About Us

large (1)

Watch out! A long–twoshoot–part one–story. Happy reading!

~~

Jimi membuka matanya dengan terpaksa setelah suara alarm yang paling di bencinya itu menusuk gendang telinganya. Jimi bangkit dari tidurnya dan meraih alarm tak bersalah yang di kategorikannya sebagai benda paling sialan di bumi, dengan kasar lalu mematikannya. Jimi membuang alarm tersebut ke sembarang arah, tampak tidak peduli jika ‘alarm sialan’ itu rusak di buatnya.

Jimi menguap sambil mengacak rambutnya asal. Gadis kelahiran bulan Febuari itu masih setengah sadar dan memutuskan untuk kembali tidur untuk beberapa menit lagi. Saat ia hendak menarik selimut pink kesayangannya dan kembali tertidur, seseorang yang tengah mendengkur di sebelahnya membuat gadis itu segera terbangun sepenuhnya.

“YA! KIM JONGIN!!! SUDAH BERAPA KALI AKU BILANG JANGAN PERNAH KETIDURAN DI SINI LAGI! AISH NEO JINJJA!” Jimi berteriak membuat Jongin sempat terbangun dengan mata setengah terbukanya. Ia tampak tidak begitu peduli dan memutuskan untuk kembali menenggelamkan wajahnya pada boneka teddy bear milik Jimi.

“Diamlah Park Jimi. Kau ini berisik sekali sih.” Jongin membalas, membuat Jimi tidak habis pikir. Ini rumahnya. Ini kamarnya. Lalu apa hak Jongin untuk menyuruhnya diam? Jimi turun dari kasurnya lalu menarik selimut yang membungkus sebagian tubuh laki-laki itu dengan kasar.

“YA! Kim Jongin! Ppali ireona!” Jimi memukul lengan laki-laki bernama Jongin yang kini malah kembali mendengkur membuat Jimi semakin gemas di buatnya.

“Mengapa kau selalu ketiduran di sini sih?! Baiklah jangan salahkan aku kalau besok-besok kita hanya akan mengerjakan tugas sekolah di halaman depan. Dengan begitu, akan sangat mudah untuk menendangmu keluar rumah jika kau tertidur lagi!” Jimi kembali memukul Jongin tetapi tidak ada reaksi apapun dari laki-laki yang sedari dulu sudah memasukan kata-kata ‘tidur’ kedalam daftar hobinya tersebut.

“Nanti jika kita sudah menikah kita juga akan tidur satu kamar, bukan?! Lalu apa salahnya untuk latihan terlebih dahulu?” Jongin berujar asal sambil sesekali menguap. Ia mulai mencari posisi yang nyaman untuk kembali tertidur.

“Aish dasar gila! Siapa juga yang mau menikah denganmu? Aku hanya akan menikah dengan Byun Baekhyun! Aku tekankan ya, rumahmu di seberang sana apa sih susahnya kembali ke rumahmu kalau kau mau tidur?! Dasar laki-laki menyebalkan!” Jimi merasa seluruh darahnya mulai naik ke kepala. Laki-laki yang telah menjadi sahabatnya sejak ia pertama kali tiba di dunia tersebut benar-benar membuatnya sangat kesal. Tidak, bukan hanya sangat. Tetapi sangat sangat dan sangat kesal.

Ya, memang benar bahwa laki-laki dengan perawakan tinggi dan berkulit coklat bernama Kim Jongin itu adalah sahabat Jimi sejak pertama kali gadis itu di lahirkan di dunia ini. Ibu mereka adalah sahabat yang dengan konyolnya membuat perjanjian untuk melahirkan anak pertama mereka secara bersamaan. Dalam waktu yang sama dan tentu rumah sakit yang sama.

Dari situlah awal kisah hidup mereka di mulai. Tidak ada yang spesial dari kehidupan mereka berdua. Yang membuat kehidupan yang biasa-biasa saja itu menjadi spesial adalah adanya sosok Jongin bagi Jimi dan adanya sosok Jimi bagi Jongin kemana pun, dimana pun, dan kapan pun. Sejak keduanya mulai masuk ke taman kanak-kanak bahkan sampai mereka masuk ke sekolah menengah atas sekarang ini.

Tumbuh bersama, bermain bersama, ke sekolah dan pulang sekolah bersama, makan bersama dan bahkan liburan keluarga bersama. Mereka benar-benar tidak terpisahkan. Seakan Jimi adalah sebuah kertas putih dan Jongin adalah pensil yang mengisi kertas putih tersebut.

Ibu mereka masing-masing juga semakin dekat dan seakan tidak mau mereka terpisahkan satu sama lain. Setiap tahun kenaikan kelas, baik ibu Jongin maupun ibu Jimi selalu bekerja sama dan meminta kepada kepala sekolah agar Jongin dan Jimi bisa duduk bersama di satu kelas. Mereka pula yang memutuskan untuk membangun rumah berseberangan dengan alasan agar Jimi dan Jongin dapat selalu bermain bersama.

Semuanya terasa begitu cepat sampai-sampai Jongin dan Jimi tidak sadar bahwa ini adalah tahun terakhir mereka duduk di bangku sekolah. Mereka tidak sadar bahwa sebentar lagi mungkin saja mereka akan berpisah untuk pertama kalinya. Memasuki kehidupan universitas yang luas itu sesuai dengan minat mereka masing-masing. Mereka sama sekali tidak menyadarinya.

“Aish. Baiklah, baiklah aku bangun!” Jongin terduduk di kasur sementara Jimi menghela napas kemudian memutuskan untuk tidak peduli pada laki-laki itu lagi. Ia membuka lemari pakaiannya dan setelah mengambil seragamnya ia dengan segera berjalan menuju ke kamar mandi yang terletak di sudut kamarnya.

“Cepat sana pulang! Hari ini ada ulangan matematika jangan coba-coba untuk bolos, arrachi?!” Jimi segera menutup pintu kamar mandi berwarna pink itu dengan keras membuat Jongin yang tengah asik menguap terbangun sepenuhnya karena terkejut.

“Aish! Gadis berisik!” Jongin beranjak dari kasur dan hendak berjalan ke arah pintu kamar untuk meninggalkan kamar yang Jongin anggap sebagai kandang macan ini akan tetapi, foto-foto dari hasil kamera polaroid yang tergantung di dekat meja belajar Jimi menarik perhatian Jongin. Ia mendekat dan memperhatikan foto-foto itu satu persatu.

“Woah, rupanya kau memang benar-benar fans Byun Baekhyun. Dasar Park stalker!” Jongin berbicara pelan lalu mendecak setelah melihat bahwa foto Baekhyun lah yang tergantung di sana.

“Bahkan aku lebih tampan darinya.” Jongin mencabut semua foto-foto itu lalu meletakannya ke laci meja Jimi. Ia terkejut melihat foto polariod dirinya dan Jimi yang tengah bermain salju, yang di ambil kira-kira 5 tahun yang lalu itu berada di laci meja tersebut. Jongin dengan segera mengambil foto mereka berdua itu dan menggantungnya pada gantungan tempat foto-foto Baekhyun tadi berada. “Nah sekarang lebih baik.”

Jongin kemudian berjalan ke arah pintu kamar serba pink itu dengan riang, hendak kembali ke rumahnya di seberang sana. “ Jimi-ya! Aku tunggu kau di halte 15 menit lagi. Jangan telat!” Jongin berteriak keras membuat Jimi membalasnya dengan “Oke” yang juga tidak kalah kerasnya.

**

“Kau telat lima menit lebih 37 detik.” Jongin menatap aplikasi stopwatch pada ponsel berlayar sentuhnya itu tanpa memandang Jimi yang tengah bersusah payah untuk mengambil napas.

“Yang penting, aku hanya telat lima menit, bukan lima jam. Ah! Itu bus nya! Ppali Jongin-a!” Jimi berlari memasuki bus berwarna hijau itu dengan gerakan tergesa sedangkan Jongin hanya mengikutinya dengan malas. Jimi mengambil duduk di dekat jendela dan Jongin segera duduk di sebelahnya.

“Jongin-a, lihat lah. Aku membuatkan cokelat khusus untuk Baekhyun. Eotte? Lucu, kan?” Jimi memperlihatkan cokelat yang di bungkus dengan kotak berwarna pink itu dengan bangga.

“Makan cokelat hanya akan membuat orang gemuk. Simpan saja cokelatmu itu. Baekhyun pasti tidak akan menyukainya. Aku pun tidak akan menyukainya jika kau memberikannya padaku.” Jongin berujar malas sambil terus memainkan games yang ada pada ponselnya dengan tidak berniat.

“Baekhyun itu berbeda denganmu! Dia selalu bersikap manis pada wanita, kau tahu?” Jimi memasukan kotak cokelat itu ke dalam tas dengan kesal. “Mungkin maksudmu, ‘para wanita’?” Jongin berujar sarkastik membuat Jimi ingin menimpuknya saat ini juga.

Pasalnya Jongin selalu saja bersikap seperti ini jika Jimi sudah membahas laki-laki yang di sukainya sejak dari sekolah menengah pertama tersebut. Jimi tahu bahwa Baekhyun merupakan saingan laki-laki itu dalam bidang apapun di sekolah maupun di kelas, tapi tidak bisakah Jongin mengerti dirinya sekali ini saja? Mengerti dirinya yang sangat menyukai laki-laki bernama Byun Baekhyun tersebut?

Jimi menghela napas, berusaha untuk tidak memperpanjang kekesalannya pada Jongin. Jimi baru teringat akan satu kotak cokelat kecil yang juga sudah ia siapkan untuk laki-laki berkulit cokelat yang menyebalkan itu. Ia merogoh tasnya lalu tersenyum jahil.

“Ehem, kalau begitu cokelat yang satu ini sangat disayangkan harus aku buang.” Jimi melirik Jongin yang masih asik dengan ponselnya, sambil sesekali pura-pura terbatuk agar Jongin melihatnya yang kini tengah mengacungkan satu kotak kecil berwarna putih ke arahnya.

“Cokelat khusus untuk orang berkulit cokelat.” Jongin segera memandang Jimi cepat. Jimi tersenyum penuh kemenangan.

“Ah, padahal aku sudah susah payah membuatnya. Kau benar-benar tidak akan menyukainya? Baiklah kalau begitu yang satu ini aku buang saja.” Jimi baru akan memasukan cokelat itu ke dalam tas ranselnya tetapi Jongin menahan tangannya dan menarik cokelat tersebut dengan gerakan cepat. “Ka-kan sayang kalau di buang. Buatku saja!” Jongin berdalih membuat Jimi tertawa tertahan.

“Itu memang untukmu. Happy White Day, Kim Jongin!” Jimi memeluk leher Jongin membuat laki-laki itu tersenyum seketika.

**

Jam istirahat pun tiba, para siswa langsung berhamburan keluar ruangan membuat kelas menjadi sepi dan hanya menyisahkan Jongin dan Jimi yang masih sibuk pada tugasnya.

“Aish. Tugas ini membuatku muak.” Jimi mengutuk buku cetak matematika tersebut membuat Jongin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa berkomentar seolah sudah hafal mati keluhan yang Jimi keluarkan setiap berhadapan dengan buku cetak matematika.

“Jongin-a, tunggu di sini. Aku ke lokerku dulu. Ada yang aku tinggalkan di dalam sana.” Jimi mengambil cokelat yang di buatnya untuk Baekhyun yang berada di tasnya, berniat untuk menyimpan cokelat tersebut di lokernya terlebih dahulu. Jongin yang kini masih sibuk melanjutkan tugas yang tadi di berikan Hwang seonsaengnim, hanya mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan dari buku cetaknya.

“Yakin tidak mau aku temani?” Jimi melayangkan jitakannya pada kepala Jongin membuatnya mengaduh kesakitan. “Memangnya aku anak kecil?!” Jimi segera bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan.

Gadis berambut lurus dengan warna hitam pekat itu mulai menusuri lorong-lorong sekolah menuju ke tempat lokernya berada. Ia berniat untuk mengambil sketch book yang ia tinggalkan di dalam sana sekaligus menyimpan cokelat yang belum siap ia berikan pada Baekhyun tersebut.

Menggambar di sketch book kesayangannya itu pasti dapat membunuh rasa penatnya setelah bertempur dengan tumpukan soal prediksi mata pelajaran matematika yang nanti akan keluar pada ujian akhir, batinnya.

Langkah Jimi terhenti ketika ia melihat Baekhyun yang tengah berjalan berlawanan arah dengannya. Ia menyembunyikan kotak berwarna pink itu ke belakang tubuhnya. Baekhyun yang sudah melihatnya dari jauh dengan segera melemparkan senyumannya membuat Jimi hampir mati kehilangan oksigen.

Langkah kaki mereka berdua seakan memaksa mereka untuk semakin mendekat satu sama lain. Kini Jimi tepat berdiri di hadapan Baekhyun. Jimi menghentikan langkahnya membuat Baekhyun juga melakukan hal yang sama.

Baekhyun menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Pasalnya Jimi seakan menghalangi jalan laki-laki itu. “Ada yang bisa aku bantu, Park Jimi?” Baekhyun menyebutkan namanya membuat Jimi seakan kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Baekhyun tentu mengenalnya. Mereka pernah satu kelas di kelas satu dan dua pada tahun-tahun sebelumnya. Dan bahkan mereka juga pernah satu kelas selama tiga tahun saat mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama.

“A-anniyeo. Kau habis dari sana?” Jimi tidak tahu harus berkata apa. Setelah sekian lama tidak bertemu dan saling sapa, Jimi kembali mendapatkan kesempatan itu. Dan kini, ia benar-benar bertekad untuk tidak menyiakannya.

“Iya, aku baru saja ke lokerku untuk mengambil buku ini.” Baekhyun terus tersenyum membuat jantung gadis yang kini berada di hadapannya berdebar hingga seakan memaksanya untuk keluar.

“A-ah, begitu rupanya.” Jimi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa sangat gugup. “Itu apa?” Baekhyun menyipitkan matanya, berusaha mempertajam penglihatannya.

“I-ini? Ini cokelat yang aku buat sendiri. E-eum, karena kebetulan kita bertemu disini, kalau begitu aku akan memberikannya sekarang saja. Ini, terimalah. Happy White Day.” Jimi menyodorkan kotak berwarna pink itu pada Baekhyun membuat laki-laki itu terbelak sesaat.

“Ini untukku? Woah, terima kasih banyak Jimi-ssi. Aku pasti akan memakannya.” Baekhyun berujar senang membuat Jimi tersanjung. Ia bahkan tidak bisa berhenti tersenyum.

Baginya, Baekhyun dan hanya Byun Baekhyun yang dapat membuatnya merasakan getaran-getaran kecil itu. Membuat Jimi serasa ingin gila hanya dengan berpapasan atau bercakap singkat dengannya.

“Kalau begitu, aku permisi dulu.” Jimi berjalan cepat, menjauhi anak laki-laki itu. Senyum terus merekah di wajahnya. Dan Jimi rasa ia lah yang seharusnya berterima kasih pada Baekhyun, karena telah berhasil membuatnya merasa bahwa ini adalah hari paling indah bagi dirinya.

**

Jimi bersenandung kecil seraya menghampiri lokernya. Ia berhenti bersenandung ketika melihat ada yang aneh dari lokernya. Sebuah mawar merah tertempel di depan loker berwarna dasar hijau tua itu.

Jimi meraih mawar merah itu dan mulai membaca sebuah tulisan pada secarik kertas kecil yang ditempelkan di batang mawar tersebut. Gadis itu seratus persen yakin bahwa sudah pasti si pengirim mawar ini salah loker.

“Please just look at me. Don’t look at anybody else. –KBB”

Jimi membaca surat itu sekali lagi. Ia terus memperhatikan surat itu lekat-lekat, berharap sebuah petunjuk lain muncul, akan tetapi hal itu malah membuatnya semakin bingung. Tidak. Jimi tidak bingung dengan arti dari surat itu. Akan tetapi dengan inisial sang pengirim. KBB? Apa yang sebenarnya dimaksudkan dengan singkatan tersebut?

**

“Hei putri tidur! Kau belum tidurkan? Kata ibu-mu kau tidak mau makan malam? Aish. Kau ini kenapa sih?!” Jongin berdiri di depan pintu kamar Jimi dengan nampan berisikan makan malam gadis itu. Ia tampak kesal dengan sikap Jimi yang selalu saja tidak peduli dengan kesehatannya sendiri.

“Aku kemari di suruh Ibu-mu untuk membujukmu makan. Bukalah!” Jongin melongokan kepalanya ke dalam kamar Jimi yang ternyata tidak di kunci. Gadis itu beranjak dari kasurnya dan menyeret Jongin untuk masuk ke dalam.

“Ya, Park Jimi! Tumben sekali. Biasanya selalu akan ada adegan usir-usiran terlebih dahulu.” Jongin meletakan nampan tersebut di atas meja belajar Jimi.

“Makanlah. Aku akan menunggu disini sampai kau selesai makan.” Ujar Jongin kepada Jimi, yang kini malah menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat di jelaskan. Jimi menarik lengan Jongin untuk duduk di pinggiran kasurnya.

“Ada apa?” Tanya Jongin seakan bisa membaca pikiran Jimi. “Aku mendapatkan mawar merah ini tadi.” Jimi menceritakan seluruhnya kepada Jongin bahkan kejadiannya bersama Baekhyun, tepat sebelum ia menemukan mawar tersebut.

“Jadi kau mengira pengirim mawar itu adalah Baekhyun?” Tanya Jongin tepat sasaran. Jimi terdiam. Ia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna pink itu sambil tersenyum kecil. “Aku tidak ingin terlalu percaya diri.” Jimi menjatuhkan dirinya di kasur king size miliknya. “Tapi kau mengharapkannya.” Ujar Jongin seolah membacakan kebenaran isi hati gadis itu.

“Memangnya salah jika aku mengharapkan hal tersebut?” Tanya Jimi membuat Jongin juga ikut menjatuhkan dirinya di kasur itu sehingga kini mereka tengah terbaring bersebelahan.

“Tidak ada yang salah. Jika itu Baekhyun, mengapa inisial pengirimnya ‘KBB’? Mengapa tidak ‘BBH’, ‘Baek’ atau ‘B’ saja?” Jongin menolehkan kepalanya ke arah Jimi yang kini masih asik memandangi langit-langit kamar tersebut dengan senyuman yang seakan tidak mau luntur dari wajahnya.

“KBB. Hmm mungkin saja Kaebbsong Byun Baekhyun? Hahahaa, aku ingat sekali ia sangat senang mengucapkan kata-kata itu. Kaebbsong!” Jimi terbahak dengan tebakannya barusan. Terasa konyol tapi mengapa membuatnya semakin yakin bahwa pengirim mawar tersebut adalah Baekhyun?

“Lalu apa yang kau ingat tentang aku?” Jongin bertanya dengan raut wajah serius membuat Jimi segera menghentikan tawanya dan dengan segera menatap laki-laki itu. “Jika kau yang mengirimnya, maka inisialnya pasti ‘DSK’ Dark Skin Kai!” Jimi kembali tertawa membuat Jongin juga ikut tertawa dibuatnya.

“Setidaknya kau masih mengingat panggilan kecilku.” Jongin menatap langit-langit kamar itu sambil tersenyum sementara Jimi masih berusaha untuk menghentikan tawanya.

“Kai? Tentu saja aku ingat. Itu adalah nama pertama yang dapat aku ucapkan sewaktu kecil.” Jimi meletakan kepalanya pada lengan Jongin seraya menutup matanya. Ia masih tersenyum, entah virus senyum apa yang berhasil masuk ke dalam dirinya. Virus senyum yang dikategorikannya sebagai virus yang paling ia sukai.

Jongin mengelus kepala Jimi, membuat keduanya tersenyum tanpa mereka sadari. “Jimi-ya, kapan terakhir kali kita saling berhubungan lewat ponsel?” Tanya Jongin tiba-tiba membuat Jimi mengernyit, berusaha mengingat.

“Dua tahun yang lalu tepatnya saat aku pulang sekolah sendiri dan sialnya aku tertidur di bus sehingga aku tersasar?” Jimi mengingat kejadian itu. Ia mengingatnya dengan sangat jelas.

Kejadian dimana ia sangat ketakutan dan tidak tahu harus bagaimana cara untuk kembali ke rumah. Satu-satunya kontak yang ada di ponsel barunya adalah Jongin dan ia bersyukur Jongin menyelamatkan hidupnya di tengah-tengah malam yang gelap itu. Itu sebabnya ia tidak pernah mau naik bus sendirian tanpa Jongin.

“Ah, iya kau benar. Kalau begitu aku akan menelponmu nanti malam sebelum tidur.” Jongin masih mengelus kepala Jimi sementara gadis itu mengurung niatnya untuk bertanya apa maksud Jongin. Jimi menenggelamkan wajahnya pada lengan Jongin dan mulai berusaha untuk memasuki alam bawah sadarnya.

“Lalu apa kau ingat tentang permainan kita sewaktu kecil? Permainan yang selalu kita mainkan jika sedang berebut sesuatu?” Jongin memejamkan matanya, berharap Jimi akan mengingatnya.

“Kaibaibo?” Jimi menjawab sambil menguap. Ia memeluk lengan Jongin erat.

“Majja. Kai-Bai-Bo. Gunting-kertas-batu. Apa tidak ada yang spesial yang perlu di ingat dari permainan itu?” Jongin berujar pelan namun tidak ada jawaban apapun dari Jimi. Jongin memperhatikan gadis yang tengah tertidur pulas itu lekat-lekat. Ia menghela napas pelan, lalu kembali memejamkan matanya.

Jongin yang sempat tertidur selama 20 menit itu kemudian terbangun. Ia melihat Jimi yang masih tertidur pulas di lengannya. Jongin membetulkan posisi tidur Jimi kemudian menyelimutinya. Ia hendak berjalan keluar kamar tetapi sesuatu seakan muncul di kepalanya. Tentang percakapannya dengan Jimi mengenai telepon.

Jongin merogoh saku celana panjangnya untuk mengambil ponselnya. Ia mencari nama ‘Mi-ya’ disana dan mulai menekan tombol ‘panggil’. Tidak lama setelah itu, terdengar suara getaran di meja belajar Jimi. Jongin menghampiri ponsel Jimi lalu menatap layar touchscreen yang tengah memunculkan sebuah nama tersebut, lama.

Kai–Bai–Bo is calling..

Jongin rasa Jimi tidak banyak mengingat apapun tentangnya.

***

Jimi menyipitkan matanya ketika sinar matahari mulai mencoba untuk mengusik tidurnya di hari Sabtu yang indah itu. Indah karena akhirnya ia tidak usah repot-repot untuk bangun pagi dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Jimi berjanji ia akan menikmati hari liburnya ini dengan menghabiskan harinya bersama laptop dan snack-snack kesayangannya di atas kasur yang baginya sangat nyaman itu.

Jimi berjalan keluar kamarnya dengan malas. Gadis itu memutuskan untuk turun ke bawah karena ia yakin ibunya pasti sudah memasakan sarapan pagi yang lezat, yang tentu berbeda menu dengan menu sarapan di hari-hari biasa.

“Good morning, Park Jimi!” Nyonya Park dengan segera menghampiri anaknya yang sedang berjalan dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. Ia menuntun Jimi ke meja makan yang terletak tidak terlalu jauh dari tangga tersebut.

“Wah Jimi sudah bangun?” Jimi membuka mata sepenuhnya ketika ia menyadari bahwa yang menyapanya barusan adalah Nyonya Kim, ibu Jongin. “Eommoni?! A-aduh maaf aku belum mandi. Jadi berantakan seperti ini.” Jimi menggaruk tengkuknya sambil sesekali membenahi tata rambutnya.

“Tidak apa-apa, aigoo Jimi-ya. Kau bahkan lebih cantik dan terlihat natural jika seperti ini.” Nyonya Kim tersenyum lebar membuat Jimi semakin tidak enak hati. “Kau seperti sedang bertemu ibu mertuamu saja.” Ledek seorang laki-laki menyebalkan yang sangat Jimi kenal. Jimi hanya mendengus sedangkan Nyonya Kim dan Nyonya Park tertawa di buatnya.

“Nah ayo sekarang di makan sarapannya.” Pinta Nyonya Park dan tidak lama setelah itu mereka berempat mulai memakan sarapannya. Sedangkan ayah Jimi dan Jongin sudah berangkat untuk memancing bersama. Memancing bersama merupakan kegiatan yang ayah mereka tidak pernah tinggalkan dari dulu. Mereka berpikir bahwa memancing dapat meredakan stress setelah hampir seminggu harus bekerja terus menerus.

“Jimi-ya, Jongin-a. Kami berdua akan pergi seharian penuh ini, menyusul ayah kalian ke Busan untuk ikut memancing, setelah memancing mungkin ada reuni teman-teman SMA kami disana. Jadi, kalian jaga rumah ini sampai kami pulang nanti arrachi?” Nyonya Park berujar membuat Jimi dan Jongin hanya mengangguk-angguk mengerti.

“Jongin-a, kau harus jaga Jimi dengan baik. Eomma sudah mengunci rumah jadi kau disini saja bersama Jimi. Kami akan sampai rumah sekitar pukul 12 malam, kalian tenang saja.” Nyonya Kim melanjutkan. “Ne. Arraseo.” Jawab Jongin pendek.

“Jadi, aku harus bersama laki-laki menyebalkan ini seharian penuh?! Hmm kalau begitu tidak masalah asal ia membawa dompetnya. Kim Jongin ayo kita ke taman bermain!!” Jimi berseru membuat Jongin dengan segera menghela napasnya, pasrah.

“Aish. Kau ingin memerasku lagi? Apa tidak cukup dua puluh batang sate ikan yang kau habiskan sendiri dengan uangku beberapa minggu yang lalu?” Jimi mengercutkan bibirnya berpura-pura sedih. “Mianhae Jongin oppa.” Jimi mengerlingkan matanya genit ke arah Jongin membuat laki-laki itu merinding sementara ibu mereka hanya tertawa melihat tingkah laku keduanya.

**

Nyonya Park dan Nyonya Kim sudah pergi dari satu jam yang lalu. Kini tinggal Jimi dan Jongin yang tengah duduk di sofa ruang tamu dan sibuk pada kegiatan mereka masing-masing. Jimi sibuk menonton kartun dengan popcorn yang ia buat sendiri, sedangkan Jongin sibuk bermain games yang ada di tablet dengan case berwarna pink milik Jimi.

“Jongin-a aku bosan!” Gerutu Jimi seraya memasukan segenggam popcorn kedalam mulutnya. Jongin meliriknya sebentar lalu kembali sibuk pada tablet yang ada di genggamannya. “Ayo kita ke taman, Jongin-a.” Jimi memeluk lengan Jongin tiba-tiba, membuat Jongin tidak lama langsung menggerutu karena ia harus menerima kekalahannya pada permainan yang tengah seru ia mainkan berkat pelukan tiba-tiba Jimi pada lengannya.

“Aish. Ini semua karenamu. Aku sudah hampir mencapai new high score, kau tahu?!” Jongin menghela napas kesal sementara Jimi hanya cemberut membuat Jongin langsung tidak enak hati. “Iya iya ayo kita ke taman.” Jongin akhirnya menyetujui ide Jimi membuat Jimi langsung berseru dengan sangat bersemangat. “Kajja!”

“Kita naik ini!” Jimi mengeluarkan sepeda berkeranjang warna pink tua dari garasi dan menyerahkannya kepada Jongin. “Bonceng aku.” Jimi segera duduk menyamping di kursi penumpang sepeda itu.

“Aish.” Pada akhirnya Jongin menurutinya. Ia mengendarai sepeda yang terasa berat itu dengan sabar. Meskipun Jongin terlihat kesal, jauh dalam lubuk hatinya ia tahu bahwa ia sendiri senang melakukan hal seperti ini dengan gadis yang kini tengah memeluk pinggulnya tersebut. “YA! Kim Jongin, pelan-pelan!” Jongin tertawa lalu menambah kecepatan sepeda itu membuat Jimi semakin berteriak keras.

Keduanya langsung duduk di kursi taman yang berada di bawah pohon rindang setelah tidak lama mereka sampai di taman tersebut. “Dulu kita sering duduk disini sambil bertukar bekal.” Jimi tertawa kecil sedangkan Jongin hanya tersenyum singkat.

Semua kenangannya bersama Jongin ada di taman ini. Taman yang merupakan tempat kedua setelah rumah yang ia jadikan sebagai tempat favoritenya. “Lalu aku harus menemanimu disini sampai malam karena kau tidak mau pulang karena takut nilai ulangan matematikamu ketahuan ibumu.” Jongin tertawa disela-sela ucapannya membuat Jimi hanya tersenyum malu.

“Lalu apa kau ingat bagaimana caramu membujukku pulang? Mengubur kertas ulanganku itu disini. Hahahha konyol sekali.” Jimi mengingatnya dengan jelas. Bahkan tatapan Jongin yang khawatir karena melihatnya menangis seharian, masih ia ingat dengan jelas.

“Yang paling aku ingat adalah ketika ibu dan ayahku berkelahi. Aku bersembunyi di balik prosotan itu dan hanya kau yang berhasil menemukanku.” Jongin menghela napas. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru taman, mengingat kembali kenangan-kenangan baik manis dan buruk yang ada di taman tersebut.

“Saat itu tengah malam. Dan malam itu adalah pertama kalinya aku memecahkan celengan yang sudah bersamaku selama 6 tahun hanya untuk membelikanmu anak anjing agar kau tidak bersedih lagi.” Jimi melanjutkan membuat keduanya tersenyum samar.

“Dan aku menamainya Monggu. Mungkin itu sebabnya setiap aku melihat dia, aku selalu teringat denganmu.” Ucap Jongin membuatnya langsung terkena pukulan dari Jimi. Ia mengelus kepalanya, mengaduh kesakitan. “Maksudmu Monggu terlihat sama sepertiku?” Jimi baru akan memukul kepalanya lagi namun Jongin dengan cepat menarik tangannya lalu memeluk gadis itu erat.

“YA! Kau mencoba untuk mencari kesempatan dalam kesempitan, eo?!” Jimi memukul punggungnya pelan namun Jongin malah mempererat pelukannya. “Diamlah sebentar. Sebentar saja.” Ujar Jongin pelan membuat Jimi langsung terdiam. Gadis itu perlahan menepuk-nepuk punggung Jongin sambil tersenyum samar.

“Terima kasih.” Jongin memejamkan kedua matanya sambil tersenyum. “Terima kasih untuk apa?” Tanya Jimi, masih menepuk punggung anak laki-laki itu.

“Terima kasih karena—“ Jongin menggantungkan ucapannya, merasa malu untuk mengucapkannya. “Karena telah hadir—“ Jongin berbisik namun Jimi mendengarnya dengan jelas. “Di hidupku.” Jongin mempererat pelukannya membuat Jimi tersenyum dalam pelukan laki-laki itu.

Setelah beberapa menit berlalu, Jongin melepas pelukannya lalu mengambil sepeda yang di sandarkan pada pohon besar tersebut. “Kajja. Aku akan mentraktirmu ice cream sampai kau berubah jadi beruang gemuk.” Jimi menghampirinya lalu dengan segera duduk di kursi belakang. “Kau sudah janji maka jangan ingkari janjimu itu, arra?!” Jimi memperingati Jongin membuat laki-laki itu tertawa.

Jongin dan Jimi sampai pada toko ice cream favorite mereka sejak dari dulu. Mereka mengambil tempat di dekat jendela, yang juga merupakan tempat favorite mereka. Jongin mengantre untuk memesan, sedangkan Jimi terduduk sendiri sambil memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang.

Pikiran Jimi melayang kembali pada kejadian di taman tadi atau tepatnya ketika ia dan Jongin mereka ulang kejadian-kejadian yang selama ini telah dilalui bersama.

Jimi menyadari satu hal. Semua itu tidak dapat di ulang kembali. Semua itu hanya akan menjadi kenangan yang akan mereka simpan dalam memori mereka masing-masing. Mereka sudah tumbuh besar dan sebentar lagi akan memasuki universitas. Jimi sendiri tahu bahwa Jongin mempunyai cita-cita untuk kuliah di luar negeri. Dan ini adalah satu hal yang Jimi khawatirkan.

Ia tidak ingin menghalangi Jongin. Ia juga tidak ingin menghambat cita-cita laki-laki itu. Hanya saja ia belum siap. Ia belum siap jika harus kehilangan sosoknya untuk waktu yang ia sendiri tahu tidak akan sebentar.

Semuanya terasa begitu cepat. Terasa begitu cepat sampai Jimi sadari hanya Jongin yang ada di dalam setiap lembar cerita hidupnya. Terasa begitu cepat jika ia harus melewati semuanya tanpa laki-laki itu lagi.

“Sedang memikirkanku?” Suara Jongin membuat Jimi langsung tersadar dari lamunannya. “Percaya dirimu terlalu tinggi.” Balas Jimi membuat Jongin hanya tertawa pelan.

“Satu Choco Vanilla with cheese topping pesananmu disini!” Jongin memberikan satu cup ice cream ukuran large pada Jimi membuat gadis itu langsung berseru senang. “Dan Choco Strawberry with oreo chips ini milikku.” Jongin segera menyantap ice cream kesukaannya itu dengan lahap.

“Berikan aku satu suapan!” Pinta Jimi membuat Jongin menatapnya enggan. “Baiklah. Tapi panggil aku ‘oppa’ seperti tadi pagi dulu.” Jongin tertawa sedangkan Jimi hanya mendengus. “Tidak ada siaran ulang.” Ujar Jimi lalu ia kembali melahap ice creamnya.

Jongin dengan jahil mencuri satu sendok ice cream milik Jimi membuat gadis itu berseru tidak terima. “YA! Aku akan membalasmu nanti! lihat saja!” Jimi melirik cup ice cream berukuran large milik Jongin membuat Jongin mulai bersiap siaga.

“Aish. Terserahlah.” Jimi menghela napas pasrah. “Panggil aku oppa dan aku akan memberikanmu setengah ice creamku ini.” Jongin berujar sambil tersenyum jahil. “Janji?” Jimi mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Jongin membuat Jongin dengan segera menautkan kelingkingnya pada kelingking kecil milik Jimi. “Janji.”

“Jongin oppa, ice cream juseyo!” Ujar Jimi cepat-cepat membuat Jongin mendengus. “Lakukanlah dengan hati!” Omel Jongin pada Jimi yang langsung mengercutkan bibirnya, kesal. “Geurae, geurae!” Jimi mengambil napas lalu memperhatikan Jongin dari atas sampai bawah takut-takut kalau Jongin akan merekamnya.

“Jongin oppa~ Ice cream juseyo~!” Jongin tertawa terbahak membuat Jimi semakin kesal. “Aish! Aku sudah melakukan sebisaku sekarang berikan ice cream itu! Berhenti tertawa Kim Jongin! Dasar menyebalkan!” Jongin masih asik tertawa sedangkan Jimi menyantap ice creamnya lahap-lahap, tidak mau tahu dengan laki-laki itu lagi.

Jongin memperlihatkan layar handphone yang sedang menampilkan aplikasi perekam suara pada Jimi. Gadis itu membelakan matanya. Ternyata dugaannya benar. “Aku merekamnya!” Ledek Jongin sementara Jimi menghela napas pasrah.

“Akan ku jadikan sebagai suara alarmku dan bahkan ringtone. Aigoo, neomu kiyeowo Jimi-ya.” Jongin mencubit pipi Jimi membuat gadis itu hanya menatap Jongin garang.

Namun pada akhirnya Jimi tersenyum juga. Ia menyadari bahwa meskipun Jongin menyebalkan, laki-laki itulah yang selalu ada di sampingnya. Melindunginya, dan menemaninya setiap saat.

“Gomawo, Kim Jongin.”

**

Hari itu suasana kelas sangat ramai. Namun Jongin dan Jimi tampak tidak tertarik untuk ikut dalam keramaian yang dibuat teman-teman kelas mereka tersebut. Jimi tampak asik membaca buku yang baru saja di pinjamnya di perpustakaan sedangkan Jongin tampak sibuk menekan-nekan layar touchscreen handphonenya yang tentunya bertujuan untuk mengalahkan lawan bermainnya.

Kelas langsung berubah menjadi hening setelah seorang guru yang diketahui adalah wali kelas mereka, memasuki kelas tersebut. Beberapa orang bahkan berlarian untuk kembali ke kursinya masing-masing. Wali kelas yang bernama Lee Hyejung itu memang terkenal galak dan menyeramkan seantero sekolah. Tidak ada yang dapat membantah atau melawannya.

“Annyeong haseyo haksaeng.” Sapanya dan langsung dibalas oleh murid-murid yang tengah duduk dengan rapi tersebut. “Hari ini saya akan mengumumkan sesuatu mengenai program yang sudah saya beritahu sebulan yang lalu.” Sebagian murid langsung berbisik-bisik dan yang sebagian bertanya-tanya apakah maksud program tersebut.

“Jadi program ini dibuat bagi siswa kelas akhir seperti kalian agar kalian dapat menyiapkan ujian akhir nanti dengan semakin matang bukannya hanya bermain-main dan tidak belajar.” Ucap Lee seonsaengnim membuat para murid mengangguk mengerti.

“Program ini bernama ‘My Partner My Teacher’ yang akan diselenggarakan mulai besok dalam durasi satu bulan.” Sebagian murid tertawa mendengar nama program yang di anggapnya konyol tersebut.

“Kelas 3-4 ini akan berpasangan dengan kelas 3-6. Itu artinya, kalian akan mendapatkan partner dari kelas 3-6 dan harus bekerja bersama selama sebulan nanti.” Kelas langsung kembali ribut. Pasalnya kelas 3-6 itu adalah kelas paling terkenal karena siswanya adalah siswa pintar, berprestasi, dan pastinya di kenal satu sekolah.

“Saya akan memberi tugas untuk menyelesaikan setumpuk soal ini selama sebulan. Satu kelompok terdiri dari dua orang dan kalian harus bekerja keras untuk bisa menyelesaikan soal-soal ini.” Para murid langsung menghela napas bersamaan membuat Lee seonsaengnim tersenyum antusias.

“Program ini dilaksanakan sehabis pulang sekolah. Tentunya tidak di kelas ataupun di sekolah. Kalian bisa menentukan sendiri dimana kalian akan belajar bersama.” Seketika para murid bersorak senang karena mereka tidak harus tinggal di sekolah yang membosankan itu sampai larut malam untuk mengerjakan setumpuk soal pemberian Lee seonsaengnim.

“Baiklah saya akan membacakan nama partner kalian masing-masing dan saya harap kalian mendengarkannya dengan baik karena saya tidak akan mengulanginya.” Ujar Lee seonsaengnim membuat kelas langsung hening seketika.

Lee seonsaengnim mulai menyebutkannya dari nomor urut pertama. Sebagian ada yang senang sebagian ada yang tidak. “Jang Surin dan Oh Sehun.” Salah satu orang yang tidak senang adalah Surin, teman kelas Jimi.

Jimi tahu perasaan Surin. Oh Sehun adalah anak yang terkenal karena ketampanan dan kepintarannya. Ia di juluki sebagai ‘pangeran es’ oleh para penggemarnya karena laki-laki itu memang merupakan orang yang anti akan pergaulan dan hanya memfokuskan diri pada pelajaran, dan tumpukan buku. Oleh sebab itu ia selalu menempati peringkat pertama selama 2 tahun terakhir. Dan Jimi menebak dengan yakin bahwa pada tahun akhir menjelang kelulusan ini, Sehun pasti juga akan menempati tempat tersebut.

Jimi hanya berharap ia tidak bernasib sama dengan Surin yang mendapatkan partner menyeramkan seperti Sehun.

“Kim Jongin dengan Lee Taemin.” Jongin menghela napas lega, bersyukur mendapatkan partner yang merupakan teman dekatnya sendiri. Taemin adalah teman mainnya di sekolah dasar. Awalnya Taemin merupakan kakak kelas Jongin, tapi karena kecelakaan yang dihadapinya, ia harus berhenti sekolah selama satu tahun dan akhirnya harus mengulang sehingga anak laki-laki itu pun dapat berada di kelas yang sama dengan Jongin. Berbeda dengan Jongin yang biasa-biasa saja dalam pelajaran, Taemin adalah saingan Sehun yang juga sama pintarnya.

Jongin memperhatikan Jimi yang sedari tadi terdiam, mendengarkan Lee seonsaengnim dengan seksama. Jongin juga sama khawatirnya dengan Jimi. Entah ia mengkhawatirkan apa. Tapi yang Jongin tahu, kelas 3-6 itu adalah kelas Byun Baekhyun yang entah sejak kapan menjadi satu hal yang Jongin khawatirkan.

“Park Jimi dengan—“ Lee seonsaengnim memperhatikan Jimi dan Jongin bergantian.

“Beritahu ibu kalian, ini merupakan program antar kelas jadi maaf saya tidak bisa menyatukan kalian kali ini.” Lee seonsaengnim berujar membuat Jongin ingin sekali menimpuknya dengan tasnya sekarang juga. “Tanpa di beritahu ibu saya juga akan mengerti.” Ujar Jongin sarkastik yang langsung di acuhkan oleh Lee seonsaengnim. Jimi hanya menggenggam tangan Jongin, berusaha menahan amarahnya.

Perasaan tidak enak mulai muncul dalam benak gadis itu saat Lee seonsaengnim menyebut namanya sekali lagi.

“Park Jimi dengan Byun Baekhyun.”

Jongin dan Jimi tahu bahwa hal ini akan terjadi.

TBC

Advertisements

3 comments

  1. realljo · November 12, 2014

    bagus banget pengen pake caps tapi ntar di hide y, keren hu kata katanya juga keren gt trus demen banget kaimi couple ugh sweet bgt ampe meleleh yang disini tu, lucu bgt dari brojol udah temenan tuh ya udah mana akhirnya seru amat si baekhyun ma jimi satu kelompok gt jongin nya jeles trus kyeopta banget sumpah deh yang di toko eskrim ma naek sepeda trs si kai rekam rekam gt trs suka deng yang jimi tiduran ditangan kai hu ugh aned dah ntap banget ni. segitu aja dari reader setia<333

  2. eleonoranovena · November 12, 2014

    Buruan lanjutin akh akh akh ;;;A;;;

  3. eleonoranovena · November 12, 2014

    bagussss >___< lanjutin buruan yakk :"-3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s