After A Long Time

aalt

10.090 words! Semoga tidak membosankan ya. Happy reading!

Seorang gadis menyeret koper besar berwarna merah mudanya sambil mencari-cari papan nama bertuliskan namanya. Ia menggerutu kesal karena setelah satu jam mencari kesana-kemari, ia tak kunjung menemukan papan nama seperti yang sudah di beritahukan oleh kedua orangtuanya melalui sambungan telepon beberapa jam yang lalu.

Bandara Internasional Incheon Korea Selatan itu di dominasi oleh turis yang sepertinya akan menghabiskan liburan Natal mereka di negara yang sedang naik daun itu. Ya, siapa yang tidak mengenal Korea Selatan, negara penuh romantisme seperti yang ada pada setiap drama-dramanya.

Berbeda dengan turis lainnya, gadis yang kini mengenakan kemeja putih dengan skinny jeans hitam berbalutkan mantel abu-abu tua dengan syal merah tebal itu menginjakan kakinya ke Korea bukan untuk berlibur melainkan karena sebuah paksaan yang kini berhasil membuatnya kesal hanya dengan mengingatnya.

Ia merogoh tas tangannya, mengambil ponsel yang tengah bergetar di dalam sana dengan kesal. Setelah mendapatkannya ia segera menyambungkan panggilan pada nomor yang baru saja di kirimkan oleh ibunya lewat dari pesan singkat tersebut.

“Yeoboseyo? Ini aku, Surin. Anda ada di sebelah mana?” Gadis itu berusaha menggunakan bahasa korea yang telah lama tidak ia gunakan dalam kehidupan sehari-harinya sejak kepindahannya tiga belas tahun yang lalu dari negara tersebut.

Gadis yang diketahui bernama Surin itu mengutuk orang yang baru saja berada di sambungan teleponnya setelah orang itu malah memutus sambungannya begitu saja dan menyuruh Surin untuk ke parkiran tempat mobilnya berada.

“Dia itu supir?! Supir macam apasih dia?! Bagaimana bisa Mama mempercayakan putri kesayangannya pada orang sekasar itu?! Menyebalkan!” Gerutu Surin namun tetap berjalan ke arah mobil yang dimaksud sambil menyeret koper besarnya dengan tergesa-gesa.

Jang Surin adalah nama lengkap gadis yang kini masih sibuk mencari-cari mobil yang akan mengantarnya ke Seoul, tepatnya ke rumah teman lama kedua orangtuanya. Yang Surin tahu teman kedua orangtuanya itu adalah tetangga mereka saat mereka masih tinggal di Seoul.

Ya, ayahnya adalah seorang kewarganegaraan asli Korea Selatan sedangkan ibunya adalah kewarganegaraan Indonesia, mereka tadinya bertempat tinggal di Seoul namun karena perusahaan ayahnya di Indonesia mengalami krisis, mereka pindah ke Indonesia untuk mengurus perusahaan tersebut dan tinggal di Indonesia sampai sekarang ini.

Surin yang pada saat itu masih berumur dua belas tahun akhirnya harus turut pindah dan melanjutkan sekolahnya di Indonesia.

Tetapi gadis itu tidak menyesal dengan kepindahannya. Karena selama bersekolah dan tinggal di Korea yang ia ingat hanyalah berbagai kejadian buruk yang membuatnya trauma untuk bersekolah. Kejadian yang membuatnya menjadi gadis anti-sosial sampai sekarang ini. Bullying. Itu sebabnya ia tidak begitu menyukai negara kelahirannya tersebut.

Dan kini, ia benar-benar kesal karena kedua orangtuanya malah mengirimnya kembali ke negara itu karena perjodohan konyol yang dibuat oleh kedua orangtuanya dengan teman lama mereka tersebut.

Perjodohan yang mereka sebut-sebut sebagai ‘Perjodohan anak ke-3’. Surin adalah anak ke-3 dari keluarga Jang. Dan ia sudah dapat menebak bahwa laki-laki yang akan di jodohkan dengannya juga merupakan anak ketiga di keluarganya. Untuk kali ini Surin merasa nasibnya kurang baik.

Surin di haruskan untuk melakukan ‘masa pendekatan’ dengan anak dari teman lama orangtuanya tersebut selama tiga bulan, dan kedua orangtuanya sudah sepakat untuk menitipkan Surin di rumah teman lama mereka itu agar ‘masa pendekatan’ mereka dapat berjalan dengan semakin baik.

Ya. Surin di jodohkan. Cerita yang pasaran, bukan?

Surin di jodohkan pada umurnya yang baru menginjak dua puluh lima tahun. Pada umur yang seharusnya menjadi masa keemasan dalam menjalani dunia karirnya.

Ia bahkan terpaksa harus berhenti bekerja di salah satu perusahaan yang sedari dulu sudah menjadi impiannya. Ya, ia harus mengorbankan pekerjaan menulisnya di salah satu perusahaan surat kabar terbesar di Indonesia. Semua semata-mata hanya karena kemauan ayah dan ibunya yang bahkan tidak dapat Surin tolak.

Seperti apapun ia menolak, kedua orangtuanya tidak akan membiarkan hal itu terjadi dan Surin sudah mengetahuinya dari awal. Kedua kakak laki-laki dan satu adik perempuannya juga sangat mendukung rencana ini. Surin tidak bisa apa-apa kecuali menjalaninya meskipun dengan setengah hati.

Surin tidak akan menerima perjodohan itu jika saja tidak ada beberapa alasan yang membuatnya dengan pasrah menerima perjodohan tersebut begitu saja. Satu hal di antara beberapa alasan tadi adalah tentang cintanya. Cintanya yang membuat ia tidak menyesali keberadaannya di negara kelahirannya sekarang ini.

Cinta pertamanya. Surin memang tidak mengetahui apapun tentang orang itu. Yang ia tahu, laki-laki itu adalah orang pertama yang dapat membuatnya merasa bahwa negara kelahirannya itu tidak seburuk yang ia pikirkan.

Laki-laki itu adalah orang pertama yang dapat membuat Surin merasa aman tanpa harus takut dengan orang-orang yang sering mengganggunya. Laki-laki itu adalah orang pertama yang dapat membuat Surin mengenal sebuah kata yang bahkan sebelumnya tidak pernah sekalipun terlintas di pikirannya. Cinta.

Ia benar-benar tidak tahu dimana sekarang orang itu berada, seperti apa parasnya, bahkan namanya saja ia tidak tahu. Surin kecil hanya menyebutnya dengan sebutan ‘hero’ dan ia merasa sudah cukup dengan itu.

Surin yakin ia bisa bertemu kembali dengannya. Ia sendiri bertekad untuk mencarinya, mencari cinta pertamanya itu. Meskipun ia sendiri sudah mengetahui akhir ceritanya.

“Ya! Neo! Gadis bersyal merah!” Panggil seseorang membuat Surin tersadar dari lamunan panjangnya. Ia menatap seorang laki-laki yang kini tengah berjalan mendekat ke arahnya.

Laki-laki itu mengenakan mantel hitam dengan syal merah tebal yang melilit lehernya. Surin memegang syal merah yang ia kenakan kemudian menatap takut laki-laki yang sekarang sudah tepat berada di hadapannya itu.

“Ka-kau siapa?! Stalker?! Woah benar saja, tanpa harus di tanya lagi aku sudah dapat mengetahuinya. Syal itu bonus peluncuran pertama novel seri musim dinginku kan?! Kau mengikutiku dari Indonesia?!” Surin memegang syalnya kemudian melirik syal laki-laki berperawakan tinggi itu masih dengan ekspresi takut membuat laki-laki itu tertawa meledek.

“Jangan banyak berkhayal. Memangnya yang punya syal seperti ini hanya kau?” Surin berdeham sementara laki-laki itu hanya menampilkan raut wajah meledek.

“Kau Jang Surin?!” Surin menatap laki-laki itu takut. “Tuh kan, kau bahkan tahu namaku! Dasar stalker!” Sehun mendengus, kesal dengan gadis pendek yang berada di hadapannya kini.

“Memangnya siapa lagi orang yang ada di parkiran bandara ini sambil celingak-celinguk bodoh mencari mobil penjemputnya?!” Surin berdeham, merasa sedikit bersalah telah menuduh laki-laki penjemput itu sebagai stalker.

“Aku ditugaskan untuk menjemputmu. Kalau saja ibuku tidak mengancam untuk menjual kamera kesayanganku, aku tidak akan mau repot-repot menjemput gadis penuh imajinasi sepertimu. Sudahlah, kajja.” Surin baru saja akan memakinya namun laki-laki itu dengan cepat menarik lengannya, membawanya menuju ke mobil sedan berwarna hitam yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

Surin duduk di sebelah laki-laki itu sambil menggerutu. Mobil mulai melaju meninggalkan bandara itu. Surin merogoh tasnya, mengambil sebuah foto yang ibunya selipkan di buku catatannya sebelum Surin berangkat ke Korea.

Surin menatap foto itu lama kemudian membaca tulisan di belakangnya.

“Oh Sehun. Putra ketiga dari keluarga Oh. Semoga masa pendekatan selama tiga bulan-mu sukses, Jang Surin! ^^ -Mama-”

Surin segera menatap laki-laki yang kini tengah serius menyetir itu kemudian ia mengalihkan pandangannya pada foto yang kini masih ada di genggamannya. Surin menutup mulutnya, tidak percaya pada penglihatannya sendiri.

“Hah?! Jadi elo yang mau di jodohin sama gue? Cowok rese kayak elo?! Males banget.” Surin berujar dalam bahasa sehari-harinya di Indonesia membuat laki-laki itu menatap Surin dengan tatapan tidak mengerti.

“Kau sebenarnya dari Indonesia apa dari planet lain sih? Berhenti berbicara dengan bahasa planet!” Laki-laki itu melirik foto yang ada di genggaman Surin kemudian berdeham.

“Ah, jadi kau juga mendapatkannya.” Surin memandang laki-laki itu membuat laki-laki itu berdeham kembali. “Aku juga terkejut setelah di berikan foto ini oleh ibuku.” Laki-laki itu mengambil sebuah foto dari saku celana panjangnya kemudian menyerahkannya pada Surin.

“Dan semakin tekejut ketika mengetahui kalau aku akan di jodohkan dengan gadis yang ada di dalam foto itu. Tsk, seperti cerita-cerita kuno saja.” Surin menghela napas pasrah sementara laki-laki itu masih menyetir dengan serius.

“Maafkan kedua orangtuaku. Karena mereka, kau harus terlibat dalam perjodohan konyol ini.” Surin berujar pelan sembari memperhatikan jalanan yang jauh berbeda dengan jalanan Indonesia, yang selalu ramai oleh berbagai macam kendaraan.

“Berarti aku harus meminta maaf juga karena kedua orangtuaku berpikiran sama dengan kedua orangtuamu.” Surin hanya tersenyum samar mendengarnya.

Tidak ia sangka kehidupan percintaannya akan seperti ini. Seperti cerita-cerita pendek yang selama ini ia karang. Bahkan cerita-cerita seperti perjodohan itu hanya di simpannya di dalam filenya tanpa di publikasikan karena ia sendiri tahu bahwa cerita seperti itu adalah cerita-cerita pasaran.

Dan kini dirinya terjebak dalam cerita pasaran itu.

Laki-laki berambut cokelat pekat itu memperhatikan Surin yang berubah murung. Ia berdeham seraya membetulkan posisi duduknya.

“Jangan berpikir aku tidak menolaknya. Aku menolaknya mentah-mentah apalagi setelah melihat fotomu. Neo nae style aniya.” Surin memukul lengan laki-laki itu keras membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.

“Memangnya siapa yang berharap kau akan menerimanya? Heol, dasar laki-laki penuh imajinasi!” Surin mencibir tanpa memandang laki-laki yang masih mengaduh kesakitan di sampingnya.

“Ya! Penuh imajinasi? Aku yang harusnya mengatakan itu padamu. Lagipula aku kan tidak mengatakan bahwa kau berharap. Woah daebak, jangan-jangan kau memang sudah berharap seperti itu? Lihatlah, belum apa-apa saja kau sudah jatuh hati duluan seperti ini. Pesonaku memang tidak di ragukan.” Surin mendengus kesal, tidak percaya bahwa laki-laki menyebalkan itu akan menjadi calon pendamping hidupnya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan kedua orangtuanya yang malah sangat menyukai laki-laki menyebalkan itu.

“Kita lihat saja siapa yang akan jatuh hati duluan nantinya. Jangan menyesal dengan ucapanmu.” Ancam Surin membuat laki-laki itu tertawa kecil.

“Siapa juga yang akan jatuh hati pada gadis pendek dan tukang gerutu sepertimu. Kau sedang tidak menulis novel maka hilangkan saja imajinasimu itu.” Surin melirik ganas laki-laki yang sedang asik tertawa-tawa sambil menyetir itu. Laki-laki itu benar-benar membuatnya gemas.

“Ternyata drama-drama romantis korea itu benar-benar hanya fiktif ya. Aku pikir tadinya aku akan di jemput oleh seorang yang tampan seperti aktor-aktor di drama itu. Aku pikir tadinya aku akan di jemput oleh seorang laki-laki manis yang bersedia membawakan koperku dan mengantarku ke mobilnya. Ternyata yang muncul malah sosok menyebalkan sepertimu!” Surin membuang pandang ke arah jendela sementara laki-laki itu hanya tertawa pelan.

“Maaf tapi aku ini laki-laki pemilih. Jika saja yang datang model cantik seperti Miranda Kerr bukan gadis pendek dan tukang gerutu sepertimu maka mungkin saja drama-drama itu akan menjadi kenyataan.” Surin kembali memukul lengan laki-laki bernama lengkap Oh Sehun itu dengan gemas.

“Sepertinya hari-hariku selama tiga bulan ke depan ini akan semakin berat ya, Tuan Oh.” Surin memberi penekanan pada setiap kata yang baru saja diucapkannya.

“Sepertinya kau sedang memancingku untuk membalasmu dengan sebutan ‘Calon-Nyonya-Oh’ ya, Nona Jang.” Surin menghela napas kesal sementara laki-laki berkulit putih susu itu terbahak sehingga kini matanya membentuk lengkungan seperti bulan sabit.

Baru beberapa jam, tapi ia hampir saja membeli tiket pesawat via online untuk kembali ke Indonesia.

**

“Annyeong haseyo Ahjussi, Ahjumma. Senang bisa bertemu dengan kalian kembali!” Surin membungkuk sopan membuat Tuan dan Nyonya Oh tersenyum senang. Tamu yang telah ditunggu-tunggunya akhirnya datang juga. Siapa lagi kalau bukan anak dari teman lamanya, yang tidak lain tidak bukan adalah Surin.

“Omo, Surin-a. Sekarang kau sudah besar sekali ya. Wajahmu juga semakin mirip dengan wajah ibumu, cantik!” Nyonya Oh menghidangkan secangkir teh manis hangat dan beberapa kue kering, sementara Surin hanya tersenyum.

“Kamsahabnida Ahjumma. Ah ya, ini ada titipan dari ayah dan ibu.” Surin menyerahkan dua kantong plastik besar berisikan baju batik khas Indonesia, Tuan dan Nyonya Oh terkagum-kagum dibuatnya.

“Aigoo, sedari dulu aku sangat menginginkan baju khas Indonesia ini karena sering melihat ibumu mengenakannya. Terima kasih banyak karena sudah membawakannya, Surin-a!” Nyonya Oh tampak sangat antusias sementara Tuan Oh hanya tersenyum.

“Oh ya? Woah. Pantas saja Mama mengikuti kursus cepat untuk bisa membuat baju ini. Ia memberitahuku bahwa ia ingin memberi kalian sesuatu dengan hasil tangannya sendiri.” Surin menjelaskan panjang lebar dengan senyuman yang tidak luntur dari wajahnya. Ia tahu bahwa Nyonya dan Tuan Oh sudah banyak membantu keluarganya sejak dulu, dan kini Surin rasa ia harus membalasnya dengan membuat mereka senang seperti sekarang ini.

“Ah ya, mereka juga berkali-kali mengingatkanku untuk menyampaikan salam rindu untuk kalian. Rencananya mereka akan kemari Natal nanti untuk berlibur.” Tuan dan Nyonya Oh semakin senang membuat Surin tertawa kecil setelah melihat ekspresi mereka berdua.

“Jinjjaro?! Sudah lama sekali kami tidak bertemu mereka. Kita harus atur liburan Natal itu dari sekarang. Bagaimana dengan keluar kota? Aigoo, pasti sangat menyenangkan!” Nyonya Oh menangkupkan kedua tangannya, membayangkan beberapa perencanaan liburan yang pastinya akan menyenangkan.

Tuan Oh juga tidak kalah antusias, membuat suasana ruang tamu itu menjadi sangat hangat dengan pembicaraan mengenai rencana-rencana liburan Natal. Sesekali mereka tertawa bersamaan. Sementara seorang laki-laki bernama Sehun, yang kini tengah memperhatikan ketiga orang itu dari dapur hanya tersenyum samar mendengar pembicaraan mereka.

“Aku benar-benar tidak sabar untuk bertemu orangtuamu Surin-a. Ah ya, dan juga semoga Natal nanti kau dan Sehun bisa sesegera mungkin melangsungkan pertunangan kalian. Natal hanya tersisa satu minggu lagi bukan?” Sehun yang tengah menegak air mineral di dapur yang tidak begitu jauh dari ruang tamu tersebut, tersedak sampai terbatuk begitu mendengar ucapan ayahnya.

“Sehun-a, neo waegurae?” Ibunya memperhatikan anak laki-lakinya yang tengah sibuk meredakan batuknya itu dengan cemas. Sehun hanya melambaikan tangannya, memberi tanda bahwa ia tidak apa-apa.

“Yeobo, lebih baik kita bicarakan itu nanti saja. Sekarang ini biarkan Surin melakukan misinya dulu.” Ujar Nyonya Oh sambil tersenyum jahil membuat Surin hanya bisa tersenyum pasrah.

“Ahjummeoni bisa saja.” Surin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia hanya berusaha untuk menjaga sikapnya di depan teman baik kedua orangtuanya itu. “Mulai sekarang panggil aku Eommeonim saja Surin-a.” Nyonya Oh menepuk pundak Surin sambil tersenyum.

“Kalau begitu kau harus panggil aku Abeonim, arrachi?” Surin hanya tersenyum sambil mengangguk membuat Tuan dan Nyonya Oh tertawa bersamaan.

“Aigoo, sedari dulu aku ingin sekali mempunyai anak perempuan.” Nyonya Oh mengelus rambut Surin perlahan.

“Tenang saja Eommeonim, selama aku disini, aku berjanji akan selalu membantu dan menemanimu kapanpun!” Surin berseru dengan semangat membuat kedua orangtua paruh baya itu kembali larut dalam tawa mereka.

“Ah ya, kau pasti lelah. Beristirahatlah saja terlebih dahulu. Ayo aku tunjukan kamarmu selama kau menginap disini. Disini hanya ada empat kamar.” Surin mengangguk sementara Nyonya Oh menjelaskan.

“Kamar pertama di samping sana, itu kamar kami. Kamar kedua, ketiga dan keempat terletak di atas. Kamar kedua milik kakak pertama Sehun, Oh Sejoon. Kamar ketiga milik kakak kedua Sehun, Oh Seunghoon. Dan yang terakhir milik laki-laki yang kini tengah memandangimu dari dapur itu.” Sehun segera membuang pandang dan berpura-pura sibuk pada gelasnya ketika ketiga orang itu mulai memperhatikannya.

“Sejoon dan Seunghoon kini tengah mengurus perusahaan kami yang ada di Amerika dan kemungkinan liburan ini mereka tidak pulang karena banyaknya pekerjaan yang harus di tangani. Kecuali kalau kalian berdua akan bertunangan dan menikah dalam waktu dekat ini!” Nyonya Oh dan Tuan Oh tertawa sementara Surin dan Sehun hanya berpandangan kemudian mengalihkan pandangan mereka ke arah lain.

“Surin-a, kamar Sejoon dan Seunghoon itu jarang sekali berpenghuni. Dan kalau dari pengalaman kami selama tinggal disini bertahun-tahun lamanya, lantai atas itu memang terkadang menimbulkan hawa-hawa aneh. Sangat tidak cocok untuk tamu sepertimu.” Surin mendengarkan dengan seksama. Gadis itu dapat merasakan bulu kuduknya mulai berdiri.

“Eommonim, Abeonim, maaf bukannya aku menolak untuk menginap disini, tapi aku paling tidak bisa tahan dengan hal-hal semacam itu. Eung, apa aku tinggal di rumah keluarga pamanku saja ya? Ah ya, mereka sedang berada di luar negeri. Eottokhaji?!” Nyonya dan Tuan Oh segera melarangnya membuat Surin keheranan.

“Kau tidak perlu takut Surin-a. Kami sudah merencanakan sesuatu untukmu agar kau tetap ada yang menjaga dan menemani. Ayo kita ke atas.” Sehun yang mempunyai perasaan tidak enak segera melirik ibunya, berharap ibunya tidak melakukan hal yang aneh-aneh.

“Sehun-a, sedang apasih kau di dapur terus seperti itu?! Sini bantu Surin membawa kopernya ke atas!” perintah Nyonya Oh sementara Sehun masih menatapnya penuh selidik.

Sehun masih bergeming di tempatnya membuat Nyonya Oh menatapnya garang. “Arra arra.” Ujar Sehun akhirnya dengan malas. Ia mulai membawa koper besar itu, membuntuti ibunya dan Surin dengan susah payah.

Sehun menghentikan langkahnya ketika kedua orang yang berada di depannya kini tengah berdiri tepat di depan pintu kamarnya. “Eomma, jangan bilang—“ Nyonya Oh segera membuka kamar tersebut sebelum Sehun menyelesaikan kalimatnya. Sehun terkejut setengah mati melihat kondisi kamarnya sekarang ini.

“I—ige jinjja mwoya?!” Sehun membanting koper yang tengah di pegangnya itu ke sembarang arah lalu masuk ke dalam kamarnya dengan panik.

“Apa-apaan ini?! Aku baru meninggalkan kamarku beberapa jam yang lalu dan sekarang sudah seperti ini?! Dimana ranjangku? Mengapa jadi ranjang tingkat begini?!” Sehun berujar frustasi sementara Nyonya Oh mengerling jahil.

“Sehun-a, mulai sekarang kau akan sekamar dengan Surin.” Surin dan Sehun berpandangan kemudian berseru bersamaan. “APA?!”

“Aish, iya. Kalian kan hanya satu kamar bukan satu ranjang. Surin-a, kamar mandi di sebelah sana ya.” Nyonya Oh menunjuk pintu hijau muda yang berada di sudut kamar. “Aku akan tidur di kamar Sejoon hyung.” Sehun baru saja akan melangkahkan kakinya keluar, namun Ibunya mencubit lengannya membuat Sehun berseru kesakitan.

“Kamar Sejoon dan Seunghoon sudah Eomma kunci. Kau harus disini bersama Surin. Tidak ada penolakan atau kamera itu akan aku jual di pasar barang bekas.” Sehun bergidik ngeri mendengar ancaman ibunya, sementara Surin masih tercengang.

“Surin-a, selamat beristirahat!” Nyonya Oh menutup pintu kamar berwarna cokelat tua itu dengan jahil, menyisahkan Surin dan Sehun yang kini saling berpandangan satu sama lain.

“Kau! Jangan berani macam-macam ya, awas saja!” Surin menatap Sehun garang sementara Sehun hanya menatapnya dengan tatapan meledek.

“Macam-macam?! Kau mulai berimajinasi lagi?! Bahkan tubuhmu itu tidak ada lekuknya sama sekali!” Surin segera memukul lengan Sehun berkali-kali membuat laki-laki itu sibuk mengaduh kesakitan.

“Ya! Ya! Hentikan! Ya!” Sehun menarik lengan Surin kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Surin membuat gadis itu beku seketika. Mata mereka beradu selama satu menit. Surin bahkan dapat merasakan hembusan napas Sehun menerpa wajahnya.

Sehun tersenyum penuh kemenangan melihat Surin yang kini menutup kedua matanya, ketakutan. Sehun menyentil dahi Surin membuat gadis itu spontan mengaduh kesakitan sembari mengelus dahinya perlahan. “Dasar mesum!” Seru Surin. Sehun melipat kedua tangannya di dada lalu tertawa kecil melihat Surin yang kini masih kesakitan.

“Bilang saja kau menyesal karena satu adegan terpenting dalam drama-drama romantis korea itu tidak terjadi.” Surin mendengus kesal lalu berkacak pinggang.

“Kempeskan saja dulu jerawat kecil di hidungmu itu. Setelah itu, barulah kau boleh bergaya seperti aktor-aktor tampan di drama-drama itu.” Surin berjinjit kemudian menyentil dahi Sehun keras membuat laki-laki itu segera berseru kesakitan. Surin tertawa terbahak kemudian berlari keluar kamar menuju ke ruang makan karena Nyonya Oh sudah memanggil mereka untuk makan malam bersama. “1-1, Oh Sehun!”

Keluarga itu mulai menikmati makan malam bersamanya. Sesekali mereka tertawa dengan pembicaraan-pembicaraan hangat mereka.

“Ah, jadi kau bekerja di salah satu perusahaan surat kabar terbesar di Indonesia sambil menulis novel pula? Woah, daebak.” Tuan Oh mengacungkan jempolnya sementara Surin hanya tersenyum sambil mengangguk. “Kamsahabnida, Abeonim.”

“Pekerjaan itu merupakan mimpi bagiku. Tapi mau bagaimana lagi. Aku akan melanjutkan novel-novelku saja.” Surin menatap makanannya dengan tidak napsu membuat suasana menjadi sedikit membeku.

“Ah maaf, aku jadi terbawa suasana. Kalian tidak perlu khawatir seperti itu. Siapa tahu dengan liburanku disini aku bisa mendapatkan inspirasi untuk novel selanjutnya. Siapa tahu aku akan menerbitkan novel romantis berlatarkan Korea, iya kan?” Tuan dan Nyonya Oh hanya mengangguk sementara Sehun berpura-pura tidak tertarik pada percakapan tersebut.

“Novel romantis berlatarkan Korea? Wah, kurasa sebentar lagi namaku akan menjadi nama dari pemeran utama laki-laki dalam novel itu.” Surin hanya melirik arah sumber suara itu tanpa minat sementara yang lain larut dalam tawa.

“Hilangkan sifat narsisme-mu itu.” Ujar Surin sarkastik yang hanya diikuti tawa yang menggema keseluruh penjuru ruang makan tersebut.

“Ah iya aku baru teringat sesuatu. Sehun-a, kau bekerja di salah satu kantor majalah, kan?” Sehun mengangguk ragu, takut-takut ibunya itu mencetuskan ide yang aneh-aneh lagi.

“Nah, kalau begitu mengapa kau tidak mengajak Surin untuk bekerja di kantormu saja? Dengan begitu kalian akan cocok satu sama lain, bukan? Kau bagian dokumentasi dan Surin bagian membuat artikelnya. Wah, benar-benar suatu kebetulan yang tidak di duga-duga.” Sehun menatap ibunya itu dengan enggan.

“Shiro. Tidak akan pernah mau.” Ujar Sehun pendek membuat kedua orangtuanya menghela napas bersamaan.

“Aish, anak ini. Surin-a, maafkan sifat Sehun ya. Dia memang selalu seperti itu. Selalu semaunya sendiri.” Nyonya Oh menggeleng-gelengkan kepalanya sementara Surin mengangguk berusaha memahami anak ketiga yang merupakan anak terakhir dari keluarga tersebut.

Kata banyak orang, anak terakhir memang paling manja dan kebanyakan pasti akan bersih kukuh untuk mempertahankan apa yang telah di pilihnya tanpa memikirkan yang lain-lain. Pada akhirnya, orangtua hanya akan menyetujui apapun keputusannya. Sekarang Surin benar-benar percaya akan mitos ‘anak terakhir’ itu setelah melihat laki-laki yang kini tengah berada di hadapannya.

“Seharusnya ia membantu kedua hyungnya untuk meneruskan perusahaan ayahnya, tapi dia malah memilih bekerja sebagai fotografer di salah satu kantor majalah. Benar-benar keras kepala, bukan?” Surin mengangguk menyetujui membuat Sehun hanya berdeham.

“Tidak apa, Eommonim. Lagipula aku kesini kan untuk berlibur bukan untuk bekerja. Tapi, aku rasa kalau aku hanya dirumah saja selama tiga bulan ke depan, aku pasti akan sangat bosan. Maka aku punya satu permintaan.” Ketiga orang yang lain segera menatap Surin dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Permintaan apa?” Surin menangkupkan kedua tangannya, tampak antusias. “Ijinkan aku untuk menjadi asisten sang fotografer abal itu ya?!” Tuan dan Nyonya Oh segera larut dalam tawa mereka sementara Sehun menatap Surin dengan geram. “Fotografer abal?!” Surin tersenyum meledek melihat Sehun yang kini tengah berapi-api.

“Tidak usah di bayar. Biasanya fotografer majalah itu sering pergi-pergi ke tempat yang menarik. Pasti menyenangkan! Boleh, kan?” Tuan dan Nyonya Oh segera menyetujui ide tersebut membuat Sehun hanya menghela napas pasrah.

“Mohon kerjasamanya, Oh sunbae!” Surin menundukan kepalanya kemudian tersenyum senang ke arah Sehun yang kini hanya mendengus kesal.

“2-1.” Surin berbisik pelan ke arah Sehun lalu tertawa membuat laki-laki itu ingin sekali menyiramnya dengan segelas air putih yang kini ada di genggamannya.

“Habis kau Oh Sehun!” Batin Surin sambil terus tertawa.

**

“Ya! Jang Surin ppali! Aku juga mau sikat gigi!” Sehun berseru dari depan pintu kamar mandi kamarnya, namun tidak ada jawaban di dalam sana. Sehun memutar kenop pintu kamar mandi itu dengan tidak sabar. Ia terkejut ketika mengetahui bahwa pintu itu tidak terkunci.

Sehun memasuki kamar mandi itu membuat Surin yang tengah menyikat gigi di depan kaca kamar mandi itu berteriak keras. “Ya! Neo mwoya! Micheosseo?!”

Surin memukul lengan Sehun sementara Sehun tidak menggubrisnya dan malah mengambil sikat gigi yang terletak di dekat washtafel tersebut kemudian mulai menyikat giginya setelah memberi sikat gigi berwarna biru itu sedikit pasta gigi.

“Aish. Menyebalkan! Untung saja aku tidak sedang mandi!” Surin melanjutkan menyikat giginya. Kini mereka saling tatap lewat kaca kamar mandi yang lumayan besar itu.

“Salah sendiri kau tidak mengunci pintunya.” Sehun menoyor pelan kepala Surin membuat gadis itu segera menatapnya garang. “Kau saja yang mesum!” Surin baru akan membalas toyoran kepala Sehun, namun laki-laki itu dengan cepat menahan tangannya kemudian tertawa kecil.

“Dasar gadis pendek. Mau menghajarku saja sampai harus jinjit seperti itu.” Sehun melanjutkan kegiatan menyikat giginya sementara Surin hanya mendengus. “Aish, benar-benar menyebalkan!”

“Sikat saja dulu gigimu itu dengan benar, aegi-ya. Nanti setelah sudah tumbuh tinggi, baru kau boleh menghajarku.” Ucap Sehun kemudian memegang tangan Surin yang tengah memegang sikat gigi berwarna pink itu, kemudian membantu gadis itu menyikat giginya. Surin segera menghindar kemudian memukul dahi Sehun dengan gemas.

Sehun tertawa melihat ekspresi marah Surin. Gadis itu membuka keran air washtafel yang ada di hadapannya dan mencipratkannya ke arah Sehun berkali-kali membuat laki-laki itu panik karena kebasahan.

Surin tertawa penuh kemenangan sementara Sehun masih sibuk melindungi dirinya. “Dasar gadis pendek! Tunggu pembalasanku nanti!”

Setelah aksi perang di kamar mandi, mereka melangkahkan kakinya ke kasur masing-masing. Surin mengambil tempat di atas sementara Sehun di bawah.

Surin baru saja akan menaiki tangga kasur tingkat tersebut, namun sesuatu di sudut kasur Sehun menarik perhatiannya. “Ige mwoya? Larva?” Surin mengambil boneka larva berwarna kuning tersebut lalu memeluknya. “Ya! Letakan! Itu milikku!” Surin yang tidak mau tahu segera membawa kabur boneka tersebut dan segera menaiki tangga menuju ke kasurnya.

“Masa laki-laki tidur dengan boneka. Ini untukku saja.” Sehun hanya menghela napas, tidak mau memperpanjang masalah. “Baiklah ambil saja. Terserahmu.”

Sehun baru saja akan menekan saklar lampu yang berada di dekat pintu kamar tersebut namun jeritan Surin yang baru saja akan menyelimuti tubuhnya sendiri itu membuatnya terkejut.

“Andwae! Lampunya jangan dimatikan. Aku tidak bisa tidur jika lampu itu dimatikan.” Surin terduduk di kasurnya sambil memandang Sehun dengan tatapan memohon. “Aku juga tidak bisa tidur jika lampunya tidak dimatikan!” Ujar Sehun yang kali ini tidak mau mengalah.

“Nyalakan saja, jebal.” Surin menangkupkan kedua tangannya, memohon membuat laki-laki itu menghela napas berat. Sehun kemudian melangkah menjauhi saklar tersebut dan segera membaringkan dirinya pada kasurnya. “Gomawo.” Sehun tidak membalasnya dan malah mencari posisi yang nyaman untuk tidur.

Suasana hening sekitar dua puluh menit. Baru saja Sehun akan terlelap, tiba-tiba suara berisik penghuni kasur yang berada di atasnya itu mengusik dirinya. “Ya! Tidurnya tidak usah banyak gerak seperti itu! Kalau kasur itu rubuh aku bisa tertimpa.” Sehun memarahi Surin yang kini tengah tidak bisa tidur di atas sana.

Surin melongokan kepalanya ke kasur yang ada di bawahnya, melihat Sehun yang tengah berusaha untuk tidur. “Aku tidak bisa tidur.” Surin berujar sembari memeluk boneka larva kuning yang ia rebut dari Sehun sebelum mereka terbaring di kasurnya masing-masing, beberapa menit yang lalu. “Larva ini mirip sekali denganmu.”

“Sehun-a.” Panggil Surin sementara Sehun masih tidak menggubris. “Aku tidak bisa tidur.” Surin menatap Sehun yang kini menutup matanya, alisnya bertaut seakan tidak mau tidurnya di ganggu.

Surin menghela napas kemudian kembali pada posisi tidurnya. “Baiklah, sana tidurlah.” Surin memeluk boneka larva milik Sehun itu sembari menghela napas. Ia menatap langit-langit kamar berwarna biru muda itu, lama.

“Walaupun kau menyebalkan, ternyata kau baik juga ya.” Surin tersenyum samar setelah melihat larva yang kini berada di dekapannya dan cahaya lampu yang masih bersinar terang. “Setidaknya aku jadi tahu kalau kau itu bukan tipe laki-laki yang tidak mau mengalah.” Surin terus berbicara.

“Kau tahu alasan terpenting mengapa aku menerima perjodohan itu dengan mudahnya?” Surin terdiam sesaat. Suasana kamar itu benar-benar sunyi. Surin tersenyum miris.

“Karena ibuku.” Surin merasa bahwa air matanya akan mengalir sebentar lagi. “Ibuku mengidap penyakit kanker.” Surin menatap langit-langit kamar itu dengan tatapan kosong.

“Ia selalu menyuruhku untuk segera menikah. Aku tahu ia takut jika aku terlalu lama mengulur waktu, ia tidak akan sempat melihatku mengenakan baju pengantin.” Surin menghapus air matanya asal kemudian menghela napas pelan.

“Aku pun takut jika hal itu benar-benar terjadi.” Suara Surin semakin pelan. “Aku takut ibuku benar-benar pergi. Aku takut ia tidak ada di hari pernikahanku nanti. Aku takut ia tidak ada di hari kelahiran anak pertamaku nanti. Aku takut itu semua terjadi.”

“Ibuku menaruh harapan besar pada perjodohan ini.” Surin memejamkan kedua matanya. “Aku tidak bisa apa-apa kecuali menerimanya. Aku tidak bisa apa-apa karena melihatnya yang sangat senang, bahkan ketika membicarakan rencana-rencana pernikahan itu. Ia seakan hidup kembali di tengah-tengah sakitnya. Ia seakan tidak pernah mengidap penyakit mematikan itu.”

“Aku merasa payah.” Surin masih berucap pelan. “Aku merasa payah karena aku tidak bisa melakukan apapun untuknya.”

“Aku juga merasa payah karena akhirnya kau harus turut terjebak dalam situasi ini. Mianhae, Sehun-a.” Surin menahan air mata yang akan mengalir kembali itu dengan susah payah. “Mulai sekarang aku tidak mau merasa terpaksa melakukan hal ini. Aku hanya ingin melakukan sesuatu untuknya sebelum aku benar-benar tidak bisa melihatnya lagi.”

Surin tersenyum sendu lalu menghapus air matanya cepat. “Maaf, ku rasa aku sudah benar-benar berlebihan. Kalau begitu, selamat malam Oh Sehun.” Surin memeluk boneka yang ada di dekapannya itu erat dan mulai menutup matanya, berusaha untuk menulusuri alam bawah sadarnya.

Sementara dibawah sana Sehun masih terjaga. Sehun mendengar semuanya. Semua yang diucapkan gadis itu.

Andai Surin juga mengetahui apa alasan yang membuat laki-laki itu mau menerima perjodohan ini dengan mudahnya.

**

“Selamat pagi!” Surin menyapa ketiga orang yang kini sudah duduk rapi menunggunya di meja makan. “Maaf aku lama.” Surin mengambil tempat di depan Sehun, sementara Tuan dan Nyonya Oh hanya tersenyum hangat.

“Kau itu mandi apa bertelur.” Sehun berujar sarkastik membuat Surin hanya meliriknya garang. “Makanlah yang banyak, Surin-a. Kau harus mempunyai banyak energi untuk menemani Sehun bekerja seharian ini!” Nyonya Oh menyodorkan selai cokelat dan roti tawar ke arah Surin membuatnya segera mengangguk bersemangat.

“Hari ini kami akan pergi ke Singapura untuk menghadiri pesta pernikahan rekan kerja kami. Mungkin lusa kami baru akan pulang.” Tuan Oh berujar dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya. “Sehun-a, kau harus jaga Surin baik-baik.” Pesan Tuan Oh yang hanya diikuti anggukan dari Sehun.

“Aku sudah meletakan beberapa resep di meja dapur. Bahan-bahannya dapat kalian beli sendiri di supermarket.” Surin mengangguk sementara Sehun masih asik menikmati sarapannya.

“Sehun-a, kau yang bertanggung jawab di sini. Jaga rumah ini dan Surin dengan baik jangan sampai ada apa-apa. Arrachi?” Nyonya Oh mengingatkan.

Sehun mengambil tas kameranya dan beberapa peralatan kerjanya dengan tergesa. “Geurae, kalian tenang saja. Ah, aku rasa aku sudah terlambat. Hari ini ada sesi pemotretan pagi di sekolah dasar.” Ujar Sehun seraya menghabiskan roti isinya.

“Aku berangkat dulu. Eomma, Appa, berhati-hatilah. Sampai jumpa.” Sehun meninggalkan meja makan setelah membungkuk sopan pada kedua orangtuanya, membuat Surin yang tengah menikmati sarapannya itu kelabakan.

“Ya! Oh Sehun, tunggu! Eommeonim, Abeonim, berhati-hatilah di perjalanan kalian. Aku permisi dulu. Sampai jumpa lusa nanti!” Surin membungkuk sopan kemudian berlari kecil menyusul Sehun yang kini sudah menyalakan mesin mobilnya.

“Cepat masuk gadis pendek! Aku benar-benar sudah terlambat!” Perintah Sehun membuat Surin mendengus namun tetap menuruti laki-laki itu. “Aish, dasar menyebalkan!”

Surin memasang sabuk pengaman dengan antusias sementara Sehun mulai mengendarai mobilnya itu keluar dari halaman rumahnya. “Kau terlihat sangat antusias.” Komentar Sehun sementara Surin hanya membalasnya dengan senyuman manis.

“Tentu saja. Tadi katamu ada sesi pemotretan di sekolah dasar? Benarkah? Kalau begitu kita akan bertemu dengan banyak anak-anak kecil! Pasti menyenangkan!” Seru Surin dengan senyuman yang masih merekah di wajahnya. “Ya, dan sekolah itu adalah sekolah dasarku dulu.” Jawab Sehun membuat Surin semakin antusias.

“Geuraeseo?! Untung saja bukan ke sekolah dasarku.” Surin memperhatikan jalanan Seoul yang ramai itu sementara Sehun hanya meliriknya. “Memangnya kenapa?” Tanya laki-laki itu akhirnya.

“Aku punya pengalaman buruk disana.” Jawab Surin pendek membuat Sehun hanya mengangguk-angguk. “Tapi juga pengalaman manis. Ya, walaupun lebih banyak pengalaman buruknya.” Surin melanjutkan.

“Memangnya kau benar-benar lupa? Atau tidak tahu?” Sehun bertanya membuat Surin segera menatapnya dengan tatapan tidak mengerti. “Lupa? Tidak tahu? Maksudmu?” Tanya Surin pada Sehun. Laki-laki itu hanya berdeham.

“Ah, jadi kau benar-benar tidak tahu. Ya sudah, lupakanlah.” Sehun tersenyum samar membuat Surin semakin tidak mengerti. “Kau aneh sekali.” Komentar Surin kemudian mengalihkan pandangannya dari Sehun.

“Setidaknya aku tidak pendek.” Sehun tertawa pelan sementara Surin hanya mendengus. “Jangan mulai lagi. Cepat beritahu aku!” Perintah Surin membuat laki-laki itu hanya tersenyum jahil.

“Ternyata ingatanmu itu pendek seperti tinggi badanmu ya. Sudahlah lupakan saja. Nanti kau juga tahu setelah kita sampai di sana.” Surin menatap Sehun dengan kesal. “Jangan menatapku seperti itu, nanti kau bisa jatuh hati duluan.” Surin segera memukul lengan Sehun keras.

“Jangan banyak bermimpi!” Serunya pada Sehun yang kini hanya tertawa-tawa.

Hari pertama Surin menjelajahi Seoul setelah tiga belas tahun meninggalkannya. Surin hanya berharap laki-laki yang kini tengah mengendarai mobilnya dengan cepat sambil tertawa-tawa itu tidak merusak hari pertamanya.

**

Surin memandangi gedung sekolah dasar yang tidak asing lagi baginya itu dengan terkejut. “Se-Sehun-a. Me-mengapa kita ada di sekolah ini?”

Sehun membetulkan letak tas kamera yang ia sampirkan pada bahunya sambil tersenyum. “Kau lupa kalau kau dulu pernah satu sekolah denganku? Atau tidak tahu?” Sehun berjalan memasuki gedung sekolah itu membuat Surin menatap punggungnya dengan tatapan tidak percaya.

Sehun mulai memotret lapangan sekolah yang luas itu setelah meminta izin pada kepala sekolah yang sebelumnya memang sudah dari jauh-jauh hari menyetujui pengadaan sesi pemotretan sekolah tua itu untuk di masukan ke dalam rubrik ‘Sekolah-Sekolah Terkenal Dari Dulu Hingga Sekarang’ majalah terkenal tempat Sehun bekerja.

Sehun memotret anak-anak yang kini tengah berolah raga dengan bersemangat. Sesekali ia tersenyum puas melihat hasil potretannya sendiri. Anak-anak perempuan sekolah dasar itu berseru senang ketika Sehun memotret mereka. Mereka bahkan memberi air mineral mereka pada Sehun membuat laki-laki itu hanya tertawa sambil terus melakukan pekerjaannya.

Sementara Surin kini hanya berdiri di sebelah Sehun dengan diam. Ia masih tidak bisa mencerna apa yang baru saja Sehun beritahukan padanya. Ia juga masih tidak bisa menerima keberadaannya di sekolah ini. Sekolah yang begitu banyak memberikan kenangan-kenangan yang tidak menyenangkan bagi dirinya.

“Unnie, Oppa ini adalah pacarmu? Woah, kau sangat beruntung. Oppa ini tampan sekali! Jika sudah besar nanti, aku akan mencari pacar seperti dirinya.” Seorang gadis kecil memegang tangan Surin dengan bersemangat membuat Surin segera tersadar dari lamunannya. Ia hanya tersenyum samar.

Surin berjongkok kemudian merapikan rambut gadis yang kini sejajar dengannya. “Walaupun dia tampan, dia itu sangat menyebalkan. Kau harus berhati-hati.” Sehun yang mendengar ucapan Surin barusan hanya tertawa kecil.

“Kau juga harus berhati-hati padanya. Nanti kau tertular penyakit tidak bisa tinggi dan tidak bisa berhenti menggerutu!” Surin segera menatap Sehun garang sementara anak kecil itu tertawa terbahak. Sehun memotret Surin dan anak kecil itu cepat.

“Ekspresimu ini benar-benar patut di abadikan.” Sehun tertawa melihat hasil jepretannya sementara Surin hanya mendengus. “Oppa, kau jangan jahil seperti itu. Sebagian perempuan itu ingin pacarnya bersikap manis. Jadi, bersikap manislah pada Unnie ini.” Surin tertawa mendengar ucapan gadis yang kini tengah memeluk lehernya itu.

“Kau sudah mengerti hal seperti itu di umur sekecil ini?” Sehun berseru kemudian turut berjongkok hingga kini gadis itu berada di antara Sehun dan Surin.

“Unnie, aku bisa melihat Oppa ini menyukaimu. Biasanya laki-laki yang jahil itu sengaja melakukan hal itu untuk mencari perhatian sang gadis.” Gadis kecil itu berbisik namun Sehun masih bisa mendengarnya dengan jelas. Sehun dan Surin kini tertawa tertahan.

“Kalau aku memang benar-benar menyukainya, aku harus apa untuk membuatnya membalas perasaanku ini?” Tanya Sehun membuat Surin menghentikan tawanya dan kemudian menatap laki-laki itu, lama.

“Kau harus membuatnya selalu tersenyum seperti ini. Maka lama-kelamaan ia pun akan jatuh hati padamu.” Gadis kecil itu menunjukan senyumnya membuat Sehun dan Surin tertawa bersama-sama.

“Sudah dulu ya, aku mau berolah raga lagi. Ku harap kalian dapat segera mengetahui perasaan satu sama lain!” Gadis kecil itu berujar sementara Sehun dan Surin kembali terlarut dalam tawanya.

“Baiklah, tapi sebelumnya ayo kita foto bersama dulu.” Sehun mengeluarkan kamera polaroid dari dalam tas ranselnya. “Ayo bersiap!” Sehun dan Surin membuat V-sign sementara anak itu berada di tengah mereka dengan senyum lebar. “Sekali lagi!” Seru Surin.

Mereka mengitari sekolah itu selama tiga jam. Sehun terus mengambil gambar dengan serius membuat Surin sesekali memberikan air mineralnya pada laki-laki itu, merasa kasihan padanya yang terlihat sudah mulai lelah.

Kini mereka berada di sebuah ruang kelas yang tidak terpakai. Surin masih mengingat dengan jelas seluk beluk kelas tersebut. Ya, kelas itu adalah kelas Surin saat ia kelas lima dasar.

Surin menduduki tempat duduknya dulu yang berada di belakang tepat di sebelah jendela yang menghadap ke taman belakang sekolah. Ia terdiam lama sambil terus memperhatikan taman belakang sekolah itu dari jendela kelas.

Sehun mengambil beberapa gambar di kelas tersebut. Termasuk sosok Surin yang kini tengah melamun. Ia tersenyum singkat melihat hasil potretannya. “Sedang melamunkanku?” Ujar Sehun kemudian terduduk di sebelah Surin. Sehun terus memfokuskan diri pada kameranya. Dapat ia rasakan kini Surin tengah menatapnya, lama.

“Sehun-a.” Panggil Surin membuat laki-laki itu hanya bergumam tanpa memandangnya. “Jadi dari awal kau sudah mengenalku?” Surin bertanya pada Sehun membuat laki-laki itu tersenyum singkat.

“Jang Surin. Gadis yang paling sering di bicarakan. Gadis yang sama sekali tidak memiliki teman. Gadis yang orangtuanya pernah datang ke sekolah karena kasus bullying yang menimpanya. Gadis yang pendiam yang selalu menutup diri dari lingkungan di sekitarnya.” Surin menatap Sehun dengan berkaca-kaca.

Luka itu seakan terbuka kembali. Surin bahkan tidak menyangka Sehun mengetahuinya. Mengetahui cerita-cerita buruk yang ingin di kuburnya. Semua adegan yang ia benci itu seakan terputar dalam memorinya membuatnya tak kuasa menahan tangisnya.

“Dibanding berpikiran sama dengan orang lain, aku malah berpikir bahwa kau gadis yang unik karena kau begitu misterius.” Surin menunduk mendengarkan Sehun dengan seksama.

“Dan sekarang, aku akan menghapus julukan misterius itu. Kau itu ternyata adalah gadis berisik, tukang gerutu, dan suka memukul walaupun pukulanmu itu tidak ada rasanya sama sekali.”

Surin semakin tak kuasa menahan tangisnya. Bukan karena ucapan Sehun barusan yang terkesan meledeknya. Tapi ia hanya terharu sekaligus bersyukur masih ada orang yang tidak berpikiran buruk terhadapnya.

“Tidak apa jika kau ingin menangis. Menangis sajalah sampai kau merasa lega. Setelah itu bukalah pikiranmu. Menangisi masa lalu itu tidak ada gunanya.” Sehun berujar pelan. Ia menepuk-nepuk ragu kepala Surin, berusaha untuk menenangkan gadis yang tengah sesenggukan itu.

“Kau benar-benar membuatku mengingat semuanya.” Surin masih sesenggukan.

“Kau bahkan membuatku teringat kembali dengan Hero, cinta pertamaku.” Surin berujar ditengah tangisannya. “Ia selalu berkata seperti itu. Lalu ia akan menepuk-nepuk kepalaku seperti ini jika aku sedang menangis sendirian di taman belakang.” Surin berujar lagi membuat Sehun tersenyum tipis.

“Aku bahkan tidak sempat melihat wajahnya. Aku bahkan tidak sempat menanyai namanya. Aku bahkan tidak pernah melihat sosoknya karena ia akan berlari pergi setelah aku selesai menangis.” Surin menatap Sehun sehingga kini tatapan mereka beradu.

“Apa jangan-jangan orang itu adalah kau?” Surin menatap Sehun lama. Entah mengapa Ia yakin Sehun adalah orang itu. Orang yang menjadi bagian manis dari cerita-cerita pahitnya di negara kelahirannya tersebut.

“Jadi kau berharap seperti itu?” Sehun menatapnya jahil membuat Surin tertawa, menertawai kebodohannya yang sudah percaya bahwa Sehun adalah cinta pertamanya.

“Aku kan hanya bertanya.” Surin menoyor kepala Sehun pelan. Laki-laki itu hanya tersenyum kemudian memperhatikan Surin yang tengah menghapus sisa-sisa air matanya itu.

“Kalau orang itu memang aku bagaimana?”

**

Sehun tengah asik mengedit foto-foto yang kemarin ia ambil dari sekolah dasarnya itu pada laptopnya. Ia terperangah ketika menyadari betapa banyaknya foto Surin dari berbagai angle yang ia ambil kemarin.

Sehun kemudian membetulkan posisi duduknya, menjauhi gadis yang kini tengah menguap bosan sembari membalik-balik channel televisi, takut-takut gadis itu mengetahui isi memori kameranya yang menyimpan banyak foto dirinya itu.

“Sehun-a, aku bosan!” Surin mendekat ke arah Sehun kemudian menatap laki-laki yang tengah serius dengan laptopnya itu, lama. “Apasih yang sedang kau lakukan di laptop itu, eung?” Surin merebut laptop Sehun membuat laki-laki itu kelabakan dan segera merebutnya kembali.

“Ya! Aku kan sedang bekerja!” Omel Sehun membuat Surin hanya mendengus. “Memangnya hari ini kau tidak ada jadwal sesi pemotretan? Jadi kita akan menghabiskan hari ini di rumah saja, begitu? Ah, membosankan.” Surin menjatuhkan kepalanya pada sandaran sofa tersebut dengan malas.

Surin melangkahkan kakinya menuju dapur dan membuka lemari pendingin, berharap ada sesuatu yang dapat di makannya untuk membunuh kebosanannya. “Kita bahkan sudah kehabisan bahan makanan.” Keluh Surin membuat Sehun segera mengalihkan perhatiannya pada gadis yang kini tengah meneguk segelas air mineral itu.

“Bagaimana kalau delivery makanan cepat saji saja untuk makan siang dan malam?” Tanya Sehun sementara gadis itu kini tengah duduk di kursi meja makan sembari memperhatikan secarik kertas kecil berupa catatan belanjaan. “Tetap saja kita harus ke supermarket. Ibumu menitipkan list belanja bulanan ini padaku kemarin.”

“Kerjaanku masih banyak, kau saja sana sendiri.” Sehun kembali memfokuskan diri pada laptopnya. “Enak saja. Siapa yang akan mengantarku?” Surin berjalan lalu duduk di sofa tepat sebelah Sehun.

“Ayolah, lagi pula aku mau membeli beberapa barang pribadi. Aku tahu bagaimana cara kita membunuh waktu yang membosankan ini. Kajja!” Surin bangkit berdiri dengan bersemangat.

“Kau akan ke supermarket dengan pakaian seperti itu? Sana mandi dulu. Dasar jorok.” Komentar Sehun membuat Surin tersadar bahwa ia belum mandi sedari pagi tadi sementara jam sudah menunjukan pukul sebelas. “Ah iya, mian. Tunggu sebentar ya.” Surin segera menaiki tangga sementara Sehun hanya tersenyum samar.

“Tunggu sebentar? Menunggumu mandi itu sama saja seperti menunggu nenekku selesai memberi nasehat.” Sehun tertawa sendiri dengan ucapannya barusan.

Sehun memindahkan foto-foto Surin yang ada di kamerannya itu pada file yang baru saja ia buat di laptop kesayangannya. Ia tersenyum senang melihat file tersebut. File bernamakan ‘My First’.

**

Sehun mendorong troli belanjaan itu dengan sabar, membuntuti Surin yang tengah memilah-milih barang-barang yang akan dibeli. Selama kurang lebih dua puluh menit mereka mengitari supermarket tersebut sehingga kini troli mereka hampir separuh terisi dan sebagian di antaranya adalah makanan-makanan ringan.

“Mengapa semua orang memandangi kita seperti itu, sih?” Surin memperhatikan orang-orang yang tengah memperhatikan mereka sedari tadi itu dengan tatapan heran sementara orang-orang itu hanya tersenyum ke arahnya. “Mungkin mereka berpikir kau sangat beruntung karena di temani berbelanja oleh laki-laki setampan aku.” Komentar Sehun membuat Surin tertawa kecil.

“Atau jangan-jangan mereka berpikir kau beruntung memiliki suami setampan aku yang bersedia menemani istrinya berbelanja?” Sehun berujar jahil sementara Surin hanya tersenyum meledek. “Memangnya siapa yang mau punya suami sepertimu, huh?!” Surin meletakan beberapa sayuran segar pada troli tersebut kemudian berjalan mendahului Sehun ke arah deretan lemari pendingin berisi daging.

Sehun terus mengikuti Surin sesekali ia memasukan makanan-makanan kecil yang diinginkannya membuat Surin sesekali memarahinya namun ia malah tertawa karena melihat ekspresi marah yang entah sejak kapan menjadi ekspresi favoritnya itu.

“Telur sudah, kentang sudah, sayuran sudah, daging sudah, buah juga sudah, bumbu-bumbu semua sudah lengkap, cemilan-cemilan untuk si bayi besar ini juga sudah. Nah sekarang saatnya membeli barang-barangku. Kajja.”

“Bayi besar?” Surin tersenyum ke arah Sehun yang tengah menatapnya dengan geram. “Sudah cepatlah, aku masih banyak pekerjaan. Memangnya barang-barangmu itu apasih?” Sehun menggerutu sementara Surin menusuri bagian make up dan peralatan-peralatan wanita supermarket tersebut sembari memasukan barang-barang yang dipilihnya ke troli yang tengah di dorong Sehun.

“Banyak sekali. Anak laki-laki tidak perlu tahu.” Jawab Surin pendek sembari menuntun troli tersebut. “Nah ini yang paling kita butuhkan.” Surin tersenyum senang membuat Sehun penasaran. “Apa itu?”

“Ini adalah salah satu bahan terpenting dari kegiatan kita hari ini.” Sehun menatap Surin tidak mengerti. “Baiklah kalau begitu aku juga akan beli satu bahan terpenting lainnya.” Kini Surin yang menatap Sehun dengan tatapan tidak mengerti. “Kajja.” Sehun mendorong trolinya dengan bersemangat, meninggalkan Surin yang masih bingung itu.

Surin rasa ia tidak akan bosan lagi meskipun harus seharian penuh di rumah. Surin tersenyum samar kemudian berlari kecil menyusul Sehun.

**

“Jadi bahan terpenting itu adalah film horror? Tidak. Aku tidak mau menontonnya!” Surin berseru lalu menimpuk Sehun dengan bantal sofa yang tengah di peluknya. Ia beranjak menuju dapur, berniat merapikan barang belanjaannya.

“Lalu apa bahan terpenting yang kau beli tadi itu?” Sehun menghampiri Surin yang kini tengah sibuk berbenah. “Masker kecantikan.” Ujar Surin antusias seraya mengeluarkan masker tersebut dari plastik belanjaan yang tengah di pegangnya itu.

“Dasar perempuan.” Komentar Sehun pendek kemudian ia beranjak dari tempatnya, membantu gadis yang tengah repot memasukan bahan-bahan makanan itu ke dalam lemari pendingin.

“Jadi kita makan siang dengan apa?” Tanya Sehun pada Surin. “Hm, Omurice? Aku hanya bisa masak itu.” Jawab Surin sambil tertawa kecil. “Geurae, tidak apa. Cepat buatlah. Aku sudah lapar.” Sehun terus memasukan bahan-bahan makanan itu ke lemari pendingin dengan malas.

“Arraseo, bayi besar.” Surin segera menyiapkan bahan-bahan yang ia butuhkan untuk membuat Omurice dengan bersemangat. Sehun hanya memperhatikan Surin yang tengah sibuk memotong sayuran itu. “Ya! Pelan-pelan nanti kau bisa terluka.” Omel Sehun membuat Surin tertawa kecil.

“Aish, sudahlah sini aku saja yang memotong.” Sehun mengambil alih pisau yang berada di tangan Surin dengan cepat. Surin kemudian menyalakan kompor dan mulai mendadar telur. Sehun memperhatikan Surin yang tengah repot membulak-balik telur tersebut.

“Ya! Hati-hati membaliknya. Kau bisa kena minyak!” Sehun memarahi Surin lagi membuat gadis itu kesal. Ia membalik telur itu dengan sembarang membuat Sehun segera menghampirinya. “Aish. Kau ini! Sudahlah aku saja yang masak. Sana duduk di meja makan.” Surin tersenyum simpul sementara Sehun mengambil alih dapur tersebut.

“Kau itu khawatir denganku atau khawatir makanannya tidak enak?” Tanya Surin yang kini tengah memperhatikan Sehun dengan seksama. “Kau berharapnya yang mana?” Sehun kini tengah sibuk menyampurkan berbagai bumbu ke dalam masakannya.

“Dasar menyebalkan.” Gumam Surin pelan. Surin mengambil kaset film horror yang terletak di meja makan itu kemudian memperhatikannya. Sehun menoleh ke arah Surin yang tengah memperhatikan kaset film horror yang baru saja di belinya itu kemudian tersenyum jahil.

“Kau harus menonton film itu bersamaku. Tidak ada penolakan. Anggap saja sebagai bayaran makan siangmu ini.” Surin menghela napas pasrah, sudah tahu Sehun pasti tetap akan memaksanya menonton film horror itu.

“Baiklah. Tapi kau harus ikut ritual kecantikan ala ku. Arrasseo?” Surin berujar jahil ketika Sehun dengan sangat terpaksa harus mengiyakannya.

Setelah makan siang kini mereka melakukan ritual yang Surin maksud. Sehun yang mau tidak mau terpaksa mengikuti kemauan gadis itu karena ia sendiri tahu Surin akan memaksanya sampai ia mau melakukan ritual yang baginya konyol itu.

Mereka duduk berhadapan di sofa yang ada di ruang keluarga. Surin memasangkan bandana pada Sehun sehingga poni yang menutupi dahi Sehun itu terangkat.

“Kau harus mengingat urutan-urutan ritual ini karena nanti kau juga akan memakaikannya padaku, arra?” Surin berujar seraya mengambil kapas dan face tonic atau pembersih wajah yang berada di meja. “Kau tidak akan berbuat yang macam-macam, kan?” Sehun berujar waspada sementara Surin mendekat ke arah Sehun sehingga kini jarak mereka hanya beberapa centi.

“Tutup matamu.” Perintah Surin namun Sehun tak kunjung menutup matanya. Sehun malah memperhatikan wajah Surin yang kini berada sangat dekat dengannya tanpa berkedip. “Ku bilang tutup matamu.” Surin menutup paksa kedua mata Sehun dengan telunjuknya sehingga kini Sehun baru benar-benar menutup matanya.

“Yang pertama sebelum ke tahap masker adalah kau harus membersihkan wajahmu terlebih dahulu. Nah seperti ini.” Surin membersihkan wajah Sehun dengan kapas yang sudah di berikan cairan pembersih itu secara perlahan. Surin tersenyum ketika melihat wajah Sehun yang kini berada sangat dekat dengannya.

“Jangan memperhatikanku seperti itu. Aku tahu aku tampan.” Sehun berujar membuat Surin tersadar dari lamunan singkatnya. Ia menoyor dahi Sehun dengan telunjuknya membuat laki-laki itu tertawa kecil.

“Setelah sudah bersih, barulah kau bisa memakai masker ini. Ketika kau sudah benar-benar memakainya kau tidak boleh bicara apalagi tertawa agar masker ini tidak rusak. Arra?” Surin mulai memakaikan masker pada wajah Sehun. Ia merasakan jantungnya berdesir ketika jemari-jemarinya menyentuh permukaan wajah laki-laki itu. Berkali-kali Surin mengusir perasaan itu, rasa itu kembali lagi berkali-kali membuat Surin tidak kuasa menahan debaran jantungnya.

Surin terus mengoleskan masker itu pada wajah Sehun sampai benar-benar rata tetapi tanpa sengaja jari telunjuknya menyentuh permukaan bibir Sehun membuat jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Sehun segera membuka matanya merasakan masker itu berada di sudut bibirnya. Ia menatap Surin yang kini sangat gugup.

“Mi-mian.” Surin mengambil selembar tisu kemudian menghapus masker yang berada di bibir Sehun itu perlahan. Sehun tidak menutup matanya sehingga kini ia benar-benar dapat melihat wajah Surin dengan jelas yang berada sangat dekat dengannya.

Sehun menahan tangan Surin cepat membuat gadis itu segera menatapnya. Sehun menatap bola mata itu dalam seolah menyalurkan sesuatu dari dalam tatapannya. Mereka beradu pandang sampai Surin berpura-pura terbatuk. Sehun dan Surin saling bertatapan canggung.

“Su-sudah selesai. Sekarang giliranku.” Sehun mengambil pembersih wajah itu tanpa berkata-kata karena ia ingat pesan Surin yang menyuruhnya untuk tidak berbicara agar masker itu tidak rusak.

Surin menutup kedua matanya sementara Sehun mulai membersihkan wajah gadis itu dengan perlahan. Sehun berusaha mati-matian menahan debaran jantung yang seakan ingin melompat itu ketika jemarinya menyentuh kelopak mata gadis itu.

“Ka-kau pakai sendiri saja.” Ujar Sehun pelan takut-takut maskernya rusak. “Aish, baiklah.” Surin mulai memakaikan masker tersebut pada wajahnya sementara Sehun masih memperhatikan Surin dengan seksama.

“Kau yakin kita akan menonton film horror dengan masker seperti ini? Kalau ada sesosok yang tidak kita kenal muncul dengan masker juga bagaimana?” Surin segera memukul pelan lengan laki-laki itu.

“Ya sudah kita tidak usah menonton film itu.” Surin masih asik mengoleskan masker itu pada wajahnya sendiri. “Andwae! Kau kan sudah janji.” Sehun mengoceh sementara Surin hanya tertawa kecil. “Baiklah baiklah, bayi besar.” Sehun hanya mendengus mendengarnya.

Surin menghidangkan berbagai macam makanan ringan dan minuman soda dingin sementara Sehun mulai memutar kaset film horror itu pada alat pemutar kaset. Belum beberapa menit, layar besar televisi tersebut menunjukan sesosok perempuan dengan rambut panjang membuat Surin menjerit. Sehun hanya tertawa kemudian menempatkan dirinya di sebelah Surin setelah mengambil satu cemilan favoritenya.

“Jangan teriak keras-keras, kau bisa merusak maskermu itu.” Komentar Sehun sementara Surin tidak menggubrisnya. Mereka berdua serius menonton film tersebut sembari memakan makanan ringan yang tersedia.

“Sehun-a, matikan saja. Aku benar-benar takut.” Surin menutupi dirinya dengan bantal sofa, tidak berani menonton film yang kini sudah mulai mencapai puncak cerita.

Surin berteriak keras ketika sound system tersebut menimbulkan suara dentuman keras, tepat dengan munculnya sesosok perempuan berambut panjang dengan darah di sekujur tubuhnya. Surin segera memeluk lengan Sehun sementara laki-laki itu tertawa terbahak.

“Aku bahkan bukan terkejut dengan hantunya, tapi terkejut dengan teriakanmu.” Sehun masih terbahak sedangkan Surin masih memeluk lengan Sehun dengan kuat. Ia benar-benar ketakutan.

Dua jam mereka menonton film tersebut dan selama dua jam juga Surin sibuk berteriak-teriak sedangkan laki-laki yang kini masih di peluk oleh Surin itu hanya tertawa setiap mendengar teriakannya.

Sehun malah merasa ia sedang menonton film komedi di banding film horror. Di lain sisi, satu gadis berjanji untuk tidak menonton film horror lagi selama-lamanya.

**

“Sehun-a.” Panggil Surin dari kasurnya. Ia melongokan kepalanya, melihat Sehun yang kini terduduk di kasurnya sembari terus fokus pada kamera dan laptopnya. “Aku takut.” Surin berujar lagi membuat Sehun kini menatapnya. “Takut dengan film tadi?” Sehun tertawa meledek kemudian kembali memfokuskan diri pada pekerjaan yang sempat tertundanya.

“Aku tidak akan tidur sebelum kau tidur. Sudah sana tidur.” Sehun berujar tanpa menatapnya. “Tetap saja kalau suasananya hening seperti ini aku semakin takut.” Keluh Surin kemudian terduduk di kasurnya.

“Lalu kau mau apa?” Tanya Sehun sementara Surin hanya menghela napas. “Salahmu. Mengapa mengajakku menonton film itu?! Aku kan sudah pernah memberitahu bahwa aku tidak bisa dengan hal-hal semacam itu.” Gerutu Surin panjang lebar.

Sehun segera bangkit berdiri dari kasurnya seraya membawa kamera dan laptopnya. Sehun menaiki tangga yang menuju ke kasur Surin membuat gadis itu terkejut. “Neo mwohae?!” Surin memeluk boneka larva milik Sehun.

“Aku akan menunggumu sampai kau tertidur disini. Sana cepat tidurlah.” Sehun mendudukan dirinya pada kasur tersebut kemudian melanjutkan pekerjaannya. Surin menghela napas kemudian membaringkan dirinya di sebelah Sehun.

“Gomawo.” Surin memeluk boneka larva milik Sehun kemudian menutup kedua matanya, berusaha untuk terlelap. “Aku merasa tidak takut lagi.” Surin memegang ujung kaos hitam Sehun dengan erat membuat Sehun tersenyum seraya menatap gadis yang kini juga tengah tersenyum.

“Jaljayo, Jang Surin.”

**

“AAAAAAA! Oh Sehun! Jang Surin! Apa yang telah kalian lakukan?!” Nyonya Oh berteriak panik membuat kedua orang yang tengah asik tertidur itu bangun seketika. Mereka saling pandang, yang satu langsung berteriak kaget sementara yang satu hanya menutup telinganya kemudian menenggelamkan wajahnya pada bantal.

“Oh Sehun! Mengapa kau bisa disini?!” Surin berseru seraya mengguncang tubuh laki-laki tinggi yang kini masih tertidur di kasurnya. “Kau yang memintaku kan?!” Sehun berujar sembari mencari posisi yang nyaman untuk kembali tidur.

“Sembarangan saja! Mengapa kau tidak kembali ke kasurmu setelah aku pulas dan malah tidur di sini, sih?! Kau kan bilang kau hanya akan menemaniku sampai tertidur bukannya malah tidur disini jug—” Sehun menarik leher Surin sebelum gadis itu sempat menyelesaikan kalimatnya sehingga kini Surin kembali dalam posisi tidurnya. Ia bahkan dapat melihat dengan jelas wajah Sehun yang berada begitu dekat dengannya.

“Kau berisik sekali. Ini masih terlalu pagi. Eomma, nanti saja kalau mau minta penjelasan. Sekarang biarkan kami tidur lagi terlebih dahulu.” Sehun memeluk leher Surin membuat gadis itu berteriak-teriak sembari berusaha menjauhkan dirinya dari Sehun.

“Ya! Cepat bangun atau aku siram!” Surin segera menuruni tangga kasur tingkat tersebut kemudian menangkupkan kedua tangannya di hadapan ibu kandung Sehun, berusaha meyakinkan wanita paruh baya itu bahwa semuanya bukan seperti yang ia kira. Nyonya Oh kini malah menatapnya sambil tersenyum jahil.

“Kau ini kenapa malah meminta maaf seperti itu?! Aku juga sudah tahu kalian tidak berbuat apa-apa.” Nyonya Oh masih tersenyum sementara Surin menghela napas lega.

“Tapi dari sini aku sudah mengetahui sesuatu.” Surin kembali menatapnya serius. “Kalian berdua sudah berpacaran?! Secepat itu?! Sudah ku duga, mana bisa Sehun mengabaikan perempuan cantik sepertimu, Surin-a?!” Surin menghela napas, pasrah dengan semua pemikiran Nyonya Oh.

“Kalau begitu, pertunangan kalian bisa segera dilaksanakan! Bagaimana jika minggu ini saja?!” Nyonya Oh berujar dengan sangat bersemangat sementara dua orang lainnya segera berseru nyaring. “APA?! Minggu ini?!”

“Iya minggu ini. Lagipula semuanya juga sudah siap, kami hanya tinggal menunggu kalian saling mengenal saja. Namun tidak aku sangka-sangka, kalian bahkan lebih cepat dari waktu yang di perkirakan.” Nyonya Oh menangkupkan kedua tangannya sementara Sehun dan Surin saling berpandangan frustasi.

“Sekarang aku akan menghubungi orangtuamu terlebih dahulu, Surin-a. Jadi, mereka bisa sampai disini lusa! Ah, mereka pasti sangat senang dengan kabar ini!” Surin menghela napas sembari memijat pelipisnya, semakin frustasi.

“Ah ya, besok kalian akan mencari cincin pertunangan dan fitting pakaian di butik langgananku. Kosongkan jadwalmu, Sehun-a!” Nyonya Oh segera berlari kecil, keluar dari kamar putra bungsunya tersebut. Sehun mengacak rambutnya asal ketika mendengar teriakan kecil Nyonya Oh yang tengah memberitahu hal tersebut pada ayahnya.

“Kau tahu kan jika mereka sudah seperti itu kita tidak akan bisa apa-apa lagi?” Surin hanya terdiam sementara Sehun menuruni tangga kasur tersebut. Sehun berdiri di hadapan Surin kemudian menatap gadis yang tengah menunduk itu.

Dalam hati, Sehun kecewa melihat ekspresi Surin yang seperti itu. Dari ekspresi itu Sehun dapat menyimpulkan suatu fakta bahwa Surin tidak menginginkan pertunangan tersebut berlangsung. Sehun membenci fakta itu tapi ia lebih membenci dirinya yang tidak bisa melakukan apa-apa terhadap hal tersebut.

“Aku ada sesi pemotretan hari ini.” Sehun berujar namun Surin masih belum menatapnya. “Mian. Aku tidak bisa ikut karena—“ Surin menggantungkan ucapannya ketika ia melihat Sehun yang kini tengah menatapnya tajam.

“Kalau kau tidak menginginkan pertunangan itu aku bisa memberitahu ibuku untuk tidak melangsungkannya minggu depan.” Sehun berjalan menuju ke arah pintu kamar mandi kemudian menghentikan langkahnya tepat di depan pintu itu. Sehun dapat merasakan kini Surin masih menatapnya.

“Maaf karena aku hanya bisa meminta mereka untuk menundanya bukan membatalkannya seperti yang sepertinya kau harapkan.” Sehun memasuki kamar mandi tersebut sementara Surin kini menahan tangisnya.

Surin sendiri sudah tahu apa yang dipikirkan laki-laki itu saat ini. Pikiran bahwa ia tidak menginginkan pertunangan tersebut.

Rasanya gadis itu ingin memberitahu Sehun bahwa hal yang dipikirkan laki-laki itu tidak benar. Rasanya gadis itu ingin memberitahu Sehun mengenai perasaannya yang kini sudah mulai tumbuh. Tumbuh untuk laki-laki bernama Oh Sehun.

Tapi tetap Surin butuh waktu. Waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri.

**

Sehun berangkat kerja lebih cepat pagi itu sedangkan Tuan Oh baru berangkat sekitar dua jam yang lalu. Kini yang tersisa di rumah hanyalah Surin dan Nyonya Oh yang tengah menikmati waktu mereka berdua.

Mereka menonton drama sambil berbincang-bincang hangat. Mereka bahkan juga saling memakaikan cat kuku, membuat mereka terlihat semakin akrab.

“Eommeoni tenang saja, mulai sekarang Eommeoni tidak akan merasa sendiri lagi.” Surin menggenggam jemari Nyonya Oh membuat wanita paruh baya itu tersenyum senang.

“Gomawo, Surin-a. Aku berterima kasih pada kedua orangtuamu karena juga mendukung perjodohan ini. Aku sangat ingin kau bersama dengan Sehun bahkan sedari kalian kecil.” Nyonya Oh mengelus rambut Surin dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya.

“Sedari kecil? Jadi aku dan Sehun memang sudah berteman sedari kecil?” Surin berujar tidak percaya sementara Nyonya Oh mengangguk. “Memangnya kau lupa? Sedari taman kanak-kanak sampai sekolah dasar kau ada di satu sekolah yang sama dengan Sehun.” Surin menatap Nyonya Oh dengan seksama.

Nyonya Oh menyelipkan rambut panjang ikal milik Surin itu pada daun telinga gadis yang kini tengah serius menatapnya. “Sehun itu orang yang pemalu. Wajar saja kau tidak menyadari keberadaannya ataupun mengenalnya. Tapi Sehun selalu bercerita padaku tentang seorang gadis yang ia sukai. Gadis yang berhasil menjadi orang pertama yang menempati hatinya.”

“Sehun selalu menuliskan semua tentang gadis itu pada buku hariannya. Ia sangat senang saat ayahnya membelikannya kamera polaroid sebagai hadiah ulang tahunnya karena ia berkata bahwa mulai sekarang ia bisa memotret gadis itu dan menempelkan foto-fotonya pada buku hariannya.” Surin masih mendengarkan dengan serius.

“Aku pun terkejut setelah melihat siapa gadis yang berada dalam buku harian itu. Gadis itu adalah anak dari kerabat kerja sekaligus teman kecil suamiku. Ya, dia adalah putri ketiga keluarga Jang.” Surin sudah menganga tidak percaya. Ia kini bahkan berkaca-kaca namun tetap berusaha fokus pada pembicaraan Nyonya Oh.

“Mulai dari situ kami merencanakan perjodohan ini. Perjodohan yang dengan konyolnya kami namakan sebagai ‘perjodohan anak ke-3’.” Nyonya Oh tertawa kecil sementara Surin masih menatapnya dengan berkaca-kaca.

“Sehun masih menyayangimu sampai sekarang ini. Ia terus menanyakan kabarmu setelah kepindahanmu ke Indonesia. Dan sekarang, aku pun tahu, kau sendiri mengetahui perasaan Sehun terhadapmu. Semuanya masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah.” Nyonya Oh mengelus rambut Surin lagi.

“Diam-diam aku menemukan buku harian itu di gudang beberapa bulan lalu. Ini, kau lihatlah sendiri agar kau lebih percaya. Aku pergi ke butik dulu untuk melihat pesanan baju yang akan besok kau coba bersama Sehun.” Nyonya Oh menepuk bahu Surin seraya mengambil tasnya yang berada di meja tamu, lalu pergi meninggalkan gadis yang kini masih bergeming sambil menatap buku catatan yang sudah mulai usang itu.

Surin mulai membaca lembar demi lembar buku harian tersebut sampai-sampai tak terasa air matanya menetes.

Senin, 10 April 1998

Hari ini aku mengetahui namanya. Namanya Jang Surin. Annyeong, Surin-a. –Oh Sehun

large (6)n

Selasa, 11 April 1998

11 April, melihat Surin bersedih. Aku berjanji akan menghabisi orang yang mengganggunya. Surin-a, kau tenang saja! –Oh Sehun

large (6)f

Rabu, 12 April 1998

Hari ini aku berulang tahun. Hadiah terindah adalah melihatnya tersenyum seperti ini. Semoga kau selalu tersenyum, Jang Surin. –Oh Sehun

large (6)t

Surin kini tahu bahwa Sehun adalah ‘Hero’-nya. Sehun adalah cinta pertamanya. Dan ia tidak ragu lagi terhadap perasaannya.

Ia mencintai laki-laki itu. Laki-laki bernama Oh Sehun.

**

“Aku sibuk.” Jawab Sehun pendek ketika ibunya memaksanya untuk mencari cincin pertunangan dan fitting pakaian. “Tidak ada kata sibuk. Sana! Surin sudah menunggu di luar.” Nyonya Oh merebut laptop Sehun membuatnya tidak punya pilihan lain.

“Mengapa kau lama sekali, eo?!” Surin menghampiri Sehun lalu menyeret lengannya ke arah mobil sedan milik Sehun.

“Sebagai calon tunangan yang baik seharusnya kau membukakan pintu mobil ini.” Surin berkomentar sementara Sehun kini menatapnya bingung. “Cepat bukakan!” Perintah Surin membuat Sehun segera menurutinya. Surin tersenyum senang kemudian memasuki mobil sedan berwarna silver tersebut.

“Kau sedang tidak sakit kan?” Sehun memegang dahi Surin ketika ia sudah memasang sabuk pengamannya. “Tidak. Kajja! Aku tidak sabar untuk mencoba gaun yang ibumu sudah pilihkan untukku.” Surin berujar sambil tersenyum sementara Sehun hanya memandanginya dengan tatapan tidak mengerti.

Setelah sampai pada butik yang ibunya maksudkan mereka mulai sibuk memilah-milih cincin sementara pelayan lainnya tengah mempersiapkan gaun dan tuxedo yang sudah di pesan ibunya.

“Menurutmu bagusan yang ini atau ini?” Surin mengacungkan dua cincin dengan model yang berbeda. “Tidak keduanya. Terlalu pasaran.” Sehun berkomentar membuat Surin mendengus.

“Itu cincin ke-seratus yang kau sebut pasaran! Sudahlah, tidak usah pakai cincin saja!” Sehun tertawa terbahak membuat Surin semakin gemas.

“Jangan tertawa! Dasar laki-laki penulis diary!” Sehun menghentikan tawanya kemudian menatap Surin tidak percaya. “Apa kau bilang?” Sehun mempertajam pendengarannya. “Penulis diary!” Ledek Surin sambil tertawa. “Kau! Dari mana kau mendapatkan diary kecilku dulu?!” Surin hanya menatap Sehun dengan tatapan meledek.

“Hari ini hari ulangtahunku. Senyumnya adalah hadiah terindah semoga kau selalu tersenyum, Jang Surin.” Surin berujar membuat Sehun segera membekap mulut gadis itu dengan tangannya. “Ya! Jangan berani-berani mengungkit diary sialan itu, arra?!” Surin terbahak ketika Sehun melepas bekapannya.

“Hari ini aku mengetahui namanya. Namanya Jang Su—“ Sehun segera membekap mulut gadis itu lagi. “Aku ambil cincin yang itu.” Surin masih berusaha untuk melepaskan bekapan Sehun namun Sehun segera memeluknya dari belakang membuat Surin beku seketika.

“Kamsahabnida.” Sehun mengambil cincin yang sudah di kemas oleh seorang pelayan yang menatap mereka sambil tersenyum jahil. “Ya! Lepaskan. Aish, babo namja.” Sehun mempererat pelukannya pada Surin yang kini malah memukuli kepala laki-laki itu pelan.

“Permisi, maaf gaunnya sudah tersedia. Silahkan, di sebelah sini Nona.” Surin segera melepas tangan Sehun yang melingkari pinggangnya. “Silahkan tunggu disana, Tuan.” Sehun tersenyum kemudian mengikuti pelayan tersebut dan segera duduk pada sofa yang di maksudkan pelayan tadi. Sehun kini berhadapan pada tirai besar.

Laki-laki itu tersenyum samar mengingat kejadian tadi. Buku harian itu. Bahkan Sehun sendiri merasa malu hanya dengan mengingat isi buku harian itu.

Kini Surin tahu bahwa ia lah orang itu. Sehun lah orang itu. Orang yang selalu berada di dekatnya jika ia sedang bersedih. Orang yang selalu menyemangatinya agar ia tidak mudah menyerah. Surin mengetahui hal itu dan Sehun tidak tahu lagi bagaimana cara mendeskripsikan rasa bahagianya.

Ia bahkan menganggap ini semua hanyalah sebuah mimpi.

Gadis yang telah tiga belas tahun ia tunggu akhirnya datang kembali padanya.

Gadis yang telah tiga belas ia tunggu akhirnya berada disini, di dekatnya.

Sehun tersenyum samar. Ia sangat menyayangi gadis itu dan Sehun harap gadis itu juga tahu akan hal tersebut.

Tirai di hadapan Sehun perlahan terbuka menampilkan Surin yang kini berbalutkan gaun panjang berwarna putih dengan permata-permata berwarna perak berkilauan, membuat gaun tersebut semakin indah.

Sehun menganga sementara Surin tersenyum ke arahnya. “Eotte? Bagus sekali, bukan?! Aku suka sekali, apalagi mengingat ibumu yang memilihkannya untukku.” Surin memperhatikan gaunnya sendiri sementara Sehun berjalan mendekat ke arahnya tanpa gadis itu sadari. Semua pelayan yang berada di ruangan itu segera meninggalkan ruangan tersebut, menyisahkan mereka berdua di dalamnya.

Surin tersenyum pada Sehun yang kini masih menatapnya takjub. “Kau jangan memperhatikanku seperti itu! Kau sudah coba tuxedo-mu?” Surin berusaha mengalihkan pembicaraan namun Sehun masih menatap gadis itu dalam.

“Kau terkena kutukan putri salu atau putri aurora?! Mengapa hanya diam saja sih?! Baiklah, jika kau benar-benar terkena kutukan maka aku akan mematahkan kutukanmu itu.”

Surin memegang kedua bahu Sehun kemudian berjinjit dan mengecup bibir laki-laki itu cepat membuat Sehun tersadar dari lamunan panjangnya. Surin tertawa kecil melihat Sehun yang kini menatapnya tidak percaya.

“Ya! Jang Surin! Awas saja kalau berani-berani mematahkan kutukan pria lain! Kau hanya boleh melakukan itu padaku, arra?!” Sehun menyentil dahi gadis itu membuat Surin mengaduh kesakitan.

“Appo! Nappeun-nom!” Surin meringis kesakitan sementara Sehun tertawa terbahak. “Kalau begitu sini aku sembuhkan.” Sehun memperkecil jarak di antara mereka kemudian mengecup dahi gadis itu lalu memeluknya erat. Surin tersenyum senang dan membalas pelukan Sehun tidak kalah eratnya.

“Aku mencintaimu, Jang Surin.”

“Aku juga mencintaimu, Oh Sehun.”

-fin.

Advertisements

5 comments

  1. Diva_deer21 · December 10, 2014

    Maniiis banget siii ceritanyaaa~~~ happy ending yang pas banget! Keren Jane!!

  2. realljo · December 13, 2014

    SEQUEL GAK LU.

  3. realljo · December 13, 2014

    APA APAAN NI BELOM NIKAH KAGA SERU

  4. southpole · July 10, 2016

    Hehe halo halo.
    Sebelumnya salam kenal ya..
    Ak tau blog ini dari exoff kalo ga salah cerita ttg surin dkk yg lagi pada hamil dan triple date hehehe trus lucu bgt akhirnya meluncur deh ke sini dan ternyata buaaaanyaaaak bgt ff sehun-surin (yg skg jadi couple fav-ku ♡).

    Anyway, ini kayaknya ff pertama author ya untuk pasangan SeRin?
    Bisa dibilang, ak agak speechless karena ini ff dibuat 2 tahun yg lalu tapi gaya bahasanya dan alur cerita sudah sebagus ini hiks salut deh.
    karakter mamanya sehun di sini lucu bgt, sehunnya juga senyam senyum bae ketauan bgt sih naksir surin-nya hahahha
    Ending buatku masih terlalu kecepetan dikit tapi ini sudah ok!

    Terima kasih sudah memulai dan konsisten bikin cerita untuk couple SeRin ya!
    Keep up the good job and im gonna hop to the next story! ♥

    • Oh Marie · July 11, 2016

      HUWAAAAAAAAAAAAA DAPET READER BARU AKU SENENG BANGET HUHU maaf caps jebol>< Aku bersyukur banget karena kamu udah mau mampir, baca-baca, dan ninggalin komen disemua post. Walaupun gabisa bales satu-satu tapi beneran deh aku senyam-senyum sendiri baca komen kamu huhu KAMU MANIS SEKALIH. Beruntung banget dapet reader semanis ini astaga ♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s