA.

  6. southpole · July 10, 2016

    Apanya yang kurang sih…ini udah ok banget kaliiii (ngomentarin author’s note)

    Anyway, di dunia nyata ada ga sih lelaki se-romantis oh sehun begini wakakkakaka

  7. ahnnncs · November 12, 2016

    I think it’s my favorite one 💙💙💙💙
    Okayy sebenarnya, kemaren aku baca ff kakak lagi dari awal (it’s second times)
    Dan ini yang bikin aku bapeeeerrrrrr banget.

    p.s. Fyi aja sihh aku baca ff kakak lagi dari awal banget karna i love it!! 😀

    • Oh Marie · December 11, 2016

      HALOOOOO maaf banget ya baru sempet bales komen kamu! Makasih banyak udah spam notifikasi aku dengan semua komen super maniiiiiis dari kamu><
      Makasih juga karna udah mampir dan baca-baca. Tetep stay tune yaaa! ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s