Love Sick

b3333aaaaa

Enjoy! XOXO~

~~

Jang Surin melirik jam tangan berwarna merah miliknya dengan khawatir. Sesekali ia bergerak kesana-kemari, menunggu kereta yang tidak kunjung datang. Surin menjatuhkan dirinya pada bangku panjang yang memang disediakan untuk menunggu kereta itu dengan alis yang terus bertaut, menunjukan kekhawatiran yang tidak dapat ia usir begitu saja. Suasana stasiun kereta bawah tanah itu saat ini tidak terlalu ramai mengingat pukul sepuluh pagi tentu saja masih tergolong sebagai jam kerja dimana para pekerja itu masih menyibukan diri di kantornya masing-masing.

Surin berlari kecil sambil menyeret kopernya ketika melihat kereta yang sedari tadi ditunggu-tunggu akhirnya memunculkan diri. Kereta tujuan Busan-Seoul itu melaju cepat ketika Surin berhasil menemukan tempat duduk di dekat jendela yang tidak begitu jauh dari pintu kereta tersebut. Surin menghela napas seraya memandangi layar ponselnya yang menampilkan pesan singkat yang dikirim oleh kekasihnya itu setengah jam yang lalu. Pesan itulah yang membuat Surin sekarang berada di kereta ini dengan rasa khawatir dan kesal yang entah mengapa menjadi satu.

From : Hunhunya

“Aku sakit. Suhu tubuhku sangat tinggi sampai-sampai thermometer yang ku pakai saat ini seolah akan pecah sebentar lagi. Aku sudah ke dokter, dan dokter bilang aku harus istirahat total. Jangan khawatirkan aku, urus saja pekerjaanmu. Kapan kau kembali ke Seoul? Masa tugas mengajarmu di Busan sudah selesai, kan? Hari Senin besok adalah hari peresmian, bagaimana pun kau harus kembali hari ini meskipun hari peresmian itu masih dua hari lagi. (ps : Aku tidak bisa mengetik pesan panjang-panjang karena kepalaku sangat sakit jadi sudah dulu ya. Jaga dirimu.)”

Surin berpikir bahwa tata bahasa pada pesan yang dikirimkan seorang laki-laki bernama lengkap Oh Sehun itu malah seakan menyuruhnya untuk khawatir dan segera menghampirinya. Surin memang kesal, bahkan awalnya tidak percaya dengan isi pesan singkat tersebut sampai-sampai ia rasanya ingin begitu saja mengabaikannya. Tetapi apa daya, kali ini pun Surin tidak bisa untuk tidak menuruti keegoisan hatinya.

Surin memutuskan untuk mempercepat kepulangannya ke Seoul. Padahal ia baru berencana kembali ke Seoul hari Senin, setelah acara perpisahan dengan para murid yang sudah selama satu bulan ini ia ajar. Ya, Surin adalah seorang guru sekolah dasar yang sedang ditugaskan untuk mengajar di salah satu sekolah yang ada di Busan selama satu bulan sebagai salah satu syarat untuk dapat mengajar secara resmi dan tetap di salah satu sekolah pilihannya. Tugasnya selama satu bulan penuh sudah ia jalankan dengan baik sehingga hari Senin ia bisa kembali ke Seoul untuk peresmian. Setelah acara peresmian, barulah ia dapat mengajar tetap di salah satu sekolah Internasional yang sudah dari sebulan lalu merekrutnya.

Surin pikir awalnya ia memang berlebihan sampai harus buru-buru pulang ke Seoul dan dengan terpaksa harus begitu saja meninggalkan acara temu terakhirnya dengan para muridnya itu. Hanya saja ia sudah tidak tahan dengan rasa khawatir yang jika terus ia biarkan malah semakin bertambah, membuat kepalanya penuh dan serasa ingin meledak.

Surin menghela napas. Mungkin ia memang harus kembali ke Seoul hari ini mengingat dua hari lagi sudah hari peresmian. Akan repot jika ia harus menyediakan waktu untuk perpisahan di pagi hari, lalu siang harinya harus terburu-buru untuk segera tiba di Seoul agar tidak terlambat ke acara peresmian itu. Surin menatap layar sentuh ponselnya yang masih menampilkan pesan singkat dari Sehun, kemudian ia memutuskan untuk membalasnya.

To : Hunhunya

“Aku akan kembali hari ini dan langsung menuju apartment-mu. Kau sudah makan? Setidaknya makanlah terlebih dahulu lalu minum obatmu. Awas saja kalau sampai tidak minum obat!”

**

Surin menaikan selimut yang kini dipakai Sehun. Sesekali laki-laki itu bersin dan terbatuk sehingga tidurnya pun kelihatan sangat tidak nyenyak. Surin tersenyum lega ketika mengetahui laki-laki itu hanya terkena penyakit flu dan batuk biasa.

Surin duduk di pinggiran kasur sambil meletakan handuk yang sudah di basahi oleh air dingin itu pada dahi Sehun setelah ia meletakan kopernya di ruang tamu. “Kau datang?” Sehun membuka matanya secara perlahan lalu menghentikan gerakan tangan Surin. Ia menggenggamnya dengan erat. Surin dapat merasakan suhu tubuh Sehun yang hangat itu pada permukaan kulit tangannya.

“Babo. Memangnya aku bisa membiarkan pesan singkatmu yang terkesan mendramatisir penyakit flu dan batuk ini dengan begitu saja? Aku hampir mati karena khawatir, kau tahu.” Surin mendengus sementara senyuman di wajah Sehun langsung mengembang. “Aku kan memang sakit. Sebagai kekasihku sudah sewajarnya kau khawatir dan langsung menghampiriku setelah mendengar kabar seperti itu.” Sehun tertawa kecil ketika melihat gadisnya menghela napas, pasrah dengan ucapannya. “Aku tahu kau pasti akan datang.” Sehun mempererat genggaman tangannya pada tangan mungil milik Surin.

“Dasar pemaksa.” Surin mau tidak mau turut tersenyum. “Aku belum makan karena aku hanya mau makan jika kau yang memasakanku. Pegang saja dahiku. Karena aku belum makan, demam ini semakin tinggi.” Sehun berujar lagi. Nada suaranya yang terdengar sangat manja membuat Surin tertawa. “Aigu, kau ini hanya terkena flu dan batuk biasa. Berlebihan sekali. Yasudah tunggu disini sebentar.” Surin beranjak dari kasur tersebut sementara Sehun kini sudah tersenyum senang seraya memandangi punggung Surin yang tidak lama kemudian menghilang dibalik pintu kamar tersebut.

Surin memasukan potongan jagung pada bubur yang sebentar lagi siap untuk disajikan. Ia mengaduknya perlahan. Satu tangannya mengambil ponsel yang berdering nyaring di saku celana jeans panjangnya.

“Yeoboseyo? Ah, Kyungsoo-ssi. Iya aku pulang terlebih dahulu karena ada urusan mendadak. Sayang sekali ya jadi tidak bisa ikut acara perpisahan dengan anak-anak senin nanti. Kau tetap akan mengikuti acara perpisahan itu? Kalau begitu sampaikan salamku pada anak-anak ya. Maaf karena tidak bisa datang. Kamsahabnida, jaga dirimu baik-baik. Ingat, hari senin sudah peresmian! Sudah dulu ya aku sedang memasak nanti aku hubungi lagi.”

“Siapa itu Kyungsoo? Mengapa kau bilang akan menghubunginya lagi? Lalu mengapa kau hanya bilang kalau kau ada urusan mendadak? Seharusnya kau memberitahunya lebih detail. Beritahu padanya kalau kekasihmu sedang sakit jadi kau harus segera kembali ke Seoul. Dengan begitu ia juga jadi tahu kalau kau sudah memiliki kekasih, sehingga ia tidak perlu menghubungimu lagi. Kau ini bodoh sekali.” Sehun kini berdiri disebelah Surin, yang sekarang ini sedang mati-matian menahan jantung yang seakan ingin keluar saking terkejutnya karena melihat laki-laki itu tiba-tiba berada disebelahnya.

Surin mendengus kesal kemudian segera menginjak kaki laki-laki itu membuat sang empunya mengaduh kesakitan. “Kau ini bicara apa, sih?! Dia itu temanku yang juga ditugaskan disekolah yang sama selama di Busan. Dia juga sudah tahu kalau aku memiliki kekasih. Memangnya siapa yang tidak akan tahu kalau kau saja terus menghubungiku siang dan malam?!” Surin benar-benar merasa kesal. Surin juga merasa bahwa sakit yang di derita Sehun bukan flu dan batuk tapi penyakit cemburu akut.

Sehun masih mengaduh kesakitan. Ia memandangi Surin yang kini tampak sangat kesal. Sehun berdeham, merasa bersalah telah berkata demikian. Ia berjalan mendekat ke arah Surin yang kini menggeser kakinya untuk menjauh dari Sehun. Sehun segera menariknya kemudian ia memeluk Surin dari belakang membuat gadis itu terkejut. Sehun yang tidak mempedulikannya segera mempererat pelukannya pada Surin.

“Maaf. Jangan marah lagi, aku tahu aku salah.” Surin hanya terdiam sembari membuka laci yang berada diatasnya guna mengambil mangkuk. Surin sebenarnya khawatir kala ia merasakan suhu tubuh Sehun yang panas itu terasa pada punggungnya, tetapi rasa kesalnya membuatnya tidak mau memikirkan rasa khawatir itu lebih lama karena Surin tahu nantinya rasa khawatir itulah yang pasti akan menang. Ia berjinjit, berusaha mencapai mangkuk tersebut dengan susah payah. Sehun hanya tertawa kemudian mengambilkan mangkuk itu dengan satu tangannya sementara satu tangannya yang lain masih memegang pinggang Surin.

“Sehabis kau selesai makan dan minum obat, istirahatlah. Aku harus segera pulang untuk membuat laporan.” Ujar Surin seraya melepas pelukan Sehun. Sebenarnya ia berbohong. Laporan sudah ia buat jauh-jauh hari. Ia juga tidak benar-benar ingin meninggalkan Sehun yang sedang sakit begitu saja. Ia hanya ingin membuat Sehun tahu kalau ucapannya barusan itu benar-benar menyebalkan. Meskipun Surin juga sudah sangat tahu bahwa sifat pencemburu yang ada pada diri laki-laki itu memiliki tingkat yang sangat tinggi, tetap saja Surin merasa kesal karena pengorbanannya jauh-jauh ke sini malah dibalas seperti itu.

Ia meletakan mangkuk berisi bubur itu di meja makan, lalu duduk pada kursi yang berada dihadapannya. Sehun juga segera menempatkan dirinya pada kursi meja makan yang berada diseberang Surin hingga kini mereka saling berhadapan. Sehun terus menatap gadis yang kini juga tengah menatapnya, seolah menyuruh Sehun untuk segera memakan bubur tersebut selagi masih hangat.

Sehun menyodorkan sendok yang berada di samping mangkuk buburnya itu pada gadis yang kini tengah menatapnya penuh tanda tanya. “Tanganku lemas. Kan aku sedang sakit.” Ujar Sehun menahan senyum yang seakan ingin mengembang di wajahnya ketika melihat Surin yang dengan pasrah itu mengambil alih sendok dan mangkuk buburnya.

Surin menyuapi Sehun dengan perlahan. Amarah yang tadi meluap-luap rasanya dengan begitu saja padam ketika ia melihat senyum jahil yang kini menghiasi wajah Sehun seiring dengan gerakan tangannya yang mengarahkan sendok bubur tersebut pada laki-laki itu. Surin tertawa ketika Sehun tersedak hingga batuk-batuk. Ia menyodorkan segelas air mineral pada Sehun yang masih terbatuk itu.

“Makanya jangan jahil.” Surin masih tertawa sementara Sehun hanya tersenyum. Dalam hati ia senang melihat Surin yang sudah sebulan terakhir ini tidak ia temui itu akhirnya bisa berada di hadapannya lagi dan tertawa seperti sekarang ini. “Jahat sekali malah menertawai orang yang sedang sakit.” Sehun mengambil alih sendok yang berada di tangan Surin kemudian melanjutkan makannya sendiri.

“Sakitmu itu hanya flu dan batuk biasa.” Timpal Surin membuat Sehun langsung menatapnya. “Apa? Biasa? Penyakit ini tidak biasa karena disebabkan oleh ulah seseorang yang jelas-jelas orang itu adalah kau.” Surin hanya mengernyit tidak mengerti dengan ucapan Sehun barusan.

“Kapan terakhir kali kita berciuman?”

“Apa?!”

“Saat itu kau sedang sakit flu dan batuk parah, kan? Penyakit ini pasti karena tertular olehmu. Jadi kau harus bertanggung jawab.” Sehun tidak menghiraukan Surin yang kini menatapnya garang. Wajahnya bersemu kemerahan karena tiba-tiba mengingat kejadian itu. Kejadian yang bahkan terkesan seperti sinetron murahan mengingat latarnya adalah stasiun kereta dan ciuman itu adalah ciuman perpisahan. Saat itu Surin sedang sakit flu dan batuk yang parah namun harus menguatkan diri guna melaksanakan tugasnya di Busan.

“Tanggung jawab apa? Kejadian itu bahkan sudah satu bulan yang lalu! Bagaimana bisa efeknya baru sampai sekarang?!” Ujar Surin membantah perkataan Sehun barusan. “Tetap saja penyakit ini karenamu. Pokoknya kau harus bertanggung jawab. Malam ini kau harus menginap disini sampai besok pagi. Bagaimana kalau tiba-tiba penyakit yang disebabkan olehmu ini semakin parah?!” Sehun tetap teguh pada perkataannya.

“Sebenarnya apa yang kau bicarakan? Mengapa aku harus bertanggung jawab padahal sudah jelas-jelas alasanmu itu sangatlah tidak logis?” Surin menatap Sehun dengan tidak mengerti sementara laki-laki itu kini tampak menautkan kedua alisnya, terlihat gemas.

“Kalau bukan karena ciuman itu maka penyakit ini pasti adalah penyakit Malarindu! Penyakit yang disebabkan karena terlalu merindukan seseorang! Mengapa kau benar-benar tidak peka si-HUACIIIIM UHUK UHUK!” Surin segera bangkit dari duduknya kemudian segera menghampiri Sehun dengan khawatir.

“Kau tidak apa-apa?” Sehun masih terbatuk karena tersedak. “Aish, makanya jangan teriak-teriak! Ayo duduk di sofa ruang tamu supaya kau bisa bersandar dengan nyaman.” Surin memegang lengan Sehun dengan hati-hati. Ia menuntunnya ke sofa ruang tamu kemudian berlari kecil mengambil mangkuk bubur yang isinya belum habis itu.

Surin menyuapi Sehun sampai bubur itu benar-benar habis. “Tunggu disini, aku ambil jeruk dulu.” Surin beranjak dari sofa tersebut dan berjalan menuju dapur.

“Vitamin C yang ada pada jeruk itu penting untuk daya tahan tubuh. Kau pasti tidak pernah makan buah kan akhir-akhir ini?” Sehun hanya terdiam sembari memperhatikan punggung Surin yang tengah sibuk mengupas jeruk di dapur yang tidak terlalu jauh dari ruang tamu.

“Asal kau tahu saja dalam satu bulan ini aku sudah terkena penyakit flu dan batuk ini dua kali. Yang pertama sehari setelah ciuman itu, yang kedua baru kemarin.” Surin menghela napas seraya mengarahkan satu potong jeruk pada Sehun yang langsung melahapnya. “Bisa tidak kau tidak usah membawa-bawa kejadian itu lagi? Aku malu, tahu.” Protes Surin membuat Sehun hanya tertawa kecil.

“Tapi bagaimanapun juga ini semua tetap salahmu.” Sehun memakan jeruk yang Surin berikan itu sambil terus memperhatikan gadis yang sekarang ini tampak tidak terima dengan ucapannya.

“Karena kau berada jauh dariku selama satu bulan ini, tidak ada lagi orang yang memaksaku memakan buah setiap harinya. Ya, meskipun tiap minggu Eomma pasti akan kemari untuk membawakan macam-macam buah, tetap saja rasa dan khasiatnya berbeda dengan buah yang kau kupaskan.” Surin tertawa mendengar ucapan Sehun membuat laki-laki itu juga menahan tawa yang ingin meledak, tidak mengerti dengan perkataan yang baru ia ucapkan.

“Kau ini ada-ada saja.” Surin masih tertawa sementara Sehun hanya memandanginya sambil tersenyum lembut. Ia benar-benar merindukan Surin yang selama satu bulan ini tidak bisa ia temui secara langsung. Sehun rasa ucapannya mengenai penyakit yang sekarang menyerangnya karena rindu ini adalah benar adanya.

“Aku sangat merindukanmu. Mungkin itu memang penyebab dari penyakit ini.” Sehun mengelus rambut Surin dan menyelipkannya di belakang telinga yang kini sudah memerah itu. Sehun tersenyum melihatnya.

“Tapi aku senang karena sakit flu dan batuk ini sudah mengantarmu dengan sangat cepat ke hadapanku.” Surin tertawa sementara Sehun masih menatapnya membuat Surin ingin membuang jauh-jauh jantungnya yang sekarang ini seakan mengendalikan seluruh saraf dalam tubuhnya, menyebabkan Surin sangat gugup sehingga tawa yang tadi keluar dari bibirnya pun terdengar kaku dan aneh.

“Berhenti mengada-ada. Penyakitmu ini disebabkan karena kurangnya istirahat, kurangnya konsumsi makanan sehat, serta siklus cuaca yang belakangan ini tidak menentu. Itu baru alasan yang logis.” Surin tertawa hambar pada Sehun. “Nah, Sekarang waktunya kau minum obat.” Surin mengambil kotak obat yang ada di meja tamu itu kemudian memilih obat flu dan batuk, lalu menyerahkannya pada Sehun tidak lupa dengan segelas air mineralnya.

“Tidak mau. Aku tidak mau minum obat.” Sehun menutup mulutnya dengan telapak tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Surin mendengus menghadapi Sehun yang semakin seperti anak-anak jika ia sedang sakit. Sehun tertawa kecil melihat Surin yang kini memandangnya gemas itu.

“Kalau begitu bagaimana dengan main gunting, kertas, batu? Jika aku menang kau harus meminum obat ini.” Surin meletakan gelas berisi air mineral dan obat itu pada meja tersebut, lalu melipat kedua tangannya di depan dada seraya menatap Sehun yang kini tampak tengah berpikir. “Kau ini percaya diri sekali kalau kau pasti akan menang. Kalau kau kalah kau harus melakukan apa yang aku mau tanpa komentar dan protesan apapun. Bagaimana? Setuju?”

Surin menghela napas. Semoga saja keputusan ‘setuju’ yang akan ia ambil tidak salah dan berujung merugikan dirinya sendiri. Padahal kan tujuannya menyuruh Sehun untuk meminum obat semata-mata agar laki-laki itu bisa cepat sembuh. Mengapa ia harus menerima imbasnya jika laki-laki itu memang tidak mau meminum obatnya, sih?

“Baiklah. Aku setuju.” Ujar Surin akhirnya. Bagaimana pun ia harus berhasil memenangkan permainan ini agar Sehun mau meminum obatnya. Sehun tersenyum puas dengan jawaban Surin barusan kemudian bersiap untuk memulai permainan.

“Gunting, kertas, batu!” Sehun dan Surin berujar bersamaan dan seketika itu juga hasil dari permainan tersebut terpampang di hadapan mereka. Sehun tertawa puas sembari mengecup jemarinya yang kini membentuk huruf ‘V’ menandai bahwa ia memilih gunting. Sementara Surin memukul pelan kepalanya sendiri yang dengan bodohnya malah memilih kertas hingga kini akhirnya ia harus menerima hukumannya.

“Ini baru ronde pertama. Jangan senang dulu! Aku tidak akan menyerah sampai kau berhasil meminum obatmu.” Surin memperingatkan Sehun yang kini masih tertawa dengan senangnya. “Kalau begitu bagus karena aku pasti akan memenangkan semua ronde. Hukuman pertamamu adalah—” Sehun menggantungkan kalimatnya sambil menatap Surin jahil.

“Aku tidak butuh obat itu untuk menghilangkan demam ini. Aku hanya butuh kau yang menyembuhkannya. Jadi, kecuplah keningku sekarang juga untuk mengusir demam ini.” Surin menahan napasnya sambil terus menatap Sehun dengan tatapan tidak mau.

“Omongan tidak logis macam ap—” “No comment. No protest.” Potong Sehun cepat membuat Surin menghela napasnya dengan kesal sementara laki-laki itu kini hanya memandanginya dengan tatapan yang bahkan jika kau lihat sendiri kau pasti serasa ingin menimpuknya dengan bakiak saat itu juga.

Sehun berdeham, seakan menyuruh Surin yang terlihat ragu itu segera melaksanakan hukumannya. “Berisik!” Ujar Surin kesal lalu mendekatkan dirinya perlahan pada Sehun. Ia memandangi permukaan dahi putih itu dengan ragu kemudian sepersekian detik kemudian mendaratkan kecupannya pada dahi tersebut dengan cepat. Ia kembali ke tempatnya semula sembari menutupi kedua wajah yang sudah memerah seperti tomat matang itu. Sehun hanya tertawa terbahak melihat tingkah Surin yang entah mengapa baginya malah menjadi hiburan tersendiri.

“Berhentilah tertawa dan cepat lakukan ronde yang kedua!” Pinta Surin seraya memukul kaki Sehun yang kini masih asik tertawa bahkan sambil bertepuk tangan. Benar-benar seperti orang yang sudah sembuh total dari penyakitnya.

Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Sehun baru dapat menghentikan tawanya. Ia bersiap untuk permainan gunting, kertas, batu ronde kedua. “Sampai kapanpun aku tidak akan kalah oleh obat itu.” Seru Sehun dengan antusias.

“Gunting, kertas, batu!” Tidak lama selang seruan tersebut, suara tawa seorang laki-laki kembali mendominasi ruangan. Surin menghentakan kakinya pada lantai apartment itu dengan sangat kesal. Ia mengutuk jari tangannya yang malah membentuk huruf ‘V’, menandai bahwa ia memilih gunting yang tentu pasti kalah dengan kepalan tangan Sehun yang menyerupai batu itu.

“Sudah aku bilang, aku tidak akan mengalah pada obat itu.” Ujar Sehun sambil berusaha menghentikan tawanya. “Jangan kekanakan. Obat ini kan untuk mempercepat kesembuhanmu juga!” Surin memarahi Sehun yang bahkan kini mulai tertawa lagi. Matanya yang berbentuk bulan sabit itu sekarang tidak bisa meredakan kekesalan Surin yang pada biasanya jika melihat bentuk mata itu akan langsung bertekuk lutut.

“Hukuman kedua.” Surin hanya pasrah mendengar suara Sehun yang terdengar menyeramkan itu. “Aku sangat tersiksa dengan pernapasan yang tidak lancar karena flu ini. Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku tidak butuh obat itu untuk menyembuhkanku. Aku hanya butuh kau karena hanya kau yang dapat menyembuhkannya. Maka sekarang kecuplah hidungku agar aku dapat bernapas dengan lancar lagi.”

Jantung Surin kali ini mengalunkan bunyi yang lebih keras dari sebelumnya, mentransfer sebuah sinyal pada otaknya yang kini berefek pada kedua pipi yang terbukti menampilkan semburat merah, membuat Sehun tidak tahan untuk tidak tertawa melihat hal lucu itu.

“Berhenti tertawa, dasar gila!”

“Aku tidak peduli. Cepat jalankan hukumanmu.”

“Bagaimana aku bisa menjalankannya kalau jantung dan tubuhku ini saja tidak bisa bekerja seperti biasa!”

Sehun kembali terbahak mendengar ucapan jujur Surin. Ia bahkan merasakan air matanya seolah keluar dari kedua matanya. Sehun benar-benar merindukan suasana ini. Ia tidak pernah tertawa terbahak seperti ini sejak kepergian Surin ke Busan sebulan yang lalu.

Tidak lama setelah itu suasana berubah menjadi hening. Sehun menahan tawanya sementara Surin berusaha untuk menetralkan debaran jantungnya. Ia menyuruh Sehun untuk memejamkan kedua matanya dan laki-laki itu segera menurutinya. Surin menarik napas kemudian menghembuskannya perlahan. Ia dapat mencium aroma parfum laki-laki itu ketika tubuhnya semakin mendekat ke arah Sehun. Surin yang merasa ia sebentar lagi akan gila langsung mengecup ujung hidung Sehun dengan cepat. Kini Surin menutup wajahnya dengan bantal sofa, tidak berani melihat Sehun yang sekarang sudah kembali menertawainya.

“Kali ini aku tidak akan kalah! Kau harus meminum obatmu bagaimana pun caranya!” Surin bersiap untuk melakukan permainan gunting, kertas, batu ronde ketiga. Surin tahu apa hukuman yang akan di dapatkannya jika ia kalah kali ini. Sungguh, hanya dengan memikirkan kemungkinan kebenaran pemikirannya itu saja seluruh tubuh Surin rasanya mendadak lemas.

“Gunting, kertas, batu!” Kali ini suara tawa seorang perempuan mendominasi ruangan tersebut membuat Sehun menghela napas, tidak terima dengan kekalahannya. “Rasakan pembalasanku!” Surin mengambilkan gelas air mineral dan satu pil obat yang ada di atas meja itu dan segera menyodorkannya ke arah Sehun dengan senyuman puas.

Sehun segera menerimanya lalu memasukan satu pil obat itu pada mulutnya kemudian meneguk habis air mineral yang ada pada gelas kaca tersebut. “Hanya minum obat saja sampai sesulit itu.” Komentar Surin lalu menghela napas lega. Ia beranjak dari sofa tersebut kemudian mengambil dua buah yoghurt yang tadi ia beli sebelum ke apartment milik Sehun itu.

Surin menyerahkan satu botol yoghurt rasa strawberry itu pada Sehun lalu meminum miliknya seraya menempatkan dirinya disebelah Sehun. Ia membalik channel televisi yang berada di hadapannya, lalu menyandarkan kepalanya pada lengan Sehun setelah menemukan channel yang ia inginkan.

“Terima kasih.” Ujar Sehun tiba-tiba membuat Surin segera mendongakan kepalanya, menatap kedua manik mata berwarna cokelat pekat itu. “Untuk apa?” Tanyanya membuat Sehun segera tersenyum lembut. “Untuk selalu memperhatikan kesehatanku selama ini. Aku baru tahu kalau aku ini tidak bisa menjaga diri sendiri selama kau tidak ada.” Surin tersenyum lalu kembali memfokuskan perhatiannya pada televisi yang ada di hadapannya.

“Aku rasa aku tidak akan pernah sakit jika menikah denganmu.” Surin menyemburkan tawanya membuat Sehun memandangnya dengan heran. “Memangnya aku mau menikah denganmu?” Ujar Surin jahil seraya menatap Sehun yang tengah memandangnya dengan kesal. “Memangnya kau mau melihatku mati karena penyakit cinta? Baru ditinggal satu bulan saja aku sudah seperti ini apalagi kalau kau sampai tidak mau menikah denganku?!” Surin tertawa kemudian segera memeluk lengan Sehun dengan erat. Ia bahkan menyisipkan jemari-jemari mungil miliknya pada jemari milik Sehun dengan senyuman yang serasa ingin terus berlama-lama bersemi pada permukaan wajahnya.

“Aku rasa aku juga akan sakit jika tidak bersamamu. Karena bagiku, kau adalah vitamin paling ampuh yang aku punya.” Surin memandang lurus kedua manik mata itu membuat Sehun tidak dapat menahan senyuman yang kini berhasil menghiasi wajahnya.

Sehun memperkecil jarak di antara mereka. Bahkan kini Sehun dapat merasakan ujung hidungnya yang menyentuh ujung hidung Surin. Ia memejamkan matanya, merasakan debaran jantung yang semakin meraja lela ketika permukaan bibirnya menyentuh permukaan bibir milik gadisnya itu. Sehun memperdalam, seolah menyalurkan perasaannya yang sesungguhnya pada Surin.

Ia sangat menyayanginya dan Sehun harap Surin tahu akan hal itu.

**

“Good morning!” Sehun berujar senang pada layar ponselnya. Kini ia dan Surin sedang berhubungan via video call. Sehun mengernyitkan dahinya melihat Surin yang kini terkulai lemas di kasurnya. Ia tampak menutup sebagian wajahnya pada selimut tebal berwarna putih itu, menyisahkan matanya yang kini seakan tersenyum lemah pada Sehun.

“Kau tidak apa-apa? Aku sudah sehat dan baru berencana mengajakmu kencan hari ini. Tapi sepertinya kau sedang tidak sehat, ya?” Sehun berujar dengan cemas ketika ia melihat Surin kini tengah bersin dan terbatuk. Sehun tertawa ketika beberapa menit yang lalu ia baru menyadari apa yang menyebabkan Surin seperti sekarang ini.

“Tidak perlu datang, aku tidak apa. Mungkin ini hanya penyakit gugup karena besok adalah hari peresmianku.” Surin yang seakan membaca pikiran Sehun itu buru-buru melarang Sehun untuk datang ke rumahnya, karena Surin tidak dapat membayangkan apa jadinya jika Sehun datang ke rumahnya saat ini. Bisa saja besok laki-laki itu akan sakit lagi. Surin buru-buru menghapus pikiran kotornya barusan.

“Aku juga harus merawat kekasihku jika ia sakit. Tunggu aku, Jang Surin. Sebentar lagi dokter cintamu ini akan segera datang. Aku tahu cara ampuh mengusir penyakit itu jika kau tidak mau minum obat.” Sehun terbahak melihat Surin yang kini tampak sangat ribut, sibuk melarangnya untuk datang.

“Awas saja kalau kau sampai datang, Oh Sehun!”

-FIN

FF menyeh-menyeh kesekian and still counting(?) Thanks buat adeknya Vena, Via yang sampe ikut-ikutan bikinin poster wjwjwjwj seneeeeeeng banget.

Thanks juga buat dita yang mau di request-in poster lagi<3 bikinnya hari itu juga pula ya huhuhu love ya bey! FF Kris kamoh pasti bakal cepet-cepet eyke post.

Thanks juga buat yang udah baca yaaa. Maaf kalo masih banyak kekurangan! Salam Hunrin!

Advertisements

6 comments

  1. realljo · February 12, 2015

    fix lovey dovey sepanjang masa ya hunrin tu bikin sirik pa gmn gt tapi ini lucu banget dehhh, sehun nya lucu banget cemburu cemburu demen banget hhuhuhu jadi pacar aku aja apa))): kapan baekhyun jimi seromantis ini ya kak kerjaannya putus nyambung aja.

  2. aihunxoxo · March 9, 2015

    aigu~~
    iri banget liat pasangan itu.
    dokter cinta datang baby~~ haha
    kalo di kisseu sama sehun. bsoknya awhun skit lgi. haha
    emg surin mau nikah sama sehun?
    pasti dong jwabnya.
    cie sehun vitamin surin.
    btw sehun orgnya pencemburu juga yah. lucu juga pas sehun cemburu surin lgi telponan sama kyungsoo haha.
    romantis pisan. envy saya thor hihi.
    penjabaran kata2 enak kali dibaca. mudah dimengerti.
    pengen ngubek2 lgi ffnya thor. hehehe
    bsok lnjut bca yg lain deh.
    btw keep writing ya thor sama new ffnya.

    • Oh Marie · March 10, 2015

      HUHUHUHUUUUUUU makasih banyak ya udah mau ngunjungin wordpress aku<;; aku ngetiknya juga jadi senyam-senyum sendiri hueheheheeee.

      Iya baca yang lain juga ya<3333 makasih sekali lagi<333

      • aihunxoxo · March 10, 2015

        authornya welcome bgef nih. jrg2 juga ada author yg blas coment hihi.
        ok time to ngubek2 ff author yg lain.

  3. rahsarah · April 19, 2016

    ya ampun lucu bisa gantian gtu sakitnya wkwkwk
    kalian sma2 menyembuhkan.
    masih ngubek2 ff kamu cari sehun sama surin

  4. southpole · July 10, 2016

    Wakkakakakajajaj sehun lagi sakit jadi gombal begini ya hahahaha malarindu
    yaudahlah si sehun apa ga makin cinta sama surin, begitu dia sadar kalau surin segitu sayang dan perhatiannya sama dia ♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s