Larva

B4ammQTCIAAO1dS

Terinspirasi dari kartun Larva lalu lahirlah fanfict sehari jadi ini. Happy reading!

“Terkadang aku benar-benar tidak paham dengan isi kepalamu itu, Jang Surin.”

Sehun mengacak rambutnya asal, frustasi dengan gadis bernama lengkap Jang Surin yang kini tengah memakan camilannya sambil menonton kartun yang tengah tayang di salah satu channel anak-anak. Sesekali ia tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi si objek utama yang ada di film kartun itu. Ya, objek utama yang dibilangnya mirip sekali dengan Sehun sampai-sampai beberapa malam terakhir ini gadis itu selalu menelpon Sehun, meminta laki-laki itu datang ke apartmentnya hanya untuk menyaksikan film kartun itu bersama-sama. Dan sialnya Sehun tidak pernah sekalipun tidak memenuhi permintaan konyol gadis itu. Ia dengan sabarnya pasti akan datang ke apartment Surin tepat pukul jam sembilan malam—bahkan ia tidak pernah satu menit pun terlambat—dan langsung menyaksikan kartun berdurasi satu jam yang ia kategorikan sebagai kartun terkonyol itu bersama Surin. Meskipun berbagai macam dan serentetan protesan keluar dari mulutnya dari awal sampai akhir film kartun itu berlangsung, Sehun sendiri mengaku bahwa ia tidak akan pernah bisa menyuruh dirinya sendiri untuk menolak permintaan konyol gadisnya itu.

“Larva kuning itu mirip sekali denganmu!” Surin menunjuk televisi itu antusias sementara Sehun menghela napas disebelahnya.

“Oh ayolah, Jang Surin. Kau bahkan sudah mengatakan itu sekitar seratus kali.” Sehun beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan ke arah lemari pendingin yang terletak di dapur kecil apartment itu. Sehun berencana untuk mendinginkan pikirannya sejenak dengan sekaleng cola atau minuman dingin apapun yang ia temukan disana, sementara Surin masih begitu antusiasnya menyaksikan dua larva yang tidak lain tidak bukan adalah pemeran utama film kartun tersebut. Sehun bahkan benar-benar ingin menyiram Surin dengan minuman dinginnya ketika gadis itu tertawa keras, membuat Sehun yang baru saja akan meneguk minumannya itu terkejut setengah mati sampai-sampai ia spontan menumpahkan sedikit isi minuman dingin tersebut.

“Aku ingin beli bonekanya.”

“Aku tidak peduli.”

“Kau kan tahu aku menyukai kartun itu seharusnya kau berinisiatif membelikannya sebelum kemari! Dasar tidak romantis.” Sehun baru saja akan membalas perkataan gadis itu namun niatnya terhenti ketika dua bantal sofa melayang ke arahnya dan dengan kecepatan sepersekian detik dapat Sehun rasakan bantal tersebut seakan meninju wajahnya.

“Jangan membuatku marah, Jang Surin. Kau sudah membuatku membuang-buang waktu dengan setiap malam mampir ke apartmentmu seperti ini dan sekarang seperti inikah balasanmu?” Sehun melempar dua bantal tersebut ke arah Surin dan sepersekian detik kemudian terdengar teriakan amukan yang tidak Sehun pedulikan. Ia malah meneguk habis minuman dinginnya tanpa memandang gadis yang kini sudah menatapnya gemas.

“Apa?! Kau bilang kau sudah membuang-buang waktumu?!” Surin kembali membuat pembalasan hingga kini dua bantal tadi pun mendarat lebih keras dari sebelumnya. Surin benar-benar tidak dapat menahan amarahnya kali ini. Surin tidak menyangka laki-laki itu akan berpikiran demikian. Surin tidak menyangka jika laki-laki itu memang benar-benar keberatan menemaninya setiap malam seperti belakangan-belakangan ini.

Tidak tahukah Sehun semua hal yang benar-benar dianggap laki-laki itu sebagai hal yang konyol malah bermakna berbeda bagi Surin?

“Bukan seperti itu, maksudku—“ Surin membelakangi laki-laki itu sambil melipat tangannya di depan dada. Surin ingin masuk ke kamar kemudian mengurung diri disana sampai laki-laki itu menyerah dan pergi dari apartmentnya namun entah mengapa ada sebagian besar dari dirinya yang menolak mentah-mentah ide tersebut. Ia ingin lebih lama berada di dekat Sehun. Hanya itu tujuannya. Termasuk tujuannya setiap malam mengajak Sehun menonton kartun anak-anak. Ya, tidak lain tidak bukan hanya bertujuan untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan laki-laki jangkung berkulit putih susu itu, mengingat sibuknya kegiatan kampus Sehun belakangan ini sehingga Surin merasa ia benar-benar tidak mempunyai waktu berdua seperti dulu. Ia ingin Sehun kembali menyediakan waktunya. Bahkan hanya sekedar menemani Surin selama satu jam sampai kartun favoritnya itu habis sudah sangat cukup baginya. Tapi sepertinya laki-laki itu benar-benar keberatan dengan semua ini.

Sehun berjalan ke arah gadis itu. Ia berdiri tepat di belakang Surin yang kini tengah duduk di sofa sambil memasang wajah masam. Gadis itu bahkan tidak tertawa ketika melihat aksi lucu karakter kartun yang sangat ia sukai itu. Sehun menghela napas kemudian mengacak rambut cokelatnya itu asal. Seharusnya Sehun tidak berkata seperti itu tetapi apa daya semua juga merupakan salah dari tugas-tugas kampus yang terus menumpuk setiap harinya membuat laki-laki itu benar-benar merasa tertekan belakangan ini sehingga ia tidak dapat lagi berpikir dengan jernih. Ditambah lagi Surin yang mengharuskannya datang ke apartmentnya setiap malam sehingga waktu yang bisa di manfaatkannya untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut terbuang sia-sia hanya untuk menonton kartun kesukaan gadisnya itu. Sehun tidak keberatan jika itu untuk Surin tetapi situasinya sekarang ini memang sedang tidak berada di situasi bernanti-nanti-ria dengan tugas-tugasnya.

Sehun memeluk leher Surin dari belakang kemudian membenamkan wajahnya dibahu kanan gadis itu. Ia menghirup aroma tubuh Surin dalam-dalam, membiarkan aroma favoritnya itu memasuki paru-parunya. Sehun sadar bahwa ia sangat merindukan gadis itu.

Surin masih tidak bergeming. Surin memejamkan kedua matanya, menahan diri mati-matian untuk tidak menyentuh rambut cokelat itu. Bahkan ia menahan napasnya agar aroma rambut Sehun tidak memasuki indera penciumannya. Surin tahu jika ia tidak melakukan itu ia akan terperangkap lagi dan lagi dalam pesona laki-laki yang telah membuatnya marah beberapa menit yang lalu itu.

Sehun menangkup pipi Surin dengan kedua tangannya sehingga kini kepala Surin bersandar pada sandaran sofa tersebut dan berhadapan langsung dengan wajah Sehun. “Buka matamu, dasar gadis bodoh.” Sehun tersenyum disela-sela ucapannya. Tidak lama Surin membuka matanya secara perlahan. Ia hampir saja menghantam wajah Sehun yang kini berada tepat di hadapan wajahnya karena terkejut setengah mati. Kini Surin tidak bisa berkutik ketika matanya menatap lekat bibir berwarna pink yang ada di hadapannya itu. Jantungnya bahkan mengalunkan dentuman yang sangat keras dan otaknya tidak dapat lagi berpikir seperti biasa. Ia merasakan sesuatu meremas perutnya ketika kedua bola mata favoritnya itu menatap lembut matanya, seakan mengunci kedua bola matanya untuk tidak lari dari manik mata berwarna cokelat gelap nan tegas itu.

Sehun memberanikan dirinya untuk membungkukan dirinya lebih dalam sehingga kini ujung hidungnya dengan ujung hidung Surin bersentuhan. Dapat ia rasakan rambutnya turun perlahan menyentuh permukaan dagu gadis itu.

“Geurae, ayo tonton kartun konyol itu bersama-sama setiap malam. Aku tidak akan protes lagi mulai sekarang.” Sehun berbisik pelan membuat bulu kuduk Surin berdiri. Surin bahkan dapat melihat kurva tipis berbentuk bulan sabit itu dengan jelas membuat bibirnya dengan spontan membentuk lengkungan serupa.

“Aku melakukannya karena aku ingin kita punya waktu berdua, bahkan hanya untuk enam puluh menit dalam satu hari juga tidak apa. Belakangan ini kau selalu sibuk dengan ini dan itu, aku tahu aku sudah egois. Tapi sungguh aku hanya ingin kita—“

“Aku rasa punggungku mulai sakit.” Sehun menangkup pipi Surin dengan kedua tangannya membuat gadis itu terbelak seketika.

“Lalu?”

“Lalu sebaiknya kita akhiri saja basa-basinya.”

“Ya! Oh Sehun sampai kau berani—“ Argumen Surin barusan mendadak terpotong, terhalang oleh bibir Sehun yang tiba-tiba membungkam bibirnya. Surin merasa kesadarannya melenyap selama beberapa detik ketika benda lembut itu mulai bergerak, menyapu pelan permukaan bibirnya. Padahal Surin tahu dengan persis bahwa ini bukanlah yang pertama di antara mereka, tapi tetap saja Surin merasa seperti tak punya kuasa untuk melawan sama sekali selain hanya diam dan merasakan Sehun melumat bibirnya lebih dalam. Surin tahu ini terdengar bodoh, tapi ia memang benar-benar tak tahu bagaimana caranya membalas.

Sehun tidak tahu bagaimana harus melampiaskan rasa bahagianya ketika Surin memberitahu alasan dari sikapnya akhir-akhir ini. Ya, Surin hanya ingin mereka punya waktu berdua dalam sehari meskipun itu hanya sebentar. Sehun bahkan tidak sanggup untuk menahan senyumnya kala gadisnya itu bertutur demikian. Sehun berjanji mulai besok akan selalu tepat waktu sampai di apartment Surin untuk menonton film kartun yang dikenal dengan sebutan Larva itu. Sehun tidak peduli jika ia harus membawa serta tugas-tugasnya ke apartment Surin dan mengerjakannya sembari menonton kartun tersebut. Atau bahkan Sehun akan membeli kaset-kaset series kartun itu, sehingga ia bisa menghabiskan waktu lebih dari sekedar enam puluh menit bersama Surin.

**

“Selamat natal, Oh Sehun!” Surin segera memeluk kekasihnya yang tengah berdiri di sampingnya itu dengan erat. Mereka kini tengah berada di Bugak Skyway dimana dari tempat mereka berdiri sekarang ini mereka dapat melihat keseluruhan kota Seoul yang dipenuhi oleh cahaya terang lampu-lampu yang bersinar indah dari seluruh penjuru kota Seoul. Surin bahkan merasa ia seperti sedang melihat bintang-bintang berwarna-warni yang bertaburan di langit malam. Surin tahu ini adalah tempat favorit Sehun. Setiap laki-laki itu sedang merasa banyak tekanan, ataupun sedang merasa senang sekalipun ia pasti akan mengajak Surin kesini larut malam dan melampiaskan perasaannya itu dengan melihat lampu-lampu indah itu dari atas sini bersama Surin. Dan kini mereka kemari tepat saat malam natal. Dan tentunya terasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Lampu-lampu itu bahkan jauh lebih indah pada malam ini.

“Selamat natal, Jang Surin.” Sehun membalas pelukannya sambil menepuk-nepuk kepala gadis yang masih dengan erat memeluknya itu. Sehun mencium puncak kepala yang dilapisi kain beanie itu dengan penuh kasih sayang membuat gadis yang berada di pelukannya itu tersenyum dengan rona merah di kedua belah pipinya.

“Mana hadiah natalku?” Sehun berujar membuat Surin melepas pelukannya secara perlahan. “Kau tidak akan menolaknya, kan?” Sehun tersenyum sembari memperhatikan Surin yang tengah merogoh tasnya, mengambil kotak berbentuk kubus yang telah di bungkusnya dengan kertas kado bermotif polkadot berwarna kuning merah itu. Surin menyerahkannya pada Sehun, berharap laki-laki yang tengah terlihat antusias itu menyukai hadiahnya.

“Jangan dibuka dulu. Mana punyaku?” Sehun tertawa kecil lalu merogoh kantong dalam mantelnya, mengambil kotak berbentuk hati itu kemudian menyerahkannya pada Surin. Sehun hanya mendengus ketika Surin menertawai kotak hadiahnya. Gadis itu benar-benar tidak tahu kalau Sehun memang sengaja memilihnya sebagai gambaran akan hatinya untuk Surin. Gadis itu benar-benar tidak tahu jika ia sedang berusaha untuk menjadi pria romantis seperti yang selama ini Surin inginkan. Namun sepersekian menit kemudian Sehun tersenyum melihat gadisnya itu kini tengah menatap kotak berbentuk hati itu dengan tatapan lembut di lengkapi pula dengan senyuman manis dari bibir gadis itu membuat Sehun tidak kuasa menahan debaran jantungnya setiap kali melihat kurva berbentuk bulan sabit itu terbentuk di wajah gadisnya.

“Kita buka sama-sama.” Surin mengangguk kemudian membuka kotak berbentuk hati tersebut beriringan dengan terbukanya kotak berbentuk kubus milik Sehun. Mereka berdua saling pandang kemudian tertawa bersama, menertawai kebodohan dan sifat kekanak-kanakan mereka masing-masing.

“Ige mwoya? Larva berwarna merah?” Surin tertawa sambil memperhatikan boneka larva berwarna merah yang kini ada di genggaman tangannya. “Lalu ini apa? Larva berwarna kuning?” Sehun menunjukan boneka larva berwarna kuning itu ke arah Surin membuat mereka langsung larut dalam tawa yang tidak kunjung berhenti.

Tawa mereka lama-kelamaan terhenti berganti dengan saling bertatapan tanpa ada yang bicara satu kata apapun. Mereka hanya tersenyum sambil terus menatap wajah satu sama lain.

“Aku membelikanmu larva merah itu karena kau mirip sekali dengannya, Surin-a. Selain karena kau sangat menyukai warna merah, kau juga pemarah serta berukuran kecil dan pendek. Benar-benar mirip dengan larva merah itu.”

Senyum Surin semakin lebar. Ia tahu tanpa sengaja Sehun telah meledeknya, namun entah mengapa ia malah suka kata-kata yang baru saja keluar dari mulut kekasihnya itu. Sangat suka hingga kini bibirnya terus mempertahankan lengkungan tipis yang seakan tidak mau pudar itu.

“Aku membelikanmu larva kuning itu karena kau juga mirip sekali dengannya. Lihatlah tinggi badannya yang lebih tinggi dari si larva merah. Juga jangan lupakan sikap bodoh dan wajah datarnya yang benar-benar membuatku ingin mati terpingkal-pingkal karena setiap melihat karakter itu dari si larva kuning aku benar-benar akan mengingat sosokmu, Oh Sehun.”

Tawa kembali menggelegar namun keduanya terlihat tidak peduli dengan kebisingan yang mereka buat itu karena memang tidak ada orang lain selain mereka berdua di tempat ini. “Terima kasih. Ini hadiah natal terindah yang pernah aku terima.” Sehun berujar disela-sela tawanya.

“Kalau dipikir-pikir kita memang mirip larva itu ya.” Surin memukul lengan Sehun dengan boneka larva merahnya, tidak setuju dengan perkataan Sehun barusan.

“Walaupun keduanya sering bertengkar hanya karena masalah kecil mereka tidak bisa terpisahkan satu sama lain. Mereka tetap saling membutuhkan. Mereka tetap saling mengisi. Jika tidak ada si larva merah, larva kuning pasti akan kesepian karena tidak ada lagi yang mengerti dirinya dengan baik seperti si larva merah. Begitu sebaliknya.” Sehun bertutur, menatap lurus manik milik gadisnya yang kini juga tengah menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca.

“Mereka saling membutuhkan untuk itu mereka harus bersama-sama sampai mereka mencapai suatu tahap yang mereka tunggu-tunggu yaitu menjadi sepasang kupu-kupu yang indah.” Sehun meraih tangan Surin kemudian menggenggam jemari-jemari itu dengan erat tanpa memutuskan tatapan matanya dari kedua bola mata berwarna hitam pekat itu.

“Maukah kau bersama-sama denganku sampai kita mencapai tahap yang indah itu, Jang Surin?”

Surin merasakan satu tetes air matanya jatuh begitu saja. Bukan air mata kesedihan melainkan air mata bahagia dan terharu. Semua kata-kata yang diucapkan Sehun barusan bahkan tidak pernah sekalipun terlintas di mimpi indah Surin. Maka jika ini hanya sekedar mimpi indah Surin tidak akan pernah menyesalinya.

Surin mengangguk menjawab pertanyaan penuh makna yang di lontarkan Sehun barusan. Sehun menghapus air mata Surin dengan ibu jarinya. Ia memperkecil jaraknya dengan Surin kemudian menangkup kedua pipi gadis itu. Sehun menempelkan bibirnya pada bibir mungil gadis itu.

Seketika Surin merasa sangat bersyukur karena kartun itu sudah hadir dalam kehidupannya.

-FIN

Bk7KGwnCEAArEya

i see no differences.

Advertisements

One comment

  1. southpole · July 10, 2016

    YAAAAA gimana bisa dari yg tadinya ngambek2an trus fluff ampe bikin perut berasa isinya penuh kupu2 cantik terbang?!
    Aaaaaakk suka bgt suka bgt, ide ceritanya sederhana sekali tapi sukses bikin aku kepengen punya pacar skg juga hahahhahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s