Creepy Romance

11asdadad

Happy reading!

“Aku sudah di rumahmu sejak dua jam yang lalu. Kau sedang keluar? Kapan kau akan pulang? Cepat pulang, aku tidak bisa berlama-lama disini. Masih ada beberapa tugas yang harus ku kerjakan.”

Surin menghela napas pelan ketika suara khas seorang Oh Sehun menggema lumayan keras di telinganya sehingga gadis itu harus sedikit menjauhkan ponsel yang tengah di genggamnya itu beberapa centi. Laki-laki itu bahkan tidak membiarkan Surin mengucapkan kata ‘halo’ dan langsung mencecarnya dengan serentetan kalimat yang Surin kategorikan sebagai serentetan kalimat protesan mengingat laki-laki itu mengungkit lamanya waktu yang ia habiskan hanya untuk menunggu Surin tiba di rumah.

“Hari ini aku ada kelas pagi. Sekarang aku sedang di café dekat kampus bersama teman-temanku. Tunggu saja disana. Satu jam lagi aku sampai.” Surin berujar lemas sambil sesekali memperhatikan wajah kedua temannya yang tampak sangat penasaran dengan percakapan mereka.

“Taerin dan Cheonsa?” Tanyanya membuat Surin hanya menyahutinya dengan gumaman ‘iya’.

“Tumben tidak bersama dengan si ketua organisasi mahasiswa itu.” Surin menghela napas kesal sementara kedua temannya sudah mengalihkan perhatian mereka pada makanan yang tersaji di meja, seolah tidak mau ikut campur akan urusan kedua sejoli itu.

“Aku sedang tidak mau bertengkar, Oh Sehun.” Sehun terdiam membuat Surin juga ikut terdiam. Surin tidak mengerti mengapa belakangan ini laki-laki itu jadi lebih menyebalkan dari biasanya. Dan bagi Surin, laki-laki itu semakin menyebalkan ketika ia mulai mengungkit sang ketua organisasi mahasiswa yang notabene adalah mantan kekasih Surin saat ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Itu bahkan sudah sangat lama namun Sehun terus saja mengungkitnya apalagi ketika Surin masuk ke dalam organisasi itu dan mulai dekat kembali dengan Do Kyungsoo, sang ketua organisasi. Surin bersumpah kedekatannya dengan Kyungsoo kini hanya sebatas senior dan junior, tidak lebih dari itu.

“Baiklah. Satu jam ya, Nona Jang. Tidak lebih.” Sehun memutus sambungan teleponnya begitu saja membuat Surin segera membanting ponsel tidak bersalah itu pada meja café. Surin memijat pelipisnya perlahan. Ia bahkan tidak menyangka Sehun tetap dapat menebak kata sandi yang sudah ia ganti berkali-kali pada kunci pengaman pintu depan rumahnya itu.

Kedua temannya segera menepuk-nepuk bahu gadis yang tengah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya itu dengan rasa simpati. Surin tampak begitu frustasi. Semua bukan karena semata-mata Sehun dapat menebak kata sandi pintu depannya, atau mencemburuinya dengan Kyungsoo. Melainkan karena satu hal penting yang dengan bodohnya malah laki-laki itu lewatkan dan lupakan begitu saja padahal jarum jam terus berputar, mengikis kesempatan laki-laki itu untuk sekedar mengucapkannya selamat—atau yang lebih tepatnya mengikis harapan Surin untuk sekedar mendapatkan ucapan selamat dari kekasihnya itu. Ya, hari ini adalah hari jadi Surin yang ke-20.

Ayah, Ibu, beserta kakak dan adiknya sudah terlebih dulu memberikan Surin pesta kecil-kecilan. Keluarganya bersama-sama mendatangi rumah Surin—yang sengaja Tuan Jang, ayah Surin belikan untuknya karena letak rumah tersebut yang sangat dekat dengan kampus Surin—tepat pukul 12 malam. Lalu kedua teman yang lebih dari sekedar akrabnya, yang tidak lain tidak bukan adalah Hwang Taerin dan Park Cheonsa, pagi-pagi sekali sudah mendatangi rumah Surin dengan membawa sebuah kue tart. Tidak hanya itu, setelah kelas Surin berakhir, Taerin dan Cheonsa langsung mengajak Surin ke café langganan mereka, sehingga sekarang ini Surin dapat makan sepuasnya, menghilangkan stress akan setumpuk tugas yang di jejalkan oleh dosennya secara paksa beberapa jam yang lalu. Kalau di lihat secara keseluruhan memang hanya laki-laki itu yang tidak melakukan apapun. Sekalipun hanya memberikan sebuah ucapan selamat.

Surin sudah menduga hal tersebut mengingat adanya kesamaan dengan kejadian tahun sebelumnya, Sehun lupa kapan tepatnya hari ulang tahun Surin. Surin semakin kesal ketika sekelebat ingatan yang ingin dihapusnya itu muncul begitu saja di otaknya. Kejadian tahun lalu yang sepertinya akan terulang kembali pada tahun ini.

Pagi-pagi sekali Sehun sudah menyusup ke rumahnya. Dengan segala peralatan yang ia bawa, Sehun dengan segera menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Surin. Ia merubah ruang tamu rumah Surin menjadi sebuah tempat pesta ulang tahun yang sangat manis dengan balon-balon berbentuk hati memenuhi ruangan tersebut, sebuah kue tart dan kotak kecil bludru berisikan kalung inisial ‘S’ juga sudah di siapkan sebagai hadiahnya. Surin yang baru bangun dengan mata sembab karena menangis semalaman, mengira Sehun lupa akan ulang tahunnya segera menangis kembali ketika melihat Sehun yang dengan polosnya berseru ‘Selamat Ulang tahun’, diikuti confetti yang menambah kemeriahan, membuat tangis gadis itu semakin menjadi-jadi. Rupanya Sehun lupa kalau ulang tahun Surin yang benar adalah tanggal 30, bukan tanggal 31 seperti yang ia cantumkan pada tanggalan ponselnya. Sehun harus memohon-mohon agar Surin mau memaafkannya selama kurang lebih dua bulan lamanya.

“Hwang Taerin, Park Cheonsa. Apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya sedikit lebih peduli?” Kedua temannya itu saling berpandangan satu sama lain, merasa prihatin dengan teman mereka yang kini tampak ingin menangis.

“Kalau Sehun tidak peduli, ia tidak akan mencemburuimu dengan Kyungsoo sampai seperti itu. Benarkan, Taerin-a?” Taerin mengangguk-angguk sembari menyesap green tea latte-nya, menyetujui ucapan Cheonsa.

“Tapi kalau dia sampai lupa ulang tahunmu lagi ku rasa itu sudah lebih dari parah. Iya kan, Taerin-a?” Taerin mengangguk-angguk lagi sambil terus menyesap green tea latte favoritnya.

“Kyungsoo saja memberimu hadiah.” Cheonsa memperhatikan shopping bag berisikan dua buah novel series yang Surin letakan di bangku sebelahnya. Novel tersebut adalah hadiah ulang tahun dari Kyungsoo yang diberikan tadi pagi di perpustakaan selepas rapat organisasi. Surin ingin menolaknya namun Kyungsoo tetap memaksanya untuk menerima hadiah tersebut.

“Muluk sekali kan kalau aku berharap ia juga memberiku hadiah?” Surin berujar lemas lalu menatap layar ponselnya yang menyala seiring dengan masuknya sebuah pesan singkat. Ia menatap lock screen ponsel tersebut, lama.

Tampak dirinya tengah mengenakan seragam SMA-nya sambil memeluk bucket bunga dan piagam kelulusannya. Di sebelah Surin yang tengah tersenyum sangat lebar itu, tampak seorang laki-laki berperawakan tinggi tengah memeluk bahu Surin dengan satu tangannya sementara tangan yang lainnya memegang bucket bunga dan piagam kelulusan, sama seperti yang di pegang Surin. Laki-laki berambut cokelat itu tampak sedang tertawa sehingga matanya membentuk lengkungan berbentuk bulan sabit. Tangan kanannya tampak sangat erat merengkuh bahu Surin sehingga gadis itu bahkan terlihat tampak sangat kecil di sebelahnya. Tanpa gadis itu sadari kini ia sendiri merindukan hal tersebut.

“Mungkin saja kali ini Sehun tidak benar-benar lupa. Siapa tahu sekarang ini ia sudah menyiapkan sesuatu yang spesial. Buktinya saja ia menelponmu dan menyuruhmu untuk cepat pulang, kan? Sudah sana cepat temui dia.” Taerin berusaha menghibur meski dari nada suaranya sendiri Surin tahu gadis itu tidak menjamin kebenaran atas perkataannya barusan. Namun Surin berusaha optimis hingga sebagian energinya seakan kembali lagi meskipun separuhnya masih hilang entah kemana.

Surin melirik jam tangannya yang menunjukan pukul sebelas kurang lima belas menit. Ia meraih tas selempang berwarna merahnya kemudian beranjak dari kursi café tersebut. “Doakan saja agar hari ini aku tidak keceplosan mengakhiri hubungan ini ya.” Cheonsa menatapnya ngeri sementara Taerin hanya tertawa meledek. Pasalnya Taerin sendiri tahu Surin tidak akan melakukan hal tersebut mengingat gadis itu benar-benar mencintai seorang Oh Sehun.

“Kabari aku kalau sudah putus. Ku rasa Oh Sehun tidak buruk untuk di jadikan teman jalan-jalan.” Taerin berseru di ikuti tawa menggelegar milik Cheonsa. Surin yang mendengar hal itu segera berbalik dan memperlihatkan Taerin kepalan tangan kanannya—seolah-olah siap untuk meninju Taerin kalau sampai ia berani dekat-dekat dengan Sehun—sambil terbahak, menyadari kekonyolannya sendiri.

“Kurasa Kris tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Hwang Taerin! Aku juga akan meminta Cheonsa untuk membujuk Joonmyun meminjamkan uangnya padaku agar aku bisa mentransfer Sehun ke kampus yang lain!” Surin berseru nyaring kemudian meninggalkan café tersebut setelah puas tertawa bersama kedua sahabatnya yang sangat ia sayangi itu.

Surin tahu ia memang benar-benar sudah terperangkap dalam sihir seorang Oh Sehun yang menyebalkan. Karena pada dasarnya, Surin memang sangat mencintainya.

**

Surin baru saja akan membuka pintu pagar rumahnya, namun seseorang yang tengah sibuk di halaman depan rumahnya itu menarik perhatiannya. Ia menghela napas pelan menyadari harapannya tentang kejutan ulang tahun seperti yang Taerin katakan lenyap begitu saja.

“Mengapa kau diam saja disitu? Ayo sini bantu aku!” Surin segera menghampiri Sehun dengan langkah terburu-buru.

“Kamarmu itu sudah dari tahun berapa tidak dibersihkan, sih?” Sehun menggerutu namun tetap melanjutkan aktivitasnya. Ia tengah menginjak-injak sprei berwarna putih yang direndamnya di dalam sebuah ember yang berukuran lumayan besar. Sesekali ia menambahkan deterjen dengan tidak sabaran. Surin masih memandanginya dengan takjub sekaligus malu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bagaimana Surin mau membersihkan dan mencuci sprei kamarnya kalau hari minggu saja dosen galak itu terus memanggilnya ke kampus untuk membantunya membereskan beberapa tugas? Mendadak Surin menyesal tidak mendengarkan nasehat Sehun. Ya, laki-laki itu selalu memarahi Surin dan menyuruhnya untuk tidak terlalu aktif di kelas. Surin tahu pasti Sehun hanya tidak suka ia di jadikan sebagai asisten pribadi dosen yang harus bersedia kapanpun membantu dosen tersebut.

Surin meletakan shopping bag pemberian Kyungsoo di teras rumahnya kemudian berlari kecil menghampiri Sehun seraya melipat celana jeans panjangnya sebatas lutut. “Itu apa?” Tanya Sehun seiring Surin mencelupkan kedua kakinya pada ember tempat Sehun berdiri. Kini mereka berdua sibuk menginjak-injak sprei tersebut dengan irama yang beriringan. Surin memegang ujung baju Sehun dengan kedua tangannya guna menjaga keseimbangan tubuhnya.

“Hanya sebuah oleh-oleh.” Surin mengurungkan niatnya untuk menjawab bahwa shopping bag itu adalah hadiah ulang tahun mengingat Sehun sama sekali kelihatan tidak ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Dan Surin sangat tidak mau mendapatkan ucapan selamat hanya karena ia sendiri yang mengingatkan.

“Dari Kyungsoo?” Semilir angin berhembus ke arah mereka mengisi keheningan yang sempat terjadi setelah Surin berujar demikian. “Pasti kau senang sekali ya.”

“Kau cemburu? Kau kan juga sering memakai sepatu kets oleh-oleh dari teman dekat perempuanmu sewaktu SMA itu.” Surin berujar sarkastik namun tetap tidak mengalihkan pandangannya dari sprei tersebut.

“Cemburu? Untuk apa aku cemburu? Kau pernah memberitahuku kalau kau tidak menyukai laki-laki pendek. Jadi ku rasa aku tidak perlu repot-repot cemburu.” Surin mendengus sementara Sehun berpura-pura sibuk dengan sprei yang tengah di injaknya bersama Surin. “Meskipun Kyungsoo pendek dia itu dewasa dan tidak menyebalkan.” Surin menekan kata demi kata yang baru saja ia ucapkan membuat Sehun hanya tertawa meledek meskipun Surin tahu laki-laki itu tengah terbakar emosi.

“Sekarang kau bahkan membandingkan kekasihmu sendiri dengan mantanmu.” Surin tertawa renyah kemudian mendongak untuk menatap kedua bola mata milik kekasihnya itu. “Kau cemburu.” Surin mencubit kedua pipi Sehun membuat sang empunya segera membalas cubitannya dengan juga mencubit kedua pipi Surin. “Kau yang cemburu sampai-sampai membahas sepatu kets itu.”

“Ya, aku memang cemburu. Aku bahkan tidak ada apa-apanya di banding dia.” Sehun tertawa pelan dan mengeraskan cubitannya pada pipi Surin membuat gadis itu mengaduh kesakitan. Surin melepas tangan Sehun secara paksa dari kedua belah pipinya kemudian menatap laki-laki itu garang. “Jadi kini kau sadar kalau kau itu tidak ada apa-apanya di banding dia?”

“Tidak juga. Buktinya aku memenangkan sesuatu yang lebih dari apapun yang ia punya.” Sehun tertawa lagi menyadari arah pembicaraan gadis itu. “Memangnya apa yang kau menangkan itu?” Sehun berujar jahil kemudian sepersekian detik kemudian Sehun dapat merasakan kedua tangan Surin tengah melingkar dengan erat di pinggangnya. “Kau!” Serunya kemudian mempererat pelukannya. Sehun mengacak rambut Surin sambil tertawa pelan kemudian membalas pelukan gadis itu.

“Mulai sekarang, mari tidak usah bahas kedua orang itu lagi.” Surin melepas pelukannya dan mengangguk menyetujui ucapan Sehun barusan. Mereka berdua kemudian meneruskan pekerjaan menginjak-injak sprei merah muda milik Surin. Surin seperti teringat akan sesuatu lalu beberapa detik kemudian ia menghentikan derapan kakinya dan menatap Sehun lurus. Laki-laki itu kini juga menghentikan aktivitasnya dan membalas tatapan sengit Surin dalam diam.

“Oh Sehun.” Surin masih menatap lurus kedua bola mata cokelat pekat dan tajam itu. “Apa saja yang kau tahu tentangku? Sebutkan. Aku ingin tahu sejauh mana kau mengenalku.” Sehun menghela napas seraya meneruskan kegiatannya. “Apa yang kau bicarakan?”

“Zodiak ku?”

“Aquarius.”

“Golongan darahku?”

“Bahkan dari awal aku sudah dapat menebaknya. A.”

“Warna favoritku?”

“Merah.”

“Makanan favoritku?”

“Ah itu nasi dengan daging ayam di atasnya. Apa namanya aku lupa. Nasi tim?”

“Hal yang paling aku suka?”

“Morning call dariku?”

“Hal yang paling aku benci?”

“Ayam.” Sehun menahan tawanya. “Dan teman dekat perempuanku sewaktu SMA dulu.”

Surin terdiam kemudian perlahan membuka mulutnya. “Tanggal lahirku?”

Surin berujar ragu, masih menatap lurus kedua bola mata favoritnya itu. Sehun tampak sedang memutar otaknya sehingga alis tebalnya bertaut. “30 Januari? Atau 31?”

Surin menghela napas pasrah kemudian mengalihkan pandangannya ke arah sprei yang masih di injaknya itu. Sehun benar-benar tidak mengingatnya dan Surin merasa harinya buruk seketika. Padahal Surin masih berharap, ketika ia membuka pintu masuk rumahnya itu ia akan menemukan sebuah pesta kejutan ulang tahun di ruang tamu. Namun kenyataan tampaknya sedang tidak berpihak pada gadis itu.

Kini mereka berdua tengah menjemur sprei yang baru saja mereka peras itu dalam diam. Sehun tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun melihat Surin yang tiba-tiba murung. Ia tahu semua karena dirinya dan itu membuatnya sangat merasa bersalah.

“Sekarang giliranku.” Sehun berujar seraya membetulkan letak sprei itu bersama Surin. “Giliran apa? Giliran menjawab semua pertanyaan tentang dirimu? Aku bahkan hafal semuanya diluar kepala.” Surin menjawab masih dengan ekspresi dan nada suara yang lemas.

“Oh ya? Kalau begitu berapa tanggal lahirku?”

“12 April 1994.”

“Golongan darahku?”

“O.”

“Makanan kesukaan?”

“Sushi.”

“Minuman kesukaan?”

“Oh ayolah, Oh Sehun. Bahkan ratusan penggemar rahasiamu di kampus yang terkadang membuatku muak itu juga tahu kalau jawabanya sudah pasti adalah Bubble tea.” Surin mendengus seraya memukul sprei yang sudah di jemurnya itu sementara Sehun hanya tertawa jahil mendengarnya.

“Aktris cantik yang paling aku sukai?”

Surin menghela napas. “Choi Jiwoo.”

“Model cantik yang paling aku sukai?”

“Mirranda—terus saja bahas perempuan-perempuan cantik! Oh Sehun kau benar-benar menyebalkan!” Surin memukul lengan Sehun kemudian berjalan dengan langkah yang besar-besar menuju pintu rumahnya. Ia menekan beberapa angka sebagai kata sandi untuk membuka pintu tersebut kemudian memasuki rumahnya tanpa menengok lagi ke arah Sehun yang kini sedang sibuk tertawa-tawa. “Ya! Jang Surin! Ayo pasang sprei baru untuk kasurmu itu bersama-sama!”

**

“Sudah 2015 dan kau masih saja marah-marah tidak jelas seperti ini.”

Surin masih menekuk wajahnya sambil memasang sprei untuk kasur ukuran king size-nya itu bersama Sehun. “Terhitung sudah dua kali kau mengatakan itu di awal tahun ini.” Surin berujar tanpa memandang Sehun. Semenit kemudian mereka telah usai memasangkan sprei baru untuk kasur tersebut. Surin membanting tubuhnya sambil menghela napas ke kasur membuat Sehun segera mengikutinya, sehingga kini mereka tengah berbaring bersebelahan. Sehun membetulkan posisi tidurnya, menghadap Surin yang kini tengah melakukan hal yang sama. Mereka menatap mata satu sama lain dalam diam seolah menyalurkan sesuatu dari tatapannya masing-masing.

Sehun menyelipkan helai rambut panjang Surin ke belakang telinganya secara perlahan kemudian mengelus pipi gadis itu. “Kau cantik. Bahkan ketika kau sedang marah-marah.” Sebuah senyuman terulas pada bibir Sehun membuat Surin turut membentuk lengkungan yang sama dengan miliknya. Rona merah pada pipi Surin membuat Sehun tertawa kecil di sela-sela tatapan mereka yang seakan tidak ingin mereka putuskan.

“Sehun-a.” Surin berujar pelan namun Sehun tetap dapat mendengar perkataan gadis yang masih menatap lurus kedua manik cokelat pekat miliknya. “Kau tahu apa yang paling aku sukai darimu?” Surin memegang tangan kiri Sehun yang masih berada di pipinya. “Sifatmu yang menyebalkan dan kekanakan itu. Sifatmu yang seringkali tidak peduli. Sifatmu yang pencemburu namun tidak mau kau akui. Aku sadar aku menyukai semua itu.” Sehun memeluk Surin perlahan membuat gadis itu segera membalas pelukannya erat.

“Sekalipun aku benar-benar melupakan ulang tahunmu hari ini kau tetap akan menyukaiku sampai seperti itu?” Surin segera mendongak, menatap Sehun dengan tatapan kesal. “Kau mengingatnya namun pura-pura tidak ingat?” Sehun hanya tertawa ketika sepersekian detik kemudian Surin sudah memukulinya tanpa ampun. Sehun mengeratkan pelukannya tiba-tiba membuat gadis itu menghentikan gerakan tangannya.

“Maafkan aku. Sebenarnya aku mengingatnya. Sangat mengingatnya.” Surin terdiam dalam pelukan Sehun. Ia bahkan dapat menghirup aroma mint yang pekat dari laki-laki itu.

“Hanya saja tahun lalu aku membeli sebuah ponsel baru dan salah menandai tanggalan. Kau tahu kan aku tidak begitu peduli dengan tanggalan bahkan setiap harinya. Jadi ketika alarm penanda ponsel itu berbunyi dan namamu terpampang di layar, aku segera menyiapkan pesta kejutan itu. Aku masih mengira hari itu tanggal 30 Januari sampai kau menangis keras dan memaki-makiku. Aku melihat ponselku dan betapa bodohnya aku sampai tidak tahu kalau hari itu bukan tanggal 30 melainkan tanggal 31.”

“Maaf— ”

“Jadi kau benar-benar tidak lupa?! Kau benar-benar mengingatnya?!” Surin memotong ucapan Sehun. Ia berkaca-kaca sehingga pandangannya mulai mengabur. Sehun tidak melupakan hari spesialnya. Sehun mengingatnya dan Surin tidak tahu lagi bagaimana cara mendeskripsikan rasa bahagianya.

“Aku janji aku tidak akan berbuat hal sebodoh itu lagi.” Sehun memeluk Surin erat sementara gadis itu sudah terisak. Silahkan katakan Surin cengeng sepuas yang kau mau. Surin tidak akan mempedulikannya karena ia benar-benar lebih dari bahagia kali ini.

“Tutup matamu dan jangan buka sampai aku kembali lagi ke sini. Janji?” Surin mengangguk kemudian Sehun meninggalkan ruang kamarnya setelah mengacak rambut gadisnya itu.

Sehun mengambil balon-balon gas yang sudah ia siapkan sebelum Surin sampai di rumah tadi pagi. Ia menebarkan balon-balon gas tersebut ke kamar Surin sehingga kini ruangan tersebut di penuhi oleh balon. Pada tali yang mengikat balon gas tersebut terpasang foto-foto polaroid dari pertama kali mereka kenal sampai sekarang ini. Sehun mengambil semua foto-foto itu dan menyimpannya tanpa sepengetahuan Surin.

Sehun tersenyum melihat Surin yang kini masih menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, tidak menyadari kehadiran Sehun dan balon-balon itu sama sekali. Sehun mengambil ponselnya kemudian memotret Surin yang kini tengah terbaring di kasur, ditemani balon-balon di langit-langit kamarnya. Setelah itu Sehun segera mengambil kue tart buatannya sendiri—ya meskipun ibunya turut membantu—yang ia buatkan khusus untuk Surin. Tidak lama setelah persiapan, kini ia tengah berdiri menghadap Surin yang masih terbaring di kasur tersebut. Tangan kanannya memegang kue tart dengan hiasan kartun Larva, sedangkan tangan kirinya memegang tali balon gas berbentuk hati.

“Buka matamu.” Pinta Sehun membuat Surin segera membuka matanya. Ia terkejut melihat ke sekeliling langit-langit kamarnya yang di penuhi balon dan foto-foto polaroid dirinya. Ia terduduk di kasurnya masih dengan ekspresi tidak percaya. Sehun hanya tersenyum lembut kemudian menghampiri Surin seraya duduk di kasur tersebut sehingga kini ia duduk berhadapan dengan Surin.

“Selamat ulang tahun, Jang Surin.” Surin menutup mulutnya dengan kedua tangannya, berusaha menutupi tangis yang akan pecah. “Sebelum meniup lilin, panjatkan doamu terlebih dahulu.” Surin segera menangkupkan kedua tangannya dan berdoa. Ia memohon kepada Tuhan agar segalanya yang akan ia hadapi di umurnya sekarang ini, semuanya dapat berjalan dengan baik. Tidak lupa ia berdoa agar Sehun selalu disisinya seperti ini sampai kapanpun. Surin segera meniup lilin yang ada di kue tart bertemakan Larva itu setelah mengucapkan permohonannya.

“Sekarang giliran kadonya.” Sehun meletakan kue tart tersebut di kasur lalu memegang tali balon tersebut sambil tersenyum penuh arti. Surin hanya memandanginya dengan lengkungan serupa milik Sehun yang seakan tidak mau luntur dari wajahnya.

“Rentangkan kelima jari tangan kananmu.” Surin segera menuruti dan Sehun langsung mengikatkan tali balon tersebut pada jari manis Surin. Seketika itu juga sebuah cincin perak dengan ukiran ‘Mrs. Oh’ di dalam cincin tersebut, meluncur dari tali balon tersebut. Surin memandangi cincin itu dengan mata yang berkaca-kaca.

“Oh Sehun—” Surin berujar dengan susah payah. Ia masih tidak percaya kalau semua ini nyata. Sementara itu Sehun segera menangkup kedua belah pipinya dan menatap kedua bola mata Surin lekat-lekat. Ia menghapus air mata yang membasahi pipi gadisnya itu.

“Semoga kedewasaanmu juga bertambah seiring dengan bertambahnya umurmu. Jangan marah-marah seperti anak kecil lagi.” Sehun mengecup dahi Surin singkat membuat Surin semakin ingin menangis.

“Semoga kau selalu diberikan yang terbaik di umurmu yang sekarang ini.” Sehun mengecup kedua kelopak mata Surin yang terpejam. Surin yakin Sehun bahkan dapat mendengar degup jantungnya yang berdetak sangat cepat dan keras sekarang ini.

“Semoga hubungan kita ini juga dapat lebih baik lagi.” Sehun mengecup ujung hidung Surin dengan mata yang terpejam. Laki-laki itu hampir gila dengan keadaan jantungnya sekarang ini yang seolah memaksa untuk keluar dari tempatnya setiap ia mendaratkan kecupannya di permukaan wajah Surin.

“Aku mencintaimu, Jang Surin.” Sehun kembali memejamkan kedua matanya setelah berujar demikian lalu mendaratkan kecupan terakhirnya pada bibir mungil gadis itu. Sehun memperdalam seolah membuktikan perasaannya yang memang benar sungguh-sungguh terhadap ucapannya barusan.

Surin juga mencintainya. Sangat mencintainya. Dan sampai kapanpun akan seperti itu.

**

Sehun tertawa terbahak-bahak melihat komentar teman-temannya pada post terbaru yang ia publikasikan di akun instagram miliknya.

aad

@oohsehun : “Happy birthday, My one and only girl. @surinjjang <3”

9499 person likes this photo.

Comments :

@real__pcy : “Wah wah wah. Oh Sehun kau wajib berterima kasih padaku untuk ide yang berhasil ini. Ku tunggu bayaranku! Anyway, saengil chukkae Surin-a! @surinjjang”

@kaikiim : “Aku juga turut membantumu memberikan ide. Catat itu! Surin-a, kami tunggu traktirannya! Dan jangan lupa untuk membawa adikmu yang satu itu ya @surinjjang”

@baekhyunee_exo : “Wah sepertinya ada yang melewatkan malam yang seru berdua ya? Background fotonya saja sudah di kamar begitu ehem! Oh ya, aku hanya ingin memberitahu kalian berdua kalau aku suka sesuatu yang gratis jadi jangan lupa traktirannya! Ya! Kim Jongin mau apa kau dengan mantan terindahku?!”

@_jimiyya : “Calon kakak iparku romantis sekali!!! Aku sangat mendukung hubungan kalian berdua!!! ((ps : block saja akun @baekhyunee_exo dan @kaikiim))

@7_luhan_m : “Traktir! Traktir! Traktir! Zhù nǐ shēngrì kuàilè, Jang Surin! @surinjjang”

@hztttao : “Oh Sehun kau tentu tidak lupa dengan teman sejatimu ini yang juga memberi saran untuk warna balonnya kan?! Ah ya, Zhù nǐ shēngrì kuàilè, Happy Birthday, Saengil Chukkahabnida, Selamat ulang tahun untuk kekasih Sehun yang selama ini sudah banyak bersabar menghadapi anak itu @surinjjang aku salut padamu!”

@zyxzjs : “Aku lupa kalau kita sudah rapat kejutan ini. Ku pikir baru besok kita akan rapat hehehe. Selamat ulang tahun orang yang selalu disebut-sebut Sehun setiap anak itu bercerita atau sekedar mengobrol bersama kami, @surinjjang All the best for you!”

@exoxm90 : “Wah rencananya berjalan baik! Uri maknae jjang! Saengil chukkae @surinjjang (sekedar informasi, Sehun bekerja sangat keras untuk surprise ini hahahaha.)”

@kjong_dae : “Minseok hyung juga bekerja sangat keras! Ia yang paling banyak meniup balon tersebut dari antara kami semua hahahaha! Happy birthday to you girl!!! @surinjjang”

@galaxy_fanfan : “Oh Sehun kalau kau ingin belajar jadi pria yang lebih romantis lagi hubungi saja aku. Aku ini ahlinya, buktinya saja Taerin yang keras kepala itu berkali-kali jadi korbanku hahaha. Selamat ulang tahun ya, kotak rahasia Taerin! Terima kasih sudah memberitahuku banyak hal ajaib tentang Taerin selama ini hahaha @surinjjang”

@chocolattaerin : “((aku tidak mengenal Taerin yang disebut diatas. Tidak juga mengenal orang yang mengirim komen tersebut.)) Oh Sehun sejak kapan kau jadi seromantis ini?! Aku yakin seratus persen Surin tidak bisa tidur dengan nyenyak sehabis kejutan ini.”

@guardian_suho : “Baguslah rencananya berjalan baik! Tidak sia-sia rupanya kita meniup balon-balon tersebut sampai jam dua pagi. Surin-a, saengil chukkae! Hadiah dariku menyusul. Tenang saja, kau bisa minta apapun yang kau mau!! @surinjjang”

@justcheonsa_ : “Romantis sekali!!!!!!! Oh Sehun kau melakukannya dengan sangat baik! Surin-a, kau tidak pingsan kan saat itu?! @surinjjang”

@dokyungsoo93 : “Jadi tinggal aku yang belum berkomentar? Hahaha. Surin-a, Sehun memang bekerja sangat keras untuk kejutan ini. Dia benar-benar tidak mau ada kekurangan atau bahkan kesalahan sedikit pun dalam rencananya sampai-sampai ia mengajak kami mendiskusikan rencana ini bersama. Aku kagum padamu yang dapat membuat seorang Oh Sehun menjadi seperti itu. Selamat ulang tahun @surinjjang”

-fin

Hehet! Tadinya mau beneran dipost pas tanggal 30 tapi post sekarang aja deh(?) Thanks for reading!

Advertisements

10 comments

  1. Cheonsa · January 18, 2015

    CIYE YANG BENTAR LAGI ULTAH CIYEEEEE

  2. Cheonsa · January 18, 2015

    CIYE YANG BENTAR LAGI ULTAH CIYEEE

  3. realljo · January 21, 2015

    ucul banget ni ff, romance nya banyak banget w ampe hanyut gt de kebayang ga cogan kasi surprise a6 gt yakan. lucu banget dah udah surin nya cengeng banget nie sakit ati mulu tapi akhirnya seneng kan lo rin ga kek cerita cinta w ama tu dua cowo belom dapet jalan terang. ok pokoknya ucul banget mulai dari nyuci sepre. ampe si baekhyun jongin yang berebutan mulu. ok info aja ni authornya mau ultah moga kesampean d imipian nya biasanya ff itu adalah doa.

  4. adeliamasita · November 30, 2015

    nice ff author
    sumpah bagus bgt

  5. rahsarah · April 18, 2016

    sweet bnget kejutannyaaaaa
    bahagia banget kayanya jadi surin

    • Oh Marie · April 19, 2016

      Terima kasih sekali lagi sudah mau ngubek-ngubek sampe jauh HUHUHUHUU. Intinya aku seneng banget dapet reader baru yang aktif kayak kamu! Terima kasih banyak ya!

      • rahsarah · April 19, 2016

        iya aku gtu klo dpet bacaan yg keren pasti belabelain ngubek2 jauh bnget heheh
        soalnya aku udh fav ff kamu nih..
        tulisan sama gaya bahasanya bener2 aku sukaaaa

        aku msih ngubek2 nih hehehe

  6. rahsarah · April 19, 2016

    iya aku gtu klo dpet bacaan yg keren pasti belabelain ngubek2 jauh bnget heheh
    soalnya aku udh fav ff kamu nih..
    tulisan sama gaya bahasanya bener2 aku sukaaaa

    aku msih ngubek2 nih hehehe

  7. southpole · July 10, 2016

    APA SIH

    ga kuat

    KELEWAT ROMANTIS TAU GA…kasihanilah pembaca yg jomblo ini…

    wakakakkakakak anyway, ampe capek bilangnya aku suka bgt sama couple ini, jalan cerita, dan kekonsistenan karakter mau pun settingannya ♥♥
    Hehehhe trus temen2nya SeRin lucu2 bgt siiih ♥♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s