About Us [Part 2 – END]

largee

Part 2 end! Thanks for reading this ff. Hope you like it! (((a really long story hope you wont get bored while reading this))) once again, thanks:)

~~

Jimi masih dengan keterkejutannya. Ia bahkan tidak bisa menggunakan akal sehatnya untuk berpikir apapun. Entah perasaan seperti apa yang memenuhi hatinya saat ini, ia sendiri tidak dapat mendeskripsikannya.

Sedangkan Jongin, laki-laki itu sibuk mengutuk Lee seonsaengnim dalam hatinya. Jongin tahu ia tidak bisa apa-apa. Semakin tidak bisa apa-apa ketika Jongin sendiri menyadari bahwa gadis yang kini tengah menatap lurus buku cetaknya itu sebenarnya merasa senang karena dengan program ini, gadis itu akan semakin mudah untuk berdekatan dengan Baekhyun.

Jongin mengetahui hal itu dengan jelas. Hanya saja Jongin pura-pura tidak tahu. Atau yang lebih tepatnya adalah ia lebih baik memilih untuk tidak tahu apa-apa mengenai hal itu.

“Ingat. Tidak ada waktu untuk bermain-main lagi. Setelah sebulan ini atau tepatnya setelah program ini selesai terlaksana, kalian harus bersiap kembali untuk menghadapi ujian akhir yang akan di selenggarakan 2 minggu setelah program selesai.” Lee seonsaengnim kembali mengingatkan, membuat helaan napas terdengar dari seluruh penjuru kelas.

Lee seonsaengnim memukul meja tiga kali membuat semua murid segera berkonsentrasi kembali. “Baik, sekarang kita akan kembali ke pelajaran. Buka halaman 124.”

Rupanya tidak semua murid dapat berkonsentrasi kembali. Dua orang tengah sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Mereka hanya berpura-pura untuk terus mengamati wali kelas yang merupakan guru mata pelajaran fisika tersebut.

Yang satu memfokuskan pemikiran terhadap ke-tidak-percayaan yang entah sejak kapan, rasa tersebut berubah menjadi sebuah perasaan menyenangkan yang kini berhasil memenuhi seluruh isi hatinya, membuatnya dengan spontan tersenyum bahagia. Sedangkan yang satu lagi tengah bertempur dengan pemikirannya sendiri. Ia masih belum bisa menerima kenyataan yang bahkan semakin tergambar jelas di dalam benaknya setelah melihat senyuman bahagia tersebut.

**

Bel pulang berbunyi, membuat siswa-siswi yang tidak sabar ingin segera pulang itu berjalan beriringan keluar kelas setelah wali kelas mereka meninggalkan kelas terlebih dahulu. Mereka tampak asik dengan topik pembicaraan mereka, yaitu mengenai program baru yang akan di mulai dari hari esok tersebut.

Beberapa siswa sangat antusias, beberapa lagi tampak tidak begitu peduli. Salah satu dari siswa yang antusias tersebut adalah Park Jimi dan yang tidak begitu peduli atau tepatnya tidak peduli sama sekali adalah Kim Jongin.

“Jongin-a!” Jimi mengguncang lengan Jongin membuat laki-laki yang tengah melamun itu tersadar dari lamunan panjangnya. Jongin hanya melirik Jimi enggan. Ia memasukan buku-bukunya ke dalam tasnya, bersiap-siap untuk pulang.

“Aku sudah cantik belum? Hari ini aku akan menemui Baekhyun untuk mengkonfirmasi beberapa hal mengenai program itu. Salah satunya adalah tentang waktu dan tempat belajar.” Jimi menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya, sesekali ia merapikan tatanan rambutnya itu dengan senyum yang seakan tidak mau luntur dari wajahnya. Jongin hanya meliriknya sekilas seraya merapikan tasnya.

“Menurutmu lebih baik sore atau malam hari saja? Ah, aku rasa lebih baik malam. Jadi, kita bisa makan malam bersama dulu di sebuah restaurant, lalu setelah itu baru belajar! Makan malamnya tentu bukan malam biasa. Makan malam romantis dengan lilin-lilin berbentuk hati. Ide bagus, bukan?!” Jimi berseru antusias sedangkan Jongin hanya menatapnya dengan tatapan yang Jimi tidak mengerti.

“Malam?! Kau gila?! Dia itu laki-laki yang belum kau kenal betul! Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?!” Jimi menatap Jongin yang kini tengah berapi-api itu dengan tatapan menantang.

“Mengapa kau selalu seperti ini jika sudah menyangkut Baekhyun? Mengapa kau selalu memandangnya buruk?!” Jimi meninggikan suaranya membuat Jongin dengan segera menatapnya lurus.

“Terserah kau saja.” Jongin beranjak dari tempatnya lalu berjalan cepat, meninggalkan gadis yang masih bergeming di tempatnya itu. Jimi menatap lurus lantai kelas tersebut.

Ia hanya tidak mengerti. Mengapa Jongin begitu membenci Baekhyun yang bahkan tidak pernah melakukan apapun padanya. Mengapa Jongin selalu berubah menjadi seperti itu ketika ia mulai membicarakan tentang Baekhyun. Jimi tidak mengerti.

Jongin memejamkan kedua matanya seraya menghela napas berat. Untuk kali ini saja. Tidak bisakah Jimi mengerti perasaannya bahkan untuk sekali ini saja?

Jongin merogoh saku celana panjangnya lalu memandangi kertas yang ia lipat rapi itu, lama. Sebuah surat yang ia buat beberapa menit yang lalu, sebelum bel pulang berbunyi dengan nyaringnya.

Tadinya Jongin memutuskan untuk tidak mengirimi Jimi surat dan mawar lagi ketika gadis itu malah berpikir bahwa pengirim mawar dan surat itu adalah Baekhyun. Tapi Jongin tahu bahwa hanya dengan cara ini ia dapat menunjukan perasaannya pada Jimi. Tentang perasaan yang sudah ia pendam begitu lamanya sampai rasanya Jongin sendiri tidak dapat menahannya lagi.

Jongin melangkahkan kakinya menuju ke deretan loker yang terletak di dekat perpustakaan. Ia kembali menghela napas ketika melihat papan nama bertuliskan ‘Jimi Park’ terpampang di loker hijau tua berhiaskan stiker-stiker hati berwarna pink itu.

Jongin mengambil selotip yang ada di dalam tasnya hendak menempelkan surat berukuran kecil itu, akan tetapi ia dengan cepat segera merubah pikirannya. Jongin memasukan selotip dan surat tersebut ke saku celananya.

Jongin melangkah menjauh meninggalkan loker tersebut. Sebuah pemikiran terlintas di kepalanya sehingga ia tidak jadi menempelkan surat itu.

Pemikiran bahwa seharusnya ia membiarkan gadis itu bahagia. Pemikiran bahwa ia seharusnya mengalah dan mendukung gadis itu jika memang benar Baekhyun adalah pilihannya.

Laki-laki berkulit cokelat itu tersenyum samar. Entah senyum macam apa yang dibuatnya di tengah-tengah keadaannya yang kacau seperti ini.

Jimi hanya akan menyukai Baekhyun dan seharusnya Jongin paham. Pada kenyataannya laki-laki itu sebenarnya sudah memahami hal tersebut sejak lima tahun yang lalu atau tepatnya ketika gadis itu bercerita mengenai cinta pertamanya. Cinta pertamanya yang bernama Byun Baekhyun.

Jongin hanya butuh waktu. Waktu untuk memisahkan dirinya dari gadis bernama Park Jimi yang telah berhasil mencuri seluruh isi hati dan pikirannya itu, agar dapat benar-benar menghapusnya. Menghapusnya walaupun itu terkesan sangat mustahil.

**

Jimi berjalan keluar rumah setelah berpamitan pada kedua orang tuanya. Entah mengapa ia sangat bersemangat untuk menghadapi hari ini. Ia tersenyum pada seorang kakek yang merupakan tetangganya itu dengan senyuman gembira. Namun sedetik kemudian senyumnya redup ketika seseorang dari seberang rumahnya itu mengusik perhatiannya.

Jongin dengan motor sportnya. Jimi memandangi Jongin, lama. Jongin mulai menyalakan mesin motornya tanpa melirik Jimi sedikitpun. Ia memakai helm berwarna hitam senada dengan motornya tersebut, membuat Jimi semakin tidak tahan untuk tidak menyapa laki-laki itu dan menanyainya mengapa ia tidak naik bus dan berangkat bersamanya hari ini.

“Jongin-a!” Jongin menoleh perlahan membuat Jimi segera tersenyum seperti biasanya. Jimi hendak menghampiri Jongin tetapi suara riuh bel sepeda membuat Jimi terkejut dan dengan spontan, gadis itu pun menghentikan langkah kakinya.

“Selamat pagi!” Jimi terkejut setengah mati melihat siapa pengendara sepeda ugal-ugalan tersebut. “B-Byun Baekhyun?!” Baekhyun segera memperlihatkan deretan gigi putihnya membuat Jimi semakin yakin bahwa memang benar orang yang berada di hadapannya dengan sepeda gunung berwarna merah itu adalah Baekhyun.

“Jadi ini rumahmu? Berseberangan dengan Jongin? Woah, asik sekali. Oh astaga itu dia! Hei, Kim Jongin, selamat pagi!” Baekhyun melambaikan tangannya pada Jongin membuat laki-laki itu menoleh tanpa niat, lalu melajukan motornya, meninggalkan Jimi dan Baekhyun yang kini hanya bisa melihat punggung yang semakin lama semakin menghilang dari pandangan mereka tersebut.

“Bagaimana kau bisa tahu alamat rumahku?” Baekhyun masih tersenyum membuat gadis itu ikut tersenyum lebar. “Tentu saja dari teman-temanmu. Mulai sekarang, aku akan bertanggung jawab untuk mengantar-jemput partner spesialku selama satu bulan kedepan!” Baekhyun berujar senang membuat Jimi membelakan kedua matanya.

“Ta-tapi untuk apa?” Jimi mendadak gugup membuat Baekhyun tersenyum tipis. “Kata orang, jika kau mau menghasilkan sebuah kerja sama yang baik dengan partner kerjamu, kau harus mendapatkan chemistry yang baik dulu baru hal itu akan tercapai.” Baekhyun membetulkan posisi duduknya pada jok sepeda, bersiap-siap untuk berangkat.

“Jadi aku rasa kita harus memulainya dari sini. Ayo cepat naik!” Jimi tersenyum lebar seraya mengangguk mengerti. Ia dengan segera menginjak kaki kuda yang berada di antara roda belakang, sebagai tumpuan kedua kakinya. Kemudian Jimi memegang bahu Baekhyun erat.

“Sudah siap? Messi sebentar lagi akan meluncur!” Baekhyun mulai memasang ancang-ancang sedangkan Jimi sibuk terbahak karena ucapan Baekhyun barusan. “Messi itu nama pemain bola! Yang benar itu Rossi! Aigoo neo jinjja.” Jimi memukul pelan bahu Baekhyun membuat laki-laki itu ikut tertawa. “Tidak apa, hanya beda sedikit.”

Dan tidak lama setelahnya, sepeda ugal-ugalan tersebut mulai meluncur menusuri jalanan kota Seoul yang sudah ramai pada pagi hari itu.

Jimi merajut langkah secara perlahan menuju ke lokernya berada setelah ia berpisah dengan Baekhyun di parkiran beberapa menit yang lalu. Baekhyun berhasil membuat pagi yang biasa-biasa saja itu menjadi pagi yang tidak akan pernah Jimi lupakan, membuat Jimi semakin bersemangat untuk melewati hari.

Jimi hendak membuka lokernya dengan sebuah kunci yang ia ambil dari dalam tasnya, tetapi sebuah surat tertempel disana membuat Jimi menghentikan niatnya. Jimi memperhatikan surat itu lalu mengambilnya. Ia membuka surat tersebut dan membaca tulisan di dalamnya.

“Are you happy? Are you happy being with him? Tell me the truth. So I can easily erase you.”

Jimi memperhatikan surat itu terus menerus. Membacanya berulang-ulang, berusaha mencari tahu siapa pengirim surat tersebut. Kali ini ia mendiskualifikasi Baekhyun karena ia tahu Baekhyun sedari tadi bersamanya. Ia memasukan surat itu ke dalam tasnya, tidak mau peduli lagi.

Tidak mau peduli lagi ketika malah nama Kim Jongin yang muncul dalam benaknya, menyangka laki-laki itu sebagai pengirim surat tersebut.

Jimi berjalan cepat menuju kelasnya. Ia berniat untuk menanyai Jongin tentang hal ini, mengkonfirmasinya bahwa ia bukanlah sang pengirim seperti yang Jimi pikirkan. Sesampainya di kelas, ia melihat tempat duduknya dengan Jongin masih kosong. Laki-laki itu tidak ada disana.

“Surin-a, kau lihat Jongin?” Tanya Jimi pada Jang Surin, teman kelasnya. “Tidak. Sedari tadi hanya aku yang baru sampai di kelas ini.” Jawab Surin kemudian ia kembali memfokuskan diri pada buku cetak matematikanya.

Jimi duduk di bangkunya, menatap papan tulis itu dengan tatapan kosong. Entah mengapa ia semakin yakin bahwa memang Jongin yang mengirimkan surat itu. Jimi hanya berharap hal itu tidak terjadi.

Karena bagaimanapun, hatinya akan tetap memilih laki-laki bernama Byun Baekhyun.

**

Jimi memasukan buku-bukunya kedalam tasnya dengan lemas setelah bel pulang berdering nyaring beberapa menit yang lalu. Ia melirik tempat duduk Jongin yang kosong itu lalu menghela napas. Jongin melewati semua kelas hari ini dan hal itu membuat Jimi sedikit khawatir.

Ia mengambil ponselnya yang berada di dalam tas berwarna pinknya itu lalu menatap layar ponsel tersebut, ragu. Ia mulai mencari kontak Jongin dan menekan tombol ‘panggil’. Gadis itu menghela napas berat ketika hanya suara mesin yang menyapanya.

Jimi mengetik sebuah pesan singkat lalu mengirimnya, berharap laki-laki itu akan membacanya nanti.

“Neo eoddiya? Sudah bodoh akan semakin bodoh jika meninggalkan kelas seharian penuh begitu saja!”

Jimi baru akan keluar kelas tapi tiba-tiba seseorang melongokan kepalanya dari pintu tersebut membuat Jimi terkejut. “Aish! Kau selalu saja membuatku terkejut.” Gerutu Jimi pada Baekhyun membuat laki-laki itu menggaruk tengkuknya sembari tertawa kecil.

“Kau sudah siap? Hari ini kita akan mulai belajar dan aku tahu dimana tempat yang asik untuk belajar. Kajja!” Baekhyun menarik lengan Jimi cepat. Mereka berjalan beriringan menuju ke tempat parkiran sepeda yang terletak di dekat taman belakang sekolah tersebut.

“Memangnya kita akan kemana?” Tanya Jimi seraya menginjak kaki kuda tempat kakinya bertumpu itu dengan bersemangat. “Lotte World.” Jawab Baekhyun pendek membuat Jimi mengernyitkan dahinya, tidak mengerti.

“Kita akan belajar disana?” Baekhyun hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum tipis, kemudian ia mulai mengendarai sepedanya dengan cepat seperti tadi pagi membuat Jimi mengencangkan pegangannya pada bahu laki-laki itu takut-takut ia akan terbang dibuatnya.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 25 menit, mereka sampai pada tujuan utama. Baekhyun membeli dua tiket masuk lalu memberikan yang satu kepada Jimi membuat gadis itu tersenyum senang.

Baekhyun menarik lengan Jimi ke arah wahana bianglala atau yang biasa disebut dengan nama ferris wheel raksasa, salah satu wahana andalan tempat tersebut. Baekhyun mempersilahkan Jimi untuk masuk ke dalam wahana tersebut, kemudian ia turut masuk setelah gadis itu duduk manis di kursi yang tersedia dalam wahana itu.

“Kita akan belajar disini.” Baekhyun membuka tasnya kemudian mengeluarkan kertas soal yang ia bawa untuk dirinya dan Jimi. Baekhyun memberikan kertas tersebut dan Jimi segera mengambilnya dengan antusias.

Wahana tersebut mulai bergerak membuat mereka berdua segera berseru riang. “Baiklah. Sampai wahana ini berhenti, kita akan berlomba mengerjakan soal-soal ini. Siapa yang paling banyak mengerjakan soal dengan benar, maka dia yang akan menang.” Baekhyun berujar membuat Jimi menertawai ide konyolnya itu.

“Siapa takut! Yang kalah akan mentraktir apapun yang di inginkan si pemenang. Bagaimana?” Tantang Jimi membuat Baekhyun langsung menyetujuinya. “Satu, dua, tiga. Mulai!” Baekhyun dan Jimi langsung berkonsentrasi dengan soalnya masing-masing.

Baekhyun melirik Jimi yang tengah sibuk menghitung. Ia melirik kertas soal Jimi membuat gadis itu langsung menatapnya garang. Baekhyun tertawa lalu ia kembali fokus pada soal-soalnya. “Kau tidak akan bisa mengalahkanku. Aku mahir dalam matematika.” Baekhyun menyombongkan dirinya yang hanya di ikuti dengusan oleh Jimi.

“Kalau begitu kau sebaiknya lebih cepat karena aku sudah nomor lima dan kau baru nomor tiga.” Jimi memperlihatkan kertas soal itu lalu membandingkannya dengan kertas soal Baekhyun. “Jangan terlalu percaya diri. Belum tentu jawabanmu benar semua.” Baekhyun tertawa membuat Jimi berpura-pura kesal.

“Baiklah tuan spesialis matematika, akan ku buat kau menyesal karena telah bicara seperti itu! Jangan menyesal jika kau harus pulang dengan dompet yang kosong, eo?!” Ancam Jimi kemudian mereka berdua larut dalam tawanya.

“Aku berhasil membalapmu!” Jimi menghentikan tawanya ketika melihat Baekhyun yang kini sudah mencapai nomor tujuh. Jimi langsung kembali fokus pada soalnya, bertekad untuk tidak membiarkan laki-laki sombong itu menang.

“Ya! 28 dikali 289 berapa aku lupa! Aish jinjja!” Baekhyun menertawai Jimi yang kini sibuk menghitung namun tidak kunjung mendapatkan jawaban. “Begitu saja tidak bisa dasar payah!” Ledek Baekhyun membuat gadis itu gemas. Jimi merebut bolpoin Baekhyun membuat laki-laki itu menatapnya garang.

Jimi tersenyum jahil. Ia melempar bolpoin tersebut ke sembarang arah membuat Baekhyun harus mencarinya terlebih dahulu mengingat itu hanya satu-satunya bolpoin yang ia miliki. “Dengan begini aku bisa membalapmu!” Jimi mulai mengerjakan sedangkan laki-laki itu mendengus setelah tidak lama ia mendapatkan bolpoinnya kembali.

Bianglala itu perlahan bergerak lambat, menandai bahwa sebentar lagi wahana tersebut akan berhenti. Keduanya masih saling berlomba untuk dapat menyelesaikan beberapa soal lagi.

Baekhyun mendorong bahu Jimi membuat kertas soal Jimi tercoret dengan bolpoinnya sendiri. Jimi dan Baekhyun tertawa bersamaan. “Kau curang!” Tuduh Jimi namun Baekhyun hanya menertawainya. Baekhyun kemudian melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Jimi sibuk menghapus coretan tersebut dengan terburu-buru.

“Berhenti!” Ucap Baekhyun ketika tepat wahana tersebut berhenti. Mereka berdua berjalan beriringan, keluar dari wahana tersebut. “Kau berhasil mengerjakan berapa soal?” Tanya Baekhyun. Jimi menatapnya ragu, takut-takut laki-laki itu akan menertawainya lagi.

“15. Kau?” Jimi berujar cepat sambil mengulum senyum. “14. Aish!” Baekhyun mengacak rambutnya asal sedangkan Jimi sibuk menertawainya. “Kau harus mentraktirku!” Seru Jimi pada Baekhyun yang hanya pasrah menerima kekalahannya.

“Ayo kita ke sana!” Jimi menarik lengan Baekhyun ke food court yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang ini. Jimi segera mengambil tempat duduk sedangkan Baekhyun memesankan makanan yang di pinta Jimi.

Jimi mengetukan jemarinya pada meja food court tersebut sambil tersenyum senang. Bisa bersama dengan Baekhyun di tempat ini merupakan sebuah mimpi baginya.

Jimi menyukai Baekhyun sejak ia masuk ke sekolah menengah pertama. Saat itu Baekhyun duduk di belakangnya dan Jimi masih mengingat kejadian dimana ia mulai merasakan rasa itu untuk pertama kalinya. Saat Baekhyun membetulkan letak pita rambutnya yang berantakan. Jimi masih mengingat itu dengan jelas.

Dari situ ia jatuh cinta untuk pertama kalinya pada laki-laki bernama lengkap Byun Baekhyun itu. Jimi tidak peduli jika Baekhyun sering di marahi guru karena ia selalu saja membuat masalah karena keusilannya. Jimi terus menyukainya meskipun laki-laki itu tidak menaruh perhatian apapun pada dirinya.

Hingga sampai detik ini pun gadis itu masih menyukai apapun yang ada pada Baekhyun. Kesempatan langka ini tidak akan Jimi biarkan begitu saja. Ia ingin Baekhyun terus bersamanya seperti ini. Seperti apa yang ia impikan selama ini.

“Jika melamun seperti itu kau terlihat lebih cantik.” Baekhyun meletakan nampan berisi dua double cheese burger ukuran large, french fries, dan dua gelas cola tersebut sambil tersenyum membuat Jimi segera tersadar dari lamunannya.

“Woah, jalmokhaeseubnida!” Jimi segera melahap makanannya. “Mana kertas soalmu yang tadi? Kita akan memeriksa jawabannya dengan kunci jawaban ini.” Baekhyun mengambil kertas soal dan kunci jawaban yang berada dalam tasnya. Ia mulai memeriksa jawaban Jimi dan jawabannya satu persatu.

“Nomor 12 kau salah. Caranya sudah benar hanya saja kau harus lebih teliti dengan angkanya. Seharusnya seperti ini.” Baekhyun menjelaskan jawaban yang benar membuat gadis itu mengangguk mengerti. Mereka saling bertukar pikiran, bertanya satu sama lain mengenai soal-soal matematika tersebut sambil menyantap makanannya masing-masing.

Baekhyun merenggangkan otot-ototnya setelah selama kurang lebih satu setengah jam harus berkutat pada soal-soal tersebut bersama Jimi. Jimi memperhatikan Baekhyun yang tampak lelah. Ia menyodorkan satu potongan kentang ke arah Baekhyun membuat laki-laki itu segera menatapnya sambil tersenyum.

“Makanlah. Kau harus menjaga kesehatanmu sampai program ini selesai!” Pinta Jimi membuat Baekhyun dengan segera melahap potongan kentang tersebut membuat Jimi tersenyum kecil.

“Gomawo.” Baekhyun berujar seraya mengunyah kentang tersebut. “Seharusnya aku yang berterima kasih. Karenamu, soal-soal matematika yang menyebalkan ini jadi lebih mudah dari biasanya.” Gurau Jimi membuat keduanya tertawa bersamaan.

“Geurae? Mengaku saja jika kau jadi lebih bersemangat karena mengerjakannya sambil melihat wajah tampanku ini.” Goda Baekhyun membuat Jimi terbahak.

“Jika pada kenyataannya memang seperti itu, bagaimana?” Jimi berujar jahil membuat Baekhyun hanya tersenyum. “Jika seperti itu maka berarti kau jatuh hati padaku.” Baekhyun mengacak rambut Jimi membuat gadis itu segera merapikannya kembali.

Baekhyun menyejajarkan wajahnya pada wajah Jimi kemudian menatap kedua bola mata tersebut, lama. Ia mengambil sebuah tisu lalu membersihkan saos tomat yang berada disudut bibir gadis itu. Jimi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa gugup.

“Nah, sekarang ayo kita kerjakan ini sampai selesai.” Baekhyun tersenyum tipis kemudian ia mengambil kertas soal yang berada di sampingnya tersebut dan mulai mengerjakannya, menyelesaikan beberapa soal yang belum terjawab dengan Jimi.

Jimi rasa ia mulai menyukai matematika.

**

“Gomawo.” Jimi turun dari sepeda tersebut ketika sepeda Baekhyun berhenti tepat di depan rumahnya.

“Jangan lupa kerjakan tugasmu. Aku akan memeriksanya besok.” Baekhyun bersiap-siap untuk pergi sementara Jimi hanya mengangguk kecil. Angin di malam yang dingin itu berhembus ke arah mereka membuat mereka dapat merasakan angin dingin itu seakan menusuk-nusuk kulit mereka.

“Sana cepat masuk. Anginnya kencang sekali.” Pinta Baekhyun namun Jimi masih bergeming di tempatnya. “Apalagi? Iya aku akan mengerjakan tugasku juga, kau jangan khawatir.” Baekhyun tetawa kecil. Jimi terus memperhatikan Baekhyun yang tengah menahan dingin tersebut.

Jimi melepaskan jaket baseball berwarna merah miliknya itu lalu memasangkannya pada pundak Baekhyun membuat bibir laki-laki itu membentuk lengkungan tipis yang sangat Jimi favoritkan.

“Annyeong. Berhati-hatilah di jalan.” Ucap Jimi kemudian ia berbalik dan mulai melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumahnya.

Baekhyun memegang jaket tersebut erat. Ia merasakan rasa itu kembali.

Rasa yang telah lama tidak ia akui dan ia acuhkan. Rasa yang telah ia buang jauh-jauh. Dan entah mengapa sekarang ini ia berjanji pada dirinya untuk mempertahankan rasa itu. Ia berjanji akan memperjuangkan rasa itu dan tidak menyiakannya lagi. Baekhyun tersenyum lebar. Ia segera melajukan sepedanya cepat.

Di sisi lain, seseorang menyaksikan itu semua di balik jendela kamarnya. Laki-laki itu menatap lurus jendela kamar Jimi yang berseberangan dengan kamarnya. Ia berharap Jimi membuka jendela tersebut, memanggilnya seperti yang sering gadis itu lakukan jika ia tidak bisa tidur. Namun sepertinya semua itu hanyalah harapan yang tidak akan terwujud.

Dan seharusnya Jongin dapat menerima hal tersebut.

**

Baekhyun tengah sibuk belajar di meja belajarnya. Kejadian hari ini akan menjadi sebuah kejadian yang tidak akan pernah ia lupakan. Ia menatap jaket baseball yang berada di atas kasurnya itu sambil tersenyum tipis sembari memejamkan kedua matanya.

Park Jimi. Gadis itu, gadis yang selama ini berada di hatinya. Gadis yang membuatnya percaya pada cinta pandangan pertama.

Ya. Ia menyukai Jimi sejak pertama kali mereka bertemu atau tempatnya saat mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama. Jimi duduk di depannya dengan rambut yang selalu di ikat satu. Gadis itu menggunakan pita berwarna pink membuatnya terlihat semakin cantik bagi Baekhyun.

Baekhyun terus memperhatikannya dari jauh sampai laki-laki itu sadar bahwa ia sangat menyukai Jimi.

Baekhyun menyukai sosoknya yang sering tertawa. Baekhyun menyukai sosoknya yang tidak begitu peduli dengan penampilannya, tidak seperti gadis-gadis lain yang berusaha untuk menjadi cantik dengan baju dan berbagai dandanan yang berlebihan. Jimi begitu natural membuat Baekhyun semakin menyukainya.

Perasaan itu terus tumbuh sampai seorang laki-laki yang ia sadari terus berada di samping Jimi, mengusik hati kecilnya. Baekhyun berpikir bahwa Jimi menyukai laki-laki itu. Baekhyun menyadari bahwa mereka seperti dua pasang sandal yang tidak akan terpisahkan satu sama lain.

Awalnya Baekhyun tidak mementingkan hal itu dan terus melanjutkan perasaannya pada Jimi. Akan tetapi lama-lama ia mulai lelah.

Baekhyun berpikir bahwa Jimi tidak akan melihatnya. Baekhyun berpikir bahwa hanya Jongin yang berada di hati dan pikiran gadis itu, membuat Baekhyun harus mengubur perasaannya dalam-dalam.

Meskipun berkali-kali ia memberi tahu dirinya untuk menyerah, Baekhyun yang merasa dirinya bodoh itu terus memperhatikan Jimi dari jauh, mengikutinya kemanapun gadis itu berada.

Sampai pada kejadian yang membuat Baekhyun memutuskan untuk tidak mengikuti dan memperhatikannya lagi itu terjadi.

Sore itu Baekhyun melangkahkan kakinya menuju halte bus yang tidak begitu jauh dari sekolahnya. Ia melihat Jimi yang tengah duduk di halte tersebut dan memutuskan untuk menghampirinya. Sesekali gadis itu bergerak-gerak cemas, menunggu bus yang tidak kunjung datang sementara langit mulai gelap.

Gadis itu tidak menyadari keberadaan Baekhyun yang tengah berdiri sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya. Tidak lama, bus yang sedari tadi di tunggu datang. Jimi segera melangkahkan kakinya ke dalam bus tersebut sedangkan Baekhyun mengikutinya dari belakang.

Jimi mengambil tempat duduk di dekat jendela dan Baekhyun mengambil tempat duduk di kursi paling belakang. Baekhyun terus memperhatikan Jimi yang terlihat lelah. Gadis itu tertidur membuat Baekhyun tersenyum tipis melihat kepalanya yang sesekali terbentur jendela namun ia tetap tertidur pulas dan tidak terbangun.

Bus itu terus melaju sampai Baekhyun sadari bus tersebut telah sampai pada halte biasa tempat Jimi berhenti. Gadis itu masih tertidur. Baekhyun hendak membangunkannya namun bus yang tengah berhenti itu segera berjalan kembali. Baekhyun sempat panik namun ia tidak bisa apa-apa. Bus tersebut akan berhenti pada halte tujuannya yang letaknya cukup jauh.

Bus melaju selama kurang lebih dua puluh menit untuk sampai pada halte tujuannya. Bus tersebut berhenti dan Baekhyun tahu sebaiknya ia segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari bus tersebut namun ia mengurungkan niatnya. Beberapa menit kemudian bus tersebut kembali melaju ke halte terakhir yang letaknya lebih jauh dari halte-halte sebelumnya.

Ia terus memperhatikan punggung kecil gadis itu dengan tatapan kosong. Kurang lebih tiga puluh menit, bus tersebut berhenti pada halte terakhir. Semua penumpang segera berjalan keluar, menyisahkan Baekhyun dan Jimi yang masih duduk di tempatnya masing-masing.

Gadis tersebut terbangun dan langsung terkejut ketika menyadari bahwa ia melewatkan halte tujuannya. Jimi benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia bahkan tidak tahu dimana ia berada sekarang ini. Jimi melangkahkan kakinya keluar dari bus itu dengan langkah cepat.

Halte tersebut merupakan halte tujuan terakhir semua bus yang beroperasi di Seoul. Jimi melangkahkan kakinya dengan gemetar melihat sekelilingnya adalah deretan bus-bus kosong. Ia berusaha mencari taksi namun tidak ada satupun kendaraan yang lewat. Halte tersebut benar-benar sepi dan Jimi membenci semua hal berbau sepi.

Jimi merogoh tasnya, mencari ponselnya. Ia bersyukur ia menyimpan nomor Jongin pada handphone yang baru dibelinya kemarin tersebut. Jimi tidak tahu apa yang harus di lakukannya kecuali menangis.

“Jongin-a.” Seru Jimi ketika laki-laki itu menerima teleponnya. Tangisannya semakin menjadi-jadi.

Tidak lama Jongin datang dengan motor sportnya. Ia segera berlari memeluk Jimi yang tengah terduduk di kursi halte yang bahkan lampunya tidak berfungsi dengan baik sehingga cahayanya tidak begitu terang. Jimi menangis di pelukan Jongin, lama.

“Maaf.” Ucap Jongin masih memeluk Jimi. “Maaf karena aku tidak menemanimu pulang sehingga kau harus seperti ini.” Jimi mengeratkan pelukannya pada Jongin.

“Kim Jongin. Tetaplah bersamaku sampai kapanpun.” Jimi berujar di tengah-tengah tangisannya.

Sedangkan Baekhyun yang merasa semakin bodoh dan tidak bisa apa-apa itu hanya berdiri di balik salah satu bus seraya memperhatikan semua kejadian tersebut dengan mata kepalanya sendiri.

Baekhyun merasa bodoh. Baekhyun merasa dirinya tidak pantas untuk melindungi Jimi. Ia sangat menyesal telah menjadi seorang pengecut seperti sekarang ini. Ia memutuskan untuk tidak menyukai Jimi lagi karena Baekhyun sadar, ia sendiri tidak bisa melindungi gadis itu dengan baik.

Jika saja Baekhyun membangunkannya, Jika saja Baekhyun berani untuk menghampirinya dan memeluknya, Jika saja Baekhyun bisa membuatnya merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja seperti yang di lakukan Jongin sekarang ini, semuanya tidak akan menjadi seburuk ini.

Ia merasa tidak pantas. Dan mulai detik itu, Baekhyun menutup hatinya dan mengubur perasaannya terhadap Jimi, menyesali sifat pengecut itu selama bertahun-tahun lamanya.

Baekhyun tersadar dari lamunan panjangnya. Kali ini ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Bagaimanapun caranya Baekhyun sudah bertekad untuk memperjuangkan rasanya terhadap Jimi. Bertekad untuk melindunginya dengan caranya sendiri.

Karena sampai kapanpun, ia tidak akan bisa melepas gadis itu.

**

Jimi melangkahkan kakinya keluar rumah setelah mendengar suara bel sepeda Baekhyun di luar sana. “Selamat pagi!” Sapa Baekhyun girang yang langsung dibalas Jimi dengan tidak kalah girangnya.

Ia segera naik ke sepeda tersebut. “Tuan spesialis matematika, apa kau sudah mengerjakan tugasmu?” Tanya Jimi sembari menepuk-nepuk bahu Baekhyun. “Kaebbsong! Aku belum mengerjakannya!” Ujar Baekhyun membuat Jimi mencubit kedua pipi Baekhyun sementara laki-laki itu mengaduh kesakitan.

“Mana mungkin aku melupakan tugas yang diberikan guru secantikmu?” Gurau Baekhyun membuat keduanya larut dalam tawa masing-masing.

“Cepatlah! Nanti kita bisa terlambat, tahu.” Jimi menggerutu membuat Baekhyun dengan segera melajukan sepedanya cepat. “Pegangan yang erat.” Pinta Baekhyun kemudian sepeda ugal-ugalan itu berjalan cepat menusuri jalanan Seoul.

Sedangkan satu laki-laki lain yang kini menatap mereka berdua dari jendela kamarnya itu hanya bisa menghela napas berat. Laki-laki itu mengacak rambutnya asal.

“Kim Jongin, sudahlah.” Ucap seseorang yang kini tengah menyandarkan dirinya pada meja belajar Jongin. Ia melempar Jongin dengan gulungan kertas coretan membuat Jongin menangkisnya dengan kesal.

“Kau tidak mengerti rasanya, hyung.” Ucap Jongin membuat laki-laki yang diketahui bernama lengkap Lee Taemin itu tertawa kecil. “Kau sudah dewasa. Berubahlah menjadi sedikit dewasa, Kim Jongin.” Pinta Taemin serius membuat Jongin menghela napas berat.

Taemin memutuskan untuk pergi ke rumah Jongin sebelum ia ke sekolah. Pasalnya partnernya itu terus mengacuhkan semua pesan singkat dan panggilan masuknya sehingga hari pertama yang seharusnya mereka gunakan untuk belajar itu terbuang sia-sia. Dan Taemin rasa ia yang perlu membujuk anak malas itu agar mau belajar.

Ternyata dugaannya benar. Jongin malah memutuskan untuk tidak bersekolah hari ini dan sepertinya Taemin sudah tahu apa alasan dibalik itu semua.

“Jangan hanya karena hal ini kau mengacuhkan belajarmu. Kau kan sudah janji padaku untuk kuliah di luar negeri?” Taemin menatap Jongin yang sudah dianggap sebagai adik kandungnya itu, lama.

Taemin menghampiri Jongin lalu menepuk pundaknya pelan. “Jika laki-laki itu merupakan pilihannya maka kau harus menerimanya dan mendukungnya meskipun itu sulit.”

“Kau ingat? Banyak orang bilang jika cinta itu tidak harus memiliki. Jika yang kau takuti adalah kehilangannya, maka kau bodoh. Gadis itu tidak akan meninggalkan atau melupakanmu. Kau yang menjauh. Kau yang membiarkan hal itu terjadi. Bukan dia. Benar kan?” Jongin menatap lurus jendela kamarnya tersebut. Ia benci mengakui bahwa apa yang diucapkan Taemin memang benar adanya.

“Jadi aku harus apa, hyung?” Tanya Jongin tanpa melihat Taemin yang masih menepuk-nepuk pundaknya. Ia benci menjadi laki-laki cengeng seperti ini.

“Berlakulah seperti biasa. Memangnya setelah gadis itu mempunyai kekasih kau tidak bisa mengobrol lagi dengannya? Cukup berada disisinya sebagai seorang teman tidak ada salahnya.” Jongin kembali menghela napas. Ia kemudian mengangguk membuat Taemin tersenyum samar.

“Tidak apa jika kau mau istirahat hari ini. Sepulang sekolah aku akan kesini lagi. Kita tidak boleh meninggalkan tugas kita. Ingat, waktu kita untuk belajar tinggal sedikit. Kau harus berjuang untuk mewujudkan mimpi yang kau janjikan padaku itu, arra?!” Taemin berjalan keluar, meninggalkan Jongin yang masih bergeming di tempatnya.

Mulai sekarang Jongin akan membiarkan Jimi bahagia. Jongin tidak akan menghalangi gadis itu lagi.

Meskipun itu semua terasa sangat sulit.

**

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Terhitung sudah tiga minggu program tersebut terlaksana, dan selama tiga minggu itu Jimi terus menghabiskan waktunya dengan Baekhyun untuk mengerjakan semua soal-soal yang diberikan Lee seonsaengnim.

Ia melupakan seseorang yang tinggal di seberang rumahnya. Ia melupakan semua yang berbau Jongin tanpa ia sendiri sadari. Jimi menghentikan kegiatan belajarnya kemudian memperhatikan jendela kamar Jongin di balik gorden kamarnya. Jendela itu tampak terang karena cahaya lampu dari dalam kamar tersebut.

Jongin selalu menghindarinya di sekolah. Bahkan ia memilih untuk duduk di tempat duduk paling belakang membuat Jimi harus duduk sendirian. Jimi juga tidak pernah saling bertegur sapa dengannya. Mereka hanya bertatapan satu sama lain namun tidak ada yang memulai pembicaraan. Jimi sadar ia mulai merindukan laki-laki itu. Ia mulai merindukan sosok Jongin.

Jimi membuka jendelanya kemudian ia melemparkan penghapusnya ke jendela kamar Jongin, berusaha untuk memanggilnya. Namun percuma, Jongin tidak kunjung muncul bahkan setelah sepuluh menit Jimi menunggunya. Jimi menutup jendelanya kembali.

Ia hanya ingin tahu kabar laki-laki yang belakangan ini menjadi lebih pendiam dan menutup diri dari lingkungan sekitarnya itu. Ia hanya ingin menanyai Jongin bagaimana progress belajarnya dengan partnernya. Ia hanya ingin bertanya apakah ia sudah siap dengan ujian akhir. Ia hanya ingin berjumpa dan saling bercerita kembali seperti dulu.

Jimi benar-benar merindukan Jongin.

**

Hari ini merupakan hari terakhir program tersebut terlaksana. Baekhyun dan Jimi memutuskan untuk memilih sebuah café sebagai tempat belajar mereka kali ini. Baekhyun memandangi Jimi yang masih asik bergumul dengan soal-soal tersebut. Sesekali gadis itu menyesap cappuccino lattenya.

“Tidak terasa hari ini adalah hari terakhir.” Ucap Baekhyun membuat Jimi langsung memperhatikannya. “Aku senang bisa belajar bersamamu seperti ini.” Sambung Baekhyun seraya tersenyum.

“Nado. Kini aku bahkan dapat mengerjakan semua soal matematika ini sendiri. Terima kasih banyak padamu.” Jimi tersenyum lebar. Dalam hati ia tidak rela jika hari-hari kedepan nanti Baekhyun mungkin tidak akan menghiasi hari-harinya seperti ini lagi. Jimi tidak akan berjumpa dengan Baekhyun sesering ini. Jimi tidak akan melihat sepeda merah itu di depan rumahnya lagi. Ia sungguh tidak rela.

“Kalau kau ingin bertanya sesuatu padaku kau bisa menelpon atau mengirimiku pesan.” Baekhyun mengacak rambut Jimi membuat gadis itu tersenyum samar. “Aku akan merindukan suara bel sepeda itu.” Gumam Jimi yang dapat di dengar Baekhyun. Baekhyun tertawa pelan.

“Aku pasti juga akan merindukan seseorang yang selalu bertanya tentang perkalian jika sedang mengerjakan soal matematika.” Ledek Baekhyun membuat Jimi berpura-pura marah.

“Kau harus melewati ujian akhir itu dengan baik. Kau harus berhasil masuk ke universitas yang kau inginkan itu.” Jimi menepuk-nepuk bahu Baekhyun membuat laki-laki itu tersenyum sambil mengangguk.

“Baekhyun-a.” Panggil Jimi membuat Baekhyun menatap lurus kedua bola mata gadis itu. “Ada apa?” Tanyanya. Jimi menatapnya ragu.

“Apa kita masih bisa bertemu setelah lulus nanti?” Baekhyun tersenyum kecil. Ada sebuah perasaan bahagia menjalar ke seluruh sudut hatinya.

“Tentu saja. Aku akan selalu bersamamu sampai kapanpun.” Baekhyun berujar serius membuat Jimi menatapnya tidak percaya. “Kau percaya pada cinta pada pandangan pertama?” Tanya Baekhyun sementara Jimi berusaha untuk mengkontrol detak jantungnya yang berdebar dua kali lebih cepat itu.

“Aku menyukaimu.” Baekhyun berujar cepat. Ia terus menatap kedua bola mata Jimi, berusaha menunjukan keseriusan akan ucapannya barusan.

“Aku menyukaimu saat pertama kali kita bertemu. Kau ingat? Saat itu kau duduk di depanku, membuatku semakin menyukaimu.” Jimi menatap Baekhyun dengan berkaca-kaca. Jika ini adalah sebuah mimpi maka Jimi tidak ingin secepat itu bangun dari mimpi indah ini.

“Aku ingin melindungimu namun aku tidak bisa. Saat itu aku menyesali sifat pecundang yang ada dalam diriku. Aku menjauhkan diriku darimu karena aku sendiri merasa tidak pantas untuk menyukaimu dan berada di dekatmu.” Baekhyun tertunduk. Bahkan laki-laki itu tidak pernah seserius ini sebelumnya.

“Kini aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menjadi pecundang itu lagi. Aku berjanji akan melindungi dan mencintaimu dengan caraku sendiri.” Baekhyun menggenggam kedua tangan Jimi membuat gadis itu menahan tangisnya yang akan pecah.

“Tetaplah bersamaku. Karena sampai kapanpun, aku tidak akan bisa menjauh darimu.” Jimi tertawa pelan ketika air matanya menetes. Baekhyun menghapusnya perlahan.

“Would you be mine?”

Jimi tidak tahu lagi bagaimana cara mendeskripsikan rasa bahagia itu.

**

Ujian tinggal tiga hari lagi. Baekhyun dan Jimi terus fokus menyiapkan diri mereka. Begitu pula dengan Jongin. Jongin yang di bantu Taemin, terus mengerjakan semua latihan-latihan soal dari berbagai macam buku yang dibelinya. Ia benar-benar bertekad untuk bisa melewati ujian tersebut dengan sebaik mungkin.

“Kau yakin tidak ingin menyemangatinya? Ujian akan dilaksanakan sebentar lagi.” Taemin menghentikan kegiatan belajarnya sementara Jongin masih berkutat pada soal-soalnya.

“Bagaimanapun juga, dia itu seseorang yang berarti untukmu. Kau tidak bisa seperti ini terus. Kau tidak bisa menyiksa dirimu seperti ini terus, Jongin-a.” Saran Taemin membuat Jongin menghentikan kegiatannya.

“Kau sendiri yang bilang aku harus merelakannya. Hanya dengan cara ini aku dapat melakukan hal itu.” Jawab Jongin tanpa berniat.

“Aku mengerti. Hanya saja, kau terkesan memusuhinya. Kau harus menghadapinya. Jangan menjadi seorang pengecut, Kim Jongin.” Pinta Taemin membuat Jongin segera menatapnya.

“Sana pergilah. Temui dia.” Jongin menatapnya ragu. Ia ingin menghampiri gadis itu. Ia ingin menyemangati gadis itu. Ia ingin memberitahu bahwa gadis itu pasti bisa melewati ujian akhirnya dengan baik.

“Tunggu disini.” Jongin melangkahkan kakinya menuju rumah Jimi yang berada di seberang rumahnya. Kali ini ia akan melakukan hal yang hatinya ingin lakukan.

Jongin menekan bel rumah tersebut dengan ragu. Tidak lama gadis yang sangat di rindukannya itu muncul dengan piyama berwarna pinknya. Jongin merasa perutnya seakan diremas. Ia sangat merindukan gadis itu. Sangat merindukannya.

Gadis itu berlari memeluknya. “Kim Jongin.” Jimi menangis tertahan. “Aku merindukanmu.” Balas Jongin membuat tangisan Jimi pecah saat itu juga.

“Apa kabar?” Tanya Jongin sementara Jimi memukulinya pelan. “Dasar bodoh. Aku pikir kau marah padaku.” Jimi mengacuhkan pertanyaan Jongin. Ia memeluk laki-laki itu erat.

“Aku tidak marah. Aku hanya cemburu. Ku dengar kau sudah jadian dengan Baekhyun? Selamat. Akhirnya kau mewujudkan mimpi itu ya Park stalker.” Jongin tertawa kecil sementara Jimi hanya terdiam. Ia melepaskan pelukannya lalu menatap Jongin, lama.

“Aku cemburu. Aku cemburu pada Baekhyun. Itu sebabnya aku menjauhkan diriku darimu. Aku tidak ingin mendengar kau bercerita tentang laki-laki itu jika sedang bersamaku. Aku tidak ingin kau memikirkan laki-laki itu jika sedang bersamaku.” Jongin menatap Jimi yang tidak bergeming itu. Kali ini ia akan memberitahu gadis itu mengenai apa yang ia rasakan selama ini, meskipun laki-laki itu sudah dapat menebak bagaimana akhir ceritanya.

“Aku hanya ingin kau melihatku. Hanya melihatku. Namun semua itu ternyata hanya sebuah harapan yang tidak akan terwujud.” Jimi kini sibuk menghapus air mata yang keluar begitu saja sementara Jongin terus melanjutkan perkataannya.

“Kemudian sekarang aku sadar selama sebulan lebih ini aku telah melakukan sebuah kesalahan. Aku tidak seharusnya mengacuhkanmu. Aku tidak seharusnya menjauhkan diriku darimu. Bagaimanapun juga, kau lah yang selalu bersamaku selama 17 tahun terakhir ini.” Jongin menghela napas panjang.

“Aku seharusnya mendukungmu dan turut bahagia melihatmu bersama Baekhyun. Aku seharusnya menghargai pilihanmu. Maafkan aku.” Jimi tertunduk berusaha untuk menghentikan tangisannya.

“Kini aku hanya berharap aku bisa terus melihatmu tersenyum seperti itu setiap Baekhyun menjemput dan mengantarmu pulang. Aku hanya berharap kau bisa terus bahagia bersamanya.” Jongin mengacak rambut Jimi membuat gadis itu semakin larut dalam tangisnya.

“Semangat untuk ujian akhirmu. Aku harap kau bisa masuk ke universitas yang sedari dulu kau impikan itu. Aku juga akan mengejar cita-citaku dan berusaha keras. Sekarang masuklah dan belajarlah kembali.” Pinta Jongin sementara Jimi hanya mengangguk.

“Kau juga harus bersemangat, Kim Jongin. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih karena sudah terus bersamaku selama ini.” Jimi memeluk Jongin kemudian kembali menangis. Jongin menepuk pundaknya sembari mengelus rambutnya, menenangkan gadis itu.

“Aku akan terus menyayangimu dan aku harap kau mengingatnya selalu.” Bisik Jongin namun Jimi masih bisa mendengarnya dengan jelas. Jimi mempererat pelukannya pada Jongin.

Jongin rasa kini ia benar-benar dapat melepas gadis itu.

**

“Selamat atas kelulusanmu, sayang. Kami bangga padamu.” Nyonya Park memeluk Jimi dengan haru. Nyonya Park bahkan menangis, menyadari Jimi yang kini sudah semakin besar dan akan memasuki universitas sebentar lagi.

“Terima kasih, eomma, appa!” Jimi memeluk kedua orang tuanya. “Baekhyun-ssi, selamat juga untukmu.” Nyonya Park menghampiri Baekhyun yang berada disebelah Jimi.

“Selamat karena kau bisa menduduki peringkat ketiga itu. Jimi-ya, jika diperhatikan kembali, mengapa kekasihmu ini keren sekali, eo?!” Nyonya Park menepuk bahu Baekhyun membuat Baekhyun segera berbungkuk, berterima kasih atas pujian tersebut.

“Kalau begitu, sekarang ayo kita foto sebagai kenang-kenangan.” Tuan Park memotret Jimi, Baekhyun dan Nyonya Park setelah mereka bersiap. Tuan Park juga meminta tolong orang lain untuk memotret mereka berempat.

Keluarga kecil itu sibuk berfoto-foto. Keluarga yang lain juga melakukan kegiatan yang sama. Salah satu di antaranya adalah keluarga Jang Surin, teman kelas Jimi yang tidak Jimi duga-duga dapat menduduki peringkat kedua dibawah Oh Sehun. Kerja keras memang akan membuahkan hasil yang baik.

Jimi tersenyum ke arah Surin beserta keluarganya tersebut yang dibalas lambaian tangan oleh Surin. Terdapat Sehun yang tengah merangkul Surin membuat Jimi tertawa tertahan mengingat dua sejoli itu telah jadian beberapa waktu yang lalu.

Anak-anak kelas menjuluki mereka sebagai pasangan ‘cinta lokasi’. Kedua sejoli yang berhasil menduduki peringkat satu dan dua itu menjadi pasangan yang kini dikenal oleh satu sekolahan, sebagai pasangan program ‘My Partner My Teacher’ paling berhasil. Itu sebabnya mereka dikerubungi oleh siswa-siswi lain yang sibuk meminta foto bersama.

Jimi mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, mencari sosok Jongin namun ia tidak kunjung menemuinya. Jimi tidak melihat laki-laki berkulit cokelat itu sejak acara kelulusan ini dimulai.

Baekhyun yang menyadari hal itu segera merangkul Jimi dan memohon diri untuk pamit sebentar kepada orangtua Jimi yang segera disetujui oleh keduanya. Kedua orangtua Jimi kemudian sibuk bercengkrama dengan kerabat-kerabatnya yang tampak hadir pada acara kelulusan tersebut untuk menemani putra dan putrinya.

Baekhyun membawa Jimi ke sebuah kelas yang tidak begitu jauh dari ruang serba guna tempat acara kelulusan tersebut dilaksanakan. Baekhyun mengeluarkan sebuah laptop sementara Jimi tidak mengerti apa yang sedang dilakukan kekasihnya itu.

“Jongin memberikan surat dan kaset ini padaku kemarin.” Baekhyun menyerahkan surat dan kaset tersebut pada Jimi. Jimi menatapnya ragu kemudian menerima surat dan kaset tersebut. “Kau ingin menontonnya?” Tawar Baekhyun kemudian Jimi mengangguk perlahan.

Tidak lama tampak sosok Jongin yang tengah duduk muncul pada layar laptop tersebut.

Jongin tampak membetulkan letak kamera tersebut. “Test. Hai.” Jongin melambaikan tangannya perlahan.

“Selamat untuk kelulusanmu, Park Jimi. Dan kau juga, Byun Baekhyun. Maafkan aku yang tidak bisa menghadiri acara kelulusan itu karena sekarang ini aku mungkin sedang ada di pesawat. Ya, aku berhasil mewujudkan mimpiku.” Jongin berdeham.

“Sebuah universitas di London menghubungiku setelah hasil ujian akhirku keluar. Mereka juga sudah melihat semua dokumen yang telah lama aku kirimkan dan akhirnya aku terpilih dari beribu atau mungkin berjuta-juta orang yang mendaftar di universitas tersebut. Sedikit menyombongkan diri itu tidak salah, kan?” Ia tertawa kecil. Jimi kini masih menatap layar laptop tersebut. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya.

“Jimi-ya. Aku dan keluargaku akan menetap di London dan mungkin rumah kami akan di kontrakan. Maaf baru memberitahumu soal ini. Kedua orangtuaku sudah memberitahu orangtuamu terlebih dahulu. Mereka memintaku untuk memberitahumu langsung dan aku tidak menyangka akan memberitahumu dengan cara seperti ini. Maafkan aku.” Jongin masih tersenyum membuat tangisan gadis itu semakin menjadi-jadi.

“Aku sendiri juga tidak tahu kapan aku akan kembali lagi ke Seoul. Aku rasa kemungkinannya akan kecil. Tapi suatu saat aku akan kembali untuk mengunjungimu. Suatu saat ketika kau sudah punya anak kecil yang lucu bersama Baekhyun.” Gurau Jongin. Jongin tampak berkaca-kaca dan akan menangis namun Jimi tahu laki-laki itu menahan air matanya.

“Ku dengar kau dan Baekhyun sudah diterima di universitas yang sama? Woah, selamat untuk kalian berdua. Hm, baiklah sepertinya sudah cukup. Sudah dulu ya. Sukses terus untuk kalian!” Jongin mematikan kamera tersebut membuat video itu berhenti berputar. Jimi sibuk menangis sementara Baekhyun hanya dapat memeluknya dan menenangkannya.

“Uljima. Ia sudah berhasil menggapai mimpinya dan seharusnya kau senang.” Baekhyun mengelus rambut kekasihnya itu membuat Jimi semakin terlarut dalam tangisannya.

Jimi memeluk Baekhyun erat. “Aku akan selalu disini, menemani hari-harimu kedepan dan aku berjanji untuk tidak akan pernah pergi.” Baekhyun berujar pelan membuat Jimi mengangguk mengerti dalam pelukannya.

Kini ia harus merelakan Jongin. Meskipun sulit, ia akan belajar. Karena Jimi tahu Jongin sedang berusaha untuk mewujudkan semua mimpi dan cita-cita besarnya disana.

**

15 tahun kemudian.

“Eomma! Appa! Mana paman yang kalian ceritakan itu? Mengapa tidak kunjung datang juga? Ia itu keong atau apa sih?!” Seorang anak kecil berumur lima tahun itu terus mengoceh membuat kedua orangtuanya menghela napas bersamaan.

“Byun Baekji bersabarlah!” Jimi memarahi anaknya itu membuat anak perempuan bernama Baekji itu mengercutkan bibirnya. “Kau cerewet seperti ibumu.” Tambah Baekhyun yang langsung diikuti tatapan membunuh dari Jimi.

“Kau tidak sabaran seperti ayahmu.” Sambung Jimi membuat anak itu menghela napas, sudah terbiasa dengan kelakuan ayah dan ibunya tersebut.

“Itu dia!” Jimi dengan segera mengendong Baekji. Mereka sekeluarga menghampiri orang yang mereka maksud tersebut.

“Kim Jongin! Kau masih tampan seperti dahulu.” Baekhyun menepuk bahu Jongin membuat laki-laki itu tertawa kecil. “Apa kabar kalian semua? Oh astaga jadi ini Byun Baekji yang sering kalian ceritakan?” Jongin segera mencubit pipi Baekji membuat anak perempuan itu hanya menatapnya.

“Paman bahkan lebih tampan dari appa. Bagaimana bisa eomma memilih appa dari pada paman?!” Baekhyun mencubit pipi Baekji membuat yang lain tertawa bersamaan.

“Baekji-ya. Ada toko ice cream disebelah sana. Ayo kita kesana dulu.” Baekhyun mengambil alih Baekji dari gendongan Jimi.

Baekhyun tahu Jimi membutuhkan waktu untuk berbicara berdua dengan Jongin. Baekhyun berusaha untuk memberikan sela tersebut. Ia langsung membawa Baekji ke salah satu toko ice cream yang terdapat di sudut bandara tersebut.

“Long time no see.” Sapa Jongin ketika Baekhyun dan Baekji telah menghilang dari pandangan mereka. “Aku merindukanmu.” Ucap Jongin dengan segera ia merangkul Jimi membuat Jimi tersenyum senang.

“Baekji mirip sekali denganmu. Hanya saja ia lebih cantik karena matanya mirip dengan Baekhyun.” Ujar Jongin membuat Jimi tertawa kecil. “Mana kekasihmu?” Jongin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

“Aku baru saja akan berencana untuk memacari Baekji.” Gurau Jongin membuat Jimi menyikut perutnya pelan sambil tertawa pelan.

Karena sampai kapanpun. Jongin hanya akan mencintainya. Mencintai wanita bernama Park Jimi.

**

Malam dihari setelah serangkaian pesta kelulusan tersebut selesai digelar, Jimi membenamkan wajahnya pada bantalnya, menangis sepuas-puasnya.

Jimi memutuskan untuk membuka amplop berisi surat pemberian Jongin yang belum sempat dibacanya itu.

Tangisan Jimi menjadi-jadi setelah melihat isi amplop putih tersebut.

large (8)e

-FIN

Advertisements

4 comments

  1. eleonoranovena · November 17, 2014

    Keren bgt akhhh!!!!!! Kasian jongin :(( udh sama aku aja sini :” longlast baekhyun jimi ouo

  2. Diva_deer2121 · November 21, 2014

    Bagus banget Jane! Huwaaaa sedih pas baca terakhir2nya 😥 kasian Kkamjong. Tapi ceritanya seruuu~~~
    Lanjut terus bikin ff lainnya chingu!! Hwaiting 😉

  3. ab_ejt · November 24, 2014

    Hahaha…
    Lucu Jane bacanya…

    Mau reques dong

  4. realljo · December 13, 2014

    antara geli geli gt sih bacanya antara lucu suka gt tapi inget baekhyun udah milik orang laen kok w jadi nano nano ni bacanya tapi sumpah bagus dan kreatip bgt sih ya gitudeh idup emang ada friendzone nya ya ngin ya sabar aj tar sequelin jimi ama baekhyun joanne ama jongin wakwaw pasti lucu bgt kan ini aja perut w langsung geli gt pas tau jimi ama baekhyun punya anak ciwei yaampun bahagia gt tapi mengingat jongin masi cinta ma jimi tuh kek kita ga ditakdirkan bersama banget padahal nama udah J ama J gt kan cocok bgt kalo pacaran YA FF INI SIH SUKSES BIKIN W GAGAL MUVON YA TQ AUTHOR NYA TQ BGT. btw kecewa ya kenapa ama baekhyun yang udah milik orang lain bukan sama jongin yang single nih tq author dari jimi di senen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s